Anda di halaman 1dari 20

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)


Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 1dari 20 27 Februari 2017

BAHAN AJAR/DIKTAT

KIMIA ANORGANIK FISIK


D3004026
2 SKS

PRODI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2017

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 2dari 20 27 Februari 2017

VERIFIKASI BAHAN AJAR

Pada hari ini Senin. tanggal 6. bulan Februari tahun 2017 Bahan Ajar Mata
Kuliah Kimia Anorganik Fisik Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam telah diverifikasi oleh Ketua Jurusan/
Ketua Program Studi Pendidikan Kimia

Semarang, 6 Februari 2017


Ketua Jurusan/ Ketua Prodi Pendiikan Kimia Tim Penulis

Dr. Nanik Wijayati, M.Si Dr. F. Widhi Mahatmanti, S.Si., M.Si


NIP 196910231996032002 NIP.196912171997022001

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 3dari 20 27 Februari 2017

PRAKATA

Buku ajar yang relatif singkat ini diterbitkan untuk membantu mahasiswa
yang mengambil mata kuliah Kimia Anorganik Fisik dalam melaksanakan
kegiatan belajar dan pembelajaran. Mengingat cakupan dari setiap topik materi
sangat luas maka sajian dalam buku ini diupayakan dapat membekali para
mahasiswa. Buku ajar ini disusun oleh Tim Penulis sesuai dengan bidang ilmu
Kimia Anorganik. Dengan memperhatikan kedalaman, cakupan materi dan
dengan keterbatasan yang ada maka dari waktu ke waktu bahan ajar akan diikaji
dan dicermati oleh pakar yang relevan. Hasil kajian itu selanjutnya dapat
digunakan sebagai bahan perbaikan demi semakin sempurnanya buku ajar ini.
Bahan ajar ini memuat materi Kimia Anorganik Fisik yang meliputi:
Prinsip-prinsip Reaksi Kimia, Padatan Ionik, Pelarut Air dan Non Air, Teori Asam
Basa, Reaksi Redoks, dan Mekanisme Reaksi Anorganik. Buku ajar ini dapat
diakses oleh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Kimia Anorganik Fisik,
Akhirnya kepada peserta mata kuliah Kimia Anorganik Fisik kami
sampaikan selamat membaca dan mempelajari buku ajar ini meskipun harus
disertai juga mempelajari buku referensi yang disarankan. Kepada semua pihak
yang telah membantu kelancaran pelaksanaan pembuatan buku ajar ini kami
menyampaikan banyak terima kasih.

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 4dari 20 27 Februari 2017

DESKRIPSI MATAKULIAH
Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL): :
Sikap
1. menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang
keahliannya secara mandiri;
2. menginternalisasi sikap apresiatif dan peduli dalam pelestarian
lingkungan hidup, seni, dan nilai-nilai sosial budaya yang berkembang
di masyarakat.
Keterampilan Umum:
3. Mampu menunjukkan kinerja mandiri, bermutu, dan terukur;
CP Keterampilan Khusus
4. Mampu mengaplikasikan penggunaan Teknologi Informasi
Komunikasi (TIK) untuk mendukung pelaksanaan tugas/ peranannya
CP Pengetahuan
Menguasai pengetahuan tentang struktur, sifat molekul, identifikasi,
pemisahan, karakterisasi, transformasi, sintesis senyawa organik dan
anorganik beserta aplikasinya
Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK):
Menguasai prinsip-prinsip reaksi kimia dan faktor-faktor yang
mempengaruhi prinsip-prinsip kekuatan ikatan kovalen, ionik dan ikatan
logam, sifat-sifat padatan ionik, pelarut anorganik yang meliputi pelarut air
dan non air, rekasi redoks dan menyetarakan reaksi redoks, sejarah teori
asam-basa dimulai dari teori asam-basa Arrhenius sampai ke teori asam-
basa keras lunak (HSAB), kekuatan asam-basa, mempelajari mekanisme
reaksi anorganik (mekanisme SN1 dan SN2).

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 5dari 20 27 Februari 2017

DAFTAR ISI
Prakata ii
Daftar Isi ii
Daftar Gambar vii
Daftar Tabel viii
Bab I Prinsip-prinsip Reaksi Kimia 1
Deskripsi Singkat 1
Capaian pembelajaran pertemuan 1
Isi Materi Perkuliahan 2
A. Kespontanan Reaksi 2
B. Prinsip-prinsip Entropi 3
C. Prinsip Kekuatan Ikatan 10
D. Koordinasi 11
E. Kekuatan Ikatan Logam 12
F. Memprediksi Reaksi Kimia 13
G. Rangkuman 13
Pertanyaan 14
Daftar Pustaka 14

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 6dari 20 27 Februari 2017

BAB I
PRINSIP-PRINSIP REAKSI KIMIA

Deskripsi singkat
Pertanyaan yang penting dalam mempelajari prinsip-prinsip reaksi
kimia adalah: Mengapa reaksi kimia dapat berlangsung? Untuk
mengetahui apa yang terjadi dan mengapa reaksi dapat berlangsung
maka diperlukan suatu kajian yang intensif tentang reaksi kimia. Secara
umum tujuan mempelajari reaksi kimia adalah agar seseorang dapat
mengendalikan reaksi kimia. Dengan mempelajari reaksi kimia
diharapkan dapat menjadikan suatu reaksi kimia berlangsung, apabila
reaksi kimia dikehendaki berlangsung. Sebaliknya reaksi kimia tidak
dapat berlangsung, apabila reaksi kimia dikehendaki tidak berlangsung.
Secara singkat reaksi kimia dapat dinyatakan sebagai perubahan
reaktan menjadi produk. Partikel atom atau molekul tidak dapat diamati,
yang dapat dilakukan adalah mengestimasikan akibat-akibat yang
ditimbulkan misalnya perubahan temperatur, warna, dan fase yang ada
dalam suatu sistem reaksi. Pada saat terjadinya reaksi kimia, atom-atom
yang pada mulanya saling terikat dengan atom lainnya dengan cara
tertentu dalam reaktan menjadi terpisah dan mengalami penyusunan
kembali untuk mengalami penataan ulang untuk menghasilkan produk.
Pada keadaan awal atom-atom dalam reaktan saling tarik menarik maka
agar berlangsung suatu reaksi kimia harus dikeluarkan energi (reaksi
eksoterm). Oleh karena itu reaksi kimia kan berlangsung jika kekuatan
ikatan produk lebih besar daripada kekuatan ikatan reaktan. Namun tidak
selalu terjadi demikian, ada suatu reaksi kimia daat berlangsung
walaupun tidak disertai pelepasan energi. Energi (kekuatan ikatan) dapat
dikatakan sebagai gaya dorong (driving force) suatu reaksi kimia. Faktor
lainnya yang menentukan arah reaksi adalah struktur dan keadaan zat
(entropi). Dengan demikian ada dua aspek yang harus ditinjau dalam
pembahasan reaksi kimia, yaitu (1) ikatan kimia yang tercermin sebagai

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 7dari 20 27 Februari 2017

energi ikat (entalpi) dan (2) struktur/keadaan zat yang dinyatakan dalam
entropi.

Capaian pembelajaran matakuliah


Menguasai prinsip-prinsip reaksi kimia dan faktor-faktor yang
mempengaruhi prinsip-prinsip kekuatan ikatan kovalen, ionik dan ikatan
logam serta memprediksikan terjadinya reaksi kimia

Isi Materi perkuliahan


A. Kespotanan Reaksi
Kespotanan reaksi menunjukkan suatu proses yang memiliki
potensi untuk berlangsung tanpa bantuan faktor eksternal. Pengertian
spontanitas ini hanya mengatakan pada kita apa yang akan atau dapat
terjadi, dan tidak mengatakan apakah yang terjadi dalam suatu reaksi.
Dengan kata lain spontanitas reaksi hanya memperhatikan keadaan awal
dan keadaan akhir dari reaksi kimiia dan tidak memperhatikan laju dan
mekanisme reaksi kimia berlangsung. Faktor yang menentukan
spontanitas reaksi, yaitu entalpi dan entropi. Kedua faktor ini dinyatakan
sebagai besaran termodinamika baru, yaitu energi bebas Gibs (G). Energi
bebas Gibs (G) sering disebut sebagai energi bersih (net energi) atau
energi yang bermanfaat pada tekanan konstan.
G = H-T.S dan G = H T S
Entropi (S) dinyatakan sebagai perubahan energi (kalor) per
derajat, satuan entropi kalori atau Joule per derajat per mol. Hasil kali
entropi dan temperatur menghasilkan energi yang berhubungan dengan
probabilitas (ketidakteraturan) pada tempratur tertentu dan merupakan
energi yang tidak dapat digunakan untuk kerja yang tidak bermanfaat
(waste energy). Prinsip-prinsip reaksi kimia adalah sebagai berikut:
1) Reaksi kimia cenderung berlangsung spontan dalam arah
pengurangan energi bebas, yang berarti perubahan energi bebas
(G) negatif. Sesuai hal ini, maka reaksi kimia cenderung berlangsung
spontan bila memenuhi salah satu persyaratan sebagai berikut:

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 8dari 20 27 Februari 2017

a). Bila energi ikat total produk melebihi energi ikat total reaktan dan
entropi total produk lebih tinggi (H < 0 dan S > 0)
b). Bila ikat total produk melebihi energi ikat total reaktan dan entropi total
produk lebih rendah tetapi tidak cukup rendah untuk membuat T S > H
[(H < 0 dan |T S | < H| ]
c). Bila energi total produk lebih rendah daripada reaktan, tetapi selama
reaksi berlangsung disertai kenaikan entropi yang cukup untuk
mengkompensasi energi yang diserap. [H > 0 dan |T S| > |H| ]
Dari ketiga hal tersebut terdapat dua pengaruh kekuatan ikatan dan
entropi yang kontradiktif, hasil akhir dua pengaruh tersebut akan
bergantung pada kontribusi relatifnya dalam reaksi kimia. Faktor-faktor
yang menentukan besarnya kontribusi relatif tersebut dijelaskan dalam
beberapa hal.

B. Prinsip-prinsip Entropi
2). Keadaan gas lebih acak daripada keadaan cair dan keadaan
cair lebih acak daripada keadaan padat. Atom atau molekul gas
lebih saling bergerak bebas dengan yang lain daripada dalam
keadaan cairan atau padatan, oleh karena itu dapat menjadi
terdistribusi secara acak sehingga entropinya lebih tinggi. Kenaikan
entropi pada proses penguapan jauh lebih tinggi daripada kenaikan
entropi pada saat peleburan. Pada keadaan cair gerakan molekul
masih agak terbatas, sehingga entropi peleburannya relatif kecil.
Utuk cairan-cairan normal, yang memiliki gaya tarik menarik antar
molekul rendah yaitu gaya Van der Waals, entropi penguapan
hampir tidak bergantung pada komposisi, kira-kira 22 satuan
entropi (kal/). Entropi penguapan ini lebih besar jika terjadi
interaksi polar yang kuat atau adanya jembatan hidrogen dalam
cairan, karena diperlukan usaha yang lebih besar untuk kearah
disorder untuk proses penguapan. Pada kebanyakan unsur kimia,

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 9dari 20 27 Februari 2017

entropi peleburan hampir konstan yaitu memiliki nilai 2,3 satuan


entropi. Beberapa harga entropi pada 25C dari berbagai zat dalam
keadaan padat, cair dan gas disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Harga Entropi dari berbagai zat pada 25C (kal/)

Substance Entropy Values at 25 (eu)

Solid Liquid Gas

Sodium Na 12.30 13.83 36.71

Phosphorous P 9.82 10.28 38.98

Silicone Si 4.43 11.21 40.12

Lead Pb 15.50 17.14 41.89

Water H2O - 16.72 45.11

Methanol CH3OH - 30.30 56.80

Boron trioxide B2O3 12.91 18.55 64.42

Silicone SiO2 10.00 11.35 54.62


dioxide
Lithium oxide Li2O 898 9.86 56.03

Beryllium BeO 3.38 10.50 47.21


oxide
Titanium TiO2 12.01 15.43 56.44
oxide
Lead oxide PbO 15.59 20.55 57.35

Boron BCl3 45.30 - 85.30


trichloride

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 10dari 20 27 Februari 2017

Silicone SiCl4 - 57.20 79.20


tetrachloride
Lead chloride PbCl2 32.50 38.34 76.63

Sodium NaCl 17.33 20.22 54.88


chloride
Mercury HgBr2 40.71 46.80 76.51
bromide

Sesuai dengan prinsip ini, adanya gas diantara produk tetapi tidak ada
dalam reaktan menyatakan bahwa entropi produk lebih besar daripada
reaktan. Kecenderungan ini ada karena perbedaan entropi diantara padatan
dan atau cairan cenderung lebih rendah pada keadaan gas atau cair. Jadi
perubahan entropi cenderung menguntungkan dekomposisi atau interaksi
padatan atau cairan membentuk gas.

3). Suatu gas monoatomik lebih acak daripada molekul gas poliatomik,
sehingga memiliki entropi yang lebih tinggi. Entropi gas monoatomik lebih
besar daripadapa gas poliatomik. Pembentukan gas poliatomik dengan
struktur tertentu meningkatkan keteraturan sehingga menurunkan entropi.
Dalam reaksi gas, perubahan entropi mempermudah dissosiasi molekul besar
menjadi molekul kecil atau metatesis (dobel dekomposisi) yang menaikkan
jumlah total molekul gas. Beberapa harga entropi gas monoatomik dan
poliatomik disajikan pada Tabel 2.

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 11dari 20 27 Februari 2017

Tabel 2. Entropi gas-gas monoatomik dan poliatomik pada 25C (s.e/ g atom)

H 27 .4 H2 15 6 - -

N 36.6 N2 22.9 - -

O 38.5 O2 24.5 O3 19.0

F 37.9 F2 24.4 - -

Si 40.1 Si2 17.5 - -

P 39.0 P2 26.1 P4 16.7

S 40.1 S2 27.3 S8 12.9

Cl 39.5 Cl2 26.6 - -

NO2 57 .5 N2O4 36.4 - -

4). Entropi suatu padatan amorf lebih besar daripada padatan kristal, dan
entropi padatan kristal sederhana lebih besar daripada padatan kristal
yang lebih kompleks. Pembentukan senyawa sederhana dari senyawa lain
yang lebih kompleks dipermudah oleh perubahan entropi.

5). Entropi suatu senyawa molekul addisi atau kompleks koordinasi lebih
rendah daripada komponen-komponen penusunnya dalam keadaan

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 12dari 20 27 Februari 2017

terpisah. Pada pembentukan senyawa kompleks diikuti penurunan entropi,


maka diperlukan kekuatan ikatan untuk membentuk agregat yang stabil.
6). Senyawa dari unsur dengan berat atom yang lebih tinggi, atau unsur-
unsur bebasnya sendiri, cenderung memiliki entropi lebih besar. Hal ini
dapat dihubungkan dengan pengaruh massa terhadap vibrasi intra kristalin
atau vibrasi intra molekuler. Semakin besar massa, frekuensi vibrasi makin
rendah dan keadaan lebih acak sehingga entropinya makin tinggi. Contoh
data pengaruh massa terhadap harga entropi disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Pengaruh massa terhadap entropi beberapa zat pada 25C (s.e)

HF (g) 41,54 HCl (g) 44,65 LiF (s) 8,57


NaF (g) 51,70 NaCl (g) 54,88 NaF (s) 14,0
MgF2 (g) 55,89 MgCl2 (g) 61,50 KF (s) 15,91

7). Pada temperatur biasa, pengaruh entropi umumnya cukup kecil


sehingga pengaruhnya relatif kecil terhadap arah reaksi, kecuali bila
terdapat perbedaan energi ikat total antara reaktan dan produk relatif
kecil.
Tabel 4 menyajikan harga H dan G untuk pembentukan beberapa
senyawa dalam keadaan standard.

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 13dari 20 27 Februari 2017

Tabel 4. Data H dan G untuk pembentukan beberapa senyawa dalam


keadaan standard

Substances Hfo Gfo T Sfo

H2O (l) - 57.80 - 54.64 + 3.16

HCl (g) - 22.00 - 22.77 - 0.77

SO2 (g) - 70.96 - 71.79 - 0.83

H2S (g) - 4.82 - 7.89 - 3.67

H2Te (g) + 36.90 + 33.10 - 3.80

KNO3 (c) - 117.16 - 93.96 + 23.20

Na2CO3 (c) - 270.30 - 250.40 + 19.90

Al2(SO4)3 - 820.98 - 738.99 + 81.99


(c)
NH3 (g) - 11.04 - 3.98 + 7.06

N2O4 (g) + 2.31 + 23.49 + 21.18

HNO3 (l) - 41.40 - 19.10 + 22.30

PH3 (g) + 2.21 + 4.36 + 2.15

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 14dari 20 27 Februari 2017

Tabel 5. Perbandingan H dan G untuk beberapa reaksi kimia

Reactions Hfo (kcal/mol) Gfo (kcal/mol)

CCl4(g) + 2 H2O(g) CO2 (g) + 4HCl(g) - 41.2 - 61.2

SF4 (g) + 3 H2O (g) SO3 (g) + 6HF(g) - 45.0 - 75.9

CaO(c) + CO2(g) CaCO3(c) - 42.5 - 31.1

CH4(g)+2 O2 (g) CO2 (g)+ 2 H2O (g) - 191.8 - 191.4

AsCl3(l) +3 NaF(c) 3NaCl(c) + AsF3(g) - 24.7 - 31.7

AlBr3 (c) + PCl3 (g) AlCl3(c) + PBr3 (g) - 3.1 - 4.3

CH3OH(l)+NH3(g) CH3NH2(g) + H2O(g) + 3.5 - 4.3

8). Semua reaksi kimia yang disertai kenaikan entropi berlansung secara
spontan pada temperatur yang cukup tinggi. Meskipun panas reaksi
maupun entropi hanya relatif lambat berubah dengan bertambahnya
temperatur, pengaruh entropi adalah hasil kali dari entropi dan temperatur.
Jadi pada temperatur yang sangat tinggi, spesi yang ada pada temperatur
rendah tidak dikenal, pada temperatur tinggi dapat terbentuk dan teramati.
Dengan demikian, meskipun perubahan entalpi mengendalikan terjadinya
reaksi pada temperatur biasa, kenaikan entropi menjadi relatif penting pada
temperatur yang cukup tinggi sehingga menjadi faktor penentu arah reaksi.

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 15dari 20 27 Februari 2017

C. Prinsip Kekuatan Ikatan

9). Energi total ikatan bergantung pada muatan parsial dan order ikatan
dan berbanding terbalik dengan panjang ikatan.

Tabel 6. Energi ikat total dan polaritas

Polaritas H (calc) H (exp)


0,74 206 202
0,53 127 129
0,75 181 181
0,54 120 120
0,23 129 128
0,19 88 86
0,49 154 152
0,12 72 76
0,09 99 103

10). Ikatan kovalen antara atom-atom yang kecil cenderung lebih kuat
daripada ikatan kovalen antara atom-atom yang lebih besar.

11). Ikatan kovalen antara atom cenderung lemah pada perbedaan


bilangan kuantum yang lebih besar.

12). Kekuatan ikatan kovalen cenderung lebih besar pada kepolaran


yang besar

13). Ikatan kovalen antara atom yang memiliki muatan parsial positif
cenderung tidak stabil.

14). Ikatan kovalen yang memiliki ikatan rangkap parsial sebagai akibat
adanya resonansi lebih stabil daripada ikatan tunggal tau ikatan rangkap
yang terpisah.

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 16dari 20 27 Februari 2017

D. Koordinasi

15). Ikatan koordinasi cenderung lebih kuat apabila atom donor lebih
siap untuk memberikan pasangan elektronnya sedangkan atom akseptor
lebih siap menerima pasangan elektronya.
Kesiapan atom donor memberikan pasangan elektronnya dipengaruhi
oleh beberapa faktor:
1. Muatan formal, semakin negatif muatan parsial atom donor maka
semakin efektif atom donor tersebut memberikan pasangan elektronnya.
2. Keterlibatan atom donor pada pembentukan ikatan rangkap suatu atom
akan menurunkan efektivitasnya. Sebagai contoh: (CH 3)3N lebih efektif
daripada (SiH3)3N.
3. Gugus yang terikat pada atom donor. Suatu atom donor akan efektif
sebagai donor pasangan elektron apabila atom donor tersebut mengikat
gugus pendorong elektron (donating group) seperti gugus CH3. Sebaliknya
atom donor akan berkurang efektivitasnya apabila atom tersebut mengikat
gugus penarik elektron (-OH, F, Cl, dan sebagainya)
4. Polarisabilitas atom donor
Suatu atom donor akan lebih efektif apabila lebih mudah mengalami
polarisasi. Contoh: Ion Iodida merupakan donor lebih efektif daripada ion
Flourida.
5. Keterpusatan pasangan elektron pada atom donor.
Suatu atom donor akan semakin efektif apabila pasangan elektron makin
terpusatkan dan makin kurang efektif apabila pasangan elektron makin
tersebar. Contoh: Alkohol dan eter merupakan donor yang lebih baik daripada
keton dan ester.

16). Ikatan koordinasi cederung lebih kuat apabila atom akseptor lebih
efektif menerima pasangan elektron.
Faktor-faktor yang mempengaruhi atom akseptor menerima pasangan
elektron:

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 17dari 20 27 Februari 2017

1. Muatan parsial. Semakin positif muatan parsial atom akseptor semakin


efektif untuk menerima pasangan elektron
2. Ketersediaan orbital kosong. Atom akseptor akan lebih efekif menerima
pasangan elektron apabila memiliki lebih dari satu orbital kosong. Atom-atom
golongan transisi memiliki lebih datu satu orbital kosong.
3. Keterlibatan orbital kosong pada pembentukan ikatan rangkap parsial.
Contoh: BI3 > BBr3 > BCl3 > BF3

17). Ikatan ionik cenderung lebih kuat antara ion-ion yang kecil dan
bermuatan tinggi.

18). Apabila terdapat perbedaan ukuran antara kation dan anion maka
ikatan ionik akan diperlemah sebagai akibat tolakan antara kation-kation
dan anion-anion.

19). Kristal ionik yang mengikat anion kompleks lebih mudah


terdekomposisi karena anion memiliki kemampuan kurang sempurna
untuk menarik elektron dari kation. Contoh: CaCO 3 kurang stabil
dibandingkan BaCO3.
E. Kekuatan Ikatan Logam
20). Kekuatan ikatan logam cenderung lebih besar apabila semakin
banyak jumlah orbital d setengah penuh
Tabel 7. Kekuatan ikatan logam berdasarn data Energi atomisasi (kcal/mol)

Cs 18.7 Ta 187.0 Ir. 150.0

Ba 41.7 W 200.0 Pt 135.0

La 99.6 Re 186.0 Au 85.0

Hf 168.0 Os 160.0 Hg 14.7

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 18dari 20 27 Februari 2017

21). Kekuatan ikatan logam pada golongan utama, dari atas ke bawah
pada suatu golongan kekuatan ikatan logam semakin menurun

22). Kekuatan ikatan logam pada golongan transisi semakin meningkat


dari atas ke bawah dalam satu golongan.

F. Memprediksi Reaksi Kimia

23). Reaksi kimia akan terjadi apabila terdapat tumpang tindih orbital
yang memiliki elektron

24). Dua atau lebih elemen cenderung bergabung apabila ikatan yang
terbentuk lebih kuat dibandingkan rata-rata ikatan elemen dalam
keadaan bebasnya.
25). Dua molekul atau ion cenderung untuk berikatan apabila satu dari
pasangan elektron terluar dapat dibagikan pada orbital yang kosong.

26). Suatu elemen dapat menggantikan elemen yang lain dari suatu
senyawa apabila ikatan yang dihasilkan lebih polar.

27). Kecenderungan utama reaksi metatesis adalah membentuk senyawa


yang lebih polar.

G. Rangkuman
Entalpi adalah jumlah dari energi internal dan energi lainnya di
dalam sistem.

H = E + PV (jika kerja lain PV saja)

Sedangkan entropi (S) merupakan ukuran ketidakteraturan (disorder) dari


sistem. Reaksi spontan didukung dari harga H negatif dan harga entropi

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 19dari 20 27 Februari 2017

positif. Energi bebas Gibbs merupakan ukuran dari kespontanan reaksi


yang besarannya tergantung pada harga H, T, dan S:

G = H - TS

Reaksi kimia menuju ke arah spontan jika memiliki harga G


negatif atau dibebaskan sejumlah energi selama reaksi. Sedangkan
energi bebas Gibbs negatif dapat diperoleh dari:
a. Reaksi eksotermis (energi ikat tinggi), H < 0
Total disorder (ketidakteraturan), S, meningkat, S > 0
H < 0, S > 0 adalah dua faktor yang memberikan
kontribusi negatif pada G
b. Reaksi eksotermis, H < 0 tetapi entropinya turun, S < 0.
Namun demikian nilai TS tetap lebih kecil dibandingkan energi
yang dibebaskan selama reaksi sehingga masih memberikan
kontribusi negatif pada G.
c. Reaksi endotermis, H > 0, tetapi total disorder, S, meningkat
tinggi sedemikian hingga dapat mengkompensasi panas yang
diperlukan selama reaksi.

H. Pertanyaan/Diskusi
a. Terangkan mengapa kesiapan atom aksetor pada pembentukan
ikatan koordinasi mengikuti urutan sebagai berikut : BI 3 > BBr3 >
BCl3 > BF3. Berikan alasannya!

b. Diantara senyawa berikut : a) trisililamin dan b) trimetilamin.


Manakah yang efektif berfungsi sebagai donor pasangan elektron
pada pembentukan senyawa koordinasi. Berikan alasannya!

c. Calcium carbonate is less stable than barium carbonate but more


stable than zinc carbonate. Give the reason!

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Komplek Simpang 5 Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
Website: www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR MUTU
BAHAN AJAR/DIKTAT
No. Dokumen No. Revisi Hal Tanggal Terbit
FM-01-AKD-07 02 20dari 20 27 Februari 2017

d. Terangkan mengapa pada temperatur yang cukup tinggi, reaksi


kimia yang disertai dengan kenaikan entropi akan selalu
berlangsung secara spontan!

e. Jelaskan urutan kekuatan ikatan logam pada golongan utama


maupun pada golongan transisi!

f. Terangkan mengapa P(CH3)3 merupakan atom donor yang lebih


baik daripada PH3!

g. Terangkan mengapa atom O pada alkohol maupun eter


merupakan atom donor yang lebih baik dibandingkan atom O
pada senyawa keton maupun karboksilat!

Daftar Pustaka

1. Sanderson, R.T, 1964, Principles of Chemical Reaction, Journal of Chemical


Education vol.41 No. 1 pp. 13-22, University of Lowa, Lowa City.
2. Mank u, G.S, 1980, Theoritical Principles of Inorganic Chemistry, Tata
Mcgraw Hill Publishing Company Limited, New Delhi
3. Prakash, S, 2004, Advanced Inorganic Chemistry, S. Chand and Company
Ltd, Ram Nagar New Delhi.
4. Huheey, J.E. 1983. Inorganic Chemistry. Third Ed. Principles of Structure
and Reactivity. Harper International SI Edition. New York.
5. Arryanto, Y, 2008, Mekanisme Reaksi Anorganik, Jurusan Kimia FMIPA
UGM, Yogyakarta

Dibuat oleh : Diperiksa oleh :


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen
tanpa ijin tertulis dari BPM UNNES