Anda di halaman 1dari 4

A.

Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh pH pada aktivitas katalase
Untuk mengetahui pengaruh suhu pada aktivitas katalase
B. Dasar Teori
C. Alat dan Bahan

Alat Bahan
1. Tabung Reaksi 1. Cacing tanah
2. Pipet tetes 2. H2O2 10%
3. Tabung berskala 3. NaOH 5%
4. Pisau silet 4. HCl 5%
5. Sumbat gabus / karet 5. MnO2 (serbuk)
6. Neraca 6. Potongan plastik
7. Klem dan statif 7. Aquades
8. Beker gelas 8. pH stick
9. Lidi dan korek api
10. Selang plastik

D. Langkah Kerja

E. Hasil
1. Pengaruh pH pada aktivitas katalase

No Sampel Waktu pH Jumlah gelembung Tes Nyala


1 Anterior 6 menit 1 12 Nyala
7 117 Nyala
13 43 Nyala
2 Abdomen 6 menit 1 15 Nyala
7 65 Nyala
13 47 Nyala
3 Posterior 6 menit 1 Tidak ada gelembung Tidak menyala
7 102 Nyala
13 84 Nyala
Keterangan:
a. pH 1 = larutan H2O2 1ml + 7 tetes larutan HCl 5%
b. pH 7 = larutan H2O2 1ml + 5 tetes aquades
c. pH 13 = larutan H2O2 1ml + 7 tetes larutanNaOH 5%

2. Pengaruh suhu pada aktivitas katalase

No Sampel Waktu Suhu (C) Jumlah gelembung Tes Nyala


1 Anterior 3 menit 5 20 Nyala
35 14 Nyala
75 Tidak ada Tidak menyala
2 Abdomen 3 menit 5 30 Nyala
35 56 Nyala
75 Tidak ada Tidak menyala
3 Posterior 3 menit 5 28 Nyala
35 Tidak ada Tidak menyala
75 Tidak ada Tidak menyala

F. Pembahasan

Percobaan pengaruh suhu pada aktivitas katalase


Pada percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kerja
enzim katalase. Katalase dapat ditemukan dijaringan hewan, tumbuhan dan
mikroorganisme. Katalase berfungsi menguraikan H2O2 yang terbentuk selama proses
pernapasan (metabolisme sel). H2O2 bersifat toksik dan harus segera dipecahkan menjadi
H2O + O2 yang bersifat non toksik. Katalase seperti enzim lain yang aktivitasnya
dipengaruhi oleh suhu, pH, konsentrasi substrat dan lain sebagainya. Untuk mengetahui
pengaruh pH, kami melakukan percobaan yang berjudul melihat pengaruh pH terhadap
katalase. Bahan yang digunakan dalam pengujian ini adalah cacing.
Untuk membuktikan adanya enzim katalase pada cacing, kami akan mengujinya dengan
cara menambahkan cacing dengan H2O2 dan melihat apakah cacing memiliki enzim
katalase kemudian memberikan perlakuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap
kerja enzim katalase. Untuk membuktikan bahwa cacing mengandung enzim katalase,
maka ketika H2O2 ditambahkan pada cacing, akan terlihat gelembung-gelembung udara
yang nampak pada gelas berskala. Gelembung gelembung ini timbul karena dengan
adanya H2O2 maka enzim katalase mengubahnya menjadi H2O dan O2, sehingga
gelembung-gelembung udara tersebut adalah oksigen yang merupakan salah satu hasil
reaksi penguraian katalase. Sehingga Oksigen (gelembung) yang dihasilkan merupakan
parameter yang menunjukkan adanya aktivitas katalase. Perhitungan jumlah gelembung
dilakukan dalam waktu 3 menit.
Reaksi penguraian H2O2 oleh enzim katalase :
2H2O2 2H2O + O2
Pada percobaan ini, kami akan mengamati pengaruh suhu terhadap kerja enzim katalase,
yaitu dengan menggunakan cacing sebagai bahan yang terdapat enzim katalase di dalam
tubuhnya. Kami menggunakan 3 perlakuan yang berbeda, yaitu pada suhu 50C, suhu
350C, dan suhu 75 0C. Selain itu kami juga memvariasi bagian tubuh cacing yang
diamati, yaitu pada bagian anterior, abdomen, dan posterior. Sedangkan pada bagian
abdomen, kami memberikan perlakuan yang berbeda, yaitu menambahkan MNO2
sebagai katalis. Pada percobaan ini, dengan melihat jumlah gelembung yang dihasilkan
( O2 yang dihasilkan ) pada tabung reaksi yang diberi cacing , maka dapat diketahui
apakah suhu dapat mempengaruhi kerja enzim katalase atau tidak.
Rangkaian pada alatnya untuk mengukur gelembung adalah sebagai berikut :
sumbat

Gelas berskala
Tabung reaksi
Beaker glass

Enzim katalase memilki pH optimal dan suhu optimal. Enzim katalase tidak dapat
bekerja pada suhu panas dan suhu dingin. Enzim biasanya dapat bekerja dalam suhu
normal. Enzim akan mengalami denaturasi apabila suhunya dinaikkan. Akibatnya kerja
enzim menurun. Pada suhu 45 0C efek predominanya masih memperlihatkan kenaikan
aktivitas sebgaimana dugaan dalam teori kinetic. Tapi ketika suhunya diatas 45 0C
menyebabkan denaturasi termal lebih menonjol dan pada suhu 55 0C fungsi katalitik
enzim menjadi punah, Hal ini juga terjadi karena semakin tinggi suhu, maka semakin
naik pula laju reaksi kimia baik yang dikatalisis maupun tidak.
Dari tabel hasil pengamatan diatas dapat diketahui bahwa pada percobaan dengan
menggunakan cacing tanah, pada suhu 5 0C pada bagian anterior cacing menghasilkan
gelembung sebanyak 20 gelembung dan terdapat nyala api, pada suhu 35 0C pada bagian
anterior cacing menghasilkan 14 gelembung dan terdapat nyala api tetapi pada pada suhu
75 0C tidak menghasilkan gelembung. Selanjutnya pada bagian abdomen, untuk suhu 5
0C terdapat gelembung sebanyak 30 gelembung dan terdapat nyala api, kemudian pada
suhu 35 0C terdapat gelembung sebanyak 56 gelembung dan terdapat nyala api. Dan
pada suhu 75 0C tidak terdapat gelembung dan nyala api. Kemudian pada bagian
posterior cacing pada suhu 5 0C terdapat gelembung sebanyak 28 gelembung dan
terdapat nyala api, selanjutnya pada suhu 35 0C dan suhu 75 0C tidak terdapat
gelembung dan nyala api, hal ini menandakan bahwa pada bagian posterior cacing
memang tidak terdapat oksigen.
Berdasarkan dasar teori enzim katalase akan bekerja pada suhu 35 oC. Hal ini
terjadi pada percobaan cacing tanah ini pada suhu 5 oC dan suhu 35 oC, , karena pada
bagian anterior dan abdomen cacing menghasilkan cukup banyak gelembung, dan
terdapat nyala api. Namun pada suhu panas yaitu 75 oC pada bagian anterior, abdomen
maupun posterior tidak terdapat gelembung dan nyala api dikarenakan terdenaturasi
protein. Denaturasi merupakan rusaknya bentuk 3 dimensi enzim yang menyebabkan
enzim tidak dapat lagi berikatan dengan substratnya sehinga aktivasi enzim menurun
atau hilang disamping itu enzim katalase akan bekerja maksimal pada suhu 35 oC. Jadi
yang terdapat gelembung dan ada nyala api juga kisaran suhu 5 oC sampai suhu 35 oC
karena mendekati suhu maksimal enzim katalase bekerja.
Dari hasil percobaan diatas, dapat diketahui bahwa suhu dapat mempengaruhi
aktivitas enzim katalase pada cacing. Hal ini terlihat dari jumlah gelembung yang
dihasilkan pada masing-masing perlakuan suhu yang berbeda-beda yaitu pada suhu 5 oC,
35 oC dan 75 oC. Selain itu, pemotongan bagian cacing juga mempengaruhi aktivitas
katalase. Enzim katalase dapat bekerja secara maksimal pada suhu 5 oC sampai 35oC, hal
ini terlihat dari banyaknya gelembung yang dihasilkan. Akan tetapi, pada suhu 35 oC pada
bagian posterior enzim katalase tidak bekerja. Enzim ini kemungkinan mengalami
denaturasi atau kerusakan. Sedangkan pada bagian middle yang diberi MNO 2 sebagai
aktivator.
Enzim katalase pada cacing dihasilkan oleh peroksisom. Peroksisom adalah
kantong yang memiliki membran tunggal. Peroksisom berisi berbagai enzim dan yang
paling khas ialah enzim katalase. Katalase berfungsi mengkatalis perombakan hidrogen
peroksida (H2O2). Hidrogen peroksida merupakan produk metabolisme sel yang
berpotensi membahayakan sel. Peroksisom juga berperan dalam perubahan lemak
menjadi karbohidrat. Peroksisom terdapat pada sel tumbuhan dan hewan. Pada hewan,
peroksisom banyak terdapat di hati ginjal, sedang pada tumbuhan peroksisom terdapat
dalam berbagai tipe sel. Hati dan ginjal pada cacing terdapat pada bagian abdomen,
sehingga kerja enzim katalase sebagian besar terdapat pada bagian ini. Hal ini ditunjukan
pada suhu 5 oC dan 35 oC, jumlah gelembung yang dihasilkan paling banyak pada bagian
abdomen.

G. Kesimpulan
H. Daftar Pustaka