Anda di halaman 1dari 27

Pemanfaatan Ekstrak Lignin Kulit Kopi Sebagai Inhibitor

Organik Korosi Besi


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah:

Korosi

Disusun oleh:

Putu Ayu Widya Pradyani (2314100032)

Destrian Hervina (2314100079)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2017

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat
dan pertolongan-Nya dalam makalah dengan judul Pemanfaatan Ekstrak Lignin
Kulit Kopi Sebagai Inhibitor Organik Korosi Besi dapat diselesaikan dengan baik.
Karya tulis ini disusun dengan maksud utama yaitu untuk memenuhi tugas
makalah mata kuliah Korosi yang diberikan oleh dosen pengampuh mata kuliah Korosi.
Puji Syukur, penulisan makalah ini dapat terselesaikan tepat waktu berkat
dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima
kasih kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Samsudin Affandi, SU yang telah memberikan kami penugasan
dalam mata kuliah ini
2. Pihak-pihak yang mendukung dan membantu terealisasikannya penulisan karya
tulis ini, baik berupa dukungan, doa dan materi.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan, baik dari
aspek materi, sistematika penulisan, maupun dari aspek bahasa yang digunakan. Oleh
karena itu, semua saran perbaikan dan pembangunan untuk karya tulis ini penulis terima
dengan senang hati.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca
pada umumnya.

Surabaya, 1 April 2017

Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul....................................................................................................i
Kata Pengantar....................................................................................................ii
Daftar Isi..............................................................................................................iii
Abstrak.iv

2
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang.................................................................................................1
I.2 Perumusan Masalah.........................................................................................2
I.3 Tujuan..............................................................................................................2

BAB II DASAR TEORI


II.1 Pengertian Korosi...........................................................................................3
II.2 Faktor Penyebab Korosi..5
II.3 Bentuk-bentuk Korosi.8
II.4 Proses Korosi pada Besi.11
II.5 Dampak Korosi...13
II.6 Pencegahan Korosi.14
II.7 Pengertian Inhibitor Korosi17

BAB III PEMBAHASAN


III.1 Alat dan Bahan..19
III.2 Uji Inhibisi Korosi Besi.19
III.3 Analisa Data Inhibisi..20
III.4 Studi Thermodinamika...20
III.5 Hasil dan Pembahasan....23

BAB IV PENUTUP

Daftar Pustaka

2
Abstrak
Besi dapat mengalami korosi akibat pengaruh lingkungan. Salah satu cara
menghambat korosi yaitu menggunakan inhibitor organik. Kulit kopi merupakan
limbah industri dengan kandungan lignin yang diindikasikan dapat digunakan
sebagai inhibitor korosi. Lignin dipisahkan dari kulit kopi dengan metode ekstraksi
dan untuk mengetahui gugus fungsinya dilakukan uji IR. Inhibisi korosi besi
ditentukan dengan metode weight loss. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh
ekstrak lignin kulit kopi dengan variasi konsentrasi dan temperatur terhadap laju
korosi besi dalam medium korosi HCl 1 M. Studi termodinamika dilakukan untuk
mengetahui proses inhibisi ekstrak lignin kulit kopi. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa laju korosi menurun dengan penambahan konsentrasi lignin. Namun, variasi
temperatur menyebabkan meningkatnya laju korosi. Studi termodinamika
menghasilkan nilai Ea, H, S, and Goads yang menunjukkan bahwa ekstrak lignin
kulit kopi dapat menghambat korosi melalui proses adsorpsi fisik dan reaksi
berlangsung spontan.

Kata Kunci: Korosi, Inhibitor, Kulit Kopi, Ligni

3
BAB I

PENDAHULUAN

I.1Latar Belakang
Korosi pada logam menimbulkan kerugian tidak sedikit. Hasil riset yang
berlangsung tahun 2002 di Amerika Serikat memperkirakan, kerugian akibat korosi
yang menyerang permesinan industri, infrastruktur, sampai perangkat transportasi di
negara adidaya itu mencapai 276 miliar dollar AS. Ini berarti 3,1 persen dari Gross
Domestic Product (GDP)-nya. sebenarnya, negara-negara di kawasan tropis seperti
Indonesia paling banyak menderita kerugian akibat korosi ini. tetapi, tidak ada data
yang jelas di negara-negara tersebut tentang jumlah kerugian setiap tahunnya.
Korosi yang dipengaruhi oleh mikroba merupakan suatu inisiasi atau aktifitas
korosi akibat aktifitas mikroba dan proses korosi. Korosi pertama diindentifikasi
hampir 100 jenis dan telah dideskripsikan awal tahun 1934. bagaimanapun korosi
yang disebabkan aktifitas mikroba tidak dipandang serius saat degradasi pemakaian
sistem industri modern hingga pertengahan tahun1970- an. Ketika pengaruh serangan
mikroba semakin tinggi, sebagai contoh tangki air stainless steel dinding dalam
terjadi serangan korosi lubang yang luas pada permukaan sehingga para industriawan
menyadari serangan tersebut. Sehingga saat itu, korosi jenis ini merupakan salah satu
faktor pertimbangan pada instalasi pembangkit industri, industri minyak dan gas,
proses kimia, transportasi dan industri kertaspulp. Selama tahun 1980 dan berlanjut
hingga awal tahun 2000, fenomena tesebut dimasukkan sebagai bahan perhatian
dalam biaya operasi dan pemeriksaan sistem industri. Dari fenomena tersebut, banyak
institusi mempelajari dan memecahkan masalah ini dengan penelitian-penelitian
untuk mengurangi bahaya korosi tersebut.
Salah satu langkah mencegah terjadinya korosi adalah dengan inhibitor korosi.
Inhibitor korosi yaitu suatu zat kimia yang bila ditambahkan kedalam suatu
lingkungan, dapat menurunkan laju penyerangan korosi lingkungan itu terhadap suatu
logam. Dewasa ini terdapat 6 jenis inhibitor, yaitu inhibitor yang memberikan

1
pasivasi anodik, pasivasi katodik, inhibitor ohmik, inhibitor organik, inhibitor
pengendapan dan inhibitor fasa uap. Pembahasan mengenai inhibitor korosi dapat
membantu kita terhindar dari dampak peristiwa korosi yang bersifat sangat
merugikan.

Bahan inhibitor menguntungkan untuk menangani logam-logam besi karena


dapat menghambat laju korosi. Di industri, inhibitor berfungsi untuk mengurangi
korosivitas lingkungan. Di boiler sering ditambahkan inhibitor fosfat maupun
hydrazin. Hydrazin sering disebut sebagai oksigen seavenger yang efektif untuk
mengambil oksigen dari lingkungan, sehingga elektrolit dalam boiler korosivitasnya
berkurang dan menyebabkan laju korosi menjadi turun. Sejauh ini, penggunaan
inhibitor merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah korosi karena
biayanya yang relative murah dan proses yang sederhana.
I.2 Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan korosi?
b. Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya proses korosi?
c. Apa saja bentuk-bentuk korosi?
d. Bagaimana proses terjadinya korosi pada besi?
e. Apa itu inhibitor korosi?
f. Apa saja jenis-jenis dari inhibitor korosi?
g. Bagaimana mekanisme kerja ekstrak lignin kulit kopi sebagai inhibitor korosi?
I.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian dari korosi
b. Untuk mengetahui apa saja faktor penyebab korosi
c. Untuk mengetahui bentuk-bentuk korosi
d. Untuk mengetahui proses terjadinya korosi pada besi
e. Mempelajari pemakaian inhibitor dalam pencegahan korosi
f. Mengetahui mekanisme kerja ekstrak lignin kulit kopi sebagai inhibitor
organik korosi

BAB II

2
DASAR TEORI

II.1 Pengertian Korosi


Korosi adalah teroksidasinya suatu logam. Korosi adalah kerusakan atau
degradasi logam akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi dapat juga
diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia
atau elektrokimia dengan lingkungan. Dalam kehidupan sehari - hari, besi yang
teroksidasi disebut dengan karat dengan rumus Fe2O3xH2O. Proses perkaratan
termasuk proses elektrokimia, di mana logam Fe yang teroksidasi bertindak sebagai
anode dan oksigen yang terlarut dalam air yang ada pada permukaan besi bertindak
sebagai katode.
Reaksi perkaratan:
Anode : Fe Fe2+ + 2 e
Katode : O2 + 2H2O 4e + 4 OH
Fe2+ yang dihasilkan, berangsur-angsur akan dioksidasi membentuk Fe3+.
Sedangkan OH akan bergabung dengan elektrolit yang ada di alam atau dengan ion
H+ dari terlarutnya oksida asam (SO2, NO2) dari hasil perubahan dengan air hujan.
Dari hasil reaksi di atas akan dihasilkan karat dengan rumus senyawa Fe 2O3xH2O.
Karat ini bersifat katalis untuk proses perkaratan berikutnya yang disebut autokatalis.
a. Kerugian
Besi yang terkena korosi akan bersifat rapuh dan tidak ada kekuatan. Ini sangat
membahayakan kalau besi tersebut digunakan sebagai pondasi bangunan atau
jembatan. Senyawa karat juga membahayakan kesehatan, sehingga besi tidak bisa
digunakan sebagai alat-alat masak, alat-alat industri makanan/farmasi/kimia.

b. Pencegahan
Pencegahan besi dari perkaratan bisa dilakukan dengan cara berikut.
1) Proses pelapisan
Besi dilapisi dengan suatu zat yang sukar ditembus oksigen. Hal ini dilakukan dengan
cara dicat atau dilapisi dengan logam yang sukar teroksidasi. Logam yang digunakan
adalah logam yang terletak di sebelah kanan besi dalam deret volta (potensial reduksi
lebih negatif dari besi). Contohnya: logam perak, emas, platina, timah, dan nikel.

3
2) Proses katode pelindung (proteksi katodik)
Besi dilindungi dari korosi dengan menempatkan besi sebagai katode, bukan sebagai
anode. Dengan demikian besi dihubungkan dengan logam lain yang mudah
teroksidasi, yaitu logam di sebelah kiri besi dalam deret volta (logam dengan
potensial reduksi lebih positif dari besi). Hanya saja logam Al dan Zn tidak bisa
digunakan karena kedua logam tersebut mudah teroksidasi, tetapi oksida yang
terbentuk (A12O3/ZnO) bertindak sebagai inhibitor dengan cara menutup rapat logam
yang di dalamnya, sehingga oksigen tidak mampu masuk dan tidak teroksidasi.
Logam-logam alkali, seperti Na, K juga tidak bisa digunakan karena akan bereaksi
dengan adanya air. Logam yang paling sesuai untuk proteksi katodik adalah logam
magnesium (Mg). Logam Mg di sini bertindak sebagai anode dan akan terserang karat
sampai habis, sedang besi bertindak sebagai katode tidak mengalami korosi.
Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya
(Roberge, 1999). Definisi lainnya adalah korosi merupakan rusaknya logam karena
adanya zat penyebab korosi, korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya
menyerang logam (Gunaltun, 2003). Pada dasarnya peristiwa korosi adalah reaksi
elektrokimia. Secara alami pada permukaan logam dilapisi oleh suatu lapisan film
oksida (FeO.OH). Pasivitas dari lapisan film ini akan rusak karena adanya pengaruh
dari lingkungan, misalnya adanya penurunan pH atau alkalinitas dari lingkungan
ataupun serangan dari ion-ion klorida. Pada proses korosi terjadi reaksi antara ion-ion
dan juga antar elektron. Anode adalah bagian dari permukaan logam dimana metal
akan larut.
Reaksinya :
Fe 2 Fe2+ + 4e-
Dengan kata lain ion-ion besi Fe++ akan melarut dan elektron-elektron e- tetap tinggal
pada logam. Katode adalah bagian permukaan logam dimana elektron-elektron 4e -
yang tertinggal akan menuju kesana (oleh logam) dan bereaksi dengan O2 dan H2O.
O2 + H2O + 4e- > 4 OH-
Ion-ion 4 OH- di anode bergabung dengan ion 2 Fe2+ dan membentuk 2 Fe(OH)2. Oleh
kehadiran zat asam dan air maka terbentuk karat Fe2O3.
Reaksi perkaratan besi

4
a. Anoda: Fe(s) Fe2+ + 2e
Katoda: 2 H+ + 2 e- H2
2 H2O + O2 + 4e- 4OH-
b. 2H+ + 2H2O + O2 + 3Fe 3Fe2+ + 4OH- + H2
Fe(OH)2 oleh O2 di udara dioksidasi menjadi Fe2O3 . nH2O
Faktor yang berpengaruh
1. Kelembaban udara
2. Elektrolit
3. Zat terlarut pembentuk asam (CO2, SO2)
4. Adanya O2
5. Lapisan pada permukaan logam
6. Letak logam dalam deret potensial reduksi

II.2 Faktor Penyebab Korosi


Pada umumnya ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya percepatan
korosi, yaitu:
a. Uap air
Dilihat dari reaksi yang terjadi pada korosi, air merupakan salah satu
faktor penting untuk berlangsungnya proses korosi. Udara yang banyak
mengandung uap air (lembab) akan mempercepat berlangsungnya proses
korosi
b. Oksigen
Udara yang banyak mengandung gas oksigen akan menyebabkan terjadinya korosi.
Korosi pada permukaan logam merupakan proses yang mengandung reaksi redoks.
Reaksi yang terjadi ini merupakan sel Volta mini. sebagai contoh, korosi besi terjadi
apabila ada oksigen (O2) dan air (H2O). Logam besi tidaklah murni, melainkan
mengandung campuran karbon yang menyebar secara tidak merata dalam logam
tersebut. Akibatnya menimbulkan perbedaan potensial listrik antara atom logam
dengan atom karbon (C). Atom logam besi (Fe) bertindak sebagai anode dan atom C
sebagai katode. Oksigen dari udara yang larut dalam air akan tereduksi, sedangkan air
sendiri berfungsi sebagai media tempat berlangsungnya reaksi redoks pada peristiwa
korosi. Semakin banyak jumlah O2 dan H2O yang mengalami kontak denan

5
permukaan logam, maka semakin cepat berlangsungnya korosi pada permukaan
logam tersebut.
c. Larutan garam
Elektrolit (asam atau garam) merupakan media yang baik untuk melangsungkan
transfer muatan. Hal itu mengakibatkan elektron lebih mudah untuk dapat diikat oleh
oksigen di udara. Air hujan banyak mengandung asam, dan air laut banyak
mengandung garam, maka air hujan dan air laut merupakan korosi yang utama.
Larutan garam menyerang lapisan mild stell dan lapisan stainless stell selain itu dapat
menyebabkan terjadinya pitting (kebocoran), crevice (retek / celah), korosi, dan juga
pecahnya alooys (paduan logam yang bersifat tahan karat). Larutan ini biasanya
ditemukan pada campuran minyak-air dalam konsentrasi yang tinggi yang akan
menyebabkan proses korosi. Proses ini disebabkan oleh kenaikan konduktivitas
larutan garam dimana larutan garam lebih konduktif sehingga menyebabkan laju
korosi juga akan lebih tinggi. Sedangkan pada kondisi kelautan garam dapat
mempercepat laju korosi logam karena larutan garamnya lebih konduktif, sama
halnya dengan kecepatan alir dari air laut yang sebanding dengan peningkatan laju
korosi, akibatnya terjadi gesekan, tegangan dan temperatur yang mendukung
terjadinya korosi.
d. Permukaan logam yang tidak rata
Permukaan logam yang tidak rata memudahkan terjadinya kutub-kutub muatan, yang
akhirnya akan berperan sebagai anode dan katode. Permukaan logam yang licin dan
bersih akan menyebabkan korosi sukar terjadi, sebab sukar terjadi kutub-kutub yang
akan bertindak sebagai anode dan katode.
e. Keberadaan Zat Pengotor
Zat Pengotor di permukaan logam dapat menyebabkan terjadinya reaksi reduksi
tambahan sehingga lebih banyak atom logam yang teroksidasi. Sebagai contoh,
adanya tumpukan debu karbon dari hasil pembakaran BBM pada permukaan logam
mampu mempercepat reaksi reduksi gas oksigen pada permukaan logam. Dengan
demikian peristiwa korosi semakin dipercepat.
f. Kontak dengan Elektrolit

6
Keberadaan elektrolit, seperti garam dalam air laut dapat mempercepat laju korosi
dengan menambah terjadinya reaksi tambahan. Sedangkan konsentrasi elektrolit
yang besar dapat melakukan laju aliran elektron sehingga korosi meningkat.
g. Temperatur
Temperatur mempengaruhi kecepatan reaksi redoks pada peristiwa korosi. Secara
umum, semakin tinggi temperatur maka semakin cepat terjadinya korosi. Hal ini
disebabkan dengan meningkatnya temperatur maka meningkat pula energi kinetik
partikel sehingga kemungkinan terjadinya tumbukan efektif pada reaksi redoks
semakin besar. Dengan demikian laju korosi pada logam semakin meningkat. Efek
korosi yang disebabkan oleh pengaruh temperatur dapat dilihat pada perkakas-
perkakas atau mesin-mesin yang dalam pemakaiannya menimbulkan panas akibat
gesekan (seperti cutting tools ) atau dikenai panas secara langsung (seperti mesin
kendaraan bermotor).
h. pH
Peristiwa korosi pada kondisi asam, yakni pada kondisi pH < 7 semakin besar,
karena adanya reaksi reduksi tambahan yang berlangsung pada katode yaitu:
2H+(aq) + 2e- H2
Adanya reaksi reduksi tambahan pada katode menyebabkan lebih banyak atom
logam yang teroksidasi sehingga laju korosi pada permukaan logam semakin besar.
i. Metalurgi
Permukaan logam
Permukaan logam yang lebih kasar akan menimbulkan beda potensial dan memiliki
kecenderungan untuk menjadi anode yang terkorosi.Permukaan logam yang kasar
cenderung mengalami korosi
Efek Galvanic Coupling
Kemurnian logam yang rendah mengindikasikan banyaknya atom-atom unsur lain
yang terdapat pada logam tersebut sehingga memicu terjadinya efek Galvanic
Coupling , yakni timbulnya perbedaan potensial pada permukaan logam akibat
perbedaan E antara atom-atom unsur logam yang berbeda dan terdapat pada
permukaan logam dengan kemurnian rendah. Efek ini memicu korosi pada
permukaan logam melalui peningkatan reaksi oksidasi pada daerah anode.
j. Mikroba

7
Adanya koloni mikroba pada permukaan logam dapat menyebabkan peningkatan
korosi pada logam. Hal ini disebabkan karena mikroba tersebut mampu mendegradasi
logam melalui reaksi redoks untuk memperoleh energi bagi keberlangsungan
hidupnya. Mikroba yang mampu menyebabkan korosi, antara lain: protozoa, bakteri
besi mangan oksida, bakteri reduksi sulfat, dan bakteri oksidasi sulfur-sulfida.
Thiobacillus thiooxidans Thiobacillus ferroxidans.

II.3 Bentuk-Bentuk Korosi


Bentuk-bentuk korosi yang umum ditemukan pada korosi logam di lingkungan
laut, yaitu;
a. Korosi merata (uniform attack)
Yaitu korosi yang terjadi pada pada permukaan logam yang berbentuk
pengikisan permukaan logam secara merata sehingga ketebalan logam berkurang
sebagai akibat permukaan terkonvensi oleh produk karat yang biasanya terjadi pada
peralatan-peralatan terbuka, misalnya permukaan luar pipa.
Bentuk korosi ini adalah sangat umum dan dicirikan oleh baja yang berkarat
dilingkungan udara. Disebut merata karena semua permukaan metal terexpose
diserang dengan laju yang kurang lebih sama, tetapi metal yang hilang jarang sekali
betul-betul merata. Menurut teori electrochemical mixed potential, proses anodic dan
katodik terdistribusi merata pada seluruh permukaan metal. Dengan demikian agar
bentuk korosi ini terjadi, diperlukan sistem korosi yang menunjukkan keseragaman
(homogenitas) baik pada metal, media (perbedaan konsentrasi) dan faktor-faktor
korosi lainnya.
Pada korosi tipe ini, laju korosi dapat dinyatakan dalam bentuk kehilangan ke
tebalan metal menurut waktu misalnya mm/tahun atau mikrometer/tahun. Biasanya
laju korosi hanya dinyatakan pada satu muka saja, dan bila kedua metal terserang
korosi, total kehilangan ketebalan metal menjadi dua kali.
b. Korosi setempat (local corrosion)
Dalam beberapa hal perbedaan antara korosi merata dan korosi setempat tidak begitu
tajam, sungguhpun demikian adalah mungkin untuk memberikan beberapa bentuk
korosi, mulai dari korosi merata sampai korosi yang menghasilkan sumuran dalam,
korosi setempat sulit diduga

8
c. Korosi galvanik (galvanik corrosion)
Bentuk korosi ini terjadi bila dua (atau lebih) logam yang berbeda secara listrik
berhubungan satu sama lainnya berada dalam lingkungan korosif yang sama. Dalam
kasus demikian, logam yang berpotensial paling negatif (dalam keadaan tidak
berhubungan) atau terkorosi, sebaliknya logam lain (logam mulia dengan potensial
korosi tinggi akan kurang terkorosi).
Korosi galvanik cenderung terlokalisir, kearah pembentukan sumuran, dan
dalam sistem pipa akan terjadi kebocoran-kebocoran. Dia merupakan masalah
perencanaan karena dalam pabrik, sistem pipa dan rangka banyak melibatkan
pemakaian lebih dari satu macam metal.
Bila berbagai macam paduan digunakan dalam perencanaan dapat diharapkan akan
terjadi masalah-masalah dan masalah tersebut lebih kritis pada lingkungan laut. Oleh
karena itu harus diusahakan pemakaian paduan logam yang berbeda-beda, haruslah
jangan sampai menimbulkan masalah korosi
d. Korosi sumuran (pitting)
Korosi sumuran termasuk korosi setempat dimana daerah kecil dari permukaan metal,
terkorosi membentuk sumuran. Biasanya kedalaman sumur lebih besar dari
diameternya. Mekanisme terbentuknya korosi sumuran,sangat kompleks dan sulit
diduga, sungguhpun demikian ada situasi tertentu dimana korosi sumuran dapat
diantisipasi:
Pada baja karbon yang dilapisi oleh mill scale dibawah kondisi tercelup, terutama air
laut, akan terbentuk beda potensial antara mill scale dan baja hingga pecahnya mill
scale mengarah pada situasi anode kecil / katoda besar.
Pada paduan yang mengandalkan pada lapis pasif untuk sifat tahan korosinya seperti
stainless steel, setiap rusaknya (pecah) lapis pasif, cenderung pembetukan korosi
sumuran.
Dari segi praktis korosi sumuran terbentuk didalam air mengandung chloride, oleh
karena itu sering terjadi pada kodisi dilingkungan laut.
e. Korosi erosi
Gerakan air laut, seperti juga fluida lainnya dapat menimbulkan aksi mekanis
misalnya erosi (pengikisan), dengan korosi yang di timbulkannya tetap elektrokimia

9
sifatnya. Immpingement attack dan cavitation adalah bentuk extrem dari tipe korosi
ini.
Korosi erosi cenderung mengarah pada penghilangan lapis protektif dari permukaan
metal oleh aksi partikel abrasive yang ada di dalam air. Umumnya laju serangan
korosi membesar dengan membesarnya kecepatan. Ada lagi bentuk erosi atau
mekanisme lain, misalnya korosi lembaran baja yang terpancang di pantai,
dipengaruhi oleh aksi abrasive dari pasir, dibantu oleh aksi pasang/surut atau angin.
Pada kasus ini lapis protektif di hilangkan
f. Impingement attack
Seperti namanya bentuk serangan terjadi ketika larutan menimpa dengan kecepatan
cukup besar pada permukaan metal. Hal ini dapat terjadi pada sistem pipa dimana
perubahan arah tiba-tiba dari aliran pada lengkungan dapat mengakibatkan kerusakan
setempat, bagian lain dari pipa tidak terpengaruh. Bentuk korosi ini akan terjadi pada
setiap situasi dimana ada impingement (timpa bentur,tekan) air yang biasanya
mengandung gelembung udara pada kecepatan serendah 1 m/s.
g. Perusakan cavitasi
Bentuk perusakan korosi ini disebabkan oleh terbentuk dan pecahnya gelembung di
dalam air laut, pada permukaan metal. Kondisi pada kecepatan tinggi dan perubahan
tekanan cenderung menimbulkan korosi cavitasi. Serangan biasanya terlokalisir dan
terjadi di daerah tekanan rendah, air bergejolak (boil) dan terbentuk dari partial
vacumm. Bila air kembali ke tekanan normal, cavity pecah, dengan membebaskan
energi. Hal ini mengarah pada perusakan permukaan paduan logam.
h. Korosi celah (crevice corrosion)
Korosi ini terbentuk apabila terbentuk celah antara dua permukaan dengan bagian
dalam celah lebih anodic dari permukaan luar. Pada dasarnya korosi celah timbul dari
formasi differensial aeration cell, dimana metal yang terexpose di luar crivice lebih
katodic terhadap metal di dalam celah. Arus katodic yang besar bekerja pada daerah
anodic yang kecil menghasilkan serangan korosi lokal yang intensif.

II.4 Proses Korosi Pada Besi

10
Proses perkaratan (korosi) adalah reaksi elektro kimia (redoks). Pada
permukaan besi (Fe) bisa terbentuk bagian anoda dan katoda yang disebabkan oleh
dua hal:
a. Perbedaan konsentrasi oksigen terlarut pada permukaan besi
Tetesan air pada permukaan besi mengandung perbedaan konsentrasi oksigen terlarut.
Pada bagian pinggir mengandung lebih oksigen terlarut, sehingga di bagian ini
bertindak sebagai katoda (reaksi reduksi). Pada bagian tengah tetesan oksigen terlarut
relatif sedikit sehingga bagian ini bertindak sebagai anoda (reaksi oksidasi).
Fe Fe2+ + 2e-
Ion Fe2+ bergerak ke katoda dan teroksidasi lebih lanjut menjadi Fe 3+ / besi (III) dalam
senyawa besi (III) oksida terhidrat. Dengan adanya garam (oksida asam) atau zat
elektrolit akan mempercepat reaksi perkaratan
b. Tercampur besi oleh karbon atau logam lain yang mempunyai E0red lebih besar dari
besi
Karena E0 red besi lebih kecil dari logam tersebut, maka besi akan teroksidasi
(anoda), hal ini dapat menyebabkan terjadinya korosi atau menghasilkan karatan besi.
Secara keseluruhan perkaratan besi
adalah sebagai berikut :
Bila besi bersentuhan dengan oksigen dan air yang bersifat asam, yakni oksida-kosida
berikut akan terjadi :
Fe + O2 + 2H+ Fe2+ + H2O
Reaksi setengah redoksnya :
Katodik : O2 + 2H+ + 2e- H2O = + 1,23 volt
Anodik : Fe Fe2+ + 2e- = + 0,44 volt
Fe + O2 + 2H+ Fe2+ + H2O
Reaksi di atas berlangsung spontan.
Besi (11) itu seterusnya dioksidasi oleh oksigen membentuk karat besi atau oksida
besi (111) terhidrasi. Reaksinya :
Katodik : O2 + 2H+ + 2e- H2O = + 1,23 volt
Anodik : 2 Fe2+ 2Fe3+ + 2e = - 0,77 volt
2 Fe2+ + O2 + 2H+ 2Fe3+ + H2O = + 0,46 volt

11
Reaksi tersebut merupakan reaksi spontan, selanjutnya :
2 Fe3+ + ( x+3) H2O Fe2O3.x H2O + 6 H+
Fe2O3.x H2O inilah yang disebut sebagai karat besi dan ion H + yang dihasilkan dapat
mempercepat reaksi korosi selanjutnya.Ion Fe di alam akan teroksidasi lagi
membentuk Fe2+ atau Fe3+ . Sedangkan ion OH akan bereaksi dengan elektrolit yang
ada di lingkungan biasanya dengan ion H+ dari reaksi air hujan dan dengan gas-gas
pencemar (SOx, NOx) yang di kenal dengan hujan asam.Selanjutnya oleh oksigen di
udara besi (II) di oksidasi dan sebagai hasil reaksi akhir terbentuk Fe 2O3.x(H2O). Zat
ini dapat bertindak sebagai autokatalis pada proses perkaratan.Yaitu karat yang dapat
mempercepat proses perkaratan berikutnya. Pada umumnya logam-logam yang
mempunyai potensial elektroda negatif lebih mudah mengalami korosi. Logam mulia,
logam yang mempunyai potensial elektroda positif, sukar mengalami korosi.
Kedudukan logam dalam deret potensial bukan satu-satunya faktor yang
menyebabkan korosi. Faktor lain yang turut juga menentukan ialah lapisan pada
permukaan logam. Alumunium dan seng mudah dioksidasi dalam udara, akan tetapi
lapisan tipis dari oksida yang terbentuk pada permukaan melindungi bagian
bawahnya terhadap korosi selanjutnya.Kedua logam ini, alumunium dan seng
mengalami oksidasi yang kurang sempurna di udara jika dibandingkan dengan besi
yang kurang aktif. Karat yang terbentuk di permukaan besi merupakan lapisan tipis
yang berpori sehingga bagian bawahnya mudah mengalami korosi
II.5 Dampak Korosi
Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan
berlangsung spontan, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama
sekali. Korosi hanya bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga
memperlambat proses kerusakannya. Korosi pada logam menimbulkan kerugian yang
tidak sedikit. Hasil riset yang berlangsung tahun 2002 di Amerika Serikat
memperkirakan kerugian akibat korosi yang menyerag permesinan industri,
infrastruktur, samapai perangkat transportasi di negara adidaya tersebut mencapai 276
miliar dollar AS. Jembatan yang runtuh akibat korosi yang terjadi pada tiang
penahannya.

12
Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung dan
kerugian tidak langsung. Kerugian langsung berupa terjadinya kerusakan pada
peralatan, permesinan atau struktur bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung
berupa terhentinya aktivitas produksi, karena terjadinya pergantian peralatan yang
rusak akibat korosi, bahkan kerugian tidak langsung dapat berupa terjadinya
kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa, seperti kejadian runtuhnya jembatan
akibat korosi, terjadinya kebakaran akibat kebocoran pipa gas karena korosi, dan
meledaknya pembangkit tenaga nuklir akibat terjadinya korosi pada pipa uapnya.
korosi yang menyebabkan kebocoran pada pipa yang terbuat dari logam
II.6 Pencegahan Korosi
Ada beberapa usaha yang dapat ditempuh dalam upaya mencegah terjadinya korosi,
yaitu:
a. Cara pelapisan (coating)
Pelapisan adalah cara umum dan paling banyak di terapkan dalam istilah tonase baja,
untuk mengendalikan korosi, untuk melindungi/isolasi paduan logam dari lingkungan
yang korosif. Akan tetapi dalam prakteknya timbul banyak problem dan biasanya
kurang perhatian tentang masalah itu. Tersedia banyak sekali macam pelapis dan yang
paling umum adalah cat. Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat
menghindarkan kontak dengan udara dan air. Cat yang mengandung timbel dan zink
(seng) akan lebih baik, karena keduanya melindungi besi terhadap korosi.
Kontak antara besi dengan oksigen dan air dapat dicegah dengan melapisi besi
dengan cat atau dengan logam lain. Hal ini dikarenakan jika besi dilapisi dengan cat
atau logam lain yang lebih sukar teroksidasi (logam yang mempunyai Enol lebih
besar).
Yang akan bereaksi dengan udara adalah lapisan luarnya saja sehingga logam tersebut
bisa dilindungi oleh logam tersebut.
Jika logam seperti seng dan timah mengalami korosi, senyawa yang terbentuk akan
melindungi logam di bawahnya dari korosi selanjutnya. Seng, Zn dan timah dapat
digunakan sebagai logam pelapis untuk melindungi besi dan korosi.
Namun perlu diperhatikan potensial elektrode standar seng dan timah terhadap besi.
Fe2+ (aq) + 2e Fe(s) EO = - 0,44 volt
2+
Zn (aq) + 2e Zn(s) EO =- 0,76 volt

13
Sn2+ (aq) + 2e Sn(s) EO =- 0,14 volt
Seng lebih mudah di oksidasi daripada besi. Jika besi dilapisi dengan seng, besi tidak
akan berkarat walaupun lapisan seng tersebut berlubang sekalipun. Besi lebih mudah
dioksidasi daripada timah. Jika besi dilapisi dengan timah, besi tidak akan berkarat.
b. Cara proteksi katodik (katode pelindung)
Cara ini digunakan terutama untuk logam besi yang di tanam di dalam tanah.
Prinsipnya adalah logam besi di hubungkan denga logam lain yang bertindak sebagai
anode dan besi sebagai katode. Jadi, logam yang digunakan untuk melindungi besi
harus yang lebih mudah teroksidasi daripada logam besi, yaitu memiliki potensial
reduksi yang lebih negatif daripada besi. Umumnya digunakan logam Magnesium
(Mg). Logam alkali tidak dapat di gunakan karena reaktif.Logam alumunium(Al) dan
seng (Zn) tidak dapat digunakan karena oksida logam tersebut (Al2O3 atau ZnO) akan
menghambat proses oksidasi berikutnya dengan cara menutupi permukaan logam.
Pipa besi misalnya untuk air atau minyak yang ditanam di dalam tanah harus
dilindungi. Untuk mencegah korosi pada pipa-pipa ini batang logam yang lebih aktif,
seperti batang Magnesium (Mg) atau seng (Zn) ditanam di dekat pipa dan di
hubungkan dengan kawat, batang magnesium akan mengalami oksidasi dan Mg yang
rusak dapat diganti dalam jangka waktu tertentu sehingga dengan demikian pipa yang
terbuat dari besi itu terlindung dari korosi. Korosi besi ini juga dapat dicegah dengan
menghubungkan besi tersebut dengan kutub negatif sumber listrik.
Proteksi katodik juga merupakan teknik penanggulangan korosi komponen baja
jembatan, khususnya pada bagian tiang pancang pipa baja yang berada dalam
lingkungan air dan atau tanah karena pada bagian tersebut relatif sulit dilakukan
teknik penanggulangan korosi dengan teknik yang lebih murah yaitu pengecatan.
Pada prinsipnya, korosi terjadi karena adanya aliran elektron dari bagian tiang
pancang pipa baja (anoda) yang diikuti dengan perubahan logam menjadi ion logam
(karat) ke bagian tiang pancang pipa baja lain yang karena kualitas baja atau kondisi
lingkungannya menjadi katoda. Pada proteksi katodik, terjadinya kerusakan baja
akibat aliran elektron dari anoda ke katoda ditanggulangi dengan memberikan
pasokan elektron secukupnya pada seluruh struktur baja yang dilindungi atau dengan
kata lain menjadikan seluruh struktur baja tersebut menjadi katoda yang kaya akan

14
elektron. Dilihat dari cara memasok elektron, proteksi katodik terbagi dalam dua cara,
yaitu:
Metoda arus terpasang (impressed current) yaitu pasokan elektron dilakukan dengan
cara menghubungkan tiang pancang pipa baja dengan katoda pada suatu sumber
listrik. Metoda ini menggunakan sumber arus searah dari luar, misalnya Transformer
Rectifier, DC Generator, dan lain-lain. Arus listrik pada sistem ini dialirkan ke
permukaan logam yang diproteksi melalui anoda pembantu, misalnya Anoda
Graphite, Baja, Platina, dan Besi Tuang. Keuntungan besar dari metoda arus
terpasang adalah bahwa sistem ini dapat menggunakan anoda inert atau anoda yang
tahan karat seperti platina dan karbon.
Metoda anoda korban (sucricifial anoda) yaitu pasokan elektron dilakukan dengan
cara menghubungkan tiang pancang pipa baja dengan logam lain sebagai anoda
korban yang memiliki potensial lebih rendah. Pada cara ini terjadi aliran elektron dari
logam dengan potensial yang lebih rendah ke tiang pancang pipa baja yang
potensialnya lebih tinggi.
Dengan demikian maka tiang pancang pipa baja akan terlindung dari korosi namun
sebagai konsekwensinya logam anoda dalam waktu tertentu akan rusak/habis dan
selanjutnya dapat diganti atau diperbaharui. Mengganti anoda lebih ringan secara
teknik maupun ekonomis dibanding mengganti tiang pancang pipa baja.
c. Perancangan
Dari segi korosi, perancangan dianggap berkaitan dengan perencanaan yang baik dan
pembangunan proyek. Ia meliputi pemilihan material dan pemilihan cara
pengendaliannya dalam batas perancangan keseluruhan. Perencanaan dan
perancangan cara pengendalian korosi adalah merupakan pemecahan masalah yang
baik terhadap persoalan-persoalan yang di hadapi.
d. Anoda karbon
Cara lain untuk mencegah korosi besi adalah dengan menggunakan anoda karbon.
Dengan membandingkan potensial reduksi standar besi dan magnesium.
Fe2+ + 2e Fe(s) EO = -0,41 volt
Mg2+ + 2e Mg(s) EO =-2,39 volt

15
Terlihat bahwa Mg2+ lebih sulit direduksi dibandingkan dengan Fe2+ atau sebaliknya,
Mg(s) lebih mudah dioksidasi daripada Fe(s). Sepotong Mg yang terhubung dengan
besi akan lebih cenderung dioksidasi dibandingkan dengan besi, dan sekali terpakai
oleh oksidasi harus diganti. Metode ini biasanya digunakan untuk melindungi
lambung kapal, jembatan, dan pompa air besi dari korosi. Pelat magnesium
dihubungkan dengan interval yang teratur sepanjang potongan pipa yang terkubur,
dan ini jauh lebih mudah untuk menggantikannya secara periodik dari pada
mengganti keseluruhan pipa
e. Pelumuran dengan Oli atau Gemuk
Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin. Oli dan gemuk mencegah
kontak dengan air.
f. Pembalutan dengan Plastik
Berbagai macam barang misalnya rak piring dan keranjang sepeda dibalut dengan
plastik. Plastic mencegah kontak dengan udara dan air.
II.7 Pengertian Inhibitor Korosi
Inhibitor adalah zat yang menghambat atau menurunkan laju reaksi kimia.
Sifat inhibitor berlawanan dengan katalis, yang mempercepat laju reaksi. Inhibitor
korosi adalah zat yang dapat mencegah atau memperlambat korosi logam.
Inhibitor korosi sendiri didefinisikan sebagai suatu zat yang apabila
ditambahkan dalam jumlah sedikit ke dalam lingkungan akan menurunkan serangan
korosi lingkungan terhadap logam. Mekanisme penghambatannya terkadang lebih
dari satu jenis. Sejumlah inhibitor menghambat korosi melalui cara adsorpsi untuk
membentuk suatu lapisan tipis yang tidak nampak dengan ketebalan beberapa
molekul saja, ada pula yang karena pengaruh lingkungan membentuk endapan yang
nampak dan melindungi logam dari serangan yang mengkorosi logamnya dan
menghasilkan produk yang membentuk lapisan pasif, dan ada pula yang
menghilangkan konstituen yang agresif.
Dewasa ini terdapat 6 jenis inhibitor, yaitu inhibitor yang memberikan
pasivasi anodik, pasivasi katodik, inhibitor ohmik, inhibitor organik, inhibitor
pengendapan, dan inhibitor fasa uap. Pembahasan mengenai kimia dari inhibitor

16
korosi dapat menyangkut sifat dari inhibitor, interaksi inhibitor dengan berbagai
lingkungan yang agresif serta pengaruhnya terhadap proses korosi.
Secara umum korosi dapat digolongkan berdasarkan rupanya, keseragaman
atau keserbanekaannya,baik secara mikroskopis maupun makroskopis. Dua jenis
mekanisme utama dari korosi adalah berdasarkan reaksi kimia secara langsung, dan
reaksi elektrokimia. Korosoi dapat terjadi didalam medium kering dan juga medium
basah. Sebagai contoh korosi yang berlangsung didalam medium kering adalah
penyerangan logam besi oleh gas oksigen (O 2) atau oleh gas belerang dioksida (SO2).
Didalam medium basah, korosi dapat terjadi secara seragam maupun secara
terlokalisasi. Contoh korosi seragam didalam medium basah adalah apabila besi
terendam didalam larutan asam klorida (HCl). Korosi didalam medium basah yang
terjadi secara terlokalisasi ada yang memberikan rupa makroskopis, misalnya
peristiwa korosi galvani sistim besi - seng, korosi erosi, korosi retakan, korosi
lubang, korosi pengelupasan, serta korosi pelumeran, sedangkan rupa yang
mikroskopis dihasilkan misalnya oleh korosi tegangan, korosi patahan, dan korosi
antar butir. Dengan demikian, apabila didalam usaha pencegahan korosi dilakukan
melalui penggunaan inhibitor korosi, maka mekanisma dari jenis-jenis korosi diatas
sangatlah penting artinya. Walaupun demikian sebagian korosi logam khususnya
besi, terkorosi di alam melalui cara elektrokimia yang banyak menyangkut fenomena
antar muka. Hal inilah yang banyak dijadikan dasar utama pembahasan mengenai
peran inhibitor korosi.

BAB III

PEMBAHASAN

17
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Alat gelas, neraca analitik, ampelas, kertas saring, ayakan 70 mesh, FTIR,
water bath, oven, mesin penggiling.
III.1.2 Bahan
Akuades, asam klorida (HCl merck 37%), asam sulfat (H2SO4 merck 98%),
aseton (CH3COCH3), besi kerangka beton, kulit kopi, natrium hidroksida
(NaOH merck).
III.1.3 Preparasi Besi
Besi diameter 1 cm dipotong sepanjang 5 cm dan di bor bagian tengahnya.
Besi dibersihkan dan ditimbang berat awalnya.
III.1.4 Ekstraksi Lignin Kulit Kopi
Kulit kopi dioven hingga kering pada temperatur 600C selama 24 jam. Kulit
kopi kering digiling dan diayak dengan ayakan 70 mesh. 200 gram serbuk
kulit kopi direndam dalam 2 L NaOH 15 %. Campuran larutan dipanaskan
menggunakan water bath pada temperatur 80 oC dan diaduk selama 2 jam,
kemudian didinginkan hingga terbentuk endapan. Endapan dipisahkan dari
filtratnya. Filtrat diasamkan dengan H2SO4 40% hingga pH 2 dan terbentuk
endapan. Endapan yang terbentuk disaring dan dikeringkan dalam oven
dengan temperatur 60 oC selama 4 jam kemudian didinginkan. Hasil ekstrak
dianalisa menggunakan FTIR untuk menentukan gugus fungsinya.
III.2 Uji Inhibisi Korosi Besi
Besi direndam selama 3 jam dalam tabung reaksi yang berisi 15 mL larutan
HCl 1 M dengan variasi konsentrasi lignin 0, 5, 10, 15, dan 20 gram/L HCl 1
M dan variasi temperatur 303, 313, 323, dan 333K.

III.3 Analisa Data Inhibisi


W
- Laju reaksi korosi dirumuskan : CR= A x t

W1
- Besar inhibisi dirumuskan : =1 W 2

III.4 Studi Termodinamika korosi


a Penentuan Parameter Adsorpsi

18
C 1
= +C
- Adsorpsi isothermal Langmuir dirumuskan : K ads
2 a
- Persamaan Temkin dirumuskan : log C= 2.303 log K ads

b Penentuan Termodinamika Korosi


Ea
- Ea dihitung dengan persamaan Arrhenius: ln CR=ln A RT

- Penentuan entalpi dan entropi dihitung dengan persamaan:


CR R S H
log( ) ( )
T
=log + (
Nh 2,303 R 2,303 RT )
- Energi bebas adsorpsi dihitung dengan persamaan:
0
Gads =RT ln(55,5 K ads )
III.5 Hasil dan Pembahasan
Ekstraksi Kulit Kopi
Kulit kopi dikeringkan dan digiling, kemudian diayak dengan ayakan 70 mesh
untuk mendapatkan ukuran partikel yang homogen. Penambahan NaOH 15 %
berfungsi melarutkan senyawa fenolik pada lignin sehingga terbentuk garam fenolat
yang larut. Fungsi pemanasan pada temperatur 80 oC selama 2 jam adalah untuk
menghomogenkan larutan dan mempercepat reaksi pembentukan garam fenolat
sehingga lignin terpisah dari senyawa lainnya. Setelah proses pemanasan dilakukan
penyaringan untuk memisahkan senyawa lain yang mengendap dengan lignin terlarut
setelah dilakukan proses pengendapan. Larutan lignin kemudian diasamkan dengan
H2SO4 40 % hingga pH 2 untuk mengendapkan kembali lignin yang terlarut.
Endapan lignin dipisahkan dengan cara disaring, kemudian hasil endapan dikeringkan
dalam oven dengan temperatur 60 oC sehingga diperoleh lignin dalam bentuk padat.

Analisa Uji FTIR Ekstrak Lignin Kulit Kopi

Gambar 1. Spektrum FTIR Lignin Kulit Kopi

Berdasarkan hasil spektrum yang telah dibandingkan dengan serapan lignin


standar [8]. Gambar 1. menunjukkan adanya gugus fungsi OH dengan adanya puncak

19
serapan pada panjang gelombang 3370.95 cm-1. Puncak pada panjang gelombang
2934,05 cm-1 menunjukkan adanya ikatan C-H alkil, dan cincin aromatik ikatan C=C
ditunjukkan pada panjang gelombang 1597,10 cm-1. Daerah finger print pada kisaran
pamjang gelombang 700-1500 cm-1 mengindikasikan ikatan atom. Panjang
gelombang 1455.99 cm-1 menunjukkan adanya ikatan C-H asimetris, 1105,99
merupakan ikatan C-O eter. Hasil tersebut menunjukkan adanya gugus OH dan cincin
aromatik yang merupakan struktur utama lignin. Gugus OH diindikasikan berperan
pada proses inhibisi.

Pengaruh Variasi Konsentrasi dan Temperatur Inhibitor Ekstrak Lignin Kulit


Kopi Terhadap Laju Korosi Besi
0

laju Korrosi (g/cm-2jam-1) 0


303K 313K 323K 333K
0
0 5 10 15 20 25
Konsentrasi Lignin (g/L)

Gambar 2. Grafik Konsentrasi dan Temperatur Terhadap Laju Korosi


Pengaruh konsentrasi dan temperatur terhadap laju korosi digambarkan pada
Gambar 2. Gambar tersebut menunjukkan semakin besar konsentrasi lignin, maka
laju korosi semakin rendah tetapi laju korosi meningkat dengan meningkatnya
temperatur.

Penentuan Adsorpsi Isotermis


Adsorpsi isotermis ditentukan dengan persamaan garis Langmuir dan Temkin.
Persamaan Temkin memiliki nilai regresi lebih tinggi daripada persamaan Langmuir
dari hasil persaman garis logC vs . Adsorpsi isotermis Temkin lebih sesuai
digunakan pada proses adsorpsi inhibitor organik [9]. Nilai Kads dari persamaan
Temkin ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Nilai Kads
Temperatur 303 K 313 K 323 K 333 K
Kads 2.31739 1.58124 1.46217 1.27350
Nilai konstanta adsorpsi pada Tabel 1. digunakan untuk menentukan besar
energi bebas adsorpsi yang dapat menyatakan adsorpsi inhibitor terjadi secara fisik
(fisisorpsi) atau kimia (kemisorpsi).

Studi Termodinamika korosi

20
- Energi Aktivasi
Ea ditentukan dengan persamaan Arrhenius dari plot garis 1/T vs ln CR. Hasil
dari persamaan garis menghasilkan nilai Ea yang dituliskan pada Tabel 2.
Tabel 2. Nilai Energi Aktivasi
Konsentrasi 0 g/L 5 g/L 10 g/L 15 g/L 20 g/L
Ea (kJ/mol) 28.34243 30.92808 32.41629 40.90488 48.78655
Berdasarkan Tabel 2. nilai energi aktivasi meningkat dengan penambahan
konsentrasi inhibitor. konsentrasi inhibitor dapat meningkatkan nilai energi aktivasi
sehingga laju korosi besi menurun
- Perubahan Entalpi dan Entropi
Tabel 3. Nilai Entalpi dan Entropi
Konsentrasi H (kJmol-1) S (kJmol-1K-1)
5 g/L 28.29488 0.00099
10 g/L 29.77381 0.00361
15 g/L 38.27514 0.02916
20 g/L 46.14461 0.05219
Berdasarkan nilai Tabel 3. entalpi bernilai positif pada menunjukkan bahwa
reaksi berjalan secara endoterm. Sementara nilai entropi yang bernilai positif
mengindikasikan bahwa proses inhibisi ekstrak lignin berjalan spontan.
- Energi Bebas Adsorpsi.
Tabel 4. Energi Bebas Adsorpsi
Temperatur 303 K 313 K 323 K 333 K
G0Ads (kJmol-1) -12.2372 -11.6463 -11.8081 -11.7911
Tabel 4 menunjukkan bahwa energi bebas adsorpsi bernilai negatif yang
mengindikasikan reaksi berlangsung spontan. Reaksi inhibisi berjalan secara
fisisorpsi untuk nilai G0Ads diatas -20 kJ/mol dan nilai dibawah atau sama dengan
-20 kJ/mol menunjukkan adsorpsi kimia [10]. Berdasarkan nilai tersebut
disimpulkan bahwa proses adsorpsi ekstrak lignin kulit kopi sebagai inhibitor
korosi besi terjadi secara fisik (fisisorpsi) dan berlangsung spontan.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

21
Lignin kulit kopi dapat digunakan sebagai inhibitor korosi dengan hasil spektrum
IR yang menunjukkan adanya gugus fungsi yang berperan dalam proses inhibisi.
Pengaruh variasi konsentrasi dapat menurunkan laju korosi akan tetapi laju korosi
meningkat dengan meningkatnya variasi temperatur. Hasil studi termodinamika
menunjukkan proses inhibisi merupakan proses adsorpsi fisik dan berlangsung
spontan.
Penelitian selanjutnya dapat menambahkan variasi konsentrasi untuk
menentukan hasil optimum inhibisi ekstrak lignin kulit kopi sebagai inhibitor korosi
besi.

DAFTAR PUSTAKA

Davis, J. R. 2000. Corrosin Understanding The Basic. Ohio: AIM International.

22
Revie, R. W. 2011. Uhligs Corrosion Handbook. Canada: John Wiley & Sons,
Inc.
Pradityana, A. 2013. Application of Myrmecodia Pendans Extract as Green
Corrosion Inhibitor for Mild Steel in 3,5% NaCl Solution. Proceeding of
ICOME conference. Vol. 45 (3): 684-690.
Murthy, P. S. dan Naidu, M. M. 2012. Sustainable management of coffee industry
by-products and value addition A review. Resources, Conservationand
Recycling vol.66 (1): 4558.
Dence, C.W. 1992. Methods In Lignin Chemistry. Berlin: Springer-Verlag.
Altwaiq, A., Khouri, S. J., Al-luaibi, S., Lehman, R., Drcker, H.,dan Vogt, C.
2011. The Role of Extracted Alkali Lignin as Corrosion Inhibitor. J. Mater.
Environ. Sci. Vol. 2 (3): 259-270.
Alaname, K. K. dan Olesegun, S. J. 2012. Corrosion Inhibition Performance of
Lignin Extract of Sun Flower (Tithonia Diversifolia) on Medium Carbon
Low Alloy Steel Immersed in H2SO4 Solution. Leonardo Journal of Sciences.
Vol. 20 (1): 59-70.
Stephen, Y., dan Carlton, W. 1992. Methods in Lignin Chemistry. London:
Sprnger-Verlag.
Sastri, V.S. 2011. Green Corrosion Inhibitors Theory and Practice. Canada: John
Wiley & Sons, Inc.
Olasehinde, E. F., Adesina, A. S., Fehintola, E, O., Badmus, B. M., dan
Aderibigbe, A. D. 2012. Corrosion Inhibition Behaviour for Mild Steel by
Extracts of Musa sapientum Peels in HCl Solution: Kinetics and
Thermodynamics Study. IOSR-JAC. Vol. 2 (1): 15-23.

23