Anda di halaman 1dari 10

Makalah Irigasi Pasang Surut

PENGELOLAAN AIR
AGROTEKNOLOGI D

DISUSUN OLEH
RACHMAT ALEXANDER
1406118224

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS RIAU
2017
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Program irigasi rawa pasang surut yang telah dimulai sejak tahun 1970-an sampai

saat ini ternyata belum mempu memberikan hasil yang maksimal mendukung

swasembada pangan nasional. Menurut data Kementerian Pertanian, produksi 62,56

juta ton gabah kering, hanya 1-1.5% yang berasal dari sawah lahan rawa. Luas lahan

rawa Indonesia 33,4 juta ha, yang terdiri dari lahan rawa pasang surut sekitar 20 juta

ha. Lahan pasang surut yang telah direklamasi 3,84 juta ha yang terdiri dari 0,94 juta

ha oleh pemerintah dan sisanya oleh swadaya masyarakat.

Yang dimaksud dengan sistem irigasi pasang-surut adalah suatu tipe irigasi yang

memanfaatkan pengempangan air sungai akibat peristiwa pasang-surut air laut. Areal

yang direncanakan untuk tipe irigasi ini adalah areal yangmendapat pengaruh

langsung dari peristiwa pasang-surut air laut. Untukdaerah Kalimantan misalnya,

daerah ini bisa mencapai panjang 30 - 50 kmmemanjang pantai dan 10 - 15 km masuk

ke darat. Air genangan yangberupa air tawar dari sungai akan menekan dan mencuci

kandungan tanah sulfat masam dan akan dibuang pada saat air laut surut.

Pengelolaan rawa pasang surut dilandasi pada prinsip keseimbangan antara upaya

konservasi dan pendayagunaan rawa pasang surut dengan memperhatikan daya rusak

air di daerah rawa pasang surut. Tujuan utama dari pengelolaan rawa pasang surut

adalah untuk melestarikan rawa pasang surut sebagai sumber air dan meningkatkan

kemanfaatannya untuk mendukung kegiatan sosial, ekonomi, budaya, dan

pengembangan wilayah.
Reklamasi dalam rangka pengembangan rawa pasang surut dilakukan secara

bertahap; tahap pertama membangun saluran terbuka tanpa pintu sehingga muka air

tidak dapat dikendalikan (drainase terbuka); tahap kedua melengkapi saluran

sekunder dan tersier dengan bangunan pintu pengatur (muka air dapat dikendalikan

sebagian); dan tahap ketiga melengkapi prasarana jaringan reklamasi rawa sehingga

muka air dapat dikendalikan penuh.

Sementara menurut data Direktorat Irigasi dan Rawa (Kementerian PU, 2010),

dari 1,8 juta ha rawa yang telah direklamasi, masih terdapat 38,2% yang belum

dimanfaatkan. Kendala rendahnya kesuburan lahan dan tingginya hama, dan

pengelolaan jaringan irigasi tidak tepat, menjadi beberapa faktor penghambat

pengembangan irigasi rawa pasang surut.

Dari fakta tersebut, terlihat bagaimana permasalahan pertanian irigasi rawa begitu

kompleks yang saling kait-mengait. Untuk itu pendekatan komprehensif dan sebab-

akibat sangat tepat dilakukan sebagai pendekatan analisis.

1.2. Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian irigasi pasang surut

dan jaringan irigasi pasang surut.


II. ISI
2.1. Tujuan kegiatan operasi irigasi pasang surut

Tujuan kegiatan operasi jaringan irigasi pasang surut adalah untuk mengatur air di

jaringan reklamasi rawa pasang surut sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Sasaran

operasi jaringan irigasi pasang surut meliputi (Alwi, 2014):

a) terciptanya kondisi tanah (pematangan tanah, keasaman dan zat racun) dan

kualitas air yang memenuhi syarat untuk budi daya tanaman;


b) terpenuhinya kebutuhan air suplesi dan drainase sesuai dengan kebutuhan

tanaman;
c) terhindarnya drainase yang berlebihan (over drainage) yang dapat

mengakibatkan terbentuknya asam dan racun serta penurunan muka tanah

(subsidence) yang berlebihan, khususnya pada tanah gambut;


d) terciptanya keseimbangan kebutuhan air untuk tanaman dan untuk pemenuhan

kebutuhan pokok sehari-hari;


e) terhindarnya pengaruh air asin agar tidak mengganggu tanaman dan penerima

manfaat;
f) terlaksananya pengaturan navigasi (bila diperlukan); dan/atau
g) terhindarnya erosi/longsor pada tebing saluran.
2.2. Jaringan Irigasi Pasang Surut
2.2.1. Tipe Jaringan Irigasi pasang surut

Dalam pengembangan irigasi pasang surut telah diperkenalkan beberapa tipe

jaringan sistem pengaturan air (Panggabean, 2015) :

1. Jenis Pintu Air

a. Pintu Sorong

Pintu sorong adalah pintu yang terbuat dari plat besi/kayu/fiber, bergerak

vertical dan dioperasikan secara manual. Fungsi pintu sorong adalah untuk mengatur

aliran air yang melalui bangunan sesuai dengan kebutuhan, seperti: (1) menghindari
banjir yang datang dari luar, (2) mencegah intrusi air asin, dan (3) menahan air di

saluran pada saat kemarau panjang (Panggabean, 2015).

b. Pintu Klep

Pintu klep dibuat dari kayu atau fiber dengan engsel pada bagian atas. Pintu

ini dapat membuka dan menutup secara otomatis akibat perbedaan tinggi muka air.

Fungsi pintu klep adalah menahan aliran air waktu pasang dan membuang air waktu

surut (aliran satu arah) atau sebaliknya (Panggabean, 2015)

c. Pintu Skot Balok

Pintu skot balok (stoplog) adalah balok kayu yang dapat dipasang pada alur

pintu/sponeng bangunan. Pintu ini berfungsi untuk mengatur muka air saluran pada

ketinggian tertentu. Bila muka air lebih tinggi dari pintu skot balok, akan terjadi

aliran di atas pintu skot balok tersebut (Panggabean, 2015)

2.3. Pengaturan Air di Jaringan Irigasi Pasang Surut


2.3.1. Pengaturan Air di Jaringan Primer dan Sekunder

Pada pengembangan tahap satu infrastruktur jaringan reklamasi rawa pasang

surut berupa saluran-saluran terbuka, yaitu suatu sistem tanpa bangunan pintu

pengatur air, baik di primer, sekunder maupun di tingkat tersier. Pengaturan air pada

sistem terbuka hanya mungkin dilakukan di tingkat lahan usaha tani. Pematang

mengelilingi sawah dan gorong-gorong kecil di parit kuarter sangat dianjurkan untuk

dibangun. Pengaturan air di jaringan primer, dan sekunder berdasarkan ketinggian

rata-rata permukaan pada satu blok sekunder. Pemasangan pintu klep dan pintu geser

di saluran sekunder memungkinkan pengaturan muka air secara efektif asalkan

pengoperasiannya dilakukan dengan benar. Ada perbedaan antara pengoperasian di


musim hujan dengan pengoperasian di musim kemarau, dan juga selama kondisi

normal dan kondisi ekstrem. Kondisi ekstrem adalah periode terlampau basah di

musim hujan, dan periode sangat kering di musim kemarau. Kondisi terlampau basah

bisa disebabkan oleh adanya curah hujan berlebihan di musim penghujan. Pada

umumnya dalam kasus seperti itu, pembuangan kelebihan curah hujan harus

dilakukan secepat mungkin namun perlu dicegah terjadinya drainase

yang berlebihan (over drainage) (Noor, 2012).

2.4. Pemeliharaan Jaringan Irigasi Pasang Surut

Tujuan kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi ini adalah untuk menjamin

kelestarian fungsi jaringan irigasi selama mungkin sesuai dengan masa pelayanan

yang direncanakan. Sasaran pemeliharaan jaringan irigasi pasang surut adalah

terjaminnya kondisi dan fungsi jaringan irigasi pasang surut (Panggabean, 2014)

2.4.1. Pemeliharaan Rutin

Pemeliharaan rutin adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan tata air

rawa agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar operasi dan

mempertahankan kelestarian fungsi dan manfaat prasarana tata air rawa yang

dilakukan secara terus-menerus. Pemeliharaan rutin antara lain sebagai berikut

(Panggabean, 2014) :

a. Pembersihan sampah di muka bangunan air pada saluran primer, sekunder,

dan tersier.
b. Pemotongan rumput di tanggul/berm pada tanggul pengaman, saluran primer,

sekunder, dan tersier.


c. Pembersihan saluran (tumbuhan air) pada saluran primer, sekunder, dan

tersier.
d. Pemeliharaan tanggul pada tanggul pengaman, saluran primer, sekunder, dan

tersier.
e. Pemeliharaan bangunan air (pembersihan, pelumasan, dan pengecatan) pada

saluran primer, sekunder, dan tersier.


f. Pemeliharaan jembatan dan dermaga (pengecatan dan perbaikan ringan).
g. Pemeliharaan jalan pada jalan inspeksi dan jalan usaha tani.
h. Pemeliharaan kantor dan rumah dinas (termasuk perbaikan ringan).
i. Kalibrasi alat ukur.
2.4.2. Pemeliharaan Berkala

Pemeliharaan berkala adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan tata air

rawa agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar operasi dan

mempertahankan kelestarian fungsi dan manfaat prasarana tata air rawa yang

dilakukan tiap tahun atau lima tahunan atau juga tergantung pada kondisi bangunan

dan saluran. Pemeliharaan berkala antara lain berupa (Panggabean, 2014) :

a. Pengangkatan lumpur pada saluran primer, sekunder, dan tersier.


b. Perbaikan tanggul (longsor dan erosi) pada saluran primer, sekunder, tersier

dan tanggul pengaman.


c. Perbaikan bangunan air (penggantian yang rusak) pada saluran primer,

sekunder, dan tersier.


d. Perbaikan jembatan dan dermaga (penggantian yang rusak) pada saluran

navigasi, primer, sekunder, dan tersier.


e. Perbaikan jalan pada jalan inspeksi dan jalan usaha tani.
f. Perbaikan kantor dan rumah dinas (rehabilitasi).
g. Pengamanan jaringan berupa pemasangan patok batas jalur hijau dan

sempadan, papan larangan, nomenklatur bangunan, portal dan patok km.


III. PENUTUP
3.1. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa upaya pengembangan irigasi pasang

surut sangat kompleks mulai dari perencanaan tata tanam sampai ke perencanaan

pengelolaan air sehingga tercipta kondisi optimal dalam pemanfaatan lahan bagi

pertanian dan kehidupan masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Muhammad. 2014. Prospek Lahan Rawa Pasang Surut Untuk Tanaman

Padi. Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi.

Banjarbaru: Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa.

Noor, Muhammad. 2012. Sejarah Reklamasi Rawa. Seminar Nasional Pengelolaan

Lahan Gambut Berkelanjutan 4 April 2012. Bogor : Balai Besar Litbang

Sumberdaya Lahan.

Panggabean, Elias Wijaya. 2014. Sistem Pengelolaan Irigasi Rawa Berkelanjutan.

Prosiding Kolokium Strategi Penanganan Permasalahan Sosekling dalam

Penyelenggaraan Infrastruktur PU dan Permukiman. Jakarta : Puslitbang

Sosekling. Badan Litbang PU.

Panggabean, Elias Wijaya. 2015. Pengaruh Persepsi Petani terhadap Motivasi

Mengembangkan Pertanian pada Irigasi Pasang Surut. Jurnal Sosial

Ekonomi Pekerjaan Umum. Vol.7 No. 2 juli 2015. Jakarta.


LAMPIRAN