Anda di halaman 1dari 2

Nama : Heli Yuliana Latif

NIM : 2016730047

Infeksi Virus Dengue

Infeksi Virus Dengue adalah penyakit yang timbul akibat gigitan nyamuk. Berkembang
sangat pesat 50 tahun terakhir dan endemic di seluruh wilayah WHO, kecuali region Eropa.
Berbeda halnya di Indonesia, penyakit ini merupakan masalah yang umum terjadi.

Pada tahun 1997 WHO mengklasifikasikan mengklasifikasikan Demam Berdarah ke


dalam 4 tingkat keparahan. Kelas ke III dan ke IV digambarkan sebagai kesulitan terparah.

Salah satu gejala yang menonjol yaitu terjadinya fluktuasi demam pada pasien. Saat ini,
banyak cara untuk mendeteksi penyakit tersebut. Tapi masih belum ada cara yang benar-benar
akurat dalam mendeteksi penyakit ini.

Virus dengue merupakan virus RNA beruntai yang termasuk keluarga Flaviviridae. Ada 4
serotipe yakni DENV-1, DENV-2, DENV-3 dan DENV-4. Keempat serotype ini menular ke
dalam tubuh manusia melalui nyamuk. Terutama Aedes aegypti, dan spesies lainnya seperti
Aedes Albopictus, Aedes polynesiensis dan beberapa spesises Aedes scutellaris kompleks.

Sebuah studi di Kuba tentang DHF/DSS menunjukkan bahwa orang-orang dari ras
Negroid memiliki risiko lebih rendah terkena DHF/DSS dibandingkan dengan ras Kaukasoid.
Temuan ini sejalan dengan laporan populasi di Afrika dan Black Karibia. Selain itu infeksi
sekunder, seseorang dengan golongan darah AB memiliki risiko yang lebih untuk mndapatkan
DHF kelas ke tiga.

Sebuah studi mengenai status gizi dilakukan di Vietnam dengan sasarannya yaitu bayi.
Pada studi ini berhasil mendapatkan informasi-informasi baru. Namun, meski status gizi mudah
untuk dinilai tetap harus ada studi lebih lanjut sebelum kita dapat menggunakannya sebagai
prediksi untuk penyakit dengue.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa reaksi kekebalan mungkin memainkan peran


dalam pengembangan DBD dan DDS.
Sitokin diproduksi oleh sel-sel imun bawaan dan respon imun spesifik. Monosit dan
splenik adalah target utama pada infeksi virus dengue. Sel lain dari respon imun bawaan seperti
dendrit, mastosit, sel endothelial, dan hepatosis juga dapat menjadi target. Peningkatan kadar
sitokin tertentu dapat digunakan sebagai prediksi dengue yang parah.

Sebuah studi tentang penyakit mewabah di Taiwan pada 644 pasien dengan infeksi virus
dengue menunjukkan bahwa pasien tersebut sebelumnya sudah terjangkit diabetes mellitus,
hipertensi, dan uremia. Menurut pedoman WHO, pasien seperti ini harus dirujuk ke rumah sakit.

Kesimpulanya,predictor dengue yang parah dapat ditetapkan dengan gejala-gejala yang


ada antara lain kondisi hidup bersama, ras kaukasoid, dan orang-orang dengan golongan darah
AB berpotensi terjangkit infeksi virus dengue. Di masa depan, beberapa tes akan ditambahkan
guna memprediksi gejala-gejala atau tanda-tanda infeksi virus dengue lainnya.