Anda di halaman 1dari 115

LAPORAN BENGKEL LISTRIK III

INSTALASI PENERANGAN DAN


INSTALASI TENAGA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah BENGKEL LISTRIK III


Semester Ganjil Tahun Akademik 2013/2014
Dosen Pembina : Ruwah Joto, ST.,MMT

Anggota Kelompok 1:
ALFIA ESTITIKA ( 1231120060 )

DINA KURNIA ( 1231120065 )

KATON WAHYU A.J ( 1231120083 )

NUR MIRZA KHOLIL ( 1231120056 )

RISA WAHYU ( 1231120077 )

POLITEKNIK NEGERI MALANG


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK
2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta
hidayah-Nya sehingga penyusunan Makalah Bengkel Listrik 3 dengan judul Insatalasi ini dapat
terselesaikan dengan baik tanpa kendala. Makalah ini membahas tentang pengertian, fungsi,
klasifikasi, wiring, serta aplikasi dari trafo step up dan trafo interbus transformer ( IBT ). Maksud
dan tujuan penyusunan Makalah ini adalah untuk melengkapi persyaratan mendapatkan nilai
pada mata kuliah Mesin AC DC. Adapun penyusunan laporan ini berdasarkan data-data yang
diperoleh dari literatur - literatur. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini tidak
lepas dari dukungan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini kami menyampaikan
ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Ruwah Joto, ST., MMT selaku dosen mata kuliah Bengkel Listrik 3

2. Bapak Heri Sungkowo. SST., MMT selaku dosen mata kuliah Bengkel Listrik 3

3. Bapak Hendra, ST selaku pembimbing mata kuliah Bengkel Listrik 3

4. Kedua orang tua dan saudara - saudara kami yang telah mendukung dan memberikan doa
restu.
Malang, 11 November 2013

Kelompok 1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Instalasi pada skala rumah tangga idealnya harus mengikuti standar PUIL 2000
( SNI ). Hal ini bertujuan agar dalam pelaksanaannya terhindar dari kerugian dan
memudahkan dalam bekerja.
Instalasi penerangan dalam skala rumah tangga maupun industri dapat dibagi
menjadi dua, yaitu instalasi in plaster dan instalasi on plaster. Dalam pelaksanaannya
bukan hanya keterampilan dan kemampuan dalam pemasangannya, akan tetapi juga
dibutuhkan pengetahuan.
Selain itu dalam penguasaan materi baik teori maupun prakteknya, maupun
dalam melaksanakan pemasangan instalasinya juga harus memenuhi prinsip prinsip
dasar suatu instalasi yaitu : Keamanan, ketersediaan, keindahan, keekonomisan.

1. Tujuan dan Manfaat

Tujuan :
1. Memahami instalasi penerangan 3 fase
2. Menggambar rencana instalasi penerangan
3. Memasang instalasi penerangan di dalam permukaan
4. Memasang lampu penerangan, termasuk instalasi di dalam armatur lampu.
5. Memahami gambar rangkaian yang diberikan
6. Mampu memasang komponen / peralatan sesuai gambar kerja dan standar
7. Mempu melakukan pengawatan pada rangkaian instalasi
8. Mengetahui prinsip kerja dari instalasi yang dipasang
9. Mampu pemasangan dan pengawatan panel

Manfaat :

Agar mahasiswa dapat mengerti tentang pemasangan instalasi tiga fasa sehingga dalam
memasang nanti dapat dijadikan referensi.

BAB II

METODE PRAKTIKUM

2.1. Waktu dan Tempat

Waktu praktikum : Semester 3 tahun ajaran 2013-2014


Alokasi waktu : 6 jam pelajaran / minggu
Tempat : Bengkel listrik 3, Gedung AK Politeknik Negeri Malang

2.2. Alat Pelindung Diri ( APD )

Pakaian kerja
Sepatu

2.3 Jobsheet semester 3

Instalasi In Plaster
Instalasi di dalam panel
Pengukuran Insullation Tester ( Megger )
Tes Kesambungan Instalasi dengan multimeter
Tes urutan fasa dengan fasa meter

2.4 Alat dan Bahan

Tabel 1. Perlengkapan Dlower

No. Nama Alat Jumlah Kondisi Keterangan


1. Tang cucut 1 Baik
2. Tang kupas 1 Baik
3. Tang Bengkok 1 Baik
4. Tang kombinasi 1 Baik
5. Tang potong 1 Baik
6. Obeng set 5 Baik

Tabel 2. Bahan yang Diperlukan

No. Nama Alat Jumlah Kondisi Keterangan


1. Pipa PVC5/8 inch 50 cm Baik
2. Pipa besi 1 meter Baik
Kabel NYA Merah
3. 5 meter Baik
1,5 mm2
Kabel NYA Kuning
4. 5 meter Baik
Hijau 1,5 mm2
Kabel NYA Biru 1,5
5. 5 meter Baik
mm2

Tabel 3. Komponen Yang Digunakan

No Nama Alat Jumlah Kondisi Keterangan


1. Saklar tukar 5 A 2 Baik
2. Saklar seri 5 A 1 Baik
Fitting Lampu
3. 3 Baik
Tender E 27
4. Lampu pijar 3 Baik @ 75 watt
5. Kotak kontak 16 A 1 Baik
6. Junction Box 2 Baik
7. Klem PVC 5/8 12 Baik
8. Lasdop 6 Baik
9. MCB 1 fasa 1 Baik
10. MCB 3 fasa 1 Baik
11. Fuse Patron 10 A 3 Baik
12. Kotak Panel 1 Baik
13. Line Up Terminal 5 Baik
14. Kabel NYF 1 Baik

Tabel 4. Alat Ukur Yang Digunakan

No Nama Alat Ukur Jumlah Kondisi Keterangan


1. Multimeter 1 Baik
2. Insullation Tester 1 Baik
3. Fasa meter 1 Baik
BAB III

DASAR TEORI

3.1 Praktek Bengkel Listrik ( K 3 )


Praktek bengkel listrik ini adalah merupakan suatu teknik dasar sebelum mahasiswa
melaksanakan praktek di bengkel sesuai dengan jurusannya yang nantinya di bengkel ini setiap
mahasiswa dibina sesuai dengan tujuan dari praktek bengkel Listrik. Pada teori dasar ini akan
kita bahas mengenai keselamatan umum (accident precautions) serta pengenalan terhadap
peralatan yang akan digunakan.

3.2 Keselamatan Umum (Accident precautions)


Keselamatan dalam kerja adalah modal utama, yang kita jaga yang merupakan tanggung
jawab kita semua baik para instruktur maupun mahasiswa sebagai pekerja. Setiap pekerja atau
mahasiswa yang bekerja di bengkel mekanik dituntut untuk lebih berhati-hati, waspada dan siap.
Setiap mahasiswa tidak dibenarkan mengantuk atau kurang siap disaat sedang bekerja. Hal ini
dilaksanakan semata-mata untuk menghindari terjadinya kecelakaan, baik itu kecelakaan kecil
maupun kecelakaan besar.

1.1. Penanggung Jawab Alat Kerja pada Bengkel


Didalam keselamatan umum telah dijelaskan bahwa penanggung jawab keselamatan
tidak hanya dibebankan oleh instruktur saja, tetapi semuanya ikut aktif dalam kegiatan bengkel
mekanik ini. Penanggung jawab di dalam bengkel listrik ini adalah sebagai berikut :

1 Instruktur
Yaitu dosen pembimbing yang bertugas memberikan instruksi dengan benar, tepat dan
aman untuk tiap-tiap bagian yang akan dikerjakan, pada setiap kerja bengkel yang akan
dilaksanakan. Selan itu juga bertugas menyelidiki sebab-sebab kerusakan pada alat atau mesin
dan kecelekaan kerja dan mencatat serta memberi penilaian pada mahasiswa dan hasil kerjaanya

2 Storeman
Yaitu orang yang bertanggung jawab penuh pada alat-alat yang dipinjamkan (dibonkan)
kepada praktikan dan mencatat segala kerusakan pada alat-alat yang dibonkan serta melaporkan
hal itu kepada instruktur. Jadi, tugas storeman adalah vital dalam membantu pelaksanaan kerja

3 Pekerja (Praktikan)
Yaitu mahasiswa yang melaksanakan praktek atau kerja bengkel, dimana setiap
mahasiswa dituntut untuk harus dapat bekerja sesuai dengan ketentuan yang ada dan menjaga
semua peralatan, mesin mesin dari segala kemungkinan yang menyebabkan kerusakan.

1.2. Mengutamakan Keselamatan Kerja


Sebelum melakukan praktek bengkel mekanik kita harus berdoa kepada Allah SWT agar
dihindari dari segala bahaya yang dapat merugikan kita. Kita juga harus terlebih dahulu selalu
menggunakan alat pengaman seperti pelindung diri dan pelindung alat-alat yang kita gunakan.
Dan ini bisa terjadi karena beberapa sebab seperti :

- Terkena ujung sisi alat yang tajam


- Terkena benda yang panas
- Terkena benda-benda yang berputar seperti bor, mesin bubut dll
- Terkena aliran listrik
- Terkena jatuhan benda-benda berat
- Kecelakaan tidak sengaja seperti jatuh dan luka
- Penggunaan alat yang tidak sesuai dengan petunjuk
- Tidak memiliki alat pengaman
- Tidak memakai peralatan bengkel yang sudah ditentukan, misalnya sering terkena larutan
kimia
Selain kecelakaan yang akan berakibat langsung terhadap diri kita, apalagi kecelakaan
yang mengakibatkan rusaknya peralatan, seperti :

- Penggunaan alat yang digunakan yang tidak sesuai dengan fungsi alat tersebut
- Peralatan yang tidak dibersihkan setelah praktek sehingga alat berkarat dan tidak baik
dipakai bekerja lagi
- Penggunaan alat pada beban yang lebih dari kemampuannya seperti alat pemotong
(cutter) yang kemampuan maksimumnya dapat memotong plat yang mempunyai ketebalan
tidak lebih dari 2 milimeter, bila alat itu masih tetap digunakan maka tindakan ini dapat
merusak peralatan yang digunakan
- Meletakkan peralatan pada tempat yang tidak tepat, misalnya meletakkan peralatan ditepi
meja, yang dapat mengakibatkan benda jatuh dan rusak.
Untuk menjaga agar hal-hal diatas tidak terjadi maka kita harus melaksanakan tata tertib
yang telah diberikan oleh instruktur sehingga kita menjaga keselamatan, misalnya :

- Pakaian kerja harus sesuai, terkancing dan rapi


- Tidak menyimpan benda tajam dalam pakaian
- Menggunakan alat pengaman sesuai dengan kegiatan yang akan dilaksanakan, serta
memakai alat pengaman
- Menghindari dari hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan diri kita, teman sesama
kerja serta orang lain disekitar kita
- Selalu mengadakan konsultasi dengan instruktur bila menghadapi masalah tentang
kegiatan bengkel mekanik
1.3. Keselamatan Kerja di Bangku Kerja
Keselamatan kerja meliputi berbagai aspek, antara lain meliputi:

- Keselamatan pada diri sendiri


- Keselamatan peralatan kerja dan alat-alat yang sering digunakan
- Keselamatan pada benda kerja
- Keselamatan orang lain dan lingkungan disekitar tempat kerja
1.4. Kebersihan Dalam Bekerja
Kebersihan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan diutamakan dalam
setiap melakukan pekerjaan karena kebersihan juga merupakan salah satu langkah
mengutamakan keselamatan kerja, pada alat kerja yang tidak bersih akan dapat merusak alat
tersebut sendiri dan dapat membahayakan pekerja atau bagi pemakainya. Ruangan yang dipakai
untuk bekerja harus senantiasa bersih agar tidak mengganggu kelancaran bekerja, misalnya
ruangan harus dibersikan dari debu debu dan sebelum memasuki ruangan bengkel kita harus
membuka ventilasi udara atau kaca jendela dengan tujuan agar pergantian udara dalam ruangan
dapat berjalan lancar.
Selain itu piket wajib membersihkan ruangan kerja setelah melakukan praktek di ruangan
bengkel disamping itu, masing masing mahasiswa wajib membersihkan tempat kerja masing
masing.

1.5. Standar Keselamatan Kerja


Pengamanan sebagai tindakan keselamatan kerja ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan digolongkan sebagai berikut:

a. Pelindung badan, meliputi pelindung mata, tangan,


hidung, kaki, kepala, dan telinga.

b. Alat pengaman listrik, yang setiap saat dapat


membahayakan.

c. Pengaman ruang, meliputi pemadam kebakaran,


sistem alarm, air hidrant, penerangan yang cukup,
ventilasi udara yang baik, dan sebagainya.

Di samping penggolongan pengamanan tersebut di


atas, standar keselamatan kerja terutama di bengkel
mekanik listrik, ada urutan penanggung jawab keselamatan
kerja. Seorang pengawas mempunyai tugas dan kewajiban
antara lain: memberikan instruksi dengan benar kepada
anak buahnya secara tepat dan aman untuk tiap-tiap bagian
yang akan dikerjakan. Jika terjadi kecelakaan, seorang
instrutur berkewajiban menyelidiki sebab-sebab terjadinya
kecelakaan dan kerusakan yang terjadi. Pengawas wajib
melaporkan kepada atasannya atas kejadian kecelakaan
tersebut, melaporkan tentang kerusakan mesin maupun alat-
alat yang digunakan , mencatat peristiwa tersebut secara
akurat dan tertib.

Seorang praktikan, mempunyai tugas dan kewajiban antara lain: mentaati segala
peraturan dan instruksi yang ada. Ia berkewajiban melakukan pekerjaan dengan hati-hati dan
aman, menjaga keutuhan alat dan kebersihan ruangan kerja, bertindak secara tepat jika terjadi
kecelakaan dan melaporkan kepada guru.

1.6. Sistem pengaman (Fuse)


Fuse adalah jenis pengaman alat alat pemakai listrik terhadap arus yang melebihi
kapasitas bats, yaitu arus yang masuk melebihi arus nominal yang dapat menyebabkan
kerusakkan terhadap peralatan listrik, bagian dari fuse ialah Rumah fuse. Pengepas patron
dengan kawat lebur didalamnya. Tutupan fuse. Dan Dudukan fuse.
Untuk instalasi instalasi penerangan umumnya menggunakan fuse ini, yang bagian
penghubung arusnya dinamakan patron dimana didalamnya berisi kawat lebur, apabila dialiri
listrik yang lebih besar dari pada yang telah ditentukan maka akan terjadi lebur, dan hubungan
listrik terputus. Bentuk fuse harus sedemikian rupa sehingga fuse patron dalam keadaan tertutup
dan tidak tersentuh dan bila mana kawat lebur telah terputus maka dengan mudah mengganti fuse
patronnya tanpa menyentuh bagian rumahan fuse yang bertegangan.
Fuse selalu dihubungkan dengan penghantar fasa secara seri karena fungsi dari fuse ialah
mengamankan alat pemakai dari arus yang lebih yang mungkin mengalir masuk, dengan
menghubungkan fuse ke penghantar fasa kerusakan terhadap peralatan listrik dapat dihindarkan
karena sebelum arus lebih masuk kedalam peralatan maka kawat lebur dari fuse akan terputus
labih dahulu.
Jika kawat lebur putus harus diganti dengan ukuran dan kemampuan sama seperti yang
semula sehingga tidak menghilangkan fungsi fuse, untuk
melakukan pencabangan penghantar fasa jaringan harus
melalui fuse, dari percabangan sampai ke instalasi
dipergunakan tiga buah fuse, yaitu : Fuse tiang
(pal fuse), Fuse utama, Fuse kelompok instalasi.

1.7. Perlengkapan yang Digunakan


1. Tang Cucut
Tang model ini digunakan untuk pembengkokkan kabel solid. Pembengkokan
yang dimaksud adalah pembengkokkan dalam pembuatan mata itik, selain itu juga
dapat menyikukan kabel supaya tampak terlihat rapi. Kerapian ini sangat penting,
terutama saat pemasangan kabel panel yang sekian banyaknya. Jika kabel rapi,
tentunya panel yang dipasang sangatlah mudah
untuk dipahami dan sangat mudah terselesaikan
jika terjadi suatu perbaikan.
2. Tang Kupas
Tang kupas adalah alat untuk mempermudah pengupasan suatu kabel. Terutama
kabel solid, jika pengupasan menggunakan alat ini, keefisienan waktu akan lebih baik,
jika dibandingkan dengan menggunakan pisau pengupas. Akan tetapi perlu diperhatikan
bahwa jika tang ini terlalu keras penekanannya, mengakibatkan kecacatan kabel. Ada
bagian yang hampir terputus dan luas penampang dibagian itu akan kecil, sehingga
kabel tidak bisa terpenuhi kriteria yang kita harapkan.
3. Tang Bengkok
Tang Bengkok ini mirip dengan tang cucut, akan tetapi yang membedakan adalah
ujung dari tang tersebut. Jika diperhatikan, tang
bengkok ini ujungnya bengkok. Tujuannya adalah kita
bisa membengkokkan atau menyikukan kabel solid
pada daerah yang sulit dijangkau ataupun pada saat
kondisi-kondisi tertentu

.
4. Tang Kombinasi
Tang kombinasi ini digunakan secara umum,
bisa digunakan untuk pembengkokan sesuatu
yang membutuhkan kekuatan yang lebih. Selain
itu, tang ini juga dilengkapi dengan pemotong.
Pemotong ini digunakan untuk memotong kabel
yang ukurannya lebih besar yang membutuhkan
kekuatan lebih dibanding dengan menggunakan
tang potong biasa.
5. Tang Potong
Tang potong dengan merek Wipro ini secara
khusus digunakan untuk pemotongan kabel.
Tang ini mempunyai ujung seperti pisau
yang digunakan untuk pemotongan. Akan
tetapi, tang potong ini mempunyai kekuatan
terbatas, jika dipaksakan untuk pemotongan
yang lebih besar tang ini dapat patah. Untuk pemotongan yang lebih besar dapat
menggunakan tang kombinasi.
6. Testpen
Testpen yang ada di dalam dlower 17
keadaannya sudah tidak layak pakai karena
lampu indikator sudah tidak berfungsi
sebagai mana mestinya. Testpen digunakan
untuk pengecekan kabel yang bertegangan.
Jadi kita bisa membedakan antara fasa
ataupun netral, sehingga tidak terjadi
kesalahan dalam pemasangan sebuah komponen.
7. Obeng Set
a. Ukuran 0
Obeng ini digunakan saat
pemasangan kabel pada panel dan
beberapa komponen yang
diameternya sangatlah kecil. Seperti
saat membuka dan mengencangkan
terminal blok dan beberapa terminal
yang ada di dalam panel.

b. Ukuran 1
Obeng ukuran 1 ini
mempunyai mata obeng yang lebih
besar daripada obeng ukuran 0,
diharapkan obeng ini dapat masuk ke
sela-sela suatu komponen untuk
pemasangan ke papan kerja dengan
kekuatan yang lebih daripada obeng ukuran 0.

c. Ukuran 2
Obeng ukuran 2 ini lebih sering
digunakan untuk pemasangan
komponen yang biasa. Pertengahan
antara beberapa ukuran dari 5 macam
ukuran obeng. Digunakan untuk
sekrup ataupun baut yang ukuranya
sedang. Tidak terlalu kecil ataupun tidak terlalu besar.

d. Ukuran 3
Obeng dengan ukuran 3 digunakan
saat obeng ukuran sedang kurang pas
dengan komponen yang akan
dipasang. Penggunaakan obeng dan
ukuran tergantung dengan komponen
apa yang akan kita pasang dan di
tempat apa komponen yang akan kita
pasang. Sehingga kita dapat menentukan seberapa besar kekuatan dan seberapa
besar ukuran yang kita inginkan.
e. Ukuran 4
Obeng ukuran 4 ini biasa digunakan untuk pemasangan suatu komponen yang
membutuhkan kekuatan yang lebih. Maka pada obeng ini mempunyai ukuran
yang lebih besar daripada yang lain.
Dan mempunyai mata minus yang
lebar, sehingga diharapkan tidak
terjadi kemlesetan dan sebagainya.

.
1.8. Bahan yang Diperlukan
1 Pipa PVC 5/8 inc
Pipa instalasi PVC memiliki siifat-sifat, antara lain:
- Daya isolasinya baik sehingga mengurangi
kemungkinan terjadinya gangguan tanah
sehingga dapat menimbukan kebakaran.
- Tahan terhadap hampir semua bahan kimia, jadi
tidak perlu di cat.
- Tidak mmenjalarkan api.
- Mudah digunakan.
- Pipa PVC tidak dapat digunakan untuk suhu kerja normal di atas 60 derajat celcius
- Pipa harus dilindungi terhadap kerusakan mekanis.

2 Kabel NYA 1,5 mm2


Pengahantar yang digunakan adalah NYA 1,5 mm 2. Kabel
NYA berinti tunggal, berlapis bahan isolasi PVC, untuk
instalasi luar/kabel udara. Kode warna isolasi ada warna merah,
kuning, biru dan hitam. Kabel tipe ini umum dipergunakan di
perumahan karena harganya yang relatif murah.

Lapisan isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat,


tidak tahan air (NYA adalah tipe kabel udara) dan mudah
digigit tikus. Agar aman memakai kabel tipe ini, kabel harus dipasang dalam pipa/conduit
jenis PVC atau saluran tertutup. Sehingga tidak mudah menjadi sasaran gigitan tikus, dan
apabila ada isolasi yang terkelupas tidak tersentuh langsung oleh orang.

1.9. Komponen Yang digunakan


Komponen instalasi listrik yang akan dipasang pada instalasi listrik , harus memenuhi
persyaratan seperti: Keandalan, menjamin kelangsungan kerja instalasi listrik pada kondisi
normal. Keamanan, komponen instalasi yang dipasang dapat menjamin keamanan system
instalasi listrik. Kontinuitas, komponren dapat bekerja secara terus menerus pada kondisi normal.
1. Fitting Lampu Tender

Fitting tender ini terbuat dari bahan


keramik. Memiliki 2 terminal, satu
terminal untuk kabel phasa dan satu lagi
untuk kabel netral. Fitting jenis ini
memiliki keunggulan yaitu dapat
digunakan untuk penerangan di luar
ruangan dan tidak memerlukan roset
sebagai dudukannya, dan secara fisiknya
jauh lebih kuat dari fitting lokal.

2. Lampu Pijar

Lampu pijar merupakan


komponen pelengkap dalam praktek ini
sebagai uji pengecekan dan jumlah daya
yang dipakai. Cos phi dari lampu pijar
adalah 1.

Tabel 5. Simbol Lampu dalam


penerangan

Simbol Diagram Lokasi Simbol Wiring Diagram

3.Kotak Kontak
Kotak kontak ini terbuat dari bahan keramik.
Memiliki 3 buah terminal (phasa, netral, PE) dan
kotak kontak ini mempunyai kemampuan 500 VA.
Letak dari terminal phasa pada posisi kiri dan netral
pada sebelah kanan, PE pada atas atau bawah.

Tabel 6. Simbol Stop Kontak dalam


Penerangan

Simbol Diagram Lokasi Simbol Wiring Diagram

4. Saklar Tukar

Saklar tukar adalah saklar yang yang dapat digunakan untuk


menghidupkan dan mematikan lampu dari tempat yang berbeda. Instalasi saklar tukar
adalah penggunaan dua buah saklar untuk meyalakan dan menghidupkan satu buah lampu
dengan cara bergantian. Rangkaian instalasi penerangan yang menggunakan saklar tukar
banyak dijumpai di hotel-hotel atau di rumah penginapan maupun di lorong-lorong yang
panjang. Sehingga saklar tukar ini dikenal juga sebagai saklar hotel maupun saklar lorong.
Tujuan dari penggunaan ini ialah untuk efisiensi waktu dan tenaga karena penggunaan
saklar ini sangat praktis.

5. Saklar Seri
A
Saklar seri ini dapat digunakan untuk megoperasikan 2 buah lampu sekaligus
ataupun salah satu saja. Saklar ini terbuat dari bahan keramik. Memiliki 4 terminal , 2
untuk phasa lampu dan 2 untuk netral.
Dan dapat bekerja pada tegangan 250
Volt.

Tabel 7. Simbol Saklar Seri dalam


penerangan

Simbol DiagramBLokasi Simbol Wiring Diagram

A
A B
B
Sumbe

6. Junction Box dan Lasdop

Junction Box adalah tempat pengaman


sambungan kabel, terbuat dari bahan plastic tujuannya
adalah agar tidak menghantarkan arus sehingga tidak
membahayakan. Dengan menggunakan ini kita dapat
membagi dan menyambung kabel sesuai dengan
kebutuhan.

Setelah
sambungan-sambungan yang terdapat pada kotak sambung
dipilin dengan baik dan kuat dengan benang kasur.
Sebaiknya sambungan itu ditutup dengan las dop. Ini
dimaksudkan agar antara masing-masing sambungan tidak
bersinggungan sehingga tidak membahayakan kita. Las
dop dibuat dari bahan isolasi porselen atau plastik.
7. Klem

Klem digunakan untuk menahan pipa agar dapat


dipasang pada dinding atau langit-langit. Klem dapat
terbuat dari besi maupun bahan 22 PVC. Ukurannya
disesuaikan dengan ukuran pipa. Klem dipasang
menggunakan sekrup atau paku dengan jarak antara satu
dengan lainnya tidak lebih dari satu meter untuk
pemasangan pipa lurus memanjang. Adapun jarak klem
dengan kotak sambung, sakelar, stop kontak atau komponen lainnya maksimum 10 cm.
Untuk meninggikan pemasangan pipa dipakai klem dengan pelana.
8. Sekering dan Patron

Merupakan komponen pengaman listrik yang


sifat kerjanya meleburkan kawat yang dipasang
didalam komponen tersebut apabila kawat tersebut
dilewati dengan arus hubung singkat tertentu. Jenis
kawatnya berbeda-beda untuk tiap hantar kawat
dengan arus nominal tertentu, misal 2A (Ampere), 4A,
6A dst. Sesuai dengan kode warnanya, jika warna
merah seperti pada gambar yaitu menandakan bahwa arus nominalnya 10 Ampere.

Ada dua jenis dari komponen ini, yaitu tipe kawat lebur dan tipe tombol. Untuk

tipe kawat lebur (seperti gambar diatas) mempunyai prinsip kerja seperti penjelasan di
atas dan untuk menormalkan kembali perlu diganti dengan pengaman lebur yang baru.
Sedangkan untuk tipe tombol,bila terjadi masalah hubung singkat maka arus listrik akan
terputus dan untuk menormalkan kembali cukup dengan
menekan tombol yang besar tersebut. Tombol kecil
berfungsi untuk memutus aliran listrik.

Komponen pengaman tipe lebur ini mulai jarang digunakan karena ada kerepotan
tersendiri bila putus karena terjadi masalah. Apalagi bila persediaan sekering di rumah
tidak ada. Tetapi secara jujur perlu diakui bahwa komponen ini akan bekerja sempurna
memutus listrik bila terjadi masalah, asal saja komponen ini original kawatnya tanpa kita
rubah sendiri. Berbeda dengan tipe berikut yaitu MCB yang mempunyai fungsi sebagai
pemutus arus lsitrik bila kelebihan beban atau terjadi hubung singkat, pengaman lebur
hanya berfungsi bila terjadi hubung singkat saja.

Tabel 12. Simbol Sekering dalam Penerangan

Simbol Diagram Lokasi Simbol Wiring Diagram


9. Kotak Panel

Kotak panel ini berfungsi sebagai tempat utama dalam penyaluran


di jaringan. Semua komponen akan terpiusat di panel ini. Panel
yang saya gunakan adalah nomor 147. Pada panel ini terdapat
beberapa terminal secara terpisah dan profil G dan C masing
masing ada 2 buah. Fungsi profil ini untuk penempatan komponen
dalam panel, seperti saklar impuls, fuse, line up terminal dan
beberapa kabel yang tertata rapi.

10. Line Up Terminal

Line up terminal adalah sebagai tempat


penyambungan kabel dari sumber di
hubungkan pada titik titik control dan
daya yang diperlukan.

Sesuai dari ketentuan dari name plate. Pada


name plate terminal ini menunjukkan
beberapa ketentuan dari berbagai Negara yang memiliki lembaga kelistrikan
internasional. Dimana penghantar yang di ijinkan untuk masuk pada terminal ini adalah
maksimum 2.5 mm2.

11. END Terminal

End terminal dipasang dengan line up terminal. Akan tetapi


komponen ini dipasang di akhir terminal. Karena line up
terminal bagian akhir itu terbuka jadi agar tidak terjadi
konsleting ataupun arus bocor dapat dihindari.
1.10. Alat Ukur yang Digunakan
Adapun Alat yang digunakan dalam praktikum instalasi luar kali ini. Dan berikut
adalah tabel tipe dan kegunaan alat uji.

N Tipe Contoh Kegunaan


o
1 Alat uji visual : Alat Tester kombinasi, -Mendeterksi tegangan
-Membedakan polaritas
uji yang hasil tespen, non contact
-Menguji/ memeriksa fuse/
pengukurannya dapat tester, volt stick
MCB yang putus.
dilihat atau didengar
2 Panel meter : Alat ukur Voltmeter, Mengukur tegangan, arus
yang terdapat pada amperemeter, dan frekuensi pada
puntu panel frekuensimeter instalasi secara
keseluruhan.
3 Multimeter Multimeter analog, - Mengukur tegangan
multimeter digital AC/DC
- Mengukur arus AC/ DC
- Mengukur tahanan
- Mengetahui kontinuitas
(buzzer)
4 Earth Resistance tester - Mengukur resistansi tanah
5 Tang ampere - Mengukur arus AC pada
tanah
6 Insulation tester Megger analog, Mengukur resistansi
megger digital isolasi instalasi
7 Pengukur khusus GPAS/ ELCB Melindungi seseorang dari
arus sisa dengan cara
membandingkan arus
pada semua penghantar
bertegangan dari sirkit
yang diamankan.

- Amperemeter dan Voltmeter


Gambar II.9 pemasangan Amperemeter dan Voltmeter

Tabel 2.2 Perbedaan Amperemeter dan Voltmeter

JENIS PERBEDAAN AMPEREMETER VOLTMETER


Letak terhadap beban Seri Parallel
Kegunaan Mengukur arus AC/ DC Mengukur tegangan AC/ DC
Tipe Analog/ digital Analog/ digital
Faktor yang Lebih rendah resistansinya Lebih tinggi resistansinya
menentukan kualitas maka lebih tinggikualitasnya maka lebih baik kualitasnya
- Ohmmeter Analog
Ohmmeter digunakan pada saat tegangan dalam kondisi tidak aktif atau off.
JANGAN SEKALI-SEKALI MENGGUNAKAN OHM
METER PADA SAAT SIRKIT BERTEGANGAN KARENA
BISA MERUSAK OHM METER ITU SENDIRI.
Sebelum digunakan sebaiknya diuji terlebih dahulu.
Dengan ohmmeter kita dapat mengetahui apakah kabel sudah
tersambung atau masih terputus dan mengetahui keadaan
sakelar apakah masih baik atau sudah rusak, dll dengan cara
mengubah settingan ke suara, jika dihubungkan timbul
suara/bunyi maka kabel tersebut tersambung.
- Testpen
Tespen digunakan untuk menguji apakah suatu titik bertegangan terhadap tanah.
Cara pemakaian tespen yaitu: Pegang tespen, sentuhkan uung jari pada again belakang
tespen kemudian sentuhkan ujung tespen lainnya pad titik yang akan di uji. Pastikan salah
atu anggota tubuh menyentuh tembok atau lantai. Jika lampu tespen menyala maka titik
yang diuji bertegangan terhadap tanah.
- Insulation tester
Alat ini biasa disebut dengan megger.
Ketika mengukur kebocoran tegangan , hasil
pembacaan yang ideal pada papan skala ohm
adalah tak terhingga, ini berarti tidak terdapat
kebocoran pada pemanfaatan tegangan listrik.
Sebelum menggunakannya harus di cek terlebih
dahulu keadaan batrei dan dikalibrasi agar hasil
pembacaannya tepat.

Kontrol dan Indikator :

1. Output Jacks, M. Berguna untuk memeriksa isolasi, apakah ada kebocoran tegangan listrik.
kabel penyidik (probes) warna merah dimasukkan ke jacks warna merah, kabel penyidik
(probes) warna hitam dimasukkan ke jacks warna hitam.
2. Input Jacks, ACV digunakan untuk pengukuran tegangan AC dan nilai tahanan/resistan
(resistance)
3. papan Skala
4. Indikator ON
5. ON M, saklar pilih untuk pengukuran tahanan/resistan tinggi (high resistance). OFF
(ACV), saklar pilih untuk tegangan AC, dan Battery (B) Chek untuk memeriksa
tegangan baterai.
6. Saklar M/ACV. Saklar M untuk pilihan mode uji isolasi (insulation test). Saklar
jangkauan ukur ACV untuk mode pengukuran tegangan AC.
7. Pengatur posisi jarum pada angka nol secara mekanik (Mechanical Zero Adjust).
Persiapan awal :

1. Sebelum melakukan pengukuran tegangan AC periksalah penunjukan meter pada


papan skala. Jarum penunjuk harus berada pada posisi 0 atau .
2. Jika dibutuhkan dengan menggunakan obeng minus (-), setel pengatur posisi
jarum pada posisi angka 0 sehingga jarum pada papan skala benar-benar
menunjuk angka 0.
3. Sebelum melakukan pengukuran periksalah kondisi baterai, setel saklar kiri pada
posisi B.CHEK, setel saklar kanan pada posisi M.
4. Jika diperlukan baterai dapat diganti.
5. Ketika mengukur tegangan AC jangan sekali-kali menyentuh ujung kabel
penyidik (probes)!
6. Ketika mengukur tegangan AC, baterai tidak dibutuhkan.
Mengukur Isolasi :

Pastikan rangkaian yang akan diukur berada dalam kondisi Off dan tidak terhubung
dengan sumber tegangan AC.
1. Setel saklar kiri pada posisi ON M saklar kanan pada posisi M POWER
ON Indicator akan bekerja.
2. Masukkan kabel penyidik (probes) tegangan tinggi (kabel merah) ke lubang yang
bertanda M, kabel penyidik warna hitam ke lubang yang berwarna hitam
(disebelah kanan lubang yang bertanda M).
3. Hubungkan kabel penyidik warna hitam (menggunakan alligator clip) ke
commom atau ground dari rangkaian yang akan diukur.
4. Sentuhkan kabel penyidik tegangan tinggi ke titik yang akan diukur (kawat
tembaga dari kabel listrik misalnya). Agar terhindar dari sengatan listrik, jaga
posisi jari tangan tetap dibelakang pengaman.
5. Bacalah hasil pengukuran pada papan skala. Terkadang hasil pengukuran kurang
memuaskan. Ini terjadi kerena kontak antar ujung kabel penyidik dengan titik
yang akan diukur tidak sempurna.
6. Jika tidak terjadi kebocoran pada isolasi yang membungkus kabel listrik (atau
rangkaian elektronik lainnya), jarum akan tetap menunjuk posisi tak terhingga
().
7. Jika terjadi kebocoran pada isolasi yang membungkus kabel listrik (atau
rangkaian elektronik lainnya), jarum akan bergerak kekanan.
Langkah Pengukuran :

1. Sebelum dilaksanakan pengukuran tahanan isolasi, panjang kabel harus diketahui


2. Lepaskan semua hubungan ke beban, ke jaringan dank e bumi (kecuali
penghantar pengaman) dan hubungan antar terminal/rel netral dan rel pengaman.
3. Pengukuran bagian instalasi tersebut ayat 322.A.5 dilakukan antara penghantar
fasa ke bumi, penghantar netral ke bumi dan penghantar fasa ke fasa.
4. Pisahkan satu pasang urat kabel yang akan diukur, missal p-1 dan seluruh kabel
lainnya disatukan dengan screen cable dan dihubungkan dengan grounding.
5. Hubungkan ujung urat kabel yang akan diukur, missal p-1 dengan alat ukur, lalu
aktifkan alat ukur sedang ujung lainnya harus terbuka (open). Lama pengukuran
sekitar 1 menit sampai penunjukan suatu nilai tahanan isolasi konstan.
6. Langkah selanjutnya ujung urat a tetap terhubung dengan alat ukur sedang urat b
dilepas. Kemudian cord alat ujur yang sebelumnya dihubungkan dengan urat b
disambungkan dengan ground. Aktifkan alat ukur selama sekitar 1 menit,
sehingga akan tertera suatu tahanan isolasi antara urat a dengan grounding.
7. Pengukuran tahanan isolasi urat-b dengan ground prosesnya sama dengan di atas.
8. Selanjutnya untuk pemasangan urat kabel lainnya dilakukan proses berulang.

Pemasangan Instalasi In Plaster

Berikut adalah cara cara pemasangan instalasi in plaster

2.1.1 Penanaman pipa besi dalam tembok:

1. Tahap awal tentukan letakdari stop kontak yang akan dipasang dalam tembok yaitu
dengancara mengukur ketinggian stop kontak dari lantai sekitar minimal 30 cm atau lebih
disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing
2. Mal dinding yang akan kita pahat menyesuaikan ukuran pipa yang kitagunakan.
3. Pahatlah dindings esuaiapa yang kita inginkan
4. Masukkanlah atau pasangkanlah pipa pada dinding, masukkan ujung pipa bagian bawah
ke lubang T dos sedangkan ujung pipa bagiana tas sejajar dengan ujung dinding.
5. Klamlah pipa agar pipabenar-benar kuat maka gunakan klam khusus untuk pipa atau bisa
juga dengan memasang paku disisi kiri dankananpipadenganjarakantaraklam 50 Cm
untuk mencegah plasteran masuk ke T dos tutuplah ataus umbatlah T dos dengan plastic
atau kertas yang diremas-remas
6. Pasang jarring-jaringditempat yang kitapahattadi yang letaknyadiataspipa agar
memudahkan dalam proses pemplasteranitu .
7. Pastikan pemasangan semua tadi dengan baik dan kuat agar setelansetelah di plester tidak
terjadi kesalahan.

2.1.2 Proses dalam pemahatan

1. Pertama-tama cara memahat dilakukan sesuai dengan garis sketsa yang telah kita buat,
lalu pahatlah kearah luar tembok agar serpihan pahatan tidak mencederai kita dan
membuat hasil pahatan lebih rapi karena sesuai dengan sketsa yang di buat.Setelahitu
barulah kita dapat memahat dari segala sisi sesuai kebutuhan kita.
2. Sudut yang kitagunakan 45 derajat dan arah pahatannya harus keluar tembok.
3. Pahat yang pertama digunakan pahat runcing untuk membuatj alurl ubang pipa.
4. Pemahatannya dilakukan dengan posisi yang tegak dan badan lurus dengan jalur pipa
yang kitabuat.
5. Pahat tumpul yang kita gunakan untuk meratakan dari pahatan awalr uncing tadi.
6. Barulah setelah rapi kita dapat memasukan pipa.

Gambar 1. Cara memahat


Setelah proses pemahatanselesai, tanam T-DOS danpipapadapahatan-pahatan yang
telah di tentukan, kemudianpasangkawatjaring-jaring agar adonan semen
dapatmelekatdenganbaikpadatembok. Kemudianpasangklembesi agar pipa yang telah di
tanamdalamtemboktidakgoyah.

Gambar 2.Penanamanpipadalamtembok

2.1.3 Pelapisan Pahatan dengan semen

Setelah pipa dan dos di pasang dalam tembok, langkah selanjutnya adalah pelapisan
dengan semen agar hasilpekerjaanpemasanganinstalasi in plaster terlihatrapi. Adonan semen
yang di gunakan sebaiknya halus dan saat proses pelapisanharus rata, sehingga bekas pahatan
tidak terlihat.

Gambar 3.Pelapisan semen


BAB IV

PELAKSANAAN PRAKTEK

4.1. Keselamatan Kerja

Hal-hal yang harus kita perhatikan sebelum melakukan pekerjaan adalah sbb:

1. Mengetahui terlebih dahulu apakah pekerjaan yang dilakukannya adalah pekerjaan


berbahaya (dapat memahami semua pekerjaan atau kemungkinan yang membahayakan
jiwanya juga jiwa orang lain),
2. Mengurangi atau memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.
Tugas-tugas atau kemungkinan berbahaya dalam bekerja pada instalasi dapat Saudara
lihat pada tabel berikut.

Tabel 14. Tabel Jenis Kecelakaan

No JENIS KECELAKAAN CARA PENANGGULANGANNYA


KERJA

1 Kejut listrik a. Jangan bergurau pada saat memasang instalasi.

b. Tidak boleh menekan tombol sembarangan.

c. Memakai sepatu yang tertutup dan berisolasi


baik.

d. Memperbaiki instalasi pada saat aliran listrik


padam.

2 Kebakaran a. Jangan merokok di dalam dan di sekitar


bengkel.

b. Sediakan pemadam api (dry powder


extinguisher).

c. Letakkan bahan-bahan yang mudah terbakar


pada tempat yang aman.

3 Terpeleset a. Perhatikan selalu lantai atau tempat berpijak.

b. Pijaklah tempat yang rata.

c. Bersihkan lantai yang licin dengan cepat dan


bersih.

d. Pakailah helm untuk melindungi kepala.

4 Kepala terbentur a. Pakailah helm untuk melindungi kepala.


atau tertimpa benda keras b. Perhatikan atap atau peralatan yang letaknya
sama tinggi dengan kita.

c. Perhatikan rekan yang bekerja di atas kita


jangan sampai menjatuhkan obeng, tang, dll
ke kepala kita.

5 Ada bagian tubuh yang a. Berhati-hatilah saat menggunakan setiap


terluka karena peralatan peralatan saat praktikum atau do lapangan.
b. Jangan bergurau saat bertugas.
mekanik
c. Memakai standar pengamanan yang cukup.

4.2. Langkah Kerja Praktikum

1. Cek alat dan ketersediaan alat pada dlower.


2. Lapor ke petugas bengkel jika terjadi kekurangan alat. Jaga baik-baik dan pastikan alat di
dlower tidak ada yang kurang.
3. Memahami desain instalasi yang akan dibuat.
4. Membuat single line diagram. Berikut ini adalah single line diagram instalasi penerangan
dan diagram pengawatan MCB.

5. Membuat wiring diagram sedetail mungkin dan selengkap mungkin sehingga


memudahkan pelaksanaan praktek.
6. Menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan, yaitu:
a. Meminjam alat dan bahan sesuai yang dibutuhkan. Jangan lupa dicek dan pastikan jika
ada yang kurang baik kondisinya bisa dilaporkan ke petugas bengkel bagian gudang.
b. Catat dan beri keterangan kerusakan atau kondisi dari komponen jika komponen
tersebut kondisinya kurang baik.
c. Hitung kelengkapan komponen agar tidak ada kekurangan. Karena jika kurang /
hilang, maka kita wajib mengganti yang baru.
d. Jaga sebaik mungkin dan berhati-hatilah saat pemasangan karena tiap tiap komponen
dapat rusak.
7. Memasang pipa yang telah dipotong sesuai dengan ukuran kemudian di klem agar tidak
jatuh. Setelah itu memasang fitting tend

8. Memasukkan kabel ke dalam pipa sesuai dengan yang telah di desain dan jangan lupa
untuk menandai kabel tersebut agar suatu saat tidak bingung memasang komponen yang
telah dipersiapkan yaitu: Saklar Seri, saklar tukar, Fitting tender, Junction box, kontak
kontak, Pipa PVC

9. Membuat pengawatan pada panel.

10. Memasang fitting tender dan lampu


11. Memasang saklar seri, saklar tukar , dan kotak kontak

12. Mengecek sambungan menggunakan multimeter dengan menyeting pada pilihan


sound/bunyi sehingga jika tersambung dengan benar akan keluar bunyi dan sebaliknya.
Tabel Kondisi Penyambungan tiap titik
Pengetesan Kondisi
Yang Diuji
Tersambung Tidak
Pipa 1
Nkotak tender Nsumber -
Lkotak tender Lsumber -
Lkotak tender Lsaklar -
Nlampu A Nkotak tender -
Multimete Llampu A Lsaklar -
r Nlampu B Nkotak tender -
Llampu B Lsaklar -
Lstop kontak Lkotak tender -
Nstop kontak Nkotak tender -
PEstop kontak PEsumber -
Nlampu C Npanel -

13. Mengecek tahanan bocoran/isolasi pada rangkaian dengan menggunakan merger. Berhati-
hatilah dalam menggunakan alat tersebut. Dan perlu diperhatikan bahwa ketika
menggunakan megger alat elektronik pada rangkaian harus dilepas. Seperti selkom (LDR).

Tabel. Hasil pengukuran dengan megger

Uraian simak Kondisi tahanan


Keterangan
(Hubungan) 5 M 5M
LN -
L PE -
N PE -
L Bodi panel -
N Bodi panel -
PE Bodi panel -
L Pipa -
N Pipa -
PE Pipa -
L Profil G1 -
L Profil C1 -
L Profil G2 -
L profil C2 -
N Profil G1 -
N Profil C1 -
N Profil G2 -
N Profil C2 -
PE Profil G1 -
PE Profil G2 -

14. Setelah semua terpasang dengan baik dan diuji dengan alat ukur, maka setelah itu
menghubungkan dengan sumber tegangan dengan kabel NYY. Memberi beban lampu pijar
pada tiap tiap fitting.

Tabel Kebenaran Kerja saklar seri


Tabel Kebenaran Kerja saklar seri

Saklar Lampu
Keterangan
A B XA XB
1 0 1 0
0 1 0 1 Saklar Seri Bekerja
1 1 1 1 dengan baik.
0 0 0 0
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Instalasi Listrik Tenaga, Instalasi Listrik ini digunakan untuk menyalurkan energi
listrik menjadi energi lain seperti energi mekanik, yaitu motor-motor listrik. Dalam
pengoperasian motor listrik diperlukan peralatan yang berfungsi sebagai sarana
pengontrol, sarana penghubung, saranan pengaman, sarana starter dan sebagainya.
Namun sebelum motor listrik dioperasikan maka perlu tahapan-tahapan khusus agar
keandalan, keamanan, dan kemudahan dapat tercapai. Tahapan-tahapan tersebut meliputi
tahap menggambar pengawatan pada motor listrik yang dilengkapi dengan peralatan

control dan pengaman sehingga membentuk suatu sistem instalasi motor listrik. Dalam
pengoperasian motor listrik ada proses pengasutan (starting), operasi (running) , dan
berhenti (stopping). Pada saat running motor dapat dikurangi atau ditambah kecepatan,
dibalik putarannya. Selain itu diperlukan jenis pengasutan (starter) yang sesuia pada
setiap motor.

1.2. Rumusan Masalah


Apakah instalasi listrik tenaga 3 fasa ?
Apakah peralatan-peralatan yang dibutuhkan pada instalasi listrik 3 fasa ?
Bagaimana cara pemasangan instalasi listrik 3 fasa?

1.3. Ruang Lingkup


Pengenalan tentang komponen-komponen dan peralatan listrik pada motor 3 fasa.
Pengenalan dan pengaplikasian macam-macam motor 3 fasa.
Pengenalan macam-macam starter pada motor listrik 3 fasa.
Pemasangan Instalasi Listrik Tenaga 3 fasa.
Pengecekan Instalasi Listrik Tenaga 3 fasa yang terpasang.
Pengoperasian Instalasi Listrik Tenaga 3 fasa.
1.4. Tujuan Praktikum
Sebagai aplikasi dari materi instalasi listrik tenaga 3 fasa.
Agar mahasiswa mampu mengetahui fungsi dari setiap peralatan-peralatan yang
ada di bengkel agar dapat menggunakan sesuai dengan fungsinya.
Agar mahasiswa mampu membaca gambar teknik instalasi listrik tenaga 3 fasa.
Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi peralatan yang digunakan dalam
intsalasi listrik tenaga 3 fasa.
Agar mahasiswa mampu merangkai dan memasang peralatan-peralatan instalasi
listrik 3 fasa.
Agar mahasiswa mampu pengawatan instalasi daya dan mengecek atau meneliti
rangkaian pada panel dan peralatan.

1.5. Manfaat Praktikum


Mahasiswa mampu mengaplikasikan materi instalasi listrik tenaga 3 fasa.
Mahasiswa mampu mengetahui fungsi dari setiap peralatan-peralatan yang ada di
bengkel agar dapat menggunakan sesuai dengan fungsinya.
Mahasiswa mampu membaca gambar teknik instalasi listrik tenaga 3 fasa.
Mahasiswa mampu mengidentifikasi peralatan yang digunakan dalam intsalasi
listrik tenaga 3 fasa.
Mahasiswa mampu merangkai dan memasang peralatan-peralatan instalasi listrik
3 fasa.
Mahasiswa mampu pengawatan instalasi daya dan mengecek atau meneliti
rangkaian pada panel dan peralatan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Instalasi Tenaga
Instalasi listrik dipergunakan untuk menyalurkan tenaga listrik ke alat-alat yang
memerlukan tenaga listrik, misalnya lampu, motor-motor listrik, alat pemanas seperti kompor
listrik, setrika listrik, pemanggang roti dan lain-lain.
Instalasi listrik ini memakai perlengkapan misalnya : kawat penghantar, pengaman lebur,
kotak pembagi, dan lain-lain. Perlengkapan listrik ini ditempatkan dalam ruangan. Keadaan
ruangan itu tergantung pada tempat dan keperluan kerja. Untuk itu semua ada syarat-syarat
instalasi listrik baik untuk tegangan tinggi maupun tegangan rendah.

SYARAT-SYARAT INSTALASI LISTRIK

Syarat ekonomis
Instalsi listrik harus dibuat sedemikian rupa sehingga harga keseluruhan dari
instalasi itu, ongkos pemasangan dan ongkos pemeliharaannya semurah mungkin.

Syarat keamanan
Instalsi listrik harus dibuat sedemikian rupa sehingga kemungkinan timbul
kecelakaan sangat kecil. Aman dalam hal ini berarti tidak membahayakan jiwa manusia
dan terjaminnya peralatan dan benda-benda di sekitarnya dari kerusakan akibat adanya
gangguan seperti hubung pendek, beban lebih, tegangan lebih dan sebagainya.

Syarat keandalan
Kelangsungan pemberian / pengaliran arus listrik kepada konsumen harus
terjamin secara baik.

Pada pelat nama setiap motor harus terdapat keterangan atau tanda mengenai hal berikut :

nama pembuat

tegangan pengenal
arus beban pengenal
daya pengenal
frekuensi pengenal dan jumlah fase untuk motor arus bolak balik
putaran per menit pengenal
suhu lingkungan pengenal dan kenaikan suhu pengenal
kelas isolasi
tegangan kerja dan arus beban penuh
sekunder untuk motor induksi rotor lilit
jenis lilitan : shunt, kompon, atau seri untuk motor arus searah
daur kerja.
2.2. Pemeriksaandan Pengujian Instalasi Tenaga
1. Pemeriksaan
Pemeriksaan instalasi tenaga yang telah dilaksanakan bertujuan bahwa
instalasi terpasang sudah dilakukan dengan benar dan sudah sesuai dengan
material yang disetujui (approval material). Pemeriksaan yang dilakukan dengan
visual meliputi antara lain:

Jalur pipa konduit dan kabel tekukan kabel tidak boleh patah
Sambungan kabel pada kotak (tee dooz) dilengkapi dengan isolator las dop
Jalur kabel diatas rak kabel harus rapi dan diusahakan posisi rak kabel di atas
instalasi pipa atau. duct VAC untuk menghindari adanya tetesan air
2. Pengujian
Sistem tenaga yang sudah selesai dipasang harus diuji dengan seksama
sebelum siap untuk dipergunakan. Alat uji yang dipakai untuk pengujian sebelum
digunakan harus dikalibrasi terlebih dahulu. Pengujian dilakukan bersama dengan
pihakyang berwenang (Pemberi Tugas atau Direksi pengawas). Hasil pengujian
direkam pada, format daftar simak dan didokumentasikan.

Pengujian instalasi tenaga meliputi :

1) Pengukuran tahanan isolasi kabel instalasi


Isolasi yang lemah rnempunyai tahanan isolasi yang relatif rendah. Sedangkan
isolasi yang memenuhi syarat nilainya tinggi. Minimum suatu instalasi kabel
listrik adalah sebagai berikut :
Besarnya tahanan isolasi

a. Berdasarkan PUll.. 2000 ayat 322 A.I yaitu sekurang-kurangnya 1000 ohm per
volt tegangan nominal, dengan pengertian bahwa arus bocor dari tiap bagian
instalasi pada tegangan nominalnya tidak diperkenankan melebihi 1 mA per
100 meter panjang instalasi. Pengukuran dilakukan dengan pesawat uji megger.
b. Berdasarkan peraturan lEE (Institution of Electricl Engineers = Himpunan
lnsinyur Listrik), nilai minimum yang diperbolehkan yaitu 1 M.Ohm
2) Pembagian (grouping) beban saklar dan pemutus hubung (circuit breakers).
3) Pengukuran tegangan listrik dengan multitester yaitu :
Tegangan phasa ke phasa (VL-L)
T egangan phasa ke neutral (VL-N)
Tegangan phasa ke tanah (VL-G)
4) Pengukuran arus beban dengan tang ampere untuk phase R, S. T.
5) Pengukuran besarnya arus strating pada motor menggunakan tachometer.
6) Fungsi komponen-komponen panel antara lain:
Volt meter
Ampere meter
Frekwensi meter
Lampu indikator
Saklar pilih (selector switch)
7) Tes putaran motor yang terpasang.

2.3. Keselamatan Kerja

Keselamatan Kerja adalah merupakan suatu bagian yang sangat penting


bagi tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaannya yang bersasaran di segala tempat
dan segenap kegiatan ekonomi. Keselamatan kerja adalah tugas semua orang pekerja
bagaimana dapat melindungi dirinya dan menciptakan situasi tempat kerja yang aman
selamat.
Keselamatan kerja menngkatkan produksi dan produktifitas. Produktifitas
adalah perbandingan hasil kerja dan upaya yang digunakannya agar dapat membantu
peningkatan produksi atas dasar menjamin perlindungan keselamatan dan keamanan
kerja, jelas bahwa keselamatan kerja adalah satu segi aspek penting dari perlindungan
tenaga kerja, dalam hubungan ini berkaitan dengan bahaya da resiko kerja.
Hal-hal yang mempengaruhi dan dapat menciptakan hasil kerja bagi
keselamatan kerja antara lain :

1. Tingkat keselamatan kerja yang tinggi dapat dikuranginya kecelakaan yang


mungkin terjadi ditekan sekecil-kecilnya.
2. Tingkat keselamatan kerja yang tinggi sejalan dengan pemeliharaan dan
penggunaan peralatan kerja yang lebih akurat.
3. Tingkat keselamatan kerja yang tinggi menciptakan kondisi-kondisi yang
mendukung kenyamanan serta kegairahan kerja. yaitu penetapan standar-standar
resmi, setengah resmi atau hak resmi mengenai misalnya : konstruksi yang
memenuhi syarat-syarat keselamatan jenis-jenis peralatan kerja
4. Praktek keselamatan kerja tidak bisa dipisah-pisahkan dari keterampilan,
keduanya mendukung kenyamanan serta kegairahan kerja.
5. Keselamatan kerja yang dilaksanakan sebaik-baiknya dengan partisipasi
pengusaha dan buruh akan membawa iklim keamanan dan ketenagaan kerja.
Sistem Pengaman terhadao Manusia pada Pekerjaan Instalasi Tenaga
1. Alat Pelindung Diri (APD)
o Safety Helmet
Safety helmet berfungsi sebagai pelindung kepala
dari benda yang bisa mengenai kepala secara
langsung.

o Kacamata Safety
Berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja
(misalnya mengelas)

o Masker
berfungsi untuk melindungi organ pernapasan
dengan cara menyalurkan udara bersih dan sehat dan/atau menyaring cemaran
bahan kimia, mikro-organisme, partikel yang berupa debu, kabut (aerosol), uap,
asap, gas/ fume, dan sebagainya
o Baju Safety
Baju safety yang digunakan ketika mengerjakan
instalasi tenaga ini adalah baju bengkel POLINEMA
berupa ketelpak

o Sarung tangan
Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat
bekerja di tempat atau situasi yang dapat
mengakibatkan cedera tangan. Bahan dan bentuk
sarung tangan di sesuaikan dengan fungsi masing-
masing pekerjaan.
2. Prosedur Lock Out Taged Out ( LOTO )

Lockout-tagout (LOTO) atau lock and tag adalah prosedur keamanan yang
digunakan dalam industri dan penelitian untuk memastikan bahwa mesin-mesin
yang berbahaya benar-benar dimatikan dan tidak diaktifkan kembali sebelum
penyelesaian maintenance atau pekerjaan perbaikan.
LOTO memastikan sumber daya yang berbahaya menjadi "terisolasi dan tidak
aktif" sebelum prosedur perbaikan dimulai. "Lock and tag" bekerja sama dengan kunci
biasanya mengunci perangkat atau sumber daya dengan pengait, dan menempatkannya
dalam posisi dimana sumber daya berbahaya tidak mungkin untuk diaktifkan.
Prosedur ini mengharuskan tag ditempelkan di perangkat
terkunci yangmenunjukkan bahwa seharusnya perangkat tersebut tidak diaktifkan.

Tujuan LOTO
- Mencegah terlepasnya potensi bahaya atau energi yang tersimpan secara
tiba-tiba.
- Menghindari pengoperasian mesin yang tidak terduga.
- Menyebabkan terjadinya cidera pada pekerja atau
- Menyebabkan kerusakan pada alat itu sendiri.
Penggunaan LOTO
- Unit atau alat yang dikerjakan secara pararel oleh beberapa orang mekanik/ group,
dengan obyek kerja yang berbeda.
- Unit yang dikerjakan memiliki dimensi besar atau instalasi luas, dimana teknisi tidak
terlihat.
- Pekerjaan tidak selesai dalam sekali waktu sehingga harus ditunda dan dilanjutkan lain
waktu.
3. Mengetahui rambu-rambu / simbol keselamatan kerja
Rambu-rambu/tanda-tanda keselamatan kerja/decals adalah suatu tanda yang
memberikan informasi tentang : perintah, larangan, bahaya, petunjuk yang sering
digunakan di tempat kerja.

Bahan untuk safety symbols (simbol keselamatan kerja)

Safety symbols bahannya terbuat dari :

- Alumunium
- Tembaga
- Pita/tape
- Vinyl
Pekerja dituntut untuk dapat mengetahui dan mengenal symbol safety dan
menempatkannya di suatu tempat pada area kerja, sesuai dengan tingkat resiko/bahaya
yang ada. Penempatannya harus jelas kelihatan, suapaya orang lain dengan cepat dan
mudah melihat dan membacanya.

Adapun rambu-rambu tersebut adalah :

- Rambu larangan
- Rambu perintah
- Rambu peringatan bahaya
- Rambu pemadam kebakaran
- Rambu bahaya peledakan
- Rambu-rambu bahaya bahan kimia
- Rambu-rambu konstruksi bangunan
- Rambu-rambu P3K
- Rambu-rambu lalu lintas

2.4. Komponen-komponen Instalasi Tenaga


Dalam praktek pemasangan Instalasi Tanaga dibutuhkan komponen-komponen
memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. Keandalan, menjamin kelangsungan kerja instalasi tenaga pada kondisi normal.


b. Keamanan, komponen instalasi yang dipasang dapat menjamin keamanan sistem
instalasi tenaga.
c. Kontinuitas, komponen dapat bekerja secara terus menerus pada kondisi normal.

2.4.1. Perlengkapan untuk motor starter


Motor Starter

Kualitas daya listrik dapat dikatakan baik jika arus, tegangan dan frekuensi yang terdapat di
suatu pabrik selalu konstan, tetapi pada kenyataannya arus, tegangan dan frekuensi di suatu
pabrik tidak selalu bernilai konstan, tergantung pada peralatan listrik yang dipakai dan
pengaturan system distribusi listrik pabrik. Goncangan Tegangan dapat dilihat dari
pengaruh terang gelapnya cahaya atau warna yang terjadi pada sejumlah pengamatan.
Terang gelapnya cahaya atau warna yang terjadi biasanya dipakai sebagai bahan
pengamatan adalah lampu pijar, karena lampu pijar peka sekali terhadap perubahan
tegangan.
Motor Listrik adalah alat yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik, motor
listrik ini penggunaannya paling di butuhkan dalam dunia industri dan paling banyak
menimbulkan goncangan tegangan ( flicker ). Agar dapat meminimalisir goncangan
tegangan maka kita harus mengetahui diantaranya teknik pengasutan motor listrik,
memakai stabilizer,memakai kapasitor, menggunakan kompensator statis dengan control
thyristor, melengkapi dengan CVCF.
Saat motor induksi distarting secara langsung,arus awal motor besarnya antara 500% sd
700% dari arus nominal. Ini akan menyebabkan drop tegangan yang besar pada pasokan
tegangan PLN. Untuk motor daya kecil sampai 5 kW, arus starting tidak berpengaruh besar
terhadap drop tegangan. Pada motor dengan daya diatas 30 kW sampai dengan 100 kW
akan menyebabkan drop tegangan yang besar dan menurunkan kualitas listrik dan
pengaruhnya pada penerangan yang berkedip.Pengasutan motor induksi adalah cara
menjalankan pertama kali motor, tujuannya agar arus starting kecil dan drop tegangan
masih dalam batas toleransi.

Komponen yang sangat diperlukan yaitu kontaktor dan overload relay.

1. Kontaktor

Kontaktor adalah peralatan listrik yang bekerja berdasarkan prinsip induksi


elektromagnetik. Pada kontaktor terdapat sebuah belitan yang mana bila dialiri arus listrik
akan timbul medan magnet pada inti besinya, yang akan membuat kontaknya tertarik oleh
gaya magnet yang timbul tadi. Kontak Bantu NO (Normally Open) akan menutup dan
kontak bantu NC (Normally Close) akan membuka.

Kontak pada kontaktor terdiri dari kontak utama dan kontak Bantu. Kontak
utamadigunakan untuk rangkaian daya sedangkan kontak Bantu digunakan untuk
rangkaiankontrol.Didalam suatu kontaktor elektromagnetik terdapat kumparan utama yang
terdapat padainti besi. Kumparan hubung singkat berfungsi sebagai peredam getaran saat
kedua inti besi saling melekat.Apabila kumparan utama dialiri arus, maka akan timbul
medan magnet pada inti besiyang akan menarik inti besi dari kumparan hubung singkat
yang dikopel dengan kontak utama dan kontak Bantu dari kontaktor tersebut.
Hal ini akan mengakibatkan kontak utama dan kontak bantunya akan bergerak dari posisi
normal dimana kontak NO akantertutup sedangkan NC akan terbuka. Selama kumparan
utama kontaktor tersebut masihdialiri arus, maka kontak-kontaknya akan tetap pada posisi
operasinya.Apabila pada kumparan kontaktor diberi tegangan yang terlalu tinggi maka
akanmenyebabkan berkurangnya umur atau merusak kumparan kontaktor tersebut.

Tetapi jikategangan yang diberikan terlalu rendah maka akan menimbulkan tekanan antara
kontak-kontak dari kontaktor menjadi berkurang. Hal ini menimbulkan bunga api pada
permukaannya serta dapat merusak kontak-kontaknya. Besarnya toleransi tegangan untuk
kumparan kontaktor adalah berkisar 85% - 110% dari tegangan kerja kontaktor

Komponen penting pada kontaktor (Magnetic Contactor) :


1. kumparan magnit (coil) dengan simbol A1 A2 yang akan bekerja bila mendapat sumber
tegangan listrik.
2. kontak utama terdiri dari simbol angka : 1,2,3,4,5, dan 6.
3. kontak bantu biasanya tediri dari simbol angka 11,12,13,14, ataupun angka 21,22,23,24 dan
juga angka depan seterusnya tetapi angka belakang tetap dari 1 sampai 4.
Jenis kontaktor magnit (Magnetic Contactor) ada 3 macam :

1. kontaktor magnit utama

2. kontaktor magnit bantu


3. kontaktor magnit kombinasi
Macam-macam kategori kontaktor:

a. Kategori AC 1, dipakai untuk semua jenis beban AC dengan faktor daya 0.95
yaitu beban non induktif atau sedikit induktif. Contoh : pemanasan, distribusi.
b. Kategori AC 2, kategori ini dipakai untuk starting, plugging, inching, dan
swtching off motor slipring. Pada penutupan, kontaktor menghubungkan arus
starting,yang kira-kia 2,5 kali arus nominal motor. Pada pembukaan kontaktor
memutus arus starting pada tegangan yang kurang dari atau sama dengan
tegangan sumber.
c. Kategori AC 3, dipakai untuk motor rotor sangkar dengan switching off
selam kerja normal. Pada penutupan, kontaktor menghubugkan arus starting
anrtara 5-7 kali arus nominal motor. Pada pembukaan, kontaktor memutus
arus nominal motor. Contoh Aplikasi :semua motor rotor sangkar standard,
lift, conveyor.
d. Kategori AC4, kategori ini mencakup aplikasi dengan plugging dan inching
juga jogging motor rotor sangkar dan juga motor slipring. Pada penutupan,
kontaktor menghubungkan arus sebesar 5-7 kali arus motor. Pada pembukaan
kontaktor memutus arus yang sama. Contoh aplikasi : mesin printing, crane
dll.

2. Thermal Overload Relay


Thermal relay atau overload relay adalah peralatan switching yang peka terhadap suhu
dan akan membuka atau menutup kontaktor pada saat suhu yang terjadi melebihi batas
yang ditentukan atau peralatan kontrol listrik yang berfungsi untuk memutuskan jaringan
listrik jika terjadi beban lebih.

Thermal relay atau overload relay adalah peralatan switching yang peka terhadap suhu
dan akan membuka atau menutup kontaktor pada saat suhu yang terjadi melebihi batas
yang ditentukan atau peralatan kontrol listrik yang berfungsi untuk memutuskan jaringan
listrik jika terjadi beban lebih.
Bagian-bagian Thermal Over Load.

Karakteristik :

1. Terdapat konstruksi yang berhubungan langsung dengan terminal kontaktor magnit.


2. Full automatic function, Manual reset, dan memiliki pengaturan batas arus yang
dikehendaki untuk digunakan.
3. Tombol trip dan tombol reset trip, dan semua sekerup terminal berada di bagian depan.
4. Indikator trip
5. Mampu bekerja pada suhu -25 C hingga +55 C atau (-13 F hingga +131 F)

Jenis Kurva Tripping TOR

Keterangan
Class 10 : digunakan untuk motor dengan kerja normal
Class 20 : digunakan untuk motor dengan kerja berat
Class 30 : digunakan untuk motor dengan waktu starting yang lama

Thermal overload relay (TOR) mempunyai tingkat proteksi yang lebih efektif dan
ekonomis, yaitu:

1. Pelindung beban lebih / Overload


2. Melindungi dari ketidakseimbangan phasa / Phase failure imbalance
3. Melindungi dari kerugian / kehilangan tegangan phasa / Phase Loss.

3. Starter
a. Motor Starter DOL
Direct On Line (DOL) starter adalah starter ( pengasut ) yang digunakan untuk
mengoperasikan motor dengan menghubungkan motor secara langsung ke saluran pencatu.
Starter ini juga sering disebut full voltage starter karena motor dihubungkan langsung dengan
sumber daya (pencatu) pada tegangan penuh selama periode start.

Karakteristik DOL starter :

Arus start : 4-8 In (arus nominal motor)


Torsi start : 1,5-3 Tn (torsi nominal motor)
Waktu akselerasi : 0,2-5 detik (normal)
30 detik (berat)

Jenis kontrol ini adalah metode pengaturan yang paling dasar sekali dalam dunia kendali-
mengendalikan motor. Biasanya digunakan untuk proses yang cuma membutuhkan motor bisa
dihidupkan kapanpun dimanapun semua suka dengan arah putaran tertentu, jika ingin bisa dua
arah ada kontrol maju-mundur atau yang dinamakan forward-reverse.

Ada dua rangkaian listrik yang membentuk dari rangkaian DOL ini:

Rangkaian daya yaitu rangkaian yang merupakan jalur tegangan utama motor bisa
220V, 380V, 660V, bahkan 6.6 kV, dan sebagainya. Aliran arus ke motor ditentukan oleh kondisi
anak kontak dari kontaktor utama.

Rangkaian kontrol yaitu rangkaian yang digunakan untuk memutus atau menyambung
aliran arus ke motor melalui anak kontak kontaktor utama. Kontaktor utama harus energize atau
mendapatkan tegangan suplai agar anak kontaknya berubah kondisi. Hal ini dicapai dengan
menekan tombol START atau tertutupnya anak kontak NO dari relai kontrol jarak jauh di
rangkaian kontrol. Tegangan yang dipakai biasanya 110VAC.

Karakteristik arus dan torsi pada starter DOL

Contoh Starter DOL dari Telemecanique

Rangkaian :
Komponen Starter DOL yang digunakan pada praktikum.

Name Plate Starter Motor DOL :

Telemecanique Kontaktor

LE1-D123 220 V, 50 Hz

IEC 158-1 220-240 V, 60 Hz

VDE 0660

Class 10

Whithstand current 1000 A rms sym

Maximal fuse 15 A

AWG 10-18 Cu

LE . D gI 3 ~ AC 3 2~
220 V
3M gI 220 V 380 V 415/440 660 V
V
09 20 A 12 A 20 A 2,2 kW 4 kW 4 kW 5,5 kW 0,75 kW
12 20 A 16 A 25 A 3 kW 5,5 kW 5,5 kW 7,5 kW 1,1 kW
16 40 A 20 A 35 A 4 kW 7,5 kW 7,5 kW 7,5 kW 1,5 kW
25 40 A 25 A 50 A 5,5 kW 11 kW 11 kW 15 kW 2,2 kW
b. Motor Starter Y/D
Starter star-delta banyak di gunakan di industri karena dapat mengurangi arus start yang
berlebihan pada motor dengan kapasitas besar sekitar diatas 2 Kw, pegurangan arus start ini
dengan menggunakan hubungan star terlebih dahulu untuk mengurangi voltase motor lalu ke
hubungan delta dengan voltase penuh.

Pengasutan dengan cara star-delta hanya dapat digunakan pada motor induksi tiga fasa yang
mempunyai 6 buah terminal, dimana ujung-ujung belitan statornya dihubungkan ke terminal-
terminal tersebut untuk hubungan star atau delta.

Sebuah motor yang menggunakan starter delta, motornya diasut (distart) dengan hubungan
bintang (star) dan kemudian dihubungkan segitiga (delta) ketika motor sudah berjalan (run).
Pada saat start, belitan motor dihubungkan bintang, tegangan pada belitan sama dengan

tegangan sumber dibagi 3 dari tegangan nominalnya, arus asutnya diturunkan menjadi

1
3 dari arus nominal.

1
turun
Torsinya turun sebanding dengan kuadrat tegangannya, yaitu 3 dari torsi starting

normal (DOL). Oleh karena itu starting star-delta cocok untuk mesin-mesin yang diasut pada
kondisi tanpa beban atau pada beban ringan seperti kipas angin, blower, kompresor dsb.

Pada rangkaian star-delta terdapat 3 kontaktor untuk merubah dari hubungan star ke delta,
untuk menghidupkan motor dengan menekan tombol PB START yang menyebabkan K1M
dan K2M berkerja sehingga motor berkerja dengan hubungan star, kontaktor K1M terdapat
timer untuk change over dari kontaktor K2M ke K3M, settingan timer disetting 2-5 detik
rata-rata arus start pada motor. Ketika timer mencapai puncak, kontaktor K3M berkerja
sehingga hubungan motor berubah ke delta sehingga motor mendapat voltase maximum.
TOR1 berfungsi sebagai pengaman motor beban lebih ketika motor hubungan start dan
TOR2 untuk mengamankan motor pada hubungan delta, setingan TOR yaitu 1,1 x In (arus
nominal motor). Perlu diperhatikan rangkaian diterminal motor U1, V1 dan W1 dengan U2,
V2 dan W2 karena bila terjadi kesalahan dapat menyebabkan beban lebih.

Karakteristik Torsi pada starter star delta :

Contoh Starter Star Delta Telemechanique


Contoh Starter Star Delta dari ABB :

Komponen Starter Y/D yang digunakan pada praktikum

Name plate Starter motor Star Delta :

Telemecanique

LE3DO9M7 Ith = 25 A

IP 557 Ui = 690 V

VDE 0660-102 Uimp = 6 kV

IEC 439 Koil 380 v 50/60 Hz


20 A
3 ~ AC 3

230 V 400 V 415/440 V

4 kW 7,5 kW 7,5 kW

Kontaktor On Delay TOR

Ui = 690 V, Ith = 10 A 5,5 - 8 A

Kontak NO 67 68 Ui = 690 V ~

Kontak NC 55 56 Uimp = 6 kV
c. Motor Starter DOL dengan Forward Reverse

c. Motor Starter Forward - Reverse

Rangkaian ini untuk merubah putaran motor 3 phasa dengan membalik supply motor,
ini merupakan keistimewaan motor asinkron hanya menukar salah satu Phasa motor dapat
berbalik arah dikarenakan sudut phasa motor berubah. Cara kerja rangkaian yaitu kontaktor
K1M untuk menjalankan motor arah forward (maju) dan kontaktor K2M untuk arah reverse
(mundur), apabila PB FWD ditekan maka kontaktor K1M interlock (mengunci) sehingga
motor mendapat suply phasa R,S dan T dan untuk membalik arah putaran motor, PB STOP
harus ditekan terlebih dahulu karena terdapat rangkaian pengaman untuk mencegah
penekanan tombol apabila motor sedang berjalan gunanya untuk menghindari terjadinya
Overload, Setalah motor telah stop dan kontaktor telah direset maka dapat ditekan PB REV
untuk membalik arah putaran motor dengan memberikan supply motor dengan phasa S,T R.

Komponen yang digunakan dalam praktikum

Nama plate motor starter Forward Reverse

- Kontaktor untuk Forward


Telemecanique Telemecanique
LC1-D129.A60 LA1.D11

AC1 = 25 A IEC 337-1 VDE 0660

3 ~ 220 V Ui 660V ~ Ith 10 A


D N S

AC3 = 12 A

- Kontaktor untuk Reverse


Telemecanique Telemecanique
LC1-D123 LA1.D11
IEC 158-1 IEC 337-1 VDE 0660
AC1 25A Ui 660 V Ui 660 V Ith 10 A
3 ~ 220 V 380V 660 V
AC3 3kW 5,5 kW 7,5 kW

D N S 12 A

4. Penghantar

Adalah kawat penghantar yang digunakan untuk menghubungkan sumber


tegangan dengan beban atau alat listrik. Kawat penghantar yang baik umumnya
terbuat dari logam. untuk penghantar yang mempunyai fleksibilitas tinggi maka
dipergunakan kawat serabut yakni suatu jumlah tertentu kawat pejal yang dipilin
bersama sehingga membentuk ukuran kawat serabut yang besar.

a. Penghantar fasa menggunakan kabel NYAF 0,75 mm2 (merah, kuning, hitam).
Digunakan pada rangkaian kontrol.
b. Penghantar fasa menggunakan kabel NYAF 2,5 mm 2 (merah, kuning, hitam).
Digunakan pada rangkaian daya.
c. Penghantar netral menggunakan kabel NYAF 1,5 mm2 (biru).
d. Penghantar grounding menggunakan kabel NYAF 1,5 mm2 (kuning hijau).
Kemampuan menghantarkan arus dan pengaman

Kemampuan menghantarkan arus terutama dipengaruhi oleh suhu penghantar yang


diizinkan dan kondisi sekitar sejauh panas yang dipindahkan.

Untuk membatasi suhu penghantar kita membatasi besarnya arus. Arus adalah dibatasi
dengan pembatas arus misalnya : sekering, pemutus, saklar pelindung jala-jala, mini
circuit breaker (MCB). Diatas suhu keliling 250 C kemampuan menghantarkan arus dan
koordinasi dari sekering-sekering dan saklar pelindung jala-jala dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :

Tabel 1

Penampang Kabel satu inti dalam Kabel inti banyak, tanpa Kabel satu inti dibentang
tembaga pipa (NYA) selubung, metal, kabel, diudara
rata-rata fleksibel dll
Kemampuan Nominal Kemampuan Nominal Kemampuan Nominal
menghantar sekering menghantar sekering menghantar sekering
arus arus arus
A A A A A A
mm2
0,75 - - 13 10 16 16
1 12 10 16 16 20 20
1,5 16 16 20 20 25 25

2,5 21 20 27 25 34 351)
4 27 25 36 351) 45 50
6 35 351) 47 50 57 63

10 48 50 65 63 78 80
16 65 63 87 80 104 100
25 88 80 115 100 137 125

35 110 100 143 125 168 160


50 140 125 178 160 210 200
70 175 160 220 224 260 250

95 210 200 265 250 310 300


120 250 250 310 300 365 355
150 - - 355 355 415 425

185 - - 405 355 475 425


240 - - 480 425 560 500
300 - - 555 500 645 600

400 - - - - 770 710


300 - - - - 880 850

5. Timer ON Delay

Salah satu jenis timer yang banyak digunakan untuk percepatan motor
dan kendali otomatis adalah timer pneumatic. Timer jenis ini memiliki unit
tunda waktu (time delay) pneumatic (udara) yang secara mekanik dioperasikan
oleh struktur magnet.. timer pneumatic atau sering disebut blok tunda waktu
termasuk salah satu alat tambahan kontaktor dengan pemasangan clip on pada
kontaktor. Timer yang kerja kontak-kontaknya tertahan setelah kontaktor
bekerja disebut on delay (penundaan hidup).
6. Limit Switch

Limit switch merupakan salah satu jenis saklar yang bekerja karena adanya
sentuhan. Limit switch mempunyai beberapa bagian antara lain pengungkit dan roda
penjulang yang merupakan bagian mekanik yang akan menggerakkan lengan
pengungkit dan diteruskan pada bergeraknya suatu kontak baik menutup atau
membuka. Dan perpindahan posisi kontak ini menandakan bahwa limit switch
bekerja. Didalam limit switch terdapat 3 terminal yaitu C, NO, dan NC. Jika
menggunakan C NO maka limit switch digunakan sebagai kontak NO untuk
menghubungkan rangkaian. Namun jika menggunakan C NC maka limit switch
digunakan sebagai kontak NC untuk memutus rangkaian rangkaian. Limit switch
yang digunakan mempunyai kemampuan sampai 10 A.

7. Junction Box

Junction Box adalah tempat penyambungan kabel dari komponen satu ke komponen
lainnya. Dan besar penghantar yang diijinkan masuk adalah antara 1.5 mm 2 sampai
2.5 mm2.
8. DIN V, C dan G

9. Pushbutton

10. Pipa , klem, cable gland dan cable tray


Kabel tray adalah tempat dudukan kabel instalasi listrik yang terdapat pada gedung-
gedung yang memiliki instalasi tenaga cukup rumit fungsinya agar kabel instalasi
tertata rapi dan mudah dalam perawatan/perbaikan bilamana terjadi suatu hal.

11. Perlengkapan pada panel

a. Line up terminal
Peralatan yang digunakan sebagai tempat penyambungan kabel dari sumber di
hubungkan pada titik titik control dan daya yang diperlukan. Terminal merupakan
tempat penyambungan kabel-kabel fasa yaitu R, S, dan T, netral, grounding agar
terjaga dari gesekkan atau guncangan dari luar. Terminal dapat bekerja pada tegangan
max sesuai dari ketentuan dari name plate biasanya berkisar sampai 500-1000 V. Pada
name plate terminal ini menunjukkan beberapa ketentuan dari berbagai Negara yang
memiliki lembaga kelistrikan internasional dimana penghantar yang diijinkan untuk
masuk pada terminal ini adalah antara 1.5 - 4 mm2.

spesifikasi

Komponen yang digunakan 800 V, 2,5 mm


20 A 600 V max 14 AWG

b. MCB 3 fasa

Rangkaian pengaman yang dilengkapi dengan komponen thermal


(bimetal) untuk pengaman beban lebih dan juga dilengkapi relai
elektromagnetik untuk pengaman hubung singkat. MCB banyak digunakan
untuk pengaman sirkit satu fasa dan tiga fasa.
Keuntungan menggunakan MCB, yaitu:

Dapat memutuskan rangkaian tiga fasa walaupun terjadi hubung singkat


pada salah satu fasanya.
Dapat digunakan kembali setelah rangkaian diperbaiki akibat hubung
singkat atau beban lebih.
Mempunyai respon yang baik apabila terjadi hubung singkat atau beban
lebih.

Kurva karakteristik tripping class pada MCB untuk tipe B, C dan D menurut
ABB :
Komponen yang digunakan spesifikasi
Merlin Gerlin C 10
SNI 4500
400~ 6507 1 IEC 898

c. Kabel duct
Kabel Duct pvc berlubang warna abu-abu mudah dalam hal pemasangannya
dimana slot penutup tinggal dibuka dan kabel yang hendak dirapihkan dimasukkan ke
dalamnya.

12. Alat alat yang digunakan


Tang Cucut
Alat yang digunakan dapat digunakan untuk
membuat mata itik.
Tang Pengupas
Alat yang digunakan untuk mengupas isolasi kabel supaya ujung-ujung kabel
tersebut dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Tang Kombinasi
Alat ini dapat digunakan untuk memotong kawat, memegang pelat tipis dan
memegang pipa ukuran kecil.
Tang Potong
Alat yang digunakan untuk memotong kawat listrik/kabel.
3 Obeng
Digunakan untuk melepas atau memasang sekrup - .
1 Obeng +
Digunakan untuk melepas atau memasang sekrup + .
13. Alat ukur yang digunakan
a. Multimeter analog
b. Phase squencer
c. Tang Ampere ( Clamp Meter )
d. Tachometer
BAB III

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1. Jadwal Praktikum

NO MINGGU Ke KEGIATAN

1. I 1. Pembagian tugas
masing-masing kelompok
2. Pemberian mteri tentang instalasi
tenaga
3. Membuat
gambar sirkit kendali dan sirkit daya.

2. II 1. Penggelaran kabel
2. Wiring starter
3. Wiring panel

3. III 1. Melanjutan pengelaran kabel


2. Penyambungan starter ke panel

4. IV 1. Komisioning kontinyuitas
2. Komisioning tak bertegangn
3. Komisioning bertegangan tanpa beban
4. Komisioning bertegangan berbeban

5. V Mengukur arus

6. VI Evaluasi

7. VII Uji kompetensi

4.2. Job dan Pembagian Tugas


1. Job Kelompok 1 Kabin 1

Starter :

a. Direct On-Line (DOL) Starter

b. Y/ Starter

c. Forward Reverse Starter dengan limit switch dan kendali local remote

Kebutuhan Alat dan Bahan


N Uraian Keterangan Jenis
o
1 Q11 - PANEL Kabel Power NYYHY 5x1,5 mm
(F11)
2 Q13 - PANEL Kabel Power NYYHY 5x1,5 mm
(F13)
3 Q13 - PANEL (Q3) Kabel Power NYYHY 4x1,5 mm
4 S14 - PANEL Kabel Power NYYHY 4x1,5 mm
5 Q11 - MOTOR Kabel Power NYM 4x1,5 mm
6 Q13 - MOTOR Kabel Power NYYHY 4x1,5 mm
7 PANEL - SUPPLY Kabel Power NYYHY 5x1,5 mm
8 Q3 - MOTOR Daftar Barang
Kabel Power yang Dipasang
NYYHY 4x1,5 mm
N Uraian Jumla Spesifika Keterangan
o h si
1 Q3 (model putar) 1 terlampir starter DOL
N URAIAN SPESIFIK PANJANG SATUA KETERANGAN
2 Q11 (starter Y/D) 1 terlampir magnetik starter Y/D
3O Q13 (tanpa N
1 terlampir magnetik starter forward-
2
1 tombol)
Terminal Sumber ke NYF 2,5 mmreverse 127 Cm Tersedia
4 S14MCBa dan
UtamaS14 b 2 terlampir limit switch
52 S14
MCB Utama ke MCB 1 -NYF 2,5 mmsaklar
2
kaki
101 Cm Tersedia
6 isiDOL
panel - -
3 Line
MCBupUtama
terminal
ke MCB 39 terlampir
NYF 2,5 mm-2 141 Cm Tersedia
MCB 3 fasa 5 terlampir -
YD
4 Klem
MCBCUtama ke MCB 12 -NYF 2,5 mmterbuat
2 dari
140metal atau
Cmlogam Tersedia
Klem 10mm 5 - terbuat dari PVC
Forward Reverse
Kabel NYYHY 3 - 5x1,5mm
5 MCB DOL ke terminal NYF 2,5 mm2 83 Cm Tersedia
6 MCB Y D ke terminal 4
Kabel NYYHY -NYF 2,5 mm4x1,5mm
2
111 Cm Tersedia
7 Kabel
MCBNYMF R ke terminal 1 -NYF 2,5 mm7x1,5mm
2
141 Cm Tersedia
8 MCB ke MCB NYF 2,5 mm2 135 Cm Tersedia
9 Kabel PE NYF 2,5 mm2 50 Cm Tersedia
10 Kabel Netral NYF 2,5 mm2 50 Cm Tersedia
2
11 Terminal ke terminal NYF 2,5 mm 75 Cm Tersedia

Kebutuhan Alat Selama Proses Pengerjaan Instalasi Tenaga

1. Obeng (+) dan (-)


2. Tang potong
3. Tang cucut
4. Tang Kupas
5. Multi Chek
6. Cutter
7. Isolasi Kertas
2. Pemabagian Tugas

No. Tugas Penanggung Jawab


1 Penggelaran kabel 1. Risa W.
2. Nur M.
2 Pengambilan Alat 1. Dina K.
2. Alfia E.
3 Gambar sirkit daya, sirkit control dan
wiring peralatan
1. Nur M, Alfia
a. Starter Y/D
2. Dina K.
b. Starter DOL
3. Katon W.
c. Starter untuk Forward Reverse
4. Risa W.
d. Panel
4 Komisioning
a. Komisioning kontinyuitas Seluruh anggota
b. Komisioning tak bertegangn
kelompok
c. Komisioning bertegangan tanpa
beban
d. Komisioning bertegangan
berbeban
3. Gambar Sirkit daya, Sirkit kontrol dan Wiring
a. Sirkit daya dan sirkit control starter DOL
4.
5.

6.
7. Wiring diagram Starter DOL

8.
9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

a. Sirkit daya dan sirkit control Starter Y/D


16. Sirkit Kendali Y/D Starter

17.
18. Sirkit daya Forward Reverse

19.
20. Sirkit Kendali Forward Reverse
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.

50.

51. Pelaksanaan Wiring pada starter

a. Starter DOL
52. Penanggung Jawab : Dina Kurnia
53. Pelaksana : Dina Kurnia
54. Alat dan Bahan :
Gambar Kerja
Starter DOL
Satu set obeng
Satu set tang
Multimeter
Kabel NYAF (0,75 mm2, 1,5 mm2)
55. Langkah kerja :

Menyiapkan gambar kerja


Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan
Mencatat spesifikasi peralatan
Melakukan wiring sesuai dengan gambar kerja, dengan
menggunakan kabel NYAF 0,75 mm2
Melakukan pengecekan sambungan dengan multimeter

56.

57.

58.

59.

60.

61.

a.
b. Starter Y/D
62. Penanggung Jawab : Nur Mirza K. dan Alfia Estitika
63. Pelaksana : Nur Mirza K. dan Alfia Estitika
64. Alat dan Bahan :
Gambar Kerja
Starter Y/D
Satu set obeng
Satu set tang
Multimeter
Kabel NYAF (0,75 mm2, 1,5 mm2)

65. Langkah kerja :

Menyiapkan gambar kerja


Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan
Mencatat spesifikasi peralatan
Melakukan wiring sesuai dengan gambar kerja, dengan
menggunakan kabel NYAF 0,75 mm2
Melakukan pengecekan sambungan dengan multimeter

66.
67.
68.
69.
70.

71.

72.

a. Starter Forward Reverse


73. Penanggung Jawab : Katon Wahyu
74. Pelaksana : Katon Wahyu
75. Alat dan Bahan :
Gambar Kerja
Starter Forward Reverse
Satu set obeng
Satu set tang
Multimeter
Kabel NYAF (0,75 mm2, 1,5 mm2)

76. Langkah kerja :

Menyiapkan gambar kerja


Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan
Mencatat spesifikasi peralatan
Melakukan wiring sesuai dengan gambar kerja, dengan
menggunakan kabel NYAF 0,75 mm2
Melakukan pengecekan sambungan dengan multimeter

77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.

4. Wiring Pada Panel


1.
2. Penanggung Jawab : Risa Wahyu
3. Pelaksana : Risa Wahyu
4. Alat dan Bahan :
Gambar Kerja
Panel
Satu set obeng
Satu set tang
Multimeter
Kabel NYAF (0,75 mm2, 1,5 mm2)

5. Langkah kerja :

Menyiapkan gambar kerja


Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan
Mencatat spesifikasi peralatan
Melakukan wiring sesuai dengan gambar kerja, dengan
menggunakan kabel NYAF 1,5 mm2
Memastikan sambungan kuat dan kencang
Melakukan pengecekan sambungan dengan multimeter
Apabila sudah selesai pasang panel pada box panel

6.
5. Pemasngan komponen dan penyambungan starter pada panel

1. Pembagian tugas :

2. N 3. Tugas 4. Penanggung
o Jawab
5. 1 6. Membuat diagram lokasi dan 7. Risa Wahyu
. single line diagram
8. 9. Memasang setiap komponen 10. Setiap PJ Starter (
2. sesuai job wiring masing-
masing )
11.12. Penyambungan starter pada 13. Seluruh anggota
3. panel kelompok
14.15. Labeling 16. Alfia Estitika
17. Dina Kurnia
4.
18.19. Pengecekan sambungan 20. Seluruh anggota
5. kelompok
21. Penanggung Jawab : Risa Wahyu
22. Pelaksana : Alfia Estitika
23. Dina Kurnia
24. Nur Mirza
25. Katon Wahyu
26.
27. Alat dan Bahan :
Gambar Kerja
Satu set obeng
Satu set tang
Multimeter
Kabel NYAF (0,75 mm2, 1,5 mm2)
Klem C
Kabel NYA (1,5 mm2)
Kabel NYYHY
Kabel Gland
Isolasi kertas dan alat tulis (untuk labeling)

28. Langkah kerja :

Menyiapkan gambar kerja ( Diagram lokasi dan single line


diagram
Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan
Memasang setiap komponen sesuai dengan digram lokasi
Karena penyambungan menggunakan kabel NYYHY mak
pastikan urat kabel sesuai dengan kebutuhan
Melakukan penyambungan setiap motor starter ke panel sesuai
dengan single line diagram.
Merapikan kabel dengan klem C
Memastikan sambungan kuat dan kencang
Melakukan pengecekan sambungan dengan multimeter
Melakukan labeling pada setiap kabel sesuai dengan single line
diagram
29.

30.
1.

31.
2.

32.

33.
6. Pemasangan motor
7. Pelaksanaan Komisioning

1.
o COMMISIONING TIDAK BERTEGANGAN
Pengecekan Koneksi (Kontinyuitas) Komponen
2.
3.

1. Pengecekan Koneksi Komponen

4. Pada pengecekan koneksi komponen kelompok kami menggunakan


ohm meter untuk mengetahui apakah koneksi antar terminal
tersambung dengan baik atau tidak. Diantaranya koneksi antar :

5. 1. MCB utama

6. 2. MCB untuk starter DOL, MCB untuk starter Star Delta, MCB
untuk starter forward reverse

7. 3. Line Up Terminal

8. 4. Pada Panel Starter DOL, Pada Panel Starter Star Delta, Pada Panel
Starter forward reverse

9. 5. Pada S 4: Limit switch A, Limit switch B

10. 6. Beban: Motor Starter DOL, Motor Starter Star Delta, Motor
Starter forward reverse

11. Dan tersambung dengan baik, maka kelompok kami dapat melakukan
pengecekan ke tahap selanjutnya.

12.

13.

14.

15.

16.
17. 18.YANG 19. 21. 22.
DIPERIKSA H K 23.K
E
20. T
( E
R
A
N
G
A
N
24. 44.Pada Panel 50. 71. 91.
25. Utama
45.MCB utama 51. 72.
12
34 52. 73.
29. 56 0
46.MCB untuk 53. 74.
starter DOL 0 B
12 54.
33. 34 0 75.
56 55.
47.MCB untuk 76.
starter Star - 56.
Delta 0 77.
38. 12 57.
34 0 78.
56 58. B
48.MCB untuk 0
starter 59. 79.
43. forward
reverse 60. 80.
12
34 61. 81.
56 0
49.Line Up 62. 82.
Terminal 0 B
63.
39buah
0 83.
64.
84.
65.
85.
66.
0 86.
67.
0 87.
68. B
0
69. 88.

70. 89.
0
90.
B

92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.
100.
101. 102. YANG 103. 105. 106.
DIPERIKSA H K
107.
104. KET
(O E
R
A
N
G
A
N
108. 123. Pada 127. 141. 155.
Panel Starter
109. DOL 128. 142. 156.
124. Kontak
110. tor KM 1 129. 143.
111. Coil A1 A2 7
112. Kontak 1 2 144.
113. 130. B
Kontak 3 4
114. 0
Kontak 5 6
115. 131. 145.
Kontak 13 14
0
125. Therm
116. 132. 146.
al Overload
117. 0
Relay
118. 133. 147.
Kontak 95 - 96
119. 0
120. Kontak 1 2 134. 148.
Kontak 3 4
121. Kontak 5 6 135. 149.
122. 126. Saklar 0
Push Button 136. 150.
Kontak NO 17-18 0 B
137.
0 151.
138.
0 152.
139.
153.
140.
0 154.
B

157.
158.
159.
160.
161.
162.
163.
164.
165.
166.
167.
168. 169. YANG 170. 171. 172.
DIPERIKSA HA KO KET
E
R
A
N
G
A
N

173. 201. Pada 206. 235. 261.


Panel Starter 207.
174. Star - Delta 208. 236. 262.
202. Kontakt 16
175. or KM 1 237. 263.
176. o Coil A1 A2
177. o Kontak 1 2 209. 238. 264.
178. o Kontak 3 4
179. o Kontak 5 6 210. 239. 265.
180. o Kontak 21 22
181. o Kontak 43 44 211. 240. 266.
203. Kontakt Bai
182. or KM 2 + On 212. 267.
183. Delay 241.
184. o Coil A1 A2 213. 268.
185. o Kontak 1 2 242.
186. o Kontak 3 4 214. 269.
o Kontak 5 6
187. o Kontak 21 22 215. 243.
188. o Kontak 55 56 (KT) 18 270.
204. Kontakt 244.
189. or KM 3 271.
190. o Coil A1 A2 216. 245.
191. o Kontak 1 2 272.
192. o Kontak 3 4 217. 246.
193. o Kontak 5 6 Bai 273.
194. o Kontak 21 22 218.
195. o Kontak 43 44 247. 274.
205. Thermal 219.
196. Overload 248. 275.
197. Relay 220.
198. o Kontak 95 - 96 249. 276.
199. o Kontak 1 2 221.
200. o Kontak 3 4 222. 250. 277.
o Kontak 5 6 223.
o Kontak NO
18 251.

252.
224.
253.
225.
254.
226. Bai

227. 255.

228. 256.

229. 257.
230.
258.
231.
259.
232.
260.
233. Bai

234.

278.
279.
280.
281.
282. 283. YANG 284. 285. 286.
DIPERIKSA H K KET
E
R
A
N
G
A
N
287. 313. Pada 318. 340. 370.
Panel Starter
288. forward reverse 319. 341.
314. Kontakto
289. r KM 1 320. 342.
290. o Coil A1 A2 6
291. o Kontak 1 2 343.
292. o Kontak 3 4 321.
293. o Kontak 5 6 0 344.
294. o Kontak 21 22 322. B
295. o Kontak 43 44 0
296. 315. Kontakto 323. 345.
r KM 2 0
297. o Coil A1 A2 324. 346.
298. o Kontak 1 2 0
299. o Kontak 3 4 325. 347.
300. o Kontak 5 6 0
301. o Kontak 21 22 326. 348.
o Kontak 43 44
302.
316. Thermal
303. 327. 349.
Overload Relay
F1
304. 328. 350.
o Kontak 95 - 96
305. 6
o Kontak 1 2
306. 351.
o Kontak 3 4
307. 329.
o Kontak 5 6
308. 0 352.
317.
309. 330. B
310. 0
311. 331. 353.
312. 0
332. 354.
0
333. 355.
0
334. 356.

335. 357.
0
336. 358.
0 B
337.
0 359.
338.
0 360.
339.
361.

362.

363.

364.

365.

366.

367.

368.

369.

371.
372.
3. 4. YANG 5. 6. 7. KE
DIPERIK HA K TE
SA RA
NG
AN
8. 14.Pada S 4 22. 28. 34.
9. 15.Limit
switch A 23. 29.
16.
12. 17. 24. 30.
18.Limit 0, B
switch B
19. 25. 31.
20.
21. 26. 32.
0, B

27. 33.

35. 37.Beban 42. 57. 72.


38.Motor
Starter 43. 58.
DOL
o U1 U2 44. 59.
o V1 V2 15
o W1 W2 45. 60.
39.Motor 15 B
Starter 46.
Star 15 61.
Delta 47.
o U1 U2 62.
o V1 V2 48.
o W1 W2 63.
40.Motor 49.
Starter 4 64.
Doble 50.
Speed 4 65.
o U1 U2 51. B
o V1 V2 4
o W1 W2 52. 66.
41.
53. 67.

54. 68.
6
55. 69.
6
56. 70.
6 B

71.
374.
Pemeriksaan Tahanan Isolasi
375.

376. Pemeriksaan Tahanan Isolasi

377. Pada tahap pemeriksaan tahanan isolasi hal yang perlu digaris
bawahi adalah semua beban harus dilepaskan agar terhindar dari
kerusakan, hal ini dikarenakan pada tahap pemeriksaan tahanan isolasi
menggunakan alat insulation tester (magger) dengan tegangan 500 V,
dan hubungan ke netral harus dilepas karena dapat mempengaruhi hasil
test dan kerusakan peralatan yang dipakai.

378. Hasil pengukuran kelompok kami pada tahap pemeriksaan


tahanan isolasi menunjukan bahwa pada Panel serta pada Beban
(motor 3 phasa):

1. Sirkit arus fase R Pembumian / body

2. Sirkit arus fase S Pembumian / body

3. Sirkit arus fase T Pembumian / body

4. Sirkit arus fase R Sirkit arus fase S

5. Sirkit arus fase R Sirkit arus fase T

6. Sirkit arus fase S Sirkit arus fase T

7. Sirkit tegangan R Netral

8. Sirkit tegangan S Netral

9. Sirkit tegangan T Netral

379.

380. 1. Sirkit arus U Pembumian / body

381. 2. Sirkit arus V Pembumian / body

382. 3. Sirkit arus W Pembumian / body

383. 4. Sirkit arus U Sirkit arus V

384. 5. Sirkit arus U Sirkit arus W


385. 6. Sirkit arus V Sirkit arus W

386.

387. Tidak mengalami masalah dan alat ukur kelompok kami


menunjukan lebih dari 5M. Maka pengecekkan dapat dilanjutkan ketahap
selanjutnya.

388.

389.

390.

391.
392.
393. 394. YANG DIPERIKSA 395. 397.
NO. H MI

396. 398.
( (

399. 410. Panel Utama 420. 431.


411. Sirkit arus fase
400. R Pembumian 421. 432.
412. Sirkit arus fase S ~
401. Pembumian 422. 433.
413. Sirkit arus fase T ~
402. Pembumian 423. 434.
414. Sirkit arus fase ~
403. R Sirkit arus fase S 424. 435.
415. Sirkit arus fase ~
404. R Sirkit arus fase T 425. 436.
416. Sirkit arus fase S ~ 5
405. Sirkit arus fase T 426.
417. Sirkit tegangan ~
406. R Netral 427.
418. Sirkit tegangan ~
407. S Netral 428.
419. Sirkit tegangan ~
408. T Netral 429.
~
409. 430.
437. 448. Panel Starter 458. 468.
DOL 5
438. 449. Sirkit arus fase 459.
R Pembumian / body ~
439. 450. Sirkit arus fase S 460.
Pembumian / body ~
440. 451. Sirkit arus fase T 461.
Pembumian / body ~
441. 452. Sirkit arus fase 462.
R Sirkit arus fase S ~
442. 453. Sirkit arus fase 463.
R Sirkit arus fase T ~
443. 454. Sirkit arus fase S 464.
Sirkit arus fase T ~
444. 455. Sirkit tegangan 465.
R Netral ~
445. 456. Sirkit tegangan 466.
S Netral ~
446. 457. Sirkit tegangan 467.
T Netral ~
447.
469.
470.

471. 472. YANG DIPERIKSA 473. 475.


NO. H MI

474. 476.
( (

477. 488. Panel starter 498. 508.


Star - Delta
478. 489. Sirkit arus fase 499. 509.
R Pembumian / body ~
479. 490. Sirkit arus fase S 500. 510.
Pembumian / body ~
480. 491. Sirkit arus fase T 501. 511.
Pembumian / body ~
481. 492. Sirkit arus fase 502. 512.
R Sirkit arus fase S ~
482. 493. Sirkit arus fase 503. 513.
R Sirkit arus fase T ~ 5
483. 494. Sirkit arus fase S 504.
Sirkit arus fase T ~
484. 495. Sirkit tegangan 505.
R Netral ~
485. 496. Sirkit tegangan 506.
S Netral ~
486. 497. Sirkit tegangan 507.
T Netral ~
487.
514. 525. Panel starter 535. 545.
forward reverse 5
515. 526. Sirkit arus fase 536.
R Pembumian / body ~
516. 527. Sirkit arus fase S 537.
Pembumian / body ~
517. 528. Sirkit arus fase T 538.
Pembumian / body ~
518. 529. Sirkit arus fase 539.
R Sirkit arus fase S ~
519. 530. Sirkit arus fase 540.
R Sirkit arus fase T ~
520. 531. Sirkit arus fase S 541.
Sirkit arus fase T ~
521. 532. Sirkit tegangan 542.
R Netral ~
522. 533. Sirkit tegangan 543.
S Netral ~
523. 534. Sirkit tegangan 544.
T Netral ~
524.
546.
547.

548. 549. YANG DIPERIKSA 550. 552.


NO. H MI

551. 553.
( (

554. 562. Pada Motor 569. 579.


untuk starter DOL
580.
555. 563. Sirkit arus U 570.
Pembumian / body ~
581.
571.
556. 564. Sirkit arus V
~
Pembumian / body 582.
572.
557. 565. Sirkit arus W ~
583.
Pembumian / body 573.
558. 566. Sirkit arus U ~ 5
Sirkit arus V 574.
~
559. 567. Sirkit arus U
575.
Sirkit arus W ~
560. 568. Sirkit arus V 576.
Sirkit arus W ~
577.
561.
~
578.

584. 591. Pada Motor 598. 607.


untuk starter Star - 5

585. Delta 599.


592. Sirkit arus U ~
600.
586. Pembumian / body
~
593. Sirkit arus V 601.
587. Pembumian / body ~
594. Sirkit arus W 602.
~
588. Pembumian / body
603.
595. Sirkit arus U ~
589. Sirkit arus V 604.
596. Sirkit arus U ~
605.
590. Sirkit arus W
~
597. Sirkit arus V 606.
Sirkit arus W ~
608.

609. 610. YANG 611. 613.


NO. DIPERIKSA H M

612. 614.
( (
615. 625. Pada Motor 633. 640.
forward revers
616. 626. Sirkit arus U 634. 641.
Pembumian / body ~
617. 627. Sirkit arus V 635. 642.
Pembumian / body ~
618. 628. Sirkit arus W 636. 643.
Pembumian / body ~
619. 629. Sirkit arus U 637. 644.
Sirkit arus V ~ 5
620. 630. Sirkit arus U 638. 645.
Sirkit arus W ~
621. 631. Sirkit arus V 639. 646.
Sirkit arus W ~
622. 632. 647.
623.
624. 648.

649.
650. Catatan :

Pengukuran dengan insulation tester

651.
o COMMISIONING BERTEGANGAN

Pengukuran Tegangan
652. Pengukuran tegangan saat tidak berbeban

653. Pengukuran tegangan saat tidak berbeban

654. Kelompok kami pada tahap pengukuran tegangan saat tidak berbeban
menggunakan alat ukur volt meter dan hasil yang ditunjukan pada alat ukur kami
bahwa tegangan antar fase :

a. R - S

b. R - T

c. S - T

d. R - N

e. S N

f. T N
g. R PE

h. S PE

i. T PE

655.

656. Tegangan Line (L L) 400V dan tegangan fasa (L- N) 220 V, maka
tegangan tersebut masih memenuhi batas toleransi dari tegangan sebesar 5%,
sehingga dapat dilanjutkan ke tahap pengukuran tegangan saat berbeban.

657.

658. 659. 660. 661. Ke


Fas Te terangan
e
662. 672. 683. 693.
663.
673. 684.
664. R- 40
S
665. 674. 685.
R- 40
666. T
675. 686.
667. S- 39
T
668. 676. 687.
R- 23
669. N
677. 688.
670. S 23
N
671. 678. 689.
T 22
N
679. 690.
R 23
P
E 691.
680. 23
S
P 692.
E 22
681.
T
P
E
682.

694.
695.

2. Pengukuran tegangan saat berbeban

696. Pengukuran tegangan saat berbeban

697. Sama dengan halnya pengukuran tegangan saat tidak berbeban, di


tahap pengukuran tegangan berbeban menggunakan alat ukur volt meter dan
hasil yang ditunjukan pada alat ukur kami bahwa tegangan antar fase :

a. R - S

b. R - T

c. S - T

d. R - N

e. S N

f. T N

g. R PE

h. S PE

i. T PE

698. Tegangan Line (L L) 400V dan tegangan fasa (L- N) 220 V, maka
tegangan tersebut masih memenuhi batas toleransi dari tegangan sebesar 5%,
sehingga dapat dilanjutkan ke tahap pengukuran arus saat berbeban

699.

700.
701.

702.

703. 704. 705. 706. Ke


Fas Te terangan
e
707. 717. 727. 737.
Pad
708. a 728.
40
709. S
u 729.
710. m 40
b
711. e 730.
r 40
712. 718.
R- 731.
713. S 23
719.
714. R- 732.
T 23
715. 720.
S- 733.
716. T 22
721.
R- 734.
N 23
722.
S 735.
N 23
723.
T 736.
N 23
724.
R
P
E
725.
S
P
E
726.
T
P
E
738.
739.
740.
741.

742. 743. Fa 744. 745.


se T Keterang
an
746. 756. Pa 767. 777.
da
747. Starter 768. 778.
DOL 4
748. 757. R
-S 769.
749. 758. R 4
-T
750. 759. S 770.
-T 3
751. 760. R
-N 771.
752. 761. S 2
N
753. 762. T 772.
N 2
754. 763. R
PE 773.
755. 764. S 2
PE
765. T 774.
PE 2
766.
775.
2

776.
2

779. 789. Pa 800. 810.


da
780. Starter 801.
Star - 4
781. Delta
790. R 802.
782. -S 4
791. R
783. -T 803.
792. S 4
784. -T
793. R 804.
785. -N -
794. S 805.
786. N -
795. T 806.
787. N -
796. R 807.
788. PE 2
797. S
PE 808.
798. T 2
PE
799. 809.
2

811.

812. 813. Fas 814. 815.


e T Keteran
gan
816. 828. Pad 839. 850.
a Starter
817. forward- 840.
818. revese
829. R- 841.
819. S 4
830. R-
820. T 842.
831. S- 4
821. T
832. R- 843.
822. N 4
833. S
823. N 844.
834. T -
824. N 845.
835. R -
825. PE 846.
836. S -
826. PE 847.
837. T 2
827. PE
838. 848.
2

849.
2

851.
852. Catatan :

Pengukuran dengan Volt meter atau Multimeter


853.

Pengukuran Arus Saat Berbeban


854. Pengukuran Arus Saat Berbeban

855. Di tahap pengukuran arus berbeban di bedakan menurut arus pada


kondisi starting dan pada kondisi running, pada kondisi starting arus yang tercatat
pada tang ampere terbilang lebih kecil daripada arus pada kondisi running.

856. Pengukuran arus dilakukan dilakukan pada :

1. Sumber

2. Motor Starter DOL

3. Motor Starter Star Delta

4. Motor forward reverse


857.
858. 860. 862. 863.
859. 861. Fasa Arus
(amp 864.
er) Keter
867. 868. an
St R ga
n
870. 876. Pada 882. 888. 894.
Sumber
871. 877. R 883. 889.
878. S 2, 5
872. 879. T
880. N 884. 890.
873. 881. PE 2, 5

874. 885. 891.


2, 5
875.
886. 892.
0 0
887. 893.
0 0
895. 901. Pada 907. 913. 919.
Motor Starter
896. DOL 908. 914. 920.
902. R 0, 0
897. 903. S 921.
904. T 909. 915. 1400
898. 905. N 0, 0 rp
906. PE m
899. 910. 916.
0, 0
900.
911. 917.
- -
912. 918.
0 0

922. 936. Pada 947. 961. 975.


Motor Starter
923. Star Delta 948. 962. 976.
924. Saat Star (bintang)
937. R 949. 963. 977.
925. 938. S
939. T 950. 964. 978.
926. 940. N 0, 0
941. PE 979.
927. Saat Delta 951. 965. 1450
(segitiga) 0, 0 rp
928. 942. R m
943. S 952. 966. 980.
929. 944. T 0, 0
930. 945. N 981.
931. 946. PE 953. 967.
- - 982.
932. 954. 968.
0, 0 983.
933.
955. 969. 984.
934.
956. 970. 985.
935. - 2
957. 986.
- 971. 1450
958. 2 rp
- m
959. 972.
- 2
960.
- 973.
-
974.
0

987.

988.

989.

990. 992. 994. 995.


991. 993.Fasa Arus
(amp 996.
er) Ket
999. 1000. e
S R r
a
n
g
a
n
1002. 1015. Pada 1026. 1039. 1053.
Motor 1027. 1040.
1003. forward 1028. 1041. 1054.
1004. reverse 0, 1042.
Forward 0, 1055.
1005. 1016. R 1029.
1017. S 0, 1043. 1056.
1006. 1018. T 0,
1019. N 1030. 1057.
1007. 1020. PE 0, 1044.
Reverse 0, 1058.
1008. 1021. R 1031.
1022. S - 1045. 1059.
1009. 1023. T 1032. - 140
1010. 1024. N 0, 1046. 0
1025. PE 0,
1011. 1033. r
1034. 1047. p
1012. 0, 1048. m
0, 1060.
1013. 1035.
0, 1049. 1061.
1014. 0,
1036. 1062.
0, 1050.
0, 1063.
1037.
- 1051. 1064.
1038. -
0, 1052. 1065.
0,

1066.

1067. Catatan :

Pengukuran arus dengan menggunakan Tang amper (clamp


on meter )
1068.
1069.
1070.

1071.

1072.

1073.
1074.