Anda di halaman 1dari 12

Makalah Tentang Barang Miliik Daerah

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Otonomi Daerah mempunyai konsekuensi bahwa peran pemerintah pusat akan semakin
kecil, sebaliknya peran pemerintah daerah semakin besar dalam pembangunan
daerah/wilayahnya. Pemerintah daerah dituntut memiliki kemandirian dalam membiayai
sebagian besar anggaran pembangunannya. Oleh karena itu pemerintah daerah harus dapat
melakukan optimalisasi sumber-sumber penerimaan daerahnya.
Salah satu sektor yang dapat diharapkan menjadi pendapatan daerah terutama di
perkotaan adalah melalui sektor properti. Potensi sektor properti di daerah tidak hanya dalam
pembangunan properti saja, namun juga menyangkut pengelolaan properti yang sudah
termanfaatkan ataupun yang belum termanfaatkan secara optimal. Banyak sumber yang dapat
ditarik dari sektor properti, baik yang termasuk dalam kategori sumber penerimaan
konvensional (seperti: PBB, PP1, BPHTB dan lain-lain) maupun sumber penerimaan baru
atau non konvensional (seperti: Development Impact Fees, penerimaan akibat perubahan
harga dasar tanah dan lain-lain).
Namun dalam perkembangannya untuk menghadapi otonomi daerah, pemerintah
daerah tidak hanya mengoptimalkan pada potensi pajak dari sektor properti saja, tetapi juga
harus mengetahui jumlah dan sejauh mana pemanfaatan aset properti yang dimiliki
pemerintah daerah saat ini. Manajemen aset properti ini sangat penting diketahui karena di
samping sebagai penentuan aktiva tetap dalam faktor penambah dalam total aset daerah juga
dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pendapatan yang menopang pendapatan asli
daerah.
Pengelolaan aset daerah bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Hal ini terbukti dari
masih banyaknya pengecualian kewajaran atas nilai aset pemerintah daerah dalam opini
BPK-RI atas laporan keuangan pemerintah daerah. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa
pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam pengelolaan aset sehingga menyajikan aset
daerah dengan kurang atau tidak wajar. Untuk itu manajemen aset daerah dan faktor-faktor
yang mempengaruhinya dalam rangka optimalisasi pendapatan asli daerah sebagai sumber
utama pendanaan operasional pemerintah daerah sesuai dengan semangat otonomi daerah.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1) Apa Dasar Hukumnya BMD?
2) Bagaimana Manajemen Asetnya?
3) Apa Pengertian Barang dan Aset Daerah?
4) Serta Bagaimana Pengelolaan BMD?

C. TUJUAN PENULISAN
Dari uraian latar belakang dan rumusan masalah di atas maka yang menjadi
tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1) Untuk Mengetahui Apa Dasar Hukum BMD
2) Untuk Mengetahui Bagaimana Manajemen Asetnya
3) Untuk Mengetahui Pengertian Barang dan Aset Daerah
4) Untuk Mengetahui Bagaimana Pengelolaan BMD
BAB II
PEMBAHASAN

A. DASAR HUKUM
Barang Daerah disebut Barang Milik Daerah (BMD) pelaksanaan
pengelolaannya berdasarkan peraturan perundang-undangan, diantaranya sbb:
1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
2) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah.
Berikutnya pelaksanaan teknis pengelolaan BMD diatur dalam Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik
Daerah.

B. MANAJEMEN ASET
Standar Akuntansi Pemerintahan mendefinisikan aset adalah sumber daya ekonomi
yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan
dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik
oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber
daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan
sumber-sumber daya yang diperlihara karena alasan sejarah dan budaya.
Sementara itu, pengertian aset secara umum adalah barang (thing) atau sesuatu barang
(anything) yang mempunyai nilai ekonomi (economic value), nilai komersial (commercial
value) atau nilai tukar (exchange value) yang dimiliki oleh badan usaha, instansi atau
individu (perorangan). Istilah properti seringkali melekat dengan istilah lain untuk
memberikan pengertian yang lebih jelas secara hukum, yaitu real estate dan real property
dimana keduanya mempunyai makna yang berbeda meskipun ada juga yang menyebutnya
sebagai sinonim dalam lingkup tertentu. Selanjutnya, Real estate is the physical land and
appurtenances affixed to the land, e.g., structure. Real estate bersifat tidak bergerak
(immobile) dan berwujud (tangibel), yang termasuk dalam pengertian ini adalah tanah, semua
benda yang secara alami sebagai bagian dari tanah, seperti pepohonan dan barang mineral
dan juga segala sesuatu yang dibangun oleh manusia seperti bangunan, jaringan dan lain
sebagainya.

Real property merupakan kumpulan atas berbagai macam hak dan interest yang ada
dikarenakan kepemilikan atas satuan real estate, meliputi hak untuk menggunakan,
menyewakan, memberikan kepada orang lain atau tidak. Properti selain sebagai investasi,
juga merupakan aset. Pengertian aset adalah sesuatu yang memiliki nilai. Real estate sebagai
komponen utama dari aset daerah, oleh pemerintah daerah selanjutnya harus dapat
dimanfaatkan sebagai aset yang produktif dan berguna sehingga berdampak positif dalam
pembangunan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. Dalam neraca keuangan daerah
aset dapat menjadi modal bila dapat menghasilkan pendapatan. Namun masih banyak daerah
yang belum menyadari peran dan potensi pengelolaan aset secara cermat.
Dalam Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006
tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah menyebutkan bahwa pengelolaan barang
milik negara/daerah meliputi perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan,
penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan,
pemindahtanganan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian.
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, pengelolaan barang milik daerah
meliputi; perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan
dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan,
penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian,
pembiayaan dan tuntutan ganti rugi.

C. PENGERTIAN BARANG DAN ASET DAERAH


1. Barang Daerah
BMD berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 2004 adalah semua barang yang dibeli atau
diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Selanjutnya
pengertian BMD berdasarkan PP Nomor 6 Tahun 2006, adalah sebagai berikut:
BMD meliputi:
1) Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD.
2) Barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah, meliputi :

a. Barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis.


b. Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian /kontrak.
c. Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang, atau
d. Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap.
Dengan demikian pengertian BMD sebagaimana disebut dalam Permendari No. 17
Tahun 2007 adalah semua kekayaan daerah baik yang dibeli atau diperoleh atas beban
APBD maupun yang berasal dari perolehan lain yang sah baik yang bergerak maupun
yang tidak bergerak beserta bagian-bagiannya ataupun yang merupakan satuan tertentu
yang dapat dinilai, dihitung, diukur atau ditimbang termasuk hewan dan tumbuh-
tumbuhan kecuali uang dan surat-surat berharga lainnya.
2. Aset
Pengertian Aset sebagaimana dikutip dari Modul Diklat Teknis Manajemen Aset
Daerah, LAN-2007, seperti berikut ini:
Asset atau Aset ( dengan satu s ) yang telah di Indonesiakan secara umum adalah
barang (thing) atau sesuatu barang (anything) yang mempunyai:
1) Nilai ekonomi (economic value),
2) Nilai komersial (commercial value) atau
3) Nilai tukar (exchange value); yang dimiliki oleh instansi, organisasi, badan usaha
ataupun individu perorangan.
Asset (Aset) adalah barang, yang dalam pengertian hukum disebut benda, yang
terdiri dari benda tidak bergerak dan benda bergerak, baik yang berwujud (tangible)
maupun yang tidak berwujud (Intangible), yang tercakup dalam aktiva/kekayaan atau
harta kekayaan dari suatu instansi, organisasi, badan usaha atau individu perorangan.
Sedangkan pengertian Aset sebagaimana disebut dalam Buletin Teknis, Pernyataan
Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP), adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai
dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana
manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh
pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber
daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan
sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.

Aset tersebut dalam Buletin Teknis PSAP terdiri dari:


1) Aset Lancar : Kas dan setara kas, Investasi jangka pendek, Piutang dan Persediaan.
Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera untuk
direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak
tanggal pelaporan, atau berupa kas dan setara kas.
2) Investasi Jangka Panjang : Investasi merupakan aset yang dimaksudkan untuk
memperoleh manfaat ekonomik seperti bunga, dividen, dan royalty, atau manfaat sosial,
sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan pada
masyarakat. Investasi pemerintah dibagi atas dua yaitu investasi jangka pendek dan
investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek termasuk dalam kelompok aset lancar
sedangkan investasi jangka panjang masuk dalam kelompok aset nonlancar.
3) Aset Tetap : Tanah, Peralatan dan Mesin, Gedung dan Bangunan, Jalan, Irigasi dan
Jaringan, Aset Tetap Lainnya dan Konstruksi dalam Pengerjaan.Aset Tetap merupakan
aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk
digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.
4) Aset Lainnya : Aset tak berwujud, Tagihan penjualan ansuran, TP dan TGR, Kemitraan
dengan pihak ketiga dan aset lain-lain. Aset lainnya merupakan aset pemerintah yang
tidak dapat diklasifikasikan sebagai aset lancar, investasi jangka panjang, aset tetap dan
dana cadangan.
Sesuai Permendari No. 17 Tahun 2007, BMD digolongkan berupa barang persedian
dan barang inventaris (barang dengan penggunaannya lebih dari 1 tahun) yang terdiri
dari 6 (enam) kelompok yaitu:
1) Tanah;
2) Peralatan dan Mesin;
3) Gedung dan Bangunan;
4) Jalan, Irigasi dan Jaringan;
5) Aset Tetap Lainnya; dan
6) Konstruksi dalam Pengerjaan.
Bedasarkan lingkup aset dan penggolongan BMD tersebut diatas, BMD merupakan
bagian dari Aset Pemerintah Daerah yang berwujud yang tercakup dalam Aset Lancar
dan Aset Tetap.
Menyangkut aset tak berwujud yang tercakup dalam Aset Lainnya, secara khusus
tidak disebut dalam Permendari No. 17 Tahun 2007. Aset ini dimiliki untuk digunakan
dalam menghasilkan barang dan jasa atau digunakan untuk tujuan lainnya. Aset tak
berwujud diantaranya berupa lisensi dan franchise, hak cipta (copyright), paten dan hak
lainnya serta hasil kajian/penelitian, bagaimanapun tetap perlu dilakukan
penatausahaannya untuk keperluan pengelolaan BMD dalam rangka perencanan
kebutuhan pengadaan dan pengendalian serta pembinaan aset/barang daerah.
D. PENGELOLAAN BMD.
Pengelolaan BMD merupakan rangkaian kegiatan dan/atau tindakan terhadap
BMD, yang meliputi:
1. Perencanaan Kebutuhan Dan Penganggaran;
2. Pengadaan;
3. Penerimaan, Penyimpanan Dan Penyaluran;
4. Penggunaan;
5. Penatausahaan;
6. Pemanfaatan;
7. Pengamanan Dan Pemeliharaan;
8. Penilaian;
9. Penghapusan
10. Pemindahtanganan;
11. Pembinaan, Pengawasan Dan Pengendalian;
12. Pembiayaan;
13. Tuntutan Ganti Rugi.
Pengelolaan BMD sebagai bagian dari Pengelolaan Keuangan Daerah yang
dilaksanakan secara terpisah dari Pengelolaan Barang Milik Negara.
Lingkup Pengelolaan BMD terdiri dari:
1) Barang yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah yang penggunaannya/ pemakaiannya
berada pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)/Instansi/lembaga Pemerintah
Daerah lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
2) Barang yang dimiliki oleh Perusahaan Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah lainnya
yang status barangnya dipisahkan.
BMD yang dipisahkan adalah barang daerah yang pengelolaannya berada pada
Perusahaan Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah lainnya yang anggarannya
dibebankan pada anggaran Perusahaan Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah lainnya.
Pelaksanaan tugas dan wewenang serta tanggung jawab pengelolaan BMD
dilaksanakan oleh Pejabat Pengelola BMD, yang terdiri dari: Kepala Daerah sebagai
pemegang kekuasaan pengelolaan BMD berwenang dan bertanggungjawab atas
pembinaan dan pelaksanaan pengelolaan BMD.
Adapun kewenangannya sbb :
1) Menetapkan kebijakan pengelolaan BMD;
2) Menetapkan penggunaan, pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah dan bangunan;
3) Menetapkan kebijakan pengamanan BMD;
4) Mengajukan usul pemindahtanganan BMD yang memerlukan persetujuan DPRD;
5) Menyetujui usul pemindahtanganan dan penghapusan BMD sesuai batas
kewenangannya; dan
6) Menyetujui usul pemanfaatan BMD selain tanah dan/atau bangunan.

Sekretaris Daerah selaku pengelola, berwenang dan bertanggungjawab:


1) Menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan BMD;
2) Meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan BMD;
3) Meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan pemeliharaan/perawatan BMD;
4) Mengatur pelaksanaan pemanfaatan, penghapusan dan pemindahtanganan BMD yang
telah disetujui oleh Kepala Daerah;
5) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi BMD; dan
6) Melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BMD.
Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola BMD bertanggung jawab
mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan BMD yang ada pada masing-masing
SKPD;
Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku pengguna BMD,
berwenang dan bertanggung jawab:

1) Mengajukan rencana kebutuhan BMD bagi SKPD yang dipimpinnya kepada Kepala
Daerah melalui pengelola;
2) Mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan penggunaan BMD
yang diperoleh dari beban APBD dan perolehan lainnya yang sah kepada Kepala Daerah
melalui pengelola;
3) Melakukan pencatatan dan inventarisasi BMD yang berada dalam penguasaannya;
4) Menggunakan BMD yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang
dipimpinnya,
5) Mengamankan dan memelihara BMD yang berada dalam penguasaannya;
6) Mengajukan usul pemindahtanganan BMD berupa tanah dan/atau bangunan yang tidak
memerlukan persetujuan DPRD dan BMD selain tanah dan/atau bangunan kepada
Kepala Daerah melalui pengelola;
7) Menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang
dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola;
8) Melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan BMD yang ada dalam
penguasaannya; dan
9) Menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan
Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya kepada
pengelola.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah selaku kuasa pengguna BMD, berwenang dan
bertanggung jawab:
1) Mengajukan rencana kebutuhan BMD bagi unit kerja yang dipimpinnya kepada Kepala
Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan;
2) Melakukan pencatatan dan inventarisasi BMD yang berada dalam penguasaannya;
3) Menggunakan BMD yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi unit kerja yang dipimpinnya;
4) Mengamankan dan memelihara BMD yang berada dalam penguasaannya;
5) Melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan BMD yang ada dalam
penguasaannya; dan
6) Menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS)
dan Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) yang berada dalam penguasaannya
kepada kepala satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan.
Penyimpan Barang bertugas menerima, menyimpan dan menyalurkan barang yang
berada pada pengguna/kuasa pengguna; dan Pengurus Barang bertugas mengurus BMD
dalam pemakaian pada masing-masing pengguna/kuasa pengguna.
Pelaksanaan pengelolalaan BMD berdasarkan pada azas sbb :
1. Azas Fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah di bidang
pengelolaan BMD yang dilaksanakan oleh kuasa pengguna barang, pengguna barang,
pengelola barang dan Kepala Daerah sesuai fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-
masing;
2. Azas Kepastian Hukum, yaitu pengelolaan BMD harus dilaksanakan berdasarkan hukum
dan peraturan perundang-undangan;
3. Azas Transparansi, yaitu penyelenggaraan pengelolaan BMD harus transparan terhadap
hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar;
4. Azas Efisiensi, yaitu pengelolaan BMD diarahkan agar BMD digunakan sesuai batasan-
batasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas
pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal;
5. Azas Akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan BMD harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada rakyat;
6. Azas Kepastian Nilai, yaitu pengelolaan BMD harus didukung oleh adanya ketepatan
jumlah dan nilai barang dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dan pemindahtanganan BMD
serta penyusunan neraca Pemerintah Daerah.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Aset merupakan sumberdaya yang penting bagi pemerintah daerah. dengan mengelola
aset daerah secara benar dan memadai, pemerintah daerah akan mendapatkan sumber dana
untuk pembiyaan pembangunan di daerah. Dalam mengelola aset daerah, pemerintah daerah
harus memperhatikan perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penerimaan,
penyimpanan dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan dan
pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan dan
pengendalian, pembiayaan dan tuntutan ganti rugi. Keseluruhan kegiatan tersebut merupakan
aspek-aspek penting yang terdapat dalam manajemen aset daerah. Dengan melakukan
perencanaan kebutuhan aset, pemerintah daerah akan memperoleh gambaran dan pedoman
terkait kebutuhan aset bagi pemerintah daerah.
Dengan perencanaan kebutuhan aset tersebut, pemerintah daerah dapat terhindarkan
dari kepemilikan aset yang sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menjaga dan
meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan pada masyarakat. Selain faktor perencanaan
kebutuhan aset, faktor pengamanan dan pemeliharaan aset juga harus menjadi pertimbangan
pemerintah daerah. Dengan pengamanan dan pemeliharaan aset, pemerintah daerah dapat
menjaga kepemilikan dan dapat menerima manfaat ekonomis aset dalam rangka usaha
pemerintah daerah memberikan pelayanan pada masyarakat. Faktor yang tidak kalah penting
dalam pengelolaan aset pemerintah daerah adalah sistem informasi data. Dengan sistem
informasi data aset pemerintah daerah yang memadai, pemerintah daerah dapat lebih mudah
dan cepat untuk memperoleh data terkait aset ketika dibutuhkan sewaktu-waktu. Dengan
sistem informasi data, pemerintah daerah juga dapat menyusun laporan aset secara lebih
handal sehingga dapat memberi informasi yang lebih handal pada pemakai informasi dalam
laporan keuangan.
Selain faktor-faktor pengelolaan aset daerah yang didasarkan pada teori atau undang-
undang, pemerintah daerah penting juga untuk mempertimbangkan aspek lain seperti aspek
kebijakan pimpinan dan strategi.

Aspek ini merupakan faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan aset tanah dan
bangunan karena dengan kebijakan dan strategi pengelolaan aset oleh pimpinan pemerintah
daerah dapat memberi arahan bagi pelaksanaan pengelolaan aset pemerintah. Dengan adanya
kebijakan dan strategi pengelolaan aset yang tepat oleh pimpinan pemerintah daerah akan
dapat mengoptimalkan manfaat aset bagi pemerintah daerah.

B. SARAN
Untuk meningkatkan penerimaan retribusi pemanfaatan kekayaan
daerah, maka pemerintah perlu menyiapkan instrumen yang tepat untuk
melakukan pengelolaan/manajemen aset daerah secara profesional,
transparan, akuntabel, efisen, dan efektif, mulai dari perencanaan,
pendistribusian, pemanfaatan, serta pengawasan pemanfaatan aset
daerah tersebut.
Kemudian, dalam menunjang peningkatan penerimaan dari retribusi
pemanfaatan kekayaan daerah, alangkah baiknya jika Kepala Daerah
yaitu Bupati, begitu dilantik langsung mengetahui dan memahami secara
persis kondisi aset daerah lalu melaporkannya kepada rakyat secara
berkala.

DAFTAR PUSTAKA

PP Nomor 6 Tahun 2006 : tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.

Elisa.ugm.ac.id ( Slide Hukum Benda Milik Negara );

www.mandikdasmen.depdiknas.go.id ( Slide Pelaporan Barang Milik


Negara Atas Dana
Dekonsentrasi ).

Mardiasmo, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Andi,


Yogyakarta, 2002.
Chabib Soleh dan Heru Rochmansjah, Pengelolaan Keuangan Dan
Aset Daerah, Sebuah Pendekatan Struktural Manuju Tata Kelola
Pemerintahan Yang Baik, Fokusmedia, Bandung, 2010.