Anda di halaman 1dari 67

MAR

17

SATUAN ACARA PENYULUHAN MIOMA UTERI


Bidang studi : D3 kebidanan
Topic : Mioma uteri
Sasaran : Remaja dan ibu-ibu
Waktu : pukul 14.00 WIB
Hari/tanggal : Senin, 22 Desember 2012
durasi : 10 menit
Tempat : Puskesmas A
A. TUJUAN UMUM
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, diharapkan masyarakat dapt mengerti dan
memahami tenteng mioma uteri, penyebab dan faktor predisposisi mioma uteri, gejala pada
mioma uteri, cara pencegahan dan pengobatan mioma uteri
B. TUJUAN KHUSUS
Setelah diberikan penyuluhan peserta mampu
1. Menjelaskan pengertian mioma uteri

2. Mengetahui penyebab dan faktor predisposisi mioma uteri


3. Menyebutkan klasifikasi mioma uteri
4. Mengetahui gejala mioma uteeri
5. Mengetahui cara pencegahan dan pengobatan mioma uteri

C. MEDIA YANG DIGUNAKAN


1. Materi SAP
2. Leaflet

D. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
E. SUMBER
1. Hanifa Wiknjosastro. Ilmu Kebidanan. Edisi 3. Jakarta: Yayasan Nina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo ; 1997.
2. Derek Llewellyn-Jones. Fundamentals of Obstetry and Gynaecology. Edisi 6. Syney ; 1994

3. KEGIATAN PEMBELAJARAN

No Waktu Kegiatan penyuluh Kegiatan peserta


.
1. 4 menit Pembukaan : Menjawab salam
Memberi salam Mendengarkan dan
Menjelaskan tujuan penyuluhan memperhatikan
Menyebutkan materi/pokok bahasan yang akan
disampaikan
2. 10 menit Pelaksanaan : Menyimak dan
Menjelaskan materi penyuluhan secara memperhatikan
berurutan dan teratur
Pengertian mioma uteri
Penyebab dan faktor predisposisi mioma
uteri
Klasifikasi mioma uteri
Gejala mioma uteri
Pencegahan dan pengobatan mioma uteri
3. 5 menit Evaluasi Merespon dan
Memberikan kesempatan kepada peserta bertanya
penyuluhan untuk bertanya
4. 2 menit Penutup : Menjawab salam
Mwngakhiri penyuluhan mengucapkan
terima kasih dan salam
MATERI SAP
A. PENGERTIAN MIOMA UTERI
Mioma Uteri adalah suatu tumor jinak pada rahim yang berasal dari otot rahim.
Dikenal juga dengan istilah mioma atau myom atau tumor otot rahim. Jumlah penderita
mioma uteri ini sulit diketahui secara akurat karena banyak yang tidak menimbulkan keluhan
sehingga penderita tidak memeriksakan dirinya ke dokter.
Mioma terjadi pada kira kira 5 persen wanita selama masa reproduksi. Tumor ini
tumbuh dengan lambat dan mungkin baru dideteksi secara klinis pada kehidupan decade
keempat. Pada dekade ke empat ini insidennya mencapai kira kira 20%. Mioma lebih sering
pada wanita nulipara atau wanita yang mempunya 1 anak.
Mioma pada kehamilan menurut perkiraan frekuensi dalam kehamilan dan
persalinan berkisar sekitar 1 persen, banyak mioma kecil tidak di kenal. Dalam banyak
kasus kombinasi mioma dengan kehamilan tidak mempunyai arti apa apa. Di pihak lain
kombinasi itu dapat menyebabkan komplikasi obstetric yang besar artinya. Hal itu
tergantung besarnya dan lokalisasinya. Secara umum angka kejadian mioma uteri diprediksi
mencapai 20-30% terjadi pada wanita berusia di atas 35 tahun.
B. PENYEBAB MIOMA UTERI
Penyakit mioma uteri berasal dari otot polos rahim. Beberapa teori menyebutkan
pertumbuhan tumor ini disebabkan rangsangan hormon estrogen. Pada jaringan mioma
jumlah reseptor estrogen lebih tinggi dibandingkan jaringan otot kandungan (miometrium)
sekitarnya sehingga mioma uteri ini sering kali tumbuh lebih cepat pada kehamilan
(membesar pada usia reproduksi) dan biasanya berkurang ukurannya sesudah menopause
(mengecil pada pascamenopause) Sering kali mioma uteri membesar ke arah rongga rahim
dan tumbuh keluar dari mulut rahim. Ini yang sering disebut sebagai Myoma Geburt (Geburt
berasal dari bahasa German yang berarti lahir). Tumor yang ada dalam rahim dapat tumbuh
lebih dari satu, pada perabaan memiliki konsistensi kenyal, berbentuk bulat dan permukaan
berbenjol-benjol seperti layaknya tumor perut. Beratnya bervariasi, mulai dari beberapa
gram saja, namun bisa juga mencapai 5 kilogram atau lebih.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor, di samping faktor
predisposisi genetik, adalah estrogen, progesteron dan human growth hormone.
1. Estrogen
Mioma uteri dijumpai setelah menarke.
Seringkali terdapat pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen
eksogen.
Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium
Adanya hubungan dengan kelainan lainnya yang tergantung estrogen seperti
endometriosis (50%), perubahan fibrosistik dari payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%)
dan hiperplasia endometrium (9,3%).
Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan
sterilitas.
17B hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi
estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous, yang juga
mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak daripada miometrium normal.
2. Progesteron
Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat
pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan
menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor
3. Hormon pertumbuhan
Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang
mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada periode ini,
memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan mingkin
merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen.
C. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Umur: mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10%
pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis
antara 35-45 tahun.
2. Paritas: lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanirta yang relatif infertil, tetapi
sampai saat ini belum diketahui apakan infertilitas menyebabkan mioma uteri atau
sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini
saling mempengaruhi.
3. Faktor ras dan genetik : pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka
kejadian mioma uteri tinggi. 14 Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita
dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.
4. Fungsi ovarium: diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan
mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan
mengalami regresi setelah menopause.

D. KLASIFIKASI
Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena.
1. Lokasi
Cerivical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi.
Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius.
Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa gejala.

2. Lapisan Uterus
Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasinya dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
a. Mioma Uteri Subserosa
Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula
sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai.
Pertumbuhan ke arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai
mioma intraligamenter.
Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneal sebagai suatu massa.
Perlengketan dengan usus, omentum atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem
peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum. Akibatnya tangkai makin mengecil
dan terputus, sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas
dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik.
b. Mioma Uteri Intramural
Disebut juga sebagai mioma intraepitelial. Biasanya multipel apabila masih kecil tidak
merubah bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjol-benjol, uterus
bertambah besar dan berubah bentuknya.
Mioma sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena
adanya massa tumor di daerah perut sebelah bawah.
Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma
submukosa. Di dalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan
otot rahim dominan).
c. Mioma Uteri Submukosa
Terletak di bawah endometrium. Dapat pula bertangkai maupun tidak. Mioma bertangkai
dapat menonjol melalui kanalis servikalis, dan pada keadaan ini mudah terjadi torsi atau
infeksi. Tumor ini memperluas permukaan ruangan rahim.
Dari sudut klinik mioma uteri submukosa mempunyai arti yang lebih penting dibandingkan
dengan jenis yang lain. Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural walaupun
ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak berarti.
Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan
perdarahan melalui vagina. Perdarahan sulit untuk dihentikan sehingga sebagai terapinya
dilakukan histerektomi.
E. TANDA DAN GEJALA MIOMA UTERI
1. Apabila dari hasil anamnesa didapatkan data-data sebagai berikut
a. Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama.
b. Kadang-kadang disertai gangguan haid, buang air kecil atau buang air besar.
c. Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah.
2. Jika dari pemeriksaan fisik didapatkan :
a. Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah.
b. Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor tersebut
menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi.
c. Konsistensi padat, kenyal, mobil, permukaan tumor umumnya rata.
3. Gejala klinis
a. Adanya rasa penuh pada perut bagian bawah dan tanda massa yang padat kenyal.
b. Adanya perdarahan abnormal.
c. Nyeri, terutama saat menstruasi.
d. Infertilitas dan abortus.
4. Pemeriksaan luar
Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat terbatas
atau bebas.
5. Pemeriksaan dalam
Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas
dan ini biasanya ditemukan secara kebetulan.
6. Pemeriksaan penunjang
a. USG, untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometriium dan keadaan
adnexa dalam rongga pelvis.
b. Mioma juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu
lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG. Untungnya, leiomiosarkoma
sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya dengan mioma dan konfirmasinya
membutuhkan diagnosa jaringan.
c. Dalam sebagian besar kasus, mioma mudah dikenali karena pola gemanya pada beberapa
bidang tidak hanya menyerupai tetapi juga bergabung dengan uterus; lebih lanjut uterus
membesar dan berbentuk tak teratur.
d. Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai
fungsi ginjal dan perjalanan ureter.
e. Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan
infertilitas.
f. Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.
F. PENCEGAHAN
1. Pada pemeriksaan fisik, mioma uteri dapat ditemukan melalui pemeriksaan ginekologi rutin.
Diagnosis mioma uteri dicurigai bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh satu atau lebih
massa yang lebih licin, tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah
bagian dari uterus.
Pemeriksaan penunjang
2. Ultrasonografi (USG) Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam
menetapkan adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama lebih bermanfaat
untuk mendeteksi kelainain pada rahim, termasuk mioma uteri. Uterus yang besar lebih baik
diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri dapat menampilkan
gambaran secara khas yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran
uterus. Sehingga sangatlah tepat untuk digunnakan dalam monitoring (pemantauan)
perkembangan mioma uteri.
b. Histeroskopi Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma uteri submukosa, jika
tumornya kecil serta bertangkai. Pemeriksaan ini dapat berfungsi sebagai alat untuk
penegakkan diagnosis dan sekaligus untuk pengobatan karena dapat diangkat.
3. MRI (Magnetic Resonance Imaging) Akurat dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan
lokasi mioma tetapi jarang diperlukan karena keterbatasan ekonomi dan sumber daya. MRI
dapat menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus-kasus yang tidak dapat disimpulkan.
G. PENANGANAN
Penanganan mioma uteri tergantung pada umur, paritas, lokasi, dan ukuran tumor,
dan terbagi atas
1. Penanganan konservatif. Bila mioma yang kecil pada pra dan post menopause tanpa
gejala.
2. Penanganan operatif, bila :
a. Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu.
b. Pertumbuhan tumor cepat.
c. Mioma subserosa bertangkai dan torsi.
d. Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya.
e. Hipermenorea pada mioma submukosa.
f. Penekanan pada organ sekitarnya.

H. KESIMPULAN
Mioma uteri merupakan tumor jinak yang sering terjadi pada wanita berusia lebih
dari 35 tahun yaitu sekitar 20 hingga 30 persen Hampir separuh dari kasus mioma uteri
ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan pelvik rutin. Pada penderita memang tidak
mempunyai keluhan apa-apa dan tidak sadar bahwa mereka sedang mengandung satu
tumor dalam uterus. Karenanya sangat penting untuk melakukan deteksi pribadi secara dini
untuk menghindari dan mencegah timbulnya penyakit ini, kalaupun penyebabnya genetik
pada keluarga paling tidak dapat di deteksi secara dini sebelum penyakit ini bertambah
hebat dan menyebabkan komplikasi yang serius bagi organ organ disekelilingnya yakni
dengan melakukan pemeriksaan ginekologis rutin dan USG, sedangkan Histeroskopi dan
MRI merupakan pilihan lain untuk hasil lebih akurat, namun dengan USG saja sudah bisa
dideteksi Mioma yang berkembang pada rahim seseorang
Posted 17th March 2013 by tesa septia Ningsih
Labels: learning
0
Add a comment

abstrak !!!!

Classic

Flipcard

Magazine

Mosaic

Sidebar

Snapshot

Timeslide
1.
OCT

Petualangan di klan Bintang (resensi novel Matahari)


Identitas buku
Judul buku : Matahari
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Deskripsi Fisik : 400 hlm, 20 cm
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2016
Cetakan : Ke-1
ISBN : 978-602-978-667-5

Sinopsis Buku
Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. Jika saja orangtuanya mengijinkan, seharusnya dia sudah
duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doctor di Universitas ternama. Ali tidak menyukai
guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya.
Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya
yang membosankan berubah seru. Aku bias menghilang dan Seli bias mnegeluarkan petir.
Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bias berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga
kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan.
Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan di atas
segalanya, dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.
***
MATAHARI merupakan buku ke tiga dari serial BUMI karya Tere Liye. Buku ini
kembali menceritakan kisah petualangan Raib, Seli dan Ali ke dunia paralel. Ketiganya berusia
15 tahun, masih kelas sepuluh SMA. Diceritakan Raib, Ali, dan seli masing-masing memiliki
kelebihan. Raib dengan kemapuan menghilangnya, Seli tangannya dapat memngeluarkan petir,
dan Ali dapat berubah menjadi beruang raksasa. Jika pada buku sebelumnya menceritakan
petualangan mereka ke klan bulan dan matahari maka buku ini menceritakan petualangan mereka
ke klan Bintang.
Petualangan mereka beraal dari rasa penasaran Ali terhadap keberadaan klan bintang
yang selama ini hanya dianggap legenda. Berbekal oleh-oleh dari Av, pada petualangan mereka
di klan matahari berupa tabung kecil terbuat dari logam perak seukuran ibu jari. Tabung tersebut
berisi soft copy seluruh buku di perpustakaan Av. Dari benda ini Ali mempelajari banyak hal,
termasuk tentang keberadaan klan matahari. Ali juga berhasil menghidupkan kembali Ily, teman
yang menemani petualangan mereka di klan matahari. Namun bukan Ily yang sebenarnya,
melainkan sebuah kapsul perak yang diciptakan Ali kemudian diberi nama ILY. Kapsul ini
memiliki kekuatan gabungan klan bulan dan klan matahari, ia dapat menghilang dan
mengeluarkan petir.
Penemuan keberadaan klan bintang membuat Ali sangat antusias untuk segera
mengunjungi klan tersebut. Sebenarnya mereka bisa saja menggunakan buku matematika milik
Raib untuk membuka portal dunia paralel, tetapi Raib sudah berjanji pada Av dan miss selena
tidak akan menggunakan buku tersebut tanpa seijin mereka. Akhirnya petualangan ke klan
bintang dilakukan dengan ditemani ILY, kapsul perak yang dicptakan Ali.
Keberadaan klan bintang yang diperkirakan Ali tidak melesat. Setelah melewati lorong
sepanjang ribuan kilometer di perut bumi, menghadapi ular raksasa dan kelelawar sampailah
mereka di klan Bintang. Kedatangan Raib, Ali dan Seli di klan Bintang disambut ramah oleh
penduduk klan bintang. Masalah mulai muncul ketika kedatangan mereka diketahui oleh Dewan
kota karena keberadaan mereka dianggap sebabgai ancaman. Petualangan Raib, Ali, dan Seli di
klan bintang dibantu oleh Faar, kaar, laar dan meer. Hingga akhirnya mereka lolos dari tawanan
sekretaris dewan kota dan kembali ke Bumi.
***
Tokoh yang muncul
Raib : Gadis berusia 15 tahun yang baik hati dan bijak. Raib adalah gadis keturunan klan bulan
memiliki kemampuan menghilang dan mempunyai buku kehidupan. (sudut pandang orang
pertama)
Seli : sahabat Raib, gadis berusia 15 tahun yang penakut, pesimis tetapi penyayang. Seli
berasal dari klan matahari memiliki kekuatan kinetic, tangannya dapat menhgasilkan petir dan
cahaya.
Ali : Ali adalah sahabat Raib dan Seli, usia mereka sama. Ali adalah anak yang pemalas,
tetapi jenius, nekat, dan rasa ingin tahunya tinggi. Tidak seperti raib ataupun Seli yang berasal
dari bulan dan matahari, Ali berasal dari klan permukaan bumi, tetapi Ali memiliki kelebihan
dapat berubah menjadi beruang raksasa.
Faar : wanita tua berusia ribuan yang baik hati dan bijak penghuni lembah hijau
di klan bintang. Faar merupakan tokoh protagonis dalam nove ini, wanita inilah yang pertama
kali menyambut kedatangan raib ali dan seli di klan bintang
Marsekal laar : lelaki paruh baya pemimpin pasukan pemerintah klan bintang yang akan
membawa Raib, Ali dan Seli menghadap dewan kota. Tokoh marsekal laar adalah lelaki yang
baik hati, bijak dan tangguh. Faar dan laar awalnya adaah teman tetapi laar memilih tetap bekerja
di pemerintahan.
Kaar : Kaar atau sang Hantu adalah koki di restoran ternama klan bintang. Ia seusia
Marsekal laar, periang, cekatan, dan baik hati. Kaar berasal dar klan matahari. Ia dapat
menghidangkan makanan dalam dapur tanpa tungku karena memiliki kekuatan kinetic.
Meer : Meer adalah sahabat Faar, ia tinggal di pdang rumput di klan Bintang untuk
menghindari hiruk pikuk ibukota klan bintang. Meer sedikit galak namun baik hati, ia jenius,
tangguh dan bijaksana.

Kelebihan
Bukan Tere Liye namanya jika tidak berhasil menjadikan pembaca sebagai Aku dalam
novelnya, begitupun dalam novel berjudul matahari ini. Pembaca diseret terjun dalam alur cerita
seolah ikut bertualang bersama tokohnya. Isnpiratif, tidak hanya mementingkan alur cerita tetapi
juga banyak pesan-pesan yang tersirat disetiap kejadian dalam cerita.
Novel sains fiction tetapi bahasanya ringan dan mudah dipahami. Dalam Buku ini Tere
Liye kembali menunjukkan betapa ia memiliki imajinasi yang luar biasa hingga berhasil
menggambarkan kehidupan ribuan kilometer di perut bumi.

Kekurangan
Terlepas dari jalan cerita yang apik dan sarat pesan, ada beberapa kesalahan penulisan
yang saya kira sedikit menganggu. Berikut beberapa kesalahan penulisan yang saya temukan.
aku tersenyum tpis (hal 79)
seandinya pun gagal aku akan erus berusaha. (hal 363)
getaran itu melewati tubuku (hal 367)
Selain kesalahan penulisan, saya melenguh kecewa karena tidak menemukan jawaban
mengapa Kaar si koki dijuluki sang hantu.
Kesimpulan
Setelah membaca novel Matahari karya Tere Liye dapat ditarik kesimpulan bahwa novel
ini keren, bahasa yang digunakan ringan tidak berbelit-belit dan banyak pelajaran yang dapat
dipetik. Diantaranya tidak ada yang tidak mungkin selama mau mencoba. Petualang Raib dan
kawan-kawan dalam novel ini juga membuktikan kekompakan tim dan keyakinan adalah yang
paling utama dalam memecahkan masalah.
Jadi untuk yang suka membaca saya merekomendasikan buku ini harus ada di rak buku
kalian dan harus dibaca tentunya, agar bisa merasakan sensasi petualangan Raib, Ali dan Seli

Posted 7th October 2016 by tesa septia Ningsih

0
Add a comment
2.
MAR

26

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY K UMUR 26


TAHUN P2A0AH2 NIFAS 6 HARI DENGAN ANEMIA RINGAN
DI KLINIK BERSALIN SEJAHTERA YOGYAKARTA

TINJAUAN KASUS
Ny. K berumur 26 tahun datang ke klinik untuk melakukan pemeriksaan tanggal 12
Desember 2012. ini adalah nifas yang kedua dan belum pernah abortus, HPHT 4 Januari
2012. Ibu mengatakan pusing, lemas, pandangan berkunang-kunang. Dari hasil
pemeriksaan ditemukan TD : 100/90 mmhg, S : 360C, M : 80 x / mnt, Rr 20 x / mnt, Hb : 8
gram%,dan kunjungtiva pucat.

No. register : 27042012


Masuk tanggal/jam : 12 Desember 2012, 15.30
Dirawat di ruang :-
Pengkajian data,oleh : Bidan Y Tanggal/jam : 12 Desember 2012
A. DATA SUBJEKTIF
Biodata
No. Ibu Suami
1. Nama Ny. K Tn. A
2. Umur 26 tahun 29 tahun
3. Agama Islam Islam
4. Suku/bangsa Jawa/indonesia Jawa Indonesia
5. Pendidikan SMA SMA
6. Pekerjaan IRT Wiraswasta
7. No. Telp 0878978888888 09872635671
8. Alamat Jl. Melati. 30 Jl. Melati 30

1. Alas an kunjungan saat ini : Ibu datang untuk kunjungan ulang atau kontro
2. Keluhan sekarang : Ibu mengeluh cepat lelah, sering BAK, susah tidur, pegal-
pegal pada pinggang dan kaki,
3. Riwayat menstruasi
a. HPHT : 4 Desember 2011
b. Menarche : 13 tahun
c. Siklus : 28 hari
d. Lama : 7 hari
e. Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut
f. Warna darah : merah kecoklatan tidak menggumpal
g. Bau : khas darah
4. Riwayat pernikahan
a. Usia nikah : 24 tahun
b. Lama pernikahan : 2 tahun
c. Pernikahan ke :I
5. Riwayat obstetric
P1A0AH1
6. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Hamil Persalinan Nifas
ke Lahir Umur Jenis Penolong komplikasi Jenis BB/PB laktasi komplikasi
Kehamilan persalinan & tempat kelamin lahir
1 Spontan 38+3minngu Normal Bidan/ Tidak ada Laki- 3500 ya Tidak ada
klinik laki kg/ 47
cm

7. Riwayat persalinan sekarang


a. Tempat persalinan : Klinik bersalin sejahtera
b. Tanggal persalinan : 31 Oktober 2012
c. Jenis persalinan : Normal
d. Ditolong oleh : Bidan
e. Plasenta : lahir spontan lengkap

8. Riwayat postpartum
a. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
Istirahat dan tidur
Lama : tidak menetu
Keluhan : badan tersa lemas dan sering terbangun saat istirahat
Pola eliminasi
BAB BAK
Frekuensi 3-4 x sehari 1x sehari
Konsistensi Cair Lembek
Warna Kuning jernih Kuning kecokelatan
Bau Khas Khas
Keluhan Tidak ada Tidak ada

Pola nutrisi
Makan Minum
Frekuensi 3x sehari 6-7x sehari
porsi 1 piring 1 gelas
Jenis Nasi, lauk pauk, sayur Air putuh, teh manis, susu
Keluhan Tidak ada Tidak ada

Pola aktivitas : Ibu melakukan aktivitas sebagai ibu rumah tangga seperti mencuci,
menyapu, mengepel, memasak dan mengurus suami dan anak.
Pola seksual : Ibu belum berhubungan seksual kembali.
Personal hygiene : Ibu mandi 2x sehari, gosok gigi tiap mandi dan sebelum tidur, ganti celana
dalam tiap mandi dan jika terasa kotor, ganti baju 2x sehari/jika kotor, cebok tiap selesai BAK
dan BAB.
9. Riwayat kontrasepsi yang digunakan
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi
10. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan dahulu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit misalnya dengan gejala seperti batuk darah
(TBC), sesak nafas (Asma), jantung berdebar-debar (jantung koroner), sering makan, minum,
kencing (Diabetes Melitus), penyakit seluruh tubuh kuning (hepatitis), tekanan darah tinggi
(hipertensi), tetapi pernah mengalami anemia ringan.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit misalnya dengan gejala seperti batuk darah
(TBC), sesak nafas (Asma), jantung berdebar-debar (jantung koroner), sering makan, minum,
kencing (Diabetes Melitus), penyakit seluruh tubuh kuning (hepatitis), tekanan darah tinggi
(hipertensi) dan dan tidak sedang menderita penyakit menular maupun penyakit keturunan
lainnya.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit dengan gejala seperti batuk
darah (TBC), sesak nafas (Asma), jantung berdebar-debar (jantung koroner), sering makan,
minum, kencing (Diabetes Melitus), penyakit seluruh tubuh kuning (hepatitis), tekanan darah
tinggi (hipertensi) dan tidak sedang menderita penyakit menular maupun penyakit keturunan
lainnya. Di dalam keluarga juga tidak mempunyai riwayat anak kembar (gemelly).
11. Riwayat psikososial dan spiritual
Ibu mengatakan sangat lega anak pertamanya dapat lahir dengan selamat. Hubungan keluarga
harmonis. Sejak merasakan pusing, badan terasa lemas, ibu cemas, takut terjadi kelainan nifas
yang menimpanya. Ibu sring berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar.
12. Kebiasaan yang mengganggu kesehatan
Ibu mengatakan tidak pernah merokok dan tidak pernah minum-minuman beralkohol.

B. DATA OBJEKTIF
1. Pemriksaan fisik
a. Keadaan Umum : baik
Kesadaran : Compos mentis
b. TTV :
TD : 120/80 mmHg
N : 80x/menit
R : 20x/menit
S : 36C
c. BB/TB : 50kg/155cm
d. Kepala

Muka : Tidak ada oedema, Pucat, sembab, ekspresi lemas dan menyeringai menahan nyeri
Mata : Konjungtiva pucat, Sklera putih
Mulut : Bibir agak pucat, pecah-pecah, kering, mukosa lembab, lidah bersih, tidak ada caries,
gusi tidak bengkak, tidak ada stomatitis, lidah agak pucat
e. Leher
KGB : Tidak ada pembengkakan
Kelenjar tyroid: Tidak ada pembesaran
JVP : Tidak ada indikas
f. Payudara
Bentuk : Simetris
Putting susu : menonjol
Pengeluaran ASI : Ada
Rasa nyeri : ada
Benjolan : tidak ada
Pembengkakan : ada
g. Abdomen
Tidak ada bekas luka operasi
Kandung kencing : Kosong
h. Uterus
TFU : tidak teraba
Kontraksi : baik
Konsistensi : lunak
i. Ekstermitas atas dan bawah
Atas
Kebersihan : Bersih
Oedema : tidak ada
Bawah
Oedema : Tidak ada
Varises : Tidak ada
Reflek Patella : Positif
Homman sign : Negatif
j. Genetalia
Vulva/vagina : tidak ada kelainan
Oedema : tidak ada
k. Pengelaran lokhea : serosa
Warna : putih kekuningan
Bau : khas
Konsistensi : cair
Perineum : utuh
l. Anus : tidak ada haemorhoid
2. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
a. Hb : 6 gr%
b. Gol Darah :O

C. ANALISA
Ny. K umur 26 tahun P2A0Ah2, nifas 6 hari dengan anemia berat.

D. PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu dan menjelaskan ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu mengalami anemia berat
E :Ibu mengerti dan tahu hasil pemeriksaan tentang kondisinya saat ini
2. Menganjurkan ibu untuk istirahat agar kondisi tubuh dapat pulih serta menghilangkan stres.
E :Menghindarkan ibu terhadap stres dan memenuhi kebutuhan istirahat.
3. Anjurkan ibu mengkonsumsi makanan yang tinggi kalori tinggi protein
E :Memenuhi kebutuhan nutrisi serta dapat digunakan dalam pemulihan kondisi tubuh dan
proses lactasi.
4. Mengobservasi keadaaan umummenganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi
kalori dan tinggi protein
E : ibu bersedia melaksanakan anjuran bidan
5. Melakukan kolaborasi dengan Tim Medis untuk memberikan terapi
E : Melaksanakan fungsi independen untuk mendapatkan terapi yang kompherensif
6. Menghadirkan suami atau keluarga untuk selalu memberikan suport mental kepada ibu.
E : Ibu merasa nyaman dan merasa diperhatikan
7. Melakukan pengkajian terhadap warna dasar kuku, mukosa mulut, gusi dan lidah, perhatikan
suhu kulit.
E : Pada kompensasi vasokontriksi dan pirau organ vital, sirkulasi pada pembuluh darah perifer
diturunkan, yang mengakibatkan sianosis dan suhu kulit dingin.
8. Menganjurkan untuk minum air hangat/mengkonsumsi makanan sesegera mungkin untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi dan sebagai usaha dalam rangka memperbaiki kondisi ibu.
E : ibu melaksanakan anjuran bidan
9. Memberi konseling untuk mengurangi kecemasan ibu dengan memberikan penjelasan dan
dukungan
E : Kecemasan ibu berkurang
Posted 26th March 2013 by tesa septia Ningsih
0
Add a comment
3.
MAR

17

SATUAN ACARA PENYULUHAN MIOMA UTERI


Bidang studi : D3 kebidanan
Topic : Mioma uteri
Sasaran : Remaja dan ibu-ibu
Waktu : pukul 14.00 WIB
Hari/tanggal : Senin, 22 Desember 2012
durasi : 10 menit
Tempat : Puskesmas A
A. TUJUAN UMUM
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, diharapkan masyarakat dapt mengerti dan
memahami tenteng mioma uteri, penyebab dan faktor predisposisi mioma uteri, gejala pada
mioma uteri, cara pencegahan dan pengobatan mioma uteri
B. TUJUAN KHUSUS
Setelah diberikan penyuluhan peserta mampu
1. Menjelaskan pengertian mioma uteri

2. Mengetahui penyebab dan faktor predisposisi mioma uteri


3. Menyebutkan klasifikasi mioma uteri
4. Mengetahui gejala mioma uteeri
5. Mengetahui cara pencegahan dan pengobatan mioma uteri

C. MEDIA YANG DIGUNAKAN


1. Materi SAP
2. Leaflet

D. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
E. SUMBER
1. Hanifa Wiknjosastro. Ilmu Kebidanan. Edisi 3. Jakarta: Yayasan Nina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo ; 1997.
2. Derek Llewellyn-Jones. Fundamentals of Obstetry and Gynaecology. Edisi 6. Syney ; 1994

3. KEGIATAN PEMBELAJARAN

No Waktu Kegiatan penyuluh Kegiatan peserta


.
1. 4 menit Pembukaan : Menjawab salam
Memberi salam Mendengarkan dan
Menjelaskan tujuan penyuluhan memperhatikan
Menyebutkan materi/pokok bahasan yang akan
disampaikan
2. 10 menit Pelaksanaan : Menyimak dan
Menjelaskan materi penyuluhan secara memperhatikan
berurutan dan teratur
Pengertian mioma uteri
Penyebab dan faktor predisposisi mioma
uteri
Klasifikasi mioma uteri
Gejala mioma uteri
Pencegahan dan pengobatan mioma uteri
3. 5 menit Evaluasi Merespon dan
Memberikan kesempatan kepada peserta bertanya
penyuluhan untuk bertanya
4. 2 menit Penutup : Menjawab salam
Mwngakhiri penyuluhan mengucapkan
terima kasih dan salam
MATERI SAP
A. PENGERTIAN MIOMA UTERI
Mioma Uteri adalah suatu tumor jinak pada rahim yang berasal dari otot rahim.
Dikenal juga dengan istilah mioma atau myom atau tumor otot rahim. Jumlah penderita
mioma uteri ini sulit diketahui secara akurat karena banyak yang tidak menimbulkan keluhan
sehingga penderita tidak memeriksakan dirinya ke dokter.
Mioma terjadi pada kira kira 5 persen wanita selama masa reproduksi. Tumor ini
tumbuh dengan lambat dan mungkin baru dideteksi secara klinis pada kehidupan decade
keempat. Pada dekade ke empat ini insidennya mencapai kira kira 20%. Mioma lebih sering
pada wanita nulipara atau wanita yang mempunya 1 anak.
Mioma pada kehamilan menurut perkiraan frekuensi dalam kehamilan dan
persalinan berkisar sekitar 1 persen, banyak mioma kecil tidak di kenal. Dalam banyak
kasus kombinasi mioma dengan kehamilan tidak mempunyai arti apa apa. Di pihak lain
kombinasi itu dapat menyebabkan komplikasi obstetric yang besar artinya. Hal itu
tergantung besarnya dan lokalisasinya. Secara umum angka kejadian mioma uteri diprediksi
mencapai 20-30% terjadi pada wanita berusia di atas 35 tahun.
B. PENYEBAB MIOMA UTERI
Penyakit mioma uteri berasal dari otot polos rahim. Beberapa teori menyebutkan
pertumbuhan tumor ini disebabkan rangsangan hormon estrogen. Pada jaringan mioma
jumlah reseptor estrogen lebih tinggi dibandingkan jaringan otot kandungan (miometrium)
sekitarnya sehingga mioma uteri ini sering kali tumbuh lebih cepat pada kehamilan
(membesar pada usia reproduksi) dan biasanya berkurang ukurannya sesudah menopause
(mengecil pada pascamenopause) Sering kali mioma uteri membesar ke arah rongga rahim
dan tumbuh keluar dari mulut rahim. Ini yang sering disebut sebagai Myoma Geburt (Geburt
berasal dari bahasa German yang berarti lahir). Tumor yang ada dalam rahim dapat tumbuh
lebih dari satu, pada perabaan memiliki konsistensi kenyal, berbentuk bulat dan permukaan
berbenjol-benjol seperti layaknya tumor perut. Beratnya bervariasi, mulai dari beberapa
gram saja, namun bisa juga mencapai 5 kilogram atau lebih.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor, di samping faktor
predisposisi genetik, adalah estrogen, progesteron dan human growth hormone.
1. Estrogen
Mioma uteri dijumpai setelah menarke.
Seringkali terdapat pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen
eksogen.
Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium
Adanya hubungan dengan kelainan lainnya yang tergantung estrogen seperti
endometriosis (50%), perubahan fibrosistik dari payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%)
dan hiperplasia endometrium (9,3%).
Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan
sterilitas.
17B hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi
estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous, yang juga
mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak daripada miometrium normal.
2. Progesteron
Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat
pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan
menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor
3. Hormon pertumbuhan
Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang
mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada periode ini,
memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan mingkin
merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen.
C. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Umur: mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10%
pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis
antara 35-45 tahun.
2. Paritas: lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanirta yang relatif infertil, tetapi
sampai saat ini belum diketahui apakan infertilitas menyebabkan mioma uteri atau
sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini
saling mempengaruhi.
3. Faktor ras dan genetik : pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka
kejadian mioma uteri tinggi. 14 Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita
dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.
4. Fungsi ovarium: diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan
mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan
mengalami regresi setelah menopause.

D. KLASIFIKASI
Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena.
1. Lokasi
Cerivical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi.
Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius.
Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa gejala.

2. Lapisan Uterus
Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasinya dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
a. Mioma Uteri Subserosa
Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula
sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai.
Pertumbuhan ke arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai
mioma intraligamenter.
Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneal sebagai suatu massa.
Perlengketan dengan usus, omentum atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem
peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum. Akibatnya tangkai makin mengecil
dan terputus, sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas
dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik.
b. Mioma Uteri Intramural
Disebut juga sebagai mioma intraepitelial. Biasanya multipel apabila masih kecil tidak
merubah bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjol-benjol, uterus
bertambah besar dan berubah bentuknya.
Mioma sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena
adanya massa tumor di daerah perut sebelah bawah.
Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma
submukosa. Di dalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan
otot rahim dominan).
c. Mioma Uteri Submukosa
Terletak di bawah endometrium. Dapat pula bertangkai maupun tidak. Mioma bertangkai
dapat menonjol melalui kanalis servikalis, dan pada keadaan ini mudah terjadi torsi atau
infeksi. Tumor ini memperluas permukaan ruangan rahim.
Dari sudut klinik mioma uteri submukosa mempunyai arti yang lebih penting dibandingkan
dengan jenis yang lain. Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural walaupun
ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak berarti.
Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan
perdarahan melalui vagina. Perdarahan sulit untuk dihentikan sehingga sebagai terapinya
dilakukan histerektomi.
E. TANDA DAN GEJALA MIOMA UTERI
1. Apabila dari hasil anamnesa didapatkan data-data sebagai berikut
a. Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama.
b. Kadang-kadang disertai gangguan haid, buang air kecil atau buang air besar.
c. Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah.
2. Jika dari pemeriksaan fisik didapatkan :
a. Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah.
b. Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor tersebut
menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi.
c. Konsistensi padat, kenyal, mobil, permukaan tumor umumnya rata.
3. Gejala klinis
a. Adanya rasa penuh pada perut bagian bawah dan tanda massa yang padat kenyal.
b. Adanya perdarahan abnormal.
c. Nyeri, terutama saat menstruasi.
d. Infertilitas dan abortus.
4. Pemeriksaan luar
Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat terbatas
atau bebas.
5. Pemeriksaan dalam
Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas
dan ini biasanya ditemukan secara kebetulan.
6. Pemeriksaan penunjang
a. USG, untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometriium dan keadaan
adnexa dalam rongga pelvis.
b. Mioma juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu
lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG. Untungnya, leiomiosarkoma
sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya dengan mioma dan konfirmasinya
membutuhkan diagnosa jaringan.
c. Dalam sebagian besar kasus, mioma mudah dikenali karena pola gemanya pada beberapa
bidang tidak hanya menyerupai tetapi juga bergabung dengan uterus; lebih lanjut uterus
membesar dan berbentuk tak teratur.
d. Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai
fungsi ginjal dan perjalanan ureter.
e. Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan
infertilitas.
f. Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.
F. PENCEGAHAN
1. Pada pemeriksaan fisik, mioma uteri dapat ditemukan melalui pemeriksaan ginekologi rutin.
Diagnosis mioma uteri dicurigai bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh satu atau lebih
massa yang lebih licin, tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah
bagian dari uterus.
Pemeriksaan penunjang
2. Ultrasonografi (USG) Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam
menetapkan adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama lebih bermanfaat
untuk mendeteksi kelainain pada rahim, termasuk mioma uteri. Uterus yang besar lebih baik
diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri dapat menampilkan
gambaran secara khas yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran
uterus. Sehingga sangatlah tepat untuk digunnakan dalam monitoring (pemantauan)
perkembangan mioma uteri.
b. Histeroskopi Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma uteri submukosa, jika
tumornya kecil serta bertangkai. Pemeriksaan ini dapat berfungsi sebagai alat untuk
penegakkan diagnosis dan sekaligus untuk pengobatan karena dapat diangkat.
3. MRI (Magnetic Resonance Imaging) Akurat dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan
lokasi mioma tetapi jarang diperlukan karena keterbatasan ekonomi dan sumber daya. MRI
dapat menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus-kasus yang tidak dapat disimpulkan.
G. PENANGANAN
Penanganan mioma uteri tergantung pada umur, paritas, lokasi, dan ukuran tumor,
dan terbagi atas
1. Penanganan konservatif. Bila mioma yang kecil pada pra dan post menopause tanpa
gejala.
2. Penanganan operatif, bila :
a. Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu.
b. Pertumbuhan tumor cepat.
c. Mioma subserosa bertangkai dan torsi.
d. Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya.
e. Hipermenorea pada mioma submukosa.
f. Penekanan pada organ sekitarnya.

H. KESIMPULAN
Mioma uteri merupakan tumor jinak yang sering terjadi pada wanita berusia lebih
dari 35 tahun yaitu sekitar 20 hingga 30 persen Hampir separuh dari kasus mioma uteri
ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan pelvik rutin. Pada penderita memang tidak
mempunyai keluhan apa-apa dan tidak sadar bahwa mereka sedang mengandung satu
tumor dalam uterus. Karenanya sangat penting untuk melakukan deteksi pribadi secara dini
untuk menghindari dan mencegah timbulnya penyakit ini, kalaupun penyebabnya genetik
pada keluarga paling tidak dapat di deteksi secara dini sebelum penyakit ini bertambah
hebat dan menyebabkan komplikasi yang serius bagi organ organ disekelilingnya yakni
dengan melakukan pemeriksaan ginekologis rutin dan USG, sedangkan Histeroskopi dan
MRI merupakan pilihan lain untuk hasil lebih akurat, namun dengan USG saja sudah bisa
dideteksi Mioma yang berkembang pada rahim seseorang
Posted 17th March 2013 by tesa septia Ningsih
Labels: learning
0
Add a comment
4.
MAR

15

KESEHATAN REPROSUKSI MENOPAUSE DAN


KLIMAKTERIUM

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara menyeluruh, meliputi aspek
fisik, mental, sosial, dan bukan hanya bebas dari penyakit yang berkaitan dengan sistem
reproduksi dan fungsinya. Kesehatan reproduksi bukan hanya membahas masalah
kehamilan atau persalinan, tetapi mencakup seluruh siklus kehidupan wanita yang salah
satunya adalah masa menopause, yaitu suatu masa yang dimulai pada akhir masa
reproduksi dan berakhir pada masa senium (lanjut usia), yaitu pada usia 40-65 tahun. Pada
usia ini akan banyak muncul masalah kesehatan karena masalah kesehatan sangat erat
kaitannya dengan peningkatan usia.
Perkembangan dan fungsi seksual wanita secara normal dipengaruhi oleh sistem
poros hipotalamus-hipofisis-gonad yang merangsang dan mengatur produksi hormon-
hormon seks yang dibutuhkan. Hipotalamus menghasilkan hormon gonadotropin releasing
hormone (GnRH) yang akan merangsang kelenjar hipofisis untuk menghasilkan follicle
stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Kedua hormon FSH dan LH ini
yang akan mempersiapkan sel telur pada wanita. FSH dan LH akan meningkat secara
bertahap setelah masa haid dan merangsang ovarium untuk menghasilkan beberapa follicle
(kantong telur). Dari beberapa kantong telur tersebut hanya satu yang matang dan
menghasilkan sel telur yang siap dibuahi. Sel telur dikeluarkan dari ovarium (disebut
ovulasi) dan ditangkap oleh fimbria (organ berbentuk seperti jari-jari tangan di ujung saluran
telur) yang memasukkan sel telur ke tuba fallopii (saluran telur). Apabila sel telur dibuahi
oleh spermatozoa maka akan terjadi kehamilan tetapi bila tidak, akan terjadi haid lagi.
Begitu seterusnya sampai mendekati masa klimakterium, dimana fungsi ovarium semakin
menurun.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan Umur Harapan Hidup (UHH) orang
Indonesia adalah 75 tahun. Umur harapan hidup wanita adalah 67 tahun dan pria 63 tahun.
UHH dari 10 Kabupaten di Propinsi Lampung dari tahun 2002-2004 mengalami peningkatan
bila dilihat per kabupaten atau per kota, UHH berkisar 66,4 tahun. UHH Kota Metro adalah
71,8 tahun dan Kabupaten Lampung Timur memiliki UHH 69,3 tahun (Profil Kesehatan
Lampung, 2005). Hal ini berarti wanita memiliki UHH lebih tinggi dari pada pria dan akan
menghadapi masalah kesehatan yang lebih rumit.
B. TUJUAN
1. Mengetahhui pengertian dari masa menopause
2. Mengetahui faktor yang mempengaruhi perempuan memasuki masa menopause
3. Mengetahui perubahan-perubahan tubuh pada masa menopause
4. Mengetahui gejala-gejala klinis perempuan yang memasuki masa menopause
5. Mengetahui masalah kesehatan yang dapat terjadi pada masa menopause
6. Mengetahui bagaimana mengatasi masa tersebut agar tidak menjadi masalah

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KLIMAKTERIUM DAN MENOPAUSE
1. Pengertian klimakterium
Klimakterium adalah masa peralihan dalam kehidupan normal seorang wanita sebelum
mencapai senium, yang mulai dari akhir masa reproduktif dari kehidupan sampai masa non-
reproduktif. Masa-masa klimakterium :
a. Pramenopause adalah masa 4-5 tahun sebelum menopause, keluhan klimakterik sudah
mulai timbul, hormon estrogen masih dibentuk. Bila kadar estrogen menurun maka akan
terjadi perdarahan tak teratur.
b. Menopause adalah henti haid yang terakhir yang terjadi dalam masa klimakterium dan
hormon estrogen tidak dibentuk lagi, jadi merupakan satu titik waktu dalam masa tersebut.
Umumnya terjadi pada umur 45-55 tahun.
c. Pascamenopause adalah masa 3-5 tahun setelah menopause, dijumpai hiper-gonadotropin
(FSH dan LH), dan kadang-kadang hipertiroid
Sebelum haid berhenti, sebenarnya pada seorang wanita terjadi berbagai perubahan
dan penurunan fungsi pada ovarium seperti sklerosis pembuluh darah, berkurangnya
jumlah folikel dan menurunnya sintesis steroid seks, penurunan sekresi estrogen, gangguan
umpan balik pada hipofise.
Penurunan fungsi ovarium menyebabkan berkurangnya kemampuan ovarium untuk
menjawab rangsangan gonadotropin, sehingga terganggunya interaksi antara hipotalamus
hipofise. Pertama-tama terjadi kegagalan fungsi luteum . Kemudian turunnya fungsi steroid
ovarium menyebabkan berkurangnya reaksi umpan balik negatif terhadap hipotalamus.
Keadaan ini meningkatkan produksi FSH dan LH. Dari kedua gonadoropin itu, ternyata yang
paling mencolok peningkatannya adalah FSH.
Klimakterium bukan suatu keadaan patologik, melainkan suatu masa peralihan yang
normal, yang berlangsung beberapa tahun sebelum dan beberapa tahun sesudah
menopause. Kesulitan mungkin dijumpai dalam menentukan awal dan akhir klimakterium,
tetapi dapat dikatakan bahwa klimakterium mulai kira-kira 6 tahun sebelum menopause
berdasarkan endokrinologik (kadar estrogen mulai turun dan kadar hormone gonadotropin
naik), dan gejala-gejala klinis.
Secara endokrinologis, masa klimakterium ditandai oleh turunnya kadar estrogen
dan meningkatnya pengeluaran gonadotropin. Gambaran klinis dari defesiensi estrogen
dapat berupa gangguan siklus haid, gangguan neurovegetatif, gangguan psikis dan
gangguan somatic.
2. Pengertian menopause
Menopause adalah haid terakhir pada wanita, yang juga sering diartikan sebagai
berakhirnya fungsi reproduksi seorang wanita. Oleh karena itu, tidak jarang seorang wanita
takut menghadapi saat menopausenya. Kehidupan menjelang dan setelah menopause
inilah yang sering disebut sebagai masa senja atau masa klimakterium.
Sebenarnya menopause bukan merupakan masalah patologis tetapi merupakan
masalah fisiologis yang dialami setiap wanita di dunia tetapi sangat mengganggu
kebahagiaan sebuah keluarga dan wanita itu sendiri. Di dalam pengalaman hidupnya,
seorang wanita akan mengalami perubahan-perubahan alamiah ini. Namun proses alamiah
ini berbeda pada setiap wanita menopause. Ada yang melewatinya tanpa merasa
terganggu, namun sebagian besar wanita menopause melalui perubahan alamiah ini
dengan cobaan yang berat, gangguan fisik dan tekanan psikis yang menekan. Hal ini
disebabkan karena berhentinya produksi estrogen dan menurunnya daya tahan tubuh
seiring dengan bertambahnya usia.
Penyebab menopause adalah matinya (burning out) ovarium. Pada usia sekitar 45
tahun, hanya tinggal beberapa folikel primordial yang akan dirangsang oleh LH dan FSH
dan produksi estrogen dari ovarium berkurang sewaktu jumlah folikel primordial mencapai
nol. Ketika produksi estrogen turun dibawah nilai kritis, estrogen tidak lagi dapat
menghambat produksi dari FSH dan LH, juga tidak dapat merangsang lonjakan LH dan
FSH ovulasi untuk menimbulkan siklus osilasi. Sebaliknya, FSH dan LH (terutama FSH)
diproduksi sesudah menopause dalam jumlah besar dan kontinyu. Estrogen diproduksi
dalam jumlah di bawah nilai kritis untuk jangka waktu yang singkat sesudah menopause,
tetapi setelah beberapa tahun, ketika folikel primordial yang tersisa menjadi atretik, produksi
estrogen oleh ovarium turun menjadi hampir nol.
Pada saat menopause, seorang wanita harus menyesuaikan kembali kehidupannya
dari kehidupan yang secara fisiologis dirangsang oleh produksi estrogen dan progesterone
menjadi kehidupan yang kosong tanpa hormone-hormon tersebut.
B. PERUBAHAN YANG TERJADI PADA MASA KLIMAkTERIUM DAN MENOPAUSE
1. Perubahan hormone
Dua hingga delapan tahun sebelum menopause, kebanyakan wanita mulai
melompat-lompat ovulasinya. Selama tahun-tahun tersebut, folikel indung telur (kantung
indung telur), yang mematangkan telur setiap bulan, akan mengalami tingkat kerusakan
yang semakin cepat hingga pasokan folikel itu akhirnya habis. Penelitian menunjukkan
bahwa percepatan rusaknya folikel ini dimulai sekitar usia tiga puluh tujuh atau tiga puluh
delapan. Inhibin, zat yang dihasilkan dalam indung telur, juga semakin berkurang sehingga
mengakibatkan meningkatnya kadar FSH (Follicle Stimulating Hormone - hormon
perangsang folikel yang dihasilkan hipofise).
Bertolak belakang dengan keyakinan umum, kadar estrogen perempuan sering relatif stabil
atau bahkan meningkat di masa pra-menopause. Kadar itu tidak bekurang selama kurang
dari satu tahun sebelum periode menstruasi terakhir. Sebelum menopause, estrogen utama
yang dihasilkan tubuh seorang wanita adalah estradiol. Namun selama pra-menopause,
tubuh wanita mulai menghasilkan lebih banyak estrogen dari jenis yang berbeda, yang
dinamakan estron, yang dihasilkan di dalam indung telur maupun dalam lemak tubuh.

Kadar testoteron biasanya tidak turun secara nyata selama pra-menopause.


Kenyataannya, indung telur pasca-menopause dari kebanyakan wanita (tetapi tidak semua
wanita) mengeluarkan testoteron lebih banyak daripada indung telur pra-menopause.
Sebaliknya, kadar progesteron benar-benar mulai menurun selama pra-menopause, bahkan
jauh sebelum terjadinya perubahan-perubahan pada estrogen atau testoteron dan ini
merupakan hal yang paling penting bagi kebanyakan wanita.
Meskipun reproduksi tidak lagi merupakan tujuan, hormon-hormon reproduksi tetap
memegang peran yang penting, yaitu peran-peran yang dapat meningkatkan kesehatan dan
tidak ada kaitannya dengan melahirkan bayi. Hal ini dapat dilihat dalam kenyataan bahwa
reseptor hormon steroid terdapat dalam hampir semua organ tubuh perempuan. Estrogen
dan androgen (seperti halnya testoteron) adalah penting, misalnya untuk mempertahankan
tulang yang kuat dan sehat serta jaringan vagina dan saluran kencing yang lentur. Baik
estrogen maupun progesteron sama-sama penting untuk mempertahankan lapisan kolagen
yang sehat pada kulit.
2. Perubahan fisik
a. Uterus (kandungan) : mengecil.
b. Tuba Falopi : lipatan tuba menjadi memendek, menipis dan mengerut.
c. Ovarium (indung telur) : ovarium menciut, terjadi penurunan fungsi ovarium untuk
menghasilkan hormon estrogen dan progesterone, berhenti menghasilkan sel telur.
Akibatnya timbul keluhan akibat berkurangnya kadar hormon.
d. Cervix (leher rahim) : mengerut.
e. Vagina : terjadi penipisan dinding vagina, selain itu secret/lendir vagina mulai mengering,
menyulitkan hubungan suami-istri.
f. Vulva (bibir rahim) : jaringan vulva menipis karena berkurangnya jaringan lemak, kulit
menipis, pebuluh darah berkurang. Akibat sering timbul rasa gatal. Vulva yang mengering
bersamaan dengan penyempitan lubang masuk vagina menyebabkan kesulitan untuk
melakukan hubungan suami istri, timbul rasa nyeri pada waktu hubungan, menyebabkan
wanita berusaha untuk menolak melayani suaminya.
g. Rambut kemaluan pada wanita mulai menipis, sebagian rontok dan mulai memutih/uban.
h. Payudara : jarigan lemak berkurang, putting susu mengecil. Akibatnya payudara mulai
lembek, mengendor dan keriput.
i. Hipertensi : turunnya hormon estrogen dan progesteron menyebabkan :
HDL Cholesterol (Cholesterol baik) menurun.
LDL Cholesterol (Cholesterol jahat) meningkat . Wanita yang semasa haid masih relatif
kebal terhadap penyakit aterosklerosis (perkapuran dinding pembuluh darah), setelah
menapause mulai bisa diserang penyakit ini, yang berakibat penyakit tekanan darah tinggi
(hipertensi) dan penyempitan pembuluh darah jantung (penyakit jantung coroner).
j. Osteoporosi (pengeroposan tulang).
Dengan turunnya kadar hormon estrogen dan progesteron, maka mulai terjadi proses
pengeroposan tulang (walaupun seorang wanita cukup mendapat tambahan calcium seperti
dari susu).
Rendahnya kadar hormon estrogen dan progesteron menyebabkan zat calcium/kapur tidak
dapat disimpan dalam tulang, sebaliknya calcium dalam tulang pelan-pelan
menyusut. Tandanya adalah mulai terasa nyeri pada tulang yang dianggap sebagai rematik
yang bila berobat acap kali hanya mendapat obat penghilang rasa nyeri. Bila proses
pengeroposan sudah sangat lanjut bisa terjadi patah tulang belakang dan tulang panggul
secara spontan

C. PERMASALAHAN KESEHATAN REPSODUKSI PADA MASA MENOPAUSE


1. Fisik
Ketika seseorang memasuki masa menopause, fisik mengalami ketidaknyamanan
seperti rasa kaku dan linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya
pada kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti
dengan rasa panas atau dingin, pening, kelelahan, jengkel, resah, cepat marah, dan
berdebar-debar (Hurlock, 1992). Beberapa keluhan fisik yang merupakan tanda dan gejala
dari menopause yaitu:
a. Ketidakteraturan Siklus Haid
Tanda paling umum adalah fluktuasi dalam siklus haid, kadang kala haid muncul
tepat waktu, tetapi tidak pada siklus berikutnya. Ketidakteraturan ini sering disertai dengan
jumlah darah yang sangat banyak, tidak seperti volume pendarahan haid yang normal.
Keadaan ini sering mengesalkan wanita karena ia harus beberapa kali mengganti pembalut
yang dipakainya. Normalnya haid akan berakhir setelah tiga sampai empat hari, namun
pada keadaan ini haid baru dapat berakhir setelah satu minggu atau lebih.
b. Gejolak Rasa Panas
Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan berlangsung
sampai haid benar-benar berhenti. Sheldon H.C (dalam Rosetta Reitz, 1979) mengatakan
kira-kira 60% wanita mengalami arus panas. Arus panas ini disertai oleh rasa menggelitik
disekitar jari-jari, kaki maupun tangan serta pada kepala, atau bahkan timbul secara
menyeluruh. Munculnya hot flashes ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah
dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung selama dua sampai
tiga menit yang disertai pula oleh keringat yang banyak. Ketika terjadi pada malam hari,
keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal ini sering terjadi akan menimbulkan rasa
letih yang serius bahkan menjadi depresi.
c. Kekeringan Vagina
Kekeringan vagina terjadi karena leher rahim sedikit sekali mensekresikan lendir.
Penyebabnya adalah kekurangan estrogen yang menyebabkan liang vagina menjadi lebih
tipis, lebih kering dan kurang elastis. Alat kelamin mulai mengerut, Liang senggama kering
sehingga menimbulkan nyeri pada saat senggama, keputihan, rasa sakit pada saat kencing.
Keadaan ini membuat hubungan seksual akan terasa sakit. Keadaan ini sering kali
menimbulkan keluhan pada wanita bahwa frekuensi buang air kecilnya meningkat dan tidak
dapat menahan kencing terutama pada saat batuk, bersin, tertawa atau orgasme.
d. Perubahan Kulit
Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka
kulit akan terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan
lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti kantong, dan lingkaran
hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas (Hurlock, 1992)
e. Keringat di Malam Hari
Berkeringat malam hari, bangun bersimbah peluh. Sehingga perlu mengganti
pakaian dimalam hari. Berkeringat malam hari tidak saja menggangu tidur melainkan juga
teman atau pasangan tidur. Akibatnya diantara keduanya merasa lelah dan lebih mudah
tersinggung, karena tidak dapat tidur nyenyak.
f. Sulit Tidur
Insomnia (sulit tidur) lazim terjadi pada waktu menopause, tetapi hal ini mungkin ada
kaitannya dengan rasa tegang akibat berkeringat malam hari, wajah memerah dan
perubahan yang lain.
g. Perubahan Pada Mulut
Pada saat ini kemampuan mengecap pada wanita berubah menjadi kurang peka,
sementara yang lain mengalami gangguan gusi dan gigi menjadi lebih mudah tanggal.
h. Kerapuhan Tulang
Rendahnya kadar estrogen merupakan penyebab proses osteoporosis (kerapuhan
tulang). Osteoporosis merupakan penyakit kerangka yang paling umum dan merupakan
persoalan bagi yang telah berumur, paling banyak menyerang wanita yang telah
menopause. Biasanya kita kehilangan 1% tulang dalam setahun akibat proses penuaan
(mungkin ini yang menyebabkan nyeri persendian), tetapi kadang setelah menopause kita
kehilangan 2% setahunnya. John Hutton (1984:35) memperkirakan sekitar 25% wanita
kehilangan tulang lebih cepat daripada proses menua. Menurunnya kadar estrogen akan
diikuti dengan penurunan penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan. Kekurangan
kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam
tulang, dan akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh.
i. Badan Menjadi Gemuk
Banyak wanita yang menjadi gemuk selama menopause. Rasa letih yang biasanya
dialami pada masa menopause, diperburuk dengan perilaku makan yang sembarangan.
Banyak wanita yang bertambah berat badannya pada masa menopause, hal ini disebabkan
oleh faktor makanan ditambah lagi karena kurang berolahraga.
j. Penyakit
Ada beberapa penyakit yang seringkali dialami oleh wanita menopause. Dari sudut
pandang medik ada 2 (dua) perubahan paling penting yang terjadi pada waktu menopause
yaitu meningkatnya kemungkinan terjadi penyakit jantung, pembuluh darah serta hilangnya
mineral dan protein di dalam tulang (osteoporosis). Penyakit jantung dan pembuluh darah
dapat menimbulkan gangguan seperti stroke atau serangan jantung. Selain itu penyakit
kanker juga lebih sering terjadi pada orang yang berusia lanjut. Semakin lama kehidupan
maka semakin besar kemungkinan penyakit itu menyerang. Misalnya kanker payudara,
kanker rahim dan kanker ovarium. Kanker payudara lebih umum terjadi pada wanita yang
telah melampaui masa menopause.
Kanker rahim adalah istilah luas untuk kanker yang terjadi di rahim, ada dua bagian rahim
yang dapat menjadi tempat bermulanya kanker. Yang pertama adalah serviks, kanker ini
terutama berjangkit pada wanita berusia diatas 30 tahun. Gejala yang harus diperhatikan
adalah pendarahan vagina setelah persetubuhan, pergetahan vagina yang tidak biasa dan
noda diantara haid. Sementara kanker indometrium (kanker tubuh rahim) terutama
menjangkiti wanita diatas usia 45 tahun, yang paling menanggung resiko adalah yang
pernah mendapat haid agak lambat, dan yang mempunyai kombinasi antara tekanan darah
tinggi, diabetes, dan berat tubuh berlebih. Gejalanya adalah pendarahan tak normal,
pendarahan antara haid, keluaran darah yang lebih lama atau lebih kental dibandingkan
biasanya, dan pendarahan haid terakhir dalam menopause.

2. Masalah Psikologis
Aspek psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita menopause amat penting
peranan dalam kehidupan sosial lansia terutama dalam menghadapi masalah-masalah
yang berkaitan dengan pensiun; hilangnya jabatan atau pekerjaan yang sebelumnya sangat
menjadi kebanggaan sang lansia tersebut. Berbicara tentang aspek psikologis lansia dalam
pendekatan eklektik holistik, sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aspek organ-
biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual dalam kehidupan lansia.
Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah
tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang (tension), cemas
dan depresi. Ada juga lansia yang kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik
dan seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta
merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang. Beberapa keluhan
psikologis yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:
a. Ingatan Menurun
Gelaja ini terlihat bahwa sebelum menopause wanita dapat mengingat dengan
mudah, namun sesudah mengalami menopause terjadi kemunduran dalam mengingat,
bahkan sering lupa pada hal-hal yang sederhana, padahal sebelumnya secara otomatis
langsung ingat.
b. Kecemasan
Banyak ibu-ibu yang mengeluh bahwa setelah menopause dan lansia merasa
menjadi pencemas. Kecemasan yang timbul sering dihubungkan dengan adanya
kekhawatiran dalam menghadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah dikhawatirkan.
Misalnya kalau dulu biasa pergi sendirian ke luar kota sendiri, namun sekarang merasa
cemas dan khawatir, hal itu sering juga diperkuat oleh larangan dari ana-anaknya.
Kecemasan pada Ibu-ibu lansia yang telah menopause umumnya bersifat relatif, artinya
ada orang yang cemas dan dapat tenang kembali, setelah mendapatkan
semangat/dukungan dari ornag di sekitarnya; namun ada juga yang terus-menerus cemas,
meskipun orang-orang disekitarnya telah memberi dukungan. Akan tetapi banyak juga ibu-
ibu yang mengalami menopause namun tidak mengalami perubahan yang berarti dalam
kehidupannya.
Menopause rupanya mirip atau sama juga dengan masa pubertas yang dialami
seorang remaja sebagai awal berfungsinya alat-alat reproduksi, dimana ada remaja yang
cemas, ada yang khawatir namun ada juga yang biasa-biasa sehingga tidak menimbulkan
gejolak.
Adapun simtom-simtom psikologis adanya kecemasan bila ditinjau dari beberapa
aspek, menurut Blackburn and Davidson (1990 :9) adalah sebagai berikut :
Suasana hati yaitu keadaan yang menunjukkan ketidaktenangan psikis, seperti: mudah
marah, perasaan sangat tegang.
Pikiran yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti: khawatir, sukar konsentrasi,
pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif,
merasa tidak berdaya.
Motivasi yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, seperti : menghindari situasi,
ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri, lari dari kenyataan.
Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti : gugup, kewaspadaan yang
berlebihan, sangat sensitif dan agitasi.
Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali, seperti : berkeringat, gemetar, pusing,
berdebar-debar, mual, mulut kering.
Gangguan kecemasan dianggap berasal dari suatu mekanisme pertahanann diri
yang dipilih secara alamiah oleh makhluk hidup bila menghadapi sesuatu yang mengancam
dan berbahaya. Kecemasan yang dialami dalam situasi semacam itu memberi isyarat
kepada makhluk hidup agar melakukan tindakan mempertahankan diri untuk menghindari
atau mengurangi bahaya atau ancaman.
Menjadi cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari respon
normal untuk mengatasi masalah sehari-hari. Bagaimana juga, bila kecemasan ini
berlebihan dan tidak sebanding dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan
dan dikenal sebagai masalah klinis.
c. Mudah Tersinggug
Gejala ini lebih mudah terlihat dibandingkan kecemasan. Wanita lebih mudah
tersinggung dan marah terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak menggangu. Ini
mungkin disebabkan dengan datangnya menopause maka wanita menjadi sangat
menyadari proses mana yang sedang berlangsung dalam dirinya. Perasaannya menjadi
sangat sensitif terhadap sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama jika sikap
dan perilaku tersebut dipersepsikan sebagai menyinggung proses penerimaan yang sedang
terjadi dalam dirinya.
d. Stress
Tidak ada orang yang bisa lepas sama sekali dari rasa was-was dan cemas,
termasuk para lansia menopause. Ketegangan perasaan atau stress selalu beredar dalam
lingkungan pekerjaan, pergaulan sosial, kehidupan rumah tangga dan bahkan menyelusup
ke dalam tidur. Kalau tidak ditanggulangi stress dapat menyita energi, mengurangi
produktivitas kerja dan menurunkan kekebalan terhadap penyakit, artinya kalau dibiarkan
dapat menggerogoti tubuh secara diam-diam.
Namun demikian stress tidak hanya memberikan dampak negatif, tapi bisa juga
memberikan dampak positif. Apakah kemudian dampak itu positif atau negatif, tergantung
pada bagaimana individu memandang dan mengendalikannya. Stress adalah suatu
keadaan atau tantangan yang kapasitasnya diluar kemampuan seseorang oleh karena itu,
stress sangat individual sifatnya.
Respon orang terhadap sumber stress sangat beragam, suatu rentang waktu bisa
tiba-tiba jadi pencetus stress yang temporer. Stress dapat juga bersifat kronis misalnya
konflik keluarga. Reaksi kita terhadap pencetus stress dapat digolongkan dalam dua
kategori psikologis dan fisiologis.
Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress tidak bisa diramalkan,
sebagaimana perbedaan suasana hati dan emosi kita dapat menimbulkan beragam reaksi,
mulai dari hanya ekspresi marah sampai akhirnya ke hal-hal lain yang lebih sulit untuk
dikendalikan. Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress ini tergantung
pada beberapa faktor, termasuk keadaan emosi pada saat itu dan sikap orang itu dalam
menanggapi stress tersebut.
e. Depresi
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan
9% s/d 26% wanita dan 5% s/d 12% pria pernah menderita penyakit depresi yang gawat di
dalam kehidupan mereka. Setiap saat, diperkirakan bahwa 4,5% s/d 9,3% wanita dan 2,3%
s/d 3,2% pria akan menderita karena gangguan ini. Dengan demikian secara kasar dapat
dikatakan bahwa wanita dua kali lebih besar kemungkinan akan menderita depresi daripada
pria.
Wanita yang mengalami depresi sering merasa sedih, karena kehilangan
kemampuan untuk bereproduksi, sedih karena kehilangan kesempatan untuk memiliki anak,
sedih karena kehilangan daya tarik. Wanita merasa tertekan karena kehilangan seluruh
perannya sebagai wanita dan harus menghadapi masa tuanya.
Depresi dapat menyerang wanita untuk satu kali, kadang-kadang depresi merupakan
respon terhadap perubahan sosial dan fisik yang sering kali dialami dalam fase kehidupan
tertentu, akan tetapi beberapa wanita mungkin mengembangkan rasa depresi yang dalam
yang tidak sesuai atau proporsional dengan lingkungan pribadi mereka dan mungkin sulit
dihindarkan.
Simton-simton psikologis adanya depresi bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Marie
Blakburn dan Kate Davidson (1990:5) adalah sebagai berikut :
Suasana hati, ditandai dengan kesedihan, kecemasan, mudah marah.
Berpikir, ditandai dengan mudah hilang konsentrasi, lambat dan kacau dalam berpikir,
menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu, harga diri rendah.
Motivasi, ditandai dengan kurang minat bekerja dan menekuni hobi, menghindari kegiatan
kerja dan sosial, ingin melarikan diri, ketergantungan tinggi pada orang lain.
Perilaku gelisah terlihat dari gerakan yang lamban, sering mondar-mandir, menangis,
mengeluh.
Sintom biologis, ditandai dengan hilang nafsu makan atau nafsu makan bertambah, hilang
hasrat sesksual, tidur terganggu, gelisah.
Mungkin masih ada gejala-gejala fisik maupun psikologis lain yang menyertai
menopause. Gejala-gejala tersebut diatas sangat perlu dipahami supaya tidak terjadi
kesalahpahaman dalam memperlakukan para lansia. Dengan memahami gejala tersebut
diharapkan lansia dapat mengerti apa yang sedang terjadi dalam diri mereka. Selain itu
pihak keluarga pun diharapkan dapat merespon secara tepat sehingga tidak membuat
lansia merasa dikucilkan atau disia-siakan.
D. UPAYA MENGATASI MASALAH PADA MASA MENOPAUSE
Bagaimana bidan menghadapi masalah klimaterium di tengah masyarakat. Seperti
dikemukakan bahwa hanya sekitar 25 % wanita mengeluh karena terjadi penurunan
estrogen tubuh dan memerlukan tambahan hormon sebagai substitusi. Pemberian
substitusihormon tanpa diikuti pengawasan ketat adalah berbahaya, karena bidan dapat
mengambil langkah :
1. Melakukan KIEM sehingga wanita denngan keluhan menopause dapat memeriksakan diri
ke dokter puskesmas
2. Bidan berkonsultasi dengandokter puskesmas atau dokter ahli
3. Setelah pengobatan, bidan dapatmeneruskan pengawasan
4. Bidan dapat merujuk penderita keRumah Sakit
5. Pemeriksaan alat kelamin wanita bagian luar, liang rahim, dan leher rahim untuk melihat
kelainan yang mungkin ada seperti lecet, keputihan, benjolan atau tanda radang
6. Pap Smear yang dilakukan setahun sekali untuk melihat adanya tanda radang dan deteksi
awal bagi kemungkinan adanya kanker pada saluran reproduksi.
7. Periksa payudara sendiri (SADARI) untuk melihat pembesaran atau tumor payudara akibat
penurunan kadar estrogen/karena adanya hormon pengganti
8. Penggunaan bahan makanan yang mengandung unsure fito-estrogen yang cukup seperti
kedelai dan papaya
9. Penggunaan bahan makanan sumber kalsium seperti susu, keju, ikan teri, dll
10. Menghindari makanan yang mengandung banyak lemak, kopi dan alcohol

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menopause bukanlah suatu yang
menakutkan. Kedatangannya tidaklah menakutkan asalkan dapat disikapi dengan
bijaksana. Memang ketika memasuki usia menopause maka akan terjadi perubahan fisik
akibat perubahan hormone, dan akibat perubahan muncul permasalah yang butuh
diselesaikan. Jika pada prosesnya ditemukan keluhan-keluhan diluar yang telah dijelaskan,
tenaga kesehatan, maka diharapkan untuk melakukan kunjungan nakes untuk
mendapatkan terapinya.
B. SARAN
Menjadi tua dan keriput memang hal yang sering ditakuti oleh para wanita. Namun,
hal ini bukan berarti wanita kehilangan identitas kewanitaannya. Justru seharusnya sadar
bahwa wanita yang mengalami masa menopause memulai fase kehidupan baru sebagai
wanita yang matang dalam berpikir. Namun, memang tidak dapat dipungkiri bahwa saat
memasuki masa menopause akan terjadi perubahan fisik dan emosi. Oleh karena itu, masa
menopause merupakan masa yang membutuhkan penyesuaian diri dan pengertian dari
berbagai pihak, terutama keluarga. Selain hal tersebut penting diingat bahwa gaya hidup
kita semasa muda sangat mempengaruhi gejala menopause yang akan dirasakan kelak.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kasdu, D. (2003). Kiat sehat dan bahagia di usia menopause. Jakrta: Puspa Swara
2. Mukminah, A., Sungkono, dkk. (2003). Pengetahuan, sikap dan perilaku perempuan
pascamenopause di kota Malang terhadap menopause (studi kualitatif). Majalah Obstetri
dan Ginekologi.27 (1),73
3. Depkes (2001). Kesehatan reproduksi. Jakarta: Depkes
4. Erika. (2004) Faktor-faktor yang berhubungan dengan konsep diri perempuan pada masa
klimakterium di kelurahan Harjosari Pekanbaru. Jakarta: Thesis
5. Pakasi. (2006). Menopause: masalah dan penanggulangannya. Jakarta: FK-UI

leaflet

leaflet

Posted 15th March 2013 by tesa septia Ningsih


Labels: learning

0
Add a comment
5.
OCT

25

FISIOLOGIS MASA NIFAS

1. Perubahan system reprosuksi


a. Uterus
Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus pada kondisi sebelum hamil.
Dengan involusi uterus ini lapisan luar dari desidua yang megelilingi situs plasenta akan
menjadi neurotic.
Bayi lahir TFU=pusat 1000gr
Akhir kala III TFU 2 jari bawah pusat
1 minggu post partum antara pusat dan simpisis 500gr
2 minggu post partum TFU di atas simpisis dengan berat 350gr
6 minggu post partum tidak teraba 50gr
Involusi terjadi melaui 3 proses yaitu :
Autolysis : proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uteri. Enzim
proteolitik memendekkan jarinagn otot uterus yang sempat mengendur hingga 10 kali
oanjangnya dari semula dan lima kali lebarnya dari sebelum hamil. Sitoplasma sel yang
berlebihan tercerna sendiri sehingga tertinggal jarinagn fibro elastic dalam jumlah renik
sebgai bukti kehamilan.
Atrofi jaringan : jaringan yang berpoliferasi dengan adanya estrogen kemuadian
mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap penghematan produksi estrogen yang menyertai
pelepadan plasenta. Selain perubahan atrofi pada otot-otot uterus lapisan desidua akan
mengalami atrofi dan pelepasan plasenta. Selain perubahan atrofi pada otot-otot uterus
lapisan desidua akan mengalami atrofi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal
yang akan beregenerasi menjadi endometrium.yang baru.
Efek oksitisin : intensitas kontraksi uterus akan meningkat secara bermakna setelah bayi
lahir. Hal tersebut di duga terjadi setelah respon terhadap penurunan volume intrauterine
yang sangat besar. hormone oksitosin yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan
mengatur kontraksi uterus, mengompresi pembuluh darah dan membantu prses
homoestatis. Kontraksi dan retraksi otot uteri aka mnengurangi suplay darah ke
uterus.proses ini akan membantu mengurangi bekas luka tempat impalnatasi plasenta dan
mengurangi perdarahan. Luka bekas plasenta memerlukan waktu 8 minggu untuk sembuh
total.
b. Lokhea
Adalah ekskresi cairan rahim selamam nifas.
Lohea dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan warna dan waktu keluarnya yaitu :
Lokhea rubra keluar pada hari oertama sampai hari ke4 post partum, berwarna merah
karena terisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasentadinding rahim, lemak bayi, lanugo
(rambut bayi) dan mekonium.
Lokhea sanguinolenta berwara merah kecoklatan dan berlendir serta berlangsung dari hari
ke 4 sampai hari ke 7 post partum.
Lokhea serosa berwarna kuning kecolkatan karena mengandung serum leukosit dan
robekan atau laserasi plasenta. Keluar dari hari ke 7 sampai hari ke 14.
Lokhea alba/putih mengandung leukosit, sel desidua,sel epitel selaput lendir serviks dan
serabut jaringan yang mati. Dapat berlangsung sampai 2-6 minggu post partum.
Lokhea yang menetap
pada awal post partum mungkin desibabkan oleh teryinggalnya sisa atau selaput plasenta.
Lokhea alba atau serosa yang menetap dapat menandakan adanya endometritis, terutama
bila ditandai dengan adanya nyeri pada abdomen dan demam. Bila terjadi infeksi akan
keluar cairan nanah berbau busuk yang disebut dengan lokhea purulenta. Pengeluaran
lokhea yang tidak lancar disebut dengan lokhea statis.
c. Serviks
Bentuk serviks agak menganga seperti corong, segera setelah bayi lahhir. Berwarna
merah kehitaman karena penuhdengan pembuluh darah, lunak kadang terdapat laserasi
atau erlukaan kecil. Karena robekan kecil yang terjadi selama berdilatasi mama serviks
tidak akan pernah kembali pada keadaan sperti sebelum hamil.
Muara serviks yang berdilatasi sampai 10 cm sewaktu persalian akan menutup
secara perlahan dan bertahap. Setelah bayi lahir tangan dapat masuk ke dalam rongga
rahim. Setelah 2 jam hanyadapat dimasuki 2-3 jari.pada minggu ke 6 post partum serviks
sudah menutup kembali.
d. Vulva dan vagina
Vulva dan vagina mnegalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama
proses kelahiran bayi. Dalam beberapa hari ertama setelah proses kelahiran bayi kedua
organ ini tetap dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada
keadaa tidak hamil dan rugae dalam vaguna secara berangsur angsur akanmuncul kembali,
sementara labia menjadi lebih menonjol.
Luka pada vagina umumnya tidak begitu luas dank an sembuh secara perpriman
(sembuh dgn sendirinya) kecuali jika terdapat infeksi.infeksi mungkin menyebabkan selulitis
yang dapat menjalar sampai terjadi sepsis.
e. Perineum
Segera setelah melahirkan perineum menjadi kendor karena sebelumnya kendor oleh
tekana bayi yang yang bergerak maju.pada post natal hari ke-5 perinium sudah
mendapatkan kembali sebagian tonusnya sekalipun tetap lebih kendor daripada keadaan
sebelum hamil.
2. Perubahan system pencernaan
Biasanya ibu akan mengalami konstipasi setelah persalinan, hal ini disebabkan
karena pada waktu persalinan alat pencernaan mengalami tekana yang menyebankan
kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berleihan pada saat persalinan kurangnya
asupan cairan dan makanan serta kurangnya aktivasi tubuh.
Supaya buang air besar kembali normal dapat diatasi dengan diet tinggi serat, peningkata
asupan cairan dan ambulasi awal, bila ini tidak erhasil dapat diberikan obat laksansia.
Selain konstipasi ibu juga mengalami anoreksia akibat penurunan dari sekresi
kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta oerubahan kebutuhan
kalori yang menyebabkan kurang nafsu makan.
3. Perubahan system perkemihan
Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan sulit untuk buang air kecil
dalam 24 jam pertama. Kemungkina penyebabnya adala terdapat spasme sfinker dan
edema leher kandung kemih sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala jnain
dan tulang pubis selama ersalina berlangsung.
Urine dalam jumnlah besar akan dihasilkan dalm 24-36 jam post partum. Kadar
hormone sestrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penutrunan yang mencolok.
Keadaan ini disebut dieresis ureternyang bedilatasi akan berubah normal dalam 6 minggu.
Dinding kandung kemih memperlihatkan ode dan hyoeremia, kadang-kadang odem
trigonum yang menimbulkan alostaksi dari uretra sehingga menjadi retensio urine. Kandung
kemih pada masa nifas menjadi kurang snsitif dan kapasitas bertambah sehingga setiap
kali kencing tertinggal urine residual (normal kurang lebih 15 cc). dalam hal ini sisa urine
dan trauma pada kandung kemih sewaktu persalinan dapat menyebabkan infeksi.
4. Perubahan system muskeloskeletal
Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah partus. Pembuluh darah yang berada
diantara anyaman otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan
setelah plasenta dilahirkan.
Ligament-ligamen, diafragma pelvis, seta fasia yang meregang pada waktu
persalinan, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tak jarang
uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi
kendor. Tidak jarang pula wanita mengeluh kandungannya turun karena ligamen, fasia,
jaringan penunjang alat genetalia menjadi kendor. Dstabilisasi secara sempurna terjadi
pada 6-8 minggu setelah persalinan.
Sebagai putusnya serat-serat elastic kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat
besarnya uterus pada waktu hamil, dinding abdomen masih agak lunak dan kendor untuk
sementara waktu. Untuk memulihkan kembali jaringan-jaringan penunjang alat-alat
genetalia, serta otot-otot dinding perut dan dasar panggul, dianjurkan untuk melakukan
latihan-latihan dasar tertentu. Pada 2 hari post partum sudah dapat fisioterapi.
5. Perubahan system endokrin
a. Hormone plasenta : menurun dengan cepat setelah persalinan. HCG (Human Chorionic
Gonadotrphin) menurun dengan cepat dan menetap hinga 10% dalam 3 jam sampai hari ke
7 post partum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke 3 post partum.
b. Hormone pituitary : prolaktin darah akan meningkat dengan cepat. Pada wanita yang
tidak menyusui, prolaktin menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH akan meningkat
pada fase konsentras folikuler (minggu ke 3) dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
c. Hipotalamik pituitary ovarium : lamanya wanita mendapat menstruasi juga dipengaruhi
oleh faktor menyusui. Sering kali menstruasi pertama ini bersifat anovulasi karena
rendahnya kadar estrogen dan progesterone.
d. Kadar estrogen : setelah persalinan, terjadi penurunan kadar estrogen yang bermakna
sehingga aktivitas prolaktin juga sedang meningkat dapat mempengaruhi kelenjar mamae
dalam menghasilkan ASI
6. Perubahan tanda vital
a. Suhu badan
Dalam satu hari postpartum suhu badan akan naik sedikit (37,5-38 0C) sebagai akibat kerja
keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Apabila keadaan normal , suhu
badan menjadi biasa. Iasanya pada hari ke tiga suhu badan naik lagi karena adanya
pembentukan ASI. Payudara menjadi bengkak dan berwarna merah karena banyaknya ASI.
Bila suhu tidak turun kemingkinan adanya infeksi pada endometrium (mastitis, tractus
grnitalis, atau system lain)
b. Nadi
Denyut nasi normal pada orang dewasa adalah 60-80 kali permenit. Denyut nadi sehabis
melahirkan biasanya akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang mencapai lebih dari 100 kali
permenit adalah abnormaldan hal ini menunjukkan adanya kemungkina infeksi.
c. Tekanan darah
Tekanan darah biadanya tidak berubah. Kemungkinan tekanan darah akan lebih rendah
karna perdarahan sehabis melahirkan. Tekanan darah tinggi pada post partum dapat
menandakan terjadinya pre eklampsi post partum.
d. Pernapasan
Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan suhu dan nadi. Bila suhu dan nadi tidak
normal maka pernapasan pun tidak normal, kecuali bila ada gangguan khusus pada saluran
pencernaan.
7. Perubahan system kardiovaskuler
Selama kehamilan volume darah normal digunakan untuk menampung aliran darah
yang meningkat, yang diperlukan plasenta dan pembuluh darah uteri. Penarikan kembali
estrogen menyebabkan dieresis yang terjadi sangat cepat sehingga mengirangi volume
plasma kembali pada proporsi normal. Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah
kelahiran bayi. Selama masa ini ibu mengeluarkan banyak sekali urine. Hilangnya
progesterone membantu mengurangi retensi cairan yang melekat dengan menigkatnya
vaskuler pada jaringan tersebut selama kelahiran bersama-sama dengan trauma masa
persalinan. Pada persalinan vagina kehilangan darah sekitar 200-500 ml, sedangkan pada
persallinan dengan SC pengeluaran dua kali lipatnya. Perubahan terdiri dari volume darah
dan kadar Hmt (Haemotokroit).
Setelah persalinan shunt akan hhilang secara tiba-tiba. Volume darah ibu relative
akan bertambah. Keadaan ini menyebabkan beban pada jantung dan akan
menimbulkan decompensatio cardis pada pasien degan vitum cardio.keadaan ini dapat
diatasi dengan mekanisme kompensasi dengantumbuhnya hemokonsentrasi sehingga
volume darah kembali seperti sediakala. Umunya ini terjadi pada 3-5 hari post partum.
8. Perubahan system hematologi
Selama minggu-minggu terakhir kehamilan kadar fibrinogrn dan plasma, serta faktor-
faktor pembekuan darah makin meningkat. Pada hari pertama post
partum kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun. Tetapi darah akan mengental
sehingga akan meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosit yang meningkat
dengan jumlah sel darah putih mencapai 15.000 dalam persalinan akan tetap tinggi dalam
beberapa hari post partum. Jumlah segil darah tersebut masih dapat naik lagi 23.000-
30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan yang
lama.
Jumlah Hb, Hmt dan ertrosit sangat berbariasi pada saat awal-awal
masa post partum sebagai akibat dari volume darah, plasenta dan tungkat volume darah
yang berubah-ubah. Semua tingkatan ini akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi
wanita tersebut. Selama kelahiran dan post partum terjadi kehilangan darah sekitar 200-500
ml. penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan
peningkatan Hmt dan Hb pada hari ke-3 sampai hari ke-7 post partum yang akan sembuh
pada 4-5 minggu post partum.
Perubahan posisi darah
Pada masa nifas terjadi perubahan komponen darah misalnya jumlah sel darah putih
sakan bertambah banyak. Jumlah sel darah merah akan berfluktuasi, namun dalam 1
minggu pasca persalinan biasanya akan kembali seperti semula. curah jantung atau jumlah
darah tetap tinggi pada awal masa nifas dan dalam dua minggu akan kembali pada
keadaan normal.

Daftar Pustaka
Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu
Nifas. Yogyakarta : Andi Offset
Mochtar, rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi patologi Edisi 2. Jakarta :
EGC
Posted 25th October 2012 by tesa septia Ningsih
Labels: learning
0
Add a comment
6.
JUN

26

SOAP IBU HAMIL DENGAN ANEMIA DEFISIENSI BESI


A. PEMBAHASAN
Anemia dapat didefinisikan sebagai defisiensi dala kuantitas ataupu kulaitas sel darah
merah, yang menyebabkan kapasitas darah untuk membawa oksigen menjadi kurang. Setiap
system tubuh berpengaruh karena fungsi organ terganggu dan memburuk kerana kekurangan
oksigen.
Gejala beragam, dari keletihan sampai palpitasi yang berpotensi membahayakan, sesak
nafas, atau gejala gagal curah jantung tinggi. Pada manusia mineral besi terdapat di semua sel
dan berfungsi untuk membawa sel dari paru ke jaringan dalam bentuk hemoglobin (Hb),
memfasilitasi penggunaan oksigen di otot seperti mioglobin, dan transportasi sitokrom di dalam
sel untuk reaksi enzim di jaringan.
Wanita memiliki sekitar 2,3 gram zat bes total di dalam tubuh yang sebagian besarnya
(80%) ditemukan dalam masa sel darah merah sebagai hemoglobin (Hb). Zat besi total di dalam
tubuh ditentukan oleh asupan, pengeluaran, dan penyimpanan mineral ini. zat besi yang tidak
digunakan disimpan sebagai kompleks protein yang
read more dapat larut yaitu feritin, yang terdapat terutama di hati, sum-sum tulang belakang,
limpa dan otot skeletal. Dibutuhkan skema absorpsi normalsistem gastrointestinal yang
mempertahankan keseimbangan antara kadar zat besi fungsional (Hb) dan zat besi yang disimpan
(mioglobin). Tubuh mampu menyerap 1-2 mg zat besi setiap hari diet dan laju produksi sel darah
merah yang adekuat. Faktor utama yang mengendalikan absorpsi zat besi adalah jumlah zat besi
yang disimpan dalam tubuh dan jenis zat besi yang tersimpan dalam diet seseorang.
Anemia menyebabkan penurunan kapasitas darah untuk membawa oksigen. Anemia
defisiensi zat besi didefinisikan dengan rendahnya konsentrasi feritin serum <30 g/I dan
hemoglobin <11 g% di trimester pertama, <10,5 g% di trimester kedua dan 11 g% di trimester
ketiga. Pada pemeriksaan mikroskopik, sel darah merah terlihat mikrositik dan hipokromik.
Anemia defisiensi zat besi terjadi kaibat peningkatan kebutuhan zat besi atau ketidakkuatan
absorpsi zat besi.
Kebutuhan zat besi meningkat untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan, menstruasi,
kehilangan darah atau donor darah, kehamilan, gangguan hemolitik, obat yang menyebabkan
hemolisis (missal antiretrovirus), infeksi saluran kemih-kehamilan, dan infestasi cacing tambang.
Anemia defisiensi zat besi yang disebabkan oleh ketidakadekuatan absorpsi zat besi
terjadi karena diet yang rendah zat besi hem, mal absorpsi, bedah lambung, infeksi malaria yang
mengakibatkan rendahnya penggunaan zat besi dalam diet.
B. KEBUTUHAN ZAT BESI SELAMA KEHAMILAN
Zat besi tambahan dibutuhkan oleh tubuh selama kehamilan, kebutuhan total zat besi
adalah antara 580 dan 1340 mg, dan dari jumlah itu sampai dengan sampai dengan 1050 mg akan
hilang selama persalinan (hilman 1996). Pada awal kehamilan, kebutuhan zat besi sekitar
2,5mg/hari dan meningkat sekita 6,6 mg/hari pada trimester tiga. Diet normal zat besi negara
maju adalah 15-20 mg/hari dan 3-10% diabsorpsi terutama dari duodenum. Pada wanita sehat,
kehilangan zat besi sehari-hari adalah 1-2 mg (Jordan & McOwat).

C. TANDA DAN GEJALA ANEMIA


Masing-masing jenis anemia memiliki gambaran berbeda, bergantung pada kecepatan
terjadinya anemia tetapi terdapat beberapa tanda dan gejala umum dan beberapa tanda dan
gejalainiti, namun bukan semuanaya dapat ditemukan pada sebagian besar kasus. Ibu mungkin
tidak mengerti bahwa dirinya mengalami gejala anemia sampai mereka ditanya, namun sering
sekali mereka menganggap perasaan lelah dan letargi merupakan dampak dari kehamilan, waktu
dalam setahun, atau kerana kelelahan karena tekanan kerja dan keluarga.
Gejala kelelahan, keletihan, irirtabilitas dan sesak nafas saat melakukan aktifitas
merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Stomatits ngular dapat juga terjadi yaitu
robekan yang terasa nyeri pada sudut mulut yang menyebabkan kehilangan nafsu makan.
Tanda pucat pada kulit, membrane mukosa dapat dilihat, dan mungkin tampak pada
telapak tangan dan konjungtiva, meskipun tanda ini bersifat subjektif dan tidak dapat diandalkan.
Pada anemia klinis yang tampak secara langsung dihuungkan dengan ketidkadekuatan suplay
oksigen dan mencakup takikardia dan palpitasi, angina dan kaludikasi intermitten.

D. PENGARUH DEFISIENSI BESI DALAM KEHAMILAN


Mortalitas maternal, kehilangan bayi pada masa prenatal dan perinatal serta prematuritas
semakin banyak terjadidalam kasus anemia defisiensi zat besi yang tidak diterapi. Secara global
dari seluruh kematian maternal dikaitkan dengan anemia (WHO 2001). Kehamilan yang kurang
baik terjadi dalam 35-45% wanita pengidap anemia, dan bayi mereka memilki kurang dari
setengah simpanan zat besi normal. Di usia lebih awal bayi ini membutuhkan lebih banyak zat
besi dari yang disuplay di ASI dibandingkan bayi yang seumuran dengan mereka.
Anemia merusak kesehatan umum dan menurunkan kemampuan tubuh untuk melawan
infeksi, dan penyakit minor dalam kehamilan dapat diperburuk. Perdarahan postpartum mungkin
merepresentasikan keadaan yang lebih serius, meskipun dipettanyakan apakah anemia defisiensi
zat besi benar-benar meningkatkan resiko perdarahan. Wanita cenderung memiliki waktu lebih
lama iuntuk pulih jika terjadi perdarahan.

E . PENATALAKSANAAN
1. Penderita anemia berat atau kronis harus diprogramkan untuk mendapat pelayanan di unit
spesialis
2. Motivasi ibu hamil untuk mengkonsumsi makanan kaya zat besi dan makanan yang
meningkatkan absorpsi zat besi, seperti jus jeruk, dan berikan informasi mengenai nutrisi dalam
kehamilan.
3. Inhibitor absorpsi zat besi termasuk poriferol (dalam sayuran tertentu), tannin (dalam the), fitat
(dalam kulit padi), dan kalsium dalam produk susu.
4. Tablet zat besi harus dikonsumsi dalam satu jam setelah makan dan dengan jus jeruk atau apel.
5. Lakukan skirining pada semuan ibu saat pemeriksaan antenatal pertama dan pada 28 minggu
masa gesatasi.
6. Ibu yang diketahui menderita anemia memerlukan pemeriksaan kadar zat besi pada setiap
pemeriksaan antenatal.
7. Pastikan terapi anafilaksis darurat tersedia selama pemberian zat besi parenteral
8. Tangani secara efektif dengan pemberian zat besi dan sediaan folat dan jika perlu kurangi
keluhan gastrointestinal dengan sediaan oral dosis rendah yang dilepaskan secara lambat.

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL NY. A G1P0A0


UMUR KEHAMILAN 32 MINGGU DENGAN ANEMIA RINGAN
DI BPS KARYA ANUGRAH YOGYAKARTA

TINJAUAN KASUS
Ny. A berumur 28 tahun datang ke Puskesmas untuk periksa hamil tanggal 27 april 2012.
hamil ini adalah kehamilan yang kedua dan belum pernah abortus, HPHT 27 Agustus 2011. Ibu
mengatakan pusing, lemas, pandangan berkunang-kunang. Dari hasil pemeriksaan ditemukan TD
: 100/90 mmhg, S : 36 oC, M : 80 x / mnt, Rr 20 x / mnt, Hb : 9 gram%, kunjungtiva pucat dan
DJJ 144 x / mnt teratur, terdengar di perut ibu sebelah kiri.

No. register : 27042012


Pengkajian data, oleh: bidan L Tanggal/jam : 27 April 2012/09.00 WIB
I. Data Subjektif
Biodata
No. Ibu Suami
1. Nama Ny. A Tn. T
2. Umur 28 tahun 31 tahun
3. Agama Islam Islam
4. Suku/bangsa Jawa/Indonesia Jawa Indonesia
5. Pendidikan D3 S1
6. Pekerjaan Perawat Pengajar
7. No. Telp 0878978888888 09872635671
8. Alamat Jl. Melati. 30 Jl. Melati 30

1. Alas an kunjungan saat ini : pemeriksaan kehamilan dengan keluhan pusing, lemas, dan
pandangan berkunang-kunag

2. Riwayat menstruasi
HPMT : 27 agustus 2011 Lamanya : 6-7 hari
HPL : 3 Mei 2011 Banyaknya : 2-3kali ganti
Menarche umur : 13 tahun pembalut (100-150cc)
Siklus : 28 hari Sifat darah : merah encer dan tidak
menggumpal

3. Riwayat perkawinan
Menikah umur : 25 tahun
Pernikahan ke :1
Lama pernikahan : 3 tahun

4. Riwayat kehamilan ini


a. Tanda-tanda kehamilan : DJJ : 144x/menit
b. Pergerakan janin : ibu merasakan gerakan janin sejak umur kehamilan 16 minggu
c. Keluhan selama hamil dan penanganannya
Trimester I : ANC 2 kali pada bidan
Keluhan : ibu mengatakan pusing, cepat lelah dan tidak nafsu makan
Penaganan : oleh diberikan tablet Fe 1x1 tablet/hari,kalsium laktat 3x1 tablet/hari dan vitamin B
kompleks
3x1 tablet/hari.
Trimester II : ANC 1 kali di bidan
Keluhan : ibu mnegatakan pegal-pegal di pinggang ampai ke kaki, penglihatan berkunang-kunag
dan cepat lelah.
Penanganan : oleh diberikan tablet Fe 1x1 tablet/hari, kalsium laktat 3x1 tablet/hari, vitamin B
kompleks 3x1 tablet/hari
Trimester III : ANC 2 kali di bidan
Keluhan : ibu mengatakan cepat lelah, pegal-pegal di pinggang, kadang perut terasa sesak
Penanganan : oleh bidan diberikan tablet Fe 1x1 tablet/hari, kalsium laktat 3x1/hari, vitamin B
kompleks 3x1 tablet/hari.

d . Imunisasi
TT I tanggal : ibu mendapat imunisasi TT I pada usia kehamilan 16 minggu d BPS putri
TT II tanggal : ibu mendapatkan imunisasi TT II pada usia kehamilan 20 minggu di BPS putrid.
5. Riwayat obstetri : G1 P0 A0
6. Riwayat kontrasepsi
Ibu mengatakan tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi
7. Riwayat kesehatan
Ibu dan keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular dan menderita panyakit keturunan
serta penyakit yang memerlukan perawatan khusus.
8. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari (terutama pada kehamilan ini)
a. Pola Nutrisi
Makan : 2 kali sehari, porsi nasi, lauk, buah, dan srayuran. Keluhan : ibu mengatakan kurang
nafsu makan
Minum : 7-8 gelas sehari
b. Pola eliminasi
BAB : 1x sehari, warna kuning kecoklatan, konsistensi bau khas feses,ibu mengatakan
tidak ada keluhan dalam BAB
BAK : 6-7 kali sehari, warna kuning bening, bau pesing, tidak ada keluhan
c. Pola istirahat : tidur malam 5-6 jam/hari, tidur siang 1 jam perhari.
d. Pola seksualitas : 2 kali seminggu, tidak ada keluhan
e. Personal hygiene : mandi, gosok gigi, ganti baju 2x sehari, keramas 1x sehari
f. Aktivitas/olahraga : ibu mengatakan hanya mengerjakan aktifitasnya sebagai ibu rumah
tangga , ibu jarang berolahraga, bila ibu bekerja terlalu berat ibu merasa pusing dan cepat lelah.
9. Kebiasaan yang mengganggu kesehatan
Ibu mengatakan tidak pernah merokok, minum minuman keras ataupun jamu.
10. Riwayat psikososial
a. Ibu mengatakan merasa senang dengan kehamilannya karena sudah direncanakan
b. Ibu dan keluarga berharap semoga dalam kehamilan dan persalinannya nanti berjalan
normal dan tidak ada halangan satu apapun.
c. Keluarga mendukung sekali kehamilan ibu.
d. Pengambilan keputusan dalam keluarga oleh suami.
e. Rencana persalinan tempat rumah sakit, penolong persalinan bidan, pendamping
persalinan suami, dana, transportasi rujuk, serta donor darah telah dipersiapkan.
f. Ibu mengatakan akan menyusui bayinya.
g. Ibu mengatakan akan merawat bayinya dan di bantu oleh keluarga.

11. Hewan peliharaan dan keadaan lingkungan


a. Ibu tidak memiliki hewan peliharaan
b. Lingkungan tempat tinggal bersih dan rapi
II. Data Objektif
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum ibu baik kesadaran : composmentis
b. Vital Sign :
TD = 100 / 90 mmHg
N = 80 x / mnt
S = 360C
Pernafasan : 20 x / mnt
c. Antropometri
BB : 62 kg
TB : 155 cm
Lila : 24 cm
2. Pemeriksaan fisik
Head to toe
a. Kepala
Rambut lurus, tidak ada ketombe, tidak mudah rontok, dan keadaan bersih.
b. Muka
Betuk : simetris pucat
Oedema : tidak ada
Chloasmagravidarum : tidak ada
c. Mata
Bentuk : simetris
Konjugtiva : warnany merah muda (pucat)
Sclera : tidak ikterik
d. Hidung
Bentuk simetris, keadaan bersih dan tidak ada pembesaran polip
e. Telinga
Bentuk simetris, keadaan bersih, fungsi pendengaran baik, daun telinga ada.
f. Mulut dan gigi
Tidak ada kelainan pada mulut, tidak ada stomatitis, keadaan gigi bersih, tidak ada karies, dan
tidak ada pembesaran tonsil.
g. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe, dan tidak ada pembengkakan vena
jugularis.
h. Dada
Bentuk simetris, pergerakan nafas teratur tidak ada wheezing dan ronchi, dan tidak ada benjolan
abnormal.
i. Payudara
Membesar simetris, puting susu menonjol, hyperpigmentasi, tidak ada benjolan abnormal,
kolostrum belum keluar, dan keadaan bersih.
j. Punggung : segitiga sigmoid simetris, bentuk tulang simetris.
k. Genetalia : keadaan bersih, tidak ada odem, tidak ada varises.
l. Ekstermitas :
Atas : bentuk simetris, tidak ada cacat, tidak ada odem, , keadaan bersih, jari-jari tangan
lengkap.
Bawah : bentuk simetris, keadaan bersih, tidak ada odem, berfungsi dengan baik, jari-jari kaki
lengkap.
m. Abdomen
TFU sesuai usia kehamilan
n. Pemeriksaan kehamilan
Palpasi Leopod
Leopold I : TFU 30 cm, teraba bagian bulat, lunak, tidak ada lentingan
(bokong janin).
opold II : Sebelah kanan ibu teraba bagan-bagian kecil janin (eksterminas janin).
Sebelah kiri ibu teraba bagian keras, panjang ada tahanan
(punggung janin).
opold III : Teraba bagian bulat, keras ada lentingan (kepala janin)
opold IV : Konvergen 5/5 bagian.
Pemeriksaan Auskultasi
DJJ : 144 x / mnt
PM : Terdengar jelas, 2 jam dibawah pusat kiri ibu
Pemeriksaan Laboratorium
Hb : 9 gram%
III. Analisa
Ny.A umur 28 tahun G1P0A0 umur kehamilan 32 minggu, Janin hidup tunggal intra uterin, letak
memanjang, presentasi kepala, PUKL 5/5 bagian. Primuda dengan anemia ringan.
IV. Penatalaksanaan
1. Beritahu hasil pemeriksaan
Evaluasi : ibu mengetahui hasil pemeriksaan
2. Menganjurkan kepada ibu untuk tidak melakukan perkerjaan yang terlalu berat.
Evaluasi : ibu bersedia untuk tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat
3. Melibatkan suami untuk memberikan dukungan psikologis pada ibu.
Evaluasi : Suami setuju memberikan dukungan psikologis kepada ibu
4. Menganjurkan kepada ibu untuk makan makanan yang mengandung zat besi seperti bayam dan
hati dan makan dilakukan lebih sering dalam jumlah lebih sedikit.
Evaluasi : ibu bersedia bersedia untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi dan
akan makan lebih sering dengan jumlah yang sedikit.
5. Menganjurkan kepada ibu untuk tidak melakukan perjalanan jauh.
Evaluasi : ibu bersedia untuk tidak melakukan perjalanan jauh
6. Menganjurkan kepada ibu untuk mengkonsumsi vitamin B kompleks dan vitamin C masing-
masing 3x1 tablet perhari.
Evaluasi : ibu bersedia untuk mengkonsumsi vitamin B kompleks vitamin C dengan doisis yang
dianjurkan bidan
7. Megnajurkan ibu minum tablet Fe 2x1 tablet/hari
Evaluasi : ibu bersedia untuk minum tablet Fe
8. Menganjurkan kepada ibu untuk olahraga ringan di pagi hari sebelum melakukan aktivitas.
Evaluasi : Ibu bersedia untuk berolahraga ringan setiap harib sebelum beraktifitas
9. Menganjurkan kepada ibu untuk periksa laboratorium untuk mengetahui apakah Hbnya sudah
naik atau belum.
Evaluasi : ibu setuju untuk melakukan pemeriksaan Hb secara rutin
10. Menganjurkan kepada ibu untuk kontrol ulang 2 minggu lagi.
Evaluasi : ibu bersedia untuk melakukan control ulang

sumber : 1. Departemen Kesehatan RI. 1992. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam
Konteks
Keluarga. Jakarta
2. Robson, S. Elizabeth, Jason Waugh.2011. Patologi Pada Kehamilan Manajemen Asuhan
Kebidanan. Jakarta : EGC

3. Wylie, Linda. Helen Bryce. 2010. Manajemen Kebidanan Gangguan Medis Kehamilan dan

Persalinan. Jakarta : EGC

Posted 26th June 2012 by tesa septia Ningsih


Labels: learning

0
Add a comment
7.
APR

28

DOKUMENTASI ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR


2-6 MINGGU
I. PENGUMPULAN DATA SUBJEKTIF
Data subjektif( S ), merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan. Menurut Helen
Varney langkah pertama ( pengkajian data ). Menggambarkan pendokumentasian hasil
pengumpulan data klien yang diperoleh melalui anamnesa. Pada pasien yang bisu, di bagian data
di belakang huruf S, di beri tanda huruf O atau X. Tanda ini akan menjelaskan bahwa
pasien adalah
read more penderita tuna wicara.
Pengumpulan data subjektif pada asuhan bayi baru lahir 2-6 minggu meliputi :
a. Menanyakan mengenai keseluruhan kesehatan bayi
b. Menyakan Ibu masalah masalah yang dialami terutama dalam proses menyusui
c. Mengamati letak mulut bayi, posisi bayi, kemampuan menelan dan menghisap bayi jika ibu
sedang menyusui bayi
d. Apakah ada orang lain didalam rumahnya atau disekitarnya yang dapat membantu ibu baru
tersebut
e. Menanyakan keadaan rumah kebersihan
f. Mengamati persedianaan makanan dan air
g. Mengamati keadaan suasana hati Ibu baru
h. Mengamati cara Ibu tersebut berinteraksi dengan bayinya Kapan bayi tersebut lahir ( Jika anda
tidak menolong persalinan bayi )
i. Apakah bayi mengalami pertumbuhan dan bertambah berat badanya
j. Apakah bayi menunjukan tanda tanda bahaya
k. Apakah bayi menyusu dengan baik
l. Apakah bayi menyusu sedikitnya 2 4 jam sekali
m. Apakah bayi berkemih 6 hingga 8 kali sehari
n. Apakah bayi menderita demam
o. Apakah bayi tampak waspada saat bangun
p. Apakah matanya mengikuti gerakan Ibu

II. TINJAUAN DATA OBJEKTIF


Data objektif ( O ) merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan. Menurut Helen Varney
pertama (pengkajian data). Merupakan pendokumentasian hasil pengumpulan data kilen yang di
peroleh melalui hasil observasi yang jujur dari pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan
laboratorium/pemeriksaan diagnostik lain.
a. Pemeriksaan fisik
NADI
Nadi adalah denyut nadi yang teraba pada dinding pembuluh darah arteri yang
berdasarkan systol dan gystole dari jantung. Jumlah denyut nadi yang normal berdasarkan usia
seseorang adalah:
Bayi baru lahir : 140 kali per menit.
Umur di bawah umur 1 bulan : 110 kali per menit.
Umur 1 6 bulan : 130 kali per menit.
Umur 6 12 bulan : 115 kali per menit.

SUHU
Bayi masih rentan terhadap hipotermia dikarenakan karena belum matangnya
hipotalamus yang mengakibatkan tidak efisiennya pengaturan suhu tubuh bayi Seorang bayi
yang mengalami kedinginan membutuhkan kalori dan oksigen untuk meningkatkan suhu
tubuhnya. Hipertermi rentan terjadi akibat berada dekat pada sumber radiasi panas, dapat juga
diakibatkan karena terjadinyainfeksi. Tempat untuk mengukur suhu badan seseorang adalah:
-Ketiak/ axilea, pada area ini termometer didiamkan sekitar 10 15 menit
-Anus/ dubur/ rectal, pada area ini termometer didiamkan sekitar 3 5 menit
-Mulut/oral, pada area ini termometer didiamkan sekitar 2 3 menit
Suhu tubuh normal berada pada 36oC 37,5oC
Suhu tubuh rendah (hypopirexia/hypopermia) < 36oC
Suhu tubuh tinggi/panas jika:
- Demam :Jika bersuhu 37,5 oC 38oC
- Febris : Jika bersuhu 38oC 39oC
- Hypertermia : Jika bersuhu > 40oC
PERNAPASAN
Pola pernapasan adalah:
- Pernapasan normal (euphea)
- Pernapasan cepat (tachypnea)
- Pernapasan lambat (bradypnea)
- Sulit/sukar bernapas (oypnea)
Pernapasan normal adalah:
- Bayi : 30 40 kali per menit
- Anak : 20 50 kali per menit
- Dewasa : 16 24 kali per menit
REFLEKS
Refleks berkedip, batuk, bersin, dan muntah ada pada waktu lahir dan tetap tidak berubah
samapai dewasa. Beberapa refleks lain normalnya ada waktu lahir, yang menunjukan imaturitas
neurologis, refleks-refleks tersebut akan hilang pada tahun pertama. Tidak adanya refleks-refleks
ini menandakan masalah neurologis yang serius.
MATA
Periksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna. Periksa adanya
glaucoma congenital, mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan
pada kornea. Katarak congenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Pupil harus
tampak bulat. Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama) yang dapat
mengindikasikan adanya defek retina.
Periksa adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau retina, adanya secret
pada mata, konjungtivitis oleh kuman gonokokus dapat menjadi panoftalmiadan menyebabkan
kebutaan. Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami sindrom down.

III. ASSESMENT
Asssesment) merupakan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi ( kesimpulan ) dari
data subjektif dan objektif.
Analisis/assesment merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Helen
Varney langkah kedua,ketiga dan keempat sehingga mencakup hal-hal berikut ini :
Diagnosis Masalah kebidanan
Diagnosis masalah potensial
Perlunya mengidentifikasi kebutuhan tindakan segera untuk antisipasi diagnosis masalah
potensial

IV. PLANNING
Dibutuhkan Penkes kepada kelurga tentang perawatan bayi yaitu
meliputi :
a. Tempat tidur yang tepat
Tempat tidur bayi harus hangat
Tempat tidur bayi diletakan didekat tempat tidur Ibu
Tempat tidur bayi dan ibu yang bersamaan bisa menyebabkan kematian yang tidak disengaja
Ruang bayi dibagian kebidanan bukan tempat yang tepat bagi bayi sehat
b. Memandikan bayi
Bayi lebih baik dimandikan setelah minggu pertama yang bertujuan untuk mempertahankan
vernixcaseosa dalam tubuh bayi guna stabilisasi suhu tubuh.
Bayi harus tetap dijaga kebersihannya denan menyekanya denagn lembut dan memperhatikan
lipatan kulitnya
Sabun dengan kandungan cholorophene tidak dianjurkan karena diserap kulit dan menyebabkan
racun bagi sistem saraf bayi
c. Mengenakan pakaian
Buat bayi tetap hangat
Baju bayi seharusnya tidak membuatnya berkeringat
Pakaian berlapis lapis tidak dibutuhkan oleh bayi
Hindari kain yang menyentuh leher karena bisa mengakibatkan
gesekan yang mengganggu Selama musim panas bayi membutuhkan pakaian dalam dan popok
d. Perawatan tali pusat
Perawatan dengan tidak membubuhkan apapun pada pusar bayi
Menjaga pusar bayi agar tetap kering
Puntung bayi akan segera lepas pada minggu pertama
e. Perawatan hidung
Kotoran bayi akan membuat hidung bayi tersumbat dan sulit
bernafas
Hindari memasukan gumpalan kapas kepada hidung bayi
f. Perawatan mata dan telinga
Telinga harus dibersihkan setiap kali sehabis mandi
Jangan membiasakan menuangkan minyak hangat kedalam kanal
telinga karena akan lebih menambah kotoran dalam telinga
g. Perawatan kuku
jaga kuku bayi agar tetap pendek
Kuku dipotong setiap 3 atau 4 hari sekali
Kuku yang panjang akan mengakibatkan luka pada mulut atau lecet pada kulit bayi
h. Kapan membawa bayi keluar rumah
Bayi Harus dibiasakan dibawa keluar selama 1 atau 2 jam sehari (bila udara baik)
Gunakan pakaian secukupnya tidak perlu terlalu tebal atau tipis
Bayi harus terbiasa dengan sinar matahari namun hindari pancaran langsung di pandangannya.
ASUHAN KEBIDANAN PADA
BAYI BARU LAHIR 2-6 MINGGU

Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir 2 Minggu

Di : Rumah Bersalin Sakinah


No. register : 2253
Tanggal : 4-11-2010
Jam : 04.10 WIB
Oleh : Bidan B
1. Subjektif :

a. Identitas Bayi :
Nama Bayi : Bayi Ny. A
Tanggal lahir : 4-11-2010, Pukul : 02.15 WIB
Jenis Kelamin : Perempuan
Ibu datang untuk kunjungan ulang, ibu mengatakan bayinya sehat.
2. Objektif :
1) TTV :
S : 36,7C
N : 124x/menit
R : 42 x/menit
2) BB bayi : 3200 gram
3) PB bayi : 48 cm
4) Mata : Sclera putih, Conjungtiva merah muda
5) Bayi menghisap kuat saat menyusu.
6) Pergerakkan nafas normal, tidak ada wheezing.
7) Tali pusat kering.
8) Bayi menghisap kuat saat menetek.
9) Eliminasi BAK sering dan BAB 5-6 x/ hari.
3. Assesment :
Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan usia 2 minggu dengan kondisi baik.
4. Planning :
Tanggal : 18 Novemb
Jam : 15.10 wib
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa bayinya sehat.
Evaluasi : Ibu mengerti dan merasa senang.
1. Memastikan pada ibu apakah bayinya mendapatkan ASI cukup tanpa diberikan
pendamping ASI atau susu formula.
Evaluasi : Ibu mengatakan bahwa bayi selalu diberi ASI dan tidak diberikan makanan tambahan
lainnya.
1. Menganjurkan pada ibu untuk kunjungan ulang sebulan kemudian untuk
penimbangan bayi dan imunisasi BCG tanggal 12-12-2010.
Evaluasi : ibu akan datang tanggal 12-12-2010.

Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir 6 minggu


Hari / Tanggal : Kamis/ 16-12-2010 Jam : 16.10 WIB
1. Subjektif :
Ibu mengatakan bayinya sehat.
2. Objektif :
a. Keadaan umum bayi tampak sehat
b. TTV :
S : 36,5C
BJA : 120 x/menit
R : 42 x/menit
c. BB Bayi : 3600 gr PB bayi : 50 cm
d. Mata : Sclera putih, Conjungtiva merah muda
e. Pergerakkan nafas normal, tidak ada wheezing.
a. Tali pusat bersih.
g. Bayi menghisap kuat saat menyusu.
h. Eliminasi BAK sering dan BAB 5-6 x/ hari.
3. Assesment :
Bayi usia 6 minggu dengan kondisi baik
4. Planning :
Tanggal : 16 Desember 2010
Jam : 16.20 wib

1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa bayinya sehat


Evaluasi : Ibu mengerti dan merasa senang
2. Memastikan pada ibu bahwa bayinya mendapatkan ASI cukup tanpa diberikan pendamping ASI
atau susu formula.
Evaluasi : Bayi selalu diberi ASI dan tidak diberikan makanan tambahan lainnya.
3. Memberitahu ibu bahwa bayi harus di imunisasi DPT Combo 1 dan Polio 2 pada usia 2 bulan.
Evaluasi : ibu mengatakan bayinya akan di imunisasi pada umur 2 bulan.
4. Menganjurkan ibu segera membawa bayinya ke petugas kesehatan apabila bayinya sakit.
Evaluasi : Ibu akan melakukannya.
5. Memberitahukan ibu untuk membawa bayinya tiap bulan untuk memeriksakan pertumbuhan dan
perkembangan dan juga immunisasi tiap bulan dengan immunisasi Dasar Lengkap.
Evaluasi : Ibu mengatakan akan melakukannya.

Posted 28th April 2012 by tesa septia Ningsih


Labels: learning

0
Add a comment
2
APR

28

MORTALITAS & MORBIDITAS

A. PENYEBAB

Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tergolong tinggi, jika dibandingkan dengan
negara lain di kawasan ASEAN. Berdasarkan Human Development Report 2010, AKB di
Indonesia mencapai 31 per 1.000 kelahiran. Angka itu, 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan
Malaysia. Juga, 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan Filipina dan 2,4 kali lebih tinggi jika
dibandingkan dengan Thailand.
Diare menjadi penyakit yang paling sering diderita oleh balita. Penyakit ini terutama
disebabkan oleh virus yang memiliki tingkat kematian tinggi. Kematian akibat virus yang
disebut sebagai rotavirus ini di dunia tercatat 577.000 orang per tahun. Sebanyak 85% di
antaranya berasal dari Asia dan Afrika.
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari
biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari
penderita. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan
parasit lainnya seperti jamur, cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare adalah
bakteri Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC). Secara klinis penyebab diare dapat
dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan,
immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis
adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan.
Penyakit diare masih menjadi penyebab kematian balita (bayi dibawah lima tahun) terbesar
di dunia. Menurut catatan Unicef, setiap detik satu balita meninggal karena diare. Diare
seringkali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat global dan nasional fakta
menunjukkan sebaliknya.
Menurut catatan WHO, diare membunuh dua juta anak di dunia setiap tahun, sedangkan di
Indonesia, menurut Surkesnas (2001) diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua
terbesar pada balita. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460
balita setiap harinya.
Penyakit Diare di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi
masyarakat tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di
Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang
berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara Barat ini
oleh karena foodborne infections dan waterborne infections yang disebabkan bakteri Salmonella
spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium
perfringens danEnterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC).
Diare infeksi di negara berkembang, menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap
tahun. Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di negara
berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun.Diare merupakan penyebab
kematian nomor 2 pada Balita dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. Setiap
anak di Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6 2 kali per tahun. Dari hasil Survey
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia, diare menempati urutan ke ketiga penyebab
kematian.
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari
biasanya ( 3 atau lebih per hari ) yang disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari
penderita. Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu
karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi yang
sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan
keracunan.
Adapun penyebab-penyebab tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya
keadaan gizi, kebiasaan atau perilaku, sanitasi lingkungan, dan sebagainya. Pada tahun 2004,
diare merupakan penyakit dengan frekuensi KLB kelima terbanyak setelah DBD, campak,
tetanus, neonatorium dan keracunan makanan.

B. PROSENTASE ANGKA KEJADIAN

Tabel 1Proporsi Dan Peringkat Penyakit Diare Sebagai Penyebab Kematian Bayi
Dan Balita Tahun 1986, 1992, 1995, Dan 2001
Penyebab Kematian Bayi Penyebab Kematian Balita
Tahun Survei
Proporsi Peringkat Proporsi Peringkat
SKRT 1986 15,5% 3 - -
SKRT 1992 11% 2 - -
SKRT 1995 13,9% 3 15,3% 3
Surkesnas 2001 9,4% 3 13,2% 2
Sumber: SKRT dan Surkesnas 2001
Berdasarkan pada tabel diatas dapat kita lihat bahwa penyebab kematian bayi akibat diare
menurut SKRT yang paling tinggi terdapat pada tahun 1986 dengan proporsi sebesar 15,5%
sedangkan pada tahun 2001 berdasarkan pada data Sukenas diketahui bahwa proporsi diare
mengalami penurunan sebesar 9,4%.

C. PERAN BIDAN DALAM UPAYA MENGURANGI KEJADIAN MORTALITASDAN


MORBIDITAS

Di Indonesia, terutama daerah pelosok, bidan memiliki peran historis yang cukup kuat dalam
masalah kesehatan ibu dan anak. Sebagian besar kelahiran di Tanah Air dibantu oleh tangan-
tangan terampil dan terdidik bidan.
Posisi geografis serta sebaran penduduk membuat bidan dituntut untuk semakin berperan, tidak
hanya dalam pertolongan persalinan, juga edukasi gizi dan kesehatan terhadap masyarakat
khususnya ibu-ibu. Penangannya meliputi persiapan, selama masa kehamilan, persalinan serta
usai persalinan.
Peran penting bidan dalam edukasi masalah gizi dan kesehatan masih relevan mengingat
bahwa 60 persen kasus kelahiran di Indonesia ditangani oleh para bidan. Keberadaan bidan yang
tersebar di seluruh pelosok Tanah Air membuat mereka memiliki peran khas dan menjadi salah
satu sosok kunci untuk membantu peningkatan kesehatan ibu dan anak, lewat upaya preventif
(pencegahan) maupun kuratif (pengobatan).
Peran bidan sangat dibutuhkan dalam menangani masalah tingginya angka kematian ibu
(AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Berdasarkan datayang telah disebutkan sebelumnya,
menunjukkan bahwa Indonesia memiliki angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Sementara
itu, untuk mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) 2015, yaitu AKI sebesar 102
per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup, butuh upaya yang
lebih keras serta partisipasi berbagai pihak, termasuk bidan. Apalagi, Indonesia merupakan
negara dengan kondisi geografis, sosial, ekonomi, dan kultur yang beragam.
Masalah sebenarnya bisa dicegah melalui program promosi kesehatan dan edukasi gizi yang
tepat untuk ibu hamil. Edukasi akan berhasil jika dilakukan secara intensif oleh tenaga kesehatan
yang memiliki ikatan sosial dan hubungan baik dengan ibu hamil maupun yang sedang
mempersiapkan kehamilan,dan bidan merupakan salah satu profesi yang bisa memainkan peran
sebagai pendidik.
Posted 28th April 2012 by tesa septia Ningsih
Labels: learning

0
Add a comment
3
APR

28

involusi
INVOLUSI
A. Pengertian involusi uteri
Involusi adalah pengecilan yang normal dari suatu organ setelah organ tersebut memenuhi
fungsinya, misalnya pengecilan uterus setelah melahirkan. (Hincliff, 1999)
Involusi uteri adalah mengecilnya kembali rahim setelah persalinan kembali kebentuk asal.
(Ramali, 2003)

B. Proses Involusi Uterus


a. Ischemi pada miometrium disebut juga lokal ischemia
Yaitu kekurangan darah pada uterus. Kekurangan darah ini bukan hanya karena kontraksi
dan retraksi yang cukup lama seperti tersebut diatas tetapi disebabkan oleh pengurangan aliran
darah yang pergi ke uterus di dalam masa hamil, karena uterus harus membesar menyesuaikan
diri dengan pertumbuhan janin.
Untuk memenuhi kebutuhannya, darah banyak dialirkan ke uterus dapat mengadakan
hipertropi dan hiperplasi setelah bayi dilahirkan tidak diperlukan lagi, maka pengaliran darah
berkurang, kembali seperti biasa. Dan aliran darah dialirkan ke buah dada sehingga peredaran
darah ke buah dada menjadi lebih baik.
Demikianlah dengan adanya hal-hal diatas, uterus akan mengalami kekurangan darah
sehingga jaringan otot-otot uterus mengalami otropi kembali kepada ukuran semula.
b. Autolisis
Adalah penghancuran jaringan otot-otot uterus yang tumbuh karena adanya hyperplasi,
dan jaringan otot yang membesar menjadi lebih panjang 10 kali dan menjadi 5 kali lebih tebal
dari sewaktu masa hamil, akan susut kembali mencapai keadaan semula.
Faktor yang menyebabkan terjadinya autolisis apakah merupakan hormon atau enzim
sampai sekarang belum diketahui, tetapi telah diketahui adanya penghancuran protoplasma dan
jaringan yang diserap oleh darah kemudian di keluarkan oleh ginjal. Inilah sebabnya beberapa
hari setelah melahirkan ibu mengalami beser air kemih atau sering buang air kemih.

c. Aktifitas otot-otot
Adalah adanya retraksi dan kontrksi dari otot-otot setelah anak lahir, yang diperlukan
untuk menjepit pembulu darah yang pecah. Kontraksi dan retraksi yang terus-menerus ini
menyebabkan terganggunya peredaran darah di dalam uterus yang mengakibatkan jaringan-
jaringan otot-otot tersebut menjadi lebih kecil.

Mekanisme terjadinya kontraksi pada uterus adalah melalui 2 cara yaitu :


a. Kontraksi oleh ion kalsium
Sebagai pengganti troponin, sel-sel otot polos mengandung sejumlah besar protein
pengaturan yang lain yang disebut kalmodulin. Terjadinya kontraksi diawali dengan ion kalsium
berkaitan dengan kalmodulin. Kombinasi kalmodulin ion kalsium kemudian bergabung dengan
sekaligus mengaktifkan myosin kinase yaitu enzim yang melakukan fosforilase sebagai respon
terhadap myosin kinase.
Bila rantai ini tidak mengalami fosforilasi, siklus perlekatan-pelepasan kepala myosin dengan
filament aktin tidak akan terjadi. Tetapi bila rantai pengaturan mengalami fosforilasi, kepala
memiliki kemampuan untuk berikatan secara berulang dengan filament aktin dan bekerja melalui
seluruh proses siklus tarikan berkala sehingga mengghasilkan kontraksi otot uterus Kontraksi
yang disebabkan oleh hormone
Ada beberapa hormon yang mempengaruhi adalah epinefrin, norepinefrin, angiotensin,
endhothelin, vasoperin, oksitonin serotinin, dan histamine. Beberapa reseptor hormon pada
membran otot polos akan membuka kanal ion kalsium dan natrium serta menimbulkan
depolarisasi membran. Kadang timbul potensial aksi yang telah terjadi. Pada keadaan lain, terjadi
depolarisasi tanpa disertai dengan potensial aksi dan depolarisasi ini membuat ion kalsium
masuk kedalam sel sehingga terjadi kontraksi pada otot uterus. (Guyton, 2007)
Dengan faktor-faktor diatas dimana antara 3 faktor itu saling mempengaruhi satu dengan
yang lain, sehingga memberikan akibat besar terhadap jaringan otot-otot uterus, yaitu hancurnya
jaringan otot yang baru, dan mengecilnya jaringan otot yang membesar. Dengan demikian proses
involusi terjadi sehingga uterus kembali pada ukuran dan tempat semula.
Adapun kembalinya keadaan uterus tersebut secara gradual artinya, tidak sekaligus tetapi
setingkat. Sehari atau 24 jam setelah persalinan, fundus uteri agak tinggi sedikit disebabkan oleh
adanya pelemasan uterus segmen atas dan uterus bagian bawah terlalu lemah dalam
meningkatkan tonusnya kembali. Tetapi setelah tonus otot-otot kembali fundus uterus akan turun
sedikit demi sedikit. (Christian, 1996)

Williams menjelaskan involusi sebagai berikut


Involusi tidak dipengaruhi oleh absorbsi insitu, namun oleh suatu proses eksfoliasi yang
sebagian besar ditimbulkan oleh berkurangnya tempat implantasi plasenta karena pertumbuhan
jaringan endometrium. Hal ini sebagian dipengaruhi oleh perluasan dan pertumbuhan kebawah
endometrium dari tepi-tepi tempat plasenta dan sebagian oleh perkembangan jaringan
endometrium dari kelenjar dan stoma yang tersisa di bagian dalam desidua basalis setelah
pelepasan plasenta.
Proses semacam itu akan dianggap sebagai konservatif, dan sebagai suatu ketetapan yang
bijaksana sebagai bagian dari alam. Sebaiknya kesulitan besar akan dialami dalam pembuangan
arteri yang mengalami obliterasi dan trombin yang mengalami organisasi, kalau mereka tetap
insitu, akan segera mengubah banyak bagian dari mukosa uterus dan endometrium dibawah
menjadi suatu masa jaringan parut dengan akibat bahwa setelah beberapa kehamilan tidak akan
mungkin lagi untuk melaksanakan siklus perubahan yang biasa, dan karier reproduksi berakhir.

b. Involusi alat-alat kandungan


1. Uterus
Setelah bayi dilahirkan, uterus yang selama persalinan mengalami kontraksi dan retraksi
akan menjadi keras sehingga dapat menutup pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas
implantasi plasenta. (Sarwono, 2002). Pada hari pertama ibu post partum tinggi fundus uteri kira-
kira satu jari bawah pusat (1 cm). Pada hari kelima post partum uterus menjadi 1/3 jarak antara
symphisis ke pusat. Dan hari ke 10 fundus sukar diraba di atas symphisis. (Prawirohardjo, 2002).
tinggi fundus uteri menurun 1 cm tiap hari. (Reader, 1997). Secara berangsur-angsur menjadi
kecil (involusi) hingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.

Tabel Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi

Involusi Tinggi Fundus Uterus Berat uterus


1. Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
2. Uri lahir Dua jari di atas pusat 750 gram
3. 1 minggu Pertengahan symphisis pusat 500 gram
4. 2 mingggu Tidak teraba atas symphisis 350 gram
5. 6 minggu Bertambah kecil 50 gram
6. 8 minggu Sebesar normal 30 gram
2. Bekas implantasi uteri
Plasenta mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5
cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm. Pada minggu ke 6 2,4 cm dan akhirnya pulih. (Mochtar,
1998)
Otot-otot uterus berkontraksi segera post partum. Pembuluh-pembuluh darah yang berada
diantara anyaman-anyaman otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan
setelah plasenta lahir. Bagian bekas plasenta merupakan suatu luka yang kasar dan menonjol ke
dalam kavum uteri segera setelah persalinan. Penonjolan tersebut dengan diameter 7,5 sering
disangka sebagai suatu bagian plasenta yang tertinggal, setelah 2 minggu diameternya menjadi
3,5 cm dan pada 6 minggu 2,4 cm dan akhirnya pulih. (Sarwono, 2002)
3. Lokia
Adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
(Mochtar, 1998)
Menurut Rustam Mochtar (1998) pengeluaran lochia dapat dibagi berdasarkan jumlah
dan warna sebagai berikut :
Lokia rubra berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa.
Lanugo dan mekoneum selama 2 hari pasca persalinan.
Lokia sanguinolenta berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari ke 3-7 pasca
persalinan.
Lokia serosa berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
Lokia alba cairan putih, setelah 2 minggu
Lokia purulenta terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
Lokia astastis lokia tidak lancar keluarnya.

Tabel pengeluaran lokhia menurut masa involusi

Batas waktu
Lochia sejak Pengeluaran normal Pengeluaran tidak normal
melahirkan
Rubra Hari 1-3 Darah dengan bekuan, bau Byk bekuan, bau busuk, pembalut
amis, meningkat dengan penuh darah
bergerak, meneteki dan
peregangan
Serosa Hari 4-9 Pink atau coklat dengan Bau busuk, pembalut penuh darah
konsistensi, serosanguineus,
bau amis.
Alba Hari 10 Kuning putih, bau amis Bau busuk, pembalut penuh
darah, lochea serosa menetap,
kembali ke pengeluaran pink atau
merah, pengeluaran lebih dari 2-3
minggu.
4. Servik
Setelah persalinan, bentuk servik agak menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan
oleh korpus uteri yang dapat mengandakan kontraksi, sedangkan servik tidak berkontraksi,
sehingga seolah-olah pada berbatasan antara korpus dan servik uteri berbentuk, semacam cincin.
Warna servik sendiri merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah, konsistensinya
lunak, segera setelah janin dilahirkan. Tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan 2-3 jari dan
setelah 1 minggu hanya dapat dimasukkan 1 jari ke dalam kavum uteri. (Sarwono, 2002)

5. Vagina dan perineum


Estrogen pasca partum yang menurun berperan dalam pengikisan mucosa vagina
dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap
ke ukuran sebelum hamil sampai 6-8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat
pada minggu ke empat. Pada awalnya introitus mengalami eritematosa dan udematosa
terutama pada daerah episiotomi atau jahitan laserasi. Tanda-tanda infeksi (nyeri, merah,
panas, bengkak atau rabas). Atau tepian insisi tidak saling mendekat bisa terjadi.
Penyembuhan harus berlangsung dalam 2-3 minggu. Hemoroid (varises anus) sering
terjadi. Gejala yang sering dialami adalah seperti rasa gatal, tidak Nyman dan perdarahan
berwarna merah terang pada waktu defecator. Ukuran hemoroid biasanya mengecil
beberapa minggu setelah bayi lahir.
6. Topangan otot panggul
Jaringan penopang dasar panggul yang terobek atau teregang saat ibu melahirkan
memerlukan waktu sampai enam bulan untuk kembali ke tonus semula. Istilah relaksasi
panggul berhubungan dengan pemanjangan dan melemahnya topangan permukaan
struktur panggul.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Involusi

Proses involusi dapat terjadi secara cepat atau lambat, faktor yang mempengaruhi involusi
uterus antara lain :
1. Mobilisasi dini
Aktivitas otot-otot ialah kontraksi dan retraksi dari otot-otot setelah anak lahir, yang
diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah karena adanya pelepasan plasenta dan
berguna untuk mengeluarkan isi uterus yang tidak diperlukan, dengan adanya kontraksi dan
retraksi yang terus menerus ini menyebabkan terganggunya peredaran darah dalam uterus yang
mengakibatkan jaringan otot kekurangan zat-zat yang diperlukan, sehingga ukuran jaringan otot-
otot tersebut menjadi kecil.
2. Status gizi
Status gizi adalah tingkat kecukupan gizi seseorang yang sesuai dengan jenis kelamin dan
usia. Status gizi yang kurang pada ibu post partum maka pertahanan pada dasar ligamentum
latum yang terdiri dari kelompok infiltrasi sel-sel bulat yang disamping mengadakan pertahanan
terhadap penyembuhan kuman bermanfaat pula untuk menghilangkan jaringan nefrotik, pada ibu
post partum dengan status gizi yang baik akan mampu menghindari serangan kuman sehingga
tidak terjadi infeksi dalam masa nifas dan mempercepat proses involusi uterus.
3. Menyusui
Pada proses menyusui ada reflek let down dari isapan bayi merangsang hipofise posterior
mengeluarkan hormon oxytosin yang oleh darah hormon ini diangkat menuju uterus dan
membantu uterus berkontraksi sehingga proses involusi uterus terjadi.
4. Usia
Pada ibu yang usianya lebih tua banyak dipengaruhi oleh proses penuaan, dimana proses
penuaan terjadi peningkatan jumlah lemak. Penurunan elastisitas otot dan penurunan penyerapan
lemak, protein, serta karbohidrat. Bila proses ini dihubungkan dengan penurunan protein pada
proses penuaan, maka hal ini akan menghambat involusi uterus.

5. Parietas
Parietas mempengaruhi involusi uterus, otot-otot yang terlalu sering tereggang
memerlukan waktu yang lama. (Sarwono, 2002)

6. Pengukuran involusi uterus


Pengukuran involusi dapat dilakukan dengan mengukur tinggi fundus uteri, kontraksi
uterus dan juga dengan pengeluaran lokia. (Manuaba, 1998)
Involusi uterus melibatkan reorganisasi dan penanggalan desidua dan pengelupasan kulit
pada situs plasenta sebagai tanda penurunan ukuran dan berat, perubahan lokasi uterus, warna
dan jumlah lochea. (Varney, 2004: 594)

Sumber :http://dr-suparyanto.blogspot.com/2010/07/konsep-involusi-uteri.html
http://www.masbied.com/2011/03/14/asuhan-post-natal-care-nifas/#more-9080

Posted 28th April 2012 by tesa septia Ningsih


Labels: learning

0
Add a comment
4
APR

24
9 bulan dalam kandungan

9 bulan kehamilan
Awal kehidupan manusia dalam rahim berselimutkan cinta dan kasih sayang
Kala semua rasa melebur hingga tanpa kata, menanti keajaiban yang penuh hikmah
semua di mulai sekarang
saat sperma memulai perjalannnya
mencari sel telur
saatnya pembuahan terjadi
bersatunya gen laki-laki dan perempuan
hari ke-1
ia memulai perjalanan pertamanya menuju rahim
hari ke-7
ia smpai ke tujuan, tempatnya bersemayam selama 9 bulan
tiga minggu ia berupa embrio dan jantungnya mulai berdetak
ia telah hidup, tangan dan kakinya bertunas
delapan minggu, ia kini seorang janin
9 minggu, tubunhnya mulai bergerak
12 mingggu, saat ibu melakukan USG ia mulai terlihat jelas
Ia sudah memiliki reflex menendang
Alat kelaminnya mulai terbentuk
Entah laki-laki atau perempuan
Tangannya terbentuk lebih dahulu daripada kakinya
Iapun bereksploras, menyentuk kepalanya, menggengggam tali pusat
18 minggu
Saat ia menendang, ibu dapat merasakan
Ia mulai mmebuka matanya dan berkedip
24 minggu..
Segala detail tubuhnya mulai sempurna
Ia mulai merasakan berbagai sensasi
Mendengar sayup-sayup
Mencicipi air ketuban
26 minggu
90% waktunya digunakan untuk tidur
Ia pun mulai mengisap jarinya
Kebiasaan yang akan di bawanya hingga bayi
Sesekali ia terceguk, hingga ibu terasa
28 minggu
Otaknya kini memiliki memori
Mengenali suara ibunya, dan suara musik
Music yang tenang akan membuatnya rileks bahkan tertidur
33 minggu
Ia bermimpi, entah apa
40 minggu
Ia siap melihat dunia
Perjuangan seorang ibu, saat ia berjuang keluar
Pertemuan pertama biarkan ia belajar menyusu
Dengarkan suaranya selagi bisa
aku ibarat pensil di atas kanvas, yang membentuk dan mewarnai kehidupan anakku

Posted 24th April 2012 by tesa septia Ningsih


Labels: learning

0
Add a comment

Loading
teshaseptia. Dynamic Views theme. Powered by Blogger.