Anda di halaman 1dari 2

Jenis-jenis pembelanjaan negara terdiri atas pengeluaran rutin dan pengeluaran

pembangunan. Pengeluaran rutin adalah semua pengeluaran negara untuk


membiayai tugas-tugas umum pemerintah dan kegiatan operasional pemerintah
pusat, pembayaran bunga atas utang dalam negeri dan utang luar negeri,
pembayaran subsidi, dan pengeluaran rutin lainnya. Pengeluaran pembangunan
adalah semua pengeluaran negara untuk membiayai proyek-proyek
pembangunan yang dibebankan pada anggaran belanja pemerintah pusat.
Belanja negara adalah semua pengeluaran negara untuk membiayai belanja
pemerintah pusat dan daerah. Belanja pemerintah pusat adalah semua
pengeluaran negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan pengeluaran
pembangunan.
Jika ditinjau menurut sifatnya, belanja atau pengeluaran tersebut dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.
1) Belanja yang bersifat ekskausif, yaitu belanja untuk membeli barang atau
jasa yang langsung dikonsumsi atau dapat menghasilkan barang lain.
Misalnya, penyediaan vaksin untuk imunisasi (langsung dikonsumsi),
pembelian pesawat atau kapal terbang (dapat menghasilkan pendapatan
untuk memperoleh barang lain).
2) Belanja yang bersifat transfer, yaitu belanja untuk kegiatan-kegiatan sosial
yang tidak produktif. Misalnya, sumbangan untuk korban bencana alam,
subsidi, bea siswa, dan lain-lain.

UUD 1945 Pasal 23 Ayat (2) berbunyi Rancangan undang-undang anggaran


pendapatan dan belanja negara diajukan oleh presiden untuk dibahas bersama
Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan
Perwakilan Daerah.

6. Dampak APBN terhadap Perekonomian


Keberadaan APBN mempunyai dampak (pengaruh) besar terhadap perekonomian.
Tanpa adanya APBN, negara tidak memiliki pedoman dalam melaksanakan seluruh
kegiatannya, termasuk dalam melaksanakan pembangunan ekonomi, serta tidak
memiliki alat (sarana) yang tepat untuk memperbaiki perekonomian. Secara rinci,
dampak atau pengaruh APBN terhadap perekonomian adalah sebagai berikut:
a. APBN memberi pedoman bagi kegiatan pembangunan ekonomi.
Misalnya, jika dalam APBN prioritas pembangunan ditujukan pada bidang
industri maka pemerintah tentu akan lebih banyak melakukan pembangunan
di bidang industri.
b. APBN dapat digunakan sebagai alat perbaikan perekonomian.
Apabila negara mengalami gejala ekonomi yang buruk, APBN dapat
digunakan sebagai alat untuk memperbaiki perekonomian. Contohnya, pada
tahun 1982, Indonesia melihat harga BBM dunia terus menurun. Menurunnya
harga BBM adalah pertanda buruk bagi Indonesia, karena Indonesia sangat
menggantungkan penerimaan pada sektor migas. Untuk memperbaiki
keadaan tersebut, pada penyusunan APBN selanjutnya, pemerintah berusaha
keras meningkatkan penerimaan dari sektor nonmigas, misalnya
meningkatkan penerimaan sektor pajak. Penerimaan sektor pajak dapat
ditingkatkan di antaranya dengan cara memperbaiki sistem pemungutan
pajak di Indonesia. Kini terbukti, pajak menjadi sektor andalan bagi
penerimaan negara (70% lebih penerimaan Indonesia diperoleh dari sektor
pajak). Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa APBN dapat digunakan
sebagai alat untuk memperbaiki perekonomian.
c. APBN dapat memengaruhi perubahan harga secara keseluruhan.
Jika dalam penyusunan APBN pemerintah menurunkan atau menghilangkan
subsidi BBM, berarti harga BBM akan naik. Kenaikan harga BBM akan diikuti
dengan kenaikan harga barang dan jasa lain yang banyak dibutuhkan
masyarakat. Itu berarti, APBN dapat memengaruhi perubahan harga secara
keseluruhan.
d. APBN dapat memengaruhi tingkat produktivitas perusahaan.
Misalnya, untuk meningkatkan penerimaan negara, pemerintah menaikkan
tarif pajak ekspor. Kenaikan tersebut akan memengaruhi sikap para eksportir.
Jika tarif pajak ekspor dianggap terlalu tinggi maka bisa menurunkan
produktivitas para eksportir. Akibatnya, jumlah ekspor menjadi menurun.
Sebaliknya, jika pemerintah menurunkan tarif pajak ekspor, para eksportir
justru akan lebih meningkatkan ekspornya.
e. APBN dapat memengaruhi tingkat pemerataan distribusi pendapatan.
Distribusi pendapatan yang tidak merata dan tidak adil bisa menimbulkan
kecemburuan sosial. Kecemburuan sosial yang tinggi suatu saat bisa meledak
dan menimbulkan kerusuhan seperti perusakan dan pembakaran. Perusakan
dan pembakaran akan memengaruhi kinerja perekonomian nasional. Dalam
hal ini, APBN bisa digunakan sebagai alat untuk memengaruhi tingkat
pemerataan distribusi pendapatan, misalnya dengan melakukan kebijakan
subsidi, baik subsidi BBM atau subsidi non-BBM. Subsidi tersebut diberikan
bagi pihak yang membutuhkan. Saat ini, subsidi BBM diberikan kepada
masyarakat berpenghasilan rendah dalam bentuk pemberian Raskin (beras
untuk rakyat miskin), penyediaan fasilitas kesehatan dan pendidikan. Selain
subsidi, pemerintah juga bisa menggunakan pajak untuk memengaruhi
tingkat pemerataan distribusi pendapatan.