Anda di halaman 1dari 64

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Di zaman serba canggih dan teknologi ini, hanphone bukanlah lagi benda yang
asing bagi kalangan masayarakat. Baik di kalangan atas maupun kalangan bawah,
bahkan juga dari orang dewasa sampai anak-anak pun sudah mengetahui apa itu
handphone. Handphone adalah tekhnologi yang diciptakan oleh manusia untuk
mempermudah komunikasi. Namun di era sekarang ini handphone memiliki banyak
sekali fungsinya. Diantaranya yaitu untuk browsing dan juga yang paling populer
sekarang adalah untuk bermain game. Bahkan sekarang ini handphone merupakan
salah satu fashion di kalangan masyarakat.
Benda kecil yang di juluki sebagai HP ini tentunya memiliki banyak sekali
dampak bagi penggunanya. Tidak terkecuali siswa-siswa yang duduk di bangku
sekolah.
Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar baik oleh
individu atau kelompok untuk merubah sikap tidak tahu menjadi tahu sepanjang
hidupnya. Masa pembelajaran ini terjadi semenjak kita masih kecil. Yaitu baik di
lingkungan formal ataupun non formal. Namun anak-anak akan mulai memasuki
masa sekolah pada usia 5 tahun dan berada pada lingkungan formal untuk menuntut
ilmu dan biasa di sebut dengan sekolah.
Sebagai alat komunikasi handphone tentu sangat berguna bagi siswa. Baik untuk
berkomunikasi dengan teman-temanya maupun degan para gurunya. Handphone juga
dapat membantu menambah wawasan dengan aplikasi browsernya dan juga sebagai
alat bantu belajar. Dengan fiturnya yang berupa internet siswa dapat mencari
informasi apapun dengan mudah. Hal ini tentu sangat memudahkan siswa dalam
menyerap materi pembelajaran. Handphone juga berguna sebagai alat penghibur yaitu
dengan ada nya aplikasi MP3 dan fitur gamenya yang dapat digunakan siswa agar
tidak jenuh belajar.

1
Namun disisi lain banyak sekali dampak negatifnya bagi siswa yang
menggunakan handphone. Salah satunya yaitu mereka malah keasikan dengan fitur
sms dan telfon, mereka akan menggunakanya terus-terusan untuk itu dan juga pada
aplikasi MP3 dan game biasanya siswa akan lupa belajar apabila sudah menggunakan
handphone untuk hal tersebut.
Dalam hal ini yang mempunyai tanggung jawab terhadap siswa adalah orang tua.
Orang tua tidak wajib membelikan anak handphone. Ada orang tua yang memberikan
handphone kepada anaknya agar tidak ketinggalan tekhnologi atau mungkin untuk
berkomunikasi, namun orang tua selain membelikan handphone, mereka juga harus
mengontrol penggunaan handphone tersebut, karena apabila tidak di lakukan
pengontrolan maka anak akan menyalahgunakan handphone tersebut dan hal ini
tentunya akan berdampak bagi sistem belajar siswa.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Apa pengertian dari pemanfaatan waktu belajar?
2. Apa pengertian waktu belajar?
3. Bagaimana cara optimalisasi waktu belajar?
4. Apa pengertian dari belajar?
5. Bagaimana cara memanfaatkan waktu belajar secara efektif?
6. Apa pengertian dari gadget?
7. Apa fungsi dari gadget?
8. Bagaimana pengaruh gadget terhadap manajemen waktu belajar siswa?

1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang pengaruh
gadget terhadap manajemen waktu belajar siswa. Disamping itu, penulisan makalah
penelitian ini bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah
sosiologi dan antropologi.

1.4 Metode Penelitian


Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data berupa
pengolahan hasil wawancara langsung dan pengumpulan referensi teori dari internet.

2
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Alat Komunikasi Handphone (HP)


2.1.1 Pengertian gadget
Gadget merupakan sebuah inovasi dari teknologi terbaru dengan kemampuan
yang lebih baik dan fitur terbaru yang memiliki tujuan maupun fungsi lebih praktis
dan juga lebih berguna. Seiring perkembangan Pengertian Gadget pun menjadi
berkembang yang sering kali menganggap smartphone adalah sebuah gadget dan juga
teknologi komputer ataupun laptop bila telah diluncurkan produk baru juga dianggap
sebagai gadget.
Definisi Gadget sebagai objek baru baik berupa sebuah barang ataupun alat baru
sering menjadi ungkapan dalam menunjukkan sebuah alat/barang yang baru di
ciptakan dan diluncurkan.
Kata Gadget sendiri telah banyak menjadi sebuah kata kontroversi di berbagai
media dan pernah juga dibahas oleh berbagai ahlinya asal muasal kata tersebut tetapi
hasil yang didapatkan adalah saling tindih menindih yang membuat makna Gadget
semakin pudar. Sekarang orang lebih mengenal Definisi Gadget - Pengertian Gadget
dengan teknologi terbaru yang telah diciptakan dengan kemampuan cerdas yang
berfungsi memiliki faktor kegunaan.

2.1.2 Sejarah Perkembangan Manusia Berkomunikasi


Sebagai mahluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan
manusia lainnya. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin
mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini memaksa manusia
perlu berkomunikasi. Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian
pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan).
Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini dan lain-lain yang muncul dari
benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran,
kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang muncul dari lubuk hati.

4
Komunikasi sebagai suatu proses dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
proses primer dan proses sekunder. Proses Primer adalah proses penyampaian pikiran
atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol)
sebagai media. Lambang
sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, isyarat, gambar,
warna, dan lainnya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran atau
perasaan komunikator kepada komunikan. Sedangkan komunikasi dalam proses
sekunder, yaitu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan
mengggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang
sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam
melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat
yang relatif jauh atau jumlahnya yang banyak, media itu bisa melalui surat, telepon,
surat kabar, majalah, radio, televisi, film, bahkan satelit dan masih banyak lagi media
kedua yang sering digunakan dalam komunikasi.
Bentuk paling umum dari komunikasi manusia adalah saat seseorang
berbicara pada orang lain. Dalam hal ini elemen yang terpenting dalam komunikasi
adalah pengirim dan penerima. Menurut Azies dan Alwasilah (1996) aktivitas
manusia yang disebut komunikasi merupakan fenomena rumit dan terus-menerus
berubah. Walaupun demikian, ada beberapa ciri yang dapat ditemui pada sebagian
komunikasi. Menurutnya, bila dua orang atau lebih terlibat dalam suatu komunikasi,
tentu mereka melakukan komunikasi karena beberapa alasan.
1. Mereka ingin mengatakan sesuatu. Maksudnya, dalam sebagian besar
komunikasi, orang mempunyai pilihan apakah dia akan berbicara atau tidak.
2. Mereka mempunyai tujuan komunikatif. Pembicara mengatakan sesuatu
karena menginginkan sesuatu terjadi akibat dari apa yang mereka katakan.
3. Mereka memilih kode dari bahasa yang dimiliki. Untuk mencapai tujuan
komunikasinya, mereka dapat memilih kata-kata yang tepat untuk tujuan
tersebut.
Kapan manusia mulai mampu berkomunikasi dengan manusia lainnya, tidak
ada data otentik yang dapat menerangkan tentang hal itu. Hanya saja diperkirakan
bahwa kemampuan manusia untuk berkomunikasi dengan orang lain secara lisan

5
adalah suatu peristiwa yang berlangsung secara mendadak. Everett M. Roger (1986)
menilai peristiwa ini sebagai generasi pertama kecakapan manusia berkomunikasi
sebelum mampu mengutarakan pikirannya secara tulisan.
Usaha-usaha manusia berkomunikasi lebih jauh, terlihat dalam berbagai
bentuk kehidupan mereka di masa lalu. Pendirian tempat-tempat pemukiman di
daerah aliran sungai dan tepi pantai, dipilih untuk memudahkan mereka dalam
berkomunikasi dunia luar dengan memakai perahu, rakit dan sampan. Pemukulan
gong di Romawi dan pembakaran api yang menggumpal asap di Cina adalah simbol-
simbol komunikasi yang dilakukan oleh para serdadu di medan perang.
Dari keterangan di atas menggambarkan bahwa hubungan atau kontak
antarmanusia di masa-masa lampau umumnya sangat terbatas karena belum
tersedianya alat komunikasi. Oleh karena itu, komunikasi jarak jauh tidak mungkin
terjadi tanpa memakai alat atau teknologi. Upaya-upaya untuk menembus jarak
komunikasi terus dilakukan oleh para pakar sains dan teknologi pada jamannya.
Media penghantar gelombang suara menjadi salah satu tujuan utama dari pencarian
sejumlah percobaan ilmiah.
Dengan ditemukannya sistem telepon pada tahun 1876, maka timbul desakan
untuk membuat peraturan mengenai hubungan telepon internasional. Inisiatif ini
akhirnya mendorong diselenggarakannya suatu konfrensi yang berlangsung di Berlin,
Jerman, pada tahun 1885, yang menghasilkan sejumlah peraturan mengenai hubungan
telepon internasional.

2.1.3 Pengertian Alat Komunikasi Handphone (HP)


Untuk menjelaskan mengenai alat komunikasi handphonemaka kita harus
memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan alat dan komunikasi, untuk
menghindari penafsiran yang kurang tepat mengenai alat komunikasi
handphonetersebut.
Kata alat Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sesuatu yang
dipakai untuk mengerjakan sesuatu atau bisa juga disebut perkakas, perabotan yang

6
dipakai untuk mencapai maksud. Istilah komunikasi berpangkal pada perkataan
latin. Comunis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan
antar dua orang atau lebih. Komunikasi juga dari akar kata bahasa latin Communico
yang artinya membagi (Cherry dalam stuart. 1983).
Sebuah definisi yang dibuat oleh kelompok sarjana komunikasi yang
mengkhususkan diri pada studi komunikasi antar manusia (human communication)
bahwa:
Komunikasi adalah suatu proses transaksi yang menghendaki orang-orang
mengatur lingkungannya dengan (1) membangun hubungan antarsesama
manusia, (2) melalui penukaran informasi, (3) menguatkan sikap dan tingkah
laku orang lain, serta (4) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu.
(Book, 1980)
Definisi-definisi yang dikemukakan di atas tentunya belum mewakili semua
definisi komunikasi yang telah dibuat oleh banyak pakar, namun sedikit banyaknya
kita telah dapat memperoleh gambaran bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi
manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja.
Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga
dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi. Telepon genggam sering
disebut handphone (HP) atau telepon selular (ponsel) adalah perangkat
telekomunikasielektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan
telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa kemana-mana (portabel,
mobile) dan
tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel.
Handphone tersebut, merupakan pengembangan teknologi telepon yang dari
masa ke masa mengalami perkembangan, yang di mana perangkat handphonetersebut
dapat digunakan sebagai perangkat mobile atau berpindah-pindah sebagai sarana
komunikasi, penyampaian informasi dari suatu pihak kepihak lainnya menjadi
semakin efektif dan efesien. Jadi, dari pengertian di atas, alat komunikasi
handphonedapat diartikan suatu barang atau benda yang dipakai sebagai sarana
komunikasi baik itu berupa, lisan maupun tulisan, untuk penyampaian informasi atau

7
pesan dari suatu pihak kepihak lainnya secara efektif dan efesien karena perangkatnya
yang bisa dibawa kemana-mana dan dapat dipakai dimana saja.

2.1.4 Fungsi Alat Komunikasi Handphone (HP)


Ponsel atau handphone kini merupakan sahabat wajib yang tidak bisa lepas
dari diri masyarakat Indonesia. Berdasarkan paparan data Consumer LabEricsson,
selain sebagai alat komunikasi, handphone memiliki fungsi lain. Dari riset ditahun
2009, terdapat lima fungsi handphone yang ada di masyarakat. Handphone yang
dulunya hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, kini pun telah berubah. Berikut
persentase 5 fungsi handphone bagi masyarakat Indonesia:
1. Sebagai alat Komunikasi agar tetap terhubung dengan teman ataupun keluarga
= 65%
2. Sebagai simbol kelas masyakarat = 44%
3. Sebagai penunjang bisnis = 49%
4. Sebagai pengubah batas sosial masyarakat = 36%
5. Sebagai alat penghilang stress = 36%.
Memang jelas manfaat handphone terbesar yaitu sebagai alat komunikasi agar
tetap terhubung dengan teman ataupun keluarga, sesuai dengan fungsi awalnya, dan
selain fungsi di atas handphone tersebut bisa bermanfaat untuk menambah
pengetahuan tentang kemajuan teknologi dan untuk memperluas jaringan, dan
handphone tersebut juga bisa sebagai penghilang stress karena berbagai feature
handphoneyang beragam seperti kamera, permainan, Mp3, video, radio, televisi
bahakan jaringan internet seperti yahoo, facebook, twitter, dan lain-lain.

2.2 Aktivitas Belajar Siswa


2.2.1 Macam-macam aktivitas manusia
Dalam menjalankan hidupnya manusia tidak luput dari yang namanya
aktivitas, secara sadar ataupun tidak aktivitas merupakan hal yang sangat penting,
karena tidak ada seorangpun yang hidup tanpa melakukan aktivitas. Apalagi dalam
dunia pendidikan seorang siswa yang menuntut ilmu dengan cara belajar maka siswa
tersebut harus melakukan aktivitas, tidak ada belajar tanpa adanya aktivitas. Oleh

8
karena itu di sini penulis akan menyebutkan beberapa aktivitas kejiwaan manusia
yang berhubungan erat dengan pendidikan, di antaranya, yaitu:
a. Pengamatan
Pengamatan merupakan fungsi sensoris yang memungkinkan seseorang
menangkap stimuli dari dunia nyata sebagai bahan yang teramati. Pengamatan
sebagai suatu fungsi primer dari pada jiwa dan menjadi awal aktivitas intelektual.
Obyek pengamatan memiliki sifat-sifat keinginan, kesendirian, lokalitet dan
bermateri. Subyek dapat mengadakan orientasi tehadap suatu obyek, karena obyek itu
dapat ditangkap dengan tidak tergantung kepada adanya saja, namun dapat dipelajari
secara langsung.
Dalam dunia pendidikan pengamatan merupakan salah satu aktivitas yang
sangat penting. Seorang siswa dalam kegiatan belajar mengajar harus melakukan
pengamatan baik itu ketika guru sedang menjelaskan pelajaran, berdiskusi dengan
teman atau ketika sedang mencari jalan keluar dalam suatu permasalahan yang
dihadapinya.
b. Tanggapan
Tanggapan biasa didefinisikan sebagai bayangan yang menjadi kesan yang
dihasilkan dari pengamatan. Kesan tersebut menjadi isi kesadaran yang dapat
dikembangkan dalam hubungannya dengan konteks pengalaman waktu sekarang serta
antisipasi keadaan untuk masa yang akan datang. Dengan uraian ini maka ada macam
tanggapan, yaitu:
1) Tanggapan masa lampau yang sering disebut sebagai tanggapan ingatan.
2) Tanggapan masa sekarang yang dapat disebut sebagai tanggapan imaginatif.
3) Tangggapan masa mendatang yang dapat disebut sebagai tangggapan intisipasif.
Tanggapan yang lemah akan secara statis diam, sedangkan tanggapan yang
kuat lebih besar kecenderungannya untuk muncul kembali ke alam kesadaran.
Kemunculan tanggapan ke alam kesadaran itu menungggu adanya perangsang yang
relevan atau dapat bersatu dengan tanggapan yang bersangkutan.
Oleh karena begitu pentingnya peranan tanggapan bagi tingkah laku, maka
pendidikan hendaknya mampu mengembangkan dan mengontrol tanggapan-

9
tanggapan yang ada pada anak didik, sehinggga dengan demikian akan berkembang
secara kondisi motivasi bagi perbuatan belajar anak didik.
c. Fantasi
Fantasi adalah aktivitas imajiner untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru
dengan pertolongan tangggapan-tangggapan lama yang telah ada, dan tanggapan yang
baru itu tidak harus sama atau sesuai dengan benda-benda yang ada. Dengan
demikian imajiner itu melampaui dunia nyata. Kegunaan fantasi antara lain:
1) Dengan fantasi, orang dapat memahami dan mengerti sesama manusia serta dapat
menghargai kultur orang lain.
2) Orang dapat keluar dari ruang dan waktu, sehingga seseorang dapat memahami
hal-hal yang ada dan terjadi di tempat lain dan di waktu yang lain, contohnya
dalam mempelajari ilmu dunia dan sejarah
3) Fantasi dapat melepaskan diri dari kesukaran dan permasalahan serta melupakan
kegagalan atau kesan-kesan buruk.
4) Fantasi dapat membantu seseorang dalam mencari keseimbangan hidup batin.
5) Fantasi memungkinkan seseorang untuk dapat membuat perencanaan untuk
dilakukan di masa mendatang.
d. Ingatan
Daya jiwa itu adalah ingatan. Ingatan ialah suatu daya jiwa kita yang dapat
menerima, menyimpan dan mereproduksi kembali pengertian-pengertian dan
tanggapan. Ingatan dipengaruhi oleh:
1) sifat perorangan,
2) keadaan di luar jiwa,
3) keadaan jiwa,
4) umur.
Dalam kenyataanya, ingatan tidak hanya pasif saja dalam arti hanya menerima
dan menyampaikan, tetapi juga menimbulkan dan mencari kembali informasi-
informasi yang telah lama masuk dalam kesadaran jiwa kita secara aktif, sehingga
kita mampu mengatakan, menceritakan dan mendudukan kembali sebagaimana
adanya. Mengingat berarti menyerap atau meletakan pengetahuan dengan jalan
pencaman secara aktif. Fungsi ingatan itu sendiri meliputi tiga aktivitas, yakni:
1) Mencamkan, yaitu menangkap atau menerima kesan-kesan.
2) Menyimpan kesan-kesan.

10
3) Mereproduksi kesan-kesan.
Sifat-sifat dari pada ingatan yang baik adalah: cepat, setia, kuat, luas, dan siap.
Ingatan dikatakan cepat, apabila dalam mencamkan kesan-kesan tidak mengalami
kesulitan. Ingatan dikatakan setia, apabila kesan yang dicamkan itu tersimpan dengan
baik dan stabil. Ingatan dikatan kuat, apabila kesan-kesan yang tersimpan bertahan
lama. Ingatan dikatakan luas, apabila kesan-kesan yang tersimpan sangat bervariasi
dan banyak jumlahnya. Ingatan dikatakan siap, apabila kesan-kesan yang tersimpan
sewaktu-waktu mudah direproduksikan ke alam kesadaran. Hubungannya dalam
pendidikan proses penerimaan kesan-kesan atau materi pelajaran oleh siswa akan
lebih kuat, apabila:
1) Kesan yang diterima dibantu dengan penyuaraan.
2) Pikiran subyek (siswa) lebih terkosentrasi pada kesan yang disampaikan.
3) Teknik belajar yang dipakai oleh subyek adalah efektif.
4) Subyek menggunakan titian ingatan.
5) Struktur bahan dari kesan-kesan yang disampaikan adalah jelas.
e. Pikiran
Pikiran dapat diartikan sebagai kondisi letak hubungan antar bagian
pengetahuan yang telah ada dalam diri yang dikontrol oleh akal. Jadi di sini akal
adalah sebagai kekuatan yang sangat mengendalikan pikiran. Berpikir berarti
meletakan hubungan antar bagian pengetahuan yang diperoleh manusia.
Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yakni:
1) Pembentukan pengertian: pengertian logis dibentuk melalui tiga tingkatan yaitu:
pertama, menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis objek tersebut
kita perhatikan unsurnya satu demi satu. misalnya mau membentuk pengertian
manusia. Kedua, membandingkan ciri-ciri tersebut untuk dikemukakan ciri-ciri
mana yang sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu ada, mana yang tidak
selalu ada. Ketiga, mengabstaksikan, yaitu menyisihkan, membuang ciri-ciri yang
tidak hakiki menangkap ciri-ciri yang hakiki.
2) Pembentukan pendapat: meletakan hubungan antara dua buah pengertian atau
lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdiri dari
pokok kalimat atau subjek dan sebutan atau predikat

11
3) Penarik kesimpulan atau pembentukan keputusan: keputusan adalah hasil
perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat
yang telah ada.
Setiap keputusan yang kita ambil merupakan hasil pekerjaan akal melalui
pikiran, dan setiap keputusan akan mengarahkan dan mengendalikan tingkah laku,
dengan demikian akal/pikiran dapat dikatakan sangat menentukan di dalam perbuatan
tingkah laku manusia, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa berpikir manusia
sebenarnya merupakan proses yang dinamis. Dinamis berpikir itu dimungkinkan oleh
pengalaman yang luas, perbendaharaan bahasa yang kaya yang didukung oleh
pendidikan yang baik dan ketajaman dalam berpikir. Maka sebaiknya pendidik
memberikan bimbingan yang sebaik-baiknya bagi perkembangan akal pikiran anak
didik. Demikianlah penulis telah uraikan mengenai macam-macam aktivitas pokok
jiwa manusia, yang meliputi mengamati, menanggap, fantasi, mengingat, dan berfikir,
sedangkan fungsi-fungsi lainya seperti: perhatian, perasaan, dan kemauan adalah
tidak termasuk aktivitas jiwa, melainkan sebagai cara atau kekuatan yang menunjang
aktivitas-aktivitas jiwa manusia.
f. Perhatian
Kata perhatian tidaklah selalu digunakan dalam arti yang sama contohnya
pertama, dia sedang memperhatikan contoh yang diberikan oleh gurunya maka
perhatian dapat diartikan pemusatan tenaga psikis tertentu kepada suatu objek, atau
contoh kedua, dengan penuh perhatian dia mengikuti pelajaran yang diberikan oleh
guru yang baru itu, maka perhatian adalah banyak atau sedikitnya kesadaran yang
menyertai suatu aktivitas yang dilakukan. Hal tersebut tergantung pada kalimatnya.
Dalam hal perhatian atas dasar intensitasnya yaitu banyak sedikitnya
kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas, maka dibedakan menjadi 2 macam:
1) Perhatian intensif
2) Perhatian tidak intensif
Makin banyak kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas berarti makin
intensiflah perhatianya. Dalam hal ini telah banyak dilakukan penyelidikan-
penyelidikan oleh para ahli yang hasilnya memberi kesimpulan: bahwa tidak mengkin

12
melakukan dua kegiatan aktivitas yang kedua-duanya disertai oleh perhatian yang
intensif. Selain itu ternyata makin intensif perhatian yang menyertai sesuatu aktivitas
akan makin sukseslah aktivitas itu.
g. Perasaan
Perasaan adalah suasana psikis yang mengambil bagian pribadi dalam situasi,
dengan jalan membuka diri terhadap sesuatu hal yang berbeda dengan keadaan atau
nilai dalam diri. Perasaan pada umumnya bersangkutan dengan fungsi mengenal
artinya perasaan dapat timbul karena mengamati, menganggap, membayangkan,
mengingat atau memikirkan sesuatu. Perasaan pada anak didik dapat diwujudkan
dalam bentuk ekspresi. Ekspresi adalah pernyataan emosi atau perasaan yang dapat
diamati oleh orang lain, misalnya tersenyum, tertawa, menangis, murung, tunduk
kepala, mengelus dada, cemberut dan sebagainya.
Perasaan banyak mendasari dan juga mendorong tingkah laku manusia.
Suasana jiwa anak didik sangat mempengaruhi kegairahan dalam belajarnya. Agar
belajar anak tersebut dapat berlangsung secara efektif pendidikan hendaknya
menciptakan situasi yang dapat mendorong perasaan-perasaan seperti perasaan
jasmaniah misalnya rasa sehat, rasa segar maupun perasaan rohaniah seperti senang,
puas, maka hal tersebut dapat menambah kegairahan peserta didik untuk melakukan
aktivitas belajar.
h. Kemauan
Kemauan itu bukan keinginan. Orang yang ingin belum tentu mau, dan
sebaliknya orang yang mau belum tentu ingin. Menurut Augustine, kemauan
kemauan merupakan pengendali dari keinginan. Kemauan tidak selamanya bebas.
Kemauan dapat bekeja, baik secara paksaan maupun dalam bentuk pilihan sendiri.
Kemauan yang bebas adalah kemauan yang sesuai dengan keinginan diri sendiri,
sedangkan kemauan yang terikat adalah kemauan yang ditimbulkan oleh kondisi
kebutuhan yang terbatasi oleh norma sosial ataupun kondisi lingkungan.
1. Teori-teori Belajar
Secara pragmatis, teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum atau
kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas fakta dan

13
penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Untuk lebih memperjelas
pengertian tentang pentingnya belajar, prinsip-prinsip belajar dan bagaimana proses
belajar itu terjadi berikut ini penulis akan mengemukakan beberapa teori belajar. Di
antara sekian banyak teori yang berdasarkan eksperimen ada tida macam yang sangat
menonjol, yakni:
1) Teori Behaviorisme
Teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan pada prilaku
atau tingkah laku yang dapat diamati. Koneksionisme, merupakan teori yang
pertama dari rumpun behaviorisme. Menurut teori ini tingkah laku manusia
tidak lain dari suatu hubungan antara perangsang-jawaban atau stimulus-
respons. Belajar adalah pembentukan hubungan stimulus-respons sebanyak-
banyaknya.
Siapa yang menguasai hubungan stimulus-respons sebanyak-
banyaknya ialah orang pandai atau berhasil dalam belajar. Pembentukan
hubungan stimulus-respons dilakukan melalui ulangan-ulangan. Dengan kata
lain mereka berpendapat, bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh
ganjaran atau penguatan dari lingkungan. Dengan demikian, tingkah laku
belajar terdapat jalinan yang kuat dan erat antara reaksi-reaksi behavioral
dengan stimulusinya. Oleh karena itu guru-guru yang menganut pandangan ini
berpendapat, bahwa tingkah laku murid-murid merupakan reaksi-reaksi
terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan sekarang, dan bahwa setiap
tingkah laku adalah merupakan hasil belajar.
Tokoh yang sangat terkenal dari teori ini adalah Thorndike. Teori
belajar Thorndike disebut connectionism karena belajar merupakan proses
pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini sering
pula disebut trial-and error learningindividu yang belajar melakukan kegiatan
melalui proses trial-and-error dalam rangka memilih respons yang tepat bagi
stimulus tertentu. Thorndike mengemukakan tiga prinsip atau hukum dalam
belajar. Pertama, law of readinees, belajar akan berhasil jika reaksi terhadap
stimulis didukung oleh kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut. Kedua,
law of exercise, belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan dipraktekan.

14
Praktek perlu disertai dengan reward. Ketiga, law of effect, belajar akan
bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik dan
sebaliknya apabila mendapatkan sesuatau yang mengganggu maka kekuatan
hubungan menjadi berkurang.
Kemudian teori pengkondisian conditioning merupakan
perkembangan lebih lanjut dari koneksionisme. Teori ini dilatarbelakangi oleh
percobaan Pavlov dengan keluarnya air liur. Air liur akan keluar apabila
anjing melihat atau mencium bau makanan. Dalam percobaannya Pavlov
membunyikan bel sebelum memperlihatkan makanan pada anjing. Setelah
diulang berkali-kali ternyata air liur tetap keluar apabila bel berbunyi
meskipun makanannya tidak ada. Penelitian ini menyimpulkan bahwa prilaku
individu dapat dikondisikan. Belajar merupakan suatu upaya untuk murid
tidak menunjukan reaksi-reaksi terhadap stimuli, guru tidak mungkin dapat
membimbing tingkah lakunya ke arah tujuan behavior. Guru berperan penting
di dalam kelas untuk mengontrol dan mengarahkan kegiatan belajar ke arah
tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.
2) Teori Kognitif
Para ahli aliran kognitif, mereka berpendapat bahwa tingkah laku
seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau
memikirkan situasi di mana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar
seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk
pemecahan masalah. Jadi teori ini berpendapat bahwa tingkah laku seseorang
lebih bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang ada di
dalam suatu situasi. Teori ini mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar
Gestalt. Dan peletak dasar teori Gestaltadalah Max Wertheimer yang
meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Kaum Gestalt berpendapat
bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan.
Orang yang belajar, mengamati stimulus dalam keseluruhan yang terorganisir,
bukan dalam bagian pisah. Suatu konsep yang penting dalam teori ini adalah
tentang insightyaitu pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap
hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam suatu situasi permasalahan.

15
Bertolak dari teori Gestalt, Kurt Lewis mengembangkan suatu teori
belajar congnitive field dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan
psikologis sosial. Lewis memandang masing-masing individu sebagai berada
di dalam suatu medan kekuatan yang bersifat psikologis. Medan kekuatan
psikologis di mana individu beraksi disebut life space.Menurut Lewis belajar
berlangsung sebagai akibat dari perubahan dari struktur kognitif. Perubahan
struktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur
medan kognisi itu sendiri, yang lainya dari kebutuhan dan motivasi internal
individu. Oleh karena itu Lewin memberikan peranan yang lebih penting pada
motivasi darireward.Kemudian Jerome Bruner dengan discovery
learningmerupakan salah satu instruksional kognitif yang sangat
berpengaruh. Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan
pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya
memberi hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk memecahkan masalah
serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-
benar bermakna (Dahar, 1988: 125).
3) Teori Humanistik
Bagi penganut teori ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara
pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya
isidari proses belajar, dalam kenyatan teori ini banyak berbicara tentang
pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dalam
praktik, teori ini antara lain terwujud dalam pendekatan yang diusulkan oleh
Ausubel (1968) yang disebut belajar bermakna atau meaningful lerning.
Teori ini juga terwujud dalam teori Bloom dan Krathwohl dalam bentuk
Taksonomi Bloom.
Dari ketiga teori belajar di atas, ternyata memang terdapat perbedaan, akan
tetapi dari perbedaan tersebut terdapat persamaan karena teori-teori tersebut sangat
terkait dengan proses belajar. Di antara persamaan teori tersebut yaitu:
1. Dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan faktor yang penting.
2. Halangan dan kesulitan pasti ada dalam proses belajar.

16
3. Dalam menghadapi kesulitan, sering terdapat kemungkinan respons yang
bermacam-macam.
4. Setiap seseorang yang belajar pasti melakukan aktivitas.

2. Tujuan Belajar
Menurut Winarno Surachman, tujuan belajar di sekolah itu ditunjukan untuk
mencapai:
a) Pengumpulan pengetahuan
b) Penanaman konsep dan kecakapan atau keterampilan
c) Pembentukan sikap dan perbuatan
Tujuan belajar dalam dunia pendidikan sekarang ini lebih dikenal dengan
tujuan pendidikan menurut Taksonowi Bloom yaitu tujuan belajar siswa diarahkan
untuk mencapai ketiga tanah antara lain: kognitif, psikomotorik, dan afektif. Tujuan
belajar kognitif untuk memperoleh fakta atau ingatan, pemahaman, aplikasi dan
kematangan berpikir analisis, sistematis dan evaluasi. Tujuan belajar afektif untuk
memperoleh sikap, apresiasi, karakteristik, dan tujuan psikomotorik untuk
memperoleh keterampilan fisik yang berkaitan dengan keterampilan gerak maupun
keterampilan ekspresi verbal dan non verbal.
Dalam hal ini, Bloom dan Krathwohl menunjukan apa yang mungkin dapat
dikuasai (dipelajari) oleh siswa yang menjadi tujuan dari pendidikan, yaitu:
a. Kognitif
Kognitif terdiri dari enam tingkatan, yaitu:
1) Pengetahuan (mengingat, menghafal)
2) Pemahaman (menginterpretasikan)
3) Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah)
4) Analisis (menjabarkan suatu konsep)
5) Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh)
6) Evaluasi (membandingkan nilai, ide, metode)
b. Psikomotor
Psikomotor terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
1. Peniruan (meniru gerak)
2. Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
3. Ketepatan (menggunakan gerak dengan benar)
4. Perangkaian (melakukan beberapa gerak sekaligus)
5. Naturalisasi (menggunakan gerak secara wajar)
c. Afektif
Afektif terdiri dari lima tingkatan, yaitu:

17
1. Pengenalan (ingin menerima, sadar akan sesuatu)
2. Merespons (aktif berpartisipasi)
3. Penghargaan (menerima nilai-nilai)
4. Pengorganisasian (menggabung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayai)
5. Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup).
Berhubungan dengan keterampilan Ahmad Mudzakir, Joko Sutrisno, dalam
bukunya Psikologi Pendidikan bahwa Keterampilan ialah kegiatan yang
berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam
kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, olah raga, dan sebagainya.
Proses belajar adalah aktivitas diri yang melibatkan aspek-aspek sosio psiko
fisik dalam upaya menuju tercapainya tujuan belajar, yakni terjadinya perubahan
tingkah laku. Cronbach (1954 h.49-50), mengemukakan adanya tujuh unsur utama
dalam proses belajar, yaitu: tujuan, kesiapan, situasi, interpretasi (melihat hubungan
di antara komponen-komponen situasi belajar, melihat makna dari hubungan tersebut
dan menghubungkan dengan kemungkinan pencapaian tujuan), respons, konsekuensi
(keberhasilan atau kegagalan dalan belajar), dan reaksi terhadap kegagalan.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dapat dibedakan
menjadi tiga macam, antara lain:
A. Faktor Internal Siswa
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri, meliputi dua aspek, yakni:
fisikologis (bersifat jasmani) dan psikologis (bersifat rohaniah).
1. Aspek Fisiologis
Kondisi umum dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat
kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, yang dapat mempengaruhi
semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ-
organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera pendengaran dan indera
penglihatan, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap
informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas.
Daya pendengaran dalam penglihatan siswa yang rendah, umpamanya,
akan menyulitkan sensory register dalam menyerap item-item informasi yang
bersifat echoic dan econic (gema dan citra). Akibat selanjutnya adalah

18
terlambatnya proses informasi yang dilakukan oleh system memori siswa
tersebut.
2. Aspek Psikologis
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat
mempengaruhi kuantitas dan kualitas keberhasilan belajar siswa, namun
faktor umumnya yang dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:
Intelegensi Siswa
Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan
psikofisik untuk mereaksi rangsangan atau penyesuaian diri dengan
lingkungan dengan cara yang tepat (Reber, 1988). Jadi intelegensi
sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas
organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa
peran otak dalam hubungannya dengan intelegensi manusia lebih
menonjol daripada peran organ-organ lainya, lantaran otak merupakan
menara pengontrol hampir seluruh aktivitas manusia. Oleh karena itu
tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa tidak dapat diragukan lagi,
merupakan salah satu yang sangat menentukan tingkat keberhasilan siswa.
Sikap Siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa
kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan
cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang dan sebagainya, baik
secara positif maupun negatif. Dalam hal sikap siswa yang menimbulkan
reaksi positif atau negatif tidak dapat dipungkiri merupakan hasil dari
perhatian yang dilakukan oleh siswa dalam proses belajar. Maka perhatian
merupakan faktor penting dalam usaha belajar siswa, untuk dapat
menjamin belajar yang baik, siswa harus ada perhatian terhadap bahan
yang dipelajarinya, apabila pelajaran itu tidak menarik baginya, maka
timbullah rasa bosan, malas dan belajarnya harus dikejar-kejar, sehingga
prestasi mereka akan menurun dan yang akhirnya akan berdampak pada
sikap siswa.
Bakat Siswa

19
Bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki
seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang
(Chaplin, 1972; Reber, 1988). Dengan demikian setiap orang pasti
memiliki bakat dalam arti berpotensi mencapai prestasi sampai ke tingkat
tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara umum bakat
itu mirip dengan intelegensi. Karena bakat tersebut akan dapat
mempengaruhi tinggi-rendahnya prestasi belajar siswa di bidang studi
tertentu. Maka alangkah bijaksanannya orangtua yang tidak melakukan
pemaksaan kehendak kepada anaknya.
Minat Siswa
Secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan dan
kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Dalam
hal ini minat merupakan yang dapat mempengaruhi kualitas pencapaian
hasil belajar siswa dalam bidang studi tertentu.
Hal tersebut dapat diumpamakan seorang siswa yang menaruh minat
besar terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam akan memusatkan
perhatiannya lebih banyak dari pada siswa yang lain. Kemudian karena
pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan
siswa tersebut untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang
diinginkan.
Motivasi Siswa
Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organism baik
manusia ataupun hewan yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Dalam
pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah
laku secara terarah (Gleitman, 1986; Reber, 1988). Motivasi dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu:
1. Motivasi intristik yaitu hal atau keadaan yang berasal dari dalam diri siswa
sendiri yang mendorongnya melakukan belajar. Di antara motivasi
intristik siswa adalah persaan menyayangi materi dan kebutuhannya

20
terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa
yang bersangkutan.
2. Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu
siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.
Contohnya, mendapat pujian, hadian, peraturan/tata tertib sekolah, suri
tauladan orangtua atau guru, dan masih banyak lagi contoh dari motivasi
ekstrinsik.
B. Faktor Eksternal Siswa
Faktor ini terdiri dari dua macam, seperti halnya faktor internal siswa, yakni:
faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
1. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staff administrasi
dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar siswa.
Selanjutnya, yang dimaksud dengan lingkungan sosial siswa adalah
masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan di sekitar tempat
tinggal siswa.
Di antara lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan
belajar siswa ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orang
tua, praktik pengelolahan keluarga, ketegangan keluarga dan demografi
keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberikan dampak baik atau buruk
terhadap kegiatan belajar dan hasil yang akan dicapai oleh siswa.
2. Lingkungan Nonsosial
Faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan
letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar,
keadaan cuaca dan waktu yang digunakan siswa. Beberapa contoh yang kita
bisa ambil yang berhubungan dengan faktor lingkungan nonsosial, seperti:
kondisi gedung sekolah yang tidak memadai, fasilitas tidak lengkap, ruang
kelas yang kusam dan kotor, di antara faktor yang bisa mempengaruhi siswa
dalam proses belajar. Contoh lain seperti waktu yang digunakan siswa untuk
belajar, secara umum memang waktu belajar yang digunakan siswa bukan
merupakan penyebab hasil belajar yang mutlak akan tetapi tidak dapat

21
dipungkiri waktu yang dipergunakan siswa untuk belajar juga merupakan hal
yang dapat mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar siswa, karena setiap
siswa memiliki perbedaan waktu yang disenangi dan kesiapan untuk belajar.
Maka kesiapan sistem memori siswa dalam menyerap, mengolah, dan
menyimpan item-item informasi dan pengetahuan yang dipelajari siswa itulah
dapat menyebabkan proses dan hasil belajar siswa.
C. Faktor Pendekatan Belajar
Pendekatan belajar adalah segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam
menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran tertentu. Strategi dalam hal
ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk
memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu (Lawson, 1991).
Di antara pendekatan belajar yang dianggap dapat mewakili yang klasik dan
modern ialah:
1. Pendekatan Hukum Jost
Hukum Jost (Josts Law) adalah siswa yang lebih sering mempraktekan materi
pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori lama yang berhubungan
dengan materi yang sedang ia tekuni. Selanjutnya asumsi hukum Jost itu maka
belajar dengan kiat 5 x 3 adalah lebih baik daripada 3 x 5 walaupun hasil
perkalian keduanya sama tetapi dalam hal ini mempunyai makna yang berbeda.
Maksudnya, dalam mempelajari suatu bidang studi, dengan alokasi waktu 3 jam
perhari selama 5 hari akan lebih efektif dari pada dengan alokasi waktu 5 jam
perhari selama 3 hari.
2. Pendekatan Ballard & Clanchy
Menurut Ballard & Clanchy (1990), pendekatan belajar siswa pada umumnya
dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan. Ada dua macam siswa yang
menyikapi ilmu pengetahuan yaitu:
1) Sikap melestarikan materi yang sudah ada (conserving);dan
2) Siswa memperluas materi (extending).
Siswa yang bersikap conserving pada umumnya menggunakan belajar reproduktif
(bersifat menghasilkan kembali fakta dan informasi) sedangkan siswa yang
bersikap extending, biasanya menggunakan pendekatan belajar:

22
Analitis (berdasarkan pemilahan interpretasi fakta dan informasi). Bahkan di
antara siswa yang bersikap extending cukup banyak yang menggunakan
pendekatan yang lebih ideal yaitu pendekatan spekulatif (berdasarkan pemikiran
mendalam)
3. Pendekatan Biggs
Menurut hasil penelitian Biggs (1991), pendekatan belajar siswa dapat
dikelompokan ke dalam prototipe (bentuk dasar), yaitu:
1) Pendekatan surface (bersifat lahiriah)
Misalnya, siswa mau belajar karena dorongan dari luar (ekstintik) antara lain
takut tidak lulus, ingin dapat hadiah. Oleh karena itu cara belajarnya santai,
asal hafal dan tidak mementingkan pemahaman yang mendalam.
2) Pendekatan deep (mendalam)
Siswa yang menggunakan pendekatan deepbiasanya mempelajari materi
karena dia memang tertarik dan merasa membutuhkannya (intrinsik). Oleh
karena itu, gaya belajarnya serius dan berusaha memahami materi secara
mendalam serta memikirkan cara mengaplikasikannya.
3) Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi)
Siswa yang menggunakan pendekatan achieving pada umumnya dilandasi
oleh motif ekstrintik yang berciri khusus yang disebut ego-enhancement yaitu
ambisi pribadi yang besar dalam meningkatkan prestasi keakuan dirinya
dengan cara meraih indeks prestasi setinggi-tingginya. Gaya belajar siswa ini
lebih serius daripada siswa-siswa yang memakai pendekatan-pendekatan
lainnya.
4. Jenis-Jenis Aktivitas dalam Belajar
Sekolah adalah salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian sekolah
merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas, banyak jenis aktivitas yang dapat
dilakukan oleh siswa di sekolah. Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan
dan mencatat seperti lazimnya yang terdapat di sekolah-sekolah tradisional. Paul B.
Diedrich membuat kegiatan-kegiatan atau aktivitas jasmani dan rohani yang
dilakukan siswa di sekolah, meliputi:
1) Visual activities, seperti membaca, memperhatikan, gambar, demonstrasi,
percobaan, dan sebagainya.

23
2) Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,
mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, dan sebagainya.
3) Listening activities, seperti mendengarkan uraian, percakapan diskusi, musik,
pidato, ceramah, dan sebagainya.
4) Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin,
dan sebagainya.
5) Drawing activities, seperti menggambar, membuat grafik, peta, patron, dan
sebagainya.
6) Moro activities, seperti melakukan percobaan, membuat konstruksi, model,
mereparasi, bermain, berkebun, berternak, dan lain sebagainya.
7) Mental activities, seperti menangkap, mengingat, memecahkan soal,
menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan, dan sebagainya.
8) Emotional activities, seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani,
tenang, gugup, dan sebagainya.
Tentu saja kegiatan-kegiatan tersebut saling berhubungan satu sama lainnya.
Dalam suatu kegiatan motoris terkandung kegiatan mental dan disertai oleh perasaan
tertentu. Dari berbagai uraian di atas maka dapat dipastikan bahwa peranan aktivitas
siswa seperti mengamati, menanggap, melakukan fantasi, mengingat, dan berfikir,
adalah kegiatan yang sangat penting dalam proses belajar, karena proses belajar
merupakan kegiatan yang aktif dari subyek untuk memperoleh sesuatu yang baru dan
perubahan keseluruhan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman, dan
belajar adalah suatu proses dan bukan suatu hasil. Perlu ditambahkan yang dimaksud
aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental.
Dalam kegiatan belajar kedua aktivitas tersebut itu harus selalu terkait.
Sebagai contoh seseorang sedang belajar dengan membaca, secara fisik kelihatan
orang tersebut sedang membaca suatu buku, tapi mungkin pikiran atau sikap
mentalnya tidak setuju pada buku yang dibaca. Ini menunjukkan tidak ada keserasian
antara aktivitas fisik dengan aktivitas mental.
Kalau sudah demikian, maka belajar tidak akan optimal. Begitu juga
sebaliknya kalau yang aktif hanya mentalnya saja, juga kurang bermanfaat. Jadi, jelas
bahwa aktivitas itu sangat diperlukan dalam belajar, tidak ada kegiatan tanpa adanya
aktivitas. Oleh karena itu hasil belajar

24
seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si subyek belajar, dan tujuan,
adalah motivasi yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang sedang
dipelajari berupa aktivitas dalam belajar.
5. Manfaat dan Dampak Alat Komunikasi Handphone (HP)
Perkembangan teknologi yang begitu pesat pada saat ini tidak bisa dipungkiri
lagi, berbagai penemuan baru muncul tiap harinya. Kita bisa menemukan model
maupun feature handphone yang baru yang selalu dipromosikan, mulai dari kelas
bawah sampai atas.
Pada prinsipnya teknologi ini berkembang untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan manusia agar dalam kehidupannya dapat lebih mudah berkomunikasi
ataupun melakukan sesuatu, tapi apakah tujuan ini benar-benar tercapai dalam
kehidupan kita? Oleh dari itu di sini penulis akan mengemukakan manfaat dan
dampak dari penggunaan alat komunikasi handphone.
1. Manfaat Handphone
Untuk mempermudah berkomunikasi
Handphone adalah alat komunikasi, baik jarak dekat maupun jarak jauh dan
merupakan alat komunikasi lisan atau tulisan yang dapat menyimpan pesan
dan sangat praktis untuk dipergunakan sebagai alat komunikasi karena bisa
dibawa kemana saja. Sebab itulah handphone sangat berguna untuk alat
komunikasi jarak jauh yang semakin efektif dan efisien. selain perangkatnya
yang bisa dibawa ke mana-mana dan dapat dipakai di mana saja.
Untuk meningkatkan jalinan social
Di samping sebagai alat komunikasi handphone tersebut dapat berfungsi
untuk meningkatkan jalinan sosial karena dengan handphone seseorang bisa
tetap berkomunikasi dengan saudara yang berada jauh, agar selalu menjaga
tali silaturahmi dan kerap kali handphone ini juga digunakan untuk
menambaha teman dengan orang lain.
Untuk menambah pengetahuan tentang kemajuan teknologi
Karena alat komunikasi handphone merupakan salah satu buah hasil dari
kemajuan teknologi saat ini, maka handphone tersebut dapat dijadikan salah
satu sarana untuk menambah pengetahuan siswa tentang kemajuan teknologi
sehingga siswa tidak dikatakan menutup mata akan kemajuan di era

25
globalisasi saat ini, jika kita amati saat ini feature handphone sangatlah
lengkap sampai jaringan internet pun sudah dapat diakses dari handphone. Hal
tersebut dapat digunakan siswa untuk mengetahui apa yang ada di sekeliling
mereka dengan catatan handphone itu digunakan dengan bijaksana.
Sebagai alat penghilang stress
Salah satu manfaat tambahan dari handphone yaitu sebagai alat penghilang
stess. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa handphone saat ini
sudah memliki feature yang sangat lengkap seperti Mp3, video, kamera,
permainan, televisi, radio, dan layanan internet. Sehingga feature tersebut
dapat dijadikan seseorang untuk menghilangkan stress. Mungkin masih
banyak lagi manfaat yang dapat diambil dari kemajuan alat komunikasi
handphone saat ini, tapi sekali lagi penulis mengatakan bahwa manfaat
handphone di atas dapat diperoleh apabila handphone tersebut dapat
digunakan dengan bijaksana sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya.
2. Dampak Handphone
Memang jelas manfaat handphone terbesar yaitu sebagai alat komunikasi agar
tetap terhubung dengan teman ataupun keluarga, yaitu sesuai dengan fungsi awalnya,
dan selain fungsi di atas handphone tersebut bisa bermanfaat untuk menambah
pengetahuan tentang kemajuan teknologi dan untuk memperluas jaringan. Disamping
handphonemempunyai manfaat bagi penggunanya, handphone tersebut juga
mempunyai dampak negatif, diantara dampak negatifnya secara umum yaitu:
Membuat siswa malas belajar
Anak-anak yang sudah kecanduan handphone, maka setiap saatnya hanya
bermain handphone dan handphone. Mereka tidak lagi berpikir pada hal yang
lain. Bagi mereka handphone merupakan teman setia yang setiap ke mana-
mana selalu dibawa, rasanya tidak lengkap tanpa handphone di
genggamannya. Pada saat belajar di rumah siswa mendampingi buku dengan
handphone. Pada awalnya mendengarkan musik atau Mp3 untuk menciptakan
suasana belajar yang nyaman akan tetapi ketika bunyi telepon atau sms (short
messege service) maka buku itu ditinggalkan siswa berpaling ke handphone.
Mereka malas belajar dan lebih senang teleponan (talking-talking) dan smsan.

26
keberadaan handphone memanng sangat penting bagi kehidupan di jaman era
globalisasi seperti sekarang ini. Tapi jika ternyata handphone disalahgunakan
maka akan berdampak negatif. Seperti handphone yang semesti belum
diberikan kepada siswa tetap sudah diberikan kalau, memang jika siswa bisa
memanfaatkan sesuai fungsinya maka itu sangat baik tapi tidak sedikit siswa
yang menyalahgunakan handphonedari fungsinya dan pada akhirnya
handphone tersebut dapat mengganggu proses belajar dan menurunkan
prestasi belajar siswa.
Menggangu konsentasi belajar siswa
Konsentrasi adalah tingkat perhatian kita terhadap sesuatu, dalam konteks
belajar berarti tingkat perhatian siswa terpusat terhadap segala penjelasan atau
bimbingan yang diberikan guru. Seharusnya ketika seorang guru sedang
memberikan materi pelajaran seluruh perhatian siswa harus terfokus kepada
penjelasan guru tersebut. Akan tetapi sering sekali handphone yang mereka
punya menjadi salah satu penyebab konsentrasi siswa menurun, bagaimana
tidak ketika seorang guru sedang menjelaskan pelajaran siswa lebih asyik
memainkan handphone seperti smsan dengan temannya, main games, bahkan
update status di jejaring sosial facebook dan lain sebagainya. Akibat dari itu
semua saat evaluasi atau ulangan siswa tidak bisa menajawab soal akhirnya
mendapat nilai yang buruk, dan hal itulah yang menyebabkan proses belajar
gagal.
Melupakan tugas dan kewajiban
Handphone sebenarnya sangatlah bermanfaat jika dipergunakan sebagaiman
mestinya. Tetapi yang terjadi khususnya para pelajar menyalahgunakan
handphone tersebut untuk keperluan lain. Anak-anak terlalu asyik bermain
handphone dengan feature handphone yang semakin canggih selain untuk
menelepon dan sms, handphone tersebut sudah ada feature permainan
(games), Mp3, video, kamera, radio, televisi bahkan jaringan internet. Tidak
sedikit siswa melupakan tugas dan kewajiabannya akibat bermain handphone.
Mereka tidak lagi memperhatikan tugas dan kewajibannya sebab disibukkan
oleh handphone yang mereka punya. Akibatnya siswa tidak menguasai materi

27
belajarnya dan tidak sedikit siswa yang lupa mengerjakan tugas dari guru
karena sibuk memainkan handphone. dengan bermain handphone saat
pelajaran berlangsung atau tidak mengerjakan PR, itu berarti siswa telah
mengabaikan dan melupakan tugas dan kewajibannya. Hal itu tentunya tidak
boleh terjadi oleh karena itu di sini memerlukan peranan dan perhatian dari
guru dan orang tua.
Mengganggu perkembangan anak
Dengan perkembangan alat komunikasi handphone maka tercipta feature
canggih yang tersedia di handphone seperti yang telah disebutkan sebelumnya
akan mengganggu siswa dalam menerima pelajaran di sekolah, tidak jarang
mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, misscall dari teman
mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri, lebih parah lagi ada yang
menggunakan handphone untuk mencontek (curang) dalam ulangan, bermain
game saat guru menjelaskan pelajaran di samping itu karena saat ini
handphone sudah dilengkapi dengan layanan internet tidak jarang ditemui
siswa yang asyik bermain instagram saat pelajar berlangsung dan sebagainya.
Kalau hal tersebut dibiarkan maka generasi yang kita harapkan akan menjadi
rusak dan perkembangan teknologi yang kita banggakan kehadirannya dapat
berdampak buruk untuk perkembangan dan masa depan anak
Sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku
Jika tidak ada kontrol dari guru dan orang tua. Alat komunikasi handphone
bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur
porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar dan
pada akhirnya sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan prilaku.
Pemborosan
Dengan mempunyai alat komunikasi handphone, maka pengeluaran kita akan
bertambah, apalagi kalau handphone hanya digunakan untuk hal-hal yang
tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan. Dengan anggaran
orang tua yang serba minim para siswa memaksa orang tuanya untuk dapat
dibelikan handphone.Belum lagi para pelajar setelah itu harus meminta uang
kepada orang tua untuk membeli pulsa setiap bulan bahkan setiap hari. Jika
siswa tidak mempunyai buku maka mereka beralasan dengan tidak punya

28
uang, tetapi dibalik itu kalau untuk urusan membeli pulsa tidak ada kata :
tidak punya uang

2.3 Pemanfaatkan Waktu Belajar


2.3.1 Pengertian Pemanfaatan Waktu Belajar
Pengaturan waktu belajar mempunyai arti penting dalam belajar, belajar
menggunakan waktu merupakan suatu keterampilan yang berharga dan memberikan
keuntungan dalam belajar. Siswa yang tidakdapat memanfaatkan waktu secara efektif
dan efisien umumnya mengeluh kekurangan waktu untuk menyelesaikan tugas-
tugasnya, sebaliknya siswa yang dapat memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien
tampak tidak pernah kehabisan waktu untuk mengerjakan tugasnya dengan baik.
Syaiful Bahri Djamarah (2002:40), mengemukakan beberapa kiat-kiat belajar.
Kiat-kiat belajar tersebut adalah sebagai berikut:
1) Mempunyai fasilitas dan perabot belajar.
2) Mengulangi bahan pelajaran.
3) Menghafal bahan pelajaran.
4) Membaca buku.
5) Membuat ringkasan dan ikhtisar.
6) Mengerjakan tugas.
7) Membentuk kelompok belajar.
8) Memanfaatka perpustakaan.
Pemanfaatan waktu belajar disini dapat dilaksanakan siswa dengan
memperhatikankiat-kiat belajar dan juga prinsip dari belajar itu sendiri.
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2003:166), salah satu prinsip belajar
adalah kegiatan belajar berlangsung pada setiap tempat dan waktu. Kegiatan belajar
tidak hanya berlangsung disekolah dan di perpustakaan tetapi juga dirumah, di
masyarakat, bahkan dimana saja bisa terjadi perbuatan belajar.Belajar juga terjadi
setiap waktu, tidak hanya berlangsung pada waktu jam-jam pelajaran.
Pemanfaatan waktu belajar merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam cara
belajar efektif. Waktu hanya mempunyai suatu arti kalau dapat menghasilkan suatu

29
prestasi belajar pada waktu yang tepat, yang tidak mengalami kelambatan.
Kelambatan dalam belajar sesungguhnya tidak dapat dikejar dengan menambah jatah
waktu belajar, melainkan dengan cara mencari cara-cara belajar yang dapat
memanfaatkan waktu secara lebih efektif. Siswa yang dapat memanfaatkan waktu
belajardengan baik tentunya akan lebih mudah dalam menerima dan memahami
pelajaran, baik itu yang disampaikan guru di sekolah maupun yang dipelajari dari
buku-buku pelajaran. Siswa yang mampu memahami pelajaran pada akhirnya akan
memperoleh prestasi belajar yang baik.
Berdasarkan atas beberapa pendapat mengenai pemanfaatan waktu belajar di
atas, maka pemanfaatan waktu belajar yang dimaksud dalam penelitian ini akan
diukur melalui beberapa indikator. Adapun indikator tersebut adalah mempunyai
fasilitas dan perabot belajar, mengulangi bahan pelajaran, menghafal bahan pelajaran,
membaca buku pelajaran, membuat ringkasan dan ikhtisar, mengerjakan tugas,
membentuk kelompok belajar dan memanfaatkan perpustakaan.

2.3.2 Pengertian Waktu Belajar


Siswa sebagai seorang pelajar seharusnya dalam setiap kesempatan senantiasa
memanfaatkan waktu untuk belajar baik di rumah maupun di sekolah.Untuk itu, perlu
diperhatikan waktu yang tersedia agar digunakan secara efektif dan efisien. Menurut
Purwanto (2006:4), waktu adalah sumber daya yang tidak dapat kita beli atau jual,
kita bagi dengan orang lain atau kita ambil dari mereka.
Bagi orang yang rajin dan mempunyai tujuan hidup yang jelas, waktu adalah
sesuatu yang sangat berharga, mereka tidak akan membuang waktu dengan sia-sia
tetapi justru menggunakannya dengan lebih bijaksana. Hadi (2013:60)
mengemukakan bahwakalau anda ingin menjadi sukses semuda mungkin,
perhatikanlah penggunaan waktu anda, dan pastikan penggunaan waktu anda
bernilai.
Menurut Djamarah (2008:13), Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman

30
individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif,
dan psikomotor.
Belajar merupakan hal terpenting bagi kesuksesan para peserta didik, maka
dari itulah para pengajar menganjurkan peserta didiknya selalu belajar dengan
bersungguh-sungguh. Sedangkan menurut Slameto (2010: 2) menyatakanbelajar
ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa waktu belajar adalah
sumber daya yang dimiliki seseorang yang tidak dapat dimiliki orang lain dalam
rangka mendapatkan pengetahuan, kecakapan, kebiasaan, kepandaian, dan sikap
secara teratur dan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.

2.3.3 Optimalisasi Waktu Belajar


Mengoptimalkan waktu belajar yaitu dengan cara meminimalkan waktu yang
terbuang. Sumber-sumber pemborosan waktu yang sering dilakukan siswa adalah
waktu untuk menonton televisi, waktu untuk telephon, waktu untuk tidur, waktu
pulang pergi dan tamu tak diundang. Untuk mengurangi pemborosan waktu tersebut,
setiap siswa harus mengetahui bagaimana solusi dan cara mengatasinya.
(http://www.wordpress.com/ ahmadfarisi diakses pada tanggal : 9 April 2013 Pukul
10.15).
Menurut Orr (1989: 5) menyatakan bahwa pemborosan waktu dapat dilihat
dari daftar teratas yaitu yang pertama adalah waktu untuk televisi dan telepon, diikuti
ketat oleh waktu menunggu, waktu pulang pergi dan waktu yang digunakan untuk
mengerjakan pekerjaan orang lain yang seharusnya sudah ditolak dengan tegas oleh
siswa yang memang sibuk.
Dilihat dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan menghindari
waktu-waktu yang dapat memicu pemborosan waktu yaitu seperti pemborosan waktu
menonton televisi, waktu telepon, waktu pulang pergi, waktu menunggu, waktu tamu

31
tak diundang.Dengan menghindari waktu-waktu tersebut akan mengurangi
pemborosan waktu, sehingga mereka akan lebih bisa memanfaatkan waktu untuk
belajar yang pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar siswa.

2.3.4 Pengertian Belajar


Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan
kegiatan yang paling pokok. Ini bearti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan
pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh
siswa sebagai anak didik. Menurut Slameto (2003: 2) menyatakan bahwa belajar
ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dengan anak didik mengetahui pentingnya belajar, maka prestasi yang akan
dicapainya pun akan maksimal. Menurut Djamarah (2008: 13), Belajar adalah
serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang
menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.
Dari beberapa pendapat dari para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa
belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku baru secara keseluruhan dengan lingkungannya yang
menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor seseorang.

2.3.5 Cara Memanfaatkan Waktu Belajar Secara Efektif


Belum tentu esok adalah waktu anda. Ada tipe orang yang perfeksionis
yaitu orang yang menganut prinsip bahwa segala sesuatu harus sempurna. Mungkin
ada orang yang dapat menjalani prinsip ini, tetapi secara umum bahwa hidup ini tidak
ada yang sempurna. Menurut Wiyono (2004: 143) menyatakan bahwa
Memanfaatkan waktu secara efektif adalah dalam menggunakan waktu berorientasi
hasil yang lebih besar dari yang telah direncanakan.

32
Sedangkan Menurut Slameto (2003:82), salah satu belajar yang efektif adalah
membuat jadwal dan melaksanakannya. Adapun cara untuk membuat jadwal yang
baik adalah sebagai berikut:
Setiap hari ada 24 jam, 24 jam digunakan untuk:
1. Tidur: 7 jam
2. Makan, mandi, olahraga: 3 jam
3. Urusan pribadi dan lain-lain: 2 jam
4. Sisanya untuk belajar: 12 jam
Waktu 12 jam ini digunakan untuk belajar di sekolah selama kurang lebih 7
jam, sedangkan sisanya yang 5 jam digunakan untuk belajar di luar jam pelajaran
sekolah seperti di rumah atau di perpustakaan. Supaya berhasil dalam belajar, jadwal
yang sudah dibuat haruslah dilaksanakan secara teratur, disiplin dan efisien.
Waktu belajar yang banyak bukanlah suatu jaminan untuk meraih prestasi
maksimal, jika tidak digunakan secara optimal. Syaiful Bahri Djamarah (2002:10),
mengemukakan pedoman umum belajar yang meliputi:
1. Belajar dengan teratur.
2. Disiplin dan bersemangat.
3. Konsentrasi.
4. Istirahat dan tidur.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan waktu
belajar secara efektif adalah penggunaan waktu yang berorientasi pada belajar yang
mendapatkan hasil belajar yang lebih teratur, disiplin dan semangat.

33
BAB III
HASIL

Indikator 1 : Jenis dan sumber perolehan ponsel


Hasil
Pertanyaan Persentase Hasil
Wawancara

7%
14 Orang
Memiliki
Apa jenis ponsel memiliki android ponsel
(android)
yang Anda gunakan
Tidak memiliki
saat ini? 1 Orang tidak ponsel
memiliki android 93%

Dibelikan orang
tua: 11 Orang

Meminta kepada
orang tua: 2 7% Dibelikan
Siapakah yang Orang 13% orang tua
Meminta
membelikan Anda kepada orang
ponsel? Hadiah dari tua
Hadiah dari
orang Tua: 1 orang tua
80%
Orang

Tidak diberi izin


oleh orang tua: 1
Orang

Indikator II : Penilaian responden terhadap tindakannya sendiri

34
Ketergantungan
dengan ponsel : 4
Apakah Anda merasa
Orang
27%
ketergantungan dengan Ketergantungan Tidak Ketergantungan
ponsel?
Tidak 73%
Ketergantungan :
11 Orang

Apakah Anda Kesulitan jika


merasa tidak dekat 20%
kesulitan jika ponsel : 3 Orang Kesulitan
tidak berada Tidak
kesulitan
dekat dengan Tidak kesulitan
ponsel? 80%
jika tidak dekat
ponsel : 12 Orang

Membuat
Apakah Anda Peraturan untuk
membuat tidak memainkan
peraturan Membuat
ponsel saat
untuk diri 27% peraturan
belajar :11 orang sendiri
sendiri agar
Tidak
tidak membuat
Tidak Membuat 73% peraturan
memainkan
sendiri
ponsel saat Peraturan untuk
belajar? tidak memainkan
ponsel saat
belajar : 4 orang

35
Ketergantungan
terhadap ponsel
mempengaruhi
prestasi belajar :

Apakah tingkat 9 orang


ketergantungan Anda
40%
terhadap ponsel Tidak Mempengaruhi Tidak Mempengaruhi
mempengaruhi prestasi Ketergantungan 60%
Anda di sekolah? terhadap ponsel
mempengaruhi
prestasi belajar :
6 orang

Indikator III : ketergantungan pada ponsel terhadap kebiasaan belajar di rumah

Pernahkah Anda lupa Lupa


untuk mengerjakan PR mengerjakan PR
di rumah karena terlalu karena asik
asik bermain ponsel?
bermain ponsel :
4 orang
27% Pernah lupa
mengerjakan
Tidak pernah
lupa
Tidak pernah 73% mengerjakan
lupa mengerjakan
PR karena asik
bermain ponsel :
11 orang

36
Sering
menghabiskan
Seberapa seringkah
waktu belajar
Anda menghabiskan
dengan bermain 7%
Jarang menghabiskan waktu belajar
waktu belajar di malam hari untuk bermain ponsel
ponsel : 1 orang
malam hari untuk
bermain ponsel?
Jarang
menghabiskan Selalu bermain ponsel pada jadwal
belajar malam hari
waktu belajar 93%
dengan bermain
ponsel :14 orang

Orang tua
menetapkan
Apakah orang tua Orang tua
peraturan menetapka
Anda menetapkan n
belajar : 9 orang
ketentuan terhadap peraturan
belajar
antara waktu belajar 40%
Orang tua Orang tua
dan bermain ponsel di 60% tidak
menetapkan menetapka
rumah?
n
peraturan
peraturan
belajar : 6 orang belajar

37
Orang tua selalu
memantau : 6
Orang
Orang tua selalu memantau aktivitas
bermain ponsel pada anak
Orang tua
Apakah orang tua kadang-kadang
Anda selalu memantau memantau : 3 40% 40%
Orang tua kadang-kadang memantau
aktivitas Anda bermain orang aktivitas bermain ponsel pada anak
ponsel di rumah?

Orang tua tidak


memantau : 6 20%
Orang tua tidak memantau aktivitas
Orang bermain ponsel pada anak

38
Indikator IV : ketergantungan pada ponsel terhadap proses belajar di kelas

Adakah peraturan di Boleh membawa


sekolah Anda agar ponsel tetapi
para siswa tidak tidak boleh Boleh membawa tetapi tidak boleh
membawa ponsel ke digunakan saat digunakan saat proses ajar-
mengajar
dalam lingkungan proses ajar-
sekolah? mengajar : 15
100%
orang

Pernah bermain
14%
ponsel saat Pernah bermain ponsel pada proses ajar-
mengajar
Apakah Anda bermain prosese ajar-
ponsel saat sedang mengajar : 2 13%
berlangsungnya proses orang Jarang bermain ponsel pada proses ajar-
mengajar
ajar-mengajar di dalam
kelas? Tidak pernah : 11
orang Tidak pernah bermain ponsel pada proses
73%
ajar-mengajar

Jarang : 2 orang

39
Indikator V : Tentang aktivitas yang dilakukan saat bermain ponsel

Lama bermain
ponsel dalam
sehari < 5 jam < 5 jam per hari

perhari : 12 orang 7%
7%
Seberapa lamakah Anda 5-97%
jam per hari
memainkan ponsel 5-9 jam perhari :
dalam sehari? 1 orang
>14 jam per hari
>14 jam perhari :
79%
1 orang
Tidak bermain ponsel sama sekali
Tidak bermain
sama sekali : 1
orang

40
Permainan : 6
orang
6%
6%
Permainan Browser
Browser : 3
orang 35%
Aplikasi ponsel apa saja
yang sering Anda
Media sosial : 6 Media Sosial SMS
gunakan?
orang 35%

SMS : 1 orang Tidak bermain sama sekali


18%
Tidak sama
sekali : 1 orang
Menghabiskan 1
gb perbulan : 5
orang 1 Gigabyte
per bulan
2gb perbulan : 4 2 Gigabyte
Berapa banyak kuota
orang 13% per bulan
data internet yang 7% 33% 3 Gigabyte
3gb perbulan : 3 per bulan
Anda habiskan dalam
orang 20% 4 Gigabyte
sebulan? per bulan
4gb perbulan : 1 27% Tidak
orang menggunaka
n internet
Tidak
menggunkan
kouta : 2 orang

41
BAB IV
PEMBAHASAN

Persentase siswa yang memiliki ponsel


Memiliki ponsel (android)
7%

Tidak memiliki ponsel

93%

Berdasarkan hasil dari


penelitian yang telah kami lakukan, presentase siswa yang memiliki ponsel berupa
ponsel pintar adalah 93% sedangkan siswa yang tidak memiliki ponsel berjumlah 7%.
Hal ini sesuai dengan hasil Google bersama TNS Australia mendapati, 50 persen
pemilik ponsel pintar di Indonesia menjadikan peranti itu sebagai peralatan
telekomunikasi utama, termasuk untuk mengakses internet.
Pada awalnya, handphone hanya digunakan oleh orang-orang tertentu karena
harganya yang masih mahal. Tapi jaman sekarang, anak muda bahkan mayoritas
sudah menggunakan handphone-handphone yang canggih.
Melalui handphone, dengan teknologi dan fitur yang berkembang pesat,
komunikasi pun menjadi mudah dilakukan. Karena handphone, seseorang dapat
berkomunikasi dengan seorang lainnya yang berada jauh disana. Karena handphone,
penyebaran dan pertukaran informasi bisa lebih cepat dilakukan. Hadphone
mempunyai banyak manfaat positif dalam meningkatkan kualitas komunikasi
masyarakat.
Melalui evolusi selama 70 tahun, handphone sudah berkembang pesat dari
generasi ke-0, yaitu pada tahun 1921. Di mana handphone hanya efektif pada jarak

42
10-20 mil, sampai generasi 4G (saat ini), di mana handphone sudah mampu
menjangkau segala lapisan komunikasi di dunia ini. Seperti yang sudah diungkapkan
pada bagian pendahuluan, bahwa handphone adalah bak dunia dalam genggaman
tangan.
Telepon genggam generasi pertama disebut juga 1G. 1-G merupakan telepon
genggam pertama yang sebenarnya. Tahun 1973, Martin Cooper dari Motorola Corp
menemukan telepon seluler pertama dan diperkenalkan kepada public pada 3 April
1973. Telepon seluler yang ditemukan oleh Cooper memiliki berat 30 ons atau sekitar
800 gram. Penemuan inilah yang telah mengubah dunia selamanya.
Teknologi yang digunakan 1-G masih bersifat analog dan dikenal dengan
istilah AMPS. AMPS menggunakan frekuensi antara 825 Mhz- 894 Mhz dan
dioperasikan pada Band800 Mhz. Karena bersifat analog, maka sistem yang
digunakan masih bersifat regional. Salah satu kekurangan generasi 1-G adalah karena
ukurannya yang terlalu besar untuk dipegang oleh tangan. Ukuran yang besar ini
dikarenakan keperluan tenaga dan performa baterai yang kurang baik. Selain itu
generasi 1-G masih memiliki masalah dengan mobilitas pengguna. Pada saat
melakukan panggilan, mobilitas pengguna terbatas pada jangkauan area telpon
genggam.
Generasi kedua atau 2-G muncul pada sekitar tahun 1990-an. 2G di Amerika
sudah menggunakan teknologi CDMA, sedangkan di Eropa menggunakan teknologi
GSM. GSM menggunakan frekuensi standar 900 Mhz dan frekuensi 1800 Mhz.
Dengan frekuensi tersebut, GSM memiliki kapasitas pelanggan yang lebih besar.
Pada generasi 2G sinyal analog sudah diganti dengan sinyal digital. Penggunaan
sinyal digital memperlengkapi telepon genggam dengan pesan suara, panggilan
tunggu, dan SMS.Telepon seluler pada generasi ini juga memiliki ukuran yang lebih
kecil dan lebih ringan karena penggunaan teknologi chip digital. Ukuran yang lebih
kecil juga dikarenakan kebutuhan tenaga baterai yang lebih kecil. Keunggulan dari
generasi 2G adalah ukuran dan berat yang lebih kecil serta sinyal radio yang lebih
rendah, sehingga mengurangi efekradiasi yang membahayakan pengguna.

43
Generasi ini disebut juga 3G yang memungkinkan operator jaringan untuk
memberi pengguna mereka jangkauan yang lebih luas, termasuk internet sebaik video
call berteknologi tinggi. Dalam 3G terdapat 3 standar untuk dunia telekomunikasi
yaitu Enhance Datarates for GSM Evolution (EDGE), Wideband-CDMA, dan CDMA
2000. Kelemahan dari generasi 3G ini adalah biaya yang relatif lebih tinggi, dan
kurangnya cakupan jaringan karena masih barunya teknologi ini. Tapi yang menarik
pada generasi ini adalah mulai dimasukkannya sistem operasi pada ponsel sehingga
membuat fitur ponsel semakin lengkap bahkan mendekati fungsi PC. Sistem operasi
yang digunakan antara lain Symbian, Ponsel pintar dan Windows Mobile.
Generasi ini disebut juga Fourth Generation (4G). 4G merupakan sistem
ponsel yang menawarkan pendekatan baru dan solusi infrastruktur yang
mengintegrasikan teknologi nirkabel yang telah ada termasuk wireless broadband
(WiBro), 802.16e, CDMA, wireless LAN, Bluetooth, dan lain-lain. Sistem 4G
berdasarkan heterogenitas jaringan IP yang memungkinkan pengguna untuk
menggunakan beragam sistem kapan saja dan di mana saja. 4G juga memberikan
penggunanya kecepatan tinggi, volume tinggi, kualitas baik, jangkauan global, dan
fleksibilitas untuk menjelajahi berbagai teknologi berbeda. Terakhir, 4G memberikan
pelayanan pengiriman data cepat untuk mengakomodasi berbagai aplikasi multimedia
seperti, video conferencing,online game, dan lain-lain.
Di era globalisasi ini masyarakat sudah tidak asing lagi dengan penggunaan
Handphone untuk kebutuhan sehari-hari, dengan adanya handphone ini membuat
masyarakat lebih memudahkan pekerjaan mereka dan untuk berkomunikasi jarak
jauh, Masyarakat menggunakan Handphone untuk berbagai keperluan diantaranya
ada yang menggunakan Handphone untuk keperluan umum, seperti untuk telfon dan
SMS (Short Message Service), ditambah lagi dengan internetan yang sangat
memanjakan pengguna Handpone didunia ini, Masyarakat sangat banyak yang
menggunakan Handphone untuk keperluan aktifitas sehari-hari, apalagi ditahun 2015
ini berbagai macam produk didunia seperti Produk Nokia, Samsung dari Korea,
ASUS, Lenovo, dan banyak produk yang terkenal lainnya sudah merasuk
diindonesia.

44
Penduduk indonesia adalah penduduk yang sangat Up To Date informasi,
penduduk indonesia cepat mengenal dunia Moderen, sekarang masyarakat sudah
banyak meminati Ponsel pintar yang menggunakan Sistem Operasi Ponsel pintar
yang sangat canggih ini, seakan-akan masyarakat disana sudah mengusai dunia
informasi yang ada didunia ini, diantaranya banyak produk yang dimininati disana
yaitu diantaranya OPPO Ponsel pintar, Samsung, Iphone, dan masih banyak produk
lainnya, Negara yang baru saja sembuh dari berbagai macam bencana alam sehingga
sekarang sudah menjadi era digital yang melampaui dunia moderen lainnya tentang
informasi,
Penduduk Indoensia sekarang rata- rata hampir mendominasi penggunaan dua
handphone per individunya, alasannya mereka menggunakan dua handphone
sekaligus, karena mereka memisahkan antara ponsel Pribadi dan Handphone untuk
membrowsing (menjelajah) internet, mereka banyak menggunakan Ponsel pintar
untuk menjelajah internet yang membutuhkan kuota, dan apabila mereka
menggunakannya sebuah Ponsel pintar untuk telfon dan internet kebiasaan mereka
yang Awam tidak menonaktifkan paket Data, apabila kuota internet habis Pulsa
mereka akan dikonversikan menjadi pulsa internet dan otomatis pulsa mereka akan
habis, itu alasan utama mereka memisahkan antara telfon pribadi dan ponsel pintar
untuk internetan
Ponsel pintar sudah menjadi kebutuhan bagi rakyat diindonesia, masyarakat
termotivasi tentang potensi yang ada diinternet diantaranya pembuatan sebuah blog
yang menghasilkan banyak uang dan bisnis online yang sudang meningkat di
indonesia. mereka bahkan banyak yang sudah meninggalkan handphone biasa dan
beralih ke Ponsel pintar yang menggunakan Sistem Operasi Ponsel pintar yang
mudah untuk internet, karena Ponsel pintar sudah menggunakan jaringan 3G,
HSDPA, yang sangat lancar untuk menembus ruang untuk mejelajah Aplikasi
browsing internet di jagat raya ini.
Orang tua menganggap anaknya perlu dibekali ponsel dengan pertimbangan
manfaat kelancaran komunikasi. Kondisinya beragam. Ada yang di rumahnya belum
tersentuh telpon kabel, sehingga ponsel diperlukan untuk menggantikan fungsi

45
telepon rumah. Ada yang mengkhawatirkan keruwetan lalu lintas jalur bepergian
yang harus dilalui anaknya ketika beraktifitas di luar rumah. Faktor semakin
sedikitnya telepon umum yang berfungsi dengan baik juga menjadi bahan
pertimbangan. Sedangkan orang tua yang memilih untuk tidak memberikan HP
kepada anaknya karena alasan belum perlu, takut anaknya konsumtif, takut anak
mendapatkan informasi-informasi negatif dan menghindarkan dari tindak
perampokan (Aji, Baroto: 2008).

Persentase cara memperoleh ponsel


Dibelikan orang tua
7%

13%

Meminta kepada orang tua

Hadiah dari orang tua


80%

Berdasarkan persentase cara


memperoleh ponsel, sebanyak 80% dari total siswa yang kami wawancarai memiliki
ponsel berasal dari pembelian oraang tuanya ,13 % siswa yang memiliki ponsel
karena meminta kepada orang tua dan 7% siswa memiliki ponsel sebagai hadiah dari
orang tua atas prestasi yangtelah ditorehkannya.
Orang tua menganggap anaknya perlu dibekali HP dengan pertimbangan
manfaat kelancaran komunikasi. Kondisinya beragam. Ada yang di rumahnya belum
tersentuh telpon kabel, sehingga HP diperlukan untuk menggantikan fungsi telepon
rumah. Ada yang mengkhawatirkan keruwetan lalu lintas jalur bepergian yang harus
dilalui anaknya ketika beraktifitas di luar rumah. Faktor semakin sedikitnya telepon
umum yang berfungsi dengan baik juga menjadi bahan pertimbangan. Sedangkan
orang tua yang memilih untuk tidak memberikan HP kepada anaknya karena alasan
belum perlu, takut anaknya konsumtif, takut anak mendapatkan informasi-informasi
negatif dan menghindarkan dari tindak perampokan. Hal ini yang mengakibatkan

46
tingginya persentase orang tua yang membelikan anak mereka ponsel sejak masih
berada di bangku sekolah dasar.
Hanya sedikit orang tua yang memberikan ponsel kepada anaknya sebagai
sebuah hadiah. Hadiah berupa ponsel ini diberikan oleh orang tua mereka sebagai
bentuk penghargaan atas prestasi yang pernah dicapai siswa tersebut. Persentase
siswa yang meminta untuk dibelikan ponsel kepada orang tua mereka lebih besar
daripada persentase siswa yang dibelikan ponsel sebagai hadiah. Hal ini dikarenakan
para siswa tersebut meresa bahwa mereka sangat memerlukan ponsel pintar untuk
mendukung semakin maksimalnya proses belajar mereka.
Di era digital saat ini, para pengguna mobile phone atau handphone semakin
merambah hingga ke usia anak-anak. Berdasarkan survei yang dilakukan National
Consumers League, 56% anak usia 8-12 tahun telah memiliki handphone.
Sebagaimana hasil penelitian yang kami lakukan, jumlah anak SD kelas 6 di
kelurahan Sungai Ulin Banjarbaru yang memiliki ponsel justru mecapai angka 93%
yang mana seluruhnya diperoleh atas dukungan orang tua yakni dapat berupa
dibelikan atas dasar keperluan, dibelikan atas pertimbangan terhadap permintaan anak
maupun dibelikan sebagai hadiah atas presatasi yang telah dicapai anak.
Lori Evans MD, Direktur Training Psikologi di NYU Child Study Center,
seperti dikutip dari Verizonwireless mengungkapkan , Lihat dulu tanda-tanda
perkembangannya. Apakah si anak bisa merasa kehilangan sesuatu yang
dimilikinya? Apakah anak tersebut termasuk anak yang bertanggungjawab? Bisakah
orang tua mempercayainya? Apakah si anak paham bagaimana penggunaan
handphone secara aman? Usia kematangan tiap anak berbeda-beda, bahkan antar
saudara kembar pun berbeda.
Berikut ini, beberapa panduan yang bisa dijadikan pegangan bagi orang tua
maupun pendidik dalam memutuskan pemberian handphone kepada anaknya:
1. Pertimbangkan untuk memberi handphone yang hanya bisa untuk menelpon
saja bukan smartphone yang memiliki berbagai fungsi dan fitur. Bila tujuan diberikan
handphone, anak bisa menghubungi orangtua saat darurat, itu artinya orang tua tak
perlu memberi anak smartphone yang juga bisa dipakai mengakses internet.

47
2. Apakah anak menerima adanya aturan pembatasan penggunaan barang.
Misalnya bila anak sudah mengerti ada batasan dalam menonton TV atau main video
game, maka juga harus mengerti ada rambu-rambu dalam penggunaan handphone.
3. Pahamkan penggunaan handphone yang baik. Kepada siapa saja anak boleh
menelpon, kapan saja anak boleh menggunakan handphone nya dan kapan saatnya
handphone harus dimatikan.
4. Beri contoh yang baik kepada anak dalam penggunaan handphone. Orang tua
membuat beberapa aturan di rumah, misalnya Tidak ada handphone selama sedang
di meja makan dan saat sedang berbicara/ngobrol. Lalu orang tua menerapkannya
sehingga anak mencontoh sikap orang tua dalam penggunaan handphone.
Bagaimanapun keputusan tetap di tangan orang tua. Apakah anak telah layak
atau belum diberi handphone. Hal yang terpenting adalah orang tua merasa yakin dan
tenang bila telah memutuskan untuk memberikannya saat ini.

Persentase ketergantungan ponsel

Ketergantungan
27%
Tidak Ketergantungan

73%

Ditinjau dari ketergantungan


terhadap ponsel sebanyak 73% anak menyatakan bahwa ia tidak merasa
ketergantungan terhadap ponsel dan 24% anak yang menyatakan bahwa ia
ketergantungan terhadap ponsel.
Berikut ini alasan siswa SD menyatakan bahwa ia tidak ketergantuan dengan
ponsel, yakni:

48
1. Lebih memilih untuk bermain dengan teman-teman sebayanya daripada bermain
dengan ponsel. Hal ini sesuai dengan teori tugas perkembangan psikologis anak
usia sekolah yang mana mereka masih berada dalam kategori anak-anak.
2. Adanya keharusan bagi siswa kelas 6 SD untuk belajar karena jadwal pelaksanaan
ujian nasional yang semakin dekat. Ujian nasional merupaka agenda rutin tahunan
yang dilaksanakan kementrian pendidikan. Agenda tahunan yang sudah menjadi agenda
periodik ini merupakan agenda besar tahunan yang memiliki fungsi sebagai
evaluator proses pelaksanaan pendidikan. M asing-masing jenjang pendidikan
memiliki porsi pembelajaran yang berbeda, termasuk dalam komposisi siswanya.
Jenjang siswa menengah atas kejuruan memiliki komposisi sisw a yang sudah
memiliki pola pikir yang matang. Psikologi siswa menengah atas cenderung
sudah mampu menyelesaikan persolannya sendiri. J e n a j a n g p e n d i d i k a n s e k o l a h
m e n e n g a h p e r t a m a m e r u p a k a n p e r a l i h a n d a r i j e n j a n g sekolah dasar.
Komposisi siswa pada jenjang menengah pertama ini mayoritasnya di isi
oleh siswa-siswa yang belum memiliki pola pikir yang dapat menyelesaikan
persoalannya sendiri. S e m e n t a r a jenjang pendidikan sekolah dasar
merupakan awal individu m e l a k u k a n proses pembelajaran berbasis
kompetensi setelah pengenalan sekolah formal pada jenjang PAUD. Komposisi siswa
seluruhnya terdiri dari siswa yang sama sekali belum memiliki pola pikir yang mengarah
kepada proses penyelesaian masalah. Karena UN merupakan hal yang baru dikenal bagi
sisa SD, mereka akan lebih antusias untuk belajar demi suksesnya UN yang akan
dihadapinya sebentar lagi. Hal-hal yang telah dipaparkan seperti inilah yang membuat
mereka mengurangi waktu bermain ponsel.

Persentase perasaan siswa jika tidak berada dekat dengan ponsel

20% Kesulitan
Tidak
kesulitan

80%

3. Orang tua tidak mengizinkan anak


mereka bermain ponsel terus menerus sehingga secara tidak langsung, anak tidak

49
akan merasa kesulitan jika berada jauh dari ponsel. Adanya pembatasan waktu
bermain ponsel dari orang tua membuat anak tidak bisa bermain ponsel secara
terus-menerus. Orang tua melakukan hal ini berdasarkan dengan pertimbangan-
pertimbangan yang telah matang terhadap baik-buruknya penggunaan sebuah
ponsel bagi anak yang baru menduduki bangku kelas 6 sekolah dasar.
Sebanyak 80% anak yang tidak merasa kesulitan jika tidak berasa dekat dengan
ponsel dan ada 20% anak yangmenyatakan bahwa ia merasa ketergantungan terhadap
ponsel. Seperti yang telah dipaparkan pada pembahsan sebelumnya, kecilnya
persentase siswa yang merasa kesulitan jika tidak berada dekat dengan ponsel terjadi
karena anak-anak tidak ketergantungan dengan ponsel hal tersebut mebuat anak-anak
tidak merasa kesulitan jika tidak berada dekat dengan ponsel karena mereka lebih
memilih menghabiskan waktunya dengan hali lain seperti bermain dengan teman atau
keluarga serta ditambhakan dengan kesibukan mereka yang akan menghadapi masa-
masa ujian menjelang kelulusannya dari sekolah dasar.
Seperti yang dilansir dari situs sekolahdasar.com, ujian sekolah (US) untuk
jenjang SD/MI dan sederajat tahun pelajaran 2016/2017 akan digelar mulai tanggal 8-
12 Mei 2017. Ujian akhir yang dulunya dikenal dengan Ujian Nasional (UN) ini tetap
mengujikan tiga mata pelajaran utama, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA).

se siswa terhadap pembuatan peraturan untuk diri sendiri agar tidak memainkan ponsel saat belajar

Membuat peraturan sendiri


27%

Tidak membuat peraturan sendiri


73%

Berdasarkan penuturan yang


diberikan oleh responden, sebanyak 73% siswa yang telah diwawancarai menyatakan
bahwa mereka telah membuat peraturan sendiri terhadap ketentuan pembagian jadwal
belajarnya di malam hari. Adapun sebanyak 27% responden menyatakan bahwa

50
mereka tidak membuat peraturan sendiri terhadap pengaturan jadwal belajarnya di
malam hari. Dari data diatas dapat disimpulkan ternyata banyak anak yang membuat
peraturan untuk diri sendiri agar tidak memainkan ponsel saat belajar hal tersebut
dikarenakan anak-anak sudah mulai bisa bijak dalam mengambil keputusan dan lebih
bisa memilih hal yang bermanfaat untuk dirinya.

ah tingkat ketergantungan Anda terhadap ponsel mempengaruhi prestasi Anda di sekolah?

Mempengaru
hi
40% Tidak
Mempengaru
60% hi

Sesuai dengan hasil wawancara


yang telah kami peroleh, dari total responden yakni sebesar 60% responden
menyatakan bahwa mereka merasa ponsel memengaruhi prestasi mereka disekolah
dan 40% mengatakan bahwa ponsel tidak memengaruhi prestasi belajar mereka
disekolah.
Orangtua semakin menyadari manfaat media digital untuk mendukung pendidikan
dan pembelajaran anak. Misalnya, Jika orang tua tidak membantu anaknya dalam
mengerjakan tugas rumah, para orang tua akan menyuruh anak untuk mengumpulkan
informasi dari internet untuk mengerjakan berbagai tugasnya. Hal ini langkah yang
baik untuk meningkatkan pemanfaatan internet sebagai sarana pendidikan. Hal seperti
inilah yang menyebabkan orang tua mendukung anaknya menggunakan ponsel pintar
untuk mengerjakan tugasnya sehingga secara tidak langsung penggunaan ponsel ini
dapat mempengaruhi prsetasi siswa di sekolah.
Tingginya persentase siswa yang merasa bahwa penggunaan ponsel pintarnya
mempengaruhi prestasi belajar disekolah ini tidak terlepas dengan fungsi ponsel bagi
setiap pribadi siswa tersebut. Berdasarkan keperluan mereka (siswa SD kelas 6) saat
ini, mereka lebih menggunakan fungsi ponsel pintar sebagai media penunjang

51
pembelajaran untuk pembelajaran mereka dalam persiapan ujian nasional yang
sebentar lagi akan mereka jalani.

Pernahkah Anda lupa untuk mengerjakan PR di rumah karena terlalu asik bermain ponsel?

Pernah lupa
27% mengerjakan
Tidak pernah
lupa
mengerjakan
73%

Seperti yang telah ditunjukkan


pada diagram disamping, sebanyak 73% responden menyatakan bahwa mereka
pernah lupa mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di rumah karena terlalu asik bermain
ponsel. Dan sisanya lebih memilih mengerjakan tugas karena mereka berpandangan
bahwa mengerjakan tugas rumah (PR) lebih penting daripada sekedar bermain
ponsel.Karena banyak anak yang tidak ketergantungan dengan ponsel sehingga hanya
27% saja anak yang pernah lupa mengerjakan PR dirumah karena terlalu asik
bermain ponsel dan sebanyak 73% anak yang bisa mengerjakan PR dengan baik .

Seberapa seringkah Anda menghabiskan waktu belajar di malam hari untuk bermain ponsel?

Jarang menghabiskan waktu belajar malam


hari untuk bermain ponsel
7%

Selalu bermain ponsel pada jadwal belajar


malam hari

93%

Sedangkan saat ditanyai


mengenai seberapa sering menghabiskan waktu belajar nya untuk bermain ponsel,

52
93% dari total responden mengatakan bahwa mereka jarang menghabiskan waktu
belajar malam hari hanya untuk bermain ponsel. Dalam kata lain, dominan dari
responden lebih terarah dalam pelaksanaan jadwal belajar yang telah ditetapkan.
Bertolak belakang dengan hal tersebut, sebanyak 7% responden menyatakan bahwa
mereka selalu bermain ponsel pada jadwal belajar malam hari. Hal ini menandakan
bahwa hanya sebagian kecil responden saja yang lebih memilih untuk bermain ponsel
daripada belajar.. Hal ini menandakan bahwa hanya sebagian kecil responden saja
yang lebih memilih untuk bermain ponsel daripada belajar.

orang tua Anda menetapkan ketentuan terhadap antara waktu belajar dan bermain ponsel di rumah?

Orang tua menetapkan peraturan belajar

40%
Orang tua tidak menetapkan peraturan
belajar
60%

Dari hasil wawancara yang


kami lakukan 60% responden mengatakan bahwa orang tua mereka menetapkan
ketentuan waktu belajar, sedangkan orang tua yang tidak membuat ketetapan waktu
belajar sebesar 40%, dapat disimpulkan lebih banyak orang tua yang lebih
memerhatikan waktu belajar untuk anaknya.Dapat diambil kesimpulan bahwa
sebanyak 60% orang tua menetapkan peraturan hal tersebutkan agar anak belajar
bertanggung jawab dan banyak orang tua yang lebih memberi perhatian.

53
Apakah orang tua Anda selalu memantau aktivitas Anda bermain ponsel di rumah?

Orang tua Orang tua Orang tua


selalu kadang- tidak
memantau kadang memantau
aktivitas memantau aktivitas
bermain aktivitas bermain
ponsel pada bermain ponsel pada
anak ponsel pada anak
anak

Sesuai dengan diagram di


samping, 40% orang tua selalu memantau aktivitas bermain ponsel adapun orang tua
yang tidak memantau aktivitas bermain ponsel anaknya sebesar 40% sedangkan
orang tua yang kadang-kadang memantau aktivitas bermain ponsel hanya sebesar
20%.
Pihak orangtua mungkin ketinggalan dari anak-anak mereka dalam hal
menguasai dan menggunakan media digital, sedikit dari orangtua yang mengawasi
anak-anak mereka ketika mengakses internet, dan sedikit yang menjadi 'teman'
anaknya dalam jejaring sosial. Hal ini yang menyebabkan orang tua tidak selalu
memantau aktivitas bermain ponsel pada anak.
Adapun alasan dominan yang diberikan orang tua yang selalu memantau
aktivitas bermain ponsel pada anak mereka adalah adanya ketakutan dari orang tua
jika sewaktu-waktu anak mereka terjerumus pada pergaulan yang salah akibat
derasnya arus globalisasi melalui penggunaan ponsel pintar anak-anak mereka.
Ketika penggunaan media sosial dan media digital berkembang dengan cepat
di kalangan muda, dukungan orangtua dan integrasi media digital dalam pendidikan
masih tertinggal. Sehingga saatnya untuk mengejar ketinggalan. Rekomendasi utama
yang dihasilkan dari studi ini sebagai bahan masukan yaitu pihak orang tua dan guru
harus mengawasi dan mendampingi anak-anak mereka dalam aktivitas digitalnya, dan
terlibat didalamnya. Salah satu cara sederhana, contohnya orang tua dapat menjadi
'teman' di akun jejaring sosial anak, karena di sinilah anak-anak dan remaja 'bermain'

54
di dunia maya. Di sini orang tua dapat bergabung dan berkomunikasi secara intensif
dengan anak- anak untuk menciptakan lingkungan yang aman dan positif bagi
pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka di dunia cyber.

Adakah peraturan di sekolah Anda agar para siswa tidak membawa ponsel ke dalam lingkungan sekolah?

Boleh
membawa
tetapi tidak
boleh
digunakan
saat proses
ajar-mengajar
100%

Berdasarkan hasil penelitian


yang kami lakukan semua sekolah yang kami amati membolehkan siswa membawa
ponsel ke sekolah namun tidak boleh dipergunakan saat proses belajar mengajar
dilangsungkan. Kebijakan ini diambil oleh sekolah karena para pengajar merasa
terganggu dengan aktivitas siswa yang belajar sambil bermain ponsel di kelas.
Setiap sekolah memiliki aturan dan disiplin tertentu yang tertuang dalam tata
tertib untuk siswa sekolah. Aturan tersebut sering ditampilkan di ruang majelis guru,
ruang tenaga administrasi dan di ruang kelas siswa. Gunanya adalah sebagai langkah
sosialisasi agar siswa mengetahui dan memahami tata tertib sekolah.
Peraturan sekolah tentang membawa hp bagi siswa, diyakini telah
mempertimbangkan segala dampak kurang baik terhadap proses belajar di sekolah.
Oleh sebab itu rumusan tentang larangan siswa membawa hp ke sekolah harus jelas
dan tegas.
Untuk mata pelajaran yang berkaitan dengan teknik informasi dan komputer,
boleh jadi hp poliponik dibutuhkan sebagai media pembelajaran dan sarana untuk
mengakses internet melalui mobile seluler.
Bukan mustahil mata pelajaran lain juga memerlukan media hp sebagai sarana
pencari informasi bahan belajar. Seperti sudah diketahui, Hp (handphone) merupakan

55
salah satu perangkat komunikasi, hiburan dan media browsing internet. Sebagai
produk teknologi, hp menjadi sarana penting, praktis dan portable sehingga mudah
digunakan kapan saja.
Biasanya, hp yang dapat dijadikan media dan sumber belajar adalah hp jenis
poliponik sehingga digunakan untuk mengakses informasi pendidikan melalui
perangkat tersebut.
Persoalan yang paling mendasar adalah sejauhmana guru mata pelajaran
mampu mengelola siswa yang membawa hp ke sekolah sehingga benar-benar
bermanfaat untuk menunjang kelancaran pembelajaran.

Persentase kegiatan siswa saat sedang berlangsungnya proses ajar-mengajar di dalam kelas
Pernah bermain ponsel pada proses ajar-
mengajar

14%
Jarang bermain ponsel pada proses ajar-
mengajar
13%

73%
Tidak pernah bermain ponsel pada proses
ajar-mengajar

Dari 73 % responden yang


kami wawancarai mereka mengatakan tidak pernah bermain ponsel pada proses ajar-
mengajar , 14% nya lagi mengatakan bahwa mereka pernah bermain ponsel pada
proses ajar-mengajar dan 13% nya lagi mengatakan bahwa mereka jarang
menggunakan ponsel pada proses ajar-mengajar.

56
Seberapa lamakah Anda memainkan ponsel dalam sehari?

< 5 jam per 5-9 jam per


hari hari
7%
7% >14 jam per Tidak bermain
7% hari ponsel sama
79% sekali

Sebesar 79% dari responden


yang kami wawancari mengatakan bahwa mereka hanya memainkan ponsel <5 jam
per hari , 7% nya mengatakan hanya memainkan ponsel 5-9 jam perhari , 7% nya
lagi mengatakan bahwa han ya memainkan ponsel >14 jam perhari dan yang tidak
bermain ponsel sama sekali ada 7%.
Ada sebesar 35% dari responden mengatakan bahwa mereka sering
menggunakan ponsel untuk permainan , ada 35% nya lagi mengatakn bahwa mereka
sering menggunakan ponsel untuk media sosial , sedangkan 18%nya lagi mengatakan
bahwa mereka sering menggunakan ponsel untuk browser dan sisanya yaitu 6% nya
sering menggunakan ponsel untuk keperluan SMS tetapi 6% nya lagi malah tidak
bermain ponsel sama sekali.

Aplikasi ponsel apa saja yang sering Anda gunakan?

Permainan Browser
6%
6% Media Sosial SMS
35% Tidak bermain
35% sama sekali
18%

Anak-anak dan remaja memiliki


tiga motivasi utama untuk mengakses internet: untuk mencari informasi, untuk

57
terhubung dengan teman (lama dan baru) dan untuk hiburan. Pencarian informasi
yang dilakukan sering didorong oleh tugas-tugas sekolah, sedangkan penggunaan
media sosial dan konten hiburan didorong oleh kebutuhan pribadi.

Persentase banyaknya keperluan kuota data internet per bulan siswa

1 Gigabyte 2 Gigabyte
per bulan per bulan
3 Gigabyte 4 Gigabyte
13%
7% 33% per bulan per bulan
Tidak
20% menggunaka
27% n internet

Pada data yang kami peroleh


tersebut, banyaknya siswa yang menggunakan ponsel sebagai media bermain dan
sebagai media komunikasi sosial memiliki nilai yang sama besar. Sedangkan hanya
18% dari total responden saja yang menggunakan ponsel sebagai media memperoleh
informasi. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ponsel sebagai media
memperoleh informasi melalui browser hanya dilakukan karena keperluan pelajaran
saja. Sedangkan fungsi ponsel sebagai media hiburan tetap pada posisi utama bagi
mereka.
Berdasarkan persentase banyaknya keperluan kuota data internet per bulan,
sebanyak 33% responden yang kami wawancarai mengatakan bahwa mereka
menghabiskan kouta 1gb perbulannya, 27% nya lagi mengatakan bahwa mereka
menghabiskan kouta 2gb perbulannya, 20% nya mengatakan dalam sebulan
menghabiskan 3gb kouta, sedangkan ada 17% yang tidak menggunakan internet sama
sekali dan 7% nya lagi mengatakan bahwa menggunakan kouta smpai 4gb dalam
perbulan.
Berdasarkan persentase di atas, diketahui bahwa siswa yang menggunakan
kuota internet sebanyak 1 GB per bulan lebih besar daripada penggunaan kuota 2 GB
per bulan dan seterusnya. Hal ini bersesuaian dengan kecilnya intensitas anak

58
bermain ponsel dalam sehari. Semakin jarang anak bermain ponsel pintarnya, maka
semakin kecil juga keperluan kuota internet yang dipakainya dalam sebulan. Hanya
sebesar7% dari total responden yang menggunakan kuota internet sebanyak 4 GB
dalam sebulan, hal ini menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil siswa kelas 6 SD
yang bermain ponsel pintar dengan intensitas waktu yang lebih sering daripada
teman-teman sepantarannya. Menurut penuturan siswa tersebut, ia menggunakan
ponsel pintar mereka tersebut untuk mengakses media sosial sehingga memerlukan
kuota internet yang lebih besar daripada siswa lainnya yang hanya menggunakan
ponsel untuk keperluan memperoleh informasi dari internet.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat pada saat ini tidak bisa dipungkiri
lagi, berbagai penemuan baru muncul tiap harinya. Kita bisa menemukan model
maupun feature handphone yang baru yang selalu dipromosikan, mulai dari kelas
bawah sampai atas.
Pada prinsipnya teknologi ini berkembang untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan manusia agar dalam kehidupannya dapat lebih mudah berkomunikasi
ataupun melakukan sesuatu. Berdasarkan keseluruhan hasil wawancara yang telah
kami peroleh, dapat diperoleh uraian manfaat ponsel bagi siswa SD kelas 6 di
Kelurahan Sungai Ulin Banjarbaru:
Untuk mempermudah berkomunikasi
Handphone adalah alat komunikasi, baik jarak dekat maupun jarak jauh dan
merupakan alat komunikasi lisan atau tulisan yang dapat menyimpan pesan
dan sangat praktis untuk dipergunakan sebagai alat komunikasi karena bisa
dibawa kemana saja. Sebab itulah handphone sangat berguna untuk alat
komunikasi jarak jauh yang semakin efektif dan efisien. selain perangkatnya
yang bisa dibawa ke mana-mana dan dapat dipakai di mana saja.

Untuk meningkatkan jalinan social


Di samping sebagai alat komunikasi handphone tersebut dapat berfungsi
untuk meningkatkan jalinan sosial karena dengan handphone seseorang bisa
tetap berkomunikasi dengan saudara yang berada jauh, agar selalu menjaga

59
tali silaturahmi dan kerap kali handphone ini juga digunakan untuk
menambaha teman dengan orang lain.
Untuk menambah pengetahuan tentang kemajuan teknologi
Karena alat komunikasi handphone merupakan salah satu buah hasil dari
kemajuan teknologi saat ini, maka handphone tersebut dapat dijadikan salah
satu sarana untuk menambah pengetahuan siswa tentang kemajuan teknologi
sehingga siswa tidak dikatakan menutup mata akan kemajuan di era
globalisasi saat ini, jika kita amati saat ini feature handphone sangatlah
lengkap sampai jaringan internet pun sudah dapat diakses dari handphone. Hal
tersebut dapat digunakan siswa untuk mengetahui apa yang ada di sekeliling
mereka dengan catatan handphone itu digunakan dengan bijaksana.
Sebagai alat penghilang stress
Salah satu manfaat tambahan dari handphone yaitu sebagai alat penghilang
stess. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa handphone saat ini
sudah memliki feature yang sangat lengkap seperti Mp3, video, kamera,
permainan, televisi, radio, dan layanan internet. Sehingga feature tersebut
dapat dijadikan seseorang untuk menghilangkan stress. Mungkin masih
banyak lagi manfaat yang dapat diambil dari kemajuan alat komunikasi
handphone saat ini, tapi sekali lagi penulis mengatakan bahwa manfaat
handphone di atas dapat diperoleh apabila handphone tersebut dapat
digunakan dengan bijaksana sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya.
Dari setiap jawaban yang diberikan oleh responden, memang jelas bahwa
mereka setuju dengan pernyataan manfaat handphone terbesar yaitu sebagai alat
komunikasi agar tetap terhubung dengan teman ataupun keluarga, yaitu sesuai dengan
fungsi awalnya, dan selain fungsi di atas handphone tersebut bisa bermanfaat untuk
menambah pengetahuan tentang kemajuan teknologi dan untuk memperluas jaringan.
Disamping handphonemempunyai manfaat bagi penggunanya, handphone tersebut
juga mempunyai dampak negatif, diantara dampak negatifnya secara umum yaitu:
Membuat siswa malas belajar
Anak-anak yang sudah kecanduan handphone, maka setiap saatnya hanya
bermain handphone dan handphone. Mereka tidak lagi berpikir pada hal yang

60
lain. Bagi mereka handphone merupakan teman setia yang setiap ke mana-
mana selalu dibawa, rasanya tidak lengkap tanpa handphone di
genggamannya. Pada saat belajar di rumah siswa mendampingi buku dengan
handphone. Pada awalnya mendengarkan musik atau Mp3 untuk menciptakan
suasana belajar yang nyaman akan tetapi ketika bunyi telepon atau sms (short
messege service) maka buku itu ditinggalkan siswa berpaling ke handphone.
Mereka malas belajar dan lebih senang teleponan (talking-talking) dan smsan.
keberadaan handphone memanng sangat penting bagi kehidupan di jaman era
globalisasi seperti sekarang ini. Tapi jika ternyata handphone disalahgunakan
maka akan berdampak negatif. Seperti handphone yang semesti belum
diberikan kepada siswa tetap sudah diberikan kalau, memang jika siswa bisa
memanfaatkan sesuai fungsinya maka itu sangat baik tapi tidak sedikit siswa
yang menyalahgunakan handphonedari fungsinya dan pada akhirnya
handphone tersebut dapat mengganggu proses belajar dan menurunkan
prestasi belajar siswa.
Menggangu konsentasi belajar siswa
Konsentrasi adalah tingkat perhatian kita terhadap sesuatu, dalam konteks
belajar berarti tingkat perhatian siswa terpusat terhadap segala penjelasan atau
bimbingan yang diberikan guru. Seharusnya ketika seorang guru sedang
memberikan materi pelajaran seluruh perhatian siswa harus terfokus kepada
penjelasan guru tersebut. Akan tetapi sering sekali handphone yang mereka
punya menjadi salah satu penyebab konsentrasi siswa menurun, bagaimana
tidak ketika seorang guru sedang menjelaskan pelajaran siswa lebih asyik
memainkan handphone seperti smsan dengan temannya, main games, bahkan
update status di jejaring sosial facebook dan lain sebagainya. Akibat dari itu
semua saat evaluasi atau ulangan siswa tidak bisa menajawab soal akhirnya
mendapat nilai yang buruk, dan hal itulah yang menyebabkan proses belajar
gagal.
Melupakan tugas dan kewajiban
Handphone sebenarnya sangatlah bermanfaat jika dipergunakan sebagaiman
mestinya. Tetapi yang terjadi khususnya para pelajar menyalahgunakan

61
handphone tersebut untuk keperluan lain. Anak-anak terlalu asyik bermain
handphone dengan feature handphone yang semakin canggih selain untuk
menelepon dan sms, handphone tersebut sudah ada feature permainan
(games), Mp3, video, kamera, radio, televisi bahkan jaringan internet. Tidak
sedikit siswa melupakan tugas dan kewajiabannya akibat bermain handphone.
Mereka tidak lagi memperhatikan tugas dan kewajibannya sebab disibukkan
oleh handphone yang mereka punya. Akibatnya siswa tidak menguasai materi
belajarnya dan tidak sedikit siswa yang lupa mengerjakan tugas dari guru
karena sibuk memainkan handphone. dengan bermain handphone saat
pelajaran berlangsung atau tidak mengerjakan PR, itu berarti siswa telah
mengabaikan dan melupakan tugas dan kewajibannya. Hal itu tentunya tidak
boleh terjadi oleh karena itu di sini memerlukan peranan dan perhatian dari
guru dan orang tua.
Mengganggu perkembangan anak
Dengan perkembangan alat komunikasi handphone maka tercipta feature
canggih yang tersedia di handphone seperti yang telah disebutkan sebelumnya
akan mengganggu siswa dalam menerima pelajaran di sekolah, tidak jarang
mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, misscall dari teman
mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri, lebih parah lagi ada yang
menggunakan handphone untuk mencontek (curang) dalam ulangan, bermain
game saat guru menjelaskan pelajaran di samping itu karena saat ini
handphone sudah dilengkapi dengan layanan internet tidak jarang ditemui
siswa yang asyik bermain instagram saat pelajar berlangsung dan sebagainya.
Kalau hal tersebut dibiarkan maka generasi yang kita harapkan akan menjadi
rusak dan perkembangan teknologi yang kita banggakan kehadirannya dapat
berdampak buruk untuk perkembangan dan masa depan anak
Sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku
Jika tidak ada kontrol dari guru dan orang tua. Alat komunikasi handphone
bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur
porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar dan
pada akhirnya sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan prilaku.

62
Pemborosan
Dengan mempunyai alat komunikasi handphone, maka pengeluaran kita akan
bertambah, apalagi kalau handphone hanya digunakan untuk hal-hal yang
tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan. Dengan anggaran
orang tua yang serba minim para siswa memaksa orang tuanya untuk dapat
dibelikan handphone.Belum lagi para pelajar setelah itu harus meminta uang
kepada orang tua untuk membeli pulsa setiap bulan bahkan setiap hari. Jika
siswa tidak mempunyai buku maka mereka beralasan dengan tidak punya
uang, tetapi dibalik itu kalau untuk urusan membeli pulsa tidak ada kata :
tidak punya uang.
Ditinjau dari aspek kematangan berpikir siswa kelas 6 SD di Kelurahan
Sungai Ulin Banjarbaru, dapat dikatakan bahwa mereka telah mencapai tingkat yang
baik. Hal ini dapat dilihat dari cara mereka membagi waktu antara belajar dan
menggunakan ponsel. Dalam sehari, dominannya para responden menggunakan
waktu <5 jam yang membuat mereka tidak terlalu boros dalam penggunaan kuota
data paket internet. Hanya sebagian kecil dari mereka yang masih merasa tidak dapat
jauh dari ponsel dan memerlukan paket kuota data internet yang besar.

63
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang kami lakukan mengenai pengaruh ponsel


terhadap kebiasaan belajar siswa di tiga sekolah dasar Kelurahan Sungai Ulin
Banjarbaru, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa di sekolah yang kami
teliti telah mampu membagi waktu untuk belajar dan bermain ponsel. Tingginya
kesadaran belajar siswa untuk menunjang maksimalnya hasil ujian telah membuat
sebagian besar siswa mampu mengendalikan keinginannya untuk bermain ponsel.
Dengan semakin jarangnya siswa bermain ponsel, maka kebutuhannya terhadap kuota
data internetnya pun semakin sedikit.

5.2 Saran

Orang tua dianjurkan untuk lebih memberi perhatian kepada anaknya sehingga orang
tua mengetahui apa saja yang diakses anak saat menggunakan ponsel supaya hal-hal
yang tidak di inginkan tidak terjadi. Dan mempertimbangankan pemberian ponsel
kepada anak mereka sesuai dengan keperluannya.

64