Anda di halaman 1dari 7

DHF

(ICD X : A91)
No. Dokumen : SOP/UKP/PO.01/026
No. Revisi : 00
SOP
Tgl. Terbit : 1 April 2017
Halaman : 1/6
UPT.PUSKESMAS dr. I GN B. Sastrawan Dj, M.Kes
KUTA SELATAN Nip.197101232000121004

1. Pengertian
Dengue Haemmoragic Fever atau Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus Dengue.
2. Tujuan
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah tatalaksana penyakit demam berdarah dengue.
3. Kebijakan
1. SK Kepala Puskesmas Kuta Selatan No. 100/76/Pusk KS/2017 tentang Standar Layanan Klinis.
2. SK Kepala Puskesmas Kuta Selatan No.100/21/Pusk KS/2017 tentang Kebijakan mutu.
3. SK Kepala Puskesmas Kuta Selatan No. 100/71/Pusk KS/2017 tentang Kewajiban tenaga klinis
dalam peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien.

4. Referensi
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Edisi revisi.
Jakarta. 2015
5. Alat dan Bahan
1. Poliklinik set (termometer, tensimeter, senter)
2. Infus set
3. Cairan kristaloid (RL/RA) dan koloid
4. Lembar observasi / follow up
5. Laboratorium untuk pemeriksaan darah rutin
6. Langkah- Langkah :
1. Melakukan Anamnesis (Subjective)

Keluhan
1. Demam tinggi, mendadak, terus menerus selama 2 7 hari.
2. Manifestasi perdarahan, seperti: bintik-bintik merah di kulit, mimisan, gusi berdarah,
muntah berdarah, atau buang air besar berdarah.
3. Gejala nyeri kepala, mialgia, artralgia, nyeri retroorbital.
4. Gejala gastrointestinal, seperti: mual, muntah, nyeri perut (biasanya di ulu hati atau di
bawah tulang iga)
5. Kadang disertai juga dengan gejala lokal, seperti: nyeri menelan, batuk, pilek.
6. Pada kondisi syok, anak merasa lemah, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran.
7. Pada bayi, demam yang tinggi dapat menimbulkan kejang.
Faktor Risiko
1. Sanitasi lingkungan yang kurang baik, misalnya: timbunan sampah, timbunan barang bekas,
genangan air yang seringkali disertai di tempat tinggal pasien sehari-hari.
2. Adanya jentik nyamuk Aedes aegypti pada genangan air di tempat tinggal pasien sehari-
hari.
3. Adanya penderita demam berdarah dengue (DBD) di sekitar pasien.

2. Melakukan Pemeriksaan fisik dan Pemeriksaan Penunjang (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Tanda patognomonik untuk demam dengue
1. Suhu > 37,5 derajat celcius
2. Ptekie, ekimosis, purpura
3. Perdarahan mukosa
4. Rumple Leed (+)
Tanda Patognomonis untuk demam berdarah dengue
1. Suhu > 37,5C
2. Ptekie, ekimosis, purpura
3. Perdarahan mukosa
4. Rumple Leed (+)
5. Hepatomegali
6. Splenomegali
7. Untuk mengetahui terjadi kebocoran plasma, diperiksa tanda-tanda efusi pleura dan asites.
8. Hematemesis atau melena
Pemeriksaan Penunjang :
1. Darah perifer lengkap, yang menunjukkan:
a. Trombositopenia ( 100.000/L).
b. Kebocoran plasma yang ditandai dengan:
peningkatan hematokrit (Ht) 20% dari nilai standar data populasi menurut umur
Ditemukan adanya efusi pleura, asites
Hipoalbuminemia, hipoproteinemia
c. Leukopenia < 4000/L.
2. Serologi Dengue, yaitu IgM dan IgG anti-Dengue, yang titernya dapat terdeteksi setelah
hari ke-5 demam.
3. Melakukan Penegakan diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
1. Demam 27 hari yang timbul mendadak, tinggi, terus-menerus, bifasik.
2. Adanya manifestasi perdarahan baik yang spontan seperti petekie, purpura, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan atau melena; maupun berupa uji tourniquet
positif. 3. Nyeri kepala, mialgia, artralgia, nyeri retroorbital.
3. Adanya kasus DBD baik di lingkungan sekolah, rumah atau di sekitar rumah.
4. Leukopenia < 4.000/mm3
5. Trombositopenia < 100.000/mm3
6. Apabila ditemukan gejala demam ditambah dengan adanya dua atau lebih tanda dan
gejala lain, diagnosis klinis demam dengue dapat ditegakkan.
Diagnosis Klinis Demam Berdarah Dengue
1. Demam 27 hari yang timbul mendadak, tinggi, terus-menerus (kontinua)
2. Adanya manifestasi perdarahan baik yang spontan seperti petekie, purpura, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan atau melena; maupun berupa uji
Tourniquette yang positif
3. Sakit kepala, mialgia, artralgia, nyeri retroorbital
4. Adanya kasus demam berdarah dengue baik di lingkungan sekolah, rumah atau di sekitar
rumah
a. Hepatomegali
b. Adanya kebocoran plasma yang ditandai dengan salah satu:
Peningkatan nilai hematokrit, >20% dari pemeriksaan awal atau dari data
populasi menurut umur
Ditemukan adanya efusi pleura, asites
Hipoalbuminemia, hipoproteinemia
c. Trombositopenia <100.000/mm3

2/6
Adanya demam seperti di atas disertai dengan 2 atau lebih manifestasi klinis, ditambah bukti
perembesan plasma dan trombositopenia cukup untuk menegakkan diagnosis Demam
Berdarah Dengue. Tanda bahaya (warning signs) untuk mengantisipasi kemungkinan
terjadinya syok pada penderita Demam Berdarah Dengue.
Klinis Demam turun tetapi keadaan anak memburuk Nyeri perut dan nyeri tekan
abdomen Muntah persisten Letargi, gelisah Perdarahaan mukosa Pembesaran hati
Akumulasi cairan Oliguria
Laboratorium Peningkatan kadar hematokrit bersamaan dengan penurunan cepat jumlah
trombosit Hematokrit awal tinggi

Kriteria Diagnosis Laboratoris Kriteria Diagnosis Laboratoris diperlukan untuk survailans


epidemiologi, terdiri atas:
1. Probable Dengue, apabila diagnosis klinis diperkuat oleh hasil pemeriksaan serologi
antidengue.
2. Confirmed Dengue, apabila diagnosis klinis diperkuat dengan deteksi genome virus
Dengue dengan pemeriksaan RT-PCR, antigen dengue pada pemeriksaan NS1, atau
apabila didapatkan serokonversi pemeriksaan IgG dan IgM (dari negatif menjadi positif)
pada pemeriksaan serologi berpasangan. Isolasi virus Dengue memberi nilai yang sangat
kuat dalam konfirmasi diagnosis klinis, namun karena memerlukan teknologi yang
canggih dan prosedur yang rumit pemeriksaan ini bukan merupakan pemeriksaan yang
rutin dilakukan. Diagnosis Banding 1. Demam karena infeksi virus (influenza ,
chikungunya, dan lainlain)
3. Idiopathic thrombocytopenic purpura
4. Demam tifoid
Komplikasi Dengue Shock Syndrome (DSS), ensefalopati, gagal ginjal, gagal hati
4. Melakukan Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada Pasien Dewasa
1. Terapi simptomatik dengan analgetik antipiretik (Parasetamol 3x500-1000 mg).
2. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi
- Alur penanganan pasien dengan demam dengue/demam berdarah dengue,
yaitu:pemeriksaan penunjang Lanjutan
- Pemeriksaan Kadar Trombosit dan Hematokrit secara serial
5. Memberikan konseling dan edukasi

Konseling dan Edukasi


1. Pinsip konseling pada demam berdarah dengue adalah memberikan pengertian kepada
pasien dan keluarganya tentang perjalanan penyakit dan tata laksananya, sehingga pasien
dapat mengerti bahwa tidak ada obat/medikamentosa untuk penanganan DBD, terapi hanya
bersifat suportif dan mencegah perburukan penyakit. Penyakit akan sembuh sesuai dengan
perjalanan alamiah penyakit.
2. Modifikasi gaya hidup
a. Melakukan kegiatan 3M: menguras, mengubur, menutup.
b. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan melakukan
olahraga secara rutin.

6. Melakukan pencatatan data pasien pada rekam medis

7. Melakukan rujukan bila diperlukan

3/6
Kriteria Rujukan
1. Terjadi perdarahan masif (hematemesis, melena).
2. Dengan pemberian cairan kristaloid sampai dosis 15 ml/kg/jam kondisi belum membaik.
3. Terjadi komplikasi atau keadaan klinis yang tidak lazim, seperti kejang, penurunan
kesadaran, dan lainnya.

Penatalaksanaan pada Pasien Anak


Demam berdarah dengue (DBD) tanpa syok
1. Bila anak dapat minum
a. Berikan anak banyak minum
Dosis larutan per oral: 1 2 liter/hari atau 1 sendok makan tiap 5 menit.
Jenis larutan per oral: air putih, teh manis, oralit, jus buah, air sirup, atau susu.
b. Berikan cairan intravena (infus) sesuai dengan kebutuhan untuk dehidrasi sedang.
Berikan hanya larutan kristaloid isotonik, seperti Ringer Laktat (RL) atau Ringer
Asetat (RA), dengan dosis sesuai berat badan sebagai berikut:
Berat badan < 15 kg : 7 ml/kgBB/jam
Berat badan 15 40 kg : 5 ml/kgBB/jam
Berat badan > 40 kg : 3 ml/kgBB/jam
2. Bila anak tidak dapat minum, berikan cairan infus kristaloid isotonik sesuai kebutuhan
untuk dehidrasi sedang sesuai dengan dosis yang telah dijelaskan di atas.
3. Lakukan pemantauan: tanda vital dan diuresis setiap jam, laboratorium (DPL) per 4-6
jam.
a. Bila terjadi penurunan hematokrit dan perbaikan klinis, turunkan jumlah cairan
secara bertahap sampai keadaan klinis stabil.
b. Bila terjadi perburukan klinis, lakukan penatalaksanaan DBD dengan syok.
4. Bila anak demam, berikan antipiretik (Parasetamol 10 15 mg/kgBB/kali) per oral.
Hindari Ibuprofen dan Asetosal.
5. Pengobatan suportif lain sesuai indikasi.

Demam berdarah dengue (DBD) dengan syok


1. Kondisi ini merupakan gawat darurat dan mengharuskan rujukan segera ke RS.
2. Penatalaksanaan awal:
a. Berikan oksigen 2 4 liter/menit melalui kanul hidung atau sungkup muka.
b. Pasang akses intravena sambil melakukan pungsi vena untuk pemeriksaan DPL.
c. Berikan infus larutan kristaloid (RL atau RA) 20 ml/kg secepatnya.
d. Lakukan pemantauan klinis (tanda vital, perfusi perifer, dan diuresis) setiap 30 menit.
e. Jika setelah pemberian cairan inisial tidak terjadi perbaikan klinis, ulangi pemberian
infus larutan kristaloid 20 ml/kgBB secepatnya (maksimal 30 menit) atau
pertimbangkan pemberian larutan koloid 10 20 ml/kgBB/jam (maksimal 30
ml/kgBB/24 jam).
f. Jika nilai Ht dan Hb menurun namun tidak terjadi perbaikan klinis, pertimbangkan
terjadinya perdarahan tersembunyi. Berikan transfusi darah bila fasilitas tersedia dan
larutan koloid. Segera rujuk.
g. Jika terdapat perbaikan klinis, kurangi jumlah cairan hingga 10 ml/kgBB/jam dalam 2
4 jam. Secara bertahap diturunkan tiap 4 6 jam sesuai kondisi klinis dan
laboratorium.
h. Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 36 48 jam. Hindari
pemberian cairan secara berlebihan.
3. Pengobatan suportif lain sesuai indikasi

4/6
Rencana Tindak Lanjut
Demam berdarah dengue (DBD) tanpa syok
1. Pemantauan klinis (tanda vital, perfusi perifer, diuresis) dilakukan setiap satu jam.
2. Pemantauan laboratorium (Ht, Hb, trombosit) dilakukan setiap 4-6 jam, minimal 1
kali setiap hari.
3. Pemantauan cairan yang masuk dan keluar.
Demam berdarah dengue (DBD) dengan syok
Dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama merujuk pasien ke RS jika
kondisi pasien stabil. Persyaratan perawatan di rumah
1. Persyaratan untuk pasien dan keluarga
a. DBD non-syok(tanpa kegagalan sirkulasi).
b. Bila anak dapat minum dengan adekuat.
c. Bila keluarga mampu melakukan perawatan di rumah dengan adekuat.
2. Persyaratan untuk tenaga kesehatan
a. Adanya 1 dokter dan perawat tetap yang bertanggung jawab penuh terhadap
tatalaksana pasien.
b. Semua kegiatan tatalaksana dapat dilaksanakan dengan baik di rumah.
c. Dokter dan/atau perawat mem-follow up pasien setiap 6 8 jam dan setiap hari,
sesuai kondisi klinis.
d. Dokter dan/atau perawat dapat berkomunikasi seara lancar dengan keluarga
pasien sepanjang masa tatalaksana.
Kriteria Rujukan
1. DBD dengan syok (terdapat kegagalan sirkulasi).
2. Bila anak tidak dapat minum dengan adekuat, asupan sulit, walaupun tidak ada kegagalan
sirkulasi.
3. Bila keluarga tidak mampu melakukan perawatan di rumah dengan adekuat, walaupun DBD
tanpa syok.

Konseling dan Edukasi


a. Penjelasan mengenai diagnosis, komplikasi, prognosis, dan rencana tatalaksana.
b. Penjelasan mengenai tanda-tanda bahaya (warning signs) yang perlu diwaspadai dan kapan
harus segera ke layanan kesehatan.
c. Penjelasan mengenai jumlah cairan yang dibutuhkan oleh anak. d. Penjelasan mengenai diet
nutrisi yang perlu diberikan.
d. Penjelasan mengenai cara minum obat.
e. Penjelasan mengenai faktor risiko dan cara-cara pencegahan yang berkaitan dengan
perbaikan higiene personal, perbaikan sanitasi lingkungan, terutama metode 4M plus
seminggu sekali, yang terdiri atas:
1) Menguras wadah air, seperti bak mandi, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum
burung, dan penampung air kulkas agar telur dan jentik Aedes aegypti mati.
2) Menutup rapat semua wadah air agar nyamuk Aedes aegypti tidak dapat masuk dan
bertelur.
3) Mengubur atau memusnahkan semua barang bekas yang dapat menampung air hujan
agar tidak menjadi sarang dan tempat bertelur nyamuk Aedes aegypti.
4) Memantau semua wadah air yang dapat menjadi tempat nyamuk Aedes aegypti
berkembang biak.
5) Tidak menggantung baju, menghindari gigitan nyamuk, membubuhkan bubuk abate, dan
memelihara ikan.

5/6
No Yang diubah Isi Perubahan Tanggal Mulai
diberlakukan

8. Hal-hal yang diperhatikan


Nilai trombosit pasien, bila trombosit dibawah 100, pasien diopname.

9. Unit Terkait
Loket, Poli Umum, UGD, Laboratorium

10. Dokumen Terkait


Rekam medis manual dan elektronik

11. Rekaman Historis perubahan

DHF
(ICD X : A91)

No. Dok :
DAFTAR TILIK DT/UKP/PO.01/026
No. Revisi : 00
Tgl. Terbit : 1
April 2017
Halaman : 1/1
UPT. PUSKESMAS dr. I GN B. Sastrawan Dj, M.Kes
KUTA SELATAN Nip.197101232000121004

NO PROSEDUR PENILAIAN :

YA TIDAK TIDAK
BERLAKU

1 Melakukan Anamnesa

2 Melakukan Pemeriksaan Fisik dan Penunjang

3 Penegakan Diagnosis

4 Melakukan Penatalaksanaan secara komprehensif

5 Memberikan Konseling dan edukasi pada pasien

6 Melakukan pencatatan pada rekam medis pasien

7 Melakukan rujukan bila diperlukan

Total Score

Nilai Kepatuhan : .. %

6/6
Penilai : Yang Dinilai :

() (.)

7/6