Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Evaporasi

Tujuan evaporasi adalah untuk memekatkan larutan

yang terdiri dari zat terlarut yang tak mudah menguap dan

pelarut yang mudah menguap. Dalam kebanyakan proses

evaporasi, pelarutnya adalah air. Evaporasi dilakukan

dengan menguapkan sebagian dari pelarut sehingga

didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih

tinggi. Evaporasi tidak sama dengan pengeringan, dalam

evaporasi sisa penguapan adalah zat cair yang sangat

kental dan bukan zat padat. Evaporasi berbeda pula dengan

distilasi, karena uapnya biasanya komponen tunggal.

Walaupun uap itu merupakan campuran, tidak ada usaha

untuk memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Evaporasi

berbeda dengan kristalisasi, karena evaporasi digunakan

untuk memekatkan larutan dan bukan untuk pembuatan zat

padat atau Kristal

(Mc Cabe, 1985).

2.1.1 Manfaat Evaporasi di Industri

5
6

Proses evaporasi memiliki berbagai manfaat dalam dunia

industri. Di dalam pengolahan hasil pertanian, proses evaporasi

bertujuan untuk:
a. Meningkatkan konsentrasi atau viskositas larutan sebelum

diproses lebih lanjut.


b. Pengurangan volume larutan sehingga dapat menghemat biaya

pengepakan, penyimpanan, dan transportasi.


c. Menurunkan aktivitas air dengan cara meningkatkan

konsentrasi solid terlarut sehingga bahan menjadi awet.

(Febrina, Anggi. 2014)

2.1.2 Faktor fakor yang Mempercepat Evaporasi


Setiap industri tentu menginginkan proses penguapan

berlangsung dengan cepat. Beberapa faktor yang dapat

mempercepat proses evaporasi adalah:


a. Suhu.
Walaupun cairan dapat terevaporasi di bawah titik didihnya,

namun prosesnya akan cepat terjadi ketika suhu di sekeliling

lebih tinggi. Hal ini terjadi karena evaporasi menyerap kalor

laten dari sekelilingnya. Dengan demikian, semakin hangat

suhu sekeliling semakin banyak jumlah kalor yang terserap

untuk mempercepat evaporasi.


b. Kelembapan udara.
Jika kelembapan udara kurang, maka udara sekitar akan kering.

Semakin kering udara (sedikit kandungan uap air di dalam

udara), maka semakin cepat proses evaporasi terjadi.


c. Tekanan
Semakin besar tekanan yang dialami maka semakin lambat

evaporasi terjadi.
7

d. Sifat cairan

Cairan dengan titik didih yang lebih rendah akan terevaporasi

lebih cepat daripada cairan yang titik didihnya besar.


2.2 Evaporator
Evaporator merupakan alat yang digunakan untuk mengubah

sebagian atau keseluruhan pelarut dari sebuah larutan cair menjadi uap

sehingga dihasilkan produk yang lebih pekat. Pada dasarnya semua jenis

evaporator memiliki prinsip kerja yang sama. Salah satunya yaitu

pemekatan

larutan berdasarkan perbedaan titik didih yang besar antara masing-masing

zat. Selain itu, evaporator dijalankan pada suhu yang lebih rendah daripada

titik didih normal. Tekanan mempengaruhi tinggi rendahnya titik didih

cairan murni. Begitu pula pada titik didih cairan dipengaruhi oleh tekanan

dan

kadar air pada zat yang tidak mudah menguap seperti gula. Pada efek awal

diperlukan adanya pemanasan suhu yang lebih tinggi. Dan kenaikan titik

adalah perbedaan titik didih larutan dan titik didih cairan murni.

Kebanyakan orang mengenal evaporator sebagai salah satu alat yang

digunakan dalam industri gula pasir.

2.2.1 Jenis Jenis Evaporator


8

Hingga saat ini dikenal banyak jenis evaporator di dunia industri.

Beberapa jenis evaporator

yang umum digunakan menurut Richardson, dkk. (2002) adalah:

a. Evaporator with direct heating

Evaporator with direct heating atau evaporator dengan

pemanasan langsung adalah evaporator dimana transfer panas

langsung dilakukan dari sumber panas ke larutan ataupun

melalui wadah evaporator itu sendiri. Evaporator ini umumnya

memiliki bentuk wadah yang sederhana, namun membutuhkan

panas yang tinggi. Salah satu contoh industri yang

menggunakan evaporator dengan pemanasan langsung adalah

industri garam dari air laut.


b. Natural circulation evaporator

Natural circulation evaporator merupakan evaporator yang

sirkulasi larutan terjadi melalui arus konveksi dari permukaan

pemanas. Terdapat dua jenis natural circulation evaporator,

yaitu horizontal tubes dan vertical natural circulation

evaporator. Pada horizontal tubes, tube tube horizontal

dipasang memanjang di antara dua plat tubular untuk tempat

steam

mengalir, sedangkan di luarnya larutan akan dipanaskan dan

dipisahkan dari uapnya. Pada vertical evaporator, badan

silinder vertical digunakan dengan tube - tube tertahan di antara

dua plat tubular yang memanjang dari satu bagian badan


9

silinder ke bagian yang lain dan steam akan mengalir pada

bagian luar sedangkan larutan akan mengalir pada tube-tube

vertical yang tersususun pada bagian bawah evaporator dan

sering disebut kalandria. Vertical natural circulation

evaporator banyak digunakan pada industri gula, sementara

horizontal

tubes natural circulation evaporator digunakan untuk larutan

dengan viskositas yang rendah.


c. Forced circulation evaporator
Forced circulation evaporator adalah evaporator dimana

sirkulasi larutan di dalam evaporator dibantu oleh propeller

ataupun pompa sirkulasi. Penambahan peralatan untuk

membantu sirkulasi dapat meningkatkan konsentrasi dari

larutan yang dihasilkan karena koefisien perpindahan panasnya

dapat dijaga meskipun viskositas larutan akan terus mengalami

perubahan seiring dengan waktu. Peralatan tambahan akan

menambah biaya peralatan, namun efisisensi proses meningkat

dan ukuran peralatan pun dapat diperkecil. Forced circulation

evaporator dapat digunakan untuk berbagai industri dengan

larutan yang kental.

d. Film type evaporator

Film type evaporator adalah evaporator dengan bentuk tube

yang panjang yang diposisikan pada vertical steam chest. Pada

evaporator ini, aliran yang terjadi di dalam tube adalah


10

larutan yang membentuk lapisan film di dalam tube dengan

aliran uap sebagai pusatnya. Terdapat dua macam film type

evaporator yang banyak ditemukan di dunia industri, yaitu

climbing film evaporator dan falling film evaporator. Falling

film evaporator memiliki beberapa kelebihan, yaitu koefisien

transfer panas yang tinggi, waktu tinggal yang rendah,

hilang tekan yang rendah, cocok untuk operasi vakum,

memiliki rasio penguapan yang tinggi, jangkauan operasi yang

luas, aman dari risiko fouling, dan biaya operasi yang

minimum (Richardson, dkk., 2002).

e. Thin-layer evaporator.

Thin-layer evaporator adalah evaporator yang menggunakan

energi mekanik untuk membantu perpindahan panasnya. Biaya

operasi per luas permukaan pemanas dari evaporator ini sangat

tinggi karena kapasitasnya yang kecil. Karena biayanya yang

sangat tinggi, evaporator ini umumnya hanya digunakan untuk

bahan-bahan yang sangat kental ataupun sangat sensitive

terhadap panas sehingga membutuhkan waktu tinggal yang

cepat. Evaporator ini biasa dioperasikan pada perbedaan

temperature yang tinggi sebagai single effect evaporator.

f. Flash evaporator
11

Flash evaporator adalah evaporator dimana pendidihan akan

ditahan hingga larutan mencapai kondisi superheated untuk

kemudian dimasukkan ke dalam separator bertekanan

rendah sehingga larutan terpisah dari uapnya. Metode ini tidak

dapat memaksimalkan transfer panas pada tube-tubenya tetapi

akan sangat efektif jika dioperasikan secara multiple

effect.

2.2.2 Singel Effect Evaporator


Pada single effect evaporator hanya terdapat satu badan

penguapan. Bahan yang akan dievaporasi masuk ke dalam ruang

penguap dan diberi panas steam oleh satu luas permukaan pindah

panas. Uap yang dihasilkan dari evaporator tunggal akan menjadi

produk buangan. Pada single effect evaporator, energi yang

digunakan tergolong besar, sehingga evaporator ini jarang

digunakan untuk industri besar seperti gula yang memiliki nilai

jual rendah.

Gambar 2.1 Singel Effect Evaporator


Sumber : http://google.com/Singel Effect Evaporator

2.2.3 Multipel Effect Evporator


12

Multiple effect evaporator merupakan peralatan yang

dirancang dengan tujuan meningkatkan efisiensi energi dari

proses evaporasi yang berlangsung dengan menggunakan energi

panas dari uap (steam) untuk menguapkan air. Prinsip dasar dari

multiple effect evaporator adalah menggunakan panas atau kalor

yang dilepaskan dari proses kondensasi pada evaporator efek

pertama untuk memberikan panas bagi efek selanjutnya. Uap yang

terbentuk dari separator efek pertama akan memanasi komponen

yang sedang berada di unit efek kedua, ketika steam awal (steam

langsung)

sedang memanasi komponen yang berada pada unit efek pertama.

Pada suatu multiple effect evaporator, air dididihkan pada suatu

rangkaian wadah (vessel), masing-masingnya dilangsungkan pada

tekanan yang lebih rendah dibandingkan dengan unit sebelumnya.

Karena titik didih dari air menurun seiring dengan penurunan

tekanan, maka uap yang terbentuk dari satu wadah dapat

digunakan untuk memanaskan unit berikutnya dan hanya pada

vessel pertama, yaitu pada tekanan tertinggi, yang membutuhkan

sumber panas eksternal. Laju uap dan air pendingin bagi unit

double effect diperkirakan 50% dibandingkan dengan unit single

effect. Laju alir berbagai jenis bagi multiple effect berkisar antara

3000 LPH sampai dengan 50.000 LPH.


13

Gambar 2.2 Multipel Effect Evaporator


Sumber : http://google.com/Multipel Effect Evaporator