Anda di halaman 1dari 23

Hubungan Bilateral Indonesia dengan Singapura

Hubungan Indonesia dengan Singapura adalah hubungan bilateral antara Republik Indonesia
dengan Republik Singapura. Dari tahun ke tahun, Indonesia dan Singapura membina hubungan
kunjungan kenegaraan tingkat tinggi. Hubungan ini ditandai dengan kerja sama ekonomi yang
kuat. Dalam beberapa tahun terakhit, Singapura secara konsisten menjadi investor asing terbesar
di Indonesia. Kerja sama antara Indonesia dan Singapura juga meliputi beberapa bidang,
termasuk kesehatan, pertahanan, dan lingkungan hidup.

Hubungan antara Indonesia dan Singapura kebanyakan didorong karena kedekatan geografis.
Singapura merupakan salah satu negara tetangga terdekat Indonesia. Wilayah negara kota ini
dikepung wilayah Indonesia di bagian barat, selatan, dan timur, terjepit di antara Malaysia dan
Indonesia. Kedua negara adalah pendiri ASEAN, dan negara anggota Gerakan Non-Blok dan
APEC.

Hubungan antara Indonesia dan Singapura purba dimulai sejak masa kerajaan kuno, abad ke-7
wilayah selat di sekitar Singapura adalah bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.
KitabNagarakretagama, sebuah puisi epik Jawa Majapahit yang ditulis pada tahun 1365
menyebutkan sebuah pemukiman di pulau yang disebut Temasek ('Kota Laut' dalam bahasa Jawa
Kuno, dieja Tumasik).

Pada sekitar tahun 1390-an, seorang pengeran dari Palembang bernama Parameswara, melarikan
diri ke Temasek setelah kerajaannya diserang oleh Majapahit. Selama abad ke-14, Singapura
tejepit dalam persaingan antara Siam (sekarang Thailand) dan Kerajaan Majapahit berbasis di
Jawa, untuk mengendalikan wilayah Semenanjung Melayu. Menurut Kitab Sejarah Melayu,
Singapura dikalahkan dalam satu serangan Majapahit. Parameswara sempat memerintah pulau
selama beberapa tahun, sebelum dipaksa untuk mengungsi berpindah ke Melaka di mana ia
mendirikan Kesultanan Malaka.
Pada awal abad ke-19, Singapura menjadi wilayah bawahan Inggris sebagai Negeri-Negeri Selat
dan kemudian sebagai koloni, sementara pada periode yang sama kepulauan Indonesia secara
bertahap jatuh ke bawah kendali VOC dan kemudian Hindia Belanda.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 dan pemisahan Singapura dari Malaysia pada
tahun 1965, kedua negara membuka hubungan diplomatik bilateral resmi pada tahun 1966. Pada
tahun 1967, kedua negara bersama-sama dengan Thailand, Filipina dan Malaysia mendirikan
ASEAN untuk menjamin perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Tenggara.

Terletak di jalur perdagangan bahari tersibuk di Selat Malaka, menjabat sebagai salah satu pusat
utama perdagangan dunia, perdagangan dengan dan melalui Singapura menjadi penting bagi
Indonesia untuk menyediakan jalur perdagangan ke seluruh dunia. Begitu juga sebaliknya,
pengusaha Indonesia juga penting bagi Singapura. Perdagangan adalah motivasi umum utama
kedua negara hubungan luar negeri, masing-masing mitra adalah mitra dagang utama satu sama
lain.

Volume perdagangan Indonesia-Singapura mencapai $36 miliar AS ($29,32 miliar AS).


Singapura merupakan investor luar negeri teratas bagi Indonesia, dengan total kumulatif dari US
$ 1,14 miliar pada 142 proyek. Perdagangan antara kedua negara juga mencapai sekitar $68
miliar AS pada tahun 2010. Pada saat yang sama, ekspor non-migas Indonesia ke Singapura
adalah yang tertinggi di kawasan.

Singapura adalah sumber wisatawan asing terbesar bagi Indonesia, dengan sejumlah 1.373.126
wisatawan Singapura mengunjungi Indonesia pada tahun2010. Sebaliknya, Indonesia juga
menjadi sumber wisatawan terbesar bagi Singapura, menjapai jumlah 2.592.222 wisatawan
Indonesia yang mengunjungi Singapura pada 2011.

Selain tujuan bisnis, wisatawan Indonesia tertarik ke Singapura sebagian besar untuk wisata
belanja, wisata kota, dan pulau resor dengan taman tema, kebun binatang, museum dan kebun.
Sementara Singapura tertarik ke Indonesia sebagian besar untuk alam dan budaya, Bali dan pulau
tetangga Batam sangat populer di kalangan wisatawan Singapura.
Pada tanggal 3 Oktober 2005 Perdana Menteri Lee Hsien Loong bertemu Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono di Bali, hanya dua hari setelah Bom Bali. Mereka sepakat untuk
memperkuat kerjasama melawan terorisme dan juga kerjasama yang dibahas dalam bidang
ekonomi, perdagangan dan investasi.

Hubungan Singapura dengan Indonesia umumnya baik, meskipun isu yang beredar saat ini
termasuk larangan ekspor pasir, dan granit yang sangat dibutuhkan oleh sektor konstruksi
Singapura.

Masalah kelangkaan lahan dan ruang di Singapura telah mendorong mereka memperluas pulau
mereka melalui upaya reklamasi lahan. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk reklamasi seperti
pasir dan granit, sebagian besar diimpor dari Indonesia. Tambang pasir dari wilayah Indonesia
telah menimbulan keprihatinan atas isu-isu lingkungan.

Pada bulan Agustus 2005, Singapura dan Indonesia menandatangani Memorandum of


Understanding untuk memperluas hak penerbangan antara kedua negara.

Pada Juni 2013, Singapura menderita akibat kabut yang berasal dari praktek tebang-dan-bakar
untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit di negara tetangga, Indonesia, provinsi Riau,
Sumatera. Pada Juni 2013 kabut mencapai rekor terburuk, mencapai tingkat kabut polutan
tertinggi sejak 1997. Kabut telah mendorong peringatan kesehatan dari pemerintah Singapura,
warga Singapura yang marah juga menyebabkan beberapa ketegangan diplomatik, pemerintah
Singapura memprotes keterlambatan di Indonesia dalam menangani masalah ini dan mendesak
pemerintah Indonesia untuk mencari langkah-langkah efektif untuk mencegah terjadinya dan
mengurangi polusi kabut asap lintas batas.

Sejak tampilnya pemerintahan baru di Indonesia dan Singapura pada semester ke-2 tahun 2004,
hubungan bilateral Indonesia-Singapura mengindikasikan perkembangan yang lebih positif dan
konstruktif. Saling kunjung antar KepalaPemerintahan kedua negara dan pejabat tinggi lainnya
juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Indikasi positif ini juga telah mendorong
pengembangan sektor-sektor kerjasama baru yang saling menguntungkan dankemajuan upaya
penyelesaian outstanding issues.
Pernyataan PM Lee Hsien Loongdi Parlemen pada 19 Januari 2005 dan pernyataan Menlu
George Yeo di Parlemen pada 18 Januari 2005, 17 Oktober 2005 dan 2 Maret 2006
mengindikasikan pentingnya kedudukan Indonesia bagi Singapura dan kemajuan dalam
hubungan bilateral Indonesia-Singapura, khususnya menyangkut upaya penyelesaianoutstanding
issues.Pada pertemuan informal Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan PMSingapura Lee
Hsien Loong di Bali, 3-4 Oktober 2005 memenuhi usulan PMSingapura, kedua kepala
pemerintahan ini sepakat memparalelkan perundingan 3 perjanjian kerjasama yaitu perjanjian
kerjasama pertahanan, perjanjian ekstradisi dan perjanjian counter-terrorism.Kunjungan
kenegaraan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono keSingapura 15-16 Pebruari 2005,
kunjungan kerja Presiden RI ke Singapura pada 6-7Agustus 2006 dan pertemuan informal
Presiden RI dengan PM Lee Hsien Loong disela-sela Pertemuan Tahunan Forbes Global CEO
Conference ke-6 di Singapura pada 4 September 2006 telah memantapkan pengertian bersama
kedua negara untuk mengembangkan jalinan hubungan bilateral dengan spektrum elemen
substansiseluas mungkin, sementara secara simultan memajukan pembicaraan mengenai
penyelesaian berbagai outstanding issues.

Peran menonjol Pemerintah danmasyarakat Singapura dalam memberikan bantuan


kemanusiaan kepada korban bencana alam gempa bumi dan Tsunami di Sumatera Utara dan
Nanggroe AcehDarussalam Aceh pada 26 Desember 2004, bencana gempa dasar laut di dekat
Pulau Nias dan Pulau Simeleu Maret 2005, bencana gempa bumi di Yogyakarta dan JawaTengah
dan tsunami di Pangandaran 2006 tersebut telah berpengaruh positif terhadap persepsi publik
tertentu Indonesia terhadap Singapura, dan merupakan faktor positif lain bagi perkembangan
hubungan baik kedua negara.

RI dan Singapura memperkuat kerja sama bilateral bidang ekonomi, di tengah memanasnya
hubungan kedua negara terkait protes Singapura terhadap penamaan kapal TNI AL, KRI Usman-
Harun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa dan Perdagangan dan Industri
Singapura Lim Hng Kiang memimpin Pertemuan Bilateral 6 Kelompok Kerja Ekonomi
Singapura-Indonesia Ke-4 di Singapura, Selasa (11/2/2014).
Pihak Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura seperti dikutip dari Channel News Asia
menyatakan pertemuan ini terfokus pada penguatan hubungan ekonomi antara Singapura dan
Indonesia.

Di samping itu, diangkat pula penguatan komitmen kolaborasi ekonomi kedua negara. Selama
pertemuan, kedua pihak mencatatkan kemajuan yang baik di antara 6 kelompok kerja, meliputi
kerja sama di Kepulauan Batam, Bintan, Karimun, dan Zona Ekonomi Eksklusif lainnya,
investasi, lalu lintas udara, pariwisata, sumber daya manusia, serta agrobisnis.

Dalam pernyataan resmi, 6 Kelompok Kerja Bilateral Ekonomi adalah platform penting dalam
memajukan kerja sama bilateral ekonomi antara Singapura dan Indonesia.

Pada tahun 2013, perdagangan bilateral antara dua negara mencapai 74,8 miliar dollar Singapura
atau setara Rp 707,2 triliun. Ini membuat Indonesia menjadi mitra dagang terbesar kedua
Singapura di antara negara-negara anggota ASEAN. Sementara itu, Singapura adalah investor
asing terbesar kedua di Indonesia pada tahun 2013. Indonesia adalah sumber wisatawan terbesar
Singapura pada tahun 2012.

Hubungan Bilateral Indonesia Singapura telah menunjukkan peningkatan di berbagai bidang


kerjasama terutama hubungan kerjasama politik, hubungan kerjasama ekonomi dan hubungan
kerjasama sosial budaya. Selain itu kunjungan antara sesama pejabat Pemerintah maupun swasta
di kedua negara telah memberikan kontribusi yang besar bagi pengembangan hubungan
kerjasama dan peningkatan investasi di kedua negara.

Hubungan diplomatik Indonesia- Singapura dilakukan secara resmi pada bulan September 1967,
yang dilanjutkan dengan pembukaan kedutaan besar masing-masing negara. Secara politik,
pada dasarnya hubungan IndonesiaSingapura mengalami fluktuasi didasarkan isu permasalahan
menyangkut kepentingan nasional masing-masing negara, namun demikian kedua negara
memiliki fondasi dasar yang kuat untuk memperkuat dan meningkatkan hubungan kedua
negara yang lebih konstruktif, pragmatis dan strategis. Penandatanganan Perjanjian Ekstradisi
dan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan antara kedua negara di Bali tanggal 27 April 2007 salah
satu koridor hukum bagi palaksanaan dan peningkatan hubungan bilateral kedua negara,
meskipun masih diperlukan pendekatan-pendekatan pada teknis pelaksanaannya.

Di bidang ekonomi, Singapura dengan luas negara 682.7 km2 dan populasi penduduk sekitar
4.657.542 jiwa telah tumbuh menjadi negara yang memiliki kekuatan ekonomi yang besar,
karena menjadi perlintasan transaksi jasa ekonomi di dunia. Oleh karena itu peningkatan
hubungan kerjasama antara Singapura dan Indonesia sebagai bagian dari upaya pendekatan
good neighbour policy merupakan peluang kerjasama yang saling mengungtungkan.

Dalam hubungan kerjasama ekonomi, Indonesia dan Singapura saling melengkapi dan
memiliki tingkat komplementaritas yang tinggi. Indonesia memilki sumberdaya alam dan
sumber daya manusia yang besar sedangkan Singapura memiliki kemampuan pengetahuan dan
tehnologi tinggi, jaringan ekonomi serta sumber daya keuangan yang besar. Kondisi ini
menjadikan Indonesia dan Singapura saling membutuhkan dan saling melengkapi satu sama
lain. Selain itu, di bidang sosial budaya, kedua negara juga telah mendorong usaha-usaha untuk
meningkatkan kerjasama pendidikan, kebudayaan, pariwisata serta hubungan people to people
contact.

Kerangka hubungan kerjasama Indonesia dan Singapura tersebut di atas, telah menjadi
landasan dasar bagi pengembangan hubungan bilateral Indonesia-Singapura yang lebih
mengikat, salah satunya melalui kunjungan antara Kepala Negara/Kepala Pemerintahan kedua
negara yang menghasilkan kespakatan-kesepakatan susbtansial untuk meningkatkan dan
mengambangakan hubungan kerjasama bilateral kedua negara.

Dalam kunjungan Presiden RI ke Singapura pada tanggal 12 November 2009, Presiden RI


telah melakukan pertemuan bilateral dengan PM Lee Hsien Loong, kunjungan kehormatan
kapada Presiden Singapura, S.R. Nathan dan Minister Mentor Singapura, Lee Kuan Yew. Dalam
pertemuan Bilateral dengan Presiden RI tersebut, PM Singapura menyampaikan beberapa
pandangan antara lain :
1. Perlunya penyelenggaraan retreat para menteri kedua negara, untuk mereview
hubungan yang selama ini telah terjalin dengan baik, sehingga kedua negara dapat
melakukan stock taking atas berbagai capaian kerjasama, dan sekaligus memproyeksikan
langkah-langkah yang perlu dilakukan;

2. Kerjasama kedua negara dalam konteks Joint Steering Committee (JSC) dan Joint
Working Group (JWG) on Economic Cooperation in the Islands of Batam, Bintan dan
Karimun telah meraih kemajuan terlepas dari sejumlah masalah yang harus diselesaikan.

3. Masih ada kesalahpahaman yang sering terjadi dalam upaya pengembangan


hubungan kedua negara;

4. Komitmen mendorong peningkatan investasi Singapura di Indonesia yang dapat


membantu pertumbuhan ekonomi, dan pada gilirannya akan menciptakan lapangan kerja
di Indonesia.

5. Perlunya ASEAN untuk terus menjadi driving force dalam pengembangan


kerjasama kawasan. Raihan kerjasama antara ASEAN dengan negara-negara mitra
wicara, seperti dalam kerangka ASEAN-AS dan ASEAN+3 mencerminkan sikap ASEAN
yang selalu terbuka untuk bekerjasama dengan negara-negara di luar kawasan serta
menekankan ASEAN menjadi center dalam setiap kerjasama regional di kawasan Asia
Tenggara.

Menanggapi hal tersebut, Presiden RI menyampaikan beberapa hal antara lain :

1. Menyambut gembira hubungan bilateral Indonesia dan Singapura yang telah


berkembang dengan kokoh. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya untuk terus
meningkatkan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Singapura. Permasalahan
yang terjadi antara Indonesia dan Singapura merupakan bagian dari proses yang selalu
terjadi di antara kedua negara. Berbagai permasalahan pending yang ada tidak akan
pernah melunturkan semangat untuk terus melakukan upaya-upaya peningkatan
hubungan kedua negara di barbagai bidang.
2. Menyambut baik gagasan pelaksanaan retreat bilateral yang akan dilakukan pada
waktu 6 (enam) bulan mendatang. Melalui retreat ini akan dilakukan stock taking,
khususnya guna mereview kerjasama yang dilakukan selama ini.

3. Dalam kerangka ASEAN, ASEAN+3 telah mencapai kemajuan-kemajuan yang


berarti dan ASEAN perlu mengembangkan kerjasama dengan negara lain termasuk
dengan India dan negara penting lainnya.

4. Dalam kaitan dalam negeri, proses reformasi masih berlangsung di Indonesia.


Indonesia masih membutuhkan waktu untuk merekonstruksi berbagai macam aspek
terkait dengan upaya pembangunan nasional Indonesia serta perubahan perilaku dalam
melaksanakan hal tersebut.

5. Indonesia mengundang partisispasi sektor swasta Singapura untuk mendukung


pembangunan nasional Indonesia. Indonesia telah berhasil meminimalisir dampak dari
krisis keuangan global terhadap perekonomian negara.

Selain hal tersebut, kedua negara juga sepakat untuk bersama-sama mensukseskan pertemuan
PBB tentang perubahan iklim yang akan berlangsung di Copenhagen, Denmark. Kedua negara
berharap ada suatu mekanisme kerjasama yang efektif untuk mensukseskan pertemuan PBB
tentang perubahan iklim di Copenhagen, Denmark bulan Desember mendatang.

Komitmen-komitmen tersebut akan menjadi landasan kerjasama untuk dapat dilaksanakan


pada tingkat yang lebih teknis dalam kerangka mencapai sasaran dan tujuan kerjasama bilateral
Indonesia dan Singapura. Mekanisme retreat bilateral Indonesia-Singapura yang akan
dilakukan enam bulan mendatang akan menjadi media evaluasi terhadap posisi kerjasama
Indonesia-Singapura dan merumuskan target kemajuan yang hendak dicapai secara bersama-
sama.

Berkenaan dengan hal tersebut, kiranya Departemen/ instansi di Indonesia yang terkait dengan
kerjasama Indonesia-Singapura melakukan langkah-langkah koordinasi yang lebih intensif
untuk dapat menyiapkan dan merumuskan evaluasi komprehensif kerjasama Indonesia-
Singapura dan merumuskan posisi dasar kerjasama Indonesia-Singapura pada isu-isu aktual
yang menjadi pokok perhatian kedua negara. Sehingga mekanisme retreat bilateral Indonesia-
Singapura enam bulan mendatang akan memenuhi target dan tujuan sesuai dengan keinginan
untuk meningkatkan hubungan kerjasama bilateral kedua negara yang saling menguntungkan.

Indonesia dan Singapura kembali membahas berbagai isu pending dan menjajagi potensi
kerjasama kedua negara. Pembahasan tersebut dilakukan pada pertemuan bilateral Menteri Luar
Negeri RI Marty M. Natalegawa dengan Menteri Luar Negeri Singapura, K Shanmugam, di
Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri.

Hubungan kedua negara berjalan sangat erat, solid jelas Menlu RI saat konferensi pers
bersama Menlu Singapura seusai pertemuan bilateral. Keeratan kedua negara antara lain
tercermin dengan banyak nya instrumen kerjasama, seperti frekuensi pertemuan para pejabat
kedua pihak atau adanya kelompok-kelompok kerja yang terus mengidentifikasi peluang
kerjasama.

Sebagaimana dilansir oleh press release dari Dit. Astimas, pertemuan bilateral tersebut
membahas mengenai perkembangan hubungan bilateral antara RI dan Singapura, khususnya
tindak lanjut dari Leaders Retreat bulan Mei 2010 dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya.

Kedua Menlu juga membahas berbagai outstanding issues, antara lain mengenai pentingnya
mempercepat penyelesaian perundingan batas maritim kedua negara di sebelah timur Selat
Singapura (antara Batam Changi) yang masih belum ditetapkan.

Terkait dengan Perjanjian Ekstradisi dan Defense Cooperation Agreement, Menlu RI


menginformasikan Singapura bahwa pemri telah memulai kembali proses komunikasi informal
dengan parlemen untuk mengkaji kembali dan menjajagi langkah-langkah yang mungkin
dilakukan ke depan.

Selain membahas mengenai kerjasama bilateral, kedua Menlu juga saling berbagi pandangan
mengenai kerjasama kedua negara pada isu-isu regional khususnya ASEAN dan masalah-
masalah global. Singapura kembali menyatakan dukungannya untuk visi Indonesia dalam
keketuaannya di ASEAN, tahun ini ujar Menlu Shanmugam.

Pertemuan ini dilaksanakan pada kunjungan Menteri Luar Negeri Singapura ke Indonesia 23-25
Juni 2011. Kunjungannya tersebut merupakan kunjungan perkenalan K. Shanmugam sebagai
Menteri Luar Negeri Singapura, yang baru ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri Singapura pada
bulan Mei 2011. Selain bertemua dengan Menlu RI, Menlu Shanmugam juga dijadwalkan
melakukan pertemuan kehormatan (courtessy call) dengan Presiden RI.

Hubungan Indonesia dan Singapura sedang merenggang. Hal tersebut terlihat dari sikap
Singapura yang batal mengundang Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk hadir dalam acara
Singapore Airshow 2014 yang digelar pada hari ini (11/2/2014).

Pembatalan sepihak itu menyusul sikap Pemerintah Singapura yang keberatan terhadap rencana
TNI memberikan nama Usman Harun untuk kapal perang jenis fregat yang dibeli dari Inggris.
Usman Harun adalah dua anggota Korps Komando Operasi (KKO)-- saat ini marinir-- yang
menjalankan tugas negara dengan meledakan Hotel Mac Donald House di Orchard Road pada
tahun 1965. Saat itu Indonesia terlibat konfrontasi dengan Malaysia. Sedangkan Singapura masih
menjadi wilayah bagian Malaysia.

Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Hasyim Djalal


mengatakan, seharusnya peristiwa terkait Usman Harun sudah selesai ketika Perdana Menteri
Singapura Lee Kwan Yew memberikan karangan bunga di makam kedua pahlawan itu saat
berkunjung ke Jakarta pada 1970. "Seharusnya isu ini sudah lewat. Tidak ada masalah lagi," ujar
Hasyim kepada Sindonews, Senin (10/2/2014).

Sikap keberatan Singapura atas penamaan KRI Usman Harun, kata dia, justru telah menunjukkan
Singapura ternyata belum bisa melupakan peristiwa tersebut. "Ternyata tidak melupakan dan
tidak memaafkan," ungkap Hasyim.

Berdasarkan data yang dihimpun Sindonews, hubungan Indonesia dan Singapura beberapa kali
mengalami pasang surut. Sebut saja ketika Pemerintah Indonesia mengeluarkan larangan ekspor
pasir ke Singapura pada tahun 2007. Peraturan itu berupa Permendag nomor 2 tahun 2007
tentang Larangan Ekspor Pasir dan Tanah.

Kebijakan itu menyikapi adanya ekspor pasir dalam jumlah besar selama bertahun-tahun ke
Singapura. Pasir itu digunakan untuk reklamasi pantai guna memperluas wilayah
Singapura.Pelarangan ekspor pasir sempat dipertanyakan oleh Menteri Luar Negeri Singapura
saat itu, George Yeo, dan anggota parlemen.

Indonesia dan Singapura juga memiliki perbedaan perspektif menyangkut perjanjian ekstradisi
atau pemulangan pelaku kejahatan korupsi. Indonesia sudah lama mengharapkan Singapura
membantu upaya pengembalian tersangka beserta aset korupsi.

Sudah menjadi rahasia umum, Singapura menjadi tempat pelarian yang aman bagi pelaku
korupsi. Tidak hanya tempat bersembunyi, tapi juga menyimpan uang hasil korupsinya. Alhasil,
sulit bagi penegak hukum di Indonesia untuk menindak pelaku yang buron ke negeri tersebut.

Kendati akhirnya menyatakan bersedia memberikan kemudahan Indonesia dalam mengekstradisi


pelaku kejahatan korupsi, Singapura ternyata punya maksud lain. Singapura mengajukan syarat
agar Indonesia membolehkan wilayahnya digunakan pihaknya sebagai tempat latihan militer.

Entah apa alasan Pemerintah Indonesia saat itu, hingga akhirnya bersedia meneken perjanjian
ekstradisi pada 26 April 2007. Meski begitu, perjanjian itu tidak bisa diimplementasikan. DPR
menolak meratifikasi perjanjian tersebut karena mengganggap merugikan Indonesia. DPR
menilai kesepakatan tentang pemulangan koruptor harus dipisahkan dengan urusan kerja sama
militer.
Belum selesai persoalan ekstradisi, hubungan bilateral kedua negara kembali diuji. Pada Juni
2013, Singapura memprotes polusi asap yang berasal dari kebakaran hutan di Riau. Menteri Luar
Negeri Singapura George Yeo pun mengirimkan surat protes ke Indonesia. Sementara itu hasil
investigasi pemerintah menyebutkan ada delapan perusahaan asing yang satu di antaranya dari
Singapura diduga telah membakar hutan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun akhirnya memilih untuk menyatakan meminta
maaf kepada Singapura. Sikap SBY pun menuai kritik berbagai pihak. Dia pun sempat
membantah penilaian yang menyebutnya lemah terhadap Singapura dan Malaysia.

Hasyim menilai, pasang surut hubungan Indonesia dengan Singapura merupakan sesuatu yang
wajar. Dia mengumpamakan hubungan kedua negara itu seperti dua ekor landak. "Pada malam
hari, dua landak ini ingin berdekatan karena dingin. Tetapi ketika berdekatan, maka akan saling
tertusuk (karena durinya)," ujar anggota Dewan Maritim Indonesia itu.

Dia berharap pemerintah kedua negara bersikap tenang dan mengedepankan kepentingan
bersama, yakni mempererat hubungan kedua negara yang sudah terjalin selama puluhan tahun.

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura menunjukkan perkembangan yang makin
baik. Pada pertemuan reguler kedua menteri luar negeri (menlu) yang diselenggarakan di
Bandung, Selasa (4/2) disepakati peningkatan kerjasama di berbagai bidang antarkedua negara.

Kesepakatan ini menindaklanjuti arahan kepala pemerintahan Indonesia-Singapura pada


pertemuan Leader Retreat yang digelar di Singapura pada 22 April 2013 lalu. Kesepakatan
dilakukan oleh Menlu RI Marty Natalegawa dan Menlu Singapura, K. Shanmugam.

Pembahasan yang dilakukan oleh kedua menlu antara lain upaya peningkatan kerja sama
bilateral Indonesia-Singapura di bidang ekonomi, perdagangan, investasi, transportasi, pariwisata
dan bidang-bidang kerja sama lainnya.

Selain itu pertemuan juga membicarakan berbagai isu regional dan global yang menjadi
perhatian bersama. Antara lain mengenai upaya mewujudkan komunitas ASEAN 2015, situasi
keamanan di kawasan dan global, dan kerja sama di berbagai forum internasional.

Pertemuan bilateral Menlu Marty dan Menlu Shanmugam juga membahas persiapan Leaders
Retreat mendatang antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Lee Hsien Loong.
Pertemuan kedua pimpinan negara akan dilaksanakan di Indonesia pada tahun ini.

Potensi kerja sama bisnis antara Indonesia dan Singapura terbilang besar. Namun, realisasi yang
ada sekarang belum sebesar potensi yang bisa digarap. Karena itu, kedua negara pun sedang
berusaha mempererat kerja sama ekonomi.

Hari ini, Senin (8/4/2013), Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, dengan
Lim Hng Kiang, Minister for Trade and Industry Singapore, mengadakan pertemuan, di Jakarta.
Pertemuan kali ini adalah kelanjutan dari Preparatory Meeting of Bilateral Economic Working
Groups RI-Singapura yang telah diadakan pada 21 Maret lalu di Singapura.

Pertemuan hari ini membahas perkembangan kerja sama bilateral antara Indonesia-Singapura
dalam enam working groups (WG), yakni WG Batam-Bintan-Karimun dan Kawasan Ekonomi
Khusus lainnya, WG Investasi, WF Konektivitas Udara, WG Pariwisata, WG Sumber Daya
Manusia, dan WG Agribisnis. Hasil pertemuan dari kedua menteri ini menjadi bahan masukan
untuk Leaders Retreat kedua negara yang bakal diadakan pada 22 April mendatang, di
Singapura.

Kita baru saja selesai melaksanakan joint meeting yang ketiga. Setiap tahun kita gantian, jelas
Hatta, seusai pertemuan.

Hatta menjelaskan, nilai perdagangan Indonesia-Singapura mencapai US$ 43,6 miliar. Nilai
tersebut turun tiga persen di tengah kondisi perekonomian yang sedang mengalami masa sulit.
Investasi tetap Singapura nomor satu, hampir US$ 5 miliar di 2012. Memegang ranking
pertama, imbuhnya.

Dan sekarang, kedua negara akan mengembangkan kerja sama perdagangan dan investasi agar
bisa lebih bertumbuh. Kerja samanya dikategorikan ke dalam enam WG. Pertama adalah WG
Batam-Bintan-Karimum dan KEK lainnya. Tahun 2013, kerja sama di bagian ini akan fokus pada
pengembangan kapasitas aparatur pelayanan investasi, perbaikan relasi industri, dan
pembangunan infrastruktur. Kedua negara akan promosi meng-attract investor dari Taiwan dan
dari mana-mana untuk di situ, ucap Hatta.

Kedua, WG di bidang investasi. Hatta berkeinginan agar investasi tidak hanya terpusat di Pulau
Jawa. Tapi kita ingin mendorong juga di luar Jawa. Tadi, sudah diidentifikasi beberapa hal yang
penting (terkait) itu, lanjutnya.

Ketiga adalah WG dalam hal perhubungan udara. Hasil dari WG ini adalah kerja sama dalam
meningkatkan kapasitas hak angkut bagi maskapai penerbangan kedua negara. Hatta
menerangkan, Air connectivity itu bagaimana kita meningkatkan hubungan udara kita di dalam
menghadapi ASEAN connectivity yang lebih efisien, murah, sehingga barang-barang pergerakan
domestik jauh lebih efisien nantinya.

Lalu, pada bidang pariwisata, ia menuturkan, Indonesia akan berupaya untuk membuka daerah-
daerah yang berpotensi di Indonesia timur. Negara ini pun akan berusaha meningkatkan
konektivitas ke wilayah tersebut dengan menggandeng Singapura yang memiliki jaringan dan
pemasaran yang baik, namun tidak mempunyai banyak objek wisata. Jadi, kita mengajak ke
sana, terutama untuk (wisata) kapal pesiar, sebutnya.

Demi mengembangkan wisata kapal pesiar, pihak Indonesia pun meminta WG untuk
mengidentifikasi proyek infrastruktur khusus terkait itu. Hatta menyebutkan, satu proyek
diharapkan di Bali, dan satu di Indonesia timur. Sehingga meningkatkan turis di cruise atau
kapal pesiar yang basenya di Singapura bisa masuk ke wilayah kita, dan ada pelabuan-pelabuhan
utama di situ, terang dia.

Sedangkan di bidang tenaga kerja, pemerintah berharap ada peningkatan tenaga kerja yang
memiliki keahlian di Singapura. Lebih khusus, pemerintah akan mendorong tenaga kerja perawat
dan perawat orang tua atau jompo (caregiver) untuk bekerja di Singapura seiring dengan
kebutuhan yang semakin meningkat. Dan juga kita meminta agar nurse kita banyak yang
melayani di rumah sakit-rumah sakit di mana orang Indonesia yang banyak berobat dan check up
ke sana, dan juga pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan skill orang kita, kata Hatta
menjelaskan.

Terakhir adalah WG di bidang agribisnis. Ekspor sayuran dan buah dari Indonesia ke negara
singa itu menunjukkan perkembangan yang positif. Ekspor mencapai angka 25.000 ton, atau
meningkat sebanyak 18 persen di tahun 2012 dari tahun 2011. Rencananya, pemerintah akan
meningkatkan volume ekspor sayuran dan buah sebesar 20 persen per tahun. Demi itu,
pemerintah pun berusaha memperbaiki rantai pasok sayur dan buah melalui sejumlah upaya.
Salah satunya adalah Kementerian Pertanian mendorong pengembangan agribisnis. sayur dan
buah oleh PTPN.

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura yang terjalin sejak 46 tahun lalu, berlangsung
sangat baik sampai saat ini. Hal itu dikatakan Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Anil
Kumar Nayar dalam sambutannya pada perayaaan hari Kemerdekaan Singapura yang ke 48, di
Jakarta, Rabu malam. Dikatakannya, selain di Jakarta, perayaan kemerdekaan Singapura tahun
ini juga dilaksanakan di Medan dan Batam. Menurut Dubes, hubungan kedua negara diberbagai
sektor yang telah terjalin sejak lama ini akan terus diperluas dan diperdalam di tengah tantangan
global semakin rumit. Dubes Anil mengatakan kedua pemimpin negara telah rutin melakukan
pertemuan sejak perayaan kemerdekaan Singapura tahun 2012 lalu.

Sejak perayaan Nasional Singapura tahun lalu, kedua pemimpin negara kita telah rutin
bertukar fikiran// Dan dibulan April tahun ini, perdana menteri Singapura yang mulia Lee Sien
Lung dan presiden Republik Indonesia yang Mulia Susilo Bambang Yudhoyono di acara tahunan
di Singapura// Pada kunjungan-kunjungan ini para pemimpin menyatakan untuk terus
bekerjasama dan mempertegas komitmen mereka untuk memperkuat dan memperdalam
hubungan Singapura Indonesia

Dubes Anil mengatakan, baik dalam kerangka kerjasama kedua negara maupun organisasi
Internasional, Singapura dan Indonesia berada dalam satu pandangan. Hal ini tentunya sangat
menguntungkan bagi kedua Negara. Menurut Anil, selain kerjasama ekonomi perdagangan yang
terjalin bahkan sebelum kemerdekaan Singapura, people to peole contact juga merupakan hal
yang sangat penting ditingkatkan. Anil optimistis kondisi Indonesia yang makin kondusif setelah
reformasi akan menjadikan hubungan kedua negara semakin baik dan kuat. Dubes Anil juga
berharap hubungan baik ini akan dilajutkan oleh generasi-generasi mendatang di kedua Negara.
Asmawati Rahman.

Indonesia dan Singapura mempererat kerjasama bilateral di bidang ekonomi, pendidikan, dan
reformasi birokrasi. Singapura adalah satu dari tiga negara mitra bilateral Indonesia selain
Malaysia dan Australia yang aktif menyelenggarakan retreat tahunan dengan Indonesia khusus
membicarakan perkembangan kerjasama antara kedua negara bertetangga tersebut.

Penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dilakukan oleh para menteri disaksikan


langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsin
Liong di Istana Bogor, Selasa (13/3).

Delegasi Indonesia diwakili para menteri anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, di antaranya
Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan, Menteri Luar Negeri Marti Natalegawa, Menteri
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh,
Mensesneg Sudi Silalahi, Menteri Perekonomian Hatta Radjasa, dan lainnya. Sementara, PM
Singapura didampingi oleh Menteri Perdagangan dan Perusahaan, Lim Hng Kiang; Menteri
Pertahanan, Dr Ng Eng Hen; Menteri Ehwal Luar merangkap Undang-Undang, K. Shanmugam;
Menteri Kesihatan, Gan Kim Yong; Pemangku Menteri Pembangunan Masyarakat, Belia dan
Sukan, Chan Chun Sing; dan Menteri Negara Kanan (Penerangan, Perhubungan dan Kesenian
merangkap Sekitaran dan Sumber Air), Grace Fu.

Pertemuan yang diselingi jamuan makan siang itu berlangsung kurang lebih selama 2,5 jam.
Kedua pimpinan negara sepakat meningkatkan kerjasama ekonomi terutama perdagangan dan
investasi.

Indonesia berharap dapat meningkatkan ekspor agrikulturnya terutama sayuran dan buah-buahan
ke Singapura yang terus menunjukkan kenaikan permintaan. Sementara, Singapura berminat
meningkatkan investasinya di bidang infrastruktur terutama pengelolaan sampah, sanitasi, dan
pengolahan air.
Hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura menunjukkan perkembangan yang makin
baik. Pada pertemuan reguler kedua menteri luar negeri (menlu) yang diselenggarakan di
Bandung, Selasa (4/2) disepakati peningkatan kerjasama di berbagai bidang antarkedua negara.

Kesepakatan ini menindaklanjuti arahan kepala pemerintahan Indonesia-Singapura pada


pertemuan Leader Retreat yang digelar di Singapura pada 22 April 2013 lalu. Kesepakatan
dilakukan oleh Menlu RI Marty Natalegawa dan Menlu Singapura, K. Shanmugam.

Pembahasan yang dilakukan oleh kedua menlu antara lain upaya peningkatan kerja sama Selain
itu pertemuan juga membicarakan berbagai isu regional dan global yang menjadi perhatian
bersama. Antara lain mengenai upaya mewujudkan komunitas ASEAN 2015, situasi keamanan
di kawasan dan global, dan kerja sama di berbagai forum internasional.

Pertemuan bilateral Menlu Marty dan Menlu Shanmugam juga membahas persiapan Leaders
Retreat mendatang antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Lee Hsien Loong.
Pertemuan kedua pimpinan negara akan dilaksanakan di Indonesia pada tahun ini.

Hubungan Bilateral Indonesia dengan Singapura di Bidang Politik

Sejak tampilnya pemerintahan baru di Indonesia dan Singapura pada semester ke-2 tahun
2004, hubungan bilateral Indonesia-Singapura mengindikasikan perkembangan yang lebih positif
dan konstruktif. Saling kunjung antar KepalaPemerintahan kedua negara dan pejabat tinggi
lainnya juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Indikasi positif ini juga telah mendorong
pengembangan sektor-sektor kerjasama baru yang saling menguntungkan dankemajuan upaya
penyelesaian outstanding issues.

Pernyataan PM Lee Hsien Loongdi Parlemen pada 19 Januari 2005 dan pernyataan Menlu
George Yeo di Parlemen pada 18 Januari 2005, 17 Oktober 2005 dan 2 Maret 2006
mengindikasikan pentingnya kedudukan Indonesia bagi Singapura dan kemajuan dalam
hubungan bilateral Indonesia-Singapura, khususnya menyangkut upaya penyelesaianoutstanding
issues.Pada pertemuan informal Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan PMSingapura Lee
Hsien Loong di Bali, 3-4 Oktober 2005 memenuhi usulan PMSingapura, kedua kepala
pemerintahan ini sepakat memparalelkan perundingan 3 perjanjian kerjasama yaitu perjanjian
kerjasama pertahanan, perjanjian ekstradisi dan perjanjian counter-terrorism.Kunjungan
kenegaraan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono keSingapura 15-16 Pebruari 2005,
kunjungan kerja Presiden RI ke Singapura pada 6-7Agustus 2006 dan pertemuan informal
Presiden RI dengan PM Lee Hsien Loong disela-sela Pertemuan Tahunan Forbes Global CEO
Conference ke-6 di Singapura pada 4 September 2006 telah memantapkan pengertian bersama
kedua negara untuk mengembangkan jalinan hubungan bilateral dengan spektrum elemen
substansiseluas mungkin, sementara secara simultan memajukan pembicaraan mengenai
penyelesaian berbagai outstanding issues.

Peran menonjol Pemerintah danmasyarakat Singapura dalam memberikan bantuan


kemanusiaan kepada korban bencana alam gempa bumi dan Tsunami di Sumatera Utara dan
Nanggroe AcehDarussalam Aceh pada 26 Desember 2004, bencana gempa dasar laut di dekat
Pulau Nias dan Pulau Simeleu Maret 2005, bencana gempa bumi di Yogyakarta dan JawaTengah
dan tsunami di Pangandaran 2006 tersebut telah berpengaruh positif terhadap persepsi publik
tertentu Indonesia terhadap Singapura, dan merupakan faktor positif lain bagi perkembangan
hubungan baik kedua negara.
TUGAS P. ILMU
HUBUNGAN
INTERNASIONAL

NAMA : FASKAH
EVRLIANI N.
NIM :
01301503125022
FAK/JURUSAN : FISIP/IHI

Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah Tentang Hubungan Bilateral
Indonesia dengan Singapura.

Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu
Hubungan Internasional.
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat saya harapkan demi sempurnanya makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memenuhi persyaratan Tugas akhir semester saya, dan
mendapatkan nilai yang baik.

Jakarta, 23 Juni 2014

Faskah Evriliani N.

Kesimpulan
Singapura adalah negara tetangga yang kerapkali menjadi harapanv Indonesia tentang

bagaimana sebuah pembangunan hendaknya dijakankan di negara ini.

Mengingat Singapura adalah negara tetangga terdekat, Indonesia dan Singapura harus

menjalin hubungan erat, harmonis, dan produktif, dalam arti saling membantu,
baik secara bilateral maupun dalam kerangka ASEAN.

Hubungan bilateral Indonesia dan Singapura pada awalnya dimulai dengan saling curiga

dan ketakutan Indonesia untuk diakali oleh Singapura. Akan tetapi hubungan tersebut kemudian
mengalami perkembangan, sehingga kemudian tumbuh hubungan yang didasarkan atas
kesadaran kedua belah pihak adanya sifat saling membutuhkan.

Hubungan kerjasama bilateral antara Indonesia dan Singapura dibina

bukan hanya karena faktor geografis yang berdekatan tapi juga faktor sejarah. Berbagai

ranah kerjasama dibangun atas nama kepentingan negara baik dalam bidang ekonomi

maupun bidang politik. Hubungan itu bisa berlangsung harmonis dan produktif bila

kedua negara bisa memaksimalkan dan mempertahankan hubungan yang sudah baik, dan
meminimalkan atau menghilangkan ganjalan yang masih ada.

Namun, hubungan Indonesia dan Singapura merupakan sebuah gambaran yang agak
jomplang. Disebut agak jomplang karena Indonesia yang memiliki wilayah yang sangat

luas, sumber daya alam yang melimpah dan

beragam potensi lainnya, tetapi seperti tidak berdaya. Sementara Singapura yang

wilayahnya hanya sebesar sebuah kota sehingga layak disebut city-state justru

berada dalam posisi pengendali, bukan yang dikendalikan, karena Singapura


menguasai teknologi komunikasi, teknologi informasi, dan teknologi transportasi

yang canggih.