Anda di halaman 1dari 37

Kritik Film PK Terhadap Agama

Terakhir diperbaharui pada 31 Maret 2015 oleh Candra Wiguna

Berawal dari sebuah poster di facebook tentang ajakan pertemuan terbuka untuk
membahas mengenai film PK yang diadakan oleh IslamTanpaJIL, saya kemudian
penasaran mengenai bagaimana pandangan dari komunitas tersebut, mengingat bagi
saya film ini sangat fenomenal dan mereka sendiri pun dalam posterny menyebut
film ini sebagai film radikal. Karena saya tidak mungkin ikut pertemuan tersebut,
maka saya berusaha menunggu hasil laporannya saja.

Sayangnya ketika catatan hasil kajian tersebut dipublikasi, saya merasa tidak
puas karena disana hanya ditulis mengenai garis besar dan kesimpulannya saja,
tidak dijelaskan secara rinci apa saja yang dibahas, bagian mana yang dianggap
kritikan radikal, dan jawaban narasumber atas tiap kritik tersebut.

Masih penasaran dengan tanggapan masyarakat Indonesia mengenai film tersebut


saya kemudian mencoba mencari di situs lain, namun kebanyakan tulisan yang saya
temukan hanya berupa review atau ulasan film. Satu-satunya artikel yang memberi
tanggapan atas kritik PK terhadap agama yang saya temukan hanyalah tulisan dari
Ustad Hafidz Ary yang dimuat di Fimadhani. Sayangnya (lagi) saya tidak puas
dengan tanggapan tersebut.
Ustad Hafidz Ary terlalu sempit menangkap film tersebut, mengira bahwa PK hanya
mengkritik Islam ketika adegan mengenai Islam ditayangkan, yaitu seputar cadar,
larangan sekolah bagi anak perempuan, dan terorisme. Padahal bisa saja kritikan
terhadap Islam disampaikan bersamaan ketika ada adegan kritik terhadap agama
lain dilayangkan. Contoh, ketika ada yang mengkritik sikap sebagian umat
kristiani yang anti pernikahan homoseksual itu sama artinya dengan mengkritik
sikap sebagian umat muslim, karena sebagian muslim juga anti pernikahan
homoseksual. Pada PK, kritik terhadap agama itu sifatnya umum, bukan hanya
khusus pada satu dua agama, sehingga ketika ada kritik mengenai agama A, peru
dipikirkan juga apakah poin yang dikritik pada agama A itu ada atau tidak pada
agama B.

Selain itu Ustad Hafidz Ary juga terlalu memaksakan pendapatnya, dengan mudah
dia menjawab terorisme tidak ada dalam Islam tanpa memberi penjelasan mengenai
bagaimana cerita muslim bisa terlibat aksi terorisme, akar masalahnya dimana, dan
solusinya bagaimana, begitu pula soal larangan sekolah bagi anak perempuan.
Seakan-akan beliau mengabaikan fakta bahwa memang ada sebagian muslim yang
menafsirkan ajaran Islam seperti itu. Pokoknya kritik mengenai Islam di film itu
ngawur tapi kritik pada agama lain itu benar. Islam bisa menjawab kritik di film PK
sedang agama lain gak bisa jawab. Kritik film PK terhadap Islam tidak jujur, hanya
bisa mengkritik muslim tapi tidak bisa mengkritik konsep Islam (padahal di film PK
tidak terang-terangan membawa dalil agama manapun). Konsep ketuhanan dalam
Islam jelas, tak ada celah (padahal tidak mengkritik konsep ketuhanan, tapi lebih
pada konsep sosial dan budaya). Maksa banget lah pokoknya.

Sayangnya, ketika saya saya baca di komentar baik Facebook maupun Fimadhani,
banyak yang setuju dengan tulisan yang menurut saya kurang berkualitas itu. Lho,
ini emang mereka gak pada nangkep poin kritiknya, sedang membohongi diri
sendiri, atau saya yang terlalu lebay mencerna film ini? Karenanya saya membuat
tulisan ini sebagai bentuk kejujuran atas penerimaan kritik, dan agar orang lain tahu
bahwa kritik terhadap agama dalam film PK itu sangat luas, yang bahkan tulisan
saya ini belum tentu mampu menjabarkannya (karena gambar dan video bisa
menyampaikan jauh lebih banyak informasi daripada sekadar tulisan).
Peringatan:
Tulisan ini menceritakan banyak adegan dalam film PK, jadi jika anda tidak
menyukai spoiler sebaiknya jangan dibaca sebelum menontonnya.

1. Tuhan Lahir Dari Harapan dan Keterbatasan

Cerita film PK dimulai dengan kedatangan alien dengan pesawat luar angkasanya ke
bumi. Para alien itu datang dengan tujuan ingin mempelajari kehidupan di bumi,
dan untuk itu mereka menugaskan satu di antara mereka untuk tinggal sementara.
Alien yang ditugaskan tersebut dibekali dengan remote control yang bentuknya
seperti kalung, yang berguna untuk memanggil pesawat luar angkasa ketika tugasnya
telah selesai. Sayangnya baru beberapa saat sampai di bumi, remote control
berbentuk kalung tersebut dicuri karena dikira sebagai perhiasan berharga. Sang
Alien yang remote controlnya dicuri panik karena tanpa benda itu dia tidak bisa
pulang kembali ke planetnya. Maka dia pun melakukan perjalanan untuk
mendapatkan kembali remote control tersebut.

Dalam perjalanan mencari remote control, Sang Alien mempelajari banyak hal
tentang kehidupan di bumi. Mulai dari pakaian, cara bertransaksi dengan uang, dll
hingga akhirnya dia ditabrak oleh seseorang, dan berkat orang yang menabraknya
itu dia tahu bahwa remote control yang telah dicuri tersebut kemungkinan bisa
ditemukan di Delhi, dan dia pun berangkat kesana. Sayangnya, begitu sampai di
Delhi, dia sadar bahwa kota itu terlalu besar dan padat untuk mencari sebuah
remote control seukuran kalung itu. Sang Alien sadar bahwa kemampuannya terlalu
terbatas untuk menghadapi situasi yang sedang dia alami, dan dia pun kemudian
menjadi frustasi.

Dalam kondisi itu Sang Alien kemudian mencoba bertanya pada orang-orang di
Delhi tentang bagaimana cara dia bisa mendapatkan remote control tersebut.
Anehnya, setiap dia bertanya, orang-orang selalu memberi jawaban yang
sama Hanya tuhan yang bisa membantu mu menemukannya.
Tuhan? Siapa Tuhan? Tampaknya sosok ini benar-benar hebat hingga dipercaya oleh
banyak orang. Sang Alien pun kemudian menaruh harapan besar pada sosok yang
bernama tuhan tersebut. Perasaan yang sebelumnya berupa frustasi kemudian bisa
reda karena ada harapan baru, dan ia semangat hidupnya pun muncul dan
tercurahkan dalam usaha pencarian tuhan.

Orang-orang mengatakan hanya tuhan yang bisa membantu menemukan remote


control seukuran kalung di kota sebesar Delhi

Setidaknya itulah gambaran singkat yang ingin disampaikan oleh film PK, bahwa
tuhan itu lahir sebagai harapan atas kesadaran akan keterbatasan manusia, rasa
frustasi, dan kondisi sulit seseorang. Walau jawaban itu bukan berarti sebuah solusi,
karena Sang Alien tidak berhasil menemukan remote control sekalipun melakukan
berbagai usaha dalam pemujaan tuhan, namun tuhan sebagai harapan bisa membuat
orang tetap waras dan punya alasan untuk bertahan hidup dalam kondisi sulit.
Kepercayaan akan Tuhan muncul dari harapan dan kesadaran akan keterbatasan
manusia

Karena tuhan bisa membantu manusia tetap bertahan hidup dengan cukup waras
dalam kondisi sulit itulah mengapa konsep ketuhanan sebenarnya sifatnya baik, dan
sulit untuk dilepaskan, sekalipun tidak rasional, dan tidak memberi solusi atas
masalah. Saya sendiri misalnya, sekalipun logika saya mengatakan bahwa tuhan itu
tidak masuk akal, tidak bisa dipungkiri bahwa ketika dalam posisi sulit saya sering
berdoa pada tuhan, karena dengan doa itu saya kemudian merasa nyaman dan lebih
percaya diri.

2. Ternyata Ada Banyak Jenis Tuhan di Dunia Ini

Ketika Sang Alien memutuskan untuk memohon bantuan pada tuhan, maka tuhan
pertama yang dia datangi adalah sosok berkepala gajah bertubuh manusia yang tidak
lain adalah Ganesha, salah satu dewa dalam kepercayaan Hindu. Awalnya dia merasa
permohonannya dikabulkan, tapi ketika meminta remote control ternyata doa itu
tidak terwujud. Dia pun mencoba berdoa pada Ganesha dalam ukuran yang lebih
besar, namun karena merasa tidak puas dia kemudian membuat gaduh dan
diamankan oleh polisi.

Polisi yang mengamankan Sang Alien mengecek KTP, dan dari nama yang mirip
nama orang Kristen maka Sang Alien dirujuk ke gereja. Sayangnya di gereja dia
melakukan ritual pemujaan selayaknya pemujaan pada Ganesha, situasi pun gaduh
kembali dan dia kemudian diusir. Dia bertanya-tanya kenapa diusir, dan dia pun
sadar bahwa tuhan tidak suka dengan air kelapa yang dia persembahkan, tuhan
lebih suka dengan wine.

Ketika membuat gadung di kantor polisi dan gereja, orang-orang mengira Sang Alien
ini mabuk (dalam bahasa Hindi: mabuk = peekay) sehingga Sang Alien pun
kemudian menyebut dirinya dengan nama Peekay.

Pasca diusir dari gereja, Peekay bertekad untuk membeli wine (sejenis minuman
keras) untuk nanti dipersembahkan pada tuhan. Ketika uang telah terkumpul, wine
sudah dibeli, dia pun pergi ke masjid untuk mempersembahkan wine itu, namun
belum sempat sampai ke dalam masjid, Peekay keburu dikejar oleh orang-orang
yang marah, karena wine tersebut.
Peekay dikejar oleh orang-orang

Kejadian Peekay dikejar oleh orang-orang karena salah melakukan ritual pemujaan
terjadi berkali-kali, dan ini membuat dia sadar bahwa ternyata ada banyak tuhan di
dunia ini, dimana tiap tuhan punya sifat yang berbeda, ada tuhan yang suka air
kelapa, ada tuhan yang suka wine, dan ada tuhan yang benci manusia membawa
wine. Selain sifat tuhan, budaya dari penyembah masing-masing tuhan itu pun
berbeda, ada yang berbaju kuning berkepala botak, ada yang bersorban, ada yang
menggunakan cadar. Tiap masing-masing konsep tuhan, ritual, dan berbagai tradisi
ini lah yang kemudian kita kenal sebagai agama.

3. Setiap Tuhan Punya Manajer Tersendiri

Selain menyadari bahwa tuhan ternyata ada banyak, Peekay juga menyadari bahwa
tiap tuhan itu punya perwakilan berupa seorang tokoh manusia di dunia. Tokoh
bertindak selayaknya seorang manajer, dimana dia lah yang menyampaikan konsep
ketuhanan, bagaimana ritual penyembahan yang diinginkan tuhan, hingga
menentukan mana yang benar dan salah menurut tuhan kepada para pengikut
tuhan.

Dalam film PK yang dimaksud manajer bisa merupakan orang pertama yang
menerima wahyu dari tuhan, seperti Tapasvi Maharaj yang mengaku langsung
mendapat bertemu dan menerima wahyu dari Dewa Siwa, bisa juga orang yang
melanjutkan wahyu yang didapat oleh orang pertama tersebut, seperti brahmana,
pendeta, ulama, biksu, dll.
Tapasvi Maharaj, salah satu manajer tuhan dalam film PK yang konon bisa
berkomunikasi dengan Dewa Siwa secara langsung

Manajer palsu dan manajer salah sambung

Karena tiap tuhan punya manajer, karena segala konsep ketuhanan dan agama
melibatkan manajer, dan karena semua manajer itu adalah manusia, maka film PK
sebenarnya ingin menyampaikan bahwa semua tafsir terhadap agama yang
dilakukan oleh para tokoh agama itu sifatnya manusiawi, yang bisa salah alias salah
sambung, atau bisa juga sengaja dimanfaatkan oleh manajer (palsu) demi
memuaskan nafsunya sendiri.

Secara ekstrim, film PK bahkan mengajak kita untuk bertanya apakah benar pendiri
agama yang kita kenal selama ini memang mendapat wahyu dari tuhan atau tidak.

Apakah benar Sapta Rsi menerima wahyu?


Apakah benar Paulus bermimpi bertemu Yesus?
Apakah benar Siddharta tercerahkan setelah bersemadhi?
Apakah benar Nabi Muhammad bertemu jibril di Gua Hira?

Intinya dalam poin ini film PK mengajak kita skeptis untuk menyikapi setiap ajaran
agama, karena bisa saja, tafsir dari tiap tokoh agama, atau bahkan bisa saja ajaran
dari para penerima wahyu itu cuma karang-karangan saja seperti halnya Tapasvi
Maharaj yang mengarang cerita wahyu Dewa Siwa demi mendapatkan harta dan
kekuasaan.

4. Religiuitas Seringkali Hanya Dinilai Dari Luar


Salah satu adegan yang saya suka dari film PK yaitu ketika Tapasvi Maharaj
dikelabui oleh Peekay, dimana dia ditantang untuk menebak apa agama yang dianut
oleh orang-orang yang disiapkan oleh Peekay. Tapasvi Maharaj menjawab dengan
cepat dan jawabannya berdasarkan pada penampilan dari orang-orang tersebut.
Sayangnya jawaban Tapasvi Maharaj tersebut salah karena Peekay sebelumnya telah
mengubah tampilan tiap orang yang dibawanya dengan menukarnya satu sama lain.
Orang yang dikira beragama Kristen ternyata adalah muslim, orang yang dikira
beragama Jainisme ternyata kristiani, orang yang dikira muslim ternyata penganut
Hindu.

Benar bahwa tiap agama punya ciri khas, baik berupa ritual, desain rumah ibadah,
nama orang, hingga cara berpakaian. Entah mengapa tiap manajer ingin membuat
pengikutnya tampil beda satu sama lain, tapi karena ciri khas ini lah kita sering
tertipu dalam menilai orang, seperti halnya Tapasvi Maharaj yang tertipu oleh trik
sederhananya Peekay.

Kebanyakan orang menilai agama dan religiuitas seseorang dari nama dan
penampilan

Dalam kehidupan nyata, hal ini sering menjadi masalah, terutama ketika orang
terlalu fanatik dan mengira bahwa nama, pakaian, rumah ibadah, dan ritual sebagai
suatu identitas yang tidak boleh ditiru oleh penganut kepercayaan lain. Contoh,
pernah saya melihat protes dari beberapa muslim terkait foto penganut Kristen
Ortodoks Syria yang menggunakan jilbab dan beribadah mirip muslim. Mereka
mengira bahwa umat Kristen Ortodoks Syria itu sedang meniru Islam dan
mengelabui muslim sehingga umat muslim jadi pindah agama, padahal setahu saya
itu memang tradisi mereka dari dulu.

Hal yang sama juga terjadi ketika umat Katolik di Bali pergi ke gereja dengan
pakaian adat Bali yang berupa kebaya brokat, kamben, udeng, dsb, menggunakan
istilah Ida Sang Hyang Yesus (mirip Ida Sang Hyang Widhi dalam Hindu Bali),
sampai ada merajan (sejenis Pura khusus keluarga) yang sebenarnya merupakan
tempat pemujaan untuk Yesus.
Umat Katolik merayakan misa natal dengan pakaian adat Bali
Tempat pemujaan Yesus yang desainnya mirip seperti merajan versi Hindu Bali

Banyak teman Hindu yang marah mengetahui hal ini, alasannya sama, yaitu mengira
umat Katolik ingin mencuri budaya Hindu, mengelabui umat Hindu hingga mau
masuk agama mereka. Sebaliknya saya menganggap hal ini bukan masalah, saya
justru merasa bersyukur teman-teman Katolik mau mempertahankan
tradisi Hindu Bali sehingga identitas dan budaya Bali masih bisa terjaga, sekalipun
bukan menganut kepercayaan Hindu. Kita sering protes pada beberapa komunitas
muslim yang tampilannya kearab-araban, mengubah kebaya menjadi cadar,
melupakan tradisi lokal, tapi ketika ada non Hindu di Bali yang lebih memilih
mempertahankan tradisi lokal eh diprotes juga, maunya apa coba?

Catatan:
Ada beberapa alasan yang membuat saya mendukung umat Katolik untuk
mempertahankan tradisi Bali yang mirip Hindu, namun karena cukup panjang,
maka saya ingin membuat artikelnya secara terpisah. Sementara ini dulu.

Selain masalah yang timbul antar agama akibat penilaian dari luar, masalah lain
adalah ketika orang menilai derajat keimanan seseorang dari pakaian. Ada muslim
yang menuduh temannya muslim KTP hanya karena tidak mengenakan jilbab, ada
kristen yang menuduh temannya sesat karena menyukai musik metal, sebaliknya
ada orang yang berpenampilan dan menggunakan istilah Arab ketika bicara sehari-
hari (antum, ente, ukhi, ummi, dsb) agar terlihat Islami, ada yang menggunakan
pakaian ala India agar terlihat kembali ke ajaran Hindu yang asli, ada sengaja
menggunduli kepala agar orang lain mengira dirinya telah tercerahkan, ada yang
sengaja membuat tanda hitam atau contrang contreng di dahi agar orang lain
mengira dirinya religius dan rajin beribadah.

Mendadak berjilbab, fenomena yang sering terjadi di pengadilan. Mungkin


dengan penampilan religius bisa meyakinkan orang-orang bahwa mereka tidak
bersalah atau telah bertobat
Peekay ingin menunjukkan bahwa penampilan luar seperti ini tidak bisa digunakan
sebagai acuan untuk menilai agama dan religiuitas seseorang, karena sifatnya sangat
mudah dimanipulasi. Jika tuhan memang berbeda untuk tiap orang, jika tuhan ingin
menunjukkan religiutitas seseorang pada manusia lain, maka mestinya tuhan
memberikan tanda khas yang permanen di tubuh manusia sejak manusia itu lahir.

5. Agama Menjual Ketakutan Untuk Mendapat Pengikut

Di poin pertama sudah dijelaskan bagaimana tuhan muncul sebagai bentuk harapan
atas keterbatasan manusia sehingga dia mampu memberikan rasa nyaman ketika
manusia merasa cemas, takut, atau frustasi. Ini artinya, semakin orang takut,
semakin orang frustasi, dia akan semakin membutuhkan tuhan, semakin
membutuhkan agama, semakin mudah tunduk pada ajaran agama.

Dalam film PK, contoh tempat menakutkan itu adalah kampus, dimana mahasiswa
sangat takut pada dosen, takut nilainya jeblok, takut tidak lulus, dan takut tidak
mendapatkan pekerjaan di kemudian hari. Akibat ketakutan ini maka mahasiswa
mau melakukan apapun untuk membuat dirinya merasa tenang, aman dan
terlindung, termasuk melakukan hal tidak realistis seperti penyembahan pada tuhan
atau entitas gaib lain, dan tentu saja hal ini menjadi rawan dimanfaatkan oleh
para manajer palsu agar orang-orang mau melakukan sesuatu demi kepentingan
pribadinya seperti harta atau kekuasaan.

Rasa takut membuat manusia mau melakukan apapun termasuk mempercayai


hal-hal gaib

Sengaja menciptakan ketakutan


Adegan mahasiswa yang menyembah tuhan palsu buatan Peekay menunjukkan
bahwa ketakutan sangat efektif dalam memperalat orang lain, dan keuntungan dari
hasil memperalat itu sangat menggiurkan. Bagaimana tidak, Peekay yang mencoba
menjadi manajer palsu, cukup dengan bermodalkan batu, cat merah, dan sedikit
uang bisa menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda, lebih dari itu dia
memperoleh keuntungan secara otomatis, jauh lebih mudah dibanding penjual
minuman yang butuh banyak modal serta lelah menjajakan minumannya pada tiap
mahasiswa di kampus.

Dalam dunia nyata tentu manajer palsu itu ada, dan mereka ingin menggunakan trik
yang sama untuk memperalat manusia. Masalahnya, apa hal yang bisa menakut-
nakuti manusia? Tidak semua orang takut dosen, tidak semua orang takut binatang
buas, bahkan ada orang yang tidak takut mati. Nah, karena tiap orang mengalami
masalah dan ketakutan nyata yang berbeda, maka dimanfaatkanlah ketakutan yang
sifatnya lebih universal yaitu neraka.

Konsep surga dan neraka yang muncul sebagai bentuk harapan atas ketidakadilan di
dunia bisa dimanfaatkan oleh para manajer palsu untuk meningkatkan rasa
ketakutan manusia. Beragam cerita penyiksaan pun disampaikan, mulai dari api
yang sangat panas, kulit dikelupas, jatuh ke jurang yang penuh duri, berjalan di atas
pisau yang lebih tajam dari silet, dan berbagai penyiksaan kejam lain. Agar efek
ketakutan menjadi berlipat ganda, maka ditambah cerita bahwa penyiksaan itu
sifatnya abadi tanpa batas. Tuhan digambarkan sebagai sosok yang sadistik yang
tidak mengenal maaf.
Berbagai bentuk penyiksaan sadis diceritakan untuk menggambarkan keadaan
neraka sehingga orang-orang menjadi semakin ketakutan

Penyelamat yang melupakan moralitas

Ketika Peekay membuat tuhan palsu berupa batu yang dicat merah, keberadaan
tuhan buatannya itu seakan ingin mengatakan bahwa Jika ingin lulus ujian, maka
puja lah batu ini dengan memberikan persembahan berupa uang. Mahasiswa yang
memuja batu itu pun kemudian mendapatkan rasa nyaman dan aman setelahnya.

Pada agama juga berlaku hal yang sama dimana agama ingin mengatakan bahwa
Jika ingin selamat dari neraka, maka masuk lah agama ABC, dan sembah lah
tuhan XYZ, dan para penganut agama itu pun merasa nyaman dan aman dari
ancaman neraka.

Terlepas dari cerita bahwa tidak lulus ujian itu adalah masalah yang nyata, sedang
neraka itu masih berupa konsep, tawaran rasa aman antar keduanya, baik itu dari
menyembah batu maupun masuk agama ABC, sama-sama bisa membuat orang lupa
pada solusi yang sebenarnya. Solusi untuk lulus ujian adalah belajar bukan
menyembah batu, begitu pula dengan neraka, dimana jika surga-neraka itu adalah
konsep tentang keadilan, maka solusi agar aman dari neraka adalah memperbanyak
perbuatan baik dan mengurangi perbuatan jahat, bukan tentang apa agama yang
dianut, bukan pula tentang siapa tuhan yang disembah.
Disini lah kita bisa membedakan mana tuhan palsu dan mana tuhan yang
sebenarnya. Manajer palsu seperti Peekay tidak akan peduli mahasiswa itu belajar
atau tidak, bagi dia, selama tuhan batu buatannya itu disembah, selama orang-orang
mempersembahkan uang pada tuhan batu buatannya, maka dia akan
senang. Sayangnya, dalam beberapa agama, sering ada konsep salah sambung
seperti ini, dimana dimana penyembahan terhadap tuhan atau masuk tidaknya
seseorang dalam sebuah agama lebih diprioritaskan ketimbang moralitas (perbuatan
baik dan buruk) sebagai jawaban atas surga dan neraka.

Contoh, sebagian umat kristen percaya bahwa seseorang hanya bisa masuk
surga hanya jika dia masuk agama Kristen dan menyembah Allah dengan
berlandaskan pada ayat berikut:

Tak ada orang yang bisa sampai kepada Allah selain melalui Allah

Injil Yohanes 14:6

Artinya, bahwa syarat pertama untuk bisa masuk surga adalah harus masuk Kristen
dan memuja Allah lebih dulu. Artinya lagi, bahwa orang di luar umat kristen tidak
punya kesempatan masuk surga, seberapa banyak pun perbuatan baik yang telah
mereka lakukan.

Orang itu mengatakan saya harus masuk Kristen agar bisa masuk surga. Jika
tuhan ingin saya masuk Kristen, mengapa saya tidak dilahirkan di keluarga
Kristen saja?
Kepercayaan yang sama juga ada pada sebagian umat muslim, dimana non muslim
tidak punya kesempatan masuk surga seberapa banyak pun perbuatan baik yang
mereka lakukan. Dalam Islam, kebaikan non muslim hanya dibalas di dunia saja,
bukan pasca kematian. Pandangan Islam yang memprioritaskan penyembahan
tuhan dibanding moralitas lebih parah ditunjukkan pada dalil berikut, dimana
dengan jelas mengatakan bahwa selama seseorang tidak mempersekutukan Allah
(melakukan dosa syrik), dia akan tetap masuk surga, seberapa besar pun kejahatan
yang mereka lakukan:

Abu Dzar mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: Seseorang datang kepadaku


dari Tuhan ku membawa berita (mungkin katanya: membawa berita gembira):
Sesungguhnya barang siapa diantara umatku yang mati sedangkan dia tidak
mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun orang itu masuk surga. Aku
bertanya: Sekalipun orang itu berzinah dan mencuri? Jawab nabi: Ya,
sekalipun dia berzinah danmencuri.

Bukhari Volume 2, Buku 23, Nomor 329

Tidak hanya pada agama abrahamik, dalam Hindu saya menemukan konsep yang
serupa walau tidak terkait dengan surga dan neraka, dimana dalam kisah Ramayana
(Purana) diceritakan bahwa Rahwana yang melakukan pemujaan pada Brahma tetap
mendapatkan anugerah berupa kesaktian, sekalipun Dewa Brahma sendiri tahu
bahwa Rahwana adalah orang jahat dan akan memanfaatkan anugerah tersebut
untuk melakukan tindak kejahatan.

6. Kritik Mengenai Ritual Agama

Dalam film PK ada beberapa adegan yang menampilkan ritual penyembahan dalam
berbagai agama. Semua ritual tersebut diikuti sendiri oleh Peekay dalam usaha
menemukan remote controlnya. Jujur saya, karena tidak terlalu suka lagu India, saya
jadi tidak begitu menyimak bagian ini, namun ada 2 kritik yang saya tangkap:

Penyiksaan Diri

Kritik mengenai hal ini paling jelas terlihat ketika Peekay ikut melakukan ritual
peringatan hari asyura yang biasa dilakukan umat muslim syiah (bagi saya ini
sekaligus adegan paling epic), dimana dengan senjata berupa rantai, dia cambukkan
ke badannya sendiri hingga berdarah-darah. Kritik yang lebih ringan misalnya ketika
umat Hindu yang melakukan ritual shayanapradikshanam dengan berguling-guling
di jalan raya.

Peekay ikut perayaan peringatan Hari Asyura yang biasa dilakukan penganut
Islam Syiah

Peekay dengan helm kuningnya ikut berguling-guling di jalan.

Pada dasarnya semua agama (yang saya tahu) punya ritual penyiksaan diri dengan
berbagai alasan atau tujuan yang berbeda. Ada yang percaya bahwa dengan
menyiksa diri maka orang bisa belajar untuk melepaskan nafsu keduniawian, ada
yang mengatakan bahwa dengan menyiksa diri kita bisa merasakan penderitaan
orang lain, padahal ya mau kita tersiksa atau tidak, hal itu tidak membantu
meringankan orang lain.
Ritual penyiksaan diri paling sederhana dan sering ditemui adalah puasa, dimana hal
ini dikenal baik dalam Hindu, Buddha, maupun Islam, dan saya kurang menemukan
alasan yang cukup logis untuk membenarkan ritual ini. Saya pikir menahan lapar
tidak bisa membuat manusia menjadi bijak, tidak pula membuat perut orang
kelaparan di jalan menjadi kenyang.

Jika dihubungkan dengan kesehatan, memang saya pernah saya membaca artikel
yang mengatakan bahwa puasa sebagai salah satu cara detoksifikasi atau upaya
menghilangkan racun dari tubuh, namun puasa untuk detoks tidak sama dengan
konsep puasa dalam agama. Puasa untuk detoks hanya puasa makan namun minum
air justru diperbanyak, sedang puasa dalam agama tidak hanya puasa makan namun
juga puasa minum.

Catatan:
Puasa tidak sama dengan diet, puasa (fasting) diartikan sebagai upaya menahan
lapar atau pengurangan porsi makan sedang diet adalah upaya mengatur pola makan
agar tubuh menjadi sehat. Orang kurus memperbanyak jumlah asupan makanan
agar tambah gemuk bisa disebut diet tapi tidak bisa disebut sebagai puasa.

Di luar ritual rutin yang aneh dan menyiksa diri, sering juga terjadi insiden dalam
ritual agama yang bahkan menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Misalnya pada tahun
2006 terjadiinsiden Mina yang menewaskan 362 orang jamaah haji, sedang tahun
2008 terjadi insiden Kuil Jodhpur yang menewaskan 224 orang, semua korban
akibat kedua insiden tersebut meninggal karena terinjak-injak. Tentu saja
masalahnya bukan hanya tentang kurang siapnya penyelenggara ritual keagamaan
ini, tapi juga karena masyarakat yang terlalu bernafsu untuk melaksanakan ritual
tanpa memikirkan keselamatan orang lain dan dirinya sendiri.
Korban insiden Jodhpur yang menewaskan 224 orang

Ritual yang mubazir

Di film terdapat adegan dimana Peekay menuangkan sejumlah susu


pada lingga sebagai bentuk penyembahan pada Dewa Siwa, dimana ritual ini
merupakan hal rutin yang dilakukan umat Hindu di India. Selain sebagai ritual rutin,
ada juga ritual dimana umat Hindu di India menuangkan susu dalam jumlah yang
sangat banyak pada patung Dewa Siwa berukuran raksasa.

Sekilas kita bisa melihat bagaimana umat Hindu di India melakukan sebuah ritual
yang kesannya mubazir. India yang keadaannya miskin dan kekurangan gizi,
bukannya menggunakan susu untuk membantu anak yang masih kelaparan, malah
dibuang untuk kegiatan ritual penyembahan.
Peekay menuangkan susu pada lingga (simbol penyembahan siwa)

Orang-orang menuangkan susu dalam jumlah yang sangat banyak pada patung
Dewa Siwa

Pada dasarnya semua agama memang memiliki kebiasaan untuk menghabiskan


banyak uang dalam ritualnya, dimana ritual tersebut tidak ada hubungannya dengan
tujuan kemanusiaan. Hindu di Bali mengenal perayaan ogoh-ogoh yang tiap
tahunnya menghabiskan uang sebanyak lebih dari 24 milyar rupiah, dimana ogoh-
ogoh itu hanya digunakan beberapa jam untuk kemudian dibakar. Islam mengenal
ibadah haji yang di Indonesia saja menghabiskan uang sebanyak 9 triliun rupiah tiap
tahunnya, dimana sebagian dari uang tersebut larinya ke negara asing (Arab Saudi ),
Kristen mengenal perayaan natal dengan pohon, hiasan, dan berbagai pesta
penyambutannya. Tapi sulit untuk mengatakan apakah perayaan tersebut mubazir
atau tidak. Pasalnya, ritual dalam perayaan agama seringkali memang bukan
bertujuan untuk kemanusiaan melainkan untuk memenuhi kebutuhan batin
umatnya.

suatu ritual agama sebagai hal yang mubazir hanya karena tidak ada hubungannya
dengan aksi kemanusiaan sama seperti mengatakan bahwa perayaan tahun baru,
jalan-jalan ke luar negeri, sebagai hal yang mubazir. Walau demikian saya setuju
bahwa dalam menilai ritual perlu dipertimbangkan untung ruginya, seberapa banyak
materi yang kita keluarkan, dan seberapa manfaat yang kita peroleh kegiatan
tersebut. Jika kegiatannya berupa persembahan makanan atau minuman yang
nantinya tidak bisa dikonsumsi lagi, atau berupa jalan-jalan ke luar negeri yang bisa
merugikan Indonesia, maka selayaknya kegiatan tersebut ditinjau ulang, apakah
layak dipertahankan atau tidak.

7. Mempertanyakan Norma Agama

Penggolongan kelas masyarakat

Bukan hal baru jika hampir semua agama punya permasalahan dengan konsep
kesetaraan dan keadilan sosial. Hindu misalnya, mengenal tingkatan kelas sosial di
masyarakat, dimana hal ini sering berujung pada diskriminasi. Mungkin ada yang
ingin mengatakan bahwa Hindu tidak mengenal kasta, yang ada adalah konsep catur
warna, yaitu pembagian kelompok masyarakat berdasarkan pekerjaan. Tapi
sungguh, kebenaran paling nyata itu bukan teori, tapi fakta di lapangan.

Faktanya Hindu baik di India maupun di Bali menerapkan kasta berdasarkan


keturunan. Di Bali mungkin masalahnya hanya terjadi ketika 2 orang dari golongan
berbeda memiliki hubungan asmara, tapi di India perbedaan kasta sangat
berpengaruh pada kondisi sosial yang dia alami. Orang dengan kasta rendah tidak
hanya dilecehkan, tapi juga hidupnya dipersulit, sehingga berujung pada kemiskinan
dan kebodohan.

Beda dengan Hindu, dalam Islam penggolongan masyarakat bukan berdasarkan


keturunan, melainkan berdasarkan agama. Muslim dihargai lebih tinggi dibanding
non muslim, sedang non muslim pun dibagi lagi, golongan Yahudi dan Nasrani
dianggap lebih berharga dibanding non muslim seperti Majuzi, Hindu,
ataupun Buddha.

Kesetaraan gender
Kesetaraan gender masih menjadi masalah di India dan sebagian negara muslim.
Jika di India masalah kesetaraan gender masih sebatas norma, di sebagian negara
muslim terutama timur tengah diskriminasi terhadap perempuan lebih parah karena
diterapkan dalam bentuk hukum (hukum syariah). Larangan perempuan untuk
keluar rumah sendirian, larangan menyetir mobil tanpa ditemani keluarga,
larangan bekerja, larangan bersekolah, hingga aturan konyol tentang larangan
perempuan menggunakan garpu adalah sebagian dari contoh norma dan hukum
yang dianut di sebagian masyarakat.

Apakah tuhan tidak suka jika perempuan menjadi pintar?

Bohong jika kita mengatakan masalah kesetaraan gender ini tidak ada hubungannya
dengan agama ketika kenyataannya para pelaku diskriminasi itu menggunakan dalil
agama untuk membenarkan perbuatannya. Dalam Islam misalnya, ada dalil yang
mengatakan bahwa syarat jumlah saksi adalah 2 orang pria atau 1 orang pria dan 2
orang perempuan, dan dengan dalil ini mereka beranggapan bahwa perempuan
nilainya hanya setengah dari laki-laki, dan ini berdampak luas terhadap bagaimana
para lelaki muslim memandang rendah wanita. Pernah bahkan ada kejadian lucu
(sekaligus ironis) dimana umat muslim di Dunia Arab mengadakan pertemuan
untuk membicarakan hak-hak perempuan, namun mereka sama sekali tidak
menghadirkan seorang perempuan. Jadi cuma para laki-lakinya saja bicara satu
sama lain dan seenaknya menentukan apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan
oleh perempuan.
Ironis, orang-orang ini mengadakan pertemuan untuk membahas hak perempuan
tanpa menghadirkan satu orang perempuan pun.

Pandangan terhadap homoseksual

Isu homoseksual masing banyak diperdebatkan hingga kini, namun nampaknya


agama abrahamik yang paling keras membahas isu ini. Umat kristiani di Eropa dan
Amerika yang secara umum lebih liberal pun masih ada yang menganggap bahwa
homoseksual itu sebagai sebuah bentuk penyimpangan, penyakit, bahkan kejahatan,
sekalipun telah ditunjukkan bahwa homoseksualitas juga ditemukan pada spesies
lain selain manusia, ditunjukkan bahwa homoseksualitas juga terkait dengan genetik
dan epigenetik, dan tentu saja ditunjukkan bahwa pelaku homoseksual tidak
merugikan orang lain.

Dahulu du Amerika beberapa negara konservatif masih belum mau menerima


legalitas pernikahan sesama jenis, sedang di beberapa negara timur
tengah, Iran misalnya, homoseksual malah dianggap sebagai kejahatan luar biasa
yang membuat pelakunya layak dihukum mati. Eksekusi matinya pun tidak main-
main, ada yang digantung dan mayatnya dipertontonkan pada publik, oleh ISIS
bahkan pelaku homoseksual bisa dilempar dari gedung tinggi.

Perbudakan dan hukuman mati


Sejak Abraham Lincoln dengan tegas melarang perbudakan, semua negara mulai
mengikutinya hingga kini perbudakan dilarang di semua negara. Mungkin
prakteknya masih eksis, namun tersembunyi, tapi tahukah anda bahwa sebagian
orang beranggapan bahwa perbudakan layak dipraktekkan kembali karena hal
tersebut dianggap solusi yang benar sesuai anjuran tuhan? Salah seorang politikus
Kuwait misalnya pernah secara terbuka mengungkapkan hal tersebut. Mungkin
orang ini terkesan agak gila, tapi memang dalam Islam sendiri tidak ada larangan
tegas mengenai perbudakan. Muslim memang dianjurkan untuk membebaskan
budak dengan berbagai tawaran pahala, namun di sisi lain tidak ada larangan
(misalnya menyatakan haram) terhadap perbudakan, yang ada adalah ayat yang
menghalalkan muslim berhubungan badan dengan budak.

Perbudakan dianggap solusi yang dianjurkan tuhan dalam agama sehingga


prakteknya perlu dihidupkan kembali

Hal yang sama juga terjadi pada kasus hukuman mati, dimana ketika banyak negara
mulai meninggalkan hukuman mati dengan alasan kemanusiaan dan tidak terbukti
efektif, praktek hukuman mati justru banyak dibela dengan alasan agama. Parahnya,
praktek hukuman mati yang katanya berdasarkan agama itu sangat lah sadis,
hukuman rajam misalnya dimana eksekusinya tidak hanya dilakukan di ruang
publik, tapi publik sendiri ikut menjadi eksekutornya. Bayangkan bagaimana mental
orang-orang yang ikut menjadi penonton dan eksekutor itu. Mereka akan terbiasa
pada pembunuhan sehingga penghargaan pada nyawa manusia akan pudar, manusia
menjadi brutal dan akan menganggap enteng aksi kekerasan.

Baca juga tulisan opini saya yang menolak praktek hukuman mati

Norma agama sulit dihapus

Masalah kasta, isu kesetaraan gender, homoseksualitas, perbudakan, itu semua ada
hampir di semua tempat. Jepang misalnya, dulu juga menganut sistem kasta dimana
kelas masyarakat dibedakan menjadi kelas samurai dan petani, masalah kesetaraan
gender dan perbudakan juga ada di Cina, tapi seiring perkembangan zaman hal
tersebut mulai ditinggalkan (walau prakteknya masih ada), alasannya sederhana,
karena mereka sadar bahwa hal tersebut tidak baik, tidak manusiawi, tidak layak
diterapkan di zaman modern. Hal yang sama tidak berlaku ketika ajaran kasta,
diskriminasi perempuan, atau perbudakan, dianggap sesuai dengan ajaran agama.
Agama karena dianggap sebagai sumber ajaran yang sempurna, langsung diturunkan
dari tuhan, maka orang akan menganggap bahwa ajaran tersebut lah sebagai
kebenaran, maka tidak mengherankan jika permasalahan kasta, diskriminasi
perempuan, atau perbudakan masih terjadi secara masif dan dilakukan secara
terbuka di negara yang penduduknya masih fanatik pada agama.

8. Agama Bisa Memecah Belah Manusia

Ketika keluarga Jaggu tahu bahwa dia sedang menjalin hubungan asmara
dengan Sarfaraz Yusuf yang merupakan seorang muslim Pakistan, mereka langsung
khawatir dan menghubungi Tapasvi Maharaj untuk berkonsultasi dan memberi
pencerahan pada Jaggu. Saat itu lah Tapasvi Maharaj menyarankan pada Jaggu
untuk segera mengakhiri hubungannya karena menurutnya muslim itu tidak bisa
dipercaya. Dia mengatakan bahwa Sarfaraz Yusuf hanya akan memanfaatkan Jaggu
dan tidak akan pernah menikahinya.
Tapasvi Maharaj mengatakan bahwa muslim itu tidak bisa dipercaya

Yang terjadi setelahnya adalah, ketika Jaggu datang ke gereja untuk mendaftarkan
pernikahan, dia tidak menemukan Sarfaraz, dia pun kecewa karena apa yang
dikatakan Tapasvi Maharaj menjadi kenyataan. Namun di akhir cerita baru
diketahui bahwa Sarfaraz tidak pernah meninggalkan Jaggu. Kejadian di gereja
hanya salah paham dimana Jaggu mengira sebuah surat yang anak kecil berikan di
gereja itu ditunjukkan untuk dirinya, padahal sebenarnya surat itu untuk wanita lain.

Makna cerita ini sangat sederhana, bahwa ada orang atau agama yang mengajarkan
kebencian, dan dengan kebencian itu kita mudah berprasangka buruk pada orang
lain, dan dengan prasangka buruk itu orang menjadi mudah salah paham, dimana
ketika kesalahpahaman itu terjadi, semua pihak menjadi dirugikan.

Di Islam misalnya, ada ayat yang secara literal mengatakan bahwa umat nasrani dan
yahudi itu membenci muslim, dimana umat nasrani dan yahudi dikatakan tidak akan
merasa senang hingga muslim mau masuk agama mereka.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu (Muhammad),
sehingga kamu mengikuti agama mereka.

Al Baqarah ayat 120

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah, dengan mulut (ucapan-


ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-
orang kafir benci.
Ash-Shaff ayat 8

Khusus untuk Yahudi (entah maksudnya agama atau suku), bahkan dikatakan bahwa
dunia tidak akan kiamat hingga semua muslim membunuh Yahudi.

Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: Kamu sekalian


pasti akan memerangi orang-orang Yahudi, lalu kamu akan membunuh mereka,
sehingga batu berkata: Hai muslim, ini orang Yahudi, kemari dan bunuhlah dia!

Bukhari, Volume 4, Buku 56, Nomor 791

Ketika prasangka buruk terhadap umat lain sudah tertanam, ketika orang justru
diramalkan akan melakukan aksi peperangan, maka tidak heran dengan tambahan
ayat perang, orang kemudian cenderung melakukan aksi kekerasan atas nama
agama.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada
hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah
Dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah),
(yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka
membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

At Taubah ayat 29

Memang tidak semua muslim meyakini ayat dan hadits tersebut sebagai
ajaran kebencian dan peperangan. Asbabun nuzul, nafwu, shorof, balaghah, dan
berbagai istilah yang tidak saya mengerti dalam metode tafsir ayat pun disampaikan
untuk menjelaskan bahwa makna dari dalil tersebut bukan seperti apa yang ditulis
secara literal atau dalam terjemahannya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa pada
umumnya orang akan lebih mudah menerima penjelasan yang sederhana daripada
penjelasan yang panjang dan rumit.

Adalah sangat wajar jika ada orang yang memahami bunuh sebagai aksi
pencabutan nyawa ketimbang memahaminya sebagai kegiatan tolong menolong.
Adalah sangat wajar ketika orang memahami kata benci sebagai sikap permusuhan
daripada memahaminya sebagai kasih sayang. Karenanya tidak heran jika agama
seringkali bukan muncul sebagai alat untuk mempersatukan manusia, melainkan
justru sebagai penyebab terjadinya konflik.
Yang paling berbahaya adalah ketika agama kemudian dijadikan alat politik, dimana
tafsir terhadap dalil memang sengaja diarahkan sedemikian rupa hingga pengikut
agama itu membenci lawan politiknya dan membenarkan serangan politik yang dia
lakukan termasuk serangan fisik berupa peperangan. Contoh nyata dari kasus ini
adalah perang salib, dimana para penguasa Eropa memanfaatkan agama untuk
mengobarkan rasa permusuhan terhadap muslim sehingga rakyatnya mau diajak
berperang, padahal tujuannya ya cuma penjajahan, harta dan kekuasaan.

9. Tuhan Tidak Perlu Dibela

Ketika Peekay mengkritisi konsep ketuhanan Tapasvi Maharaj dengan mengatakan


bahwa ajarannya keliru, tuhannya adalah tuhan palsu dan hasil karang-karangan
saja, Tapasvi kemudian mengancam Peekay, dia mengatakan bahwa pengikutnya
tidak akan diam atas apa yang dia anggap sebagai penghinaan itu. Mungkin
pengikutnya akan menembak pantat Peekay seperti yang pernah mereka lakukan
pada Cherry Bajwa (Bosnya Jaggu).

Menanggapi hal itu Peekay kemudian menjelaskan betapa kecilnya manusia


dibanding alam semesta. Jika alam semesta adalah benar ciptaan tuhan, maka
manusia tidak ada apa-apanya dibanding tuhan. Lantas, mengapa manusia yang
tidak ada apa-apanya merasa tuhan perlu pembelaan dari manusia?

Tuhan tidak perlu dibela, manusia terlalu kecil untuk membela tuhan

Bicara soal pelecehan, kita mesti sadar bahwa pelecehan itu sifatnya sangat subjektif,
ada orang yang tersenyum ketika dibilang bodoh, ada yang marah hanya karena
dipelototi (biasanya preman), ada orang yang senyum ketika tokoh agamanya dibuat
karikatur, ada yang marah dan merasa dihina bahkan ketika agamanya dikritik
dalam bahasa yang sopan.

Mungkin sebagian anda juga marah membaca tulisan saya ini, marah saat menonton
film PK, marah ketika agama anda dianggap konyol, tidak logis, dan tidak sesuai
zaman. Tapi sebelum kita marah, sebelum kita berteriak membela agama, sebelum
ngamuk-ngamuk, pikirkan lah apakah tuhan ingin kita membelanya dengan cara
seperti itu? Jika tuhan memang marah pada orang menghina-Nya dan agama-Nya,
bukankah tuhan bisa menurunkan hukuman sendiri untuk orang tersebut?

Kita kadang terlalu arogan, merasa bahwa kita lebih pantas menghakimi manusia
lain ketika bicara mengenai agama ketimbang tuhan itu sendiri, seolah-olah dirinya
adalah perpanjangan tangan tuhan. Mirisnya, tindakan penghakiman itu seringkali
dilakukan dengan aksi kekerasan. Mengaku menegakkan hukum tuhan tapi dengan
merusak fasilitas umum, mengaku meluruskan orang sesat tapi dengan cara
membunuh, membela agama yang dilecehkan dengan terorisme.
Mereka yang mengaku membela tuhan dan agama

Kesimpulan

Dari semua poin kritik terhadap agama yang saya tangkap, saya bisa menyimpulkan
bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh film PK ini adalah bahwa:

Bertuhan itu baik, tapi jangan pernah melupakan akal dan hati nurani dalam
beragama karena selalu ada kemungkinan tokoh agama untuk salah menafsirkan
ajaran, dan selalu ada kemungkinan orang jahat untuk memanfaatkan agama
demi kepentingannya.

Kalau kata Peekay, tuhan itu ada 2 jenis, tuhan yang menciptakan alam semesta, dan
tuhan palsu yang diciptakan oleh pemuka agama. Tuhan palsu yang diciptakan oleh
pemuka agama adalah cerminan dari pemuka agama itu sendiri, pemarah,
pencemburu, pembohong, suka dipuji, membuat umatnya takut, dan lebih suka
mendatangi orang kaya dibanding orang miskin.

Manusia lahir dibekali dengan otak oleh tuhan, bukan dengan kitab suci, bukan
dengan kitab tafsir, maka semestinya dengan akal lah kita menilai mana tuhan yang
asli mana tuhan palsu, mana ajaran yang pantas kita ikuti dan mana yang tidak, dan
kita tidak mesti ikut pemahaman yang mainstream (dianggap umum) jika hal itu
tidak sesuai dengan hati nurani kita.

Jika ingin bertuhan, maka tuhankanlah Tuhan, jangan menuhankan agama.


PK
PK
by Rudy Fanggidae /
Movie Review
/ Leave a Comment
Indonesia adalah negara majemuk, termasuk dalam bidang keagamaan. Secara
nasional ada enam agama yang diakui, namun selain dari itu ada banyak aliran
kepercayaan yang ada di Indonesia. Tak heran, agama, maupun aliran
kepercayaan bisa menjadi sumber konflik antar kelompok.

Kamu sesat ! Kamu tidak bisa menghargai ! Yang ini yang benar dan itu salah !
Paling tidak itulah kalimat-kalimat yang bisa kita jumpai dalam kehidupan umat
beragama. Bukannya saling mengasihi satu dengan lainnya, malahan membenci
satu sama lain. Ah, bukankah agama itu mengajarkan cinta kasih? bukankah
agama itu harus saling menghargai? Bukankah agama itu harus saling mengakui
kelebihan dan kekurangan satu dengan yang lainnya

Saya mendapatkan sebuah pelajaran menarik dari sebuah film yang saya tonton.
Film itu berjudul PK, yang dalam bahasa India beratri mabuk. Film yang
disutradarai oleh Rajkumar Hirani ini, menceritakan tentang seorang (alien) yang
datang dari planet lain ke bumi untuk melakukan penelitian. Namun, baru
beberapa saat menginjakan kaki di bumi, dia mendapatkan masalah. Sebuah
benda yang disebutnya Remote Control dicuri orang. Padahal benda itu berfungsi
sebagai satelit pemberi informasi keberadaannya di bumi kepada planet di mana
ia berasal.

Masalah terbesar PK (orang yang dianggap mabuk) itu adalah mencari remote
control tersebut, karena hanya dengan benda itu dia bisa kembali ke tempat
asalnya. Perjuangan mencari benda tersebut amal luar biasa. Dia harus
mempelajari bahasa manusia, budaya, menggenakan pakaian secara benar.
Setelah belajar banyak hal, dia bertanya kepada orang-orang tentang remote
controlnya itu. Orang-orang pun merasa aneh dengan pertanyaan tersebut,
termasuk juga polisi yang ia tanyai. Tak heran, jawaban yang ia dapat dari
pertanyaannya itu adalah Hanya Tuhan yang tahu.

Dari jawaban itu, dengan kepolosannya dia mencari Tuhan, dengan harapan
Tuhan dapat mengembalikan remote controlnya. Kembali lagi masalah ia temui.
Dengan mengambil setting tempat film ini di India, menunjukan banyak agama
yang harus dia pelajari untuk menemukan Tuhan. Dia merasa binggung, karena
umat beragama yang berbeda-beda itu mempunyai ajaran dan tata cara
beribadah yang berbeda kepada Tuhan.
Dia (PK) memutuskan untuk menyembah Tuhan di setiap agama, karena ia
merasa bahwa pasti salah satunya ada yang benar. Namun, tetap saja dia
merasa binggung dan mencurahakan isi hatinya (curhat) kepada Tuhan dengan
mengatakan: Aku sudah ke kuil, aku sudah bicar melalui pengeras suara, aku
sudah membaca kitab Gita, Al-Quran, Bible. Pemuka agama-Mu yang beragam
mengatakan hal berbeda satu sama lain. Ada yang bilang beribadah di hari
Minggu, ada yang bilang di hari Selasa, dan ada yang bilang sebelum matahari
terbit, namun ada yang bilang setelahnya. Ada yang memuja sapi, ada yang
mengurbankannya. Ada yang ke Kuil tanpa sepatu, ada yang ke Gereja pakai
sepatu. Manakah yang salah dan yang benar? Aku tak mengerti. Datanglah, ya
Tuhan. Aku ingin pulang.
Di tengah kegalauannya, dia bertemu dengan seseorang yang akan tampil di
pertunjukan yang berperan sebagai Dewa Siwa. Tak heran, ia langsung mengejar
orang tersebut untuk meminta kembali remote controlnya yang hilang. Orang
tersebut lari dari kejarannya dan masuk dalam suatu acara keagamaan. Di
sinilah suatu tontonan baru yang menarik dapat dilihat. Di mana PK menemukan
remote controlnya yang hilang, namun diklaim bahwa benda tersebut milik Tuan
Tapaswi, yang ia temukan setelah bertapa di pegunungan Himalaya. Benda itu
dianggap serpihan gendang Siwa dan dapat manghapus kesulitan orang-orang.
Namun benda itu tak dapat diambilnya.
Tuan Tapaswi adalah seorang pemuka agama yang terkenal dan dihormati yang
memiliki remote controlnya si PK. Namun, PK menganggap bahwa Tuan Tapaswi
dan para pemuka agama yang lain salah sambung ketika berbicara kepada
Tuhan. Dengan ritus keagamaan yang beragam, misalnya ada yang menyiram
susu di atas batu dan memujanya, PK menganggap bahwa itu sebagai salah
sambung. Jika doa-doa (panggilan) itu benar, maka seharusnya susu yang
dibuang sebagai ritus itu diberikan kepada jutaan anak jalanan di Delhi dan
bukan kepada Tuhan.
Permusuhan anatara PK dan Tuan Tapaswi pun berlangsung ketika PK mau
membuktikan bahwa teknologi yang dipakai oleh Tuan Tapaswi itu adalah alat
yang salah sehingga tidak dijawab Tuhan atau salah sambung. Permusuhan pun
berlanjut sampai di acara TV. PK dan Tuan Tapaswi dipertemukan dalam sebuah
acara. Dalam acara tersebut Tuan Tapaswi menuduh PK sebagai seorang yang
tidak mempercayai Tuhan. Namun, PK menjawabnya dengan berlinang air mata,
dan mengatakan bahwa: dengan mempercayai Tuhan, seseorang mempunyai
harapan, namun pertanyaannya, Tuhan manakah yang harus dipercayai?
Pertanyaan ini, merupakan pil pahit bagi Tuan Tapaswi. Tuan Tapaswi selalu
mengatakan bahwa Tuhan itu hanya satu. Namun PK membantahnya dengan
mengatakan: Tuhan itu dua, pertama: Tuhan yang menciptakan kita semua, dan
yang kedua: Tuhan yang diciptakan oleh orang sepertimu (Tuan Tapaswi).
Pada akhirnya PK memberikan pesan sederhana yang penuh makna, Tuhan
yang menciptakan kita semua, percayalah pada-Nya, dan Tuhan yang kau
ciptakan.., si kembaran Tuhan itu, musnahkanlah! Tuhan tak perlu dilindungi, Dia
bisa melindungi diri-Nya. Dengan pembuktian PK di akhir acara, bahwa Tapaswi
memberikan salah sambung kepada Jaggu yang batal menikah dengan pria
Pakistan muslim yang bekerja di Belgia, PK akhirnya mendapatkan remote
controlnya dan dapat kembali ke tempat asalnya.
Film ini memiliki banyak unsur, ada sedih, lucu, gembira, serta berisi kritikan dan
pesan. Film ini juga dikecam oleh banyak kalangan, karena dianggap
menghina/melecehkan agama tertentu. Namun, terlepas dari itu, ada beberapa
hal yang bisa saya bagikan sebagai refleksi pribadi saya dari menonton film ini.
1) Tuhan itu ada, namun Tuhan yang bagaimana?
Manusia adalah makhluk religius yang dapat merasakan Yang Ilahi (Tuhan) dalam
dirinya. Dalam film tersebut, PK dianggap tidak mempercayai adanya Tuhan oleh
Tapaswi. Namun dibantah oleh PK. PK mempercayai adanya Tuhan yang
menciptakan manusia, namun Tuhan yang diciptakan oleh manusia perlu
dimusnahkan. Manusia sering merasa bahwa ia mampu, mendikte, memahami,
membela Tuhan dalam kehidupannya. Inilah Tuhan yang diciptakan oleh
manusia. Manusia merasa bahwa ia dapat memenjarahkan Tuhan dalam
pikirannya yang kecil. Berusaha melindungi Tuhan, apapun alasannya.
Melakukan tindakan anarkis, menyakiti orang lain, bahkan mati sekalipun
dianggap sebagai tindakan melindungi Tuhan. Terlalu lemahkah Tuhan sehingga
Ia perlu dilindungi? Tuhan yang ada adalah Tuhan yang perkasa. Tuhan yang
menciptakan kita, dan juga sekaligus memelihara dan melindungi kita.

2) Peranan Pemuka Agama


Di Indonesia khususnya, banyak terjadi konflik antar agama yang dipicu atau
diprovokasi oleh para pemuka agama. Agama yang lain menanggap lebih
superior dari yang lainnya. Agama yang satu dianggap halal dan yang lain
haram. Dari mana kita mendapat hak untuk membeda-bedakan seperti ini,
apalagi menjudge agama yang lain? PK bertanya: siapakah Islam dan siapakah
Hindu? Dimanakah tandanya? Bukankah pembedaan tersebut dibuat oleh
manusia dengan mengenakan atribut-atribut keagamaan? Dengan melihat
kesetaraan umat beragama di mata Tuhan, maka sikap saling menghargai dan
mengasihi antar umat beragama dapat dipupuk. Di sinilah peran pemuka agama
dibutuhkan untuk mengajak umat, bukan malah sebaliknya memprovokasi yang
jahat. Bisa jadi pemuka agama agama tersebut salah sambung seperti yang
dikatakan PK.
3) Beribadah bukan sebagai rutinitas
Ibadah di setiap agama terkadang hanya dilihat sebagai rutinitas umat
beragama. Ibadah seperti itu jika tidak dimaknai maka hanya merupakan sebuah
kewajiban semata dan tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. PK aja
yang alien nyari Tuhan dengan sungguh-sungguh, masa umat beragama kagak
sih. Jika umat beragama hanya melakukan rutinitas ibadahnya semata, namun
tidak peduli dengan keadaan sosial sekitar, maka umat beragama tersebut tidak
dapat melihat Tuhan secara utuh dalam ciptaan yang lain. Beragama juga
diperlukan akal sehat untuk melihat sesuatu yang hanya dilakukan sebagai suatu
rutinaitas dan tanpa makna. Terlebih lagi, ibadah yang tidak memberi dampak
bagi sekitar.
4) Tuhan itu kaih
Tuhan itu mengasihi manusia, namun terkadang manusia yang mempersulit diri
untuk menerima kasih Tuhan. Dalam cuplikan film tersbut, seorang Bapak
meminta kesembuhan bagi istrinya yang sedang sakit namun dia disuruh
melakukan perjalanan selama 8 hari ke pegunungan Himalaya. PK mengatakan
Tuhan tidak demikian ! Jika seorang anak lapar masakan dia disuruh guling-
guling baru diberikan roti. Jika kita anak Tuhan, maka kita berhak untuk
menerimanya. Bukan harus dengan berbagai macam ritus yang berlebihan dan
menyusahkan. Tuhan tidak akan memberi ular beracun pada yang minta roti,
atau kalajengking pada yang minta ikan.
Sekian refleksi film dari saya. Sorry loh, kepanjangan. Bagi yang dapat pesan
dari film ini bisa dishare sama-sama. Tapi bagi yang belum nonton......, yah
ampun.....! Nontonlah!
ndonesia dan Komersialisasi Agama dalam Film PK
Baru-baru ini, Film Bollywood telah menghebohkan masyarakat Indonesia. Bukan
saya belum tonton Film berjudul PK itu. Teman saya sudah memberikan File
filmnya, lalu saya menghayati struktural narasi tiap cuplikannya dengan
seksama, sendirian. Mungkin bagi sejumlah kalangan, oleh pembuat seknario
Film, habis-habisan ditusuk hatinya karena ada yang berhubungan dengan ritual
mereka. Bisa juga, mereka puas dan senang secara paham agama yang
diyakininya.
Betapa hebat dan atraktifnya sebuah pandangan teologi yang sebenarnya
manusia telah mampu memahami itu. Atau bahkan, sudah lama terbenak dalam
diri, namun baru ngeh usai disuguhkan melalui Film tersebut. Paham yang
(mungkin) telah lama menggebu dalam pikiran, dengan bersahaja diekspresikan
melalui karya kreatif dalam Film PK itu. Yaitu, Tuhan diciptakan, atau Tuhan
Menciptakan?
Aktor, Amir Khan, benarkah ia Muslim atau beridentitas lainnya? Apa bisa jadi,
kita hanya meraba-raba bahwa 'Khan' sudah berarti Muslim. Entahlah, apapun
kepercayaan dan ibadah ritulgi Sutradara dan Aktornya itu yang jelas Film
bergenre komedi tersebut sangat pantas dikaji oleh Negara Indonesia yang
Pancasilais maupun Nasionalis. Sebab, banyak kaum Muslim Indonesia
mengacungkan jempol pada Film tersebut. Namun, keragaman agama dan
implementasi ritulginya pada Negara India belum tentu sama dengan yang
terjadi di Indonesia. Sehingga, bisa saja ada pertimbangan tertentu dalam hal
memahami kebebasan Produser dan Pemerintah India memunculkan Film
tersebut dalam layar lebar.
Tidakkah kita bertanya, mengapa Indonesia akhirnya serempak menayangkan PK
di sejumlah Bioskop? Hampir sepekan, setelah Film itu tayang, di tiap sosial
media, muncul beberapa orang menulis tanggapan terhadap Film tersebut. Rata-
rata pujian dan kekaguman tertuangkan. Teman Facebook sayapun menyarankan
agar membaca sebuah buku yang pantas disandingkan dengan Film berdurasi
hampir 2 jam tersebut. Entah buku tersebut pro atau kontra dengan film, saya
belum dapat bukunya. Kemudian, di Kompasiana, ada semacam tulisan resensi
tentang Film tersebut. Penulis menarasikan dengan pukau, mengantar pembaca
memahami bagaimana komersialisasi agama dalam praktik liturgi di India dalam
film PK tersebut.
Setiap kita, sekalipun memandang pesan dalam Film tersebut sama, tentu ada
sedikit hal berbeda di sisi lainnya. Misalnya, mengenai pertanyaan bagaimana
Indonesia menerima tayangan tersebut. Apakah sebenarnya kita sepakat
terhadap praktik komersialisasi agama supaya dikecam karena merugikan
masyarakat! Mungkinkah Negara Indonesia (Pemerintah) sepaham dengan
Sutradara Film? Jelas ini sangat menarik. Sebab, tidak sedikit masyarakat
Indonesia yang menyamai paham agama layaknya dalam Film PK.
Dengan demikian, jika terjadi kajian, diskusi, atau dialog besar yang melibatkan
masyarakat dan Pemerintah yang punya atensi agama, jelas sangat menarik.
Ataukah Film tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada kritikan dan pujian secara
akademis? Mungkinkah, ia diyakini hanyalah karya fiksi belaka dan apakah juga
ia (Film) sebagai panggung komersialisasi agama itu sendiri? Tentu memerlukan
kajian lebih lanjut bukan?
Percaya, film tersebut sampai hari ini telah menyita miliaran perhatian
masyarakat khusunya pada kaum Muslimin (tidak dapat dipungkiri). Pertanyaan
yang sering muncul dalam benak bahkan pada status jejaring sosial kita seperti
BBM, Facebook, dll adalah; apakah kita di posisi ber-Tuhan yang Menciptakan (1),
ataukah ber-Tuhan yang kita ciptakan sendiri (2). Jika yang kedua salah, apakah
kita akan memaksa mereka yang membenarkan kedua untuk tunduk dan
mengikuti yang pertama?
Menarik bukan...? Nontonlah lalu diskusikanlah dengan rekan, Guru, Dosen,
Orangtua, Rektor, atau siapa saja yang Anda anggap perlu.