Anda di halaman 1dari 20

SISTEM MANAGEMEN KESEHATAN DAN

KESELAMATAN KERJA (K3) DI INSTALASI


RADIOLOGI

Disusun Oleh :
Rahmadaniartini Bay (1407101030287)
Zia Ulhaya (1407101030248)

Pembimbing:
dr. Liza Salawati, M.Kes, FISPH, FISCM

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN MASYARAKAT /


ILMU KESEHATAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2017
PENDAHULUAN
Penggunaan radiasi pengion dewasa ini telah berkembang pesat dalam banyak
aspek kehidupan, tak terkecuali dalam bidang kesehatan/kedokteran,karena
kebutuhan manusia sendiri. Radiasi pengion yang digunakan dalam bidang
kedokteran dapat berupa sinar-X, sinar-, atau radiasi pengion yang lain.(1) Data
Bapeten menyebutkan bahwa sebanyak 24 rumah sakit di Indonesia memanfaatkan
radiasi untuk radiodiagnosis (pemeriksaan) dan radioterapi (pengobatan). Data
statistik lain menunjukkan bahwa sekitar 50% keputusan medis harus didasarkan
pada diagnosa sinar-X, bahkan untuk beberapa negara maju angka tersebut bisa lebih
besar.(2)
Radiasi-radiasi ini mempunyai potensi bahaya tehadap manusia yang tidak
dapat diabaikan. Bahaya radiasi pengion ini adalah ketika radiasi pengion menembus
bahan terjadi tumbukan foton dengan atom-atom bahan yang akan menimbulkan
ionisasi. Kejadian inilah yang memungkinkan timbulnya bahaya terhadap tubuh, baik
yang bersifat deterministik, maupun stokastik. (1)
Efek negatif ini dapat berupa somatik akut (luka bakar, anemia, kemandulan,
katarak, dsb), efek somatic laun (late somatic effect) seperti kanker dan leukemia,
serta efek genetik. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan aspek keselamatan
radiasi ini harus selalu diperhatikan dan diusahakan.(1)

2
SISTEM MANAGEMEN K3 DI INSTALASI RADIOLOGI

Pelayanan radiologi harus memperhatikan aspek keselamatan kerja radiasi.


Kegiatan tersebut selain memberikan manfaat juga dapat menyebabkan bahaya, baik
itu bagi pekerja radiasi, masyarakat umum maupun lingkungan sekitar. Bahaya yang
dapat ditimbulkan oleh
pemanfaatan radiasi pengion adalah timbulnya efek radiasi baik yang bersifat non
stokastik,
stokastik maupun efek genetik. Selain itu pemanfaatan radiasi yang tidak sesuai
standar juga dapat menyebabkan kecelakaan radiasi. Kecelakaan radiasi yang pernah
terjadi di berbagai negara diantaranya di Brazil dengan sumber radiasi Cs-137
menyebabkan 4 orang meninggal karena dosis tinggi dan 249 orang terkontaminasi,
di Costa Rika dengan sumber radiasi Co-60 menyebabkan 13 orang meninggal karena
radiasi, sedangkan untuk di Indonesia sendiri pernah terjadi dua kasus, yaitu di salah
satu rumah sakit pada tahun 1998 dengan sumber radiasi LINAC
menyebabkan satu orang meninggal.(2)
Kemudian kasus yang kedua terjadi pada tahun 2000 dengan sumber radiasi
Cs-137, tidak ada korban jiwa dalam kasus ini karena sumber dapat dikembalikan ke
wadahnya.4 Bahaya lainnya yang dapat disebabkan oleh radiasi sinar-X adalah
kerusakan sel-sel jaringan tubuh yang dapat menyebabkan munculnya kanker dan
efek genetik berupa kecacatan pada keturunannya. Efek merugikan itu berupa
kerontokan rambut dan kerusakan kulit. Diketahui bahwa pada tahun 1897 di
Amerika Serikat dilaporkan adanya 69 kasus kerusakan kulit yang disebabkan sinar-
X,
sedang pada tahun 1902 angka yang dilaporkan meningkat menjadi 170 kasus. Pada
tahun 1911 di Jerman juga dilaporkan adanya 94 kasus tumor yang disebabkan oleh
sinar-X.3 Efek ini biasanya muncul dalam waktu lama karena penerimaan dosis
radiasi yang rendah. Namun hal tersebut tetap harus diwaspadai. Oleh karena itu

3
perlu adanya aturan yang mengatur tentang keselamatan dan kesehatan kerja
terhadap radiasi.(2)
Meningkatnya jumlah pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut sejalan
dengan peningkatan penggunaan fasilitas pelayanan radiologi sebagai fasilitas
penunjang medik dalam pelaksanaan klinis pasien. (2)
Peraturan pemerintah No. 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan
Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion dan diatur lagi dengan Keputusan Kepala
BAPETEN No. 8 Tahun 2011 tentang Keselamatan Radiasi Dalam Penggunaan
Pesawat Sinar-X Radiologidiagnostik dan Intervensional. Peraturan ini bertujuan
untuk menjamin keselamatan, keamanan, dan ketentraman, kesehatan para pekerja
dan anggota masyarakat, serta perlindungan terhadap
lingkungan hidup.(3)
Radiografer adalah tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dengan tugas,
wewenang dan tanggung jawab untuk melakukan kegiatan radiografi, imejing,
kedokteran nuklir dan radioterapi di pelayanan kesehatan dalam upaya peningkatan
kualitas pelayanan kesehatan.
Secara umum tugas dan tanggung jawab radiografer, adalah :(3)
1) Melakukan pemeriksaan pasien secara radiografi meliputi pemeriksaan untuk
radiodiagnostik dan imejing termasuk kedokteran nuklir dan ultra sonografi (USG).
2) Melakukan teknik penyinaran radiasi pada radioterapi.
3) Menjamin terlaksananya penyelenggaraan pelayanan kesehatan bidang radiologi /
radiografi sebatas kewenangan dan tanggung jawabnya.
4) Menjamin akurasi dan keamanan tindakan proteksi radiasi dalam mengoperasikan
peralatan radiologi dan atau sumber radiasi.
5) Melakukan tindakan jaminan mutu peralatan radiografi.
Efek Radiasi di bagian radiologi yaitu :(3)
1. Efek Somatik
Efek somatik adalah Efek yang radiasi yang dapat langsung dirasakan oleh
orang yang menerima radiasi tersebut.
a. Efek Stokastik

4
Efek stokastik adalah efek yang peluang timbulnya merupakan fungsi dosis
radiasi dan diperkirakan tidak mengenal dosis ambang.
b. Efek Non Stokastik
Efek Non Stokastik adalah efek yang kualitas keparahannyabervariasi
menurut dosis dan hanya timbul bila dosis ambang dilampaui.
2. Efek Genetik
Efek biologi dari radiasi ionisasi pada generasi yang belum lahir disebut efek
genetik ini timbul karena kerusakan molekul DNA pada sperma atau ovarium akibat
radiasi.

Penyakit akibat radiasi yaitu :(3)


1) Radiodermatitis
Radiodermatitis adalah peradangan pada kulit yang terjadi akibat penyinaran lokal
dengan dosis tinggi.
2) Katarak
Katarak terjadi pada penyinaran mata dengan dosis di atas 1,5 Gy, dengan masa
tenang antara 5 10 tahun.
3) Sterilitas
Sterilitas dapat terjadi karena akibat penyinaran pada kelenjar kelamin dan efeknya
berupa pengurangan kesuburan sampai kemandulan.

Menurut Peraturan Pemerintah 63 tahun 2000 tentang Keselamatan dan


Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion, kecelakaan radiasi adalah
kejadian yang tidak direncanakan termasuk kesalahan operasi, kerusakan ataupun
kegagalan fungsi alat atau kejadian lain yang menjurus timbulnya dampak radiasi,
kondisi paparan radiasi dan atau kontaminasi yang melampaui batas keselamatan.(3)
Kecelakaan radiasi merupakan suatu keadaan tidak normal yang timbul
karena tidak terkendalinya sumber radiasi yang secara langsung atau tidak langsung
dapat membahayakan jiwa, kesehatan dan harta benda. Kecelakaan radiasi

5
mempunyai ciri adanya medan radiasi yang tinggi atau terjadinya pelepasan zat
radioaktif yang tidak dapat dikendalikan dalam
jumlah cukup besar sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan efek yang serius
atau kematian.(4)
Menurut Tim Bapeten faktor utama kecelakaan kerja terjadi akibat
faktor manusia, faktor instalasi atau peralatan teknis, dan faktor sarana atau
lingkungan kerja. Penyebab timbulnya kecelakaan yang berkaitan dengan ketiga
faktor tersebut secara umum dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu :(4)
a. Kondisi instalasi dan lingkungan
Keadaan fisik atau lingkungan instalasi yang berbahaya sehingga
memungkinkan atau terdapat peluang terjadinya suatu kecelakaan. Kondisi instalasi
yang tidak aman ini dapat dikendalikan dengan peralatan yang mempunyai sistem
pengaman yang baik dan teruji, serta adanya prosedur keselamatan kerja yang
memadai.
b. Tindakan operator
Tindakan yang menyimpang dari operator terhadap prosedur keselamatan dan
segala ketentuan keselamatan.
Hal tersebut diatas antara lain disebabkan karena faktor-faktor sebagai berikut :
1) Kurang pengetahuan tentang cara kerja peralatan, mesin, instalasi atau sifat
bahan yang digunakan.
2) Tidak atau kurang memiliki ketrampilan.
3) Memiliki cacat tubuh yang tidak tampak.
4) Bekerja dalam keadaan letih dan lesu.
5) Sikap dan tingkah laku kerja yang tidak sesuai ketentuan.

Berdasarkan dari efek - efek radiasi tersebutlah instansi terkait memiliki


tanggung jawab untuk melakukan upaya kesehatan bagi para pekerjanya dengan
melakukan berbagai tindakan pengendalian, baik secara teknis atau administratif.
Cara terbaik dalam upaya pengendalian untuk bahaya tersebut adalah dengan
menghilangkan sumber bahaya yang ada. Tetapi jika bahaya tersebut tidak dapat

6
dikendalikan sepenuhnya maka pengendalian terakhir yang perlu dilakukan adalah
dengan menggunakan alat pelindung diri atau APD.(2)
Berdasarkan Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja
serta Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.per.01/MEN/1981 tentang
kewajiban melaporkan penyakit akibat kerja, dimana setiap pengurus
memberitahukan syarat syarat memberikan APD, kewajiban dan hak tenaga kerja
untuk memakai APD, kewajiban pengurus menyediakan APD dan wajib bagi tenaga
kerja untuk menggunakannya untuk mencegah penyakit akibat kerja. Alat Pelindung
Diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan
resiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di
sekelilingnya.(2)

Alat Pelindung Diri atau Perlengkapan proteksi yang biasa digunakan oleh
pekerja radiasi atau bagian radiologi adalah :(2)
1) Apron Proteksi Tubuh
2) Penahan Radiasi Gonad
3) Sarung Tangan Proteksi
4) Penahan Radiasi
5) Masker
6) Sarung tangan (gloves)
7) Alat ukur radiasi

Menggunakan alat pelindung diri (APD) atau peralatan proteksi radiasi dan
personal monitor radiasi dapat mengurangi dan melindungi radiografer sebagai
pekerja radiasi di rumah sakit dari bahaya kesehatan baik efekstokastik, non stokastik
maupun infeksinasokimia dalam menjalankan tugasnya. Bahaya potensial di rumah
sakit dapat mengakibatkan penyakit dan kecelakaan akibat kerja yang berasal dari
radiasi. Penggunaan APD merupakaan salah satu
pelindung radiografer untuk melindungi dari bahaya potensial dari radiasi maupun
penyakit lainnya. Radiografer dalam bekerja sering kurang maksimal dalam

7
penggunaan APD bahkan kurang tersedianya APD di instalasi radiologi rumah sakit.
(2)

Pekerja Radiasi adalah setiap orang yang bekerja di instalasi nuklir atau
instansi radiasi pengion yang diperkirakan menerima dosis radiasi tahunan melebihi
dosis untuk masyarakat umum. Adapun di dalamnya adalah Petugas Proteksi Radiasi
(PPR) yaitu petugas yang ditunjuk oleh pengusaha instalasi dan oleh Badan
Pengawas yang dinyatakan mampu melaksanakan pekerjaan yang berhubungan
dengan proteksi radiasi.(4)

Begitu pula perhatian dalam hal tugas pokok tenaga kerja yang berada di
Instalasi Radiodiagnostik yang mampu menjadi faktor pendukung dalam
penerapan keselamatan kerja radiasi itu sendiri, antara lain:(4)
a. Pekerja radiasi

Menurut Peraturan Pemerintah No. 63 tahun 2000 pasal 1 no. 10, pekerja
radiasi adalah setiap orang yang bekerja di instalasi nuklir atau instalasi yang
berhubungan dengan radiasi pengion yang diperkirakan menerima dosis radiasi
tahunan melebihi dosis untuk masyarakat umum.(1)

Semua pekerja Radiasi merupakan bagian dari organisasi proteksi radiasi yang
memiliki tanggung jawab dan kewajiban terhadap keselamatan radiasi di daerah
kerjanya antara lain:(1)
1. Mengetahui, memahami, dan melaksanakan semua ketentuan
keselamatan kerja radiasi.
2. Memanfaatkan sebaik-baiknya peralatan keselamatan radiasi yang
tersedia, bertindak secara hati-hati serta bekerja secara aman untuk
melindungi dirinya sendiri dan pekerja lain.
3. Melaporkan setiap kejadian kecelakaan bagaimanapun kecilnya kepada
Petugas Proteksi Radiasi.

8
4. Melaporkan setiap gangguan kesehatan yang dirasakan, yang diduga
akibat penyinaran lebih atau masuknya zat radioaktif ke dalam tubuh
pekerja.

a. Petugas Proteksi Radiasi (PPR)


Menurut Peraturan Pemerintah No. 63 tahun 2000
pasal 1 no. 9, pekerja radiasi adalah petugas yang
ditunjuk oleh Pengusaha Instalasi Atom dan oleh Bapeten
dinyatakan mampu melaksanakan pekerjaan yang
berhubungan dengan proteksi radiasi.
Menurut Kepmenkes RI
1014/MENKES/SK/XI/2008, petugas proteksi radiasi
merupakan bagian dari organisasi proteksi radiasi yang
memiliki tanggung jawab dan kewajiban terhadap
keselamatan radiasi di daerah kerjanya antara lain :
1. Memantau aspek operasional Proteksi dan Keselamatan
Radiasi.
2. Memastikan ketersediaan dan kelayakan
perlengkapan Proteksi Radiasi, dan memantau
pemakaiannya.
3. Meninjau secara sistematik dan periodik, program
pemantauan di semua tempat dimana pesawat sinar-
X digunakan.
4. Memberikan konsultasi yang terkait dengan
Proteksi dan Keselamatan Radiasi.
5. Berpartisipasi dalam mendesain fasilitas radiologi.
6. Memelihara rekaman.
7. Mengidentifikasi kebutuhan dan
mengorganisasi kegiatan pelatihan.
8. Melaksanakan pelatihan penanggulangan dan

9
pencarian keterangan dalam hal kedaruratan.
9. Melaporkan kepada Pemegang Izin setiap kejadian
kegagalan operasi yang berpotensi Kecelakaan
Radiasi.
10. Menyiapkan laporan tertulis mengenai pelaksanaan
program Proteksi dan Keselamatan Radiasi dan
verifikasi keselamatan yang diketahui oleh
Pemegang Izin untuk dilaporkan kepada Kepala
Bapeten.
11. Melakukan inventarisasi zat radioaktif.

Dalam Peraturan pemerintah no 11 tahun 1975 Bab


III mengenai Petugas dan Ahli Proteksi Radiasi, antara
lain:
1) Pasal 4 : setiap instalasi atom harus mempunyai
sekurang- kurangnya seorang petugas proteksi
radiasi.
2) Pasal 5 : setiap penguasa instalasi atom dengan
persetujuan instansi yg berwenang diwajibkan
menunjuk dirinya sendiri atau orang lain dibawahnya
selaku petugas proteksi radiasi.
PPR bertanggungjawab atas segala sesuatu
yang berhubungan dengan keselamatan setiap orang
dalam lingkungan kekuasaanya kepada penguasa
instalasi atom.
3) Pasal 6 : PPR berkewajiban menyusun pedoman
kerja, instruksi, dan lain-lain yang berlaku dalam
lingkungan instalasi atom yang bersangkutan.
4) Pasal 7 : untuk mengawasi ditaatinya peraturan-
peraturan keselamatan kerja terhadap radiasi perlu

10
ditunjuk ahli PPR oleh instalasi yang berwenang.

Ahli PPR diwajibkan memberikan laporan


kepada instansi yang berwenang dan Menteri Tenaga
Kerja dan Koperasi secara berkala.

2. Upaya proteksi
Pengendalian adalah hal yang paling mendasar dari
proteksi radiasi. Ada tiga prinsip dalam proteksi radiasi
yaitu pengendalian waktu, jarak dan shielding.(4)
a. Waktu
Pengaturan waktu adalah metode penting untuk
mengurangi penerima dosis radiasi. Waktu yang
digunakan untuk melakukan pemeriksaan dengan
menggunakan radiasi diusahakan secepat mungkin.(5)
b. Jarak
Dalam pengendalian jarak, berlaku hukum kuadrat
terbalik yaitu semakin besar jarak dari sumber maka
dosis radiasi ditempat tersebut jauh semakin kecil.
Pengendalian radiasi hambur dari ruang pemeriksaan
rontgen dapat dilakukan dengan menjaga jarak
minimal 3 meter dari tabung sinar X.(5)

c. Shielding
Ruang radiologi dan kedokteran nuklir harus
mempunyai dinding dari beton yang lebih tebal atau
adanya timbal pelapis sehingga dapat menyerap
semua energi radiasi yang melaluinya. Pada jendela
perlu disisipkan kaca timbal sehingga petugas dapat
mengawasi pasien selama pemeriksaan dengan aman.

11
(5)
Prosedur Tetap mengenai Penggunaan Alat
Proteksi Radiasi antara lain:(5, 6)

a. Setiap pekerja radiasi harus berlindung di belakang


tabir proteksi (tembok beton atau Pb (timah
hitam)).
b. Menggunakan tabir Pb (timah hitam) yang
dilengkapi dengan kaca Pb (timah hitam).
c. Setiap pekerja radiasi memakai apron.
d. Penggunaan radiasi seefektif mungkin sehingga
mengurangi radiasi hambur.
e. Mencegah pengulangan foto.
f. Mengatur jarak antara petugas radiasi dengan sumber
radiasi.

Upaya-upaya proteksi yang dilakukan oleh


Instalasi Radiodiagnostik adalah sebagai berikut:(6)
a. Pemeriksaan
Sesuai peraturan yang berlaku, maka pekerja
radiasi harus diperiksa kesehatannya sebelum mulai
bekerja, selama bekerja minimal setahun sekali, dan
saat berhenti sebagai pekerja radiasi.
Mengingat adanya kemungkinan pindahnya
seorang pekerja radiasi ke instalasi lain, maka
diperlukan suatu koordinasi pemeriksaan kesehatan
pekerja radiasi bagi instalasi-instalasi yang
menggunakan radiasi, sehingga data kesehatan
sebelumnya bisa dipindahkan dengan cara yang
mudah di tempat kerja yang baru. Data kesehatan

12
tersebut sangat penting untuk memantau kesehatan
pekerja radiasi, masalah ansuransi maupun untuk
menunjang penanganan medik pada kasus kecelakaan
radiasi.

Pengawasan kesehatan terhadap pekerja radiasi


harus didasarkan pada prinsip-prinsip pemeriksaan
kesehatan pada umumnya. Pengawasan kesehatan
meliputi:(6)
1) Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja
Pemeriksaan ini meliputi penyelidikan
terhadap riwayat kesehatannya termasuk semua
penyinaran terhadap radiasi pengion dari
pekerjaan sebelumnya yang diketahui diterimanya
atau dari pemeriksaan dengan pengobatan medik
dan juga peneyelidikan secara klinik untuk
menentukan keadaan umum kesehatannya.
Pemeriksaan khusus dilakukan terhadap organ
yang dianggap peka terhadap radiasi misalnya
pemeriksaan hematologi, dermatologi,
ophtalmologi, paru-paru, neurologi dan atau
kandungan.(6)
Pemeriksaan kesehatan sebelum masa kerja
akan memberikan informasi mengenai kondisi
kesehatan pekerja radiasi pada saat akan mulai
bekerja dan penyakit-penyakit apa saja yang
pernah diderita. Masukan ini akan diperlukan
sebagai bahan acuan untuk setiap perubahan
keadaan kesehatan yang terjadi di kemudian hari
waktu ia bekerja di medan radiasi. Pemeriksaan

13
kesehatan ini pada prinsipnya sama seperti halnya
di tempat kerja lainnya, tetapi harus disertakan
aspek-aspek yang merefleksikan efek kesehatan
spesifik pada pekerja radiasi. Temuan awal harus
dijadikan sebagai dasar uji kesehatan pekerja
sesuai tugasnya dan sebagai referensi (pembanding)
terhadap perubahan yang terjadi selama beekrja dan
sesudahnya.(6)
2) Pemeriksaan kesehatan berkala selama bekerja
Pemeriksaan ini dilakukan secara rutin untuk
menentukan keadaan kesehatan pekerja dalam
menjalankan tugasnya. Pemeriksaan ini dilakukan
sekurang-kurangnya satu tahun sekali atau lebih
tergantung pada kondisi penyinaran yang diterima
oleh pekerja.(3)
Pemeriksaan kesehatan selama masa kerja
dilakukan secara berkala minimal sekali dalam
setahun. Pemaparan terhadap radiasi dan
peristiwa kontaminasi dengan zat radioaktif dapat
saja terjadi tanpa diketahui oleh si pekerja radiasi,
karena itu diperlukan usaha untuk mendeteksi
akibat yang ditimbulkannya. Di pihak lain,
perubahan kondisi kesehatan pekerja radiasi dapat
nampak seolah-olah sebagai akibat radiasi pengion
namun pada kenyataannya ditimbulkan oleh
penyebab lain. Frekuensi uji berkala seharusnya
minimal sekali dalam setahun, bergantung pada
umur dan kesehatan pekerja, sifat tugas, dan tingkat
pajanan terhadap radiasi.(3)
3)Pemeriksaan kesehatan pada waktu pemutusan

14
hubungan kerja Setiap pekerja radiasi pada
saat memutuskan hubungan kerja dengan
instalasi nuklir atau instalasi yang
memanfaatkan sumber radiasi diwajibkan
menjalankan pemeriksaan kesehtaan secara teliti
dan menyeluruh atas beban instalasi yang
memanfaatkan sumber radiasi. Dokter instalasi
dapat menentukan perlunya pengawasan kesehatan
setelah putusnya hubungan kerja untuk mengawasi
kesehatan orang yang bersangkutan selama
dianggap perlu atas biaya pengusaha instalasi.(3)
Pada waktu berhenti sebagai pekerja radiasi,
pekerja tersebut akan mendapatkan pemeriksaan
kesehatan untuk menentukan kondisi kesehatannya
pada saat berhenti bekerja. Jika diperlukan dapat
diberikan pemeriksaan tambahan sebagai tindak
lanjut (follow up). Petugas kesehatan pada unit
medik fasilitas nuklir sebaiknya memahami cara
dan kondisi kerja sebagai pekerja radiasi serta
bahaya radiasi yang mungkin akan mengancamnya.
(3)
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No.
172/MENKES/PER/III/1991, maka pemeriksaan
kesehatan pekerja radiasi terdiri dari:(7)
a) Pemeriksaan jasmani (fisik)
b) Pemeriksaan laboratorium
c) Pemeriksaan lain yang dianggap perlu

15
b. Proteksi Paparan Radiasi
Untuk menjamin kesehatan pekerja radiasi tetap
dalam kondisi aman dan terkendali maka kegiatan
pemeriksaan kesehatan pekerja radiasi harus didukung
juga oleh ketentuan yang mengatur cara-cara yang
aman dalam penggunaan radiasi. Di dalam Peraturan
Pemerintah no 63 tahun 2000 tentang Keselamatan
dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi
Pengion dijelaskan secara gambling mengenai
asas-asas proteksi radiasi yang terdiri dari asas
justifikasi (justification of practices), limitasi (dose
limitation), dan optimisasi (optimization of protection
and safety) untuk setiap kegiatan yang mengakibatkan
penerimaan dosis radiasi pada seseorang berdasarkan
rekomendasi ICRP. Keempat asas yang telah dikenal
secara luas tersebut khususnya di lingkungan penguasa
instalasi dan pengguna adalah sebagai berikut :(8)
1) Asas justifikasi, yaitu setiap kegiatan yang
memanfaatkan radioaktif atau sumber radiasi
lainnya hanya boleh dilakukan apabila
menghasilkan keuntungan yang lebih besar kepada
seseorang yang terkena penyinaran radiasi atau bagi
masyarakat, dibandingkan dengan kerugian yang
mungkin diakibatkan, dengan memperhatikan
faktor-faktor sosial, ekonomi, dan faktor lainnya
yang sesuai. Dalam melakukan pengkajian perlu
diperhitungkan pula estimasi kerugian yang berasal
dari penyinaran yang tidak dapat diramalkan
sebelumnya.

16
2) Asas limitasi, yaitu penerimaan dosis oleh
seseorang tidak boleh melampaui nilai batas dosis
yang ditetapkan Badan Pengawas (BP). Yang
dimaksud nilai batas dosis disini adalah dosis
radiasi yang diterima dari penyinaran eksterna dan
interna selama 1 (satu) tahun dan tidak bergantung
pada laju dosis. Penetapan nilai batas dosis ini tidak
memperhitungkan penerimaan dosis untuk tujuan
medik yang berasal dari radiasi alam.
3) Asas optimisasi, yaitu proteksi dan keselamatan
terhadap penyinaran yang berasal dari sumber
radiasi yang dimanfaatkan, harus diusahakan
sedemikian rupa sehingga besarnya dosis yang
diterima seseorang dan jumlah orang yang
tersinari sekecil mungkin dengan memperhatikan
faktor sosial dan ekonomi. Terhadap dosis
perorangan yang berasal dari sumber radiasi
harus diberlakukan pembatasan dosis yang
besarnya harus dibawah nilai batas dosis.
Berikut adalah hal proteksi radiasi khusus untuk
peralatan diagnostik:(3)

1) Penyinaran radiasi medik sekecil mungkin yang


bisa dicapai dengan tetap mendapatkan informasi
diagnostik yang diperlukan.
2) Parameter seperti tegangan, arus, posisi titik
fokus, dinyatakan secara jelas dan akurat.
3) Piranti yang secara otomatik bahwa radiasi selesai
setelah mencapai waktu tertentu.

4) Untuk fluroskopi, piranti yang menghidupkan

17
tabung dengan cara ditekan terus-menerus harus
dilengkapi dengan pembatas waktu penyinaran
atau pemantau dosis masuk kulit.
Prosedur Tetap mengenai Proteksi Radiasi
Terhadap Pasien, antara lain:(3)
1) Pemeriksaan radiologi hanya bisa dikerjakan atas perintah
dokter.
2) Menghindari pengulangan dalam pembuatan foto.
3) Membuat batasan atau mengatur kolimator
sedemikian rupa sehingga sedikit terjadi hamburan
sinar radiasi.
4) Menggunakan proteksi atau apron untuk penderita,
misal proteksi untuk gonad, dan lain-lain.
5) Menghindari pemeriksaan bagi wanita hamil, kalau
tidak terlalu dibutuhkan.
6) Apabila pemeriksaan sangat dibutuhkan kepada
penerita yang sedang hamil maka bagian janin atau
perut harus ditutup dengan load, sehingga janin
terhindar dari radiasi.

Prosedur Tetap mengenai Proteksi Radiasi


Terhadap Lingkungan, antara lain:(1)
1) Penempatan sinar-X harus ditempatkan di ruang
yang kedap radiasi.
2) Tidak ada bocoran radiasi yang keluar dari ruangan
pesawat sinar- X baik lewat tembok dan pintu.

3) Memberi tanda di setiap pintu masuk maupun pintu


keluar dengan lampu merah dalam keadaan
menyala berarti sedang terjadi pemeriksaan.

18
4) Memberi tanda yang bisa dibaca oleh umum bahwa
ruangan tersebut ada daerah radiasi.
5) Memberi pengertian kepada pengantar penderita
agar tidak ikut masuk kedalam ruang pemeriksaan.
c. Peralatan Protektif dan Proteksi Radiasi
Menurut Peraturan Pemerintah no 63 tahun 2000
tentang Keselamatan dan Kesehatan terhadap
Pemanfaatan Radiasi Pengion pasal 18 tentang
Peralatan Proteksi Radiasi dan Peraturan
Pemerintah No. 9 Tahun 1969 tentang Pemakaian
Isotop Radioaktip mempunyai peralatan teknis yang
diperlukan untuk melakukan penyimpanan isotop
dengan baik, untuk menjamin perlindungan terhadap
radiasi.(4, 8)
Peralatan protektif dan peralatan proteksi radiasi
adalah beberapa alat atau rancangan yang digunakan
oleh Instalasi Radiologi dalam hal keselamatan
pekerja untuk menghindari paparan yang melebihi
nilai batas dosis. Sehingga para pekerja merasa aman
dan nyaman dalam melakukan pekerjaannya dan
terjaminnya kesehatan mereka.(3)

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Khoiri M. Upaya Peningkatan Budaya Keselamatan Pekerja Radiasi Rumah


Sakit di Indonesia. Seminar Nasional VI SDM Teknologi Nuklir. 2010:1-6.

2. Uthami R, Mutahar R, Hasyim H. Analisis Manajemen Keselamatan Radiasi


pada Instalasi Radiologi RSUD Dr. H. M. Rabain Muara Enim Tahun 2009.
Seminar Nasional Keselamatan Kesehatan dan Lingkungan VI. 2010:1-8.

3. Anizar. Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri. Yogyakarta:


Graha Ilmu; 2009.

4. Fadhila SN. Proteksi Radiasi di Instalasi Radiodiagnostik RSUD Dr.


Moewardi Surakarta. Surakart: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas
Maret, 2011.

5. Cooper D. Improving Safety Culture: A Practical Guide. Philladelphia:


Apllied Behavior Science; 2001.

6. Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit [press release].


2010.

7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.


172/MENKES/PER/III/1991 [press release].

8. Peraturan pemerintah No. 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan


Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion [press release].

20