Anda di halaman 1dari 21

sebelum mengetahui manfaat,kelebihan dan kekurangan tax amnesty kita harus tau apa pengertian dari tax

amnesty itu. Pengertian dari tax amnesty adalah pengampunan pajak,yaitu adanya penghapusan pajak bagi
wajib pajak yang menyimpan dananya di luar negeri dan tidak memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak
dengan imbalan menyetor pajak dengan tarif yang lebih rendah.Degan adanya tex amnesty,diharapkan para
pengusaha yang menyimpan dananya di luar negeri bisa memindahkan dananya di indonesia dan akan menjadi
WP baru yang patuh sehingga dapat meningkatkan pendapatan pajak negara indonesia. dewan perwakilan
rakyat mengesahkan rancangan Undang-Undang. Pengampunan pajak dan rancangan Undang-Undang tentang
perubahan atas Undang-Undang tentang perubahan atas UUD Nomor 14 tahun 2015 tentang anggaran
pendapatan dan belanja negara 2016 beserta nota perubahan (RAPBN-P 2016) dalam sidang paripurna.
manfaat adanya tax amnesty tersebut dapat memberikan manfaat untuk beberapa pihak,baik untuk pemerintah
maupun investor. Dengan adanya manfaat dari tax amnesty untuk beberapa pihak: Terutama untuk investor :
Dengan adanya tax amnesty (pengampunan pajak) ini akan memberikan keuntungan terhadap kegiatan
bisnis.Tax Amnesty (pengampunan pajak) ini dapat membuat para konsumen serta investor untuk berani
melakukan pembelian terhadap properti tersebut.Bukan hanya dari pemerintah atau pengembangan saja yang
merasa senang dengan hadirnya tax amnesty atau pengampunan pajak ini juga sangat disambut oleh para
investor Untuk pemerintah : Dengan diterapkannya tax amnesty (pengampunan pajak ) maka secara otomatis
akan menarik dana yang terdapat di luar negeri ke indonesia yang menjadikannya masuk ke dalam sebuah
pencatatan untuk sumber pajak yang baru.Dengan berlakunya tax amesty (pengampunan pajak) maka akan
menambah penghasilan penerimaan baru dimana penambahannya dirasa cukup dalam mengurangi penerimaan
negara yang semakin berkurang. Untuk pengembang : Kebijkan ini berhubungan dengan pajak yang
menjadikan indikator untuk membangkitkan sebuah bisnis properti yang ada di indonesia. Pengampunan pajak
ini sangatlah dipercaya untuk memberikan sebuah pengaruh besar terhadap pengembang untuk dapat terus
berhubungan dengan para investor,selama ini para investor merasa tidak mau untuk menanamkan modalnya di
indonesia karena negara indonesia mempunyai pajak properti yang tergolong sangat tinggi.Dan dengan
berlakunya pengampunan pajak maka akan membuat sektor properti mengalami pertumbuhan untuk tahun
berikutnya. kelebihan dan kekurangan dari Tax Amnesty tersebut terjadi adanya pro dan kontra penambahan
suatu aturan mengenai tax amnesty (pengampunan pajak).menurut pendapat pro mengatakan bahwa kewajiban
tax amnesty bisa menjadikan solusi yang efektif untuk meningkatkan jumlah WP baru dan penerimaan
pajak.Sedangkan menurut pendapat kontra yaitu terdapat kontra yang beragumen bahwa kebijakan tersebut
merupakan langkah putus asa dari pemerintah.selain kelebihan dan kekurangan pengampunan pajak dapat
mendorong warga yang selama ini taat pajak menjadi nakal dikarena kan ada sebuah faktor kecemburuan.
Kelemahan Tax Amnesty ( pegampunan pajak) a. pengampunan pajak dihawatirkan tidak berjalan secara
konsisten. Mengapa banyak yang menilai jika kekurangan penerimaan pajak tidak hanya bisa diselesaikan
dengan kebijakan pengampunan pajak tersebut,karena belum adanya kejelasan mengenai kewajiban bagi wajib
pajak untuk menempatkan kekayaannya di dalam negeri,kemungkinan besar individu-individu yang meminta tax
amnesty akan menyembunyikan kembali kekayaan mereka di luar negeri ketika manfaat pengampunan pajak tak
lagi di berikan. b. pengampunan pajak hanya beri Karpet Merah bagi koruptor Forum yang dilakukan di
indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mengakatakan ,tax amnesty dalam RAPBNP 2016 bukan untuk
masyarakat,melainkan hanya untuk kepentingan pengusaha saja yang memiliki dana besar di luar negeri.Tax
amnesty hanya dijadikan bahasa kampaye oleh politisi untuk memuluskan proyek swata.pengampunan pajak
hanya akan menjadikan karpet merah untuk para koruptor dan konglomerat yang mendapat keuntungan di
indonesia. c. Dianggap mencederai asas keadilan pengampunan pajak dianggap mencenderai keadilan karena
bagi masyarakat yang selama ini patuh membayar pajak .Apalagi pada tahun 1964 dan 1984 pengampunan
pajak berjalan tidak efektif karena minimnya ketersediaan data perpajakan. tidak ada lengkapnya basis data
perpajakan membuka kemungkinan besar petugas pajak untuk mendeteksi kekayaan yang tak
dilaporkan.terlebih kekayaan yang tidak dilaporkan pada umumnya berada di luar negeri sehingga benar-benar
jauh dari jangkaun petugas pajak.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maimunatuzzahro03/pentingnya-mengetahui-manfaat-kelebihan-
dan-kekurangan-tax-amnesty_57d27b30529773bc474b4454
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan Rancangan Undang-Undang. Pengampunan Pajak
(Tax Amnesty) dan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14
Tahun 2015 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016 beserta Nota Perubahannya
(RAPBN-P 2016) dalam sidang paripurna, Selasa (28 Mei 2016).

Melalui undang-undang tersebut, para wajib pajak yang belum melaporkan pajaknya akan mendapat
tarif tebusan yang lebih rendah. Tarif tersebut dibagi menjadi tiga kategori, yakni bagi usaha kecil
menengah, bagi wajib pajak yang bersedia merepatriasi asetnya di luar negeri, serta deklarasi aset di
luar negeri tanpa repatriasi.

Baca Juga: Semua Tentang Brexit Inggris, Dampak Bagi Ekonomi Indonesia dan Dunia 2016

Untuk wajib pajak usaha kecil menengah yang mengungkapkan harta sampai Rp10 miliar akan
dikenai tarif tebusan sebesar 0,5%, sedangkan yang mengungkapkan lebih dari Rp 10 miliar dikenai
2%.

Lalu, untuk wajib pajak yang bersedia merepatriasi asetnya di luar negeri akan diberikan tarif tebusan
sebesar 2% untuk Juli-September 2016, 3% untuk periode Oktober-Desember 2016, dan 5% untuk
periode 1 Januari 2017 sampai 31 Maret 2017.

Terakhir, wajib pajak yang mendeklarasikan asetnya di luar negeri tanpa repatriasi akan dikenai tarif
4% untuk periode Juli-September 2016, 6% untuk periode Oktober-Desember 2016, dan 10% untuk
periode Januari-Maret 2017.

Penetapan periode menjadi penting karena UU Pengampunan Pajak hanya berlaku hingga akhir
Maret 2017 mendatang.

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah mengatakan kebijakan pengampunan pajak ini untuk
memperbesar pendapatan negara dari sektor pajak. Hingga Agustus 2015 lalu, realisasi penerimaan
pajak baru mencapai sekitar Rp598 triliun atau sekitar 46% dari target APBNP 2015. Dengan
menggunakan UU Pengampunan Pajak, pendapatan negara diperkirakan bertambah Rp165 triliun.

Pengertian Tax Amnesty


Definisi secara sederhana dari tax amnesty adalah pengampunan pajak, yaitu adanya penghapusan
pajak bagi Wajib Pajak (WP) yang menyimpan dananya di luar negeri dan tidak memenuhi
kewajibannya dalam membayar pajak dengan imbalan menyetor pajak dengan tarif lebih rendah.
Dengan dilakukannya tax amnesty ini, diharapkan para pengusaha yang menyimpan dananya di luar
negeri akan memindahkan dananya di Indonesia dan menjadi WP baru yang patuh sehingga dapat
meningkatkan pendapatan pajak negara.

Indonesia pernah memberlakukan tax amnesty pada tahun 1984, tetapi pelaksanaannya tidak efektif
karena respon WP sangat kurang dan tidak diikuti dengan reformasi sistem administrasi perpajakan
secara menyeluruh. Oleh karena itu, pelaksanaan tax amnestykali ini harus dilaksanakan secara hati-
hati dan dipersiapkan secara matang. Perlunya dukungan dan persetujuan masyarakat secara penuh
dan adanya landasan hukum yang memadai juga menjadi faktor penting keberhasilan
pelaksanaan tax amnesty ini.

Pada tahun 2008, pemerintah pernah menerbitkan aturan Sunset Policy yang diberlakukan selama 14
bulan per Januari 2008. Aturan Sunset Policy ini bisa dibilang merupakan versi mini dari tax amnesty.
Sunset Policy adalah kebijakan pemerintah dalam menerapkan penghapusan sanksi administrasi
bagi WP yang kurang bayar maupun melakukan kesalahan dalam pengisian Surat Pemberitahuan
(SPT) tahunan PPh. Kebijakan versi mini dari tax amnesty ini telah berhasil menambah jumlah
penerimaan PPh sebesar Rp7,46 triliun.

Kekurangan dan Kelebihan Tax Amnesty

Terjadi pro dan kontra penambahan aturan mengenai tax amnesty ini. Pendapat pro mengatakan
bahwa kebijakan tax amnesty bisa menjadi solusi yang efektif untuk meningkatkan jumlah WP baru
dan penerimaan pajak. Namun, terdapat kontra yang berargumen bahwa kebijakan tersebut
merupakan langkah putus asa dari pemerintah. Selain itu, pemberlakuan tax amnesty dapat
mendorong warga yang selama ini taat pajak menjadi nakal karena ada faktor kecemburuan.

Manfaat adanya Tax Amnesty

Dengan adanya tax amnesty atau amnesti pajak ini dapat memberikan manfaat untuk beberapa
pihak, baik itu untuk pemerintah, pengembang, maupun untuk investor. Berikut ini manfaat adanya tax
amnesty untuk beberapa pihak:

1. Untuk pemerintah

Dengan diberlakukannya tax amnesty atau pengampunan pajak ini maka akan menambah
penghasilan penerimaan baru dimana penambahannya dirasa cukup efektif dalam mengurangi
penerimaan negara yang semakin berkurang. Dengan diterapkannyatax amnesty atau pengampunan
pajak ini maka secara otomatis akan menarik dana yang terdapat di luar negeri ke Indonesia yang
menjadikannya masuk ke dalam pencatatan untuk sumber pajak baru. Amnesti pajak yang
diasumsikan oleh pemerintah sebanyak Rp.60 triliun yang tercantum pada APBN 2016. Nominal
tersebut berasal dari tarif tebusan sebesar 3% dari dana yang masuk yaitu sekitar Rp.2.000 triliun.
2. Untuk pengembang

Dengan diberlakukannya amnesti pajak atau pengampunan pajak ini maka akan membuat sektor
properti mengalami pertumbuhan untuk tahun berikutnya. Kebijakan ini berhubungan dengan pajak
yang menjadikan indikator untuk kebangkitan sebuah bisnis properti yang ada di Indonesia. Tax
amnesty ini sangat dipercaya untuk memberikan sebuah pengaruh terhadap pengembang untuk
dapat terus berhubungan dengan para investor. Para investor selama ini merasa tidak mau untuk
menanamkan modalnya di Indonesia karena negara Indonesia mempunyai pajak properti yang
tergolong sangat tinggi.

3. Untuk investor

Bukan hanya dari pemerintah dan pengembang saja yang merasa senang dengan kabar ini,
hadirnya tax amnesty atau pengampunan pajak ini juga sangat disambut baik oleh para investor.
Dengan adanya tax amnesty atau pengampunan pajak ini akan memberikan keuntungan terhadap
kegiatan bisnis. Amnesti pajak ini dapat membuat para konsumen serta investor untuk lebih berani
lagi melakukan pembelian terhadap properti. Dengan demikian, para investor tidak merasa lagi takut
untuk melakukan pembelian properti.

Demikianlah uraian singkat seputar tax amnesty mulai dari pengertian, kebijakan hingga manfaat
dari tax amnesty.

Kelemahan Tax Amnesty

1. Dianggap mencederai asas keadilan

Tax amnesty dianggap mencederai keadilan bagi masyarakat yang selama ini patuh membayar pajak.
Apalagi pada tahun 1964 dan 1984, tax amnesty berjalan tidak efektif karena minimnya ketersediaan
data perpajakan. Tidak ada lengkapnya basis data perpajakan membuka kemungkinan petugas pajak
untuk mendeteksi kekayaan yang tak dilaporkan. Pengemplang pajak pun tak perlu khawatir akan
tertangkap. Terlebih, kekayaan yang tidak dilaporkan pada umumnya berada di luar negeri sehingga
benar-benar jauh dari jangkauan petugas pajak.

2. Tax amnesty dikhawatirkan tidak akan berjalan secara konsisten.

Banyak yang menilai jika kekurangan penerimaan pajak tidak hanya bisa diselesaikan dengan
kebijakan pengampunan pajak tersebut. Belum adanya kejelasan mengenai kewajiban bagi wajib
pajak untuk menempatkan kekayaannya di dalam negeri, besar kemungkinan individu-individu yang
meminta pengampunan pajak akan menyembunyikan kembali kekayaan mereka di luar negeri ketika
manfaattax amnesty tak lagi diberikan.

3. Tax Amnesty Hanya Beri "Karpet Merah" bagi Koruptor

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mengatakan, tax amnesty dalam RAPBNP
2016 bukan untuk kepentingan masyarakat. Ia menilai, tax amnesty hanya untuk kepentingan
pengusaha yang memiliki dana besar di luar negeri. Pengampunan pajak hanya akan menjadi karpet
merah untuk koruptor dan konglomerat yang mendapat keuntungan di Indonesia. Iya
menyampaikan, tax amnesty hanya dijadikan bahasa kampanye oleh politisi untuk memuluskan
proyek-proyek swasta.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kita tahu bahwa pembangunan nasional yang berlangsung secara terus-menerus dan
berkesinambungan selama ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Namun, untuk merealisasikan tujuan tersebut diperlukan suatu anggaran pembangunan
yang cukup besar. Salah satu usaha untuk mewujudkan peningkatan penerimaan untuk
pembangunan tersebut adalah dengan menggali sumber dana yang berasal dari dalam
negeri, yaitu pajak. Pajak merupakan sumber penerimaan yang dominan dalam struktur
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hampir 70 persen penerimaan
berasal dari sektor pajak. Karena itu untuk mencapai target penerimaan negara dari
sektor perpajakan dibutuhkan upaya-upaya yang nyata, serta mengimplementasikan
dalam bentuk kebijakan pemerintah. Salah satunya adalah tax amnesty atau
pengampunan pajak. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan subyek pajak
maupun obyek pajak.Subyek pajak dapat berupa kembalinya dana-dana yang berada di
luar negeri, sedangkan dari sisi obyek pajak berupa penambahan jumlah wajib pajak.
Sebenarnya Indonesia pernah menerapkan amnesti pajak pada 1984. Namun
pelaksanaannya tidak efektif karena wajib pajak kurang merespons dantidak diikuti
dengan reformasi sistem administrasi perpajakan secara menyeluruh.Pengampunan
pajak diharapkan menghasilkan penerimaan pajak yang selama ini belum atau kurang
bayar, disamping meningkatkan kepatuhan membayar pajak karena makin efektifnya
pengawasan, didukung semakin akuratnya informasi mengenai daftar kekayaan wajib
pajak.
1.2 Rumusan Masalah
1. Mengapa perlu dilakukan tax amnesty?
2. Bagaimana dampak tax amnesty bagi keberhasilan pembangunan nasional?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui tentang tax amnesty.
2. Mengetahui dampak tax amnesty bagi keberhasilan pembangunan nasional.

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah :
1. Bermanfaat sebagai suatu proses belajar untuk mengetahui tentang aspek
perpajakan dalam rangka Tax Amnesty.
2. Bermanfaat untuk Mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam penerapan
kebijakan Tax Amnesty di Indonesia.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pajak
Menurut UU No. 28 Tahun 2007 Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang
terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang
undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung.
2.2 Pengampunan Pajak (Tax Amnesty)
Menurut UU Tax Amnesty No 11 tahun 2016 Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) adalah
pengampunan atau pengurangan pajak terhadap property yang dimiliki oleh perusahaan
dalam bentuk penghapusan pajak terutang, penghapusan sanksi pajak terutang,
penghapusan sanksi pidana tertentu yang harus diharuskan membayar dengan uang
tebusan. Pengampunan pajak ini bukan hanya properti yang disimpan di luar negeri
tetapi juga berasal dari dalam negeri yang laporannya tidak diberikan secara benar.

2.3 Wajib Pajak


Menurut UU Tax Amnesty No 11 tahun 2016 wajib pajak adalah Wajib Pajak adalah
orang pribadi atau badan yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. Secara umum,
setiap wajib pajak yang belum menunaikan kewajiban perpajakannya diperbolehkan
untuk berpartisipasi dalam program tax amnesty. Artinya, program tax amnesty ini
ditujukan kepada wajib pajak yang telah berada dalam sistem administrasi perpajakan
dan wajib pajak yang belum masuk dalam sistem administrasi perpajakan. Perlakuan
yang berbeda dimungkinkan ketika wajib pajak yang hendak berpartisipasi dalam
program tax amnesty telah diperiksa atau sedang dalam proses pemeriksaan. Dalam hal
ini, wajib pajak yang telah diperiksa atau sedang dalam proses pemeriksaan tersebut
tidak diperbolehkan berpartisipasi dalam program tax amnesty karena jumlah tunggakan
pajaknya telah diketahui oleh otoritas pajak. Wajib pajak juga dapat diberikan
pengampunan jika ketentuan peraturan perundang-undangan menyatakan wajib pajak
yang mengungkapkan kewajiban perpajakan atau harta kekayaannya secara sukarela
berhak mendapatkan penurunan atau penghapusan sanksi administrasi.

2.4 Pembangunan
Pembangunan (development) adalah proses perubahan yang mencakup seluruh system
sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi,
kelembagaan, dan budaya (Alexander 1994).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Perlunya Tax Amnesty
3.1.1 Kelebihan Tax Amnesty
a. Sumber daya yang dimiliki pada instansi aparatur pajak saat ini sudah memadai
yang dapat mendukung diberlakukannya penerapan tax amnesty. Demikian juga
infrastruktur pendukung lainnya.
b. Bila kebijakan perpajakan seperti tax amnesty diterapkan maka akan menciptakan
kerelaan masyarakat untuk mendaftarkan diri menjadi Wajib Pajak dan menunaikan
kewajiban perpajakannya seperti yang dilakukan pemerintah sebelumnya dengan
sunset policy (kebijakan pemberian fasilitas perpajakan) maupun pemebebasan pajak
fiskal bagi warga negara Indonesia yang hendak bepergian ke luar negeri dengan syarat
memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.
c. Kondisi ekonomi nasional saat ini relatif stabil dengan rata-rata pertumbuhan
ekonomi di atas 5 persen. Hal ini dapat menjamin pemberlakuan tax amnesty.
d. Program ini dapat meningkatkan dana-dana masuk ke Indonesia yang cukup
banyak di simpan di luar negeri. Di samping itu, dana-dana yang selama ini diparkir di
luar negeri dapat kembali masuk ke tanah air bila pemerintah secepatnya menerapkan
pengampunan pajak.
e. Tax amnesty dapat berpengaruh positif bagi pasar uang pada Bursa Efek
Indonesia. Bila kebijakan ini diterapkan maka mempunyai potensi terjadi penambahan
emiten baru karena perusahaan-perusahaan tidak perlu khawatir atas permasalahan
pajak yang telah lewat. Karena masalah perpajakan merupakan salah satu faktor yang
dianggap memberatkan bagi calon emiten untuk mengubah status perushaaannya
menjadi perusahaan terbuka
f. pemerintah dapat mengkonsentrasikan atau memfokuskan pada upaya
pemberantasan korupsi. Demikian juga dengan diimplementasikan tax amnesty maka
asset recovery nya lebih mudah karena tidak perlu melakukan penyelidikan, penyidikan,
penuntutan dan proses hukum lainnya untuk mengambil asset koruptor. Asset recovery
adalah perbandingan antara jumlah kerugian negara yang didakwakan dengan
penyitaan asset atau pengembalian asset korupsi. Selama ini persentase asset recovery
masih relatif kecil. Persentase asset recovery dapat dijadikan acuan penentuan tarif tax
amnesty
3.1.2 Kekurangan Tax Amnesty
a. Tidak mempunyai payung hukum yang dapat menjadi landasan hukum
implementasi tax amnesty yang dapat memberikan aturan jelas. Hal ini akan menambah
keraguan bagi wajib pajak dan calon wajib pajak.Namun apabila implementasi tax
amnesty akan diterapkan maka berartiharus di buat terlebih dahulu peraturan
perpajakan (undang-undang)yang mengatur tentang hal itu. Hal in tentu saja akan
memakan waktu yang lebih lama karena tentu saja harus mendapat persetujuan dari
DPR (Dewan Pertimbangan Rakyat).
b. Dianggap mencederai asas keadilan
Tax amnesty dianggap mencederai keadilan bagi masyarakat yang selama ini patuh
membayar pajak. Apalagi pada tahun 1964 dan 1984, tax amnesty berjalan tidak efektif
karena minimnya ketersediaan data perpajakan. Tidak ada lengkapnya basis data
perpajakan membuka kemungkinan petugas pajak untuk mendeteksi kekayaan yang tak
dilaporkan. Pengemplang pajak pun tak perlu khawatir akan tertangkap. Terlebih,
kekayaan yang tidak dilaporkan pada umumnya berada di luar negeri sehingga benar-
benar jauh dari jangkauan petugas pajak.
c. Tax Amnesty dikhawatirkan tidak akan berjalan secara konsisten.
Banyak yang menilai jika kekurangan penerimaan pajak tidak hanya bisa diselesaikan
dengan kebijakan pengampunan pajak tersebut. Belum adanya kejelasan mengenai
kewajiban bagi wajib pajak untuk menempatkan kekayaannya di dalam negeri, besar
kemungkinan individu-individu yang meminta pengampunan pajak akan
menyembunyikan kembali kekayaan mereka di luar negeri ketika manfaattax amnesty
tak lagi diberikan.
d. Tax Amnesty Hanya Beri "Karpet Merah" bagi Koruptor
Tax Amnesty dalam RAPBNP 2016 dianggap sebagian orang bukan untuk kepentingan
masyarakat. Mereka menilai, tax amnesty hanya untuk kepentingan pengusaha yang
memiliki dana besar di luar negeri. Pengampunan pajak hanya akan menjadi karpet
merah untuk koruptor dan konglomerat yang mendapat keuntungan di Indonesia.
Menurut mereka, tax amnesty hanya dijadikan bahasa kampanye oleh politisi untuk
memuluskan proyek-proyek swasta.
3.1.3 Peluang dan Tantangan Implementasi Tax Amnesty di Indonesia
Ada beberapa langkah yang ditempuh pemerintah Indonesia khususnya Direktorat
Jenderal Pajak guna meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak, antara lain
melaksanakan program Sensus Pajak Nasional. Selain itu melakukan penyempurnaan
peraturan untuk menangani tindakan penghindaran pajak (tax avoidance), tindakan
penggelapan pajak melalui transfer pricing, dan pengenaan pajak final. Selain itu salah
satu bentuk upaya atau inovasi lain dalam system perpajakan yang berguna
meningkatkan penerimaan pajak tanpa menambah beban baik jenis pajak baru maupun
persentase pajak yang sudah ada kepada masyarakat, dunia usaha dan para pekerja
adalah melalui program tax amnesty. Salah satu tujuan pengampunan pajak ini
diharapkan dapat mengurangi citra negatif pada aparat perpajakan yang selalu
dipersepsikan selalu bersikap sewenang-wenang dan harus selalu dihindari, berubah
menjadi hubungan yang lebih friendly. Pada dasarnya inovasi atau upaya ini dapat
diterapkan di Indonesia. Keunggulan yang diharapkan bila kebijakan tax amnesty
diimplementasikan yaitu akan dapat mendorong masuknya dana-danadari luar negeri
yang dalam jangka panjang dapat digunakan sebagai pendorong investasi yang pada
gilirannya bermanfaat untuk menstimulasi perekonomian nasional.
Di sisi lain kelemahannya bila diterapkan pengampunan pajak adalah tidak serta merta
menjamin peningkatan kinerja setoran pajak ke kas negara. Hal ini bisa sebaliknya
berpotensi terjadinya penyelewengan,manipulasi dan tindakan moral hazard lainnya.
Para pengusaha yang memperoleh pemutihan pajak akan melakukan penggelapan
kewajiban pajaknya. Kecuali bila diberlakukan pengampunan pajak bersyarat.Contohnya
pengampunan pajak bersyarat, wajib pajak harus transparan terhadap aset-aset dan
penghasilan mereka. Hal ini guna menghindari kekeliruan yang sama tahun 1984 tidak
terulang kembali yaitu minimnya akses informasi terhadap masyarakat dan minimnya
keterbukaan/transparansi serta sosialisasi kebijakan ini.

3.2 Peran Tax Amnesti Untuk Pembangunan Nasional


3.2.1 Tax Amnesty Bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)
Seperti yang sudah kita ketahui, Tax Amnesty atau pengampunan pajak juga berlaku
untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yaitu pelaku usaha yang beromzet sampai
dengan Rp 4,8 miliar pada tahun pajak terakhir. Dan tarif yang diberlakukan untuk
UMKM ini berbeda dengan pelaku usaha yang mempunyai omzet lebih dari 4,8 miliar.
Seperti yang dinyatakan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 118/PMK.03/2016
pada pasal 11 ayat (1) dan (2) Wajib Pajak yang memiliki kriterian sebagai UMKM
adalah yang memiliki peredaran usaha hanya bersumber dari penghasilan atas kegiatan
usaha dan tidak menerima penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan/atau
pekerjaan bebas. Pekerjaan Bebas yang dimaksud merupakan pekerjaan yang
dilakukan oelh orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk
memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja, antara lain
dokter, notaries, akuntan, arsitek atau pengacara.
Tarif untuk kategori UMKM ini dapat kita bagi dua, kategori pertama yaitu UMKM Bagi
pelaku usaha yang melaporkan harta dengan nilai harta sampai dengan Rp 10 miliar
maka akan dikenakan tarif tebusan pajak sebesar 0,5%.
Kategori kedua, bagi pelaku UMKM yang melaporkan harta lebih dari Rp 10 miliar akan
dikenakan tarif tebusan 2%. Dan tarif yang diperlakukan untuk UMKM ini berlaku sejak
awal sampai berakhirnya Tax Amnesty yaitu 31 Maret 2017 tidak seperti tarif yang
diperuntukan kepada pengusaha yang memiliki omzet lebih dari 4,8 miliar. Hal ini diatur
dalam Undang-undang Pengampunan Pajak Nomor 11 Tahun 2016 di dalam pasal 4
ayat (3). Ketentuan tarif ini dibuat guna membantu UMKM yang ingin memanfaatkan Tax
Amnesty.
Untuk persyaratan Tax Amnesty itu sendiri diatur di dalam Undang-undang
Pengampunan Pajak Nomor 11 tahun 2016 pasal 9 ayat (5) dinyatakan bahwa Bagi
Wajib Pajak yang peredaran usahanya sampai dengan Rp4.800.000.000,00 (empat
miliar delapan ratus juta rupiah) pada Tahun Pajak Terakhir, yang ingin memanfaatkan
Tax Amnesty ini harus melampirkan bukti pembayaran Uang Tebusan, bukti pelunasan
Tunggakan Pajak bagi Wajib Pajak yang memiliki Tunggakan Pajak, daftar rincian Harta
beserta informasi kepemilikan Harta yang dilaporkan, daftar Utang serta dokumen
pendukung, bukti pelunasan pajak yang tidak atau kurang dibayar atau pajak yang
seharusnya tidak dikembalikan bagi Wajib Pajak yang sedang dilakukan pemeriksaan
bukti permulaan atau penyidikan, fotokopi SPT PPh Terakhir, dan Wajib Pajak harus
melampirkan surat pernyataan tidak mengalihkan Harta ke luar wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia paling singkat selama jangka waktu 3 (tiga) tahun
terhitung sejak diterbitkannya Surat Keterangan, selain melampirkan dokumen tersebut,
Wajib Pajak dimaksud harus melampirkan surat pernyataan mengenai besaran
peredaran usaha.
3.2.1 Hubungan Amnesti Pajak dengan Pembangunan
Hampir dalam setiap proyek pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah selalu di
dengungkan bahwa proyek yang dibangun dibiayai dari dana pajak yang telah
dikumpulkan dari masyarakat. Untuk itu, diharapkan masyarakat juga menjaga proyek
yang ada untuk dapat dipakai untuk kepentingan bersama. Berkaitan dengan hal
tersebut sudah selayaknya apabila setiap individu dalam masyarakat dapat memahami
dan mengerti akan arti dan pentingnya peran pajak dalamm kehidupan sehari hari.
Sebagaimana diketahui dalam APBN yang dibuat oleh pemerintah terdapat tiga sumber
penerimaan yang menjadi pokok andalan :
a. Penerimaan dari sektor pajak
b. Penerimaan dari sektor migas (Minyak dan Gas Bumi) ; dan
c. Penerimaan dari sektor bukan pajak.
Dari ketiga sumber penerimaan diatas, penerimaan dari sektor pajak ternyata
merupakan sumber penerimaan terbesar negara. Dari tahun ke tahun kita dapat melihat
bahwa penerimaan pajak terus meningkat dan memberi adil yang besar dalam
penerimaan negara. Penerimaan dari sektor pajak selalu dikatakan merupakan
primadona dalam membiayai pembangunan Nasional. Sedangkan penerimaan dari
migas yang dahulu selalu jadi andalan penerimaan negara, sekarang ini sudah tidak
bisa diharapkan menjadi sumber penerimaan keuangan negara yang terus menerus
karena sifatnya yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resources). Penerimaan
migas pada suatu waktu akan habis sedangkan dari pajak selalu dapat diperbaharui
sesuai dengan perkembangan ekonomi dan masyarakat itu sendiri.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Tax Amnesty atau pengampunan pajak merupakan pengampunan atau pengurangan
pajak terhadap property yang dimiliki oleh perusahaan dalam bentuk penghapusan
pajak terutang, penghapusan sanksi pajak terutang, penghapusan sanksi pidana
tertentu yang harus diharuskan membayar dengan uang tebusan. Amnesti pajak
sebelumnya pernah diterapkan pada tahun 1984 serta tahun 2004, namun pada saat itu
gagal. Pada tax amnesty kali ini terdapat kebijakan amnesti yang berbeda yaitu dibagi
dalam 3 periode.
Adapun kelebihan Tax Amnesty, yaitu: sumber daya yang dimiliki pada instansi aparatur
pajak saat ini sudah memadai yang dapat mendukung diberlakukannya penerapan tax
amnesty. Kedua, menciptakan kerelaan masyarakat untuk mendaftarkan diri dan
menunaikan kewajiban perpajakannya. Ketiga, pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen
dapat menjamin pemberlakuan tax amnesty. Keempat, meningkatkan dana masuk ke
Indonesia yang cukup banyak di simpan di luar negeri. Kelima, berpengaruh positif bagi
pasar uang pada bursa efek indonesia. Kekurangan Tax Amnesty, yaitu : tidak
mempunyai payung hukum yang dapat menjadi landasan hukum implementasi tax
amnesty. Dianggap mencederai asas keadilan. Dikhawatirkan tidak akan berjalan secara
konsisten. Dan yang terakhir ialah tax amnesty hanya beri celah bagi Koruptor.

4.2 Saran
Penerapan tax amnesty Indonesia saat ini semestinya lebih ditingkatkan keseriusannya
demi menghindari kegagalan seperti yg terjadi pada 2 periode sebelumnya. Sebaiknya,
penerapan amnesty ini lebih dimatangkan lagi dengan diciptakannya payung hukum
yang tegas demi mengurangi peluang korupsi.
BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Salah satu hal yang sedang menjadi perbincangan ditengah masyarakat


Indonesia tahun 2016 ini adalah penerapan kebijakan tax amnesty
(pengampunan pajak) setelah pengesahan Undang-Undang (UU) Nomor 11
Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak. Pengampunan pajak diharapkan
menghasilkan penerimaan pajak yang selama ini belum atau kurang bayar,
disamping meningkatkan kepatuhan membayar pajak karena makin efektifnya
pengawasan, didukung semakin akuratnya informasi mengenai daftar kekayaan
wajib pajak. Dengan kata lain kebijakan ini juga diharapkan dapat meningkatkan
subyek pajak maupun obyek pajak. Subyek pajak dapat berupa kembalinya
dana-dana yang berada di luar negeri, sedangkan dari sisi obyek pajak berupa
penambahan jumlah wajib pajak. Indonesia pernah menerapkan amnesty pajak
pada 1984. Namun pelaksanaannya tidak efektif karena wajib pajak kurang
merespon dan tidak diikuti dengan reformasi sistem administrasi perpajakan
secara menyeluruh.

Dalam penerapannya kebijakan ini menjadi hal yang menimbulkan pro dan
kontra ditengah masyarakat. Tidak hanya hanya pengusaha, akan tetapi
sejumlah pihak mempertanyakan dampak dari tax amnesty ini. Salah satu
dampak yang menjadi perbincangan hangat adalah dampak tax amnesty
terhadap peningkatan investasi di Indonesia. Hal ini menjadi sangat penting
karena investasi menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan
ekonomi negara.

Rumusan masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas maka permasalahan


yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :

Bagaimana pengaruh Tax Amnesty terhadap pertumbuhan investasi di


Indonesia ?

Tujuan penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah


Mengetahui pengaruh Tax Amnesty terhadap pertumbuhan investasi di
Indonesia.

Manfaat penulisan

Manfaat penulisan makalah ini adalah :

Mengkaji lebih jauh tentang Tax Amnesty.

Memberikan informasi kepada masyarakat tentang dampak Tax Amnesty.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian teori

Pajak

Definisi

Defenisi pajak menurut Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang


perubahan keempat atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan pada Pasal 1 ayat 1 berbunyi pajak
adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh pribadi atau badan
yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Terdapat bermacam-macam batasan
atau definisi tentang pajak yang dikemukakan oleh para ahli di antaranya
adalah:

Menurut Charles E.McLure, pajak adalah kewajiban finansial atau retribusi yang
dikenakan terhadap wajib pajak (orang pribadi atau Badan) oleh Negara atau
institusi yang fungsinya setara dengan negara yang digunakan untuk membiayai
berbagai macam pengeluaran publik. [Charles E. McLure, Jr Taxation.
Britannica]
Menurut Leroy Beaulieu, pajak adalah bantuan, baik secara langsung maupun
tidak yang dipaksakan oleh kekuasaan publik dari penduduk atau dari barang,
untuk menutup belanja pemerintah. [Leroy-Beaulieu, Paul (1989). Traite de la
Science des Finances (dalam bahasa Perancis) 1. Paris: Guillaumin et de]

Menurut P. J. A. Adriani, pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang


dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut
peraturan-peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi
kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk
membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk
menyelenggarakan pemerintahan. [Adriani, P.J.A (1949). Het belastingrecht: zjin
grondslagen en ontwikkeling (dalam bahasa Belanda). Amsterdam: Veen]

Berdasarkan Definisi diatas, penulis menyimpulkan bahwa pajak merupakan


retribusi (iuran) masyarakat yang sifatnya dapat memaksa, yang bertujuan agar
pemerintahan dapat menjalankan tugas dan kewajibannya serta mengisi kas
negara untuk kesejahteraan masyarakat.

Unsur Pajak

Dari berbagai definisi yang diberikan terhadap pajak, baik pengertian secara
ekonomis (pajak sebagai pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor
pemerintah) atau pengertian secara yuridis (pajak adalah iuran yang dapat
dipaksakan) dapat ditarik kesimpulan tentang unsur-unsur yang terdapat pada
pengertian pajak, antara lain sebagai berikut:

Pajak dipungut berdasarkan undang-undang. Asas ini sesuai dengan perubahan


ketiga UUD 1945 pasal 23A yang menyatakan, pajak dan pungutan lain yang
bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dalam undang-undang.

Tidak mendapatkan jasa timbal balik (kontraprestasi perseorangan) yang dapat


ditunjukkan secara langsung. Misalnya, orang yang taat membayar pajak
kendaraan bermotor akan melalui jalan yang sama kualitasnya dengan orang
yang tidak membayar pajak kendaraan bermotor.

Pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah


dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin maupun
pembangunan.

Pemungutan pajak dapat dipaksakan. Pajak dapat dipaksakan apabila wajib pajak
tidak memenuhi kewajiban perpajakan dan dapat dikenakan sanksi sesuai
peraturan perundang-undangan.
Selain fungsi budgeter (anggaran) yaitu fungsi mengisi Kas Negara/Anggaran
Negara yang diperlukan untuk menutup pembiayaan penyelenggaraan
pemerintahan, pajak juga berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau
melaksanakan kebijakan negara dalam lapangan ekonomi dan sosial (fungsi
mengatur / regulatif).

Penggolongan Pajak

Pajak Negara

Pajak Negara sering disebut juga sebagai pajak pusat yaitu pajak yang dipungut
oleh Pemerintah Pusat yang terdiri atas:

Pajak Penghasilan

Diatur dalam UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan yang diubah
terakhir kali dengan UU No. 36 Tahun 2008.

Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah

Diatur dalam UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah yang diubah terakhir kali dengan UU No. 42 Tahun
2009

Bea Materai

UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai

Bea Masuk

UU No. 10 Tahun 1995 jo. UU No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan

Cukai

UU No. 11 Tahun 1995 jo. UU No. 39 Tahun 2007 tentang Cukai

2) Pajak Daerah

Sesuai UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, berikut
jenis-jenis Pajak Daerah:
Pajak Provinsi terdiri atas:

Pajak Kendaraan Bermotor;

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;

Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

Pajak Air Permukaan; dan

Pajak Rokok.

Pajak Kabupaten/Kota terdiri atas:

Pajak Hotel;

Pajak Restoran;

Pajak Hiburan;

Pajak Reklame;

Pajak Penerangan Jalan;

Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;

Pajak Parkir;

Pajak Air Tanah;

Pajak Sarang Burung Walet;

Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Pengampunan pajak (Tax Amnesty)

Definisi

Berdasarkan Undang-Undang No 11 Tahun 2016, Pengampunan Pajak adalah


penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi
perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkap
Harta dan membayar Uang Tebusan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
ini.

Berdasarkan definisi diatas, selain memberikan pengampunan untuk sanksi


administrasi, tax amnesty juga dimaksudkan untuk menghapuskan sanksi
pidana, serta tax amnesty juga dapat diberikan kepada pelaporan sukarela data
kekayaan wajib pajak yang tidak dilaporkan pada masa sebelumnya tanpa harus
membayar pajak yang mungkin belum dibayarkan.

Tujuan Tax Amnesty

Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang No 11 Tahun 2016 tentang


Pengampunan Pajak bahwa pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa
tahun terakhir cenderung mengalami perlambatan yang berdampak pada
turunnya penerimaan pajak dan juga telah mengurangi ketersediaan likuiditas
dalam negeri yang sangat diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Di sisi lain, banyak Harta warga negara Indonesia yang
ditempatkan di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik dalam
bentuk likuid maupun nonlikuid, yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk
menambah likuiditas dalam negeri yang dapat mendorong pertumbuhan
ekonomi nasional.

Namun tidak semua harta tersebut telah dilaporkan di dalam SPT Tahunan oleh
pemiliknya, bahkan mungkin banyak yang belum terungkap. Apabila harta yang
belum diungkapkan tersebut pada akhirnya di laporkan dalam SPT Tahunan atau
terungkap oleh Direktorat Jenderal Pajak maka berdasarkan ketentuan
perpajakan secara umum atas harta tersebut dapat dikenai PPh atau PPN kurang
bayar atau dapat ditagih kembali pajak-pajaknya. Atas konsekuensi adanya pajak
yang masih haus dibayar inilah yang menjadikan mereka tidak mau
mengungkapkan hartanya yang ada di luar negeri dengan sukarela.

Untuk menjembatani antara kepentingan pemerintah dengan pemilik harta yang


ada di luar negeri agar mau mengungkapkan hartanya atau menarik hartanya ke
dalam negeri, maka diterbitkan peraturan tentang pengampunan pajak atau Tax
Amnesty. Dengan begitu terdapat win-win solutioin antara negara dengan
pemilik harta di luar negeri yang mana negara akan diuntungkan dengan adanya
dan yang masuk dari uang tebusan maupun dana repatriasi (dana yang ditarik
untuk diinvestasikan di dalam negeri) serta membantu pertumbuhan ekonomi
karena dari dana yang diinvestasikan di Indonesia juga nantinya akan dipungut
pajak yang berlaku, sedangkan pemilik harta mendapat keuntungan yang sama
besarnya dari sisi besarnya uang tebusan yang lebih kecil dibanding pajak yang
seharusnya terutang apabila dihitung dengan ketentuan perpajakan secara
umum.

Namun demikian Tax Amnesty ini ditujukan tidak hanya kepada Warga Negara
Indonesia yang memiliki harta atau aset di luar negeri saja. Bagi Wajib Pajak
dalam negeri juga boleh untuk mengikuti program Tax Amnesty ini apabila masih
ada harta atau aset yang belum di laporkan dalam SPT Tahunannya sehingga
tetap terdapat unsur keadilan.

Oleh karena itu tujuan dari Tax Amnesty berdasarkan Undang-undang nomor 11
Tahun 2016 adalah sebagai berikut:

mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan


Harta, yang antara lain akan berdampak terhadap peningkatan likuiditas
domestik, perbaikan nilai tukar Rupiah, penurunan suku bunga, dan peningkatan
investasi;

mendorong reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih


berkeadilan serta perluasan basis data perpajakan yang lebih valid,
komprehensif, dan terintegrasi; dan

meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain akan digunakan untuk


pembiayaan pembangunan.

Tax Amnesty (pengampunan pajak) tetap berpegang teguh berdasarkan asas :

Kepastian hukum, yaitu pelaksanaan pengampunan pajak harus dapat


mewujudkan ketertiban dalam masyarakat melalui kepastian hukum.

Keadilan, yaitu pengampunan pajak menjunjung tinggi keseimbangan hak dan


kewajiban dari setiap pihak yang telibat.

Kemanfaatan, yaitu seluruh pengaturan kebijakan pengampunan pajak


bermanfaat bagi kepentingan negara,bangsa dan masyarakat, khususnya dalam
memajukan kesejahteraan umum.

Kepentingan nasional, yaitu pelaksanaan pengampunan pajak kepentingan


bangsa,negara dan masyarakat di atas kepentingan lainnya.

Tarif Tax Amnesty

Sebagaimana yang tertuang dalam pasal 4 UU No 11 Tahun 2016 ,

Tarif uang tebusan atau harta yang berada di dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia atau Harta yang berada di luar wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang dialihkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan diinvestasikan dalam jangka waktu paling singkat 3 tahun
terhitung sejak dialihkan, adalah sebesar :
2% (dua persen) untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada bulan
pertama sampai dengan akhir bulan ketiga terhitung sejak Undang-Undang ini
mulai berlaku.

3% (tiga persen) untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada bulan


keempat terhitung sejak Undang-Undang ini mulai belaku sampai dengan
tanggal31 Desember 2016.

5% (lima persen) untuk periode penyampaian surat Pernyataan terhitung sejak


tangggal 1 Januari 2017 sampai dengan tanggal 31 Maret 2017.

Tarif uang tebusan atas harta yang berada di luar wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesiadan tidak dialihkan ke dalam Wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia adalah sebesar :

4% (empat persen) untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada bulan


pertama sampai dengan akhir bulan ketiga terhitung sejak Undang-Undang ini
mulai berlaku.

6% (enam persen) untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada bulan


keempat terhitung sejak Undang-Undang ini mulai belaku sampai dengan
tanggal 31 Desember 2016;dan

10% (sepuluh persen) untuk periode penyampaian Surat Pernyataan terhitung


sejak tanggal 1 Januari 2017 sampai dengan 31 Maret 2017.

(3) Tarif uang tebusan bagi wajib pajak yang peredaran usahanya sampai
dengan Rp 4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) pada
tahun pajak terakhir adalah sebesar :

0,5% (nol koma lima persen) bagi wajib pajak yang mengungkapkan nilai harta
sampai dengan Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dalam Surat
Pernyataan; atau

2% (dua persen) bagi wajib pajak yang mengungkapkan nilai harta lebih dari Rp
10.000.000.000,00 (sepuluh miliar) dalam Surat Pernyataan,

Untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada bulan pertama sejak


Undang-Undang ini mulai berlaku sampai dengan tanggal 31 Maret 2017.

Periode Tax Amnesty

Amnesti Pajak terbagi kedalam 3 (tiga) periode, yaitu:

Periode I: Dari tanggal 18 Juli s.d 30 September 2016

Periode II: Dari tanggal 1 Oktober 2016 s.d 31 Desember 2016


Periode III: Dari tanggal 1 Januari 2017 s.d 31 Maret 2017

BAB III

PEMBAHASAN

Pembahasan

Dampak Tax Amnesty terhadap investasi di Indonesia

Setelah berakhirnya periode I Tax Amnesty pada 30 September 2016 yang lalu,
dan dilanjutkan periode II tanggal 01 Oktober 2016 pemerintah mempublikasikan
hasil jumlah dana repatriasi Tax Amnesty. Berdasarkan data dashboard Direktorat
Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan Jakarta, Sabtu 8 Oktober 2016
pada pukul 10.30 WIB, nilai pernyataan harta berdasarkan Surat Pernyataan
Harta (SPH) telah mencapai Rp 3.811 triliun. Jika dirinci, sebanyak Rp 2.690
triliun merupakan deklarasi dalam negeri. Kemudian, sebanyak RP 979 triliun
berupa deklarasi luar negeri dan sisanya Rp 142 triliun merupakan dana
repatriasi. Hal ini tidak terlepas dari regulasi Tax Amnesty yang tentunya tidak
memberatkan para pengusaha. Tarif Tax Amnesty yang terbilang kecil yakni 2%
pada periode pertama, 3% pada periode kedua, dan 5% pada periode ketiga
membuat pengusaha berbondong-bondong untuk mendaftar Tax Amnesty.

Salah satu tujuan kebijakan tax amesty adalah target pemerintah untuk bisa
menarik sekitar Rp1.000 triliun dari Rp 3.000-Rp 4.000 triliun dana yang terparkir
di luar negeri . McKinsey menyebut ada Rp2.000 triliun uang tunai dan Rp2.000
triliun berupa aset warga Indonesia tersimpan di Singapura. Belum lagi dana
parkir orang Indonesia ditenggarai banyak tersebar di Macau, Hong Kong,
Luxemburg, Swiss, dan Kepulauan Cayman.

Banyaknya dana dan aset warga negara Indonesia yang berada di luar negeri
dan tidak terdaftar di Direktorat Jendral Pajak tentu sangat merugikan
perekonomian negara. Pajak yang harusnya bisa digunakan untuk membangun
perekonomian negara tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Menurut Gubernur BI Agus Martowardojo akan ada peningkatan pertumbuhan


ekonomi Indonesia di tahun ini menjadi 5,30 persen dari perkiraan awal 5,04
persen, serta akan terus meningkat hingga 5,70 persen di tahun 2017
mendatang dengan diberlakukannya tax amnesty di Indonesia. Di sisi lain,
pertumbuhan ekonomi semakin bagus ini jelas akan memicu aliran-aliran dana
asing untuk masuk kembali ke Indonesia terutama melalui stock market. Hal ini
bisa dilihat dari dengan adanya respon positif yang terus mendorong kenaikan
IHSG setelah pengesahan RUU tersebut diberlakukan.

Selain itu, beberapa sektor seperti properti, ritel dan consumer goods juga akan
diuntungkan dengan diberlakukannya tax amnesty ini. Kemudian juga diikuti
dengan sektor Mining seiring dengan melonjak nya harga minyak dan Komoditas
di pasar internasional.

Walaupun demikian, masih terdapat saham-saham yang memiliki potensi besar


sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi di pasar saham
hingga akhir tahun 2016. Fenomena ini merupakan kesempatan langka yang
tidak boleh disia-siakan baik bagi para investor maupun calon investor yang
berminat investasi ke pasar modal. Dengan bertambahnya investor yang
menanamkan modalnya di Indonesia maka akan membuat pertumbuhan
ekonomi membaik. Kepercayaan investor tentunya akan terus meningkat seiring
dengan berhasilnya program Tax Amnesty .

Tax amnesty membuat para investor yang selama ini tidak menginvestasikan
sebagian besar hartanya karena menghindari nilai pajak yang besar akan
menambah nilai investasinya. Bila dirunut, investor yang memiliki kekayaan
dalam bentuk properti dan belum dilaporkan menjadi tenang karena asetnya
bisa diampuni dari sanksi dan denda pajak. Dengan begitu, investor dapat
menambah properti sehingga permintaan meningkat.Kenaikan permintaan
properti ini memberikan efek ganda. Sebab, konsumsi semen, baja, atau alat
bangunan lainnya akan meningkat. Dampak lanjutannya, permintaan di sektor
lain pun terdongkrak sehingga mendorong investasi. Efek positif terhadap
kenaikan investasi bisa terjadi tiga bulan setelah tax amnesty diterapkan atau
pada Oktober.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan fakta-fakta yang telah dibahas pada bab sebelumnya, diketahui


bahwa kebijakan Tax Amnesty telah mendorong para investor untuk menarik
dana yang dimilikinya di luar negeri untuk diinvestasikan di dalam negeri. Selain
itu para investor yang memiliki dana di dalam negeri juga ikut mendeklarasikan
hartanya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Tax Amnesty memberikan
pengaruh bagi pertumbuhan investasi di Indonesia.

4.2 Saran

Melihat besarnya potensi Tax Amnesty untuk memberikan angin segar bagi
perekonomian Indonesia, maka pemerintah perlu dilakukan penyempurnaan
regulasi yang tentunya lebih memudahkan masyarakat untuk mendaftar
program ini.