Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Penyakit demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan khususnya di


Indonesia dan negara berkembang lainnya. Insidens demam tifoid masih tinggi
meskipun komplikasi dan angka kematian sudah menurun dengan upaya diagnosis
cepat dan pemberian antibiotik yang tepat.1

Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh


Salmonella enteric serovar typhi (S typhi). Salmonella enterica serovar paratyphi
A, B, dan C juga dapat menyebabkan infeksi yang disebut demam paratifoid.
Demam tifoid dan paratifoid termasuk ke dalam demam enterik. Pada daerah
endemik, sekitar 90% dari demam enterik adalah demam tifoid.1,2

Demam tifoid juga masih menjadi topik yang sering diperbincangkan.4


Sejak awal abad ke 20, insidens demam tifoid menurun di USA dan Eropa dengan
ketersediaan air bersih dan sistem pembuangan yang baik yang sampai saat ini
belum dimiliki oleh sebagian besar negara berkembang.1 Secara keseluruhan,
demam tifoid diperkirakan menyebabkan 21,6 juta kasus dengan 216.500
kematian pada tahun 2000. Insidens demam tifoid tinggi (>100 kasus per 100.000
populasi per tahun) dicatat di Asia Tengah dan Selatan, Asia Tenggara, dan
kemungkinan Afrika Selatan; yang tergolong sedang (10-100 kasus per 100.000
populasi per tahun) di Asia lainnya, Afrika, Amerika Latin,dan Oceania (kecuali
Australia dan Selandia Baru); serta yang termasuk rendah (<10 kasus per 100.000
populasi per tahun) di bagian dunia lainnya.2,3

Hasil temuan selama kegiatan internsip di RSAD TK IV Wirabhakti


Mataram menyatakan cukup banyak kasus demam tifoid, baik pada anak maupun
dewasa, baik rawat jalan maupun rawat inap. Oleh karena itu diperlukan
penyegaran keilmuan untuk meningkatkan pengetahuan dan penanganan yang
baik pada kasus demam tifoid. Oleh karena itu, diajukanlah kasus ini sebagai
laporan kasus.

1
LAPORAN KASUS

1. Indentitas Pasien

Nama : Tn. S
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 44 tahun
Alamat : Mataram
Agama : Islam
Status : Menikah
Pendidikan terakhir : D3
Pekerjaan : Swasta
Tanggal pemeriksaan : 23 Februari 2016

2. Anamnesis

- Keluhan utama
Demam
- Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien laki-laki, 44 tahun, datang dengan keluhan demam sejak 7 hari
SMRS, demam dirasakan berpola naik-turun, dan terutama panas dirasakan
saat sore hingga malam hari, namun turun pada pagi hari. Demam tidak
disertai menggigil dan keringat dingin. Mual (+), muntah (+), pasien muntah
setiap kali makan, muntah berisi makanan, darah (-). BAB cair sejak 2 hari
yang lalu, frekuensi 4-5x/hari, ampas (+), lendir (-), darah (-), nyeri ulu hati
(-), pusing (-). BAK normal.
- Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah mengalami sakit serupa sebelumnya, lebih kurang 2 tahun
yang lalu. Pasien juga memiliki riwayat sakit maag, dan sering
mengkonsumsi obat-obat maag yang di beli d warung maupun yang
diresepkan dokter.

2
- Riwayat Pengobatan
Untuk mengatasi keluhan yang dialaminya, pasien mengkonsumsi
parasetamol, namun demam hanya turun sebentar, kemudian demam
meningkat kembali.
- Riwayat Pribadi dan Sosial
Pasien mengatakan sering jajan sembarangan di pinggir jalan, bahkan
beberapa hari sebelum keluhan muncul. Pasien dan keluarganya jarang
mencuci tangan dengan sabun, sebelum makan, pasien hanya mencuci
tangan dengan air.
3. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Sedang


Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 88 kali/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
Rerata respirasi : 18 kali/menit, reguler, torakoabdominal
Suhu Axila : 38,00C
- Kepala - Leher:
Ekspresi wajah : normal
Bentuk dan ukuran : normal
Konjungtiva : anemia (-/-), Sclera : icterus (-/-)
Pupil : isokor, bulat, refleks cahaya (+/+)
Telinga: bentuk normal, liang telinga : normal,
Hidung : Simetris, deviasi septum (-), Napas cuping hidung (-)
Mulut :Simetris, lidah tifoid(+), sianosis (-)
Otot bantu napas: otot sternocleidomastoideus tidak aktif, pembesaran
otot sternocleidomastoideus (-)
Pembesaran tiroid (-)

- Thorax
Pulmo

Bentuk: simetris. Ukuran dada: barel chest (-)


Penggunaan otot bantu napas: (-).
Iga dan sela iga: normal.

3
Pergerakan napas kanan dan kiri simetris.
Sonor dikedua lapang paru.
Vesikuler (+/+) diseluruh lapang paru, ronki (-/-), wheezing (-/-)
diseluruh lapang paru.

Cor

Iktus cordis tidak tampak


Iktus kordis teraba di ICS V midclavicula sinistra
S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)
- Abdomen
Distensi (-)
BU (+) N
Timpani diseluruh lapang abdomen
Turgor normal, tonus normal, nyeri tekan epigastrium (+), massa (-),
hepar/lien/renal: tidak teraba

- Extremitas
Ekstremitas atas :

Akral hangat : +/+

Edema: -/-

Ekstremitas bawah:

Akral hangat : +/+

Edema : -/-

4
4. Pemeriksaan penunjang

Darah lengkap Serologi Widal Laju Endap Darah

Hb 12.9 Typhi O (+) 1/320 20 mm/jam

Hct 46,6% Typhi H (+) 1/640

WBC 12.200 Paratyphi AH (+) 1/80

Plt 280 Paratyphi CH (+) 1/80

5. Assessment

- Observasi Febris H-7 e.c. Tifoid fever

6. Penatalaksanaan

Medikamentosa
o IVFD RL 30 tpm makro
o Antimikroba: Levofloxacin infus 750 mg / 24 jam
o Ranitidine iv 50 mg/12 jam
o Ondansentron iv 4 mg/8 jam
o Parasetamol tab 3 x 500 mg
Non-medikamentosa
o Tirah baring
o Diet TKTP Rendah serat, 1800 kkal/hari. Makanan lunak, sesuai
keadaan pasien.
7. Prognosis

Dubia ad bonam.

5
TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI

Demam tifoid disebut juga dengan Typus abdominalis atau typoid fever.
Demam tipoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran
pencernaan (usus halus) dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai
gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan
kesadaran.1

2. EPIDEMIOLOGI
Sejak awal abad ke 20, insidens demam tifoid menurun di USA dan Eropa
dengan ketersediaan air bersih dan sistem pembuangan yang baik yang sampai
saat ini belum dimiliki oleh sebagian besar negara berkembang. Secara
keseluruhan, demam tifoid diperkirakan menyebabkan 21,6 juta kasus dengan
216.500 kematian pada tahun 2000. Insidens demam tifoid tinggi (>100 kasus
per 100.000 populasi per tahun) dicatat di Asia Tengah dan Selatan, Asia
Tenggara, dan kemungkinan Afrika Selatan; yang tergolong sedang (10-100
kasus per 100.000 populasi per tahun) di Asia lainnya, Afrika, Amerika Latin,
dan Oceania (kecuali Australia dan Selandia Baru); serta yang termasuk
rendah (<10 kasusper 100.000 populasi per tahun) di bagian dunia lainnya.1

Di Indonesia penyakit ini bersifat endemik dan merupakan masalah


kesehatan masyarakat. Data Riskesdas 2007 menunjukkan angka prevalensi
tifoid yang di diagnosa oleh tenaga kesehatan adalah 0,79 %. Angka kesakitan
demam tifoid di Indonesia yang tercatat di buletin WHO 2008 sebesar 81,7
per 100.000. dibagi menurut golongan umur : 0-1 thn ( 0,0 /100 .000), 2-4 thn
(148,7/100.000), 5-15 thn (180,3 /100.000). 16 thn 51,2/100.000/tahun.
Angka ini menunjukkan bahwa penderita terbanyak pada usia 2-15 tahun.
Sebesar 20-40 % kasus demam Tifoid harus menjalani perawatan di Rumah
sakit. Biaya yang dikeluarkan negara karena sakit Tifoid diperkirakan
mencapai 60 juta dolar Amerika pertahun. Penderita demam tifoid mempunyai
potensi untuk menjadi carrier atau pembawa menahun setelah penyakitnya di
sembuhkan. Era sebelum antibiotika digunakan diperkirakan sedikitnya 5%

6
penderita demam tifoid menjadi pembawa menahun. Studi dewasa ini
menemukan angka tersebut hanya menurun sedikit, angka terakhir (2005) di
India menurun menjadi sekitar 3%.1

Di Indonesia, insidens demam tifoid banyak dijumpai pada populasi yang


berusia 3-19 tahun. Selain itu, demam tifoid di Indonesia juga berkaitan
dengan rumah tangga, yaitu adanya anggota keluarga dengan riwayat terkena
demam tifoid, tidak adanya sabun untuk mencuci tangan, menggunakan
piring yang sama untuk makan, dan tidak tersedianya tempat buang air besar
dalam rumah.1

3. ETIOLOGI
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella
paratyphi dari Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk batang, gram negatip,
tidak membentuk spora, motil, berkapsul dan mempunyai flagella (bergerak
dengan rambut getar). Bakteri ini dapat hidup sampai beberapa minggu di
alam bebas seperti di dalam air, es, sampah dan debu. Bakteri ini dapat mati
dengan pemanasan (suhu 60 C) selama 15 20 menit, pasteurisasi, pendidihan
0

dan khlorinisasi.3
Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen, yaitu : 3
a. Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh
kuman. Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut
juga endotoksin. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak
tahan terhadap formaldehid.
b. Antigen H (Antigen Flagella), yang terletak pada flagella, fimbriae atau
pili dari kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan
tahan terhadap formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.
c. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat
melindungi kuman terhadap fagositosis.
Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan
menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut
aglutinin.
4. TRANSMISI
Transmisi terjadi melalui makanan atau minuman yang terpapar kuman
salmonella typhi yang masuk ke dalam tubuh manusia. Bila terpapar 10 3 if

7
S.typhi, potensi serangan relatif ringan dengan masa inkubasi panjang. Dengan
meningkatnya jumlah organism atau >109 potensi serangan meningkat
menjadi 95% dengan masa inkubasi lebih singkat. Transmisi di Negara
berkembang terjadi secara water-borne dan food-borne. 4
5. PATOFISIOLOGI

Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh manusia


melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan
oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan berkembang
biak. Bila respon imunitas humoral mukosa IgA usus kurang baik maka
kuman akan menembus sel-sel epitel terutama sel M dan selanjutnya ke
lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang biak dan difagosit oleh
sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang
biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plaque Peyeri ileum distal
dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Selanjutnya melalui
duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam
sirkulasi darah (mengakibatkan bakterimia pertama yang asimtomatik) dan
menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa.
Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian
berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke
dalam sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya
dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik, seperti
demam, malaise, mialgia, sakit kepala dan sakit perut.4,5

6. GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis demam demam tifoid sangat bervariasi, dari gejala sangat
ringan (sehingga tidak terdiagnosis ) atau dengangejala yang khas (sindrom
demam tifoid) sampai dengan gejala klinis berat yang disertai komplikasi.
Gambaran klinis dapat bervariasi menurut populasi, daerah, atau menurut
waktu. Gambaran klinis di negara berkembang dapat berbeda dengan negara
maju dan gambaran klinis tahun 2000 dapat berbeda dengan tahun enam
puluhan pada daerah yang sama. Gambaran klinis pada anak cenderung tak

8
khas. Makin kecil anak gambaran klinis makin tak khas. Kebanyakan
perjalanan penyakit berlangsung dalam waktu pendek dan jarang menetap
lebih dari 2 minggu.1

a. Demam
Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat
febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu
tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun pada
pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu
kedua, penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu
ketiga suhu tubuh beraangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir
minggu ketiga.1,6
b. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah-
pecah (ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung
dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin
ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa
membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi,
akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare. 1,6
c. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam,
yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah. 1,2
d. Hepatosplenomegali
Hati dan atau limpa, ditemukan sering membesar. Pada perabaan hati
teraba kenyal dan nyeri tekan. 1,2
e. Bradikardi relatif dan gejala lain
Bradikardi relatif jarang ditemukan pada anak. Bradikardi relatif adalah
peningkatan suhu tubuh yang tidak diikuti oleh peningkatan frekuensi
nadi. Patokan yang sering dipakai adalah setiap peningkatan suhu 1C
tidak diikuti peningkatan frekuensi nadi 8 denyut dalam 1 menit. Gejala-
gejala lain yang dapat ditemukan pada demam tifoid seperti rose spot
biasanya ditemukan diregio abdomen atas. 1,2
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi, urinalis,

9
kimia klinik, imunoserologi, mikrobiologi, dan biologi molekular.
Pemeriksaan ini ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosis
(adakalanya bahkan menjadi penentu diagnosis), menetapkan prognosis,
memantau perjalanan penyakit dan hasil pengobatan serta timbulnya
penyulit.1,2
Hematologi 1,6
- Kadar hemoglobin dapat normal atau menurun bila terjadi penyulit
perdarahan usus atau perforasi.
- Hitung leukosit sering rendah (leukopenia), tetapi dapat pula normal
atau tinggi.
- Sering didapat aneosinofilia. Pada tahan awal ditemukan limfositosis,
namun pada tahap selanjutnya limfositosis relatif.
- Laju Endap Darah (LED): bisa meningkat.
- Jumlah trombosit normal atau menurun (trombositopenia).
Urinalisis1,6
- Protein: bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam)
- Leukosit dan eritrosit normal; bila meningkat kemungkinan terjadi
penyulit.
Kimia Klinik
- Enzim Transaminase
Akibat proses peradangan sel-sel hati sering ditemukan peningkatan
enzim-enzim transaminase (SGOT, SGPT). Peningkatan transaminase
ini dapat disebabkan banyak faktor seperti pengaruh endotoksin,
mekanisme imun dan obat-obatan.
Bila proses peradangan makin berat, maka tes fungsi hati lain akan
terganggu, seperti bilirubin akan meningkat, albumin akan menurun.
Secara klinis bila tes fungsi hati terganggu jelas dan disertai ikterus
dan hepatomegali, disebut hepatitis tifosa atau hepatitis Salmonella. 1,6
- Lipase dan Amilase
Bila kuman Salmonella sampai menginvasi pankreas, dapat
menimbulkan pankreatitis, maka enzim lipase dan amylase akan
meningkat (pankreatitis tifosa) 1,6
Serologi
- Uji Widal
Pemeriksaan serologi ini ditujukan untuk mendeteksi adanya
antibodi (aglutinin) terhadap antigen kuman Salmonella typhi

10
/paratyphi. Uji ini merupakan test kuno yang masih amat popular dan
paling sering diminta terutama di negara dimana penyakit ini endemis
seperti di Indonesia. Hasil positif dinyatakan dengan adanya
aglutinasi. Pembentukan aglutinin mulai terjadi pada akhir minggu
pertama demam. Aglutinin O timbul lebih dahulu, kemudian diikuti
aglutinin H. Pada orang yang sudah sembuh, aglutinin O tetap
dijumpai setalah 4-6 bulan dan aglutinin H menetap 9-12 bulan. Bila
pemeriksaan dilakukan sebelum 7 hari demam, hasil reaktif (positif),
maka kemungkinan besar bukan disebabkan oleh penyakit saat itu
tetapi dari kontak sebelumnya. 1,6
Hasil uji ini dipengaruhi oleh banyak factor. Hasil positif palsu
dapat disebabkan antara lain karena pernah mendapatkan
vaksinasi, reaksi silang dengan spesies lain (Enterobacteriaceae
sp), reaksi anamnestik (pernah sakit). Hasil negatif palsu dapat
disebabkan oleh karena antara lain penderita sudah mendapatkan
terapi antibiotika, waktu pengambilan darah kurang dari satu minggu
sakit, keadaan umum pasien yang buruk, dan adanya penyakit
imunologik lain. 1,6

Belum ada kesepakatan tentang nilai titer patokan. Tidak sama pada masing-
masing daerah, tergantung endemisitas daerah masing-masing dan tergantung
hasil penelitian. 1
Batas titer yang dijadikan diagnosis, hanya berdasarkan kesepakatan atau
perjanjian satu daerah, dan berlaku untuk daerah tersebut. Kebanyakan
pendapat bahwa titer antibody terhadap antigen O sebesar 1/320 sudah
menyokong kuat diagnosis demam demam tifoid. 1

- Uji TUBEX
Uji ini mendeteksi antibodi S.typhy O9. Hasil positif (skor >3)
menunjukkan ada infeksi Salmonella serogrup D, walau tidak
spresifik S. typhi, infeksi S. paratyphy akan menunjukkan hasil
negatif. Uji Tubex hanya mendeteksi IgM, jadi tidak dapat mendeteksi

11
infeksi lampau. Deteksi antigen O9 pada uji ini dapat dilakukan lebih
awal yaitu hari ke 4-5 untuk infeksi primer dan hari ke 2-3 untuk
infeksi sekunder. 1,7
- Uji Typhidot dan Typhidot IgM
Uji ini mendeteksi antibodi IgM dan IgG spesifik terhadap S.typhi
pada serum atau whole blood. Pemeriksaan ini mudah dan cepat
(dalam 1 hari), sensitivitas dan spesifisitasnya 65-77% dan 95-100%.
Akurasi hasil didapatkan bila pemeriksaan dilakukan dalam satu
minggu setelah timbul gejala. Terdeteksinya IgM menunjukkan fase
akut demam tifoid, sedangkan terdeteksinya IgM dan IgG
menunjukkan demam tifoid akut fase pertengahan. IgG dapat menetap
selama 2 tahun setelah infeksi. Pemeriksaan yang lebih baru yaitu
typhidot M yang hanya mendeteksi IgM. 1,7
- Elisa Salmonella typhi/ paratyphi lgG dan lgM
Pemeriksaan ini merupakan uji imunologik yang lebih baru, yang
dianggap lebih sensitif dan spesifik dibandingkan uji Widal untuk
mendeteksi demam tifoid/paratifoid, hasilnya dapat segera di
ketahui. Diagnosis demam tifoid/ paratyphoid dinyatakan 1) Bila
lgM positif, menandakan infeksi akut; 2) jika lgG positif
menandakan pernah kontak/pernah terinfeksi/reinfeksi/daerah
endemik. 1,2
Mikrobiologi : Kultur
Uji ini merupakan baku emas (gold standard) untuk pemeriksaan
demam Typhoid/ paratyphoid.
Interpretasi hasil: jika hasil positif maka diagnosis pasti untuk demam
tifoid/ paratifoid. Sebalikanya jika hasil negatif, belum tentu bukan demam
tifoid/paratifoid, karena hasil biakan negatif palsu dapat disebabkan oleh
beberapa faktor, yaitu antara lain jumlah darah terlalu sedikit, <5mL),
darah tidak segera dimasukan ke dalam medial Gall (darah dibiarkan
membeku dalam spuit sehingga kuman terperangkap di dalam bekuan),
saat pengambilan darah lebih dari minggu I sakit, sudah mendapatkan
terapi antibiotika, dan sudah mendapat vaksinasi. 1,2
Kekurangan uji ini adalah hasilnya tidak dapat segera diketahui
karena perlu waktu untuk pertumbuhan kuman (biasanya positif antara

12
2-7 hari). Pilihan bahan spesimen yang digunakan pada awal sakit
adalah darah, kemudian untuk minggu kedua-ketiga digunakan tinja,
minggu ketiga-keempat digunakan sampel urin. 1,7
Biologi molecular
PCR (Polymerase Chain Reaction). Efektif digunakan untuk diagnosis
pada kasus demam tifoid dengan hasil kultur negatif. 1

8. DIAGNOSIS

Diagnosis pasti ditegakkan dengan kultur darah atau sampel feses atau
urin untuk mendeteksi adanya bakteri Salmonella spp. 1
Diagnosis klinis demam tifoid dibagi menjadi 3:
1. Possible case
Hanya boleh digunakan apabila tidak ada sarana penunjang
(laboratorium) atau terjadi kejadian luar biasa di wilayah tersebut.
Termasuk dalam suspek demam tifoid apabila seorang pasien dengan
gejala demam yang meningkat secara bertahap terutama sore dan malam
hari, kemudian menetap tinggi selama 5 hari atau lebih, disertai nyeri
kepala hebat, nausea, hilang nafsu makan, gejala gastrointestinal berupa
obstipasi dan atau diare. Dalam bentuk berat dapat menimbulkan
komplikasi. 1
2. Probable case
Termasuk demam tifoid atau sangat mungkin kasus demam tifoid
detemukan gejala diatas dengan didukung oleh pemeriksaan serologis.
Hasil pemeriksaan serologis atau deteksi antigen yang positif tanpa gejala
diatas, tidak boleh menjadi patokan diagnosis demam tifoid. 1
3. Definite case
Adalah kasus demam tifoid klinis yang telah menunjukkan hasil biakan
positif untuk salmonella typhi dan/atau pemeriksaan polymerase chain
reaction (PCR) S.Thypi positif dan/atau serologi widal menunjukkan
kenaikan titer 4 kali lipat pada interval pemeriksaan 5 hingga 7 hari. 1
9. PENATALAKSANAAN

Sampai saat ini masih dianut trilogi penatalaksanaan demam tifoid, yaitu:
1. Istirahat dan Perawatan

13
Penderita tifoid perlu dirawat di RS untuk isolasi, observasi serta
pengobatan untuk mencegah komplikasi. Penderita harus istarahat 5-7 hari
bebas panas, tetapi tidak harus tirah baring sempurna seperti pada
perawatan demam tifoid di masa lampau. Mobilisasi dilakukan
sewajarnya, sesuai dengan situasi dan kondisi penderita. Pada penderita
dengan kesadaran yang menurun harus di observasi agar tidak terjadi
aspirasi serta tanda-tanda komplikasi demam tifoid yang lain termasuk
buang air kecil dan buang air besar perlu mendapat perhatian.8

2. Managemen Nutrisi dan Terapi Penunjang


Penderita penyakit demam tifoid selama menjalani perawatan haruslah
mengikuti petunjuk diet yang dianjurkan oleh dokter untuk di konsumsi,
antara lain: 8
a. Makanan yang cukup cairan, kalori, vitamin & protein.
b. Tidak mengandung banyak serat.
c. Tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas.
d. Makanan padat dini yang wajar sesuai dengan keadaan penderita
Makanan dengan rendah serat bertujuan untuk memberikan makanan
sesuai kebutuhan gizi yang sedikit mungkin meninggalkan sisa sehingga
dapat membatasi volume feses, dan tidak merangsang saluran cerna.
Pada pemberian makanan penderita demam tifoid dalam beberapa
penelitian menganjurkan makanan padat dini yang wajar sesuai dengan
keadaan penderita dengan memperhatikan segi kualitas maupun kuantitas
ternyata dapat diberikan dengan aman. 8
Pengobatan simptomatik diberikan untuk menekan gejala-gejala
simptomatik yang dijumpai seperti demam, diare, sembelit, mual, muntah,
dan meteorismus. Sembelit bila lebih dari 3 hari perlu dibantu dengan
parafin atau lavase dengan glistering. Obat bentuk laksan ataupun
enema tidak dianjurkan karena dapat memberikan akibat perdarahan
maupun perforasi intestinal. 8
Kortikosteroid hanya diberikan dengan indikasi yang tepat karena dapat

14
menyebabkan perdarahan usus dan relaps. Tetapi pada kasus berat, dengan
gangguan kesadaran, penggunaan kortikosteroid secara bermakna
menurunkan angka kematian, diberikan dexametason 1-3 mg/kgbb/hari
intravena, dibagi 3 dosis hingga kesadaran membaik. 8

3. Pemberian antimikroba
Antibiotik golongan fluoroquinolone (ciprofloxacin, ofloxacin, dan
pefloxacin) merupakan terapi yang efektif untuk demam tifoid yang
disebabkan isolat tidak resisten terhadap fluoroquinolone dengan angka
kesembuhan klinis sebesar 98%, waktu penurunan demam 4 hari, dan
angka kekambuhan dan fecal carrier kurang dari 2%. 9,10
Fluoroquinolone memiliki penetrasi ke jaringan yang sangat baik, dapat
membunuh S.typhi intraseluler di dalam monosit/makrofag, serta mencapai
kadar yang tinggi dalam kandung empedu dibandingkan antibiotik lain.
Berbagai studi telah dilakukan untuk menilai efektivitas fluoroquinolone
dan salah satu fluoroquinolone yang saat ini telah diteliti dan memiliki
efektivitas yang baik adalah levofloxacin. 9,10
Studi komparatif, acak, dan tersamar tunggal telah dilakukan untuk
levofloxacin terhadap obat standar ciprofl oxacin untuk terapi demam
tifoid tanpa komplikasi. Levofloxacin diberikan dengan dosis 500 mg, 1
kali sehari dan ciprofloxacin diberikan dengan dosis 500 mg, 2 kali sehari
masing-masing selama 7 hari. Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa
pada saat ini levofloxacin lebih bermanfaat dibandingkan ciprofloxacin
dalam hal waktu penurunan demam, hasil mikrobiologi dan secara
bermakna memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan
ciprofloxacin. 9,10
Selain itu, pernah juga dilakukan studi terbuka di lingkungan FKUI
mengenai efikasi dan keamanan levofloxacin pada terapi demam tifoid
tanpa komplikasi. Levofloxacin diberikan dengan dosis 500 mg, 1 kali
sehari selama 7 hari. Efikasi klinis yang dijumpai pada studi ini adalah
100% dengan efek samping yang minimal. Dari studi ini juga terdapat

15
tabel perbandingan rata-rata waktu penurunan demam di antara berbagai
jenis fluoroquinolone yang beredar di Indonesia di mana penurunan
demam pada levofloxacin paling cepat, yaitu 2-4 hari. 9,10
Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan pada tahun 2009 menyimpulkan
bahwa pada demam enterik dewasa, fluoroquinolone lebih baik
dibandingkan chloramphenicol untuk mencegah kekambuhan. 9,10
Namun, fluoroquinolone tidak diberikan pada anak-anak karena dapat
mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan kerusakan sendi.
Chloramphenicol sudah sejak lama digunakan dan menjadi terapi standar
pada demam tifoid namun kekurangan dari chloramphenicol adalah angka
kekambuhan yang tinggi (5-7%), angka terjadinya carrier juga tinggi, dan
toksis pada sumsum tulang. 8
Azithromycin dan cefixime memiliki angka kesembuhan klinis lebih dari
90% dengan waktu penurunan demam 5-7 hari, durasi pemberiannya lama
(14 hari) dan angka kekambuhan serta fecal carrier terjadi pada kurang
dari 4%.Pasien dengan muntah yang menetap, diare berat, distensi
abdomen, atau kesadaran menurun memerlukan rawat inap dan pasien
dengan gejala klinis tersebut diterapi sebagai pasien demam tifoid yang
berat. 9,10

Dewasa 9
Rawat
Dewasa Jalan :
Rawat
Lini Jalan :
I ciprofloxacin 2x500 mg, 5-7 hari
Lini I Levofloxacin
Lini II Cefixime 2x100 1x500
mg, mg, 5-7 hari
7-10hari
Lini II Inap
Rawat Cefixime
: 2x100 mg, 7-10hari
Rawat Inap :
Lini I Levofloxacin 500 mg perhari, 10 Hari
LiniIII Ceftriaxon
Lini Levofloxacin
1-2500 mgperhari,
gram perhari,10-14
10 Hari
hari
Lini II Ceftriaxon 1-2 gram perhari, 10-14 hari
Anak 9,10
Lini
AnakI Cefixime 15-20mg/kgBB, dalam 2 dosis
Lini
perhariI Cefixime 15-20mg/kgBB, dalam 2 dosis
perhari
Lini II Azithromisin 10mg/kgBB, sekali sehari.
Lini II Azithromisin 10mg/kgBB, sekali sehari.

10. KOMPLIKASI

16
Pada minggu ke 2 atau ke-3, sering timbul komplikasi demam mulai dari
yang ringan sampai berat bahkan kematian. Beberapa komplikasi yang sering
terjadi diantaranya: 1
a. Demam Tifoid Toksik (Tifoid Ensefalopati)
Didapatkan gangguan atau penurunan kesadaran akut dengan gejala
delirium sampai koma yang disertai atau tanpa kelainan neurologis
lainnya. Analisa cairan otak dalam batas normal. 1
b. Syok Septik
Adalah akibat lanjut dari respon inflamasi sistemik, pasien jatuh ke dalam
fase kegagalan vaskular (syok). Tekanan darah sistolik dan/atau diastolik
turun, nadi cepat, dan halus, berkeringat, serta akral dingin. Akan
berbahaya bila syok menjadi irreversible. 1
c. Perdarahan, Perforasi Intestinal dan Peritonitis
- Perdarahan biasanya berupa buang air besar (BAB) darah
(hematoschezia) atau occult bleeding yang dapat terdeteksi dengan
pemeriksaan darah samar. Apabila perdarahan berat, pasien akan
tampak anemis bahkan berlanjut sampai syok hipovolemia. Suhu
tubuh akan mendadak turun dengan peningkatan frekuensi nadi dan
berakhir syok. 4
- Perforasi intestinal ditandai dengan nyeri abdomen akut, tegang, dan
nyeri tekan abdomen (paling nyata di kuadran kanan bawah). Pada
pemeriksaan perut didapatkan tanda distensi abdomen, defences
muscularum, ileus paralitik, bising usus melemah, dan pekak hati
menghilang. Perforasi dipastikan dengan pemeriksaan foto abdomen 3
posisi (diafragma, left lateral decubitus, dan plain abdomen).
Perforasi intestinal adalah komplikasi demam tifoid yang serius
karena sering menimbulkan kematian. 4
- Pada peritonitis, ditemukan gejala abdomen akut yakni nyeri perut
hebat, kembung, serta nyeri pada penekanan. Nyeri lepas (Rebound
Phenomenon) khas untuk peritonitis. 4
d. Hepatitis Tifosa
Demam tifoid disertai ikterus, hepatomegali dan kelainan tes fungsi hati
(peningkatan SGPT, SGOT dan bilirubin darah) dikatakan sebagai
hepatitis tifosa. 4
e. Pankreatitis Tifosa

17
Merupakan komplikasi yang jarang terjadi, gejalanya adalah sama dengan
pancreatitis akut. Penderita nyeri perut hebat, disertai mual dan muntah
warna kehijauan, meteorismus, serta bising usus menurun. Enzim amilase
dan lipase meningkat. 4
f. Pneumonia
Adalah komplikasi demam tifoid disertai tanda dan gejala klinis: batuk
kering, sesak napas, tarikan dinding dada, ditemukan adanya ronki/crakles,
serta gambaran infiltrat pada foto polos toraks. Pada anak umumnya
merupakan koinfeksi oleh mikroba lain. 4

g. Komplikasi Lain
Kuman S. Typhi berada di intraselular (makrofag), yang mengikuti
sirkulasi darah dan menyebabkan infeksi fokal diantaranya osteomielitis,
arthritis, miokarditis, perikarditis, endokarditis, pielonefritis, orkhitis, dll4
11. PENCEGAHAN
Strategi pencegahan yang dipakai adalah untuk selalu menyediakan
makanan dan minuman yang tidak terkontaminasi, higiene perorangan
terutama menyangkut kebersihan tangan dan lingkungan, sanitasi yang baik,
dan tersedianya air bersih sehari-hari. Strategi pencegahan ini menjadi
penting seiring dengan munculnya kasus resistensi. Selain strategi di atas,
dikembangkan pula vaksinasi terutama untuk para pendatang dari negara
maju ke daerah yang endemik demam tifoid. Vaksin-vaksin yang sudah ada
yaitu: 8
Vaksin Vi Polysaccharide

Vaksin ini diberikan pada anak dengan usia di atas 2 tahun dengan
dinjeksikan secara subkutan atau intra-muskuler. Vaksin ini efektif selama
3 tahun dan direkomendasikan untuk revaksinasi setiap 3 tahun. Vaksin ini
memberikan efi kasi perlindungan sebesar 70-80%.8

Vaksin Ty21a

Vaksin oral ini tersedia dalam sediaan salut enterik dan cair yang diberikan
pada anak usia 6 tahun ke atas. Vaksin diberikan 3 dosis yang masing-
masing diselang 2 hari. Antibiotik dihindari 7 hari sebelum dan sesudah

18
vaksinasi. Vaksin ini efektif selama 3 tahun dan memberikan efi kasi
perlindungan 67-82%.8

Vaksin Vi-conjugate

Vaksin ini diberikan pada anak usia 2-5 tahun di Vietnam dan memberikan
efikasi perlindungan 91,1% selama 27 bulan setelah vaksinasi. Efi kasi
vaksin ini menetap selama 46 bulan dengan efi kasi perlindungan sebesar
89%.8

DAFTAR PUSTAKA

1. Subdirektorat diare dan infeksi saluran pencernaan DEPKES. 2013.


Sistematika pedoman pengendalian penyakit demam tifoid.
Depertemen Kesehatan Republik Indonesia
2. WHO. 2011. Guidelines for management of typhoid fever. World
health federation
3. Khan, S dkk. 2012. Early Diagnosis of Typhoid Fever by Nested PCR
for Flagellin gene of Salmonella enterica serotype Typhi. Indian J
Med Res 136, Nov 2012. hal 850-854
4. Widodo, D. 2006. Naskah Konsensus Penatalaksanaan Demam Tifoid.
Perhimpunan Peneliti Penyakit Tropik Infeksi Indonesia. Jakarta. hal
1-8
5. Widodo, D. 2009. Demam Tifoid. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Badan Penerbit FK-UI. Jakarta. hal 2979-2802
6. WHO, 2003. Background document: The diagnosis, treatment and
prevention of typhoid fever. World health federation.
7. Mita, R dkk. 2010. Mini review: New Advances in Rapid Diagnosis of
Typhoid Fever. African Journal of Microbiology Research vol 4(16).
hal 1676-1677
8. Nelwan, RHH. 2012. Tatalaksana Terkini Demam Tifoid. CDK-
192/vol.39, no.4. Jakarta. hal 247-250
9. Anggoro, Joko. 2015. Current Diagnose and Treatment of Typhoid Fever.
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Mataram/RSUP NTB
10. Homenta novia. 2013. Antibiotik terapi demam tifoid tanpa komplikasi
pada anak. Manado. Fakultas Kedokteran Universitas Samratulangi

19
20