Anda di halaman 1dari 15

16

BAB II

KAJIAN TEORITIK

A. Deskripsi Konseptual Fokus dan Subfokus Penelitian

1. Pengertian Studi Kelayakan

Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat

tidaknya suatu proyek dilaksanakan dengan berhasil sesuai dengan

tafsir sudut pandang yang berbeda-beda. Ada yang menafsirkan

secara terbatas, ada juga yang secara luas. Terbatas dimaksud ialah

peran pihak swasta yang berminat memepergunakan manfaat

ekonomis suatu investasi, sedangkan secara luas dimaksud ialah

pemerintah, atau lembaga non-profit. Pengertian menguntungkan juga

memiliki makna yang relative dan dipertimbangkan melalui faktor-

faktor. Sebagai contoh, pemanfaatan masyarakat luas yang berwujud

seperti penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan sumber daya yang

melimpah di tempat tersebut dan sebagainya. Bisa juga dikaitkan

dengan, penghematan devisa atau penambahan devisa yang

diperlukan oleh pemerintah.


17

Subagyo1 mengatakan bahwa metode penyusunan studi

kelayakan tidak ada yang baku, namun pada umumnya terdiri atas

beberapa aspek, yaitu:

1. Aspek kelayakan lahan

2. Aspek kelayakan teknologi

3. Aspek kelayakan manajemen

4. Aspek kelayakan legalitas

Tingkat kerumitan, kedalaman, dan kompleksitas studi

kelayakan bergantung pada objek kajian studi itu sendiri. Dalam

pelaksanaannya, bentuk studi kelayakan disesuaikan dengan tujuan

dan kepentingan: untuk apa studi kelayakan itu dibuat. Dalam

beberapa hal, bentuk dan sistematika penyusunan studi kelayakan

sudah ditentukan oleh pihak yang membutuhkan dan berkepantingan

dengan hasil studi kelayakan tersebut. Sebagai contoh, studi

kelayakan yang dibuat untuk kepentingan yang berkaitan dengan Bank

Indonesia: pemerintah melalui Bank Indonesia membuat peraturan

Bank Indonesia yang berisi ketentuan-ketentuan perbankan, termasuk

di antaranya bagaimana cara mendirikan bank baru, mengakuisisi,

merger, membuka kantor baru, dan sebagainnya. Sebagai contoh lagi

dalam bidang pendidikan, pemerintah melalui Menteri Pendidikan

Nasional mengeluarkan SK No. 234/U/2000 tentang Pedoman

1
Subagyo, Ahmad. Studi Kelayakan. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2008. Halaman, 3
18

Pendidikan Perguruan Tinggi yang berisi ketentuan bahwa pendirian

perguruan tinggi, fakultas, dan program studi baru harus disertai

dengan membuat studi kelayakan (Pasal 5, Ayat 3). Pemerintah daera

(pemda) yang mengajukan usulan proyek pembangunan infrastruktur

ke lembaga legislatif (DPRD) juga harus menyertai usulan tersebut

dengan studi kelayakan.

Sedangkan menurut Umar2 dikatakan bahwa studi kelayakan

adalah suatu penelitian tentang layak atau tidaknya rencana proyek.

Maksud dari layak atau tidak layak adalah prakiraan bahwa proyek

akan dapat menghasilkan keuntungan yang memadai bila

dioperasionalkan atau sebaliknya. Mengenai pengertian untung itu

sendiri berbeda antara pihak yang berorientasi pada keuntungan

ekonomi seperti pengusaha dengan yang berorientasi pada

keuntungan non-ekonomi, seperti pemerintah dan lembaga-lembaga

nirlaba lainnya. Masih dalam pandangan Umar 3 bahwa analisis yang

dilakukan dalam studi kelayakan bisnis mencakup banyak faktor yang

dikerjakan secara menyeluruh, meliputi aspek-aspek teknik dan

teknologi, pasar dan pemasaran, manajemen, hukum, lingkungan, dan

keuangan.

2
Umar, Husein. Business: An Introduction. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2003.
Halaman, 246
3
Ibid. Halaman, 246
19

Dari hasil pengertian di atas dapat diambil sebuah sintesa

bahwa studi kelayakan berfungsi untuk menggambarkan setidak-

tidaknya empat aspek kelayakan, yaitu: (1) kelayakan lahan; (2)

kelayakan teknologi; (3) kelayakan manajemen; dan (4) kelayakan

legalitas. Dalam penelitian ini, penulis berupaya untuk

menggambarkan: (1) kelayakan lahan Bandar Udara Internasional

Ahmad YaniSemarang; (2) kelayakan teknologi Bandar Udara

Internasional Ahmad YaniSemarang; (3) kelayakan manajemen

Bandar Udara Internasional Ahmad YaniSemarang; dan (4)

kelayakan legalitas Bandar Udara Internasional Ahmad Yani

Semarang.

a. Kelayakan Lahan

Kelayakan lahan bandar udara di Indonesia, telah diatur dalam

Peraturan Menteri Perhubungan No Tentang Penerbangan dan

PM.69 Tahun 2013 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional,

yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan

bandar udara dan kegiatan lainnya dalam melaksanakan fungsi

keselamatan, keamanan, kelancaran, dan ketertiban arus lalu lintas

pesawat udara, penumpang, kargo dan/atau pos, tempat

perpindahan intra dan/atau antarmoda serta meningkatkan

pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. Secara nasional,

kebandarudaraan merupakan sistem yang dicanangkan sebagai


20

rencana tata ruang, pertumbuhan ekonomi, keunggulan komparatif

wilayah, kondisi alam dan geografi, keterpaduan intra dan

antarmoda transportasi, kelestarian lingkungan, keselamatan dan

keamanan penerbangan, serta keterpaduan dengan sektor

pembangunan lainnya. Bandar udara berkawasan di darat

digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas

landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat

perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang dilengkapi

dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta

fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya; memiliki batas-batas

teritorial wilayah dan tidak menggangu ketertiban umum aktifitas

masyarakat di sekitarnya 4.

Penataan lahan bandar udara bertujuan untuk mewujudkan

bandar udara yang andal, terpadu, efisien, serta mempunyai daya

saing global untuk menunjang pembangunan nasional dan daerah

yang berwawasan Nusantara, saling menunjang dan mengisi

peluang dalam satu kesatuan tatanan kebandarudaraan nasional;

sesuai dengan tingkat kebutuhan, tidak saling tumpang tindih dan

tidak terjadi duplikasi dalam melayani kebutuhan angkutan udara.

Penyelenggaraan bandar udara tidak rentan terhadap pengaruh

4
Indonesia, Menteri Perhubungan Republik. Peraturan Menteri Perhubungan No PM 69
Tahun 2013 Tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional. Jakarta: Menteri Perhubungan
Republik indonesia, 2013. Pasal 1
21

global, serta mampu beradaptasi menghadapi perubahan

kebutuhan angkutan udara dan berfungsi sebagai pintu gerbang

perekonomian; dalam rangka pemerataan pembangunan dan

keseimbangan pengembangan Indonesia wilayah barat dan

Indonesia wilayah timur, dalam arti menjadi pembuka daerah

terisolir, tertinggal dan mengembangkan potensi industri daerah,

memandang kesatuan politik, ekonomi, sosial, budaya dan

pertahanan keamanan, dalam rangka mempersatukan wilayah

Negara Kesatuan Republik Indonesia5.

Sintesanya adalah bahwa kelayakan lahan bandar udara

seyogyanya mampu menumbuhkan perekonomian wilayah dan

berpotensi menjadi gerbang pemersatu kewilayahan Indonesia

yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Selain itu,

pemilihan lahan juga diharapkan mampu menyatukan

keterhubungan dengan negara luar yang selain berpotensi untuk

meningkatkan perekonomian di sektor pariwisata, khususnya

pariwisata daerah, pun juga berpotensi meningkatkan hubungan

baik antar negara dalam rangka menciptakan perdamaian.

5
Indonesia, Menteri Perhubungan Republik. Peraturan Menteri Perhubungan No PM 69
Tahun 2013 Tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional. Jakarta: Menteri Perhubungan
Republik indonesia, 2013. Pasal 2
22

b. Kelayakan Teknologi6

Teknologi CNS (Communication, Navigation, dan Surveillance)

CSN merupakan tiga pilar yang digunakan oleh pelayan Air

Service Bandara sebagai pengamat lalu lintas udara yang

dikomunikasikan kepada pilot atau pilot mengkomunikasikan

kepada pelayan Air Service Bandara. Selain berfungsi sebagai alat

pengamat lalu lintas udara, CSN juga berfungsi untuk pelayanan

navigasi kepada pilot yang hendak landas atau yang hendak

mendarat.

Body Scanner

Body Scanner yang digunakan di bandara merupakan alat

pemeriksa tubuh calon penumpang untuk menjamin keamanan

pesawat selama masa penerbangan. Alat ini tidak hanya

mendeteksi apa-apa yang melekat di luar tubuh calon penumpang,

tapi juga apa-apa yang berada dalam organ tubuh penumpang.

Deteksi menggunakan body scanner difungsikan juga sebagai

pemeriksaan terakhir bagi calon penumpang, maupun penumpang

yang baru datang setelah menjalani dua tahap pemeriksaan.

6
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. n.d. 12 November 2015
<http://www.bppt.go.id/>.
23

Flight Information Display System

Flight Information Display System merupakan sistem yang

berfungsi untuk menampilkan informasi jadwal penerbangan baik

kedatangan pesawat (arrival) maupun keberangkatan pesawat

(departure) di suatu bandar udara. Media untuk menampilkan FIDS

atau Jadwal Penerbangan di suatu bandara biasanya berupa TV

Plasma atau juga bisa LED. Dalam FIDS biasanya data yang

ditampilkan adalah sebagai berikut : (1) Nomor Penerbangan /

Flight Number; (2) Maskapai / Airline; (3) Jadwal

Kedatangan/Keberangkatan (Arrival / Departure); (4) Asal/Tujuan

(Origin/Destination); (5) Remark (Posisi pesawat saat itu, bisa

landed, boarding atau delayed).

Prinsip dasar suatu FIDS adalah data master yang ada di

server akan diambil secara periodik setiap hari sehingga bisa

diambil data penerbangan dalam hari tersebut. Kemudian data

penerbangan dalam hari tersebut ditampilkan dalam suatu layar

TV.

Sinar X atau X-Ray

Merupakan teknologi untuk memeriksa barang-barang yang

dibawa penumpang. Detektor ini digunakan untuk mendeteksi

secara visual semua barang bawaan penumpang pesawat udara

yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan dengan


24

cepat tanpa membuka kemasan barang tersebut. Peralatan X-Ray

atau sinar X dapat diklasifikasikan menurut fungsi dan

kapasitasnya yaitu: cabin X-Ray, baggage X-Ray, dan cargo X-

Ray.

Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B)

merupakan teknologi yang mampu mendeteksi penerbangan

pesawat sipil. ADS-B dikembangkan untuk menangkap sinyal dari

transponder yang dimiliki setiap pesawat sipil dalam radius 200 mil,

sehingga setiap pergerakan pesawat akan terdeteksi. Teknologi ini

tidak terlalu rumit, karena hanya melalui Air Traffic Controller,

pesawat yang terbang rendah, termasuk pesawat yang landing dan

takeoff, dan seluruh data pesawat terdeteksi.

c. Kelayakan Manajemen

Manajemen operasional pada mulanya diidentikkan dengan

proses manufaktur, tetapi setelah kegiatan bisnis makin

berkembang, meluas ke berbagai sektor non manufaktur, maka

dalam perkembangannya, manajemen operasi mempunyai arti

yang lebih luas. Jika dilihat dari kata manajemen operasi itu sendiri,

terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan operasi. Manajemen

adalah suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian,

pengarahan, dan pengawasan terhadap aktifitas organisasi sesuai

dengan sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang


25

ditetapkan. Sedangkan operasi merupakan kegiatan

mentransformasikan input menjadi output, atau kegiatan mengubah

bentuk untuk menambah manfaat atau menciptakan manfaat baru.

Jadi manajemen operasi merupakan kegiatan untuk mengatur atau

mengelola secara optimal sumber daya yang tersedia dalam

proses transformasi sehingga menjadi output yang mempunyai

manfaat lebih dari sebelumnya 7.

Terry dalam Havinal (2009) mengungkapkan bahwa proses

manajemen terdiri dari: planning, organizing, actuating, dan

controlling8.

Perencanaan (planning)

Merupakan proses menentukan arah yang akan ditempuh dan

kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang

telah ditetapkan. Dalam proses ini ditentukan tentang apa yang

dilakukan, kapan dan bagaimana melakukannya serta dengan cara

apa hal tersebut dilakukan.

Pengorganisasian (organizing)

Pengorganisasian adalah proses mengelompokkan kegiatan-

kegiatan atau pekerjaan-pekerjaan dalam unit-nit. Tujuannya

adalah supaya tertata dengan jelas antara tugas, wewenang dan

7
Sunyoto, Danang. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Buku Seru., 2014. Halaman, 230-231
8
Havinal, Veerabhadrappa. Management and Entrepreneurship. New Delhi: New Age
International, 2009. Halaman, 2
26

tanggung jawab serta hubungan kerja dengan sebaik mungkin

dalam bidangnya masing-masing.

Pelaksanaan (actuating)

Menggerakan atau melaksanakan adalah proses untuk

menjalankan kegiatan atau pekerjaan dalam organisasi. Dalam

menjalankan organisasi para pemimpin atau manajer harus

menggerakan bawahannya (para karyawan) untuk mengerjakan

pekerjaan yang telah ditentukan dengan cara memimpin, memberi

perintah, memberi petunjuk dan memberikan motivasi.

Pengawasan (controlling)

Pengawasan adalah proses untuk mengukur dan menilai

pelaksanaan tugas apakah telah sesuai dengan rencana. Jika

dalam proses tersebut terjadi penyimpangan, maka akan segera

dikendalikan.

d. Kelayakan Legalitas

Aspek legalitas adalah hukum yang mendasari properti, lokasi, atau

kawasan. Selain untuk membuat lebih aman dan nyaman, aspek legalitas

sangat penting untuk mengantisipasi timbulnya permasalahan hukum di

kemudian hari. Di samping sebagai bukti kepemilikan, keberadaan aspek

legalitas dalam sektor pertanahan juga berfungsi untuk memberikan

kepastian bahwa properti itu dibeli atau disewa dari pemilik yang sah.

Kerap kali terjadi di tengah-tengah masyarakat suatu perselisihan,


27

menyangkut pengakuan atau klaim sepihak dari pihak tertentu atas

lahan.

Terdapat empat prinsip yang wajib dipenuhi dalam kepemilikan

legalitas, yaitu: (1) status/dasar hukum (asas hak kepemilikan),

adalah dasar hukum sangat penting untuk memastikan dengan

dasar apa tanah tersebut diperoleh, jual beli, hibah, warisan, tukar-

menukar, atau dari hak garap tanah negara; (2) letak dan luas

objek tanah (kepastian objek), adalah diwujudkan dalam bentuk

surat ukur/gambar situasi (GS) untuk memastikan letak/batas-batas

dan luas tanah tersebut agar tidak tumpang tindih dengan tanah

orang lain, termasuk untuk memastikan objek tanah tersebut ada

atau tidak ada (fiktif); (3) identitas pemegang hak (kepastian

subjek), adalah untuk memastikan siapa pemegang hak

sebenarnya, dan apakah yang bersangkutan tersebut benar-benar

berwenang untuk mendapatkan hak tanah yang dimaksud; dan (4)

Prosedur penerbitannya (prosedural), adalah penerbitan sebuah

sertifikat untuk memenuhi asas publisitas, yaitu dengan

mengumumkan pada kantor kelurahan atau kantor pertanahan

setempat tentang adanya hak atas tanah tersebut dengan tujuan

agar pihak lain yang merasa keberatan dapat mengajukan

sanggahan sebelum pemberian hak (sertifikat) itu diterbitkan.


28

Meski demikian, hal tersebut hanya bersifat sertifikat, bukan balik

nama sertifikat.

Apabila sebuah sertifikat tanah tidak memenuhi syarat dari

salah satu dari 4 prinsip yang disebutkan di atas, bisa legalitas

kepemilikan lahan dikatakan cacat hukum. Oleh karenanya, pihak

ketiga yang mempunyai kepentingan terhadap tanah tersebut

dapat mengajukan permohonan pembatalan sertifikat, baik melalui

Putusan Pengadilan maupun Putusan Menteri Negara

Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional 9.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Pertama, ialah penelitian studi kelayakan Bandar udara oleh Dwi

Rahardjo Sigit dengan judul penelitian Studi Kelayakan Pengembangan

Bandar Udara Abdulrachman Saleh Malang. Dalam penelitian tersebut

dijelaskan bahwa sebagai infrastruktur transportasi udara, Bandar Udara

Abdurrachman Saleh berpotensi memberikan pangsa pembangunan

ekonomi Kota Malang, tercatat sejak dioperasikan kembali pada bulan

Juni 2005, terjadi peningkatan arus lalu lintas udara yang cukup signifikan

di Bandar Udara Abdulrachman Saleh Malang. Dari itu, dalam rangka

memenuhi standar internasional yang ditetapkan oleh International Civil

Aviation Organization (ICAO), diperlukan upaya pembangunan dan

9
Op.cit. Halaman, 167-168
29

pengembangan sarana dan prasarana bandar udara Abdulrachman Saleh

di Malang.

Kedua, penelitian studi kelayakan Bandar udara oleh Yinny

Rajaratnam, Harianto Hardjasaputra, dan Monty Girianna dengan judul

penelitian Studi Kelayakan Ekonomi Pengembangan Bandara Udara

Internasional Minangkabau (BIM). Dalam penelitian tersebut dijelaskan

bahwa sebagai Ibu Kota Provinsi Sumatera Barat, Kota Padang

merupakan gerbang nasional bagi Daerah Segitiga Pertumbuhan yang

meliputi kota-kota utama Asean, China Selatan dan India Selatan. dengan

itu, penelitian ini membahas rencana pengembangan tahap II BIM

(Bandara Internatioanl Minangkabau) dengan melakukan beberapa

skenario keuangan dan tahapan kontruksi dalam rangka memenuhi

kapasitas kebutuhan proyeksi hingga tahun 2020. Diharapkan dengan

adanya penelitian ini kelayakan ekonomi dan finansial terbangun di

kemudian hari.

Ketiga, penelitian studi pustaka oleh ialah analisis ekonomi dan

finansial oleh Leli Honesti dan Nazwar Djali dengan judul penelitian

Analisis Ekonomi Dan Finansial Pengembangan Bandar Udara

Internasional Minangkabau (BIM) Di Sumatera Barat. Dalam penelitian ini

dijelaskan bahwa keberhasilan melaksanakan proyek konstruksi

merupakan suatu tujuan terpenting bagi pemilik proyek, kontraktor dan

terutama si pengguna proyek itu sendiri. Semua itu tak terlepas dari
30

perencanaan yang matang, mulai dari ide/ gagasan, studi kelayakan,

desain pengadaan, proses knstruksi dan pemanfaatannya. Penelitian ini

bertujuan untuk menganalisis ekonomi dan finantial pengembangan

Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM) di Sumatera Barat, yang

merupakan bagian dari studi kelayakan proyek. Bagian ini merupakan

salah satu hal yang sangat penting pada studi kelayakan setelah analisis

pasar dan analisis teknis. dalam penelitian ini juga dijelaskan bahwa

pertimbangan cost dan benefit merupakan bentuk manfaat ekonomi

maupun sosial. Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM), selain

mendapatkan benefit yang diterima dari publik berupa arus kas dan

perdagangan, pariwisata, perikanan, perkebunan dan pertanian sehingga

dengan demikian perekonomian Sumatera Barat meningkat.