Anda di halaman 1dari 28

MANFAAT KEBIJAKAN TAX AMNESTY DI INDONESIA

TUGAS

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti mata kuliah Hukum Pajak

OLEH:

Nama : TINTIN DEWANTINI


NPM : 4301.15.196
Program Studi : Ilmu Hukum
Kelas : E (Khusus)

DOSEN:

HJ. INA BUDHIARTI SUPYAN, S.H.,M.KN

SEKOLAH TINGGI HUKUM BANDUNG

2016
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap rasa syukur Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT

yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah serta karunianya kepada

penulis dalam membimbing penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan

makalah dengan judul Menimbang Manfaat Kebijakan Tax amnesty Di

Indonesia. Tugas ini diajukan untuk memenuhi mata kuliah Hukum Pajak.

Dalam hal ini penulis sangat menyadari atas keterbatasan kemampuan

yang dimiliki, sehingga penulis jugamenyadari bahwa penyusunan makalah ini

masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis

mengharapkan kritik dan saran guna memperbaiki dan mengoreksi atas

kekurangan yang ada sehingga mencapai hasil yang lebih baik.

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih serta doa semoga Allah

SWT membalas amal budi bapak, ibi, dan saudara-saudara berikan dan semoga

tugas makalah ini berguna bagi pembaca. Amin Ya Robbal Alamiin

Bandung, November 2016

Tintin Dewantini

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1

A. Latar Belakang .............................................................................................1

B. Identifikasi Masalah .....................................................................................6

C. Maksud dan Tujuan ......................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................2

A. Pengertian Tax Amnesty ..............................................................................3

B. Tax Amnesty Menurut Para Ahli ...................................................................

C. Tujuan Tax Amnesty ......................................................................................

D. Prosedur dan Mekanisme Ikut Program Tax amnesty .................................6

E. Tujuan Tax amnesty .....................................................................................1

F. Objek Dan Keuntungan Mengikuti Tax Amesty .........................................2

G. Mitos Dan Fakta Tax amnesty .......................................................................

H. Sanksi Tax amnesty......................................................................................4

I. Kekurangan dan Kelebihan Tax amnesty ....................................................5

BAB III PENUTUP .................................................................................................6

A. Simpulan ......................................................................................................5

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan di Indonesia sangatlah penting untuk mensejahterakan

masyarakat. Dalam pembangunan, tidak akan tercapai apabila tidak ada kerja

sama antara pemerintah dan masyarakat, hal ini ditujukan agar pembangunan

tersebut berjalan sesuai dengan keinginan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Disamping itu ada hal yang sangat berpengaruh terhadap pembangunan yaitu dana

atau biaya untuk pembangunan itu sendiri. Salah satu sumber dana yang paling

besar adalah dari pajak. Pajak adalah suatu sumber penerimaan dalam negeri yang

sangat dominan, artinya jika pajak tidak berjalan secara optimal maka akan

mengganggu pembangunan di Indonesia. Oleh karena itu diadakanlah langkah-

langkah pengupayaan peningkatannya itu diantaranya adalah melalui

pembaharuan sikap dan perilaku petugas yang harus profesional dan transparan,

pengabdian yang tinggi dan penyempurnaan peraturan/perundang-undangan

pajak. Pembaharuan perundang-undangan pajak antara lain diberlakukannya

Undang-Undang tahun 1984 yang menganut sistem Self Assessment. Sistem Self

Assessment memberikan peran yang lebih positif kepada masyarakat khususnya

Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Wajib Pajak dipercaya

penuh untuk menghitung, menyetor dan melaporkan kewajibannya.

Meski diwarnai dengan kontroversi dan perdebatan alot, akhirnya sidang

paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) mengesahkan

1
Rancangan Undang-Undang Pengampunan Pajak menjadi UU Pengampunan

Pajak.

Dalam banyak kesempatan, Menteri Keuangan meyakinkan bahwa

Pengampunan Pajak adalah keniscayaan yang harus diambil oleh pemerintah di

tengah ketidakstabilan ekonomi global dan seretnya sumber penerimaan negara

untuk membiayai proyek-proyek ambisius pemerintah. Pengampunan Pajak

menjadi opsi paling mudah bagi pemerintah, setelah tak lagi bisa "memainkan" re-

alokasi subsidi bahan bakar minyak. Pemerintah begitu berharap ada dana segar

dari pembayaran tarif tebusan dan repatriasi untuk menambal defisit anggaran.

Pemerintah seolah lupa bahwa ada banyak alasan mengapa orang kaya lebih

krasan memarkirnya uang di negeri orang dari pada di negeri sendiri. Ironinya,

Pemerintah berdalih Pengampunan Pajak adalah momentum terutama pasca

terungkapnya berbagai skandal penggelapan pajak, pencucian uang, dan korupsi

di Panama Papers.

Pengampunan Pajak memperlihatkan bahwa pemerintah dan DPR justru

terserang pragmatisme jangka pendek, panic attack, dan mengorbankan

kepentingan jangka panjang yang lebih fundamental, seperti: reformasi perpajakan

dan fiskal, penghormatan terhadap prinsip rule of law, equality of law, dan

keadilan sosial. Padahal kasus kejahatan perpajakan sudah terbuka (Panama

Papers, Lux Leaks dan lainnya). Alih-alih mengusut elit Indonesia yang

tersangkut, pemerintah malah mempercepat Pengampunan Pajak. Pemerintah

justru berbalik badan dan berharap kebaikan hati para pengemplang pajak untuk

membawa kembali uangnya mudik ke Indonesia melalui pembayaran tarif tebusan

dan repatriasi. Terang bahwa pemerintah lebih memihak warga negara super kaya

2
yang tidak patuh pajak dibanding ke warga negara menengah (kaum salariat) yang

patuh bayar pajak. RUU Pengampunan Pajak sudah menjadi UU Pengampunan

Pajak.

B. Identifikasi Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Tax amnesty?

2. Apa tujuan dari Tax amnesty?

3. Apa manfaat dari kebijakan Tax amnesty?

4. Bagaimana prosedur untuk mengikuti Tax amnesty?

C. Maksud dan Tujuan

1. Untuk mengetahui arti Tax amnesty

2. Untuk mengetahui tujuan dari Tax amnesty

3. Untuk mengetahui manfaat dan kebijakan Tax amnesty

4. Untuk mengetahui prosedur dari mengikuti Tax amnesty

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Tax amnesty

Sesuai dengan namanya, arti pengampunan pajak atau pengertian tax

amnesty adalah bentuk penghapusan pajak yang seharusnya terutang kepada

mereka wajib pajak dan tidak dikenakan sanksi administrasi pajak dengan cara

mengungkapkan harta dan membayar uang tebusan. Pelaksanaan program tax

amnesty ini sendiri berlangsung selama 10 bulan mulai dari Juli 2016 hingga

April 2017 serentak di seluruh Indonesia.1

Definisi secara sederhana dari tax amnesty adalah pengampunan pajak,

yaitu adanya penghapusan pajak bagi Wajib Pajak (WP) yang menyimpan

dananya di luar negeri dan tidak memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak

dengan imbalan menyetor pajak dengan tarif lebih rendah. Dengan dilakukannya

tax amnesty ini, diharapkan para pengusaha yang menyimpan dananya di luar

negeri akan memindahkan dananya di Indonesia dan menjadi WP baru yang patuh

sehingga dapat meningkatkan pendapatan pajak negara.

Indonesia pernah memberlakukan tax amnesty pada tahun 1984, tetapi

pelaksanaannya tidak efektif karena respon WP sangat kurang dan tidak diikuti

dengan reformasi sistem administrasi perpajakan secara menyeluruh. Oleh karena

itu, pelaksanaan tax amnesty kali ini harus dilaksanakan secara hati-hati dan

dipersiapkan secara matang. Perlunya dukungan dan persetujuan masyarakat

1
http://www.lamudi.co.id/journal/apa-itu-tax-amnesty

4
secara penuh dan adanya landasan hukum yang memadai juga menjadi faktor

penting keberhasilan pelaksanaan tax amnesty ini.

Pada tahun 2008, pemerintah pernah menerbitkan aturan Sunset Policy

yang diberlakukan selama 14 bulan per Januari 2008. Aturan Sunset Policy ini

bisa dibilang merupakan versi mini dari tax amnesty. Sunset Policy adalah

kebijakan pemerintah dalam menerapkan penghapusan sanksi administrasi bagi

WP yang kurang bayar maupun melakukan kesalahan dalam pengisian Surat

Pemberitahuan (SPT) tahunan PPh. Kebijakan versi mini dari tax amnesty ini

telah berhasil menambah jumlah penerimaan PPh sebesar Rp7,46 triliun.

Menurut situs resmi dirjen pajak, tax amnesty ialah program pemerintah

untuk pengampunan kepada para wajib pajak yang berupa penghapusan pajak

yang seharusnya terutang, penghapusan sanksi administrasi perpajakan, dan

sanksi pidana terkait perolehan harta kekayaan selama 1 tahun yang belum

dilaporkan melalui SPT tahunan. Caranya dengan melunasi seluruh tunggakan

pajak yang dimiliki dan membayar uang tebusan dan seluruh tunggakan pajak.

Penjelasan diatas menekankan bahwa program tax amnesty ini ditargetkan

untuk mereka wajib pajak terutama yang mempunyai harta kekayaan namun

belum melaporkan dan membayar pajak secara rutin sesuai dengan jumlah harta

yang dimiliki dan melalui SPT tahunan. Mereka wajib pajak yang bisa terbebas

dari segala tuntutan perpajakan selama ingin menjelaskan harta kekayaan yang

dimiliki.

Tax amnesty ini berlaku sejak disahkan nya Undang-undang tentang tax

amnesty ini dan dibagi dalam 3 periode, yakni:

5
a. Periode 1 dari tanggal di sahkan nya s/d 30 september 2016, dan tarif yang

dikenakan dari keseluruhan hartakekayaan sebesar 3%

b. Periode 2 dari tanggal 1 oktober 2016 s/d 31 desember 2016, dan tarif

yang dikenakan dari keseluruhan hartakekayaan sebesar 5%

c. Periode 3 dari tanggal 1 januari 2017 s/d 31 maret 2017, dan tarif yang

dikenakan dari keseluruhan hartakekayaan sebesar 8%

Sementara, untuk deklarasi di luar negeri, juga memiliki tiga periode,

1. Periode 1 yakni 1 Juli-30 September 2016 akan dikenakan 4%.

2. Periode 2 yakni 1 Oktober-31 Desember 2016 akan dikenakan 6%

3. Periode 3 pada 1 Januari-31 Maret 2017 akan dikenakan 10%.

a. Yang dapat memanfaatkan kebijakan amnesti pajak:

1. Wajib Pajak Orang Pribadi

2. Wajib Pajak Badan

3. Wajib Pajak yang bergerak di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengan

(UMKM)

4. Orang Pribadi atau Badan yang belum menjadi Wajib Pajak

b. Penanda tangan di Surat Pernyataan:

1. Wajib Pajak orang pribadi

2. Pemimpin tertinggi berdasarkan akta pendirian badan atau dokumen lain

yang dipersamakan, bagi Wajib Pajak badan

6
3. Penerima kuasa, dalam hal pemimpin tertinggi sebagaimana dimaksud

pada huruf b berhalangan.

c. Persyaratan Wajib Pajak yang dapat memanfaatkan Amnesti Pajak:

1. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak;

2. Membayar Uang Tebusan;

3. Melunasi seluruh Tunggakan Pajak;

4. Melunasi pajak yang tidak atau kurang dibayar atau melunasi pajak yang

seharusnya tidak dikembalikan bagi Wajib Pajak yang sedang dilakukan

pemeriksaan bukti permulaan dan/atau penyidikan;

5. Menyampaikan SPT PPh Terakhir bagi Wajib Pajak yang telah memiliki

kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak

Penghasilan; dan,

6. Mencabut permohonan: pengembalian kelebihan pembayaran pajak,

pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi dalam Surat Ketetapan

Pajak dan/atau Surat Tagihan Pajak yang di dalamnya terdapat pokok

pajak yang terutang, pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang

tidak benar, keberatan, pembetulan atas surat ketetapan pajak dan surat

keputusan, banding, gugatan; dan/atau peninjauan kembali, dalam hal

Wajib Pajak sedang mengajukan permohonan dan belum diterbitkan surat

keputusan atau putusan.2

2
http://finansial.bisnis.com/read/20160820/9/576799/tax-amnesty-siapa-bisa-manfaatkan-apa-
syaratnya

7
B. Tax amnesty Menurut Para Ahli

Menurut Baer dan Leborgne, sebagaimana dikutip mikasell dan ross,

mendefinisikan tax amnesty sebagai : a limited-time offer by the government to a

specified group of taxpayers to pay a defined amount, in exchange for forgiveness

of a tax liability (including interest and penalties), relating to a previous tax

period(s), as well as freedom of legal prosecution

Menurut Jacques Malherbe mengartikan tax amnesty seperti berikut

ini: the possibility of paying taxes in exchange for the forgiveness of the amount of

the tax liability (including interest and penalties), the waiver of criminal tax

prosecution, and limitations to audit tax determinations for a period of time

Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kebijakan Tax amnesty

adalah ditujukan untuk penghapusan sanksi administratif berupa denda dan bunga

pajak, serta juga termasuk didalamnya penghapusan sanksi pidana.

C. Tujuan Tax amnesty

1. Meningkatkan Penerimaan Pajak Dalam Jangka Pendek

Permasalahan penerimaan pajak yang stagnan atau cenderung

menurun seringkali menjadi alasan pembenar diberikannya tax amnesty.

Hal ini berdampak pada keinginan pemerintah yang berkuasa untuk

memberikan tax amnesty dengan harapan pajak yang dibayar oleh wajib

pajak selama program tax amnesty akan meningkatkan penerimaan pajak.

Meski demikian, peningkatan penerimaan pajak dari program tax

amnesty ini mungkin saja hanya terjadi selama program tax

8
amnesty dilaksanakan mengingat wajib pajak bisa saja kembali kepada

perilaku ketidakpatuhannya setelah program tax amnesty berakhir. Dalam

jangka panjang, pemberian tax amnesty tidak memberikan banyak

pengaruh yang permanen terhadap penerimaan pajak jika tidak dilengkapi

dengan program peningkatan kepatuhan dan pengawasan kewajiban

perpajakan.

2. Meningkatkan Kepatuhan Pajak Di Masa Yang Akan Datang

Permasalahan kepatuhan pajak merupakan salah satu penyebab

pemberian tax amnesty. Para pendukung tax amnesty umumnya

berpendapat bahwa kepatuhan sukarela akan meningkat setelah

program tax amnesty dilakukan. Hal ini didasari pada harapan bahwa

setelah program tax amnesty dilakukan wajib pajak yang sebelumnya

belum menjadi bagian dari sistem administrasi perpajakan akan masuk

menjadi bagian dari sistem administrasi perpajakan. Dengan menjadi

bagian dari sistem administrasi perpajakan, maka wajib pajak tersebut

tidak akan bisa mengelak dan menghindar dari kewajiban perpajakannya.

3. Mendorong Repatriasi Modal Atau Aset

Kejujuran dalam pelaporan sukarela atas data harta kekayaan

setelah program tax amnesty merupakan salah satu tujuan pemberian tax

amnesty. Dalam konteks pelaporan data harta kekayaan tersebut,

pemberian tax amnesty juga bertujuan untuk mengembalikan modal yang

parkir di luar negeri tanpa perlu membayar pajak atas modal yang di parkir

9
di luar negeri tersebut. Pemberian tax amnesty atas pengembalian modal

yang di parkir di luar negeri ke bank di dalam negeri dipandang perlu

karena akan memudahkan otoritas pajak dalam meminta informasi tentang

data kekayaan wajib pajak kepada bank di dalam negeri.

4. Transisi ke sistem perpajakan yang baru

Tax amnesty dapat dijustifikasi ketika tax amnesty digunakan

sebagai alat transisi menuju sistem perpajakan yang baru. Dalam konteks

ini, tax amnesty menjadi instrumen dalam rangka memfasilitasi reformasi

perpajakan dan sebagai kompensasi atas penerimaan pajak yang berpotensi

hilang dari transisi ke sistem perpajakan yang baru tersebut.3

Timbul pertanyaan apakah pemberlakuan tax amnesty ini akan

benar-benar efektif untuk memancing dana dari luar untuk kembali

masuk ke dalam negeri? Mengingat kebijakan ini sangat bersifat spekulatif

bergantung pada Itikad baik pemilik dana itu untuk mau atau tidak

menyimpan hartanya di dalam negeri. Indonesia pernah menerapkan

amnesty pajak pada 1984. Namun pelaksanaannya tidak efektif karena

wajib pajak kurang merespons dan tidak diikuti dengan reformasi sistem

administrasi perpajakan secara menyeluruh.4 Mencermati Undang-undang

Nomor 28 Tahun 2007 sebagai perubahan UU No.6 Tahun 1983 tentang

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) diundangkan,

banyak yang memperhatikan ketentuan-ketentuan tersebut terutama dalam

3
Danny Darussalam dalam Tax Manesty dalam rangka rekonsiliasi nasional
4
http://www.pajak2000.com/news_print.php?id=307/

10
pasal 37A dimana kebijakan ini merupakan versi mini dari program

pengampunan pajak yang banyak diminta kalangan usaha. Meskipun

belum mampu memuaskan semua pihak tetapi kebijakan yang lebih

dikenal dengan nama Sunset Policy ini telah menimbulkan kelegaan bagi

banyak pihak.

Jika diberlakukan kebijakan tax amnesty dinilai dapat menimbulkan efek

psikologis kepada wajib pajak yang selama ini taat membayar pajak. Rasa

cemburu akan pengampunan yang diberikan pemerintah kepada wajib pajak yang

kurang taat akan dinilai sebagai hal yang bersifat diskriminatif. Bila ini terjadi

kepada banyak wajib pajak yang taat tentu akan berpengaruh pada pendapatan

pajak itu sendiri sehingga penting bagi pemerintah untuk mengkaji lebih dalam

terkait karakteristik wajib pajak.

Kebijakan tax amnesty ini memang sudah diterapkan di beberapa Negara

dan tentunya ada yang berhasil dan ada yang gagal. Karena memang kebijakan

yang bersifat spekulatif ini tujuannya adalah untuk memberikan ketenangan bagi

para wajib pajak yang melakukan penghindaran terhadap utang pajaknya di masa

lalu dan diharapkan dapat kembali menyimpan dananya di dalam negeri lalu

menjadi taat pajak. Pemerintah masih belum secara jelas memberikan penjelasan

terperinci terkait hal ini sehingga menimbulkan persepsi terbatas di kalangan

masyarakat awam. Berdasarkan perhitungan dana wajib pajak illegal yang

bergentayangan di luar negeri diperkirakan mencapai Rp 3.417 Triliun. Dari total

tersebut otoritas moneter memperkirakan akan ada tambahan penerimaan pajak

11
sebesar 53,4 Triliun dan dana yang direpatriasi oleh peserta kebijakan tersebut

sebesar 560 Triliun. 5

Jika melihat dari sisi lain yaitu alasan mengapa wajib pajak menyimpan

dananya di luar negeri antara lain:

1. Wajib pajak menilai menyimpan dana di dalam negeri kurang

menguntungkan secara ekonomi. Hal ini berkaitan dengan pasar,

keamanan, dan keadaan politik dalam negeri itu sendiri. Adapun dana

tersebut berasal dari sumber yang halal.

2. Dana tersebut datang dari hasil kejahatan sehingga akan sangat tidak aman

apabila disimpan di dalam negeri. Menyimpan dana di luar negeri menjadi

pilihan yang paling logis untuk mengaburkan dana tersebut

Dari dua alasan tersebut saja dapat dilihat bahwa tidak semua dana dapat

diasumsikan akan kembali ke dalam negeri, apabila terjadi demikian justru

negaralah yang nantinya akan merugi. Belum lagi terhadap asset-aset yang sudah

berbentuk bangunan dsb, tidak mungkin pemerintah harus memaksa mereka

menjual aset-aset tersebut untuk kemudian dimasukan ke dalam negeri.

Apa benar tax amnesty bisa mendorong perekonomian Indonesia?

Idealnya tax amnesty memulangkan dana-dana yang ada di luar negeri.

Selanjutnya, dana tersebut dapat menggerakan perekonomian terutama sektor riil.

Menurut Perry Warjiyo daya dorong ekonomi dari repatriasi dana akan sangat

5
http://news.viva.co.id/news/read/777516-tax-amnesty-akan-masuk-asumsi-apbn-
2017/

12
bergantung kepada jenis investasi yang digunakan untuk menampung dana

tersebut banyak instrumen yang bisa dimanfaatkan, namun kecenderungannya

adalah dana tersebut terlebih dulu masuk ke sektor keuangan.

Sehingga dalam hal ini jelas permasalahannya adalah pasca amnesty

tersebut pemerintah harus berbuat apa. Pemberlakuan tax amnesty ini harus

menimbulkan law enforcement yang jelas kepada seluruh wajib pajak, sehingga

apabila telah diminta secara baik-baik untuk menyimpan kembali dananya di

dalam negeri dan kembali membayar pajak setelah diberi pengampunan, yang

bersangkutan tidak mengindahkan dapat dikategorikan sebagai tindak pidana

pajak yang dapat diberikan sanksi pidana maupun administratif.

D. Prosedur dan Mekanisme Ikut Program Tax amnesty

Sebagai bagian dari kebijakan pemerintah, ditjen pajak gencar melakukan

sosialisasi tentang Tax amnesty. Tak hanya di dalam negeri, sebagaimana

disampaikan oleh Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi beberapa waktu

silam. Unit pelayanan Tax amnesty juga akan dibuka di luar negeri setidaknya di

tiga negara, salah satunya adalah Singapura.

Hal ini dilakukan sebagai upaya pendekatan pada para Wajib Pajak

sehingga merasa dipermudah prosesnya dan mau untuk mengikuti kebijakan ini.

Unit pelayanan Tax amnesty ini akan berkantor di Kedutaan Besar Republik

Indonesia (KBRI) negara yang dimaksud. Unit Pelayanan Tax amnesty bahkan

juga akan melakukan sosialisasi hingga kepada para Wajib Pajak langsung di

negara termaksud. Upaya ini dilakukan agar bisa efektif memenuhi target pajak

13
165 Triliun Rupiah. Lalu bagaimana prosedur Tax amnesty sebagaimana

dimaksudkan oleh Ditjen Pajak? Sebenarnya cara yang perlu dilakukan tidak

terlalu sulit, hampir sama dengan yang ada di dalam negeri. Dan tentu masih

dalam koridor semboyan tax amnesty yang Ungkap, Tebus dan Lega sebagaimana

gencar diberitakan selama ini. Berikut adalah prosedur dan mekanisme yang harus

dijalankan.

1. Melakukan Pelaporan

Tax amnesty diawali dengan melakukan pelaporan kepada KPP

(Kantor Pelayanan Pajak) baik yang ada di dalam maupun di luar negeri.

Proses ini harus dilakukan sendiri oleh Wajib Pajak, ini dikarenakan pada

proses tersebut ada data yang bersifat rahasia yang hanya bisa dibagi

dengan pihak terkait saja.

2. Menyetorkan Surat Pernyataan Aset

Proses yang kedua dilakukan adalah penyetoran surat pernyataan

aset kepada petugas pajak. Data yang dilaporkan wajib data yang asli dan

harus sesuai, lalu kemudian wajib pajak akan mendapatkan surat

keterangan dalam waktu kurang lebih 10 hari setelah proses tersebut

berlangsung.

3. Proses Penghapusan dan Pembebasan Sanksi

Proses terpenting berikutnya yaitu adanya proses pemberian

fasilitas penghapusan pajak, termasuk pembebasan dari sanksi pidana dan

juga administrasi. Yang selanjutnya diikuti proses investasi harta kepada

bank persepsi sebagaimana yang ditunjuk pemerintah selambat-lambatnya

pada 31 Maret 2017.

14
Meski mendapatkan banyak pro dan kontra sebagaimana disebutkan di

awal tadi, kebijakan Tax amnesty yang dibuat oleh pemerintahan Joko Widodo

tetap harus mendapatkan apresiasi. Tax amnesty, selain merupakan bagian dari

usaha untuk mengembalikan pendapatan negara dari sektor pajak, juga diharapkan

dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terutama pengusaha yang telah sukses

akan pentingnya pajak bagi negara Indonesia. Tak heran bila presiden sendiri

melakukan sosialisasi tentang kebijakan ini dikota-kota besar di Indonesia seperti

misalnya, Jakarta, Surabaya, Makassar, serta Medan.

E. Tujuan Tax amnesty

1. Meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka pendek.

2. Menambah jumlah wajib pajak.

3. Mengintegrasikan sektor informal ke dalam sistem perekonomian.

4. Memanfaatkan dana yang tidak terpakai.

5. Langkah awal kebijakan rezim baru untuk menerapkan sanksi yang lebih

besar.

Di tahap awal, pemerintah memperkirakan kebijakan tax amnesty ini akan

meningkatkan penerimaan perpajakan sebesar Rp60 triliun. Namun ke depannya,

kebijakan tersebut diharapkan mampu memperbaiki sistem administrasi

perpajakan di Indonesia, sekaligus mengurangi kebocoran pajak akibat

meningkatnya kegiatan underground economy yang selama luput dari data

perpajakan. rencana penerapan kebijakan tax amnesty tersebut masih menghadapi

berbagai tantangan. Banyak pihak menduga bahwa penerapan tax amnesty lebih

didasarkan kepada permasalahan pemenuhan target penerimaan perpajakan

semata.

15
Pada tahun 1984, pemerintah pernah melakukan kebijakan tax amnesty di

era Orde Baru. Dalam implementasinya, kebijakan tersebut dinilai tidak terlalu

sukses mengingat respon WP yang tidak terlalu besar serta tidak terjadinya

modernisasi sistem perpajakan di Indonesia. Beberapa kebijakan pengampunan

pajak dalam skala lebih kecil juga dilakukan pemerintah sesudahnya.

Dengan adanya tax amnesty maka ada potensi penerimaan yang akan

bertambah dalam APBN di tahun ini atau tahun-tahun sesudahnya yang akan

membuat APBN lebih sustainable dan kemampuan pemerintah untuk spending

atau untuk belanja juga semakin besar sehingga otomatis ini akan banyak

membantu program-program pembangunan tidak hanya infrastruktur tapi juga

perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Dengan adanya tax amnesty tahun ini dan seterusnya akan sangat

membantu upaya pemerintah memperbaiki kondisi perekonomian, pembangunan

dan mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan serta memperbaiki

ketimpangan.

F. Mitos Dan Fakta Tax amnesty

1. Tax amnesty akan mencederai rasa keadilan bagi wajib pajak patuh

Tax amnesty justru menjadi jembatan menuju sistem perpajakan

yang lebih adil, karena akan semakin banyak orang terdaftar sebagai wajib

pajak dan memperluas basis pajak. Dengan demikian, melalui gotong

royong, penerimaan pajak akan meningkat dan beban pajak per individu

akan lebih rendah.

16
2. Sasaran tax amnesty adalah dana di luar negeri, bukan harta di dalam

negeri

Tujuan tax amnesty sama sekali tidak menyebutkan target uang

tebusan karena lebih fokus pada perluasan basis data perpajakan. Faktanya

terdapat banyak dana milik WNI yang disimpan di negara suaka pajak,

dengan berbagai alasan. Tax Justice Network pada 2010 mencatat angka

sekitar US$ 331 miliar atau sekitar Rp 4.000 triliun. Sedangkan Global

Financial Integrity pada 2014 mencatat aliran dana haram dari Indonesia

ke luar negeri selama lima tahun terakhir mencapai Rp 1.000 triliun.

Di samping itu, potensi ekonomi informal di dalam negeri juga

sangat besar. Schneider pada 2010 mencatat sekitar 18 persen dari PDB

Indonesia atau sekitar Rp 2.000 triliun merupakan ekonomi informal.

Dengan mempertimbangkan keterbatasan yang ada, baik regulasi, akses,

dan kompetensi, pemerintah memfasilitasi melalui tax amnesty untuk

memberi kesempatan bagi wajib pajak mengungkapkan hartanya dengan

benar dan tidak dikenai sanksi administrasi maupun pidana perpajakan.

3. Tax amnesty adalah kewajiban, bahkan menindas rakyat kecil

Pengampunan pajak adalah penghapusan pajak yang seharusnya

terutang, tidak dikenai sanksi administrasi dan pidana pajak, dengan cara

mengungkap harta dan membayar uang tebusan. Pengampunan adalah hak

yang diberikan UU kepada setiap wajib pajak, yaitu orang pribadi atau

badan yang memiliki kewajiban menyampaikan SPT Tahunan.

4. Tax amnesty mengampuni koruptor dan penjahat

17
Pengampunan pajak merupakan hak setiap wajib pajak menurut

UU. Hanya wajib pajak yang sedang disidik dan telah dinyatakan lengkap

oleh kejaksaan, dalam proses peradilan atau menjalani hukuman pidana

perpajakan yang tidak berhak.

Menurut UU Pajak Penghasilan, penghasilan adalah setiap

tambahan kemampuan ekonomis dengan nama dan dalam bentuk apapun,

yang dapat digunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaan. Jadi

tidak dipersoalkan asal usul atau sumber penghasilan, yang penting ada

tambahan kemampuan ekonomis maka terutang pajak.

UU Pengampunan Pajak hanya mengampuni tindak pidana

perpajakan dan seluruh data atau informasi yang disampaikan terkait tax

amnesty tidak dapat dijadikan sebagai dasar penyelidikan, penyidikan,

dan/atau penuntutan pidana terhadap wajib pajak.

5. Tax amnesty merupakan jebakan bagi wajib pajak

Tax amnesty bukanlah jebakan. Pajak adalah kewajiban kenegaraan

menurut UUD. Pemerintah telah memilih untuk tidak menggunakan

kewenangannya melakukan penegakan hukum yang keras demi memberi

kesempatan wajib pajak secara sukarela mendaftarkan diri dan melaporkan

harta yang belum dilaporkan.

Pemerintah juga mengakui masih terdapat kelemahan dalam regulasi

dan administrasi perpajakan, sehingga perlu melakukan pembinaan dan

pengawasan yang lebih baik. Di pihak lain, wajib pajak diharapkan jujur dan

18
terbuka dalam mengikuti program amnesti sehingga terhindar dari sanksi yang

memberatkan.

G. Objek Dan Keuntungan Mengikuti Tax Amesty

Objek tax amnesty adalah mereka para Wajib Pajak (WP) yang belum

melaporkan harta kekayaan secara terperinci kepada negara (rumah, kendaraan,

tabungan dan lain-lain) baik perorangan, perusahaan atau sebuah badan usaha.

Adapun keuntungan mengikuti program ini adalah penghapusan untuk semua

pajak terutang baik berupa PPh (Pajak Penghasilan), PPN, PPnBM, sanksi

administrasi (denda) dan sanksi pidana. Kemudian dengan mengikuti program tax

amnesty maka WP terbebas dari pemeriksaan data atas kekayaan yang dimiliki.

H. Sanksi Tax amnesty

Bagi masyarakat yang menikmati pajak tax amnesty juga disarankan untuk

benar-benar melaporkan hasil kekayaannya dengan benar, karena jika ada harta

yang belum dimasukkan maka WP akan mendapatkan sanksi berupa PPh sebesar

200 persen dari nilai harta yang belum dilaporkan tersebut.

Kemudian bagi mereka WP yang melakukan repatriasi aset (mengalihkan

aset dari luar ke dalam negeri) tetapi tidak transparan melaporkan hasil

kekayaannya maka akan mendapatkan sanksi dicabut amnestinya dan dikenakan

sanksi administrasi 2% per bulan selama dua tahun.

19
I. Kekurangan dan Kelebihan Tax amnesty

Terjadi pro dan kontra penambahan aturan mengenai tax amnesty ini.

Pendapat pro mengatakan bahwa kebijakan tax amnesty bisa menjadi solusi yang

efektif untuk meningkatkan jumlah WP baru dan penerimaan pajak. Namun,

terdapat kontra yang berargumen bahwa kebijakan tersebut merupakan langkah

putus asa dari pemerintah. Selain itu, pemberlakuan tax amnesty dapat

mendorong warga yang selama ini taat pajak menjadi nakal karena ada faktor

kecemburuan.

a. Manfaat adanya Tax amnesty

1. Untuk Pemerintah

Dengan diberlakukannya tax amnesty atau pengampunan pajak ini

maka akan menambah penghasilan penerimaan baru dimana

penambahannya dirasa cukup efektif dalam mengurangi penerimaan

negara yang semakin berkurang. Dengan diterapkannya tax amnesty atau

pengampunan pajak ini maka secara otomatis akan menarik dana yang

terdapat di luar negeri ke Indonesia yang menjadikannya masuk ke dalam

pencatatan untuk sumber pajak baru. Amnesti pajak yang diasumsikan

oleh pemerintah sebanyak Rp.60 triliun yang tercantum pada APBN 2016.

Nominal tersebut berasal dari tarif tebusan sebesar 3% dari dana yang

masuk yaitu sekitar Rp.2.000 triliun.

2. Untuk Pengembang

Dengan diberlakukannya amnesti pajak atau pengampunan pajak

ini maka akan membuat sektor properti mengalami pertumbuhan untuk

tahun berikutnya. Kebijakan ini berhubungan dengan pajak yang

20
menjadikan indikator untuk kebangkitan sebuah bisnis properti yang ada

di Indonesia. Tax amnesty ini sangat dipercaya untuk memberikan sebuah

pengaruh terhadap pengembang untuk dapat terus berhubungan dengan

para investor. Para investor selama ini merasa tidak mau untuk

menanamkan modalnya di Indonesia karena negara Indonesia mempunyai

pajak properti yang tergolong sangat tinggi.

3. Untuk Investor

Bukan hanya dari pemerintah dan pengembang saja yang merasa

senang dengan kabar ini, hadirnya tax amnesty atau pengampunan pajak

ini juga sangat disambut baik oleh para investor. Dengan adanya tax

amnesty atau pengampunan pajak ini akan memberikan keuntungan

terhadap kegiatan bisnis. Amnesti pajak ini dapat membuat para konsumen

serta investor untuk lebih berani lagi melakukan pembelian terhadap

properti. Dengan demikian, para investor tidak merasa lagi takut untuk

melakukan pembelian properti.

b. Kelemahan Tax amnesty

1. Dianggap Mencederai Asas Keadilan

Tax amnesty dianggap mencederai keadilan bagi masyarakat yang

selama ini patuh membayar pajak. Apalagi pada tahun 1964 dan 1984, tax

amnesty berjalan tidak efektif karena minimnya ketersediaan data

perpajakan. Tidak ada lengkapnya basis data perpajakan membuka

kemungkinan petugas pajak untuk mendeteksi kekayaan yang tak

dilaporkan. Pengemplang pajak pun tak perlu khawatir akan tertangkap.

21
Terlebih, kekayaan yang tidak dilaporkan pada umumnya berada di luar

negeri sehingga benar-benar jauh dari jangkauan petugas pajak.

2. Tax amnesty dikhawatirkan tidak akan berjalan secara konsisten

Banyak yang menilai jika kekurangan penerimaan pajak tidak

hanya bisa diselesaikan dengan kebijakan pengampunan pajak

tersebut. Belum adanya kejelasan mengenai kewajiban bagi wajib pajak

untuk menempatkan kekayaannya di dalam negeri, besar kemungkinan

individu-individu yang meminta pengampunan pajak akan

menyembunyikan kembali kekayaan mereka di luar negeri ketika

manfaattax amnesty tak lagi diberikan.

3. Tax amnesty Hanya Beri "Karpet Merah" bagi Koruptor

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA)

mengatakan, tax amnesty dalam RAPBNP 2016 bukan untuk kepentingan

masyarakat. Ia menilai, tax amnesty hanya untuk kepentingan pengusaha

yang memiliki dana besar di luar negeri. Pengampunan pajak hanya akan

menjadi karpet merah untuk koruptor dan konglomerat yang mendapat

keuntungan di Indonesia. Iya menyampaikan, tax amnesty hanya dijadikan

bahasa kampanye oleh politisi untuk memuluskan proyek-proyek swasta.

22
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Dari pembahasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan:

1. Tax amnesty ialah program pemerintah untuk pengampunan kepada para

wajib pajak yang berupa penghapusan pajak yang seharusnya terutang,

penghapusan sanksi administrasi perpajakan, dan sanksi pidana terkait

perolehan harta kekayaan selama 1 tahun yang belum dilaporkan melalui

SPT tahunan. Caranya dengan melunasi seluruh tunggakan pajak yang

dimiliki dan membayar uang tebusan dan seluruh tunggakan pajak.

Penjelasan diatas menekankan bahwa program tax amnesty ini ditargetkan

untuk mereka wajib pajak terutama yang mempunyai harta kekayaan

namun belum melaporkan dan membayar pajak secara rutin sesuai dengan

jumlah harta yang dimiliki dan melalui SPT tahunan. Mereka wajib pajak

yang bisa terbebas dari segala tuntutan perpajakan selama ingin

menjelaskan harta kekayaan yang dimiliki.

2. Tujuan dari tax amnesty atau Repatriasi atau menarik dana warga negara

Indonesia yang ada di luar negeri: Untuk meningkatkan pertumbuhan

nasional, Lebih meningkatkan basis perpajakan nasional, yaitu aset yang

disampaikan dalam permohonan pengampunan pajak dapat dimanfaatkan

untuk pemajakan yang akan datang, Meningkatkan penerimaan pajak

tahun ini.

23
3. Pada tax amnesty ini terdapat beberapa kebijakan pengampunan atau

amnesti yang berbeda yang dibagi dalam 3 periode. Pada periode pertama

jika periode pelaporan Oktober sampai dengan Desember 2015 maka tarif

yang dikenakan dari keseluruhan harta wajib adalah sebesar 3%. Jika

periode pajak yang dilaporkan bulan Januari-Juni 2016 maka tarif yang

dikenakan sebanyak 5% dan untuk periode Juli-Desember 2016 akan

dikenakan pajak sebesar 8%.

4. Persyaratan untuk mengikuti tax amnesty: Memiliki Nomor Pokok Wajib

Pajak (NPWP), Menyampaikan Surat Permohonan Pengampunan Nasional

yang ditandatangani oleh Orang Pribadi atau Badan, Membayar Uang

Tebusan, Melunasi seluruh Tunggakan Pajak yang tercantum dalam Surat

Pemberitahuan Tahunan (SPT) PPh

24
DAFTAR PUSTAKA

http://dezenk-dezenk-dezenk.blogspot.co.id/2016/06/artikel-tax-
amnesty.html

http://www.lamudi.co.id/journal/apa-itu-tax-amnesty/

http://anakbontot.com/2016/10/pengertian-tax-amnesty-atau-amnesty-
pajak-dan-manfaat-tax-amnesty.html

http://bem-undip.org/kajian-tax-amnesty/

http://seputarpengertian.blogspot.co.id/2016/06/pengertian-dan-tujuan-tax-
amnesty.html

http://bisnis.liputan6.com/read/2601185/5-mitos-dan-fakta-soal-tax-
amnesty

http://orangterkaya-id.blogspot.co.id/2016/06/tax-amnesty-pengertian-
serta-kekurangan.html

25