Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MATA KULIAH

REKAYASA SISTEM KONVERSI DAN KONSERVASI ENERGI


(RSKKE)
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA)

Oleh : Kelompok 2

1. Annisa Amadhea F. (2414105024)


2. Nufiqurakhmah (2414105026)
3. Derma Wiharsa K. (2414105028)
4. Anggit Irawan (2414105030)
5. Aisyiyah Nur Isnaeni (2414105032)
6. Rosy Modicha S. (2414105034)
7. Alinda Nurul B. (2414105036)
8. Redhianto Edwin S. (2414105038)
9. Rio Ananda P. (2414105040)
10. Soraya Rizqimufidah (2414105042)

Jurusan Teknik Fisika


Fakultas Teknologi Industri
Institute Teknologi Sepuluh Nopember
2016
1. Deskripsi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

Pembangkit Litrik Tenaga Air (PLTA) adalah pembangkit listrik yang mengandalkan
energy potensial dan energi kinetik dari air untuk mneghasilkan energi listrik. Aliran air
dimanfaatkan dan diubah menjadi energi listrik melalui putaran turbin dan generator.

Pembangkit Listrik Tenaga Air merupakan pusat pembangkit tanaga listrik yang mengubah
energi potensial air ( energi gravitasi air ) menjadi energi listrik. Mesin penggerak yang
digunakan adalah turbin air untuk mengubah energi potensial air menjadi kerja mekanis poros
yang akan memutar rotor pada generator untuk menghasilkan energi listrik.

Air sebagai bahan baku PLTA dapat diperoleh dengan berbagai cara misalnya, dari sungai
secara langsung disalurkan untuk memutar turbin, atau dengan cara ditampung terlebih dahulu
( bersama sama air hujan ) dengan menggunakan kolam tandon atau waduk sebelum
disalurkan untuk memutar turbin.

Air dari sungai atau lebih ditampung disuatu tempat untuk mendapat ketinggian tertentu
dengan jalan dibendung. Air dari waduk tersebut dialirkan melalui saluran terbuka melalui
pintu air ke saluran tertutup yang selanjutnya melalui pipa pesat menggerakan turbin untuk
membangkitkan tenaga listrik.

Pembangkit listrik tenaga air konvensional bekerja dengan cara mengalirkan air dari DAM
ke turbin setelah itu air dibuang. Saat ini ada teknologi baru yang dikenal dengan pumped-
storage plant. Berikut adalah gambar skema Pembangkit Listrik Tenaga Air secara umum.

Gambar 1.1 Skema Alur Proses PLTA


Keterangan gambar 1.1:

1. Sungai/Kolam Tandon, untuk tempat penampungan air

2. Intake, pintu masuk air sungai/tandon

3. Katup pengaman, berfungsi sebagai katup pengatur intake

4. Headrace tunnel, pipa antara tandon dan sebelum masuk penstock

5. Penstock (pipa pesat), untuk mengalirkan dan mengarahkan air ke turbin serta untuk
mendapatkan tekanan hidrostatis yang besar.

6. Surge tank, berfungsi sebagai pengaman tekanan air yang tiba-tiba naik saat katup
pengatur ditutup

7. Main stop valve, berfungsi sebagai katup pengatur turbin

8. Turbin, mengubah energi potensial air menjadi energi gerak

9. Generator, menghasilkan energi listrik dari energi gerak

10. Main transformer, untuk transfer energi listrik antar dua sirkuit dengan induksi
elektromagnetik.

11. Transmission line, penyalur energi listrik ke konsumen

PLTA dapat beroperasi sesuai dengan perancangan sebelumnya, bila mempunyai Daerah

Aliran Sungai (DAS) yang potensial sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan dalam

pengoperasian PLTA tersebut. Pada operasi PLTA, perhitungan keadaan air yang masuk pada
waduk / dam tempat penampungan air, beserta besar air yang tersedia dalam waduk / dam dan
perhitungan besar air yang akan dialirkan melalui pintu saluran air untuk menggerakkan turbin
sebagai penggerak sumber listrik tersebut, merupakan suatu keharusan untuk dimiliki, dengan
demikian kontrol terhadap air yang masuk maupun yang didistribusikan ke pintu saluran air
untuk menggerakkan turbin harus dilakukan dengan baik, sehingga dalam operasi PLTA
tersebut, dapat dijadikan sebagai dasar tindakan pengaturan efisiensi penggunaan air maupun
pengamanan seluruh sistem, sehingga PLTA tersebut, dapat beroperasi sepanjang tahun,
walaupun pada musim kemarau panjang.

Dalam penentuan pemanfaatan suatu potensi sumber tenaga air bagi pembangkitan tenaga

listrik ditentukan oleh tiga faktor yaitu :

1. Jumlah air yang tersedia, yang merupakan fungsi dari jatuh hujan dan atau salju.
2. Tinggi terjun yang dapat dimanfaatkan, hal mana tergantung dari topografi daerah
tersebut.
3. Jarak lokasi yang dapat dimanfaatkan terhadap adanya pusat-pusat beban atau jaringan
transmisi.

2. Komponen-Komponen Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

PLTA merupakan salah satu tipe pembangkit yang ramah lingkungan, karena
menggunakan air sebagai energi primernya. Energi primer air dengan ketinggian tertentu
digunakan untuk menggerakkan turbin yang dikopel dengan generator. Komponen-komponen
yang ada pada sistem PLTA secara garis besar adalah sebagai berikut.

Tabel 2.1 Komponen-Komponen PLTA dan Fungsinya

No Komponen Fungsi
1 Waduk Tempat menampung air sungai
2 Main Gate Pintu air utama
3 Bendungan Penahan laju sungai
Penstock Pipa yang nyalurin air dari waduk ke
4
pembangkit
5 Katup Utama Katup buka/tutup
6 Turbin Yang digerakan sama air
7 Generator Pengubah energi mekanik jadi energi listrik
10 Transformator Pengubah listrik
12 Kabel Transmisi Distributor listrik

2.1 Bendungan

Bendungan, berfungsi untuk menampung air dalam jumlah besar karena turbin
memerlukan pasokan air yang cukup dan stabil. Dengan menaikkan permukaan air sungai
untuk menciptakan tinggi jatuh air. Selain itu dam juga berfungsi untuk pengendalian banjir.
contoh waduk Jatiluhur yang berkapasitas 3 miliar kubik air dengan volume efektif sebesar 2,6
miliar kubik. Selain menyimpan air, bendungan juga dibangun dengan tujuan untuk
menyimpan energi.

Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi
waduk, danau, atau tempat rekreasi. Bendungan juga digunakan untuk mengalirkan air ke
sebuah Pusat Listrik Tenaga Air. Kebanyakan dam juga memiliki bagian yang disebut pintu air
untuk membuang air yang tidak diinginkan secara bertahap atau berkelanjutan. Jenis
bendungan antara lain :

1. Bendungan Beton

Bendungan Gravitasi

Bendungan ini menahan tekanan air semata-mata dengan kekuatan gravitasi dari masa
bendungan tersebut.

Bendungan Busur

Bendungan yang cocok untuk lembah yang berbentuk U atau bentuk bendungan rendah, tidak
cocok untuk bendungan tinggi.

Bendungan Rongga

Bendungan ini biasanya ekonomis karena lebih sedikit menggunakan bahan-bahan, tetapi
lebih rendah nilainya daripada bendungan gravitasi dilihat dari segi kemanannya.
Gambar 2.1 Bendungan Beton

2. Bendungan Urugan

Bendungan urugan merupakan bendungan yang dibuat dengan urugan batu, bendungan tanah,
dan bendungan campuran dari kedua jenis tersebut. Bendungan ini tidak membutuhkan

pondasi yang baik. Macam-macam bendungan urugan adalah seperti berikut.

Bendungan Urugan Batu

Bendungan Tanah

Bendungan Kerangka Baja

Bendungan Kayu
Gambar 2.2 Bendungan Urugan

2.2 Turbin

Turbin berfungsi untuk mengubah energi potensial menjadi energi mekanik. Air akan
memukul susu sudu dari turbin sehingga turbin berputar. Perputaran turbin ini di hubungkan
ke generator. Turbin terdiri dari berbagai jenis seperti turbin Francis, Kaplan, Pelton, dll.

Gaya jatuh air yang mendorong baling-baling menyebabkan turbin berputar. Turbin air
kebanyakan seperti kincir angin, dengan menggantikan fungsi dorong angin untuk memutar
baling-baling digantikan air untuk memutar turbin. Selanjutnya turbin merubah energi kinetik
yang disebabkan gaya jatuh air menjadi energi mekanik.

Turbin merupakan peralatan yang tersusun dan terdiri dari beberapa peralatan suplai air
masuk turbin, diantaranya sudu (runner), pipa pesat (penstock), rumah turbin (spiral chasing),
katup utama (inlet valve), pipa lepas (draft tube), alat pengaman, poros, bantalan (bearing),
dan distributor listrik. Menurut momentum air turbin dibedakan menjadi dua kelompok yaitu
turbin reaksi dan turbin impuls. Turbin reaksi bekerja karena adanya tekanan air, sedangkan
turbin impuls bekerja karena kecepatan air yang menghantam sudu.
Gambar 2.3 Turbin

Prinsip Kerja Turbin Reaksi yaitu Sudu-sudu (runner) pada turbin francis dan propeller
berfungsi sebagai sudu-sudu jalan, posisi sudunya tetap (tidak bisa digerakkan). Sedangkan
sudu-sudu pada turbin kaplan berfungsi sebagai sudu-sudu jalan, posisi sudunya bisa
digerakkan (pada sumbunya) yang diatur oleh servo motor dengan cara manual atau otomatis
sesuai dengan pembukaan sudu atur. Proses penurunan tekanan air terjadi baik pada sudu-sudu
atur maupun pada sudu-sudu jalan (runner blade). Prinsip Terja Turbin Pelton berbeda dengan
turbin rekasi Sudu-sudu yang berbentuk mangkok berfungsi sebagai sudu-sudu jalan,
posisinya tetap (tidak bisa digerakkan). Dalam hal ini proses penurunan tekanan air terutama
terjadi didalam sudu-sudu aturnya saja (nozel) dan sedikit sekali (dapat diabaikan) terjadi pada
sudu-sudu jalan (mangkok-mangkok runner).

Air yang digunakan untuk membangkitkan listrik bisa berasal dari bendungan yang
dibangun diatas gunung yang tinggi, atau dari aliran sungai bawah tanah. Karena sumber air
yang bervariasi, maka turbin air didesain sesuai dengan karakteristik dan jumlah aliran airnya.
Berikut ini merupakan berbagai jenis turbin yang biasa digunakan untuk PLTA.

2.3 Generator
Generator, dihubungkan dengan turbin melalui gigi-gigi putar sehingga ketika baling-
baling turbin berputar maka generator juga ikut berputar. Generator selanjutnya merubah
energi mekanik dari turbin menjadi energi elektrik. Generator di PLTA bekerja seperti halnya
generator pembangkit listrik lainnya.

Generator dihubungkan ke turbin dengan bantuan poros dan gearbox. Memanfaatkan


perputaran turbin untuk memutar kumparan magnet didalam generator sehingga terjadi
pergerakan elektron yang membangkitkan arus AC.

Gambar 2.4 Turbin Generator

Generator listrik adalah sebuah alat yang memproduksi energi listrik dari sumber energi
mekanis. Generator terdiri dari dua bagian utama, yaitu rotor dan stator. Rotor terdiri dari 18
buah besi yang dililit oleh kawat dan dipasang secara melingkar sehingga membentuk 9
pasang kutub utara dan selatan. Jika kutub ini dialiri arus eksitasi dari Automatic Voltage
Regulator (AVR), maka akan timbul magnet. Rotor terletak satu poros dengan turbin, sehingga
jika turbin berputar maka rotor juga ikut berputar. Magnet yang berputar memproduksi
tegangan di kawat setiap kali sebuah kutub melewati "coil" yang terletak di stator. Lalu
tegangan inilah yang kemudian menjadi listrik. Agar generator bisa menghasilkan listrik, ada
tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Putaran
Putaran rotor dipengaruhi oleh frekuensi dan jumlah pasang kutub pada rotor, sesuai
dengan persamaan:

n = 60 . f / P

dimana:

n : putaran

f : frekuensi

P : jumlah pasang kutub

Jumlah kutub pada rotor di PLTA Saguling sebanyak 9 pasang, dengan frekuensi
sistem sebesar 50 Hertz, maka didapat nilai putaran rotor sebesar 333 rpm.

2. Kumparan

Banyak dan besarnya jumlah kumparan pada stator mempengaruhi besarnya daya
listrik yang bisa dihasilkan oleh pembangkit.

3. Magnet

Magnet yang ada pada generator bukan magnet permanen, melainkan dihasilkan dari
besi yang dililit kawat. Jika lilitan tersebut dialiri arus eksitasi dari AVR maka akan
timbul magnet dari rotor. Sehingga didapat persamaan:

E=B.V.L

Dimana:

E : Gaya elektromagnet

B : Kuat medan magnet

V : Kecepatan putar

L : Panjang penghantar

Dari ketiga hal tersebut, yang bernilai tetap adalah putaran rotor dan kumparan, sehingga
agar beban yang dihasilkan sesuai, maka yang bisa diatur adalah sifat kemagnetannya, yaitu
dengan mengatur jumlah arus yang masuk. Makin besar arus yang masuk, makin besar pula
nilai kemagnetannya, sedangkan makin kecil arus yang masuk, makin kecil pula nilai
kemagnetannya.

Menurut jenis penempatan thrust bearing nya, generator dibedakan menjadi empat, yaitu:

a) Jenis biasa - thrust bearing diletakkan diatas generator dengan dua guide bearing.
b) Jenis Payung (Umbrella Generator) - thrust bearing dan satu guide bearing
diletakkan dibawah rotor.
c) Jenis setengah payung (Semi Umbrella Generator) kombinasi guide dan thrust
bearing diletakkan dibawah rotor dan second guide bearing diletakkan diatas rotor.
d) Jenis Penunjang Bawah thrust bearing diletakkan dibawah coupling.

2.4 Jalur Transmisi

Transmisi berguna untuk mengalirkan listrik dari PLTA ke rumah rumah atau industri.
Sebelum listrik kita pakai tegangannya di turunkan lagi dengan travo step down.

Gambar 2.5 Skema Transmisi PLTA

3. Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

Pertama-tama, ada air yang masuk dari sungai/ waduk/ bisa juga disebut dengan tandonke
turbin melalui suatu alat yang dinamakan penstock. Kemudian ada suatu katup pengaman
yang berguna untuk memberikan atau mengatur aliran air dari tempat semula dan masuk ke
headrace di tunnel yang berfungsi juga untuk menghentikan aliran dari air tersebut.
Kedua, energi yang dihasilkan dari air potensial tersebut mampu menggerakkan turbin dan
menghasilkan suatu energi gerak yang dikonversikan juga menjadi energi listrik oleh bantuan
generator. Cara kerja pembangkit listrik tenaga air sederhana yang selanjutnya yaitu energi
listrik dari generator tersebut kemudian diatur lalu ditransfer dengan alat yang dinamakan
main transformer supaya sesuai dengan kapasitas dari transmission line yang meliputi
tegangan, daya dan lainya untuk didistribusikan ke rumah-rumah warga

Gambar 3.1 Skema Prinsip Kerja PLTA

Pembangkit Listrik Tenaga Air merupakan pusat pembangkit tanaga listrik yang mengubah
energi potensial air ( energi gravitasi air ) menjadi energi listrik. Mesin penggerak yang
digunakan adalah turbin air untuk mengubah energi potensial air menjadi kerja mekanis poros
yang akan memutar rotor pada generator untuk menghasilkan energi listrik.

Air sebagai bahan baku PLTA dapat diperoleh dapat diperoleh dengan berbagai cara
misalnya, dari sungai secara langsung disalurkan untuk memutar turbin, atau dengan cara
ditampung dahulu ( bersama sama air hujan ) dengan menggunakan kolam tando atau waduk
sebelum disalurkan untuk memutar turbin.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bekerja dengan cara merubah energi potensial (dari
dam atau air terjun) menjadi energi mekanik (dengan bantuan turbin air) dan dari energi
mekanik menjadi energi listrik(dengan bantuan generator).
Air dari sungai atau lebih ditampung disuatu tempat untuk mendapat ketinggian tertentu
dengan jalan dibendung. Air dari waduk tersebut dialirkan melalui saluran terbuka melalui
pintu air ke saluran tertutup yang selanjutnya melalui pipa pesat menggerakan turbin untuk
membangkitkan tenaga listrik.

Pembangkit listrik tenaga air konvensional bekerja dengan cara mengalirkan air dari dam ke
turbin setelah itu air dibuang. Saat ini ada teknologi baru yang dikenal dengan pumped-storage
plant

Pumped-storage plant memiliki dua penampungan yaitu:

1. Waduk Utama (upper reservoir) seperti dam pada PLTA konvensional. Air dialirkan
langsung ke turbin untuk menghasilkan listrik.
2. Waduk cadangan (lower reservoir). Air yang keluar dari turbin ditampung di lower
reservoir sebelum dibuang disungai.

Pada saat beban puncak air dalam lower reservoir akan di pompa ke upper reservoir
sehingga cadangan air pada Waduk utama tetap stabil.

Kapasitas PLTA diseluruh dunia ada sekitar 675.000 MW ,setara dengan 3,6 milyar barrel
minyak atau sama dengan 24 % kebutuhan listrik dunia yang digunakan oleh lebih 1 milyar
orang.

PLTA merubah energi yang disebabkan gaya jatuh air untuk menghasilkan listrik. Turbin
mengkonversi tenaga gerak jatuh air ke dalam daya mekanik. Kemudian generator
mengkonversi daya mekanik tersebut dari turbin ke dalam tenaga elektrik.
Gambar 3.2 Proses Pembangkitan Listrik

1. Bendungan, berfungsi menaikkan permukaan air sungai untuk menciptakan tinggi jatuh air.
Selain menyimpan air, bendungan juga dibangun dengan tujuan untuk menyimpan energi.

2. Turbine, gaya jatuh air yang mendorong baling-baling menyebabkan turbin berputar. Turbin
air kebanyakan seperti kincir angin, dengan menggantikan fungsi dorong angin untuk memutar
baling-baling digantikan air untuk memutar turbin. Selanjutnya turbin merubah energi kenetik
yang disebabkan gaya jatuh air menjadi energi mekanik.

3. Generator, dihubungkan dengan turbin melalui gigi-gigi putar sehingga ketika baling-baling
turbin berputar maka generator juga ikut berputar. Generator selanjutnya merubah energi
mekanik dari turbin menjadi energi elektrik. Generator di PLTA bekerja seperti halnya
generator pembangkit listrik lainnya.

4. Jalur Transmisi, berfungsi menyalurkan energi listrik dari PLTA menuju rumah-rumah dan
pusat industri.

5. Pipa pesat (penstock) , berfungsi untuk menyalurkan dan mengarahkan air ke cerobong
turbin. Salah satu ujung pipa pesat dipasang pada bak penenang minimal 10 cm diatas lantai
dasar bak penenang. Sedangkan ujung yang lain diarahkan pada cerobong turbin. Pada bagian
pipa pesat yang keluar dari bak penenang, dipasang pipa udara (Air Vent) setinggi 1 m diatas
permukaan air bak penenang. Pemasangan pipa udara ini dimaksudkan untuk mencegah
terjadinya tekanan rendah (Low Pressure) apabila bagian ujung pipa pesat tersumbat. Tekanan
rendah ini akan berakibat pecahnya pipa pesat. Fungsi lain pipa udara ini untuk membantu
mengeluarkan udara dari dalam pipa pesat pada saat start awal PLTMH mulai dioperasikan.
Diameter pipa udara inch.

4. Efisiensi Pembangkit Listrik Tenaga Air

Untuk menghitung daya PLTA, bisa digunakan rumus sebagai berikut :

dimana,

P adalah daya dalam Watt,

rho adalah densitas (masa jenis) air (~1000 kg/m3),

h tinggi air (intake terhadap generator),

r adalah flow rate dalam cubic meters per second,

g adalah gravitasi 9.8 m/s2,

k koefisien efisiensi dari 0 sampai 1. Energi lebih besar dapat diperoleh dengan
menambah turbin atau menggunakan turbin yang lebih besar.

Ada beberapa keunggulan dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dapat dirangkum
secara garis besar sebagai berikut :

1. Respon pembangkit listrik yang cepat dalam menyesuaikan kebutuhan beban.


Sehingga pembangkit listrik ini sangat cocok digunakan sebagai pembangkit listrik tipe
peak untuk kondisi beban puncak maupun saat terjadi gangguan di jaringan.
2. Kapasitas daya keluaran PLTA relatif besar dibandingkan dengan pembangkit energi
terbarukan lainnya dan teknologinya bisa dikuasai dengan baik oleh Indonesia.
3. PLTA umumnya memiliki umur yang panjang, yaitu 50-100 tahun.
4. Bendungan yang digunakan biasanya dapat sekaligus digunakan untuk kegiatan lain,
seperti
5. irigasi atau sebagai cadangan air dan pariwisata.
6. Bebas emisi karbon yang tentu saja merupakan kontribusi berharga bagi lingkungan

Selain keunggulan yang telah disebutkan diatas, ada juga efek negatif pembangunan

PLTA/kerugiannya yaitu sebagai berikut:

1. Pada lingkungan, yaitu mengganggu keseimbangan ekosistem sungai/danau akibat


dibangunnya
2. bendungan.
3. Biaya investasi paling mahal.
4. Pembangunan bendungan memakan waktu yang lama.
5. Memerlukan lahan yang luas.
6. Di samping itu terkadang, kerusakan pada bendungan dapat menyebabkan resiko
kecelakaan dan
7. kerugian yang sangat besar