Anda di halaman 1dari 13

D.

HAK DAN KEWAJIBAN PERAWAT


1. Hak Perawat
a. Perawat berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
b. Perawat berhak untuk mengembangkan diri melalui kemampuan
spesialisasi sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
c. Perawat berhak untuk menolak keinginan pasien atau klien yang
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, serta standard an
kode etik profesi.
d. Perawat berhak untuk mendapatkan informasi lengkap dari pasien atau
klien atau keluarganya tentang keluhan kesehatan dan ketidakpuasaanya
terhadap pelayanan yang diberikan.
e. Perawat berhak untuk meningkatkan ilmu pengetahuannya
berdasarkan perkembangan IPTEK dalam bidang keperawatan, kesehatan
secara terus-menerus.
f. Perawat berhak untuk diperlakukan secara adil dan jujur oleh institusi
pelayanan maupun oleh pasien/klien.
g. Perawat berhak mendapatkan jaminan perlindungan terhadap risiko
kerja yang dapat menimbulkan bahaya fisik maupun stress emosional.
h. Perawat berhak diikutsertakan dalam penyusunan dan penetapan
kebijaksanaan pelayanan kesehatan.
i. Perawat berhak atas privasi dan berhak menuntut apabila nama
baiknya dicemarkan oleh pasien/klien dan/atau keluarganya serta tenaga
kesehatan lainnya.
j. Perawat berhak untuk menolak dipindahkan ke tempat tugas lain, baik
melalui anjuran atau pengumuman tertulis karena diperlukan, untuk
melakukan tindakan yang bertentangan dengan standar profesi atau
kode etik keperawatan atau peraturan perundang-undangan lainnya.
k. Perawat berhak untuk mendapatkan perhargaan dan imbalan yang
layak dari jasa profesi yang diberikannya berdasarkan perjanjian atau
ketentuan yang berlaku di institusi pelayanan yang bersangkutan.
l. Perawat berhak untuk memperoleh kesempatan mengembangkan
karier sesuat dengan bidang profesinya.

Hak-hak Perawat Menurut Claire Fagin (1975)


a. Hak memperoleh martabat dalam rangka mengekspresikan dan
meningkatkan dirinya melalui penggunaan kemampuan khususnya dan
sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
b. Hak memperoleh pengakuan sehubungan denga kontribusinya melalui
ketetapan yang diberikan lingkungan untuk praktik yang dijalankan serta
imbalan ekonomi sehubungan dengan profesinya.
c. Hak mendapatkan lingkungan kerja dengan stress fisik dan emosional
serta risiko kerja yang seminimal mungkin.
d. Hak untuk melakukan praktik-praktik profesi dalam batas-batas hukum
yang berlaku.
e. Hak menetapkan standar yang bermutu dalam perawatan yang
dilakukan.
f. Hak berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan yang berpengaruh
terhadap perawatan.
g. Hak untuk berpartisipasi dalam organisasi sosial dan politik yang
mewakili perawat dalam meningkatkan asuhan keperawatan.

2. Kewajiban Perawat
a. Perawat wajib mematuhi semua peraturan institusi yang bersangkutan.
b. Perawat wajib memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai
dengan standar profesi dan batas-batas kegunaannya.
c. Perawat wajib menghormati hak-hak pasien.
d. Perawat wajib merujuk pasien/klien kepada perawat atau tenaga
kesehatan lain yang lebih baik, bila yang bersangkutan tidak dapat
mengatasinya sendiri.
e. Perawat wajib memberikan kesempatan kepada pasien/klien untuk
berhubungan dengan keluarganya, sepanjang tidak bertentangan dengan
peraturan atau standar profesi yang ada.
f. Perawat wajib memberikan kesempatan kepada pasien/klien untuk
menjalankan ibadahnya sesuati dengan agama dan kepercayaan masing-
masing.
g. Perawat wajib berkolaborasi dengan tenaga medis atau tenaga
kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan kesehatan dan
keperawatan kepada pasien/klien.
h. Perawat wajib memerikan informasi yang akurat tentang tindakan
keperawatan yang diberikan kepada pasien/klien dan keluarganya sesuai
dengan batas kemampuannya.
i. Perawat wajib meningkatkan mutu pelayanan keperawatannya sesuai
dengan standar profesi keperawatan demi kepuasan pasien/klien.
j. Perawat wajib membuat dokumentasi asuhan keperawatan secara
akurat dan berkesinambungan.
k. Perawat wajib mengikuti perkembangan IPTEK keperawatan atau
kesehatan secara terus-menerus.
l. Perawat wajib melakukan pelayanan darurat sebagai tugas
kemanusiaan sesuai dengan batas-batas kewenangan.
m. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang
klien/pasien, kecuali jika dimintai keterangan oleh pihak yang berwenang.
n. Perawat wajib memenuhi hal-hal yang terlah disepakati atau perjanjian
yang telah dibuat sebelumnya terhadap institusi tempat bekerja.

E. HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN ATAU KLIEN


1. Hak-hak Pasien
Pentingnya mengetahui hak-hak pasien dalam pelaksanaan asuhan
kesehatan baru muncul pada akhir tahun 1960. Tujuan dari hal tersebut
adalah untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dan membuat
sistem asuhan kesehatan yang responsive terhadap kebutuhan klien.
Dewasa ini, pasien/klien dapat meminta untuk membuat keputusan
sendiri dan mengendalikan diri sendiri bila ia sakit.
Persetujuan, kerahasiaan hak klien untuk menolak pengobatan,
merupakan aspek dari pengambilan keputusan untuk diri pasien/klien
sendiri.
Penyertaan hak-hak pasien (Patients Bill of Rights) dikeluarkan
oleh The American Hospital Association pada 1973 dengan tujuan untuk
meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pemahaman hak-hak
pasien yang akan dirawat di rumah sakit.

Pernyataan tentang hak-hak tersebut adalah :


a. Pasien mempunyai hak untuk mempertimbangkan dan menghargai
asuhan keperawatan yang akan diterimanya.
b. Pasien berhak memperoleh informasi lengkap dari dokter yang
memeriksanya berkaitan dengan diagnosis, pengobatan dan prognosis
dalam arti pasien layak untuk mengerti masalah yang dihadapinya.
c. Pasien berhak untuk menerima informasi penting dan memberikan
suatu persetujuan tentang dimulainya suatu prosedur pengobatan, serta
risiko penting yang kemungkinan akan dialaminya, kecuali dalam situasi
yang darurat.
d. Pasien berhak untuk menolak pengobatan sejauh diijinkan oleh hukum
dan diinformasikan tentang konsekuensi tindakan yang akan diterimanya.
e. Pasien berhak mengetahui setiap pertimbangan dari privasinya yang
menyangkut program asuhan medis, konsultasi dan pengobatan yang
dilakukan dengan cermat dan dirahasiakan.
f. Pasien berhak atas kerahasiaan semua bentuk komunikasi dan catatan
tentang asuhan kesehatan yang diberikan kepadanya.
g. Pasien berhak untuk mengerti bila diperlukan rujukan ke tempat lain
yang lebih lengkap dan memperoleh informasi yang lengkap tentang
alasan rujukan tersebut, dan rumah sakit yang ditunjuknya dapat
menerima.
h. Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang hubungan rumah
sakit instansi lain, seperti instansi pendidikan atau instansi terkait lainnya
sehubungan dengan asuhan yang diterimanya. Contoh: hubungan
individu yang merawatnya, nama yang merawatnya dan sebagainya.
i. Pasien berhak untuk menerima pendapat atau menolakk bila
diikutsertakan sebagai suatu eksperimen yang berhubungan dengan
asuhan atau pengobatannya.
j. Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang pemberian
delegasi dari dokternya kepada dokter lain, bila dibutuhkan dalam rangka
asuhannya.
k. Pasien berhak untuk mengetahui dan menerima penjelasan tentang
biaya yang diperlukan untuk asuhan kesehatannya.
l. Pasien berhak untuk mengetahui peraturan atau ketentuan rumah
sakit yang harus dipatuhinya sebagai pasien selama ia dirawat.

Sedangkan National League For Nursing (1997) menyakini bahwa


hak-hak pasien adalah sebagai berikut:
a. Hak memperoleh asuhan kesehatan sesuai standar professional tanpa
memandang tatanan kesehatan yang ada.
b. Hak untuk diperlakukan secara sopan dan santun, serta keramahan
dari perawat yang bertugas tanpa membedakan ras, warna kulit, derajat
di masyarakat, jenis kelamin, kebangsaan, politis dan sebagainya.
c. Hak memperoleh informasi tentang diagnosis penyakitnya, prognosis,
pengobatan, termasuk alternatif asuhan yang diberikan, risiko yang
mungkin terjadi agar pasien dan keluarganya memahami dan dapat
memberikan persetujuan atas tindakan medis yang akan dilakukan
kepadanya.
d. Hak legal untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan tentang
asuhan keperawatan yang akan diberikan kepadanya.
e. Hak untuk menolak observasi dari tim kesehatan yang langsung
terlibat dalam asuhan kesehatannya.
f. Hak mendapatkan privasi selama wawancara, pemeriksaan kesehatan
dan pengobatan.
g. Hak mendapatkan privasi untuk berkomunikasi dan menerima
kunjungan dari orang-orang yang benar disetujuinya.
h. Hak untuk menolak pengobatan atau partisipasi dalam pelaksanaan
penelitian dan eksperimen yang dilakukan tanpa jaminan hokum bila
terjadi dampak yang merugikan.
i. Hak terhadap koordinasi dan asuhan kesehatan yang berkelanjutan.
j. Hak menerima pendidikan/instruksi yang tepat dari petugas
kesehatan untuk mengangkatkan pengetahuan tentang kebutuhan
kesehatan dasar secara optimal.
k. Hak kerahasiaan terhadap dokumen serta hasil komunikasi, baik
secara lisan ataupun secara tulisan, yang diberikan kepada petugas
kesehatan, kecuali untuk kepentingan umum.
2. Kewajiban Pasien
Kewajiban adalah seperangkat tanggungjawab seseorang untuk
melakukan sesuatu yang memang harus dilakukan agar dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan haknya. Agar pelaksanaan
asuhan kesehatan dan keperawatan dapat dilakukan semaksimal
mungkin, diperlukan kewajiban sebagai berikut:
a. Pasien atau keluarganya wajib menaati segala peraturan
dan tata tertib yang ada diinstitusi kesehatan dan keperawatan yang
memberikan pelayanan kepadanya.
b. Pasien diwajibkan mematuhi segala kebijakan yang ada,
baik dari dokter ataupun dari perawat yang memberikan asuhan.
c. Pasien atau keluarganya berkewajiban untuk memberikan
informasi yang lengkap dan jujur tentang penyakit yang dideritanya
kepada dokter atau perawat yang merawatnya.
d. Pasien atau keluarga yang bertanggungjawab
terhadapnya, berkewajiban untuk menyelesaikan biaya pengobatan,
perawatan dan pemeriksaan yang diperlukan selam perawatannya.
e. Pasien atau keluarganya berkewajiban untuk memenuhi
segala sesuatu yang diperlukan sesuai dengan perjanjian atau
kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.

F. HAK DAN KEWAJIBAN MENURUT UNDANG-UNDANG

Hak dan kewajiban menurut Undang-Undang RI, No.23 tahun 1992


Berikut ini adalah isi undang-undang RI, No. 23 tahun 1992 tentang Hak
dan Kewajiban tenaga medis, perawat dan pasien:
BAB I
Pasal 1 ayat 1
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
BAB III Hak dan Kewajiban
Pasal 4
Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat
kesehatan yang optimal
Pasal 5
Setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga, dan
lingkungannya.
BAB V Upaya Kesehatan
Bagian kedua : Kesehatan keluarga
Pasal 12
Ayat 1
Kesehatan keluarga diselenggarakan untuk mewujudkan keluarga sehat,
kecil, bahagia dan sejahtera.
Ayat 2
Kesehatan keluarga meliputi kesehatan suami istri, anak dan anggota
keluarga lainnya
Pasal 14
Kesehatan istri meliputi kesehatan pada masa pra kehamilan, persalinan,
pasca persalinan, dan masa diluar kehamilan dan persalinan.
Pasal 15
Ayat 1
Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu
hamil dan janinnya dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
Ayat 2
Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 hanya
dapat dilakukan :
a. berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan
tersebut
b. oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan
untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta
berdasarkan pertimbangan tim ahli
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau
keluarganya.
d. Pada sarana kesehatan tertentu.
BAB VI Sumber Daya Kesehatan
Pasal 53
Ayat 1
Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya
Ayat 2
Tenaga kesehatan, dalam melakukan tugasnya, berkewajiban untuk
mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien.
Pasal 54
Ayat 1
Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian
dalam melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin .
Ayat 2
Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kealalaian, ditentukan oleh
Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan
G. KASUS
Seorang laki-laki usia 15 tahun dibawa ke UGD karena mengalami
dehidrasi berat dan mendapat terapi pemasangan infus. Setelah
dilakukan beberapa kali penusukan oleh perawat, pemasangan infus
gagal dilakukan sehingga dibagian tangan dan kaki klien kebiruan.
Keluarga klien mengadukan ke bagian komite etik untuk meminta
pertangungjawaban perawat.
1. Lakukan analisa dan klarifikasi kasus!
2. Bagaimana hak dan kewajiban pasien dalam kasus ini?
3. Bagaimana komite etik berespon terhadap pengaduan ini?
Jawab :
1. Lakukan analisa dan klarfikasi kasus!
Akibat dehidrasi, pembuluh darah klien mengecil sehingga menyebabkan
susah untuk dimasukkan infus/pemasangan infus gagal, sehingga
membuat kaki dan tangan klien kebiruan akibat infus yang gagal.

2. Bagaimana hak dan kewajiban pasien dalam kasus ini?


Hak Pasien dalam kasus ini adalah :
a. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar
profesi dan standar prosedur operasional. Sebagai pasien kita berhak
mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berstandar
SOP,agar pelayanan tersebut menjadi kenyamanan pasien dan mencegah
terjadinya kejadian tidak diinginkan. Dalam kasus tersebut bahwa
perawat tersebut sangat tidak hatihati dan melakukannya tidak sesuai
dengan SOP.

b. Memperoleh layanan efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari


kerugian fisik dan materi. Dengan memperoleh layanan yang efektif dan
efisien, pasien akan terhindar dari kerugian apapun baik itu dari pasien
maupun perawat. Dalam kasus tersebut pasien mengalami kerugian pada
fisiknya yang menjadi kebiruan

c. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang ditetapkan. Jika


pelayanan tersebut kurang berkualitas, pasien bisa mengajukan kepada
atasan atas pelayanan yang kurang berkualitas. Dalam kasus tersebut,
kualitas pelayanannya sangat tidak baik dan tidak memperdulikan pasien
tersebut.

d. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan


dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya.
Dari kasus tersebut, jika saat pemasangan infuse selalu gagal, pasien
berhak meminta pengganti perawat untuk menginfusnya.

e. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam


perawatan di rumah sakit. Dalam kasus tersebut, pasien tidak
mendapatkan kemanan selama dalam perawatan di rumah sakit

f. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan rumah sakit


terhadap dirinya. Dalam kasus tersebut, sebagai pasien dapat
mengajukan usul seperti meminta pengganti perawat, dan memberikan
saran dan perbaikan kepada atasan atas perlakuan perawat pada pasien

g. Mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan standar


pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Dalam kasus tersebut, pasien berhak
mengeluhkan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar SOP Karena
dapat merugikan dirinya

Kewajiban pasien dalam kasus ini:


Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya kepada dokter atau perawat. Dalam kasus ini, pasien atau
keluarga seharusnya berbicara jujur kepada perawat jika merasa sakit
saat di infuse, jangan hanya diam tentang kesehatannya.
3. Bagaimana komite etik berespon terhadap pengaduan ini ?
Sebelumnya komite etik melihat dulu apa yang terjadi dengan
pasien tersebut. Jika melanggar hukum, maka akan dikenakan sanksi
sesuai peraturan perundang-undangan. Dalam kasus tersebut, pasien
mengalami kerugian fisik menjadi kebiruan berarti pernyataan tersebut
bahwa tindakan yang dilakukan perawat yang melanggar hukum, dan
haruslah memenuhi beberapa syarat:
a. Harus ada perbuatan (baik berbuat naupun tidak berbuat)
b. Perbuatan tersebut melanggar hukum (baik tertulis maupuntidak
tertulis)
c. Ada kerugian
d. Ada hubungan sebab akibat (hukum kausal) antara perbuatan yang
melanggar hukum dengan kerugian yang diderita.
e. Adanya kesalahan (schuld)
Sedangkan untuk dapat menuntut pergantian kerugian (ganti rugi)
karena kelalaian dokter atau perawat, maka pasien harus dapat
membuktikan adanya empat unsure berikut :

a. Adanya suatu kewajiban dokter atau perawat terhadap pasien.


b. perawat telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim.
c. Penggugat (pasien) telah menderita kerugian yang dapat dimintakan
ganti ruginya.
d. Secara faktual kerugian itu disebabkan oleh tindakan dibawah standar.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Hak merupakan tuntutan terhadap sesuatu, dimana seseorang
mempunyai hak terhadapnya, seperti kekuasaan dan hak-hak istimewa
yang berupa tuntutan yang berdasarkan keadilan, moralitas atau
legalitas. Hak dapat dipandang dari sudut hokum dan pribadi (C. Fagin,
1975).Hak terdiri dari 3 jenis, yaitu hak kebebasan, hak kesejahteraan,
dan hak legislatif. Peran hak dan kewajiban, yaitu hak dapat digunakan
sebagai pengekspresia kekuasaan dalam konflik antara seseorang, hak
dapat digunakan untuk memberikan pembenaran pada suatu tindakan,
dan hak dapat digunakan untuk menyelesaikan perselisihan.
Hak Perawat yaituperawat berhak untuk mendapatkan
perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan
profesinya. Sedangkan hak dan kewajiban pasien atau klien yaitu
pentingnya mengetahui hak-hak pasien dalam pelaksanaan asuhan
kesehatan baru muncul pada akhir tahun 1960.
Hak dan kewajiban menurut Undang-Undang RI, No.23 tahun
1992.Berikut ini adalah isi undang-undang RI, No. 23 tahun 1992 tentang
Hak dan Kewajiban tenaga medis, perawat dan pasien.

Saran
Dalam konteks pelayanan kesehatan hubungan perawat dan pasien
hendaknya saling memperhatikan antara hak dan kewajiban dalam
layanan Kesehatan secara professional.
DAFTAR PUSTAKA

Dalami, Ermawati, dkk. 2010. Etika Keperawatan. Jakarta: Trans Info


Media.
Sumijatun. 2011. Membudidayakan Etika dalam Prakti
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Rustiyanto, Eri. 2009. Etika Profesi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Potter & Perry. 2009. Fundamental of Nursing, Buku 1 Edisi 7. Jakarta.
Salemba Medika.

Posted by Elsa Kim at 8:23 AM


Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: etika keperawatan, hak dan ke