Anda di halaman 1dari 3

D.

EKSPOR
Selain kontribusinya terhaadap pertumbuhan kesempatan kerja dan sebagai
salah satu sumber penting pendapatan., UKM di Indonesia juga sangat diharapkan
karena memang mempunyai potensi besar sebagai salah satu sumber penting
perkembangan (diversifikasi) dan pertumbuhan X, khususnya X manufaktur.
Kemampuan UKM Indonesia untuk merealisasikan potensi X-nya ditentukan oleh
suatu kombinasi dari sejumlah faktor-faktor keunggulan relatif yang dimiliki UKM
Indonesia atas pesaing-pesaingnya, baik dari dalam (UB) maupun luar negeri. Dalam
konteks ekonomi/perdagangan internasional, pengertian dari keunggulan relatif dapat
didekati dengan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetetif.
Data yang ada menunjukkan bahwa UKM masih lemah dalam X
dibandingkan mitranya UB, dan di dalam kelompok UKM Sendiri, UM lebih unggul
daripada UK dalam X. Nilai X total dari UK tahun 2000 dan 2001diperkirakan
mencapai masing-masing 18 dan 23 triliun rupiah. Nilai ini tidak sampai setengahnya
dari X tota UM yang pada periode yang sama diperkirakan hampir mencapai masing-
masing 53,5 dan 75,5 triliun rupiah. Nilai X dari UK relatif lebih kecil lagi bila
dibandingkan dengan nilai X dari UB yang diperidiksi hampir mencapai berturut-
turut 419 dan 592 triliun rupiah. Kalau dilihat dari struktur X-nya, X dan UK paling
banyak berasal dari Industri manufaktur, bukan pertanian. Indikator ini berbeda
dengan tiga indikator sebelumnya, yakni pangsa jumlah, L dan PDB yang
menunjukkan pertanian sebagai sektor dominan dominan dari UK. Tahun 2000 dan
2001 pangsa X manufaktur dari UK masing-masing mencapai sekitar 72,7% dan
70%. Sturktur X dari UK ini tidak terlalu jauh berbeda dengan struktur X dan UM
dan UB.
Di tiga sektor penting, pertambangan, pertanian, dan industri manufaktur,
peran UK dalam X total dari sektor industri manufaktur lebih besar dibandingkan di
dua sektor lainnya. Di pertanian, X dari UK yang nilainya cukup besar hanya
terdapat di beberapa subsektor saja, seperti tanaman perkebunan, perikanan, dan
bahan makanan yang tahun 2000 kontribusinya masing-masing sebesar
0,44%;0,27%; dan 0,19% dan relatif konstan tahun 2001, kecuali di subsektor
tanaman perkebunan mengalami sedikit kenaikan 0,19% dan kenaikan menjadi
0,45%. Di tiga subsektor pertanian ini, berdasarkan perbedaan UM dan UB dalam X.
Di sektor pertambangan dan penggalian, UK punya andil hanya dalam X hasil pengg
Alian, walaupun sangat kecil, yang selama 2000-2001 hanya sekitar 0,07%-0,09% di
industri, X dari UK cukup menonjol hanya di beberapa subsektor saja, yang memang
merupakan keunggulan tradisionalnya seperti produk-produk dari kayu, makanan,
minuman, dan tembakau, TPT, dan kayu serta produk-produknya. Selama 2000-
2001, sahamnya dalam X manufaktur total rata-rata antara 0,50% dan 0,57%.
Tahun 2000, hampir 67% dari X total sektor pertanian berasal dari UK,
dibandingkan UM dan UB yang masing-masing hanya 24,22% dan 8,76% pada
tahun 2001 pangsa UK naik sedikit menjadi 67,82% dibandingkan 23,42% dan
8,76% dari masing-masing UM dan UB. Dari X total dari UK ini, paling besar adalah
X bahan-bahan makanan seperti sayur-sayuran dan biji-bijian yang tahun 2000
mencapai 99,22% dan 98,07% tahun 2001. Di pertambangan dan penggalian nilai X
dari UK sangat kecil, rata-rata selama periode yang diteliti hanya sekitar 0,53%,
tetapi kalau dilihat hanya penggalian, nilai X dari UK sangat dominan. Tahun 2000
sahamnya mencapai hampir 68% dan turun menjadi 50,7% tahun 2001. Sedangkan
disektor industri manufaktur rata-rata sekitar 3% selama periode yang sama,
dibandingkan UM dengan rata-rata 22% dan UB 81%.
Hasil SUSI 2000 memberikan fakta empiris mengenai banyaknya usaha
tidak berbadan hukum yang melakukan X (secara langsung maupun tidak langsung
lewat perantara seperti pedagang, perusahaan perdagangan atau trading houses). Dari
jumlah usaha tidak berbadan hukum yang ada di Indonesia, yakni 14.959.984 unit,
hanya 20.454 unit yang melakukan X, yang terdiri dari 14.948 unit di industri
manufaktur dan sisanya 5.506 unit diperdagangan besar, eceran dan rumah makan,
serta jasa akomodasi. Dari survei ini ada dua hal yang menarik. Pertama, dari 14.948
unit yang melakukan penjualan ke pasar luar negeri sebagian besar adalah dari
kategori IK (13.191 unit). Pola distribusi ini memberi suatu indikasi bahwa IK lebih
berorientasi X dibandingkan IMI. Hal kedua yang menarik adalah bahwa dari 20.545
unit yang melakukan X, tidak semuanya menjual 100% dari produk mereka ke pasar
luar negeri. Ada yang hanya mengekspor sebagian kecil saja dari produk mereka dan
sisanya dijual kepasar domestik. Di industri manufaktur, sebanyak 280 unit hanya
menjual kurang dari 15% total produksi mereka, dan yang menjual 80% atau lebih
ada 6.521 unit. Sedangkan di perdagangan, sebanyak 625 unit menjual kurang dari
15% produk mereka ke luar negeri, dan yang menjual 80% atau lebih sebanyak 3.092
unit. Jadi, jumlah unit yang melakukan X dalam persentase yang lebih besar lebih
banyak daripada jumlah unit yang melakukan X dalam persentase yang lebih kecil.