Anda di halaman 1dari 18

Referat

Medis Operatif Wanita

Pembimbing:
Dr. Eddi ,SpOG

Penyusun:
Michaela Vania Tanujaya
NIM : 11.2015.211

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT KADUNGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
RSAU DR. ESNAWAN ANTARIKSA

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menunda kehamilan adalah hak setiap pasangan. Salah satu cara untuk menunda
kehamilan adalah penggunaan kontrasepsi. Sedangkan menurut Mochtar (1998), alat
kontrasepsi dianggap mempunyai efektivitas baik, bila angka kehamilan/kegagalan
berkisar antara 0-10%.
Banyak perempuan mengalami kesulitan didalam menentukan pilihan jenis
kontrasepsi. Hal ini tidak hanya kerena keterbatasan metode yang tersedia, tetapi oleh
ketidak tahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut.
Kontrasepsi mantap atau sterilisasi pada wanita adalah suatu kontrasepsi
permanen yang dilakukan dengan cara melakukan tindakan pada kedua saluran telur
sehingga menghalangi pertemuan sel telur (ovum) dengan sel mani (sperma) dan hanya
dikerjakan atas indikasi medis dan terutama dilakukan pada waktu yang bersamaan
dengan tindakan obstetrik operatif perabdominal seperti pada secsio negara.
Kecocokan antara suatu metode kontrasepsi dari setiap klien tergantung pada
sejumlah faktor. Dalam menentukan metode mana yang akan digunakan, dipengaruhi
oleh kepentingan pribadi. Tingkat kepentingan berbeda dari satu pasangan ke pasangan
lain.
Sterilisasi wanita adalah bentuk kontrasepsi yang sangat efektif dengan angka
kegagalan 1-5 per 1000 kasus, yang berarti efektivitasnya 99,4-99,8% per 100 wanita
pertahun.
Saat ini, negara 60% pasangan usia reproduksi di seluruh dunia menggunakan
kontrasepsi. Selama 20 tahun terakhir, hampir satu juta orang Amerika setiap tahun
menjalankan operasi strilisasi, dan akhir-akhir ini lebih banyak wanita dari pada pria.
Di Inggris, hampir 30% pasangan, dan hampir 50% dari mereka yang berusia
lebih dari 40, menggunakan sterilisasi wanita atau pria sebagai metode kontrasepsi
mereka. Diperkirakan terdapat lebih dari 150 juta wanita yang memilih sterilisasi
sebagai metode kontrasepsi. Dan digunakan lebih dari 50 juta pasangan di seluruh
dunia, yang sebagian besar hidup di negara berkembang.

2
Peserta atau pasangan yang akan mengikuti kontrasepsi mantap harus secara
sukarela dan mengikuti kontrasepsi mantap atas keinginannya sendiri. Artinya calon
peserta tersebut tidak dipaksa atau ditekan untuk menjadi peserta kontap. Peserta sudah
mengetahui bahwa disamping kontap masih ada cara kontrasepsi lain yang dapat
mencegah kehamilan yang bersifat sementara tetapi peserta tetap memilih kontap.
Dimasyarakat modern, dengan majunya tingkat pendidikan, metode kontrasepsi
mantap (kontap) merupakan pilihan ibu-ibu di daearah perkotaan. Banyak ibu-ibu
diperkotaan memilih dan merencanakan keluarga kecil, dan kontrasepsi tubektomi
merupakan paling efektif.
Wanita yang melakukan sterilisasi sering kali merasa dibebaskan, mereka tidak
memiliki kecemasan akan kehamilan. Seringkali ketakutan akan kehamilan memicu
permintaan akan sterilisasi.
Tujuan program KB sesungguhnya bukan untuk mengurangi jumlah penduduk.
Tujuan yang benar dari program KB adalah mengendalikan pertumbuhan penduduk
serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas melalui penggunaan alat kontrasepsi
sehingga bermanfaat bagi kesehatan ibu dan anak.
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia
Tenggara atau keempat di wilayah Asia Pasifik, yaitu mencapai 248 orang per 100.000
kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan AKI tahun 2002 yaitu 307/100.000 kelahiran
hidup, angka ini mengalami penurunan namun masih jauh dari target Millenium
Development Goals (MDGs) tahun 2015 yaitu 102/100.000 kelahiran hidup. Penyebab
langsung kematian ibu tersebut terutama adalah pendarahan (30%), persalinan macet
(5%), keracunan kehamilan/ pre eklamsi (25%), infeksi (12%), dan komplikasi
persalinan (8%).
Pengaturan kehamilan dan jarak melahirkan diperlukan untuk mencapai target
MDGs tersebut. Ada beberapa metode atau alat KB yang bisa digunakan, bagi wanita
antara lain pil KB, suntik KB, susuk atau implant, alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR) dan Medis Operasi Wanita (MOW) biasa disebut tubektomi sedangkan bagi
pria biasanya dengan cara pantang berkala, senggama terputus, kondom dan Medis
Operasi Pria (MOP) atau vasektomi.

3
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2.1. Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah menghidari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat
adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma (Suratun, 2008). Istilah
kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti melawan atau
mencegah, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan
sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah
menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara
sel telur yang matang dengan sel sperma.
Kontrasepsi ideal harus memenuhi syarat-syarat antara lain dapat dipercaya, tidak
menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan, daya kerjanya dapat diatur menurut
kebutuhan, tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus, tidak memerlukan
motivasi terus menerus, mudah pelaksanaannya, murah harganya sehingga dapat
dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, dan dapat diterima penggunaannya oleh
pasangan yang bersangkutan.
Kontrasepsi dapat reversible (kembali) atau permanen (tetap). Kontrasepsi yang
reversible adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek lama di
dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan untuk mempunyai anak lagi.
Kontrasepsi permanen adalah kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan
dikarenakan melibatkan tindakan operasi.

2.1.1. Jenis-jenis Kontraspsi


Ada beberapa jenis kontrasepsi yaitu :
2.1.1.1. Metode Sederhana
(1) KB alamiah
Natural Family Planning, Fertility Awareness Mewthode, Periodik Abstinens, Metode
Rhythm, Pantang Berkala, Metode Kalender (Ogino-Knaus), Metode Suhu Badan Basa
(Termal), Metode Lendir Serviks (Bilings), Metode Simpto-Termal, Coitus Interruptus.

4
(2) Dengan Alat
Mekanis (Barrier) : Kondom pria. Barrier Intra-Vaginal : Diagfragma, Kap Serviks
(Cervical Cap), Spons (Sponge), Kondom wanita. Kimiawi : Spermisid, Vaginal cream,
Vaginal foam, Vaginal jelly, Vagibal suppositoria, Vaginal tablet, dan Vaginal soluble
film.

2.1.1.2. Metode Modern


1) Kontrasepsi Hormonal
(1) Per-oral
Pil oral kombinasi (POK), Mini-Pil, Morning after pill
(2) Injeksi/suntikan
(DMPA, NET-EN, Microspheres, Microcapsules).
(3) Sub-kutis : Implant
Alat Kontrsepsi Bawah Kulit (AKBK) : Implant Non-biodegradable. Norplant,
Norplant-2, ST-1425, Implanon : Implant biodegradable
2) Intra Uterin Devices (IUD, AKDR)
3) Kontrasepsi mantap

2.2. Kontrasepsi Mantap (Tubektomi)


Istilah kontrasepsi mantap merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, secure
contraception. Nama lain adalah sterilisasi (strelization), atau kontrasepsi operatif
(surgical contraception). Pada wanita sterilisasi lazimnya dilakukan dengan memotong
dan mengambil sebagian saluran telur (tuba) sehingga dikenal istilah tubektomi.
Kontrasepsi mantap adalah suatu metode kontrasepsi yang pada pria disebut
vasektomi dan pada wanita disebut tubektomi. Kontrasepsi mantap pada wanita yang
disebut tubektomi ialah suatu pembedahan dengan cara mini laparatomi (minilap) yaitu
tindakan pada tuba fallopii wanita melalui irisan kecil di dinding perut 2-3 cm yang
dapat mengakibatkan wanita tersebut tidak dapat hamil.
Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Uchida dkk (1961) di Jepang untuk
akseptor kontrasepsi mantap (kontap) atau sterilisasi pada wanita pasca persalinan.
Selanjutnya Mark dan Webb (1968) melakukan sayatan kecil yang tersembunyi di balik
lipatan kulit bawah pusat pada akseptor pasca persalinan, sehingga parutnya tidak

5
kelihatan. Untuk akseptor masa interval baru dikembangkan sejak tahun 1970-an,
diantaranya Vitoon Osathanondh (1972) dari Thailand mengembangkan teknik
minilaparotomi yang sederhana dengan memakai alat-alat yang sederhana pula, anestesi
lokal tanpa tinggal di rumah sakit. Dan untuk menempatkan rahim sedemikian rupa ke
depan dinding perut dipergunakan elevator rahim Ramathibodi sehingga tuba Fallopii
dengan mudah ditampilkannya. Kemudian dilakukan pengikatan atau pemotongan.
Ternyata teknik yang sederhana ini mudah, aman dan murah sesuai untuk program
kontap di negara-negara berkembang. Pembedahan tubektomi minilap merupakan salah
satu teknik kontap pada wanita yang resikonya sedikit tetapi manfaatnya banyak. Teknik
pembedahan tubektomi (Minilap) dapat dibedakan anatara pasca persalinan, pasca
keguguran, dan masa interval berdasarkan atas saat melakukan pembedahan, lokasi
minilaparotomi untuk mencapai tuba, dan teknik pembedahan tubektomi.

2.2.1. Pengertian Tubektomi


Tubektomi atau kontap wanita ialah suatu kontrasepsi permanen untuk mencegah
keluarnya ovum dengan cara tindakan mengikat atau memotong pada kedua saluran
tuba. Dengan demikian maka ovum yang matang tidak akan bertemu dengan sperma
karena adanya hambatan pada tuba.

2.2.1.1. Keefektifian Tubektomi


Angka kegagalannya hanya 0,2-0,4 per 100 wanita pertahun, kegagalan ini
umumnya karena kesalahan tehnik operasi tetapi mungkin juga karena rekanalisasi.
Sedangkan angka kefektifannya 0,5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun
pertama penggunaan.

2.2.1.2. Yang Dapat Menjalani dan Yang Sebaiknya Tidak Menjalani Tubektomi
Yang Dapat Menjalani Tubektomi
1) Usia > 26 tahun
2) Paritas > 2
3) Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan kehendaknya
4) Pada kehamilannya akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius.
5) Pascapersalinan

6
6) Pasca keguguran
7) Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini

Yang Sebaiknya Tidak Menjalani Tubektomi


1) Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
2) Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi).
3) Infeksi sistemik atau pelvic yang akut (hingga masalah itu disembuhkan atau
dikontrol)
4) Tidak boleh menjalani proses pembedahan
5) Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa depan
6) Belum memberikan persetujuan tertulis.

2.2.1.3. Jenis-jenis Tubektomi


a. Minilaporatomi
Adalah sterilisasi tuba yang dilakukan melalui suatu insisi suprapubik kecil
dengan panjang biasanya 3-5 cm. Minilaparotomi merupakan metode sterilisasi
wanita yang paling sering dilakukan di seluruh dunia karena keamananya,
kesederhanaannya, dan kemudahan adaptasinya terhadap lingkungan bedah.
Keuntungan minilaparotomi dapat dikerjakan oleh setiap tenaga medis yang
memiliki dasar-dasar ilmu bedah dan keterampilan bedah, hanya memerlukan alat-
alat yang sederhana dan tidak mahal terutama alat-alat bedah standar, komplikasi
umumnya hanya komplikasi minor dan dapat dilakukan segera setelah melahirkan.
Kerugian minilaparotomi yaitu waktu operasi sedikit lebih lama
dibandingkan dengan laparoskopi yang rata-rata memerlukan 10-20 menit, sukar
pada wanita yang sangat gemuk bila ada perlekatan-perlekatan pelvis atau pernah
mengalami operasi pelvis, operasi ini meninggalkan bekas luka parut kecil yang
masih dapat terlihat, rasa sakit abdomen yang singkat karena luka insisi terjadi pada
50% wanita, angka kejadian infeksi luka operasi lebih tinggi dibandingkan dengan
laparoskopi.

7
Gambar 2.1: Minilaparotomi

b. Laparoskopi adalah suatu pemeriksaan endoskopik dari bagian dalam rongga


peritoneum dengan alat laparoskop yang dimasukkan melalui dinding anterior
abdomen.

Cara oklusi tuba falopii


Cara oklusi tuba falopii adalah dengan ligasi tuba falopii.
Ligasi atau pengikatan tuba falopii untuik mencegah perjalanan dan pertemuan
spermatozoa dan ovum . tekhnik ligasi tuba falopii antara lain:

1. Ligasi biasa
Ligasi biasa jarang dikerjakan lagi sekarang karena angka kegagalan tinggi.
Pernah dicoba untuk melakukan ligasi dengan dua ikatan tetapi menyebabkan
terjadinya hydrosalpinx diantara dua ikatan sehingga cara ini tiadak dipakai
lagi.

2. Ligasi & penjepitan tuba falopii


Teknik Madlener
Bagian tengah tuba falopii diangkat sehingga membentuk suatu loop. Dasar dari
loop dijepit dengan klem kemudian diikat dengan benang yang tidak
diserap(silk,silicon).
3. Ligasi & pembelahan/pembagian & penanaman
Ada dua teknik ligasi ini, yaitu :

Teknik irving
a. Tuba falopii diikat pada 2 tempat dengan benang yang dapt diserap
kemudian dibagi diantara kedua ikatan.

8
b. Ujung atau puntung proximal ditanamkan dalam myometrium uterus
c. Ujung atau puntung distal ditanamkan kedalam mesosalpinx

Teknik wood
a. Pars ampularis tuba falopii dibelah /dibagi(division)
b. Kedua ujung atau puntung yang dibelah atau dibagi diikat dengan benang
yang dapat diserap
c. Ujung /puntung medial ditanamkan kedalam kantong yang dibuat dalam
mesosalpinx.
Teknik Cooke
Suatu segmen tuba fallopii dijepit dan dirusak, kemudian ujung proximal
ditanamkan dalam ligamentum rotundum.

4. Ligasi & Reseksi tuba fallopii


Ada empat teknik dalam ligasi ini, yaitu :
a. Salpingektomi
Sebagai suatu cara kontap wanita yang biasa / rutin , tidak / jarang
dikerjakan karena prosedurnya luas, reversibilitas tidak ada dan
morbiditas lebih tinggi ( perdarahan )
b. Teknik Pomeroy
1) Merupakan teknik kontap wanita yang paling sering dikerjakan.
Bagian tengah tuba fallopii dijepit dengan klem lalu diangkat
sehingga membentuk suatu loop. Dasar dari loop diikat dengan
benang yang dapat diserap ( plain catgut ). Bagian loop diatas ikatan
dipotong.
2) Dengan diserapnya benang ikatan maka ujung-ujung tuba fallopii
akan saling terpisah.
3) Teknik Pomeroy memusnahkan tuba fallopii sepanjang kurang lebih
3-4 cm.

9
Gambar 2.2: Teknik Pomeroy

c. Teknik Pritchards = Teknik Parkland


1) Suatu segmen kecil dari tuba fallopii dipisahkan dari mesosalpinx.
2) Masing-masing ujung dari segmen tersebut diikat dengan benang
chromic kemudian dipotong diantara kedua ikatan dan segmen tuba
fallopii dibuang.

d. Fimbriektomi Kroener
Bagian 1/3 distal tuba fallopii diikat dengan dua ikatan benang silk dan
ujung fimbrae dieksisi. Pada teknik ini tidak didapatkan gangguan suplai
darah ovarium.

5. Ligasi + Reseksi + Penanaman tuba fallopii


Ada dua teknik dalam ligasi ini,yaitu :
a. Reseksi Cornu
Merupakan prosedur yang ekstensif yang memerlukan laparotomi. Utero
tubal junction diikat dengan benang yang dapat diserap. Insisi tuba
fallopii proximal dari ikatan, membebaskannya dari mesosalpinx
kemudian membuang 1 cm dari tuba fallopii. Myometrium uterus
disekitarnya dieksisi terbentuk baji( untuk mencegah endometriosis dan

10
kehamilan ektopik ) dan bagian proximal dari segmen distal tuba fallopii
ditanam kedalam ligamentum latum.
b. Teknik Uchida
1) Larutan garam fisiologis- adrenalin ( 1 : 1000 ) disutikan dibawah
serosa pars ampularis, sehingga terjadi spasme vaskuler local dan
pembengkakan dari mesosalpinx, dan terjadi pemisahan dari
permukaan serosa dengan bagian muskularis tuba fallopii.
2) Serosa diinsisi dan dibebaskan kebelakang.
3) Segmen sepanjang 5 cm dari bagian proximal tuba fallopi diputuskan
/ dipotong, ujung yang pendek diikat dengan benang yang tidak
diserap dan segmen tuba fallopii dibuang. Maka ujung tuba fallopii
yang telah diikat secara otomatis membenamkan dirinya dibawah
serosa .
4) Pinggir dari insisi serosa dikumpulkan sekitar ujung distal
tubafallopii dan diikat secara ikatan rangkaian kantong sehingga tuba
fallopii ditinggalkan menonjol ke dalam cavum abdomen.

Elektro-koagulasi / termo koagulasi (fulgurasi)


Elektro-koagulasi adalah tindakan membakar suatu segmen dari tuba falopi
dengan arus listrik frekuensi tinggi atau dengan panas, sehingga terjadi oklusi dari
tuba falopii.
Dikenal 2 macam elektro-koagulasi :
a. Elektro-koagulasi Uni polar
- Dikembangkan pada tahun 1960 an
- Arus listrik mengalir dari forsep laparoskop melalui tubuh wanita ke suatu
lempeng logam yang diletakan di bawah bokong atau paha wanita.
- Bahaya koagulasi Unipolar dapat terjadi luka bakar pada jaringan atau organ
lain, terutama luka bakar usus
- Elektro-koagulasi Uni polar merusak 20-50 % dari tuba falopi
b. Elektro-koagulasi Bipolar
- Dikembangkan pada tahun 1970an, untuk mengurangi terjadinya luka bakar
usus.
- Arus listrik mengalir di antara kedua jepitan dari forsep laparoskop sehingga
hanya sebagian kecil saja dari tuba falopi yang terlibat.

Thermo-koagulasi

11
Merusak Tuba falopi dengan panas sehingga shock dan luka bakar elektrik tidak
terjadi pada jaringan/organ lain.Thermo-koagulasi belum banyak dipakai dan
efektivitasnya masih belum diketahui dengan jelas. Dengan memakai aliran listrik
voltase rendah (6 volt ) atau temperature rendah(umumnya <140 0C), resiko
terjadinya luka pada jaringan/organ sekitarnya dapat dikurangi.

Tubal Clips
Tubal clips tidak dipakai sesering seperti ligasi atau fulgurasi tuba fallopi
disebabkan karena angka kegagalannya cukup tinggi. Tubal clips dipasang pada
isthmus tuba falopii 2-3 cm dari uterus melalui laparotomi, laparoskopi, kolpotomi
atau kuldoskopi. Tubal clips menyebabkan kerusakan yang lebih sedikit/ kecil pada
tuba falopii (kira-kira 4 mm)dibandingkan cara-cara oklusi tuba falopii lainnya.
Dengan tubal clips, kerusakan tuba falopii < 1 cm dibandingkan denagan 1-3 cm
pada tubal rings, 3-4 cm pada pomeroy dan 3-6 cm elektrokoagulasi.
Macam-macam tubal clips:
1. Tantalum hemo-clips
Terbuat dari tantalum, suatu logam yang tidak bereaksi dengan jaringan(non
tissue reactive), mempunyai alur-alur pada bagian dalamnya agar lebih kuat
menjepit tuba falopii. Tantalum hemo-clips kurang efektif, dengan angka
kegagalan lebih dari 10 % yang disebabkan karena:
- Terlepas/merosot dari tuba falopii
- Klips membuka sedikit sehingga timbul lagi tubal patensi (mungkin
disebabkan oleh tekanan sekresi intra luminal yang meninggi )
- Klips memutuskan/ memotong tuba falopi sehingga terjadi
rekanalisasi.
Untuk mengurangi angka kegagalan dan mempertinggi efektivitasnya dicoba
dengan memasang dua tubal clips pada masing-masing tuba
falopii(wheeless dan penelitian-penelitian lain) tetapi ternyata angka
kegagalannya masih tetap tinggi.

2. Spring - loaded clips


Ditemukan dan dipakai awal 1970-an oleh Hulka- Clemens. Terdiri dari 2
rahang bergigi palstik yang dipegang oleh suatu pegas stainless steel yang
harus didorong kedepan agar cipsnya menutupi dan menjepit tuba falopii,
bila dipasang dengan benar angka kegagalan < 0,5 per 100 wanita dengan

12
model spring loaded clips mutahkir(dikanal dengan sebagai Rocket Clips di
inggris dan Wolf Clips di amerika serikat). Morbiditas dengan tuba clips
hanya minor saja:
- Reflex vaso-vagal seperti mual, pingsan, brankhikardia dan
hipotensi.
- Nyeri atau kejang perut.
3. Filshie = nothingham clips
a. Dikembangkan pada tahun 1973 oleh G.M Filshie, terbuat dari titanium
dengan permukaan dalam clips dilapisi silicon.
b. Setelah dipasang pada tuba falopii silicon akan ditekan sehingga terjadi
atrofi jaringan tuba falopii, yang disusul dengan mengembangnya silicon
sehingga tuba falopii tetap tersumbat.
c. Terdapat 6 model Filshie clips yang telah dicoba pada > 10.000 wanita di
seluruh dunia dengan angka kegagalan 0,6 per 100. Pada model mutakhir
filishe clips yaitu Mark-6, angka kegagalan lebih rendah lagi yaitu hanya
1 kehamilan pada 1.200 wanita. Sejak januari 1983 telah dilakuakan
43.000 kontap wanita. Dengan Mark-6 clips dan dilaporkan terjadi hanya
20 kehamilan.

Gambar 2.3: Filshie Clips

4. Bleier Clips
a. Dikembangkan awal 1970-an oleh W.Bleier di jerman mempunyai
panjang 10 mm dan lebar 4 mm terbuat dari plastic
b. Sekarang bleier clips tidak dibuat dan tiadak dipakai lagi oleh karena
angka kegagalannya yang tinggi sekali dan sering timbul persoalan-
persoalan dengan aplikatornya.

Keuntungan laparoskopi yaitu komplikasi rendah dan pelaksanaannya


cepat (rata-rata 5-15 menit), insisi kecil sehingga luka parut sedikit sekali, dapat

13
dipakai juga untuk diagnostik maupun terapi, kurang menyebabkan rasa sakit
bila dibandingkan dengan mini laparotomi, sangat berguna bila jumlah calon
akseptor banyak.
Kerugian laparoskopi resiko komplikasi dapat serius (bila terjadi), lebih
sukar dipelajari, memerlukan keahlian dan keterampilan dalam bedah abdomen,
harga peralatanya mahal dan memerlukan perawatan yang teliti, tidak dianjurkan
untuk digunakan segera post-partum.

2.2.1.4. Waktu Pelaksanaan Tubektomi


Waktu pelaksanaan tubektomi sebaiknya dilakukan pada saat :
a) Pasca persalinan, sebaiknya dalam jangka waktu 48 jam pasca persalinan.
b) Pasca keguguran, dapat dilakukan pada hari yang sama dengan evakuasi rahim
atau keesokan harinya
c) Dalam masa interval (keadaan tidak hamil), sebaiknya dilakukan dalam 2
minggu pertama dari siklus haid ataupun setelahnya, seandainya calon akseptor
menggunakan salah satu cara kontrasepsi dalam siklus tersebut.

2.2.1.5. Indikasi dan Kontra indikasi Tubektomi


a. Indikasi
Dengan sifatnya yang permanen, sterilisasi hanya cocok untuk pasangan
yang tidak menginginkan anak lagi. Secara lebih luas, indikasi sterilisasi dapat
dibagi lima macam yaitu :

1) Indikasi Medis
Yang termasuk indikasi medis adalah penyakit yang berat kronik seperti
jantung, ginjal, paru-paru, dan penyakit kronik lainnya. Tetapi tidak semua
penyakit tersebut merupakan indikasi, hanya yang membahayakan keselamatan
Ibu kalau ia mengandung merupakan indikasi untuk sterilisasi.

2) Indikasi Obstetris
Indikasi obstetris adalah keadaan di mana resiko kehamilan berikutnya
meningkat meskipun secara medis tidak menunjukkan kelainan apa-apa,
termasuk kedalam indikasi obstetric adalah multiparitas (banyak anak), apalagi

14
dengan usia yang relatif lanjut (misal grandemultigravida, yakni paritas lima
atau lebih dengan umur 35 tahun atau lebih), sesio sesarea dua kali atau lebih
dan lain-lain.

3) Indikasi Genetik
Indikasi genetik adalah penyakit herediter yang membahayakan
kesehatan dan keselamatan anak, seperti hemophilia.

4) Indikasi Kontrasepsi
Indikasi kontrasepsi adalah indikasi yang murni ingin menghentikan
(mengakhiri) kesuburan, artinya pasangan tersebut tidak menginginkan anak lagi
meskipun tidak terdapat keadaan lain yng membahayakan keselamatan Ibu
seandainya ia hamil.

5) Indikasi Ekonomis
Indikasi ekonomis artinya pasangan suami istri menginginkan sterilisasi
karena merasa beban ekonomi keluarga menjadi terlalu berat dengan
bertambahnya anak dalam keluarga tersebut.

b. Konta indikasi
Kontra indikasi kontrasepsi mantap pada wanita adalah masalah hubungan,
ketidaksetujuan terhadap operasi dari salah satu pasangan, dan keadaan sakit atau
disabilitas yang dapat meningkatkan resiko pada operasi (Everett, 2008, hlm.253).

2.2.1.6. Keuntungan dan Kerugian Tubektomi


Keuntungan yang utama bahwa kontap merupakan suatu metode cara KB yang
paling efektif disbanding seluruh cara yang tersedia. Keefektifannya tercapai begitu
operasi selesai dikerjakan. Tubektomi merupakan cara KB jangka panjang yang tidak
memerlukan tindakan ulang artinya cukup sekali dikerjakan. Dengan kata lain cara ini
selain tidak user dependent. Karena cara ini permanent, dapat dikatakan continuation
rate-nya praktis 100%. Meskipun kontap harus ditempuh melalui operasi tubektomi
merupakan cara yang paling aman, bebas dari efek samping asal semua prosedur dan

15
persyaratan operasi terpenuhi. Sebagaimana cara KB lainya kontap bersifat praktis
artinya tidak membutuhkan kunjungan ulang yang terjadwal dan tidak mengganggu
hubungan sexsual. Bebas dari efek samping hormonal sebagaimana pil, KB suntik
maupun susuk.
Kerugian kontap adalah sifatnya permanent, sehingga calon ibu klien harus
menyadari betul bahwa sekali dilakukan sterilisasi hamper tidak mungkin hamil
kembali. Cara ini hanya cocok untuk mereka yang tidak ingin mempunyai anak lagi,
bukan sebagai cara penjarangan. Kontap merupakan tindakan operasi, sehingga syarat
operasi harus terpenuhi terutama yang menyangkut pencegahan infeksi.

2.2.1.7. Tempat pelayanan kontrasepsi mantap


Pelayanan kontraspsi mantap dapat dilakukan :
1) Puskesmas
2) Tempat pelayanan kesehatan dengan fasilitas dokter bedah, pemerintah maupun
swasta.
3) Tindakan kontrasepsi mantap ini murah dan ringan sehingga dapat dilakukan
dilapangan (Puskesmas).

2.3. Persiapan Pre-operatif Tubektomi


a. Konseling perihal kontrasepsi dan jelaskan kepada klien bahwa ia mempunyai
hak untuk berubah pikiran setiap waktu sebelum prosedur dilakukan.
b. Menanyakan riwayat medis yang mempengaruhi keputusan pelaksanaan operasi
atau anestesi antara lain meliputi penyakit-penyakit pelvis, pernah mengalami
operasi abdominal atau pelvis, riwayat diabetes mellitus, riwayat penyakit paru-
paru seperti asthma, bronchitis, pernah mengalami problem dengan anestesi,
penyakit-penyakit perdarahan, alergi dan pengobatan yang dijalani saat ini.
c. Pemeriksaan fisik: meliputi kondisi-kondisi yang mungkin mempengaruhi
keputusan pelaksanaan operasi atau anestesi.
d. Pemeriksaan laboratorium meliputi pemerisaan darah lengkap, pemeriksaan urin
dan pap smear.
e. Informed consent harus diperoleh. Standard consent form harus ditandatangani
oleh suami atau istri yang dari calon akseptor kontrasepsi mantap sebelum

16
dilakukan. Umumnya penandatanganan dokumen Informed consent dilakukan
setelah calon akseptor dan pasangannya mendapatkan konseling.

2.4. Komplikasi Yang Mungkin Terjadi dan Penanganannya


a) Infeksi luka, apabila terlihat infeksi luka obati dengan antibiotik.
b) Demam pasca operasi (> 38 c), obati infeksi berdasarkan apa yang ditemukan.
c) Luka pada kandung kemih, intestinal (jarang terjadi). Apabila kandung kemih
atau usus luka dan diketahui sewaktu operasi, lakukan reparasi primer, apabila
ditemukan pascaoperasi,dirujuk kerumah sakit yang tepat bila perlu.
d) Hematoma subkutan, gunakan packs yang hangat dan lembab ditempat tersebut.
Amati hal ini biasannya akan berhenti dengan berjalannya waktu tetapi dapat
membutuhkan drainase bila ekstensif.
e) Emboli gas yang diakibatkan laparoskopi (sangat jarang terjadi).
f) Rasa sakit pada lokasi pembedahan, pastikan adanya infeksi, atau abses dan
obati berdasarkan apa yang ditemukan.
g) Perdarahan superficial (tepi-tepi kulit atau subkutan), mengontrol perdarahan
dan obati berdasarkan apa yang ditemukan.

2.5. Perawatan dan Informasi postoperatife


Jagalah luka operasi tetap kering hingga pembalut dilepaskan. Mulai lagi aktivitas
normal secara bertahap (sebaiknya dapat kembali ke aktivitas normal dalam waktu 7
hari setelah pembedahan), hindarilah hubungan intim hingga merasa cukup nyaman,
hindari mengangkat benda-benda berat dan apabila merasa sakit minumlah 1 atau 2
analgesik (penghilang rasa sakit) setiap 4 hingga 6 jam.

17
DAFTAR PUSTAKA

Brahm, (2006),Ragam Metode Kontrasepsi.Cet.1-Jakarta : EGC.


Everett,(2007),Buku Saku Kontrasepsi dan Kesehatan Seksual reproduktif. Ed.2-
Jakarta : EGC.
Ferre, Hellen,(1999),Perawatan Maternitas.Cet.1.Ed.2-Jakarta : EGC.
Glasier, A,(2005),Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi.Ed.4.Cet.1-
Jakarta : EGC.
Hartanto,(2004),Keluarga Berencana dan Kontrasepsi.Cet.5-Jakarta : CV Muhasari.
Indiarti, dkk,(2008), Bahagia Menjalani Kehamilan Sehat.Cet.1-Yokyakarta :
Pegasus.
Manuaba, (1998), Ilmu Kebidanan & Penyakit Kandungan. Cet.2 Jakarta : EGC.
Mochtar,Rustam,(1998),Sinopsi Obstetri : Obstetri Operatif, Obstetri Sosial.Ed.2-
Jakarta : EGC.
Notoatmodjo.S,(2002), Metodologi Penelitian Kesehatan.Cet.2 Jakarta : PT.Rineka
Cipta.
Siswasudarmo.et.al,(2007),Teknologi Kontrasepsi.Cet.2-Yogyakarta:Gadjah Mada
University.
Speroff Leon,(2005), Pedoman Klinis Kontrasepsi.Ed.2.Cet.1-Jakarta : EGC.
Suratun,dkk,(2008),Pelayanan Kelarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi.-
Jakarta : Trans Info Media.
Manuaba, Ida Bagus Gde. 1999. Operasi Kebidanan Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Dokter Umum. Jakarta : EGC.

Wiknjosastro, Hanifa.1999. Ilmu Kebidanan, ed. III. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

18