Anda di halaman 1dari 12

BAB II

HIDROLISIS PATI ENZIMATIS


A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Menguraikan karbohidrat kompleks dari biomassa menjadi gula
sederhana melalui reaksi hidrolisis dengan enzim
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi hidrolisis
enzimatis

B. DASAR TEORITIS
Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut
dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan
bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan
glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Hewan dan
manusia juga menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting.Pati
tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam
komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera)
sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan
warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi.
Penjelasan untuk gejala ini belum pernah bisa tuntas dijelaskan. Pati
berbeda dengan tepung. Tepung merupakan bahan yang dihancurkan
sampai halus sedangkan pati merupakan polisakarida komplek yang tidak
larut dalam air dan digunakan oleh tumbuhan untuk menyimpan cadangan
glukosa (Anonim, 2006).

Enzim adalah biokatalisator yang merupakan molekul


biopolimer dantersusun dariserangkaian asam amino dalam komposisi
dan susunan rantai yang teratur dan tetap. Enzim memiliki peranan
yang sangat penting dalam berbagai reaksi kimia yang terjadi di
dalam sel yang mungkin sangat sulit dilakukan oleh reaksi kimia biasa
(Darmajana dkk.,2008).
Enzim merupakan protein yang berfungsi sebagai biokatalis
dalam sel hidup. Kelebihan enzim dibandingkan katalis biasa adalah (1)
dapat meningkatkan produk lebih tinggi; (2) bekerja pada pH yang
relatif netral dan suhu yang relatif rendah; dan (3) bersifat spesifik dan
selektif terhadap substrat tertentu. Enzim telah banyak digunakan dalam
bidang industri pangan, farmasi dan industri kimia 9lainnya. Enzim dapat
diisolasi dari hewan, tumbuhan dan mikroorganisme (Azmi, 2006)
Hidrolisis adalah proses dekomposisi kimia dengan menggunakan
air untuk memisahkan ikatan kimia dari substansinya. Hidrolisis pati
merupakan proses pemecahan molekul amilum menjadi bagian-bagian
penyusunnya yang lebih sederhana seperti dekstrin, isomaltosa, maltosa
dan glukosa (Rindit et al, 1998).

Proses hidrolisis dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: Enzim,


ukuran partikel, temperatur, pH, waktu hidrolisis, perbandingan cairan
terhadap bahan baku (volume substrat), dan pengadukan.

Hidrolisis enzimatik artinya hidrolisis yang dilakukan dengan


menggunakan bantuan enzim. Enzim yang digunakan bisa hanya satu jenis
ataupun beberapa jenis enzim yang berbeda. Ketika melakukan
penambahan enzim, perlu dilakukan pengaturan pada pH dan suhu agar
enzim dapat bekerja optimum. Apabila dibandingkan dengan hidrolisis
secara kimia (menggunakan asam atau basa), hidrolisis enzimatik jauh
lebih menguntungkan karena tidak mengakibatkan kerusakan asam amino
dan asam-asam amino bebas serta peptida dengan rantai pendek yang
dihasilkan lebih bervariasi.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
a. Beaker glass
b. Pipet ukur 5 ml
c. Pipet ukur 10 ml
d. Pipet ukur 100 ml
e. Erlenmeyer
f. Bunsen
g. Timbangan
h. Kompor listrik
i. Buret
j. Statif
k. Shaker
l. Ball filler
m. Tabung reaksi

2. Bahan
a. Aquades
b. Amilum
c. Urea
d. Jamur aspergulus niger
e. Larutan gula standar 0,1 M
f. Fehling A & fehling B

D. SKEMA KERJA

Memasukkan
alat(tabung reaksi
dan beaker glass)
kedalam autoklaf

Sterilisasi alat
T=120oC ; t=20
menit
Aquades 100 ml

Amilum 5 gr
Pemanasan di beaker glass 250 ml
mmmmmmm yang sudah diencerkan
Sedikit-sedikit

Pengaduka
n

pendinginan
Urea 0,3 gram
Larutan dimasukkan ke
erlenmeyer 125 ml

Arpergilus niger
4 spatula
Pengadukan dengan shaker
kecepatan 300 rpm

Gula standar 0,1 M dalam

100ml aquades Fehling A 0,5 ml + fehling B 0,5 m


+ 10 ml aquades dipanaskan

Titrasi
tit

kesetimbangan
Pengamatan hasil Inokulasi
Gambar. Skema Kerja Pembuatan media pertumbuhan mikroba dan sterilisasi.

E. DATA PENGAMATAN
Tabel. II. 1 Hasil pengamatan proses pembuatan larutan hidrolisa
No Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Amilum + aquades Berwana putih, sedikit keruh

2. Meneteskan larutan amilum ke dalam Berwarna bening, sedikit keruh


aquades mendidih dan sambil diaduk
3. Di diamkan sampai suhu ruang

4. Larutan di tambah urea Berwarna bening, sedikit keruh

5. Memindahkan larutan ke erlenmeyer Larutan bening, dan terdapat


dan sekaligus di tambah jamur material-material hitam
aspergilus niger

6. Pengadukan dengan shaker pada Larutan menjadi homogen


kecepatan 300 rpm

Tabel. II. 2 Hasil pengamatan standarisasi fehling

No Perlakuan Hasil Pengamatan


1. Fehling A 0,5 ml + fehling B 0,5 ml + Larutan berwarna biru
aquades 10 ml

2. Pemanasan larutan fehling hingga Larutan tetap berwarna biru


mendidih
3. Titrasi gula dengan larutan fehling Larutan fehling menjadi bening
dan terdapat endapan merah
bata

No Perlakuan Hasil Pengamatan


1. Fehling A 0,5 ml + fehling B 0,5 ml + Berwana biru
aquades 10 ml
2. Pemanasan larutan fehling dengan Berwana biru
bunses
3. Titrasi hidrolisis dengan larutan fehling Berwarna merah muda

Tabel. II. 3 hasil pengamatan dari kadar gula

G. SIMPULAN DAN SARAN


1. Simpulan

a. Pada praktikum kali ini tentang hidrolisis pati enzimatis,


praktikan sudah mampu mengidentifikasi hasil hidrolisis dan
mampu menghidrolisis pati secara enzimatis. Dari praktikum
hidrolisis pati enzimatis ini dapat disimpulkan bahwa enzim
dapat mempengaruhi larutan pati, pati bila dihdrolisis akan
menghasilkan senyawa-senyawa yang lebih sederhana dan
dapat dibuktikan dengan adanya perubahan warna.

b. Faktor-faktor yang dapat memperngaruhi jalannya proses


hidrolisis mungkin disebabkan oleh larutan yang belum
homogen atau belum teraduk sempurna dan kegagalan pada
proses inkubasi(bisa saja kurang lamanya proses inkubasi dan
pemilihan suhu yang bukan suhu optimal).

2. Saran
a. Sebaiknya sebelum praktikum, praktikan harus benar-benar
memperhatikan bahan-bahan yang harus disiapkan. Dengan
begitu ketika praktikum, bahan sudah siap dan sesuai dengan
bahan yang dibutuhkan untuk praktikum.

b. Sebaiknya pada praktikum, praktikan memperhatikan faktor-


faktor yang mempengaruhi jalannya reaksi hidrolisis enzimatis.

H. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Universitas Indonesia:
Jakarta.
Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta.
Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi Jilid 1. Yrama Widya: Bandung
Khaeruni, A dan V. N. Satrah. 2014. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Dasar :
Fakultas Pertanian UHO. Kendari.

Anonim, 2009, Uji Kualitatif Untuk Identifikasi Karbohidrat I dan II,


Laboratorium Kimia Universitas Nasional. Jakarta

Harwati, Usa., S., Widodo. H.N Sofian., M. Barwami. 1997. Biologi


Untuk SMU. Fajar Agung. Jakarta.

Rindit, Pambaylun, dkk. 1998. Laporan Penelitian : Mempelajari


Hidrolisis Pati Gadung (Dioscoreahispida Dernst) dengan
Enzim -amilase dan Gluko amilase untuk Pembuatan Sirup
Glukosa. Fakultas Pertanian UNSRI. PalembangAnonim.
2006. http://www.bps.go.id. 28 Juli 2006
Tim Dosen Teknologi Bioproses. 2013. Petunjuk Praktikum Teknologi
Bioproses Jurusan Teknik Kimia. FT UNNES. Semarang
Anonim. 2006. http://www.bps.go.id. 28 Juli 2006
Lampiran

Medium ialah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi (zat
makanan) yang dipakai untuk menumbuhkan mikroba termasuk bakteri
patogen tanaman. Selain itu menumbuhkan mikrobia medium dapat
digunakan pula untuk isolasi, memperbanyak, pengujian sifat-sifat
fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba (Khaeruni dan Satrah, 2014).
Medium harus mengandung nutrien yang merupakan substansi
dengan berat molekul rendah dan mudah larut dalam air. Nutrien ini adalah
degradasi dari nutrien dengan molekul yang kompleks. Nutrien dalam
medium harus memenuhi kebutuhan dasar makhluk hidup, yang meliputi
air, karbon, energi, mineral dan faktor tumbuh (Label, 2008)
Mikroorganisme dapat menggunakan makanan dalam bentuk padat
dan dapat pula yang hanya menggunakan bahan-bahan dalam bentuk
cairan atau larutan. Mikroorganisme yang menggunakan makanannya
dalam bentuk padat tergolong tipe holozoik. Mikroorganisme yang dapat
menggunakan makanannya dalam bentuk cairan atau larutan disebut
holofitik. Ada beberapa mikroorganisme yang dapat menggunakan
makanannya dalam bentuk padatan, tetapi makanan tersebut sebelumnya
harus dicerna, di luar sel dengan bantuan enzim ekstraseluler (Anonim,
2009).
Tiap sel harus mensintesis sendiri konstituen tubuhnya dari zat-zat
sederhana yang ditemukan dalam lingkungannya. Kebanyakan dari zat-zat
ini berupa makanan dalam bentuk suspensi atau larutan yang ditemukan
dalam air laut, sungai, danau, air selokan, atau bahan-bahan organik lain
yang mengalami penguraian, dan sebagainya. Sifat kimia dan fisika dari
habitat ini menentukan jenis organisme yang dapat tumbuh atau hidup di
lingkungan itu (Irianto, 2006).
Sterilisasi merupakan proses untuk mematikan semua
mikroorganisme yang hidup. Adanya pertumbuhan mikro menyatakan
bahwa pertambahan bakteri masih berlangsung dan tak sempurnanya
proses sterilisasi. Jika proses sterilisasi berlangsung sempurna, maka spora
bakteri yang merupakan bentuk paling resikan dari kehidupan mikroba tak
akan terlihat lagi. Sterilisasi merupakan metode praktis yang dirancang
untuk membersihkan dari mikroorganisme, atau sengaja untuk
menghambat pertumbuhannya. Mikroorganisme sangat berbeda, dalam
kelemahannya terdapat berbagai macam agen antimikroba (Suriawiria,
2005).
Cara kerja sterilisasi ialah cara kerja agar terhindar dari kontaminasi,
cara steril ini digunakan pada pembuatan media, dan pembuatan preparat.
Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara: (Anonim, 2009)
Alat-alat yang dipakai ketika penanaman, harus dalam keadaan
steril. Alat-alat logam dan gelas dapat disterilkan dalam autoklaf. Alat
tanam seperti: pinset dan gunting dapat juga disterilkan dengan
pembakaran atau dengan pemanasan dalam bacticinerator (Irianto, 2006).
Kurva pertumbuhan diawali dengan fase awal (lag) yang
merupakan masa penyesuaian mikroba. Pada fase tersebut terjadi sintesis
enzim oleh sel yang dipergunakan untuk metabolisme metabolit. Setelah
fase awal selesai, baru mulai terjadi reproduksi selular. Konsentrasi selular
meningkat, mula-mula perlahan kemudian makin lama makin meningkat
sampai pada suatu saat laju pertumbuhan atau reproduksi seluler mencapi
titik maksimal dan terjadi pertumbuhan secara logaritmik atau eksponesial
(Putranto, 2006). Fase logaritmik dicirikan dengan suatu garis lurus pada
plot antara ln berat kering terhadap waktu. Periode eksponensial
merupakan periode pertumbuhan mikroorganisme yang stabil dengan laju
pertumbuhan spesifik, () konstan (Panji et al., 2002).
Selanjutnya setelah subtrat atau persenyawaan tertentu yang
diperlukan untuk pertumbuhan bakteri dalam media biakan mendekati
habis dan terjadi penumpukan produk-produk penghambat, maka terjadi
penurunan laju pertumbuhan bakteri tersebut. Fase penurunan ditandai
oleh berkurangnya jumlah sel hidup (viable) dalam media akibat
terjadinya kematian (mortalitas) (Mangunwidjaja et al.,1994)
Inokulasi merupakan pekerjaan memindahkan bakteri dari medium
yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat
tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu
diusahakan agar semua alat yang ada di dalam hubungannya dengan
medium agar tetap sterli, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi
(dwijoeseputro,2005)