Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENGOLAHAN MODERN

PEMBEKUAN UDANG VANNAMEI (Litopenaeus


vannamei)
Dengan dosen pengampu: Bpk. Arpan Nasri Siregar S.Pi MSt.Pi

Kelompok 1:

AYU RESTU SEPTIANI

51153210977

PROGRAM STUDI

TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN

SEKOLAH TINGGI PERIKANAN

JAKARTA

2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Perikanan adalah suatu kegiatan perekonomian yang memanfaatkan sumber daya alam
dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesejahteraan dengan
mengoptimalisasikan dan memeliharan produktifitas sumber daya perikanan dan kelestarian
lingkungan. Salah satu komoditas perikanan di Indonesia yang saat ini masih primadona yaitu
Udang. Udang merupakan salah satu sumber daya hayati yang tersedia hampir diseluruh
perairan Indonesia dan merupakan salah satu komuditas ekspor andalan dari sub sektor
perikanan. setiap tahunnya terjadi peningkatan pemasaran ekspor udang ke negara-negara
tujuan ekspor seperti Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa (Departemen pertanian 1999).

Udang merupakan komoditi ekspor hasil perikanan terbesar di Indonesia atas


komoditas ikan tuna yang menempati urutan kedua. Dilihat dari data volume ekspor udang
Indonesia ke mancanegara dari bulan Januari sampai dengan November pada tahun 2008
mencapai 158.000 ton sedangkan volume ekspor ikan tuna hanya mencapai 111.000 ton.
Volume ekspor udang ini meningkat dibandingkan pada tahun 2007 yang hanya mencapai
154.747 ton (DJP2HP 2009). Sebagai komoditi perdagangan ekspor maka udang senantiasa
dituntut memiliki mutu yang prima. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem jaminan,
pengendalian dan pengawasan mutu hasil perikanan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka kami melaukan praktikum dengan judul
PEMBEKUAN UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) agar dapat mengetahui
tahap demi tahap alur prosesnya.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum yang kami lakukan ialah untuk mengetahui alur proses
pembekuan udang vannamei dengan hasil produk PND (Peeled Undeveined).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Udang Vannamei sebagai Bahan Baku

Udang termasuk dalam golongan filum Arthopoda dengan kelas Crustasea. Dikenal
hidup pada perairan laut, danau, sungai ataupun genangan air. Pada air tawar, asin dan
payau, udang mampu hidup pada kedalaman bervariasi, ada yang dekat permukaan dan ada
pula pada kedalaman hingga beberapa ribu meter dibawah permukaan air. Dalam
perkembangbiakannya di laut, udang dewasa mampu menghasilkan telur antara 50.000
sampai 1 juta yang dapat menetas setelah 24 jam (Poernomo dkk, 2007). Pada awal
perkembangannya di Indonesia udang ini dikenal udang putih, namun sekarang lebih dikenal
udang vannamei (Litopenaeus vannamei) (Farchan, 2006)

Klasifikasi L. vannamei (Wyban dan Sweeney, 1991 dalam Farchan, 2006) adalah
sebagai berikut :

Phylum : Arthropoda

Kelas : Crustacea

Sub kelas : Malacostraca

Seri : Eumalocostraca

Superordo : Eucarida

Ordo : Decapoda

Sub ordo : Dendobrachiata

Infra ord : Penaeidea

Super famili : Penacoidae

Famili : Penaedea

Genus : Penaeus

Sub genus : Litopenaeus

Spesies : Litopenaeus vannamei


2.2 Persyaratan Mutu

2.2.1 Persyaratan Mutu Udang Segar

Persyaratan mutu udang segar sesuai dengan SNI 01-2728.2-2006, bahwa udang
segar merupakan semua jenis udang hasil perikanan yang baru ditangkap/dipanen dan
belum mengalami penanganan dan pengolahan. Bahan baku udang segar berasal dari
perairan yang tidak tercemar, harus bersih, bebas dari bau yang menandakan
pembusukan, bebas dari tanda dekomposisi dan pemalsuan, bebas dari sifat alamiah
lain yang dapat menurunkan mutu, serta tidak membahayakan kesehatan. Persyaratan
mutu udang segar, secara organoleptik bahan baku harus mempunyai karakteristik
sebagai berikut :

1) Kenampakan : Bening, cemerlang, antara ruas kokoh

2) Bau : Segar, bau spesifik jenis

3) Tekstur : Elastis, padat, dan kompak

Hanya udang-udang yang mempunyai kesegaran yang baik saja yang akan
menghasilkan produk akhir yang baik. Berdasarkan kesegaran ini udang dibedakan
menjadi empat kelas mutu saja (Hadiwiyoto, 1993 dalam Poernomo, 2007), yaitu :

1) Udang yang mempunyai mutu prima (prime), atau baik sekali, yaitu udangudang
yang benar-benar masih segar, belum ada perubahan warna, transparan, dan tidak
ada kotoran atau noda-nodanya.

2) Udang yang mempunyai mutu baik (fancy). Udang ini mutunya dibawah prima,
ditandai dengan adanya kulit udang yang sudah tampak pecah-pecah atau retak-
retak, tubuhnya lunak, tetapi warnanya masih baik dan tidak terdapat kotoran atau
noda-nodanya.

3) Udang bermutu sedang (medium, blackspot). Pecah-pecah pada kulit udang lebih
banyak daripada udang yang bermutu baik. Udang sudah tidak utuh lagi, misalnya
kakinya patah, ekornya hilang, atau sebagian tubuhnya putus. Daging udang sudah
tidak lentur lagi. Pada permukaan tubuh udang sudah tampak banyak noda-noda
berwarna hitam atau merah gelap.
4) Udang yang bermutu rendah (jelek, broken). Kulit udang banyak yang pecah atau
mengelupas, antara ruas-ruas pada tubuh sudah putus, dan udang sudah tidak utuh
lagi.

2.2.2 Persyaratan Mutu Udang Beku

Persyaratan mutu dan keamanan udang beku yang harus dipenuhi berdasarkan
SNI 01-2705.1-2006, dapat dilihat pada Tabel 2. Serta score sheet sensori produk
udang beku dapat dilihat pada Lampiran 1, 2, dan 3.

Tabel 2. Persyaratan Mutu dan Keamanan Udang Beku

2.3 Penurunan Mutu Udang

Proses penurunan mutu udang disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari badan
udang itu sendiri dan faktor lingkungan. Penurunan mutu ini terjadi secara autolisis,
bakteriologis, dan oksidasi. Kemunduran mutu udang segar sangat berhubungan dengan
komposisi kimia dan susunan tubuhnya. Sebagai produk biologis, udang termasuk dalam
bahan makanan yang mudah busuk bila dibandingkan dengan ikan. Oleh karena itu,
penanganan udang segar diperlukan perhatian dan perlakuan cermat (Purwaningsih, 1995).

2.3.1 Kemunduran Mutu Secara Autolisis

Kemunduran mutu secara autolisis/enzimatik adalah suatu proses penurunan mutu


yang terjadi karena kegiatan enzim-enzim dalam tubuh udang yang tidak terkendali
sehingga senyawa kimia dalam jaringan tubuh yang telah mati terurai secara kimia.
Penurunan mutu secara enzimatik ditandai dengan rasa, warna, tekstur, dan rupa yang
berubah (Purwaningsih,1995). Proses autolisis akan selalu diikuti dengan meningkatnya
jumlah bakteri, sebab semua hasil penguraian enzim selama proses autolisis merupakan
media yang cocok untuk pertumbuhan bakteri dan mikroba (Afrianto dan Liviawaty,
1989). Diantara proses autolisis yang sangat mempengaruhi rupa udang adalah
pembentukan bercak hitam (melanosis) dengan gejala terjadinya penghitaman pada
kepala, ruas-ruas dan ekor. Penyebabnya adalah enzim dalam udang yang melalui suatu
rangkaian reaksi, mengoksidasi senyawa-senyawa tertentu, menghasilkan pigmen
melanin berwarna hitam. Proses melanosis ini segera dan cepat dipengaruhi oleh
keadaan kering, adanya oksigen, suhu tinggi dan faktor waktu. Untuk mencegah
terjadinya bercak hitam, usahakan agar suhu udang serendah mungkin. Pada
penanganan segar, sebelum udang dibekukan suhu udang sebaiknya berada sekitar 00C
sampai -10C. Jangan lebih rendah dari pada -10C karena dikhawatirkan udang akan
mengalami pembekuan sebagian yang dapat mengakibatkan rusaknya tekstur (Ilyas,
1993).

2.3.2 Kemunduran Mutu Secara Kimiawi

Penurunan mutu secara kimiawi adalah perubahan yang disebabkan oleh oksidasi
lemak pada ikan yang menyebabkan bau dan rasa tengik, sehingga gejala ini dinamakan
ketengikan oksidatif (Ilyas, 1983). Kecepatan oksidasi ini dapat diperlambat oleh
penurunan suhu, melindungi produk sehingga tidak berhubungan dengan udara atau
dibungkus dengan pembungkus anti oksidan sehingga produk tidak kontak dengan
logam lain. Penurunan oksidasi terjadi pada udang yang berlemak tinggi dan produk
yang dibekukan secara individual atau produk kupas (Purwaningsih, 1995).
2.3.3 Kemunduran Mutu Secara Bakteriologis

Penurunan mutu secara bakteriologis adalah suatu penurunan mutu yang terjadi
karena adanya kegiatan bakteri yang berasal dari selaput lendir dari permukaan tubuh,
insang, dan saluran pencernaan. Penurunan mutu ini mengakibatkan daging udang
terurai dan menimbulkan bau busuk (Purwaningsih, 1995). Pertumbuhan bakteri
pembusuk tertahan pada deret suhu antara -10 sampai 50C (Ilyas, 1993). Bakteri
merupakan anggota mikroorganisme terbanyak pada tubuh ikan, dapat dibagi menjadi
tiga golongan berdasarkan temperature hidupnya, yaitu:

1) Bakteri thermophili, bakteri ini merupakan golongan bakteri yang dapat hidup
dengan baik pada temperature tinggi (40-800C), kemampuan hidup optimal pada
temperature 45 sampai 550C.

2) Bakteri mesophili, bakteri ini merupakan golongan bakteri yang dapat hidup dengan
baik pada temperature 30-450C, kemampuan hidup optimal pada temperature 30-
370C.

3) Bakteri psikrophili, bakteri ini dapat hidup dengan baik pada temperature 10- 200C,
kemampuan hidup optimal pada temperature 100C.

2.4 Teknik Penanganan dan Pengolahan Udang Beku

Prinsip yang dianut dalam penanganan udang adalah mempertahankan kesegaran udang
selama mungkin dengan memperlakukan udang dengan cermat dan hati-hati, segera dan cepat
mendinginkan udang hingga mencapai suhu 00C, memperlakukan udang secara bersih,
higienis dan sehat serta selalu memperhatikan faktor waktu dan kecepatan bekerja selama
rantai penanganan dingin (Purwaningsih, 1995).

Udang beku adalah produk yang diolah dari udang segar yang mengalami perlakuan
sebagai berikut: pencucian, pemotongan kepala, pengupasan kulit, pembuangan atau tanpa
pembuangan ekor, pembelahan atau tanpa pembelahan, pembekuan cepat sehingga suhu
pusat maksimal -180C (DSN, 1994 dalam Poernomo, 2007).
2.5 Bentuk Udang Beku

a. Head-On (HO)

Produk Head-On adalah produk udang beku yang utuh lengkap dengan kepala, badan,
kulit, dan ekor. Produk head-on ini harus dibuat dari udang yang mempunyai tingkat
kesegaran tinggi. Biasanya udang yang diolah head-on adalah udang tambak dan ukurannya
besar.

b. Headless (HL)

Produk Headless adalah produk udang beku yang diproses dalam bentuk kepala sudah
dipotong, tetapi masih memiliki kulit, kaki, dan ekor. Pemotongan kepala ini dilakukan secara
manual dengan cara mematahkan kepala dari arah bawah ke atas. Bagian yang dipotong
mulai dari batas kelopak penutup kepala sampai batas leher bagian atas. Rendemen yang
dihasilkan setelah potong kepala berkisar antara 63-65%.

c. Peeled and Deveined (PD)

Produk Peeled and Deveined adalah produk udang yang dikupas seluruh kulit serta
ekornya dan untuk mengambil kotoran perut dengan menusuk bagian punggung kemudian
menarik kotoranya keluar.

d. Peeled Undeveined (PUD)

Produk Peeled Undeveined adalah produk udang beku yang dikupas seluruh kulit dan
ekor seperti pada produk PD, tetapi dibelah untuk mengambil kotoran perut.

e. Peeled Tail-On (PTO)

Peeled Tail-On adalah produk udang beku tanpa kepala dan kulit dikupas mulai dari
ruas pertama sampai ruas kelima, sedangkan ruas terakhir dan ekor disisakan.

f. Peeled Deveined Tail-On (PDTO)

Produk Peeled Deveined Tail-On adalah produk udang kupas dengan disisakan ruas
terakhir dan ekornya (hampir sama dengan PTO), tetapi pada bagian punggung udang diambil
vein (kotoran perutnya). Kotoran perut tersebut diambil dengan cara membelah bagian
punggung mulai dari ruas pertama atau kedua sampai ruas kelima. Cara lainnya yaitu dengan
menarik keluar kotoran perut dengan menggunakan bamboo stick dari bagian punggung
udang.

2.6 Pembekuan

Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku. Pembekuan


biasanya dilakukan pada suhu -120C sampai -240C. Pembekuan digolongkan dalam dua
macam, yaitu pembekuan cepat dan pembekuan lambat. Ini didasarkan atas lamanya waktu
yang diperlukan untuk melewati daerah terbentuknya kristal-kristal es (Muchtadi dan
Ayustaningwarno, 2010).

Pembekuan Cepat (quick freezing), yaitu pembekuan dengan thermal arrest time tidak
lebih dari dua jam. Kristal-kristal es yang dihasilkan berukuran kecil di dalam jaringan
daging ikan. Jika ikan dibekukan dan dicairkan kembali maka kristal-kristal yang keluar akan
diserap kembali oleh daging dan hanya sedikit yang lolos sebagai drip.

Pembekuan lambat (slow freezing), yaitu bila thermal arrest time lebih dari dua jam.
Pembekuan lambat akan menghasilkan kristal yang besar-besar sehingga merusak jaringan
daging ikan, sehingga tekstur daging ikan setelah dicairkan menjadi kurang baik karena
berongga-rongga dan banyak sekali drip yang terbentuk (Adawyah, 2007). Secara garis besar,
tahapan proses pembekuan dapat dilihat pada Gambar 3. (Afrianto dan Liviyawati, 1989).

2.7 Rendemen

Menurut Moeljanto (1992), rendemen adalah perbandingan antara produk akhir dangan
bahan mentah dalam satuan berat. Rendemen juga disebut yield, yaitu bagian yang diinginkan
dari proses pengolahan bahan baku. Perhitungan rendemen dilakukan untuk setiap tahapan
proses, dimana terjadi perubahan berat. Berat yang hilang dari produk dinamakan limbah.
Limbah yang dihasilkan berupa kepala, kulit, dan usus. Rendemen atau penyusutan
dipengaruhi oleh jenis, bentuk dan ukuran produk. Besarnya penyusutan akan berbeda
menurut jenis ikan (udang, kembung atau yang lainnya), bentuk ikan (fillet, utuh atau yang
lainnya), ikan berukuran kecil maka lebih besar perbandingan luas permukaan tarhadap
beratnya, lebih besar susutnya dari pada ikan berukuran besar. Sama halnya dengan ikan yang
dibekukan sendiri akan lebih besar susutnya dari pada sejumlah ikan yang dibekukan dalam
keadaan blok (Ilyas, 1993)
Rendemen merupakan hasil dari pengolahan yang terpakai, rendemen diperoleh dari
perbandingan berat antara berat produk akhir dengan bahan mentah dalam satuan berat.
Perubahan berat pada pengolahan udang terjadi seperti pada tahap-tahap: potong kepala dan
pembekuan dalam alat pembeku. Untuk jenis produk udang kupas mentah beku (Peeled
Deveined) rendemen dihitung pada proses potong kepala dan pengupasan. Untuk alur proses
yang lainnya, umumnya tidak dilakukan penghitungan rendemen karena tidak ditemukan
selisih berat sebelum dan sesudah proses (Purwaningsih, 1995).

Persentase rendemen dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: ukuran, kesegaran,


kondisi biologis dan keahlian karyawan dalam proses pengolahan. Ikan berukuran kecil
mempunyai daging yang sedikit sehingga rendemen akhir akan didapatkan kecil
dibandingkan dengan ikan yang berukuran besar yang mempunyai daging lebih banyak dan
mempunyai rendemen akhir yang besar. Penyusutan berat dapat disebabkan oleh penanganan
yang dilakukan pada setiap tahap pengolahan yang dilalui bahan mentah tersebut saat
penerimaan sampai menjadi produk beku dan disimpan (Ilyas, 1993).
BAB III

METODE PRAKTIK

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktik

Hari/Tanggal : Selasa, 29 November 2016

Pukul : 08.00 s.d selesai

Tempat: Workshop Pengolahan Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta

3.2 Alat dan Bahan

a. Udang vannamei f. Contact plate freezer

b. Pisau g. Plastik

c. Baskom h. Thermometer digital

d. Timbangan digital i. Es

e. Long pan

3.3 Langkah Kerja

a. Penerimaan bahan baku h. Timbang III

b. Uji organoleptik udang segar i. Pembuangan usus

c. Timbang I j. Timbang IV

d. Pencucian k. Pembekuan

e. Pemotongan kepala l. Penyimpanan

f. Timbang II m. Uji organoleptik udang beku

g. Pengupasan
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Organoleptik Udang Segar


Kenampak
Panelis Bau Tekstur Rerata
an
1 8 9 8 8,33
2 8 9 8 8,33
3 9 9 8 8,67
4 7 9 7 7,67
5 8 9 8 8,33
6 8 9 7 8,00

Udang yang digunakan dalam praktek ini sangatlah baik karena nilai yang
kita dapatkan pada udang vannamei sesuai dengan standar organoleptik.
4.2 Data berat udang
HO PUD
Ob HO to PU HO to HL to to to
s. HO HL HL D PUD PUD PD PD PD
24,5 14, 60,93 12, 52,53 12, 51,6 98,2
1 2 94 % 88 % 86,21% 66 3% 9%
25,9 16, 62,08 14, 54,21 14, 54,0 99,7
2 2 09 % 05 % 87,32% 01 5% 2%
26,2 18, 69,75 14, 56,30 14, 56,1 99,6
3 5 31 % 78 % 80,72% 73 1% 6%
23,0 14, 63,45 12, 54,21 12, 53,0 97,9
4 4 62 % 49 % 85,43% 23 8% 2%
24,7 15, 60,94 13, 53,98 13, 53,7 99,6
5 3 07 % 35 % 88,59% 3 8% 3%
22,9 14, 61,98 12, 52,35 11, 52,0 99,5
6 6 23 % 02 % 84,47% 96 9% 0%
Tot 147, 93, 63,26 79, 53,98 78, 53,5 99,1
al 42 26 % 57 % 85,32% 89 1% 5%

Persen yang didapat sangat sigfinikan, karena hasil yang didapat pada proses
pengolahan udang ini sesuai dengan standar yang ditentukan untuk penetapan pada
rendemen yang telah ditentukan.
4.3 Waktu Penurunan Suhu
waktu Suhu
0 20,4
10 10,7
20 1,8
30 -0,5
40 -0,8
50 -1,2
60 -1,5
70 -2
80 -3,9
90 -6
100 -10,4
110 -13,6
120 -16,9
130 -18
Suhu udang yang didinginkan dengan es 3-4 C. Suhu alat Contact Plate
Freezer sekitar -18C. Udang akhirnya beku pada waktu 40 menit yang termasuk
dalam pembekuan cepat. Kemudian di simpan dalam freezer untuk memperthankan
keadaan beku pada udang.

4.4 Pola Penurunan Suhu


15

10

0 kel 3
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 kel 4
-5 kel 5

-10

-15

-20

Proses pembekuan terjadi secara bertahap dari permukaan sampai pusat bahan.
Pada permukaan bahan, pembekuan berlangsung cepat sedangkan pada bagian yang
lebih dalam, proses pembekuan berlangsung lambat. Pada awal proses pembekuan,
terjadi fase precooling dimana suhu bahan diturunkan dari suhu awal ke suhu titik
beku. Pada tahap ini semua kandungan air bahan berada pada keadaan cair. Setelah
tahap precooling terjadi tahap perubahan fase, pada tahap ini terjadi pembentukan
kristal es. Dan alat pembeku yang paling baik untuk digunakan karena cepat dalam
proses penurunan suhu ialah yang berwarna biru (kelompok 3).

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa rendemen pada udang
banyak dimanfaatkan sebagai chitosan karena banyak dari bagian-bagian udang
yang menjadi limbah namun dapat dimanfaatkan menjadi produk lain. Rendemen
pada kepala didapat sebesar 29%, daging sebesar 58%, dan pada kulit sebesar
13%. Dari hasil data tersebut, rendemen yang tertinggi terdapat pada daging
yakni sebesar 58% dan yang terkecil pada kulit sebesar 13%.
Dalam bentuk produk olahan, udang vannamei dapat dijadikan udang
beku, udang beku datar, udang kering dan frozen. Namun yang paling besar
potensiuntuk dijadikan produk olahan yaitu chitosan karena bermanfaat bagi
tubuh manusia.

5.2 Saran
Udang sangat digemari dipasaran karena rasanya yang khas, oleh karena
itu pemasaran udang dalam bentuk segar sangat disukai oleh konsumen. Salah
satu cara untuk mempertahankan mutu dan kesegaran dari udang yang hendak
dipasarkan adalah dengan cara pembekuan. Dengan semakin meningkatnya
produksi, maka diperlukan suatu praktek penanganan dan pengolahan pasca
panen yang memadai agar nilai kenaikan produksi yang telah diperoleh tidak sia-
sia dalam arti mengalami kerusakan yang mengakibatkan susut hasil dan kerugian
yang tidak kecil.

DAFTAR PUSTAKA

Andryan R. 2007. Vitamins and Nutrition is very important for human body.
http://www.geocities.com/andryan_pwt/foodsecret.html?20097 [diakses pada tanggal
7 Juni 2009].
Ariawan, K., dkk., 2005. Peningkatan produksi udang merguiensis melalui
optimasi dan pengaturan oksigen. Laporan Tahunan. Balai Besar Pengembangan
Budidaya Air Payau. Jepara.
Briggs M., Simon F.S., R. Subasinghe, and M. Phillips. 2004. Introduction and
movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and the Pacific.
FAO-UN. Bangkok.
Cherian, G. and J. S. Sim. 1994. Omega-3 Fatty Acid Enriched Eggs as a
Source of Long Chain Omega-3 Fatty Acids for the Developing infant. In: Sim, J.S.
and S. Nakai (Eds.). Eggs Uses and Processing Technologies. CAB International,
Canada.
Djanarko SB. 2008. Pemanfaatan Limbah Kepala Udang Vannamei
(Lithopenaeus vannamei) Dalam Bentuk Serbuk Flavor Udang.
http://simonbwidjanarko.wordpress.com/2008/12/19/pemanfaatan-limbah-kepala-
udang-vannamei-lithopenaeus-vannamei-dalam-bentuk-serbuk-flavor-udang/
[diakses pada tanggal 6 Juni 2009].
Ekawati A. 2008. Impor Udang akan Diperketat.
http://www.tempointeraktif.com [diakses pada tanggal 6 Juni 2009].
Januri. 2004. Pengaruh waktu penirisan dan penyimpanan udang head less
(HL) beku terhadap perubahan berat dalam kaitannya dengan HCCP. Bogor: Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Nurfianti D. 2007. Pembuatan kitosan sebagai pembentiukan gel dan
pengawet bakso ikan kurisi [skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor.
Pranoto SH.2007.Isolasi dan seleksi bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi sebagai
agen bioremediasi pada media pmeliharaan udang vannamei [skripsi]. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Prasetiyo KW. 2006. Pengolahan Limbah Cangkang Udang. http://biomaterial-
lipi.org/?p=154 [diakses pada tanggal 7 Juni 2009].
Sihombing M. 2005. Ekspor udang RI terus membaik.
http://www.bisnis.com/servlet/page [diakses pada tanggal 6 Juni 2009].