Anda di halaman 1dari 5

On Wednesday April 22, 2015 we did an experiment with a resistance of the human body

topic. This objectives is measuring the resistance value of human body. In this experiment we used
four people as the practitioner is EkaAdytianto, Helda, Wulan, and Yuliana. While the tools we use in
this experiment including using multimeter, gage, and stationary.
The step of experiments we did that, setting the multimeter to the ohmmeter position and
ensuring multimeter the proper function with attach two probes than the needle scale indicates zero.
Measuring value is resistant body (hand to hand) by attaching the multimeter probes on both hands
and recording the measured values. (hands in a clean and dry condition). Repeating the procedure
both for conditions that sweaty or dirty hands. Repeating the procedure on other body parts (hands,
feet to feet, and hands to the eyebrows). Repeating the above procedure to another practitioner.

Pada percobaan yang dilakukan oleh praktikan pertama yaitu Eka, pada posisi tangan ke
tangan pada keadaan tangan bersih/ kering dan basah, memiliki panjang 188 cm dan memiliki
hambatan sebesar 4,10 pada posisi kering, dan pada posisi basah memiliki hambatan sebesar
1,58 , kemudian pada posisi tangan ke kaki memiliki jarak 203 cm dan memiliki hambatan
sebesar 1,58 , selanjutnya pada posisi kaki ke kaki memiliki jarak 231 cm dan memiliki
hambatan sebesar 6,30 dan pada posisi tangan ke alis memiliki jarak 107 cm dan memiliki
hambatan sebesar 3,90 .

Selanjutnya percobaan yang dilakukan oleh praktikan kedua yaitu Helda, pada posisi tangan
ke tangan pada keadaan tangan bersih/ kering dan basah, memiliki panjang 173 cm dan memiliki
hambatan sebesar 4,40 pada posisi kering, dan pada posisi basah memiliki hambatan sebesar
1,20 , kemudian pada posisi tangan ke kaki memiliki jarak 203 cm dan memiliki hambatan
sebesar 5,10 , selanjutnya pada posisi kaki ke kaki memiliki jarak 262 cm dan memiliki
hambatan sebesar 7,30 dan pada posisi tangan ke alis memiliki jarak 104 cm dan memiliki
hambatan sebesar 3,90 .

Kemudian percobaan yang dilakukan oleh praktikan ketiga yaitu Wulan, pada posisi tangan
ke tangan pada keadaan tangan bersih/ kering dan basah, memiliki panjang 176 cm dan memiliki
hambatan sebesar 4,60 pada posisi kering, dan pada posisi basah memiliki hambatan sebesar
1,30 , kemudian pada posisi tangan ke kaki memiliki jarak 196 cm dan memiliki hambatan
sebesar 4,10 , selanjutnya pada posisi kaki ke kaki memiliki jarak 231 cm dan memiliki
hambatan sebesar 6,70 dan pada posisi tangan ke alis memiliki jarak 93 cm dan memiliki
hambatan sebesar 3,10 .

Dan pada percobaan yang dilakukan oleh praktikan keempat yaitu Yuliana, pada posisi tangan
ke tangan pada keadaan tangan bersih/ kering dan basah, memiliki panjang 173 cm dan memiliki
hambatan sebesar 4,40 pada posisi kering, dan pada posisi basah memiliki hambatan sebesar
1,10 , kemudian pada posisi tangan ke kaki memiliki jarak 194 cm dan memiliki hambatan
sebesar 4,90 , selanjutnya pada posisi kaki ke kaki memiliki jarak 248 cm dan memiliki
hambatan sebesar 6,90 dan pada posisi tangan ke alis memiliki jarak 101 cm dan memiliki
hambatan sebesar 3,50 .

Pada percobaan yang telah kami lakukan diperoleh hasil bahwa tiap orang memiliki
hambatan atau resistansi tubuh yang berbeda-beda. Hal ini dibuktikan pada percobaan yang telah
kami lakukan.

Pada literatur yang kami peroleh bahwa laki-laki cenderung memiliki resistansi yang lebih
rendah daripada wanita. Sebagaimana resistor yang digunakan pada peralatan elektronik, resistansi
pada lengan manusia bergantung pada panjang dan diameter lengan. Resistansi sebanding dengan
panjang dan berbanding terbalik dengan diameter. Karena laki-laki cenderung memiliki lengan yang
lebih tebal (lebih berotot) sehingga mereka memiliki resistansi yang lebih rendah. Hal ini juga
dibuktikan pada praktikan Eka, yaitu memiliki nilai resistansi yang rendah dibandingkan dengan
praktikan yang lainnya.

Nilai kasar resistansi internal tubuh manusia adalah 300-1000 ohm. Secara alami, resistansi
juga bergantung pada jalur yang dilewati arus pada tubuh manusia, apakah antara tangan ke tangan,
tangan ke kaki, kaki ke kaki, tangan ke alis mata, dan sebagainya. Jika arus masuk melewati tangan
kiri dan keluar pada kaki kanan, maka nilai resistansinya akan jauh lebih tinggi dari pada jika arus
masuk dan keluar pada jari-jari yang berdekatan. Pada percobaan yang telah dilakukan, diketahui
bahwa pada tubuh bagian lengan ke lengan memiliki nilai resistansi atau hambatan yang besar
daripada lengan ke kaki, kaki ke kaki dan tangan ke alis. Hal ini dikarenakan bahwa semakin panjang
jarak 2 elektroda memiliki hambatannya yang besar dan pada kondisi basah hambatannya lebih kecil
daripada kondisi kering.

Resistansi pada tubuh juga bervariasi bergantung bagaimana kontak yang dibuat oleh kulit :
apakah antara tangan ke tangan, tangan ke kaki, kaki ke kaki, tangan ke alis mata. Keringat, yang
mengandung banyak garam dan mineral, adalah konduktor listrik yang baik karena keringat
berwujud likuid. Jadi darah juga terdiri dari bahan-bahan kimia yang konduktif. Sehingga kontak
dengan kawat dengan tangan yang basah akan memberikan nilai resistansi yang lebih kecil dari pada
saat kondisi tangan bersih dan kering.

Jadi bilamana kulit sedang kering, tahanan menjadi tinggi dan cukup untuk melindungi
dari bahaya sengatan listrik. Namun demikian untuk mendapatkan kondisi kulit yang benar-benar
kering adalah hal yang jarang dijumpai. Kecenderungannya setiap orang akan mengeluarkan
keringat walaupun hanya sedikit. Oleh karena itu dianggap bahwa tubuh selalu basah, tahanan
listrik menjadi rendah dan kemungkinan terkena sengatan menjadi tinggi.
Di dalam tubuh, jaringan yang memiliki resistansi terbesar adalah tulang dan lemak,
sementara syaraf dan otot memiliki resistansi terkecil. Selain itu dapat dikatakan bahwa mayoritas
resistansi tubuh ada pada kulit-sel kulit mati dan kering dari epidermis adalah konduktor yang sangat
buruk. Bergantung pada setiap orang, resistansi kulit kering biasanya di antara 1000-100000 ohm.
Resistansi kulit menjadi lebih rendah jika kulit pada kondisi yang basah atau terbakar/terpapar panas.
Hal ini berarti ketika seseorang tersetrum, resistansi tubuh akan turun karena kulit kita terbakar.
Untuk mengukur resistansi total tubuh manusia dpat dilakukan dengan menambahkan resistansi dari
setiap bagian tubuh.

Resistansi tubuh manusia berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Semakin
rendah resistansi tubuh manusia, semakin besar pula akibat yang dapat ditimbulkan oleh sengatan
arus listrik. Resistansi tubuh manusia dapat dibedakan menjadi dua, yaitu eksternal dan internal.
Resistansi eksternal dipengaruhi oleh kulit manusia dan resistansi internal dipengaruhi oleh jaringan
tubuh dan sistem aliran darah. Kulit kering merupakan isolator listrik yang bagus. Kulit lembab,
basah dapat menurunkan nilai resistansi tubuh, oleh karena itu intensitas tersengat arus listrik akan
semakin besar bila tangan kita basah. Pada percobaan yang telah kami lakukan pada posisi tangan ke
tangan pada keadaan kering lebih besar daripada keadaan basah.

Selain itu hal-hal yang mempengaruhi besar kecilnya resistansi tubuh antara lain :

a. jenis kelamin

b. basah tidaknya permukaan kulit

c. tebal tipisnya kulit

Resistansi lebih besar saat kondisi kulit dalam keadaan kering. Antara perempuan dan laki-
laki, nilai resistansinya lebih besar yang laki-laki. Untuk kulit yang permukaannya tebal maka nilai
resistansinyapun lebih besar daripada yang berkulit lebih tipis.

Tipikal Resistansi Tubuh Nilai Resistansi ()


Kondisi Tubuh
Kulit Kering 100.000 600.000
Kulit Basah 1000

Jika resistansi rangkaian sangat kecil maka arus yang mengalir di dalam rangkaian tersebut
menjadi sangat besar. Besaran nailai arus listrik yang mengalir melewati tubuh manusia sebesar 15
miliamper sudah dapat berakibat fatal bagi jiwa manusia.

Berikut ini diberikan dampak sengatan arus listrik yang dilihat dari besarnya arus listrik yang
mengalir dalam tubuh manusia. Arus listrik sebesar 1 miliamper membuat sensasi terhadap seseorang,
arus sebesar 20 miliamper memungkinkan seseorang tidak dapat bergerak, arus sebesar 100 miliamper
menyebakan terjadinya ventricuar fibrillation (jantung berdebar keras), dan arus lebih besar atau sama
dengan 200 miliamper dapat menyebabkan tubuh terbakar dan respiratory paralysis (kehilangan cairan
tubuh).