Anda di halaman 1dari 7

Mikrosirkulasi merupakan tempat terjadinya kontak dan pertukaran zat antara

darah dan jaringan tubuh. Tempat terjadinya pertukaran tersebut persisnya adalah
pada kapiler, yang merupakan pembuluh darah sangat halus dan hanya dapat
diamati pada jaringan yang sangat tipis dan tembus cahaya.
Jantung amfibi sedikit lebih kompleks yakni memiliki dua atrium, salah satu
menerima darah teraksigenasi dari seluruh tubuh, dua macam darah ini tercampur
dalam satu ventrikel, sehingga sistem ini tidak begitu efisien, akan tetapi bagi hewan
berdarah dingin dapat dikatakan cukup efektif bila mengalirkan melalui ventrikel
tersebut (Jasin, 1992: h. 86).
Dalam ventrikel tunggal pada jantung katak, terdapat pencampuran darah
kaya oksigen yang telah kembali dari paru-paru dengan darah yang kurang oksigen
yang telah kembali dari bagian tubuh yang lain. Akan tetapi, suatu abungan (ridge) di
dalam ventrikel akan mengalihkan sebagian besar dari darah yang kaya oksigen itu
dari atrium kiri ke dalam sirkuit sistemik dan sebagian besar darah yang miskin
oksigen itu dari atrium kanan ke dalam sirkuit pulmokutaneus.
Hemodinamika pada mesenterium katak juga menunjukkan adanya
mikrosirkulasi yang terdiri atas arteriol, kapiler, dan venula. Arteriol memiliki
kecepatan aliran paling cepat diantara vena dan kapiler. Aliran darah di arteriol dan
kapiler memiliki arah bolak-baik, sedangkan arah aliran darah di vena adalah menuju
mesenterium. Berbagai rangsang fisik, mekanik dan kimia faktor mempengaruhi
mikrosirkulasi yang terjadi di pembuluh darah
Kerja sama antara arteriol, kapiler, dan venula secara kolektif disebut sebagai
mikrosirkulasi karena pembuluh-pembuluh tersebut hanya dapat dilihat dengan
bantuan mikroskop.
a Arteriol
Arteriol merupakan cabang dari arteri yang bertugas menyalurkan darah ke
organ. Jadi, aliran darah dari arteriol adalah menuju organ/masuk ke dalam organ.
Di dalam organ, arteriol bercabang-cabang lagi menjadi kapiler, pembuluh terkecil,
tempat semua pertukaran antara darah dan sel-sel di sekitarnya terjadi.
Lumen arteriol diameternya lebih kecil dari venula. Hal ini dikarenakan adanya
perbedaan struktural pada dinding arteriol dan venula. Arteriol dan venula, dinding
pembuluhnya mempunyai tiga lapisan yang serupa, yaitu lapisan luarnya merupakan
jaringan ikat elastis, lapisan tengahnya merupakan otot polos dan serat yang lebih
elastis, dan yang melapisi bagian dalamnya merupakan endothelium. Namun,
arteriol mempunyai lapisan tengah dan lapisan luar yang lebih tebal dibandingkan
dengan venula. Dinding arteri (arteriol) yang lebih tebal menyediakan kekuatan dan
elastisitas yang mengakomodasi aliran darah yang dipompakan secara cepat pada
tekanan tinggi melalui arteri oleh jantung.
Warna darah pada pembuluh arteriol merah muda. Hal ini dikarenakan darah
yang mengalir di arteriol kaya akan O 2. Aorta arteri arteriol merupakan pembuluh
darah yang keluar dari jantung dan membawa darah kaya akan oksigen ke semua
jaringan tubuh dalam peredaran sistemik.

b Kapiler
aliran darah dikapiler bolak balik artinya darah keluar masuk usus (organ).
Arah aliran darah di kapiler bolak balik, hal ini mungkin disebabkan karena pada
pembuluh darak kapiler terjadi pertukaran zat zat antara darah dengan jaringan.
Karena kapiler adalah pembuluh yang ideal untuk tempat pertukaran. Pertukaran
dikapiler merupakan tujuan akhir di system sirkulasi.Pertukaran zat zat yang
melintasi dinding kapiler proses utamanya berlangsung melalui proses
difusi.Pertukaran antara darah dan jaringan disekitarnya melalui dinding kapiler
berlangsung melalui difusi pasif.
Karena di dinding kapiler tidak terdapat system transportasi yang diperantarai
oleh pembawa, zat zat terlarut berpindah terutama melalui difusi menuruni gradient
konsentrasi mereka.Komposisi kimiawi darah arteri diatur secara cermat untuk
mempertahanakan konsentrasi setiap zat terlarut ditingkat yang akan mendorong
pergerakan mereka menembus dinding kapiler dengan arah yang sesuai.Proses
homeostatic ini yang secata terus menerus menambahkan nutrient dan O 2 serta
mengeluarkan CO2 dan zat zat sisa sewaktu darah melewati organ organ
tersebut.Sementara itu,sel sel terus menerus menggunakan pasokan dan
menghasilkanzat zat sisa metabolisme. Difusi setiap zat terlarut terus berlangsung
secara independent sampai tidak lagi terdapat perbedaan konsentrasi antara darah
dan sel sel disekitarnya.Proses ini terus menerus terjadi berulang dengan
sendirinya.Hal ini mungkin yang membuat arah alirah darah pada kapiler bolak balik.
Mengapa terjadi berulang karena semua sel menggunakan O 2 dan glukosa,darah
secara terus menerus menyalurkan pasokan segar kedua zat vital tersebut,sehingga
gradient konsentrasi yang mendorong difusi netto zat zat tersebut dari darah ke sel
dapat dipertahankan.Secara bersamaan,terjadi difusi netto secara terus menerus
CO2 dan zat sisa metabolisme dari sel ke darah yang dipelihara oleh sel yang secara
kontinu menghasilkan zat zat tersebut dan darah secara konstan membersihkan
mereka dari jaringan.
Karena dinding kapiler tidak membatasi lewatnta konstituen apapun kecuali
protein plasma,tingkat pertukaran untuk setiap zat terlarut secara independen
ditentukan oleh tingkat gradient konsentrasi antara darah dan jaringan
disekitarnya.Apabila sel sel meningkatkan aktivitas mereka,sel sel tersebut akan
meningkatkan antara lain penggunaan O2 dan pembentukkan CO2.Hal ini
meniumbulkan gradient konsentrasi O2 dan CO2 yang lebih besar antara sel dan
darah,sehingga lebih banyak O2 yang berdifusi keluar dari darah untuk masuk
kedalam sel dan lebih banyak CO2 yang mengalir dalam arah sebaliknya untuk
menunjang aktivitas metabolik.
Selain itu,molekul molekul yang berdifusi hanya menempuh jarak yang
pendek antara darah dan sel disekitarnya karena dinding kapiler tipis dan garis
tengahnya kecil, selain dekatnya jarak kapiler dengan setiap sel.
Darah mengalir lebih lambat di kapiler daripada dibagian sirkulasi
lainnya.Percabangan kapiler yang luas juga merupakan penyebab lambatnya aliran
darah melalui kapiler.Kecepatan darah yang mengalir melalui berbagai segmen
pembuluh vaskuler berbeda beda karena kecepatan aliran berbanding terbalik
dengan luas potongan melintang total semua pembuluh di tingkat system sirkulasi
tertentu.Walaupun luas potongan melintang setiap kapiler sangat kecil dibandingkan
dengan aorta,jumlah luas potongan melintang semua kapiler sekitar tiga ratus kali
lebih besar daripada luas melintang potongan aorta karena jumlah kapiler yang
sangat banyak. Dengan demikian,darah melambat ketika mengalir melalui kapiler.
Melambatnya darah memberikan waktu yang cukup bagi darah dan jaringan
untuk saling bertukar nutrient dan produk sisa metabolik,yaitu tugas utama system
sirkulasi keseluruhan.Pada saat kapiler kapiler menyatu membentuk vena,luas
potongan melintang total kembali berkurang,dan darah mengalir lebih cepat untuk
kembali ke jantung.Selain itu,karena kapiler secara keseluruhan memiliki jumlah
(total) luas potongan melintang yang sangat besar,resisten yang dihasilkan oleh
semua kapiler jauh lebih rendah daripada yang dihasilkan di arteriol.
Lumen kapiler diameternya paling kecil diantara ketiga pembuluh. Hal ini
dikarenakan adanya perbedaan struktural pada dinding arteriol, kapiler dan venula.
Kapiler tidak memiliki kedua lapisan luar. Kapiler hanya memiliki dinding pembuluh
tipis yang hanya terdiri atas endothelium dan membrane basal. Struktur tersebut
mempermudah pertukaran zat antara darah dan cairan interstitial yang menggenangi
sel itu.
Warna darah pada pembuluh arteriol merah. Hal ini dikarenakan darah yang
mengalir di kapiler kaya akan O2 yang berasal dari pembuluh darah arteri.
c Venula
Saat pengamatan, kami mengamati arah aliran darah mesentrium katak dan
diamati dibawah mikroskop. Aliran darah dari venula adalah menuju jantung/keluar
dari dalam organ. Karena venula membawa darah miskin oksigen menuju vena dan
akan dibawa ke jantung.
Darah setelah melewati kapiler akan menuju ke venula dan nantinya akan
menuju ke vena untuk dibawa ke jantung. Kecepatan aliran darah saat di venula
lebih cepat dari kapiler, tetapi lebih lambat dari arteriol.
Kecepatan aliran darah lebih cepat dari kapiler karena saat dikapiler terjadi
difusi gas (aliran bolak-balik) sehingga pergerakan aliran di kapiler lambat. Namun,
ketika memasuki venula, darah hanya mengalir satu arah yaitu menuju vena lalu ke
jantung. Hal ini karena pada venula terdapat katup-katup satu arah yang
memungkinkan darah hanya bergerak kedepan ke arah jantung sehingga mencegah
darah mengalir kembali ke jaringan.
Kecepatan aliran darah di venula lebih lambat dari arteriol, karena pada
arteriol darah langsung dipompa dari jantung lalu melewati arteri dan ke arteriol.
kerja dari otot jantunglah yang membuat tekanan darah menjadi besar dan
kecepatannya menjadi besar pula. Hal ini karena besarnya (laju) aliran melalui suatu
pembuluh berbanding lurus dengan gradien tekanan dan cairan selalu mengalir dari
daerah bertekanan tinggi ke rendah, dari teori-teori itu kita dapat menyimpulkan
bahwa kecepatan aliran darah di venula lebih lambat daripada aliran darah di
arteriol. Aliran darah di venula juga masih mengandalkan sisa-sisa tekanan dari
arteriol. Hal ini karena venula memiliki dinding yang jauh lebih tipis dengan otot
polos lebih sedikit daripada arteriol, sehingga venula kurang memiliki elastisitas
dibandingkan dengan arteri dan venula dan vena disebut sebagai pembuluh darah
pasif.
Lumen venula diameternya paling besar diantara arteriol dan kapiler. Hal ini
dikarenakan adanya perbedaan struktural pada dinding arteriol dan venula. Arteriol
dan venula, dinding pembuluhnya mempunyai tiga lapisan yang serupa, yaitu
lapisan luarnya merupakan jaringan ikat elastis, lapisan tengahnya merupakan otot
polos dan serat yang lebih elastis, dan yang melapisi bagian dalamnya merupakan
endothelium. Namun, venula mempunyai lapisan tengah dan lapisan luar yang lebih
tebal dibandingkan dengan arteriol. Vena (venula) dengan dinding yang lebih tipis
mengirimkan darah kembali ke jantung dengan kecepatan dan tekana rendah
setelah darah itu melewati hamparan kapiler.
Warna darah pada pembuluh arteriol merah lebih pekat. Hal ini dikarenakan
darah yang mengalir di venula kaya akan CO 2. Venula - vena - vena cava
merupakan pembuluh darah yang menuju ke jantung dan membawa darah kaya
akan karbon dioksida ke jantung dalam peredaran sistemik.

1 Pengaruh Rangsang Mekanik, Suhu dan Kimia terhadap Kecepatan Aliran Darah
a Perlakuan Rangsang Mekanik dengan Ijuk
Pada percobaan pengaruh rangsang terhadap kecepatan aliran darah dan
diameter pembuluh darah diberikan empat macam perlakuan, yaitu ditekan
dengan ijuk, ditetesi air es, ditetesi air panas, dan pemberian asam cuka. Saat
pembuluh darah diberikan perlakuan dengan ditekan menggunakan ijuk aliran
darah menjadi terhenti tetapi setelah dilepaskan ijuk tersebut maka lairan darah
menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Pada saat pasokan darah ke suatu daerah
tersumbat total, arteriol di daerah itu akan mengalami dilatasi karena relaksasi
miogenik yang terjadi sebagai respon terhadap hilangnya peregangan karena
tidak ada aliram darah dan perubahan komposisi kimia lokal. Apabila pasokan
darah ke suatu jaringan tersumbat, kadar O2 menurun di jaringan itu. Jaringan
terus mengkonsumsi O2, tetapi tidak mendapatkan pasokan O2 segar (Sherwood,
2001). Selain itu juga disebabkan oleh perbedaan tekanan yang ada pada
pembuluh darah ketika ditekan oleh ijuk. Ketika tersumbat aliran darah menjadi
kecil sehingga tekanan menjadi tinggi. Dan saat ijuk tersebut dilepaskan maka
tekanan pada aliran darah yang tinggi tadi akan mendorong aliran darah menjadi
lebih cepat.
Setelah tekanan ijuk dilepaskan, aliran darah terlihat mengalir lebih cepat
dari aliran normalnya, karena saat ijuk menghambat aliran pasokan darah, maka
arteriol-arteriol di daerah itu akan mengalami dilatasi, yang disebabkan oleh :
Relaksasi miogenik(otot), yang terjadi karena respons terhadap hilangnya
peregangan karena tidak ada aliran darah
Perubahan komposisi kimia lokal. Apabila pasokan darah ke suatu jaringan
tersumbat, kadar O2 menurun di jaringan itu; jaringan terus mengkonsumsi O 2,
tetapi tidak mendapat pasokan O 2 segar. Sementara itu, konsentrasi CO 2,
asam, dan metabolit lain meningkat. Walaupun produksi mereka tidak
meningkat jika suatu jaringan lebih aktif secara metabolis, zat-zat ini akan
tertimbun di jaringan apabila tidak dibersihkan oleh darah.
Setelah tekanan dilepaskan, aliran darah ke jaringan yang sebelumnya
kekurangan darah tersebut secara sementara akan lebih besar dari normal
karena pembuluh yang berdilatasi. Peningkatan aliran darah karena dilatasi
pembuluh darah ini disebut hiperemia reaktif. Respons ini bermanfaat untuk
secara cepat memulihkan komposisi kimiawi lokal ke normal.
Peristiwa hiperemia reaktif tersebut disebabkan oleh adanya pengaruh fisik
lokal oleh tekanan ijuk. Pengaruh fisik lokal merupakan bagian dari kontrol lokal
(intrinsik), yaitu perubahan-perubahan di dalam suatu jaringan yang mengubah
jari-jari pembuluh, sehingga aliran darah ke jaringan tersebut berubah melalui
efek terhadap otot polos arteriol jaringan. Kontrol lokal atas jari-jari arteriol penting
untuk menentukan ditribusi curah jantung, sehingga aliran darah sesuai dengan
kebutuhan metabolik jaringan.
Selain peristiwa hyperemia reaktif, penyebab utama terdilatasinya pembuluh
darah setelah tersumbat oleh ijuk ialah karena naiknya gradien tekanan antara
lokasi penyumbatan dengan pembuluh darah setelahnya yang kekurangan aliran
darah. Seiring dengan bertambahnya tekanan di area penyumbatan, maka
gradien tekanan antara daerah penyumbatan dan daerah setelahnya
menyebabkan laju aliran darah bertambah, hal itu disebabkan karena laju aliran
darah(F) berbanding lurus dengan gradien tekanan(P) (lihat persamaan reaksi
sebelumnya, F= P/R).
DAFTAR PUSTAKA

Adnan, Fisiologi Hewan. Makassar: Universitas Negeri Makassar Press, 2008.

Armadi. Mikrosirkulasi.Blog Armadi. http://armadibioz.wordpress.com

Campbell, Neil A. Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell, Biologi Edisi ke 5 Jilid
3. Jakarta: Erlangga, 2004.

Hala, Yusminah. Biologi Umum II. Makassar: Alauddin press, 2007.

Halwatiah, Fisiologi. Makassar: Alauddin press, 2009.

Isnaeni, Wiwi. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Jasin, Maskoeri. Zoologi Invertebrata. Jakarta: Sinar Wijaya, 1992.

Susanto, Hendra. Otot Jantung. Blog Hendra, http://hendrasusantofaal.blogspot.com

www.natureisalam.blogspot.co.id/2012/08/mikrosirkulasi-pada-katak.html