Anda di halaman 1dari 23

BAB 2

TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Alergi adalah reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap benda asing tertentu
yang disebut alergen. Alergen sebenarnya adalah zat yang tidak berbahaya bagi tubuh. Alergen
masuk ke tubuh bisa melalui saluran pernapasan, dari makanan, melalui suntikan atau bisa juga
timbul akibat adanya kontak dengan kulit.
Alergi didefinisikan sebagai reaksi berlebih sistem pertahanan alami tubuh (sistem imun). Sistem
imun secara normal berfungsi melindungi tubuh dari serangan virus dan bakteri dengan
memproduksi antibodi untuk melawan mereka. Dalam alergi, sistem imun juga melawan zat
yang biasanya tidak berbahaya seperti kutu debu, serbuk bunga atau obat dan menganggap zat-
zat tersebut sedang berupaya menyerang tubuh. Reaksi ini beragam dari sekedar bercak merah
gatal, mata gatal, hidung berair hingga kesulitan bernafas, mual dan diare.

2.2 Reaksi alergi


1. Reaksi Hipersensitifitas tipe I ( reaksi atopik atau anafilatik )
Merupakan reaksi alergi yang diperantarai oleh antibodi IgE. Pada reaksi tipe I, antigen
terikat ke antibodi IgE. Kompleks IgE Antigen menyebabkan degranulasi sel mast dan
pelepasan histamin, serta mediator peradangan lainnya. Mediator ini menyebabkan vasodilatasi
perifer dan pembengkakan ruang interstisium. Gejala gejala bersifat spesifik bergantung pada
dimana respon alergi tersebut berlangsung. Pengikatan antigen di saluran hidung menyebabkan
rinitis alergi disertai kongesti hidung dan peradangan jaringan, sementara pengikatan antigen
disaluran cerna mungkin menimbulkan diare atau muntah.
Suatu reaksi hipersnsitivitas tipe I yang parah adalah reaksi anafilaktik. Anafilaktik
melibatkan respon cepat IgE. Sel mast setelah perjalanan ke suatu antigen dimana individu
sangat peka terhadapnya. Dapat terjadi dilatasi seluruh sistem pembuluh akibat histamin
sehingga tekanan darah kolaps. Penurunan hebat tekanan darah selama reaksi anafilaktik disebut
syok anafilaktik. Karena histamin adalah konstriktor kuat bagi otot polos bronkiolus, maka
anafilaksisjuga merupakan penutupan saluran napas. Anafilaksis sebagai respon terhadap obat
misalnya penisilin atau sebagi respon terhadap sengatan lebah dan bersifat fatal pada orang yang
sangat peka.
2. Reaksi Hipersensitifitas tipe II ( reaksi sitotoksik atau sitolitik )
Hal ini terjadi sewaktu antibodi IgG atau IgM menyerang antigen antigen jaringan.
Reaksi tipe II terjadi akibat hilangnya toleransi diri dan dianggap suatu reaksi autoimun, sel sel
sasaran biasanya dihancurkan. Pada reaksi tipe II, pengikatan antibodi antigen menyebabkan
pengaktifan komplemen, degranulasi sel mast, oedema, kerusakan jaringan, dan lisis sel. Reaksi
tipe II menyebabkan fagositosis sel sel penjamu oleh makrofag.
Contoh contoh penyakit autoimun tipe II :
a. Penyakit grave dimana terjadi pembentukan antibodi terhadap kelenjar tiroid.
b. Anemia hemolitik autoimun dimana antibodi dibentuk terhadap sel darah merah.
c. Reaksi tranfusi yang melibatkan pembentukan antibodi terhadap sel darah kotor.
d. Purpura trombositopenik autoimun dimana terjadi pembentukan antibodi terhadap
trombosit.
3. Reaksi Hipersensitifitas tipe III ( reaksi Arthus atau komplek toksik )
Terjadi sewaktu komplek antigen antibodi yang bersirkulasi dalam darah mengendap di
pembuluh darah atau jaringan sebelah hilir. Antibodi disini biasanya jenis IgG. Antibodi tidak
ditunjukan kepada jaringan tersebut tetapi terperangkap di dalam jaringan kapilernya. Reaksi tipe
III mengaktifkan komplemen yang kemudian melepaskan macrophage chemotaktik factor.
Macrophage yang dikerahkan ke tempat tersebut akan merusak jaringan sekitar tempat tersebut.
Neutrofil tertarik ke daerah tersebut dan mulai memfagositosis sel sel yang rusak sehingga
terjadi pelepasan enzim enzim sel serta penimbunan sisa sel. Hal ini menyebabkan siklus
peradangan berlanjut.
Antigen dapat berasal dari infeksi kuman patogen yang persisten ( malaria ), bahan yang
terhirup ( spora jamur yang menimbulkan alveolitis ekstrinsik alergi ) atau dari jaringan sendiri
( penyakit autoimun ) infeksi tersebut disertai dengan antigen dalam jumlah yang berlebihan
tetapi tidak disertai dengan respon antibodi yang efektif.
Pembentukan kompleks imun dalam pembuluh darah menjadikan antigen ( Ag ) dan
antibodi ( Ab ) bersatu membentuk komplek imun mengaktifkan komplemen ( C ) dan melepas
C3a dan C5a yang merangsang leukosit basofil dan trombosit untuk melepas berbagai mediator
antara lain histamin yang menimbulkan pengerutan sel endotil sehingga permeabilitas vaskuler
meninggi.
Dalam keadaan normal komplek imun dimusnahkan oleh sel fagosit mononuklear
terutama dalam hati, limpa, paru tanpa bantuan komplemen. Dalam proses tersebut ukuran
kompleks merupakan faktor penting. Pada umumnya kompleks yang besar, mudah dan cepat
dimusnahkan dalam hati, kompleks kecil sulit untuk dimusnahkan, oleh karena itu dapat lebih
lama ada dalam sirkulasi. Diduga bahwa gangguan fungsi fagosit merupakan sebab mengapa
komleks sulit dimusnahkan. Kompleks imun yang ada dalam sirkulasi meskipun untuk jangka
waktu lama, biasanya tidak berbahaya. Permasalahan akan timbul bila kompleks imun
mengendap di jaringan.
Contoh contoh reajsi hipersensitifitas tipe III :
a. Penyakit Serum dimana terbentuknya antibodi terhadap darah asing, seiring sebagai
respon terhadap penggunaan obat IV, kompleks antigen antibodi mengendap di sistem
pembuluh, sendi, ginjal, dan lain lain.
b. Glomerulonefritis dimana terbentuk kompleks antigen antibodi sebagai respon terhadap
suatu infeksi, sering oleh bakteri streptokokus dan mengendap di kapiler glomerolus
ginjal.
c. Lupus Eritematosus Sistemik dimana terbentuk kompleks antigen antibodi terhadap
kolagen dan DNA sel dan mengendap di berbagai tempat di seluruh tubuh.
4. Reaksi Hipersensitifitas tipe IV ( reaksi seluler atau hipersensitifitas tipe lambat )
Reaksi tipe IV yang juga disebut reaksi hipersensitifitas lambat, timbul lebih dari 24 jam
setelah tubuh terpapar oleh antigen. Reaksi terjadi karena respon sel T yang sudah disensitasi
bereaksi spesifik dengan suatu antigen tertentu sehingga menimbulkan reaksi makrofag. Serta
membentuk indurasi jaringan pada daerah tempat antigen tersebut. Reaksi ini sama sekali tidak
memerlukan antibodi seperti pada ketiga tipe terdahulu, bahkan tidak memerlukan aktivasi
komplemen.
Oleh karena itu itu reaksi ini timbulnya agak lambat, sekitar 24 48 jam, maka secara
klinis reaksi dikenal dengan istilah hipersensitifitas tipe lambat. Ada dua macam mekanisme
yang turut berperan di dalam terbentuknya hipersensitifitas tipe lambat lambat ini, yakni
mekanisme aferen dan eferen. Mekanisme aferen merupakan mekanisme spesifik dan timbul
pada waktu sensitized lymphocyte cells dengan resptor yang spesifik ; bereaksi dengan antigen
tertentu sehingga sel tersebut mengeluarkan mediator limfokin. Kemudian zat tersebut akan
bekerja secara non spesifik pada mekanisme aferen dan mempengaruhi limfosit, makrofag,
monosit.
Contoh contoh reaksi hipersensitifitas tipe IV :
a. Tiroiditis autoimun dimana terbentuknya sel T terhadap jaringan, tiroid, penolakan tandur
dan tumor.
b. Reaksi alergi tipe lambat, misal alergi terhadap poison IVX.
c. Uji kulit tuberkulin, mengisyaratkan adanya imunitas selular terhadap hasil tuberkulosis.

2.3 Klasifikasi alergi


1. Tipe I : Anafilaktik
Antigen bereaksi dengan antibodi IgE yang terikat ke permukaan sel mast; menyebabkan
pelepasan mediator dan efek mediator
a. Dermatitis Atopik paling sering muncul pada tahun pertama kehidupan yaitu pada
bulan kedua. Lesi mula-mula tampak didaerah muka (pipi) berupa eritema, papul-
vesikel pecah karena garukan sehingga lesi menjadi kemerahan eksudatif dan
akhirnya terbentuk krusta

Lesi bisa meluas ke kepala, leher, pergelangan tangan dan tungkai. Bila anak
mulai merangkak, lesi bisa ditemukan didaerah ekstensor ekstremitas.
Sebagian besar penderita sembuh setelah dua tahun dan sebagian lagi berlanjut
ke fase anak
b. Alergi makanan
Lebih sering timbul pada anak-anak. Sekitar 7 dari setiap 100 anak memiliki
alergi. Alergi makanan biasanya lebih sering timbul dari keluarga yang juga mengidap
alergi dengan riwayat keluarga dengan asma dan dermatitis atopik. Pada alergi
makanan, maka sistem imun tubuh berfikir bahwa makanan tertentu bersifat
mengancam tubuh dan sudah menyiapkan sederetan perlawanan dengan
menimbulkan reaksi alergi dari kemerahan, gatal, hidung berair hingga gangguan
perut. Alergi makanan yang timbul pada saat anak, lebih besar kemungkinan hilang.
Namun alergi makanan yang timbul pada saat dewasa akan dibawa terus.
c. Alergi Obat
Alergi obat adalah suatu reaksi imun yang timbul karena obat. Reaksi ini terdiari
dari dua fase, yaitu: fase pertama induksi dari respon imun spesifik terhadap paparan
alergen yang pertama, yang diikuti oleh, fase kedua reaksi alergi (eksitasi), timbulnya
gejala karena terpapar lagi dengan obat tersebut.
Obat melekat pada eritrosit kemudian dibentuk antibodi terhadap obat. Dalam hal
ini baik obat maupun antibodi harus ada untuk menyebabkan reaksi.
Kompleks imun yang terdiri atas obat dan antibodi melekat pada permukaan
eritrosit. Kerusakan sel terjadi akibat lisis oleh komplemen yang diaktivasi oleh
kompleks antigen-antibodi tersebut, Obat menyebabkan reaksi alergi dan autoantibodi
ditujukan kepada antigen eritrosit sendiri.
Obat tampaknya membentuk suatu kompleks antigenik dengan permukaan suatu
elemen yang ada pada darah, dan merangsang pembentukan antibodi yang bersifat
sitotoksik bagi kompleks obat-sel itu. Bila obat dihentikan kepekaan itu akan hilang
tidak lama kemudian. Sebagai contoh mekanisme ini telah ditentukan pada anemia
hemolitik yang kadang-kadang dihubungkan dengan pemakaian terus-menerus
klorpromazin atau fenasetin, pada agranulositosis yang dihubungkan dengan
pemakaian amidopirin atau quinidine dan pada keadaan klasik purpura
trombositopenia yang mungkin disebabkan oleh sedormid, serum segar yang diambil
dari penderita dapat melisiskan trombosit, sedang tanpa sedormid hal ini tidak akan
terjadi; pemanasan sebelumnya pada suhu 56 oC selama 30 menit akan menjadikan
komplemen tidak aktif dan menghilangkan efek tersebut.

Diagnosis ditegakkan dengan bantuan anamnesis (Prof. Dr. dr. Heru Sundaru
SpPD(K), 2003) :

1. Riwayat penyakit alergi karena obat, kapan, berapa lama timbulnya reaksi, setelah
makan obat apa.

2. Gejala-gejala yang ada dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

3. Obat-obatan yang sering menimbulkan alergi.

Golongan Hapten Golongan Antigen


Penisilin Insulin
Cephalosporin Ensim (kimopapain, asparkinase)
Sulfonamid (termasuk antimikrobial, sulfasalasin, Antioxin asing
obat oral hipoglikemik, golongan thiazid,
diazoxide
Obat relaksasi Ekstrak organ (ACTH, Hormon)
Obat antituberkulosa Vaksin dan lain-lain
Obat antikonvulsan/ anti kejang
Thiopental
Quinidine
Cis-Platinum
Pengobatan Alergi Obat

a. Obat-obatan : antihistamin, steroid, bila terjadi reaksi anafilaksis beri adrenalin


1/1000 sc dan pengobatan sesuai seperti reaksi anafilaksis karena sebab lain.
b. Menghindari alergen penyebab.
c. Pengobatan lain dengan cara desensitisasi

2. Tipe II : Sitotoksik
Antibodi berikatan dengan antigen yang merupakan bagian dari sel atau jaringan tubuh;
terjadi pengaktifan komplemen, atau fagositosis sel sasaran dan mungkin sitotoksisitas
yang diperantarai oleh sel yang dependen-antibodi
a. Anemia hemolitik imun
Autoimun anemia hemolitik idiopatik adalah penurunan jumlah sel darah merah
karena ada masalah dengan sistem pertahanan tubuh (imun). Ada jenis lain kekebalan
hemolitik anemia di mana penyebabnya dapat menyebabkan penyakit sekaligus jadi
dasar pengobatan. Awal penyakit ini sangat cepat dan sangat serius.

b. Reaksi transfusi
Reaksi transfusi adalah suatu pengrusakan secara imunologik sel-sel darah merah yang
inkompatibel yang diperoleh melalui transfusi darah
reaksi yang terjadi dapat berupa reaksi pirogen, reaksi alergi, reaksi hemolitik, atau
transmisi penyakit-penyakit infeksi.
c. Trombositopenia
Suatu kekurangan trombosit yang merupakan bagian dari pembekuan darah. Pada
orang normal jumlah trombosit di dalam sirkulasi berkisar antara 150.000450000/ul,
rata-rata berumur 7-10 hari kira-kira 1/3dari jumlah trombosit di dalam sirkulasi
darah mengalami penghancuran di dalam limpa oleh karena itu untuk
mempertahankan jumlah trombosit supaya tetap normal di produksi 150.000-450000
sel trombosit perhari. Jika jumlahtrombosit kurangdari 30.000/Ml, ran terjadi
perdarahan abnormal meskipun biasanya gangguan baru timbul jika jumlah trombosit
mencapai kurangdari 10.000/Ml. (Sudoyo, dkk,2006).

3. Tipe III : Kompleks Imun


Penyatuan antigen dan antibodi membentuk suatu kompleks yang mengaktifkan
komplemen, menarik leukosit dan menyebabkan kerusakan jaringan oleh produk-produk
leukosit.
a. Penyakit Serum dimana terbentuknya antibodi terhadap darah asing, seiring sebagai
respon terhadap penggunaan obat IV, kompleks antigen antibodi mengendap di
sistem pembuluh, sendi, ginjal, dan lain lain.
Serum sickness adalah kompleks kekebalan yang dimediasi reaksi
hipersensitivitas ditandai dengan demam, ruam, arthritis, arthralgia, dan gejala
sistemik lainnya. Von Pirquet dan Schick pertama kali menjelaskan dan
mempopulerkan nama serum sickness ini pergantian abad ke-20, digunakann untuk
menggambarkan pasien yang telah menerima suntikan heterolog antitoxins untuk
pengobatan demam difteri.
Serum sickness klasik kini jarang terlihat, karena penggunaan protein asing terbatas
pada antitoxins seperti yang digunakan untuk mengobati botulisme, difteri, rabies,
dan gigitan ular dan laba-laba beracun. Namun, penggunaan antiserum kuda dan
murine sebagai globulin antilymphocyte atau antithymocyte dan antibodi monoklonal
murine untuk immunomodulation dan pengobatan kanker telah menciptakan
kelompok baru obat-obat yang dapat menyebabkan penyakit serum.
b. Lupus Eritematosus Sistemik dimana terbentuk kompleks antigen antibodi terhadap
kolagen dan DNA sel dan mengendap di berbagai tempat di seluruh tubuh.

4. Tipe IV : Diperantarai Sel Reaksi limfosit T dengan antigen menyebabkan pelepasan


limfokin, sitotoksisitas langsung dan pengerahan sel-sel reaktif.
a. Tiroiditis autoimun dimana terbentuknya sel T terhadap jaringan, tiroid, penolakan
tandur dan tumor.
b. Reaksi alergi tipe lambat, misal alergi terhadap poison IVX.
c. Uji kulit tuberkulin, mengisyaratkan adanya imunitas selular terhadap hasil
tuberkulosis.

2.4 Manifestasi Klinis


Keluhan alergi sering sangat misterius, sering berulang, berubah-ubah datang dan pergi
tidak menentu. Kadang minggu ini sakit tenggorokan, minggu berikutnya sakit kepala, pekan
depannya diare selanjutrnya sulit makan hingga berminggu-minggu. Bagaimana keluhan yang
berubah-ubah dan misterius itu terjadi. Ahli alergi modern berpendapat serangan alergi atas dasar
target organ (organ sasaran).

Reaksi alergi merupakan manifestasi klinis yang disebabkan karena proses alergi pada
seseorang anak yang dapat menggganggu semua sistem tubuh dan organ tubuh anak.. Organ
tubuh atau sistem tubuh tertentu mengalami gangguan atau serangan lebih banyak dari organ
yang lain. Mengapa berbeda, hingga saat ini masih belum banyak terungkap. Gejala tergantung
dari organ atau sistem tubuh , bisa terpengaruh bisa melemah. Jika organ sasarannya paru bisa
menimbulkan batuk atau sesak, bila pada kulit terjadi dermatitis atopik. Tak terkecuali otakpun
dapat terganggu oleh reaksi alergi. Apalagi organ terpeka pada manusia adalah otak. Sehingga
dapat dibayangkan banyaknya gangguan yang bisa terjadi.

Menurut penulis, dalam pengamatannya pada 732 anak penderita alergi pada usia bawah 5 tahun
juga menemukan sedikit kesamaan pada gejala umum pada penderita alergi yaitu :

1. Berat badan yang lebih (terutamadi bawah umur 2 tahun) atau sebaliknya berat badan
yang kurang.

2. Keringat yang berlebihan.

3. Telapak tangan, telapak kaki dan kepala sering teraba hangat (suhu di bawah 38).

4. Anak tampak lebih aktif atau banyak bergerak dibandingkan anak lainnya (di bawah usia
2 tahun).

5. Pembesaran kelenjar limfe terutama di daerah sekitar belakang kepala bawah dan leher.

Kondisi tersebut harus tanpa disertai penyakit lain yang dapat menyebabkan manifestasi yang
sama, Disamping tanda dan gejala alergi yang berkaitan dengan organ tubuh manusia, terdapat
beberapa tanda umum pada penderita alergi. Menurut Richard Mackarness tahun 1992
berpendapat terdapat 5 gejala kunci pada alergi dewasa adalah :
1. Berat badan yang berlebihan atau sebaliknya berat badan kurang.

2. Kelelahan terus menerus dalam beberapa saat dan tidak lenyap walaupun telah
beristirahat.

3. Terjadi pembengkakan di sekitar mata, tangan, abdomen, pergelangan kaki.

4. Denyut jantung yang cepat dan berdebar-debar, khususnya setelah makan

5. Keringat yang berlebihan walupun tidak berolahraga.

Kriteria tersebut berlaku bila dokter tidak menemukan penyebab atau gangguan penyakit lain
yang mengakibatkan gejala tersebut.

1. Tanda dan gejala alergi pada bayi

Organ/sistem
Gejala dan tanda
tubuh
Sistem Bayi lahir dengan sesak (Transient Tachipneu Of The newborn), cold-like
1
Pernapasan respiratory congestion (napas berbunyi/grok-grok).
sering rewel/colic malam hari, hiccups (cegukan), sering ngeden, sering
Sistem mulet, meteorismus, muntah, sering flatus, berak berwarna hitam atau
2
Pencernaan hijau, berak timbul warna darah. Lidah sering berwarna putih. Hernia
umbilikalis, scrotalis atau inguinalis.
Telinga Hidung Sering bersin, Hidung berbunyi, kotoran hidung berlebihan. Cairan telinga
3
Tenggorok berlebihan. Tangan sering menggaruk atau memegang telinga.
Sistem
Pembuluh Palpitasi, flushing (muka ke merahan), nyeri dada, colaps, pingsan, tekanan
3
Darah dan darah rendah
jantung
Erthema toksikum. Dermatitis atopik, diapers
4 Kulit dermatitis. urticaria, insect bite,
berkeringat berlebihan.
5 Sistem Saluran Sering kencing, nyeri kencing, bed wetting (ngompol) Frequent, urgent or
painful urination; inability to control bladder; bedwetting; vaginal
Kemih discharge; itching, swelling, redness or pain in genitals; painful
intercourse.
Sistem Susunan Sensitif, sering kaget dengan rangsangan suara/cahaya, gemetar, bahkan
6
Saraf Pusat hingga kejang.
Mata berair, mata gatal, kotoran mata berlebihan, bintil pada mata,
7 Mata
conjungtivitis vernalis.

2. Tanda dan gejala alergi pada anak usia lebih 1 tahun

Organ/sistem
Gejala dan tanda
tubuh
Sistem Batuk, pilek, bersin, mimisan, hidung buntu, sesak(astma), sering
1
pernapasan menggerak-gerakkan /mengusap-usap hidung
Nyeri perut, sering buang air besar (>3 kali/perhari), gangguan buang air
Sistem besar (kotoran keras, berak, tidak setiap hari, berak di celana, berak
2
pencernaan berwarna hitam atau hijau, berak ngeden), kembung, muntah, sulit berak,
sering flatus, sariawan, mulut berbau.
Hidung : hidung buntu, bersin, hidung gatal, pilek, post nasal drip,
epitaksis, salam alergi, rabbit nose, nasal
creases tenggorok : tenggorokan
nyeri/kering/gatal, palatum gatal, suara parau/serak, batuk pendek
Telinga hidung
3 (berdehem), telinga : telinga terasa penuh/
tenggorok
bergemuruh/berdenging, telinga bagian dalam gatal, nyeri telinga dengan
gendang telinga kemerahan atau normal, gangguan pendengaran hilang
timbul, terdengar suara lebih keras, akumulasi cairan di telinga tengah,
pusing, gangguan keseimbangan.
Sistem
pembuluh Palpitasi, flushing (muka ke merahan), nyeri dada, colaps, pingsan, tekanan
3
darah dan darah rendah,
jantung
Sering gatal, dermatitis, urticaria, bengkak di bibir, lebam biru kehitaman,
4 Kulit
bekas hitam seperti digigit nyamuk, berkeringat berlebihan.
Nyeri, urgent atau sering kencing, nyeri kencing, bed wetting (ngompol);
Sistem saluran
tidak mampu mengintrol kandung kemih; mengeluarkan cairan di vagina;
5 kemih dan
gatal, bengkak atau nyeri pada alat kelamin. Sering timbul infeksi saluran
kelamin
kencing
Neuroanatomis :sering sakit kepala, migrain, kejang gangguan
Sistem susunan tidur.neuroanatomis fisiologis: gangguan perilaku : emosi berlebihan,
6
saraf pusat agresif, impulsive, overaktif, gangguan belajar, gangguan konsentrasi,
gangguan koordinasi, hiperaktif hingga autisme.
Jaringan otot
6 Nyeri tulang, nyeri otot, bengkak di leher
dan tulang
Mata berair, mata gatal, sering belekan, bintil pada mata. Allergic shiner
7 Mata
(kulit di bawah mata tampak ke hitaman).

3. Tanda dan gejala alergi pada orang dewasa.

Organ/sistem
Gejala dan tanda
tubuh
Sistem Batuk, pilek, bersin, sesak(astma), napas pendek, wheezing, banyak lendir
1
pernapasan di saluran napas atas (mucus bronchial) , rattling dan vibration dada.
Palpitasi (berdebar-debar), flushing (muka ke merahan), nyeri dada,
Sistem
colaps, pingsan, tekanan darah rendah, denyut jantung meningkat, skipped
pembuluh
2 beats, hot flashes, pallor; tangan hangat, kedinginan, tingling, redness or
darah dan
blueness of hands; faintness; pseudo-heart attack pain ; nyeri dada depan,
jantung
tangan kiri, bahu, leher, rahang hingga menjalar di pergelangan tangan
Nyeri perut, sering diare, kembung, muntah, sulit berak, sering buang
angin (flatus), mulut berbau, kelaparan, haus, saliva meningkat, canker
sores, metallic taste in mouth, stinging tongue, nyeri gigi, burping,
Sistem
3 retasting foods, ulcer symptoms, heartburn, indigestion, nausea, vomiting,
pencernaan
gangguan mengunyah dan menelan, abdominal rumbling, konstipasi,
spastic colitis, emotional colitis, gall bladder colic, cramps, diarrhea,
passing gas, timbul lendir atau darah dari rektum, anus gatal atau panas.
4 Kulit Sering gatal, dermatitis, urticaria, bengkak di bibir, lebam biru (seperti
bekas terbentur) bekas hitam seperti digigit nyamuk. Kulit kaki dan
tangan kering tapi wajahberminyak.sering berkeringat.
Hidung : hidung buntu, bersin, hidung gatal, pilek, post nasal drip,
epitaksis, tidur mendengkur, mendengus tenggorok :
tenggorokan nyeri/kering/gatal, palatum gatal, suara parau/serak, batuk
pendek (berdehem), telinga : telinga
Telinga hidung
5 terasa penuh/ bergemuruh / berdenging, telinga bagian dalam gatal, nyeri
tenggorokan
telinga dengan gendang telinga kemerahan atau normal, gangguan
pendengaran hilang timbul, terdengar suara lebih keras, akumulasi cairan
di telinga tengah, pusing, gangguan keseimbangan. Pembesaran kelenjar
di sekitar leher dan kepala belakang bawah
Sistem saluran Sering kencing, nyeri kencing; tidak bisa mengontrol kandung kemih,
6 kemih dan bedwetting; vaginal discharge; genitalia gatal/bengkak/kemerahan/nyeri;
kelamin nyeri bila berhubungan kelamin
Sering sakit kepala, migrain, short lost memory (lupa nama orang, barang
sesaat), floating (melayang), kepala terasa penuh atau membesar.perilaku :
impulsif, sering marah, mood swings, compulsively sleepy, drowsy,
groggy, confused, dizzy, imbalance, staggering gait, slow, sluggish, dull,
lack of concentration, depressed, crying; tense, angry, irritable, anxious,
panic, stimulated, aggressive, overactive, frightened, restless, manic,
Sistem
hyperactive with learning disability, jittery, convulsions, head feels full or
7 susunan saraf
enlarged, floating sensation, poor memory, misreading or reading without
pusat
comprehension, variation in penmanship legibility; hallucinations,
delusions, paranoia, bicara gagap; claustrophobia, paralysis, catatonic
state, perceptual dysfunction, typical symptoms of mental retardation.
Sensitive dan mudah marah, impulsif (bila tertawa atau bicara berlebihan),
overaktif, deperesi, terasa kesepian merasa seperti terpisah dari orang lain,
kadang lupa nomor, huruf dan nama sesaat, lemas (flu like symtomp)
Kulit berminyak (atas leher), kulit kering (bawah leher), endometriosis,
Sistem premenstrual syndrome, kemampuan sex menurun, chronic fatique
8
hormonal symptom (sering lemas), gampang marah, mood swing, sering terasa
kesepian, rambut rontok
9 Jaringan otot Nyeri tulang, nyeri otot, nyeri sendi: fatigue, kelemahan otot, nyeri,
bengkak, kemerahan local pada sendi; stiffness, joint deformity; arthritis
dan tulang soreness, nyeri dada, otot bahu tegang, otot leher tegang, spastic umum, ,
limping gait, gerak terbatas
Nyeri gigi atau gusi tanpa adanya infeksi pada gigi (biasanya berlangsung
10 Gigi dan mulut dalam 3 atau 7 hari). Gusi sering berdarah. Sering sariawan. Diujung
mulut, mulut dan bibir sering kering, sindrom oral dermatitis.
Nyeri di dalam atau samping mata, mata berair,sekresi air mata berlebihan,
warna tampak lebih terang, kemerahan dan edema palpebra, kadang mata
11 Mata
kabur, diplopia, kadang kehilangan kemampuan visus sementara,
hordeolum..

2.5 Penatalaksanaan

2.6 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan untuk diagnosis alergi inhalan dapat dilakukan secara in vivo dan in vitro untuk
alergi terhadap alergen yang spesifik. Tes ini diindikasikan tidak hanya pada pasien alergi saja,
namun juga pada terkena alergen yang spesifik. Tes pada inhalasi relatif lebih sederhana, sejak
mekanisme terjadinya diketahui (IgE mediator reaksi tipe I) dan reaksi alergi inhalasi bisa
didapatkan dalam beberapa menit. Bagaimanapun bisa didapatkan sebuah hasil yang positif
walaupun tanpa gejala klinik.

2.6.1 Metode in vivo

Berbagai metode in vivo digunakan dalam penelitian sistem immunoglobulin maupun sistem
seluler.tes alergi secara in vivo terdiri atas dua kategori : uji kulit dan uji tantangan pada organ
(tes provokasi). Uji kulit merupakan cara in vivo utama dalam mengenali IgE atau antibodi
reagenik. Reaksi ini terjadi beberapa menit setelah masuknya alergen. Alergen berinteraksi
dengan antibodi reagenik yang melekat pada sel pelepas zat mediator. Akibatnya terjadi suatu
peradangan atau pembengkakan segera, demikian pula suatu reaksi fase lambat. Pengujian dapat
dilakukan dengan menggunakan suatu jarum atau garukan dan injeksi intradermal

1. Pemeriksaan Tes Kulit


Uji kulit sampai saat ini masih dilakukan secara luas untuk menunjang diagnosis alergi
terhadap alergen-alergen tertentu. Metode ini dapat dilakukan secara massal dalam waktu singkat
dengan hasil cukup baik. Prinsip test ini adalah adanya IgE spesifik pada permukaan basofil atau
sel matosit pada kulit akan merangsang pelepasan histamin, leukotrien dan mediator lain bila IgE
tersebut berikatan dengan alergen yang digunakan pada uji kulit, sehingga menimbulkan reaksi
positif berupa bentol (wheal) dan kemerahan (flare).Tetapi uji kulit tidak selalu memberikan
hasil positif walaupun pemeriksaan dengan cara lain berhasil positif, terutama alergi terhadap
obat.

Tujuan tes kulit pada alergi adalah untuk menentukan macam alergen sehingga dikemudian
hari bisa dihindari dan juga untuk menentukan dasar pemberian imunoterapi.

Macam tes kulit untuk mediagnosis alergi antara lain :

a. Scracth : Epicutaneus Tes

Ini merupakan tehnik yang paling awal ditemukan oleh Charles Blackley pada
tahun 1873. Pemeriksaan ini didasari dengan membuat laserasi superficial kecil dari 2 mm
pada kulit pasien dan diikuti dengan menjatuhkan antigen konsentrat.

Keuntungan : Aman, jarang menyebabkan reaksi sistemik, Terdapat kekurangan pada


reaksi kulit tipe lambat, Konstrate yang digunakan nilai ekonominya lebih baik dan
mempunyai daya hidup yang lama.

Kerugian : Terjadi false positif (akibat iritasi pada kulit dibandingkan dengan reaksi

alergi): Lebih menyakitkan, Tidak reproducible sebagai intradermal skin test, Karena
kurang reproducibility dan berbagai gambaran dibelakang, bentuk tes ini tidak
direkomendasikan lagi sebagai prosedur diagnostik pada Alergi panel dari AMA Council
Of Scientific Affairs.

b. Prick : Epicutaneus
Tehnik ini pertama kali dijelaskan oleh Lewis dan Grant pada tahun 1926. Hal ini
digambarkan dimana satu tetesan konsentrat antigen ke dalam kulit . kemudian jarum
steril 26 G melalui tetesan tadi ditusukkan ke dalam kulit bagian superficial sehingga
tidak berdarah. Variasi dari tes ini adalah dengan menggunakan applikator sekali pakai
dengan delapan mata jarum yang bisa digunakan. Digunakan secara simultan dengan 6
antigen dan control positif (histmin) dan kontrol negative (glyserin). (5)

(a)

(b)
(c)
Gambar 1. Keterangan :
a. Lengan atas yang diteteskan zat allergen
b. Penetesan allergen
c. Reaksi pada pemeriksaan skin prick test(9)

Keuntungan : Cepat, Mempunyai korelasi yang baik dengan tes intradermal, Relative
lebih aman
Kerugian : Hanya memberikan penilaian kualitatif pada alergi, Bisa terjadi kesalahan
pada keadaan alergi yang lemah (false negatif), Grade pada kulit bersifat subjektif,
Prick tes merupakan jalan cepat untuk menyeleksi antigen yang banyak. Jika skin tes
positif, kemudian pasien lebih sering alergi, tetapi konversi yang didapat tidak benar.
Jika pasien mempunyai sejarah yang positif dan negative pada prick test, maka dokter
harus menggabungkan prosedur dengan pemeriksaan tes intradermal.(
Kontraindikasi Skin Prick Test :Penderita dengan riwayat yang meyakinkan adanya
reaksi anafilaksis terhadap allergen, Penderita dengan gejala alergi terhadap makanan
sampai dengan gejala yang timbul stabil, Penderita dengan penyakit kulit misalnya
urtikaria, SLE dan lesi yang luas pada kulit.

c. Intradermal test

Tes intradermal atau tes intrakutan secara umum biasa digunakan ketika terdapat
kenaikan sensitivitas merupakan tujuan pokok dari pemeriksaan (misalnya ketika skin
prick test memberikan hasil negatif walaupun mempunyai riwayat yang cocok terhadap
paparan). Tes intradermal lebih sensitive namun kurang spesifik dibandingkan dengan
skin prick test terhadap sebagian besar alergen, tetapi lebih baik daripada uji kulit
lainnya dalam mengakses hipersensitivitas terhadap Hymenoptera (gigitan serangga) dan
penisilin atau alergen dengan potensi yang rendah.
Robert Cooke memberikan gambaran pertama kali untuk tes intradermal pada tahun
1915. Tehnik pemeriksaannya mengalami beberapa modifikasi sejak saat itu. Pada saat
ini prosedur tes intradermal digambarkan dengan menggunakan jarum 26 G untuk
menyuntikkan secara intradermal sebagian dari antigen, berbagai macam laporan
mengatakan batasannya 0,01 0,05 ml. batasan dari konsentrasi ekstrak adalah 1 : 500
sampai 1 : 1000. Test di nilai setelah 10 15 menit. Pada kasus tertentu baru dapat
dibaca setelah 24 48 jam. Eritem dan bentol merupakan tanda dan tingkatan dalam
skala subjektif adalah 0 - +4.

Gambar 3. Intradermal skin test

Keuntungan : Lebih sensitive (dapat mendeteksi alergi dengan kadar rendah),


reproducible dalam satu tempat
Kerugian : Lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif, Tingkat dalam respon lebih
bersifat subjektif, Tidak ada standarisasi dalam banyaknya dosis atau konsentrasinya,
Mungkin dapat muncul reaksi positif palsu pada sensitivitas tinggi
Tes intradermal merupakan tes yang baik, sensitive dan lebih reproducible. Keakuratan
lebih jelas didapatkan pada percobaan dengan berbagai macam dilusi dari ekstrak
allergen. Tetapi mempunyai kekurangan dalam standarisasi protokol tes.

d. Pacth Test

Tes pacth merupakan metode yang digunakan untuk mendeteksi zat yang
memberikan alergi jika terjadi kontak langsung dengan kulit. Metode ini sering
digunakan oleh para ahli kulit untuk mendiagnosa dermatitis kontak yang merupakan
reaksi alergi tipe lambat, dimana reaksi yang terjadi baru dapat dilihat dalam 2 3 hari.
Pemeriksaan pacth tes biasa dilakukan jika pemeriksaan dengan menggunakan skin
prick tes memberikan hasil yang negative.Pada pelaksanaan pemeriksaan disiapkan 25
150 material yang dimasukkan ke dalam kamar plastic atau aluminium dan di letakkan
di belakang punggung. Sebelumnya pada punggung diberikan tanda tempat-tempat yang
akan ditempelkan bahan allergen tersebut. Setelah ditempelkan, kemudian dibiarkan
selama 48 sampai 72 jam. Kemudian diperiksa apakah ada tanda reaksi alergi yang
dilihat dari bentol yang muncul dan warna kemerahan

Gambar 4. Keterangan :
A. Alergen dimasukkan ke dalam ruang aluminium

B. Logam aluminium di tempelkan di punggung


Reaksi iritasi terdiri dari sweat rash, follicular pustules dan reaksi seperti terbakar.
Reaksi yang meragukan berupa warna merah jambu dibawah kamar tes. Reaksi positif
lemah berupa warna merah jambu yang sedikit menonjol atau plak berwarna merah.
Reaksi positif kuat berupa papulovesicle dan reaksi ekstrem berupa kulit yang melepuh
atau luka. Reaksi yang relevan tergantung dari jenis dermatitis dan allergen yang
spesifik. Interprestasi dari hasil yang didapatkan membutuhkan pengalaman dan latihan.
(14)

Gambar 5. Keterangan :

A & B Hasil positif dari tes tempel (Pacth Tes)

C. Reaksi ++

D. Reaksi +++
Yang harus dipersiapkan pada saat melakukan pemeriksaan adalah :

2. Pemeriksaan Uji Provokasi Hidung (Nasal Provocation Test)

Tes ini merupakan cara menilai yang paling baik untuk rhinitis alergi. Hanya ini
metode yang digunakan dengan menempatkan secara langsung allergen spesifik
terhadap mukosa hidung. Metode ini menimbulkan gejala utama atau tanda dari pasien
dengan cara mengontrol antigen yang diduga dapat menimbulkan alergi dengan aplikasi
langsung ke membrane mucous hidung. Dan evaluasi dari respon pasien di catat.
Tehnik ini meliputi aplikasi yang selektif atas solution allergen ke kepala turbin
inferior. Sebelumnya dilakukan rhinomanometri dan 20 menit setelah pemberian
allergen. Untuk mengkonfirmasi efek alergi dari zat yang dites dengan menampakkan
reduksi yang significant dari kemampuan hidung untuk pembengkakan mukosa yang
reaktif. Sejak tes provokasi meliputi penempatan allergen secara langsung pada turbin,
mungkin dapat menimbulkan reaksi alergi yang hebat atau mungkin syok anafilaksis,
dan sepantasnya alat emergency tersedia pada ruang pemeriksaan.

2.6.2 Metode In Vitro

Setelah sifat-Sifat IgE diketahui pada tahun 1968, Maka dimungkinkan pembentukan
antisera terhadap kelas immunoglobulin ini. Hal ini membuka jalan untuk pelaksanaan peneraan
imun.(1) Telah ditemukan beberapa cara pemeriksaan in vitro terhadap alergi, yang pertama sekali
yaitu metode uji Radioalergosorbent (RAST) yang kemudian mendapat modifikasi, Enzyme-
linked immunoassay (ELISA)(1,3,4) dan beberapa metode baru yang terus ditemukan sesuai dengan
perkembangan teknologi. Namun pada penulisan ini hanya dibahas mengenai metode
pemeriksaan RAST dan ELISA.

Indikasi untuk tes secara in vitro:Pasien yang tidak respon terhadap control lingkungan dan
pengobatan konservatif, Kekhawatiran pada bayi dan anak yang sensitive terhadap reaksi atopi,
Pasien yang tidak mungkin diberhentikan pengobatan yang mungkin mempengaruhi pada
pemeriksaan uji kulit, Pasien dengan reaksi yang jelek pada imunoterapi, Evaluasi individu yang
sensitive ketika diprakarsai imunoterapi pada pasien atopi, Pemindahan pasien alergi pada
imunoterapi, Diagnosis reaksi sensitive IgE pada makanan, Kontra indikasi untuk tes secara
invitro, Pasien dengan positif riwayat sensitivitas dimana dengan terapi non spesifik dapat efektif
untuk mengurangi gejala, Pasien atopi yang asimtomatik terutama dalam imunoterapi, Pasien
dengan gejala namun pada uji kulit negative, Pasien dengan total IgE level dibawah 10 U/ml,
Pasien dengan diagnosis gangguan penghantar non IgE

a. Metode RAST

Merupakan metode yang sering dipakai dengan menggunakan allergen tidak larut
ke dalam suatu cakram kertas selulosa (alegosorben) yang mengikat IgE spesifik (dan klas
antibody lain) dari serum selama masa inkubasi pertama. Fase padat terikat
immunoglobulin kemudian dicuci dan pada inkubasi kedua ditambahkan suatu anti IgE
berlabel isotop I-125 (fc) atau anti IgE berlabel enzim (fc). Setelah pencucian selanjutnya
radioaktivitas yang terikat IgE pada cakram kemudian dihitung, atau pada antibody yang
berlabel enzim, dilakukan suatu inkubasi substrat agar dihasilkan suatu produk berwarna
atau berfluoresensi. Radioaktivitas terikat cakram atau kuantitas produk yang dihasilkan
aktivitas enzim dihubungkan dengan IgE terikat cakram memakai sumber serum rujukan
dari specimen yang tidak diketahui diinterpolasikan terhadap serum ini. Perlu ditekankan
bahwa system penilaian untuk semua proses ini belum sepenuhnya dikaitkan dengan
gambaran klinis. Secara umum nilai yang tinggi dapat ditemukan pada beberapa pasien non
alergi namun dapat pula tidak ditemukan pada individu alergi. Demikian pula nilai yang
rendah dapat ditemukan pada individu alergi seperti juga individu non alergi. Seluruh hasil
perhitungan harus diinterprestasikan dalam kaitannya dengan anamnesis.

Setelah dimodifikasi selama bertahun-tahun, RAST orisinil kini telah dipasarkan


untuk pengukuran IgE spesifik dalam serum manusia. Hasil-hasil relative dari system yang
lebih baru ini masih belum dinilai. Pada dasarnya, kebanyakan system peneraan
mempunyai system yang serupa dengan RAST

Bermacam-macam modifikasi tehnik radioimmumoassay (RIA) telah


dikembangkan untuk menyederhanakan dan memudahkan penggunaannya serta
meningkatkan sensitivitas maupun spesifitas. Dalam garis besar ada 2 macam metode, yaitu
metode yang berdasarkan reaksi antigen antibody dalam larutan (liquid fase) dan yang
berdasarkan reaksi antigen antibody pada benda padat atau partikel (solid phase). Pada
umumnya tehnik RIA dalam larutan menggunakan prinsip kompetitif, yaitu mereaksikan
antigen (Ag) yang tidak dilabel dan terdapat dalam specimen, bersama Ag yang dilabel I
(Ag*) dengan antibody (Ab) spesifik, sehingga Ag berlabel (Ag*) dan Ag dalam specimen
akan berkompetisi untuk mengikat Ab membentuk kompleks Ag*-Ab-Ag. Apabila kadar
Ag* sebelum reaksi diketahui, maka sisa Ag* yang tidak bereaksi atau yang terikat pada
kompleks dapat diukur radioaktivitasnya dan hasilnya merupakan parameter kadar Ag
dalam specimen. Di samping tehnik kompetitif, ada juga tehnik non kompetitif dengan cara
melekatkan Ag atau Ab pada suatu partikel kemudian mereaksikannya dengan specimen
yang diuji. Apabila yang diuji adalah antigen, maka partikel dilapisi dengan Ab spesifik,
kemudian direaksikan dengan specimen. Setelah itu ditambahkan Ab berlabel I (Ab*),
kemudian kompleks Ab-Ag-Ab* dipisahkan dan diukur radioaktivitasnya. Banyaknya Ab*
yang terikat merupakan ukuran untuk kadar Ag dalam specimen. Tehnik ini disebut tehnik
sandwich dan merupakan tehnik yang banyak digunakan. Suatu modifikasi tehnik sandwich
adalah setelah specimen direaksikan dengan partikel berlapis Ab, ditambahkan Ab spesifik
yang tidak berlabel, baru kemudian dibubuhkan anti Ig universal berlabel I (anti Ig*).

b. Metode Elisa (Enzyme Linked Immunosorbent Assay)


Prinsip tehnik ELISA sama dengan tehnik RIA, hanya saja pada tehnik ELISA
indicator (label) yang digunakan adalah enzim dan bukan radioisotope. Kelebihan tehnik
ELISA adalah : cukup sensitive, reagen mempunyai waktu paruh yang lebih panjang
dibandingkan reagen RIA, dapat menggunakan spektrofotometer biasa dan mudah
dilakukan automatisasi, dan yang paling penting adalah tidak mengandung bahaya
radioaktif. Seperti halnya pada tehnik RIA, pada tehnik ELISA juga dikenal metode
kompetitif dan non kompetitif. Apabila Ab digunakan untuk melapisi partikel maka metode
ini sering disebut capture, karena antigen dalam specimen seolah ditangkap oleh matriks
yang dilapisi Ab. Fase solid atau partikel yang dapat digunakan bermacam-macam,
diantaranya plastic, nitroselulosa, agarose, gelas, polyacrylamida, dan dekstran.

Bergantung pada apa yang ingin diuji, pada tehnik ELISA harus ada antibody atau
antigen yang dikonjugasikan dengan enzim dan substrat yang sesuai. Enzim yang paling
disukai untuk digunakan adalah fosfatase alkali (AP) dan horseradish peroxidase (HRP)
sedangkan substrat yang paling sering digunakan adalah o-phenylenediamine (OPD), dan
tetramethylbenzidine (TMB). Substrat para-nitrophenylphospate (pNPP) dapat dipilih
apabila enzim yang digunakan adalah fosfatase alkali. Hidrolisis substrat oleh enzim
biasanya berlangsung dalam waktu tertentu dan reaksi dihentikan dengan membubuhkan
asam atau basa kuat. Karena banyaknya antibody berlabel enzim (Ab E) yang terikat pada
kompleks Ag - AbE sesuai dengan kadar Ag dalam specimen, maka banyaknya enzim yang
terikat pada kompleks dan intensitas warna yang timbul setelah substrat dihidrolisis oleh
enzim yang terikat pada kompleks Ag - AbE merupakan untuk kadar Ag yang diuji.
Keuntungan tes secara in vitro: Mengurangi variabilitas dari respon kulit, Mengurangi efek
dari obat, Dapat selesai dalam satu tes darah; mengurangi tes kulit yang lama, Lebih
spesifik daripada tes uji kulit, Menyediakan penilaian kuantitatif dari alergi sehingga dapat
digunakan sebagai dasar menetapkan dosis awal imunoterapi, Aman pada pasien dengan
penggunaan beta bloker.
Kekurangan tes secara invitro: Lebih mahal dalam biaya, Dibutuhkan alat laboratorium
khusus dan pelatihan terhadap tehnisi, Kurang sensitif dibandingkan dengan tes uji kulit.