Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

TITRASI ASAM BASA

NAMA : Silvinus A. Babu


KELAS : XI MIPA 5

SMAK GIOVANNI KUPANG


TITRASI BASA LEMAH OLEH ASAM KUAT

Tutjuan : menentukan konsentrasi asam-basa dengan


melakukan titrasi

TEORI:

Pengertian Titrasi Asam Basa

Titrasi adalah prosedur menetapkan kadar suatu


larutan dengan mereaksikan sejumlah larutan tersebut
yang volumenya terukur dengan suatu larutan lain
yang telah diketahui kadarnya (larutan standar) secara
bertahap. Berdasarkan jenis reaksi yang terjadi, titrasi
dibedakan menjadi titrasi asam basa, titrasi
pengendapan, dan titrasi redoks. Dalam artikel ini,
yang akan dibahas lebih lanjut hanya titrasi asam basa
saja.

Pada label yang tertera pada botol cuka makan


umumnya terdapat informasi kadar cuka tersebut.
Misalkan, pada suatu botol cuka tertulis 25% asam
cuka, bagaimana cara memastikan kebenaran dari
kadar tersebut? Penentuan kadar asam cuka dapat
dilakukan dengan prosedur eksperimen menggunakan
metode titrasi.

Dalam menentukan kadar asam cuka, metode titrasi


yang digunakan adalah titrasi asam basa. Titrasi asam
basa adalah penentuan kadar suatu larutan basa
dengan larutan asam yang diketahui kadarnya atau
sebaliknya, kadar suatu larutan asam dengan larutan
basa yang diketahui, dengan didasarkan pada reaksi
netralisasi. Titrasi harus dilakukan hingga mencapai
titik ekivalen, yaitu keadaan di mana asam dan basa
tepat habis bereaksi secara stoikiometri. Titik ekivalen
umumnya dapat ditandai dengan perubahan warna dari
indikator. Keadaan di mana titrasi harus dihentikan
tepat pada saat indikator menunjukkan perubahan
warna disebut titik akhir titrasi. Jadi, untuk memperoleh
hasil titrasi yang tepat, maka selisih antara titik akhir
titrasi dengan titik ekivalen harus diusahakan
seminimal mungkin. Hal ini dapat diupayakan dengan
memilih indikator yang tepat pada saat titrasi, yakni
indikator yang mengalami perubahan warna di sekitar
titik ekivalen.

A. KOMPETENSI DASAR
Menentukan konsentrasi/kadar asam atau basa
berdasarkan data hasil titrasi asam basa

B. MATERI POKOK
Titrasi asam basa

C. JUDUL PRAKTIKUM
Titrasi basa lemah oleh asam kuat

D. TUJUAN
Menentukan konsentrasi asam-basa dengan melakukan
titrasi

E. ALAT DAN BAHAN


a. Alat
Buret
Statif
Pipet tetes
Labu Erlenmeyer
Gelas kimia
Gelas ukur
Corong
b. Bahan
Larutan NH4OH
Larutan HCl 0,1 M
Metil merah

F. CARA KERJA
1. Mengambil 25 ml larutan NH4OH yang telah disiapkan,
kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer.
2. Menambahkan 3-4 tetes indikator metil merah ke dalam
erlenmeyer.
3. Mengisi buret dengan larutan HCl hingga garis 0 ml
( sebaiknya buret dibilas dulu dengan larutan yang
sama).
4. Mencatat volume awal HCl 0,1 M yang terteraa pada
skala buret. Melakukan titrasi pada larutan NH 4OH
dengan membuka kraan buret yang berisi karutan HCl
0,1 M secara perlahan. Pada saat titrasi, gelas
erlenmeyer diguncang.
5. Menghentikan titrasi ketika mulai terjaddi perubahan
warna pada campuran. Titik saat terjadi perubahan
warna ini disebut titik akhir titrasi.
6. Mencatat volume akhir HCl 0,1 M dan hitunglah voleme
yang diutuhkan dalam titrasi.
7. Mengulangi kegiatan titrasi ( langkah 1-7) sebanyak 2
kali lagi dengan larutan NH4OH dan HCl yang sama.
8. Mencatat semua data yang diperoleh.

G. DATA PENGAMATAN

Titrasi Volume larutan NH4OH Volume larutan HCl


ke- yang digunakan yang digunakan
1
2
3
Rata- VA = VB =
rata
H. ANALISIS DATA/PERTANYAAN DISKUSI
1. Jelaskan pengertian dari titrasi asam-basa. Apakah
tujuan dari titrasi tersebut?
2. Pada proses titrasi terdapat istilah titik akhir titrasi.
Berilaah penjelasan terkait dengan titik akhir titrasi
tersebut. Bagaimana cara menentukannya?
3. Pada kegiatan titrasi larutan NH4OH dengan karutan HCl
0,1 M di atas, digunakan indikator Metil Merah (MM).
Mengapa harus memiih indikator tersebut?
4. Jika 30 ml larutan asam bromida (HBr) dititrasi dengan
larutan kalium hidroksidda (KOH) 0,2 M; untuk
mencapai hingga titik akhir titrasi dibutuhkan larutan
KOH 0,2 M rata-rata sebanyak 15 ml. Berapakah
konsentrasi HBr?
5. Tuliskan reaksi ionisasi H2SO4 yang dilarutnan dalam air
murni. Tentukan perbandingan konsentrasi H+ yang
dihasilkan dengan konsentrasi H2SO4. Bagaimana
pengaruh perbandingan tersebut dengan titrasi larutan
H2SO4?
6. Berikut data hasil titrasi H2SO4 dengan NaOH 0,2 M:

Percoba Volume H2SO4 yang Volume NaOH yang


an dititrasi digunakan
1 20 ml 9 ml
2 20 ml 11 ml
3 20 ml 10 ml

Berdasarkan data tersebut, hitung konsentraasi H 2SO4.

Jawaban Pertanyaan :

1. Titrasi adalah metode penentuan kadar lerutan asam


dengan zat peniter suatu larutan basa atau penentuan
kadar larutan basa dengan zat peniter suatu larutan asam.
Titrasi itu sendiri bertujuan untuk menentukan kadar asam
atau basa suatu larutan.
2. Titik akhir titrasi adalah keadaan dimana reaksi telah
berjalan dengan sempurna yang biasanya ditandai dengan
pengamatan visual melalui perubahan warna indikator.
Beberapa metode penentuan titik akhir titrasi antara lain :
Indikator: suatu senyawa yang berubah warna sesuai
dengan perubahan kimia.
Suatu indikator asam-basa(misal:fenolftalein)
berubah warna sesuai pH. Indikator redoks juga bisa
digunakan. Setetes larutan indikator ditambahkan
sejak awal titrasi; titik akhir titrasi tercapai ketika
terjadi perubahan warna.
Potensiometer: Suatu instrumen yang mengukur
potensial electrode suatu larutan. Ini digunakan
untuk titrasi redoks; potensial electrode kerja akan
tiba-tiba berubah saat titik akhir titrasi tercapai.
pH meter: Sebuah potensiometer dengan electrode
yang potensialnya bergantung pada jumlah ion H+
dalam larutan, (ini merupakan contoh electrode ion-
selektif.) pH larutan diukur selama titrasi, lebih akurat
daripada indicator; pada titik akhir titrasi akan terjadi
perubahan mendadak pH terbaca.
Konduktivitas: Suatu pengukuran ion dalam larutan.
Konsentrasi ion dapat berubah secara signifikan
dalam suatu titrasi, yang akan mengubah
konduktivitas. (Misalnya, selama titrasi asam-basa,
ion H+ dan OH- bereaksi membentuk H2O yang
netral.) oleh karena total konduktansi bergantung
pada keberadaan seluruh ion dalam larutan dan tidak
seluruh ion memiliki kontribusi yang seimbang
(tergantung pada mobilitas & kekuatan ion),
memperkirakan perubahan konduktivitas lebih sulit
daripada mengukurnya.
Perubaha warna: Dalam beberapa reaksi, lerutan
berubah warna tanpa penambahan indicator. Hal ini
sering dijumpai dalam titrasi redoks ketika tingkat
oksidasi yang berbeda dari suatu produk dan
pereaksi menghasilkan warna yang berbeda.
Pengendapan(presipitasi): Jika suatu reaksi
menghasilkan padatan, akan terbentuk endapan
selama titrasi. Contoh klasik adalah reaksi antara Ag +
dan Cl- membentuk AgCl yang tidak larut pada titrasi
Argentometri. Keruhnya endapan biasanya
mempersulit penentuan titik akhir titrasi secara
tepat. Untuk menanggulanginya, titrasi preipitasi
sering kali diimbangi dengan titrasi balik(lihat di
bawah).
Titrasi Kalorimeter isothermal: Suatu instrument yang
mengukur panas yang dikeluarkan atau diserap oleh
reaksi untuk menentukan titik akhir titrasi. Ini
digunakan dalam titrasi biokimia, seperti penentuan
bagaimana substrat mengikat enzim.
Titrimetri termometri: Dibedakan dari titrimetri
kalorimetri karena panas reaksi (ditandai dengan
peningkatan atau penurunan temperatur) tidak
digunakan untuk menentukan jumlah analit dalam
larutan sampel. Tetapi, titik akhir titrasi ditentukan
oleh laju perubahan temperatur.
Spektroskopi: Digunakan untuk mengukur absorpsi
cahaya oleh larutan selama titrasi jika spectrum
pereaksi, titran atau produk diketahui. Konsentrasi
bahan dapat ditentukan menggunakan Hukum Beer.
Amperometri: Pengukuran arus yang dihasilkan oleh
reaksi titrasi sebagai hasil dari oksidasi atau reduksi
analit. Titik akhir titrasi dideteksi sebagai perubahan
arus. Metode ini sangat berguna ketika kelebihan
pentiter dapat direduksi, seperti dalam titrasi halida
dengan Ag+.

3. Karena indicator Metil Merah(MM) memenuhi trayek


pH.

4. VaMa = VbMb
30Ma = 5 x 0,2

30Ma = 3

Ma = 0,1 M.

5. H2SO4 2H+ + SO42-

Perbandingannya = 2:1

Pengaruhnya adalah agar kita dapat menghitung


konsentrasi titrat dari mol titrat yang dibutuhkan dalam
proses titrasi.

6. Prinsip titrasi pada soal ini adalah keseimbangan


jumlah mol kedua zat.

Volume NaOH yang digunakan adalah volume rata-rata =


(9+10+11) /3 mL = 10 mL

Volume H2SO4 x molaritas H2SO4 = Volume NaOH x


mollaritas NaOH

20 mL x molaritas HCl = 10 mL x 0,2

Molaritas HCl = (10 mL x 0,2) : 20

Molaritas HCl = 0,1 M.