Anda di halaman 1dari 20

INDEX KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONSIA

INDEX KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONSIA Oleh : Drg. Norman Hidajah, M.Biomed FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS

Oleh :

Drg. Norman Hidajah, M.Biomed

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR DENPASAR

2016

ORTODONSIA Oleh : Drg. Norman Hidajah, M.Biomed FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR DENPASAR 2016

INDEX KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONSIA

Abstrak

. Kasus maloklusi pada anak dari tahun ke tahun terus meningkat, sehingga program pencegahan atau ortodonsi preventif sangat diperlukan. Perawatan maloklusi dalam tahap pencegahan sangat diperlukan untuk memperhatikan kesehatan antara gigi, tulang dan otot dalam fungsinya. Kebutuhan perawatan ortodonsi pada suatu populasi digambarkan dengan alat ukur salah satunya Index of Orthodontic Treatment Need(IOTN). Untuk memengetahui kebutuhan perawatan ortodonsi digunakan Indeks yang terdiri dari dua komponen yaitu aesthetic component (AC) dan Dental Health Component (DHC). IOTN dihitung dengan cara mengambil foto intraoral dari gigi pasien, kemudian hasilnya dicocokan dan dikategorikan pada salah satu dari sepuluh grade pada komponen foto dari AC , setelah dicocokan kemudian dilihat apakah ada openbite, overbite, overjet, crossbite, supernumary teeth, dan hypodontia kemudian hasilnya dikategorikan pada salah satu dari lima grade yang terdapat dalam DHC

Kata kunci : Kebutuhan Perawatan Ortodonsi, Index of Orthodontic Treatment Need, Aesthetic Component, Dental Health Component.

.

PENDAHULUAN

Gigi merupakan investasi bagi kesehatan sepanjang hidup, peranannya cukup besar

dalam mempersiapkan zat makanan sebelum absorpsi nutrisi pada saluran pencernaan,

fungsi estetik dan bicara.Dalam ilmu kedokteran gigi, masalah maloklusi seperti ciri-ciri,

etiologi ataupun perawatannya dibahas lebih spesifik dibidang ortodonsi (Dewi, 2010).

Menurut World Health Organization (WHO) maloklusi adalah cacat atau gangguan

fungsional yang dapat menjadi hambatan bagi kesehatan fisik maupun emosional dari

pasien yang memerlukan perawatan. Kelainan maloklusi dapat menyebabkan terjadinya

masalah untuk pasien yaitu, deskriminasi sosial karena masalah penampilan dan estetik

wajah atau dento-fasial

masalah dengan fungsi oral, termasuk adanya masalah dalam

pergerakan rahang, Temporomandibular Joint Dysfunction (TMD), masalah penelanan,

dan berbicara, serta terjadi resiko lebih tinggi terhadap trauma, penyakit periodontal, dan

karies (Proffit,2007).

Keadaan gigi yang mengalami maloklusi dapat mengakibatkan bentuk wajah

menjadi kurang baik atau mengganggu estetik, baik pada waktu menutup mulut,

berbicara,

atau

tertawa.

Pada

anak-anak,

kelainan

tersebut

pada

umumnya

dapat

menimbulkan cacat muka, sehingga menurunkan daya tarik anak tersebut. Kadang-

kadang dapat menerima ejekan dari teman-temannya (Nanda, 2005).

Hal inilah yang dapat menimbulkan rasa rendah diri, yang selanjutnya akan

mempengaruhi proses

pembentukan diri dengan cara menarik diri,

pendiam, atau

pemalu.

Untuk

itu

perawatan

maloklusi

perlu

dilakukan

dengan

sedini

mungkin.

Keadaan gigi seperti ini dapat mempengaruhi psikologis anak tersebut. Orang tua

menginginkan anaknya tampak normal dan berpenampilan menarik, sehingga mereka

membawa anaknya ke dokter gigi untuk memperbaiki maloklusi (Welbury, 2001).

Perkembangan oklusi dimulai dari periode gigi sulung. Gigi sulung pertama erupsi

pada usia 6-9 bulan dan lengkap pada usia 20-24 bulan. Kemudian, erupsi gigi permanen

12 tahun merupakan akhir periode gigi campuran dimana pada usia ini oklusi gigi

permanen telah terjadi sehingga dapat dibuat pemeriksaan oklusal yang akurat. Faktor

herediter, trauma, kehilangan gigi sulung terlalu dini, kebiasaan makan, dan kebiasaan

buruk pada periode gigi sulung sampai gigi permanen dapat menyebabkan maloklusi

(Emmadita, 2011).

Kasus maloklusi pada anak dari tahun ke tahun terus meningkat, sehingga

program pencegahan atau ortodonsi preventif sangat diperlukan. Perawatan maloklusi

dalam tahap pencegahan sangat diperlukan untuk memperhatikan kesehatan antara gigi,

tulang dan otot dalam fungsinya (Sakinah, 2008) .Jika anak masih dalam proses tumbuh

kembang, untuk memprediksi keadaan akhir proses tumbuh kembang wajah anak yang

dikaitkan dengan perawatan ortodonsi sulit untuk dilakukan sehingga pertimbangan

tindakan atau intervensi ortodonsi pada anak semakin kompleks (Sudarso,2008).

Dengan meningkatnya perhatian para ahli kesehatan terhadap maloklusi dan

perawatan ortodonsi maka banyak metode penilaian maloklusi dengan menggunakan

indeks.

Ternyata

setiap

indeks

menilai

ciri-ciri

maloklusi

tertentu

yang

berlainan

sehingga sampai saat ini belum ada metode penilaian yang seragam (Dewanto, 1993)

Maloklusi

Pengertian maloklusi

Maloklusi

adalah

keadaan

gigi

yang

tidak

harmonis

secara

estetik,mempengaruhi penampilan seseorang dan mengganggu keseimbangan fungsi

baik fungsi pengunyahan maupun bicara.Maloklusi umumnya bukan merupakan

proses patologis tetapi proses penyimpangan dari perkembangan normal (Proffit,

et.al.,2007)

Maloklusi juga bisa merupakan variasi biologi sebagaimana variasi biologi

yang terjadi pada bagian tubuh yang lain, tetapi karena variasi letak gigi mudah

diamati dan mengganggu estetika sehingga menarik perhatian dan memunculkan

keinginan untuk melakukan perawatan ortodonsi. Terdapat bukti bahwa prevalensi

maloklusi meningkat, peningkatan ini sebagian dipercayai sebagai suatu proses

evolusi yang diduga akibat meningkatnya variabilitas gen dalam populasi yang

bercampur dalam kelompok ras. Meningkatnya letak gigi yang berdesakan mungkin

disebabkan tidak adanya atrisi proksimal dan oklusal yang terjadi pada gigi (Rahardjo,

2009)

Etiologi maloklusi

Maloklusi

merupakan

penyimpangan

dari

pertumbuhkembangan

yang

disebabkan oleh faktor-faktor tertentu.Secara garis besar etiologi atau penyebab suatu

maloklusi dapat digolongkan dalam faktor herediterdan faktor lokal.Kadang-kadang

suatu maloklusi sukar ditentukan secara tepat etiologinya karena adanya berbagai

faktor yang memengaruhipertumbuhkembangan (Rahardjo, 2009).

Beberapa faktor

yang

saling berhubungan,

misalnya pola skeletal

dapat

mempengaruhi posisi bibir (Gill, 2008). Kelainan dentofasial sering menunjukkan

adanya suatu maloklusi. Maloklusi adalah suatu keadaan yang menyimpang dari

oklusi

yang

normal

atau

dapat

pula

diartikan

sebagai

suatu

keadaan

yang

menyimpang dari hubungan yang normal. Menurut Moyers penyebab maloklusi ada

tujuh, diantaranya (Gill, 2008) :

a. Faktor keturunan, berupa sistem neuromuscular, tulang, gigi dan bagian lain

di luar otot dan saraf.

b. Gangguan pertumbuhan.

c. Trauma, yaitu sebelum lahir, serta sesudah lahir.

d. Keadaan fisik, seperti pencabutan gigi desidui

keseimbangan makanan.

e. Kebiasaan,

seperti

mengisap

jari,

menjulurkan

yang terlalu dini, dan

lidah,

mengisap

dan

menggigit bibir, menggigit kuku, serta kebiasaan lainnya.

f. Penyakit, dapat dibagi menjadi penyakit sistemik, kelainan endokrin, dan

penyakit lokal. Penyakit lokal juga bermacam-macam, diantaranya adalah

penyakit pada hidung, faring dan gangguan saluran pernafasan, penyakit

gusi dan jaringan penyangga gigi, tumor, dan gigi berlubang.

g. Malnutrisi.

IndeksOrtodonsi

1. Index Of Orthodontic Treatment Need ( IOTN)

Index

of

Orthodontic

Treatment

Needdisusun

oleh

Brook

dan

Shaw

dimodifikasi

oleh

Richmond

pada

tahun

1989.Indeks

ini

telah

mendapatkan

pengakuan nasional dan internasional sebagai metode yang sederhana, reliabledan

valid, secara obyektif menilai kebutuhan perawatan. Index of Orthodontic Treatment

Needterdiri dari 2 komponen, yaitu Aesthetic Component(AC) dan Dental Health

Component(DHC) (Hagg, 2007).

Dental Health Component diajukan untuk mengatasi subyektifitas pengukuran

dengan batas ambang yang jelas, tingkatan derajat DHC menunjukkan berapa besar

prioritas untuk perawatan, dengan perincian skor 1-2 tidak perlu perawatan/perawatan

ringan,

skor

3

perawatan

borderline/sedang,

skor4-5

sangat

memerlukan

perawatan.Dental Health Componentmenilai beberapa jenis maloklusi seperti overjet,

overbite, openbite, crossbite, crowding, erupsi palatal yang terhalang, anomali palatal

dan bibir, serta hypodonsia. Aesthetic Componentmenilai persepsi seseorang tentang

penampilan gigi-geligi pasien melalui sebuah skala fotograf, dimana terdapat 10 poin

yang menunjukkan tingkatan penampilan gigi-geligi yang secara estetik terlihat paling

menarik dan 10 foto berwarna mewakili gigi-geligi yang secara estetik paling tidak

menarik.Tingkat derajat keparahan dari Aesthetic Component adalah sebagai berikut,

skor

1-4

tidak

perlu

perawatan/perawatan

ringan,

skor

5-7

Perawatan

borderline/sedang, skor 8-10 sangat memerlukan perawatan (Hagg, 2007).

2. Peer Assessment Rating Index (PAR)

Indeks PAR adalah indeks yang mengukur banyaknya penyimpangan dari

susunan normal dan oklusi. Indeks ini dibuat untuk mengukur efektivitas atau hasil

dari perawatan ortodonsi dibandingkan oklusi pada model sebelum perawatan dan

setelah perawatan. Indeks PAR mempunyai lima komponen (Dewanto, 1993), adalah

a. Segmen gigi depanrahang atas dan rahang bawah.

b. Oklusibukal.

c. Overjet.

d. Overbite.

e. Penilaian garis median.

3.

Index of Complexity, Outcome, and Need (ICON)

Index of Complexity, Outcome and Need (ICON) ini bias dikatakan gabungan

dari indeks IOTN dan indeks PAR. Penilaian metode secara kuantitatif. ICON terdiri

dari lima komponen (Daniel, 2000):

a.

Aesthetic Component (AC)

b.

Crossbite

c.

Adanya berdesakan di rahang atas

d.

Overbite

e.

Relasi gigi posterior kiri dan kanan

4.

Dental Aesthetic Index (DAI)

Dental Aesthetic Index (DAI) diadopsi dari

World

Health Organization

(WHO) sebagai indeks lintas kebudayaan. Penilaiannya terdiri dari 10 kategori

maloklusi yaituoverjet, missing teeth, diastema, anterior openbite, anterior crowding,

anterior spacing, largest anterior irregularity (mandibula dan maksila) dan hubungan

molar antero-posterior (Dewanto, 1993). Kode dan kriterianya sebagai berikut:

a. Kehilangan insisivus, kaninus dan gigi premolar.

b. Segmen insisal berjejal.

c. Jarak pada segmen insisal.

d. Diastema.

e. Largest anterior maxillary irregularity.

f. Largest anterior mandibular irregularity.

g. Overjet anterior maksila.

h. Overjetanterior mandibular.

i.

Vertikal anterior openbite.

j.

Hubungan molar antero-posterior.

5.

Occlusion Feature Index (OFI)

Ciri-ciri maloklusi yang dinilai dengan metode ini ialah letak gigi berjejal,

kelainan interdigitasi tonjol gigi posterior, overbite, overjet. Kriteria penilaian dengan

memberi skor sebagai berikut (Dewanto, 1993):

OFI (1) di nilai pada gigi berjejal depan bawah.

0 susunan letak gigi rapi.

=

1 letak gigi berjejal sama dengan ½ lebar gigi insisivus satu kanan bawah.

=

2 letak gigi berjejal sama dengan lebar gigi insisivus satu kanan bawah.

=

3 letak gigi berjejal lebih besar dari lebar gigi insisivus satu kanan bawah.

=

OFI (2) di nilai pada interdigitasi tonjol gigi dilihat pada region gigi premolar

dan molar sebelah kanan dari arah bukal, dalam keadaan oklusi.

0 hubungan tonjol lawan lekuk.

=

1 hubungan antara tonjol dan lekuk.

=

2 hubungan antara tonjol dan lawan tonjol.

=

OFI (3) di nilai padaoverbite, ukuran panjang bagian insisal gigi insisivus

bawah yang tertutup gigi insisivus atas pada keadaan oklusi.

0 1/3 bagian insisal gigi insisivus bawah.

=

1 2/3 bagian insisal gigi insisivus bawah.

=

2 1/3 bagian gingival gigi insisivus bawah.

=

OFI (4) di nilai pada overjet, jarak dari tepi labio-insisal gigi insisivus atas ke

permukaan labial gigi insisivus bawah pada keadaan oklusal.

0

=

0-1,5 mm

2

=

3 mm atau lebih

Skor total didapat dengan menjumlahkan skor keempat macam ciri utama

maloklusi tersebut di atas. Skor OFI setiap individu berkisar antara 0-9. OFI (1) = 3,

OFI (2, 3, dan 4) masing-masing = 2.

Penilaian dapat dilakukan dengan model gigi atau langsung dalam mulut.

Waktu yang diperlukan untuk menilai hanya kurang lebih 1- 2 menit bagi setiap

individu.

Kriteria penilaian maloklusi oleh OFI adalah sebagai berikut:

Skor 0-1

Skor 1 - 3

Skor 4-5

Skor 6-9

=

maloklusi ringan sekali = tidak memerlukan perawatan.

= maloklusi ringan = ada sedikit variasi dari oklusi ideal yang tidak perlu

=

dirawat.

maloklusi sedang = indikasi perawatan orthodonti.

= maloklusi berat atau parah = sangat memerlukan perawatan.

6. Malalignment Index (Mal I)

Kriteria penilaian dengan memberi skor sebagai berikut (Dewanto, 1993):

Skor 0

=

Ideal alignment = letak gigi teratur dalam daerah normal.

Skor 1

=

Minor malalignment = letak gigi tak teratur ringan.

Skor 2

=

Major malaligntment = letak gigi tak teratur berat.

Ini ada 2 tipe yaitu :

(1) Rotasi 45

(2) Penyimpangan 1,5 mm

Pada metode penilaian ini gigi geligi dibagi menjadi 6 segmen yaitu segmen

depan atas, kanan atas, kiri atas, depan bawah, kanan bawah, dan kiri bawah. Skor

tiap segmen didapat dengan menjumlahkan skor tiap segmen. Jadi untuk 32 gigi skor

Mal I berkisar antara 0-64. Tetapi dalam praktek hanya sedikit individu yang skornya

0 dan diatas 18.

Alat ukur yang dipakai adalah penggaris plastik kecil dengan ukuran 1 x 4

inci, ujung penggaris miring 45 derajat, dan diatas ujung yang lain diberi tanda garis

mendatar dan tegak pada jarak 1,5 mm dari tepi penggaris.

7. Handicapping Labio-lingual Deviation Index (HLD Index)

HLD indeks disusun dengan maksud untuk diajukan sebagai cara penilaian

yang obyektif bagi epidemiologi maloklusi. Ciri-ciri maloklusi yang dinilai pada

metode ini ialah meliputi 9 macam ciri maloklusi di mana 2 di antaranya merupakan

ciri khas yang dapat menentukan adanya cacat muka. Macam ciri maloklusi yang

dinilai dan cara memberi skor sebagai berikut (Dewanto, 1993):

1. Celah langit.

2. Penyimpangan traumatik yang berat.

3. Overjet.

4. Overbite.

5. Protrusimandibula.

6. Openbite.

7. Erupsi, hanya gigi depan tiap gigi.

8. Crowding anterior.

9. Penyimpangan labio-lingual.+

8. Handicapping Malocclusion Assessment Index (HMA Index)

Penilaian

maloklusi

pada

metode

ini

dengan

menggunakan

HMAR

(Handicapping Malocclusion Assessment Record) yaitu suatu lembar isian yang

dirancang oleh Salzman pada tahun 1967 dan digunakan untuk melengkapi cara

menentukan perawatan Ortodonsi menurut lembar isian tersebut. Ciri-ciri maloklusi

yang dicatat dan diskor terdaftar dalam HMAR sebagai berikut (Dewanto, 1993):

1)

Penyimpangan gigi dalam satu rahang (Intra arch deviation)

2)

Kelainan hubungan gigi kedua rahang dalam keadaan oklusi(Inter arch deviation)

Penilaian dapat dilakukan pada model gigi atau dalam mulut. Di samping

pengisian HMAR juga dilakukan pencatatan pada lembar SOAR (Supplementary Oral

Assessment Record). Jika penilaian dilakukan dalam mulut, sebelum mencatat ciri-ciri

maloklusi yang ada pada SOAR, HMAR dilengkapi terlebih dahulu.

9. Treatment Priority Index (TPI)

Indeks ini diperkenalkan oleh Grainger pada tahun 1967 penyusunannya

didasarkan atas konsep bahwa maloklusi itu tidak merupakan suatu keadaan yang

sederhana tetapi lebih merupakan suatu seri kelainan yang berbeda-beda walapun satu

sama lain saling berhubungan (Dewanto, 1993).

Cara menilai dan memberi skor ciri-ciri maloklusi dengan TPI sebagai berikut

:

1)

Hubungan gigi insisivus atas bawah dalam arah horizontal

2)

Hubungan gigi insisivus atas dan bawah dalam arah vertical.

3)

Gigi insisivus permanen agenesa (congenital missing)

4)

Hubungan antero posterior gigi-gigi segmen bukal

5)

Posterior cross-bite

6)

Tooth displacement

10.

Occlusal Index (OI)

 

Penyusunan

indeks

ini

didasarkan

pada

2

metode

penilaian

keparahan

maloklusi yaitumalocclusion severity estimate dan TPI (Dewanto, 1993).

Pada metode ini ada 9 ciri khas oklusi yang dinilai yaitu :

 

1. Umur gigi (dental age).

 

2. Hubungan molar atau relasi molar (molor relation).

 

3. Overbite.

4. Overjet.

5. Gigitan silang posterior (posterior cross-bite) tipe skeletal.

 

6. Gigitan terbuka posterior (Posterior open-bite).

 

7. Penyimpangan letak gigi (tooth displacement).

8. Hubungan garis tengah (midline relation).

 

9. Gigi permanen yang absen (missing permanen teeth).

 

11.

Index of Orthodontic Treatment Need

 

IOTN

mengurutkan

maloklusi

sesuai

dengan

signifikansi

berbagai

karakteristik oklusal terhadap kesehatan gigi individu dan gangguan estetika.Indeks

ini mempunyai dua komponen yaitu DHC (Dental Health Component) dan AC

(Aesthetic Component). Skor akhir didapat dari rerata DHC dan AC (Rahardjo, 2012).

Cara Menggunakan IOTN

Dental Health Component (DHC)

DHC dibuat untuk menyatakan keadaan oklusal yang dapat mempengaruhi

fungsi dan kesehatan gigi dalam jangka panjang.Gambaran gejala maloklusi yang

paling

parah

dicatat

dan

dikategorikan

pada

salah

satu

dari

lima

grade

yang

mencerminkan

kebutuhan

perawatan

ortodonsi.

Grade

dari

komponen

DHC

ditunjukkan di bawah ini (Nofrizal, 2012) :

Grade 1 : tidak membutuhkan perawatan

Grade 2 : sedikit membutuhkan perawatan

Grade 3 : cukup membutuhkan perawatan

Grade 4 : membutuhkan perawatan

Grade 5 : sangat membutuhkan perawatan.

Meskipun maloklusi bisa merupakan gabungan beberapa keadaan oklusal,

misalnya terdapat gigi berdesakan disertai overjet dan overbite yang besar, tetapi pada

indeks ini hanya satu gambaran maloklusi yang terparah saja yang dicatat sehingga

tidak ada efek kumulatif. Terdapat alternatif untuk memilih salah satu dari keadaan

berikut (Nofrizal, 2012) :

a. Overjet adalah jarak antara tepi insisal gigi insisif rahang atas dengan permukaan

labial dari gigi insisif rahang bawah yang diukur secara horizontal. Pada DHC,

overjet ditandai dengan subdivisi “a”.

b. Overbite adalah jarak antara tepi insisal rahang atas terhadap tepi insisal rahang

bawah yang diukur secara vertikal, yang ditandai dengan sub divisi “f”

secara vertikal, yang ditandai dengan sub divisi “f” Gambar 3.1. Overjet dan Overbite (Sulandjari, 2008) c.

Gambar 3.1. Overjet dan Overbite (Sulandjari, 2008)

c. Cross bite merupakan hubungan yang abnormal dalam arah labiolingual atau

bukolingual yang melibatkan satu gigi atau lebih terhadap satu gigi atau lebih

pada rahang yang berlawanan.

Gambar 3.2 Crossbite (Mioduski, 2014) d. Open bite adalah tidak adanya kontak vertikal antara gigi

Gambar 3.2 Crossbite (Mioduski, 2014)

d. Open bite adalah tidak adanya kontak vertikal antara gigi di rahang atas dengan

gigi di rahang bawah, yang ditandai dengan subdivisi “e”.

di rahang bawah, yang ditandai dengan sub divisi “e”. Gambar 3.3. Openbite(Dakalogiannakis, 2000) e. Reverse

Gambar 3.3. Openbite(Dakalogiannakis, 2000)

e. Reverse overjet adalah jarak antara tepi insisal gigi insisif rahang atas dengan gigi

insisif rahang bawah jika insisif rahang atas oklusi dengan permukaan lingual

insisif rahang bawah, ditandai dengan subdivisi “b”.

f. Hypodontia adalah kekurangan gigi di dalam deretan lengkung gigi, yang di

tandai dengan subdivisi “h”.

Gambar 3.4. Hypodontia(Dakalogiannakis, 2000) g. Supernumerary teeth adalah kelebihan gigi di dalam deretan lengkung gigi,

Gambar 3.4. Hypodontia(Dakalogiannakis, 2000)

g. Supernumerary teeth adalah kelebihan gigi di dalam deretan lengkung gigi, yang

ditandai dengan sub-divisi “x”

lengkung gigi, yang ditandai dengan sub- divisi “x” Gambar 3.5. Supernumerary Teeth (Dakalogiannakis, 2000)

Gambar 3.5. Supernumerary Teeth (Dakalogiannakis, 2000)

Adapun pengukuran yang dilakukan pada DHC meliputi pengukuran:

Kelas 5 ( Sangat butuh ) :

1. Gigi berjejal, displacement (pergeseran), gigi berlebihan (supernumery tooth), gigi

impaksi (kecuali molar ketiga) dan berbagai patologis lainnya.

2. Hypodontia dengan implikasi restorasi (lebih dari 1 kehilangan gigi pada kuadran)

memerlukan pra-restorasi ortodonsik.

3. Peningkatan overjetlebih dari 9 mm

4. Overjet lebih dari 3,5 mm dengan gangguan pengunyahan dan kesulitan bicara

Kelas 4 (Butuh)

1. Hipodonsia memerlukan pra-restorasi orthodontik atau butuh prosthesis.

2. Peningkatan overjet lebih dari 6mm tetapi kurang dari atau sama dengan 9mm.

3. Overjet lebih dari 1mm tetapi kurang dari 3,5mm dengan keluhan gangguan

pengunyahan dan bicara.

4. Gigitan silang anterior atau posterior diskrepansi lebih besar dari 2mm diantara

retrusi titik kontakdan posisi intercuspal .

5. Gigitan silang posterior dengan tidak adanya fungsi kontak oklusal dalam satu

atau keduanya segmen bukal.

6. Beberapa pergeseran titik kontak lebih besar dari 4mm.

7. Ekstrim lateral atau anterior open bite lebih besar dari 4mm.

8. Peningkatan overbite dengan trauma gingiva atau palatal.

9. Gigi erupsi sebagian, tipped dan impaksi gigi disebelahnya.

10. Timbulnya supernumerary teeth.

Kelas 3 ( Sedang)

1. Peningkatan overjet lebih besar dari 3,5mm tetapi kurang dari atau sama dengan

6mm dengan bibir inkompeten.

2. Overjet lebih besar dari 1mm tetapi kurang dari atau sama dengan 3,5mm.

3. Gigitan silang anterior atau posterior lebih besar dari 1mm tetapi kurang dari atau

sama dengan 1mm diskrepansi diantara retrusi titik kontak dan posisi intercucpal.

4. Pergeseran titik kontak lebih besar dari 2mm tetapi kurang dari atau sama dengan

4mm.

5. Lateral atau anterior open bite lebih besar dari 2mm tetapi kurang dari atau sama

dengan 4mm.

Kelas 2 (Ringan)

1. Peningkatan overjet lebih besar dari 3,5mm tetapi kurang dari atau sama dengan

6mm dan bibir kompeten.

2. Overjet lebih besar dari 0mm tetapi kurang dari atau sama dengan 1mm.

3. Gigitan

silang anterior

atau posterior kurang

dari

atau sama dengan

1mm

diskrepansi diantara retrusi titik kontak dan posisi intercuspal.

4. Pergeseran titik kontak lebih besar dari 1mm tetapi kurang dari atau sama dengan

2mm.

5. Anterior atau posterior open bite lebih besar dari 1mm tetapi kurang dari atau

sama dengan 2mm.

6. Peningkatan overbite lebih besar dari atau sama dengan 3,5mm tanpa kontak

gingival.

7. Pra-normal atau post-normal oklusi dengan tanpa anomali lainnya ( termasuk

setengah unit diskrepansi).

Kelas 1 ( tidak ada )

1. Ekstrim minor maloklusi termasuk pergeseran titik kontak kurang dari 1mm.

Aesthetic Component.

AC dikembangkan untuk memeriksa keadaan estetik dari suatu maloklusi

yang mungkin berdampak pada kondisi psikososial pasien. AC terdiri dari satu set

foto standar yang disusun berdasarkan grade dari 1 sampai 10.Grade satu berarti

estetik sangat menyenangkan sedangkan grade 10 sangat mengganggu estetik.Pasien

dalam keadaan oklusi dan dibandingkan dengan foto yang ada dilihat dari aspek

anterior, kemudian kategori ditentukan berdasarkan hambatan estetik yang kurang

lebih sama dengan pasien. Skor dikategorikan berdasarkan kebutuhan perawatan

sebagai berikut (Nofrizal, 2012):

Skor 1 atau 2 : Tidak membutuhkan perawatan.

Skor 3 atau 4 : Sedikit membutuhkan perawatan.

Skor 5,6, atau 7 : Cukup membutuhkan perawatan.

Skor 8,9, atau 10 : Jelas membutuhkan perawatan.

perawatan. Skor 8,9, atau 10 : Jelas membutuhkan perawatan. Gambar 3.6. Aesthetic Component dari IOTN (Shaw,

Gambar 3.6. Aesthetic Component dari IOTN (Shaw, 1995)

KESIMPULAN

Index

of

Orthodontic

Treatment

Need

dikembangkan

untuk

membantu

mengurangi

subyektivitas

dalam

menilai

kebutuhan

perawatan.

IOTN

ini

sendiri

digunakan untuk membantu menentukan kemungkinan dampak maloklusi terhadap

kesehatan gigi dan kesehatan psikososial seseorang.

DAFTAR PUSTAKA

Dewanto H., 1993, Aspek-aspek Epidemiologi Maloklusi, Ed. Ke-1, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Dewi O. 2010, Analisi Hubungan Maloklusi dengan Kualitas Hidup Remaja SMU Kota Medan 2007, Tesis, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara.

Emmadita M. 2011, Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodonsik Berdasarkan Index of Orthodontic Treatment Need pada Peserta Didik SDK 6 BPK Penabur Bandung Kelompok Usia 11-12 Tahun, Skripsi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung.

Gill. 2008, Orthodontics At A Glance, Penerjemah :TitiekSuta, EGC Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta

Hagg U, McGrath C, Zhang M. 2007, 25 Maret 2013, Quality of life and orthodontic treatment need related to occlusal indices. [ Dental Bulletin], [serial online]. Available:URL,

Nanda R., Biomechanics and Esthetic Strategies in Clinical Orthodontics, Philadelphia:

Elsevier Saunders, 17-21.

Nofrizal N. 2012, Persepsi Estetika Dental Antara Orang Awam dengan Ortodonsis Berdasarkan Aesthetic Component dari IOTN, Tesis, Universitas Indonesia, Jakarta.

Proffit W.R., 2007, Contemporary Orthodontics, 4 th ed., Mosby Inc, Canada.

Rahardjo P. 2009,Orthodonti Dasar. Ed. Ke-2, Airlangga University Press., Surabaya.

Shaw WC., Richmond S., 1995, The us of occlusal indices : a European perspective, Am J OrthodDentofacialOrthop, hal. 107.

Sulandjari H., 2008, Buku ajar ortodonsia I, Ed. Ke-1, Yogyakarta.

Welbury R. R., 2001, Pediatric Dentistry, 2 nd ., Oxford University Press, New York, hlm.

299