Anda di halaman 1dari 19

BAB I

LATAR BELAKANG

Pterigium merupakan kelainan pada mata yang umum terjadi dan merupakan masalah kesehatan
yang penting. Prevalensi pada populasi umum bervariasi antara 1,2% - 23,4%. Di Indonesia,
angka kejadian pterigium pada orang dewasa dengan usia lebih dari 21 tahun mencapai 10%.
(Gazzard, 2002) Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prevalensi pterigium sangat bervariasi
berdasarkan letak geografis, usia dan jenis kelamin. (Liu, 2013)

Berdasarkan data WHO Global Burden Disease mengenai akibat paparan radiasi ultraviolet pada
kesehatan, pterigium dikategorikan dalam kelainan pada mata yang diakibatkan paparan sinar
ultraviolet secara kronis (WHO 2010). Etiologi yang pasti dari pterigium sampai saat ini belum
ditemukan, namun terdapat hubungan antara paparan sinar ultraviolet dengan pembentukan
pterigium (Liu, 2013) Faktor lain yang berhubungan dengan pertumbuhan pterigium meliputi
kelembapan, debu, angin (WHO, 2010).

Pterigium pada stadium yang lebih lanjut, membutuhkan penanganan secara kompleks karena
dapat mengganggu pengelihatan (Gazzard, 2002). Jika pterigium membesar dan meluas sampai
ke daerah pupil, lesi harus diangkat secara bedah bersama sebagian kecil kornea jernih
superfisial di luar daerah perluasannya (Vaughan,2010). Berbagai pengobatan pterigium
bertujuan untuk menghilangkan lesi secara keseluruhan dan mencegah terjadinya kekambuhan.
Selama bertahun tahun berbagai prosedur operasi telah dikembangkan untuk dapat mengurangi
angka kekambuhan pada penyakit ini. (Leonard, 2007) Kombinasi autograf konjungtiva dan
eksisi lesi terbukti mengurangi risiko kekambuhan (Vaughan,2010).

Komplikasi pasca eksisi pterigium jarang terjadi, dan biasanya berhubungan dengan teknik
operasi. Hal ini meliputi perdarahan masif, terdapat lubang di bawah conjunctival graft, perforasi
bola mata oleh jarum, dan robekan pada muskulus rektus medialis.(Ang, 2007) Prognosis
pterigium umumnya baik karena tidak berpotensi menimbulkan kerusakan yang signifikan.
Namun menegakkan diagnosis pterigium dengan tepat sangat penting dilakukan untuk
menyingkirkan adanya penyakit lain yang lebih serius.
BAB II

1
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Pterigium merupakan proliferasi jaringan ikat konjungtiva yang yang tumbuh secara perlahan
dan tidak ganas, serta dapat tumbuh melewati kornea. Pterigium biasanya tumbuh pada
konjungtiva bulbi bagian nasal, berberntuk segitiga dapat tumbuh disertai dengan pembuluh
darah, dan dapat mempengaruhi pengelihatan (Lica, 2006).

2.2 Epidemiologi dan Faktor Risiko

Berdasarkan studi meta analisis, angka prevalensi pterigium di populasi umum adalah 10,2%
(Liu, 2013). Studi epidemiologi di Asia menunjukkan bahwa terdapat satu dari 10 orang
dewasa dengan usia di atas 21 tahun dengan pterigium(Gazzard, 2002), angka kejadian ini
meningkat dengan bertambahnya usia dan besarnya aktivitas di luar ruangan(Gazzard, 2002,
Liu, 2013). Berdasarkan letak geografis, angka kejadian pterigium lebih tinggi pada populasi
di daerah tropis, dibandingkan dengan daerah sub tropis (Liu, 2013). Data epidemiologi
WHO,menunjukkan bahwa dari seluruh negara di dunia, kasus pterigium paling banyak
ditemukan pada negara negara di kawasan Afrika, Timur Tengah, dan Asia tenggara (WHO,
2010). Berdasarkan ketinggian tempat, pterigium lebih banyak terjadi pada dataran rendah
dibandingkan datarn tinggi (Liu, 2013).

Tidak terdapat perbedaan angka kejadian pterigium berdasarkan jenis kelamin, namun
beberapa studi menemukan adanya kecenderungan terjadinya pterigium pada laki laki.
Patofisiologi pterigium juga berhubungan dengan faktor onkogen p53, transformasi fibrolas,
dan aktivitas matriks metaloproteinase. Paparan sinar matahari menyebabkan mutasi gen
p53, dan secara epidemiologi berhubungan dengan etiologi pterigium. (Gazzard, 2002)
Faktor lain yang berhubungan dengan pertumbuhan pterigium meliputi kelembapan, debu,
angin (WHO, 2010).

2.3 Patofisiologi

2
Kasus pterigium lebih banyak ditemukan pada nasal limbus dibandingkan dengan temporal
limbus. Hal ini dapat dijelaskan oleh fenomena peripheral light focusing dimana cahaya
melewati anterior chamber dan memfokus pada nasal limbus tempat area Limbal Stem Cells
(LSCs) berada. Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Pada keadaan
defisiensi limbal stem cell, terjadi pembentukan jaringan konjungtiva pada permukaan
kornea. Gejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke kornea,
vaskularisasi, inflamasi kronis, kerusakan membran basement dan pertumbuhan jaringan
fibrotik. Tanda ini juga ditemukan pada pterygium dan karena itu banyak penelitian
menunjukkan bahwa pterygium merupakan manifestasi dari defisiensi atau disfungsi limbal
stem cell. Kemungkinan akibat sinar ultraviolet terjadi kerusakan limbal stem cell di daerah
interpalpebra. (Jeanie, 2011)

Sinar ultraviolet merupakan mutagen untuk p53 tumor supresor gene pada limbal basal stem
cell. Tanpa apoptosis, transforming growth factor-beta diproduksi dalam jumlah berlebihan
dan menimbulkan peningkatan proses kolagenase. Sel-sel bermigrasi dan angiogenesis,
akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial
fibrovaskulari di mana sinar ultraviolet yang terfokus pada nasal limbus akan mengaktivasi
dan atau mutasi dari LSDs, yang menghasilkan perluasan clonal, proliferasi sel dan invasi ke
kornea. Kemungkinan lain, radiasi UV dapat merusak tempat penyimpananan LSCs yang
berperan sebagai barrier dari pemisah kornea dan konjungtiva yang akan membuka jalur
makanan ke konjungtiva sehingga terbentuk pterigium. Selanjutnya, kelemahan instrinsik
dari cadangan LSCs dipengaruhi oleh kurang kuatnya perlindungan limbal pada nasal dan
temporal limbus, sehingga regio ini lebih memiliki peluang untuk mengalami pterigium.
(Tan, Jenie)

2.4 Manifestasi Klinis

Fase awal terbentuknya pterigium biasanya asimptomatik, hanya keluhan kosmetik. Bila
ditemukan gejala, maka kebanyakan gejala ditemukan saat pemeriksaan berupa iritasi,
perubahan tajam penglihatan, sensasi adanya benda asing atau fotofobia. Gangguan tajam
penglihatan dapat terjadi ketika pterigium mencapai daerah pupil atau menyebabkan
astigmatisme karena pertumbuhan fibrosis pada tahap regresi. (Lim 1998, Ilyas S)

3
Sampai saat ini belum ada sistem klasifikasi pterigium yang dapat digunakan secara umum di
seluruh dunia. Beberapa klasifikasi dikembangkan oleh para medis dengan menentukan
ukuran jari jari pterigium dan keterlibatan limbus dan kornea.( Johnston 2004) Berdasarkan
panduan standar pelayanan medis bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP Sanglah, terdapat
empat derajat pertumbuhan pterigium. derajat 1 pterigium terbatas pada limbus kornea,
derajat 2 pterigium melewati limbus tetapi tidak lebih dari 2 mm, derajat 3 pterigium sudah
melewati derajat 2 tetapi belum melewati pinggiran pupil, dan derajat 4 pterigium sudah
melewati pupil sehingga mengganggu pengelihatan. (SPM Sanglah, 2009)

2.5 Diagnosis

Diagnosis pterigium sendiri sudah dapat ditegakkan dengan melihat gambaran klinis jaringan
seperti yang telah dijelaskan diatas. Secara histologi, lesi menunjukkan beberapa karateristik,
seperti sel-sel inflamasi, neovaskularisasi, perubahan sel epitel limbal diikuti metaplasia sel
epitel pipih dengan peningkatan sel goblet dan stroma yang menunjukkan aktivitas fibroblast
yang meningkat. (opth8)

Pterigium memiliki kemiripan dengan pseudopterigium karena sama-sama merupakan


jaringan fibrovaskular yang berasal dari konjungtiva bulbi kearah kornea. Pseudopterigium
dibedakan dengan menanyakan riwayat peradangan permukaan mata sebelumnya dan dengan
tes sonde yang dimasukkan dibawah jaringan. Pseudopterigium tidak memiliki ikatan yang
kuat dengan limbus kornea sehingga dapat dimasukkan sonde kebawahnya, berbeda dengan
pterigium asli.(oculist)

2.6 Manajemen

2.6.1 Manajemen operatif

Fokus utama dari pengobatan pterigium adalah mengeksisi seluruh jaringan dan
mencegah kekambuhan. Pada awal perjalanan penyakit, penanganan bersifat konservatif
untuk menghambat progresivitas pterigium dan bersifat simptomatik. Edukasi untuk
mengurangi eksposur dari sinar matahari, debu dan angin yang diyakini sebagai etiologi
dari pertumbuhan jaringan fibrovaskular baru dengan menyarankan pasien untuk
menggunakan pelindung mata.

4
Pilihan operasi baru disarankan setelah memenuhi indikasi tertentu karena tingginya
tingkat kekambuhan. Indikasi untuk operasi sendiri adalah gangguan penglihatan berupa
astigmatisme atau jaringan pterigium telah menutupi pupil. Selain itu operasi dapat
dilakukan jika terjadi peradangan berulang pada pterigium dan untuk alasan kosmetik.
(rocha, pearls) Terdapat beberapa teknik operasi eksisi pterium, namun tidak ada
kesepakatan secara universal pada satu jenis prosedur dikarenakan tingginya tingkat
kekambuhan dan komplikasi pada semua prosedur.(rocha)

Teknik Bare Sclera


Dilakukan dengan mengeksisi kepala dan badan dari pterigium diikuti dengan dasar
jaringan kapsul Tenon dan membiarkan sclera melakukan reepitelialisasi dalam proses
penyembuhan.(pearls) konjuntiva bulbi disekitarnya dijait pada sclera dengan
meninggalkan sedikit bagian konjungtiva yang dekat dengan limbus untuk berploriferasi
memperbaiki jaringan yang hilang. Teknik ini sudah sejak lama dilakukan namun
memiliki tingkat kekambuhan yang sangat tinggi, yaitu sekitar 24-89% (pearls, opth8)

Teknik Conjunctival Autograft


Prosedur ini melibatkan jaringan autograft yang biasa diambil dari konjungtiva bulbi
supra atau inferior temporal dan menjahitnya pada bagian sclera setelah eksisi pterigium.
Teknik ini memiliki tingkat kekambuhan yang bervariasi dari 2 % hingga 40 %. Studi
menekankan pentingnyapenggunakan cautery yang minimal dan pengangkatan tenon
kapsul pada jaringan graft untuk hasil yang optimal. Studi lain menyarankan
menggunakan eksisi pterigium yang lebih besar disertai graft yang lebih besar (>1mm)
untuk mengurangi tingkat kekambuhan. (rocha, opt8, treatment)

Limbal-conjunctival graft menggunakan sedikit jaringan limbal pada graft (sekitar


2mm). Data membuktikan bahwa stem sel epitel kornea terletak pada daerah limbus
sehingga penggunaan graft limbal akan membantu memperbaiki epitel kornea dan
mengurangi kecenderungan untuk kambuh kembali.(treatment,oculist)

Amniotic Membrane Grafting

5
Teknik ini menggunakan graft yang diambil dari membrane amniotic yaitu membrane
dalam plasenta. Membran ini terdiri dari 3 lapisan, yaitu: satu lapisan epithelial, basal
membrane yang tebal, dan avascular stroma. Lapisan ini kemudian ditempelkan pada
sclera setelah eksisi pterigium dengan posisi basal membrane menghadap ke atas dan
stroma ke bawah. Membran amniotic ini memiliki beberapa keunggulan yaitu sifat anti-
inflamasi, anti-fibrosis, anti-angiogenik dan merangsang reepitelialisasi. Selain itu
keuntungan dibandingkan conjungtival graft adalah waktu operasi dan waktu
penyembuhan yang lebih singkat, lebih tidak nyeri dan tidak diperlukan pengambilan
graft dari bagian konjungtiva lain. Teknik ini lebih dipilih pada kasus-kasus pasien yang
telah mengalami operasi conjungtival graft sebelumnya atau pasien glaucoma dan pasien
lain yang perlu mempertahankan konjuntivanya untuk kemungkinan lain.

Namun teknik ini tidak terbukti lebih unggul dalam mencegah kekambuhan, selain itu
penggunaan membrane amniotic segar memerlukan proses skrining terlebih dahulu untuk
mengeksklusi infeksi seperti HIV dan hepatitis. Studi menyarankan penggabungan antara
teknik Amniotic membrane grafting dan teknik conjunctival autograft, dengan membrane
amniotic diletakkan subconjungtival sebagai anti-fibrosis. Teknik ini dilaporkan memiliki
tingkat kekambuhan yang rendah. (opth8,treatment)

Penggunaan Lem Fibrin


Penggunaan lem fibrin dapat menggantikan atau memperkuat jahitan untuk menempelkan
conjunctival graft atau membrane amniotic. Lem fibrin ini membantu mengurangi waktu
operasi, mengurangi ketidaknyamanan paska-operasi dan mengurangi tingkat
kekambuhan. Benang ini terdiri dar 2 komponen utama, yaitu: konsentrat protein
pelindung berisi fibrinogen dan fibrinolysis inhibitor serta komponen thrombin dan
kalsium klorida. Kedua komponen ini bekerja seperti kaskade kloting dan menempel
sekitar 10-60 detik. Klot ini akan larut dalam waktu 2 minggu, memberikan waktu untuk
proses penyembuhan yang adekuat.(opth8)

2.6.2 Terapi adjuvant

6
Tingginya tingkat kekambuhan sehubungan dengan operasi pterigium dapat dikurangi
dengan menggunakan terapi adjuvant secara bersamaan. Terapi adjuvant dapat berupa
radioterapi, kemoterapi dan aduvant operasi. Namun terapi ini tetap memiliki
komplikasinya sendiri. (treatment)

Radioterapi
Radioterapi menggunakan iradiasi beta untuk mencegah kekambuhan karena mencegah
mitosis pada sel yang aktif berploriferasi. Iradiasi dilakukan dalam 24 jam setelah eksisi
pterigium. Selain biaya yang lebih tinggi dan prosedur yang lebih rumit, teknik ini juga
memiliki beberapa efek samping berupa nekrosis dan melting sclera , endophthalmitis,
dan pembentukan katarak sehingga saat ini sudah jarang digunakan. (treatment, oculist)

Kemoterapi
2 jenis kemoterapi yang paling sering digunakan adalah mitomycin C and 5-fluorouracil
(5-FU) (opth8) . Mitomycin C (MMC) adalah agen alkaliting potensial yang bekerja
menghambat replikasi DNA, terutama pada sel-sel yang memiliki tingkat ploriferasi
tinggi. Agen ini juga bekerja dalam menghambat RNA dan sintesis protein. Penggunaan
MMC dikombinasikan dengan teknik conjunctival grafting terbukti lebih efektif dalam
mencegah pterigium primer maupun kekambuhan paska-operasi dibandingkan teknik
bare sclera sendiri.

Penggunaan MMC dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu: pre-operasi dengan injeksi
subpterygial, Paska-operasi dengan tetes mata topical atau intra-operasi dengan spons
yang telah direndam MMC. Tidak ada keunggulan antara satu dengan yang lainnya.
Namun penggunaan MMC telah dikaitkan dengan komplikasi berat jangka panjang yang
jarang terjadi, termasuk kerusakan epitel persisten pada kornea dan sclera, ,
endophthalmitis, scleritis infeksius, perforasi, and nekrosis skleral.

Penggunaan MMC sebaiknya dihindari pada pasien dengan defisiensi air mata, kelainan
permukaan bola mata, iktiosis, rosacea, dan pasien dengan penyakit sistemik yang
berhubungan dengan skleritis/episkleritis. (opth8,treatment)

7
5-FU atau fluorinated pyrimidine juga digunakan untuk mencegah ploriferasi fibroblast
dengan cara menginhibisi thymidylate synthetase dan enzim lain yang berhubungan
dengan biosintesis asam nukleat. Dikarenakan jumlah penelitian yang masih minimal
mengenai terapi ini, sehingga komplikasi berat dan jangka panjang masih belum
diketahui secara pasti. Namun penggunaan 5-FU pada pasien glaucoma berakibat pada
epitheliopathy parah and infeksi kornea.(opth8)

2.7 Komplikasi paska operasi

Komplikasi langsung dapat berupa perdarahan, kemosis konjungtiva, edema graft, hematoma
dibawah graft, kerusakan epitel local, infeksi dan sikatrik kornea. Komplikasi ini dapat
dikurangi dengan perawatan paska operasi yang baik. Komplikasi jangka panjang yang
paling umum adalah kekambuhan kembali. Hal ini tejadi paling tinggi pada teknik Bare
Sclera, disusul oleh amniotic membrane grafting, kemudian conjungtival graft. Faktor resiko
kekambuhan adalah jenis kelamin laki-laki dan tingkat paparan sinar matahari yang tinggi.
Komplikasi jangka panjang lain dapat berupa inflamasi akibat jahitan, Tenons capsule cyst,
diplopia dan strabismus, komplikasi pada sklera, perforasi kornea, graft inversi atau retraksi,
dan nekrosis graft.(opth8)

2.8 Prognosis
Pterigium merupakan pertumbuhan jaringan baru yang jinak pada konjungtiva. Dengan
prosedur dan teknik operasi yang baik disertai perawatan paska-operasi yang baik untuk
mencegah komplikasi, pterigium memiliki prognosis yang baik. Fokus perhatian untuk
prognosis pterigium adalah tingginya tingkat kekambuhan kembali setelah operasi.
(treatment). Angka kekambuhan pterigium dalam satu tahun adalah 6,7%. Hal yang
bekorelasi secara signifikan dengan angka kekambuhan pterigium adalah keterlibatan
jaringan kornea.(Mahar P, 2011) Hingga saat ini belum ada kesepakatan mengenai teknih
manajemen yang unggul dalam mencegah kekambuhan. (treatment)

8
BAB III

LAPORAN KASUS

Identitas pasien

Nama : KAS

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 45 tahun

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Agama : Hindu

Suku Bangsa : Bali

Alamat : Jl. Tukad Pakerisan, Denpasar

Anamnesis

Keluhan utama: selaput putih pada mata kanannya

Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasien datang dengan keluhan tumbuh selaput putih pada mata kanannya dibagian dekat hidung
sejak lama kira-kira 2 tahun yang lalu. Selaput tersebut semakin lama semakin membesar dan
pasien takut selaput tersebut akan menutupi seluruh matanya. Jika pasien mengendarai motor
maka matanya sering tampak merah. Riwayat pusing disangkal, silau disangkal, nyeri pada mata
disangkal. Mata ngeres, cekot-cekot, dan gatal disangkal penderita. Riwayat trauma sebelumnya
pada mata disangkal.

9
Riwayat Penyakit Dahulu dan Pengobatan:

Pasien menggunakan obat mata yang dijual dipasaran (INSTO) untuk mengurangi keluhannya
namun tidak kunjung membaik. Pasien belum pernah memeriksakan keluhannya ke dokter.
Pasien tidak pernah menggunakan kacamata.

Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, penyakit ginjal, hati, jantung dan penyakit kronis lain
disangkal.

Riwayat Sosial: Pasien adalah ibu rumah tangga yang aktif melakukan kegiatan di lingkungan
rumahnya. Pasien sehari-hari menggunakan motor sebagai sarana transportasi, dan pasien jarang
menggunakan pelindung mata.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Pasien megaku tidak ada riwayat keluarga dengan gangguan penglihatan seperti yang
dialaminya. Riwayat penyakit sistemik lain pada keluarga seperti hipertensi, diabetes dan asma
disangkal oleh pasien.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik Umum

Kesadaran : Compos mentis

Tekanan darah : 120 / 80 mmHg

Nadi : 80 kali / menit

10
Laju respirasi : 20 kali / menit

Temperatur aksila : 36oC

Okuli Dekstra Okuli Sinistra

(OD) (OS)

Visus 6/12 6/6

Refraksi/Pin Hole 6/6 6/6

Supra cilia

Madarosis Tidak ada Tidak ada

Sikatriks Tidak ada Tidak ada

Palpebra superior

Edema Tidak ada Tidak ada

Hiperemi Tidak ada Tidak ada

Enteropion Tidak ada Tidak ada

Ekteropion Tidak ada Tidak ada

Benjolan Tidak ada Tidak ada

Palpebra inferior

Edema Tidak ada Tidak ada

Hiperemi Tidak ada Tidak ada

Enteropion Tidak ada Tidak ada

Ekteropion Tidak ada Tidak ada

Benjolan Tidak ada Tidak ada

Pungtum lakrimalis

Pungsi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Benjolan Tidak ada Tidak ada

11
Konjungtiva tarsal
superior
Tidak ada Tidak ada
Hiperemi
Tidak ada Tidak ada
Folikel
Tidak ada Tidak ada
Sikatriks
Tidak ada Tidak ada
Benjolan
Tidak ada Tidak ada
Sekret
Tidak ada Tidak ada
Papil

Konjungtiva tarsal
inferior
Tidak ada Tidak ada
Hiperemi
Tidak ada Tidak ada
Folikel
Tidak ada Tidak ada
Sikatriks
Tidak ada Tidak ada
Benjolan

Konjungtiva bulbi

Kemosis Tidak ada Tidak ada

Hiperemi

- Konjungtiva Tidak ada Tidak ada


- Silier
Perdarahan subkonjungtiva Tidak ada Tidak ada

Pterigium Ada Tidak ada

Pingueculae Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada

Sklera

Warna Putih Putih

Pigmentasi Tidak ada Tidak ada

Limbus

Arkus senilis Tidak ada Tidak ada

12
Kornea

Odem Tidak ada Tidak ada

Infiltrat Tidak ada Tidak ada

Ulkus Tidak ada Tidak ada

Sikatriks Tidak ada Tidak ada

Keratik presipitat Tidak ada Tidak ada

Kamera okuli anterior

Kejernihan Jernih Jernih

Kedalaman Normal Normal

Iris

Warna Coklat Coklat

Koloboma Tidak ada Tidak ada

Sinekia anterior Tidak ada Tidak ada

Sinekia posterior Tidak ada Tidak ada

Iris Shadow Tidak ada Tidak ada

Pupil

Bentuk Bulat Bulat

Regularitas Reguler Reguler

Refleks cahaya langsung Ada Ada

Refleks cahaya konsensual Ada Ada

Lensa

Kejernihan Jernih Jernih

Dislokasi/subluksasi Tidak ada Tidak ada

Resume

13
Pemeriksaan Opthalmologi

OD OS
6/12 Visus 6/6
6/6 Pin Hole 6/6
Normal Palpebra Normal
Jaringan fibrovaskuler (+)
Konjungtiva Tenang
nasal konjungtiva bulbi
Jernih Kornea Jernih
Dalam BMD Dalam
Bulat, regular Iris Bulat, regular
RP (+) Pupil RP (+)
Jernih Lensa Jernih
Reflek (+) Fundus Reflek (+)

Diagnosis Banding

OD Pterigium grade III

OD Pseudopterigium

OD Pannus

Diagnosis Kerja

OD pterygium grade III

Usulan pemeriksaan

Slit lamp

Autorefraksi

Tes Sonde

Usulan Terapi

Pro Petrygoplasty

Prognosis

14
Ad Vitam: Dubius ad bonam

Ad functionam: Dubius ad bonam

Ad sanationam: Dubius ad Malam

15
BAB IV

PEMBAHASAN

Dari riwayat penyakit sekarang didapatkan pasien datang dengan keluhan tumbuh selaput putih
pada mata kanannya dibagian dekat hidung sejak lama kira-kira 2 tahun yang lalu. Berdasarkan
teori patofisiologi, kasus pterigium lebih banyak ditemukan pada nasal limbus dibandingkan
dengan temporal limbus. Hal ini berdasarkan fenomena light focusing dimana cahaya melewati
anterior chamber dan memfokus pada nasal limbus tempat area Limbal Stem Cells (LSCs)
berada. Keluhan pasien mengenai tumbuhnya selaput putih pada mata sesuai dengan teori yang
menyebutkan paparan dari faktor resiko seperti sinar ultraviolet yang merupakan faktor
mutagenik bagi tumor suppressor gene p53 yang terdapat pada stem sel basal di limbus.
Transforming growth factor-beta akan diproduksi dalam jumlah berlebihan sehingga terjadi
perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepithel fibrovaskular yang tampak seperti
selaput putih seperti yang dikeluhkan pasien. Pasien mulai menyadari ada selaput putih
dimatanya sejak lama kurang lebih 2 tahun yang lalu dimana selaput tersebut semakin lama
semakin membesar. Pasien mulai menyadari ada selaput putih dimatanya sejak lama kurang lebih
2 tahun yang lalu. Ini sesuai dengan perjalanan penyakit pterigium yang bersifat kronis dan
lambat.

Pasien menyangkal adanya riwayat pusing, silau , nyeri pada mata. Mata ngeres, cekot-cekot,
dan gatal juga disangkal penderita. Riwayat trauma sebelumnya pada mata disangkal. Menurut
teori, manifestasi klinis pada pterigium biasanya asimptomatik, hanya keluhan kosmetik. Bila
ditemukan gejala, maka kebanyakan gejala ditemukan saat pemeriksaan berupa iritasi,
perubahan tajam penglihatan, sensasi adanya benda asing atau fotofobia. Pasien juga
mengeluhkan matanya sering memerah jika ia mengendarai motor dan terpapar oleh cahaya
matahari, angin dan debu. Hal ini sesuai dengan teori dimana jaringan fibrovaskular pada
pterigium rentan terjadi iritasi

Pasien adalah ibu rumah tangga yang aktif melakukan kegiatan di lingkungan rumahnya. Pasien
sehari-hari menggunakan motor sebagai sarana transportasi, dan pasien jarang menggunakan
pelindung mata. Berdasarkan data epidemiologi dari WHO tahun 2010, kebanyakan kasus

16
pterigium terjadi di daerah tropis. Faktor risiko untuk pterigium antara lain akibat paparan radiasi
ultraviolet, kelembapan, debu dan angin.

Dari pemeriksaan tajam penglihatan, ditemukan mata kanan pasien mengalami penurunan tajam
penglihatan. Hasil pengukuran visus didapatkan OD 6/25 dan OS 6/6. Pasien mengatakan
sebelumnya tidak pernah menggunakan kacamata dan tidak mengeluh mata kabur. Dengan
pinhole di dapatkan kemajuan visus OD menjadi 6/12. Gangguan tajam penglihatan dapat terjadi
ketika pterigium mencapai daerah pupil atau dapat menyebabkan astigmatisme karena
pertumbuhan fibrosis pada tahap regresi.

Diagnosis Pterigium ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan klinis


dengan slit lamp dan pemeriksaan penunjang. Pada mata kanan pasien ditemukan didapatkan
pertumbuhan jaringan fibrovaskuler yang berbentuk segitiga mengarah ke kornea pada
konjungtiva bulbi nasal. Bilik mata depan jernih, iris berbentuk bulat dan regular, reflek pupil
positif, lensa jernih dan reflek fundus positif.

Prinsip penatalaksanaan pterigium adalah mengeksisi seluruh jaringan pterigium dan mencegah
kekambuhan kembali. Penanganan terbagi menjadi terapi konservatif pada stadium awal dan
operasi serta terapi adjuvant jika sudah memenuhi indikasi operasi. Pada pasien ini sudah terjadi
iritasi berulang pada jaringan pterigium dan sudah terjadi penurunan visus pada mata yang sakit,
sehingga sebaiknya di lakukan operasi eksisi. Pasien sudah menyetujui tindakan pterygoplasti
dan akan menjadwalkan operasi dalam waktu dekat.

Prognosis pasien cenderung baik setelah menjalani operasi, namun kelainan refraksi masih
memerlukan evaluasi lebih lanjut paska-operasi. Tingkat kekambuhan pada pterigium cenderung
tinggi sehingga pasien tetap memiliki resiko untuk kembali menderita pterigium.

17
BAB V

SIMPULAN

Pterigium merupakan kelainan pada mata dengan gambaran klinis pertumbuhan fibrovaskular
berbentuk segitiga pada konjungtiva bagian nasal. Pasien akan mengeluh adanya selaput yang
tumbuh pada matanya yang semakin lama semakin membesar. Keluhan lain yang biasa dialami
pasien pterigium berupa iritasi, perubahan tajam penglihatan, sensasi benda asing, atau fotofobia.
Faktor risiko yang berpengaruh terhadap pertumbuhan pterigium adalah usia, paparan sinar
ultraviolet, angin, dan debu. Diagnosis Pterigium ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan klinis dengan slit lamp dan pemeriksaan penunjang. Prinsip
penatalaksanaan pterigum tergantug pada derajat pertumbuhannya. Pada derajat III atau IV
dilakukan tindakan operatif untuk mencegah perburukan ke arah gangguan pengelihatan. Secara
umum prognosis pterigium adalah baik, namun tingkat kekambuhannya bergantung pada
keterlibatan kornea.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Liu L, Wu J, Geng J, Yuan Z, dan Huang D. Geographical prevalence and risk factors for
pterygium: a systematic review and meta-analysis. BMJ Open. 2013;3:e003787
2. Ferrer F, Schwab I, dan Shetlar D. 2010. Konjungtiva dalam Eva P. dan Whitcher J.
Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Jakarta:EGC
3. Ang L, Chua J, dan Tan D. Current concepts and techniques in pterygium treatment. Curr
Opin Ophthalmol.2007; 18:308313.
4. Gazzard G, Saw S, Farook M, Koh D, Widjaja D, Chia S, Hong C, dan Tan D. Pterygium
in Indonesia: prevalence, severity and risk factors. Br J Ophthalmol 2002;86:13411346
5. Lica, Lorraine. "Pinguecula and Pterygium." The Gale Encyclopedia of Medicine. 3rd ed.
Vol. 4. Detroit: Gale, 2006. 2907-2909. Gale Virtual Reference Library. Web. 19 July
2014.
6. Lucas R. Solar ultraviolet radiation: Assessing the environmental burden of disease at
national and local levels. Prss-Ustn A and Perkins van Deventer E, eds. Geneva, World
Health Organization, 2010 (Environmental Burden of Disease Series, No. 17).
7. Tan CS, Lim TH, Koh WP, Liew GC, Hoh ST, Tan CC, Au Eong KG:Epidemiology of
pterygium on a tropical island in the Riau Archipel-ago. Eye 2006, 20:908912)
8. Jeanie Chui, Minas T. Coroneo, Lien T. Tat, Roger Crouch,Denis Wakefield, Nick Di
Girolamo: Ophtalmic Pterygium A Stem Cell Disorder with Premalignant Features. A
American Journal of Pathology 2011, 178:817-819
9. Lim R, Mitchell P, Cumming RG: Cataract associations with pinguecula and pterygium:
the Blue Mountains Eye Study. AmJ Ophthalmol 1998, 126:717719
10. Ilyas, S. Ilmu penyakit mata. 2010. Jakarta: FKUI, 116 117
11. Mahar P, Manzar N. Pterygium Recurrence Related to its Size and Corneal Involvement.
Journal of the College of Physicians and Surgeons Pakistan 2013, Vol. 23 (2): 120-123
12. Johnston S, William P, Sheppard J. A Comprehensive System for Pterygium
Classification. Invest Ophthalmol Vis Sci 2004;45
13. Susila N, Budhiastra P, Sunerti N, Sukartini A, Kusumadjaja M, Jayanegara W, Dewiyani
C, Masputra A, Yuliawati P. Standar pelayanan medis ilmu kesehatan mata FK
Unud/RSUP Sanglah Denpasar

19