Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH KORUPSI DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF

Dosen Pembimbing: Ns. Netha Damayantie, M. Kep.

Disusun Oleh Kelompok 1 :

Dwi Alikka

Eka Putra R.

Lia Lestari

M. Yani S.

Widiya Nurmala S.

Yossy Rezky Ramadhana

Prodi DIII

Jurusan Keperawatan

Poltekkes Kemenkes Jambi


Tahun 2016-2017

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Korupsi merupakan fenomena sosial yang hingga kini masih belum dapat diberantas oleh
manusia secara maksimal. Korupsi tumbuh seiring dengan berkembangnya peradaban
manusia. Tidak hanya di negeri kita tercinta, korupsi juga tumbuh subur di belahan dunia
yang lain, bahkan di Negara yang dikatakan paling maju sekalipun
Di mata Internasional, bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia, citra
buruk akibat korupsi menimbulkan kerugian. Kesan buruk ini menyebabkan rasa rendah diri
saat berhadapan dengan negara lain dan kehilangan kepercayaan pihak lain.
Ketidakpercayaan pelaku bisnis dunia pada birokrasi mengakibatkan investor luar negeri
berpihak ke negara-negara tetangga yang dianggap memiliki iklim yang lebih baik. Kondisi
seperti ini merugikan perekonomian dengan segala aspeknya di negara ini. Pemerintah
Indonesia telah berusaha keras untuk memerangi korupsi dengan berbagai cara.
KPK sebagai lembaga independen yang secara khusus menangani tindak korupsi, menjadi
upaya pencegahan dan penindakan tindak pidana. Korupsi dipandang sebagai kejahatan luar
biasa (extra ordinary crime) yang oleh karena itu memerlukan upaya luar biasa pula untuk
memberantasnya. Upaya pemberantasan korupsi yang terdiri dari dua bagian besar, yaitu
penindakan dan pencegahan tidak akan pernah berhasil optimal jika hanya dilakukan oleh
pemerintah saja tanpa melibatkan peran serta masyarakat. Oleh karena itu tidaklah berlebihan
jika mahasiswa sebagai salah satu bagian penting dari masyarakat yang merupakan pewaris
masa depan diharapkan dapat terlibat aktif dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
Keterlibatan mahasiswa dalam upaya pemberantasan korupsi tentu tidak pada upaya
penindakan yang merupakan kewenangan institusi penegak hukum. Peran aktif mahasiswa
diharapkan lebih difokuskan pada upaya pencegahan korupsi dengan ikut membangun
budaya antikorupsi di Masyarakat. Mahasiswa diharapkan dapat berperan sebagai agen
perubahan dan motor penggerak gerakan anti korupsi di Masyarakat. Untuk dapat berperan
aktif, mahasiswa perlu dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk korupsi
dan pemberantasannya. Yang tidak kalah penting, untuk dapat berperan aktif mahasiswa
harus dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai antikorupsi dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya pembekalan mahasiswa dapat ditempuh dengan berbagai cara antara lain melalui
kegiatan sosialisasi, kampanye, seminar atau perkuliahan. Untuk keperluan perkuliahan
dipandang perlu membuat sebuah Buku Ajar yang berisikan materi dasar mata
kuliah Pendidikan Antikorupsi bagi mahasiswa.
Pendidikan Antikorupsi bagi mahasiswa bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang
cukup tentang seluk beluk korupsi dan pemberantasannya serta menanamkan nilai-nilai
antikorupsi. Tujuan jangka panjangnya adalah menumbuhkan budaya antikorupsi dikalangan
mahasiswa dan mendorong mahasiswa untuk dapat berperan serta aktif dalam upaya
pemberantasan korupsi diIndonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Korupsi ?
2. Apa ciri dan jenis-jenis Korupsi ?
3. Bagaimana Korupsi dalam berbagai perspektif ?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari Korupsi.
2. Untuk mengetahui ciri-ciri dan jenis-jenis dari Korupsi.
3. Untuk mengetahui bagaimanaKorupsi dalam berbagai perspektif.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Korupsi
Kata korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio atau corruptus. Selanjutnya
dikatakan bahwa corruptio berasal dari kata corrumpere. Dari bahasa Latin tersebut
kemudian dikenal istilah corruption, corrupt (Inggris), corruption (Perancis) dan
corruptie/korruptie (Belanda). Dari asal-usul bahasanya korupsi bermakna busuk, rusak,
menggoyahkan, memutarbalik, menyogok, memfitnah, menyimpang dari kesucian atau
perkataan menghina).
Sedangkan pengertian korupsi dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (W.J.S.
Poerwadarminta) adalah sebagai perbuatan curang, dapat disuap, dan tidak bermoral. Adapun
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi adalah penyelewengan atau penggelapan
uang negara atau perusahaan dan sebagainya untuk kepentingan pribadi maupun orang lain.
Sedangkan di dunia Internasional pengertian korupsi menurut Blacks Law Dictionary
korupsi adalah perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan suatu
keuntungan yang tidak resmi dengan hak-hak dari pihak lain secara salah menggunakan
jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu keuntungan untuk dirinya sendiri atau
orang lain, berlawanan dengan kewajibannya dan hak-hak dari pihak lain.
Korupsi menurut wikipedia dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah
penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk
pemerintah/pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda,
dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi
dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya.
Jadi, korupsi adalah tindakan yang dilakukan oleh setiap orang yang secara melawan
hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi
yang dapat merugikan negara atau perekonomian Negara.
Pemerintah Indonesia memang sudah berupaya untuk melakukan pemberantasan korupsi
melaui proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan peradilan sesuai dengan undang-
undang yang berlaku. Namun semuanya juga harus melihat dari sisi individu yang melakukan
korupsi, karena dengan adanya faktor-faktor yangt menyebabkan terjadinya korupsi maka
perlu adanya strategi pemberantasan korupsi yang lebih diarahkan kepada upaya-upaya
pencegahan berdasarkan strategi preventif, disamping harus tetap melakukan tindakan-
tindakan represif secara konsisten. Serta sukses tidaknya upaya pemberantasan korupsi tidak
hanya ditentukan oleh adanya instrument hukum yang pasti dan aparat hukum yang bersih,
jujur,dan berani serta dukungan moral dari masyarakat, melainkan juga dari political
will pemimpin negara yang harus menyatakan perang terhadap korupsi secara konsisten.1[2]

B. Ciri dan Jenis Korupsi

Ciri-ciri dari Korupsi antara lain :


a. Selalu melibatkan lebih dari satu orang. Inilah yang membedakan antara korupsi dengan
pencurian atau penggelapan.
b. Pada umumnya bersifat rahasia, tertutup terutama motif yang melatarbelakangi perbuatan
korupsi tersebut.
c. Melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik. Kewajiban dan keuntungan
tersebut tidaklah selalu berbentuk uang.
d. Berusaha untuk berlindung dibalik pembenaran hukum.
e. Mereka yang terlibat korupsi ialah mereka yang memiliki kekuasaan atau wewenang serta
mempengaruhi keputusan-keputusan itu.
f. Pada setiap tindakan mengandung penipuan, biasanya pada badan publik atau pada
masyarakat umum.
g. Setiap bentuknya melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif dari mereka yang melakukan
tindakan tersebut.
h. Dilandaskan dengan niat kesengajaan untuk menempatkan kepentingan umum dibawah
kepentingan pribadi.
i. Setiap bentuk korupsi adalah suatu pengkhianatan kepercayaan.
j. Perbuatan korupsi melanggar norma-norma tugas dan pertanggungjawaban dalam
masyarakat.

Jenis-jenis dari Korupsi antara lain :


a. Korupsi yang terkait dengan merugikan keuangan Negara.
b. Korupsi yang terkait dengan suap-menyuap.
c. Korupsi yang terkait dengan penggelapan dalam jabatan.
d. Korupsi yang terkait dengan pemerasan.
e. Korupsi yang terkait dengan perbuatan curang.

f. Korupsi yang terkait dengan benturan kepentingan dalam pengadaan.


g. Korupsi yang terkait dengan gratifikasi.

a) Penyuapan

1
Penyuapan merupakan sebuah perbuatan kriminal yang melibatkan sejumlah pemberian
kepada seorang dengan sedemikian rupa sehingga bertentangan dengan tugas dan
tanggungjawabnya. Sesuatu yang diberikan sebagai suap tidak harus berupa uang, tapi bisa
berupa barang berharga, rujukan hak-hak istimewa, keuntungan ataupun janji tindakan, suara
atau pengaruh seseorang dalam sebuah jabatan public.
b) Penggelapan (embezzlement) dan pemalsuan atau penggelembungan (froud).
Penggelapan merupakan suatu bentuk korupsi yang melibatkan pencurian uang, properti,
atau barang berharga. Oleh seseorang yang diberi amanat untuk menjaga dan mengurus uang,
properti atau barang berharga tersebut. Penggelembungan menyatu kepada praktik
penggunaan informasi agar mau mengalihkan harta atau barang secara suka rela.
c) Pemerasan (Extorion)
Pemerasan berarti penggunaan ancaman kekerasan atau penampilan informasi yang
menghancurkan guna membujuk seseorang agar mau bekerjasama. Dalam hal ini pemangku
jabatan dapat menjadi pemeras atau korban pemerasan.
d) Nepotisme (nepotism)
Nepotisme berarti memilih keluarga atau teman dekat berdasarkan pertimbagan hubungan
kekeluargaan, bukan karena kemampuannya. Kata nepotisme ini berasal dari kata
Latin nepos, berarti "keponakan" atau "cucu".
Dalam UU RI No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas
dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, menyebutkan bahwa, nepotisme adalah setiap
perbuatan Penyelenggara Negara secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan
keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa, dan Negara, (Pasal 1
Angka 5). Contoh nepotisme,misalnya seorang pejabat Negara mengangkat anggota
keluarganya menduduki jabatan tertentu, tanpa memperhatikan aturan hukum yang berlaku. 2
[3]
e) Gratifikasi
Gratifikasi adalah Pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang,
rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan,
perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik
yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan

2
menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik (Penjelasan Pasal 12B UU
Pemberantasan Tipikor).3[4]
Pada UU 20/2001 setiap gratifikasi yang diperoleh pegawai negeri atau penyelenggara
negara dianggap suap, namun ketentuan yang sama tidak berlaku apabila penerima
melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi (KPK) yang wajib dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak
tanggal gratifikasi tersebut diterima.4[5]
C. Korupsi Dalam Berbagai Perspektif
Dalam perspektif agama korupsi dipandang sebagai suatu perbuatan yang sangat tercela.
Dalam perspektif ajaran islam, korupsi termasuk perbuatan fasad atau perbuatan yang
merusak kemslahatan, kemanfaatan hidup, dan tatanan kehidupan. Pelakunya dikategorikan
melakukan jinayah kubro (dosa besar). Dalam konteks ajaran islam yang lebih luas, korupsi
merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan (al-adalah), akuntabilitas
(al-amanah), dan tanggung jawab.5[6]
Dalam perspektif sosial korupsi dipandang suatu perbuatan yang dapat meningkatkan
angka kemiskinan, perusakan moral bangsa, hilangnya rasa percaya terhadap pemerintah,
akan timbul kesenjangan dalam pelayanan umum dan menurunnya kepercayaan pemerintah
dalam pandangan masyarakat. Dalam sistem ini, menerima sesuatu dari rakyat, walaupun
untuk rakyat itu sendiri harus berkorban dan menderita, tanpa diketahui oleh rakyat itu
sendiri mereka telah diperlakukan tidak adil oleh oknum-oknum korupsi yang tidak
bertanggung jawab, merupakan perbuatan tercela dan penerimaan itu jelas dapat dimasukkan
sebagai perbuatan korupsi.
Dalam perspektif budaya korupsi dipandang suatu perbuatan yang akan membentuk
pandangan buruk terhadap reputasi negara, dan secara perlahan akan memutus budaya luhur
bangsa. Almarhum Dr. Mohammad Hatta yang ahli ekonomi pernah mengatakan bahwa
korupsi adalah masalah budaya. Pernyataan bung Hatta tersebut dapat diartikan bahwa
korupsi di Indonesia tidak mungkin diberantas kalau masyarakat secara keseluruhan tidak
bertekad untuk memberantasnya.

5
Masalah hukum dapat ditangani dengan hukum, sedangkan masalah budaya tentu saja
ditangani dengan tindakan tindakan dibidang kebudayaan juga. Inilah hal yang tidak
mudah. Berbeda kalau masyarakat secara keseluruhan sudah menganut ukuran yang sama
dalam hal rasa keadilan, maka usaha pengenalan dan pengendalian korupsi akan jauh lebih
mudah.
Dalam perspektif teknologi korupsi dipandang sebagai sesuatu yang dapat menghambat
perkembangan teknologi yang ada, penyalahgunaan tindakan yang merugikan negara, dan
terorisme yang terus merajalela.
Dalam perspektif hukum korupsi menimbulkan pandangan ketidak konsistenan terhadap
hukum yang berlaku, timbul pandangan bahwa hukum bisa diperjual belikan, kepercayaan
masyarakat terhadap hukum menurun, timbul gambaran orang-orang yang berkuasa dan kaya
sebagai pemilik hukum, timbul pemikiran bahwa hukum terlalu bobrok, dan timbul rasa
ketidakadilan didalam diri masyarakat.
Dalam perspektif politik korupsi dapat mempersulit demokrasi dan tata cara pemerintahan
yang baik dengan cara menghancurkan proses formal, sistem politik akan terganggu
cenderung tidak dipercaya oleh masyarakat, akan timbul aklamasi-aklamasi untuk
menguatkan kekuatan politik (menjaga keberlangsungan korupsi) dan akan timbul
ketidakpercayaan rakyat terhadap lembaga-lembaga politik.
Dalam perspektif ekonomi korupsi berdampak pada pembangunan infrastruktur yang
tidak merata, tidak sesuai dengan yang dianggarkan sebelumnya. Pemerataan pendapatan
yang buruk, membuat pengusaha asing takut untuk berinvestasi di Indonesia, pendapatan
negara mengalami penurunan dan membuat beban lebih berat pada masyarakat.

Korupsi dalam perspektif pancasila


a. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Manusia Indonesia percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam hal ini jelas
perilaku tindak pidana korupsi ini tidak mencerminkan perilaku tersebut karena perilaku
tindak pidana korupsi adalah perilaku yang tidak percaya dan taqwa kepada Tuhan. Dia
menafikan bahwa Tuhan itu Maha Melihat lagi Maha Mendengar.
b. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Dalam sila ini perilaku tindak pidana korupsi sangat melanggar bahkan sama sekali tidak
mencerminkan perilaku ini, seperti mengakui persamaan derajat, saling mencintai, sikap
tenggang rasa, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan serta membela kebenaran dan
keadilan.
c. Sila persatuan indonesia
Tindak pidana dan tipikor bila dilihat dalam sila ini, pelakunya itu hanya mementingkan
pribadi, tidak ada rasa rela berkorban untuk bangsa dan Negara, bahkan bisa dibilang tidak
cinta tanah air karena perilakunya cenderung mementingkan nafsu, kepentingan pribadi atau
kasarnya kepentingan perutnya saja.
d. Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyarawatan
perwakilan
Dalam sila ini perilaku yang mencerminkannya seperti, mengutamakan kepentingan
Negara dan masyarakat, tidak memaksakan kehendak, keputusan yang diambil harus
dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta menjunjung tinggi harkat
martabat manusia dan keadilannya. Sangat jelaslah bahwa tindak pidana korupsi tidak pernah
ada rasa dalam sila ini.
e. Keadilan sosial bagi seluruh bangsa indonesia
Rata-rata bahkan sebagian besar pelaku tindak pidana korupsi itu, tidak ada perbuatan
yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana gotong royong, adil, menghormati hak-hak
orang lain, suka memberi pertolongan, menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain, tidak
melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum, serta tidak ada rasa bersama-sama
untuk berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan keadilan sosial.
Jadi semua perilaku tindak pidana dan tipikor itu semuanya melanggar dan tidak
mencerminkan sama sekali perilaku pancasila yang katanya ideologi bangsa ini. Selain
bersifat mengutamakan kepentingan pribadi, juga tidak adanya rasa kemanusiaan, keadilan,
saling menghormati, saling mencintai sesama manusia, dan yang paling riskan adalah tidak
ada rasa percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari berbagai penjelasan diatas kami menarik kesimpulan bahwa korupsi adalah
kejahatan yang sangat merugikan publik. Korupsi adalah penghianatan, dalam hal ini adalah
penghianatan terhadap rakyat yang telah memberikan amanah dalam mengemban tugas
tertentu.
Allah membenci orang-orang yang berhianat, apalagi korupsi merupakan
penghianatan terhadap suatu amanah. Di jaman sekarang ini sudah banyak sekali kebobrokan
nilai-nilai kemanusiaan seeperti maraknya korupsi, oleh karena itu perlu sekali adanya nilai-
nilai agama dalam setiap sendi kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan. Pendidikan
agama harus memegang peran yang cukup besar dalam upaya menekan angka korupsi yang
terjadi saat ini, dan melalui pendididkan agama diharapkan dapat mencegah meluasnya
korupsi.
Korupsi merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kaidah-kaidah umum yang
berlaku di masyarakat. Korupsi di Indonesia telah dianggap sebagai kejahatan luar biasa.
Melihat realita tersebut timbul publik judgement bahwa korupsi adalah manisfestasi budaya
bangsa. Telah banyak usaha yang dilakukan untuk memberantas korupsi. Namun walaupun
begitu dengan upaya apapun memang harus terus dilakukan untuk memberantas korupsi.
Seperti yang sekarang ini kita lakukan di lingkungan mahasiswa , memasukan
Pendidikan Anti korupsi guna mengoptimalkan intelektual, sifat kritis dan etika integritas
mahasiswa agar kedepannya bisa menghasilkan sosok-sosok pembangun bangsa yang berjiwa
anti korupsi tentunya.

DAFTAR PUSTAKA
Muzadi, H. 2004. MENUJU INDONESIA BARU, Strategi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. Malang : Bayumedia Publishing.
Lamintang, PAF dan Samosir, Djisman. 2009. Hukum Pidana Indonesia .Bandung : Penerbit
Sinar Baru.
Saleh, Wantjik. 2010. Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia . Jakarta : GhaliaIndonesia

Anda mungkin juga menyukai