Anda di halaman 1dari 43

REFERAT RADIOLOGI PADA ILEUS

Penyaji :

Ratu Adini Yandi

1018011092

Perceptor :

dr. Haryadi, Sp. Rad

REFERAT RADIOLOGI PADA ILEUS Penyaji : Ratu Adini Yandi 1018011092 Perceptor : dr. Haryadi, Sp. Rad

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN RADIOLOGI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL MOELOEK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

2014

KATA PENGANTAR

REFERAT RADIOLOGI PADA ILEUS Penyaji : Ratu Adini Yandi 1018011092 Perceptor : dr. Haryadi, Sp. Rad

Pertama kami ucapkan terima kasih kepada Allah SWT. karena atas rahmat- Nya sehingga kami dapat menyelesaikan referat kami yang berjudul “Radiologi Ileus” tepat pada waktunya. Adapun tujuan pembuatan referat ini adalah sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek Lampung.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dr. Haryadi, Sp.Rad yang telah meluangkan waktunya untuk kami dalam membimbing menyelesaikan laporan kasus ini. Kami menyadari banyak sekali kekurangan dalam referat ini, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan. Semoga referat ini dapat bermanfaat bukan hanya untuk kami, tetapi juga bagi siapa pun yang membacanya.

Metro, Juni 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Pertama kami ucapkan terima kasih kepada Allah SWT. karena atas rahmat- Nya sehingga kami dapat menyelesaikan

KATA PENGANTAR ...........................................................................

i

DAFTAR ISI.........................................................................................

ii

BAB I

PENDAHULUAN ................................................................

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA.........................................................

6

  • 2.1 Anatomi......................................................................................

6

  • 2.2 Fisiologi......................................................................................

7

  • 2.3 Ileus............................................................................................

8

 
  • 2.3.1 Ileus Paralitik....................................................................

9

Definisi ......................................................................................

9

 

10

12

14

15

 

Tatalaksana .........................................................................

16

Diagnosis

17

 

21

 
  • 2.3.2 Ileus Mekanik....................................................................

21

 

21

22

22

23

24

Pemeriksaan radiologi.................................................................

26

Radiologi Ileus .............................................................................

28

Diagnosis Banding.................................................................

34

 

Tatalaksana .................................................................................

35

 

37

37

 
  • 2.3.3 Ileus Vaskuler....................................................................

38

 

38

38

38

BAB III KESIMPULAN

...............................................................

39

DAFTAR PUSTAKA............................................................................

40

BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus yang

Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus yang segera memerlukan pertolongan dokter. Di Indonesia ileus obstruksi paling sering disebabkan oleh hernia inkarserata, sedangkan ileus paralitik sering disebabkan oleh peritonitis. Keduanya membutuhkan tindakan operatif.

Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia didiagnosa ileus (Davidson, 2006). Di Amerika diperkirakan sekitar 300.000-400.000 menderitaileus setiap tahunnya (Jeekel, 2003). Di Indonesia tercatat ada 7.059 kasus ileusparalitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap dan 7.024 pasien rawat jalan pada tahun 2004 (Departemen Kesehatan Indonesia).

Obstruksi usus halus menempati sekitar 20% dari seluruh pembedahan darurat,dan mortalitas dan morbiditas sangat bergantung pada pengenalan awal dan diagnosis yang tepat. Perlekatan usus sebagai penyebab dari Ileus saat ini menempati urutan pertama. Maingot melaporkan bahwa sekitar 70% penyebab dari Ileus adalah perlekatan. Survey Ileus Obstruksi di RSUD DR. Soetomo pada tahun 2001 mendapatkan 50% dari penyebabnya adalah perlekatan usus, kemudian diikuti Hernia 33,3%, keganasan 15%, Volvulus 1,7%.

Ileus lebih sering terjadi pada obstruksi usus halus daripada usus besar. Keduanya memiliki cara penanganan yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Obstruksi usus halus yang dibiarkan dapat menyebabkan gangguan vaskularisasi usus dan memicu iskemia, nekrosis, perforasi dan kematian, sehingga penanganan obstruksi usus halus lebih ditujukan pada dekompresi dan menghilangkan penyebab untuk mencegah kematian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Anatomi

Usus halus terbentang dari pylorum sampai caecum dengan panjang 270 cm sampai 290 cm. Usus halus dibagi menjadi duodenum, jejenum dan ileum. Duodenum panjangnya sekitar 25 cm, mulai dari pilorus sampai jejenum. Panjang jejenum 100-110 cm dan panjang ileum 150 -160 cm. Pemisahan duodenum dan

jejenum ditandai oleh Ligamentum Treitz. Ligamentum ini berperan sebagai ligamentum suspensorium. Kira-kira dua per lima dari sisa usus halus adalah jejenum, dan tiga per lima bagian terminalnya adalah ileum. Jejenum mempunyai vaskularisasi yang besar dimana lebih tebal dari ileum. Apendiks vermiformis merupakan tabung buntu berukuran sekitar jari kelingking yang terletak pada daerah ileosekal, yaitu pada apeks sekum. (Basson, 2004)

Arteri mesenterika superior dicabangkan dari aorta tepat di bawah arteri celiaca. Arteri ini mendarahi seluruh usus halus kecuali duodenum yang diperdarahi oleh arteri gastroduodenalis dan cabangnya arteri pankreatikoduodenalis superior. Darah dikembalikan lewat vena mesenterika superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena porta.

Usus halus dipersarafi cabang-cabang kedua sistem saraf otonom. Rangsangan parasimpatis merangsang aktivitas sekresi dan pergerakan, sedangkan rangsangan simpatis menghambat pergerakan usus. Serabut saraf sensorik sistem simpatis menghantarkan nyeri, sedangkan serabut saraf parasimpatis mengatur refleks usus.

Usus besar dibagi menjadi caecum, colon dan rektum. Pada caecum terdapat katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung caecum. Caecum menempati sekitar dua atau tiga inchi pertama dari usus besar. Kolon dibagi lagi menjadi colon ascenden, colon transversum, descenden dan sigmoid. Tempat dimana colon membentuk belokan tajam yaitu pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut dinamakan fleksura hepatika dan fleksura lienalis. Colon sigmoid mulai setinggi krista iliaka dan berbentuk suatu lekukan berbentuk S. Lekukan bagian bawah membelok ke kiri waktu colon sigmoid bersatu dengan rektum. Usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti bagian usus lainnya.

Sekum, kolon ascenden dan bagian kanan kolon transversum diperdarahi oleh cabang a.mesenterika superior yaitu a.ileokolika, a.kolika dekstra dan a.kolika media. Kolon transversum bagian kiri, kolon descendens, kolon sigmoid dan sebagian besar rektum perdarahi oleh a.mesenterika inferior melalui a.kolika sinistra, a.sigmoid dan a.hemoroidalis superior. Pembuluh vena kolon berjalan paralel dengan arterinya. Kolon dipersarafi oleh oleh serabut simpatis yang

berasal dari n.splanknikus dan pleksus presakralis serta serabut parasimpatis yang berasal dari N.vagus. (Basson, 2004)

berasal dari n.splanknikus dan pleksus presakralis serta serabut parasimpatis yang berasal dari N.vagus. (Basson, 2004) Gambar

Gambar 2.1 Anatomi sistem pencernaan (Translight Medical Media, 2008)

2.2 Fisiologi

Usus halus mempunyai dua fungsi utama yaitu pencernaan dan absorbsi bahan- bahan nutrisi, air, elektrolit dan mineral. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan lambung oleh kerja ptialin, asam klorida dan pepsin terhadap makanan yang masuk. Proses dilanjutkan di dalam duodenum terutama oleh kerja enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat, lemak, dan protein menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja enzim-enzim. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan lemak sehingga memberikan permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pankreas.

Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah usus (sukus enterikus). Banyak di antara enzim – enzim ini terdapat pada brush border vili dan mencernakan zat – zat makanan sambil diabsorbsi. Pergerakan segmental usus halus akan mencampur zat –zat yang dimakan dengan sekret pankreas, hepatobiliar dan sekresi usus dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu ujung ke ujung lainnya dengan kecepatan yang sesuai untuk absorbsi optimal dan suplai kontinu isi lambung. Absorbsi adalah pemindahan hasil akhir

pencernaan karbohidrat, lemak dan protein melalui dinding usus ke sirkulasi darah dan limfe untuk digunakan oleh sel – sel tubuh. Selain itu, air, elektrolit dan vitamin juga diabsorbsi (Price, 2002).

Kontraksi usus halus disebabkan oleh aktifitas otot polos usus halus yang terdiri dari 2 lapis yaitu lapisan otot longitudinal dan lapisan otot sirkuler. Otot yang terutama berperan pada kontraksi segmentasi untuk mencampur makanan adalah otot longitudinal. Bila bagian mengalami distensi oleh makanan, dinding usus halus akan berkontraksi secara lokal. Tiap kontraksi ini melibatkan segmen usus halus sekitar 1 – 4 cm. Pada saat satu segmen usus halus yang berkontraksi mengalami relaksasi, segmen lainnya segera akan memulai kontraksi, demikian seterusnya. Bila usus halus berelaksasi, makanan akan kembali ke posisinya semula. Gerakan ini berulang terus sehingga makanan akan bercampur dengan enzim pencernaan dan mengadakan hubungan dengan mukosa usus halus dan selanjutnya terjadi absorbs (Price, 2002).

Kontraksi segmentasi berlangsung oleh karena adanya gelombang lambat yang merupakan basic electric rhytm (BER) dari otot polos saluran cerna. Proses kontraksi segmentasi berlangsung 8 sampai 12 kali/menit pada duodenum dan sekitar 7 kali/menit pada ileum. Gerakan peristaltik pada usus halus mendorong makanan menuju ke arah kolon dengan kecepatan 0,5 sampai 2 cm/detik, dimana pada bagian proksimal lebih cepat daripada bagian distal. Gerakan peristaltik ini sangat lemah dan biasanya menghilang setelah berlangsung sekitar 3 sampai 5 cm

Aktifitas gerakan peristaltik akan meningkat setelah makan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh masuknya makanan ke duodenum sehingga menimbulkan refleks peristaltik yang akan menyebar ke dinding usus halus. Selain itu, hormon gastrin, CCK, serotonin, dan insulin juga meningkatkan pergerakan usus halus. Sebaliknya sekretin dan glukagon menghambat pergerakan usus halus. (Manaf,

2003)

Fungsi sfingter ileocaecal diatur oleh mekanisme umpan balik. Bila tekanan di dalam caecum meningkat sehingga terjadi dilatasi, maka kontraksi sfingter ileocaecal akan meningkat dan gerakan peristaltik ileum akan berkurang sehingga memperlambat pengosongan ileum. Bila terjadi peradangan pada caecum atau

pada appendiks maka sfingter ileocaecal akan mengalami spasme, dan ileum akan mengalami paralisis sehingga pengosonga ileum sangat terhambat.

2.3 ILEUS

Ileus merupakan suatu kondisi dimana terdapat gangguan pasase (jalannya makanan) di usus yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan. Ileus terutama dibagi dua berdasarkan penyebabnya, yaitu ileus obstruktif dan ileus paralitik (Hamami, 2003).

2.3.1 Ileus Paralitik

  • 2.3.1.1 Definisi

Ileus paralitik atau adynamic ileus adalah keadaan dimana usus gagal atau tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya (Sjamsuhidajat, 2003). Ileus paralitik ini bukan suatu penyakit primer usus melainkan akibat dari berbagai penyakit primer, tindakan (operasi) yang berhubungan dengan rongga perut, toksin dan obat-obatan yang dapat mempengaruhi kontraksi otot polos usus. Ileus paralitik merupakan kondisi dimana terjadi kegagalan neurogenik atau hilangnya peristaltic usus tanpa adanya obstruksi mekanik. (Badash, 2005)

Ileus paralitik adalah hilangnya peristaltik usus sementara akibat suplai saraf otonom mengalami paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus, contohnya amiloidosis, distrofi otot, gangguan endokrin, seperti diabetes militus, atau gangguan neurologis seperti penyakit Parkinson (Sjamsuhidajat, 2003)

  • 2.3.1.2 Etiologi

Ileus pada pasien rawat inap ditemukan pada: (1) proses intraabdominal seperti pembedahan perut dan saluran cerna atau iritasi dari peritoneal (peritonitis, pankreatitis, perdarahan); (2) sakit berat seperti pneumonia, gangguan pernafasan

yang memerlukan intubasi, sepsis atau infeksi berat, uremia, dibetes ketoasidosis, dan ketidakseimbangan elektrolit (hipokalemia, hiperkalsemia, hipomagnesemia, hipofosfatemia); dan (3) obat-obatan yang mempengaruhi motilitas usus (opioid, antikolinergik, fenotiazine). Setelah pembedahan, usus halus biasanya pertama kali yang kembali normal (beberapa jam), diikuti lambung (24-48 jam) dan kolon (48-72 jam). (Badash, 2005)

Ileus terjadi karena hipomotilitas dari saluran pencernaan tanpa adanya obstruksi usus mekanik. Diduga, otot dinding usus terganggu dan gagal untuk mengangkut isi usus. Kurangnya tindakan pendorong terkoordinasi menyebabkan akumulasi gas dan cairan dalam usus.

Meskipun ileus disebabkan banyak faktor, keadaan pascaoperasi adalah keadaan yang paling umum untuk terjadinya ileus. Memang, ileus merupakan konsekuensi yang diharapkan dari pembedahan perut. Fisiologisnya ileus kembali normal spontan dalam 2-3 hari, setelah motilitas sigmoid kembali normal. Ileus yang berlangsung selama lebih dari 3 hari setelah operasi dapat disebut ileus adynamic atau ileus paralitik pascaoperasi. Sering, ileus terjadi setelah operasi intraperitoneal, tetapi mungkin juga terjadi setelah pembedahan retroperitoneal dan extra-abdominal. Durasi terpanjang dari ileus tercatat terjadi setelah pembedahan kolon. Laparoskopi reseksi usus dikaitkan dengan jangka waktu yang lebih singkat daripada reseksi kolon ileus terbuka.

Konsekuensi klinis ileus pasca operasi dapat mendalam. Pasien dengan ileus merasa tidak nyaman dan sakit, dan akan meningkatkan risiko komplikasi paru. Ileus juga meningkatkan katabolisme karena gizi buruk. Secara keseluruhan, ileus meningkatkan biaya perawatan medis karena memperpanjang rawat inap di rumah sakit (Badash, 2005).

Beberapa penyebab terjadinya ileus:

Trauma abdomen

Pembedahan perut (laparatomy)

Serum elektrolit abnormalitas

Infeksi, inflamasi atau iritasi (empedu, darah)

1.

Intrathorak

 

1.

2.

Lower lobus tulang rusuk patah

3.

 

2.

Intrapelvic (misalnya penyakit radang panggul)

3.

Rongga perut

 

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Perforasi ulkus duodenum

 

1.

Mesenterika emboli, trombosis iskemia

Cedera tulang

 

1.

Patah tulang rusuk

2.

Vertebral Retak (misalnya kompresi lumbalis Retak )

Pengobatan

 

1.

2.

Fenotiazin

2.3.1.3 Patofisiologi

Patofisiologi dari ileus paralitik merupakan manifestasi dari terangsangnya sistem saraf simpatis dimana dapat menghambat aktivitas dalam traktus gastrointestinal, menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. Sistem simpatis menghasilkan pengaruhnya melalui dua cara: (1) pada tahap yang kecil melalui pengaruh langsung norepineprin pada otot polos (kecuali muskularis mukosa, dimana ia merangsangnya), dan (2) pada tahap yang besar melalui pengaruh inhibitorik dari noreepineprin pada neuron-neuron sistem saraf enterik. Jadi, perangsangan yang kuat pada sistem simpatis dapat menghambat pergerakan makanan melalui traktus gastrointestinal (Badash, 2005).

Hambatan pada sistem saraf parasimpatis di dalam sistem saraf enterik akan menyebabkan terhambatnya pergerakan makanan pada traktus gastrointestinal, namun tidak semua pleksus mienterikus yang dipersarafi serat saraf parasimpatis bersifat eksitatorik, beberapa neuron bersifat inhibitorik, ujung seratnya mensekresikan suatu transmitter inhibitor, kemungkinan peptide intestinal vasoaktif dan beberapa peptide lainnya.

Menurut beberapa hipotesis, ileus pasca operasi dimediasi melalui aktivasi hambat busur refleks tulang belakang. Secara anatomis, 3 refleks berbeda yang terlibat:

ultrashort refleks terbatas pada dinding usus, refleks pendek yang melibatkan ganglia prevertebral, dan refleks panjang melibatkan sumsum tulang belakang. (Nobie, 2003)

Respon stres bedah mengarah ke generasi sistemik endokrin dan mediator inflamasi yang juga mempromosikan perkembangan ileus.

Penyakit atau keadaan yang menimbulkan ileus paralitik dapat diklasifikasikan seperti yang tercantum dibawah ini:

Neurogenik

 

-

Refleks inhibisi dari saraf afferent: incisi pada kulit dan usus pada

 

operasi abdominal.

 
 

-

Refleks

inhibisi

dari

saraf

efferent: menghambat pelepasan

 

neurotransmitter asetilkolin.

 

Hormonal

 
 

Kolesistokinin, disekresi oleh sel I dalam mukosa duodenum dan

 

jejunum terutama sebagai respons terhadap adanya pemecahan produk lemak, asam lemak dan monogliserida di dalam usus. Kolesistokinin mempunyai efek yang kuat dalam meningkatkan kontraktilitas kandung empedu, jadi mengeluarkan empedu kedalam usus halus dimana empedu kemudian memainkan peranan penting dalam mengemulsikan substansi lemak sehingga mudah dicerna dan diabsorpsi. Kolesistokinin juga menghambat motilitas lambung secara sedang. Oleh karena itu disaat bersamaan dimana hormon ini menyebabkan pengosongan kandung empedu, hormon ini juga menghambat pengosongan makanan dari lambung untuk memberi waktu yang adekuat supaya terjadi pencernaan lemak di traktus gastrointestinal bagian atas.

Hormon lainnya seperti sekretin dan peptide penghambat asam lambung juga memiliki fungsi yang sama seperti kolesistokinin namun sekretin

berperan sebagai respons dari getah asam lambung dan petida penghambat asam lambung sebagai respons terhadap asam lemak dan asam amino.

Inflamasi

 

-

Makrofag: melepaskan proinflammatory cytokines (NO).

-

prostaglandin inhibisi kontraksi otot polos usus.

Farmakologi

 

Opioid menurunkan aktivitas dari neuron eksitatorik dan inhibisi dari

pleksus mienterikus. Selain itu, opioid juga meningkatkan tonus otot polos usus dan menghambat gerak peristaltik terkoordianasi yang diperlukan untuk gerakan propulsi.

-

Opioid:

efek

inhibitor,

blockade

mempersarafi otot polos usus.

excitatory

neurons

yang

2.3.1.4

Manifestasi Klinik

Ileus adinamik (ileus inhibisi) ditandai oleh tidak adanya gerakan usus yang disebabkan oleh penghambatan neuromuscular dengan aktifitas simpatik yang berlebihan. Sangat umum, terjadi setelah semua prosedur abdomen, gerakan usus

akan kembali normal pada: usus kecil 24 jam, lambung 48 jam, kolon 3-5 hari. Pasien ileus paralitik akan mengeluh perutnya kembung (abdominal distention),

anoreksia, mual dan obstipasi. Muntah mungkin ada, mungkin pula tidak ada. Keluhan perut kembung pada ileus paralitik ini perlu dibedakan dengan keluhan perut kembung pada ileus obstruksi. Pasien ileus paralitik mempunyai keluhan perut kembung, tidak disertai nyeri kolik abdomen yang paroksismal.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya distensi abdomen, perkusi timpani dengan bising usus yang lemah dan jarang bahkan dapat tidak terdengar sama sekali. Pada palpasi, pasien hanya menyatakan perasaan tidak enak pada perutnya. Tidak ditemukan adanya reaksi peritoneal (nyeri tekan dan nyeri lepas negatif). Apabila penyakit primernya peritonitis, manifestasi klinis yang ditemukan adalah gambaran peritonitis.

  • 2.3.1.5 Diagnosa

Pada ileus paralitik ditegakkan dengan auskultasi abdomen berupa silent abdomen yaitu bising usus menghilang. Pada gambaran foto polos abdomen didapatkan pelebaran udara usus halus atau besar.

Anamnesa

Pada anamnesa ileus paralitik sering ditemukan keluhan distensi dari usus, rasa mual dan dapat disertai muntah. Pasien kadang juga mengeluhkan tidak bisa BAB ataupun flatus, rasa tidak nyaman diperut tanpa disertai nyeri.

Pemeriksaan fisik

-

Inspeksi

Dapat

ditemukan

tanda-tanda

generalisata

dehidrasi,

yang mencakup

kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. Pada abdomen harus

dilihat adanya distensi, parut abdomen, hernia dan massa abdomen. Pada pasien yang kurus tidak terlihat gerakan peristaltik.

  • - Palpasi Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau nyeri tekan, yang mencakup ‘defence muscular’ involunter atau rebound dan pembengkakan atau massa yang abnormal untuk mengetahui penyebab ileus.

  • - Perkusi Hipertimpani

  • - Auskultasi Bising usus lemah atau tidak ada sama sekali (silent abdomen) dan borborigmi

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium mungkin dapat membantu mencari kausa penyakit. Pemeriksaan yang penting untuk dimintakan adalah leukosit darah, kadar elektrolit, ureum, glukosa darah dan amylase. Foto polos abdomen sangat membantu untuk menegakkan diagnosis. Pada ileus paralitik akan ditemukan distensi lambung, usus halus dan usus besar. Air fluid level ditemukan berupa suatu gambaran line up (segaris). Hal ini berbeda dengan air fluid level pada ileus obstruktif yang memberikan gambaran stepladder (seperti anak tangga). Apabila dengan pemeriksaan foto polos abdomen masih meragukan, dapat dilakukan foto abdomen dengan mempergunakan kontras.

2.3.1.6 Penatalaksanaan

Pengelolaan ileus paralitik bersifat konservatif dan suportif. Tindakannya berupa dekompresi, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, mengobati kausa dan penyakit primer dan pemberiaan nutrisi yang adekuat (Sjamsuhidajat, 2003) Prognosis biasanya baik, keberhasilan dekompresi kolon dari ileus telah dicapai oleh kolonoskopi berulang (Levine, 1992). Beberapa obat-obatan jenis penyekat simpatik (simpatolitik) atau parasimpatomimetik pernah dicoba, ternyata hasilnya tidak konsisten. Untuk dekompresi dilakukan pemasangan pipa nasogastrik (bila perlu dipasang juga rectal tube). Pemberian cairan, koreksi gangguan elektrolit

dan nutrisi parenteral hendaknya diberikan sesuai dengan kebutuhan dan prinsip- prinsip pemberian nutrisi parenteral. Beberapa obat yang dapat dicoba yaitu metoklopramid bermanfaat untuk gastroparesis, sisaprid bermanfaat untuk ileus paralitik pascaoperasi, dan klonidin dilaporkan bermanfaat untuk mengatasi ileus paralitik karena obat-obatan. (Sjamsuhidajat, 2003)

  • 1. Konservatif

Penderita dirawat di rumah sakit.

Penderita dipuasakan

Kontrol status airway, breathing and circulation.

Dekompresi dengan nasogastric tube.

Intravenous fluids and electrolyte

Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan.

  • 2. Farmakologis

Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob.

Analgesik apabila nyeri.

Prokinetik: Metaklopromide, cisapride

Parasimpatis stimulasi: bethanecol, neostigmin

Simpatis blokade: alpha 2 adrenergik antagonis

3. Operatif

Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertai dengan peritonitis. Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk mencegah sepsis sekunder atau rupture usus. Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi.

Pintas usus : ileostomi, kolostomi.

Reseksi usus dengan anastomosis

Diversi stoma dengan atau tanpa reseksi.

2.3.1.7 Diagnosis Banding Masalah lain yang perlu dipertimbangkan

Masalah umum untuk ileus adalah pseudo-obstruksi, juga disebut sebagai sindrom Ogilvie, dan obstruksi usus mekanik.

Pseudo-obstruction (Pseudo-obstruksi)

Pseudo-obstruksi didefinisikan sebagai penyakit akut, ditanda dengan distensii dari usus besar. Seperti ileus, itu terjadi didefinisikan karena tidak adanya gangguan mekanik. Beberapa teks dan artikel cenderung menggunakan ileus sinonim dengan pseudo-obstruksi. Namun, kedua kondisi itu adalah hal yang berbeda. Pseudo-obstruksi ini jelas terbatas pada usus besar saja, sedangkan ileus melibatkan baik usus kecil dan usus besar. Usus besar kanan terlibat dalam klasik pseudo-obstruksi, yang biasanya terjadi pada pasien yang terbaring lama di tempat tidur dengan gambaran penyakit ekstraintestinal serius atau pada pasien trauma. Agen farmakologis, aerophagia, sepsis, dan perbedaan elektrolit juga dapat

berkontribusi untuk kondisi ini.Kondisi kronis pada pseudo-obstruksi usus juga diamati pada pasien dengan penyakit kolagen-vaskular, miopati viseral, atau neuropati. Bentuk kronis dari pseudo-obstruksi melibatkan dismotilitas baik dari usus besar dan kecil. Dismotilitas ini disebabkan hilangnya kompleks motorik yang berpindah dan bakteri berlebih. semua hal ini bermanifestai klinik sebagai obstruksi usus kecil.

Pemeriksaan fisik biasanya menunjukkan tanda perut kembung tanpa rasa sakit, namun pasien bisa juga mempunyai gejala mirip obstruksi. Radiografi dari foto polos abdomen mengungkapkan adanya keadaan yang terisolasi, dilatasi usus proksimal yang membesar, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah, dan pencitraan kontras membedakan ini dari obstruksi mekanik.

Distensi kolon dapat mengakibatkan perforasi caecum, terutama jika diameter caecum melebihi 12 cm. Tingkat kematian untuk pseudo-obstruksi adalah 50% jika pasien berkembang menjadi nekrosis iskemik dan perforasi.

Perawatan awal meliputi hidrasi, pemasangan NGT dan rectal tube, koreksi ketidakseimbangan elektrolit, dan penghentian obat yang menghambat motilitas usus. Dekompresi melalui kolonoskopi cukup efektif dalam mengurangi pseudo- obstruksi. Neostigmine intravena mungkin juga efektif, menghasilkan perbaikan pseudo-obstruksi dalam waktu 10-30 menit. Dosis 2,5 mg dari neostigmine diinfuskan perlahan-lahan selama 3 menit dengan pengawasan jantung untuk mengamati efek bradikardi. Jika terjadi bradikardia, atropin harus diberikan. Laparotomi dan reseksi usus untuk peritonitis dan iskemia merupakan jalan terakhir.

Obstruksi Mekanik

Obstruksi mekanik usus dapat disebabkan oleh adhesi, volvulus , hernia, intususepsi , benda asing, atau neoplasma. Pasien datang dengan nyeri kram perut berat yang paroksismal. Pemeriksaan fisik ditemukan borborygmi bertepatan

dengan kram perut. Pada pasien yang kurus, gelombang peristaltik dapat divisualisasikan. Dengan auskultasi dapat terdengar suara bernada tinggi, denting suara bersamaan dengan aliran peristaltic. Jika obstruksi total, pasien mengeluhkan tidak bisa BAB. Muntah mungkin terjadi tapi bisa juga tidak jika katup ileocecal kompeten dalam mencegah refluks. Tanda peritoneal terlihat nyata jika pasien mengalami strangulasi dan perforasi.

Tabel berikut menyajikan perbedaan antara ileus, pseudo-obstruksi, dan obstruksi mekanis.

     

Mekanikal

 

Ileus

Pseudo-obstruksi

Obstruksi

     

Nyeri

kram

perut,

Gejala

Sakit

perut,

Nyeri

kram

perut,

konstipasi,

     

obstipasi,

mual,

kembung,

mual,

konstipasi,

 

muntah, anoreksia

muntah, konstipasi

obstipasi,

mual,

muntah, anoreksia

Temuan

Silent

abdomen,

Borborygmi,

nyeri terlokalisasi

Borborygmi,

Pemeriksaan Fisik

kembung, timpani

timpani, gelombang

timpani, gelombang peristaltik, bising

peristaltik, bising usus hiperaktif atau hipoaktif, distensi,

usus hiperaktif ayau hipoaktif, distensi, nyeri terlokalisasi

Gambaran

dilatasi

usus

kecil

dilatasi

usus

besar

Bow-shaped

loops

Radiografi

dan

besar,

yang terlokalisir,

in

ladder

pattern,

diafragma meninggi

diafragma meninggi

berkurangnya

gas

kolon

di

distal,

diafragma

agak

tinggi, air

fluid

level.

Tabel. Karakteristik ileus, Pseudo-obstruksi, dan Mekanik Sumbatan. (Fiedberg,

2004)

Tabel. Perbandingan Klinis bermacam-macam ileus.

Macam

Nyeri Usus

Distens

Muntah

Bising usus

Keteganga

ileus

i

borborigm

n abdomen

i

Obstruksi

++

simple

tinggi

(kolik)

Obstruksi

+++

simple

rendah

(Kolik)

Obstruksi

++++

strangulasi

 

(terus-

menerus,

terlokalisir)

Paralitik

+

Oklusi

+++++

vaskuler

2.3.1.8

Prognosis

2.3.2.1

Definisi

+

+++

Meningkat

-

+++

+

Meningkat

-

Lambat,

fekal

++

+++

Tak tentu

+

 

biasanya

meningkat

++++

+

Menurun

-

+++

+++

Menurun

+

Prognosis dari ileus bervariasi tergantung pada penyebab ileus itu sendiri. Bila ileus hasil dari operasi perut, kondisi ini biasanya bersifat sementara dan berlangsung sekitar 24-72 jam. Prognosis memburuk pada kasus-kasus tetentu dimana kematian jaringan usus terjadi; operasi menjadi perlu untuk membuang jaringan nekrotik. Bila penyebab primer dari ileus cepat tertangani maka prognosis menjadi lebih baik.

2.3.2 Ileus Mekanik (Ileus Obstruktif)

Ileus adalah hambatan pasase usus yang dapat disebabkan oleh obstruksi lumen usus atau gangguan peristalsis usus. Secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu Ileus Obstruktif dan Ileus Paralitik. Ileus yang disebabkan oleh obstruksi disebut juga ileus mekanik, dan memiliki angka kejadian tersering.

2.3.2.2 Klasifikasi

Lokasi Obstruksi

 Letak Tinggi : Duodenum-Jejunum  Letak Tengah : Ileum Terminal  Letak Rendah : Colon-Sigmoid-rectum
Letak Tinggi : Duodenum-Jejunum
Letak Tengah : Ileum Terminal
Letak Rendah : Colon-Sigmoid-rectum
Stadium
Parsial : menyumbat lumen sebagian
Simple/Komplit: menyumbat lumen total

Strangulasi: Simple dengan jepitan vasa

2.3.2.3 Etiologi

i. Penyempitan lumen usus

Isi Lumen : Benda asing, skibala, ascariasis.

Dinding Usus : stenosis (radang kronik), keganasan.

Ekstra lumen : Tumor intraabdomen.

ii. Adhesi

iii. Invaginasi

iv. Volvulus

v. Malformasi Usus

 Strangulasi: Simple dengan jepitan vasa 2.3.2.3 Etiologi i. Penyempitan lumen usus  Isi Lumen :

Gambar 2.3 Bermacam penyebab ileus obstruktif. (Hamami,2003)

Patofisiologi 2.3 .2. 4 Pada ileus obstruksi, hambatan pasase muncul tanpa disertai gangguan vaskuler dan neurologik.

Patofisiologi

2.3

.2.

4

Pada ileus obstruksi, hambatan pasase muncul tanpa disertai gangguan vaskuler dan neurologik. Makanan dan cairan yang ditelan, sekresi usus, dan udara terkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit. Bagian usus proksimal distensi, dan bagian distal kolaps. Fungsi sekresi dan absorpsi membrane mukosa usus menurun, dan dinding usus menjadi udema dan kongesti. Distensi intestinal yang berat, dengan sendirinya secara terus menerus dan progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa dan meningkatkan resiko dehidrasi, iskemia, nekrosis, perforasi, peritonitis, dan kematian. (Purnawan, 2009)

Pada obstruksi strangulata, kematian jaringan usus umumnya dihubungkan dengan hernia inkarserata, volvulus, intussusepsi, dan oklusi vaskuler. Strangulasi biasanya berawal dari obstruksi vena, yang kemudian diikuti oleh oklusi arteri, menyebabkan iskemia yang cepat pada dinding usus. Usus menjadi udema dan nekrosis, memacu usus menjadi gangrene dan perforasi.

2.3.2.5 Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan:

1. Anamnesis.

Nyeri (Kolik)

Obstruksi usus halus : nyeri dirasakan disekitar umbilikus

Obstruksi kolon : nyeri dirasakan disekitar suprapubik.

Muntah

Stenosis Pilorus : Encer dan asam

Obstruksi usus halus : Berwarna kehijauan

Obstruksi kolon : onset muntah lama.

Perut Kembung (distensi)

Konstipasi

Tidak ada defekasi

Tidak ada flatus

Adanya benjolan di perut, inguinal, dan femoral yang tidak dapat kembali menandakan adanya hernia inkarserata. Selain itu, invaginasi dapat didahului oleh riwayat buang air besar berupa lendir dan darah. Riwayat operasi sebelumnya dapat menjurus pada adanya adhesi usus serta onset keluhan yang berlangsung cepat dapat dicurigai sebagai ileus letak tinggi dan onset yang lambat dapat menjurus kepada ileus letak rendah.

  • 2. Pada pemeriksaan fisik dapat pula ditemukan :

Adanya strangulasi ditandai dengan adanya lokal peritonitis seperti :

Takikardia, pireksia (demam), Rebound tenderness, nyeri lokal, hilangnya suara usus local. Untuk mengetahui secara pasti hanya dengan laparotomi.

Adanya obstruksi ditandai dengan :

Inspeksi

Perut distensi, dapat ditemukan kontur dan steifung. Benjolan pada regio inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Pada Intussusepsi dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya.

Auskultasi

Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi, borborhygmi. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang.

Perkusi

Hipertimpani

Palpasi

Kadang teraba massa seperti pada tumor, invaginasi, hernia.

Rectal Toucher

  • - Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease

  • - Adanya darah dapat menyokong adanya strangulasi, neoplasma

  • - Feses yang mengeras : skibala

  • - Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi

  • - Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi

  • - Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis

    • 3. Pemeriksaan penunjang

Laboratorium

Tes laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam menegakkan diagnosis, tetapi sangat membantu memberikan penilaian berat ringannya dan membantu dalam resusitasi. Pada tahap awal, ditemukan hasil laboratorium yang normal. Selanjutnya ditemukan adanya hemokonsentrasi, leukositosis dan nilai elektrolit yang abnormal. Peningkatan serum amilase sering didapatkan.10 Leukositosis

menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi, tetapi hanya terjadi pada 38% - 50% obstruksi strangulasi dibandingkan 27% - 44% pada obstruksi non strangulata. Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada dehidrasi. Selain itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit. Analisa gas darah mungkin terganggu, dengan alkalosis metabolik bila muntah berat, dan metabolik asidosis bila ada tanda – tanda shock, dehidrasi dan ketosis.

Pemeriksaan Radiologi

  • 1. Foto Polos Abdomen Ileus merupakan penyakit abdomen akut yang dapat muncul secara mendadak yang memerlukan tindakan sesegera mungkin. Maka dari itu pemeriksaan abdomen harus dilakukan secara segera tanpa perlu persiapan. Pada kasus abdomen akut diperlukan pemeriksaan 3 posisi, yaitu :

    • 1. Posisi terlentang (supine): sinar dari arah vertical, dengan proyeksi antero-posterior (AP)

    • 2. Duduk atau setengah duduk atau berdiri (erect), bila

memungkinkan,

dengan sinar horizontal proyeksi AP

  • 3. Tiduran miring ke kiri ( left lateral decubitus ), dengan arah horizontal, proyeksi AP.

Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. Perlu dipersiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35x 45cm.

Hal – hal yang dapat dinilai pada foto – foto di atas ialah:

  • 1. Posisi terlentang (supine)

    • - Dinding abdomen, yang penting yaitu: lemak preperitoneal kanan dan kiri baik atau menghilang.

    • - Garis psoas kanan dan kiri: baik, menghilang atau adanya pelembungan (bulging).

    • - Batu yang radioopak, kalsifikasi atau benda asing yang radioopak.

    • - Kontur ginjal kanan dan kiri.

    • - Gambaran udara usus : Normal

Pelebaran lambung, usus halus, kolon

Penyebaran dari usus – usus yang melebar

Keadaan dinding usus

Jarak antara dua dinding usus yang berdampingan

  • 2. Posisi duduk atau setengah duduk atau tegak ( Erect)

    • - Gambaran udara bebas di bawah diafragma

  • 3. Posisi tiduran miring ke kiri ( left lateral dekubitus)

    • - Hampir sama seperti posisi duduk, hanya udara bebas letaknya antara hati dengan dinding abdomen

  • 2. Barium Enema Barium enema adalah sebuah pemeriksaan radiologi dengan menggunakan kontras positif. Kontras positif yang biasanya digunakan dalam pemeriksaan radiologi alat cerna adalah barium sulfat (BaSO4). Bahan ini adalah suatu garam berwarna putih, berat dan tidak mudah larut dalam air. Garam tersebut diaduk dengan air dalam perbandingan tertentu sehingga menjadi suspensi. Suspensi tersebut diminum oleh pasien pada pemeriksaan esophagus, lambung dan usus halus atau dimasukkan lewat kliasma pada pemeriksaan kolon (lazim disebut enema). Sinar rontgen tidak dapat menembus barium sulfat tersebut, sehingga menimbulkan bayangan dalam foto rontgen. Setelah pasien meminum suspensi barium dan air, dengan fluroskopi diikuti kontrasnya sampai masuk ke dalam lambung, kemudian dibuat foto – foto dalam posisi yang di perlukan. Pemeriksaan radiologi dengan Barium Enema mempunyai suatu peran terbatas pada pasien dengan obstruksi usus halus. Pengujian Enema Barium terutama sekali bermanfaat jika suatu obstruksi letak rendah yang tidak dapat pada pemeriksaan foto polos abdomen.

  • 3. CT-Scan Abdomen

CT ( Computed Tomograhy) merupakan metode body imaging dimana sinar X yang sangat tipis mengitari pasien. Detektor kecil akan mengatur jumlah sinar x yang diteruskan kepada pasien untuk menyinari targetnya. Komputer akan segera menganalisa data dan mengumpulkan dalam bentuk potongan cross sectional. Foto ini juga dapat disimpan, diperbesar maupun di cetak dalam bentuk film. Pemeriksaan ini dikerjakan jika secara klinis dan foto polos abdomen dicurigai adanya strangulasi. CT–Scan akan

mempertunjukkan secara lebih teliti adanya kelainan-kelainan dinding usus, mesenterikus, dan peritoneum. CT–Scan harus dilakukan dengan memasukkan zat kontras kedalam pembuluh darah. Pada pemeriksaan ini dapat diketahui derajat dan lokasi dari obstruksi.

Radiologi Ileus

Untuk radiologi ileus perlu diperhatikan beberapa hal :

  • 1. Posisi terlentang (supine). Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi, penebalan dinding usus, gambaran seperti duri ikan (Herring Bone Appearance). Gambaran ini didapat dari pengumpulan gas dalam lumen usus yang melebar.

  • 2. Posisi setengah duduk atau berdiri. Gambaran radiologis didapatkan adanya air fluid level dan step ladder appearance.

  • 3. Posisi LLD, untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi, sedangkan jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level.

Pada foto polos abdomen, 60-70% dapat dilihat adanya pelebaran usus dan hanya 40% dapat ditemukan adanya air fluid level. Walaupun pemeriksaan radiologi hanya sebagai pelengkap saja, pemeriksaan sering diperlukan pada obstruksi ileus yang sulit atau untuk dapat memperkirakan keadaan obstruksinya pada masa pra- bedah.

Ileus obstruktif mekanik, sebagian besar kasus ileus ini disebabkan oleh intususcepsi (invaginasi) yaitu masuknya sebagian usus baik distal maupun proksimal ke bagian usus lain yang ada di dekatnya. Kasus yang sering terjadi yaitu intususcepsi/intersuscepsi ileocolica (ileum masuk ke kolon), colocolonic (kolon masuk ke kolon), dan anteroanteric.

Penyebab kedua yakni hernia. Hernia adalah keluarnya bagian usus dari rongga abdomen ke tempat lain yang tidak semestinya, misalnya ke rongga

thorax, inaugural, umbilikal, yang melalui lokus minoris tertentu.

Penyebab ketiga yaitu malrotasi, volvulus (puntiran usus). Ileus mekanik dapat

disertai

gangguan vaskularisasi (strangulasi), dan dapat pula tanpa gangguan

vaskularisasi.

thorax, inaugural, umbilikal, yang melalui lokus minoris tertentu. Penyebab ketiga yaitu malrotasi, volvulus (puntiran usus). Ileus
thorax, inaugural, umbilikal, yang melalui lokus minoris tertentu. Penyebab ketiga yaitu malrotasi, volvulus (puntiran usus). Ileus
Foto yang digunakan adalah foto polos dengan proyeksi AP. Diambil 3 posisi yaitu supine, semi ‐

Foto yang digunakan adalah foto polos dengan proyeksi AP. Diambil 3 posisi yaitu supine, semierrect, dan RLD (Right Lateral Decubitus). RLD ini posisi tubuh berbaring yang miring ke kanan sehingga lambung lebih tinggi letaknya. Pada supine ini posisi berbaring telentang, khasnya, udara usus mengumpul di tengah (umbilikus). Posisi semi errect khasnya udara ada di daerah atas abdomen. Perlu diperhatikan, setiap berganti posisi biarkan selama kirakira 10 menit baru kemudian difoto, untuk memastikan udara atau cairan yang ada di abdomen telah berpindah sempurna sesuai tingkatan massa jenisnya terhadap gravitasi.

Tampak dilatasi usus

(diameter

usus halus normal

1,5

3

cm

pada foto

dengan skala 100%). Ada coil spring (bentukan seperti per) yang apabila ia berdekatan dengan coil spring yang lain, ia akan tampak seperti tulang ikan (herring bone).

Lalu tampak pula step ladder appearance (penampakan step ladder) karena cairan transudasi berada dalam usus halus yang mengalami distensi.

Ileus obstruktif letak tinggi

Berdasarkan letaknya, ileus dibedakan menjadi ileus letak tinggi dan rendah. Titik patokan letaknya adalah junctio ileocecal

Berdasarkan letaknya, ileus dibedakan menjadi ileus letak tinggi dan rendah. Titik patokan letaknya adalah junctio ileocecal (sambungan ileum dan sekum). Jika di atas junctio, istilahnya ileus letak tinggi, sedangkan di bawahnya, berarti ileus letak rendah.

Penampakan radiologi yang khas yakni, tampak dilatasi usus di

proksimal sumbatan (sumbatan paling distalnya yaitu di junctio ileocecal) dan

kolaps usus di bagian distal sumbatan

Tampak coil spring dan herring bone

.. juga. Tampak adanya stepladder appearance, juga tampak air fluid level yang

terputusputus.

Pada foto abdomen 3 posisi ileus obstruktif letak tinggi tampak dilatasi usus di proksimal sumbatan (sumbatan paling distal di iliocecal junction) dan kolaps usus dibagian distal sumbatan. Penebalan dinding usus halus yang terdilatasi memberikan gambaran herring bone appearance, karena dua dinding usus halus yang menebal dan menempel membentuk gambaran vertebra (dari ikan), dan muskulus yang sirkular menyerupai kostanya. Tampak gambaran air fluid level yang pendek-pendek yang berbentuk seperti tangga disebut juga step ladder appearance karena cairan transudasi berada dalam usus halus yang mengalami distensi.

Ileus obstruktif letak rendah

Ileus obstruktif letak rendah Pada ileus obstruktif letak rendah tampak dilatasi usus di proksimal sumbatan (sumbatan
Ileus obstruktif letak rendah Pada ileus obstruktif letak rendah tampak dilatasi usus di proksimal sumbatan (sumbatan

Pada ileus obstruktif letak rendah tampak dilatasi usus di proksimal sumbatan (sumbatan di kolon) dan kolaps usus di bagian distal sumbatan. Penebalan dinding usus halus yang mengalami dilatasi memberikan gambaran herring bone appearance, karena dua dinding usus halus yang menebal dan menempel membentuk gambaran vertebra dan muskulus yang sirkuler menyerupai kosta dan

gambaran penebalan usus besar yang juga distensi tampak pada tepi abdomen. Tampak gambaran air fluid level yang pendek-pendek yang berbentuk seperti tangga disebut juga step ladder appearance karena cairan transudasi berada dalam usus halus yang terdistensi dan air fluid level yang panjang-panjang di kolon.

Ileus Paralitik

gambaran penebalan usus besar yang juga distensi tampak pada tepi abdomen. Tampak gambaran air fluid level

Pada ileus paralitik terdapat dilatasi usus secara menyeluruh dari gaster sampai rektum. Penebalan dinding usus halus yang mengalami dilatasi memberikan gambaran herring bone appearance, karena dua dinding usus halus yang menebal dan menempel membentuk gambaran vertebra dan muskulus yang sirkuler menyerupai kosta dan gambaran penebalan usus besar yang juga distensi tampak

pada tepi abdomen. Tampak gambaran air fluid level yang pendek-pendek yang berbentuk seperti tangga atau disebut juga step ladder appearance di usus halus dan air fluid level yang panjang-panjang di kolon.

  • 2.3.2.6 Diagnosis banding Ileus obstruksi harus dibedakan dengan:

    • 1. Carcinoid gastrointestinal.

    • 2. Penyakit Crohn.

    • 3. Intussuscepsi pada anak.

    • 4. Divertikulum Meckel.

    • 5. Ileus meconium.

    • 6. Volvulus.

    • 7. Infark Myocardial Akut.

    • 8. Malignansi, Tumor Ovarium.

    • 9. TBC Usus.

  • 2.3.2.7 Penatalaksanaan

  • Obstruksi mekanis di usus dan jepitan atau lilitan harus dihilangkan segera setelah keadaan umum diperbaiki. Tindakan umum sebelum dan sewaktu pembedahan meliputi tatalaksana dehidrasi, perbaikan keseimbangan elektrolit dan dekompresi pipa lambung. Tindakan bedah dilakukan apabila terdapat strangulasi, obstruksi lengkap, hernia inkarserata dan tidak ada perbaikan pada pengobatan konservatif.

    (Purnawan,2009)

    • 1. Persiapan penderita

    Persiapan penderita berjalan bersama dengan usaha menegakkan diagnosa obstruksi ileus secara lengkap dan tepat. Sering dengan persiapan penderita yang

    baik,

    obstruksinya

    berkurang

    atau

    hilang sama sekali. Persiapan penderita

    meliputi :

     

    Balance Penderita dirawat di rumah sakit.

    Penderita dipuasakan

    Kontrol status airway, breathing and circulation.

    Dekompresi dengan nasogastric tube.

    Intravenous fluids and electrolyte

    Dipasang kateter urin untuk menghitung cairan.

    2.

    Operatif Bila telah diputuskan untuk tindakan operasi, ada 3 hal yang perlu :

    Berapa lama obstruksinya sudah berlangsung.

    Bagaimana keadaan/fungsi organ vital lainnya, baik sebagai akibat

    obstruksinya maupun kondisi sebelum sakit. Apakah ada risiko strangulasi.

    Kewaspadaan akan resiko strangulasi sangat penting. Pada obstruksi ileus yang

    ditolong dengan cara operatif pada saat yang tepat, angka kematiannya adalah 1% pada 24 jam pertama, sedangkan pada strangulasi angka kematian tersebut 31%. Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus :

    • a) Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.

    • b) Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian usus yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.

    • c) Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi, misalnya pada Ca stadium lanjut.

    • d) Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung- ujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon, invaginasi strangulate dan sebagainya.

    Pada

    beberapa

    obstruksi

    ileus,

    kadang-kadang

    dilakukan

    tindakan

    operatif

    bertahap,

    baik

    oleh

    karena

    penyakitnya

    sendiri

    maupun

    karena

    keadaan

    penderitanya, misalnya pada Ca sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi usus dan anastomosis.

    • 3. Pasca Operasi

    Suatu problematik yang sulit pada keadaan pasca bedah adalah distensi usus yang

    masih ada. Pada tindakan operatif dekompressi usus, gas dan cairan yang terkumpul dalam lumen usus tidak boleh dibersihkan sama sekali oleh karena catatan tersebut mengandung banyak bahan-bahan digestif yang sangat diperlukan. Pasca bedah tidak dapat diharapkan fisiologi usus kembali normal, walaupun terdengar bising usus. Hal tersebut bukan berarti peristaltik usus telah berfungsi dengan efisien, sementara ekskresi meninggi dan absorpsi sama sekali belum baik.

    Sering didapati penderita dalam keadaan masih distensi dan disertai diare pasca bedah. Tindakan dekompressi usus dan koreksi air dan elektrolit serta menjaga keseimbangan asam basa darah dalam batas normal tetap dilaksanakan pada pasca bedahnya. Pada obstruksi yang lanjut, apalagi bila telah terjadi strangulasi, monitoring pasca bedah yang teliti diperlukan sampai selama 6 - 7 hari pasca bedah. Bahaya lain pada masa pasca bedah adalah toksinemia dan sepsis. Gambaran kliniknya biasanya mulai nampak pada hari ke 4-5 pasca bedah. Pemberian antibiotika dengan spektrum luas dan disesuaikan dengan hasil kultur kuman sangatlah penting. (Purnawan, 2009)

    2.4.2.8 Komplikasi

    Nekrosis usus

    Perforasi usus

    Sepsis

    Syok-dehidrasi

    Abses

    Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi

    Pneumonia aspirasi dari proses muntah

    Gangguan elektrolit

    2.4.2.9 Prognosis

    Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah 5% sampai 8% asalkan operasi dapat

    segera dilakukan. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi strangulasi atau komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas sampai sekitar 35% atau 40%.3 Prognosisnya baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan cepat

    2.3.3 Ileus Vaskuler

    Etiologi

    Terjadi akibat adanya sumbatan pada cabang-cabang arteri vena mesentrika superior, arteri vena mesentrika inferior oleh thrombus dan embolus sehingga terjadi : gangren hekrose nekrosis perforasi cepat terjadi toksemia.

    Terjadinya ileus vaskuler juga dihubungkan dengan penderita infark miokard dan atrium fibrilasi.

    Komplikasi

    • 1. Trombus yang hebat vasa yang tersumbat pecah perdarahan

    • 2. Keluarnya lendir, darah per anus

    Penanganan

    • 1. Tidak ada tindakan konservatif (karena terjadinya lambat maka diagnose ditegakkan setelah muncul gejala hebat)

    • 2. Tindakan operatif : Dilakukan laparotomi, bila ada perdarahan diatasi dengan reseksi segmen usus dengan mesentriumnya lalu dilakukan end to end anastomose.

    BAB III

    PENUTUP

    Ileus dibedakan menjadi beberapa macam, ileus obstruktif, ileus paralitik dan ileus vaskuler, Ileus lebih sering terjadi pada obstruksi usus halus daripada usus besar. Penyebab terbanyak dari Ileus adalah perlekatan atau adhesi, kemudian diikuti Hernia, keganasan, dan Volvulus.

    Penegakan diagnosis pada illeus meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, terdapat 4 gejala cardinal yang sering dijumpai yaitu nyeri abdomen (kolik abdomen), muntah, distensi dan konstipasi. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takikardia, demam, nyeri tekan abdomen, nyeri lokal pada perut, dan distensi perut. Salah satu pemeriksaan penunjang pada illeus adalah pemeriksaan radiologi, gambaran radiologi berupa pengumpulan gas dalam lumen usus yang melebar (dilatasi) dinding usus menebal membentuk gambaran heering bone appearance dan terdapat gambaran Air fluid level.

    Prognosis dari ileus bervariasi tergantung pada penyebab ileus itu sendiri, bila penyebab primer dari ileus cepat tertangani maka prognosis menjadi lebih baik. Prognosis ileus baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan cepat.

    DAFTAR PUSTAKA

    American Gastroenterological Association. 2003. Reviews : Postoperatives Ileus :

    Etiologies and Interventions. University of California San Fransisco :

    California.

     

    Badash,

    Michelle.

    Paralytic Ileus (Adynamic Ileus, Non-mechanical Bowel

    Obstruction). EBSCO Publishing, 2005. Basson, M.D.: Colonic Obstruction. Editor: Ochoa, J.B., Talavera, F., Mechaber,

    A.J., and Katz, J. http://www.emedicine.com. Last Updated, June 14, 2004. Davidson, Intestinal Obstruction. 2006. Available at: http//www.mayoclinic.com.

    Accessed july 9, 2012. Fiedberg, B. and Antillon, M.: Small-Bowel Obstruction. Editor: Vargas, J.,

    Windle, W.L., Li, B.U.K., Schwarz, S., and Altschuler, S.

    http://www.emedicine.com. Last Updated, June 29, 2004. Hamami, AH., Pieter, J., Riwanto, I., Tjambolang, T., dan Ahmadsyah, I. Usus

    Halus, apendiks, kolon, dan anorektum. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Editor: Sjamsuhidajat, R. dan De Jong, Wim. Jakarta: EGC, 2003. Hal: 615-

    681.

    Levine, B.A., and Aust, J.B. Kelainan Bedah Usus Halus. Dalam Buku Ajar

    Bedah Sabiston’s essentials surgery. Editor: Sabiston, D.C. Alih bahasa:

    Andrianto, P., dan I.S., Timan. Editor bahasa: Oswari, J. Jakarta: EGC, 1992.

    Manaf

    M,

    Niko

    dan

    Kartadinata,

    H.

    Obstruksi

    Ileus.

    2003.

    Available

    at://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/06_ObstruksiIleus.pdf/06_ObstruksiIleus.h

    tml. Accessed juli 20, 2012

    Nobie

    BA.

    Obstruction,

    small

    bowel.

    2007. Available at:

    http//www.emedicine.com. Accessed juni 20, 2012.

    Purnawan, Iwan. 2009. Ileus. Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

    Price, S.A. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. Editor: Price,

    S.A., McCarty, L., Wilson. Editor terjemahan: Wijaya, Caroline. Jakarta: EGC,

    1994.

    Sjamsuhidajat, R.; Dahlan, Murnizat; Jusi, Djang. Gawat Abdomen. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Editor: Sjamsuhidajat, R. dan De Jong, Wim. Jakarta: EGC, 2003. Hal: 181-192.

    Translight

    Medical

    Media,

    2008