Anda di halaman 1dari 64

MODUL

MATA KULIAH PELAKSANAAN PENYULUHAN PERTANIAN


TOPIK MENYIAPKAN MATERI PENYULUHAN AGRIBISNIS

PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN


CABAI MERAH

Disusun oleh :

Kelompok 3
Semester IV B

Abdullah Masud 15.0529


Al Fiatur Rohmaniyah 15.0532
Arifianto Islami 15.0535
Fitriyany Romlah Hidayat Uys 15.0546
Ginanjar Murwani 15.0547
Lilis Nurmamumah 15.0551
Muchammad Fatchur Rizza 15.0552

Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian


Jurusan Penyuluhan Pertanian
Jl. Kusumanegara No.2 Tahunan Umbulharjo Yogyakarta
2017

ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah swt yang telah
memberikan kita hidayah serta kesehatan sampai sekarang ini,
sehingga penyusun bisa menyelesaikan penyusunan modul ini
sampai dengan selesai dan dipermudah dalam penyusunan modul
ini dengan baik.
Modul ini tidak bisa juga selesai dengan baik tanpa adanya
Ridho dan Doa dari kedua orang tua yang telah memberikan
semangat untuk menyelesaikannya. Tidak lupa pula ucapan
terimakasih kepada Ir. Nani Tri Iswardayati, M.M., M.Si dan Hasan
Azhari, S.S.T yang telah memberi pengetahuan dan bimbingan
untuk penyusunan modul ini.
Modul dengan judul Penanganan Panen dan Pasca Panen Cabai
ini disusun untuk memenuhi tugas praktikum dalam rangka
penilaian tengah semester pada mata kuliah Pelaksanaan
Penyuluhan Pertanian. Besar harapan kami tim penyusun modul ini
dapat diterima di hati para pembaca selain daripada sebagai bentuk
penyelesaian penugasan.
Alhamdulillah, modul ini bisa diselesaikan tepat waktu sesuai
dengan waktu yang telah disepakati. Dukungan salam serta saran
dari teman-teman semua sangat diperlukan untuk memperkuat dan
memperbagus modul ini. Jika ada salah kata dan keteledoran dalam

iii
modul ini, kami sebagai penyusun minta maaf. Semoga modul ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca dan teman-teman semua.

Yogyakarta, Mei 2017


Tim Penyusun

iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .............................................................................................. iii
DAFTAR ISI................................................................................................................. v
LATAR BELAKANG ................................................................................................ vi
BAB 1 SOP PANEN CABAI MERAH............................................................. 9
BAB 2 SOP GRADING DAN SORTASI CABAI MERAH ...................... 19
BAB 3 SOP PENIMPANAN CABAI MERAH ............................................. 27
BAB 4 SOP PENGEMASAN CABAI MERAH ............................................ 35
BAB 5 SOP PELABELAN CABAI MERAH ................................................... 43
BAB 6 SOP PENGANGKUTAN CABAI MERAH ..................................... 55
TIM PENULIS............................................................................................................. 62

v
LATAR BELAKANG
Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan produk
hortikultura yang sangat mudah mengalami kerusakan setelah
pemanenan. Kerusakan yang terjadi bisa secara fisik, mekanis,
enzimatis, mikrobiologis dan fisiologis dalam waktu yang cepat dan
dapat menurunkan mutu produk sayuran tersebut.
Mutu cabai merah tidak dapat diperbaiki tetapi dapat
dipertahankan. Mutu cabai merah yang baik dapat diperoleh bila
pemanenan hasil cabai merah dilaksanakan pada waktu tingkat
kemasakan yang tepat, cabai merah yang baik dipanen apabila
warna buah mencapai 80% merah, sebaliknya penundaan waktu
pemanenan cabai merah dapat mempercepat proses
pembusukan.

Cabai merah setelah panen masih melakukan aktivitas


metabolisme, sehingga bila tidak ditangani dengan segera akan
mengalami kerusakan fisik dan kimiawi. Sifat cabai merah yang
mudah rusak (perishable) mengakibatkan tingginya susut pasca
panen serta terbatasnya masa simpan setelah pemanenan dan
timbulnya serangan organisme pengganggu yang dapat
menurunkan mutu. Perubahan setelah panen dan pasca panen
tidak dapat dihentikan, namun dapat diperlambat sampai batas
tertentu.
Dalam rangka pengembangan cabai merah yang berdaya
saing dan bermutu baik kualitas maupun kuantitas, serta
berorientasi pasar maka penanganan Pasca panen cabai merah
perlu menjadi prioritas dalam peningkatan mutu produk. Pasca
panen cabai merah merupakan kegiatan usahatani yang paling

vi
kritis, karena menyangkut susut bobot dan mutu. Diperkirakan jumlah
kerusakan dapat mencapai 30 50 % bila penanganan saat
panen kurang tepat. Pengertian pasca panen adalah waktu
antara panen hingga komoditas cabai merah diterima konsumen.
Sedangkan penanganan pasca panen adalah kegiatan untuk
mencegah menurunnya mutu panen dan meningkatkan umur simpan.
iPenanganan pasca panen yang baik dan benar (Good
Handling Practices) pada cabai merah merupakan salah satu
mata rantai dalam pencapaian standar mutu cabai merah.
Penanganan pasca panen secara baik dan benar dapat menekan
kehilangan/kerusakan hasil, mempertahankan mutu dan daya
simpan produk sayuran, sehingga dapat bersaing di pasar
domestik maupun internasional. Sebagai penjabaran dari GHP
sayuran, perlu disusun SOP pasca panen cabai merah yang
bersifat spesifik komoditas untuk dipedomani oleh petugas, petani
dan pelaku usaha dalam menyusun SOP pasca panen cabai merah
yang spesifik lokasi. Melalui penerapan GHP/SOP pasca panen
cabai merah diharapkan kehilangan/kerusakan hasil dapat
ditekan seminimal mungkin, mempertahankan mutu produk cabai
merah, mempertahankan umur simpan, dan pada akhirnya
meningkatkan pendapatan petani.
Target merupakan acuan utama yang digunakan untuk
menyusun SOP pasca panen cabai merah yang akan diterapkan
di kebun petani sesuai dengan permintaan pasar. Pada saat ini
target yang akan dicapai melalui penerapan SOP pasca panen
cabai merah adalah:

Menghasilkan produk cabai merah bermutu.

vii
Menekan tingkat kehilangan hasil < 10 %.
Meningkatkan efisiensi usaha agribisnis cabai merah.

viii
9
SOP PANEN CABAI MERAH

A. PENDAHULUAN
Cabai merah mempunyai daya adaptasi yang cukup luas,
oleh karena itu tanaman ini banyak dibudidayakan hampir di
seluruh wilayah Indonesia. Agar dapat memperoleh hasil
panen yang memuaskan cabai merah diupayakan untuk
memenuhi persyaratan teknis optimal sehingga dapat
berbuah secara teratur dan mendapatkan mutu yang
optimal.
Tanaman cabai banyak ragam tipe dan bentuk buahnya,
diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar
hidup di Negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya
mengenal beberapa jenis saja, yaitu cabai besar, cabai
keriting, cabai rawit, dan paprika. Secara umum cabai
mempunyai kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya kalori,
protein, lemak, karbohidarat, kalsium, vitamin A, B1 dan
vitamin C.

Selain digunakan sebagai pelengkap keperluan


memasak, cabai juga dapat digunakan sebagai industry
usaha, obat-obatan dan jamu. Buah cabai selain digunakan
sebagai sayuran atau bumbu masak juga mempunyai
kapasitas menaikkan pendapatan petani dengan hasil
panen yang bermutu tinggi. Disamping itu tanaman cabai
juga berfungsi sebagai bahan baku industry yang mempunyai
peluang eksport untuk itu diperlukan keterampilan nyata dan

10
handal untuk memperoleh hasil panen yang bernilai jual
tinggi dan mengurangi resiko kerugian.

Oleh sebab itu diperlukanpanduan Standar Operasional


Prosedur (SOP) yang dapat dijadika acuan bagi petani
dalam melaksanakan budidaya cabai merah sehingga
diperoleh panen yang bermutu baik, ramah lingkungan, dan
memperhatikan aspek keamanan, keselamatan,dan
kesejahteraan petani serta usaha produksi yang
berkelanjutan.

B. TUJUAN
1. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani yang
dapat menjelaskan mengenai pemanenan buah cabai
merah,
2. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani dapat
menjelaskan tentang tahap-tahap dalam pemanenan
buah cabai merah,
3. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani yang
dapat menjelaskan mengenai persyaratan buah yang
sudah layak dilakukan pemanenan.

C. METODE
1. Diskusi
2. Curah pendapat
3. Praktik langsung

D. MEDIA
1. Benda sesungguhnya

11
2. Peta singkap

E. ALAT DAN BAHAN


1. Kertas Plano
2. Pohon cabai yang sudah mulai masuk waktu panen
3. Spidol
4. Papan
5. Wadah untuk proses pengumpulan

F. LANGKAH-LANGKAH FASILITASI :
1. Pembukaan dengan sapaan salam, menanyakan kabar
dan kondisi pertanian kepada petani
2. Menanyakan keluh kesah petani ketika melakukan
pemanenan cabai merah
3. Mencatat keluh kesah petani dan membahasnya satu
persatu dengan disertai solusi
4. Menanyakan bagaimana biasanya para petani
melakukan pemanenan dan pengumpulan cabai merah
5. Menanyakan kepada petani apakah cara panen yang
mereka lakukan sudah sesuai prosedur pemanenan
cabai merah
6. Menunjukkan ciri-ciri cabai merah yang sudah siap
dipanen
7. Menjelaskan prosedur pemanenan cabai merah
8. Memperagakan cara pemetikan sebagai proses panen
yang benar dengan menggunakan contoh pohon cabai
yang sudah masuk waktu panen
9. Menunjukkan contoh yang tepat sesudah proses
pemetikan cabai merah dengan memisahkan di

12
beberapa tempat untuk menjaga kualitas mutu cabai
merah
10. Membandingkan cara panen yang biasa petani lakukan
dengan cara yang sudah dijelaskan oleh Penyuluh
11. Mendiskusikan mengenai kegiatan panen cabai merah
untuk mempertahankan kualitas mutunya hingga sampai
ke pengepul maupun ke komsumen
12. Mencatan poin-poin hasil diskusi
13. Menyimpulkan prosedur panen agar kualitas mutu cabai
merah tetap terjaga
14. Memberikan pertanyaan kepada petani apakah
nantinya mereka akkan merubah prosedur panen yang
biasanya menggunakan prosedur yang telah di
praktekkan tadi
15. Memberikan petani waktu untuk mendiskusikan apakah
mereka akan menerapkannya
16. Meminta jawaban para petani dengan disertai
alasannya

G. MATERI

BOX 1 ; STANDAR PEMANENAN SECARA VISUAL DAN FISOLOGI


Penentuan saat panen secara visual dapat dilakukan
dengan mengamati :
Warna kulit
Ukuran buah atau sayuran
Terdapatnya daun yang kering
Mengeringnya tanaman
Tingkat perkembangan buah

Metoda Fisiologis dengan pengukuran pola respirasi


(perbandingan antara CO2 dan O2).
13
BOX 2 ; STANDAR PEMANENAN SECARA FISIK, ANLIS KIMIA,
PERHITUNGAN KALENDER DAN FISIOLOGI
Penentuan saat panen secara fisik dapat dilakukan dengan
mengamati :
Kemudahan buah atau sayuran untuk dipetik
Tingkat kekerasan
Berat jenis

Kadar air, makin matang suatu komoditas, makin tinggi


kadar airnya.
Kadar pigmen antosianin, makin matang suatu
komoditas, makin tinggi kadar warna merahnya,
terutama untuk beberapa buah-buahan.
Kadar pektin, makin matang suatu komoditas, makin
rendah kadar pektinnya. Misalnya dalam pembuatan
selai, dipilih buah nenas yang masih mengkal supaya
banyak pektinnya, bila pektin tidak banyak, selai akan
sulit mengental.
Kadar gula dan asam, makin matang suatu komoditas,
makin tinggi pula kadar gulanya, tetapi makin rendah
kadar asamnya.

Perhitungan kalender. Penentuan saat panen dengan


menggunakan perhitungan kalender, yaitu dengan
menghitung :
Jumlah hari setelah munculnya bunga
Perkalian antara suhu udara rata-rata dengan jumlah
hari setelah keluarnya bunga

14
BOX 3 ; MENGHINDARI KERUSAKAN HASIL PERTANIAN
Untuk menghidari kerusakan hasil pertanian pada saat
pemanenan perlu diperhatikan hal - hal berikut :
Jangan sampai hasil panen terjatuh
Gunakan alat panen (gunting)
Wadah / Keranjang penampung hasil panen harus
kuat, permukaan bagian dalamnya halus dan mudah
dibersihkan.
Lokasi pengumpulan/penampungan harus didekatkan
dengan tempat pemanenan agar tidak terjadi
penyusutan atau penurunan kualitas akibat
pengangkutan dari dan ke tempat penampungan
yang teralu lama/jauh.
Perlakuan/tindakan penanganan dan spesifikasi
wadah yang digunakan harus disesuaikan dengan
sifat dan karakteristik komoditi yang ditangani.

BOX 4 ; ALAT DAN BAHAN


1. Sarung tangan untuk menghindari getah
2. Keranjang dengan permukaan yang halus sebagai
tempat penampungan setelah cabai merah di petik
3. Gunting untuk memotong tangkai cabai merah
4. Karung untuk membawa hasil panenan
5. Deklit (sejenis tikar) untuk meletakkan hasilpanen
sebelum dimasukkan ke karung agar tidak berembun

15
BOX 5 ; PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Panen buah cabai merah sebaiknya dilakukan pada
waktu siang hari menjelang sore, atau sore menjelang
waktu petang (senja),
2. Pemetikan buah cabai bukan dengan dicabutatau
ditarik ke atas, akan tetapi dengan dipuntir searah
jarum jam, karena jika pemanenan dilakukan dengan
ditarik ke atas maka biasanya binganya akan banyak
yang berguguran sebelum terjadi penyerbukan yang
dilakukan oleh serangga,
3. Pemetikan buah cabai diprioritaskan pada buah yang
sudah tua atau telah matang di pohonnya, sesuaikan
dengan kebutuhan, lakukan sortasi (pemilihan buah)
sesuai yang anda hendaki, sisakan beberapa buah
yang masih muda,
4. Pada tanaman cabai merah yang berbuah lebat,
sehingga bunganya berhimpit dengan buah lainnya
yang telah masak atau matang, maka pemetikan dapat
dilakukan dengan cara dipluntir perlahan
menggunakan tangan kanan, sementara itu dengan
tangan kirinya menahan beberapa ruas batang agar
batang tanaman cabai tetap baik atau tidak rusak.

16
H. SUMBER PUSTAKA
https://www.google.co.id/amp/s/gapoktankarangsari.wordp
ress.com/2014/11/16/standar-operasional-
prosedur-sop-cabai-merah/amp/ diakses pada 27
April 2017 pukul 09.28
Direktorat Budidaya dan Pasca Penen Sayuran Dan
Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura 2011

17
Gambar 1. Panen Cabai Merah

18
19
SOP SORTASI DAN GRADING CABAI MERAH

A. PENDAHULUAN
Penampilan produk yang seragam, baik ukuran panjang,
diameter, bentuk, permukaan, warna, maupun kekerasan
buah, akan memberikan penilaian yang lebih baik. Untuk itu
diperlukan sortasi dan grading terhadap buah cabai yang
diinginkan konsumen, baik rumah tangga, kelompok
konsumen swalayan, restoran, hotel, industri pangan olahan
tradisional maupun skala industri. Sortasi terhadap warna
menjadi hal yang sangat penting bagi konsumen. Karenanya
harus ada upaya untuk menstabilkan warna cabai sebelum
dikeringkan.

Biasanya sortasi dan grading dilakukan oleh pedagang


dan jarang dilakukan oleh petani. Sortasi dilakukan untuk
memisahkan buah cabai merah yang sehat, bentuk normal
dan baik. Penundaan sortasi akan memperbesar
kebusukkan, sedangkan grading untuk kepentingan pasar
lokal, cukup dipisahkan antara golongan kualitas A1 (ukuran
>10 cm) dengan cabai kualitas B (ukuran <10 cm)
panjangnya. Berdasarkan hasil penelitan tentang preferensi
konsumen rumah tangga terhadap kualitas cabai merah
menunjukkan bahwa rata-rata konsumen rumah tangga
menyukai kulit cabai yang merah tua. Hal ini sangat erat
kaitannya dengan masakan yang akan dihasilkannya, yaitu
berwarna merah dan lebih menarik selera.

20
B. TUJUAN
1. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani dapat
menjelaskan pentingnya sortasi dan grading pada cabai
merah.
2. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani dapat
menjelaskan standar mutu cabai merah.

C. METODE
1. Demonstrasi Cara
2. Pendampingan

D. MEDIA
1. Benda sesungguhnya
2. Leaflet

E. ALAT DAN BAHAN


1. Cabai merah
2. Meja stainless steel untuk melakukan grading
3. Wadah tempat hasil grading
4. Tempat sampah untuk membuang cabai yang rusak/busuk
5. Kain lap untuk mengelap buah cabai
6. Sarung tangan plastic untuk melindungi panas cabai
7. Papan tulis untuk mencatat hasil sharing petani

F. LANGKAH-LANGKAH FASILITASI :
1. Penyuluh membuka acara, dan menjelaskan tujuan yang
akan dicapai dan metode diskusi tentang pentingnya

21
sortasi dan grading pada cabai merah untuk
mendapatkan mutu cabai yang baik
2. Tanyakan kepada petani pemahaman mereka tentang
sortasi dan grading pada cabai merah
3. Tanyakan pada petani, apakah pernah melakukan
sortasi dan grading pada cabai merah
4. Tanyakan kepada petani bagaimana pengalaman
selama ini dalam melakukan sortasi dan grading pada
cabai merah. Mintalah beberapa petani menceritakan
pengalaman penanganan pasca panen cabai merah
5. Catat hasil sharing mereka dalam papan tulis agar
terlihat oleh seluruh produknya. Catat apa saja yang
dilakukan setelah panen cabai merah, bagaimana
memisahkan cabai yang bermutu baik dan kurang baik.
Catat bagaimana petani menentukan standar ukuran
cabai merah. Bacakan semua hasil pengalaman petani
yang telah dicatat di papan tulis dan simpulkan
6. Tanyakan kepada petani , apa manfaat melakukan
sortasi dan grading ? apakah sortasi dan grading dapat
berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan
petani ?

22
7. Bagi petani menjadi beberapa kelompok, minta setiap
kelompok mendiskusikan bagaimana cara sortasi dan
grading pada cabai merah yang baik dan benar
8. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi
9. Simpulkan hasil diskusi petani, kemudian Berikan
tambahan informasi mengenai cara sortasi dan grading
cabai merah sesuai Standar Operasional Prosedur
(SOP). Tanyakan kepada petani apakah sudah
memahami cara sortasi dan grading pada cabai merah
sesuai SOP
10. Penyuluh menutup sesi ini dan menghimbau agar petani
dapat menerapkan cara sortasi dan grading pada
cabai merah yang sesuai SOP

G. MATERI
BOX 1 ; PROSEDUR KERJA SORTASI
1. Menyiapkan meja untuk melakukan sortasi dan grading
dan tempat sampah untuk membuang cabai yang
rusak/busuk atau benda asing
2. Melakukan persiapan untuk keperluan
Pasar lokal. Cabai merah kualitas A : cabai merah
utuh, bersih dengan bentuk normal tanpa cacat
(mekanis atau kena hama penyakit) dan kualitas B :
cabai merah dengan ukuran kecil (< 10 cm) dan
tercampur dengan cabai yang bentuknya abnormal.
23
Pasar swalayan. Berukuran besar (> 10 cm ) dengan
tingkat kemasakan 85 % dan berkualitas prima tanpa
cacat.
Restauran/rumah makan. Warna merah menyala
(100% masak penuh) tanpa memandang ukuran tapi
tidak cacat.

BOX 2 ; STANDAR GRADING CABAI MERAH BERDASARKAN


PASAR EKSPOR (SNI No. 01 4480, 1998) :
A. Cabai merah besar,
Mutu I : Panjang buah 12 -14 cm, diameter 1,5 1,7 cm.
Tingkat kerusakan dan busuk, 0%
Mutu II : Panjang buah 9 11 cm, diameter 1,3 1,5 cm.
Tingkat kerusakan dan busuk, 1 %
Mutu III : Panjang buah < 9 cm, diameter <1,3 cm.
Tingkat kerusakan dan busuk, 2 %
B. Cabai merah keriting,
Mutu I : Panjang buah >12 17 cm, diameter >1,3 1,5
cm. Kadar kotoran 1 %. Tingkat kerusakan dan
busuk, 0 %
Mutu II : Panjang buah 10 - < 12 cm, diameter 1,0 - <
1,3 cm. Kadar kotoran 2 %. Tingkat kerusakan
dan busuk, 1 %
Mutu III : Panjang buah < 10 cm, diameter < 1,0 cm.
Kadar kotoran 5 %. Tingkat kerusakan dan busuk,
2%

24
H. SUMBER PUSTAKA
https://www.google.co.id/amp/s/gapoktankarangsari.wordp
ress.com/2014/11/16/standar-operasional-
prosedur-sop-cabai-merah/amp/ diakses pada 27
April 2017 pukul 09.28
Direktorat Budidaya dan Pasca Penen Sayuran Dan
Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura 2011
Isnawan. 2010. Pasca Panen Cabai Merah. BP3K Nglegok
Jurnal Floratek, Penelitian Dosen dan Mahasiswa dibidang
Pertanian ISSN 1907-2689

25
Gambar 2. Berbagai Jenis Cabai

26
27
SOP PENYIMPANAN CABAI MERAH

A. PENDAHULUAN
Di Indonesia, cabai umumnya lebih banyak
diperdagangkan dalam bentuk segar. Karena itu, para
produsen dan pengelola komoditas cabai berupaya supaya
cabai tetap kelihatan segar. Untuk itu diperlukan tindakan
yang benar pada saat handling, pengemasan dan
penyimpanan agar mutu tetap stabil dan bisa diterima
konsumen dengan harga yang tinggi.
Setelah pemetikan, proses fisiologi tetap berjalan,
tergantung pada situasi luar, seperti temperature dan
kelembaban. Proses fisiologi tetap dipertahankan tetapi
lajunya harus dikurangi. Caranya dengan menekan tingkat
respirasi, yaitu mengatur temperature dan kelembaban
udara di sekelilingnya dengan menempatkan produk dalam
ruangan yang system udaranya terkendali. Selain laju
respirasi, harus juga ditekan laju transpirasi yaitu proses
penguapan dari buah cabai dengan cara meningkatkan
kelembaban udara dan menurunkan temperatur, atau
dengan menempatkan buah cabai dalam kemasan tertentu
untuk mengurangi gerakan udara di sekeliling cabai.
Penyimpanan yang baik dapat memperpanjang umur dan

28
kesegaran cabai tanpa menimbulkan perubahan fisik atau
kimia.

B. TUJUAN
1. Petani dapat mengetahui tentang pengertian
penyimpanan secara benar
2. Petani dapat memperpanjang masa simpan cabai merah
3. Petani dapat mempertahankan kesegaran cabai merah
4. Petani dapat mengatur pemasaran untuk meningkatkan
keuntungan finansialnya.

C. METODE
1. Curah pendapat
2. Presentasi
3. Tanya jawab
4. Demplot simulasi

D. MEDIA
1. Benda sesungguhnya
2. Peta singkap

E. ALAT DAN BAHAN


1. Menggunakan media sesungguhnya
Cabai
Thermometer

29
Keranjang/wadah
2. Spidol
3. Plano/ papantulis
4. LCD danlayar
5. Isolasi

F. LANGKAH-LANGKAH FASILITASI :
1. Penyuluh membuka pertemuan dengan mengucap salam,
menanyakan kabar petani dan perkenalan.
2. Sampaikan kepada petani tentang materi yang akan
dibahas yaitu penyimpanan cabai merah.
3. Tanyakan kepada petani bagaimana penyimpanan cabai
merah yang dilakukan saat ini.
4. Menggali gagasan petani mengenai penyimpanan cabai
merah yang mereka lakukan selama ini.
5. Catat dan tuliskan kata kunci jawaban mereka dalam kertas
plano.
6. Penyuluh membuka materi dengan menjelaskan singkat
tentang pengertian dan tujuan dari penyimpanan.
7. Penyuluh menjelaskan tentang cara penyimpanan cabai
merah melalui persentasi serta menampilkan gambar-
gambar tentang cara penyimpanan cabai merah yang tepat
dengan menggunakan media LCD dan layar.

30
8. Setelah menyampaikan materi, Penyuluh membuka sesi
Tanya jawab kepada petani dengan menuliskan kata kunci
jawaban petani dalam plano/papantulis.
9. Kemudian menyimpulkan cara penyimpanan cabai merah
yang sesuai.
10. Menanyakan kepada petani apakah mereka ingin
mencoba mempraktekan langsung dalam penyimpanan
cabai merah.
11. Penyuluh menutup materi dengan memberikan motivasi
dan dorongan agar petani mau menerapkan teknik
penyimpanan cabai merah secara tepat.

G. MATERI

BOX 1 ; SARANA PRASARANA


1. Ruang penyimpanan cabai merah untuk
memperpanjang masa simpan.
2. Thermometer untuk mengatur suhu/temperatur.
3. Keranjang plastik/dus untuk wadah.
4. Alat tulis dan blangko isian untuk mencatat kegiatan.

31
BOX 2 ; STANDAR PENYIMPANAN
Cabai yang telah dipanen dapat disimpan di lapangan
atau di ruang tertutup, yaitu bangunan berventilasi, ruang
berpendingin atau ruang tertutup yang konsentrasi gasnya
berbeda dengan atmosfer. Standar penyimpanannya:
1. Mengendalikan laju transpirasi, respirasi dan
mencegah serangan penyakit.
2. Mempertahankan/memperpanjang daya simpan
buah cabai merah
3. Mempertahankan kesegaran cabai merah.
4. Temperatur penyimpanan untuk pasar ekspor yang
biasa dilakukan berkisar 7,8 - 8,9C.
5. Temperatur penyimpanan 0C dan kelembaban
relatif 95% dapat mempertahankan kesegaran
cabai merah sampai 40 hari dengan tingkat
kerusakan 4%. Penyimpanan pada suhu rendah
merupakan cara terbaik untuk mempertahankan
kesegaran cabai. Suhu optimal pendingin
bergantung pada varietas cabai dan tingkat
kematangannya.

32
BOX 3 ; PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Siapkan tempat penyimpanan cabai merah ditempat
yang terpisah, bersih, aman dari gangguan hama
penyakit dan binatang pengerat.
2. Siapkan tempat penyimpanan harus dapat
mengendalikan transpirasi (penguapan), respirasi
(pernafasan) dan mempertahankan kesegaran .
3. Gunakan wadah, keranjang, pembungkus dengan rapi
dan bersih sehingga terlindung dari pencemaran.
4. Lakukan penyimpanan di ruangan sejuk dan kering
untuk cabai merah yang telah dikemas dan tidak
langsung dipasarkan.
5. Lakukan penyimpanan dalam cold storage untuk cabai
yang dikemas tujuan pasar swalayan dan restaurant bila
tidak langsung dipasarkan.
6. Lakukan pengiriman segera, untuk pasar ekspor paling
lambat 2 x 24 jam harus segera dikirim sehingga hari
berikutnya sudah sampai Negara tujuan.
7. Lakukan penyimpanan terhadap cabai merah yang sudah
dikemas untuk ekspor, bila tidak langsung diangkut
biasanya disimpan dalam ruang pendingin (cold storage)
dengan suhu 7,8 - 8,9 C. Penyimpanan pada suhu 0 C
dan kelembaban relatif 95 98% dapat mempertahankan
kesegaran cabai merah sampai 40 hari dengan tingkat
kerusakan hanya 4%.
33
3. Lakukan pencatatan sebagaimana format yang
digunakan

BOX 4 ; FORM CATATATAN KEGIATAN PENYIMPANAN


1. Nama Petani : ..
2. Alamat Kebun : ..

Ruang Tujuan Cara


Tanggal Petugas
Penyimpanan Pemasaran Penyimpanan

H. SUMBER PUSTAKA
https://www.google.co.id/amp/s/gapoktankarangsari.wordp
ress.com/2014/11/16/standar-operasional-
prosedur-sop-cabai-merah/amp/ diakses pada 27
April 2017 pukul 09.28
Direktorat Budidaya dan Pasca Penen Sayuran Dan
Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura 2011

34
35
SOP PENGEMASAN CABAI MERAH

A. PENDAHULUAN
Dalam rangka pengembangan cabai merah yang
berdaya saing dan bermutu baik kualitas maupun kuantitas,
serta berorientasi pasar. Penanganan pasca panen yang
baik dan benar (Good Handling Practices) pada cabai
merah merupakan salah satu mata rantai dalam pencapaian
standar mutu cabai merah.
Penanganan pasca panen secara baik dan benar dapat
menekan kehilangan/kerusakan hasil, mempertahankan mutu
dan daya simpan produk sayuran, sehingga dapat bersaing
di pasar domestik maupun internasional. Salah satu tahapan
penanganan pascapanen cabai merah adala pengemasan.
Pengemasan adalah proses perlindungan komoditas dari
gangguan faktor luar yang dapat mempengaruhi masa
simpannya dengan menggunakan bahan pengemas yang
benar untuk memudahkan pengangkutan.
Pengemasan ini bertujuan untuk memberi perlindungan
terhadap komoditas cabai merah dari kerusakan mekanik,
kehilangan air, barang tetap bersih dan memenuhi
persyaratan kesehatan, menciptakan daya tarik bagi
konsumen dan memperpanjang masa simpan cabai merah.
Melalui penerapan GHP/SOP pasca panen cabai merah
diharapkan kehilangan/kerusakan hasil dapat ditekan
seminimal mungkin, mempertahankan mutu produk cabai
merah, mempertahankan umur simpan, dan pada akhirnya
meningkatkan pendapatan petani.

36
B. TUJUAN
1. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani dapat
menjelaskan mengenai pengemasan cabai merah
2. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani dapat
menjelaskan tentang tahap-tahap dalam pengemasan
cabai merah

C. METODE
1. Diskusi
2. Curah pendapat
3. Praktik langsung

D. MEDIA
1. Leaflet
2. Benda sesungguhnya
3. Peta singkap

E. ALAT DAN BAHAN


1. Kertas Plano
2. Spidol
3. Lakban
4. Contoh cabai merah yang dikemas dengan berbagai jenis
kemasan.

F. LANGKAH-LANGKAH FASILITASI :
1. Penyuluh membuka pertemuan dengan mengucap salam,
dan menanyakan kabar petani

37
2. Sampaikan kepada petani tentang materi yang akan
dibahas yaitu pengemasan cabai merah
3. Tanyakan kepada petani pemahaman mereka mengenai
pengemasan cabai merah
4. Menggali gagasan petani mengenai pengemasan
cabai merah yang mereka lakukan selama ini
5. Catat dan tuliskan kata kunci jawaban mereka dalam
kertas plano
6. Tanyakan kepada petani apakah pengemasan cabai
merah yang mereka lakukan selama ini sudah efektif atau
belum
7. Menggali gagasan petani mengenai cara pengemasan
lain yang pernah mereka lakukan
8. Menunjukkan contoh cabai merah yang dikemas dengan
berbagai kemasan
9. Membandingkan berbagai kemasan cabai merah
tersebut
10. Mendiskusikan mengenai kemasan yang mana yang
paling cocok untuk mengemas cabai merah disesuaikan
dengan tujuan pemasarannya
11. Mencatat hasil diskusi dalam kertas plano
12. Kemudian menyimpulkan kemasan cabai merah yang
sesuai dengan tujuan pemasaran produk
13. Menanyakan kepada petani apakah mereka ingin
mencoba mempraktekan langsung dalam pengemasan
cabai merah
14. Meminta petani untuk mendiskusikan waktu yang tepat
untuk mempraktekkan pengemasan cabai merah

38
G. MATERI

BOX 1 ; STANDAR PENGEMASAN


1. Penyuluh membuka pertemuan dengan mengucap
salam, dan menanyakan kabar petani
2. Sampaikan kepada petani tentang materi yang akan
dibahas yaitu pengemasan cabai merah
3. Tanyakan kepada petani pemahaman mereka mengenai
pengemasan cabai merah
4. Menggali gagasan petani mengenai pengemasan cabai
merah yang mereka lakukan selama ini
5. Catat dan tuliskan kata kunci jawaban mereka dalam
kertas plano
6. Tanyakan kepada petani apakah pengemasan
cabai merah yang mereka lakukan selama ini
sudah efektif atau belum
7. Menggali gagasan petani mengenai cara
pengemasan lain yang pernah mereka lakukan
8. Menunjukkan contoh cabai merah yang dikemas
dengan berbagai kemasan
9. Membandingkan berbagai kemasan cabai merah
tersebut
10. Mendiskusikan mengenai kemasan yang mana
yang paling cocok untuk mengemas cabai merah
disesuaikan dengan tujuan pemasarannya
11. Mencatat hasil diskusi dalam kertas plano
12. Kemudian menyimpulkan kemasan cabai merah
yang sesuai dengan tujuan pemasaran produk
13. Menanyakan kepada petani apakah mereka ingin
mencoba mempraktekan langsung dalam 39
pengemasan cabai merah
BOX 2 ; ALAT DAN BAHAN
1. Karung dan kantung plastik untuk bahan kemasan.
2. Kardus untuk bahan kemasan.
3. Sterofoam untuk bahan kemasan
4. Kontainer untuk bahan kemasan.
5. Wrapping plastic untuk bahan kemasan.
6. Labelling untuk keterangan produk, asal, berat dan
kualitas.
7. Alat wrapping untuk mengemas/membungkus dengan
plastic
8. Timbangan untuk menimbang produk yang akan dikemas

BOX 3 ; PROSEDUR PELAKSANAAN


1. Lakukan pengemasan cabai merah dengan
menggunakan keranjang plastik dengan kapasitas
sesuai kebutuhan (10 20 kg.).
2. Lakukan pengemasan cabai merah untuk pemasaran
luar daerah menggunakan kardus yang sudah dilubangi
sebagai ventilasi udara.
3. Lakukan persiapan untuk pemasaran pasar swalayan
yang dikemas dengan tray dan ditutup plastik wrapping
atau dengan plastik transparan yang dilubangi dengan
berat 0,25 0,50 kg. Untuk pasokan restauran/rumah
makan cabai merah dikemas dengan kantong plastik
yang dilubangi ukuran 5 kg. Lubang kantong plastik
berfungsi mencegah terjadinya pengembunan udara
dalam plastik yang dapat membusukkan cabai merah.

40
4. Lakukan pengemasan cabai merah untuk ekspor
dengan kardus khusus dari eksportir lengkap dengan
nama dagang dan tanggal panen. Kardus diberi
lubang kecil dengan ukuran kardus untuk kapasitas 15
20 kg.
5. Lakukan pencatatan sebagaimana format yang
digunakan pada buku kerja

No. Tanggal Bahan Ukuran Jumlah Tujuan Ket


Pengemas dan Pemasaran
berat
kemasan
(kg)

H. SUMBER PUSTAKA
https://www.google.co.id/amp/s/gapoktankarangsari.wordp
ress.com/2014/11/16/standar-operasional-
prosedur-sop-cabai-merah/amp/ diakses pada 27
April 2017 pukul 09.28
Direktorat Budidaya dan Pasca Penen Sayuran Dan
Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura 2011

41
Gambar 3. Cabai dalam Botol

42
43
SOP PELABELAN CABAI MERAH

A. PENDAHULUAN
Label adalah tulisan, gambar, atau kombinasi keduanya
yang disertakan pada wadah atau kemasan suatu produk
dengan cara dimasukkan ke dalam, ditempelkan atau
dicetak dan merupakan bagian dari kemasan tersebut untuk
memberikan informasi menyeluruh dan secara utuh dari isi
wadah/kemasan produk tersebut. Pelabelan pada kemasan
produk harus dipersyaratkan sedemikian rupa, sehingga
tidak mudah lepas dari kemasannya, tidak mudah luntur atau
rusak serta terletak pada bagian kemasan yang mudah untuk
dilihat dan dibaca dengan jelas.

Label adalah identitas suatu produk. Tanpa label kita


tidak dapat membedakan antara produk satu dengan yang
lainnya. Label adalah bagian yang sangat penting dari
suatu produk agar konsumen dapat memperoleh produk
sesuai yang diharapkan dan sehat serta aman dikonsumsi.
Beberapa Industri besar yang membutuhkan label untuk
produkproduk mereka adalah : Industri Makanan & Minuman,
Permen dan Cokelat, Pharmacy, Perawatan diri,
Kosmetik/kecantikan, Mainan, Elektronik, Mobil dan Motor
(Oli), Bahan kimia (Chemical), Rumah Tangga dan Retail.

Khusus untuk Industri Makanan & Minuman, Karena


penggunaan label terbesar ada di sektor ini, label tersebut
harus sesuai dengan ketentuan UU/No.23/1992 Tentang
Produksi dan Peredaran Makanan. Makanan harus memenuhi

44
standar persyaratan kesehatan dan label; dan periklanan
tidak boleh memberikan informasi menyesatkan dari produk
tersebut. Peraturan tersebut juga berpedoman kepada CAC
(Codex Alimentarius Commission) dan FLG (Food Labelling
Guide) yang memuat ketentuan mengenai persyaratan Mutu,
label dan periklanan. Label harus memberikan informasi yang
jelas, detail dan mudah dimengerti oleh masyarakat umumnya
atau konsumen khususnya.

B. TUJUAN
1. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani dapat
menjelaskan tentang fungsi pelabelan pada produk
cabai merah
2. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani dapat
menjelaskan tahapan-tahapan dalam pelabelan produk
cabai merah

C. METODE
1. Diskusi
2. Curah pendapat
3. Praktik langsung

D. MEDIA
1. Benda sesungguhnya
2. Peta singkap

E. ALAT DAN BAHAN


1. Spidol
2. Kertas plano

45
3. Lakban kertas
4. Contoh label produk sejenis yang dihasilkan oleh
kelompok atau petani

F. LANGKAH-LANGKAH FASILITASI :
1. Penyuluh membuka acara dan menjelaskan tujuan yang
akan dicapai dan metode diskusi tentang pentingnya
melakukan pelabelan pada kemasan produk yang
dihasilkan terutama untuk wirausaha tani perempuan
pada komoditas cabai merah
2. Tanyakan kepada petani pemahaman mereka terhadap
pelabelan pada kemasan cabai merah
3. Tanyakan kepada petani bagaimana pengalaman
selama ini memberi label pada kemasan produk cabai
merah yang dijual ke konsumen. Mintalah beberapa
orang menceritakan pengalamannya terkait pemberian
label pada kemasan yang siap jual.
4. Catatlah hasil sharing mereka dalam kertas besar atau
papan tulis agar terlihat oleh seluruh petani. Catatlah
bagaimana merancang design label yang menarik dan
sesuai kaidah pembuatan label yang benar.
5. Tanyakan pula apa manfaat memberikan label pada
kemasan selama ini? Apakah pernah menemukan
masalah dengan konsumen atau saat membuat design

46
label yang rumit atau content yang belum lengkap, dst?
Bagaimana mengatasinya?
6. Berikan tambahan informasi tentang pengertian dan
manfaat pelabelan pada kemasan produk cabai merah.
7. Diskusikan dengan kelompok menggunakan contoh label
yang telah dibawa. Bagilah petani membentuk
beberapa kelompok. Minta setiap kelompok
mendiskusikan contoh label yang telah dibawa.
Identifikasikan bagaiman label tersebut dibuat.
8. Presentasikan hasil diskusi kelompok dan tanyakan
kelebihan dan kekurangan dari label yang telah
diidentifikasi.
9. Tanyakan kepada petani apakah sudah memahami
pengertian, tujuan dan maanfaat dari pelabelan pada
kemasan berdasarkan proses diskusi?
10. Penyuluh menutup sesi ini dengan memberikan tugas
kepada petani untuk membuat design label dan
mencetaknya untuk produk cabai merah yang mereka
hasilkan dengan memperhatikan kaidah dalam
pembuatan label produk yang benar.

47
G. MATERI

BOX 1 ; PENGERTIAN DAN FUNGSI LABEL


Suatu produk di samping di beri merek, kemasan, juga
harus diberi label. Menurut Gitosudarmo (2000:199), label
adalah bagian dari sebuah produk yang berupa
keterangan/penjelasan mengenai barang tersebut atau
penjualnya. Label merupakan suatu bagian dari sebuah
produk yang membawa informasi verbal tentang produk
atau tentang penjualannya.
Angipora (1999:154) mengatakan bahwa label pada
dasarnya dapat merupakan bagian dari sebuah kemasan
(pembungkus) atau dapat merupakan etikat lepas yang
ditempelkan pada produk. Dengan demikian, sudah
sewajarnya kalau antara kemasan, merek dan label dapat
terjalin satu hubungan yang erat sekali.
Gitosudarmo (2000:199) dalam bukunya menjelaskan
bahwa ada beberapa hal terkait dengan label, seperti
fungsi label dan beberapa macam label. Berikut
penjelasannya :
Fungsi Label, yaitu :
a. Label mengidentifikasikan produk atau merek.
Contoh : nama Bintang menggolongkan produk
b. Label berfungsi menggolongkan produk.
Contoh : buah persik dalam kaleng diberi label
golongan A, B, C. Menjelaskan beberapa hal
mengenai produk, yaitu siapa yang membuat,
dimana dibuat, kapan dibuat, apa isinya,
bagaimana cara menggunakan dengan aman.
c. Sebagai alat promosi.

48
BOX 2 ; MACAM-MACAM LABEL
Label dapat dibedakan tiga macam yaitu :
a. Brand Label (Label Merek) Brand label adalah
label yang semata-mata sebagai brand (merek).
Contoh : pada tepi kain tertera tulisan TETERON,
TETREX.
b. Grade Label (Label Mutu) Grade label adalah
label yang menunjukkantingkatan mutu (kualitas)
tertentu dari suatu produk. Contoh : pada oli
kendaraan dengan brand name MESRAN ada
yang memakai tambahan kata SUPER. Tambahan
kata SUPER di sini adalah grade label. Jadi super
menunjukkan tingkatan mutu.
c. Descriptive Label/Imformative Label (Label
Deskriptif) Descriptive Label adalah label yang
menggambarkan tentang cara penggunaan,
formula atau kandungan isi, pemeliharaan, hasil
kerja, dari suatu produk dan sebagainya.

BOX 3 ; KETENTUAN PELABELAN


1. Label Tidak Boleh Menyesatkan. Apa saja yang
tercantum dalam sebuah label baik berupa kata-kata,
kalimat, nama, lambang, logo, gambar dan lain
sebagainya harus sesuai dengan produk yang ada di
dalamnya.

49
2. Memuat Informasi Yang Diperlukan. Label sebaiknya
cukup besar (relatif terhadap kemasannya), sehingga
dapat memuat informasi atau keterangan tentang
produknya.

3. Tulisan Atau Keterangan Yang Ada Pada Label Harus


Jelas dan mudah di baca, tidak dikaburkan oleh warna
latar belakang atau gambar lainnya.

4. Jumlah Warna Yang Digunakan. Banyaknya warna yang


digunakan dalam label akan berpengaruh terhadap
biaya cetak, semakin banyak banyak warna yang
digunakan, tentunya akan semakin besar biaya yang
harus dikeluarkan.

5. Jenis Cetakan Yang Dikehendaki. Desain yang kita buat


akan dicetak pada media apa? Plastik, kertas,
aluminium foil, atau lainnya.

50
BOX 4 ; KONTEN LABEL
1. Nama produk.
Nama Produk adalah nama dari makanan atau produk
pangan yang terdapat di dalam kemasan misalnya
dodol nanas, keripik pisang, keripik singkong dan lain
sebagainya.
2. Cap / Trade mark bila ada
Suatu usaha sebaiknya memiliki cap atau trade mark
atau merek dagang. Cap berbeda dengan nama
produk dan bisa tidak berhubungan dengan produk
yang ada di dalamnya misalnya dodol nanas cap
Panda, Kecap Ikan cap Wallet, dsb.
3. Komposisi / daftar bahan yang digunakan
Komposisi atau daftar bahan merupakan keterangan
yang menggambarkan tentang semua bahan yang
digunakan dalam pembuatan produk makanan tersebut.
Cara penulisan komposisi bahan penyusun dimulai dari
bahan mayor atau bahan utama atau bahan yang
paling banyak digunakan sampai yang terkecil.
4. Netto atau volume bersih
Netto atau berat bersih dan volume bersih
menggambarkan bobot atau volume produk yang
sesungguhnya. Apabila bobot produk berarti bobot
produk yang sesungguhnya tanpa bobot bahan
pengemas.
5. Nama pihak produksi,
Nama pihak produksi adalah nama perusahaan yang
membuat atau mengolah produk makanan tersebut.

51
6. Distributor atau pihak yang mengedarkan bila ada.
Dalam kemasan juga harus mencantumkan pihak-pihak
tertentu seperti pengepak atau importir bila ada.
7. No Registrasi Dinas Kesehatan
Nomor registrasi ini sebagai bukti bahwa produk
tersebut telah teruji dan dinyatakan aman untuk
dikonsumsi.
8. Kode Produksi
Kode produksi adalah kode yang menyatakan tentang
batch produksi dari produk pada saat pembuatan
yang isinya tanggal produksi dan angka atau hurup
lainnya yang mencirikan dengan jelas produk tersebut.
9. Keterangan kadaluarsa
Keterangan kadaluarsa adalah keterangan yang
menyatakan umur produk yang masih layak untuk
dikonsumsi.
10. Logo halal
Untuk produk-produk yang telah mendapatkan
sertifikasi halal dari MUI harus mencantumkan logo
halal yang standard disertai dengan nomor
sertifikasinya.
11. Keterangan Lainnya
Selain yang telah diuraikan di atas masih ada lagi
keterangan-ketrangan lain yang perlu dicantumkan
dalam label kemasan makanan yang bermaksud
memberi petunjuk, saran, atau yang lainnya demi
keamanan konsumen.

52
BOX 5 ; LANGKAH LANGKAH PELABELAN
1. Menyiapkan produk/kemasan yang akan diberi label;
2. Menyiapkan label produk yang kuat/tidak mudah
lepas/hilang;
3. Menyiapkan label yang informatif sesuai dengan
peraturan;
4. Melakukan pelabelan.

H. SUMBER PUSTAKA
https://www.google.co.id/amp/s/gapoktankarangsari.wordp
ress.com/2014/11/16/standar-operasional-
prosedur-sop-cabai-merah/amp/ diakses pada 27
April 2017 pukul 09.28
http://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/cl3808/node
/lt4a0a533e31979/bagaimana-pengaturan-
sertifikasi-halal-bagi-produk-makanan diakses pada
28 April 2017 pukul 08.30
Direktorat Budidaya dan Pasca Penen Sayuran Dan
Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura 2011
Philip, Kotler. 2000. Manajemen Pemasaran. Jakarta :
Prenhalindo. Jilid 2 Halaman 478.

53
Gambar 4. Olahan Cabai Blok

54
55
SOP PENGANGKUTAN CABAI MERAH

A. PENDAHULUAN
Secara umum pengangkutan adalah proses kegiatan
memuat barang / penumpang kedalam alat pengangkut
pembawa barang / penumpang dari pemuatan sampai
ketujuan dan menurunkan barang / penumpang dari alat
pengangkutan ketempat yang ditentukan, dan disini sering
menimbulkan tanggung jawab dari pengangkut.dengan
mempertimbangkan beberapa aspek dlam pengangkutan
antara lain pelaku atau pengangkut, alat pengangkutan,
barang atau penumpang, perbuatan, fungsi pengangkutan,
dan tujuan pengangkutan.

Pada cabai merah proses pengangkutan merupakan


suatu kegiatan untuk memindahkan produk dari suatu tempat
ke tempat lain dengan mempertahankan mutu produk
tersebut. Melindungi produk dari sengatan sinar matahari
secara langsung selama pengangkutan, menjaga produk
dari benturan, gesekan dan tekanan yang terlalu berat yang
dapat menimbulkan kerusakan. Untuk menjadi perhatian
tentang sifat/ karakteristik produk yang diangkut, lamanya
perjalanan, alat sarana pengangkutan yang digunakan.
Kegiatan di mulai dari lapanga tempat pengumpulan hasil
panen sampai ke konsumen akhir.

56
B. TUJUAN
1. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani yang
dapat menjelaskan manfaat SOP Pengangkutan,
2. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani dapat
menjelaskan tentang tahap-tahap dalam proses
pengangkutan,
3. Penyuluh Pertanian Lapang dan Kelompok Tani dapat
menjelaskan waktu yang dapat dilakukan dalam
pengangkutan agar cabai merahtetap tarjaga.

C. METODE
1. Demonstrasi Cara
2. Pendampingan
3. Praktik langsung

D. MEDIA
1. Benda sesungguhnya
2. Peta singkap

E. ALAT DAN BAHAN


1. Kertas Plano
2. Spidol
3. Papan
4. Pohon cabai merah yang siap untuk diangkut
5. Wadah untuk pengangkutan

57
F. LANGKAH-LANGKAH FASILITASI :
1. Penyuluh membuka acara, dan menjelaskan tujuan yang
akan dicapai dan metode diskusi tentang fungsi
Pengangkutan pada cabai merah untuk mendapatkan
kepuayan terhadap konsumen.
2. Tanyakan kepada petani pemahaman mereka tentang
pengangkutan pada cabai merah.
3. Tanyakan kepada petani bagaimana pengalaman
selama ini dalam melakukan pengangkutan pada cabai
merah. Mintalah beberapa petani menceritakan
pengalaman penanganan pasca panen cabai merah.
4. Catat hasil sharing mereka dalam papan tulis agar
terlihat oleh seluruh petani.
5. Sampaikan kepada petani tentang materi yang akan
dibahas yaitu pengangkutan cabai merah.
6. Menunjukkan contoh- contoh prngemasan cabai merah
yang siap untuk diangkut.
7. Membandingkan antara proses pengangkutan yang
baru saja dijelaskan dengan yng digunakan selama ii
loleh petani.
8. Berdiskusi menentukan cara yang paling tepat dlam
proses pengangkutan yang paling evektif dan efisien.
9. Menyimpulkan kesepakatan hasil diskusi yang sudah
dilaksanakan.
10. Mempraktekan cara pengangkutan yang sudah
disepakati bersama.

58
G. MATERI

BOX 1 ; STANDAR PENGANGKUTAN


1. Sarana atau alat angkutan yang digunakan harus
bersih, mudah dibersihkan serta menjaga produk cabai
merah dari kerusakan fisik , mekanik maupun fisiologis.
Sarana angkutan yang tidak berpendingin harus
mempunyai ventilasi yang cukup.
2. Produk cabai merah harus diletakkan secara teratur di
dalam sarana angkutan dengan mempertimbangkan
ketinggian tumpukan kemasan, sehingga produk tidak
berubah bentuknya. Untuk angkutan bak terbuka
tumpukan kemasan jangan sampai diduduki orang.

3. Produk yang diangkut harus terhindar dari sinar


matahari langsung selama pengangkutan.
4. Suhu dan kelembaban di dalam alat pengangkut perlu
dijaga sesuai dengan persyaratan penyimpanan cabai
merah terutama untuk perjalanan yang lebih dari 2,5
jam.
5. Lakukan pencatatan produk yang diangkut yaitu jenis s
jumlah dan tujuan pengiriman.

59
BOX 2 ; ALAT DAN BAHAN
1. Alat pengangkutan mempunyai persyaratan : harus
bersih, mudah dibersihkan
2. Sarana pengangkutan berpendingin/tidak
berpendingin untuk pengangkutan.
3. Keranjang plastik/kardus, kantong jala digunakan
sebagai wadah.

4. Alat tulis dan blangko isian untuk mencatat kegiatan.

BOX 3 ; PROSEDUR PELAKSANAAN


1. Siapkan alat atau sarana angkutan yang akan
digunakan.
2. Sarana angkutan yang digunakan sebaiknya
berpendingin, apabila tidak berpendingin harus
mempunyai ventilasi yang cukup.
3. Hindari sinar matahari langsung pada produk cabai
merah, apabila menggunakan alat angkutan tanpa
pendingin.
4. Kondisi udara (suhu dan kelembaban) dalam alat
pengangkut perlu dijaga sesuai syarat penyimpanan
terutama untuk perjalanan lebih dari 2,5 jam.
5. Penataan produk cabai merah dalam alat
pengangkutan dilakukan dengan teratur, untuk
menghindari benturan, gesekan dan tekanan serta tidak
boleh jatuh atau bergeser.
6. Jangan melebihi kapasitas angkut dan harus
mempertimbangkan ketinggian tumpukan kemasan.
7. Lakukan pencatatan sebagaimana format yang
digunakan (Form Pengangkutan)
60
BOX 4 ; FORM PENGANGKUTAN
Nama Petani : ..
Alamat Kebun : ..
Jenis Jumlah
Tujuan Lama
No. Tgll Alat Pengiriman Ket
pengiriman Perjalanan
Angkut (Ton)

H. SUMBER PUSTAKA
https://www.google.co.id/amp/s/gapoktankarangsari.wordp
ress.com/2014/11/16/standar-operasional-
prosedur-sop-cabai-merah/amp/ diakses pada 27
April 2017 pukul 09.28
https://putratok.wordpress.com/category/hukum-
pengangkutan/ diakses pada 30 April 2017 pukul
20.38
Direktorat Budidaya dan Pasca Penen Sayuran Dan
Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura 2011
Isnawan. 2010. Pasca Panen Cabai Merah. BP3K Nglegok

61
TIM PENULIS

FITRIYANY ROMLAH HIDAYAT UYS


Bongkotan, RT01 RW10, Bojasari,
Kertek, Wonosobo
Wonosobo, 11 Februari 1997

GINANJAR MURWANI
Kedunggalih, RT11 RW 06, Pengasih,
Kulon Progo
Kulon Progo, 11 Januari 1997

LILIS NURMAMUMAH
Kalijaya, RT02 RW 03, Alian,
Kebumen
Kebumen, 06 November1997

ALFIYATUR ROHMANIYAH
Manyargading RT03 Rw01
Kalinyamatan, Jepara
Jepara, 26 Oktober 1995

62
ARIFIANTO ABDULLAH
ISLAMI MASUD
Kalicecep, Trojayan RT03
RT09 RW02, Rw03
Bejiarum, Paremono,
Kertek, Mungkid,
MUCHAMMAD Magelang
Wonosobo
FATCHUR 2 September
Wonosobo, 20
RIZZA 1997
Februari 1997
Mojo RT02
RW03 Susukan,
Ungaran Timur,
Kabupaten
Semarang
14 Oktober
1996

63
64