Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan
kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di tingkat kecamatan. Konsep Puskesmas mulai diperkenalkan sejak
tahun 1968, dilatar belakangi oleh tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang
tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4, yakni untuk melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan
nasional tersebut dituangkan dalam pembangunan kesehatan yang menjadi visi
dari Puskesmas, yakni mewujudkan Millenium Development Goals (MDGs)
2015.
Rumusan visi untuk masing-masing Puskesmas harus mengacu pada
visi pembangunan kesehatan Puskesmas, yakni terwujudnya Kecamatan Sehat
menuju MDGs 2015, yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi
masyarakat serta wilayah Kecamatan setempat Untuk mewujudkan visi MDGs
tersebut, Puskesmas yang merupakan unit pelayanan kesehatan primer
tentunya harus memiliki struktur organisasi yang baik. Berdasarkan
Kepmenkes RI Nomor 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat
Kesehatan Masyarakat, struktur organisasi Puskesmas tergantung dari kegiatan
dan beban tugas masing-masing Puskesmas. Penyusunan struktur organisasi
Puskesmas di satu kabupaten/kota dilakukan oleh dinas kesehatan
kabupaten/kota, sedangkan penetapannya dilakukan dengan Peraturan Daerah.
Sesuai dengan visi pembangunan kesehatan melalui Puskesmas yakni
terwujudnya Kecamatan Sehat Menuju MDGs 2015, Puskesmas
bertanggung jawab untuk menyelenggarakan program-program yang berupaya
untuk meningkatkan kesehatan perorangan dan kesehatan masyarakat serta
pemberdayaan masyarakat, yang merupakan pelayanan tingkat pertama dari
sistem kesehatan nasional. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi
dua, yakni upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Upaya
kesehatan wajib meliputi upaya promosi kesehatan, kesehatan lingkungan,
kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi masyarakat,
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan pengobatan. Sementara
itu, upaya kesehatan pengembangan ditetapkan berdasarkan permasalahan
kesehatan yang ditemukan di masyarakat setempat serta yang disesuaikan
dengan kemampuan Puskesmas
Tujuan pembangunan kesehatan dalam UU Kesehatan NO.23 tahun
1992 adalah meningkatkan kesadaran,kemauan dan kemampuan hidup sehat
bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
optimal.Sehingga perlu suatu upaya secara menyeluruh,salah satu diantaranya
adalah peningkatan kesehatan ibu dan bayi.Tingginya jumlah kematian ibu
dan anak per 1000 kelahiran hidup di berbagai daerah khususnya daaerah kecil
yang jauh dari pusat pemerintahan membuat keprihatinan dari berbagai pihak.
Sebagai contoh dikabupaten kudus sendiri jumlah kematian ibu tahun 2013
sampai dengan bulan maret yaitu 6 kasus kematian ibu dan kematian bayi
tahun 2013 sampai dengan bulan maret yaitu 22 kasus kematian bayi. ( PWS .
DKK Kudus )
Serta untuk jawa tengah pada tahun 2013 sampai dengan bulan maret
untuk kematian ibu yaitu 675 kasus kematian ibu,dan kematian bayi yaitu
6.235 kasus kematian bayi. Suatu angka yang fantastis untuk itu Puskesmas
sangat berpearan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan.
Puskesmas membantu untuk pembangunan kesehatan yang bertujuan
untuk meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kamauan hidup sehat bagi
setiap orang agar terwujud target kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk
mewujudkan derajat kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan upaya
kesehatan dengan pemeliharaan peningkatan kesehatan (PROMOTIF),
Pencegahan penyakit (PREVENTIF), Penyembuhan penyakit (KURATIF),
dan pemeliharaan kesehatan(REHABILITATIF) yang dilaksanakan secara
menyeluruh, terpadu dan berkesenimbungan.
Tuntutan masyarakat seiring dengan perkembangan informasi dan arus
globalisasi akan lebih mengarah pada tuntutan peningkatan mutu pelayanan
kesehatan yang memenuhi standar pelayanan kebidanan.
Bidan di sini sebagai pemegang peranan penting dalam mendukung,
terwujudnya program tersebut, sebagai tameng pertama masyarakat dalam
menghadapi masalah kesehatan. Bidan dituntut untuk menciptakan kesehatan
yang baik untuk masyarakat.

Puskesman pagurawan merupakan salah satu dari banyaknya Puskesmas yang ada di
Indonesia yang juga menerapkan struktur organisasi dan program kesehatan yang telah
ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementrian Kesehatan. Oleh sebab itu, kelompok kami
bermaksud untuk mengetahui bagaimana struktur organisasi dan program Puskesmas
pagurawan tersebut. Pada kasus TBC, Indonesia merupakan negara ketiga di dunia dalam
urutan jumlah penderita TB paru setelah India dan Cina dengan persentase 10% dari total
penderita TB paru di dunia. Laporan WHO tahun 2006 dinyatakan bahwa kejadian kasus TB
paru BTA Positif di Indonesia diperkirakan 105 kasus baru per 100000 penduduk (240000
kasus baru setiap tahun) dengan prevalensi 578000 kasus (untuk semua kasus). Laporan
WHO pada tahun 2010, mencatat peringkat Indonesia menurun ke posisi lima dengan jumlah
penderita TB paru sebesar 429 ribu orang. Lima negara dengan jumlah terbesar pada tahun
2010 adalah India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia (Kompas, 2011).

Angka kejadian TB paru di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar
107/100.000 penduduk, dan persentase kasus TB paru yang dapat disembuhkan sebesar
89,3%. Angka kejadian TB paru pada tahun 2015 akan turun sesuai dengan target Jawa
Tengah (88 per 100.000 penduduk) (Dinkes Propinsi Jateng, 2010). Temuan kasus
tuberkulosis paru di Jawa Tengah hingga tahun 2011 mencapai 20.623 kasus yang tersebar
dalam tiga lembaga yaitu puskesmas sebanyak 15.003 kasus, rumah sakit sebanyak 3.607
kasus dan BKPM/BP4 sebanyak 2.013 kasus. Data di Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo,
selama 2011 tercatat temuan 265 kasus TBC temuan kasus itu baru mencapai 30,1% dari total
sasaran 881 suspect sedangkan target nasional sebesar 70% dari sasaran, sehingga temuan
TBC seharusnya 617 kasus.

Di Kota medan, berdasarkan data yang diperoleh dari Bidang Bina Pencegahan Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Medan, jumlah kasus TB Paru klinis di
Puskesmas dan RS sebanyak 900 kasus dan kasus baru TB BTA (+) yang ditemukan pada
tahun 2013 sebanyak 1.819 kasus (puskesmas dan rumah sakit) meningkat dibandingkan
tahun 2012 dimana dilaporkan jumlah penderita TB Paru Klinis di Puskesmas dan Rumah
Sakit sebanyak 511 Jumlah penderita TB Paru Klinis, TB BTA+ sebanyak 1608 penderita.
B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan khusus
a. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas profesi ners
b. Menerapkan teori yang sudah diterima di bangku kuliah untuk titerapkan
pada lahan pratek.
2. Tujuan Umum
a. Melaksanakan program-progam puskesmas baik didalam gedung maupun
diluar gedung.
b. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembinaan kader, dukun bayi
dll.
c. Meningkatkan upaya kesehatan masyarakat yang sudah dilakukan di PKD,
posyandu, tabulin.

d. Melaksanakan tugas managerial baik di institusi pelayanan maupun di


komunitas.

e. Melaksanakan praktek kerja maupun manajemen puskesmas.

C. SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam sistematika penyusunan laporan ini adalah sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Sistematika Penulisan
BAB 11 Konsep Teori dan Gmabaran Umum
A. Pengertian Puskesmas
B. Visi dan Misi puskesmas
C. Fungsi Puskesmas
D. Upaya Kesehatan Wajib
E. Upaya Kesehatan Pengembangan
F. Sistem Rujukan
BAB 111 Laporan Hasil Kegiatan Mahasiswa
A. Profil Puskesmas
B. Struktur Organisasi Puskesmas
C. Kegiatan di dalam Puskesmas
BAB IV Pembahasan
A. Faktor Masalah dalam Praktek Puskesmas
B. Pembahasan Masalah
BAB V Penutup
A. Kesimpulan
B. saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
KONSEP TEORI DAN GAMBARAN PUSKESMAS

A. PENGERTIAN
Pusat Kesehatan Masyarakat, disingkat Puskesmas, adalah organisasi
fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat
menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat,
dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul
oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan
dengan menitik beratkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna
mencapai derajad kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan
kepada perorangan.
Puskesmas harus bisa menjamin mutu pelayanan keperawatan melalui
kesesuaian dengan kebutuhan pasien. Pentingnya peningkatan mutu pelayanan
puskesmas adalah untuk membangun persahabatan yang mendorong hubungan
dengan pasien sehingga puskesmas tidak ditinggalkan oleh pasiennya (Azwar,
2008).
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/
kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan kesehatan (Dep. Kes. RI,
2003).
a. Unit pelaksana teknis
Sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota
(UPTD),puskesmas berperan menyelnggarakan sebagian dari tugas teknis
operasional dinas kesehatan kabupaten atau kota dan merupakan unit
pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di
Indonesia.
b. Pembangunan kesehatan
Pembngunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh
bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran , kemauan, dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujut derajat kesehatan masyarakat yang
optimal.
c. Penanggung jawab penyelenggaraan
Penanggung jawab utama penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan
kesehatan di wilayah kabupaten/kota adalah dinas kesehatan kabupaten/kota,
sedangkan puskesmas bertanggung jawab hanya sebagian upaya pembangunan
kesehatan yang di bebankan oleh dinas kesehatan kabupataen/kota sesuai
dengan kemampuanya.
d. Wilayah kerja
Secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu
kecamatan, tetapi apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu
puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja di bagi antar puskesmas
denga memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW).
Masing-masing puskesmas tersebut secara operasional bertanggung jawab
langsung kepada dinas kesehatan kabupaten kota.
B. VISI PUSKESMAS
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas
adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat.
Indkator kecamatan sehat yang ingin dicapai mencakup empat indikator utama
yakni :
1. Lingkungan sehat.
2. Prilaku sehat.
3. Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu.
4. Derajat kesehatan penduduk kecamatan.
Rumusan visi untuk masing-masing puskesmas harus mengacu pada visi
pembangunan kesehatan puskesmas diatas yakni terwujutnya kecamatan
sehat,yang harus sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat serta wilayah
kecamatan setempat.
C. MISI PUSKESMAS
Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas
adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional. Misi
tersebut adalah :
1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan diwilayah kerjanya.
2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di
wilayah kerjanya.
3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan
masyarakat beserta lingkunganya.
D. TUJUAN
Tujun pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas
adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang yang bertempat tinggal diwilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.
E. FUNGSI PUSKESMAS
a. Pusat penggerak pembanguna berwawasan kesehatan.
Puskesmas selalu berupaya mengerakkan dan memantau
penyelenggaraan pembanguna lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan
dunia usaha di wilayah kejanya, sehingga berwawasan serta mendukung
pembangunan kesehatan. Di samping itu puskesmas aktif memantau dan
melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggara setiap program
pembanguna di wilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan kesehatan ,
upaya yang dilakukan puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan
penyakit dan pemulihan kesehatan.

b. Pusat pemberdayaan masyarakat


Puskesmas selalu berupaya agar peroranganterutama pemuka
masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki
kesadaran , kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri untuk hidup sehat,
berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk
pembiayaannya,serta ikut menetapkan , menyelenggarakan dan memantau
pelaksanaan program kesehatan. Pemberdayaan perorangan, keluarga dan
masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi,
khususnya soal budaya masyarakat setempat.
c. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama
Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan
tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan .
pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggung jawab puskesmas
meliputi :
1. Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat
pribadi (private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan
pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan
dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan
dan untuk puskesmas tertentu ditambah dengan rawat inap.
2. Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat public
(public goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan
serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara lain
promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan ,
perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana,
kesehatan jiwa serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya.
F. UPAYA
Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui puskesmas,
yakni terwujudnya Kecamatan Sehat Menuju Indonesia Sehat, puskesmas
bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya
kesehatan masyarakat,yang keduanya jika ditinjau dari system kesehatan
nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya kesehatan
tersebut dikelompokkan menjadi dua yakni :
A. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah :
1. Promosi kesehatan
Progam PKM merupakan salah satu program pokok puskesmas.
Sedangkan pembangunan kesehatan mempunyai peranan penting dalam
menentukan peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang merupakan
fokus pembangunan nasional. Program promosi kesehatan berkaitan dengan
prilaku manusia dan masyarakat, sedangkan masalah prilaku adalah masalah
yang khas dan komplek.
Upaya Perubahan, pemeliharaan atau peningkatan perilaku manusia dan
masyarakat bukan sesuatu yang mudah, pencapaiannya pun susah diukur.
Indikator kegiatan promkes di puskesmas, termasuk kegiatan peran serta
masyarakat dapat diliat dari jumlah kegiatan-kegiatan yang antara lain :
a. Jumlah penyuluhan melalui kelompok.
b. Jumlah penyuluhan melalui pameran.
c. Jumlah penyuluhan melalui mediatradisional.
d. Jumlah penyuluhan melalui siaran keliling.
Untuk program yang tergolong peran serta masyarakat antara lain
dapat dilihat dari kegiatan sebagai berikut :
a. Jumlah desa yang mempunyai kegiatan PKMD.
b. Jumlah posyandu dalam wilayah kerjanya.
c. Jumlah posyandu purnam dan mandiri.
d. Jumlah keluarga dalam tatanan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
2. Upaya kesehatan lingkungan
a. Pengertian
Usaha kebersihan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
b. Tujuan
1) Meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam rangka mencapai derajad
kesehatan seoptimal mungkin.
2) Menghilangkan semua urusan fisik yang dapat memperbanyak derajad
kesehatan.
c. Kegiatan
1. Penyediaan air bersih
2. Pembuangan kotoran dan air tuban
3. Memberikan penyuluhan
3. Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana.
1) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
1. Pengertian
Suatu upaya kesehatan ibu dan anak di bidang kesehatan yang
menyangkut pelayanan dan pemeliharaan bumil, bulin, ibu meneteki, bayi,
balita, anak pra sekolah.
2. Tujuan
a. Meningkatkan keadaan kesehatan yang sebaik-baiknya untuk ibu dan anak,
terutama mengenai kadar gizi yang baru dan perlindungan terhadap penyakit
infeksi.
b. Memperbaiki kesehatan keluarga pada umumnya dengan menolong para
orang tua untuk merencanakan jumlah anak yang mereka inginkan.

3. Kegiatan
a. Pemeliharaan kesehatan ibu yang sedang hamil yang melahirkan dan
menyusui serta bayi dan anak sekolah
b. Imunisasi dan vaksinasi
c. Penyuluhan kesehatan
d. Pemberian nasehat tentang makanan guna mencegah keburukan gizi akibat
kekurangan kalori, protein, dan lain-lain
e. Pengobatan bagi ibu, bayi dan anak-anak pra sekolah untuk macam-macam
penyakit ringan
f. Kunjungan rumah tangga untuk mencari ibu dan anak yang memerlukan
pemeliharaan, memberi penerangan dan pendidikan tentang kesehatan dan
untuk mengadakan laporan lanjutan pada mereka yang lagi mengunjungi
Puskesmas
g. Pengawasan dan bimbingan kepada petugas Puskesmas Cabang, tenaga
kesehatan dan para dukun bayi.
2) Peningkatan upaya Keluarga Berencana (KB)
1. Pengertian
Suatu usaha Perencanaan kehamilan sehingga kehamilanhanya
terjadi pada waktu yang diinginkan, jarak antara kehamilan
diperpanjang sehingga jumlah anak sesuai yang diinginkan untuk menuju
NKKBS.

2. Tujuan
a. Meningkatkan derajat kesehatan terutama kesehatan ibu, bayi dan anak.
b. Mengurangi angka kelahiran dan mengurangi kepadatan penduduk
c. Mengurangi angka kesakitan dan kematian ibu, bayi dan anak
d. Untuk mencapai program NKKBS, kegiatannya meliputi kontrasepsi dan
penyuluhan.
3. Macam KB yang dilayani di Puskesmas Mejobo
a. Suntikan
b. PIL
c. IUD
d. Kondom
e. Implant
4. Upaya perbaikan Gizi
a. Pengertian
Kegiatan masyarakat untuk melembagakan upaya peningkatan gizi
dalam tiap keluarga di Indonesia, usaha ini bersifat lintas sektoral yang
dilaksanakan oleh deartement terkait.
b. Tujuan
1) Meningkatkan dan terbinanya keadaan gizi seluruh anggota masyarakat.
2) Perbaikan gizi balita.
3) Terwujudnya perilaku yang mendukung perbaikan gizi.

c. Sasaran
1) KKP
2) Kekurangan vitamin A.
3) Kekurangan yodium
4) Anemia gizi
d. Kegiatan
1. Pemberian vitamin A (bulan Februari dan Agustus)
2. Pemberian tablet tambahan darah pada ibu hamil
3. Pemberian oralit pada penderita diare
4. Memberikan penyuluhan gizi di masyarakat
5. Memberikan pelayanan gizi melalui posyandu
6. Meningkatkan pemanfaatan taman pekarangan

5. Program Pemberantasan Penyakit menular ( P2M )


a. Pengertian
Suatu usaha menghilangkan atau merubah berpindahnya penyakit menular
atau memutus mata rantai atau pindahnya penyakit terhadap manusia dan
penularan langsung maupun tak langsung sehingga orang rawan tidak terkena
penyakit tersebut.
b. Tujuan
1. Mengurangi angka morbiditas dan mortalitas
2. Mencegah akibat buruk dari penyakit

c. Langkah-langkah
1. Mengumpulkan info yang baik dari pasien yang berobat atau dari laporan
masyarakat
2. Melaporkan penyakit menular, melalui laporan harian, mingguan, bulanan.
3. Penyelidikan lapangan
4. Mencegah penularan
5. Penyembuhan penderita
6. Pemberian kekebalan
7. Pemberantasan vector
8. Penyuluhan penyakit menular
d. Kegiatan pokok
1. Monitoring dan surveilans epidemiologi, yaitu pemantauan data tentang
kasus penyakit secara terus menerus, sehingga dapat diikuti arah atau
kecenderungan perkembangananya, terutama untuk jenis-jenis penyakit
menular tertentu terhadap ancaman untuk berkembang menjadi Wabah atau
KLB untuk dapat diambil tindakan pencegahan.
2. Upaya pencegahan yang untuk program program tertentu bersifat rutin, baik
secara khusus maupun secara terintegrasi dalam program lainnya yang
ada.Termasuk disini misalnya kegiatan Penyuluhan dan konseling serta
imunisasi.
3. Upaya penemuan kasus, baik secara pasif maupun aktif.
4. Pengobatan kasus bila telah diketemukan . Pada penyakit tertentu mungkin
perlu dilacak contact person nya bahkan sumber penularnya untuk juga
diberi pengobatan.
5. Penanggulangan wabah atau Kejadian Luar Biasa ( KLB )
A. Program P2M
1. TB Paru
Meningkatkan pemeriksaan suspek meliputi :
a. Survey tersangka TB paru di sekitar fokus
b. Pemeriksaan sputum pada suspek TB di Balai pengobatan, Pustu, Pusling,
Polindes
c. Memotivasi Suspek agar mau melaksanakan pemeriksaan dahak dan
mengembalikan post sputum
2. Kusta
a. Meningkatkan pemeriksaan penjaringan pada penderita dengan kelainan
kulit di Puskesmas dan Pustu
b. Pemeriksaan kontak penderita baru dan kontak lingkungan.
3. P2DB
Meningkatkan kegiatan pencegahan demam berdarah meliputi
a. Penyuluhan keliling dengan mobil Pusling
b. Penyelidikan Epidemiologi dan penggerakan PSN
c. Pemeriksaan jentik berkala dan abatisasi selektif

4. Diare
A. Pengertian
Diare adalah penyakit berak encer, berak air atau mencret (tiga kali atau
lebih) yang kadang-kadang disertai muntah. Penyakit diare banyak menyerang
masyarakat, terutama terhadap anak dibawah usia lima tahun (balita).
B. Penyebab
1. Karena peradangan usus, seperti kolera, disentri, bakteridan virus lain
2. Keracunan makanan atau minuman
3. Kekurangan gizi, seperti kemungkinan kurang makan atau kemungkinan
kurang protein
4. Tidak tahan terhadap makanan tertentu, misalnya pedas
C. Proses penularan melalui kotoran
D. Akibat dari diare
Akibat diare adalah kekurangan cairan tubuh dan garam-garaman yang
sangat berguna bagi kelangsungan hidup manusia. Makin lama seseorang
terkena penyakit diare semakin banyak dan cepat pula tubuhnya kehilangan
cairan. Akibat kekurangan cairan ini kemungkinan besar akan terjadi
kematian. Di dalam istilah kedokteran kekurangan cairan disebut
DEHIDRASI.

E. Tanda Tanda Dehidrasi


1) Rasa haus.
2) Tingkat kesadaran menurun
3) Denyut nadi bertambah cepat
4) Pernapasan dalam dan cepat
5) Ubun-ubun menjadi cekung
6) Mata mencekung
7) Jumlah air kencing berkurang
8) Kekenyalan kulit menurun
F. Tindakan Yang Perlu Dilakukan :
1) Pemberian larutan oralit
2) Pemberian larutan Gula Garam (LGG)
G. Cara Mencegah Penyakit Diare
1) Gunakan air yang bersih
2) Makanan dan minuman yang dimasak
3) Buang air besar pada tempatnya
4) Kebersihan perorangan
5) Menjaga kebersihan alat-alat rumah tangga
6) Makanan yang bergizi
7) Lingkungan yang sehat
5. ISPA
a) Pengertian
Penyakit batuk pilek disertai napas sesak dan cepat
b) Penyebab ISPA
Tertular penyakit batuk
Belum imunisasi lengkap
Kurang gizi
Tinggal di lingkungan tidak sehat
c) Bahaya ISPA
Dapat menyebabkan kematian jika tidak segera di obati.
d) Cara Mencegah ISPA
Jauhkan anak dari batuk penderita
Mintakan imunisasi lengkap
Berilah makanan bergizi setiap hari
Jagalah kebersihan tubuh, makanan dan lingkungan

B. Upaya pengobatan
a. Pengertian
Suatu bentuk pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk menghentikan
proses perjalanan suatu penyakit pada seseorang sehingga penyakitnya dapat
hilang.
b. Tujuan
1. Untuk memberikan pemeliharaan kesehatan kepada semua orang yang
membutuhkan.
2. Untuk memudahkan diagnosa yang dini. Pengobatan, pengurangan
kesehatan/ pemulihan bagi semua orang.
3. Untuk mencegah timbulnya penyakit dan memberikan penyuluhan tenaga
kesehtan, gizi dan perlindungan terhadap penyakit infeksi.
4. Untuk meneruskan penderita ke lain tempat pemeliharaan kesehatan bila
perlu.
c. Kegiatan
1. Menetapkan suatu penyakit, pesakitan dan gangguan kesehatan..
2. Memberi pengobatan pada penderita penyakit menular.
3. Anamnesa, diagnosa, tindakan dari teraphy.
B. Upaya kesehatan pengembangan
Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas adalah upaya yang
ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di
masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas yang
bersangkutan. Dalam struktur organisasi puskesmas program pengembangan
ini biasa disebut Program spesifik lokal yang ditetapkan sesuai dengan
permasalahan kesehatan yang ditemukan dimasyarakat serta disesuaikan
dengam kemampuan puskesmas. Meliputi:
1. Usaha Kesehatan Sekolah
adalah pembinaan kesehatan masyarakat yang dilakukan petugas
Puskesmas di sekolah-sekolah (SD,SMP dan SMP) diwilayah kerja
Puskesmas.
2. Kesehatan Olah Raga,
adalah semua bentuk kegiatan yang menerapkan ilmu pengetahuan
fisik untuk meningkatkan kesegaran jasmani masyarakat, baik atlet maupun
masyarakat umum. Misalnya pembinaandan pemeriksaan kesegaran jasmani
anak sekolah dan kelompok masyarakat yang dilakukan puskesmas di luar
gedung.
3. Perawatan Kesehatan Masyarakat
adalah program pelayanan penanganan kasus tertentu dari kunjungan
puskesmas akan ditindak lanjuti atau dikunjungi ketempat tinggalnya untuk
dilakukan asuhan keperawat antar induvidu dan asuhan keperawatan
keluarganya. Misalnya kasus gizi kurang, penderita ISPA/Pneumonia.
4. Kesehatan Kerja,
adalah program pelayanan kesehatan kerja puskesmas yang ditunjukan
untuk masyarakat pekerja informal maupun formal diwilayah kerja puskesmas
dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang
berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. Misalnya pemeriksaan
secara berkala di tempat kerja oleh petugas puskesmas.
5. Kesehatan Gigi dan Mulut
adalah program pelayanan kesehatan gizi dan mulut yang dilakukan
Puskesmas kepada masyarakat baik didalam maupun diluar gedung (mengatasi
kelainan atau penyakit rongga mulut dan gizi yang merupakan salah satu
penyakit yang terbanyak di jumpai diPuskesmas.

6. Kesehatan Jiwa
adalah program pelayanan kesehatan jiwa yang dilaksanakan oleh
tenaga Puskesmas dengan didukung oleh peran serta masyarakat, dalam
rangka mencapai derajat kesehatan jiwa masyarakat yang optimal melalui
kegiatan pengenalan/deteksi dini gangguan jiwa, pertolongan pertama
gangguan jiwa dan konseling jiwa. Sehat jiwa adalah perasaan sehat dan
bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain
sebagaimana adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan
orang lain. Misalnya ada konseling jiwa diPuskesmas.
7. Kesehatan Mata
adalah program pelayanan kesehatan mata terutama pemeliharaan
kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dibidang mata dan
pencegahan kebutaan oleh tenaga kesehatan Puskesmas dan didukung oleh
peran serta aktif masyarakat. Misalnya upaya penanggulangan gangguan
refraksi pada anak sekolah.
8. Kesehatan Usia Lanjut
adalah program pelayanan kesehatan usia lanjut atau upaya kesehatan
khusus yang dilaksanakan oleh tenaga Puskesmas dengan dukungan peran
serta aktif masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat usia lanjut. Misalnya pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi
dini penyakit degeneratif,vkardiovaskuler seperti : diabetes Melitus,
Hipertensi dan Osteoporosis pada kelompok masyarakat usia lanjut.
9. Pembinaan Pengobatan Tradisional
adalah program pembinaan terhadap pelayanan pengobatan tradisional,
pengobat tradisional dan cara pengobatan tradisional. Yang dimaksud
pengobatan tradisional adalah pengobatan yang dilakukan secara turun
temurun, baik yang menggunakan herbal (jamu), alat (tusuk jarum, juru sunat)
maupun keterampilan (pijat, patah tulang).
10. Kesehatan Haji ,
adalah program pelayanan kesehatan untuk calon dan jemaah haji yang
meliputi pemeriksaan kesehatan, pembinaan kebugaran dan pemantauan
kesehatan jemaah yang kembali (pulang) dari menaikan ibadah haji.
Selain program di atas, upaya kesehatan pengembangan Puskesmas
dapat pula berupa upaya inovasi, yakni upaya lain diluar upaya Puskesmas di
atas yang ditetapkan sesuai dengan kebutuhan, guna mempercepat tercapainya
visi Puskesmas.
Pemilihan upaya kesehatan pengembangan ini dilakukan oleh
Puskesmas bersama dinas kesehatan kabupaten/kota dengan
mempertimbangkan masukan dari BPP (Badan Perencanaan dan
Pengembangan). Upaya ini dilakukan jika upaya wajib telah terlaksana secara
optimal, dalam artian target cakupan dan peningkatan mutu pelayanan telah
tercapai.
Apabila puskesmas belum mampu menyelenggarakan upaya kesehatan
pengembangan, padahal menjadi kebutuhan masyarakat, maka dinas kesehatan
kabupaten/kota bertanggung jawab dan wajib menyelenggarakannya. Untuk
itu dinas kesehatan kabupaten/kota perlu dilengkapi dengan berbagai unit
fungsional lainnya.
Dalam keadaan tertentu, masyarakat membutuhkan pula pelayanan
rawat inap. Untuk itu puskesmas dapat dikembangkan rawat inap tersebut.
Yang dalam pelaksanaannya harus memperhatikan berbagai persyaratan
tenaga, sarana dan prasarana sesuai standart yang telah ditetapkan.
Perlu diingat meskipun puskesmas menyelenggarakan pelayanan
medik spesialistik dan memiliki tenaga medis spesialis, kedudukan dan fungsi
puskesmas tetap sebagai sarana pelayanan kesehatan yang bertanggung
jawabmenyelenggarakan pelayanan kesehatan peorangan dan pelayanan
kesehatan masyarakat diwilayah kerjanya.

C. Pelayanan Penunjang
Ada beberapa kegiatan yang tidak termasuk upaya pokok,
tetapi merupakan pelayanan penunjang yaitu :
a. Medical record
b. Apotik
c. Laboratorium

D. System rujukan
System ini merupakan realisasi fungsi puskesmas sebagai pusat pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang berhadapan langsung dengan berbagai
permasalahan kesehatan, dikaitkan dengan keterbatasan puskesmasuntuk
menyelesaikan permasalahan tersebut, penyelenggaraan upaya kesehatan oleh
puskesmas harus dipotong oleh system rujukan.
A. Rujukan medik
Apabila suatu puskesmas tidak bisa menanggulangi suatu kasus penyakit
tertentu, maka kasus tersebut wajib dirujuk ke sarana pelayanan kesehatn yang
lebih mampu atau baik horizontal maupun vertikal dan sebaliknya pasien
paska rawat inap yang hanya memerlikan rawat jalan sederhana dikembalikan
ke puskesmas.
Menurut keperluannya, rujukan medic terdiri dari :
1. Rujukian kasus untuk keperluan diagnosis, pengobatan, tindakan operasi
dll.
2. Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium
yang lebih lengkap.
3. Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih
kompeten untuk melakukan bimbingan tenaga puskesmas dan ataupun
menyelenggarakan pelayanan medic di puskesmas.
4. Rujukan sarana dan logistic antara lain peninjauan beberapa kasus sarana
pencatatan untuk atau fogging, laboratorium tertentu, alat, promosi atau
audiovisual atau bantuan logistic obat, vaksin, bahan-bahan habis pakai, bahan
makanan dan lain-lain.
5. Rujukan tenaga menurut keahlian yang diperlukan antara lain untuk
menyelidiki kejadian luar biasa, bantuan penyelesaian masalah hukum
kesehatan, penanggulangan gangguan kesehatan karena bencan alam.
6. Rujukan operasional menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan tanggung
jawab penyelesaian masalah kesehatn masyarakat kepada dinas kesehatan
kabupaten/kota, antar lain : pemeriksaan contoh air bersih.

BAB III
ANALISA SITUASI PUSKESMAS PAGURAWAN

A VISI, MISI DAN STRATEGI


Sebagai arah tujuan pembangunan kesehatan di wilayah dan sebagai kegiatan dasar,
maka disusun visi dan misi Puskesmas Pagurawan sebagai berikut:
Visi
Medang Deras Menuju Hidup Sehat
Misi
1 Meningkatkan kesehatan yang merata dengan mengutamakan promotif dan preventiv.

2 Mengutamakan mutu pelayanan yang efektif dan efesien

3 Meningkatkan mutu SDM melalui Pendidikan dan Pelatihan yang \ berkelanjutan

4. Menerapkan prilaku bersih dan sehat (PHBS )

5. Menjalin Kerja samayang baik dengan lintas program /Sektoral

6. Meningkatkan sarana dan Prasarana yang mengikuti Ilmu kesehatan dan Tekniologi
secara terus menerus

B KEADAAN GEOGRAFIS
1 Batas Wilayah
Luas Wilayah kerja Puskesmas Pagurawan kurang lebih 3.405 M2
Batas sebelah Utara : Selat Sumatera
Batas sebelah Selatan : Kecamatan Sei Suka
Batas sebelah Timur : Kecamatan Medang Deras
Batas sebelah Barat : Kecamatan Bandar Khalifa

2 Wilayah Kerja
Wilayah kerja Puskesmas Pagurawan
1 Kelurahan : 3 Kelurahan

2 Desa : 7 Desa

3 Linkungan : 18 Lingkungan

4 Dusun : 52 Dusun

C KEADAAN PENDUDUK
1 Jumlah Penduduk
Luas total wilayah binaan Puskesmas paguraawan adalah 51.211 553 Km2 dengan
kepadatan penduduk 1.362,8 jiwa/Km2 .
Hasil pendataan kegiatan program Puskesmas pagurawan tahun 2016 adalah
sebagai berikut:
Jumlah penduduk : 69.919 jiwa
Jumlah Kepala Keluarga : 16.344 KK
Jumlah kelompok Umur 0-4 th : 3158 jiwa
Jumlah ibu hamil : 922 orang
Jumlah ibu bersalin : 850 orang
Jumlah ibu nifas : 722 orang
Jumlah neonatal : 778 orang
Jumlah wanita usia subur : 13.813 orang
Jumlah pasangan usia subur : 10.192 orang
Jumlah usia lanjut : 7001 orang

2 Keadaan Sosial Ekonomi


Sebaran mata pencaharian penduduk dari 16 desa terdiri atas
Petani : 6.687
Buruh Tani : 6.954
Buruh industry : 1.794
Pengusaha : 224
Buruh bangunan : 1.917
Pedagang : 8.336
PNS / ABRI : 651
Pensiunan : 302
Lain lain : 10.688

D PELAYANAN KESEHATAN
1 Puskesmas Pagurawan mempunyai 1 bangunan induk berada di wilayah pagurawan.
Gedung induk untuk pelayanan rawat jalan terdiri dari ruang poli umum, ruang
pendaftaran, ruang poli gigi, poli KIA-KB, kamar mandi, ruang imunisasi,
laboratorium, kamar obat, gudang obat, kantor TU, ruang kepala puskesmas.

2 Unit Pelayanan Puskesmas Pagurawan terdiri dari ruang tunggu pasien, pendaftaran,
poli umum, kantor pelayanan & rujukan, kamar obat, ruang tindakan KB, poli gigi,
poli KIA-KB, kamar mandi, gudang, laboratorium, ruang pertemuan, ruang arsip dan
kamar mandi.

3 Dua Puskesmas pembantu, yaitu : pustu medang dan pustu durian

E FASILITAS LAIN-LAIN

1 Sarana dan Prasarana

Sarana Fisik :

Gedung Puskesmas : 1 Unit


Gedung rawat inap : 2 unit
Gedung Pustu : 3 unit
Pondok Bersalin Desa : 2 unit\
Posyandu : 32 pos
Pusling : 1 pos

Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia bidang kesehatan berjumlah 70 orang, terdiri atas:

1 Dokter Umum : 5 orang


2 Dokter gigi : 2 orang
3 Perawat Puskesmas : 13 orang
4 Bidan Puskesmas : 23 orang
5 Bidan Desa : 13 orang
6 Petugas Kesehatan Lingkungan : 1 orang
7 Petugas Gizi : 2 orang
8 Pekarya : 3 orang
9 Tata Usaha : 1 orang
10 Asisten Apoteker : 1 orang
11 Tenaga Farmasi : 1 orang
12 Perawat Gigi : 2 orang
13 Tenaga administrasi / staf : 7 orang
14 Tenaga laboratorium : 3 orang
15 Tenaga fisioterapi : 1 orang
16 Tenaga harian lepas : 6 orang
17 Kader kesehatan (Posyandu, Jumantik, PHBS):

Sarana Kesehatan Lingkungan


Sarana kesehatan lingkungan yang terdapat di wilayah kerjaPuskesmas pagurawan
tahun 2014:

1 Sumur Gali : 8.496 unit


2 Sumur Pompa Tangan : 584 unit
3 Prosentase rumah sehat : 79 %
4 Jumlah KK akses SGL : 76 %
5 Jumlah KK akses SPT : 22 %
6 Jumlah KK akses PP (Pamsimas) :4%
7 Jumlah KK memiliki Jamban Kel : 57 %
8 Jumlah penduduk akses jamban : 79 %
9 Jumlah KK mengelola sampah (MS) : 63 %
10 Jumlah rumah memiliki SPAL :49 %
11 Jumlah KK memiliki sar.cuci tangan : 61 %

F PEMBIAYAAN

Sumber Pembiayaan Puskesmas pagurawan tahun 2014 adalah :

1 APBD Kabupaten
2 APBD Propinsi
3 Jamkesmas
4 Jamkesda
5 BOK (Bantuan Operasional bidang Kesehatan)
6 Bantuan Sosial
7 Jampersal
8 Pamsimas
9 Hibah Intensif Des

G PROGAM KERJA PUSKESMAS

Progam kerja Puskesmas Nguter meliputi:

1 UPK yang terdiri dari

a Sub Unit Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan yang terdiri dari :
1 Pelayanan Rawat Jalan
2 Pelayanan Rawat Inap
3 Pelayanan Penunjang
4 Puskesmas

b Sub unit pelayanan kesehatan GA yang terdiri dari :


1 Pelayanan Anak dan Remaja
2 Pelayanan Ibu dan KB
3 Pelayanan Lansia
4 Pelacakan Bumil resiko tinggi.
5 Penyuluhan kesehatan ibu dan KB bagi bidan.
6 Pelatihan dan pendidikan.
7 Pelayanan AMP Puskesmas.
8 Kunjungan rumah program KESGA / KIA dan program Gizi,
pemeriksaan kehamilan.
9 Pelayanan kesehatan neonatal.
10 Pembentukan kelas ibu hamil.
11 Kunjungan kelas ibu hamil
12 Desinfo PKPR.
c Pelayanan kesehatan MATRA yang terdiri dari :
1 Pelayanan Kesehatan Bencana
2 Pelayanan kesehatan P3K
3 Pelayanan Kesehatan Haji

2 Promizi ( Promkes, Kemitraan Dan Gizi ) Yang Terdiri Dari :


a Pertemuan KMPKKS
b Rakor Pokjanal tingkat Kecamatan
c Rakor Pokja Desa
d Refreshing kader
e Pengelolaan operasional PKD dan Posyandu.

3 Unit Registrasi, Informasi dan SDK


a Sub Unit Pengendalian Farmamin
1 Pengawasan Keamanan Pangan, Bahan Berbahaya, serta pengendalian
keamanan di tingkat distribusi.
2 Pengawasan institusi kesehatan.
b Sub Unit Informasi Data
1 Simpus
- Entry simpus
2 Simpus KIA
- Entry Simpus KIA
c Sub Unit Sumber Daya Kesehatan

4 Unit P2PL terdiri dari :


a Refreshing kader dalam rangka pemberantasan vector.
b Pemantauan jentik berkala.
c Pelaksanaan fogging focus.
d Pelaksanaan abatisasi selektif.
e Pengawasan fogging.
f Pembinaan PSN pasca fogging.
g Evaluasi ABJ DBD oleh petugas Puskesmas.
h Kunjungan rumah dalam rangka pengambilan specimen TB.
i Penjaringan suspek TB
j Pengelolaan jejaring TB dengan pelayanan swasta.
k Pelaksanaan pengelolaan kasus kusta.
l Survey kontak BTA +
m Sosialisasi flu burung.
n Peningkatan PWS SKD KLB.
o Sosialisasi crash program campak tingkat Kecamatan dan desa.
p Pelaksanaan crash program campak dan imunisasi polio.
q Pelaksanaan BIAS campak.
r Pelaksanaan BIAS DT-TT.
s Pengelolaan PWS imunisasi.
t Sweeping desa Non UCI.
u Screening TT WUS.
v Inspeksi sanitasi rumah, TTU, TPM, industry dan PHBS.
w Inspeksi sanitasi pasien klinik sanitasi.
x Pelaksanaan stimulant plesterisasi rumah untuk penderita TB paru.
y Pelaksanaan stimulant jamban keluarga untuk desa PAMSIMAS.

KASUS 10 BESAR PENYAKIT


Kasus 10 besar penyakit JANUARI MARET 2017 di wilayah kerja puskesmas
PAGURAWAN yaitu:

No. Daftar Penyakit Jumlah


1. ISPA 5508
2. Vertigo 2452
3. Hipertensi primer 2271
4. Arthritis tidak spesifik 2222
5. Influenza 977
6. Gastritis 929
7. Rheumatoid arthritis lain 795
8. Nasopharingitis Akut 720
9. Dyspepsia 711
10. Penyakit Kontak Alergi 619

Kasus ISPA masih merupakan kasus tertingi di puskesmas Nguter dari periode
Januari Mei 2014 yaitu sebanyak 5508 kasus. Dari jumlah kasus tersebut terdapat
beberapa pasien yang diduga menderita TB tetapi oleh karena kurangnya kesadaran
dan pengetahuan masyarakat terkait penyakit TB sehingga masyarakat beranggapan
bahwa batuk yang dideritanya merupakan sakit batuk seperti biasa walaupun batuk
yang dideritanya sudah lebih dari 2 minggu. Menurut hasil wawancara dengan
petugas Puskesmas Nguter, hal tersebut disebabkan oleh faktor penghambat seperti
terkendalanya pemeriksaan pada pasien yang suspect TB, pemeriksaan kontak pasien
TB yang kurang dilaksanakan, kurang aktifnya kader posyandu, kurangnya
penyuluhan pendidikan kesehatan oleh petugas kesehatan terkait penyakit tb.

BAB IV
ANALISA KASUS
A ANALISA MASALAH DAN PENYEBAB
1 Masalah Yang Muncul
N Program Masalah
o

1 P2ML (TBC) Kurangnya tenaga kesehatan


Kader yang ada belum memadai
Kurangnya pengetahuan masyarakat terkait
penyakit TBC.
Kurangnya sarana dan prasarana untuk
membantu program ini.
Belum optimalnya kunjungan rumah dalam
rangka pengambilan specimen TB dan
penjaringan suspek TB
Belum maksimal pengelolaan jejaring TB
dengan pelayanan swasta.
Survey kontak BTA + yang masih belum
dilaksanakan secara berkala.
Target puskesmas untuk pasien TB BTA (+)
pada tahun 2014 sebanyak 69 pasien.
Target Untuk Menemukan Suspect pasien TB
BTA (+) adalah sebanyak 690
Untuk target penemuan kasus TB BTA (+)
dari bulan Januari Juni sebanyak 30 pasien
tetapi sampai saat ini baru 17 kasus atau
pasien TB BTA (+) yang ditemukan.
Suspect TB paru yang ditemukan dari Januari
Juni adalah sebanyak 253.

2 Identifikasi Penyebab Masalah


Berdasarkan hasil observasi selama 6 hari yang dilakukan di Puskesmas
Nguter, kami menemukan masalah yang ada dalam pelaksanaan program P2ML
dalam mengatasi masalah TBC masih belum optimal yaitu dikarenakan tenaga
kesehatan yang khusus untuk menangani masalah penyakit TB masih kurang,
kurangnya pengetahuan masyarakat yang disebabkan penyampaian informasi
mengenai kesehatan masih belum maksimal, masih minimnya pengetahuan kader
posyandu yang disebabkan kurang aktifnya kader dalam mencari informasi kesehatan
yang ada, dan penyebab masalah yang lainnya adalah belum optimalnya pelaksanaan
program P2ML. Adapun metode pemecahan masalah yang kami gunakan adalah
analisis SWOT.
B ANALISA MASALAH

KAJIAN SWOT

Kajian SWOT adalah kajian yang dilakukan terhadap Puskesmas dan jaringannya
sedemikian rupa, sehingga diperoleh keterangan yang akurat tentang berbagai factor
kekuatan, kelemahan, kesempatan serta ancaman yang dimiliki dan atau dihadapi oleh
Puskesmas yang dalam hal ini berhubungan dengan alternative pemecahan masalah yang ada.
Terdapat 4 unsur pokok yang perlu dikaji, antara lain:
1 Kekuatan (Strenght)
Kekuatan adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu
organisasi yang apabila dimanfaatkan akan berperan besar tidak hanya dalam
memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga
dalam mencapai tujuan yang akan dicapai organisasi.
2 Kelemahan (Weakness)
Kelemahan adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu
organisasi yang apabila diatasi akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar
bebagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga dalam mencapai
tujuan yang akan dicapai organisasi.
3 Kesempatan (Opportunity)
Kesempatan adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi oleh suatu organisasi
yang apabila dimanfaatkan akan besar perannya dalam mencapai tujuan organisasi.
4 Ancaman (Threat)
Ancaman adalah kendala yang bersifat negatif yang dihadapi oleh suatu organisasi yang
apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

Tabel 1. Analisa SWOT


STRENGHT WEAKNESS OPPORTUNITIES THREATS
KEKUATAN KELEMAHAN PELUANG ANCAMAN
a Adanya tenaga a Kurangnya a Banyaknya 1 Budaya
kesehatan yang terdiri pengetahuan kegiatan di masyarakat
atas dokter umum, masyarakat masyarakat yang yang
dokter gigi, bidan, mengenai penyakit dapat digunakan menyebabkan
perawat, tenaga TBC. sebagai sarana sulitnya
kesehatan lingkungan, b Kurangnya alat penyuluhan, masyarakat
bidan desa yang sarana dan prasarana termasuk pada saat untuk merubah
tersebar di masing- untuk mendukung ada acara rapat perilaku seperti
masing desa wilayah kegiatan penuntasan desa. keyakinan-
kerja Puskesmas masalah TBC. b Ketertarikan keyakinan yang
Nguter, yang c Jumlah tenaga kader masyarakat untuk dianut oleh
mempunyai kesehatan yang melakukan apa masyarakat
keterkaitan dalam terbatas. yang disampaikan pada desa
system kerja sama d Minimnya tenaga dalam penyuluhan. tersebut.
lintas program. kesehatan untuk c Adanya system 2 Gaya hidup
b Adanya program mengatasi masalah kerjasama lintas masyarakat
pemerintah daerah TBC di masyarakat. sector dengan seperti
yang mendukung stakeholder di merokok,
program pemecahan wilayah meludah
masalah kasus TBC. Kecamatan Nguter, disembarang
c Penyakit menular termasuk dengan tempat, pola
seperti TBC kelompok hidup yang
merupakan salah satu masyarakat, tidak sehat,
program MDGs yang misalnya Tim membuang
ke enam. Penggerak PKK sampah
d Adanya Pos Kecamatan dan sembarangan.
Kesehatan Desa dan desa, organisasi 3 Serta kurang
Pokja Desa siaga di kemasyarakatan minatnya
masing-masing desa. dan tokoh masyarakat
e Adanya Puskemas masyarakat. untuk
pembantu dan d Adanya system mendapatkan
Puskesmas keliling. pelayanan informasi
f Alokasi dana dari kesehatan jejaring kesehatan dari
program pokok di wilayah kerja berbagai media
Puskesmas dan Puskesmas Nguter. maupun petugas
jaminan kesehatan kesehatan.
bagi masyarakat
miskin dan jaminan
persalinan.
g Pengetahuan
mengenai TBC yang
dimiliki oleh dokter
dan petugas kesehatan
Puskesmas.

C ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


Strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah diatas adalah :
1 Diadakannya pelatihan untuk kader posyandu (apabila sudah ada di pertahankan dan
lebih di tingkatkan dalam pelaksanaannya)
aOn the job training pengendalian TB paru.

bPenguatan jejaring TB-HIV AIDS.

cRefreshing jejaring TB dalam rangka pemeriksaan kontak TB.

2 Sosialisasi dan motivasi pada masyarakat untuk bersedia menjadi kader posyandu
serta meningkatan kesadaran masyarakat tentang bahayanya penyakit TB
3 Penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit TB
4 Pemberian reward kepada kader posyandu terbaik pertahun
5 Kerjasama dengan perangkat desa dan masyarakat setempat
6 Refreshing jejaring TB dengan pelayanan kesehatan swasta.
7 Diadakannya iuran sukarela/rutin untuk mendukung pelaksanaan kegiatan posyandu
yang meliputi :
Memberi imbalan jasa pada kader

Memberi imbalan jasa pada rumah warga yang dijadiikan tempat pelaksanaan
posyandu

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Puskesmas merupakan organisasi fungsional yang menyelenggarakan
upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima
dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan
menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat
guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat.
Puskesmas Mejobo mempunyai 6 program pokok yang harus
dilaksanakan , dari hasil kegiatan sebagian besar program sudah
memperlihatkan hasil yamg cukup baik, tapi ada bebera program yang belum
maksimal. Hal ini menunjukkan masih perlunya perhatian dan penanganan
yang lebih serius karena pembangunan kesehatan tetap merupakan kebutuhan
masyarakat yang perlu ditingkatkan terus menerus, oleh karena itu untuk
meningkatkan beberapa program yang belum maksimal dibutuhkan kerja sama
dari semua pihak baik dari dalam puskesmas maupun peran serta masyarakat.
Fasilitas puskesmas dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh anggota
puskesmas baik itu dokter, perawat serta bidan dalam rangka member
pelayanan kesehatan secara paripurna kepada masyarakat. Fasilitas puskesmas
dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh anggota puskesmas, baik itu
dokter, bidan maupun staf lain dalam rangka member pelayanan kesehatan
secara paripurna kepada masyarakat.
B. SARAN
Berdadsarkan dari kesimpulan di atas maka disarankan untuk :
1. Petugas Kesehatan
Kegiatan yang sudah dilaksanakan dengan baik seperti Posyandu Balita dan
Lansia hendaknya dapat dilaksanakan secara bertahap ditingkatkan, untuk
Posyandu Balita dengan sistem 5 meja dan untuk Posbindu Lansia dengan
sistem 5 meja.
2. Masyarakat
Peran serta dari masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pengurus
RT, RW perlu ditingkatkan terus dalam berbagai kegiatan dibidang kesehatan
dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan seoptimal mungkin. Antara lain
Ibu-ibu Balita aktif membawa balitanya mengikuti kegiatan Posyandu Balita,
Lansia aktif mengikuti Posyandu Lansia, warga aktif mengadakan kerja bakti
bersih lingkungan dan Kader aktif menjaga kebersihan dan kesehatan rumah,
lansia aktif mengikuti senam lansia.

3. Puskesmas
Supaya lebih meningkatkan mutu pelayanan yaitu dengan memuaskan
konsumen dan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan serta kode etik
masing-masing profesi.
4. Mahasiswa
Diharapkan Mahasiswa lebih meningkatkan kemampuan dan menambah
bekal tentang konsep praktek kebidanan komunitas, sehingga terdapat
optimalisasi kinerja dalam melakukan praktek klinik di komunitas. Mahasiswa
diharapkan mempunyai konsep yang lebih tentang pengorganisasian
masyarakat dengan berbagai alternatif pendekatan sehingga akan lebih
mempermudah pelaksanaan praktek klinik di masyarakat.