Anda di halaman 1dari 13

Alasan Mendasar

Paton dan Littleton (1970) mengajukan argumen mendasar dalam mendukung pendekatan
laba semua-termasuk konsep pemanfaatan aset (asset utilization). Konsep ini memandang
bahwa manajemen mengelola aset sebagai satu kesatuan. Dari segi pemanfaatan, sebenarnya
tidak dapat dipisahkan antara aset keuangan dan aset tetap sehingga keduanya mempunyai
pengaruh yang sama terhadap laba. Lawan dari konsep pemanfaatan aset adalah konsep aset
kapital (capital asset). Konsep ini membedakan aset kapital (yang terdiri atas aset tetap fisis)
dan aset lainnya sehingga pengaruh transaksi aset kapital (terutama yang luar biasa) terhadap
laba harus berbeda dengan transaksi aset lainnya. Berikut ini dibahas argumen Paton dan
Littleton mengenai pemanfaatan aset.

Konsep Pemanfaatan Aset

Statemen laba-rugi harus menyajikan secara efektif semua akibat dari pemanfaatan aset yang
diserahkan sepenuhnya kepada manajemen. Pemisahan laba menjadi normal dan tidak normal
dalam dua statemen akan cenderung mengalihkan pusat perhatian pemakai secara tidak
semestinya ke laba normal dengan demikian secara tidak sadar mengurangi perhatian
pembaca akan keefektifan manajemen secara keseluruhan. Misalnya saja, kalau laba normal
yang dilaporkan melalui statemen laba-rugi sudah memuaskan, kemungkinan pembaca akan
melalaikan sama sekali arti pentingnya suatu penghapusan fasilitas fisis yang sudah
ketinggalan jaman sebelum waktunya dihentikan yang langsung dibebankan ke laba ditahan.
Pembaca mungkin kelewatan untuk menanyakan apakah laba yang dilaporkan pada tahun-
tahun sebelumnya memang sudah benar kalau manajemen cukup jeli dalam mengantisipasi
perubahan teknologi. Paton dan Littleton menegaskan bahwa pemecahan yang paling logis
adalah membaca serangkaian statemen laba-rugi komprehensif perioda-perioda sebelumnya.

Manajemen mengelola aset yang dipercayakan kepadanya. Memang ada berbagai cara untuk
untuk memanfaatkan aset. Penggunaaan aset yang utama adalah untuk menghasilkan barang
atau jasa untuk memanfaatkan aset. Penggunaan aset yang utama adalah untuk menghasilkan
barang atau jasa untuk mendatangkan laba. Dalam hal ini, aset atau sumber ekonomik akan
berkurang dengan terjadinya kos produksi, biaya, dan rugi serta akan bertambah dengan
terjadinyanpendapatan, laba, dan untung luar biasa. Penggunaan aset yang kedua adalah
untuk dijadikan jaminan kontrak utang atau pendanaan dan untuk alat pelunasan konntrak
tersebut. Dalam hal ini, aset akan berkurang dengan dibayarnya utang dan dikembalikannya
modal dan akan bertambah dengan adanya pinjaman atau modal baru. Karena perbedaan
mendasari ini, perubahan akibat pemanfaatan aset untuk tujuan yang berbeda inii harus
dipisahkan dengan tegas dan jelas tetapi harus tetap dalam kategori perubahan akibat
transaksi operasi (non pemlik). Dengan kata lain, perubahann tersebut harus dilaporkan
melalui statemen laba-rugi.

Membatasi statemen laba-rugi hanya menyajikan laba normal sama saja dengan
mengeluarkan sebagian perubahan akibat pemanfaatan aset untuk tujuan produktif.
Pemisahan tersebut mempunyai akibat pembebanan langsung ke laba ditahan perubahan aset
yang sebenarnya merupakan transaksi operasi yaitu transaksi pemanfaatan aset untuk tujuan
produktif. Pemisahan tersebut mengurangi manfaat pelaporan yang menunjukkan keefektifan
manajemen dalam memanfaatkan aset dan berkuranglah fungsi statemen laba-rugi yang
sebenarnya.

Bukan berati bahwa informasi tentang laba normal tidak penting. Yang menjadi masalah
adalahusaha untuk mengungkapkan hal tersebut tidak harus menggunakan cara yang malahan
dapat menimbulkan salah interpretasi akibat tersembunyinya pos-pos yang mempunyai
pengaruh operasi perusahaan dalam jangka panjang. Di samping itu, perlakuan akuntansi
terhadap rugi dan untung luar biasa hendaknya tidak didasarkan atas kehendak atau selera
manajemen tetapi lebih didasarkan atas pertanyaan tentang apakah perubahan aset berkaitan
dengan transaksi operasi dalam menyelenggarakann perusahaan ataukah berkaitan dengan
transaksi modal.

Memang ada perbedaan antara biaya dan rugi (expenses and losses), dan antara laba dan
untung luar biasa (income and special gains) tetapi juga ada kesamaannya (similarities) yang
mendasar yaitu semuanya merupakan perubahan akibat pemanfaatan aset untuk tujuan
produktif. Bagi para pemakai statemen keuangan, justru kesamaan mendasarlah yang lebih
penting daripada perbedaannya. Kemungkinan kesalahan interpretasi akan lebih besar daalam
pelaporan terpisah daripada dalam pelaporan komprehensif.

Kekhawatiran bahwa pemakai akan salah interpretasi kalau laba normal tidak ditonjolkan
tidak beralasan lagi. Bukan jamannya lagi bahwa statemen keuangan harus disusun untuk
orang awam yang hanya membaca sambil lalu angka pada baris terakhir statemen laba-rugi
dan tidak lebih dari itu yang diperlukan sekarang adalah statemen keuangan yang
memungkinkan untuk ditelaah dan dianalisis oleh ahli yang mempunyai pengetahuan tentang
kegiatanbisnis dan ekonomik serta bersedia untuk belajar dengan cukup tekun (willing to
study the information with reasonable diligence). Dalam kenyataannya, para investor lebih
bergantung pada hasil analisis para ahli atau analisis profesional daripada hasil keputusannya
sendiri yang didasarkan atas interpretasi yang naif terhadap statemen keuangan perseroan.

Konsep Aset Kapital

Sebagai lawan konsep pemanfaatan aset, konsep ini membedakan fungsi aset lancar dan aset
tetap. Dengan demikian, perubahan aset tetap karena penjualan atau penghentian berbeda
dengan perubahan karena pemanfaatan aset untuk mebnciptakan laba (melalui depresiasi)
sehingga laba atau rugi pemberhentian aset harus dilaporkan terpisah sebagai penyesuai laba
ditahan. Laba atau rugi ini dipandang sebagai transaksi modal karena dianggap modal
pemegang saham tertanam dalam aset tetap. Ini berati jenis aset fisis tertentu sebagai potensi
jasa dianggap berbeda dengan aset lainnya sehingga rugi atau laba yang melekat pada jenis
aset tertentu dapat dilaporkan terpisah dari perubahan aset yang berkaitan langsung dengan
biaya dan pendapatan.

Paton dan Llittleton menyangkal konsep di atas. Secara konseptual, laba atau rugi yang
berkaitan dengan pemanfaatan aset tetap tidak berbeda dengan laba atau rugi yang berkaitan
dengan pengelolaan aset lacar. Lagipula, tidak ada alasan kuat untuk mengaitkan aset tetap
fisis dengan kontribusi modal oleh investor karena jenis aset tertentu secara tertentu tidak
dapatditelesuri dengan past asal sumber dananya. Dengan kata lain, jumlah rupiah dana
melekat dan campur jadi satu (commingled) dalam aset secara keseluruhan. Dengan dasar
pikiran ini, tidaklah dapat dibenarkan untuk menggolongkan laba atau rugi tertentu sebagai
rugi kapital (capital loss) yang sebenarnya tidak lebigh daripda laba atau rugi biasa
lantaran pemanfaatan aset.

Lebih lanjut ditemukan bahwa atas dasar konsep kontinuitas usaha, fluktuasi periodik dalam
pendapatan, biaya, dan laba bersih tidak dapat dihilangkan atau diratakan atas dasar kehendak
manajemen walaupun sampai tingkat tertentu fluktuasi tersebut dapat diantisipasi oleh
manajemen yang tajam dalam melihat masa depan, apapun jadinya, manajemen hanya dapat
mengharapkan untuk berbuat lebih baik di masa mendatang. Namun, kenyataan yang
merefleksi kebijakan pada pemakai yang menggantungkan diri pada statemen keuangan. Oleh
karena itu, pemakai harus diyakinkan bahwa serangkaian statemen laba-rugi beberapa
perioda yang lalu dapat mengungkapkan seluruh kemampuan manajemen dalam
memanfaatkan (the administration or utilization of assets) yang dipercayakan kepadanya.
Jadi, kebijakan masa yang lalu yang ternyata keliru setelah adanya fakta yang baru dan
relevan akan diakui secara jujur dan pengaruhnya akan dilaporkan dengan jelas dil statemen
laba-rugi dan bukannya disembunyikan sebagai penyesuai laba ditahan.

Uraian di atas melandasi pendekatan laba semua-termasuk yaitu bahwa semua faktor penentu
dalam pengukuran laba periodik dalam arti luas termasuk faktor luar biasa dan tidak rutin
harus dilaporkan dalam statemen laba-rugi sebelum hasil bersihnya dipindahkan ke kelompok
modal pemegang saham di neraca. Berikut ini adalah argumen yang diajukan oleh
Hendriksen dan Van Brede (1992, hlm. 372) dan sumber lainnya yang mendukung
pendekatan laba semua-termasuk dalam menyajikan statemen laba-rugi.

1. Secara teknis, ppenggunggungan laba tahunan selama umur perusahaan harus sama
dengan laba total perusahaan. Bukti empiris menuunjukkan bahwa rugi-rugi luar biasa
yang terjadi sepanjang umur perusahaan pada umumnya melebihi untung-untung luar
biasa. Oleh karena itu, bila pos-pos luar biasa dikeluarkan dari laba tahunan, akan
terjadi penyajian lebih (overstatement) laba tahunan sepanjang beberapa tahun.
2. Pengeluaran pos-pos non pemilik dari perhitungan laba memberi kesempatan pada
manajemen untuk melakukan manipulasi atau manajemen laba. Bukti empiris
menunjukkan bahwa karena berbagai alasan manajemen memang melakukan
manajemen laba (earnings management).
3. Tidak selalu mudah untuk menentukan apakah suatu pos bersifat operasi atau non
operasi, regular atau tak regular, normal atau tak normal, dan biasa atau luar biasa.
Dalam banyak hal pemisahan hal tersebut lebih didasarkan pada pertimbangan
subjektif dan arbitrer. Dengan pendekatan semua-termasuk, penentuan laba periodik
akan menjadi lebih objektif karena tidak diperlukan pertimbangan personal (personal
judgements) untuk menentukan pos-pos mana masuk statemen laba-rugi dan pos-pos
mana masuk statemen laba ditahan.
4. Dengan memasukkan semua pos-pos yang berasal dari transaksi non pemilik dan
dengan pengungkapan yang layak, pemakai laporan mempunyai keleluasaan untuk
mereklasifikasi dan menentukan sendiri laba antara yang dianggap berpaut dan
bermanfaatan untuk pengambilan keputusan.
5. Berkaitan dengan argumen 3, pengertian operasi perusahaan harus diinterpretasi
dalam perspektif yang luas tidak terbatas pada kegiatan produksi dan penjualan
produk utama. Apa yang dianggap sebagai non operasi atau luar biasa untuk
perusahaan yang satu dapat menjadi hal yang rutin atau biasa bagi perusahaan yang
lain. Bila jumlah rupiah dipakai sebagai dasar untuk memisahkan antara operasi/biasa
dan non operasi/luar biasa, dapat terjadi suatu pos yang dilaporkan sebagai operasi
untuk perioda tertentu (masuk statemen laba-rugi) akan menjadi non operasi untuk
perioda lainnya (masuk statemen laba ditahan). Jadi, pemisahan semacam itu akan
menimbulkan inkonsistensi pelaporan laba.

Atas dasar argumen-argumen di atas, FASB menganut pendekatan laba semua-termasuk


secara penuh dalam penentuan dan penyajian laba. Hal ini terrefleksi dalam pendefinisian
laba komprehensif sebagai salah satu elemen statemen keuangan. Laba komprehensif
didefinisi sebagai perubahan ekuitas selama perioda yang berasal dari sumber-sumber non
pemilik.

Penyajian Laba Komprehensif

Dengan dianutnya pendekatan laba semuatermasuk atau laba komprehensif, masalahnya


adalah bagaimana menyajikan kompenen-kompenen pembentuk laba komprehensif dan
bagaimana disajikan dalam statemen laba-rugi. Sebagai basis pembahasan penyajian laba,
Gambar 11.3 di bawah ini memuat komponen pembentuk statemen laba-rugi.

Gambar 11.3
Komponen-Komponen Pembentuk Statemen Laba-Rugi
(1) Seksi operasi utama
(a) Penjualan atau pendapatan
(b) Kos barang terjual
(c) Biaya penjualan
(d) Biaya administratif dan umum
(2) Seksi operasi tambahan
(a) Pendapatan lainnya dan untung
(b) Biaya lainnya dan rugi
(3) Pajak penghasilan
(4) Operasi hentian
(5) Pos-pos luar biasa
(6) Pengaruh kumulatif perubahan prinsip akuntansi
(7) Pengaruh kumulatif perubahan estimasi/taksiran
(8) Perubahan ekuitas non pemilik lainnya, termasuk pos-pos penerobos
Dengan pendekatan semua-termasuk, FASB memperluas cakupan pos-pos penerobos
(bypassing items). Pos-pos penerobos adalah pos-pos yang dilaporkan langsung dalam
statemen laba ditahan tanpa melalui statemen laba-rugi. Contoh pos-pos ini antara lain adalah
laba menahan/penahanan atau laba fluktuasi harga belum terrealisasi (unrealized holding
gains) dan penyesuaian penjabaran mata uang asing (foreign currency transaction
adjustments). Selain kedua pos ini, FASB juga mengantisipasi adanya pos-pos lain yang
merepresentasi perubahan ekuitas non pemilik yang harus dilaporkan melalui statemen laba-
rugi.

Komponen (6) dan (7) dalam Gambar 11.3 juga dikategori sebagai komponen perubahan
ekuitas non pemilik dan keduanya dsebut pengaruh kumulatif perubahan akuntansi atau
penyesuaian kumulatif akuntansi (cumulative accounting adjusments) sehingga pos-pos
selain yang masuk dalam kategori ini disebut dengan perubahan ekuitas non pemilik lainnya
(other non owner changes equity). Karena komponen (1) sampai (8) semuanya masuk dalam
statemen laba-rugi, angka bersih yang diperoleh disebut oleh FASB dengan laba
komprehensif. Tujuan dimasukkannya komponen (8) dalam statemen laba-rugi adalah untuk
mencegah penyembunyian atau penghilangan (omissions) secara diskresioner pos-pos laba
atau rugi tertentu dari statemen laba-rugi. Dengan kata lain, tujuannya adalah mencegah
penyalahgunaan (abuse).

Sebelum SFAC No. 6 diterbitkan, komponen yang masuk dalam statemen laba rugi semua-
termasuk hanyalah komponen (1) sampai (7) dan angka bersihnya disebut laba bersih (net
income). Dalam SFAC No. 6, komponen (6) dan (7) dikeluarkan dari laba bersih dan
dilaporkan sebagai perubahan ekuitas non pemilik dan angka bersih yang diperoleh dari
komponen (1) sampai (5) disebut dengan laba perioda (earnings) dan laba perioda setelah
komponen (6) dan (7) disebut laba perioda bersih (net earnings) atau tetap laba bersih. Bila
terjadi rugi, laba komprehensif menjadi rugi komprehensif. Laba komprehensif dapat disebut
pula perubahan ekuitas non pemilik total.

Terdapat dua pendekatan penyusunan statemen laba_rugi untuk menyajikan komponen (1)
sampai (8). Pendekatan satu-statemen menyajikan kedelapan komponen tersebut dalam satu
statemen yang diberi judul statemen laba-rugi dan laba-rugi komprehensif. Pendekatan dua-
statemen memisahkan pelaporan komponen (1) sampai (7) dalam statemen laba-rugi dan
menyajikan pengaruh komponen (8) terhadap laba perioda bersih dalam statemen laba-rugi
komprehensif. Untuk memberi gambaran seccara lengkap konsep laba komprehensif, Gambar
11.4 menyajikan contoh penyusutan laba rugi dengap pendekatan dua-statemen.

Gambar 11.4
Penyajian Statemen Laba-Rugi Komprehensif Pendekatan Dua Statemen
PT.ABC
Statemen Laba-Rugi
untuk Tahun Berakhir 31 Desember 200X
Pendapatan/penjualan Rp51.680.000
Kos barang terjual (28.430.000)
Laba kotor penjualan Rp23.250.000
Biaya penjualan dan administratif (12.500.000)
Laba dari operasi utama Rp10.750.000
Pendapatan lainnya dan untung Rp1.630.000
Biaya lainnya dan rugi (795.000) 835.000
Laba dari operasi berlanjut, sebelum pajak Rp9.915.000
Pajak penghasilan (2.225.000)
Laba dari operasi berlanjut Rp7.690.000
Operasi hentian, setelah pajak (290.000)
Laba sebelum kos ekstraordiner dan pengaruh
kumulatif perubahan akuntansi Rp7.400.000
Pos-pos ekstraordiner, setelah pajak 150.000
Laba perioda (earnings) Rp7.550.000
Pengaruh kumulatif perubahan akuntansi, setelah pajak 365.000
Laba perioda bersih/laba bersih Rp7.915.000

PT.ABC
Statemen Laba-Rugi Komprehensif
untuk Tahun Berakhir 31 Desember 200X

Laba perioda bersih Rp7.915.000


perubahan ekuitas nonpemilik lainnya:
Penyesuaian penjabaran mata uang asing Rp314.500
Untung belum terrealisasi atas sekuritas 56.000 371.000
Laba komprehensif Rp8.286.000

Biaya bunga dimasukkan dalam komponen biaya lainnya dan rugi. Angka bersih setelah
biaya lainnya dan rugi serta pajak penghasilan disebut laba dari operasi berlanjut. Jadi,
komponen (1) sampai (3) dalam Gambar 11.3 disebut komponen operasi (dalam arti luas) dan
membentuk laba dari operasi berlanjut. Hal ini berati dalam pos-pos komponen pendapatan
lainnya dan untung atau biaya lainnya dan rugi tidak dipandang sebagai pos-pos non operasi.
Oleh karena itu, pos-pos dalam komponen (4) sampai (8) sering disebut pos-pos takreguler
atau takteratur. Pengertian takreguler menjadi masalah bila dikaitkan dengan makna takumum
atau takbiasa dan luar biasa. Persoalannya adalah kapan suatu pos harus dikategori sebagai
komponen (2), komponen (5), atau lainnya. Bila masuk kelompok (5), apakah pos tersebut
tak biasa atau luar biasa. Berkaitan dengan ni, APBO No. 30 (prg. 20-24) mendeskripsi
kriteria untuk mengklasifikasi suatu kejadian atau transaksi yang membentuk pos-pos luar
biasa yaitu:

a. Ketakbiasaan (unusual nature)


b. Ketakseringan keterjadian (infrequency of occurness)
c. Materialitas (materiality)

Untuk mengkategori suatu kejadian atau transaksi ke dalam pos luar biasa, ketiga
karekteristik tersebut harus dipenuhi. Ketakbiasaan berarti bahwa kejadian atau transaksi
yang melandasi suatu pos mempunyai tingkat keabnormalan yang tinggi dan harus jelas-jelas
merupakan jenis yang sama sekali tidak berkaitan atau hanya berkaitan secara insidental
dengan kegiatan perusahaan dalam konteks lingkungan beroperasinya perusahaan.

Ketakseringan keterjadian/terjadinya berarti bahwa kejadian atau transaksi yang melandasi


suatu pos merupakan jenis yang bukan harapan umum atau yang tidak diantisipasi akan
terjadi di masa datang dalam konteks lingkungan beroperasinya perusahaan.

Materialitas berarti bahwa kejadian atau transaksi yang melandasi suatu pos harus
diklasifikasi secara terpisah sebagai pos luar biasa hanya kalau jumlah yang terlihat material
dalam kaitannya dengan atau relatif terhadap angka laba sebelum pos luar biasa,
kecenderungan (trend) laba sebelum pos luar biasa, atau ukuran materialitas yang lain. Bila
suatu pos material hanya memenuhi kriteria (a) atau (b), tidak dapat diklasifikasi sebagai pos
luar biasa. Hal ini dinyatakan dalam APBO No. 30 paaragfar 23.

Contoh pos-pos yang dapat dimasukkan dalam kategori ini misalnya adalah penghapusan
piutang, serta kos riset dan pengembangan, untung atau rugi penjabaran valuta asing
termasuk akibat dari devaluasi atau revaluasi, untung atau rugi pelepasan segmen bisnis,
untung atau rugi penjualan aset fisis, efek pemogokan, dan penyesuaian akrual dan efek
jangka panjang. Intinya, pos-pos material yang terbiasa atau terkadang, tetapi tidak keduanya,
masuk dalam kategori ini.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa pos-pos takreguler dilaporkan seperti pada contoh
dalam Gambar 11.4. Pos-pos material yang tidak memenuhi kriteria ekstraordiner dilaporkan
terpisah antara seksi operasi hentian dan seksi pos ekstraordiner. Gambar 11.5 melukiskan
kaidah keputusan untuk menyajikan semua pos atau komponen pembentuk statemen laba-rugi
komprehensif.

Gambar 11.5
Dalam PSAK No. 1, Dewan Standar Akuntansi menetapkan bahwa statemen laba-rugi harus
disajikan sedemikian sehingga mengungkapkan berbagai unsur kinerja keuangan yang
bermanfaat bagi pemakainya. Oleh karena itu, statemen laba-rugi minimal harus menyajikan
dan menonjolkan hal-hal berikut (pasal 56) .

(a) Pendapatan
(b) Laba atau rugi usaha
(c) Biaya pinjaman
(d) Bagian dari laba atau rugi perusahaan terafiliasi dan terasosiasi yang diperlukan
dengan metode ekuitas
(e) Pajak penghasilan
(f) Laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan
(g) Pos luar biasa
(h) Hak minoritas
(i) Laba atau rugi bersih perioda berjalan

Ketentuan tersebut bersifat umum dan berlaku untuk perusahaan jasa, perdagangan maupun
manufaktur. Butir (b) sebenarnya adalah laba antara setelah pendapatan atau butir (a)
dikurangi dengan biaya-biaya usaha. PSAK No. 1 menetapkan bahwa penyajian biaya-biaya
usaha dapat menggunakan klasifikasi (format) atas dasar sifat biaya atau fungsi biaya.

Dalam PSAK No. 25, IAI mengenalkan konsep laba atau rugi dalam aktivitas normal yang
dalam PSAK No. 1 disebut sebagai laba atau rugi usaha (pasal 56 butir b). Konsep ini sama
dengan konsep FASB yang disebut laba dari operasi berlanjut. PSAK No. 25 juga
mengenalkan konsep laba atau rugi untuk periode berjalan yang merupakan angka bersih dari
komponen berikut (Pasal 09):

(a) Laba atau rugi dari aktivitas normal


(b) Pos luar biasa

Dari uraian dalam PSAK No. 25 dapat dikatakan bahwa laba atau rugi untuk periode berjalan
serta dengan konsep laba perioda yang dikemukakan FASB. Dapat dikatakan demikian
karena komponen operasi hentian (operasi yang tidak berlanjut) dalam PSAK No. 25 dapat
diperlakukan sebagai aktivitas normal atau pos luar biasa bergantung pada kondisi yang
melingkupi (pasal 20).

Konsep aktivitas normal yang digunakan IAI tampaknya digunakan untuk menunjuk apa
yang oleh FASB disebut komponen regular sehingga yang tidak masuk dalam komponen
aktivitas normal dapat disebut sebagai komponen takreguler. Walaupun demikian, pengertian
pos luar biasa menurut PSAK No. 25 tampaknya lebih luas daripada pengertian menurut
FASB. Hal ini terlihat dari ketentuan bahwa komponen operasi hentian dan perubahan
estimasi akuntansi dimungkinkan untuk dilaporkan sebagai pos luar biasa (pasal 20 dan 28).
Gambar 11.6 meringkas perlakuan terhadap komponen-komponen takreguler dalam PSAK
No. 25 dan cara penyajiannya.

Gambar 11.6
Komponen-komponen Takregular dalam PSAK No. 25 dan penyajiannya
Komponen Perlakuan dan Penyajian
Pos luar biasa Komponen laba-rugi. Disajikan setelah laba yang
berasal dari Kegiatan normal perusahaan ditambah
pengungkapan dalam catatan kaki mengenai hakikat dan
pertimbangan keputusan.
Operasi hentian (yang Komponen laba-rugi. Ditambah pengungkapan dalam
tidsk dilsnjutksn) catatan kaki mengenai hakikat dan pertimbangan
keputusan. Tidak memenuhi kriteria luar biasa: disajikan
sebagai pos dalam kegiatan normal. Memenuhi kriteria
luar biasa: disajikan sebagai pos luar biasa. Ada unsur
ketidakpastian: disajikan sebagai pos kebergantungan.
Peruban estimasi akntansi Komponen laba rugi. Disajikan dalam perioda
terjadinya dan perioda akan datang atau prospektif (bila
perlu) ditambah pengungkapan dalam catatan kaki
mengenai hakikat perubahan. Disajikan dalam klasifikasi
yang sama dengan yang digunakan sebelumnya untuk
estimasi yang bersangkutan.
Kesalahan mendasar Penyesuai laba ditahan dengan kewajiban penyesuaian
retrospektif bila dipandang praktis ditambah
pengungkapan dalam catatan kaki tentang hakikat dan
informasi lain yang berpaut. Komponen laba-rugi jika
kesalahan tidak mendasar.
Perubahan kebijakan Penyesuaian laba ditahan secara retrospektif atau
akuntansi prospektif ditambah pengungkapan tentang alasan
perubahan dan informasi lain yang berpaut.

Karena ada pos-pos penerobos, IAI tidak menerapkan konsep penyusunan statemen laba-rugi
semua termasuk secara penuh. Dengan kata lain, laba bersih (angka akhir) dalam statemen
laba-rugi versi IAI tidak dapat dikatakan sebagai laba komprehensif penuh. Dalam PSAK No.
25 tidak dibahas atau dikenal apa yang disebut efek kumulatif perubahan akuntansi yang
harus dilaporkan dalam statemen laba-rugi berjalan sebagai alternatif perlakuan. Pendekatan
semacam ini disebut dengan current atau catch-up method sebagaimana dicontohkan dalam
gambar 11.4. Walaupun demikian, PSAK No.25 memperlakukan perubahan estimasi
akuntansi sebagai komponen statemen laba-rugi.

Kesimpulan

Konsep kesatuan usaha memisahkan secara fisik dan konseptual antara manajemen dan
pemilik. Ekuitas pemegang saham menggambarkan hubungan yuridis antara perseroan
dengan para pemegang saham. Ekuitas pemegang saham terdiri atas dua komponen yaitu
modal setoran dan laba ditahan. Modal setoran dipecahkan menjadi modal yuridis dan modal
setoran lain.

Ekuitas didefinisikan secara sintatik sebagai hak residual atas aset perusahaan setelah
dikurangi semua kewajiban. Ekuitas terpaksa didefinisi secara sintatik bukan semantik karena
keperluan untuk memprtahankan artikulasi statemen keuangan. Ekuitas mengandung makna
pemilikan. Oleh karena itu, untuk organisasi nonbisnis ekuitas sering disebut sebagai aset
bersih.

Ekuitas berbeda dengan kewajiban dalam tiga hal, yaitu hak atas penyelesaian klaim, hak
penggunaan aset, dan substansi perjanjian (yuridis). Walaupun demikian, atas dasar konsep
kesatuan usaha kreditor dan investor dipandang sebagai pihak luar perusahaan yang terpisah
dari manajemen.

Modal setoran perlu dibedakan dengan laba ditahan karena modal setoran merupakan suatu
bentuk kontrak yuridis yang harus dipertahankan keutuhannya sedangkan laba ditahan
merupakan modal yang tercipta atau terhimpun karena pemanfaatan aset. Modal setoran
merupakan perubahaan aset dalam rangka pendanaan (transaksi modal) sedangkan laba
ditahan merupakan perubahan aset dalam rangka produksi (transaksi operasi).

Kontrak yang sesungguhnya antara pemegang saham dan perseroan ditunjukan oleh
keseluruhan dana yang disetor (modal setoran) tanpa memperhatikan adanya modal yuridis
atau modal saham yang sering dianggap sebagai batas perlindungan bagi pihak lain.
Pemisahan dan pelaporan modal yuridis tidak menjadi masalah secara teknis. Akan tetapi,
secara konseptual modal yuridis dan modal setoran lain harus ditotal untuk menunjukan
modal setoran yang harus dibedakan dengan laba ditahan. Dari segi akuntansi, yang
mendasarkan diri pada konsep dasar substansi di atas bentuk, ekuitas pemegang saham adalah
seluruh jumlah yang secara ekonomik tertanam dalam perseroan termasuk laba ditahan.

Modal setoran dapat bertambah karena pemesanan saham, konversi status obligasi, konveersi
status saham istimewa, dividen saham, dan hak beli saham. Trnsaksi yang menyangkut hal-
hal tersebut merupakan transaksi modal sehingga tidak melibatkan sama sekali laba atau rugi
meskipun dalam beberapa kasus dapat melibatkan laba ditahan. Modal setoran dapat
berkurang karena saham treasuri. Masalah yang berkaitan dengan saham treasuri adalah: Dua
konsep dapat diterapkan yaitu konsep satu transaksi dan konsep dua transaksi.
Beberapa pos yang mempunyai potensi untuk mempengaruhi laba ditahan dan dilaporkan
sebagai penyesuai laba ditahan adalah penyesuaian perioda-lalu, koreksi kesalahan, pengaruh
perubahan akuntansi, dan kuasi reorganisasi. Secara umum, perubahan akibat ketiga
komponen pertama diperlakukan sebagai transaksi operasi sehingga dilaporkan dalam
statemen laba-rugi. Kuasi reorganisasi akan mempengaruhi laba ditahan secara langsung.

Kuasi-reorganisasi dilakukan apabila terdapatdefisit yang sukup besar tetapi


perusahaan masih berjalan baik dan mempunyai prospek yang baik pula. Hal ini, dilakukan
untuk mengatasi keadaan yang disebut bangkrut secara teknis sehingga perusahaan bebas dari
kemungkian bangkrut. atau pailit yang secara hukum mengarah ke likuidasi.

Saran

Alasan mendasar dianutnya pendekatan penyajian laba semua termasuk adalah konsep
pemanfaatan aset. Statemen laba-rugi harus menyajikan secara efektif semua akibat dari
pemanfaatan aset yang diserahkan sepenuhnya kepada manajemen. Pemisahan laba menjadi
normal dan tidak normal dalam dua statemen (laba rugi dan laba ditahan) akan cenderung
mengalihkan pusat perhatian pemakai secara tidak semestinya ke laba normal dan dengan
demikian secara tidak sadar mengurangi perhatian pembaca akan keefektifan manajemen
secara keseluruhan.

Pendekatan kinerja sekarang dilandasi kekhawatiran akan adanya fiksasi fungsional. Bila
pendekatan kinerja sekarang dianut, beberapa komponen akan dilaporkan sebagai komponen
perubahan laba ditahan. Komponen tersebut antara lain operasi hentian, pos-pos luar biasa,
pengaruh kumulatif perubahan akuntansi dan koreksi mendasar.

Pendekatan semua termasuk dilandasi oleh konsep kontinuitas usaha serta upaya dan hasil
yang menegaskan bahwa statemen laba-rugi harus memuat semua perubahan ekuitas
kecualiyang berasal dari transaksi dengan pemilik. Perubahan ekuitas harus dipisahkan
dengan tegas menjadi ekuitas yang berasal dari transaksi modal dan transaksi operasi.Laba
ditahan hanya akan berisi laba komprehensif yang dipindah dari statemen laba rugi dan
berbagai komponen transaksi modal seperti dividen dan saham treasuri.