Anda di halaman 1dari 240

BAB I

MANAJEMEN SYARIAH

A. Pengertian Manajemen
Manajemen menjadi sangat penting artinya dari
segala aspek kehidupan. Karena itu manajemen menjadi
icon yang sangat urgent baik secara personal maupun
secara kelompok. Manajemen pada prinsipnya hanya
merupakan sebuah alat untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Manajemen yang baik akan memudahkan
terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan
masyarakat. Dengan manajemen, daya guna dan hasil
guna unsur-unsur manajemen akan dapat ditingkatkan
(Hasibuan, 2011: 1). Secara bahasa manajemen berarti
pemimpin, direksi, pengurus, yang diambil dari kata
kerja manage yang berati mengemudikan, mengurus,
dan mermerintah (Wojowarsito, 1974: 76).
Para ahli mendefinisikan manajemen dalam berbagai
macam walaupun esensinya bermuara para satu titik temu.
Adapun defenisi manajemen adalah sebagai berikut :
1. Kamus Bahasa Indonesia
Manajemen adalah pemanfaatan sumber daya secara
efektif untuk mencapai tujuan atau tujuan yang
dimaksudkan (Fajri dan Ratu Aprilia Senja, tt.,: 547)
2. Hadari Nawawi
Manajemen adalah kegiatan yang dilakukan oleh
manajer dalam memanage organisasi, lembaga,
maupun perusahaan (Nawawi, 1997: 78).

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 1


3. Malayu S. Hasibuan
Manajemen adalah seni mengatur proses
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-
sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk
mencapai suatu tujuan tertentu (Hasibuan, 2011: 1-2).
4. Nanang Fattah
Manajemen diartikan sebagai ilmu, kiat, dan profesi.
Manajemen sebagai ilmu merupakan bidang
pengetahuan yang secara sistematik berusaha
memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja
sama (Fattah, 2006: 1).
5. Hikmat
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses
pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif,
yang didukung oleh sumber-sumber lainnya dalam
suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan orang yang memimpin organisasi disebut
manager (Hikmat, 2009: 11).
6. Djarot
Manajemen adalah proses menginterpretasikan,
mengkoordinasikan sumber daya, sumber dana dan
sumber-sumber lainnya untuk mencapai tujuan dan
sasaran melalui tindakan-tindakan perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan, pengawasan dan
penilaian (Djarot, 2000: 96).
7. John D Millet
Management is the process of directing and facilitating
the work of people organized informal group to achieve a
desired goal (manajemen ialah suatu proses

2 Nova Yanti Maleha, SE., MM


memimpin dan melancarkan pekerjaan dari orang-
orang yang terorganisir secara formil sebagai
kelompok untuk memperoleh tujuan yang
diinginkan (Sarwoto, 1979: 43).
8. Jhon F. Mee
Management is art of securing maximum results with
minimum of efforts so as to secure maximum prosperity
and happiness for bath employer and employ and give the
public the best possible service (Manajemen adalah seni
untuk mencapai hasil yang maksimal dengan usaha
yang manimal demikuan pula mencapai
kesejahteraan dan kebahagiaan maksimal baik bagi
pimpinan maupun para pekerja serta memberikan
pelayanan yang sebaik mungkin kepada masyarakat)
(Sarwoto, 1979: 43).
9. S. Kimball and D.S. Kimball Jr
Management embraces all duties and functions that pertain
to the initiation of an enterprise, its financing establishment
of all major policies, the provision of all necessary equipment,
the outlining of the form of organization and the selection of
the principle officers (Manajemen terdiri dari semua
tugas dan fungsi yang meliputi penyusunan sebuah
perusahaan, pembiayaan, penetapan garis-garis besar
kebijaksanaan, penyediaan semua peralatan yang
diperlukan dan penyusunan kerangka organisasi serta
pemilihan pejabat-pejabat terasnya) (Sarwoto, 1979: 43).
10. G.R. Terry
Manajemen merupakan penyusunan perencanaan,
menggerakkan kegiatan dan pencapaian hasil yang

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 3


diinginkan melalui pelibatan dan pemanfaatan
sumber daya manusia (Abbas, 2009: 15).
11. Masud Machfoedz dan Mahmud Machfoedz
Manajamen adalah proses yang digunakan untuk
mencapai tujuan perusahaan melalui perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian
manusia dan sumber daya organisasi lainnya
(Machfoedz dan Machfoedz, 2008: 205).
Dari beberapa definisi tersebut di atas, manajemen
dapat diartikan dalam tiga hal, yaitu; a). Manajemen
sebagai ilmu pengetahuan bahwa manajemen
memerlukan ilmu pengetahuan. b). Manajemen sebagai
seni dimana manajer harus memiliki seni atau
keterampilan memanage c). Manajemen sebagai profesi,
bahwa manajer yang profesional yang bisa memanej
secara efektif dan efesien.

B. Dasar-Dasar Manajemen
Menurut Malayu S. Hasibuan (2011: 2) dasar-dasar
manajemen adalah sebagai berikut :
1. Adanya kerja sama di antara sekelompok orang
dalam ikatan formal.
2. Adanya tujuan bersama serta kepentingan yang
sama yang akan dicapai.
3. Adanya pembagian kerja, tugas, dan tanggung jawab
yang teratur.
4. Adanya hubungan formal dan ikatan tata tertib yang
baik.

4 Nova Yanti Maleha, SE., MM


5. Adanya sekelompok orang dan pekerjaan yang akan
dikerjakan.
6. Adanya human organization.
Sedangkan Auren Turis (dalam Sarwoto, 1979: 45)
mengetengahkan 3 (tiga) kategori kemahiran yang harus
dimiliki oleh setiap manajer sebagai unsur-unsur dasar
manajemen, yaitu :
a. Kemahiran yang bertalian dengan hubungan kerja
kemanusiaan (human relations skill), seperti bekerja
bersama bawahan, memupuk hubungan baik dengan
manajer yang setingkat dan lain-lain.
b. Proseduril dan administratif (prosedural and
administrative skill) seperti mengendalikan pekerjaan-
pekerjaan tata-usaha dan mempergunakan waktu
kerja dengan efektif.
c. Pribadi (personal skill), seperti pengaturan daya
ingatan, pemusatan pikiran dan lain-lain.

C. Sarana Manajemen
Untuk mencapai tujuan manajemen tidak hanya
terfokus kepada manusia sebagai manajer dan anggota
pelaksana lain sebagaimana definisi manajemen. Namun
juga memerlukan sarana-sarana yang lain yang erat
hubungannya dengan pencapaian tujuan. Sehingga
sarana-sarana manajemen menjadi kesatuan yang tidak
terpisahkan antara satu sarana dengan sarana lainnya.
Adapun sarana-sarana itu meliputi; Man, Money,
Methodes, Machines, Materials, dan Market. Dari enam
sarana tersebut atau disebut dengan 6 M saling terkait.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 5


Hal ini menunjukkan betapa urgennya adanya 6 M
tersebut bisa berjalan secara integral. Timbul pertanyaan
tentang, apa yang diatur, apa tujuannya diatur, mengapa
harus diatur, siapa yang mengatur, dan bagaimana
mengaturnya.
1. Yang diatur adalah semua unsur manajemen, yakni 6 M.
2. Tujuannya diatur adalah agar 6 M lebih berdaya guna
dan berhasil guna dalam mewujudkan tujuannya.
3. Harus diatur adalah supaya 6 M itu bermanfaat
optimal, terkoordinasi dan terintegrasi dengan baik
dalam menunjang terwujudnya tujuan organisasi.
4. Yang mengatur adalah pimpinan dengan
kepemimpinannya yaitu pemimpin puncak, manajer
madya, dan supervisi.
5. Mengaturnya adalah dengan melakukan kegiatan
urut-urutan fungsi manajemen tersebut (Hasibuan,
2011: 1).

D. Fungsi Manajemen
Berbicara masalah manajemen tentunya tidak bisa
lepas dengan empat komponen yang ada yaitu (POAC)
Planning, Organizing, Actuating danControlling. Untuk
lebih jelasnya maka akan penulis uraikan satu persatu
sebagai berikut:
1. Planning (Perencanaan)
Planning atau perencanaan adalah keseluruhan
proses dan penentuan secara matang tentang hal-hal
yang akan dikerjakan di masa akan datang dalam rangka
pencapaian tujuan yang telah ditentukan (Widjaya, 1987:

6 Nova Yanti Maleha, SE., MM


33). Dalam perencanaan terlebih yang harus diperhatikan
adalah apa yang harus dilakukan dan siapa yang akan
melakukannya. Jadi perencanaan disini berarti memilih
sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa
yang harus dilakukan, kapan, bagimana, dan oleh siapa.
Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan
mempertimbangkan kondisi diwaktu yang akan datang
dalam mana perencanaan dan kegiatan yang akan
diputuskan akan dilaksanakan, serta periode sekarang
pada saat rencana di buat. Perencanaan merupakan
aspek penting dari pada manajemen. Keperluan
merencanakan ini terletak pada kenyataan bahwa
manusia dapat mengubah masa depan menurut
kehendaknya.
Manusia tidak boleh menyerah pada keadaan dan
masa depan yang menentu tetapi menciptakan masa
depan itu. Masa depan adalah akibat dari keadaan masa
lampau, keadaan sekarang dan disertai dengan usaha-
usaha yang akan kita laksanakan. Dengan demikian
landasan dasar perencanaan adalah kemampuan
manusia untuk secara sadar memilih alternative masa
depan yang dikehendakinya dan kemudian
mengarahkan daya upayanya untuk mewujudkan masa
depan yang dipilihnya dalam hal ini manajemen yang
akan diterapkan seperti apa. Sehingga dengan dasar
itulah maka suatu rencana itu akan terealisasikan dengan
baik (Bukhari, dkk, 2005: 35-36).
M. Bukhari, dkk (2005: 37) menyatakan kegunaan
perencanaan dapat dirinci sebagai berikut:

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 7


a. Karena perencanaan meliputi usaha untuk
memetapkan tujuan atau memformulasikan tujuan
yang dipilih untuk dicapai, maka perencanaan
haruslah bisa membedakan point pertama yang akan
dilaksanakan terlebih dahulu
b. Dengan adanya perencanaan maka memungkinkan
kita mengetahui tujuan-tujuan yang kan kita capai
c. Dapat memudahkan kegiatan untuk
mengidentifikasikan hambatan-hambatan yang akan
mungkin timbul dalam usaha mencapai tujuan.

2. Organizing (Pengorganisasian)
Organisasi adalah sistem kerja sama sekelompok
orang untuk mencapai tujuan bersama. Langkah pertama
dalam pengorganisasian diwujudkan melalui
perencanaan dengan menetapkan bidang-bidang atau
fungsi-fungsi yang termasuk ruang lingkup kegiatan
yang akan diselenggarakan oleh suatu kelompok
kerjasama tertentu. Keseluruhan pembidangan itu
sebagai suatu kesatuan merupakan total sistem yang
bergerak ke arah satu tujuan. Dengan demikian, setiap
pembidangan kerja dapat ditempatkan sebagai sub
sistem yang mengemban sejumlah tugas yang sejenis
sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan yang diemban
oleh kelompok-kelompok kerjasama tersebut.
Pembagian atau pembidangan kerja itu harus
disusun dalam suatu struktur yang kompak dengan
hubungan kerja yang jelas agar yang satu akan mampu
melengkapi yang lain dalam rangka mencapai tujuan.

8 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Struktur organisasi disebut segi formal dalam
pengorganisasian karena merupakan kerangka yang
terdiri dari satuan-satuan kerja atau fungsi-fungsi yang
memiliki wewenang dan tanggung jawab yang bersifat
hierarki / bertingkat.
Diantara satuan-satuan kerja itu ditetapkan pula
hubungan kerja formal dalam menyelanggarakan
kerjasama satu dengan yang lain, sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawabnya masing-masing.
Disamping segi formal itu, suatu struktur organisasi
mengandung kemungkinan diwujudkannya hubungan
informal yang dapat meningkatkan efisiensi pencapaian
tujuan. Segi informal ini diwujudkan dalam bentuk
hubungan kerja yang mungkin dikembangkan karena
hubungan pribadi antar personal yang memikul beban
kerja dengan wewenang dan tanggung jawab masing-
masing.
Satuan kerja yang ditetapkan berdasarkan
pembidangan kegiatan yang diemban oleh suatu
kelompok kerja sama, pada dasarnya merupakan
pembagain tugas yang mengandung sejumlah pekerjaan
sejenis. Oleh setiap itu, setiap unit kerja akan
menggambarkan jenis-jenis aktivitas yang menjadi
kewajibannya untuk diwujudkan. Wujud dari
pelaksanaan organizing ini adalah tampaknya kesatuan
yang utuh, kekompakan, kesetiakawanan dan
terciptanya mekanisme yang sehat, sehingga kegiatan
lancar, stabil dan mudah mencapai tujuan yang
ditetapkan (Tanthowi, 1983: 71).

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 9


3. Actuating (Penggerakan )
Fungsi actuating merupakan bagian dari proses
kelompok atau organisasi yang tidak dapat dipisahkan.
Adapun istilah yang dapat dikelompokkan ke dalam
fungsi ini adalah directing commanding, leading dan
coordinating (Tanthowi, 1983: 74). Oleh karena itu, proses
ini membutuhkan motivating, untuk memberikan
penggerakan dan kesadaran terhadap dasar dari pada
pekerjaan yang mereka lakukan, yaitu menuju tujuan
yang telah ditetapkan, disertai dengan memberi
motivasi-motivasi baru, bimbingan atau pengarahan,
sehingga mereka bisa menyadari dan timbul kemauan
untuk bekerja dengan tekun dan baik.
Proses actuating adalah memberikan perintah,
petunjuk, pedoman dan nasehat serta keterampilan
dalam berkomunikasi (Siagian, 1997: 88).Actuating
merupakan inti dari manajemen yang menggerakkan
untuk mencapai hasil. Sedangkan inti dari actuating
adalah leading, harus menentukan prinsip-prinspi
efisiensi, komunikasi yang baik dan prinsip menjawab
pertanyaan.

4 Controlling (Evaluasi)
Evaluasi dalam konteks manajemen adalah proses
untuk memastikan bahwa aktivitas yang dilaksanakan
benar sesuai apa tidak dengan perencanaan sebelumnya.
Controlling itu penting sebab merupakan jembatan
terakhir dalam rantai fungsional kegiatan-kegiatan
manajemen. Pengendalian merupakan salah satu

10 Nova Yanti Maleha, SE., MM


carapara manajer untuk mengetahui apakah tujuan-
tujuan organisasi itu tercapai atau tidak dan mengapa
terpai atau tidak tercapai. Selain itu,controlling adalah
sebagai konsep pengendalian, pemantau efektifitas dari
perencanaan, pengorganisasian, dan kepemimpinan serta
pengambilan perbaikan pada saat dibutuhkan.
Fungsi manajemen lainnya yang tidak kalah
penting adalah adalah evaluasi atau penilaian. Penilaian
adalah peninjauan kembali dan pengontrolan tugas,
sesuai dengan norma dan standar yang sudah digariskan
dalam perencanaan. Setiap prestasi diukur dan dinilai,
melalui perbandingan terhadap apa yang dihasilkan
dengan standar-standar yang telah ditetapkan dalam
perencanaan. Bila dalam evaluasi ditemukan kesalahan,
kekurangan dan penyimpangan, maka segera dilakukan
koreksi dan revisi.
Evaluasi terhadap kinerja organisasi dapat dibagi
ke dalam dua kategori; yaitu evaluasi selama kegiatan
dijalankan dan evaluasi setelah berakhirnya suatu
kegiatan dalam organisasi.Evaluasi selama kegiatan
dijalankan, bertujuan untuk mengetahui dan
memperbaiki dengan cepat kekeliruan, kesalahan atau
penyimpangan dari perencanaan (planning) yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Sedangkan evaluasi akhir kegiatan, dimaksudkan
untuk menilai sejauhmana keberhasilan atau kegagalan
program yang telah ditetapkan sebelumnya. Evaluasi
yang terakhir ini menjadi amat penting dilakukan, guna
menemukan faktor pendukung dan penghambat

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 11


kegiatan dalam suatu organisasi. Evaluasi ini menjadi
pedoman bagi pemimpin dalam menyusun program,
dan kegiatan organisasi untuk masa-masa selanjutnya.
Oleh karenanya, evaluasi dan kontrol terhadap kegiatan
organisasi perlu mendapat perhatian yang serius dari
seorang pemimpin.
Bila evaluasi dan kontrol lemah dan longgar,
maka akan mengakibatkan gagalnya menemukan
berbagai kelemahan, kesalahan dan penyimpangan
dalam aktivitas organisasi. Jika ternyata dalam aktivitas
organisasi ditemukan kekeliruan dan kesalahan,
sehingga tidak sesuai dengan sasaran yang telah
ditetapkan, sehingga tidak sesuai dengan sasaran yang
telah ditetapkan sebelumnya, maka dapat diambil
langkah-langkah perbaikan sebagai berikut :
Pertama, merubah rencana, yaitu meninjau
kembali, dan mencocokkan kembali semua tingkah laku
anggota organisasi dengan kebijakan dan rencana yang
telah ditetapkan semula.
Kedua, mengadakan reorganisasi, dengan jalan
merubah relasi di antara aktivitas-aktivitas yang harus
dilakukan, tenaga personil dan faktor-faktor fisik yang
ada, agar tercapai suatu keseimbangan riil, dan
organisasi dapat berjalan dengan lancar.
Ketiga, merubah fungsi kepemimpinan, dengan
jalan mengganti anggota staf pimpinan, melakukan
pengetatan pengawasan, dan merubah pola perilaku
komunikasi.

12 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Ringkasnya, evaluasi selalu berkaitan dengan
kriteria, kuantitas, kualitas, waktu, perongkosan, dan
efisiensi khususnya kosentrasi pada titik-titik kritis.
Evaluasi dilakukan dalam rangka menjaga agar
organisasi berjalan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya (Abbas, 2009: 18-19).
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa
manajemen pada dasarnya adalah alat atau sarana
daripada administrasi. Sebagai alat administrasi fungsi
manajemen adalah menggerakkan unsure statis dari
administrasi, yaitu organisasi. Dalam fungsinya
menggerakkan organisasi manajemen merupakan suatu
proses yang dinamis meliputi fungsi planning, organizing,
actuating, controlling, dan lain-lain. Oleh karena itu,
proses manajemen selalu diarahkan untuk pencapaian
suatu tujuan tertentu. Maka, dalam pencapaian tujuan
tersebut, manajer sebagai pelaksana manajemen
menggunakan perbagai unsur yang tersedia dalam
organisasi, yaitu; man, money, methodes, machines,
materials, dan market.

E. Konsep Manajemen Syariah


Islam memandang bahwa keberadaan manajemen
sebagai suatu kebutuhan yangtak terelakkan dalam
memudahkan implementasi Islam pada kehidupan
pribadi, keluarga, dan masyarakat. Implementasi nilai-
nilai Islam berwujud pada difungsikannya Islam sebagai
kaidah berfikir dan kaidah amal dalam kehidupan.
Sebagai kaidah berfikir, syariah difungsikan sebagai asas

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 13


dan landasan pola pikir. Sedangkan sebagai kaidah amal,
syariah difungsikan sebagai tolak ukur perbuatan.
Manajemen diperlukan untuk mengelola berbagai
sumber daya, seperti sarana dan prasarana, waktu,
sumber daya manusia, metode, dan lainnya dalam
rangka pencapaian tujuan implementasi nilai-nilai Islam
secara efektif dan efisien (Rivai, Amiur Nuruddin, dan
Faisar Ananda Arfa, 2012: 192).
Ajaran Islam juga banyak mengajarkan tentang
kehidupan yang serba terarah dan teratur. Misalnya,
dalam pelaksanaan shalat merupakan contoh konkrit
adanya manajemen yang mengarah kepada keteraturan.
Begitu juga dengan ibadah lainnya seperti Puasa, haji
dan amaliyah lainnya merupakan pelaksanaan
manajemen yang terkonsep dan monumental.
Begitu juga teori dan konsep manajemen yang
digunakan saat ini sebenarnya bukan hal yang baru
dalam perspektif Islam. Manajemen itu telah ada paling
tidak ketika Allah menciptakan alam beserta isinya.
Unsur-unsur manajemen dalam pembuatan alam serta
makhluk-makhluknya lainnya tidak terlepas dengan
manajemen langit. Ketika Nabi Adam diciptakan Allah
sebagai khalifahfi ardhiyang bertugas untuk memimpin
alam raya ini, unsur-unsur manajemen telah terlaksana
dengan baik.
Contoh kecil realisasi manajemen telah
digambarkan Allah SWT dalam hewan-hewan yang juga
menjadi nama surah al-Quran seperti an-Nahl (lebah),
an-Naml (semut), al-Ankabut (laba-laba). An-Naml(semut)

14 Nova Yanti Maleha, SE., MM


misalnya, dalam menjalankan hidupnya semut termasuk
diantara makhluk yang sangat solid dan berkomitmen
menjalani roda kehidupannya dengan menggunakan
manajemen, tentunya versi semut. Keteraturan dan
komitmen semut dalam kinerjanya sangat solit dan
penuh kepatuhan.
Begitu juga lebah. Allah SWT menjelaskan
kehidupan lebah dalam surah An-Nahl [29] ayat 68-69
sebagai tanda kebesaran Allah bagi siapapun manusia
yang mau berfikir (tafakur). Maka apabila mengambil
pelajaran (ibrah) dari manajemen hidup hewan-hewan
yang diceritakan al-Quran di atas, maka ada beberapa
pokok ciri kehidupan yang mesti di laksankan oleh
seorang muslim yaitu :
1. Hidup selalu ada dalam kesatuan organisasi
(Jamaah) yang berdisiplin dan penuh semangat
solidaritas.
2. Masing-masing bergerak dengan aktif melaksanakan
program bersama dalam kerangka memikul tugas
dan amanah yang ditetapkan Allah.
3. Memiliki manfaat bagi muslim yang lainnya
(melaksanakan kewajiban antara sesama muslim).
Diminta atau tidak diminta bertanam jasa
4. Melakukan pembelaan mati-matian bagi kepentingan
Masyarakat Islam
Lebih lanjut, Manajemen Syariah memiliki dua
pengertian, yaitu sebagai ilmu dan sebagai aktivitas.
Sebagai ilmu, manajemen termasuk sesuatu yang bebas
nilai atau berhukum asal mubah. Konsekuensinya,

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 15


kepada siapapun umat Islam boleh belajar. Berkaitan
dengan ini, kita perlu mencermati pernyataan Imam al-
Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, Bab Ilmu. Beliau
membagi ilmu dalam dua kategori ilmu berdasarkan
takaran kewajiban yaitu: (1) ilmu yang dikategorikan
sebagai fardhu ain, yakni yang termasuk dalam golongan
ini adalah ilmu-ilmu tsaqofah bahasa Arab, sirah
nabawiyah, Ulumul Quran, Ulumul hadits, Tafsir, dan
sebagainya. (2) Ilmu yang terkategori sebagai fardhu
kifayah, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh salah satu
atau sebagian dari kaum muslimin. Ilmu yang termasuk
dalam kategori ini adalah ilmu-ilmu kehidupan yang
mencakup ilmu pengetahuan dan teknologi serta
keterampilan, diantaranya seperti ilmu kimia, biologi,
fisika, kedokteran, pertanian, teknik dan manajemen.
Sebagai aktivitas manajemen terikat pada aturan
syara, nilai atau hadlarah Islam. Selain itu, dalam ranah
aktivitas, Islam memandang bahwa keberadaan
manajemen sebagai suatu kebutuhan yang tak terelakkan
dalam memudahkan implementasi Islam dalam
kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Implementasi nilai-nilai Islam berwujud pada
difungsikannya Islam sebagai kaidah berpikir dan
kaidah amal dalam kehidupan. Sebagai kaidah berpikir,
aqidah dan syariah difungsikan sebagai asas dan
landasan pola pikir. Sedangkan sebagai kaidah amal,
syariah difungsikan sebagai tolok ukur (standar)
perbuatan(Rivai, Amiur Nuruddin dan Faisar Ananda
Arfa, 2012: 186).

16 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Karenanya, aktivitas menajemen yang dilakukan
haruslah selalu berada dalam koridor syariah. Syariah
harus menjadi tolok ukur aktivitas manajemen. Senafas
dengan visi dan misi penciptaan dan kemusliman
seseorang, maka syariahlah satu-satunya yang menjadi
kendali amal perbuatannya. Hal ini berlaku bagi setiap
Muslim, siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Inilah
sebenarnya penjabaran dari kaidah ushul yang
menyatakan al aslu fi al-afal attaqoyyadu bi al-hukmusy
syari, yakni hukum asal suatu perbuatan adalah terikat
pada hukum syara yang lima, yakni wajib, sunah,
mubah, makruh dan haram.
Dengan tolak ukur syariah, setiap muslim akan
mampu membedakan secara jelas dan tegas perihal halal
tidaknya, atau haram tidaknya suatu kegiatan manajerial
yang akan dilakukannya. Aktivitas yang halal akan
dilanjutkannya, sementara yang haram akan
ditinggalkannya semata-mata untuk menggapai
keridhaan Allah Swt. Oleh karenanya, harus segera
mengubah paradigma berfikir yang selama ini
materialistik berubah menjadi idealis, hedonsis menjadi
etis, dan yang sebelumnya menafikan nilai-nilai
ketuhanan menjadi lebih agamis (Kamaludin, 2010: 18).

F. Prinsip Dasar Manajemen Syariah


Manajemen Syariah setidaknya mengandung 5
(lima) prinsip dasar, yakni :

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 17


1. Prinsip Mardhatillah, yaitu prinsip mencari keridhaan
Allah, segala sesuatu hendaknya dimulai dengan
niat karena Allah dengan mengharapkan ridho-Nya.
2. Prinsip Muhshinin, yaitu prinsip pilihan alternatif
yang lebih baik, kalau diperhadapkan pada dua
pilihan atau lebih tentang kebajikan, maka pilihlah
yang terbaik.
3. Prinsip As-shobru wa ginanul nafs, yaitu prinsip sabar
dan memuliakan hati, kekayaan yang hakiki adalah
kemuliaan hati.
4. Prinsip Ittihad wa as-silaturahim, prinsip persatuan
dan silaturahim, mengagungkan silaturahim berarti
mewujudkan akhlak Islami.
5. Prinsip syiar al-Islam, yaitu prinsip keteladanan dengan
menunjukkan prilaku yang Islami dimanapun berada.

G. Manajemen Berorientasi Syariah Islam


Tolak ukur syariah Islam adalah meluruskan
orientasi manajemen yang bervisi sekuler agar sejalan
dengan visi dan misi penciptaan manusia sebagaiman
dijelaskan dalam surahal-Baqarah [2]: 30 dan Adz-
Dzariyat [51]: 56.

18 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di
bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya
dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia


melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku(Q.S.
Adz-Dzariyat [50]: 56).

Dari kedua ayat di atas memperlihatkan bahwa


orientasi syariah ini mengandung empat komponen,
sebagai berikut :
a. Target hasil;
Tujuan perusahaan atau organisasi harus tidak
semata-mata untuk mencari profit (qimah madiyah)
setinggi-tingginya, tetapi juga harus dapat
memperoleh dan memberikan benefit (keuntungan
atau manfaat) non materi kepada sesama, seperti
terciptanya suasana persaudaraan, dan kepedulian
sosial. Selain itu, qimah insaniyah, berarti pengelola
berusaha memberikan manfaat yang bersifat
kemanusiaan melalui kesempatan kerja, bantuan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 19


sosial (sedekah), dan bantuan lainnya. Qimah
khuluqiyah, mengandung pengertian bahwa nilai-nilai
akhlak mulia menjadi suatu kemestian yang harus
muncul dalam setiap aktivitas mencari harta
sehingga tercipta hubungan persaudaraan, bukan
sekedar hubungan fungsional atau profesional.
Sementara itu qimah ruhiyah berarti aktivitas
dijadikan sebagai media untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT.
b. Pertumbuhan;
Jika profit materi dan banefit non materi telah diraih
sesuai target, maka perusahaan atau organisasi akan
mengupayakan pertumbuhan profit dan banefitnya.
Target hasil perusahaan atau organisasi akan terus
diupayakan agar tumbuh meningkat setiap
tahunnya, upaya penumbuhan dijalankan dalam
koridor syariah. Misalnya dalam meningkatkan
jumlah produksi.
c. Keberlangsungan;
Orientasi manajemen suatu perusahaan atau
organisasi belum sempurna bila hanya berhenti pada
pencapaian target hasil dan pertumbuhan. Karena itu
perlu diupayakan terus agar pertumbuhan target
hasil dapat dijaga keberlangsungannya. Setiap
aktivitas untuk menjaga keberlangsungan
pertumbuhan dalam koridor syariah.
d. Keberkahan;
Orientasi untuk mencapai keridhaan Allah SWT
merupakan puncak kebahagiaan hidup manusia, bila

20 Nova Yanti Maleha, SE., MM


ini tercapai, maka berarti menandakan terpenuhinya
dua syarat diterimanya amal manusia yakin adanya
elemen niat ikhlas dan cara yang sesuai dengan
tuntunan syariah(Rivai, Amiur Nuruddin dan Faisar
Ananda Arfa, 2012: 187-189).

Tugas Individu dan Kelompok


1. Jelaskan apa yang dimaksud manajemen, dasar-
dasar dan sarana manajemen ?
2. Sebutkan fungsi-fungsi manajemen ?
3. Jelaskan maksud dari prinsip manajemen syariah As-
shobru wa ginanul nafs?
4. Sebutkan dan tuliskan ayat al-Quran yang
menjelaskan tentang visi dan misi penciptaaan
manusia ?
5. Diskusikan pandangan Islam terhadap hewan-hewan
berikut ini; lebah, semut, laba-laba dan semut, serta
jelaskan hubungannya dengan konsep manajemen?

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 21


22 Nova Yanti Maleha, SE., MM
BAB II
MANAJEMEN BISNIS SYARIAH

A. Pengertian Manajemen Bisnis Syariah


Secara konseptual teorities kata manajemen
berasal dari bahasa Inggris yang terdiri atas dua kata
man dan age, yang biasa dimaknai sebagai usia di
mana seseorang menjadi laki-laki. Secara historis, laki-
laki memang memegang tanggung jawab utama untuk
mengelola bisnis keluarga serta seluruh kewajiban
keluarga selain bisnis. Manajemen juga bisa diartikan
sebagai seni karena menjadi pemanfaat dan organisator
dari bakat manusia (the art getting things done through
people). Manajemen selain disebut sebagai seni, juga bisa
disebut sebagai ilmu karena merupakan pengetahuan
yang terorganisasi dalam mempraktikkan manajemen
(Amin dan Tim FEBS FEUI, 2010: 46).
Manajemen juga sering diartikan dari kata to
manage yang secara umum berarti mengurusi. Menurut
Stonner, manajemen adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, memimpin, dan mengawasi usaha-
usaha dari anggota organisasi dan dari sumber-sumber
organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi
yang telah ditetapkan (Rivai, Amiur Nuruddin, dan
Faisar Ananda Arfa, 2012: 192).
Sedangkan dalam perspektif Islam, manajemen
merupakan suatu kebutuhan yang tak terelakkan dalam
memudahkan implementasi Islam pada kehidupan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 23


pribadi, keluarga, dan masyarakat. Oleh karena itu,
manajemen sering dianggap sebagai ilmu sekaligus
teknik (seni) kepemimpinan. Akan tetapi secara umum
tidak ada pengertian baku apa yang disebut sebagai
manajemen Islami. Kata manajemen dalam bahasa Arab
adalah Idara yang berarti berkeliling atau lingkaran.
Dalam konteks bisnis bisa dimaknai bahwa bisnis
berjalan pada siklusnya, sehingga manajemen bisa
diartikan kemampuan manajer yang membuat bisnis
berjalan sesuai dengan rencana (Amin dan Tim FEBS
FEUI, 2010: 66).
Sedangkan A. Riawan Amin mendefenisikan
manajemen syariah sebagai Getting God will done by the
people atau melaksanakan keridhaan Allah SWT melalui
orang (Amin, 2004: 14). Sementara Veithzal Rivai, Amiur
Nuruddin, dan Faisar Ananda Arfa, (2012: 186-187)
menyatakan bahwa manajemen dalam perspektif Islam
memiliki dua pengertian, yaitu sebagai ilmu, dan sebagai
aktivitas. Sebagai ilmu, manajemen dipandang sebagai
salah satu ilmu umum yang tidak berkaitan dengan nilai,
peradaban sehingga hukum mempelajarinya adalah fardu
kifayah. Sedangkan sebagai aktivitas ia terikat pada
aturan dan nilai atau hadlarah Islam. Di lihat dari sisi
bisnis Islam, maka diartikan sebagai suatu bentuk bisnis
yang mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam. Oleh
karena itu, praktiknya dalam Islam itu bersifat universal,
artinya semua negara dapat melakukan atau mengadopsi
sistem bisnis Islam dalam hal sebagai berikut :

24 Nova Yanti Maleha, SE., MM


a. Menetapkan imbalan yang akan diberikan
masyarakat sehubungan dengan pemberian jasa
yang dipercayakan kepadanya.
b. Menetapkan imbalan yang akan diterima
sehubungan dengan penyediaan jasa kepada
masyarakat dalam bentuk pembiayaan baik untuk
keperluan investasi maupun modal kerja.
c. Menetapkan imbalan sehubungan dengan kegiatan
usaha lainnya yang lazim dilakukan oleh bisnis
Islami.
Bisnis Islami merupakan unit usaha, dimana
menjalankan usahanya berpatokan kepada prinsip-
prinsip syariah Islam, dengan mengacu kepada Al-
Quran dan hadis. Prinsip Islam dimaksudkan di sini
adalah beroperasi atau dalam menjalankan praktik bisnis
mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam,
khususnya cara bermuamalah secara Islam, misalnya,
menjauhi praktik yang mengandung riba (bunga), dzulm
(merugikan hak orang lain), gharar (tipuan), dharar
(bahaya), dan jahalah (ketidakjelasan) serta praktik-
praktik mendzalimi orang lain lainnya.
Sebagai contoh, khusus pembiayaan berdasarkan
prinsip syariah adalah penyediaan utang atau tagihan
yang dipersamakan berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan
uang atau tagihan tersebut, setelah jangka waktu tertentu
dengan imbalan atau bagi hasil (mudharabah).

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 25


B. Konsep Manajemen Bisnis Syariah
Beberapa tahun belakangan ini banyak eksekutif
muda yang mengubah pandangan hidup (worldview)
mereka dengan mendekatkan diri pada nilai-nilai yang
lebih mendalam dan bertahan lama serta membangun
komunitas kerja yang lebih produktif. Di antara mereka
ada yang berhasil melakukan itu, ketika mereka tetap
dapat bersentuhan dengan dimensi spiritual dalam
pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka juga dapat
meningkatkan produktifitas dan efektifitas organisasi
yang menjadi tanggung jawab mereka.
Namun demikian, para eksekutif yang mengalami
kekeringan spiritual masih jamak di temui. Dalam
menjalankan roda bisnis, misalnya, mereka hanya
memandangnya dari perspektif bisnis. Mereka berfikir
dalam dualism Cartesian dengan memisahkan dunia fisik
dan realism spiritual. Mereka juga menggunakan metode
berfikir newtonia dan melihat dunia ini sebagai sebuah
mesin yang tersusun dari berbagai komponen yang
terpisah dan berbeda-beda. Konsekuensinya, mereka
memandang orang-orang sebagai benda-benda atau
komponen dari sebuah mesin ekonomi. Cara pandang
seperti ini tidak bisa melihat realitas manusia secara utuh
dan satu kesatuan meskipun menggunakan teknik
manajemen yang canggih.
Lebih dari itu, bisnis yang tidak dilakukan untuk
melayani kepentingan manusia dan alam secara umum.
Tidak heran kemudian kalau bisnis yang dilakukan tidak
memungkinkan kita menjadi apa yang sebenarnya dapat

26 Nova Yanti Maleha, SE., MM


kita capai. Konsekuensinya, kita gagal terhadap
komitmen terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan,
seperti kelaparan, kerusakan lingkungan, disfungsi
personal, konflik sosial, dan lain sebagainya bukan
karena ketidakmampuan, melainkan karena worldview
yang digunakan menyebabkan terjadinya benturan
antara keinginan (intention), nilai-nilai (values), dan
prioritas.
Kita sudah lama terjebak pada pandangan bahwa
business is business atau business is as usual. Akibatnya,
kita memisahkan urusan bisnis dari spiritualitas dan
nilai-nilai. Kita menganggap bahwa bisnis dan
spiritualitas adalah dua entitas yang tidak mungkin
disatukan. Selain itu, memasukkan unsur spiritualitas
atau relegiusitas dalam bisnis dapat menyebabkan
benturan dan ketidakluwesan dalam berbisnis. Sebagian
lagi ada yang menganggap bahwa spiritualitas atau
relegiusitas tidak ada hubungannya dengan kegiatan
bisnis. Agama hanya seperangkat aturan yang
membahas hal-hal yang bersifat ibadah ritual (ibadah
mahdhah) seperti upacara kelahiran, kematian,
pernikahan, dan ritual ibadah sehari-hari. Agama hanya
ada di tempat-tempat ibadah saja bukan di sentra-sentra
bisnis.
Dikatomi antara agama dan bisnis ini
menyebabkan keduanya seperti tidak berhubungan.
Padahal agama tanpa didukung oleh perekonomian yang
cukup dapat menyebabkan keterbelakangan pelakunya
di berbagai bidang karena semua kegiatan hidup

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 27


membutuhkan dukungan ekonomi. Sebaliknya, bisnis
tanpa nilai-nilai keagamaan atau spiritualitas
menyebabkan ketidakpuasan yang berlarut-larut dan
kebingungan terhadap arah yang akan dituju.
Pencapaian-pencapaian target bisnis yang fantastis tidak
juga kunjung mendatangkan kebahagiaan (Antonio,
2008: 17-18).
Islam sebagai agama rahmatan lil alamien telah
meletakkan pondasi yang tepat terhadap dunia bisnis.
Bisnis merupakan suatu bentuk ibadah dalam rangka
memakmurkan bumi dan isinya sesuai dengan yang
diinginkan Allah SWT yang telah mengangkat mereka
sebagai wakil (khalifah)-Nya di bumi. Selain itu, dalam
konsep Islam dimensi keimanan (esensi), dimensi bentuk
yang berupa ritual wajib dan sunnah termasuk dalam
bidang bisnis dan manajemennya, serta dimensi ekspresi
yang berupa tata hubungan antara manusia dan
makhluk lain terjalin menjadi satu kesatuan yang tak
terpisahkan (Shomad, 2010: 2).
Kehidupan umat manusia ditandai dengan gerak
untuk selalu berubah. Aktivitas bisnis adalah gerak
dinamis yang tiada henti, sumber daya bisnis akan
berkembang karena dikelola dan diputar. Kondisi ini
memacu manusia sebagai agama untuk merumuskan
manajemen. Islam memberikan panduan kepada
manusia dalam melakukan aktivitas bisnis antara lain;
Pertama, Planning, yaitu melakukan
perencanaan/gambaran dari sesuatu kegiatan yang akan
dilakukan dengan waktu dan metode yang sudah

28 Nova Yanti Maleha, SE., MM


ditentukanm. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:
Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika
melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat,
tearah, jelas, tuntas). (HR. Thabrani). Begitu juga dalam
Al-Quran Surah Al-Insyirah [94] ayat 7-8;

Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan)


kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang
lain. Dan hanya kepada Tuhanlah hendaknya kamu
berharap.

Kedua,Organization; melakukan pengorganisasian


tentang fungsi setiap orang, hubungan kerja baik secara
vertikal atau horizontal. Allah SWT berfirman;

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 29


Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka
Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu
Karena nikmat Allah, orang-orang yang
bersaudara.(QS. Ali-Imran [3]: 103).

Ayat di atas menunjukkan bahwa dalam aktivitas


bisnis, manusia dilarang bermusuh-musuhan.
Hendaknya bersatu-padu seperti saudara dalam bekerja
dan memegang komitmen untuk menggapai cita-cita
yang diinginkan sejalan dengan aturan-aturan syariah
dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai


dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari
kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa
(dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. Al-
Baqarah [2]: 286).

Ketiga, Coordination. Melakukan pengaturan


sebagai upaya untuk mencapai hasil yang baik dengan
seimbang, termasuk diantara langkah-langkah bersama

30 Nova Yanti Maleha, SE., MM


untuk mengaplikasikan planning dengan mengharapkan
tujuan yang di cita-citakan. Allah berfirman;

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu


kedalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu
turuti langkah-langkah setan, karena setan itu
musuhmu yang nyata. (QS. Al-Baqarah [2]: 208).

Keempat, Controling, yaitu; senantiasa melakukan


pengamatan dan penelitian terhadap jalannya planning.
Dalam pandangan Islam menjadi syarat mutlak bagi
pimpinan untuk lebih baik dari anggotanya (sebagai
teladan), sehingga kontrol yang ia lakukan akan efektif
dan tepat sasaran. Dalam surah Ash-Shaff [61]: 2 Allah
berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu


mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. (QS.
Ash-Shaff [61]: 2).

Kelima, Motivation, yaitu; menggerakan kinerja


semaksimal mungkin dengan hati sukarela, ikhlas dan
mengharap ridha Allah SWT karena motivasi merupakan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 31


faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan
suatu aktivitas tertentu. Maka untuk memotivasi
seseorang diperlukan pemahaman tentang bagaimana
proses terbentuknya motivasi (Abdurrahman, 2013: 213).
Dalam surah An-Najm [53]: 39 Allah SWT berfirman:

Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain


dari apa yang telah diusahakannya. (QS. An-Najm
[53]: 39).

Keenam,Leading,yakni; melakukan pengaturan,


memimpin segala aktifitas kepada tujuan dan target yang
sudah ditetapkan. Dalam surah Al-Anam [6]: 165 Allah
SWT berfirman;

Dialah yang menetapkan kamu menjadi penguasa di


muka bumi, dan ditinggikan-Nya sebagaian kamu atas
sebagian yang lain beberapa derajat, sebagai cobaan
bagimu tentang semua yang diberikannya kepadamu.
(QS. Al-Anam [6]: 165).

32 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Keenam panduan tersebut merupakan fondasi
utama bagi setiap muslim dalam melakukan aktivitas
bisnis. Tujuannya agar aktivitas bisnis yang dilakukan
sejalan dengan aturan-aturan syariah dan menghasilkan
maslahah bagi setiap manusia dan puncaknya
mendapatkan falah. Selain itu, setiap kaum muslim harus
menyakini bahwa Allah SWT menjadikan dan
menyiadakan bumi seisinya untuk dikelola sebagai
investasi umat manusia. Allah SWT tidak membedakan
akidah, warga negara maupun jenis kelamin untuk
memberikan tingkat kemajuan bagi semua manusia yang
mempunyai semangat untuk berusaha dan bekerja (QS.
Al-Araf [7]: 10).
Allah SWT juga menegaskan bahwa perniagaan
atau jual beli tidak boleh dengan cara yang batil (QS. Al-
Nisa [4]: 29), mengandung riba (QS. Al-Baqarah [2]: 275),
dan diberi hak untuk mengadakan khiyar (pilihan untuk
meneruskan atau membatalkan transaksi). Dengan hak
khiyar itu ada jaminan bahwa orang akan bertransaksi
memperoleh kepuasan (Departemen Agama, 2002: 60).
Tidak ada larangan mengambil profit (QS. Al-Nisa [4]:
29) dan jual beli merupakan sesuatu yang sangat
dianjurkan (QS. Al-Baqarah [2]: 275). Lebih lanjut, setiap
muslim diminta untuk memperhatikan kualitas, baik
output maupun proses (QS. Al-Mulk [67]: 2) dengan cara
senantiasa meneliti ulang produk yang dihasilkan,
hingga diyakini tidak terjadi lagi kesalahan (zero defec)
(QS. Al-Mulk [67]: 3-4).

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 33


Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup
dan berinteraksi dalam suatu komunitas sosial dengan cara
yang teratur. Manusia menggunakan manajemen untuk
mengatur diri sendiri dan kelompok agar terjadi interaksi
yang harmonis. Manusia mempunyai ciri khas yang
disebutkan dalam al-Quran seperti; suka bekerja sama,
suka beramal atau bekerja, memiliki program hidup (QS.
Al-Baqarah [2]: 210), makhluk beragama (QS. Ar-Rum [30]:
30), memiliki kehendak dan dituntut tanggungjawab (QS.
Ath-Thur [52]: 21). Oleh karena itu, pengembangan sumber
daya manusia tidak boleh terlepas pada hakikat manusia
yang diciptakan Allah SWT sebagai pemimpin di muka
bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30) (Rivai, Amiur Nuruddin, dan
Faisar Ananda Arfa, 2012: 199).

C. Prinsip-Prinsip Manajemen Bisnis Syariah


Menurut Humayon Dar sebagaiman dikutip A.
Riawan Amien dan Tim FEBS FEUI, (2010: 68) bahwa
Islamic Management setidaknya dibangun atas 8 (delapan)
prinsip, yaitu :
a. Manejer diperlukan untuk identifikasi dan/atau
mendefenisikan fungsi objektif dari perusahaan dan
digunakan untuk membuat strategi operasi yang
konsisten. Untuk memastikan pemenuhan terhadap
aturan syariah, manajemen mengadopsi pernyataan
misi yang menegaskan bahwa karakter dari
perusahaan tetap dominan.
b. Defenisi dari hak-hak yang jelas dan tidak ambigu
serta spesifikasi tanggung jawab dari masing-masing

34 Nova Yanti Maleha, SE., MM


kelompok pelaku dalam perusahaan adalah penting
demi penggunaan sumber daya yang efektif dan
efisien. Tujuannya untuk menghindari moral hazard
dan pemenuhan kepentingan pribadi yang terjadi
setiap hari dalam realitas bisnis
c. Pengakuan dan perlindungan hak dari seluruh pihak
yang berkepentingan (stakeholders), dan tidak hanya
kepentingan pemegang saham (shareholders),
merupakan fundamental menurut cara Islam dalam
mengelola bisnis.
d. Manajer harus mengumpulkan, memproses, meng-
update dan memperlihatkan, kapan pun hal itu
diperlukan, informasi dalam operasional bisnis
untuk kebermanfaatan pihak yang berkepentingan
(stakeholders) dari perusahaan.
e. Merencanakan mekanisme insentif seperti profit
yang berhubungan dengan paket remunerasi dan
bonus yang berhubungan dengan kinerja dan
monitoring yang efektif adalah penting untuk
pengelolaan yang sukses.
f. Pembuatan keputusan yang merupakan proses
horizontal di mana hal ini dengan kualifikasi yang
benar setelah dikonsultasikan dengan pemimpin.
g. Pengembangan kualitas sumber daya manusia
melalui persuasi, edukasi, dan penciptaan
lingkungan yang tepat dalam sebuah perusahaan
merupakan hal yang fundamental dalam manajemen
Islam.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 35


h. Minimalisasi transaksi dan monitoring biaya penting
bagi daya saing perusahaan Islam dalam pasar yang
didominasi oleh perusahaan konvensional.
Sedangkan Veithzal Rivai, Amiur Nuruddin, dan
Faisar Ananda Arfa, (2012: 201) menambahkan prinsip
manajemen bisnis Syariah dalam konteks hubungan
antara pengusaha dan pekerja. Menurutnya, Islam
menekankan beberapa hal sebagai berikut :
1). Islam menganjurkan agar pekerja diberi gaji yang
layak dan tidak membebani dengan pekerjaan di luar
batas kemampuannya.
2). Majikan menetapkan gaji bagi pekerjanya sebelum
memperkerjakan mereka secara transparan dan
rasional.
3). Majikan harus membayar gaji pekerja tepat pada
waktunya.
4). Pekerja tidak boleh melakukan pekerjaan yang
bertentangan dan merugikan kepentingan
perusahaan.
5). Pada awal perjanjian harus ditetapkan mengenai
deskripsi pekerjaan seperti bentuk/jenis pekerjaan,
lama bekerja, tugas dan tanggung jawab, sanksi,
jenjang karier, dan sebagainya secara lengkap dan
transparan serta disepakati kedua belah pihak.
Kompensasi merupakan hak dari pekerja untuk
pekerjaan mereka tanpa pengurangan. Rasulullah
bersabda: Allah berfirman bahwa Aku akan menjadi
penuntut, pada hari Pengadilan terjadi terhadap seseorang
yang mengikat pekerja pada pekerjaan dan melakukan

36 Nova Yanti Maleha, SE., MM


pekerjaan itu untuknya tetapi tidak diberikan upah itu
kepadanya.(Shahih Bukhari).
Lebih lanjut, beberapa ayat dan hadis Nabi SAW
menjelaskan bahwa dalam pemberian upah kepada
pekerja merupakan sesuatu yang diwajibkan karena
telah menggunakan tenaga orang lain. Upah atau gaji
dapat dijadikan sebagai alat pendorong seseorang untuk
giat bekerja. Upah adalah sebagai imbalan dari jerih
payah seseorang atas pekerjaan yang telah dilakukan
yang harus diberikan secara adil.

Allah SWT berfirman :

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil


dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat,
dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran
dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. An-Nahl
[16]: 90).

Menurut Hermawan Kartajaya dan Muhammad


Syakir Sula dalam bukunya syariah marketing (2006: 67-
93) setidaknya ada 9 etika yang harus menjadi prinsip-

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 37


prinsip dasar bagi para pelaku usaha dalam
memanajemen bisnisnya, yakni sebagai berikut :
1. Memiliki kepribadian spiritual (taqwa).
Seorang muslim diperintahkan untuk selalu
mengingat Allah, bahkan dalam suasana mereka sedang
sibuk beraktivitas. Ia hendaknya sadar penuh dan responsif
terhadap prioritas-prioritas yang telah ditentukan oleh
Allah. Kesadaran akan Allah ini hendaklah menjadi sebuah
kekuatan pemicu (driving force) dalam segala tindakan.
Misalnya saja, ia harus menghentikan aktivitas bisnisnya
saat datang panggilan shalat, demikian juga dengan
kewajiban-kewajiban yang lain.
Semua kegiatan bisnis harus selaras dengan
moralitas dan nilai utama yang digariskan oleh al-
Quran. Al-Quran menegaskan bahwa setiap tindakan
dan transaksi hendaknya ditujukan untuk tujuan hidup
yang lebih mulia (QS. At-Taubah [9]: 38, Al-Rum [30]: 7,
An-Nisa [4: 47, al-Syura [42]: 20). Umat Islam
diperintahkan untuk mencari kebahagiaan akhirat
dengan cara menggunakan nikmat yang Allah
karuniakan kepadanya dengan jalan yang sebaik-baiknya
(QS. Al-Qashash [28: 76-77).
Kemudian mendahulukan sesuatu yang secara
moral bersih daripada sesuatu yang secara moral kotor,
walaupun misalnya yang disebut terakhir mendatangkan
banyak keuntungan yang lebih besar (QS. Al-Maidah [5]:
103, mendahukukan pekerjaan yang halal dari pada yang
haram (QS. Hud [11]: 86), mendahulukan pahala yang
besar dan abadi di akhirat ketimbang yang terbatas dan

38 Nova Yanti Maleha, SE., MM


kecil di dunia (QS. An-Nisa [4]: 77, Al-Anam [6]: 32, Al-
Araf [7]: 169, al-Anfal [8]: 67, Yusuf [12]: 57, dan Al-Rad
[13]: 26), kegiatan bisnis tidak boleh sampai menghalangi
mereka untuk mengingat Allah dan melanggar rambu-
rambu perintah-Nya (QS. Al-Nur [24]: 37), dan
senantiasa untuk selalu memiliki kesadaran tentang
Allah (dzikrullah), meskipun sedang sibuk mengurusi
kekayaan dan anak-anaknya (QS. Al-Munafiqun [63]: 9,
dan Al-Taqhabun [64]: 15).

2. Berperilaku baik dan simpatik (Shidq)


Berperilaku baik, sopan santun dalam pergaulan
adalah fondasi dasar dan inti dari kebaikan tingkah laku.
Sifat ini sangat dihargai dengan nilai yang tinggi dan
mencakup semua sisi manusia. Sifat ini adalah sifat yang
harus dimiliki kaum muslim. Banyak ayat dalam al-
Quran dan hadis-hadis Rasulullah yang memerintahkan
kaum muslim untuk memiliki sifat tersebut, seperti QS.
Al-Hijr [15]: 88 yang mengajarkan manusia untuk
senantiasa berwajah manis, berperilaku baik dan
simpatik, QS. Luqman [31]: 18-19 yang mengajarkan
untuk senantiasa rendah hati dan bertutur kata yang
manis, QS. Al-Imran [3]: 159 dan Al-Anbiya [21]: 107,
yang mengatakan bahwa Rasulullah adalah manusia
yang sangat pengasih dan murah hati.
Bahkan Al-Quran juga mengharuskan umatnya
untuk berlaku sopan dalam setiap hal, termasuk ketika
melakukan transaksi bisnis dengan orang-orang yang
bodoh (sufaha), tetapi harus berbicara dengan ucapan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 39


dan ungkapan yang baik (QS. An-Nisa [4]: 5 dan 8), serta
kaum muslimin diharuskan untuk berlaku manis dan
dermawan terhadap orang-orang miskin, dan jika
dengan alasan tertentu ia tidak mampu memberikan
uang kepada orang-orang yang miskin itu, setidak-
tidaknya memperlakukan mereka dengan kata-kata yang
baik dan sopan dalam pergaulan (QS. Al-Isra [17]: 28).

3. Berlaku adil dalam berbisnis (Al-Adl)


Islam telah mengharamkan setiap hubungan
bisnis yang mengandung kezaliman dan mewajibkan
terpenuhinya keadilan yang teraplikasikan dalam setiap
pergaulan dagang dan kontrak-kontrak bisnis. Al-Quran
berkali-kali menyatakan bahwa Allah mencintai orang-
orang yang berbuat adil dan membenci orang-orang
yang berbuat zalim, (QS. Hud [11]: 18), adil harus
terhadap setiap orang termasuk yang tidak seagama
denganmu (QS. Asy-Syura [42]: 15), dan perintah
berbuat adil bagi setiap manusia (QS. An-Nisa [4: 28, Al-
Maidah [5]: 42, Al-Hujurat [49]: 9, Al-Anam [6]: 152).

4. Bersikap melayani dan rendah hati (khidmah)


Sikap melayani dan rendah hati merupakan sikap
utama dari seorang pebisnis. Tanpa sikap melayani dan
rendah hati, yang melekat pada kepribadiannya, dia
bukanlah seorang yang berjiwa pebisnis. Rasulullah
bersabda bahwa salah satu cirri orang beriman adalah
mudah bersahabat dengan orang lain, dan orang lain pun
mudah bersahabat dengannya. Al-Quran juga

40 Nova Yanti Maleha, SE., MM


memerintahkan dengan sangat ekspresif agar kaum
muslim bersifat lembut dan sopan santun manakala
berbicara dan melayani pelanggan (QS. Al-Baqarah [2]:
83 dan QS. Al-Isra [17]: 53).

5. Menepati janji dan tidak curang


Menepati janji atau amanah dalam Islam merukan
sifat dan sikap utama yang harus dimiliki kaum muslim.
Al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah banyak
menyatakan pentingnya menjaga amanah, seperti
perintah untuk selalu menjaga amanah Allah, rasul-Nya,
dan amanat-amanat lainnya (QS. Al-Anfal [8], Al-Nisa
[4]: 58, Al-Maidah [5: 92, Al-Araf [7]: 62, Al-Qalam [68],
Hud [11]: 57, dan An-Nahl [16]: 35), pertanggungjawaban
amanah di hadapan Allah sangat berat (QS. Al-Ahzab
[33]: 72, dan Al-Maarij [70]: 32).
Lawan dari menjaga amanah adalah curang (tatfif)
merupakan sikap yang sangat dibenci Allah. Sikap
curang, serakah, dan sikap tidak adil ini demi
memperoleh keuntungan yang lebih besar, bisa muncul
dalam menentukan harga, takaran, ukuran, timbangan.
Oleh karenanya, Allah berulang-ulang memerintahkan
ini untuk memenuhi takaran dan timbangan secara adil
(QS. Al-Anam [6]: 152, Al-Syuara [26]: 181-182, An-Nahl
[16]: 90, dan QS. Al-Isra [17]: 35), Allah menurunkan
ancaman keras kepada orang-orang yang curang (QS. Al-
Muthafiffin [83]: 1-6).

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 41


6. Jujur dan terpercaya (Al-Amanah)
Kejujuran merupakan akhak yang harus
menghiasi manajemen bisnis syariah dalam setiap gerak
langkahnya. Menurut Muhammad Ibn Ahmad al-Shahih,
kejujuran yang hakiki itu terletak pada muamalah
mereka. Jika ingin mengetahui sejauh mana tingkat
kejujuran seorang sahabat, ajaklah kerja sama dalam
bisnis. Di sana akan kelihatan sifat-sifat aslinya, terutama
dalam hal kejujuran.

7. Tidak suka berburuk sangka (Suuzh-zhann)


Islam sangat melarang pelaku usaha berburuk
sangka terhadap pelaku usaha lain, hanya bermotifkan
persaingan bisnis (QS. Al-Hujurat [49]: 12, dan Al-Ahzab
[33]: 58).

8. Tidak suka menjelek-jelekkan (Ghibah)


Menjelek-jelekkan (Ghibah) merupakan salah satu
penyakit hati yang harus dihindari pelaku usaha. Allah
melarang perbuatan tersebut dalam firman-Nya : Dan
janganlah sebagian kamu mengumpat sebagian yang lain
(QS. Al-Hujurat [49]: 12).
Sehubungan dengan itu, Nabi Muhammad SAW
juga mewanti-wanti umatnya dengan hadis berikut :
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda,
sesungguhnya Allah meridhai tiga hal dan membenci tiga hal.
Allah meridhai kalian untuk hanya beribadah kepada-Nya,
tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan engkau
selalu berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai-

42 Nova Yanti Maleha, SE., MM


berai. Sebaliknya, Allah membenci banyak bicara (ghibah),
banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan menyia-nyiakan
harta. (HR. Muslim).

9. Tidak melakukan suap (risywah)


Menyuap (risywah) merupakan perbuatan haram
dan termasuk dalam kategori makan harta orang lain
dengan cara batil. Memberikan sejumlah uang dengan
maksud agar dapat memenangkan tender suatu bisnis,
atau memberikan sejumlah uang kepada hakim atau
penguasa agar dimenangkan suatu perkara atau di
ringankan hukuman merupakan tindakan berkategori
suap (risywah). Rasulullah SAW bersabda : Allah
melaknat penyuap dan penerima suap dalam hukum. (HR.
Ahmad, Al-Tirmidzi, dan Ibn Hibban), dan pada hadis
lain : Rasulullah SAW melaknat penyuap, penerima suap,
dan yang menjadi perantaranya. (HR. Ahmad dan Hakim).

D. Karakteristik Manajemen Bisnis Syariah


Manajemen Bisnis Syariah memiliki karakteristik
sebagai berikut :
a. Manajemen dan masyarakat memiliki hubungan
yang sangat erat, manajemen merupakan bagian dari
sistem sosial yang dipenuhi dengan nilai, etika,
akhlak, dan keyakinan yang bersumber dari Islam.
b. Teori manajemen dalam Islam menyelesaikan
persoalan kekuasaan dalam manajemen, tidak ada
perbedaan antara pemimpin dan kru. Perbedaan
level kepemimpinan hanya menunjukkan wewenang

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 43


dan tanggung jawab. Atasan dan bawahan saling
bekerja sama tanpa ada perbedaan kepentingan.
Tujuan dan harapan mereka adalah sama dan akan
diwujudkan bersama.
c. Kru bekerja dengan keikhlasan dan semangat
profesionalisme, mereka berkontribusi dalam
pengambilan keputusan, dan taat kepada atasan
sepanjang mereka berpihak pada nilai-nilai syariah.
d. Kepemimpinan dalam Islam dibangun dengan nilai-
nilai syura dan saling menasehati, serta para atasan
dapat menerima saran dan kritik demi kebaikan
bersama.

Tugas Individu dan Kelompok


1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan manajemen
bisnis syariah ?
2. Sebutkan dan jelaskan 9 etika harus menjadi prinsip-
prinsip dasar bagi para pelaku usaha dalam
memanajemen bisnisnya menurut Hermawan
Kartajaya dan Muhammad Syakir Sula dalam
bukunya syariah marketing ?
3. Jelaskan nilai filosofi yang terkandung dari larangan
Allah SWT terhadap perniagaan atau jual beli yang
mengandung kebatilan dan riba ?
4. Sebutkan prinsip manajemen bisnis Syariah dalam
konteks hubungan antara pengusaha dan pekerja ?
5. Sebutkan dan jelaskan perbedaan antara manajemen
bisnis syariah dengan manajemen bisnis
konvensional ?

44 Nova Yanti Maleha, SE., MM


BAB III
MANAJEMEN ORGANISASI SYARIAH

A. Pengertian Manajemen Organisasi


Manajemen organisasi adalah pembagian kerja
yang direncanakan untuk diselesaikan oleh anggota
kesatuan pekerjaan, penetapan hubungan antar
pekerjaan, yang efektif diantara mereka, dan pemberian
lingkungan dan fasilitas pekerjaan yang wajar sehingga
mereka bisa bekerja secara efisisen.Memanajemen
organisasi juga bisa didefinisikan sebagai tugas,
pendelegasian otoritas, dan menetapkan aktifitas yang
hendak dilakukan oleh manajer pada seluruh hierarki.
Manajemen organisasi dapat diartikan seluruh proses
pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas,
tanggung jawab, dan wewenang sedemikian rupa.
Sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat
digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka
mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan(Munir &
Wahyu,2006:138)
Manajemen organisasi menyatukan berbagai macam
sumber daya dan mengatur orang-orang dengan teratur,
selain mempersatukan oran-orang pada tugas yang saling
berkaitan. Manajemen organisasi dibuat tentu memiliki
tujuan yang baik, karena dengan manajemen organisasi,
rencana pelayanan publik akan mudah mengaplikasikanya.
Oleh karena itu tujuan dari manajemen organisasi adalah
(Munir dan Wahyu, 2006: 138):

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 45


1. Membagi-bagi kegiatan menjadi departemen-
departemen atau devisi-devisi dan tugas-tugas
secara spesifik dan terperinci.
2. Membagi kegiatan serta tanggung jawab yang
berkaitan dengan masing-masing jabatan atautugas
pelayanan terhadap masyarakat
3. Mengkoordinasikan berbagai tugas organisasi
4. Mengelompokan pekerjaan-pekerjaan organisasi
kedalam unit-unit.
5. Membangun hubungan dikalangan pegawai
maupun karyawan baik secara individual, kelompok
dan departemen.
6. Menetapkan garis wewenang
7. Menalokasikan dan memberikan sumber daya
organisasi
8. Dapat menyalurkan kegiatan-kegiatan organisasi
secara logis dan sistematis.

B. Konsep Manajemen Organisasi Syariah


Konsep manajemen organisasi syariah di
definisikan sebagai suatu rangkaian aktivitas yang
dilandasi oleh asas pengelolaan guna mencapai tujuan
yang telah ditetapkan dan diarahkan untuk mewujudkan
visi dengan menyelenggarakan berbagai misi dan
mengimplementasikan nilai-nilai yang dikembangkan
yang berdasarkan asas, nilai, dan prinsip-prinsip Islam.
Asas atau dasar suatu organisasi Islam adalah Islam,
yang bersumber dari Al Quran dan Sunnah Rasul, serta
ijtihad dari mayoritas ulama Islam Setiap gerak langkah

46 Nova Yanti Maleha, SE., MM


organisasi tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai
Islam.
Tujuan dan visi organisasi yang baik adalah yang
memiliki dimensi duniawi maupun ukhrawi. Yaitu Iman,
Ilmu,Amal dan harus selaras dengan prinsip-prinsip
islam. Nilai nilai islam harus bisa dikembangkan menjadi
budaya organisas nilai, nilai tersebut adalah: Ibadah,
Profesional, Kualitas, Prestasi, perbaikan (Mukhtarom,
1996: 45)
Salah satu surah al-Quran yang sangat rinci
menjelaskan tentang konsep berorganisasi dengan baik
adalah surah Ash Shaff. Dalam surat ini, terdapat lima
konsep besar yang harus ada untuk mewujudkan
organisasi yang kokoh, yakni sebagai berikut :
Pertama, Kesesuaian konsep dan pelaksanaan
dalam organisasi. Untuk mewujudkan organisasi yang
kokoh diperlukan adanya kesesuaian konsep (perkataan)
dan pelaksanaan (at tawafuq bainal qouli wal amal). Konsep
ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surah Ash-
Shaff [61]: 13.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 47


Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di
langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang
yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu
yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di
sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak
kamu kerjakan.

Berdasarkan ayat di atas, bahwa seruan-seruan ini


hanya ditujukan untuk orang-orang beriman dan tidak
untuk semua orang. Artinya bahwa, sebagai orang beriman
harus memahami dan melaksanakan hal tersebut. Selain
itu, yang diseru di sini adalah orang-orang beriman bukan
hanya satu orang beriman.dan di sinilah pesan konsep
kejamaahannya (keorganisasiannya). Kesesuaian antara
konsep (perkataan) dan pelaksanaan artinya tidak hanya
lihai merumuskan ide yang tidak diiringi dengan amal
nyata. Justru keduanya harus berjalan dengan sinergi
antara konsep dan pelaksanaan. Organisasi itu harus
mempunyai konsep cara bekerja. Bukan hanya sekedar
mempunyai kemampuan bekerja tetapi juga menguasai
cara bekerja. Penguasaan cara bekerja akan memudahkan
bagaimana mencapai tujuan berkerja.
Kedua, Soliditas tim dan ketepatan mengukur.
Solidaritas tim merupakan sebuah keharusan dalam
berorganisasi. Sebuah organisasi tanpa solidaritas tidak
akan pernah sampai pada visi dan misi organisasi. Hal
ini dijelaskan Allah dalam surah Ash Shaff [61] ayat 4.

48 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang


dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan
mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa Allah SWT


menyukai mukmin yang berjuang dalam sebuah
bangunan yang kokoh. Ciri dari bangunan yang kokoh
adalah seluruh komponen di dalamnya saling
menguatkan satu dengan yang lain. Dapat dirinci, bahwa
soliditas organisasi memiliki tiga ciri, yaitu: masing-
masing komponen didalamnya bisa menguatkan satu
dengan yang lain, bersinergi dalam bekerja serta
memiliki program yang jelas, termasuk pembagian
pelaksanaan program (pembagian potensi dan
pemanfaatan kemampuan).
Ketiga, Mengetahui kekuatan dan tantangan.
Mengetahui kekuatan dan tantangan adalah hal utama
dalam berorganisasi. Hal ini dijelaskan dalam surah Ash
Shaff [61] ayat 5-9.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 49


5. Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada


kaumnya: "Hai kaumku, Mengapa kamu menyakitiku,
sedangkan kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya
Aku adalah utusan Allah kepadamu?" Maka tatkala
mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan
hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
kaum yang fasik.

50 Nova Yanti Maleha, SE., MM


6. Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata:
"Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku adalah utusan
Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu
Taurat, dan memberi khabar gembira dengan
(datangnya) seorang Rasul yang akan datang
sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)."
Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan
membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini
adalah sihir yang nyata."
7. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang
mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia
diajak kepada Islam? dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang zalim.
8. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan
mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru)
menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang
kafir membencinya".
9. Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa
petunjuk dan agama yang benar agar dia
memenangkannya di atas segala agama-agama
meskipun orang musyrik membenci.

Dari ayat ini setiap muslim dapat mengambil


pelajaran dari tantangan yang dihadapi para Nabi dan
Rasul bahwa perlunya untuk mengukur tantangan-
tantangan yang akan dihadapi dalam kerja-kerja
organisasi. Jika kita mengetahui ukuran tantangan itu,
maka kita bisa membuat program yang bisa mengatasi
tantangan tersebut. Kegagalan dalam mengukur

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 51


tantangan yang akan dihadapi, akan mengakibatkan
ketidakjelasan merumuskan tahap-tahap pelaksanaan
amal sehingga bisa terjebak dalam suatu amal yang
bersifat asal-asalan. Tantangan yang perlu diukur adalah
semua tantangan baik dari dalam maupun diluar
organisasi.
Keempat, Konsep kesungguhan dalam bekerja dan
berjuang. Untuk membangun sebuah organisasi yang
kokoh diperlukan adanya sebuah konsep perjuangan
organisasi. Dan sebuah konsep perjuangan itu
hendaknya sebuah konsep yang mengandung motivasi
serta makna optimisme yang jauh dari konsep
perjuangan yang menakutkan (tidak realistis dan
membuat komponen di dalamnya ragu dapat
melaksanakannya atau tidak). Hal ini dapat dilihat pada
ayat 10-13 surat ini, yang menjelaskan indahnya sebuah
konsep berjuang besungguh-sungguh di jalan-Nya.

52 Nova Yanti Maleha, SE., MM


10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku


tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya
dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.
Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.
12. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan
memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke
tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah
keberuntungan yang besar.
13. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai
(yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang
dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang beriman.

Kelima, Memiliki kader yang militan (kader yang


solid). Hal ini dijelaskan Allah SWT dalam surah Ash-
Shaff [61]: 14.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 53


Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu


penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam
Telah Berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia:
"Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku
(untuk menegakkan agama) Allah?" pengikut-pengikut
yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong
agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman
dan segolongan lain kafir; Maka kami berikan kekuatan
kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-
musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang
menang.

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa keberhasilan


suatu perjuangan dalam organisasi juga ditentukan
dengan ada tidaknya kader-kader militan di dalamnya.
Militan ini terkait dengan makna komitmen, konsistensi,
keseimbangan (tawazun), ketaatan serta kecintaan.
Karena memang amal yang baik dari seorang kader
organisasi tidak akan bisa terwujud tanpa lima hal di
atas. Dan dengan memiliki kader yang militan, amal-
amal terbaik akan dihasilkan dalam organisasi.

54 Nova Yanti Maleha, SE., MM


C. Prinsip-prinsip Manajemen Organisasi Syariah
Ada sepuluh prinsip-prinsip utama manajemen
organisasi syariah, yaitu : Pertama,Efektif. Efektif sering
dimaknai ada efeknya baik dari segi akibat dan pengaruh
yang ditimbulkan oleh suatu hal yang di perbuat. Oleh
karenanya, di dalam Islam seorang pemimpin senantiasa
dituntut agar mendatangkan pengaruh yang baik untuk
organisasi demi memperoleh efek yang diharapkan oleh
seorang leader dan setiap bagian yang berkecimpung di
dalam organisasi. Allah SWT dalam surah Al-Insyrah
[94]: 7 memerintahkan kepada seluruh hamba-hambanya
untuk :

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu


urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh..

Ayat di atas mengajak setiap muslim untuk


melakukan sesuatu hal itu haruslah efektif dan sungguh-
sungguh dalam arti kata tidaklah setengah-setengah.
Apabila seseorang telah menyelesaikan pekerjaannya,
maka ia baru memfokuskan konsentrasinya kepada hal
yang lain.
Kedua, Efisien. Efisien artinya tepat atau sesuai
untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu dengan tidak
membuang-buang waktu. Maka untuk mencapai tujuan
utama sebuah organisasi seorang leader dituntut untuk

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 55


memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Allah SWT
berfirman dalam surah Al-Ashr [103]: 1-3;

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar


dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya
mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menetapi kesabaran.

Dalam ayat ini Allah SWT bersumpah demi waktu


dikarenakan banyaknya hamba tidak lihai dalam
memanfaatkan waktu sehingga apa yang mereka
usahakan tidaklah mencapai hasil yang maksimal.
Waktu adalah kehidupan, dan bila manusia tidak
memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, maka ia
termasuk golongan orang yang merugi. Oleh karena itu,
yang perlu dilakukan oleh seorang muslim adalah
bagaimana mengatur aktivitasnya secara maksimal
mungkin, yaitu aktivitas yang memenuhi kategori
bermanfaat tunduk pada peraturan-peraturan Allah SWT
dan menghasillan amal shaleh.
Pada ayat yang lain Allah SWT menjelaskan orang
yang juga merugi dan buang-buang waktu sehingga
melakukan pekerjaan yang dilakukannya sia-sia dan
nihil hasilnya.

56 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan


kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia
perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan
mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-
baiknya. (QS. Al-kahfi [18]: 103-104).

Ketiga, Tidak Boros. Allah SWT berfirman dalam


beberapa surah tentang larangan berlaku boros di
antaranya :

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat


akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang
dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-
hamburkan (hartamu) secara boros. (QS. Al-Isra
[17]: 26).

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 57


Allah SWT berfirman : Hai anak Adam, pakailah


pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid,
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan. (QS. Al-Aaraf [7]: 31).

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah


saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat
ingkar kepada Tuhannya.(QS. Al-Isra [17]: 27).

Ayat diatas menganjurkan bagi setiap muslim


haruslah mempergunakan apapun yang yang perlu
dipergunakan, akan tetapi Allah sangat membenci orang-
orang yang melampaui batas..Israf adalah sesuatu yang
dilarang, sesuatu yang tidak disukai Allah SWT. jangan
mengeluarkan sesuatu yang sebenarnya tidak
dibutuhkan (Hafidhuddin dan Hendri Tanjung. 2003: 26-
27).

58 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Keempat. Musyawarah. Musyawarah adalah hal
yang yang tidak boleh dilupakan oleh seorang leader
yang hendak menuntaskan suatu perkara agar
keputusan yang diambil bukan merupakan keputusan
keputusan yang egois dari seorang managerartinya
keputusan yang dihasilkan secara musyawarah. Pada
umumnya metode musyawarah melahirkan keputusan
yang matang karena melalui proses yang penuh
pertimbangan.
Musyawarah merupakan suatu forum tukar
menukar pikiran, gagasan, ataupun ide, termasuk saran-
saran yang diajukan dalam memecahkan suatu masalah
sebelum tiba pada suatu pengambilan keputusan.
Meskipun demikian, musyawarah berbeda dengan
demokrasi yang berpegang pada rumus setengah plus
satu atau suara mayoritas yang lebih dari separuh
berakhir dengan kekalahaan suara bagi suatu pihak dan
kemenangan bagi pihak yang lain. Dalam musyawarah
yang dipentingkan adalah jiwa persaudaraan yang
dilandasi keimanan kepada Allah, sehingga yang
menjadi tujuan musyawarah bukan mencapai
kemenangan untuk pihak atau golongan tertentu, tetapi
untuk kepentingan atau kemaslahatan umum. Karena
itu, yang perlu diperhatikan dalam musyawarah bukan
soal siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi
sejauh mana keputusan yang akan diambil itu dapat
memenuhi kepentingan atau kemaslahatan umum.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 59


Agama memerintahkan agar semua urusan itu
diputuskan dengan musyawarah. Sebagaimana firman
Allah dalam Q.S. Asy-Syura [42] ayat 38;

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi)


seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang
urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat
antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari
rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Perintah musyawarah juga terdapat dalam surah


Ali Imran [3]: 159;

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku


lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka,
dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan

60 Nova Yanti Maleha, SE., MM


itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad,
Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-
Nya.

Kelima, Kebersamaan. Manusia di muka bumi ini


membutuhkan pasangan sehingga manusia tidak bisa
hidup sendiri-sendiri, manusia membutukan
kebersamaan karena manusia sudah menjadi
sunatullahnya sebagai makhluk sosial. Demikian halnya
juga dengan manajemen syariah yang menuntut
kebersamaan walaupun dipisahkan oleh jurang
perbedaan dan berbagai profesi dan tingkatan dalam
manajemen. Allah SWT berfirman dalam surah Al-
Hujurat [49]: 13:

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu


dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 61


Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal.

Dalam surah Ali Imran [3]: 103 Allah juga


melarang kita untuk bercerai-berai dan permusuhan.
Allah SWT berfirman :

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali


(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka
Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu
karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;
dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu
mendapat petunjuk. (Q.S. Ali-Imran [3]: 103).

Kelima, Akhlak sebagai Kunci Ibadah. Akhlak


merupakan pondasi utama dalam masalah bagaimana

62 Nova Yanti Maleha, SE., MM


sikap/tatacara termasuk bagi seorang pemimpin dalam
menghadapi bawahannya. Hal ini jelas disebutkan dalam
surah Al-Baqarah [2]: 44;

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan)


kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu
sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)?,
Maka tidaklah kamu berpikir?.

Hampir semua atasan adalah yang lebih


mengetahui dibandingkan bawahan meskipun tidak
secara Kaaffah, akan tetapi hendaknya seorang atasan ada
baiknya mengemukakan terdahulu apa yang ia inginkan
dan menjelaskan tujuannya sekaligus memberikan
contoh kepada bawahannya.
Artinya jika seorang atasan menyuruh
bawahannya, maka dia harus memulai dari dirinya
sendiri, tidak mungkin kita menyuruh bawahan kita
bersikap baik, sedangkan kita tidak (Hafidhuddin dan
Hendri Tanjung, 2003: 17)
Dalam Islam konsep dan prinsip manajer ini
dapatdikaitkan dengan tugas yang di embannya, yaitu
bertanggung jawab (Munir dan Wahyu, 2009: 12).
Bertanggungjawab adalah salah satu akhlak terpuji yang
harus dimiliki setiap orang tanpa terkecuali.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 63


Bertanggungjawab akan mencerminkan pribadi
sesungguhnya dari orang yang beriman. Hal ini sesuai
dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Zalzalah [99]: 7-8;

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat


dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar
dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya
pula.

Pandangan Islam dalam manajemen juga


menuntut setiap orang yang ikut berperan didalamnya
agar memiliki akhlak mahmudah (Akhlak terpuji). Seperti
firman Allah dalam surah Shaad [38]: 46 yang
meyebutkan bahwa setiap manusia itu suci hanya karena
Allah telah menganugerahkan kepada kita akan akhlak
yang tinggi.

Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka


dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang
Tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada
negeri akhirat.

64 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Sehingga mensyukuri dengan menggunakan
akhlak terpuji tersebut adalah bernilai sebagai ibadah.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadits
yang berhubungan dengan akhlak manusia dalam
bermanjemen, yaitu adab dalam melakukan sesuatu itu
haruslah teratur, sehingga hasil yang dicapai adalah hasil
yang diharapkan oleh semua pihak dalam manajemen.
Dari Abi Yala, Allah mewajibkan kepada kita untuk berlaku
ihsan dalam segala sesuatu (HR. Muslim).Kata ihsan
bermakna melakukan sesuatu secara maksimal dan
optimal. Tidak boleh seorang muslim melakukan sesuatu
tanpa perencanaan, pemikiran, penelitian, kecuali
sesuatu yang sifatnya emergency (Hafidhuddin dan
Hendri Tanjung, 2003: 5)
Namun demikian ada beberapa hal yang perlu
kita ketahui bersama bahwa pemimpin yang ideal adalah
pemimpin yang memiliki kemampuan untuk
memadukan antara dimensi institusional dengan dimensi
individual. Oleh karena demikian karakter seorang
manajer yang ideal itu dapat dikatagorikan sebagai
berikut :
1. Amanah, sebagaimana tergambar dalam Q.S. Ali
Imran [3]: 26.
2. Memiliki ilmu dan keahlian, memiliki kekuatan dan
mampu merealisir, rendah diri sebagaimana yang
tergambar dalam Q.S. Al-Luqman [31]: 18 karena
rendah hati bagi seorang manager tidak akan
menurunkan martabat, bahkan akan mengangkat
derajat bagi seorang pemimpin karena sifat

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 65


sederhana itu sangatlah di senangi oleh Allah
sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Al-Luqman
[31]: 19
3. Bersifat toleransi dan sabar (emosional stabil)
sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. As-Sajadah [32]:
24.
4. Mempunyai sifat benar, adil, dan dapat dipercayai
(reliable) sebagaimna firman-Nya yang terdapat
dalam Q.S. An-Nahl [4]: 90 dan An-Nisa [4]: 135
5. Mau bermusyawarah dan cerdik sekaligus memiliki
firasat (Munir dan Wahyu, 2009: 234-238).
Ketujuh, Kebersamaan adalah hal yang konstruktif.
Pada dasarnya, majemen bukanlah kegiatan yang
individual. Manajemen itu bersifat membangun
(konstruktif). Kegiatan membangun pada umumnya
dilakukan secara bersama-sama. Tidak berbeda dalam
Islam, Allah sangat mencintai hamba-hambanya yang
kompak. Dan karena kekompakan tersebut, Allah
mengibaratkan orang-orang tersebut laksana satu
bangunan yang berdiri kokoh. Sebagaimana firman Allah :


Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang
dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan
mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
(Q.S. Ash-Shaff [61]: 4).

66 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Kokoh disini berarti adanya sinergi antara bagian
yang satu dengan bagian dengan bagian yang lain
(Hafidhuddin dan Hendri Tanjung, 2003: 3).
Pengorganisasian dalam pandangan Islam bukan
semata-mata wadah, akan tetapi lebih menekan
bagaimana pekerjaan dapat dilakukan secara rapi tan
teratur (Munir dan Wahyu, 2009: 117).
Untuk menciptakan kekompakan antara satu
bagian dengan bagian lainnya, tentulah bukanlah hal
yang mudah. Karena juga terdapat aturan-aturan
mainnya. Salah satunya adalah umat Islam sangat
dilarang untuk tolong menolong dalam hal
kemungkaran, akan tetapi umat Islam sendiri harus
tolong menolong dalam hal membangun, yaitu dalam
kebaikan.
Seperti firman Allah dalam al-Quran, sebagai
berikut :

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 67



Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
melanggar syiar-syiar Allah, dan jangan melanggar
kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu)
binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang
qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang
yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari
kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu
telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah
berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu)
kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-
halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu
berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-
menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya. [Q.S. Al-
Maidah [5]: 2]

Kedelapan. Possitive Thinking. Salah satu sudut


padang manajemen syariah adalah berfikir positif
(Possitive Thinking). Artinya setiap muslim dianjurkan
agar tetap menjalin tali silaturrahim terhadap sesama
komponen yang ada dalam satu organisasi atau dalam
dalam organisasi yang berbeda. Allah sangat melarang
hamba-hambanya untuk berprasangka buruk.

68 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Berprasangka buruk meupakan suatu dosa yang wajib
dihindari oleh setiap bagian dari suatu organisasi
tertentu. Karena dapat menimbulkan suatu perpecahan
antar sesama.
Adapun perumpamaan tentang orang yang
berprasangka buruk adalah seperti yang difirmankan
oleh Allah SWT sebagai berikut :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan


purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-
sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan
orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah
kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi
Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat [49]: 12).

Kesembilan, Etos kerja yang Tinggi. Islam


menganjurkan kepada seseorang untuk bekerja apa saja

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 69


yang sesuai dengan kemampuannya, karena Islam
sangat menyukai orang yang bekerja dan membenci
orang yang mengangur dan tergantung kepada
pemberian orang lain. Bagaimana mungkin dapat
membantu orang lain jika untuk memenuhi dirinya
sendiri saja tidak mencukupi. Bagaimana mungkin dapat
mencukupi kebutuhannya sendiri jika tidak mau bekerja
keras. Seseorang akan dapat membantu sesama apabila
dirinya telah berkecukupan. Seseorang dikatakan
berkecukupan jika ia mempunyai penghasilan yang
lebih. Seseorang akan mendapatkan penghasilan lebih
jika mau berusaha keras dan baik. Karenanya dalam
bekerja harus disertai etos kerja tinggi (Diana, 2008: 210).
Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang
melakukan pekerjaannya sungguh-sungguh. Banyak
firman Allah dan hadis Nabi SAW yang mempertegas
perintah-perintah ilahi mengenai pembahasan ini.
Firman Allah SWT :

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan


rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat
pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada
(Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang

70 Nova Yanti Maleha, SE., MM


nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang
Telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah [9]: 105).

Hadits yang diriwayatan oleh At-Tabrani sebagai


berikut : Sesungguhnya Allah SWT. sangat mencintai
orang" yang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan
secara itqan (tepat, terarah, jelas, dan tuntas). (HR. At-
Tabrani)
Arah pekerjaan yang jelas, landasan yang mantap,
dan cara mendapatkannya yang transparan merupakan
amal perbuatan yang dicintai Allah (Hafidhuddin dan
Hendri Tanjung, 2009: 1).
Adapaun janji Allah SWT. bahwa siapa saja yang
bersungguh-sungguh, maka mereka akan mendapatkan
apa yang diharapkannya. Sebagaimana firman Allah
dalam surah Al-Ankabut [29]: 69)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari


keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan
kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah
benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Kesepuluh, Disiplin. Disiplin merupakan syarat


mutlak manajemen organisasi syariah. Konsistensi dalam
menerapkan kedisiplinan dalam setiap tindakan,
penegakan aturan dan kebijakan akan mendorong
munculnya kondisi keterbukaan, yaitu keadaan yang jadi

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 71


prasangka negatif karena segala sesuatu disampaikan
melalui fakta dan data yang akurat (informasi yang
benar). Selanjutnya, situasi yang penuh dengan
keterbukaan akan meningkatkan komunikasi horizontal
dan vertikal, membina hubungan personal baik formal
maupun informal diantara jajaran manajemen, sehingga
tumbuh sikap saling menghargai. Sebagaimana halnya
shalat yang maktubah yang telah ditetapkan waktunya
seperti yang telah kita ketahui bersama ayat tersebut
tergambarkan dalam surah An-Nisa [4]: 103, maka begitu
pula halnya sistem manajemen yang harus di terapkan
oleh kita semua agar tujuan yang kita harapkan pada
tujuan utama mendirikan sebuah organisasi.

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu),


ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di
waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa
aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa).
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang
ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

72 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Tugas Individu dan Kelompok
1. Jelaskan apa saudara ketahui tentang manajemen
organisasi syariah ?
2. Sebutkan dan jelaskan karakter seorang manajer
yang ideal menurut al-Quran ?
3. Jelaskan mengapa konsep Possitive Thinking sangat
penting dalam manajemen organisasi syariah?
4. Sebutkan dan jelaskan lima konsep besar yang harus
ada untuk mewujudkan organisasi yang kokoh
dalam surah Ash Shaff ?
5. Jelaskan bagaimana etos kerja dalam manajemen
organisasi syariah ?

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 73


74 Nova Yanti Maleha, SE., MM
BAB IV
MANAJEMEN PEMASARAN SYARIAH

A. Pengertian Manajemen Pemasaran


Ada anggapan bahwa pemasaran identik dengan
penjualan (sales), sales promotion girl, iklan, promosi, atau
produk. Bahkan seringkali orang menyamakan profesi
marketer (pemasar) dengan sales (penjual). Namun
sebenarnya pemasaran tidaklah sesempit yang
diidentikkan banyak orang, karena pemasaran berbeda
dengan penjualan (Al-Arif, 2010: 5). Pengertian
pemasaran sebenarnya lebih luas dari kegiatan
penjualan. Sebaliknya, penjualan adalah sebagian dari
kegiatan pemasaran. Pemasaran tidak hanya meliputi
kegiatan menjual barang dan jasa saja, tetapi mencakup
beberapa kegiatan lain yang cukup kompleks seperti riset
mengenai prilaku konsumen, riset mengenai potensi
pasar, kegiatan untuk mengembangkan produk baru,
dan kegiatan mendistribusikan dan mempromosikan
barang yang dijual (Sukirno et,al, 2004: 206-207). Dalam
arti lain, pemasaran merupakan suatu proses kegiatan
yang mulai jauh sebelum barang-barang/ bahan-bahan
masuk dalam proses produksi(Assauri, 2004: 3). Karena
begitu pentingnya pemasaran, maka para ahli pemasaran
mengatakan bahwa pemasaran perlu diutamakan dalam
perusahaan jika kebutuhan pelanggan akan terpuaskan
secara efisien (Mursid, 2003: 6).

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 75


Pemasaran juga diartikan sebagai suatu proses sosial
yang di dalamnya berupa individu dan kelompok untuk
mendapatkan apa yang mereka butuhkan (need) dan
inginkan (want) dengan menciptakan, menawarkan, dan
secara bebas mempertukarkan produk dengan pihak lain
(Hakim, Sudarso Indung, dan Trisurno Lantip, 2006: 1).
Menurut Philip Kotler (2001: 23) pemasaran
adalah bekerja dengan pasar sasaran untuk mewujudkan
pertukaran yang potensial dengan maksud memuaskan
kebutuhan dan keinginan manusia. Sehingga dapat
dikatakan bahwa keberhasilan pemasaran merupakan
kunci kesuksesan dari suatu perusahaan. Bayu Swastha
dan Irawan (2005: 10) menyatakan pemasaran
merupakan falsafah bisnis yang bercirikan bahwa
pemuasan kebutuhan konseumen merupakan syarat
ekonomi dan sosial bagi keberlangsungan hidup
perusahaan. Bagian pemasaran pada suatu perusahaan
memegang peranan yang sangat penting dalam rangka
mencapai besarnya volume penjualan, karena dengan
tercapainya volume penjualan yang diinginkan berarti
kinerja bagian pemasaran dalam memperkenalkan
produk telah berjalan dengan baik dan benar. Penjualan
dan pemasaran sering dianggap sama tetapi pada
prinsipnya berbeda.
Pada masa kini, ketika teknologi semakin canggih
dan kompetisi dalam kegiatan-kegiatan sejenis semakin
tajam, pemasaran dikaitkan dengan empat komponen
yang dikenal sebagai 4 P atau marketing mix, yaitu product
(produk), pricing (penetapan harga), place (tempat), dan

76 Nova Yanti Maleha, SE., MM


promotion (promosi). Dengan demikian, marketing mix
berkenaan dengan pengembangan barang, penentuan
harga, menyebarkan barang ke berbagai tempat untuk
membuka jaringan baru, dan mempromosikan barang
agar dibeli konsumen.
Berdasarkan empat komponen tersebut, maka
dapat didefenisikan istilah pemasaran, yaitu sekumpulan
yang saling berhubungan yang disusun dengan tujuan
untuk mengetahui kebutuhan konsumen dan seterusnya,
mengembangkan barang yang dibutuhkan, menentukan
harganya, mendistribuskan, dan mempromosikannya
(Sukirno, et.al, 2004: 209). Sedangkan J. Stanton (dalam
Sunyoto, 2013: 18) menyatakan bahwa marketing is a total
system business designed to plan, price, promote and distribute
want satisfying product to target market to achieve
organization objective (pemasaran adalah suatu sistem
total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk
merencanakan, menentukan harga, promosi dan
mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan
keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan
perusahaan).
Dari berbagai pengertian di atas mengandung
beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Pemasaran adalah kegiatan manusia yang bertujuan
untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan
konsumen melalui pertukaran dan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan perusahaan.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 77


2. Pemasaran adalah kegiatan perusahaan dalam
membuat rencana, menentukan harga, promosi serta
mendistribusikan barang dan jasa.
3. Program pemasaran itu dimulai dengan sebuah ide
tentang produk baru (barang, jasa, ide pribadi atau
tempat) dan tidak berhenti sampai keinginan
konsumen benar-benar terpuaskan.
Manajemen pemasaran sendiri merupakan
analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian
program yang dipolakan untuk menciptakan,
membangun, dan mempertahankan pertukaran manfaat
dengan pembeli dengan maksud untuk mencapai tujuan
perusahaan. Manajer pemasaran meliputi manajer
penjualan dan wiraniaga, pelaksana periklanan, personel
promosi penjualan, pelaku riset pemasaran, manejer
produksi, spesialis penetapan harga, dan lain-lain.
Upaya pertukaran dengan pasar sasaran perlu
didasarkan pada falsafah sebagai pedoman upaya
pemasaran. Konsep alternatif yang digunakan oleh
perusahaan dalam menjalankan aktivitas pemasaran
meliputi; Pertama, konsep produksi. Konsep produksi
berpedoman bahwa konsumen akan mendukung produk
yang tersedia dengan harga terjangkau. Karena itu,
manajemen harus fokus pada perbaikan produksi dan
efisiensi distribusi. Kedua, konsep produk. Konsep
produk merupakan pedoman bagi penjual bahwa
konsumen akan mendukung produk yang menawarkan
kualitas, bentuk, dan ciri yang inovatif. Karena itu

78 Nova Yanti Maleha, SE., MM


perusahaan harus secara berkesinambungan
meningkatkan kualitas produk.
Ketiga, konsep penjualan. Banyak perusahaan
mengikuti konsep penjualan, yang mengatakan bahwa
konsumen tidak akan membeli produk sebuah
perusahaan dalam jumlah yang cukup kecuali jika
perusahaan melakukan upaya penjualan dan promosi
dalam skala yang luas. Konsep ini diaplikasikan pada
barang yang tidak dicari, yakni barang yang pada
umumnya tidak terpikir oleh orang untuk membelinya,
seperti ensiklopedia. Industri ini harus mencari dengan
cermat prospek dan menjualnya berdasarkan manfaat
produk.
Keempat, konsep pemasaran. Konsep pemasaran
berpedoman pada tercapainya tujuan perusahaan yang
ditentukan oleh terpenuhnya kebutuhan dan keinginan
pasar sasaran dan terciptanya kepuasan yang diinginkan
lebih efektif dan efisien daripada yang dilakukan oleh
pesaing (Machfoedz dan Mahmud Machfoedz, 2008: 86-87).

B. Tujuan dan Fungsi Pemasaran


Tujuan pemasaran adalah untuk memahami
pelanggan sedemikian rupa sehingga produk atau jasa
itu cocok dan tepat bagi pelanggan dan selanjutnya
memakai produk atau jasa tersebut terus menerus dan
mamasarkan kepada orang lain. Oleh karenanya,
idealnya, pemasaran harus menghasilkan pelanggan
yang siap membeli. Maka, tujuan pokok pemasaran
adalah melayani konsumen dengan mendapatkan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 79


sejumlah laba, atau dapat diartikan sebagai
perbandingan antara penghasilan dengan biaya yang
layak (Idri, 2014: 273). Sedangkan menurut Ikatan Bankir
Indonesia (2015: 110) pemasaran bertujuan menciptakan
keterikatan pelanggan bukan hanya dengan produk yang
dihasilkan, tetapi juga dengan atribut yang dimiliki
perusahaan.
Pemasaran mempunyai beberapa fungsi. Secara
garis besar, fungsi pemasaran adalah; pertama, fungsi
melakukan pertukaran seperti fungsi penjualan dan
fungsi pembelian, kedua, fungsi melakukan kegiatan fisik
barang seperti menggudangkan barang dan mengangkut
barang, dan ketiga, fungsi memberikan fasilitas atau
kemudahan-kemudahan, seperti memberikan
permodalan, menanggung risiko, dan sebagainya. Secara
perinci, fungsi pemasaran adalah sebagai berikut :
1. Fungsi merchandising, yaitu usaha mendekatkan
barang dari produsen ke konsumen, dalam
pengertian bahwa barang tersebut harus disesuaikan
dengan kebutuhan dan keinginan konsumen dan
harus dipromosikan.
2. Fungsi buying, yaitu melakukan pembelian terlebih
dahulu. Barang yang akan dipasarkan harus dibeli
dahulu ke sumber-sumber pemasok baru dijual
dengan mengambil keuntungan yang tidak terlalu
tinggi.
3. Fungsi selling, yaitu melakukan penjualan yang
menghasilkan kepuasan bagi konsumen. Penjualan
ini dilakukan dengan berbagai teknik promosi agar

80 Nova Yanti Maleha, SE., MM


barang yang dijual dapat dikenal oleh konsumen.
Fungsi ini sangat penting dalam pemasaran.
4. Fungsi grading and standardzation, yaitu memilah-
milah barang agar dihimpun menjadi satu kelompok
yang memenuhi standar tertentu. Misalnya,
pedagang buah-buahan memisahkan buah yang
besar dan bagus menjadi buah spesial yang harganya
lebih mahal dari buah yang kecil.
5. Fungsi storage and warehousing, yaitu penyimpanan
dan penggudangan. Barang adakalanya perlu
dimasukkan ke dalam gudang menunggu masa
penjualan atau perlu disimpan di tempat-tempat
pendinginan agar tidak cepat rusak atau busuk.
6. Fungsi pengangkutan, yaitu barang yang akan
dipasarkan perlu diangkut ke tempat lain. Untuk itu,
seorang wirausahawan harus memiliki atau
menyewa alat transportasi guna memudahkan
pengangkutan komoditas yang dibeli ataupun akan
dijualnya.
7. Fungsi pembelanjaan (financing), yaitu pemodalan
untuk menggerakkan usaha. Pengusaha
membutuhkan pemodalan dari pinjam-meminjam
melalui perbankan atau memperoleh barang dari
pemasok.
8. Fungsi komunikasi, yaitu fungsi untuk melancarkan
kegiatan bisnis dengan menjalin komunikasi yang
baik antara perusahaan dan pelanggan atau antara
sesama keryawan dalam perusahaan.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 81


9. Fungsi pengambilan risiko. Dalam kegiatan usaha
selalu saja terjadi kemungkinan adanya risiko,
seperti risiko kebakaran, pencurian, dan sebagainya.
Seorang wirausaha dapat mengambil asuransi untuk
berbagai risiko yang dipertanggungkan (Idri, 2014:
274-275).

C. Konsep Manajemen Pemasaran Syariah


Pemasaran bisa diartikan sebagai suatu proses
sosial dan manajerial yang mencakup individu dan
kelompok guna mendapatkan apa yang mereka butuh
dan inginkan dengan cara menciptakan, menawarkan,
dan mempertukarkan jasa yang bernilai dengan pihak
lain. Pemasaran berusaha menghasilkan laba dari jasa
yang diciptakan sesuai dengan tujuan perusahaan
(Ikatan Bankir Indonesia, 2015: 120).
Islam memerintahkan umat manusia bertebaran
untuk meraih karunia Allah SWT, yaitu mencari suatu
manfaat ataupun memberikan manfaat bagi orang lain
yang dimaknai dengan bersosialisasi, bersilaturahmi,
berniaga, dan melakukan aktivitas bisnis lain dalam
rangka kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu berupa rida
Allah SWT (Ikatan Bankir Indonesia, 2015: 120).
Menurut Veithzal Rivai (2012: 156) perspektif
pemasaran syariah adalah ekonomi rabbani (divinity),
realistis, humanis dan seimbang. Inilah yang
membedakan sistem ekonomi syariah dengan sistem
ekonomi konvensional. Marketing menurut Islam
memiliki nilai dan karakteristik yang menarik. Marketing

82 Nova Yanti Maleha, SE., MM


syariah menyakini bahwa perbuatan yang dilakukan
seseorang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.
Oleh karenanya, menurut ajaran Islam, kegiatan
pemasaran harus dilandasi dengan nila-nilai Islami yang
dijiwai oleh semangat ibadah kepada Allah dan berusaha
semaksimal mungkin untuk kesejahteraan bersama.
Islam menghalalkan umatnya berniaga. Bahkan
Rasulullah SAW seorang saudagar sangat terpandang
pada zamannya. Sejak muda beliau dikenal sebagai
pedagang jujur. Rasulullah SAW mengajarkan pada
umatnya untuk berdagang dengan menjunjung tinggi
etika keislaman. Dalam beraktivitas ekonomi, umat Islam
dilarang melakukan tindakan bathil. Namun harus
melakukan kegiatan ekonomi yang dilakukan saling
ridho.
Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisaa [4]: 29


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil,
kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan
suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu
membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 83


Pemasaran Syariah adalah bentuk muamalah yang
dibenarkan dalam Islam, sepanjang dalam segala proses
transaksinya terpelihara dari hal-hal terlarang oleh
ketentuan syariah seperti riba, gharar dan tadlis.
Pemasaran syariah atau syariah marketing adalah sebuah
disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses
penciptaan, penawaran dan perubahan value dari suatu
inisiator kepada stakeholders-nya, yang dalam
keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-
prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam (Kertajaya dan
Sula, 2006:26)..
Hal ini berarti bahwa dalam syariah marketing,
seluruh proses, baik proses penciptaan, proses
penawaran, maupun proses perubahan nilai (value), tidak
boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan
prinsip-prinsip muamalah dalam Islam. Sepanjang hal
tersebut dapat dijamin, dan penyimpangan prinsip-
prinsip muamalah tidak terjadi dalam suatu transaksi
apapun dalam pemasaran dapat dibolehkan. Islam
memandang bahwa pemasaran sebagai jual beli yang
harus dipajang dan ditunjukkan keistimewaan-
keistimewaannya dan kelemahan-kelemahan dari barang
tersebut agar pihak lain tertarik membelinya.
Allah SWT berfirman :

84 Nova Yanti Maleha, SE., MM



Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang
mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan
surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan
Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu
Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam
Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih
menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu
lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar (QS.
At-Taubah [9]:111)

Saat ini sering kita jumpai cara pemasaran yang


tidak etis, curang dan tidak professional. Kiranya perlu
dikaji bagaimana akhlak kita dalam kegiatan ekonomi
secara keseluruhan. Atau lebih khusus lagi akhlak dalam
pemasaran kepada masyarakat dari sudut pandangan
Islam. Kegiatan pemasaran seharusnya dikembalikan
pada karakteristik yang sebenarnya. Yakni religius,
beretika, realistis dan menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan. Inilah yang dinamakan marketing syariah,
dan inilah konsep terbaik marketing untuk hari ini dan
masa depan.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 85


Prinsip marketing yang berakhlak seharusnya kita
terapkan. Apalagi nilai-nilai akhlak, moral dan etika
sudah diabaikan. Sangat dikhawatirkan bila menjadi
kultur masyarakat. Perpektif Pemasaran Syariah adalah
ekonomi Rabbani (divinity), realistis, humanis dan
keseimbangan. Inilah yang membedakan sistem ekonomi
Islam dengan sistem ekonomi konvensional. Marketing
menurut Islam memiliki nilai dan karakteristik yang
menarik. Pemasaran syariah meyakini, perbuatan
seseorang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.
Selain itu, marketing syariah mengutamakan nilai-nilai
akhlak dan etika moral dalam pelaksanaannya yang
bersumber dari al-Quran dan sunnah Rasul. Oleh karena
itu, marketing syariah menjadi penting bagi para tenaga
pemasaran untuk melakukan penetrasi pasar.
Selain itu, menurut Idri (2014: 284-286) ada
beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai etika
dalam pemasaran menurut Islam, yaitu :Pertama,
memiliki kepribadian yang baik dan spiritual (takwa)
sehingga dalam melakukan pemasaran tidak semata-
mata untuk kepentingan sendiri malainkan juga untuk
menolong sesama. Pemasaran dilakukan dalam rangka
untuk melakukan kebajikan dan ketakwaan kepada
Allah dan bukan sebaliknya (QS. Al-Maidah [5]: 2).
Keperibadian yang baik tersebut seperti sabar dalam
melaksanakan tugas meskipun selalu mendapat
rintangan dan hambatan (QS. Al-Anfal [8]: 46, Al-Ahqaf
[46]: 35, dan Al-Baqarah [2]: 153). Senantiasa tekun dan
tabah menghadapi kemungkinan termasuk celaan dan

86 Nova Yanti Maleha, SE., MM


hinaan. Tidak marah meskipun diperlakukan secara
kasar dan tidak manusiawi. Karena tidak jarang orang
yang menawarkan barang atau jasa mendapatkan
perlakuan yang tidak senonoh dari calon pelanggannya.
Jika disikapi dengan bijak, maka ia tidak akan
mendapatkan apa-apa selain kerugian.
Tidak kala penting adalah suka memaafkan orang-
orang yang melakukan kesalahan atau kekhilafan. Karena
dalam mamasarkan barang terkadang ada orang yang
berlaku negara kepada pemasar baik karena merasa
terganggung atau tidak suka dengan barang yang
ditawarkan maupun karena factor-faktor lain. Karena itu,
seorang pemasar dituntut untuk selalu sabar menghadapi
hal-hal seperti itu. Jika seorang muslim mampu menahan
amarah dan mau memaafkan kesalahan orang lain, serta
menafkahkan sebagian hartanya dalam keadaan senang
ataupun susah maka ia termasuk orang-orang yang
bertakwa yang dijanjikan surga.
Allah SWT berfirman :

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 87


Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit
dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan
mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-
orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran [3]:
133-134).

Kedua, berlaku adil dalam berbisnis. Keadilan


merupakan sesuatu yang sangat penting dalam Islam
dan tidak ada persamaannya dengan keadilan dalam
sistem mana pun. Keadilan menurut al-Quran sendiri
meliputi lima hal (Lidinillah, 2006: 167-168), (1), keadilan
Allah Swt bersifat mutlak sebagaimana firman Allah Swt
dalam surah Ali Imran [3] ayat 18;Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak
disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan
orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian
itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah),
yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(2) Keadilan firman-Nya atas ayat-ayat-Nya
tertuang dalam al-Quran. Sebagaimana terlihat dalam
surah al-Maidah [5] ayat 25; Berkata Musa: "Ya Tuhanku,
Aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku.
sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang
fasik itu".

88 Nova Yanti Maleha, SE., MM


(3) Keadilan syariat-Nya yang dijelaskan oleh
Rasulullah Saw. Sebagaimana firman Allah Swt dalam
surah al-Anam [6]ayat 161; Katakanlah: "Sesungguhnya
Aku Telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus,
(yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan
Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik".
(4) Keadilan pada alam ciptaan-Nya. Sebagaimana
dijelaskan dalam al-Quran surah At-Tin [95] ayat 4;
Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya.. Juga diterangkan dalam al-
Quran surah Ar-Rad [13] ayat 2; Allah-lah yang
meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu
lihat, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arasy, dan
menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar
hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan
(makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya),
supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
(5) Keadilan yang ditetapkan untuk manusia
dalam kehidupan bermasyarakat. Di dalam al-Quran
diserukan agar supaya orang-orang yang beriman dapat
menegakkan keadilan semata-mata karena Allah dan
tidak terpengaruh oleh kepentingan pribadi. Bahkan
Nabi Muhamammad Saw sendiri dengan tegas
diperintahkan agar berlaku adil terhadap orang-orang
yang Non Islam sekalipun. Seperti dalam firman Allah
Swt dalam surah Asy-Syura [42] ayat 15; Maka Karena
itu Serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai
mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa
nafsu mereka dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 89


Kitab yang diturunkan Allah dan Aku diperintahkan supaya
berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan
kamu. bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal
kamu. tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah
mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)".
Para aparat pemerintah diperintahkan agar
melaksanakan peraturan dengan adil. Sebagaimana
diperintahkan-Nya dalam surah An-Nisa [4] ayat 58;
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh
kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya
kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya
Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.
Perintah melaksankan keadilan mutlak tanpa
pandang bulu, bahkan dengan musuh sendiri. Seperti
firman Allah Swt dalam surah al-Anam [6] ayat
152;Maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah
kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah yang demikian itu
diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.
Oleh karena itu, sikap adil akan mendekatkan
pelakunya kepada nilai ketakwaan (QS. Al-Maidah [5]: 8).
Maka dalam konteks ekonomi, keadilan dalam pemasaran
dapat diwujudkan dengan mewujudkan pemerataan
dalam bidang ekonomi. (QS. Al-Hasyr [59]: 7).
Ketiga, berkepribadian baik dan simpatik serta
menghargai hak dan milik orang secara benar. Sikap
simpatik dan menghargai hak orang lainakan membuat
orang lain bahagia dan senang. Islam melarang

90 Nova Yanti Maleha, SE., MM


seseorang mengambil hak orang lain secara batikl, tidak
baik dan tidak simpatik (QS. An-Nisa [4]: 29).
Keempat, melayani nasabah dengan rendah hati
(khitmah) dan lemah lembut. Bersikap lemah lembut
kepada semua orang termasuk kepada calon pelanggan
merupakan kepribadian yang harus ada pada diri
seorang pemasar. Sikap lemah lembut membuat orang
lain senang karena diperlakukan dengan santun
sehingga orang menjadi tertarik baik kepada pemasar
maupun barang atau jasa yang ditawarkan. Sebaliknya,
jika seseorang bersikap kasar dan angkuh, maka tidak
mungkin aka nada orang yang mau mendekatinya
apalagi membeli barang atau jasa yang ditawarkan.
Rendah hati dan prilaku lemah lembut sangat dianjurkan
dalam Islam, bahkan Rasulullah SAW diperintah oleh
Allah untuk berperilaku demikian
Allah SWT berfirman ;

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku


lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka,

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 91


dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan
itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad,
Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-
Nya (QS. Ali Imran [3]: 159).

Seorang pemasar juga harus mempunyai banyak


relasi agar mudah dalam memasarkan produk atau jasa,
baik relasi dengan keluarga, rekan bisnis, pelanggan,
atau calon pelanggannya. Dalam Islam dikenal dengan
istilah silaturahmi, yaitu hubungan karib kerabat yang
harus selalu dipelihara dan ditingkatkan. Menurut
Rasulullah, orang yang selalu menjalin silaturahmi akan
dipermudah rezekinya dan pengaruhnya diluaskan,
sebagaimana sabdanya; Dari Anas bin Malik, katanya:
Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa
ingin agar rezekinya dilapangkan dan pengaruhnya diluaskan,
maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi (HR. Al-
Bukhari dan Muslim).
Kelima, selalu menepati janji dan tidak curang
dalam pemasaran termasuk dalam penentuan kualitas
dan kuantitas barang dan jasa.

Allah SWT berfirman

92 Nova Yanti Maleha, SE., MM



Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali
dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia
dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan
dengan adil. kami tidak memikulkan beban kepada
sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan
apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu berlaku
adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah
janji Allah yang demikian itu diperintahkan Allah
kepadamu agar kamu ingat (QS. Al-Anam [6]: 152).

Keenam, jujur dan terpercaya (amanah), tidak


menukar barang dengan yang buruk. Ketika seorang
tenaga pemasaran mengiklankan barangnya tidak
dilebih-lebihkan atau mengiklankan barang bagus
padahal kenyataannya tidak demikian. Antara
pernyataan dalam iklan dengan barang secara aktual
sama. Misalnya, jika produk tidak bisa menyembuhkan
penyakit tertentu dalam jangka waktu tertentu, jangan
diiklankan bahwa produk itu dapat digunakan untuk
mengobati penyakit tertentu dalam waktu tertentu,
karena hal itu merupakan kebohongan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 93


Allah SWT berfirman

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah


balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik
dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta
mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-
tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa
yang besar (QS. An-Nisa [4]: 2)

Rasulullah SAW sangat melarang transaksi bisnis,


termasuk pemasaran yang dilakukan dengan penipuan;
Dari Abu Hurairah ra., katanya, Rasulullah SAW melarang
jual beli dengan cara melempar dan jual beli yang
mengandung penipuan. (HR. Muslim).
Ketujuh, tidak suka berburuk sangka dan
menjelek-jelekkan barang dagangan atau milik orang
lain. Rasulullah SAW bersabda : Dari Abu Hurairah
bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, jauhilah prasangka
karena sesungguhnya prasangka itu pembicaraan yang paling
dusta, jangan saling mencari-cari kesalahan, jangan saling
memata-matai, jangan saling mendengki, jangan saling iri,
jangan saling membenci, jangan saling bermusuhan, dan
jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (HR. Muslim).
Kedelapan, tidak melakukan suap (risywah). Suap
menyuap dilarang dalam Islam dan merupakan sebuah

94 Nova Yanti Maleha, SE., MM


perbuatan yang terlaknat. Rasulullah SAW bersabda;
Dari Abd Allah ibn Amrkatanya, Rasulullah melaknat
pemberi suap dan pemberi suap. (HR. Abu Dawud dan al-
Tarmidzi).
Kesembilan, segala bentuk aktivitas ekonomi,
termasuk aktivitas pemasaran, harus memberikan
manfaat kepada banyak orang, tidak hanya untuk
individu atau kelompok tertentu saja.
Allah SWT berfirman :

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang


miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak
mendapat bagian. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 15-19).

Kesepuluh, saling bekerja sama dengan tujuan


untuk dapat saling memberikan manfaat menuju
kesejahteraan bersama.
Allah SWT berfirman :

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 95


(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat
(oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat
(berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka
mereka orang Kaya Karena memelihara diri dari minta-
minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-
sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara
mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu
nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah
Maha Mengatahui.(QS. Al-Baqarah [2]: 273).

Di samping itu, ada beberapa hal yang harus


ditingggalkan oleh seorang tenaga pemasaran antara
lain; a). Tidak adil dalam penentuan tarif dan uang
pertanggungan. b). Melakukan transaksi terhadap
produk yang mengandung perjudian, penipuan, dan
riba. c). khianat atau tidak menepati janji. d).
mempermainkan harga. e). menimbun barang untuk
menaikkan harga. f). sering berdusta atau melakukan
sumpah palsu. g). menjual barang hasil curian atau hasil
korupsi. h). melakukan penekanan atau pemaksaan
kepada pelanggan. i). melakukan tindakan-tindakan
mubazir dalam pemasaran. j). mencari-cari kesalahan
pesaing. k). melakukan tindakan yang menimbulkan
kebencian dalam bisnis. l). menjelek-jelekkan atau
menghina barang atau jasa yang menjadi saingannya. m).
memfitnah pihak lain yang tidak sejalan dengan
perusahaannya, dan sebagainya.

96 Nova Yanti Maleha, SE., MM


D. Karakteristik Manajemen Pemasaran Syariah
Manajemen pemasaran adalah sebagai analisis,
perencanaan, penerapan, dan pengendalian program
yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan
mempertahankan pertukaran yang menguntungkan
dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai
tujuan tujuan organisasi. Oleh karena itu, menurut M.
Nur Rianto Al-Arif (2010: 22-24) ada empat karakteristik
syariah marketing yang dapat menjadi panduan bagi para
pemasar diantaranya:
Pertama,Teistis (rabbaniyyah): jiwa seorang syariah
marketer meyakini bahwa hukum-hukum syariat yang
teistis atau bersifat ketuhanan ini adalah yang paling
adil, paling sempurna, paling selaras dengan segala
bentuk kebaikan, paling dapat mencegah segala bentuk
kerusakan, paling mampu mewujudkan kebenaran,
memusnahkan kebatilan dan menyebarluaskan
kemaslahatan.
Kedua. Etis (akhlaqiyyah): Keistimewaan lain dari
syariah marketer selain karena teistis (rabbaniyyah) juga
karena ia sangat mengedepankan masalah akhlak (moral
dan etika) dalam seluruh aspek kegiatannya, karena
nilai-nilai moral dan etika adalah nilai yang bersifat
universal, yang diajarkan oleh semua agama.
Ketiga. Realistis (al-waqiyyah): Pemasaran syariah
adalah konsep pemasaran yang fleksibel, sebagaimana
keluasan dan keluwesan syariah Islamiyah yang
melandasinya. Pemasar syariah adalah para pemasar
professional dengan penampilan yang bersih, rapi dan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 97


bersahaja, apapun model atau gaya berpakaian yang
dikenakannya, bekerja dengan mengedepankan nilai-
nilai religius, kesalehan, aspek moral dan kejujuran dalan
segala aktivitas pemasarannya.
Keempat. Humanistis (insaniyyah): Keistimewaan
syariah marketer yang lain adalah sifatnya yang
humanistis universal, yaitu bahwa syariah diciptakan
untuk manusia agar derajatnya terangkat, sifat
kemanusiaannya terjaga dan terpelihara. Syariat Iislam
diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapasitasnya
tanpa menghiraukan ras, warna kulit, kebangsaan dan
status. Hal inilah yang membuat syariah memiliki sifat
universal sehingga menjadi syariah humanistis universal.

E. Nilai-Nilai Manajemen Pemasaran Syariah


Ada beberapa nilai-nilai dalam manajemen
pemasaran syariah yang mengambil konsep dari
keteladanan sifat Rasulullah SAW;
Pertama,Shiddiq, artinya memiliki kejujuran dan
selalu mendasari ucapan, keyakinan, serta perbuatan
berdasarkan nilai-nilai syariah. Tidak ada satu pun
ucapan yang saling bertentangan dengan perbuatan.
Allah senantiasa memerintahkan kepada setiap
muslimuntuk memiliki sifat shiddiq dan menciptakan
lingkungan yang shiddiq.
Allah SWT menyebut kata shiddiq dalam al-Quran
sebanyak 154 diantaranya di dalam surah Ali Imran [3]:
15-17, An-Nisa [4]: 69, Al-Maidah [5]: 119, dan lain-lain.
Hal ini menandakan pentingnya sikap shiddiq bagi

98 Nova Yanti Maleha, SE., MM


perilaku manusia dalam konteks hubungan dengan
tuhan, manusia, dan alam dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, shiddiq merupakan salah satu sifat kenabian di
samping amanah, tabligh, dan fathanah.
Nabi Muhammad SAW menegaskan, Wajib bagi
kalian berlaku jujur, sebab jujur membawa pada kebaikan, dan
kebaikan menunjukkan jalan ke surga. Seseorang yang
senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, ia akan
termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya,
janganlah berdusta, sebab dusta mengarah pada kejahatan dan
kejahatan membawa ke neraka. Seseorang yang berdusta dan
memperhatikan kedustaannya, ia tercatat di sisi Allah sebagai
pendusta. (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Masud).
Hal penting dari nasehat Rasul di atas adalah
bahwa jujur merupakan sarana mutlak untuk mencapai
kebaikan tatanan masyarakat. Oleh karenanya, jujur
bukan sekedar wacana pribadi, tapi juga wacana publik,
yaitu perlunya sebuah sistem dan struktur pengelolaan
sesuatu yang jujur.
Kedua,Fathanah, berarti mengerti, memahami, dan
menghayati secara mendalam segala hal yang terjadi
dalam tugas dan kewajiban. Fathanah berkaitan dengan
kecerdasan, baik kecerdasan rasio, rasa maupun
kecerdasan ilahiyah.
Ketiga, amanah, memiliki makna tanggung jawab
dalam melaksanakan setiap tugas dan kewajiban.
Amanah ditampilkan dalam keterbukaan, kejujuran,
pelayanan prima dan ihsan (berupaya menghasilkan
yang terbaik) dalam segala hal. Sifat amanah harus

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 99


dimiliki setiap mukmin apalagi yang memiliki pekerjaan
terkait dengan pelayanan kepada masyarakat. Seorang
mukmin ketika mendapatkan amanah akan berupaya
melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sifat ini bisa
dipararelkan dengan konsep accountability dalam good
governance. Namun, bila kita meneliti secara jeli, maka
accountability ini merujuk kepada hal yang formal
administratif. Sedang amanah jauh menjamah rona
psikologi yang paling dalam sebab amanah itu
mementingkan tanggung jawab yang sangat hakiki
dalam hubungannya dengan umat manusia, yang selalu
yakin bahwa ada yang selalu mengawasi pelaksanaan
tugasnya.
Keempat,tabligh, artinya mengajak sekaligus
memberikan contoh kepada pihak lain untuk
melaksanakan ketentuan-ketentuan ajaran Islam dalam
setiap gerak aktivitas ekonomi yang dilakukan sehari-
hari. Tabligh yang disampaikan dengan hikmah, sabar,
argumentative dan persuasive akan menumbuhkan
hubungan kemanusiaan yang semakin solid dan kuat.
Sifat kepemimpinan Nabi SAW ini bila dikaitkan
dengan konsep goodgovernance bisa disejajarkan dengan
istilah communicatibility. Namun, pada hakikatnya, tabligh
ini berkaitan erat dengan risalah keislaman yakni soal
dakwah dan penyampaian pesan-pesan keilahiaan. Bila
communicatibility.hanya menjamah rona public speaking,
maka tabligh mencakup semua aspek komunikasi dan
interaksi sesama manusia. Tabligh selalu mengharapkan
agar orang yang diajak berbicara bisa mengubah sikap

100 Nova Yanti Maleha, SE., MM


dan tingkah lakunya agar sesuai dengan nilai-nilai
ilahiyah.
Kelima,Istiqamah, artinya konsisten. Hal ini
memberikan makna dalam manajemen pemasaran dan
praktek pemasaran harus senantiasa istiqamah dalam
penerapan aturan syariah. Seorang pemasaran harus
dapat dipegang janjunya, tidak diperkenalkan
menghianati janji tersebut.

F. Perbedaan Manajemen Pemasaran Syariah dan


Pemasaran Konvensional
Secara konsep hampir tidak ada perbedaan antara
konsep marketing konvensional dengan syariah.
Marketing syariah lebih mengutamakan pada nilai dan
norma dari serangkaian aktivitas marketing. Marketing
syariah bermakna seluruh aktivitas pemasaran yang
nilai, prinsip, dan dasar pemasarannya dilandaskan
kepada hukum syariah (Ikatan Bankir Indonesia, 2015:
111). Akan tetapi, secara prinsip ada beberapa hal yang
membedakan antara manajemen pemasaran syariah
dengan pemasaran konvensional, antara lain :

1. Konsep dan Filosofi Dasar


Perbedaan yang mendasar antara pemasaran
syariah dan pemasaran konvensional adalah dari filosofi
dasar yang melandasinya. Pemasaran konvensional
merupakan pemasaran yang bebas nilai dan tidak
mendasarkan ke-Tuhanan dalam setiap aktivitas
pemasarannya. Sedangkan dalam pemasaran berbasis

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 101


syariah berdasarkan apa yang telah menjadi tuntunan
umat Islam yakni tuntunan yang ada dalam al-Quran
dan Hadits, serta praktik-praktik para sahabat Nabi
Muhammad SAW. Oleh karenanya, segala bentuk
aktivitas marketing yang tidak sesuai dengan tuntunan
tersebut, tertolak dan dilarang.

2. Etika Pemasaran
Seorang pemasar syariah sangat memegang teguh
etika dalam melakukan pemasaran kepada calon
konsumennya. Ia akan sangat menghindari memberikan
janji bohong, ataupun terlalu melebih-lebihkan produk
yang ditawarkan. Seorang pemasar syariah akan secara
jujur menceritakan kelebihan dan kekurangan produk
yang ditawarkannya. Hal ini merupakan praktik
perniagaan yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah
SAW. Selain itu, dalam perspektif Islam, seorang
pedagang atau pemasar haruslah memiliki modal dasar,
diantaranya : bertanggung jawab (QS. At-Takasur [102]:
8), mandiri (QS. Ar-Rad [13]: 11), Kreatif (Qs. Al-
Jumuah [62]: 10), Mampu mengambil pelajaran dari
pengalaman (QS. Al-Hasyr [59]: 18), Selalu optimis dan
tidak pernah putus asa (QS. Yusuf [12]: 87), Jujur dan
dapat dipercaya (QS. Al-Baqarah [2]: 177, Al-Maidah [5]:
17, Al-Maidah [5]: 119), sabar dan tidak panik (QS. Al-
Baqarah [2]: 155) (Rivai, 2012: 41-45). Lebih dari itu,
seorang marketer syariah harus berhati-hati agar tidak
melanggar prinsip syariah dalam aktivitas pemasarannya
seperti risywah (suap) dan segala yang terkait dengan

102 Nova Yanti Maleha, SE., MM


suap, manipulasi suplai (ihtikar), manipulasi permintaan
(najasy), culas dan curang (tadlis), kezaliman (dhulm)
(Ikatan Bankir Indonesia, 2015: 112-113).

3. Pendekatan terhadap Konsumen


Konsumen dalam pemasaran syariah diletakkan
sebagai mitra sejajar, dimana baik perusahaan sebagai
penjual produk maupun konsumen sebagai pembeli
produk berada pada posisi yang sama. Perusahaan tidak
menganggap konsumen sebagai sapi perah untuk
membeli produknya, namun perusahaan akan
menjadikan konsumen sebagai mitra dalam
pengembangan perusahaan. Konsep ini bersandarkan
pada sabda Rasulullah SAW: Janganlah engkau saling
hasad, janganlah saling menaikkan penawaran barang (padahal
tidak ingin membelinya), janganlah saling membenci,
janganlah saling merencanakan kejelekan, janganlah sebagian
dari kalian melangkahi pembelian sebagian lainnya, dan jadilah
hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim
adalah saudara orang muslim lainnya, tidaklah ia menzalimi
saudaranya, dan tidaklah ia membiarkannya dianiaya orang
lain, dan tidaklah ia menghinanya (HR. Muttafaqun alaih).
Berbeda dalam pemasaran konvensional,
konsumen diletakkan sebagai obyek untuk mencapai
target penjualan semata. Konsumen dapat dirugikan
karena antara janji dan kenyataannya seringkali berbeda.
Setelah perusahaan mendapatkan target penjualan,
mereka tidak akan memperdulikan lagi konsumen yang
telah membeli produknya dan tidak akan memikirkan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 103


kekecewaan atas janji produk yang diumbar kepada
konsumen.

4. Cara pandang terhadap Pesaing


Dalam industri manajemen syariah tidak
menganggap pesaing sebagai pihak yang harus
dikalahkan atau bahkan dimainkan. Tetapi konsepnya
adalah agar setiap perusahaan mampu memacu dirinya
untuk menjadi lebih baik tanpa harus menjatuhkan
pesaingnya. Pesaing merupakan mitra kerja yang turut
serta meyukseskan kegiatan-kegiatan yang akan
dilaksanakan di lapangan, dan bukan sebagai lawan
yang harus dimatikan.

5. Budaya Kerja dalam Manajemen Syariah


Budaya berkaitan erat dengan persepsi terhadap
nilai dan lingkungannya yang melahirkan makna dan
pandangan hidup yang akan yang akan mempengaruhi
sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
Prinsip manajemen syariah dalam budaya kerja adalah :
1. Bekerja keras dan kerjasama (takaful) (QS. At-Taubah
[9]:105).
2. Setiap pekerjaan harus unggul, profesional dan
berorientasi sebagai khalifah (QS. Al-Baqarah [2]: 30)
dan Abdullah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).
3. Senantiasa menjaga kebersihan (Q.S. At-Taubah [9]:
108, Al-Baqarah [2] : 222 ).
4. Menentang permusuhan

104 Nova Yanti Maleha, SE., MM


5. Senantiasa ada SIFAT dalam dirinya. Sifat yang
merupakan singkatan dari Shiddiq (QS. at-Taubah
[9]: 119), Istiqomah, Fathanah (QS. Yusuf [12]: 55).,
Amanah (QS. An-Nissa [4]: 58). dan Tabliq.

Tugas Individu dan Kelompok


1. Jelaskan apa yang saudara ketahui tentang
pemasaran syariah ?
2. Sebutkan dan jelaskan perbedaan mendasar antara
manajemen pemasaran syariah dengan manajemen
pemasaran konvensional ?
3. Sebutkan dan jelaskan nilai-nilai dalam manajemen
pemasaran syariah yang mengambil konsep dari
keteladanan sifat Rasulullah SAW ?
4. Berikan contoh model pemasaran yang bertantangan
dengan pemasaran syariah ?
5. Diskusikan dan buat resensi buku Islamic Marketing;
Membangun dan Mengembangkan Bisnis dengan Praktik
Marketing Rasulullah SAW, karya Muhammad
Veithzal Rivai.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 105


106 Nova Yanti Maleha, SE., MM
BAB V
MANAJEMEN SUMBER DAYA INSANI

A. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia disingkat
MSDM adalah salah satu bidang dalam ilmu manajemen
dari unsur man (manusia) termasuk dalam konteks
merekrut, menyaring, melatih, member penghargaan dan
penilaian (Sedarmayanti, 2010: 13). Manajemen sumber
daya manusia atau man power management merupakan
manajemen yang mengatur unsur manusia disebut juga
dengan manajemen kepegawaian atau manajemen
personalia (personnel management). MSDM juga sering
diartikan sebagai suatu bidang manajemen yang khusus
mempelajari hubungan dan peranan manusia dalam
organisasi perusahaan. Unsur MSDM adalah manusia
yang merupakan tenaga kerja pada perusahaan. Dengan
demikian, fokus yang dipelajari MSDM ini hanyalah
masalah yang berhubungan dengan tenaga kerja
manusia saja.
Karena MSDM merupakan bagian dari
manajemen. Maka, teori-teori manajemen umum menjadi
dasar pembahasannya. MSDM lebih memfokuskan
pembahasannya mengenai pengaturan peranan manusia
dalam mewujudkan tujuan yang optimal. Pengaturan itu
meliputi masalah perencanaan (human resources planning),
pengorganisasian, pengarahan, pengendalian,
pengadaan, pengembangan, kompensasi,

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 107


pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan, dan
pemberhentian tenaga kerja untuk membantu
terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan
masyarakat. Jelasnya MSDM mengatur tenaga kerja
manusia sedemikian rupa sehingga terwujud tujuan
perusahaan, kepuasan karyawan, dan masyarakat
(Hasibuan, 2011: 9-10).
Secara umum, pengertian sumber daya manusia
dapat dibagi menjadi dua, yakni sumber daya manusia
secara makro dan mikro. Pengertian sumber daya
manusia makro adalah jumlah penduduk usia produktif
yang ada di sebuah negara, sedangkan pengertian
sumber daya manusia mikro lebih mengerucut pada
individu yang bekerja pada sebuah institusi.
Sementara itu, pengertian sumber daya manusia
menurut para ahli memiliki arti yang lebih beragam
antara lain :
1. Malayu S.P. Hasibuan (2011: 10) menyatakan bahwa
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) adalah
ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan
tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu
terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan
masyarakat. Adapun tujuan dari perusahaan adalah
agar perusahaan mendapatkan rentabilitas laba yang
lebih besar dari persentase tingkat bunga bank.
Sementara karyawan mendapatkan kepuasan dari
pekerjaannya. Masyarakat dapat memperoleh barang
atau jasa yang baik dengan harga yang wajar dan

108 Nova Yanti Maleha, SE., MM


selalu tersedia di pasar, sedangkan pemerintah selalu
berharap mendapatkan pajak.
2. Edwin B. Filippo (dalam Hasibuan, 2011: 11)
mendefenisikan sebagai personnel management is the
planning, organizing, directing, and controlling of the
procurement, development, compensation, integration,
maintenance, and separation of human resources to the
end that individual, organizational and societal objectives
are accomplished. (manajemen personalia adalah
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengendalian dari pengadaan, pengembangan,
kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan
pemberhentian karyawan dengan maksud
terwujudnya tujuan perusahaan, individu,
karyawan, dan masyarakat).
3. Marwansyah (2012: 4) menyatakan bahwa
manajemen sumber daya manusia dapat diartikan
sebagai pendayagunaan sumber daya manusia di
dalam organisasi yang dilakukan melalui fungsi-
fungsi perencanaan sumber daya manusia,
rekrutmen dan seleksi, pengembangan karir,
pemberian kompensasi dan kesejahteraan,
keselamatan, dan kesehatan kerja, dan hubungan
industri.
Dari berbagai defenisi di atas dapat dipahami
bahwa Manajemen Sumber Daya Manusia yang strategis
adalah adanya keterkaitan antara SDM dengan tujuan
dan sasaran strategis untuk meningkatkan kinerja bisnis
dan mengembangkan budaya organisasi yang

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 109


mendorong inovasi dan fleksibelitas untuk
memampukan organisasi dalam mencapai tujuannya. Ini
menyatakan bahwa sumber daya manusia menjadi mitra
strategis, dimana sumber daya manusia tidak hanya
sekedar sebagai pendukung, akan tetapi harus menjadi
penentu strategi (Hariandja, 2002: 12-13).

B. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Fungsi manajemen sumber daya manusia antara
lain sebagai berikut (Hasibuan, 2011: 21-23):
1. Perencanaan
Perencanaan (human resources planning) adalah
merencanakan tenaga kerja secara efektif serta efisien
agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam
membantu terwujudnya tujuan. Perencanaan
dilakukan dengan menetapkan program
kepegawaian. Program kepegawaian yang baik akan
membantu tercapainya tujuan perusahaan,
karyawan, dan masyarakat.
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk
mengorganisasi semua karyawan dengan
menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja,
delegasi wewenang, integrasi, dan koordinasi dalam
bagan organisasi (organization chart). Organisasi
hanya merupakan alat untuk mencapai tujuan.
Dengan organisasi yang baik akan membantu
terwujudnya tujuan secara efektif.

110 Nova Yanti Maleha, SE., MM


3. Pengarahan
Pengarahan (directing) adalah kegiatan mengarahkan
semua karyawan, agar mau bekerja sama dan bekerja
efektif serta efisien dalam membantu tercapainya
tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
Pengarahan dilakukan pimpinan dengan
menugaskan bawahan agar mengerjakan semua
tugasnya dengan baik.
4. Pengendalian
Pengendalian (controlling) adalah kegiatan
mengendalikan semua karyawan agar menaati
peraturan-peraturan perusahaan dan bekerja sesuai
dengan rencana. Apabila terdapat penyimpangan
atau kesalahan, diadakan tindakan perbaikan dan
penyempurnaan rencana. Pengendalian karyawan
meliputi kehadiran, kedisiplinan, perilaku, kerja
sama, pelaksanaan pekerjaan, dan menjaga situasi
lingkungan pekerjaan.
5. Pengadaan
Pengadaan (procurement) adalah proses penarikan,
seleksi, penempatan, orientasi, dan induksi untuk
mendapatkan karyawan yang sesuai dengan
kebutuhan perusahaan. Pengadaan yang baik akan
membatu terwujudnya tujuan.
6. Pengembangan
Pengembangan (development) adalah proses
peningkatan ketrampilan teknis, teoritis, konseptual,
dan moral karyawan melalui pendidikan dan
pelatihan. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 111


harus sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini
maupun masa depan.
7. Kompensasi
Kompensasi (compensation) adalah pemberian balas
jasa langsung (direct) dan tidak langsung (indirect),
uang atau barang kepada karyawan sebagai imbalan
jasa yang diberikan kepada perusahaan. Prinsip
kompensasi adalah adil dan layak. Adil diartikan
sesuai dengan prestasi kerjanya, layak diartikan
dapat memenuhi kebutuhan primernya serta
berpedoman pada batas upah minimum pemerintah
dan berdasarkan internal dan eksternal konsistensi.
8. Pengintegrasian
Pengintegrasian (integration) adalah kegiatan untuk
mempersatukan kepentingan perusahaan dan
kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja sama yang
serasi dan saling menguntungkan. Perusahaan
memperoleh laba, karyawan dapat memenuhi
kebutuhan dari hasil pekerjaannya. Pengintegrasian
merupakan hal yang penting dan suli dalam
manajemen sumber daya manusia, karena
mempersatukan dua kepentingan yang bertolak
belakang.
9. Pemeliharaan
Pemeliharaan (maintenance) adalah kegiatan untuk
memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental
dan loyalitas karyawan agar mereka tetap mau
bekerja sama sampai pensiun. Pemeliharaan yang
baik dilakukan dengan program kesejahteraan yang

112 Nova Yanti Maleha, SE., MM


berdasarkan kebutuhan sebagian besar karyawan
serta berpedoman kepada internal dan eksternal
konsistensi.
10. Kedisiplinan
Kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran untuk
menaati peraturan-peraturaan perusahaan dan
norma-normal sosial. Kedisiplinan merupakan fungsi
manajemen sumber daya manusia yang terpenting
dan kunci terwujudnya tujuan.
11. Pemberhentian
Pemberhentian (separation) adalah terputusnya
hubungan kerja seseorang dari suatu perusahaan.
Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan
karyawan, keinginan perusahaan, kontrak kerja
berakhir, pensiun, dan sebab-sebab lainnya.

C. Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia memiliki dua
tujuan, yakni tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan
umum adalah untuk memastikan bahwa organisasi
mampu mencapai keberhasilan melalui orang lain.
Sedangkan secara khusus bertujuan untuk: a).
Memungkinkan organisasi mendapatkan atau
mempertahankan karyawan cakap, dapat dipercaya dan
memiliki motivasi tinggi, seperti yang diperlukan. b).
Meningkatkan dan memperbaiki kapasitas yang melekat
pada manusia seperti konstribusi, kemampuan dan
kecapakan mereka. c). Mengembangkan sistem kerja
dengan kinerja tinggi yang meliputi prosedur perekrutan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 113


dan seleksi yang teliti. d). Mengembangkan praktik
manajemen dengan komitmen tinggi yang menyadari
bahwa karyawan adalah pihak terkait dalam organisasi
bernilai dan membantu mengembangkan iklim kerja
sama dan kepercayaan bersama. e). Menciptkan iklim, di
mana hubungan yang produktif dan harmonis dapat
dipertahankan melalui asosiasi antara manajemen dan
karyawan. f). Mengembangkan lingkungan, di mana
kerjasama tim dan fleksibelitas dapat berkembang. g).
Membantu organisasi menyeimbangkan dan
mengadaptasikan kebutuhan pihak terkait. h).
Memastikan bahwa orang dinilai dan dihargai
berdasarkan apa yang mereka lakukan dan mereka capai.
i). Mengelola karyawan yang beragam,
memperhitungkan perbedaan individu dan kelompok
dalam kebutuhan penempatan, gaya kerja dan aspirasi.
j). Memastikan bahwa kesamaan kesempatan tersedia
untuk mereka. k). Mengadopsi pendekatan etis untuk
mengelola karyawan yang didasarkan pada perhatian
untuk karyawan, keadilan dan transportasi. l).
Mempertahankan dan memperbaiki kesejahteraan fisik
dan mental karyawan (Sedermayanti, 2010: 13-14).

D. Konsep Manajemen Sumber Daya Insani


Sumber daya insani merupakan kekuatan terbesar
dalam pengolahan seluruh resources yang ada dimuka
bumi, karena pada dasarnya seluruh ciptaan Allah yang
ada dimuka bumi ini sengaja diciptakan oleh Allah
untuk kemaslahatan umat manusia Hal ini sangat jelas

114 Nova Yanti Maleha, SE., MM


telah ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran surah Al-
Jatsiyah [45] : 13:

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di


langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai
rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.

Sumber daya yang ada ini harus dikelola dengan


benar karena itu merupakan amanah yang akan dimintai
pertanggungjawabannya kelak. Untuk mendapatkan
pengelolaan yang baik ilmu sangatlah diperlukan untuk
menopang pemberdayaan dan optimalisasi manfaat
sunber daya yang ada. Di dalam surah Ar-Rahman [55]
ayat 33, Allah telah menganjurkan manusia untuk
menuntut ilmu seluas-luasnya tanpa batas dalam rangka
membuktikan kemahakuasaan Allah SWT. Allah
mencerminkan keadaan manusia yang ideal dalam kitab-
Nya yaitu dengan kriteria sekurang-kurangnya adalaah
sebagai berikut:
1. Segala sesuatunya harus dikerjakan dalam rangka
untuk mengesakan Allah ( QS. Muhammad [47]: 19)

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 115


2. Menganggap bahwa semuanya adalah saudara dan
memiliki kedudukan yang sama meskipun berbeda
suku bangsa ( QS. Al-Hujurat [49]: 13)
3. Saling tolong menolong dan berbuat baik sehingga
akan tercipta masyarakat yang harmonis ( QS. Al-
Maidah [5]: 2)
4. Berlomba-lomba dalam kebaikan ( QS. Al-Baqarah
[2]: 148)
5. Toleransi dan bebas menjalankan ajaran agama
masing-masing ( QS. : Al-Kafirun [109]: 1-6)
6. Selalu istiqomah dalam kebaikan/ teguh
pendiriannya dan tidak melampaui batas ( QS. Hud
[11]: 112)
7. Adil dan selalu memperjuangkan kebenaran ( QS.
An-Nisa [4]: 58)
8. Mengembangkan pola pikir dengan
mempertimbangkan kebaikan atau keburukan
tentang suatu kal tertentu/ ijtihad ( QS. Al-Baqarah
[2]: 219).
Jika manusia telah mampu untuk mengamalkan
hal di atas tentulah sumber daya manusia dan alam akan
teroptimalkan. Sumber merupakan salah satu faktor
sentral dalam organisasi, dalam ranah manajemen,
pengelolaan sumber daya manusia dikenal dengan
istilah Manajemen Sumber Daya Manusia (Ismanto, 2009:
222). Manajemen Sumber Daya Manusia atau Manajemen
Sumber Daya Insani adalah semua sumber daya yang
dimanfaatkan untuk ibadah kepada Allah, bukan untuk
yang lainnya. Dengan adanya rasa menerima amanah

116 Nova Yanti Maleha, SE., MM


dari Allah maka kemampuan yang dimiliki akan
ditingkatkan dan dilakukan dalam rangka menjalankan
amanah yang diemban tersebut (Departemen Agama,
2002: 10-11).
Sifat yang akan tercermin dari sumber daya Insani
yang baik ialah siddiq, amanah, fatonah dan tablig.
Keempat sifat ini adalah tolak ukur yang riil untuk
mengukur keunggulan sumber daya Insani. Semua sifat
dan keadaan yang ideal tersebut tentunya tidak akan ada
dengan sendirinya melainkan harus dengan usaha yang
sungguh-sungguh dan kesabaran yang luar biasa,
sebagaimana firmanNya dalam surah Ar-Raad [13]:11.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu


kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada
pada diri mereka sendiri.

Kerja keras dan kerja cerdas adalah yang utama,


untuk itu tidaklah heran juka dalam etos kerja tidaklah
jauh beda antara etos kerja orang islam dengan etos kerja
nonislam, yang membedakannya hanyalah pada ontologi
dan aksologinya. Bahkan semangat kerja orang
nonmuslim ada yang melebihi orang islam, oleh karena
itulah iman seorang muslim penting untuk dijadikan
acuannya. Pada intinya Sumber daya Insani tetap
mengacu pada pencapaian kesejahteraan yang diridhoi
oleh Allah, tuhan semesta alam, bagaimanapun caranya.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 117


Manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah
dibekali dengan kehendak bebas, rasionalitas, dan
kesadaran moral. Semua ini dikombinasikan dengan
kesadaran ke-Tuhanan yang inheren sehingga manusia
dituntut untuk hidup dalam kepatuhan dan ibadah
kepadanya. Semua sumber daya yang ada ditangan
manusia tidak lain adalah suatu amanah, oleh karena itu
sebagai khalifah (wakil Allah), manusia akan dituntut
suatu pertanggung jawaban amanah di akhirat kelak.
Bagi mereka yang berbuat baik maka mereka akan
memetik kebaikan pula.
Allah SWT berfirman:

Barangsiapa mengerjakan kebaikan, meskipun seberat


zarrah, akan dilihatnya balasan kebaikan itu.
Barangsiapa mengerjakan kejahatan, meskipun seberat
zarrah, akan dilihatnya balasan kejahatan itu. (QS.
Az-Zalzala [99] : 7-8).

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa jika


seseorang bekerja dengan baik sesuai dengan tuntunan-
Nya akan mendapatkan ganjaran; sebaliknya jika bekerja
dengan tidak baik juga akan menerima ganjarannya. Hal
ini berlaku pula dalam tugas mengelola sumber daya
manusia yang dimiliki organisasi. Oleh karena itu,

118 Nova Yanti Maleha, SE., MM


menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahui
bagaimana manajemen yang baik dan sesuai dengan
tuntunan syariaah.
1. Konsep Bekerja dalam Islam
Bekerja atau mencari rezeki Allah dalam Islam
merupakan sebuah keharusan yang dibebankan kepada
setiap mukallaf, bahkan menjadi kewajiban hakiki bagi
seorang suami untuk menafkahi anak dan istrinya.
Karena untuk mencapai kebahagiaan yang dijanjikan
Allah, manusia haruslah rajin bekerja dan berbuat
sungguh-sungguh dalam bekerja, agar tercapai cita-cita
yang didambakan.
Bekerja dalam Islam juga bukan sekadar untuk
memenuhi kebutuhan perut, tapi juga untuk memelihara
harga diri, martabat kemanusiaan yang seharusnya
dijunjung tinggi. Oleh karenanya, bekerja dalam Islam
menempati posisi yang mulia. Menurut Syawqi Ahmad
Dunya dalam kitabnya Tamwil al-Tanmiyyah fi al-Iqtishad
al-Islami bahwa bekerja dalam rangka membangun
ekonomi merupakan kewajiban sakral (fardh muqaddas)
yang bersifat keagamaan. Sangat banyak ayat al-Quran
maupun hadis Nabi SAW yang mendorong umat Islam
untuk rajin bekerja, misalnya perintah berjalan di muka
bumi untuk mencari rezeki (al-masyyu fi manakib al-ardh),
mencari rezeki Allah (al-ibtigha min fadhl Allah), perintah
mengeluarkan infak (al-infaq), jihad di jalan Allah (al-jihad
fi sabil Allah), dan mencari pekerjaan (thalab al-kasb) (Idri,
2015: 293).

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 119


Bagi Islam bekerja merupakan kewajiban yang
dibebankan kepada setiap muslim yang tidak hanya
berdimensi duniawi semata, melainkan juga sebagai
wujud beribadah. Oleh karenanya, dalam Islam bekerja
mengandung nilai-nilai yang sangat krusial antara lain :
1. Bekerja sebagai media untuk memakmurkan bumi
(QS. Hud [11]: 61).
2. Bekerja untuk mencapai kebahagiaan(QS. Al-
Jumuah [62]: 10).
3. Bekerja merupakan kehormatan.Nabi SAW bersabda:
Sekiranya salah seorang di antara kamu membawa tali
kemudian pergi ke bukit mencari kayu, kemudian dipikul
ke pasar untuk dijual, yang dengan itu ia dapat menutup
air mukanya, maka yang demikian lebih baik daripada
minta-minta kepada orang, baik mereka memberi maupun
menolak. (HR. Bukhari).
4. Bekerja merupakan cermin dari kekuatan seseorang.
Nabi SAW bersabda: Mukmin yang kuat lebih disukai
Allah daripada mukmin yang lemah, sekalipun masing-
masing ada kebaikan. Berkeinginan keraslah kepada
sesuatu yang memberimu manfaat dan mintalah
pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap
lemah...(HR. Muslim).
5. Bekerja merupakan perintah agama(QS. At-Taubah
[9]: 105).
6. Bekerja merupakan kompetisi dalam berbuat
kebaikan(QS. Al-Baqarah [2]: 148).
7. Bekerja merupakan media zikir kepada Allah (QS.
Al-Araf [7]: 205).

120 Nova Yanti Maleha, SE., MM


8. Bekerja merupakan media untuk mewujudkan
keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan jiwa
dan raga (QS. al-Maidah [5] ayat 93) :

2. Konsep Manusia Sebagai Homo Islamicus


Ada sebuah asumsi umum dalam ekonomi
konvensional bahwa manusia adalah makhluk ekonomi
(homo economicus) yang berpola pikir dan bersikap
mementingkan dirinya sendiri. Islam sangat menentang
konsep seperti itu, karena dalam Islam manusia
ditempatkan sebagai makhluk mulia (fi ahsani taqwin)
yang dibuat dengan komponen-komponen materi
dengan berbagai nama seperti (a) Turab, yaitu tanah
gemuk (QS. Al-Kahfi [18]: 37). (b) tiin, yaitu tanah
lempung (QS. As-Sajdah [32]: 7). (c) tiinul laazib, yaitu
tanah lempung yang pekat (QS. Ash-Shaaffat [37]: 11).
(d) salsalun, yaitu lempung yang dikatakan kalfakhkhar
(seperti tembikar) (QS. Ar-Rahman [55]: 14). (e) salsalun
min hamain masnuun (lempung dari lumpur yang
dicetak/dibentuk) (QS. Al-Hijr [15]: 26), dan (f) Maai (air)
(QS. Al-Anbiyah [21]: 30).
Untuk itu, sangat tidak layak mempersepsikan
manusia sebagai homo economicus sebagaimana dalam teori
ekonomi konvensional, yang berkonsekuensi membagi
manusia hanya pada dua kelompok malas dan rajin. Bagi
Islam manusia adalah homo islamicus. Pandangan ini
sejalan dengan posisi manusia sebagai khalifah (QS. Al-
Baqarah [2]: 30) dan Abdullah (QS. Adz-Dzariyat [50]:
56). Selain itu, manusia juga memiliki fitrah, yakni

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 121


kesadaran untuk senantiasa berbuat baik dan benar (QS. al-
Araaf [7] ayat 172) dan manusia dibekali Allah dengan
berbagai kelebihan antara lain: manusia diciptakan Allah
dalam sebagai-baiknya bentuk (At-Tin [95]: 4), manusia
dimuliakan Allah (QS. Al-Israa [17]: 70), manusia memiliki
kelebihan dalam akal dan ilmu pengetahuan (QS. Al-
Baqarah [2]: 31), manusia berperan dan berfungsi sebagai
abdullah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56) dan khalifah (QS. Al-
Baqarah [2]: 30), manusia sebagai makhluk beragama (QS.
Ar-Rum [30]: 30), manusia memiliki program hidup (QS. Al-
Baqarah [2]: 210), manusia memiliki kehendak dan dituntut
tanggungjawab (QS. Ath-Thur [52]: 21), serta manusia
memiliki kesadaran moral (QS. Asy-Syams [91]: 7-8).
Karena manusia merupakan makhluk ciptaan Allah
yang paling sempurna yang memiliki tubuh, akal dan jiwa.
Keberadaanya di muka bumi adalah sebagai wakil Allah
(khalifah). Maka segala tindakan manusia harus sesuai
dengan apa yang diajarkan-Nya, termasuk Ekonomi.
Dalam konteks mengurus perekonomian agar sesuai
dengan aturan-aturan syariah, Islam juga mengutus
manusia terbaik dalam diri Nabi Muhammad SAW, di
mana beliau mengemban misi salah satunya membentuk
perilaku manusia homo islamicus berakhlak mulia agar
dalam mengelola dan memelihara sumber daya, manusia
melakukannya dengan baik supaya bermanfaat bagi
generasi selanjutnya. Lebih lanjut, manusia harus sadar dan
paham bahwa dalam berusaha dan memenuhi kebutuhan
hidup ada pemantau utama, yaitu Allah SWT (QS. Al-

122 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Baqarah [2]: 212, Ali Imran [3]: 37, dan An-Nur [24]: 38)
(Departemen Agama, 2002: 14-15).

E. Empat Pijakan Dasar Manajemen Sumber Daya


Insani
Empat pijakan dasar manajemen sumber daya
insani, yaitu :
1. Abdullah dan Khalifah
Fungsi dan peranan manusia dalam Alquran
antara lain sebagai berikut: Pertama, manusia sebagai
hamba Allah (Abdullah). Dalam hubuangn vertikal
manusia sebagai hamba Allah, peran utamanya adalah
beribadah kepada Allah. Fungsi taabud tersebut sangat
tegas dijelaskan dalam Alquran surah al-Baqarah [2]
ayat 21;

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah


menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu,
agar kamu bertakwa.

Kedua, manusia sebagai khalifah Allah. Allah telah


memposisikan manusia dalam hubungannya dengan
sesama makhluk sebagai khalifah di bumi. Posisi itu telah
diisyaratkan oleh Allah dalam Alquran surah al-Baqarah
[2] ayat 30;

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 123



Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di
bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya
dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Dalam surah Al-Fatir [35] : 39.

Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di


muka bumi. barangsiapa yang kafir, Maka (akibat)
kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran
orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan
menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan

124 Nova Yanti Maleha, SE., MM


kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain
hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.

Menurut At-Thabari dalam Jamiul Bayan an


Takwili Ay Al-Quran (1988: 453) Khalifah merupakan
orang yang akan mewakili Allah dalam menilai
makhluk-makhluk-Nya. Orang itu adalah Adam dan
keturunannya yang mengikuti perintah Allah, yang
kelak akan menghakimi dengan adil makhluk-makhluk-
Nya.
Sedangkan al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi
(1974: 77) menyatakan bahwa manusia berfungsi sebagai
khalifah Allah di bumi, merupakan nikmat yang paling
agung dan harus disyukuri oleh umat manusia dengan
cara taat kepada Allah dan tidak ingkar kepada-Nya,
termasuk menjauhi kemaksiatan yang dilarang oleh
Allah.
Dengan demikian kekhalifahan mengharuskan
makhluk yang diserahi tugas ini melaksanakan tugasnya
sesuai dengan petunjuk Allah yang memberinya tugas
dan wewenang. Kebijaksanaan yang tidak sesuai dengan
kehendak-Nya adalah pelanggaran terhadap makna dan
tugas kekhalifahan (Shihab, 2007: 140). Jadi dapat
dipahami Khalifah adalah wakil atau pengganti yang
memegang kekuasaan, memegang mandat Allah untuk
mengelola alam, menjaga keseimbangannya dalam
rangka mewujudkan kemakmuran di muka bumi.
Karena fungsi dan peran manusia sebagai hamba
dan khalifah Allah harus dipertanggungjawabkan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 125


dihadapan-Nya. Maka pertanggungjawaban manusia
sebagai hamba Allah dalam melaksanakan ibadah, pada
dasarnya diperuntuhkan kepada Allah. Artinya Allahlah
yang akan menilai kualitas aktivitas ibadah seseorang,
baik dalam hal motivasinya, praktek pelaksanaannya
maupun orientasi aktivitas ibadahnya.
Balasan perbuatan ibadah akan diberikan Allah di
akhirat nanti, dalam bentuk kebahagiaan yang kekal.
Meskipun demikian, dampak dari perbuatan ibadah
akan dirasakan juga dalam kehidupan di dunia, dalam
bentuk ketenangan, kedamaian, penghargaan, pujian dan
balasan kebaikan perbuatannya dari sesama manusia
(Lidinillah, dkk, 2006: 45).
Menurut Muhammad Amin Suma (2013: 18)
secara umum, kekhalifahan manusia di muka bumi, baru
diakui eksistensinya manakala terpenuhi tiga unsur
kekhalifahan sebagai berikut :
a). Mengambil dengan (memanfaatkan) sejumlah unsur
yang bersifat materi (bahan baku) sebagaimana
dirangsang al-Quran supaya manusia berlaku aktif
untuk berbuat dan bertindak serta melakukan
observasi, analisis, pembahasan, dan perenungan.
b). Percaya diri atas anugerah alam yang diciptakan
Allah dan disediakan untuk manusia.
c). Mendayagunakan alam pemberian atau anugerah
Allah SWT kepada manusia itu dengan
pendayagunaan yang bersifat mempribadi, mulai
dari pancaindra sampai akal pikiran, bahkan jalinan
dan jaringan kerja sama yang bergandengan tangan,

126 Nova Yanti Maleha, SE., MM


serta mendayagunakan seluruh pengalaman dan
kemampuan yang dimiliki manusia.
Kekhalifahan dalam Islam bersifat universal,
misalnya dalam dunia kerja. Seorang pekerja yang tidak
mempunyai bawahan tetap dinamakan seorang khalifah,
karena ia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, amanah
yang dipikulnya adalah tugas hariannya sendiri. Bagi
seorang manajer ia harus menyadari bahwa ada
karyawan yang mengantungkan hidup darinya. Oleh
karena itu, pimpinan dan jajaran manajemen pada
hakikatnya memegang amanah untuk membawa
kehidupan para karyawan menjadi lebih sejahtera lahir
dan batin. Sehingga tanggung jawabnya tidak hanya
sebatas tercapainya target produktivitas perusahaan
semata, namun juga bagaimana hubungannya dengan
karyawan dan pengaruhnya.

2. Konsep Adil
Keadilan merupakan nilai paling asasi dalam
ajaran Islam. Menegakkan keadilan dan memberantas
kezaliman adalah tujuan utama dari risalah para Rasul-
Nya (QS Al-Hadiid [57]:25). Keadilan sering kali
diletakkan sederajat dengan kebajikan dan ketakwaan
(QS Al-Maidah [5]:8). Implikasi dalam ekonomi
manajemen dari nilai ini adalah bahwa pelaku ekonomi
manajemen tidak dibolehkan untuk mengejar
keuntungan pribadi bila hal itu merugikan orang lain
atau merusak alam (Karim, 2014: 35). Keadilan juga
bermakna Keseimbangan artinya berdiri di tengah-

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 127


tengah atau tidak berpihak pada pihak yang berperkara.
Keadilan yang berintikan keseimbangan merupakan
hukum kosmik atau hukum alam jagat raya. Rusaknya
keadilan di muka bumi hanya akan menimbulkan
kekacauan sosial yang dapat mengancam kelangsungan
hidup masyarakat.
Manajer merupakan orang yang paling bertanggung
jawab dalam memanajemen sumber daya manusia, maka
dalam proses memanajemen sumber daya manusia,
seorang manajer harus berpegang teguh pada prinsip
keadilan. Hal ini sejalan dengan seruan Allah kepada setiap
manusia dalam surah al-Maidah [5]: 8.

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi


orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena
Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-
kali kebencianu terhadap suatu kaum, mendorong kamu
untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, kaena adil itu
lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.

128 Nova Yanti Maleha, SE., MM


3. Tujuan Organisasi dan Tujuan Individu
Pada awal ketika individu karyawan bergabung
dengan organisasi dapat dipastikan tujuannya tidak
sama dengan tujuan organisasi, bahkan sangat mungkin
individu tidak tahu apa yang menjadi tujuan organisasi.
Secara kasat mata akan terlihat bahwa individu masuk
dalam organisasi perusahaan tidak lain didorong untuk
hasrat mencari nafkah, mendapatkan jaminan hidup,
membina karier dan lain sebagainya.
Pendekatan yang islami mengatakan bahwa
tujuan hidup setiap manusia pada akhirnya adalah Ridha
Allah SWT apapun pekerjaan dan profesi yang
dipegangnya. Jadi, baik karyawan yang bekerja maupun
pimpinan yang mengarahkan kerja karyawan, sama-
sama mencari dan mengharap ridha Allah sebagai tujuan
hidup.

4. Acuan Manajemen Sumber Daya Insani


Berbicara mengenai sifat-sifat luhur yang dimiliki
Rosulullah SAW, ada empat sifat beliau yang sudah
dikenal. Pertama, sifat siddiq atau jujur. Mendapatkan
karyawan yang memiliki sifat seperti ini di tengah
maraknya kebiasaan Mark-up harga dalam mengelola
keuangan sungguh suatu anugerah bagi perusahaan.
Kedua, sifat amanah. Dapat dibayangkan bagaimana
kalau para karyawan bank tidak amanah, maka kasus-
kasus korupsi akan menjadi santapan sehari-hari. Ketiga,
sifat Fathonah yang artinya cerdas. Kecerdasan membuat
pekerja menjadi lebih kreatif dan cepat belajar menyerap

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 129


hal-hal baru yang dibutuhkan dalam dunia bisnis. dan
terakhir yakni, sifat Tabligh yang artinya kemampuan
berkomunikasi. Artiya, dalam konteks perusahaan,
manajer wajib memberitahukan apa saja yang
diketahuinya untuk pembelajaran bagi karyawan-
karyawan yang lainnya.

Pertanyaan untuk Diskusi


1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan manajemen
sumber daya Insani?
2. Sebutkan fungsi-fungsi manajemen sumber daya
manusia menurut Malayu S.P. Hasibuan ?
3. Sebutkan dan jelaskan perbedaan fundamental
antara manajemen sumber daya manusia dengan
manajemen sumber daya Insani?
4. Jelaskan bagaimana pandangan Islam terhadap
manusia sebagai Homo Islamicusvis a visHomo
Economics ?
5. Jelaskan bagaimana konsep bekerja dalam Islam dan
korelasinya dengan manusia sebagai abdullah di satu
sisi dan khalifah fi ardh di sisi lainnya ?

130 Nova Yanti Maleha, SE., MM


BAB VI
MANAJEMEN KEPEMIMPINAN SYARIAH

A. Pengertian Kepemimpinan
Masalah kepemimpinan (leadership) merupakan
pembahasan yang paling menarik dan tidak pernah ada
habisnya, karena ia adalah salah satu faktor penting yang
mempengaruhi berhasil atau gagalnya suatu organisasi.
Memang harus diakui bahwa suatu organisasi akan
dapat mencapai tujuannya manakala sumber
permodalan mencukupi, struktur organisasinya akurat,
dan tenaga trampilnya tersedia. Sekalipun faktor tersebut
berkaitan erat dengan berhasil atau tidaknya organisasi,
namun kepemimpinan juga merupakan faktor penting
yang pantas dipertimbangkan. Tanpa pemimpin yang
baik, maka roda organisasi tidak akan berjalan lancar.
Secara etimologi kepemimpinan atau leadersip
artinya kekuatan untuk menggerakkan dan
mempengaruhi orang (Rivai, 2003: 3). Sedangkan secara
terminologi kepemimpinan dipahami sebagai proses
mempengaruhi yang dilakukan oleh seseorang terhadap
orang lain untuk dapat bekerja sama dalam mencapai
tujuan atau sasaran bersama yang telah ditetapkan
(dicita-citakan) (Kartono, 1994: 48).
Dalam bahasa Indonesia "pemimpin" sering
disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan,
pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala,
penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 131


menurut istilah pemimpin adalah orang yang
mempunyai wewenang dalam pengambilan keputusan
suatu organisasi.
Menurut Hikmat (2009: 249), kepemimpinan
adalah proses pelaksanaan tugas dan kewajiban
individu. Kepemimpinan merupakan sifat dari
pemimpin dalam memikul tanggung jawabnya secara
moral dan legal formal atas seluruh pelaksanaan
wewenangnya yang telah didelegasikan kepada orang-
orang yang dipimpinnya. Owen dalam Sudarmiani
(2009: 33) menyimpulkan kepemimpinan sebagai fungsi
kelompok non individu, terjadi dalam interaksi dua
orang atau lebih, dimana seseorang menggerakkan yang
lain untuk berpikir dan berbuat sesuai yang diinginkan.
Kemudian menurut Veithzal Rivai (2003: 3-4),
pada hakekatnya kepemimpinan juga bearti : Pertama,
Proses mempengaruhi dan memberi contoh oleh
pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai
tujuan organisasi. Kedua, Seni mempengaruhi dan
mengarahkan orang dengan cara kepatuhan,
kepercayaan, kehormatan dan kerja sama yang
bersemangat dalam mencapai tujuan bersama. Ketiga,
Kemampuan untuk mempengaruhi, memberi inspirasi
dan mengarahkan tindakan seseorang atau kelompok
untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Keempat,
Melibatkan tiga hal yaitu pemimpin, pengikut dan situasi
tertentu. Kelima, Kemampuan untuk mempengaruhi
suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Sumber
pengaruh dapat secara forman atau tidak formal.

132 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Pengaruh formal diartikan bila seseorang pemimpin
memiliki posisi manajerial di dalam sebuah organisasi.
Sedangkan sumber pengaruh tidak formal muncul dari
luar struktur organisasi formal. Dengan demikian
seseorang pemimpin dapat muncul dari dalam
organisasi atau karena ditunjuk secara formal.
Pada dasarnya sebutan pemimpin muncul ketika
seseorang memiliki kemampuan mengetahui perilaku
orang lain, mempunyai kepribadian khas, dan
mempunyai kecakapan tertentu yang jarang didapat
orang lain. Apabila dikaitkan dengan kegiatan mobilisasi
massa, maka lahirlah sebutan pemimpin massa (populis).
Apabila dikaitkan dengan organisasi kedinasan
pemerintahan, maka disebut jebatan pemimpin. Apabila
dikaitkan dengan bidang administrasi maka disebut
administrator.
Semua jenis pemimpin tersebut melakukan
kepemimpinan sesuai dengan bidangnya. Bidang yang
menjadi garapannya seringkali membedakan pemimpin
yang satu dengan pemimpin yang lain. Seorang polisi
menggunakan kekerasan dan paksaan terhadap penjahat,
karena kemampuan memimpin berdasarkan ancaman
dan hukuman. Seorang profesional menjalankan fungsi
kepemimpinannya berdasarkan pengetahuan dan
ketrampilan tertentu. Seorang terkesan kharismatik
menjalankan kepemimpinannya berdasarkan daya pikat
kepribadiannya. Sedangkan seorang militer
menggunakan dasar-dasar disiplin dalam menjalankan
fungsi kepemimpinannya.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 133


Dengan kata lain, kepemimpinan dalam suatu
organisasi atau lembaga mempunyai peranan yang
sangat vital. Model kepemimpinan yang akan diterapkan
sangat menentukan intensitas keterlibatan anggotanya
dalam kegiatan yang direncanakan. Bagaimana model
keterlibatan anggota dalam kegiatan akan
mempengaruhi gerak langkah organisasi dalam
mencapai tujuannya. Oleh karena itu, perlu disadari
bahwa meskipun semua anggota terlibat dalam kegiatan,
faktor kepemimpinan masih tetap merupakan faktor
penentu bagi efektivitas dan efesiensi kegiatan
organisasi.
Karenanya tidak salah bila dikatakan bahwa
kepemimpinan adalah soal penilaian masyarakat
terhadap pribadi seseorang tertentu dalam kaitannya
dengan sistem sosial yang berlaku. Hubungan yang
melekat antara unsur pribadi dengan sistem sosial ini
adalah faktor utama yang memapankan kepemimpinan
itu. Itu berarti bahwa selama pribadi yang disebut
pemimpin dianggap dan dinilai oleh masyarakat
pengikutnya telah memenuhi kebutuhan dari sistem
sosial dan komunitas pendukungnya, maka selama itu
pula ia dapat mempertahankan ikatan emosional dengan
para pengikutnya. Dan selama itu pula
kepemimpinannya tetap berlanjut (Sukamto, 1999: 19-21).

B. Fungsi-Fungsi Kepemimpinan
Menurut Fakih dan Iip Wijayanto, (2001: 28)
pemimpin sebagai contoh yang baik (Uswatun hasanah

134 Nova Yanti Maleha, SE., MM


dalam bahasa Arab) secara ideal, harus memiliki fungsi-
fungsi sebagai berikut:
Pertama, Seorang pemimpin harus menjadi contoh
yang baik (teladan) terlebih bagi orang yang
dipimpinnya dalam berperilaku dan berpola tindak
dalam kehidupan sehari-hari. Pemimpin harus
menunjukkan kualitas sikap dan tingkah lakunya,
menjaga dan menghindarkan diri dari perbuatan yang
tidak baik.
Kedua, Pemimpin sebagai pelopor untuk
mengefektifkan kepemimpinannya, seorang pemimpin
harus mempunyai jiwa kepeloporan yang tinggi, dengan
jalan dapat memberikan gagasan yang konsepsional dan
realistis, mampu mengkomunikasikan visi dan
mendelegasikan tugas dalam usaha pencapaian tujuan
bersama.
Ketiga, Pemimpin sebagai pemersatu : dalam suatu
komunitas tertentu pemimpin harus dapat menjadi
perekat dari berbagai macam perbedaan (pluralitas)
orang-orang yang dipimpinnya. Bukan sebagai
provokator peruncing perbedaan.
Keempat, Pemimpin sebagai pelindung. Pemimpin
harus bisa melindungi orang-orang yang dipimpinnya,
sehingga timbul rasa aman dalam komunitas suatu
kepemimpinan.
Kelima, Pemimpin sebagai penasehat dan
pengarah. Fungsi pemimpin adalah sebagai pengarah
dan penasehat. Maksudnya adalah mengarahkan dan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 135


menasehati orang-orang yang dipimpinnya, sehingga
terciptalah iklim kondusif bagi komunitasnya.
Keenam, Pemimpin sebagai penanggung jawab.
Maksudnya apapun kesalahan yang dibuatnya
pemimpin harus bisa mempertanggungjawabkannya di
depan orang-orang yang dipimpinnya bukan malah
menghindar dan tidak mau tahu.

C. Tipe-Tipe Kepemimpinan
Hadari Nawai dan Martini (2000: 79-82)
menyatakan bahwa secara umum tipe-tipe
kepemimpinan adalah:
Pertama, Kepemimpinan otoriter. Maksudnya
pemimpin yang lebih mengedepankan egonya sendiri
dan tidak pernah mau menerima pendapat dari luar.
Contoh pemimpin seperti ini adalah Hitler (Jerman)
dengan ideologi Nazinya, Banito Mausolini (Italia)
dengan ideologi Fasisnya, Lenin (Rusia), dengan
ideologi Komunis Marxisnya.
Kedua, Kepemimpinan Paternalistik adalah pola
kepemimpinan yang banyak dianut oleh pemimpin/raja-
raja Jawa kuno dan Sriwijaya.
Ketiga, Kepemimpinan Demokratis adalah pola
kepemimpinan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat
dalam arti segala sesuatu harus ada mekanisme yang
jelas, transparan dan adil. Pola kepemimpinan seperti ini
juga berpedoman bahwa suara rakyat adalah suara
Tuhan. Jadi rakyat benar-benar harus dilayani dan

136 Nova Yanti Maleha, SE., MM


diperhatikan kesejahteraanya dan konsep ini banyak
diterapkan di negara-negara secara umum.
Keempat, Kepemimpinan Kharismatik merupakan
konsep kepemimpinan tradisonalis dan Pemimpin tipe
ini dianggap memiliki kemampuan adikodrati, yaitu sifat
dan kemampuan di atas rata-rata manusia. Mereka
adalah sosok yang dianggap memiliki kemampuan yang
ilahiyah, sehingga mampu melakukan hal-hal yang
orang biasa tidak mampu. Para nabi pada zaman dahulu
adalah pemimpin kharismatik. Mereka dibekali dengan
mukjizat yang merupakan kekuatan adikodrati.
Pemimpin seperti ini tidak setiap saat bisa lahir, dan
tidak bisa dilahirkan. Pemimpin seperti ini selalu
dihormati pandangan dan keputusannya. Di zaman
modern pemimpin yang memiliki charisma,
misalnya;Ayatullah Khomeini di Iran, Isabela Peron di
Argentina, Fidel Castro di Kuba, Mahatma Gandhi di
India, atau Soekarno di Indonesia.
Kelima, Kepemimpinan Intelektual adalah
kepemimpinan yang mengedepankan rasio dan hatinya
dalam merumuskan sebuah kebijakan. Pemimpin seperti
ini dapat kita lihat di lingkungan akademisi.
Kepemimpinan intelektual sering juga disebut
dengan kepemimpinan legal rasional, yaitu
kepemimpinan yang didapat melalui tata cara dan
aturan rasional yang disusun untuk menyaring seorang
pemimpin. Masyarakat yang telah menyusun aturan
rasional dalam menentukan seorang pemimpin biasanya
tidak memandang seseorang berdasarkan keturunan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 137


atau karakternya. Mereka menetapkan kriteria atau
persyaratan, dan ditetapkan melalui musyawarah atau
pemilihan.
Senada dengan di atas Max Webber dalam The
Teory of Social and Economic Organization menyatakan
bahwa kepemimpinan ada tiga macam, yaitu :Pertama,
kepemimpinan kharismatik atau charismatic authority.
Kepemimpinan jenis ini didasarkan pada identifikasi
psikologis seseorang dengan orang lain. Makna
identifikasi adalah keterlibatan emosional seseorang
individu dengan individu lain yang akhirnya nasib orang
itu sendiri berkaitan dengan nasib orang lain. Bagi para
pengikut, pimpinan adalah harapan untuk suatu
kehidupan yang lebih baik. Ia adalah penyelamat dan
pelindung.
Istilah kharismatik menunjuk pada kualitas
kepribadian seseorang. Karena posisinya yang demikian
inilah ia dapat dibedakan dari orang kebanyakan. Juga
karena keunggulan kepribadian itu, ia dianggap
(bahkan) diyakini memiliki kekuatan supra natural,
manusia serba istimewa, atau sekurang-kurangnya
istimewa dipandang masyarakat. Kekuatan dan
keistimewaan tersebut adalah karunia Tuhan yang
diberikan kepada hambanya yang mewakili di dunia.
Kehadiran seseorang yang mempunyai tipe-tipe seperti
itu dipandang sebagai seorang pemimpin. Tanpa adanya
bantuan orang lain ia mampu mencari dan menciptakan
citra yang menggambarkan kekuatan dirinya.

138 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Selain itu, seseorang dianggap kharisma karena
ada orang yang mempercayai bahwa ia mempunyai
kekuatan dan kemampuan luar biasa dan mengesankan
dihadapan khalayak ramai. Karenanya, yang
bersangkutan sering berfikir mengenai sesuatu yang
ghaib, melakukan meditasi untuk mencari inspirasi,
sehingga membuatnya terpisah dari kebiasaan yang
dilakukan oleh orang lain. Seseorang yang berkharisma
tidaklah mengharuskan semua ciri khas senantiasa
melekat padanya. Baginya yang penting adalah sifat-sifat
luar biasa yang dianggap oleh orang lain sebagai atribut
dari orang lain.
Para pengikut pemimpin kharismatik sering
bertingkah labil dan mudah berubah-ubah. Artinya
mereka telah terpengaruh oleh peran pemimpin
kharismatik yang cenderung bersifat individualistik,
tergantung inspirasi pemimpinnya. Para pengikut
seringkali mempunyai loyalitas tinggi kepada
pemimpinnya, bahkan mereka nyaris mengabaikan
kewajiban kerjanya, keluarganya, dan menjual sesuatu
untuk mengikuti anjuran pemimpinnya. Antara
pemimpin dan pengikut biasanya tercipta suatu
hubungan yang erat, hubungan seperti layaknya sebuah
keluarga. Begitu juga gubungan ini berlaku bagi sesama
pengikut dalam komunitas tersebut.
Di sisi lain, ada semacam kewajiban moral
pemimpin untuk membimbing para pengikutnya secara
berkelanjutan, baik ketika mereka diminta maupun tidak
oleh anggotanya. Dan pemimpin itu terkadang datang

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 139


pada pengikutnya manakala mereka menghadapi
kesulitan serius. Motivasi dan nasihat pemimpin yang
diberikan kepada para pengikutnya diterima sebagai
sesuatu yang mencerminkan mutu kepribadian yang luar
biasa, yang diyakini bersumber dari tangan-tangan
kekuasaan Tuhan. Dengan demikian, kepercayaan para
pengikutnya terhadapnya semakin kuat, karena
pemimpin dianggap memiliki kemahiran mengetahui
sesuatu yang terjadi pada diri pengikutnya.
Pemimpin kharismatik biasanya lahir ketika
suasana masyarakat dalam keadaan kacau. Suasana
seperti itu memerlukan pemecahan yang tuntas, agar
keadaan masyarakat kembali normal. Untuk itu memang
diperlukan kehadiran figur yang sanggup menyelesaikan
krisis tersebut. Tidak heran dalam hal ini, bila proses
kepemimpinan berkharisma hampir mendekati sifat
otoriter, yakni kurang mengandalkan unsur
musyawarah, rasional dan legal formal, sekalipun dapat
saja ia berjiwa demokratis.
Selain itu, kepemimpinan jenis ini banyak
bercokol di daerah-daerah yang masyarakatnya masih
tradisional atau primitive. Jenis masyarakat seperti ini
cenderung memiliki homogenitas tinggi, memiliki
kepercayaan yang sama, pandangan hidup dan nilai
budaya serta gaya hidup yang hampir sama pula.
Homogenitas ini dapat menciptakan kesadaran kolektif,
gaya hidup banyak memperlihatkan persamaan,
hubungan antar anggota masyarakat secara langsung

140 Nova Yanti Maleha, SE., MM


(tatap muka) dan tidak ada pembagian kerja yang
impersonal (Sukamto, 1999: 23-28).
Kedua, kepemimpinan legal rasional atau legal
authority, yakni bentuk kepemimpinan terletak bukan
pada diri kekuasaan individu, melainkan dalam jabatan
atau status yang dipegang oleh individu. Oleh karena itu,
otoritas legal diwujudkan dalam organisasi birokratis,
tanggung jawab pemimpin dalam mengendalikan
organisasi tidak ditentukan penampilan kepribadian dari
individu melainkan dari prosedur aturan yang telah
disepakati. Unsur-unsur emosional dikesampingkan dan
diganti unsur rasional. Maka, peranan seorang
pemimpin didasarkan pada sejumlah peraturan yang
sebelumnya telah dikukuhkan dan bersifat mengikat.
Mereka menjadi pemimpin diangkat berdasarkan tata
aturan tertentu dan ketika memimpin ada landasan
tertentu yang harus dilaksanakan. Iklim ketaatan antara
anggota dan pemimpin terletak pada perumusan formal
dan bukan bersifat pribadi.
Jenis kepemimpinan seperti ini akan berhasil, bila
ditunjang dengan budaya masyarakat yang mengandung
nilai demokratis, dan bukan masyarakat atau sistem
otoriter. Di dalam masyarakat ini, aturan legal formal,
tidak dimaksudkan menilai bawahan sebagai obyek,
melainkan kedudukannya diakui sebagai subyek,
sehingga dapat dikembangkan sikap menghargai
pendapat anggota masyarakat, menerima perbedaan
pendapat dan kedudukan masing-masing anggota
(Sukamto, 1999: 24-33).

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 141


Ketiga, kepemimpinan tradisional atau traditional
authority, yaitu kepemimpinan bersumber pada
kepercayaan yang telah mapan terhadap kesakralan tradisi
kuno. Kedudukan pemimpin ditentukan oleh kebiasaan-
kebiasaan yang lama dilakukan oleh kelompok
masyarakat, dalam menjalankan berbagai tradisi.
Dalam hal kewajiban, seseorang menjalankan
fungsi kepemimpinan ditetapkan sesuai dengan aturan
yang bersumber pada tradisi. Pengikut patuh pada
pemimpin tidak didasarkan pada tatanan impersonal,
tatapi menjadi loyalitas pribadi dalam ruang lingkup
dengan membiasakan tunduk pada kewajiban. Tradisi
yang dimaksudkan di sini adalah suatu sistem
koordinasi yang bersifat mengikat dan dinyatakan sah
berlakunya, dipercaya atas dasar kesucian dari tatanan
sosial serta senantiasa ada sanksi yang dibebankan.
Proses kepemimpinan dalam konsep ini diterima
oleh masyarakat berdasarkan pada salah satu cara dari
dua kriteria berikut ini: pertama, tradisi yang
mensyaratkan isi dari proses kepemimpinan, tujuan, dan
ruang lingkup dari wewenangnya. Segala bentuk
tindakan terikat oleh tradisi khusus. Kedua, proses
kepemimpinan terjadi berdasarkan keputusan dari
pemimpin itu sendiri, karena tradisi telah memberikan
wewenang bertindak leluasa seperti itu. Sifat hak
prerogative pemimpin pada dasarnya terletak pada
kenyataan bahwa kewajiban untuk patuh atas dasar
kesetiaan pribadi mempunyai sifat tidak terbatas
(Sukamto, 1999: 24-37).

142 Nova Yanti Maleha, SE., MM


D. Teori Kepemimpinan
Menurut G.R. Terry (dalam Abbas, 2009: 35-40)
ada 8 (delapan) teori kepemimpinan, yaitu :
Pertama, teori otokratis. Kepemimpinan menurut
teori ini didasarkan atas perintah-perintah dan
pemaksaan terhadap staf atau bawahannya. Seorang
pemimpin melakukan pengawasan yang ketat terhadap
semua pekerja staf, agar dapat berjalan secara efisien.
Pemimpin yang menerapkan teori otokratis, pada
dasarnya selalu ingin tampil sendiri dan berambisi untuk
menguasai dan mengendalikan setiap situasi. Dengan
kekuasaan dan kekuatan yang keras, ia memberikan
perintah-perintah yang harus dipatuhi dan diikuti oleh
staf atau bawahannya.
Pemimpin yang menerapkan teori otokratis,
dalam pengambilan keputusan atau pembuatan
kebijakan organisasi, dibuat sendiri tanpa berkonsultasi
dengan para anggotanya. Ia memberikan perintah-
perintah yang dipaksakan dan harus dipatuhi oleh
anggota kelompoknya. Dia tidak pernah memberikan
informasi medetail tentang rencana kerja yang akan
datang, dan hanya memberitahukan langsung langkah-
langkah yang harus dilakukan segera oleh sitafnya untuk
melaksanakan kebijakan yang telah diambilnya. Dalam
teori otokratis, seorang pemimpin memberikan pujian
atau kritik kepada anggotanya didasarkan pada inisiatif
sendiri, untuk kepentingan sendiri dan bukan untuk
kepentingan organisasi.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 143


Kedua, teori psikologis. Teori ini menyatakan
bahwa fungsi seorang pemimpin adalah
mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk
merangsang kesediaan bekerja para bawahan atau
stafnya. Pemimpin merangsang bawahannya agar
mereka bekerja ke arah pencapaian sasaran organisasi
maupun untuk tujuan-tujuan pribadi. Kepemimpinan
yang mampu memotivasi orang lain, akan sangat
mementingkan aspek-aspek psikis manusia, seperti;
pengakuan, kepastian, emosional, memperhatikan
keinginan dan kebutuhan staf, penghargaan, kegairahan
kerja, minat, suasana hati, dan lain-lain.
Ketiga, teori sosiologis. Dalam teori inim,
kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk
melancarkan hubungan antar relasi dalam suatu
organisasi. Melalui teori ini penyelesaian konflik
organisasi dapat diatasi antar anggota kelompok, guna
tercapainya kerjasama yang baik. Pemimpin menetapkan
tujuan-tujuan dengan menyertakan para pengikut dalam
pengambilan keputusan terakhir. Pemimpin menentukan
tujuan dan petunjuk yang diperlukan bagi staf untuk
melakukan setiap tindakan, berkaitan dengan
kepentingan organisasinya.
Dalam teori sosiologis, setiap anggota kelompok
mengetahui hasil apa, keyakinan apa, dan kelakukan apa
yang diharapkan dari mereka oleh pemimpin dan
kelompoknya. Pemimpin diharapkan dapat mengambil
tindakan-tindakan korektif apabila terdapat kepincangan
dan penyimpangan-penyimpangan dalam organisasi.

144 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Keempat, teori suportif. Dalam teori suportif,
pemimpin beranggapan bahwa para pengikut dan
stafnya ingin berusaha sebaik-baiknya dan pemimpin
dapat membimbing mereka dengan sebaik-baiknya
melalui tindakan-tindakan tertentu. Untuk maksud
tersebut, pemimpin menciptakan suatu lingkaran kerja
yang membantu mempertebal keinginan setiap anggota
kelompoknya, untuk melaksanakan pekerjaan sebaik
mungkin, sanggup bekerjasama dengan pihak lain, mau
mengembangkan skillnya dan memiliki motivasi yang
kuat untuk mewujudkan tujuan organisasi. Teori ini
sering dikenal dengan teori partisipatif atau teori
kepemimpinan demokratis.
Kelima, teori laissez faire. Kepemimpinan laissez faire
ditampilkan oleh seorang tokoh ketua dewan yang
sebetulnya tidak mampu mengurus, dan dia
menyerahkan semua tanggung jawab kepada
bawahannya atau anggota organisasinya. Dia adalah
seorang ketua yang bertindak sebagai symbol, dengan
berbagai macam hiasan. Dalam prakteknya, seorang
pemimpin yang menerapkan teori laissez faire biasanya
tidak memiliki ketrampilan teknis. Sedangkan
kedudukan sebagai pemimpin dimungkinkan oleh
sistem nepotisme ataupun penyuapan. Jika dia
mempunyai ketrampilan teknis, namun disebabkan oleh
karakternya yang lemah dan tidak berpendirian atau
tidak berprinsip, maka semua itu akan mengakibatkan
tidak adanya kewibawaan atau tidak ada kontrol.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 145


Dalam kepemimpinan laissez faire, seorang
pemimpin tidak memiliki kemampuan
mengkoordinasikan semua pekerjaan, dan tidak berdaya
menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Akibatnya,
suatu organisasi labil, kocar-kacir, atau identik dengan
kapal yang kehilangan nakhodanya. Pemimpin yang
menerapkan prinsip laissez faire pada intinya bukanlah
seorang pemimpin dalam pengertian yang sebenarnya.
Keenam, teori kelakukan pribadi. Kepemimpinan
akan muncul berdasarkan kualitas-kualitas atau pola
kelakuan para kelakuan para pemimpinnya. Teori ini
menyatakan, bahwa seorang pemimpin selalu
berkelakuan kurang lebih sama, yaitu tidak melakukan
tindakan-tindakan yang identik sama dalam setiap
situasi yang dihadapi. Dengan kata lain, seorang
pemimpin harus bersikap fleksibel, mempunyai daya
elastis tinggi, karena ia harus mampu mengambil
langkah-langkah yang paling tepat untuk suatu masalah.
Penyelesaian masalah sosial tidak akan pernah identik
dalam rentang waktu yang berbeda. Pola tingkah laku
pemimpin tersebut berkaitan dengan; (a). Bakat dan
kemampuannya, (b). Situasi dan kondisi yang dihadapi,
(c). keinginan untuk memutuskan dan memecahkan
permasalahan yang timbul dan, (d). Derajat supervisi
dan ketajaman evaluasi.
Ketujuh, teori sifat. Pemimpin dalam teori ini
mengedepankan beberapa hal seperti; memiliki
inteligensia tinggi, banyak inisiatif, energik, memiliki
kedewasaan emosional, memiliki daya persuasive,

146 Nova Yanti Maleha, SE., MM


memiliki kepercayaan diri, peka, kreatif, memberikan
partisipasi sosial yang tinggi dan lain-lain.
Kedelapan, teori situasi. Teori ini menjelaskan
bahwa, seorang pemimpin harus memiliki daya
lentur/fleksibel, tidak kaku, dan mudah menyesuaikan
diri terhadap berbagai tuntutan situasi dan zamannya.
Kepemimpinan dalam teori situasi harus bersifat multi-
dimensional, agar mampu melibatkan dan
menyesuaikan diri terhadap situasi yang cepat berubah.
Teori ini memiliki landasan dasar, bahwa kepemimpinan
terdiri atas tiga elemen dasar yaitu; pemimpin, pengikut,
dan situasi. Situasi dianggap sebagai elemen penting
karena situasi dapat mempengaruhi pemimpin dan
orang yang dipimpinnya.

E. Konsep Manajemen Kepemimpinan Syariah


Kepemimpinan merupakan alat vital dalam
kehidupan organisasi. Karena, kepemimpinanlah yang
menentukan arah dan tujuan, memberikan bimbingan
dan motivasi dalam pekerjaan. Ringkasnya,
kepemimpinan adalah motor penggerak dalam
manajemen atau organisasi. Manajer atau pemimpin
merupakan subjek yang sangat menentukan efektif atau
tidaknya manajemen organisasi. Kegagalan sistem
memacu tujuan, sebagian besar adalah akibat langsung
dari ketidakmampuan faktor manusia bergerak secara
kondusif.
Kepemimpinan merupakan seni atau proses untuk
mempengaruhi orang lain, sehingga orang lain tersebut

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 147


bersedia dengan kemampuannya sendiri dan secara
antusias bekerja demi tercapainya tujuan yang di cita-
citakan. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang
ide dan ajarannya tetap dikerjakan dan tetap
berpengaruh kepada orang lain walaupun yang pencetus
ide dan ajaran tersebut sudah meninggal.
Rasulullah SAW mungkin bisa kita jadikan contoh
dalam menjelaskan konsep kepemimpinan ini. Beliau
merupakan tipe pemimpin sukses ditandai dengan
ajarannya yang masih dikembangkan oleh pengikut-
pengikutnya hingga saat ini dan tidak ada seorangpun
mampu menyaingi bahkan membuat setara dengan gaya
kepemimpinannya. Sehingga tidak salah jika beliau
dianggap sebagai suli tauladan yang baik bagi umatnya.
Dalam perspektif Islam, manusia sejak lahir telah
dianugerahkan nilai kepemimpinan (leadership values)
oleh Allah SWT. Manusia sejak lahir telah mendapatkan
kedudukan, tugas dan tanggung jawab sebagai khalifah
Allah di bumi. Ia dibekali dengan nilai leadership oleh
Allah untuk menjalankan amanah tersebut. Akal dan
budi menjadi modal dasar bagi manusia dalam
mengembangkan leadership-nya. Pemanfaatan potensi
akal budi dalam menjalankan leadership, akan dimintai
pertanggungjawaban oleh Allah di hari akhir (Abbas,
2009: 11). Hal ini sejalan dengan hadis nabi, kullukum
ra'in wa kullukum mas'ulun 'an ra'iyyatihi (setiap kamu
adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggungjawab
atas kepemimpinanmu). Makna ra'in sesungguhnya
berarti gembala. Seorang pemimpin ibarat serang

148 Nova Yanti Maleha, SE., MM


penggembala yang harus membawa ternaknya ke
padang rumput dan menjaganya agar tidak diserang
serigala.
Adapun ra'iyyah berarti rakyat. Jadi seorang
pemimpin pasti mempertanggungjawabkan
kepemimpinannya di hadapan rakyat. Selain kata ra'in
seringkali dipakai kata ra'is yang berhubungan dengan
kata ra's artinya kepala. Ada pula yang menggunakan
kata sa'is yang berarti pengendali kuda. Memang
seorang pemimpin adalah seorang yang mampu
mengendalikan anggotanya. Sa'is memiliki akar kata
yang sama dengan siyasat, strategi. Untuk itu, dalam
memimpin diperlukan strategi dan taktik agar
kepemimpinannya berjalan optimal dan mencapai hasil
yang telah dicita-citakan.
Ada pula yang mengartikan pemimpin dengan
kata imam, yang berarti di depan. Kata ini memiliki akar
yang sama dengan umm, yang berarti ibu. Seorang imam
atau pemimpin memang harus memiliki sifat seorang
ibu. Penuh kasih sayang dalam membimbing dan
mengendalikan umat. Ada kaitan antara imam, umm, dan
ummat. Sifat nabi kita di antaranya adalah ummi, yang
berarti penuh keibuan (QS. al-A'raf [7]: 156 dan 158).
Islam memberikan posisi yang amat terhormat
bagi para pemimpin. Bahkan dalam al-Qur'an ada
sebuah do'a agar kita bisa menjadi pemimpin. Doa
tersebut adalah Rabbana hab lana min azwajina wa
dzuriyyatina qurrata a'yun waj'alna lil muttaqinaimama (QS.
Al-Furqan [25]: 74). Artinya, Ya Tuhan kami,

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 149


anugaerahkanlah kepada kami isteri-isteri (suami-suami) dan
anak-anak yang menyenangkan hati kami, danjadikanlah kami
pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa..'
Untuk itu menjadi pemimpin harus menjadi cita-
cita setiap orang yang beriman. Rasulullah tidak pernah
menetapkan satu system tertentu bagi sebuah
kepemimpinan' Semua itu diserahkan kepada kaum
muslimin. Selama sebuah sistem mengedepankan
musyawarah maka sisitem itu sudah mengarah kepada
kesempurnaan.
Muhammad Syafii Antonio (2007: 20-23)
menyatakan bahwa jika melihat sosok Rasulullah SAW
sebagai figur pemimpin, maka kita semua akan lihat
setidaknya ada empat fungsi kepemimpinan (the 4 roles of
leadership) yang melekat pada dirinya. Pertama, fungsi
perintis (pathfinding) mengungkap bagaimana upaya
sang pemimpin memahami dan memenuhi kebutuhan
utama para stakeholder-nya, misi dan nilai-nilai yang
dianutnya, serta yang berkaitan dengan visi dan strategi,
yaitu ke mana perusahaan akan dibawa dan bagaimana
caranya agar sampai ke sana.
Fungsi ini ditemukan pada diri Muhammad SAW
karena beliau melakukan berbagai langkah dalam
mengajak umat manusia ke jalan yang benar.
Muhammad SAW telah berhasil membangun suatu
tatanan sosial yang modern dengan memperkenalkan
nilai-nilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan
dan multikulturalisme, rule of law, dan sebagainya.
Sistem sosial yang diakui terlalu modern dibandingkan

150 Nova Yanti Maleha, SE., MM


zamannya itu dirintis oleh Muhammad SAW kemudian
dikembangkan oleh para khalifah sesudahnya.
Kedua, fungsi penyelaras (aligning) berkaitan
dengan bagaimana pemimpin menyelaraskan
keseluruhan sistem dalam organisasi perusahaan agar
mampu bekerja dan saling sinergis. Sang pemimpin
harus memahami betul apa saja bagian-bagian dalam
sistem organisasi perusahaan. Kemudian, ia
menyelaraskan bagian-bagian tersebut agar sesuai
dengan strategi untuk mencapai visi yang telah
digariskan.
Muhammad SAW mampu menyelaraskan
berbagai strategi untuk mencapai tujuannya dalam
menyiarkan ajaran Islam dan membangun tatanan sosial
yang baik dan modern. Ketika banyak para sahabat yang
menolak kesediaan beliau untuk melakukan perjanjian
Hudaybiyah yang dipandang menguntungkan pihak
musyrikin, beliau tetap bersikukuh dengan kesepakatan
itu. Terbukti, pada akhirnya perjanjian tersebut berbalik
menguntungkan kaum muslim dan pihak musyrikin
meminta agar perjanjian itu dihentikan. Beliau juga
dapat membangun sistem hukum yang kuat, hubungan
diplomasi dengan suku-suku dan kerajaan di sekitar
Madinah, dan sistem pertahanan yang kuat sehingga
menjelang beliau wafat, Madinah tumbuh menjadi
negara baru yang cukup berpengaruh pada waktu itu.
Ketiga, fungsi pemberdayaan (empowering)
berhubungan dengan upaya pemimpin untuk
menumbuhkan lingkungan agar setiap orang dalam

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 151


organisasi perusahaan mampu melakukan yang terbaik
dan selalu mempunyai komitmen yang kuat (committed).
Seorang pemimpin harus memahami sifat pekerjaan atau
tugas yang diembannya. Ia juga harus mengerti dan
mendelegasikan seberapa besar tanggung jawab dan
otoritas yang harus dimiliki oleh setiap karyawan yang
dipimpinnya. Siapa mengerjakan apa. Untuk alas an apa
mereka mengerjakan pekerjaan tersebut. Bagaimana
caranya. Dukungan sumber daya apa saja yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan
bagaimana akuntabilitasnya.
Sejarah kenabian (sirah nabawiyah) menceritakan
kecakapan Muhammad SAW dalam mensinergikan
berbagai potensi yang dimiliki oleh para pengikutnya
dalam mencapai suatu tujuan. Sebagai contoh, dalam
mengatur strategi dalam perang Uhud, beliau
menempatkan pasukan pemanah di punggung bukti
untuk melindungi pasukan infantri Muslim. Beliau juga
dengan bijak mempersaudarakan antara kaum Muhajirin
dan Anshar ketika mulai membangun masyarakat
Madinah. Beliau mengangkat para pejabat sebagai amir
(kepala daerah) atau hakim berdasarkan kompetensi dan
good track record yang mereka miliki. Tidak heran, dalam
jangka waktu yang tidak terlalu lama (sekitar 10 tahun),
beliau telah mampu mendirikan dasar-dasar tatanan
sosial masyarakat modern. Pimpinan dunia lainnya
mungkin butuh waktu yang lebih lama untuk mencapai
hal semacam itu.

152 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Keempat, fungsi panutan (modeling) mengungkap
bagaimana agar pemimpin dapat menjadi panutan bagi
para karyawannya. Bagaimana dia bertanggung jawab
atas tutur kata, sikap, perilaku, dan keputusan-
keputusan yang diambilnya. Sejauh mana dia melakukan
apa yang dikatakannya.
Muhammad SAW dikenal sangat kuat berpegang
pada keputusan yang telah disepakati. Misalnya, pada
peristiwa perang Uhud. Menjelang perang Uhud, suara-
suara yang menginginkan agar kaum muslimin
menyambut pasukan musyrik di luar Madinah lebih
banyak daripada yang bertahan di pinggiran Madinah.
Rasulullah SAW pun pada awalnya memilih pendapat
yang kedua. Tapi karena mengikuti prosedur suara
terbanyak, akhirnya diambil keputusan untuk
menyongsong pasukan Makkah di luar Madinah.
Belakangan para sahabat menyadari bahwa mereka
terlalu memaksakan kehendak mereka terhadap
Muhammad SAW dan meminta beliau untuk
memutuskan apa yang menurut beliau dan Allah
merupakan jalan terbaik. Beliau juga merupakan
seseorang yang melaksanakan apa yang beliau katakan
(walk the talk). Beliau sangat membenci orang yang
mengatakan sesuatu tetapi tidak melaksanakan apa yang
dikatakannya itu.
Rasulullah SAW menjadi panutan dalam
melaksanakan nasihat dan saran-sarannya demikian juga
dalam menjadi pribadi yang mulia. Beliau adalah
seorang yang sangat dermawan kepada siapa pun yang

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 153


datang dan memita pertolongan jauh sebelum
mengatakan, tangan di atas lebih mulia dari tangan
dibawah, dan masih banyak lagi.

Tugas Individu dan Kelompok


1. Jelaskan apa yang dimaksud kepemimpinan syariah ?
2. Sebutkan dan jelaskan perbedaan antara
kepemimpinan otoriter dengan kepemimpinan
paternalistik ?
3. Jelaskan konsep-konsep kepemimpinan ala
Rasulullah SAW yang menjadi suri tauladan bagi
kaum muslimin?
4. Sebutkan dan jelaskan delapan teori kepemimpinan
menurut G.R. Terry ?
5. Jelaskan maksud etika komunikasi seorang
pemimpin berikut ini :
a. Qaulan kariimah (perkataan mulia)
b. Qaulan Marufan (perkataan baik)
c. Qaulan Sadidan (Perkataan yang lurus dan
benar)
d. Qaulan Balighan (Perkataan yang tepat).
e. Qaulan Maysura (Perkataan yang mudah
dimengerti).
f. Qaulan Layyinan (perkataan lemah lembut)

154 Nova Yanti Maleha, SE., MM


BAB VII
MANAJEMEN WAKTU SYARIAH

A. Pengertian Manajemen Waktu


Manajemen waktu merupakan suatu proses yang
berhubungan dengan pencapaian suatu tujuan tertentu
maupun sasaran yang sebelumnya telah ditentukan
untuk bisa dicapai dalam suatu periode tertentu dengan
penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif,
seperti misalnya adalah uang, manusia, perlengkapan,
metode dan bahan.
Manajemen waktu meliputi perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan
produktivitas waktu. Melalui pengelolaan atau
manajemen waktu ini, seseorang berupaya menyibukkan
diri dengan kegiatan-kegiatan yang diinginkan
(berdasarkan kepentingan, prioritas maupun
manfaatnya), sekaligus menghindari kesibukan yang
tidak diinginkan. Waktu adalah kehidupan itu sendiri,
yang setiap waktu berkurang. Waktu merupakan saat
dan tempat untuk belanja dan merupakan modal
sesungguhnya bagi manusia, baik individu, kelompok,
organisasi maupun masyarakat.
Tingkat efektivitas dari suatu manajemen waktu
akan bisa terlihat dari pencapaian suatu target dan juga
tujuan dari manajemen waktu tersebut dilakukan. Efisien
sendiri memiliki dua makna yaitu antara lain
pengurangan waktu yang telah dialokasikan serta

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 155


adanya makna investasi dari waktu dengan penggunaan
waktu yang telah tersedia.
Tentunya manajemen waktu adalah bagaimana
anda bisa mengatur serta memanfaatkan waktu yang
telah dialokasikan atau yang anda miliki sehingga dapat
digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan pekerjaan
tertentu dan menghasilkan suatu hal yang produktif.
Manajemen waktu dikatakan baik apabila dapat
membuat data dari pekerjaan serta aktivitas yang
terperinci dan dapat menentukan skala skala yang
diperlukan dalam aktivitas aktivitas tersebut.
Manajemen waktu juga tidak akan lepas dari
bagaimana seseorang bisa menentukan skala prioritas.
Ketika dihadapkan dengan beberapa hal yang penting
namun hanya diberikan alokasi waktu yang sedikit,
maka tugasnya untuk menentukan skala prioritas, mana
kegiatan yang penting untuk dilakukan dan memerlukan
lebih banyak perhatian dan mana kegiatan yang bisa
ditinggalkan sehingga dapat menghemat alokasi waktu.
Skala prioritas ini juga dipengaruhi dengan
apakah suatu pekerjaan tersebut termasuk pekerjaan
yang mendesak atau tidak, hal ini biasanya dipengaruhi
dengan tenggat waktu tertentu. Pelaksanaan manajemen
waktu juga memerlukan kedisiplinan yang tinggi dan
juga komitmen dari orang yang melakukannya.
Pelaksana dari manajemen waktu akan dituntut
untuk dapat mematuhi dan juga menjalankan apa yang
telah diputuskan dalam perencanaan manajemen waktu
tersebut, baik untuk hal hal yang berhubungan dengan

156 Nova Yanti Maleha, SE., MM


pekerjaan di kantor maupun hal hal yang berhubungan
dengan aktivitas sehari hari. Maka agar bisa mengatur
waktu dengan baik, maka seorang individu perlu
mengetahui hakikat dasar dari manajemen waktu.
Berikut ini merupakan beberapa defenisi
manajemen waktu menurut para ahli antara lain :
1. Atkinson
Manajemen waktu adalah suatu kemampuan yang
memiliki kaitan dengan tindakan yang diambil dari
seorang individu untuk memanfaatkan waktu sebaik
baiknya.
2. Forsyth
Manajemen waktu adalah bagaimana seorang
individu mampu mengendalikan waktunya sehingga
dapat mencapai produktivitas yang diinginkan
dengan efektif. Prinsip dari manajemen waktu
berhubungan dengan bagaimana individu bisa
menentukan prioritas dari kegiatan kegiatan yang
dijalankannya.
3. Orr
Manajemen waktu adalah suatu cara untuk bisa
menggunakan waktu se-efisien dan juga se-efektif
mungkin sehingga mampu memperoleh hasil
penggunaan waktu yang maksimal.
4. Taylor
Manajemen waktu merupakan bagaimana
pencapaian dari sasaran utama yang ada di suatu
kehidupan yang menjadi hasil utama dari kehidupan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 157


tersebut dengan menyisihkan jenis jenis kegiatan
yang tidak memiliki manfaat atau arti yang penting.
Manajemen waktu pada prinsipnya bukan hanya
mengacu kepada pengelolaan waktu, tetapi lebih
cenderung pada bagaimana memanfaatkan waktu.
Individu yang mampu mengelola waktu akan
menentukan prioritas dari berbagai tugas yang dihadapi,
fokus waktu dan energi pada tugas yang penting terlebih
dahulu (Sandra dan Djalali, 2013: 219).
Dari berbagai defenisi di atas dapat dipahami
bahwa manajemen waktu adalah bagaimana dapat
menyelesaikan suatu pekerjaan dengan lebih cepat dan
juga dengan lebih cerdas. Karena dalam perspektif apa
pun waktu sangat penting seperti dalam bidang sosial, di
mana waktu memiliki nilai ekonomi ("waktu adalah
uang") serta nilai personal, karena kesadaran akan waktu
yang terbatas di setiap hari dan dalam rentang
kehidupan manusia.

B. Konsep Manajemen Waktu Syariah


Agar kita terhindar dari kesia-siaan dalam
menggunakan waktu, agaknya kita perlu menata waktu
untuk berkreativitas. Dengan kata lain, kita perlu
manajemen waktu untuk menjadikan aktivitas kita efisien
dan efektif. Banyak uraian tentang pengelolaan waktu ini,
salah satunya dalam surah Al-Insyirah [94]: 7-8:

158 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu
urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah
hendaknya kamu berharap

Ayat di atas, sesungguhnya, tidak hanya berbicara


soal pekerjaan, tapi lebih dari itu; manajemen waktu.
Karena siapa yang mampu memenej waktu dengan baik
maka ia akan dengan mudah mengatur dan
menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Selain itu, dalam perspektif Islam, waktu
merupakan salah satu nikmat tertinggi yang diberikan
Allah kepada Manusia. Bahkan Allah SWT menjelaskan
dalam salah satu firman-Nya betapa pentingnya waktu
dan betapa besar nikmat Allah yang terkandung
didalamnya. Allah berfirman;

Dan dia Telah menundukkan (pula) bagimu matahari


dan bulan yang terus menerus beredar (dalam
orbitnya); dan Telah menundukkan bagimu malam dan
siang. Dan dia Telah memberikan kepadamu
(keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan
kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah,

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 159


tidaklah dapat kamu menghinggakannya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat
mengingkari (nikmat Allah). (QS. Al-Ibrahim [14]:
33-34).

Dalam ayat lain disebutkan;

Dan dia (pula) yang menjadikan malam dan siang


silih berganti bagi orang yang ingin mengambil
pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.(QS. Al-
Furqan [25]: 62).

Maka sudah sepatutnya manusia


memanfaatkannya seefektif dan seefisien mungkin untuk
menjalankan tugasnya sebagai makhluk Allah di bumi
ini. Karena pentingnya manajemen waktu ini maka Allah
swt telah bersumpah pada permulaan berbagai surat
dalam al-Quran seperti;
a. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
dalam kerugian, (QS. Al-Asr [103]: 1-2).
b. Demi waktu matahari sepenggalahan naik, Dan demi
malam apabila Telah sunyi (gelap), (QS. Adh-Dhuha
[93]: 1-2).
c. Demi fajar, dan malam yang sepuluh (QS. Al-Fajr
[89]: 1-2).

160 Nova Yanti Maleha, SE., MM


d. Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang
apabila terang benderang (QS. Al-Lail [92]: 1-2)
Menurut para mufassirin apabila Allah
bersumpah dengan sesuatu dari ciptaan-Nya, maka hal
itu mengandung maksud agar kaum muslimin
memperhatikan kepada-Nya dan agar hal tersebut
mengingatkan mereka akan besarnya manfaat dan
impressinya. Maka barang siapa terluput atau terlena
dari suatu amal perbuatan pada salah satunya, maka
hendaklah ia berusaha menggantikannya pada saat yang
lain. Sementara itu sunnah nabawiah juga mengukuhkan
nilai waktu, dan menetapkan adanya tanggung jawab
manusia terhadap waktu di hadapan Allah kelak di hari
kiamat.
Adapun kewajiban setiap muslim terhadap waktu
harus dilakukan. Pertama, menjaga manfaat waktu
sebagaimana ia menjaga hartanya, bahkan harus lebih
dari itu. Kedua, tidak menyia-nyiakan waktu yang ada.
Ketiga, mengisi kekosongan waktu dengan berbagai
aktivitas yang bermanfaat bagi diri maupun masyarakat.
Keempat, selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Kelima,
selalu belajar dari perjalanan hari demi hari dan waktu
demi waktu.
Terlebih, ada empat pertanyaan pokok yang akan
dihadapkan kepada setiap mukallaf di hari perhitungan
kelak, dan ada dua pertanyaa dasar yang khusus
berkenaan dengan waktu. Tentang hal tersebut telah
diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal ra, bahwa Nabi saw
telah bersabda: Tiada tergelincir kedua telapak kaki seorang

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 161


hamba di hari Kiamat, sehingga ditanya tentang empat hal,
yaitu tentang umurnya di mana ia habiskan, tentang masa
mudanya di mana ia binasakan, tentang hartanya dari mana ia
peroleh dan ia belanjakan, dan tentang ilmunya bagaimana ia
mengamalkannya.
Begitulah, bahwa manusia bakal ditanya tentang
umurnya secara umum dan tentang masa mudanya
secara khusus. Sesungguhnya masa muda memang
bagian daripada usia manusia. Namun, masa itu
mempunyai nilai istimewa dilihat dari segi usia, yaitu
kehidupan yang penuh pancaran cahaya, keteguhan
yang masih dapat berkelanjutan, dan merupakan suatu
masa kuat di antara dua ancaman kelemahan, yaitu
kelemahan masa kanak-kanak dan kelemahan masa tua.
Sebagaimana disinyalir dalam firman Allah SWT
surat Ar Ruum [30]: 54:


Allah, dialah yang menciptakan kamu dari keadaan
lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah
keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia
menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali)
dan berubah.

Kewajiban-kewajiban dan etika Islam telah


menetapkan adanya makna yang agung, yaitu nilai

162 Nova Yanti Maleha, SE., MM


waktu dan upaya memperhatikan setiap tingkatan dan
setiap bagiannya. Kewajiban ini menyadarkan dan
mengingatkan manusia agar menghayati pentingnya
waktu, dan irama gerak alam, peredaran cakrawala,
perjalanan matahari, planet-planet lain serta pergantian
malam dan siang.
Sebagaimana ditentukannya waktu-waktu untuk
shalat, zakat, puasa, dan haji. Hal ini merupakan
memberikan pelajaran bagi setiap muslim harus
senantiasa sadar terhadap perputaran masa dan
mengawasi gerak pergantiannya, sehingga tidak
menunda-nunda waktu terhadap ibadah-ibadah yang
telah ditentukan dan agenda-agenda harian yang telah
direncanakan, di mana semuanya harus bermuara pada
satu titik ketaatan kepada Allah SWT.
Ketika malam bergulir, langit menguning di ufuk
timur, seorang hamba berteriak memekakkan telinga
dunia, memperingatkan orang-orang yang lupa,
membangunkan orang-orang yang sedang lelap dan
hangat terlena dalam tidurnya, agar berdiri menyonsong
fajar yang bersih dari tangan Allah, Hayya alash sholah,
hayya alal falah. Mari melakukan shalat, mari meraih
kemenangan/keberuntungan. Ash sholatu khoirun minan
naum, shalat itu lebih baik dari pada tidur.
Kemudian ribuan lisan berdzikir, hati yang
bersyukur, dan tangan-tangan yang berwudhu
menjawab panggilan itu dengan berkata; shodaqta wa
barorta, benar engkau, engkau memang benar. Lalu

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 163


terlepaslah ikatan setan ketika seorang hamba secepat
kilat bangun menuju shalat.
Ketika seorang hamba berdiri di tengah hari
sedang matahari berada di atas kepala, ketika orang-
orang tenggelam dalam hiruk pikuk kesibukan duniawi
dan persoalan-persoalan sehari-hari, tiba-tiba seorang
hamba memanggil untuk kedua kalinya dengan suara
nyaring, bersaksi tentang keesaan Allah dan risalah
Muhammad untuk mengajak shalat dan meraih
keberuntungan. Saat itulah kuku-kuku manusia tercabut
dari cengkeramannya terhadap dunia dan rutinitas
hidupnya untuk berdiri beberapa menit menghadap sang
Pencipta. Agar segala beban yang menghimpit jiwanya
dalam bergulat dengan materi terkurangi lewat
panggilan itu, yakni shalat dhuhur.
Lantas, ketika bayang-bayang sama panjangnya
dengan bendanya dan matahari mulai terbenam, seorang
hamba memanggil untuk ketiga kalinya, mengajak untuk
shalat Ashar. Kemudian ketika balutan wajah matahari
bersembunyi di balik ufuk, seorang hamba memanggil
untuk keempat kalinya untuk mengajak shalat Maghrib,
shalat penutup siang, dan pembuka malam. Sampai sinar
merahnya matahari hilang dari pandangan mata sebuah
suara rabbani kembali memanggil untuk mengajak shalat
Isya shalat penutup harian seorang muslim.
Begitulah seorang muslim yang diatur waktunya
oleh Allah dalam bentuk rutinitas ibadah shalat wajib. Oleh
karenanya, waktu ibarat anak panah yang melesat dengan
cepatnya. Waktu yang lewat tak pernah kembali. Banyak

164 Nova Yanti Maleha, SE., MM


orang berpikir bahwa ketika kita melakukan kesalahan di
usia muda, akan bertaubat jika usianya sudah tua. Dia
optimis masih punya kesempatan untuk memperbaiki
kesalahan di usia tua. Namun tidak dapat dipungkiri
bahwa tidak ada seorang pun yang tahu sampai kapan ia
hidup. Waktu adalah harta yang sangat mahal. Waktu
lebih mahal dari uang. Hasan Al-Banna mengatakan suatu
nasihat bahwa waktu adalah kehidupan.
Kiat yang benar untuk menyikapi waktu menurut
Islam, ialah pandangan yang mencakup masa lalu, masa
sekarang dan masa depan. Melihat ke masa lalu,
dimaksudkan untuk mengambil pelajaran dengan segala
peristiwa yang terjadi pada masa tersebut. Melihat
kemasa depan memang hal wajib, sebab manusia itu
sesuai dengan fitrahnya senantiasa terikat kemasa depan.
Apabila seorang mukmin berkewajiban melihat ke
masa lalu untuk mengambil pelajaran, manfaat dan mawas
diri, dan melihat ke masa depan untuk mempersiapkan
perbekalan, maka ada kewajiban untuk memperhatikan
masa kini, yaitu masa di mana secara nyata seseorang
sedang menjalani dan menghayatinya, agar dapat
menggunakannya sebelum lepas dan tersia-sia.

Allah SWT berfirman;

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 165


Dan mereka berkata kehidupan ini tidak lain saat kita
berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada
yang membinasakan (mematikan) kita kecuali dahr
(perjalanan waktu yang dilalui oleh alam). (QS Al-
Jaatsiyah [45]: 24).

Menurut Yusuf Qardhawi dalam al-Waqtu f Hayat


al-Muslim (2007: 35) mengapa begitu pentingnya umat
Islam, untuk mempelajari manajemen waktu adalah
karena hal-hal sebagai berikut :
1. Ajaran Islam begitu besar perhatiannya terhadap
waktu, baik yang diamanatkan dalam Al-Qur'an
maupun As-Sunnah;
2. Dalam sejarah orang-orang Muslim generasi
pertama, terungkap, bahwa mereka sangat
memperhatikan waktu dibandingkan generasi
berikutnya, sehingga mereka mampu menghasilkan
sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah
peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang
menjulang tinggi;
3. Kondisi real, kaum Muslimin, belakangan ini justru
berbalikan dengan generasi pertama dahulu, yakni
cenderung lebih senang membuang-buang waktu,
sehingga kita tidak mampu berbuat banyak dalam
menyejahterakan dunia sebagaimana mestinya, dan
tidak pula berbuat untuk akhirat sebagaimana
harusnya, dan yang terjadi adalah sebaliknya, kita
meracuni kehidupan dunia dan akhirat sehingga
tidak memperoleh kebaikan dari keduanya.

166 Nova Yanti Maleha, SE., MM


C. Karakteristik Waktu Syariah
Abu Ghudah Abdul Fatah dan Shalahudin
Mahmud (2008: 4) menyatakan bahwa waktu memiliki
beberapa karakteristik atau ciri khas, antara lain:
Pertama, Waktu cepat habis. Waktu itu berjalan
laksana awan dan berlari bagaikan angin, baik waktu
senang atau suka ria maupun saat susah atau duka cita.
Apabila yang sedang dihayati itu hari-hari gembira,
maka lewatnya masa itu terasa lebih cepat, sedangkan
jika yang dihayati itu waktu prihatin, maka lewatnya
masa-masa itu terasa lambat. Namun, pada hakikatnya
tidaklah demikian, karena perasaan tersebut hanyalah
perasaan orang yang sedang menghayati masa itu
sendiri. Kendati umur manusia dalam kehidupan dunia
ini cukup panjang, namun pada hakikatnya umur
manusia hanya sebentar, selama kesudahan yang hidup
itu tibalah saat kematian. Dan tatkala mati telah
merenggut, maka tahun-tahun dan masa yang dihayati
manusia telah selesai, hingga laksana kejapan mata yang
lewat bagaikan kilat yang menyambar.
Satu di antara karakteristik waktu adalah cepat
berlalu,


Dan (ingatlah) akan hari (yang waktu itu) Allah
mengumpulkan mereka (mereka merasa di hari itu)

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 167


seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia)
melainkan sesaat saja di siang hari (yang waktu itu)
mereka saling berkenalan (QS Yunus[10]: 45).

Sedemikian pentingnya waktu itu, Ibn al-Qayyim


al-Jauziyah menegaskan menyia-nyiakan waktu (idhaatul
waqti) itu lebih berbahaya daripada sebuah kematian,
karena menyia-nyiakan waktu itu dapat memutus
hubungan engkau dengan Allah dan akhirat. Sedangkan
kematian hanya memutusmu dari kehidupan dunia dan
keluarga saja. Orang yang menyia-nyiakan waktu akan
kehilangan kesempatan untuk berinvestasi bagi
kehidupan akhiratnya. Oleh karena itu, Ibn Masud ra
pernah berkata: Aku tidak menyesali sesuatu selain
kepada hari yang mataharinya telah terbenam dan
umurku berkurang, tetapi di hari itu amalku tidak
bertambah.
Kedua, Waktu yang telah habis tak akan kembali
dan tak mungkin dapat diganti. Inilah ciri khas waktu
dari berbagai karakteristik khusus waktu. Setiap hari
yang berlalu, setiap jam yang habis dan setiap kejapan
mata yang telah lewat, tidak mungkin dapat
dikembalikan lagi dan tidak mungkin dapat diganti.
Waktu harus digunakan sebaik-baiknya. Jika
tidak, maka akan menyesal di kemudian hari. Penyesalan
memang tidak datang di awal namun di akhir. Sehingga
kebanyakan manusia lalai terhadap waktu. Banyak
waktu yang terbuang sia-sia. Banyak orang berkata
andaikan aku punya banyak waktu lebih pasti aku bisa

168 Nova Yanti Maleha, SE., MM


menyelesaikan tugas ini. Statement tersebut sebagai
bentuk bahwa orang tersebut tidak menghargai waktu
yang dimiliki. Ketika ada waktu luang mereka lebih suka
berleha-leha. Dalam memanajemeni waktu, Umar bin
Abdul Aziz pernah berkata: Siang dan malam itu
bekerja untukmu, karena itu beramallah dalam
keduanya.
Sebagai manifestasi dari aplikasi manajemen
waktu, ketika diamanahi sebagai khalifah, Umar bin al-
Khaththab pernah memberikan nasehat kepada Abu
Musa al-Asyari: Pemimpin yang paling bahagia
menurut Allah SWT adalah orang yang mampu
membuat rakyatnya bahagia.
Pemimpin yang paling menderita menurut Allah
adalah pemimpin yang membuat rakyatnya sengsara.
Hendaklah engkau tidak melakukan penyimpangan,
sehingga engkau dapat menyimpangkan para
pekerjamu, tak ubahnya engkau seperti binantang
ternak. Semua itu tidak mungkin dapat direalisasikan
tanpa manajemen waktu yang efisien dan efektif. Kata
kunci manajemen waktu adalah disiplin dan
penyegeraan penyelesaian kewajiban, tugas, dan
pekerjaan.
Ketiga,Waktu adalah modal terbaik bagi manusia.
Oleh karena waktu sangat cepat habis, sedangkan yang
telah lewat tak akan kembali dan tidak dapat diganti
dengan sesuatu pun, maka waktu merupakan modal
terbaik. Modal yang paling indah dan paling berharga
bagi manusia. Keindahan waktu itu dapat diketahui

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 169


melalui fakta bahwa waktu merupakan wadah bagi
setiap amal perbuatan dan segala produktivitas. Karena
itulah, maka secara realistis waktu itu merupakan modal
yang sesungguhnya bagi manusia, baik secara individu
(perorangan) maupun kolektif atau kelompok
masyarakat. Kiat yang benar untuk menyikapi waktu
menurut Islam, ialah pandangan yang mencakup masa
lalu, masa sekarang dan masa depan secara keseluruhan.
Oleh karena itu, manusia wajib melihat, mengisi,
dan mempersiapkan ketiga masa tersebut. Dengan cara;
(a). Wajib melihat masa lalu. Melihat ke masa lalu,
dimaksudkan untuk mengambil pealjaran dengan segala
peristiwa yang terjadi pada masa tersebut. Menerima
nasehat dengan kejadian yang dialami umat saat itu dan
sunnatullah terhadapa mereka, sebab masa lalu
merupakan wadah peristiwa dan khazanah pelajaran.
(b). Melihat masa depan. Melihat ke masa depan
memang hal wajib, sebab manusia itu sesuai dengan
fitrahnya senantiasa terikat ke masa depan. Ia tak akan
dapat melupakannya atau menyembunyikannya di balik
kedua telinganya. Sebagaimana manusia itu diberi rezeki
ingatan yang menghubungkannya dengan masa lalu dan
apa yang terjadi di dalamnya, maka iapun diberi rezeki
upaya menggambarkan masa depan dan apa yang akan
diharapkan. (c). Memperhatikan masa kini. Apabila
seorang mukmin berkewajiban melihat ke masa lalu
untuk mengambil pelajaran, mengambil manfaat, dan
mawas diri. Di samping itu, juga perlu melihat ke masa
depan untuk mempersiapkan perbekalan. Maka, ada

170 Nova Yanti Maleha, SE., MM


kewajiban untuk memperhatikan masa kini, yaitu masa
di mana secara nyata kita sedang menjalani dan
menghayatinya, agar kita dapat menggunakannya
sebelum lepas dan tersia-sia. manejemen waktu, menurut
islam.
Selain itu, manajemen waktu untuk
merencanakan, mengatur, dan melaksanakan kegiatan-
kegiatan yang ada haruslah memiliki landasan-landasan
berikut.
a. Pengetahuan kaidah yang rinci tentang optimalisasi
waktu Setiap muslim, hendaknya memahami dan
mengetahui kaidah-kaidah yang rinci tentang cara
mengoptimalkan waktunya. Hal ini bertujuan untuk
kebaikan dan kemaslahatan dirinya dan orang lain.
Tokoh-tokoh seperti Imam Ibnul Jauzi, Imam
Nawawi, dan Imam Suyuthi adalah orang-orang
yang menjadi teladan bagi orang-orang yang bisa
mengoptimalkan waktu semasa hidupnya.
b. Memiliki manajemen hidup yang baik Setiap muslim
haruslah pandai mengatur segala urusan hidupnya
dengan baik, menghindari kebiasaan yang tak jelas,
matang dalam pertimbangan dan mempunyai
perencanaan sebelum melakukan pekerjaan. Ia harus
berpikir, membuat program, mempersiapkan,
mengatur dan melaksanakannya.
c. Memiliki Wudhuhul Fikrah, seorang muslim haruslah
memiliki keluasan atau fleksibilitas dalam berpikir,
seperti mampu berpikir benar sebelum bertindak,
berpengetahuan luas, mampu memahami substansi

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 171


pemikiran dan paham. Hal itu penting sebagai dasar
pengembangan berpikir ilmiah.
d. Visioner Seorang muslim juga harus memiliki
pandangan jauh ke depan, bisa mengantisipasi
berbagai persoalan yag akan terjadi di tahun-tahun
mendatang.
e. Melihat secara utuh setiap persoalan Setiap orang
yang dapat mengatur waktunya secara optimal, tidak
melihat masalah secara parsial. Karena bisa jadi,
persoalan itu memiliki kaitan dengan yang lainnya.
f. Mengetahui Perencanaan dan skala prioritas
Mengetahui urutan ibadah dan prioritas, serta
mengklasifikasi berbagai masalah adalah faktor
penting dalam mengatur waktu agar menghasilkan
kerja yang optimal. Dengan membuat skala prioritas,
akan menghindarkan dari ketidakteraturan kegiatan.
g. Tidak Istijal dalam mengerjakan sesuatu
Mengerjakan sesuatu dengan tidak tergesa-gesa dan
berdasar pada ketenangan jiwa yang stabil
merupakan landasan yang penting dalam
mewujudkan hidup yang lebih baik. Sementara,
orang yang mustajil menginginkan agar dalam
waktu singkat ia mampu melakukan hal-hal yang
terpuji, sekaligus meninggalkan hal-hal yang tidak
terpuji. Hal ini jelas tidak sesuai dengan sunah
kauniyah, yaitu hukum alam dan kebiasaan.
h. Berupaya seoptimal mungkin Jika kita menginginkan
terwujudnya aktivitas amal shalih, maka secara

172 Nova Yanti Maleha, SE., MM


optimal kita harus mengarahkan diri pada persoalan
itu sesuai kemampuan yang ada pada diri kita.
i. Spesialisasi dan pembagian pekerjaan Setiap muslim
haruslah memiliki keahlian tertentu. Ia boleh
memiliki pengetahuan luas, tetapi ia juga perlu
memfokuskan pada keahlian tertentu.

D. Rahasia Manajemen Waktu Rasulullah SAW


Kehidupan Rasulullah SAW merupakan cermin
kehidupan ideal dan tetap relevan untuk masa kini dan
masa mendatang (salih li kull zaman wa makan). Rasulullah
SAW di utus Allah SWT ke dunia tidak hanya untuk
menebarkan rahmat ke seluruh alam (rahmatan lil
alamein) tetapi juga untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia dengan cara menanamkan akidah dan akhlak,
etika dan moral. Beliau sebagai figur ideal (uswatun
hasanah) dalam segala hal untuk kita teladani (QS. [33]:
21), tutur katanya senantiasa dalam bimbingan wahyu
Allah SWT (QS. [53]: 3-4), dan sikap hidupnya
merupakan cerminan dari al-Quran (QS. [68]: 4).
Selain itu, mengutip apa yang dikatakan Syafii
Antonio (2007)
Beliau adalah pemimpin yang holistic, accepted,
dan proven. Holistic karena beliau adalah pemimpin
yang mampu mengembangkan leadership dalam
berbagai bidang termasuk di antaranya; self
development, bisnis, dan entrepreneurship, kehidupan
rumah tangga yang harmonis, tatanan masyarakat yang
akur, sistem politik yang bermartabat, sistem pendidikan

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 173


yang bermoral dan mencerahkan, sistem hukum yang
berkeadilan, dan strategi pertahanan yang jitu serta
memastikan keamanan dan perlindungan warga negara.
Kepemimpinannya accepted karena diakui dari 1,3
milyar manusia. Kepemimpinannya Proven karena
sudah terbukti lebih dari 15 abad yang lalu hingga hari
ini masih relevan diterapkan.
Tidak mengherankan jika Annemarie Schimmel,
Martin Lings, William Montgomery Watt atau Karen
Armstrong terkagum-kagum dengan Rasulullah SAW.
Mereka mengakui dengan jujur terhadap reputasi Nabi
Muhammad SAW sebagai salah satu tokoh sejarah yang
meletakkan dasar, pedoman dan spirit bagi
pembangunan peradaban manusia.
Bahkan, orientalisme Philip K. Hitti dan Marshall
G. Hodgson melihat Nabi Muhammad dan agama Islam
yang diwariskannya telah sanggup menyulap dunia
Arab dari padang pasir gundul menjadi mata air
peradaban yang pada gilirannya secara signifikan ikut
mewarnai wacana dan perjalanan panjang sejarah dunia.
Lebih dari itu, Michael H. Hart dalam karyanya The 100:
A Rangking Of The Most Influential Person In History tidak
ketinggalan menempatkan Rasulullah SAW sebagai
orang yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
Kehebatan Rasulullah SAW di atas, rahasianya
karena Rasulullah SAW dapat memanajemen waktu
dengan baik. Hal ini terlihat jelas pada salah satu sabda-
nya, Dari Ibn Abbas r.a., berkata. Rasulullah SAW bersabda:
pergunakanlah lima keadaan sebelum datang lima keadaan:

174 Nova Yanti Maleha, SE., MM


hidupmu sebelum matimu, muda-mu sebelum tuamu, sehatmu
sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, dan sempatmu
sebelum sempitmu (HR. al-Baihaqi)
Sabda Rasulullah di atas memberikan pesan yang
sangat berarti bagi kehidupan seorang muslim bahwa
setiap manusia pada hakikatnya memiliki momen-
momen yang sangat penting dalam setiap garis
kehidupannya. Namun perlu dan harus disadari bahwa
setiap momen penting tersebut tidaklah abadi dan kekal
untuk selamanya. Sebaliknya, momen-momen tersebut
merupakan hal yang bersifat tentatif atau sementara
seiring dengan berakhirnya waktu yang telah ditentukan
oleh pencipta waktu itu sendiri yaitu Allah SWT (Reza,
2010: 14).
Menjaga dan memanfaatkan waktu dengan baik,
terutama pada saat hidup sebelum kematian menjemput,
pada saat muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya
sebelum miskin dan luang sebelum sempit merupakan
keharusan bagi setiap muslim. Kelalaian menjaga dan
memanfaatkannya akan berakibat buruk tidak hanya di
dunia melainkan juga di akhirat. Oleh karena itu, waktu
memiliki peran yang sangat staregis dalam mengarahkan
segala aktivitas kehidupan setiap muslim.

Tugas Individu dan Kelompok


1. Jelaskan apa yang dimaksud manajemen waktu
syariah ?
2. Bagaimana rahasia waktu Rasulullah SAW, jelaskan ?
3. Sebutkan dan jelaskan karakteristik waktu ?

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 175


4. Jelaskan mengapa dalam Islam waktu diumpamakan
laksana pedang ?
5. Diskusikan pentingnya umat Islam mempelajari
manajemen waktu menurut Yusuf Qardhawi dalam
karyanya al-Waqtu f Hayat al-Muslim ?

176 Nova Yanti Maleha, SE., MM


BAB VIII
MANAJEMEN HARTA SYARIAH

A. Pengertian Harta
Harta dalam bahasa Arab disebut dengan al-mal,
yang berarti condong, cenderung, atau miring. Al-mal
juga diartikan sebagai segala sesuatu yang
menyenangkan manusia dan mereka pelihara, baik
dalam bentuk materi, maupun manfaat. Menurut bahasa
umum, arti al-mal ialah harta atau uang. Sedangkan
menurut istilah, ialah segala benda yang berharga dan
bersifat materi serta beredar di antara manusia (Ghazaly,
Ghufron Ihsan, dan Sapiudin Shidiq, 2010: 17).
Berdasarkan kamus Lisanul Arab karya Ibnu
Manzur, bahwa mal (harta) berasal dari kata kerja
mawwala, multa, tumalu, multa. Jadi mal dapat
didefinisikan sebagai sesuatu yang dimiliki. Berkata Ibnu
Atsir, Pada dasarnya, al-mal ialah barang milik seperti
emas atau perak, tetapi kemudian kata al-mal itu dipakai
untuk semua jenis benda yang bisa dikonsumsi dan
dimiliki. Dalam Mukhtar al-Qamus, kata al-mal berarti
apa saja yang dimiliki, kata tamawwalta berarti harta
kamu banyak karena orang lain, dan kata multahu
berarti kamu memberikan uang kepada seseorang. Maka
segala sesuatu yang tidak dapat dimiliki manusia tidak
dapat disebut sebagai harta secara bahasa, seperti:
pepohonan yang berada di hutan belantara, ikan yang

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 177


berada di air sungai, ataupun burung yang ada di
angkasa
Sedangkan menurut pengertian harta menurut
Fuqaha adalah sebagai berikut :
a. Harta menurut madzhab Hambali adalah apa-apa
yang memiliki manfaat yang mubah untuk suatu
keperluan dan atau untuk kondisi darurat.
b. Harta menurut Imam Syafii adalah barang-barang
yang mempunyai nilai untuk dijual dan nilai harta
itu akan terus ada kecuali kalau semua orang
meninggalkannya (tidak berguna lagi bagi manusia).
c. Harta menurut Ibnu Nujaim al-Misri adalah apa-apa
yang bernilai dan bisa disimpan untuk kebutuhan.
d. Harta menurut sebagian ulama fiqih kontemporer
adalah setiap benda yang mempunyai nilai materi di
kalangan manusia atau apa saja yang bisa dimiliki
dan bisa diambil manfaat darinya, atau juga bisa
sebagai ciptaan selain manusia yang dijadikan untuk
kemaslahatan manusia dan manusia dapat memiliki
dan memanfaatkan secara bebas.
Jadi pengertian harta dalam konsep Islam dapat
disimpulkan bahwa harta/mal adalah segala sesuatu
yang disukai dan dimiliki manusia, dapat dimanfaatkan
pada saat sekarang, maupun untuk keperluan di masa
yang akan datang serta dapat dimanfaatkan secara syari

B. Pembagian Harta Secara Syariah


Menurut ulama fiqh harta dapat ditinjau dari
beberapa bagian yang setiap bagian memilik cirri-ciri

178 Nova Yanti Maleha, SE., MM


khusus dan hukumnya tersendiri yang berdampak atau
berkaitan dengan beragam hukum (ketetapan). Adapun
pembagian harta tersebut adalah sebagai berikut (dalam
Ghazaly, Ghufron Ihsan, dan Sapiudin Shidiq, 2010: 31-38) :
Pertama, Mal Mutaqawwim dan Ghair al-
Mutaqawwim. Mal Mutaqawwim ialah sesuatu yang boleh
diambil manfaatnya menurut syara. Yang dimaksud
harta Mutaqawwim dalam pembahasan ini ialah segala
sesuatu yang dapat dikuasai dengan perkerjaan dan
dibolehkan syara untuk memanfaatkannya. Pemahaman
tersebut bermakna bahwa tiap pemanfaatan atas sesuatu
berhubungan erat dengan ketentuan nilai positif dari segi
hukum, yang terkait pada cara perolehan maupun
penggunaannya.
Misalnya, kerbau halal dimakan oleh umat islam,
tetapi, apabila kerbau tersebut disembelih tidak menurut
syara, semisal dipukul. Maka daging kerbau tersebut
tidak bisa dimanfaatkan karena cara penyembelihannya
batal (tidak sah) menurut syara.
Sedangkan mal ghair al-Mutaqawwim,ialah sesuatu
yang tidak memiliki nilai dari segi hukum syari. Maksud
pengertian harta Ghair al-Mutaqawwim merupakan
kebalikan dari harta mutaqawwim, yakni segala sesuatu
yang tidak dapat dikuasai dengan perkerjaan dan
dilarang oleh syara untuk memanfaatkannya.
Harta dalam pengertian ini, dilarang oleh syara
diambil manfaatnya, terkait jenis benda tersebut dan cara
memperolehnya maupun penggunaannya. Misalnya babi
termasuk harta Ghair al-Mutaqawwim, karena jenisnya.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 179


Sepatu yang diperoleh dengan cara mencuri temasuk
Ghair al-Mutaqawwim, karena cara memperolehnya yang
haram. Uang disumbangkan untuk pembangunan
tempat pelacuran, termasuk Ghair al-Mutaqawwim karena
penggunaannya dilanggar syara.
Kadang-kadang harta mutaqawwim diartikan
dengan dzimah, yaitu sesuatu yang mempunyai nilai,
seperti pandangan fuqaha : sesuatu dinyatakan
bermanfaat itu tidak dinilai dengan sendirinya, tetapi ia
dilihat dengan adanya akad sewa-menyewa yang
dimaksudkan untuk memenuhi keperluan.
Kedua, Mal Mitsli dan Mal Qimi. Harta Mitsli ialah
harta yang ada persamaannya dalam kesatuan-
kesatuannya, dalam arti dapat berdiri sebagiannya di
tempat yang lain tanpa ada perbedaan yang perlu dinilai.
Dalam pembagian ini, harta diartikan sebagai sesuatu
yang memiliki persamaan atau kesetaraan di pasar, tidak
ada perbedaan yang pada bagian-bagiannya atau
kesatuannya, yaitu perbedaan atau kekurangan yang
biasa terjadi dalam aktivitas ekonomi.
Harta mitsli terbagi atas empat bagian yaitu: harta
yang ditakar, seperti gandum, harta yang ditimbang,
seperti kapas dan besi, harta yang dihitung, seperti telur,
dan harta yang dijual dengan meter, seperti kain, papan,
dan lain-lainnya.
Sedangkan Harta Qimi, yaitu harta yang tidak
mempunyai persamaan di pasar atau mempunyai
persamaan, tetapi ada perbedaan menurut kebiasaan
antara kesatuannya pada nilai, seperti binatang dan

180 Nova Yanti Maleha, SE., MM


pohon. Dengan perkataan lain, pengertian kedua jenis
harta di atas ialah mitsli berarti jenisnya mudah
ditemukan atau diperoleh di pasaran (secara persis), dan
qimi suatu benda yang jenisnya sulit didapatkan
serupanya secara persis, walau bisa ditemukan, tetapi
jenisnya berbeda dalam nilai harga yang sama. Jadi,
harta yang ada duanya disebut mitsli dan harta yang
tidak duanya secara tepat disebut qimi.
Perlu diketahui bahwa harta yang dikatagorikan
sebagai qimi ataupun mitsli tersebut bersifat amat relatif
dan kondisional. Artinya bisa saja di suatu tempat atau
negara yang satu menyebutnya qimi dan di tempat yang
lain menyebutnya mitsli
Ketiga,Mal Istihlak dan Mal Istima. Harta istihlak,
yaitu sesuatu yang tidak dapat diambil kegunaan dan
manfaatnya, kecuali dengan menghabiskannya atau
merusak dzatnya. Harta dalam kategori ini ialah harta
sekali pakai, artinya manfaat dari benda tersebut hanya
bisa digunakan sekali saja.
Harta istihlak dibagi menjadi dua, yaitu istihlak
haqiqi dan istihlak huquqi. Istihlak haqiqi yaitu suatu benda
yang menjadi harta yang secara jelas (nyata) dzatnya
habis sekali digunakan. Misalnya makanan, minuman,
kayu bakar dan sebagainya.
Sedangkan istihlak huquqi ialah harta yang sudah
habis nilainya bila telah digunakan, tetapi dzat nya
masih ada. Misalnya uang, uang yang digunakan untuk
membayar hutang, dipandang habis menurut hukum

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 181


walaupun uang tersebut masih utuhm hanya pindah
kepemilikan.
Adapun Harta Istimal, ialah harta yang dapat
digunakan berulang kali, artinya wujud benda tersebut
tidaklah habis atau musnah dalam sekali pemakaian,
seperti kebun, tempat tidur, baju, sepatu, dan lain
sebagainya.
Dengan demikian, perbedaan antara dua jenis
harta tersebut di atas, terletak pada dzat benda itu
sendiri, mal istihlak habis dzatnya dalam sekali
pemakaian dan mal istimal tidak habis dalam sekali
pemanfaatan (bisa dipakai berulang-ulang).
Keempat,Mal Manqul dan Mal Ghair al-Manqul.
Harta Manqul, ialah segala macam sesuatu yang dapat
dipindahkan dan diubah dari tempat satu ketempat yang
lain, baik tetap pada bentuk dan keadaan semula
ataupun berubah bentuk dan keadaannya dengan
perpindahan dan perubahan tersebut. Harta dalam
katagori ini mencakup uang, barang dagangan, macam-
macam hewan, kendaraan, macam-macam benda yang
ditimbang dan diukur.
Sedangkan, harta Ghair al-Manqul atau Al-Aqar,
ialah segala sesuatu yang tetap (harta tetap), yang tidak
mungkin dipindahkan dan diubah posisinya dari satu
tempat ke tempat yang lain menurut asalnya, seperti
kebun, rumah, pabrik, sawah, dan lainnya. Dalam
ketentuan kitab undang-undang hukum perdata, istilah
Mal Manqul dan Mal Ghair al-Manqul (al-Aqar) diartikan
dengan istilah benda bergerak dan atau benda tetap.

182 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Kelima,Mal Ain dan Mal Dayn. Harta Ain, ialah
harta yang berbentuk benda, seperti rumah, pakaian,
beras, kendaraan, dan yang lainnya. Harta Ain dibagi
menjadi 2 bagian :
1. Harta Ain Dzati Qimah yaitu benda yang memiliki
bentuk yang dipandang sebagai harta karena
memiliki nilai. Harta ain dzati qimah meliputi :
a. Benda yang dianggap harta yang boleh diambil
manfaatnya.
b. Benda yang dianggap harta yang tidak boleh
diambil manfaatnya.
c. Benda yang dianggap sebagai harta yang ada
sebangsanya.
d. Benda yang dianggap harta yang tidak ada atau
sulit dicari sepadanya yang serupa.
e. Benda yang dianggap harta berharga dan dapat
dipindahkan (bergerak)
f. Benda yang dianggap harta berharga dan tidak
dapat dipisahkan (tetap)
2. Harta Ain Ghayr Dzati Qimah yaitu benda yang tidak
dapat dipandang sebagai harta, karena tidak
memiliki nilai atau harga, misalnya sebiji beras.
Sedangkan harta Dayn, ialah kepemilikan atas
suatu harta dimana harta masih berada dalam tanggung
jawab seseorang, artinya si pemilik hanya memiliki harta
tersebut, namun ia tidak memiliki wujudnya
dikarenakan berada dalam tanggungan orang lain.
Menurut Hanafiyah harta tidak dapat dibagi
menjadi harta ain dan dayn karena konsep harta menurut

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 183


hanafiyah merupakan segala sesuatu yang berwujud
(kongkrit), maka bagi sesuatu yang tidak memiliki wujud
riil tidaklah dapat dianggap sebagai harta, semisal
hutang. Hutang tidak dipandang sebagai harta, tetapi
hutang menurut Hanafiyah merupakan sifat pada
tanggung jawab (washf fii al-dzimmah)
Keenam,Mal Aini dan Mal Nafi (manfaat). Harta al-
Aini ialah benda yang memiliki nilai dan berbentuk
(berwujud), misalnya rumah, ternak, dan lainnya.
sedangkan, Harta an-Nafi ialah aradl yang berangsunr-
angsur tumbuh menurut perkembangan masa, oleh
karena itu mal al-NafI tidak berwujud dan tidak
mungkin disimpan.
Ulama Syafiiyah dan Hanabilah berpendapat
bahwa harta ain dan harta nafi memiliki perbedaan, dan
manfaat dianggap sebagai harta mutaqawwim karena
manfaat adalag maksud yang diharapkan dari
kepemilikan suatu harta benda.
Ketujuh, Mal Mamluk, Mubah dan Mahjur.Harta
Mamluk, ialah sesuatu yang merupakan hak milik baik
milik perorangan maupun milik badan seperti
pemerintah dan yayasan. Harta mamluk terbagi menjadi
dua macam, yaitu :
1. Harta perorangan (mustaqih) yang berpautan dengan
hak bukan pemilik, misalnya rumah yang
dikontrakkan. Harta perorangan yang tidak
berpautan dengan hak bukan pemilik, misalnya
seorang yang mempunyai sepasang sepatu dapat
digunakan kapan saja.

184 Nova Yanti Maleha, SE., MM


2. Harta pengkongsian antara dua pemilik yang
berkaitan dengan hak yang bukan pemiliknya,
seperti dua orang yang berkongsi memiliki sebuah
pabrik dan lima buah mobil, salah satu mobilnya
disewakan selama satu bulan kepada orang lain.
Harta yang dimiliki oleh dua orang yang tidak
berkaitan dengan hak bukan pemiliknya, semisal dua
orang yang berkongsi memiliki sebuah pabrik, maka
pabrik tersebut di hasruslah dikelola bersama.
Sedangkan Harta Mubah, yaitu sesuatu yang pada
asalnya bukan merupakan hak milik perseorangan
seperti air pada air mata, binatang buruan darat, laut,
pohon-pohon di lautan dan buah-buahannya. Tiap-tiap
manusia boleh memiliki harta mubah sesuai dengan
kesanggupannya, orang yang mengambilnya akan
menjadi pemiliknya, sesuai dengan kaidah : Barang
siapa yang membebaskan harta yang tidak bertuan,
maka ia menjadi pemiliknya
Sedangkan harta Mahjur, yaitu harta yang dilarang
oleh syara untuk dimiliki sendiri dan memberikannya
kepada orang lain. Adakalanya harta tersebut berbentuk
wakaf ataupun benda yang dukhususkan untuk
masyarakat umum, seperti jalan raya, masjid-masjid,
kuburan-kuburan, dan yang lainnya.
Kedelapan, Harta yang dapat dibagi dan harta yang
tidak dapat dibagi. Harta yang dapat dibagi (mal qabil li
al-qismah) ialah harta yang tidak menimbulkan suatu
kerugian atau kerusakan bila harta itu dibagi-bagi,
misalnya beras, jagung, tepung dan sebagainya.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 185


Sedangkan, harta yang dapat dibagi (mal ghair al-
qabil li al-qismah) ialah harta yang menimbulkan suatu
kerugian atau kerusakan apabila harta tersebut dibagi-
bagi misalnya gelas, kemeja, mesin dan sebagainya.
Kesembilan, harta pokok (ashl) dan harta hasil
(tsamar). Harta pokok ialah harta yang memungkinkan
darinya muncul harta lain. Sedangkan harta hasil ialah
harta yang muncul dari harta lain (harta pokok)
Pokok harta juga bisa disebut modal, misalnya
uang, emas, dan yang lainnya, contoh harta pokok dan
harta hasil ialah bulu domba dihasilkan dari domba,
maka domba merupakan harta pokok dan bulunya
merupakan harta hasil, atau kebau yang beranak,
anaknya dianggap sebagai tsamarah dan induknya yang
melahirkan disebut harta pokok.
Kesepuluh, Mal Khas dan Mal Am. Harta khas ialah
harta pribadi, tidak bersekutu dengan yang lain, tidak
boleh diambil manfaatnya tanpa disetujui pemiliknya.
Sedangkan harta Am ialah harta milik umum (bersama)
yang boleh diambil manfaatnya secara bersama-sama.
Harta yang dapat dikuasai (ikhraj) terbagi menjadi
dua bagian yaitu :
(a). Harta yang termasuk milik perseorangan
(b). Harta-harta yang tidak dapat termasuk milik
perseorangan
Harta yang dapat masuk menjadi milik
perseorangan, ada dua macam yaitu :

186 Nova Yanti Maleha, SE., MM


a. Harta yang bisa menjadi milik perorangan, tetapi
belum ada sebab pemilikan, misalnya binatang
buruan di hutan.
b. Harta yang bisa menjadi milik perorangan dan sudah
ada sebab kepemilikan misalnya ikan di sungai
diperoleh seseorang dengan cara memancing.
c. Harta yang tidak masuk milik perorangan adalah
harta yang menurut syara tidak boleh dimiliki
sendiri, misalnya sungai, jalan raya dan yang
lainnya.
Dari kesepuluh pembagian jenis-jenis harta yang
telah diuraikan di atas, secara global konsep harta dapat
dirumuskan sebagai berikut :
1. Mal at-Tam yaitu harta yang merupakan hak milik
sempurna baik dari segi wujud benda tersebut
maupun manfaatnya, pengertian harta ini disebut
juga Milk at-Tam berarti kepemilikan sempurna atas
unsur hak milik dan hak penggunaannya.
2. Mal Ghair al-Tam yaitu harta yang bukan merupakan
hak milik sempurna baik dari segi wujud benda
tersebut maupun dari segi manfaatnya, pengertian
harta ini disebut juga Milk an-Naqis yang berarti
kepemilikan atas unsur harta hanya dari satu segi
saja. Semisal hak pakai rumah kontrakan dan
sebagainya.

C. Manfaat Harta
Allah SWT mensyariatkan bahwa harta
merupakan amanah dari-Nya yang dititipkan kepada

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 187


setiap hamba-Nya yang digunakan untuk memenuhi
segala kebutuhan terutama sandang, pangan dan papan
dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Secara
umum manfaat harta diantaranya :
1. Untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah yang
khas (mahdhah), sebab untuk ibadah memerlukan
alat-alat seperti kain untuk menutup aurat dalam
pelaksanaan shalat, bekal untuk melaksanakan
ibadah haji, berzakat, shadaqah, hibbah dan yang
lainnya.
2. Untuk meningkatkan keimanan (ketaqwaan) kepada
Allah.
3. Untuk menyelaraskan (menyeimbangkan) antara
kehidupan dunia dan akhirat. Bukanlah orang yang
baik, yang meninggalkan masalah dunia untuk masalah
akhirat, dan meninggalkan masalah akhirat untuk urusan
duniawi, sehingga seimbang diantara keduanya. Karena
masalah dunia adalah menyampaikan manusia kepada
masalah akhirat. (HR. Bukhari).
4. Untuk meneruskan kehidupan dari satu periode ke
periode berikutnya.Dan hendaklah takut kepada Allah
orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang
mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir
terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah
mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar. (QS An-Nisa [4]:9)
5. Untuk mengembangkan dan menegakkan ilmu-ilmu,
karena menurut ilmu tanpa modal akan tersa sulit,

188 Nova Yanti Maleha, SE., MM


seperti sesorang tidak bisa kuliah di perguruan
tinggi bila ia tidak memiliki biaya.
6. Untuk memutarkan (mentasharuf) peranan-peranan
kehidupan yakni adanya pembantu dan tuan.
Adanya orang kaya dan miskin sehingga antara
pihak saling membutuhkan karena itu tersusunlah
masyarakat yang harmonis dan berkecukupan.
7. Untuk menumbuhkan silahturrahim, karena adanya
perbedaan dan keperluan sehingga terjadilah
interaksi dan komunikasi silaturrahim dalam rangka
saling mencukupi kebutuhan.

D. Manajemen Harta Syariah


Islam sangat tegas dalam masalah pengaturan
harta. Hal ini terlihat jelas pada sabda Rasulullah SAW;
Tidaklah bergeser dua kaki seorang hamba pada hari Kiamat
sampai ia ditanya tentang umurnya; untuk apa ia habiskan.
Tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan, tentang
hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia keluarkan, dan
tentang badannya untuk apa ia kuras tenaganya? (HR.
Tirmidzi).
Hadits ini merupakan prinsip penting dalam
memenej harta, yaitu hendaknya ia perhatikan ke mana
ia keluarkan. Di samping memperhatikan pula dari mana
ia peroleh. Seorang muslim yang baik tentu
memperhatikan ke mana ia keluarkan hartanya, dia tidak
ingin harta tersebut menjadi malapetaka bagi dirinya.
Oleh karenanya, ia keluarkan hartanya untuk hal-hal
yang bermaslahat bagi dirinya di dunia dan akhirat.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 189


Untuk hal yang bermaslahat bagi dirinya di dunia
misalnya ia keluarkan untuk kebutuhan dirinya dan
keluarganya seperlunya dan secukupnya dengan tidak
berlebihan, karena ia yakin semua itu akan ditinggalkan.
Rasulullah SAW bersabda; Apa urusanku dengan dunia.
Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang yang menaiki
kendaraan lalu berteduh di sebuah pohon, kemudian berangkat
lagi meninggalkannya. (HR. Tirmidzi).
Ada tiga yang akan mengantarkan seorang mayit;
yang dua pulang kembali, sedangkan yang satu akan
bersamanya; yang tiga itu adalah keluarganya, hartanya, dan
amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali, dan yang akan
tinggal menemaninya adalah amalnya. (HR. Bukhari dan
Muslim)
Adapun untuk akhiratnya, misalnya ia keluarkan
hak Allah Taala di sana; ia keluarkan infak yang wajib
dan yang sunahnya. Contoh infak yang wajib adalah
zakat, menafkahi anak dan istri, kerabat (seperti orang
tua) dan budak. Sedangkan yang sunah adalah semua
jalur kebaikan, seperti untuk pembangunan masjid dan
sekolah Islam, untuk para mujahid fi sabilillah, untuk
kepentingan dakwah, untuk membantu para dai
menyebarkan Islam, untuk waqaf, untuk anak-anak
yatim, janda, dan orang-orang miskin, untuk musafir
yang kehabisan bekal, dan sebagainya.
Rasulullah SAW bersabda; "Sesungguhnya di antara
amalan dan kebaikan yang akan sampai kepada seorang
mukmin setelah wafatnya adalah ilmu yang disebarkannya,
anak saleh yang ditinggalkanya, mushaf Al Qur'an yang

190 Nova Yanti Maleha, SE., MM


diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk
Ibnussabil yang didirikannya, sungai yang dialirkannya,
sedekah yang dikeluarkan dari hartanya di waktu sehat dan
sewaktu hidupnya. Semua itu akan sampai kepadanya setelah
meninggalnya." (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi)
Selain itu, harta juga akan menjadi malapetaka
atau musibah bagi seseorang ketika membuatnya lupa
dari mengingat Allah; tidak sempat beribadah kepada-
Nya atau membuatnya jatuh kepada kemaksiatan, wal
iyadz billah. Allah WT berfirman; Wahai orang-orang
beriman! Janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan
kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat
demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS.
Al Munafiqun [63]: 9).
Oleh karena itu, barang siapa yang dibuat lalai
oleh harta dan anaknya sampai tidak sempat mengingat
Allah, tidak sempat mendatangi panggilan Allah
(misalnya azan), tidak sempat beribadah kepada-Nya
dan bersimpuh di hadapan-Nya, maka ketahuilah bahwa
hartanya itu akan membawanya kepada kerugian.
Rasulullah SAW bersabda; Anak Adam akan
berkata, Hartaku, Hartaku! Lalu dikatakan, Wahai Anak
Adam! Bukankah hartamu yang telah kamu makan lalu habis
atau yang kamu pakai lalu usang, atau yang kamu sedekahkan.
Itulah yang kamu bawa. (HR. Muslim, Tirmidzi, dan
Nasai).
Aisyah r.a meriwayatkan, bahwa beberapa orang
menyembelih kambing, lalu membagikannya kepada
orang-orang miskin, kemudian Nabi shallallahu alaihi

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 191


wa sallam bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha,
Apa yang tersisa darinya? Ia menjawab, Tidak tersisa
selain pundaknya. Maka Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda; Semuanya tersisa (masih ada) selain
pundaknya. (HR. Tirmidzi).
Maksudnya, bahwa yang disedekahkan seseorang
di jalan Allah adalah yang kekal pada hari Kiamat, dan
tidak ada yang binasa selain yang ia pakai di dunia ini.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;
Tidaklah berkurang harta seorang hamba karena bersedekah.
(HR. Tirmidzi).
Selain itu, memenej harta akan sia-sia apabila
sebagai berikut :
1. Harta yang diperoleh dari usaha yang haram, seperti
yang diperoleh dari riba, judi, ghasb (merampas),
menipu, dsb.
2. Harta yang dzatnya adalah haram, seperti khamr
(arak), patung, narkoba, dsb.
3. Harta yang dikeluarkan untuk kemaksiatan, seperti
untuk mendatangi kafe-kafe atau klub-klub malam,
untuk menyumbang festival kemaksiatan yang di
sana kaum laki-laki dan wanita bercampur baur dan
memamerkan aurat, dsb.
4. Harta yang membuat seseorang lupa dari mengingat
Allah SWT. Dia berfirman, Bermegah-megahan telah
melalaikan kamu, Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat
perbuatanmu itu), (QS. At Takaatsur: 1-8)

192 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Tugas Individu dan Kelompok
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan manajemen
harta syariah ?
2. Sebutkan dan jelaskan konsepsi harta sebagai bekal
ibadah ?
3. Sebutkan dan jelaskan konsepsi harta sebagai
perhiasan hidup ?
4. Sebutkan dan jelaskan konsepsi harta sebagai
amanah dari Allah SWT yang dititipkan kepada
manusia ?
5. Identifikasi di sekitar lingkungan anda harta-harta
yang termasuk dalam kategori Mal Mutaqawwim dan
Ghair al-Mutaqawwim ?

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 193


194 Nova Yanti Maleha, SE., MM
BAB IX
MANAJEMEN RISIKO SYARIAH

A. Pengertian Manajemen Risiko


Risiko dan hidup merupakan dua kata yang
menyatu dan tidak bisa hadir kecuali bergandengan.
Hidup yang diupayakan manusia memiliki arti
melaksanakan tindakan dan membuat keputusan
berdasarkan informasi yang tidak sempurna. Kehidupan
karenanya mengandung ketidakpastian dan dari
ketidakpastian inilah risiko berasal. Jika semua hal dapat
dipastikan manusia maka manusia selalu dapat
menghindari apa yang tidak diharapkan dan selalu
memperoleh apa yang diinginkan. Hidup dalam dunia
tanpa risiko menghilangkan sebagian alasan bagi
manusia dalam memberikan segenap kemampuan dan
upayanya untuk bertahan hidup.
Kehidupan menghadirkan risiko dan risiko yang
muncul memiliki dinamika yang mencerminkan
kehidupan itu sendiri. Hubungan saling memperkuat ini
bagaikan perlombaan yang menjanjikan kemakmuran
dan kesejahteraan di garis akhirnya. Manusia berupaya
meningkatkan kualitas hidupnya dengan jalan ekonomi
dan dalam dunia ekonomi kini bergulir di atas roda gigi
industry keuangan. Upaya memutar roda ekonomi ini
menghasilkan residu yang jika tidak ditangani dengan
baik dapat memperlambat, bahkan memperhentikan
roda gigi industri keuangan. Residu ini dapat dikelola

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 195


dengan melaksanakan manajemen risiko (Basyaib, 2007:
xiv-xv).
Manajemen risiko memiliki banyak definisi. Salah
satunya, manajemen risiko didefinisikan sebagai proses
perencanaan, pengelolaan, dan pengawasan sumber
daya dan aktifitas lain dalam sebuah organisasi.
Manajemen risiko juga diartikan dengan serangkaian
prosedur dan metodologi yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan
mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha
(Karim, 2010: 255). Manajemen risiko adalah cara-cara
yang digunakan manajemen untuk menangani berbagai
permasalahan yang disebabkan oleh adanya risiko
(Kountur, 2004: 8).
Manajemen risiko adalah suatu sistem
pengawasan risiko dan perlindungan harta benda, hak
milik dan keuntungan badan usaha atau perorangan atas
kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu
risiko. Risiko adalah variasi dalam hal-hal yang mungkin
terjadi secara alami atau kemungkinan terjadinya
peristiwa diluar yang diharapkan yang merupakan
ancaman terhadap apa yang ada pada diri seseorang dan
keuntungan finansial akibat bahaya yang terjadi.
Manajemen risiko merupakan pendekatan yang
dilakukan terhadap risiko, yaitu dengan memahami,
mengidentifikasi, dan mengevaluasi risiko yang akan
terjadi.
Manajemen risiko dalam pengertian luas adalah
seni pembuatan keputusan dalam dunia yang penuh

196 Nova Yanti Maleha, SE., MM


dengan ketidakpastian. Keputusan melibatkan sejumlah
risiko dan imbalan. Sebuah pilihan antara melakukan
sesuatu yang aman dan mengambil risiko. Seseorang
dapat mengalami kebimbingan saat harus memutuskan
untuk melakukan investasi dalam usaha baru, juga
dalam pilihan melakukan diversifikasi, atau memagari
sebuah portofolio aset. Perilaku risiko (risk attitude)
seseorang atau sebuah institusi menentukan keputusan
yang diambil (Basyaib, 2007: 9).
Dengan demikian, risiko merupakan kerugian
karena kejadian yang tidak diharapkan terjadi. Maka
program manajemen risiko dengan demikian mencakup
tugas-tugas: mengidentifikasi risiko-risiko yang
dihadapi, mengukur atau menentukan besarnya risiko
tersebut, mencari jalan untuk menghadapi atau
menanggulangi risiko, selanjutnya menyusun strategi
untuk memperkecil ataupun mengendalikan risiko,
mengkoordinir pelaksanaan penanggulangan risiko serta
mengevaluasi program penanggulangan risiko yang
telah dibuat. Jadi seorang manajer risiko pada
hakekatnya harus menjawab pertanyaan : Risiko apa saja
yang dihadapi perusahaan. Bagaimana dampak risiko-
risiko tersebut terhadap bisnis perusahaan. Risiko-risiko
mana yang dapat dihindari, yang dapat ditangani sendiri
dan yang mana yang harus dipindahkan kepada
perusahaan asuransi. Metode mana yang paling cocok
dan efisien untuk menghadapinya serta bagaimana hasil
pelaksanaan strategi penanggulangan risiko yang telah
direncanakan (Sunaryo, 2007: 11-12).

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 197


Jadi berdasarkan berbagai pengertian di atas,
dapat diartikan bahwa manajemen risiko merupakan
sistem yang digunakan untuk mengelola risiko yang
dihadapi dan mengendalikan risiko tersebut agar tidak
merugikan. Oleh karena itu, setiap orang harus selalu
berusaha untuk mencegah terjadinya risiko dalam arti
meminimalisir atau meminimumkan terjadinya risiko
yang akan terjadi, baik kejadian di masa yang akan
datang, perubahan-perubahan seperti pikiran, tempat,
situasi, aksi maupun pendapat, sampai kepada pilihan-
pilihan.

B. Tujuan Manajemen Risiko


Manajemen risiko adalah suatu pendekatan
terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian
yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian
aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko,
pengembangan strategi untuk mengelolanya dan
mitigasi risiko dengan menggunakan
pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Oleh karena
itu, Besarnya ukuran risiko dan frekuensi kemunculan
kejadian yang tidak diinginkan menuntut manajemen
risiko. Dengan tujuan untuk mengenali risiko dan
mengembangkan strategi untuk mengurangi atau
bahkan menghindarinya, dan di sisi lain juga harus
mencari cara untuk memaksimalkan peluang yang ada
(Sunaryo,2007: 11).
Dalam konteks perusahaan, manajemen risiko
bertujuan sebagai berikut :

198 Nova Yanti Maleha, SE., MM


a. Melindungi perusahaan dari risiko signifikan yang
dapat menghambat pencapaian tujuan perusahaan.
b. Memberikan kerangka kerja manajemen risiko yang
konsisten atas risiko yang ada pada proses bisnis dan
fungsi-fungsi dalam perusahaan.
c. Mendorong menajemen untuk bertindak proaktif
mengurangi risiko kerugian, menjadikan
pengelolaan risiko sebagai sumber keunggulan
bersaing, dan keunggulan kinerja perusahaan.
d. Mendorong setiap insan perusahaan untuk bertindak
hati-hati dalam menghadapi risiko perusahaan,
sebagai upaya untuk memaksimalkan nilai
perusahaan.
e. Membangun kemampuan mensosialisasikan
pemahaman mengenai risiko dan pentingnya
pengelolaan risiko.
f. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui
penyediaan informasi tingkat risiko yang dituangkan
dalam peta risiko (risk map) yang berguna bagi
manajemen dalam pengembangan strategi dan
perbaikan proses manajemen risiko secara terus
menerus dan berkesinambungan.

C. Manajemen Risiko Syariah


Islam sebagai agama yang lengkap dan sempurna
telah memberikan bimbingan dalam al-Quran tentang
perilaku bisnis yang sesuai dengan fitrah manusia.
Pedoman ini dapat dijadikan petunjuk untuk
menjalankan semua aktivitas muamalah manusia,

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 199


termasuk dalam konteks manajemen risiko. Allah SWT
telah mengajarkan kepada manusia tentang manajemen
risiko. Hal ini terlihat jelas pada ayat-ayat al-Quran dan
hadis berikut ini :
Pertama, surah An-Nahl [16]: 36

Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan


perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang
mendustakan (rasul-rasul)

Ayat di atas mengajarkan kepada setiap muslim


agar selalu memperhatikan masa lalu (historical data)
sebagai pelajaran untuk referensi menghadapi masa depan.
Selain itu, dari ayat tersebut terdapat tiga pelajaran yang
dapat dipetik, antara lain; (1) Perlawanan terhadap
kezaliman dan penguasa lalim, merupakan tugas utama
para nabi. (2) Agama dan politik bukan dua hal yang
terpisah karena penerimaan agama tidak dapat menyatu
dengan penerimaan kekuasaan zalim. (3) Sunnah Allah
tentang masyarakat dan sejarah berlaku di setiap masa.
Oleh karena itu dengan perenungan mendalam kita dapat
memilih jalan yang benar untuk masa depan kita.
Kedua, surah Luqman [31]: 34

Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui


(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok

200 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Ayat di atas secara tegas Allah SWT menyatakan
bahwa, tiada seorangpun di alam semesta ini yang dapat
mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya
besok atau yang akan diperolehnya, sehingga dengan
ajaran tersebut seluruh manusia diperintahkan untuk
melakukan investasi sebagai bekal dunia dan akhirat.
Serta diwajibkan berusaha agar kejadian yang tidak
diharapkan, tidak berdampak pada kehancuran fatal
terhadapnya (memitigasi risiko).
Ketiga, surah Al-Israa [17]: 36

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak


mempunyai pengetahuan tentangnya.

Ayat di atas mengajarkan kepada setiap muslim


bahwa jika tidak memiliki ilmu tentang sesuatu
janganlah melakukan kegiatan tersebut, karena Allah
SWT akan menanyakan anggota badan ini pada hari
Kiamat tentang apa yang telah di ucapkan oleh
pemiliknya atau yang dikerjakannya maka dia akan
bersaksi dengan apa yang dia ucapkan atau yang
dikerjakan dari perkataan dan perbuatan yang dilarang.
Oleh karenanya, haram berkata atau berbuat tanpa
didasari oleh ilmu, karena dapat menyebabkan
kerusakan. Dan Allah SWT akan menanyakan seluruh

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 201


anggota badan dan meminta persaksiannya pada hari
Kiamat.
Keempat, surah Al-Hasyr [59]: 18

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada


Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa
yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat di atas mengajarkan kepada kita suatu hal


yang sangat mendasar dari Time Management dalam
cakupan waktu yang lebih luas. Jika biasanyahanya
mencakup kemarin, besok, dan sekarang, dalam ayat ini
dibahas waktu didunia dan di akhirat. Karena memang,
keterbatasan waktu kita di dunia harus bisa kita
manfaatkan semaksimal mungkin untuk mendapatkan
tempat yang terbaik di sisiNya..
Kelima, surah Al-Israa [17]: 31

202 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu
Karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi
rezki kepada mereka dan juga kepadamu.
Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa
yang besar.

Ayat di atas mengajarkan kepada manusia bahwa


sesungguhnya keuntungan dan kerugian merupakan
ketetapan Allah SWT. Oleh karena itu, manusia dilarang
membunuh anak-anak mereka dan mendekati perbuatan
zina, dalam ayat ini juga manusia dilarang membunuh
jiwa manusia lainnya. Ada benang merah yang
menghubungkan ketiga larangan itu, yakni menjaga
keberlangsungan kehidupan manusia secara umum.
Keenam, surah Ath-Thalaaq [65]: 2-3

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia


akan mengadakan beginya jalan keluar. Barangsiapa
yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi
tiap tiap sesuatu.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 203


Ayat tersebut mengajarkan kepada manusia
bahwa Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia
adalah ladang untuk mencari ridhoNya. Makin besar
manfaat seseorang terhadap orang lain makin besar dan
tinggi pula penilaian orang tersebut dalam pandangan
Allah swt. Demikian pula dengan hartanya. Makin besar
harta seseorang tersebut memberi manfaat kepada orang
lain makin besar pula imbalan yang akan didapatnya.
Imbalan ini tidak hanya diberikan kelak di surga ketika
orang tersebut meninggal namun juga ketika ia masih di
dunia.
Ketujuh, Dalam Hadits juga dikisahkan, salah
seorang sahabat Rasulullah Saw. yang meninggalkan
untanya tanpa diikatkan pada sesuatu, seperti pohon,
tonggak dan lain-lain, lalu ditinggalkan. Beliau s.a.w.
bertanya: "Mengapa tidak kamu ikatkan?" Ia menjawab:
"Saya sudah bertawakkal kepada Allah." Rasulullah Saw.
tidak dapat menyetujui cara berfikir orang itu, lalu
bersabda, "Ikatlah dulu lalu bertawakkallah." Ringkasnya
tawakkal tanpa usaha lebih dahulu adalah salah dan
keliru menurut pandangan Islam. Adapun maksud
tawakkal yang diperintahkan oleh agama itu ialah
menyerahkan diri kepada Allah sesudah berupaya dan
berusaha serta bekerja sebagaimana mestinya. Misalnya
meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci baik-
baik, lalu bertawakkal (Rustam, 2013: 28). Artinya
apabila setelah dikunci itu masih juga hilang misalnya
dicuri orang, maka dalam pandangan agama orang itu
sudah tidak bersalah, sebab telah melakukan ikhtiar

204 Nova Yanti Maleha, SE., MM


supaya jangan sampai hilang. Makna tawakal ini yang
diartikan sebagai manajemen risiko.
Dengan demikian jelaslah bahwa Islam memberi
isyarat untuk mengatur posisi risiko dengan sebaik-
baiknya, sebagaimana al-Quran dan Hadits di atas
mengajarkan untuk melakukan aktivitas dengan
perhitungan yang sangat matang dalam menghadapi
risiko. Dalam perspektif syariah, manajemen risiko
merupakan usaha untuk menjaga amanah Allah akan
harta kekayaan demi untuk kemaslahatan manusia.
Berbagai sumber ayat Quran telah memberikan kepada
manusia akan pentingnya pengelolaan risiko ini.
Keberhasilan manusia dalam mengelola risiko, bisa
mendatangkan maslahat yang lebih baik.
Dengan timbulnya kemaslahatan ini maka bisa
dimaknai sebagai keberhasilan manusia dalam menjaga
amanah Allah. Menjaga amanah merupakan bukti bahwa
manusia menyembah Allah SWT dan sejalan dengan
tugas pokok manusia, yakni mengabdi kepada Allah
SWT. Dan tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia
kecuali hanya untuk menyembah Allah (QS. Adz-Dzariyat
[56]: 51).
Lebih lanjut, Himpunan Fatwa Dewan Nasional-
Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) menyatakan ada
beberapa kaidah fiqh yang terkait dengan perlunya
manajemen risiko yang meliputi : a). Segala mudharat
harus dihindarkan sedapat mungkin. b). Segala mudarat
(bahaya) harus dihilangkan. c). Mencegah mafsadat
(kerusakan, bahaya) harus didahulukan daripada mengambil

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 205


manfaat. d). di mana terdapat kemaslahatan di sana terdapat
hukum Allah SWT. e). Bahaya (beban berat, kerugian) harus
dihilangkan.
Dengan demikian, setiap muslim harus
mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan
mengendalikan seluruh risiko yang dapat terjadi. Oleh
karena itu, tentu saja diperlukan orang-orang
berkapasitas dalam melakukan manajemen risiko
sebagaimana firman Allah SWT, dalam surah Yusuf [12]:
55.

"Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir);


Sesungguhnya Aku adalah orang yang pandai menjaga,
lagi berpengetahuan".

Keterlambatan pengaturan manajemen risiko


merupakan implikasi dari kurangnya perhatian setiap
muslim untuk menerapkan prinsip-prinsip manajemen
risiko sebagai bagian manajemen dalam kehidupan.
Padahal, dalam kehidupan termasuk dalam aspek jual
beli tidak saja menjanjikan keuntungan, tetapi juga
terdapat/mendatangkan risiko kerugian. Semakin tinggi
yang ingin diraih, maka semakin tinggi pula risiko yang
akan menghadang (Rustam, 2013: 28-29).

206 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Tugas Individu dan Kelompok
1. Jelaskan apa yang dimaksud risiko dan manajemen
risiko ?
2. Sebutkan dan jelaskan tujuan manajemen risiko
dalam konteks perusahaan ?
3. Sebutkan dan jelaskan ayat al-Quran dan hadis yang
memerintakan kepada setiap muslim untuk
memanajemen risiko ?
4. Jelaskan maksud kaidah ushul Segala
mudharatharusdihindarkan sedapat mungkin dalam
konteks manajemen risiko ?
5. Jelaskan pendapat saudara tentang isi surah Al-Israa
[17]: 31 yang melarang setiap manusia untuk
membunuh anak-anaknya karena takut miskin ?

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 207


208 Nova Yanti Maleha, SE., MM
BAB X
MANAJEMEN KONFLIK SYARIAH

A. Pengertian Manajemen Konflik


Tiap orang hidup dalam rangkaian pengalaman
yang unik. Di antara orang-orang ini terdapat
perbedaan-perbedaan pendapat, tujuan, kebutuhan,
keinginan, kebiasaan, nilai, interpretasi atas fakta-fakta
dan realitas, dan sebagainya. Bahkan di antara orang-
orang yang mempunyai hubungan yang paling erat atau
akrab sekalipun, terdapat perbedaan-perbedaan yang
dapat mengarah pada timbulnya konflik (Marwansyah,
2012: 302).
Dalam aspek sejarah, konflik merupakan salah
satu karakteristik kehidupan manusia dari zaman purba
hingga era globalisasi dewasa ini. Konflik terjadi di
semua zaman, di semua negara, di semua sistem sosial,
dan di semua bidang kehidupan manusia. Konflik dalam
suatu organisasi atau dalam hubungan antar kelompok
sering terjadi dan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan.
Bahkan dalam batas-batas tertentu konflik justru akan
sangat bermanfaat bagi penciptaan perilaku-organisasi
yang efektif (Indrawijaya, 2009: 169).
Konflik merupakan salah satu pengetahuan dan
ketrampilan yang perlu dikuasai oleh para pemimpin,
manajer, dan administrator bahkan setiap masyarakat.
Konflik adalah salah satu esensi dari kehidupan dan
perkembangan manusia yang mempunyai karakteristik

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 209


yang beragam. Manusia memiliki perbedaan jenis
kelamin, strata sosial dan ekonomi, sistem hukum,
bangsa, suka, agama, kepercayaan, aliran politik, serta
budaya dan tujuan hidupnya. Perbedaan inilah yang
selalu menimbulkan konflik (Wirawan, 2009: 1).
Konflik adalah sesuatu yang tak terhindarkan.
Konflik melekat erat dalam jalinan kehidupan
(Hendricks, 2006: 1). Konflik biasanya timbul dalam
suatu organisasi sebagai akibat adanya berbagai masalah
dalam hal komunikasi, hubungan pribadi atau karena
masalah struktur organisasi. Masalah komunikasi
biasanya diakibatkan karena salah pengertian yang
berkenaan dengan kalimat, bahasa yang kurang atau
sulit dimengerti, atau informasi yang mendua dan tidak
lengkap serta gaya individu yang tidak konsisten.
Masalah pribadi disebabkan karena tidak sesuai dengan
tujuan atau nilai-nilai sosial pribadi karyawan dengan
prilaku yang diperankan pada jabatan mereka dan
perbedaan dalam nilai-nilai persepsi. Masalah struktur
organisasi disebabkan karena adanya pertarungan
kekuasaan antar departemen dengan kepentingan-
kepentingan atau sistem penilaian yang bertentangan,
persaingan untuk memperebutkan sumber daya yang
terbatas atau saling ketergantungan dua atau lebih
kelompok-kelompok kegiatan kerja untuk mencapai
tujuan mereka (Sedarmayanti, 2010: 255).
Menurut Wirawan (2009: 5) konflik adalah proses
pertentangan yang diekspresikan di antara dua pihak
atau lebih yang saling tergantung mengenai objek

210 Nova Yanti Maleha, SE., MM


konflik, menggunakan pola prilaku dan interaksi konflik
yang menghasilkan keluaran konflik. Dari defenisi
tersebut, Wirawan (2009: 5-7) menyatakan ada sejumlah
indikator yang memerlukan penjelasan antara lain : (a).
Proses, dimana konflik terjadi melalui suatu proses yang
unik, artinya proses terjadinya suatu konflik berbeda
dengan konflik lainnya. (b). Dua pihak atau lebih, di mana
konflik terjadi bisa; antara seorang individu dan individu
lainnya, dan antara seorang individu dan suatu
kelompok individu, dan antara suatu kelompok individu
dan kelompok individu lainnya, serta antara suatu
organisasi dan organisasi lainnya. (c). Saling tergantung,
di mana pihak yang terlibat konflik saling tergantung
atau interdependen satu sama lain. (d). Pertentangan
mengenai objek konflik, di mana objek konflik merupakan
sesuatu yang menyebabkan terjadinya konflik. Pihak-
pihak yang terlibat konflik mempunyai perbedaan
pendapat mengenai objek konflik. (e). Diekspresikan,di
mana konflik benar-benar terjadi jika diekspresikan.
Ekspresi mengenai objek konflik merupakan kejadian
pemicu terjadinya konflik. Pengekspresian dapat
menggunakan bahasa verbal, bahasa badan, atau bahasa
tulisan. (f). Pola tertentu, di mana pola prilakuadalah
kecenderungan orang untuk berperilaku secara tertentu
dalam menghadapi situasi konflik. Pola perilaku ini juga
disebut sebgai gaya manajemen konflik dan taktik
konflik yang digunakan pihak-pihak yang sedang
berkonflik. (g). Interaksi konflik, di mana interaksi
merupakan sebuah keharusan dalam setiap konflik.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 211


Interaksi bisa berupa saling menuduh, saling
menyalahkan, saling memfitnah, saling mengumpat,
mencari teman, menyelamatkan muka, melakukan
negosiasi, dan lain sebagainya atau bahkan meminta
bantuan pihak ketiga agar bisa menghasilkan win-win
solution. (h). Keluaran konflik,di mana setiap interaksi
konflik di antara pihak-pihak yang terlibat dalam
konflik, menghasilkan keluaran konflik yang unik.
Keluaran konflik bisa berupa ditemukannya solusi atas
suatu konflik, seperti win and win solution, win and lose
solution, serta lose and lose solution, atau bisa juga berupa
terciptanya suatu perubahan sistem sosial.
Dalam praktik kehidupan organisasi sehari-hari,
konflik sering diperlukan dan diciptakan atau malah
diakui eksistensinya. Karena konflik bukan merupakan
tanda kelemahan organisasi atau bukti kegagalan
pimpinannya (Indrawijaya, 2009: 170). Selain itu, konflik
juga tidak hanya harus diterima dan dikelola dengan
baik, tetapi juga harus di dorong, karena konflik
merupakan kekuatan untuk mendatangkan perubahan
dan kemajuan dalam lembaga (Wahyudi, 2008: 47). Oleh
karenanya, konflik harus dimanage, agar konflik dapat
menghasilkan sebuah kebaikan bersama bagi pihak-
pihak yang sedang berkonflik. Manajemen konflik
termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada
proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi
(termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar
dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan
(interests) dan interpretasi. Bagi pihak luar (di luar yang

212 Nova Yanti Maleha, SE., MM


berkonflik) sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya
adalah informasi yang akurat tentang situasi konflik. Hal
ini karena komunikasi efektif di antara pelaku dapat
terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga. Oleh
karena itu, manajemen konflik disebut sebgai sebuah
proses pihak yang terlibat konflik atau pihak ketiga
menyusun strategi konflik dan menerapkannya untuk
mengendalikan konflik agar menghasilkan resolusi yang
diinginkan (Wirawan, 2009: 129).
Manajemen konflik dalam organisasi dapat
menjadi tanggung jawab pimpinan (manajer) baik
manajer tingkat lini (supervisor), manajer tingkat
menengah (middle manager), dan manajer tingkat atas (top
manager), maka diperlukan peran aktif untuk
mengarahkan situasi konflik agar tetap produktif.
Manajemen konflik yang efektif dapat mencapai tingkat
konflik yang optimal, yaitu menumbuhkan kreativitas
anggota, menciptakan inovasi, mendorong perubahan,
dan bersikap kritis terhadap perkembangan lingkungan
(Wahyudi, 2008: 47). Sebaliknya, konflik yang tidak
dapat dikelola secara baik menyebabkan kedua belah
pihak yang terlibat dalam konflik menjadi tidak
harmonis dalam hubungan kerja, kurang termotivasi
dalam bekerja, dan berakibat pada menurunnya
produktivitas kerja (Wahyudi, 2008: 21).

B. Bentuk Manajemen Konflik


Setidaknya ada tiga bentuk manajemen konflik,
yakni; Pertama, metode stimulasi konflik, dimana

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 213


manajer dari kelompok yang demikian situasinya, perlu
merangsang timbulnya persaingan dan konflik yang
dapat berefek pengemblengan. Metode yang dilakukan
dalam menstimulasi konflik yaitu; (a) memasukkan
anggota yang memiliki sikap, perilaku serta pandangan
yang berbeda dengan norma-norma yang berlaku, (b)
merestrukturisasi organisasi terutama rotasi jabatan dan
pembagian tugas-tugas baru, (c) menyampaikan
informasi yang bertentangan dengan kebiasaan yang
dialami, (d) meningkatkan persaingan dengan cara
menawarkan insentif, (e) memilih pemimpin baru yang
lebih demokratis (Wahyudi, 2008: 49).
Kedua, metode pengurangan konflik. Metode ini
menekankan adanya antagonism yang ditimbulkan oleh
konflik yang diatasi dengan cara mendinginkan
suasana, namun menangani masalah-masalah yang
semula menimbulkan konflik. Pendinginan suasana
dilakukan dengan dua cara; mengganti tujuan yang
menimbulkan persaingan dengan tujuan yang lebih
dapat diterima oleh kedua pihak yang konflik.
Mempersatukan kedua kelompok yang saling
bertentangan untuk menghadapi ancaman atau
musuh yang sama.
Ketiga, metode ini berkaitan dengan kegiatan para
manajer yang dapat secara langsung mempengaruhi
pihak-pihak yang saling bertentangan. Misalnya melalui
perubahan dalam struktur organisasi, mekanisme
koordinasi dan sebagainya (Sedarmayanti, 2010: 257).
Lebih lanjut, para manajer dapat melakukan teknik

214 Nova Yanti Maleha, SE., MM


pengurangan konflik, antara lain; (a) memisahkan
kelompok/unit yang berlawanan, (b) menerapkan
peraturan kerja yang baru, (c) meningkatkan interaksi
antara kelompok, (d) memfungsikan peran integrator, (e)
mendorong negosiasi, (f) meminta bantuan konsultan
pihak ketiga, (g) mutasi/rotasi jabatan/pekerjaan, (h)
mengembangkan tujuan yang lebih tinggi, (i)
mengadakan pelatihan pekerjaan (job training)
(Wahyudi,2008: 49).

C. Gaya Manajemen Konflik


William Hendricks (2006: 48-51) menyatakan
terdapat lima gaya manajemen konflik, antara lain:
Pertama, gaya penyelesaian konflik dengan
mempersatukan (integrating). Dalam gaya ini individu
melakukan tukar menukar informasi. Di sini ada
keinginan untuk mengamati perbedaan dan mencari
solusi yang dapat diterima oleh semua kelompok. Gaya
penyelesaian konflik ini dapat mendorong tumbuhnya
creative thinking (berfikir kreatif). Kedua,gaya
penyelesaian konflik dengan kerelaan untuk membantu
(obliging). Gaya ini menempatkan nilai yang tinggi untuk
orang lain sementara dirinya sendiri dinilai rendah.
Sangat bermanfaat, terutama jika perean seseorang
dalam perusahaan yang secara politis tidak berada dalam
posisi yang membahayakan. Ketiga, Gaya penyelesaian
konflik dengan mendominasi (dominating). Gaya ini
berlawanan dengan gayaobliging dan tekanannya pada
diri sendiri. Di mana kewajiban bisa diabaikan oleh

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 215


keinginan pribadi. Karena gaya mendominasi ini
meremehkan kepentingan orang lain. Gaya ini adalah
strategi yang efektif bila suatu keputusan yang cepat
dibutuhkan atau jika persoalan tersebut kurang penting.
Keempat,gaya penyelesaian konflik dengan menghindar
(avoiding). Gaya ini adalah gaya menghindar dari
persoalan atau menghindar dari tanggung jawab atau
mengelak dari suatu isu. Pada gaya ini seorang
manajer yang menggunakan gaya ini akan lari dari
peristiwa yang dihadapi, meninggalkan pertarungan
untuk mendapatkan hasil. Kelima,gaya penyelesaian
konflik dengan kompromis (compromising). Pada gaya ini
perhatian pada diri sendiri maupun pada orang lain
berada dalam tingkat sedang. Gaya ini disebut juga
dengan jalan tengah (kompromi). Dalam kompromi,
setiap orang memiliki sesuatu untuk diberikan dan
menerima sesuatu.

D. Tujuan Manajemen Konflik


Menurut Wirawan (2009: 132-134) ada dua belas
tujuan dari manajemen konflik, yakni :
1). Agar dapat mencegah gangguan kepada anggota
organisasi untuk memfokuskan diri pada visi, misi
dan tujuan organisasi.
2). Agar dapat memahami orang lain dan menghormati
keberagaman.
3). Agar dapat meningkatkan kreativitas antar anggota
organisasi atau masyarakat

216 Nova Yanti Maleha, SE., MM


4). Agar dapat meningkatkan keputusan melalui
pertimbangan berdasarkan pemikiran berbagai
informasi dan sudut pandang.
5). Agar dapat memfasilitasi pelaksanaan kegiatan
melalui peran serta, pemahaman bersama dan
bekerja sama.
6). Agar dapat menciptakan prosedur dan mekanisme
penyelesaian konflik
7). agar tidak menimbulkan iklim organisasi konflik dan
lingkungan kerja yang tidak menyengkan; takut,
moral rendah, sikap saling curiga.
8). Agar dapat menekan meningkatkan terjadinya
pemogokan.
9). Agar dapat meminimalisir kurangnya loyalitas dan
komitmen organisasi
10). Agar dapat mencegah mengarahnya sebuah konflik
pada sabotase bagi pihak yang kalah dalam konflik
11). Agar tidak terganggunya proses produksi dan
operasi pada sebuah perusahaan atau organisasi
12). Agar terhindar dari meningkatkan biaya pengadilan
karena tuntutan karyawan yang mengajukan
konfliknya ke pengadilan.

E. Manajemen Konflik Syariah


Islam merupakan agama yang syumulillah dan
komprehensif. Mengatur tidak hanya hubungan manusia
dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan antara
manusia dengan manusia dan antara manusia dengan
alam semesta. Salah satu hubungan yang diatur oleh

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 217


Islam dalam hubungan antara manusia dengan manusia
adalah masalah konflik. Menurut Islam, konflik
merupakan sunatullah, bisa terjadi kapan saja, di mana
saja, pada situasi apa saja, dan tidak bisa dihindari.
Bahkan, konflik sudah ada dalam diri manusia ketika
pertama kali manusia diciptakan. Hal ini terlihat pada
surah Al-Hujurat [49]: 13.


Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal.

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Tuhan


menciptakan manusia saling berbeda satu sama lain,
berbeda jenis kelamin (laki-laki dan perempuan),
berbeda suku, dan berbeda bangsa. Perbedaan tersebut
menyebabkan terjadinya perbedaan bentuk fisik, pola
pikir, tujuan hidup, agama, kebutuhan, budaya, asumsi
mengenai sesuatu, sudut pandang, perilaku, dan lain

218 Nova Yanti Maleha, SE., MM


sebagainya. Semua perbedaan itu merupakan sumber
terjadinya konflik antar manusia (Wirawan, 2009: 24).
Al Quran mensinonimkan konflik dengan kata
ikhtilaf, seperti yang dijelaskan dalam al-Quran surah
Yusuf [10]:19.

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, Kemudian


mereka berselisih. kalau tidaklah Karena suatu
ketetapan yang Telah ada dari Tuhanmu dahulu,
Pastilah Telah diberi Keputusan di antara mereka,
tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

Konflik di antara manusia pertama kali terjadi


pada Habil dan Qabil, putera Adam dan Hawa, di mana
Qabil membunuh saudaranya Habil karena sakit hati
kurbannya tidak diterima oleh Allah. Peristiwa ini
terekam dalam surah Al-Maidah [5]: 27-31.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 219


Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam


(Habil dan Qabil) menurut yang Sebenarnya, ketika
keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima
dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak
diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil):
"Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil:
"Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari
orang-orang yang bertakwa"."Sungguh kalau kamu
menggerakkan tanganmu kepadaku untuk
membunuhku, Aku sekali-kali tidak akan menggerakkan
tanganku kepadamu untuk membunuhmu.
Sesungguhnya Aku takut kepada Allah, Tuhan seru

220 Nova Yanti Maleha, SE., MM


sekalian alam." "Sesungguhnya Aku ingin agar kamu
kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan
dosamu sendiri, Maka kamu akan menjadi penghuni
neraka, dan yang demikian Itulah pembalasan bagi
orang-orang yang zalim." Maka hawa nafsu Qabil
menjadikannya menganggap mudah membunuh
saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia
seorang diantara orang-orang yang merugi. Kemudian
Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di
bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil)
bagaimana seharusnya menguburkan mayat
saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku,
Mengapa Aku tidak mampu berbuat seperti burung
gagak ini, lalu Aku dapat menguburkan mayat
saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara
orang-orang yang menyesal.

Selanjutnya, dalam sejarah peradaban Islam,


konflik juga selalu terjadi dari perbedaan pendapat
hingga peperangan, mulai pada masa Nabi Muhammad
dan masa para sahabatnya, masa khalifah-khalifah dari
Bani Umayyah sampai Dinasti Utsmani, serta dewasa ini.
Hal ini berarti konflik merupakan bagian dari peradaban
Islam, dan umat Islam. Akan tetapi, walaupun konflik
merupakan bagian dari manusia, Tuhan lebih senang jika
manusia bersatu, tidak terlibat konflik, dan hidup rukun
dan tidak tercerai-berai.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 221



Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka
Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu
Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;
dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu
mendapat petunjuk (QS. Ali Imran [3]: 103)

Konflik merupakan mengenai apa, siapa saja


pihak-pihak yang terlibat konflik, dan apa tujuan
masing-masing pihak yang terlibat konflik. Berapa besar
ketidaksepakatan pihak-pihak yang terlibat konflik.
Dengan menggunakan informasi yang akurat, pihak-
pihak yang terlibat konflik saling mengemukakan posisi
mereka. Oleh karenanya, konflik adalah sesuatu yang
sering terjadi dalam kehidupan manusia. Islam
memandang bahwa konflik dapat menyebabkan

222 Nova Yanti Maleha, SE., MM


perpecahan dan permusuhan. Maka konflik perlu di atur
dan diantisipasi agar tidak melebar kemana-mana.
Ketika konflik terjadi dan butuh penyelesaian
secepatnya, Islam memperkenalkan tujuh konsep
manajemen konflik, dalam menyelesaikan permasalahan
konflik, yaitu :Pertama, Tabayyun artinya klarifikasi atau
check and re check. Dari aspek bahasa, kata tabayyun
memiliki 3 pengertian yang berdekatan seperti berikut :
1). Mencari kejelasan suatu masalah hingga tersingkap
dengan jelas kondisi yang sebenarnya. 2). Mempertegas
hakikat sesuatu. 3). Berhati-hati terhadap sesuatu dan
tidak tergesa-gesa. Secara istilah tabayyun merupakan
sikap berhati-hati terhadap informasi yang beredar dan
dengan pemahaman yang mendalam. Tujuannya agar
tidak terjadi fitnah, hasad dan penyakit-penyakit hati
lainnya.
Tabayyun merupakan salah satu bentuk
penyelesaian konflik yang utama dalam Islam, karena
konflik adakalanya terjadi berita atau kabar yang tidak
melalui klarifikasi atau check and re-check. Islam
memerintahkan umat-Nya untuk senantiasa
mendahulukan tabayyun dalam segala sesuatu. Allah
SWT berfirman :

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 223


Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu
orang fasik membawa suatu berita, Maka tabayyunlah
(periksalah dengan teliti) agar kamu tidak menimpakan
suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatanmu itu (QS. Al-Hujurat [49]: 6).

Dalam surah lain

Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu


dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu
apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu
menganggapnya suatu yang ringan saja. padahal dia pada
sisi Allah adalah besar (QS. An-Nur [24]: 15).

Kedua, Ishlah artinya memperbaiki hubungan.


Pada dasarnya setiap konflik yang terjadi antara orang-
orang yang beriman harus diselesaikan dengan damai
(ishlah). Ishlah adalah suatu cara penyelesaian konflik
yang dapat menghilangkan dan menghentikan segala
bentuk permusuhan dan pertikaian antara manusia.
Akan tetapi, Ishlah dalam konteks Islam lebih
menekankan suatu proses perdamaian bukan hasil
perdamaian, karena hasil dari proses perdamaian lebih
kepada Ash-Shulhuh (perdamaian)

224 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Allah berfirman dalam surat al-Hujurat [49]: 9-10:

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang


beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan
antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar
perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang
melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut
kembali pada perintah Allah. kalau dia Telah surut,
damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan
hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang
beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua
saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya
kamu mendapat rahmat.

Surah al-Hujurat [49]: 9-10 merupakan landasan


dan sumber penyelesaian konflik yang terjadi diantara

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 225


orang-orang yang beriman. Sedangkan dalam konsep
Ishlah antara suami-isteri yang di ambang perceraian;
dengan mengutus al-hakam (juru runding) dari kedua
belah pihak; terdapat dalam surah al-Nisa [4]:35.
Kemudian Ishlah memiliki nilai yang sangat luhur dalam
pandangan Allah, yaitu pelakunya memperoleh pahala
yang besar (QS. al-Nisa [4]: 114), dan Ishlah itu baik,
terutama ishlah dalam sengketa rumah tangga (QS. al-
Nisa[4]: 128).
Nabi Muhammad SAW juga terdapat beberapa
hadits yang menyeru dan menerangkan tentang Islah,
diantaranya adalah hadits riwayat Abu Darda, bahwa
Rasulullah SAW bersabda : Maukah kalian saya beritahu
suatu hal yang lebih utama daripada derajat puasa, sholat dan
sedekah?. Para sahabat menjawab : tentu ya Rasulallah. Lalu
Nabi bersabda : hal tersebut adalah mendamaikan perselisihan,
karena karakter perselisihan itu membinasakan (HR. Abu
Daud).
Islah atau rekonsiliasi adalah sebuah upaya
mendamaikan atau membuat harmonisasi antara dua
atau beberapa pihak yang berselisih. Islam telah
menawarkan beberapa solusi untuk menyelesaikan
permasalahan-permasalahan yang mengganggu
hubungan dalam keluarga dan sosial kemasyarakatan
agar terjalin nilai ukhuwah dan keharmonisan dalam
kehidupan bermasyarakat, ikatan kasih sayang dan
keseimbangan alam tetap terjaga, dan masyarakat yang
penuh dengan rasa kasih sayang dan persaudaraan.

226 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Ketiga, konsep Ash-Shulhuh (perdamaian).
Perdamaian (al-Shulhu) disyariatkan di dalam al-Quran,
sunnah, dan ijma ulama. Hal itu agar tercapai kesepakatan
sebagai pengganti dari perselisihan dan agar permusuhan
antara dua pihak dapat dileraikan. Hal tersebut seperti
tertuang dalam surah al-Hujarat [49] ayat 9:

Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin


berpendapat, maka damaikanlah antara keduanya .

Demikian halnya disebutkan dalam Q.S. al-Nisa


[4]: 114:

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan


mereka, kecuali dari bisikan-bisikan orang-orang yang
menyuruh (manusia) memberi sedekah, berbuat makruf
atau mengadakan perdamaian di antara mereka.

Disebutkan pula dalam Q.S. al-Nisa[4]: 128:

... Perdamaian itu amat baik....

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 227


Ash-Shulhuh merupakan proses menyelesaikan
konflik yang dilakukan oleh pihak yang terlibat konflik
itu sendiri. Pihak yang terlibat konflik melakukan
musyawarah, negosiasi, bertukar informasi, saling
mendengarkan penjelasan, serta melakukan sikap
memberi dan mengambil (give and take), untuk
menciptakan win-win and solution yang memuaskan.
Allah SWT dalam surah Asy-Syura [42]: 38 menyerukan
kepada pihak-pihak yang terlibat konflik untuk
bermusyawarah.

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi)


seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang
urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat
antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari
rezki yang kami berikan kepada mereka.

Keempat, silaturahmi artinya membangun


hubungan kasih sayang. Silaturahmi merupakan akhlak
terpuji dan sangat dianjurkan dan di seruh oleh Islam.
Karena dalam kehidupan sehari-hari manusia
ditakdirkan untuk hidup bersosial, yaitu selalu hidup
dalam keadaan saling membutuhkan. Oleh karenanya,
apabila terjadi benturan atau konflik dalam berinteraksi,
maka silaturahmi merupakan solusinya.

228 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Allah SWT berfirman :

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil


dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat,
dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran
dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. an-Nahl
[16]:90).

Kelima, harmonisasi, artinya saling pengertian.


Dalam Islam begitu banyak ajaran-ajaran yang
menganjurkan tentang harmonisasi sesama umat
manusia, di antaranya sikap saling tolong menolong (QS.
al-Maidah [5]: 2), saling memberikan kasih sayang dan
saling berdamai, (QS. al-Hujarat [49]: 10). 3), dan
toleransi beragama (QS. al-Kafirun [109]: 6).
Keenam,taawun artinya saling tolong-menolong. Di
mana Allah SWT menjadikan manusia masing-masing
berhajat pada orang lain, supaya mereka tolong-
menolong, tukar-menukar keperluan dan kepentingan,
dalam segala urusan, baik urusan yang bersifat pribadi
maupun demi kemaslahatan bersama. Sikap dan sifat
tolong-menolong yang merupakan fitrah dan sunatullah

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 229


merupakan salah satu komponen pokok untuk
meminimalisir munculnya bibit-bibit konflik dalam
masyarakat. Ketika sikap dan sifat tolong-menolong
bekerja dan menjadi kebiasaan dalam bermasyarakat.
Maka tidak akan pernah ada konflik yang muncul di
masyarakat tersebut.
Allah SWT berfirman :

dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)


kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah
kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat
siksa-Nya (QS. Al-Maidah [5]: 2).

Ketujuh, Konsep Jawatan al-Hisbah. Ini


merupakan solusi terakhir dalam penyelesaian konflik
syariah. Jawatanal-hisbah adalah satu lembaga penegak
hukum di samping kehakiman dan kejaksaan (al-qadha
dan wilayah al-muzhalim), dan polisi (syurthah), yang
bertugas untuk menyelesaikan setiap sengketa atau
konflik yang terjadi di kalangan umat Islam atau umat
Islam dengan non Islam. Jawatan al-Hisbah ini dapat
ditempuh di mana pihak-pihak yang terlibat konflik
posisinya sama kuat dan tidak ada yang mau mengalah.
Mereka sama-sama merasa benar dan sama-sama

230 Nova Yanti Maleha, SE., MM


mempunyai hak. Setelah Islah dan ash-Shulhuh
mengelami kebuntuan, maka pihak ketiga dalam hal ini
Jawatan al-Hisbah sebagai refresentasi dari ulil amri
(pemerintah) diperlukan untuk menyelesaikan konflik.

Pertanyaan untuk Diskusi


1. Jelaskan yang saudara ketahui tenta konflik dan
mengapa konflik harus dimanajemen ?
2. Jelaskan pendapat saudara mengapa Islam
menganggap bahwa konflik merupakan sunatullah ?
3. Berikan contoh tentang penyelesaian konflik dengan
metode Tabayyun?
4. Sebutkan dan jelaskan tiga bentuk konflik dan
bagaimana cara menyelesaikannya ?
5. Jelaskan perbedaan antara Ishlah dan Ash-Shulhuh
sebagai media penyelesaian konflik?

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 231


232 Nova Yanti Maleha, SE., MM
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Nana Herdiana, 2013., Manajemen Bisnis


Syariah dan Kewirausahaan, Bandung: Pustaka Setia.

Abbas, Syahrizal, 2009., Manajemen Perguruan Tinggi,


Jakarta: Kencana.

Al-Arif, M. Nur Rianto, 2010., Dasar-Dasar Pemasaran


Bank Syariah, Bandung: Alfabeta.

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa, 1974., Tafsir al-Maraghi,


Libanon: Dar Al-Fikr.

Al-Qardhawi, Yusuf, 2007., al-Waqtu f Hayat al-Muslim,


diterjemahkan oleh Abu Ulya dari judul asli: Time
is Up!, Manajemen Waktu Islami, Yogyakarta:
Qudsi Media.

Amin, A. Riawan dan Tim PEBS FEUI, 2010., Menggagas


Manajemen Syariah; Teori dan Praktik The Celestial
Management, Jakarta: Selemba Empat.

Amin, A. Riawan, 2004., The Celestial Management,


Jakarta: Senayan Abadi Publishing.

Antonio, Muhammad Syafii, 2008., Muhammad SAW; The


Super Leader Super Manager, Jakarta: ProLM
Centre.

Assauri, Sofjan, 2004, Manajemen Pemasaran, Dasar, Konsep


dan Strategi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 233


At-Thabari, Abu Jafar Muhammad Ibn Jarir, 1988.,
Jamiul Bayan an Takwili Ay Al-Quran, Jilid I,
Beirut : Dar al-Fikr.

Basyaib, Fachmi, 2007, Manajemen Risiko, Jakarta:


Grasindo.

Bukhari, M., dkk, 2005., Azas-Azas Manajemen,


Yogyakarta: Aditya Media.

Danupranata, Gita,2015, Manajemen Perbankan Syariah,


Jakarta: Salemba Empat.

Departemen Agama, 2002., Islam Untuk Disiplin Ilmu


Ekonomi, Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan
Agama Islam.

Diana,Ilfi Nur, 2008, Hadis-hadis Ekonomi, Malang: UIN-


Malang Press.

Djarot, Totok., 2000., Manajemen Penerbitan Pers,


Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Fajri, Em Zul, dan Ratu Aprilia Senja, t.th., Kamus Lengkap


Bahasa Indonesia, Tanpa Kota, Difa Publisher.

Fakih, Ainur Rokhim dan Iip Wijayanto, 2001.,


Kepemimpinan Islam, Yogyakarta: UII Press.

Fattah, Nanang. 2006., Landasan Manajemen Pendidikan.


Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

234 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Fauzia, Ika Yunia, 2014., Etika Bisnis dalam Islam, Jakarta:
Kencana.

Ghazaly, Abdul Rahman, Ghufron Ihsan, dan Sapiudin


Shidiq, 2010., Fiqh Muamalat, Jakarta: Kencana.

Ghudah, Abdul Fatah Abu dan Shalahudin Mahmud,


2008., Agar Waktu Anda Lebih Bermakna,
diterjemahkan oleh Fauzan dari judul asli: al-
Waqtu Huwa al-Hayt: Kaifa Tadru Waqtaka, Qmatu
al-Zaman Inda al-Ulama, Solo: Buku.

Hafidhuddin, Didin dan Hendri Tanjung. 2003.,


Manajemen Syariah dalam Praktik. Jakarta: Gema
Insani :

Hakim, Nasution Arman, Sudarso Indung, Trisurno


Lantip, 2006., Manajemen Pemasaran Untuk
Engineering, Yogyakarta: Andi Offset.

Hariandja, Marihot Tua Efendi, 2002., Manajemen Sumber


Daya Manusia, Jakarta: PT. Gramedia.

Hasibuan, Malayu S.P., 2011., Manajemen Sumber Daya


Manusia, Jakarta: Bumi Aksara.

Hendricks, William, 2006, Bagaimana Mengelola Konflik;


Petunjuk Praktik Untuk Manajemen Konflik yang
Efektif, Terj. Arif Santoso, Jakarta: Bumi Aksara.

Hikmat. 2009., Manajemen Pendidikan, Bandung: CV


Pustaka Setia.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 235


Idri, 2015., Hadis Ekonomi; Ekonomi dalam Perspektif Hadis
Nabi, Jakarta: PT. Kencana.

Ikatan Bankir Indonesia, 2015, Strategi Bisnis Bank Syariah,


Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ismanto, Kuat, 2009, Manajemen Syariah, Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Kamaludin, Undang Ahmad, 2010, Etika Manajemen


Islam, Bandung: Pustaka Setia.

Karim, Adiwarman A., 2014., Ekonomi Mikro Islami,


Jakarta: Raja Grafindo Persada.

_________________, 2010, Bank Islam : Analisis Fiqh dan


Keuangan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kartajaya, Hermawan dan Muhammad Syakir Sula, 2006,


Syariah Marketing, Bandung: Mizan.

Kartono, Kartini, 1994, Pemimpin dan Kepemimpinan,


Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Kotler, Philip,2001, Manajemen Pemasaran di Indonesia;


Analisis, Perencanaan, Implementasi dan
Pengendalian, Jakarta: Salemba Empat.

Kountur, Ronny, 2004, Manajemen Risiko Operasional,


Jakarta : PPM.

Lidinillah, Mustafa Anshori, dkk, 2006, Pendidikan Agama


Islam, Yogyakarta: Badan Penerbit Filsafat UGM.

236 Nova Yanti Maleha, SE., MM


M. Munir dan Ilahi, Wahyu, 2006., Manajemen Dakwah,
Jakarta: Kencana.

Machfoedz, Masud dan Mahmud Machfoedz, 2008.,


Kewirausahaan; Metode, Manajemen, dan
Implementasi, Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Marwansyah, 2012., Manajemen Sumber Daya Manusia,


Bandung: Alfabeta.

Muhammad dan Alimin, 2004., Etika Perlindungan


Konsumen dalam Islam, Yogyakarta: BPFE.

Mukhtarom, Zaeni, 1996., Dasar-Dasar Manajemen


Dakwah, Yogyakarta: al-Amien Press.

Mursid, M., 2003., Manajemen Pemasaran, Jakarta: Bumi


Aksara.

Nawawi, Hadari dan M. Martini Hadari, 2000.,


Kepemimpinan Yang Efektif, Yogyakarta:
Gajamadha University Press.

Nawawi, Hadari, 1997., Administrasi Pendidikan,


Surabaya: CV. Haji Mas Agung.

Pulungan, Syahid Muamar, 1984., Manusia dalam Al-


Quran, Surabaya: Bina Ilmu.

Reza, J.J., 2010., Manage Your Time For Success; Cerdas


Mengelola Waktu untuk Mencapai Sukses,
Yogyakarta: Andi Offset

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 237


Rivai, Veithzal, 2003., Kepemimpinan dan Perilaku
Organisasi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

____________, 2012., Islamic Marketing; Membangun dan


Mengembangkan Bisnis dengan Praktik Marketing
Rasulullah SAW, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.

Rivai, Veithzal, Amiur Nuruddin, dan Faisar Ananda


Arfa, 2012., Islamic Business and Economic Ethics;
Mengacu Pada Al-Quran dalam Bisnis, Keuangan,
dan Ekonomi, Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Rustam, Bambang Rianto, 2013, Manajemen Risiko


Perbankan Syariah di Indonesia, Jakarta: Salemba
Empat.

Sandara, Khusnul Ika dan M. Asad Djalali, Manajemen


Waktu, Efikasi Diri, dan Prokrastinasi, dalam
Jurnal Persona, Jurnal Psikologi Indonesia, Sept. 2013,
Vol. 2, No. 3.

Sarwoto, 1979., Dasar-Dasar Organisasi Managemen,


Jakarta: Ghalia Indonesia.

Sedarmayanti, 2010.,Manajemen Sumber Daya Manusia;


Reformasi Birokrasi dan Manajemen Pegawai Negeri
Sipil, Bandung: PT. Refika Aditama.

Shihab, M. Quraish, 2007., Tafsir al-Misbah, Volume I,


Jakarta: Lentera Hati.

238 Nova Yanti Maleha, SE., MM


Shomad, Bukhari Abdul, 2010., Etika Qurani, Yogyakarta:
Pijar Cendekia.

Siagian, Sondang P., 1997., Sistem Informasi untuk


Mengambil Keputusan, Jakarta: Gunung Agung.

Sudarmiani. 2009., Diktat Manajemen Pendidikan, Madiun:


IKIP PGRI Madiun.

Sukamto, 1999., Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren,


Jakarta: Pustaka LP3ES.

Sukirno, Sudono, et.al,2004., Pengantar Bisnis, Jakarta:


Prenadamedia.

Suma, Muhammad Amin, 2012., Tafsir Ayat Ekonomi


(Teks, Terjemah, dan Tafsir), Jakarta: Amzah.

Sunaryo, T, 2007, Manajemen Risiko Finansial, Jakarta:


Salemba Empat.

Sunyoto, Danang, 2013., Dasar-Dasar Manajemen


Pemasaran; Konsep, Strategi, dan Kasus,Yogyakarta:
Caps.

Swastha, Bayu dan Irawan, 2005., Manajemen Pemasaran


Modern, Yogyakarta: Liberty.

Tanthowi, Jawahir, 1983., Unsur-unsur Manajemen


Menurut Ajaran Al-Qur'an, Jakarta: Pustaka al-
Husna.

Manajemen Syariah Konsep Teori dan Aplikasi 239


Widjaya, AW., 1987., Perencanaan Sebagai Fungsi
Manajemen, Jakarta: PT. Bina Aksara.

Wirawan, 2009, Konflik dan Manajemen Konflik; Teori,


Aplikasi, dan Penelitian, Jakarta: Salemba Empat.

Wojowarsito, Purwadarminta, 1974., Kamus Lengkap


Indonesia Inggris, Jakarta: Hasta.

240 Nova Yanti Maleha, SE., MM