Anda di halaman 1dari 9

Bab 19 Wawancara dan Interogasi

Wawancara merupakan sesuatu yang sering dilakukan oleh Auditor dalam menjalankan
tugas audit, dan merupakan salah satu tehnik dalam pengumpulan keterangan, memahami obyek
pemeriksaan, menguji keterangan yang telah didapatkan sebelumnya, melengkapi keterangan
yang lain, dan tujuan-tujuan lainnya dari wawancara tersebut.
Wawancara dan interogasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah investigasi
Fraud, seperti umumnya pelaksanaan investigasi, salah satu tantangan terberat dari wawancara
dan interogasi adalah "waktu" seorang investigator yang baik harus mampu membuat jadwal dan
urutan wawancara yang benar sebelum wawancara dilakukan, terutama untuk case-case yang
melibatkan karyawan / nasabah / pihak ketiga terkait dalam jumlah banyak.
Informasi harus sebanyak-banyaknya dikumpulkan, karena informasi merupakan nafas
dan darahnya audit investigatif. Informasi tersebut diperoleh melalui pengumpulan bukti-bukti
seperti pemeriksaan fisik, dokumen, konfirmasi, prosedur analitis, penghitungan ulang, observasi
maupun tanya jawab. Semua bukti-bukti tersebut biasanya dikumpulkan terlebih dahulu sebelum
dilakukan wawancara. Karena kalau bukti-bukti tersebut belum lengkap, auditor investigatif
belum mempunyai bekal mengenai fakta atau informasi yang banyak mengenai
permasalahan/kasus tersebut sehingga sulit untuk dilanjutkan dengan wawancara.
Setelah auditor investigatif mengetahui banyak fakta dan informasi melalui bukti-bukti
yang telah diperoleh, maka tahap berikutnya adalah wawancara dalam rangka meyakinkan bukti-
bukti yang telah diperoleh betul-betul bukti audit yang kompeten dan bisa digunakan sebagai
dasar penyusunan Laporan Hasil Audit Investigasi (LHAI). Untuk memperdalam hasil
wawancara biasanya diajukan dengan interogasi.
Dalam buku, menyatakan wawancara dan interogasi merupakan suatu teknik atau alat
investigasi yang sangat penting. Banyak orang, termasuk profesional dalam bidang penyidikan
mengacaukan istilah wawancara atauinterview dengan istilah interogasi atau interrogation.
Keduanya berbeda baik tujuan maupun cara.

Perbedaan antara Wawancara dengan Interogasi


Kedua istilah ini, wawancara dan interogasi, sering digunakan sebagai sinonim. Hal ini
umumnya karena ketidaktahuan. Ada juga penyidik yang mengerti makna kedua istilah ini, tetapi
sengaja menggunakannya secara keliru. Misalnya, untuk memberi kesan kepada majelis hakim
bahwa ia tidak menggunakan kekerasan, maka ia menggunakan istilah wawancara padahal istilah
interogasi lebih tepat menggambarkan tidak pemeriksaan atau investigasinya.

Ciri-ciri suatu Wawancara


Wawancara bersifat netral, tidak menuduh. An interview is nonaccusatory. Ini perbedaan
utama antara wawancara dengan interogasi. Sekalipun investigator mempunyai alasan untuk
percaya bahwa yang bersangkutan terlibat dalam kejahatan atau ia telah berbohong, substansi
dan caranya bersifat nonaccusatory ketika melakukan wawancara.
Dengan cara yang tidak bersifat menuduh, investigator dapat mengembangkan hubungan
yang menimbulkan rasa percaya dan hormat. Dengan orang yang diwawancarainya.
Tujuan wawancara adalah mengumpulkan informasi. Selama melakukan wawancara,
investigator harus mengumpulkan informasi yang penting bagi investigasinya (investigative
information) dan informasi mengenai perilaku dari orang yang diwawancarainya (behavioral
information). Contoh investigative information: apa hubungan antara orang yang diwawancarai
dengan orang tertentu yang dicurigai merupakan otak dari perbuatan tindak pidana yang
diperiksa. Contoh behavioral information: keterangan mengenai perilaku orang yang
diwawancarai ketika ia menjawab pertanyaan, bagaimana ia duduk, kontak mata dengan yang
mewawancarainya, ekspresi wajahnya, caranya memberi tanggapan atau jawaban, pilihan kata
atau kalimat; semua ini dapat memberi petunjuk apakah ia berkata jujur atau berbohong.
Pada akhirnya, pewawancara harus menilai kredibilitas dari tanggapan yang diberikan
oleh orang yang diwawancarai. Hal ini utamanya dilakukan melalui evaluasi atas sikap
(behavioral responses) selama wawancara, seiring dengan penilaian atas substansi informasi
yang diberikan.
Wawancara dapat dilakukan pada awal investigasi. Karena tujuan wawancara adalah
mengumpulkan informasi, tentunya semakin banyak informasi yang diketahui pemeriksa
sebelum wawancara dimulai, semakin baik. Wawancara terkadang terpaksa dilakukan meskipun
pemeriksa baru mempunyai gambaran kasar tentang bagaimana
kemungkinan fraud dilaksanakan, atau bahkan sebekum pemeriksaan dapat mengidentifikasi
bukti yang harus diperoleh.
Wawancara dapat dilakukan dalam berbagai lingkungan atau suasana.Pemeriksa
terkadang mempunyai peluang menemui orang itu di kantornya, atau dalam pejalanan (jalan
kaki) dari tempatnya makan siang, di sudut jalan, dalam mobil, dan lain-lain.Memang, idealnya,
wawancara meskipun semua informasi belum diperolehnya.
Wawancara harusnya bersifat cair, tidak terstruktur, dan bisa melompat dari satu pokok ke
pokok pembicaraan lain. Sebelum wawancara dimulai, pemeriksaan mempunyai gambaran
mengenai informasi apa yang ingin dikumpulkannya. Namun, ia juga tidak boleh kaku. Secara
kreatif, ia harus mengembangkan pertanyaan atas informasi yang diterimanya selama wawancara
berlangsung. Informasi baru mungkin tidak diduga atau diharapkan. Pemeriksa juga pandai
membaca suasana, misalnya untuk memutuskan menghentikan wawancara meskipun semua
informasi belum diperolehnya.
Investigator harus membuat catatan mengenai wawancara formal (formal interview) yang
dilakukannya. Wawancara formal adalah wawancara yang dilakukan dalam lingkungan
terkendali (controlled information). Mencatat mempunyai beberapa kegunaan. Bukan saja ada
pendokumentasian, tetapi mencatat juga menyebabkan investigator memperlambat proses
bertanya. Ini memungkinkan investigator mengamati perilaku dari orang yang diwawancarainya.
Pemeriksa perlu mengetahui bahwa seseorang lebih mudah berbohong ketika pertanyaan
diajukan dengan kecepatan tinggi., seperti tembakan yang dilepas dari senapan otomatis.
Mengatur tanya-jawab yang diselingi masa hening yang panjang memberi peluang bagi yang
diwawancarai untuk berfikir mengenai tanggapan yang bersifat menyesatkan (deceptive
response). Pada gilirannya, ini akan menyebabkan kecemasan yang terlibat dalam gejala tingkah
laku menipu (behavior symptoms of deception). Juga, kalau yang diwawancarai adalah orang
yang tidak bersalah, ia bisa bingung menghadapi pertanyaan yang diajukan dengan kecepatan
tinggi.
Catat hasil wawancara dari awal sampai akhir, dan jangan sporadic (kadang dicatat,
kadang tidak). Mencatat secara sporadic memberi kesan kepada yang diwawancarai bahwa
jawaban tertentu penting sehingga dicatat oleh investigator. Ketika ditanyakan, pertanyaan lain
yang terkait dengan jawaban yang dicatat, ia akan menjadi ekstra hati-hati. Mencatat secara
sporadis akan menghambat arus informasi selama wawancara.
Ciri-ciri suatu Interogasi
Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan interogasi adalah pertanyaan, atau
pemeriksaan terhadap seseorang melalui pertanyaan lisan yang bersistem.
Tuanakotta (2007) menyatakan interogasi bersifat menuduh. An interrogation is
accusatory. Seseorang yang bersalah tidak akan memberi keterangan yang bertentangan dengan
kepentingan pribadinya secara sukarela, kecuali apabila ia yakin bahwa investigator juga
mempunyai keyakinan tentang kesalahannya. Interogasi dilakukan dengan persuasi yang
aktif (An interrogation involves activepersuasion). Interogasi dilakukan karena investigator
percaya bahwa dalam wawancara sebelumnya (yang bersifat nonaccusatory), orang itu telah
berbohong. Kalau interogasi dilakukan dengan cara bertanya dan bertanya terus, sangat tidak
mungkin investigator akan mendapatkan keterangan yang berisi kebenaran. Untuk membujuknya
menceritakan kebenaran. Investigator menggunakan taktik membuat pertanyaan dan bukan
mengajukan pertanyaan. Taktik ini akan mendominasi seluruh interogasi. Sebelum seseorang
mengaku bersalah, pertama, ia harus bersedia mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dibuat
investigator.
Tujuan interogasi adalah mengakui yang sebenarnya, artinya apa yang sebenarnya terjadi,
siapa yang sebenarnya melakukan, berapa jumlah atau nilaifraud sebenarnya, dan
seterusnya. The purpose of an interrogation is to learn the truth. Ada persepsi bahwa tujuan
interogasi adalah mendapatkan pengakuan bersalah (confession); ini keliru.
Interogasi juga sering berakhir dengan pengakuan bersalah oleh pelaku.Pada contoh ini,
keberhasilan interogasi bukan diwujudkan dalam pengakuan bersalah, melainkan dalam
mengetahui siapa yang sebenarnya bersalah.
Interogasi dilakukan dalam lingkungan yang terkontrol atau terkendali (controlled
environment), bukan disembarang tempat. Taktik persuasi yang digunakan memerlukan
lingkungan yang ada privacy, tidak terganggu orang yang lalu lalang dan bebas dari halangan
lain (seperti suara bising tempat umum).
Interogasi hanya dilakukan sesudah investigator mempunyai keyakinan yang memadai
mengenai salahnya seseorang. An interrogation is conducted only when the investigator is
reasonably certain of the suspects guilt. Investigator harus mempunyai alasan untuk percaya
bahwa seseorang telah berbohong. Alasan ini mungkin berupa perilakunya selama wawancara,
keterangan yang berubah-ubah sebagai tanggapan atas pertanyaan yang sama, adanya petunjuk
bahwa ia berbohong, dan lain-lain. Interogasi tidak boleh digunakan sebagai alat atau cara utama
untuk menilai jujur tidaknya seseorang; penilaian ini seharusnya dapat dicapai dalam wawancara
yang bersifat tidak menuduh.
Investigator tidak boleh membuat catatan sampai sesudah tertuduh menceritakan yang
sebenarnya dan berketetapan hati (committed) untuk tidak bersingut dari posisi itu. Membuat
catatan terlalu dini akan mengingatkan tertuduh bahwa keterangannya akan merugikan dirinya.
Bahkan, para pakar menyarankan bahwa bukan saja catatan dibuat sesudah tertuduh sepenuhnya
mengakui apa yang sebenarnya terjadi, pengakuan itu juga harus disaksikan investigator lain.
Barulah, setelah ada pengakuan yang disaksikan investigator lain, investigator
mendokumentasikan pengakuan tersebut dan segala perincian dari pengakuannya.

Manfaat Melakukan Wawancara sebelum Interogasi


Investigator sering kali melakukan interogasi meskipun ia tidak punya bukti atau
petunjuk untuk menuduh seseorang, dan keputusan untuk menginterogasi orang itu didorong
oleh keinginan untuk mencari bukti. Umumnya, interogasi semacam ini dilakukan sekadar
karena investigator mempunyai persepsi bahwa orang itu mempunyai perilaku aneh. Padahal,
untuk menentukan seseorang berperilaku aneh, wawancara yang bersifat tidak menuduh
merupakan sarana yang lebih baik dari interogasi.
Selain nilai behavioral information dari suatu wawancara, juga adainvestigative
information. Investigative information ini sangat diperlukan ketika wawancara akan ditingkatkan
menjadi interogasi. Namun, investigator sering tergoda untuk mengambil jalan pintas,
mengabaikan wawancara, dan langsung melakukan interogasi. Pendekatan ini sangat tidak
disarankan karena:
- Sifat tidak menuduh dalam wawancara memungkinkan investigator membangun hubungan
saling memercayai dan menghormati yang mungkin dibangun dalam suasana dan sifat
menuduh yang melekat pada interogasi;
- Selama wawancara, investigator sering kali mengorek keterangan penting mengenai
tertuduh yang sangat berharga sewaktu melaksanakan interogasi;
- Tidak ada jaminan tertuduh akan mengaku bersalah dalam proses interogasi. Padahal, kalau
ia diwawancarai terlebih dahulu dan memberikan keterangan palsu selama wawancara,
investigator dapat menggunakan keterangan dari hasil interogasi yang mengungkpakan
kebohongannya. Hal ini membawanya lebih dekat kearah putusan pengadilan yang
menyataka ia bersalah;
- Ada keuntungan psikologi bagi investigator ketika ia melakukan wawancara sebelum
interogasi. Agar interogasi berhasil, tertuduh harus memercayai investigator bahwa ia
objektif (tidak memihak) dan jujur. Ini akan lebih mudah dicapai apabila investigator
menawarkan kesempatan kepada tertuduh untuk menceritakan yang sebenarnya melalui
wawancara.
Dalam wawancara terdapat tiga tingkat atau saluran yang digunakan untuk komunikasi yaitu:

a. Verbal channel, adalah ucapan atau perkataan yang kelua dari mulut orang yang
diwawancarai, pilihan kata dan susunan kata-kata yang dipergunakan untuk
mengirimkan pesan. Dalam metode ini dinyatakan bahwa orang yang berbohong akan
cemas, karena takut kebohongannya terungkap (Verbal Behavior).
b. Paralinguistic channel adalahciri-ciri percakapan diluar apa yang diucapkan oleh orang
yang diwawancarai, maksudnya adalah ucapan yang makna sesungguhnya berbeda dari
apa yang keluar dari mulutnya (Paralinguistic Behavior).
c. Non verbal channel adalah merupakan sikap tubuh, gerak gerik tangan dan mimic wajah
orang yang diwawancarai, jadi setiap ucapan selalu diperkuat dan dimodifikasi
dengan gerak tubuh/bahasa tubuh (Nonverbal Behavior).

Ketiga saluran atau metode tersebut semuanya digunakan untuk mengetahui


adanya kebohongan. Untuk keberhasilan dalam wawancara persiapan yang harus
dilakukan oleh auditorinvestigatif adalah:

a. Auditor investigasi harus mempelajari berkas atau permasalahan dan dakumen untuk
memastikan adanya informasi penting yang belum diperoleh
b. Menetapkan tujuan informasi apa yang dapat diperoleh dari calon responden yang akan
diwawancarai
c. Mempersiapkan cacatan yang berisi poin-poin yang akan ditanyakan agar informasi
digali tidak terlewatkan
d. Memepersiapkan tempat untuk wawancara

Bab 21 Whistleblowing (Peniup Peluit)

Whistleblowing merupakan suatu pengungkapan tindakan pelanggaran atau pengungkapan


perbuatan yang melawan hukum, perbuatan tidak etis/tidak bermoral atau perbuatan lain yang
dapat merugikan organisasi maupun pemangku kepentingan, yang dilakukan oleh karyawan atau
pimpinan organisasi kepada pimpinan organisasi atau lembaga lin yang dapat mengambil
tindakan atas pelanggaran tersebut. Pengungkapan ini umumnya dilakukan secara
rahasia.Pengungkapan harus dilakukan dengan itikad baik, dan bukan merupakan suatu keluhan
pribadi atas suatu kebijakan perusahaan tertentu ataupun didasari kehendak buruk/fitnah.
Whistleblower biasanya merupakan pegawai atau karyawan dari organisasi itu sendiri (pihak
internal), dan dapat pula berasal dari pihak eksternal (pelanggan, pemasok, masyarakat). Pelapor
perlu menyampaikan bukti, informasi, atau indikasi yang jelas atas terjadinya pelanggaran yang
dilaporkan, sehingga dapat ditelusuri atau ditindaklanjuti.
- Pengantar
- UU Perlindungan Saksi dan Korban
- Faktor-Faktor terkait Keberhasilan dan Kegagalan Whistleblowing System
- Pedoman Whistleblowing System
- Whistleblower di Amerika Serikat
- Whistleblower di Indonesia

Whistleblower merupakan istilah yang digunakan dimana orang yang mengetahui adanya
bahaya atau ancaman akan berusaha menarik perhatian orang banyak dengan meniup
peluitnya. Meniup peluit merupakan suatu bentuk arti kiasan. Selain whistleblower, terdapat
istilah saksi. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Pasal 1 ayat 26 dan 27 menjelaskan
istilah saksi dan keterangan saksi:
1. Ayat 26
Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan,
penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri,
dan ia alami sendiri.
2. Ayat 27
Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari
saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami
sendiri dengan menyebut alasan dan pengetahuannya itu.
Whistleblower tidak perlu mendengar, melihat, dan mengalami sendiri terjadinya pelanggaran,
tetapi atas kemauan bebasnya meniup peluit (whistling) peringatan mengenai bahaya atau
ancaman.
Pembahasan tentang whistleblowing system tidak dapat dipisahkan dengan perlindungan
terhadap para whistleblower. Hal ini disebabkan aparat penegak hukum sering mengalami
kesulitan dalam menghadirkan saksi dan korban karena adanya ancama fisik dan psikis dari
pihak tertentu. Indonesia memilikiUndang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Agak berbeda dengan di Indonesia, Sarbanes-Oxley Act di Amerika Serikat mengatur
mengenai whistleblowing, whistleblower, dan perlindungan khusus terhadap
ancaman fraud dalam beberapa area utama, yaitu:
1. Ketentuan dalam Seksi 302 dari Sarbanes-Oxley menyatakan: Komite Audit wajib menetapkan
prosedur yang memungkinkan pegawai dari perusahaan terbuka untuk menyampaikan secara
rahasia masalah akuntansi dan auditing yang menimbulkan tanda tanya atau yang
mencurigakan.
2. Selain itu, investigasi harus dilakukan sesuai dengan Seksi 806 dari Sarbanes-Oxley yang
menyatakan: Perusahaan, pejabatnya, pegawainya, kontraktornya, subkontraktornya, atau
agennya dilarang memecat, menurunkan pangkat, menghentikan sementara, mengancam, atau
mendiskriminasi aksi pelapor.
3. Ketentuan dalam Sarbanes-Oxley menegaskan bahwa perlawanan atau penekanan terhadap saksi
pelapor tidak akan ditolerir. Suatu seksi tambahan (Section 1513(e)) ditambahkan ke dalam Pasal
18 Hukum Pidana Amerika. Perlawanan atau penekanan terhadap saksi pelapor merupakan
kejahatan yang dipidana dengan denda yang besar sampai pidana penjara sepuluh tahun.
Sebelum keluarnya Sarbanes-Oxley, investigasi dilakukan oleh perusahaan untuk melihat
dugaan internal fraud dapat mengungkap identitas dariwhistleblower. Namun, sekarang, dugaan
yang menyatakan bahwawhistleblower diancam atau mengalami tindak diskriminasi akan
menyebabkan dampak yang sangat serius terhadap perusahaan.
Pada kenyatannya, praktik whistleblower yang berkenaan dengan fraud di perusahaan dan
korupsi di lembaga-lembaga negara di Indonesia cukup marak. Tindak lanjut
terhadap whistleblowing dan alasan orang menjadiwhistleblower pun beraneka ragam.

B. UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

Terdapat beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang perlu
diketahui akuntan forensik. Undang-Undang ini memberikan beberapa definisi berikut:
4. Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan,
penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tetntang suatu perkara pidana
yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan/atau ia alami sendiri;
5. Korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian
ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana;
6. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) adalah lembaga yang bertugas dan
berwenang untuk memberikan perlindungan dan hak-hak lain kepada Saksi dan/atau Korban,
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang itu;
7. Ancaman adalah segala bentuk perbuatan yang menimbulkan akibat, baik langsung
maupun tidak langsung, yang mengakibatkan Saksi dan/atau Korban merasa takut dan/atau
dipaksa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang berkenaan dengan pemberian
kesaksiannya dalam suatu proses peradilan pidana;
8. Perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk
memberikan rasa aman kepada Saksi dan/atau Korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau
lembaga linnya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.
Selain itu, setiap Saksi dan Korban berhak untuk:
1. Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta
bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah
diberikannya;
2. Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan
keamanan;
3. Memberikan keterangan tanpa tekanan;
4. Mendapat penerjemah;
5. Bebas dari pertanyaan yang menjerat;
6. Mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus;
7. Mendapatkan informasi mengenai putusan pengadilan;
8. Mengetahui jika terpidana dibebaskan;
9. Mendapat identitas baru;
10. Mendapatkan tempat kediaman baru;
11. Memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan;
12. Mendapat nasihat hukum;
13. Memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu perlindungan berakhir.
Untuk saksi dan/atau korban yang merasa dirinya berada dalam ancaman yang sangat besar, atas
persetujuan hakim, dapat pula:
1. Memberikan kesaksian tanpa hadir langsung di pengadilan tempat perkara tersebut
sedang diperiksa;
2. Memberikan kesaksiannya secara tertulis yang disampaikan di hadapan pejabat yang
berwenang dan membubuhkan tanda tangannya pada berita acara yang memuat tentang
kesaksian tersebut;
3. Dapat didengar kesaksiannya secara langsung melalui sarana elektronik dengan
didampingi oleh pejabat yang berwenang.
Bab 5 dari Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban memuat ketentuan-ketentuan
pidana dari beberapa pasal, yaitu:
1. Pasal 37
a. Setiap orang yang memaksakan kehendaknya dengan menggunakan kekerasan atau cara
tertentu, yang menyebabkan Saksi dan/atau Korban tidak memperoleh perlindungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a, huruf i, huruf j, huruf k, atau huruf l,
sehingga Saksi dan/atau Korban tidak memberikan kesaksiannya pada setiap tahap pemeriksaan,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak
Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah);
b. Setiap orang yang melakukan pemaksaan kehendak sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
sehingga menimbulkan luka berat pada Saksi dan/atau Korban, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah);
c. Setiap orang yang melakukan pemaksaan kehendak sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
sehingga mengakibatkan matinya Saksi dan/atau Korban, dipidana dengan pidana penjara paling
lama seumur hidup dan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
2. Pasal 38
Setiap orang yang menghalang-halangi Saksi dan/atau Korban secara melawan hukum, sehingga
Saksi dan/atau Korban tidak memperoleh perlindungan atau bantuan, sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a, huruf i, huruf j, huruf k, huruf l, huruf p, Pasal 6 ayat (1), Pasal 7
ayat (1), atau Pasal 7A ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

3. Pasal 39
Setiap orang yang menyebabkan Saksi dan/atau Korban atau keluarganya kehilangan pekerjaan
karena Saksi dan/atau Korban tersebut memberikan kesaksian yang benar dalam proses
peradilan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
4. Pasal 40
Setiap orang yang menyebabkan dirugikannya atau dikuranginya hak-hak Saksi dan/atau Korban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), Pasal 6 ayat (1), Pasal 7 ayat (1), atau Pasal 7A
ayat (1) karena Saksi dan/atau Korban memberikan kesaksian yang benar dalam proses
peradilan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling
banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).