Anda di halaman 1dari 34

Karena banyak yang nanya komentar tentang film PK, semalam saya nonton.

Ternyata banyak orang Jaringan Islam Liberal mendukung film ini. Sudah diduga,
ternyata banyak orang yang belum selesai bertanya tentang Tuhan.
Inti film ini adalah gagasan tentang bertuhan tapi tidak beragama. Film ini
sebenarnya bagus, cuma kesimpulannya yang salah. Kritik-kritik logika terhadap
agama persis seperti yang sering kita lakukan di Twitter.
Si PK, manusia alien, yang mencari tuhan dengan pertanyaan-pertanyaan
sederhananya. Contohnya ketika PK membeli tuhan berupa patung dewa ukuran
kecil untuk bisa mengabulkan permintaannya.
Ketika sudah beli dan doanya tidak terkabul, PK protes ke penjual patung, Anda
yang membuat ini?

Ya.

Anda yang membuat tuhan?

Bukan, ini patungnya.

Jadi ini bukan tuhan?

Bukan, itu patungnya?

Untuk apa patung?

Untuk kita berdoa.

Bukankah Tuhan maha mendengar, kenapa perlu patung?

Setelah gagal dikabulkan tuhan Hindu, dia datag ke gereja.Pemuka gereja malah
membingungkannya dengan pernyataan, Tuhan sudah disalib 2000 tahun lalu.

Bagaimana tuhan bisa disalib manusia? Kritik logika terhadap konsepsi agama
yang diajukan film ini menarik.

Ketik di dalam gereja, PK yang tadinya membawa sesajen berupa kelapa,


terkaget karena di gereja yang dipersembahkan adalah anggur (wine).
PK membawa wine ke gereja, karena salah petunjuk dia membawa wine menuju
masjid, sebelum sampai masjid, Muslim marah, dikejarlah dia.

Bingung dengan banyaknya agama, si PK ini akhirnya memeluk semua agama.


Berharap salah satu agama ada yang tepat menuju tuhan.

Dia frustasi karena tidak menemukan tuhan.

Di akhir kisah, dia berpikir bahwa agama-agama yang ada adalah cara
komunikasi yang salah sambung menuju tuhan. Menurutnya tuhan itu ada 2,
tuhan yang menciptakan semesta ini dan tuhan-tuhan yang diciptakan pemuka
agama. Digambarkan bahwa agama menebarkan ketakutan untuk merekrut
pengikut demi kepentingan ekonomi si pemuka agama.

Film ini juga mengkritik Islam sebaga cara salah sambung menuju Tuhan. Saya
tangkap ada 3 poin yang film ini kritik kepada Islam.

Larangan sekolah bagi perempuan


Cadar
Terorisme
Padahal 1 dan 3 tidak ada dalam Islam. No 2 terjadi beda pendapat di ulama.

Perbedaan kritik film ini terhadap Islam dan kepada agama lain adalah kritik
terhadap agama lain soal konsep ketuhanan. Sedangkan kritik terhadap Islam
tidak berbasis konsepsi tapi berbasis opini yang disebar media.

Jika Islam dikeluarkan dari bahasan film ini, maka saya setuju bahwa agama-
agama tersebut adalah cara salah sambung manusia menuju tuhan. Ada yang
perlu patung untuk berdoa, patung tuhan dibuat manusia. Ada yang tuhannya
disalib manusia, ada yang ibadahnya berguling-guling menuju tempat ibadah.
Ada yang ibadahnya dengan cara melukai dirinya, ada yang dengan mandi di
sungai dan ritual membuang susu. Dan seterusnya. Semua itu memang cara
komunikasi yang salah sambung menuju tuhan.

Contoh salah sambung misalnya,kenapa natal, kenapa tahun baru, kenapa


menuhankan Yesus, apa acara di gereja, apa dasar melakukan itu semua?
Berbeda dengan Islam, seluruh konsepnya memakai dalil. Konsep aqidah,
tuntunan ibadahnya lengkap, sistem kehidupan, dan lain-lain.

Itu kenapa kritik film PK pada Islam diambil dare opini, ketimbang konsepsi yang
diyakini mayoritas muslim.

Tapi yang menarik adalah agar si PK ini dipercaya oleh teman perempuannya
bahwa dia makhluk luar angkasa, dia harus menunjukkan mujizat. Mujizatnya
adalah membaca pikiran orang hanya dengan memegang tangannya.

Ternyata film kritik agama juga memerlukan ide mukjizat yang biasanya hanya
ada di agama. Begitulah salah satu metode untuk menguji apa agama salah
sambung atau tidak, adalah dengan menguji mujizat yang ditunjukkan
penyampainya. Ide mujizat dalam konsep agama juga dipakai film.

Dan di penutup, ada adegan adu mukjizat antara pemuka agama dan PK
dalam mengungkap informasi yang terjadi di masa lalu.

Begitulah untuk dipercaya sebagai utusan, maka diperlukan bukti semacam


mujizat. Bedanya Islam dengan agama-agama yang lain, Nabi Muhammad
Shallallahu Alaihi wa Sallam meski sudah tidak ada tapi beliau masih bisa
menunjukkan mujizatnya sampai hari akhir.

Mujizat yang ditunjukkan oleh PK adalah informasi, dia tahu tentang kakek-kakek
yang ingin membahagiakan istrinya di hari ulang tahunnya.

Begitulah mujizat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam: informasi.


Sehingga abadi.

Sedangkan utusan nabi lain, karena diutus Tuhan hanya untuk orang-orang di
zamannya, maka karakter mujizatnya bukan informasi tapi keajaiban yang
dinikmati mata.Misal : menghidupkan orang mati, mengembuhkan yang buta,
tongkat belah laut. Ini mujizat yang sifatnya temporal. Hanya untuk
menunjukkan ke yang hadir

Singkatnya

Karena frustasi dengan tuhan dan agama-agama yang diciptakan pemuka


agama, PK memilih bertuhan tapi tidak beragama.
Sekali lagi, jika tanpa memasukkan Islam ke dalamnya, saya setuju sekali film PK
bahwa agama yang ada cara salah sambung komunikasi dengan tuhan.

Btw, film ini dibintangi Amir Khan, aktor india. Main juga di film 3 Idiots. Film 3
Idiots tentang kritik sistem pendidikan, sdengankan film PK tentang kritik agama.
Sutradaranya sama.

Pertanyaan dalam film PK memang sulit dijawab oleh agama lain, tapi terlalu
mudah untuk dijawab Islam. Agama lain sulit ketika diminta menunjukan mujizat,
karena mujizat nabinya (mereka menyebutnya tuhan) hanya untuk konsumsi
orang-orang di masa nabi itu hidup

Alhamdulillah Islam sangat anti hal berbau takhayul dan berhala. Syirik. Islam
logis.

Jika Islam dikeluarkan dari bahasan, betul kata film ini.. Tuhan ada dua Tuhan
yang asli menciptakan kita dan tuhan yang diciptakan pemuka agama.
Contohnya Yesus : ketuhanan Yesus diciptakan oleh pemuka agama (325 M).
Ketuhanan roh kudus diresmikan pemuka gereja tahun 381 M. Patung Yesus
dalam tradisi Kristen juga tidak berasal dari ajaran yesus, tapi adaptasi pagan
Romawi. Agama jadi kreasi manusia

Salah sambung yang disajikan film PK adalah salah sambung segelintir pemeluk
bukan agama. Tapi salah sambung yang diajukan film PK terhadap agama lain
adalah salah sambung konsepsinya, terutama soal konsep ketuhanan. Film PK
sebenarnya bagus, asal tidak memasukkan Islam sebagai bahasannya. Karena
ketika memasukkan Islam, filmnya jadi tidak jujur, agama yang lain dikritik
karena konsepsinya, sedangkan Islam dikritik karena anomali pemeluknya.

Yang lain dikritik agamanya melalui konsepsi sedangkan Islam dikritik agamanya
melalui pemeluk, karena memang sulit menyerang Islam dr konsepsinya. Paling
mudah mengambil Muslim yang melanggar konsepsi Islam dijadikan representasi
Islam

Konsep ketuhanan dalam Islam jelas, tak ada celah. Clear!

Review Film PK: Lebih Dari Sekadar Kritik Agama


Ada dua Tuhan, satu yaitu yang menciptakan kita semua, satu lagi diciptakan olehmu (manusia).
Kita tak tahu apa-apa tentang Tuhan yang menciptakan kita. Tetapi Tuhan yang kamu (manusia)
ciptakan persis seperti dirimu Peekay

Bagi saya, sebuah film yang bagus adalah film yang membuat saya berpikir melebihi tema film
tersebut. Tidak masalah, apakah film tersebut berupa film animasi, film dengan bujet besar, tetapi film
yang bukan hanya membawa cerita secara menarik namun juga membuat penonton yang berdiskusi
tentang tema film beserta printilannya.

Banyak yang membandingkan antara film India 3 Idiots dengan PK. Bisa dimaklumi karena kedua
film tersebut sama-sama dibintangi oleh Aamir Khan dan disutradarai oleh Rajkumar Hirani.
Keduanya sukses menghibur dan juga sukses membuat penontonnya berpikir lebih dalam. Secara
komersial, kedua film tersebut memberikan pendapatan yang dahsyat kepada pembuatnya.

Alien, cinta, Tuhan hilang, persepsi, agama, bohong, salah sambung, serta pengkerdilan Tuhan
merupakan kata kunci yang saya tangkap setelah selesai menonton film PK. Alur yang mengalir
paralel kemudian disisipi alur mundur dibawakan secara menarik. Durasi film ini yaitu 2,5 jam. Namun
tidak membuat saya melirik jam, karena memang tidak ada hal yang diulang-ulang dalam film
ini. Teteup, ciri khas film India yaitu menyanyi dan menari oleh para pemainnya. Namun ciri khas saya
rasa tidak mengganggu. Biasanya bila menonton film India, maka saya anggap hal itu waktu untuk
istirahat sejenak, ngulet-uletke awak. Namun adegan menari dan menyanyi ditampilkan dengan
sensasi humor yang pas. Tidak lebai lucunya.

Manusia itu lemah dan tidak mengetahui apa-apa. Kebanyakan orang yang menyembah Tuhan
memiliki delusi bahwa ritus yang dilakukannya adalah pakem dan paling menyenangkan Tuhan.
Sebenarnya tidak. Manusia melakukan serangkaian aktivitas rohani karena mengikuti pedoman dari
patron yang mereka anggap dekat dengan Tuhan. Apabila rangkaian tersebut terbatas pada aktivitas
mekanis saja tanpa pemaknaan di dalamnya, maka hal tersebut akan menjadi kosong.

Insting dasar manusia. Manusia memang lemah namun mereka juga memiliki insting bertahan untuk
hidup. Insting bertahan hidup tersebut tertulis di dalam jiwa manusia. Insting tersebut berhubungan
dengan harapan bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini. Biasanya, masalah ini digoreng
secara baik oleh orang yang mengaku dekat dengan Tuhan. Harapan untuk lebih baik kadang
dipangkas dengan sejumlah prasyarat. Hasrat untuk menguasai, memaksakan isi pikiran, serta
menyeragamkan kehendak menjadi tenar ketika didukung oleh mayoritas.

Cinta sebagai bahasa universal. Pada salah satu adegan, Peekay (Aamir Khan) mempertanyakan
penggunaan patung dalam sembahyang agama Hindu. Manusia adalah makhluk yang menyukai
simbol-simbol. Dengan simbol, manusia berkomunikasi di luar dirinya, baik itu kepada sesama
manusia, maupun kepada Zat Yang Berkuasa. Celakanya, komunikasi itu menjadi kerdil dalam simbol
yang dibuat. Seharusnya, simbol itu adalah bentuk penginderaan, tetapi semakin lama makna simbol
tersebut kabur dan menjadi beku dan kaku. Tidak salah apabila Peekay menanyakan di mana letak
baterai pada patung dewa, apa beda keampuhan patung seharga 20, 50, dan 200 rupee.

Akhir cerita PK benar-benar di luar dugaan. Justru hal ini yang menjadikan menarik. Sedari awal,
penonton telah digiring bahwa Peekay adalah alien atau dalam bahasa maknanya adalah bayi. Bayi
tidak memilikilabel agama di tubuhnya. Bayi dalam perkembangannya akan sering bertanya pada
segala hal. Dan bayi akan berbohong pertama kali pada orang yang dicintainya.
Pernahkah dalam hidup Anda, sekali saja mempertanyakan tentang Tuhan?
Tentang siapa itu Tuhan, dimana Dia dan apa yang Dia lakukan? Mungkin kita
pernah menanyakannya, tapi mungkin sebagian besar dari kita
menanyakannya dalam hati saja, tidak punya keberanian untuk
mempertanyakannya dengan suara lantang. Takut pada azab Tuhan yang
disampaikan para pemuka agama, takut pada pandangan orang yang
menganggap persoalan tentang Tuhan adalah persoalan yang sangat privat
dan sensitif.

Tapi tidak dengan PK (Amir Khan). Lelaki yang turun ke bumi dengan keadaan
telanjang dari planet lain ini mempertanyakan keberadaan Tuhan,
mempertanyakan eksistensi Tuhan, dan banyak lagi pertanyaan tentang
Tuhan. PK yang adalah akronim dari Peekay (pemabuk) datang ke bumi tanpa
tahu cara berkomunikasi dengan orang bumi. Dia tersesat setelah seseorang
mencuri remote controlnya, padahal benda itu sangat penting untuk
memanggil pesawatnya agar dia bisa dijemput kembali ke planetnya.

Dalam kebimbangan itu PK bertemu banyak orang, mencoba mengenali cara


manusia hidup dan berinteraksi (dalam hal ini orang India), sampai akhirnya
dia bisa memahami bahasa orang India dan bisa berkomunikasi dalam
bahasa itu.

Tapi kebimbangan PK tidak berhenti sampai di situ. Dia masih berusaha


mencari remote controlnya, tapi kata orang hanya Tuhan yang tahu, hanya
Tuhan yang bisa membantunya. Maka mulailah PK mencari dimana Tuhan,
dan bagaimana caranya bertemu dengan Tuhan agar remote controlnya bisa
kembali.

Pencarian PK tentu saja membuat geger manusia yang sudah terbiasa hidup
dalam tatanan rapi beragam agama di India. PK membongkar pemikiran
manusia tentang Tuhan lewat pertanyaan-pertanyaan lugu namun logis.
Ragam ritual keagamaan dan celoteh pemuka agama dipertanyakannya,
hanya demi mencari dimana Tuhan berada.

Dan pencariannya berakhir pada perdebatan dengan seorang pemuka agama


Hindu, Tapaswi. Perdebatan di stasiun televisi itu adalah puncak pencarian
Tuhan oleh seorang (atau sesosok) PK.

Pada akhirnya dia berkesimpulan; Tuhan itu ada dua. Satu Tuhan yang
menciptakan kita semua, satu lagi Tuhan yang diciptakan oleh manusia.
Tuhan yang menciptakan kita dan alam semesta ini tidak pernah kita tahu
sosoknya, sementara Tuhan yang diciptakan oleh manusia sosoknya sama
seperti manusia. Kadang menipu, suka berbohong dan menakut-nakuti.

*****

Film besutan sutradara Rajkumar Hirani yang juga membesut film 3 Idiots ini
berjalan dalam alur yang lambat. Untungnya karena cerita yang dibawanya
lumayan menyegarkan. PK dirajut bumbu komedi untuk membawa pesan
yang sebenarnya berat, akibatnya film ini tetap terasa ringan tanpa
membuat kening berkerut.

Kritikan utama dari film ini adalah tentang para pemuka agama yang
menggunakan agama dan Tuhan sebagai alat bisnis. Mereka mengutip kitab
suci atau bahkan mengaku mendengar suara Tuhan untuk menakut-nakuti
umat dan menggemukkan pundi-pundi mereka. Di film sepanjang 153 menit
ini, agama yang dikritik bukan hanya Hindu semata, tapi hampir semua
agama yang ada di India.

Pertanyaan paling esensial dari film ini adalah tentang keberadaan Tuhan itu
sendiri. Menilik banyaknya agama yang ada di dunia maka interpretasi
manusia tentu akan berbeda-beda tentang Tuhan. Belum lagi manusia yang
memaksakan Tuhan mereka kepada manusia lainnya hingga timbul
perpecahan, pergesekan dan bahkan pembantaian atas nama Tuhan.

PK mempertanyakan rupa dan sifat Tuhan, benarkah Tuhan sekejam itu?


Membuat manusia saling membunuh atas nama-Nya? Memaksa manusia
melakukan ritual agama yang menyusahkan dan menyakiti diri hanya untuk
bertemu dengan-Nya? Kenapa Tuhan malah menyusahkan manusia yang
ingin berkeluh kesah kepada-Nya?

Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu ditemukan PK lewat perjalanan panjang


dengan bekal kenaifannya sebagai mahluk yang datang dari planet lain.

Film ini menarik karena pesan yang dia bawa. Beberapa hal yang
mengganggu hanyalah gambaran karakter PK yang mengingatkan saya pada
sosok Mr. Bean serta cerita percintaan Jaggu (Anushka Sharma) yang malah
menjadi bagian pamungkas dan sejenak menutupi klimaks dari perdebatan
PK dan Tapaswi. Di luar itu, PK sangat menghibur, membuat kita berpikir
tanpa harus mengernyitkan dahi.
Bagian lain yang buat saya kurang sreg adalah scene ketika Jaggu yang
Hindu mengajak Sarfaraaz (Sushant Singh Rajput) yang Muslim untuk
menikah di gereja. Ini seperti sebuah ide untuk menyatukan semua agama,
bukan menghormati semua agama. Tapi lupakan, saya masih bisa melompati
dan melupakan scene ini.

Di akhir cerita, PK bertemu dengan Tapaswi. Lalu setelah perdebatan singkat


tapi dalam, PK berkata Kita hidup di dunia yang sangat kecil, hanya debu di
alam semesta. Lalu kamu bilang mau melindungi Tuhan? Tuhan tidak butuh
dilindungi. Benar-benar sebuah pesan yang dalam, khususnya kepada
mereka yang selalu membawa-bawa nama Tuhan untuk melindungi
nafsunya. [dG]

Pernahkah Anda menonton film India yang berjudul 3 Idiots? Bagi Anda yang
pernah, pasti Anda sangat terkesima menonton film yang dirilis pada 2009
tersebut. Saya juga sudah menonton film yang mengkritik sistem pendidikan
yang amburadul. Kala itu saya masih kelas 1 SMA, saat film sedang ramai
diperbincangkan. Film yang disutradarai oleh Vidhu Vinod Chopra ini menuai
banyak pujian. Beberapa hari yang lalu, ayah saya meminta saya untuk
menonton sebuah film dari India. Ternyata film itu merupakan film yang dibesut
oleh Vidhu Vinod Chopra pula yang berjudul PK. Sama seperti 3 Idiots, film ini
masih mengandalkan Aamir Khan sebagai tokoh utamanya. Sama seperti 3
Idiots pula, film yang dirilis pada 19 Desember 2014 ini juga ramai
diperbincangkan banyak orang. Bukan karena pujiannya, tapi karena
kontroversinya. Bagaimana kisahnya? Sinopsis Alkisah, ada seorang alien (Aamir
Khan) yang turun ke bumi dari sebuah benda berbentuk piring terbang (kita
mungkin menyebutnya UFO). Ia turun tak sepotong pun kain, dan dengan
sebuah kalung yang berbandul sebuah lingkarang berwarna biru. Dan sang
narator mengatakan bahwa benda itu disebutnya sebagai remot yang bisa
membawanya kembali ke planet asalnya. Namun, ketika baru saja turun,
remotnya itu diambil oleh orang. Ia pun mengejar orang itu, namun bukannya
remot yang ia dapat ia malah mendapatkan tape radio milik orang tersebut. Ia
pun merasa merana.
Salah satu cover film PK (www.letmewatchmovies.in) Cerita pun beralih ke
seorang perempuan India yang bernama Jaggu (Anushka Sharma) dan laki-laki
yang bernama Sarfaraz (Sushant Singh Rajput) tengah berebut tiket dari seorang
calo untuk menonton pertunjukkan Bachchan Bertemu Bachchan di Belgia.
Karena uang mereka tidak cukup, Jaggu pun meminta tolong seorang pria tua
yang juga berasal dari India juga untuk mengatasi calo yang berasal dari India
pula itu untuk mendapatkan tiket yang dijualnya seharga 100 euro itu (aslinya 40
euro). Si pria tua berhasil mendapatkannya, namun bukannya memberikan tiket
itu pada Jaggu, ia malah masuk sendirian ke pertunjukkan. Jaggu pun marah, dan
si pria tua itu memanggil security. Sarfaraz pun langsung segera mengajak Jaggu
pergi. Jaggu pun berkenalan dengan Sarfaraz. Mereka senang saling mengenal
karena berbahasa yang sama. Namun, saat Sarfaraz mengatakan ia berasal dari
Pakistan, Jaggu kehilangan senyumnya. Pada akhirnya mereka pun menjalin
hubungan tanpa memandang dari negara mana mereka berasal. Hubungan
dengan Sarfaraz ini, diketahui oleh adik Jaggu yang segera memberi tahu (lewat
webcam) kedua orang tuanya. Orang tua Jaggu marah anaknya menjalin
hubungan dengan orang Islam dari Pakistan. Orang tuanya pun membawa
laptopnya ke hadapa Tapasvi-ji (pemuka agama keluarga Jaggu) untuk meminta
konsultasi. Tapasvi-ji
Tapasvi-ji diperankan oleh Saurabh Shukla Untuk membuktikan bahwa Tapasvi-ji
salah, Jaggu pun mengajak Sarfaraz untuk menikah keesokan harinya. Sarfaraz
pun siap. Jaggu dating terlebih dahulu ke tempat pencatatan sipil. Di depannya
ada seorang perempuan yang sedang menunggu mempelai pria yang tak
kunjung datang. Perempuan itu menitipkan seekor kucing dalam keranjang pada
Jaggu. Dan tibatiba datanglah seorang anak yang memberi sepucuk surat untuk
Jaggu. Ternyata surat itu berisi tentang pembatalan pernikahan yang berbeda
negara, agama, dan budaya mereka berdua. Jaggu menangis, dan Tapasvi-ji
benar bahwa Sarfaraz telah berbohong.
Enam bulan kemudian, Jaggu pun pulang ke Delhi. Ia menjadi seorang reporter
TV di sana. Ketika sedang menaiki kereta, ia melihat seorang pria (alien dalam
pembuka film) memakai helm putih dan banyak kalung berbandul salib,
swastika, dan beberapa symbol agama lainnya sedang membagikan selebaran
yang mengatakan bahwa ia kehilangan Tuhan. Jaggu pun tertarik dan ingin
mewawancarai orang yang memperkenalkan diri dengan nama PK tersebut
(singkatan pee-kay, dalam bahasa Hindi berarti mabuk). Dalam salah satu
adegan, PK dengan penampilan uniknya
Singkat cerita, PK (Aamir Khan) ini tengah mencari remotnya yang hilang dicuri
seperti awal cerita. Namun, setelah meminta tolong polisi, ia malah dikatai
mabuk (PK atau pee-kay). Setelah bertanya pada banyak orang tentang
remotnya, semua orang menjawab, hanya Tuhan yang dapat menolongmu,
membuatnya bertanya siapa Tuhan ini. Pada momen inilah yang mulai menarik.
PK pun masuk ke satu tempat ibadah yang satu ke tempat yang lain. Ia
membawa sesembahan ke dalam kuil dan berdoa pada Tuhan. Ia membawa
wine. Ia pun sholat. Tujuannya hanya satu: meminta kepada Tuhan agar
remotnya kembali. Suatu hari di tengah keramai banyak orang, ia bertemu
dengan orang yang mirip dengan Dewa Syiwa dan meminta remotnya untuk
dikembalikan. Tentu saja orang ini terkejut, karena ia hanya seorang pelakon
dalam drama yang memainkan peran sebagai Dewa Syiwa bukan dewa
sungguhan. PK pun mengejarnya dan sampai ke sebuah seminar yang
diceramahi oleh Tapasvi-ji. Tapasvi-ji mengatakan bahwa ia baru saja dari
himalaya dan bertemu Tuhan dan memberikannya sebuah benda yang amat
keramat. Benda itu tak lain adalah remot milik PK. PK pun langsung naik ke atas
panggung dan mencoba meraih benda miliknya. Tapi, Tapasvi-ji langsung
memanggil security dan membuang PK. PK pun berpendapat bahwa Tapasvi-ji
adalah seorang pemuka agama yang banyak membual. PK pun bertemu kembali
dengan Jaggu dan mulai bercerita dari mana sebenarnya ia berasal. Mampukah
PK menemukan Tuhan? Akan jadi lebih baik kalau Anda menonton film ini secara
langsung. Kontroversi Film ini pun menuai banyak kritik. Banyak pihak yang
tersinggung karena film ini memang menyinggung agama. Adegan yang
mungkin membuat beberapa pihak tidak terima adalah ketika PK mendatangi
Tapasvi-ji dan menanyakan tentang agama apa yang dianut oleh lima orang yang
dibawa oleh PK. Kelima orang tersebut memang memakai baju yang identik
dengan Hindu, Katolik, Sikh, Jain, dan Islam. Tapi PK menukar pakaian kelima
orang tersebut dan tidak sama dengan agama masing-masing. Pesan yang
dimaksudkan dalam adegan ini adalah bahwa seorang yang beragama seringkali
terjebak pada pakaian yang dipakai. Hal ini tentu dangkal sekali dalam
memandang agama yang baru sampai pada pakaian belum sampai ke hati.
Bagian lain yang menjadi kontroversi adalah salah satu cover film yang
menayangkan foto Aamir Khan yang nyaris bugil. Ini pun juga menuai banyak
kecaman dari berbagai pihak
Namun, meskipun mendapat banyak kecaman, toh film PK tetap mampu
mencapai box office dan masuk dalam film terlaris di 2014. Tidak saja di India, di
Paskita pun film tersebut mendapat sambutan baik. Meski baru empat hari
tayang di negara tetangga India tersebut, PK telah berhasil meraup pendapatan
sebesar 18 crore atau sekitar Rp36 miliar. Dengan angka tersebut, bukan tidak
mungkin PK akan mengalahkan film terlaris sepanjang masa di Pakistan berjudul
Waar yang meraih pendapatan 22 crore atau sekitar Rp44 miliar. Demikianlah
sebagaimana yang dilansir oleh liputan6.com. Jadi Film yang berdurasi 2,5 jam
ini cukup menarik untuk ditonton bagi saya. Karena kita akan diajak untuk
membuka mata lebih lebar tentang bagaimana sesungguhnya agama
mengajarkan kepada kita. Satu hal yang saya tangkap dari film ini adalah bahwa
dalam sebuah agama seringkali ada orang yang memanfaatkan kelebihannya
dalam mencapai Tuhan (dalam hal ini pemuka agama) memanfaatkan
kelemahan iman orang lain demi meraup pundi-pundi uang. Hal inilah yang
diluruskan dalam film ini bahwa, dalam agama apapun, kita tak perlu pergi ke
seorang pemuka agama untuk menuju Tuhan. Tapi kita sendiri juga bisa secara
langsung menuju Tuhan. Jadi, bagaimana menurut Anda? Tertarik untuk
menonton? Silahkan saja. Film ini cocok untuk dijadikan referensi.

Jakarta, CNN Indonesia -- Film PK muncul sebagai fenomena di peralihan tahun 2014-2015.
Film India yang dibintangi oleh Aamir Khan tersebut menembus angka pendapatan domestik
US$ 54 juta di pekan ke-empat setelah rilis.

Pencapaian tersebut sangat fenomenal untuk sebuah film yang baru saja dirilis. PK diprediksi
masih akan terus tumbuh dan semakin mengalahkan rekor penonton film sebelumnya.

Hingga saat ini, PK telah mengoleksi pendapatan kotor box office sebesar US$ 102 juta dan
terus bertumbuh. Di luar negara asalnya, India, PK sudah mengumpulkan US$ 105 juta dan laris
bak kacang rebus di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Australia.

Di rumahnya sendiri, hanya dalam hari ke-empat, PK berhasi meraup lebih dari US$ 16 juta
kemudian melonjak dua kali lipatnya di hari kesembilan. Tidak berhenti di situ, pada hari ke-17,
karya Rajkumar Hirani ini membawa pulang US$ 48 juta.
PK menggeser rekor film Bollywood box office sebelumnya yang dipegang oleh Dhoom 3 dengan
capaian hanya US$ 85 juta. Film Bollywood yang juga menjadi fenomenal di Indonesia, 3 Idiots,
berada di posisi keempat dengan capaian US$ 62 juta di seluruh dunia.

Pencapaian fantastis film Bollywood ini berbanding terbalik dengan isu dan kritik yang mengiringi
pemutaran film tersebut. Konten cerita yang berupa sosok alien yang mempertanyakan agama
tertentu menuai banyak kecaman.

Film yang rilis di negara asalnya pada 19 Desember lalu tersebut memiliki cerita mengenai
perjalanan sesosok alien ke Bumi. Di Indonesia, film PK masih ditayangkan secara terbatas di
kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makassar.

Lalu, apa saja konten film PK yang disebut-sebut kontroversial? Dilansir dari laman Times of
India, berikut ini 11 hal tentang film PK dan kontroversinya.

1. Sejatinya hak seniman untuk menampilkan realitas sosial telah dilindungi undang-undang
setempat.

Namun sebagian kalangan tetap menganggap tak ada toleransi bagi adegan dalam PK yang
menampilkan seremoni keagamaan tertentu.

Mereka pun membuat petisi yang membuat kobar kontroversi PK kian memanas sampai-sampai
petinggi hukum pun turun tangan.

2. Tidak sedikit pihak yang mengambil keuntungan dari kontroversi PK dan memuat berita
bohong.

Aktor Aamir Khan syok mendapati sejumlah wawancara palsu di internet, dan mengatasnamakan
agama tertentu.

Aamir tak pernah melakukan wawancara itu, kata Anand Desai, Managing Partner of DSK
Legal.

3. Petisi yang menyatakan PK menghina budaya dan praktik keagamaan Hindu dimentahkan
oleh pengadilan tinggi setempat.

Isi petisi tersebut meminta adegan PK yang melukai perasaan umat menyulut sentimen kaum
Hindu dihapus saja.

Petinggi hukum G. Rohini dan R.S. Endlaw menolak mengesahkan petisi dengan dalih tak ada
yang salah dengan konten PK.

4. Anggota Central Board of Film Certification (CBFC) Satish Kalyankar mengaku keberatan
dengan beberapa adegan PK.

Apalagi sejumlah pengikut Shankaracharya Swaroopanand Saraswati dari Dwarak Peeth juga
meminta PK urung ditayangkan.

Namun menurut Kalyankar, tak ada tanggapan apa pun dari sutradara PK maupun jajaran Badan
Sensor.

5. Persoalan PK makin kisruh karena filmnya dibajak sebelum dikenai pajak.

Hal ini tentu saga mempermalukan pihak berwajib, karena merasa kecolongan.

Yang membikin pihak berwajib merasa tertampar, karena politisi Akhilesh Yadav pun mengunduh
versi bajakannya.

6. Sutradara, produser dan aktor PK dikenai pasal 295A peraturan setempat yang menjatuhkan
sanksi bagi penghina agama.

Mereka juga dikenai pasal 153A karena mempromosikan karya atau kata-kata yang
menyinggung SARA.

Reaksi dan protes keras juga dilontarkan kalangan pemeluk Hindu sayap kanan.

7. Siapakah penyandang dana PK? Pertanyaan ini juga menimbulkan kontroversi tersendiri.

Menurut laman Zeenews India, produksi film PK diduga ditunggangi kalangan tertentu, pelaku
pencucian uang.

Rumor yang beredar, film ini hasil patungan Dubai dan India. Kasus pendanaan ini masih
diinvestigasi pihak berwajib setempat.

8. Guru yoga Baba Ramdev menyerukan pemboikotan PK, pada akhir Desember 2014 lalu,
karena PK dianggap menyinggung SARA.

Sebagaimana dilansir laman India Times, Ramdev menilai PK menghina budaya dan agama
Hindu.

Ini sangat memalukan, sebuah sumber mengutip kata-kata Ramdev. Seharusnya mereka
berpikir 100 kali sebelum menghina agama.

9. Organisasi Vishwa Hindu Parishad (VHP) menyatakan, beberapa adegan PK memicu


sentimen agama.
Seharusnya Badan Sensor mengoreksinya, demikin isi surat yang disampaikan VHP kepada
Menteri Informasi dan Penyiaran India.

Di sisi lain, politisi LK Advani menyebut PK sebagai film yang luar biasa dan tak
membahayakan.

10. Sutradara film OMG: Oh My God (2012), Umesh Shukla, tak percaya sineas PK sengaja
membikin keonaran dan kontroversi.

Entah dari mana asalnya rumor tersebut. Tidak masuk akal. Sineas PK tak mungkin melakukan
hal itu, kata Shukla.

Ia beropini, sineas PK tak perlu dipermasalahkan, karena konten PK semata wujud kreativitas.

11. Menurut Aamir, ada seratusan film bertema sama dengan PK. Namun bukan
berarti PK meniru film tersebut.

PK juga disebut-sebut mirip film OMG: Oh My God. Namun Aamir menegaskan hal tersebut
bohong belaka.

Rumor yang menyebutkan sineas PK Rajkumar Hirani dan Vidhu Vinod Chopra menemui Shukla
juga tidak benar adanya.

Review film: PK (Peekay) 8.7/10 IMdB

Hollaaa... Happy New Year. Postingan pertama ditahun 2015, akan membahas soal film
yang belum lama diputar dibioskop aja ya..

Here we go...
Bagaimana jika masing-masing agama di Dunia mengatakan bahwa agama-nya lah yang
paling benar diantara yang lain? Bukan, bukan itu pesannya. Bukan untuk menjawab
mana yang benar dan salah. PK hanya ingin memberitahukan pada kita semua, yakinilah
dengan sungguh-sungguh agama apa yang kamu yakini. Jika kamu sudah yakin dengan
agamamu, mengapa harus mempertanyakannya?

PK? Pernah denger nama judul itu sebelumnya? Kalo kalian penikmat film India, maka
nama itu tidak akan asing lagi bagimu. Sebuah film yang dibintangi oleh actor india yang
tidak diragukan lagi, Amir khan, dan wanita cantik Anushka Sharma ini, sempat menuai
banyak kontroversi. Sebab, dikatakan oleh mereka bahwa film ini menghina agama,
atau menjatuhkan segala aturan agama yang telah ditetapkan.

But, setelah nonton sendiri filmnya. Isinya jauh dari apa yang dibilang sama kebanyakan
orang yang terlalu kritis untuk berkomentar menurut gue.

Lets start the Review:

Di padang pasir yang luas di desa Mandawa, datanglah sebuah pesawat luar angkasa
beserta satu orang penghuninya. Kita biasa menyebutnya dengan sebutan Alien.
Datang ke bumi dengan niat mempelajari apa saja yang biasa manusia lakukan di bumi.
Namun, justru ia tertimpa suatu kemalangan. Kalung yang ia pakai, yang merupakan
remote control untuk memanggil pesawatnya dan kembali pulang, malah di rampok oleh
seseorang yang tidak bertanggung jawab. Alien tersebut yang sama sekali tidak
mengerti bahasa manusia, berusaha untuk menemukannya. Hingga akhirnya ia
menemukan cara untuk mempermudahkannya.

Sedangkan, ditempat lain..

Jaggu (Jaggat janani Anushka Sharma) yang sedang berada di kota Belgia untuk
menjalankan tugasnya sebagai pembawa berita, bertemu dan jatuh cinta pada seorang
Muslim yang bernama Safraz Yusuf. Namun, keluarga Jaggu menolak bahkan tidak
mengizinkan Jaggu untuk dekat dengan Safraz. Ada seorang pemuka agama di Delhi,
Tapasvi, yang memberitahukan, bahwa muslim itu penipu, Safraz akan menipu Jaggu.
Dia tidak sungguh-sungguh mencintai Jaggu dan hanya akan mempermainkannya.
Hingga akhirnya Jaggu geram, karena sang Ayah selalu saja percaya dengan apa yang
dikatakan Tapasvi. Ia ingin menunjukkan bahwa ucapan Tapasvi tersebut tidaklah benar
dengan cara: mengajak Safraz untuk segera menikahinya.
Keesokan harinya, Jaggu menunggu Safraz untuk menikah di sebuah gereja. Namun, ia
mendapatkan surat dari seorang anak kecil yang tidak ia kenal. Yang beratasnamakan
Safraz, bahwa ia tidak dapat menikahi Jaggu karena perbedaan keyakinan, adat, serta
Negara. Jaggu sangatlah kecewa dan patah hati menerima surat itu. Ia pulang ke Delhi
dengan harapan dapat melupakan Safraz.

Ia bekerja sebagai pembawa berita, jika ia tidak mendapatkan berita, makan ia harus
mengarang-ngarang cerita untuk diberitakan. Begitulah system perusahaan tempat ia
bekerja. Dan, ia mulai jenuh dengan semua kepura-puraan yang dilakukan perusahaan
tempatnya bekerja. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan Alien yang tersesat dalam
sebuah kejadian. Dan, Alien itu memperkenalkan namanya adalah PK. Singkatan bahasa
India, Peekay (pemabuk).
Jaggu merasa aneh melihat tingkah laku PK yang sedikit berbeda dari kebanyakan
orang. Dan ia berniat untuk mencari tahu siapa sebenarnya PK. Awalnya Jaggu tidak
percaya kalo PK adalah seorang Alien. Tapi, seiring berjalannya waktu. Bukti-bukti yang
PK lakukan semakin menunjukkan bahwa ia bukan manusia yang berasal dari bumi
seperti yang ia katakana selama ini. Jaggu pun akhirnya membantu PK untuk
menemukan remote controlnya agar dapat kembali ke dimana-ia-berasal.

Sekilas memang terlihat kalau film ini begitu kontroversi. Bukan hanya dari jalan cerita
yang gue buat diatas, melainkan poster final yang dibuat pun menuai banyak
kontroversi. Tapi, jangan hanya menilai buku dari covernya. Jangan hanya menilai film
ini tidak layak hanya dari sekilas sinopsisnya. Endingnya, gak seperti yang dibayangin
orang sebelum nonton filmnya. Gak ada yang namanya saling menjelekkan agama atau
menjatuhkan. Justru film ini memberikan tamparan keras buat beberapa pemuka agama
yang memanfaatkan agama di bidang sosial untuk kepentingan pribadi. Misalnya; jadi
seorang pemuka agama yang tetap mencari sisi komersilnya. Katakanlah komersialisasi
agama. Mengeruk uang dari masyarakat penuh ketakutan maupun keragu-keraguan
untuk kepentingan pribadi dengan dalih agama. Menunjukkan betapa agama kerap kali
disalahgunakan dijadikan sebagai kedok atau tameng demi melegalkan tujuan
tertentu.
Jalan cerita yang gak terlalu rumit, tapi mengajarkan banyak arti didalamnya. Cinta,
persahabatan, dan keyakinan.
Menurut gue salah kalo kalian menilai hanya dari sudut pandang negativenya aja tanpa
melihat sisi positive. Oke, mungkin hal yang menjadi pemicu komentar negative
sebagian orang adalah, karena melibatkan 5 agama yang masing-masing orang
percayai.
Awal cerita kalian bakal disuguhin sama tingkah kocaknya amir khan yang bergaya
seperti mr. bean. Dan, setelahnya film ini akan mulai memainkan emosi kalian. Film ini
cukup menarik buat gue, bener-bener menaik dan turunkan emosi ketika menonton.
Diantara banyaknya komentar miring tentang film PK ini, terdapat banyak pujian.Believe

or not, rating IMdB-nya adalah 8.7/10. Wow, cukup fantastic ya?


Trust me, film ini layak ditonton, terutama untuk kalian yang selalu mempermasalahkan
perbedaan agama. Bukankah, kita bisa hidup saling berdampingan meski ada
perbedaan? Kenapa harus saling usik dan mempermasalahkan soal keyakinan orang
lain?

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS Al Kafirun: 6)

Ada tiga pesan utama film PK:


1. Agama hanya merupakan candu dan pemeluknya merupakan pemabuk (PK). Agama hanya
dibuat untuk memberi manusia harapan. Jika manusia bisa tetap bersikap optimis sebenarnya ia
tak perlu agama.
2. Agama adalah salah satu penyebab terbesar perbedaan, perpecahan dan peperangan.
3. Untuk menjadi manusia yang baik sebenarnya kita tak perlu agama, cukup menjadi jujur dan
rela berkorban untuk menolong orang lain. Jika manusia mau saling tolong menolong, manusia
tak butuh Tuhan.

Terima kasih Taufik Akbar untuk rekomendasi filmnya. Pesan filmnya memang berbahaya. Aku
juga tidak menyangka India bisa membuat film seperti ini.
Ada dua tuhan. Satu yang menciptakan manusia, satunya lagi Tuhan yang
diciptakan manusia. (film PK)

Saya menonton sebuah film India bergenre komedi. Judulnya PK. Saya tidak begitu
hafal dengan aktor film India selain Sharuk Khan dan Aiswarya Rai. Jadi saya tidak
begitu ngeh siapa saja pemain film PK ini. Yang jelas keduanya tidak bermain di film
ini.

Namun cerita yang disajikan sangatlah menarik, membuat saya menertawakan


manusia terutama terkait perilakunya dalam beragama. Bahwa cara-cara kita dalam
beragama selama ini mungkin perlu direnungkan kembali karena ada yang salah
disana.

PK adalah nama sosok alien yang tiba di planet bumi dengan telanjang bulat.
Ceritanya di planetnya, tidak ada yang pakai baju, jadi semuanya telanjang bulat.
Namun, sayang, ketika bertemu dengan manusia, kalungnya yang bercahaya dan itu
adalah remote control untuk memanggil pesawat angkasa luarnya untuk membawa
dirinya pulang, dirampas manusia dan dibawa lari entah ke mana.

Karena ingin pulang ke planetnya, si alien bingung mencari kalungnya itu ke seluruh
tanah India. Setelah tidak lagi telanjang karena mencuri pakaian dari manusia dan
bisa berbahasa manusia, si alien mulai bertualang untuk mencari kalungnya. Semua
manusia yang ditemui ditanyai. Tetapi ia selalu mendapatkan jawaban, Kalau mau
tahu kalungmu yang hilang itu di mana, tanyalah pada Tuhan. Mintalah pada Tuhan,
dan Tuhan pasti akan mengabulkannya.

Maka si alien meyakini betul bahwa ia harus bertemu dengan Tuhan. Asalkan
memohon dengan sepenuh hati, Tuhan akan mengabulkan permintaannya. Tuhan
pun akan mengembalikan kalung yang merupakan remote control untuk memanggil
pesawat luar angkasa agar dia bisa segera pulang.

Mulailah kemudian si alien ini mencari tahu di mana Tuhan berada. Ketika bertanya
kepada orang-orang yang ditemuainya, tentu saja jawaban yang didapat bahwa
Tuhan ada di tempat-tempat ibadah. Si alien menyangka kalau Tuhan itu hanya satu.
Tetapi kemudian ia mendapati kenyataan bahwa ternyata Tuhan itu sangat banyak.
Masing-masing agama punya tuhannya sendiri. Punya tempat ibadah sendiri. Punya
cara memuja sendiri-sendiri. Bahkan satu agama dengan agama lainnya bisa sangat
berbeda dan bertentangan pemahaman dan cara ritualnya. Misalnya, si alien
mengatakan sapi itu di satu agama di sucikan, tetapi kenapa di agama lainnya
dikorbankan. Ini sangat aneh dan membingungkan.

Lalu di manakah si alien itu harus menemukan Tuhan?

Dalam kebingungannya mencari Tuhan inilah si alien sering melakukan tindakan


aneh-aneh. Dan karena keanehan perilakunya ini, ia kemudian dipanggil dengan
nama Pikey. Dalam bahasa India artinya mabuk. Kalau disingkat menjadi PK.

Tentu saja PK tidak sedang mabuk. Dia hanya sedang menjalankan apa yang
disampaikan orang-orang kepadanya untuk bertemu Tuhan. Tetapi karena
kepercayaan manusia terhadap Tuhan melalui agama di bumi ini sangat beraneka
ragam, sikapnya yang polos dan jujur memahami agama justru berujung pada
keanehan prilaku.

Sikap aneh misalnya ketika PK, mengambil kembali uang yang telah dimasukkannya
ke dalam kotak donasi di sebuah tempat ibadah dan kemudian PK diteriaki sebagai
pencuri. PK justru ngotot merasa diri benar karena dia sudah memberi uang kepada
Tuhan, kenapa Tuhan tidak mengembalikan kalungnya?

Kelakuan aneh lainnya adalah ketika ia membawa dua botol anggur ke masjid
setelah mengetahui dari penganut agama Katolik kalau anggur merupakan
persembahan kepada Tuhan. Tentu saja orang Islam yang melihat prilaku si PK
membawa anggur ke masjid, marah dan mengejarnya.

Cerita terus mengalir makin menarik. Setelah PK bertemu dengan seorang reporter
televisi cantik yang juga memiliki sikap yang tidak begitu fanatik dengan agama.
Bahkan si reporter cantik ini memiliki pengalaman buruk soal agama karena gara-
gara beda agama dengan pacarnya, ia dilarang menikah.

Kecewa dengan soal agama dan bertemu PK yang juga kritis mempertanyakan Tuhan
maupun agama, reporter TV itu kemudian menggunakan PK untuk mengkritik
Tapasvi, tokoh agama yang sangat disegani oleh masyarakat karena dianggap
memiliki kebijaksanaan dan pemahaman agama yang sangat tinggi. Bahkan Tapasvi
dielu-elukan mirip manusia setengah dewa.
PK adalah penentang pemikiran-pemikiran Tapasvi dan menganggap bahwa
pemahaman tentang Tuhan yang dipercayai manusia selama ini sering salah.
Manusia misalnya membedakan manusia beragama apa hanya dari pakaiannya saja.
Untuk menguji Tapasvi, PK menyodorkan empat pria dengan balutan pakaian yang
mencerminkan penganut agama tertentu. Dengan enteng Tapasvi menyebut
keyakinan masing-masing orang itu hanya berdasarkan pakaian yang dikenakan.

Tentu saja jawaban Tapaszi salah, karena pakaian yang dipakai empat orang itu
sama sekali tidak menunjukkan agama yang dianut. Itu hanya pakaian.

Pertarungan antara PK dan Tapasvi makin seru karena Tapasvi lah yang selama ini
menyimpang kalung milik PK setelah membelinya dari orang yang dulu merampas
dari PK. Celakanya, Tapasvi selama ini bercerita kepada orang-orang bahwa kalung
itu merupakan serpihan dari gendang milik Dewa Siwa. Tentu saja cerita ini adalah
bohong, karena kalung itu milik PK dan merupakan remote control pesawat luar
angkasa.

Perdebatan digelar di media televisi tempat reporter cantik bekerja setelah Jerry, bos
stasiun televisi itu, juga seorang agnostik. Dia sempat punya masalah dengan
pendukung Tapasvi. Jerry pernah diciderai gara-gara mengkritik Tapasvi.

Salah sambung
Ada idiom menarik yang disampaikan PK soal pemahaman manusia terhadap agama
dan Tuhan. Manusia, kata PK, telah banyak salah menerjemahkan apa yang
dimaksudkan oleh Tuhan. Manusia banyak melakukan tindakan yang justru
bertolak belakang dengan bagaimanakah sesungguhnya agama itu. Tuhan dan
agama menginginkan A, tetapi manusia menerjemahkannya menjadi B.

Ini mirip dengan telepon salah sambung (wrong number). Manusia menghubungi,
berusaha kontak dengan Tuhan, tetapi ternyata manusia salah menekan nomer
telepon. Jelaslah jawaban yang diterima juga tidak seperti apa yang sebenarnya
diwahyukan oleh Tuhan kepada manusia.

Bisa jadi saat merasa sedang menelpon tuhan, manusia sebenarnya hanyalah
sedang menelpon sesuatu yang lain (bukan tuhan). Atau bahkan tanpa sadar
sedang menelpon dirinya sendiri dan karena itu mendapatkan jawaban seperti apa
yang diinginkannya.

Dalam semua agama hal ini terjadi. Dan pelaku salah sambung ini sebagian besar
adalah para pemimpin agama yang mengaku dirinya menjadi pemegang otoritas
tertinggi agama. Salah satu contoh pemahaman akibat salah sambung misalnya
adalah ada yang seorang pemimpin agama yang menyatakan bahwa, Tuhan
menginginkanmu menjadi penganut agama ini, agar engkau kelak masuk surga.

Tentu saja jawaban dari yang kritis adalah, Jika Tuhan menginginkan aku masuk
surga kenapa Tuhan dulu tidak melahirkan saja aku di keluarga yang beragama
seperti yang dikatakan pemimpin agama itu?

Banyak hal yang menjadi bagian dari keyakinan agama adalah akibat dari salah
sambung. Kita mungkin bisa bersepakat bahwa kekerasan dalam agama adalah salah
satu akibat dari salah sambung. Bagaimana mungkin Tuhan dan agama sebagai
sesuatu yang mengedepankan kemanusiaan justru membenarkan adanya kekerasan
terhadap umat manusia.

Agama dan para pemegang otoritas kebenaran agama sering kali salah
menerjemahkan ajaran-ajaran Tuhan bahkan dengan penyimpangannya yang bisa
jadi sangat bertolak belakang.

Lebih jauh, film PK ini menunjukkan bahwa akibat salah sambung inilah
kemudian lahir tuhan lainnya, yakni tuhan yang diciptakan manusia. PK dalam salah
satu adegan ketika melakukan debat dengan Tapasvi mengatakan, Ada dua tuhan.
Satu yang menciptakan manusia, satunya lagi adalah tuhan yang diciptakan
manusia.

Tuhan ciptaan manusialah yang sering menyesatkan manusia, menjauhkan manusia


dari kebenaran Tuhan sesungguhnya.

Lucu
Film PK secara keseluruhan menurut saya sangat menarik. Ia menyajikan kritik
terhadap agama dengan cara membuat kita menertawakan perilaku-perilaku kita
dalam beragama. Perkataan PK membua kita merenung bahkan kadang dibuat sadar
bahwa apa yang kita perbuat dalam beragama bisa jadi sangat konyol.

Ketakutan kita terhadap agama dan tuhan bisa menjadikan kita irasional. Takut
neraka dan menginginkan surga, misalnya justru membuat manusia menjadi sangat
agresif.

Selain itu, betapa ritual-ritual keagamaan demikian irasional dan menggelikan.


Manusia mengabaikan rasionalitasnya demi mengejar sesuatu dengan mengabaikan
hal-hal yang sebenarnya justru lebih penting. Biaya yang besar demi menjalankan
keyakinan kepada agama, sebenarnya bisa digunakan untuk membiayai kemiskinan,
menolong umat manusia yang kesusahan. Bukankah itu jauh lebih penting?

Meski demikian, dalam film PK ini, pentingnya agama juga disajikan karena
fungsinya yang cukup signifikan dalam menolong peradaban manusia. Agama
memberikan manusia harapan, bahwa ada masa depan yang lebih baik di tengah-
tengah penderitaan yang sedang dialaminya.

Agama dan Tuhan meyakinkan manusia untuk tidak mengambil tindakan-tindakan


yang mematikan kemanusiaan misalnya dengan cara bunuh diri saat mengalami
kesulitan hidup.

Film PK ini menarik untuk ditonton. Selain ceritanya, para pemainnya juga sangat
apik memainkan perannya. Tidak banyak ada adegan nyanyi-nyanyi dan joget-joget
seperti layaknya film India. Apalagi ada kejutan soal hubungan si reporter cantik
dengan pacarnya yang dulu hampir menikah tapi gagal karena beda agama.

Saya merekomendasikan anda menontonya. Istri saya sudah nonton berkali-kali,


tetap saja dia masih ingin menonton. [b]

PK (PEEKAY) (2014) : SATIR


TENTANG TUHAN, AGAMA DAN
SALAH SAMBUNG
JANUARI 13, 2015 MATAMU TINGGALKAN KOMENTAR

Tuhan, agama dan salah sambung di ramu dalam komedi


satir dan tidak menggurui.. Pintar, sangat berkelas!!
Satu lagi terobosan terbaru di tahun 2014 dari sutradara yang membuat
mega hit film 3 idiots Rajkumar Hirani, PK atau Peekayyang arti nya
mabuk sebuah film satir komedi yang membawa kegelisahan manusia
terhadap tuhan dan agama nya. mungkin ini sentilan terbaik dari
Rajkumar di tengah problema agama dewasa ini. dibintangi oleh Aamir
Khan dan aktris Anushka Sharma, di dukung oleh Sushant Singh dan
Sanjay Dutt.

Plot bermula dari terdamparnya alien humanoid (Aamir Khan), yang


mendarat di Bumi pada misi penelitian di Rajasthan tetapi terdampar
ketika sebuah liontin di lehernya, dicuri. PK, tidak tahu adat bumi, belajar
untuk menyesuaikan diri antara manusia dengan mengenakan pakaian
dan menggunakan uang yang ia mencuri dari pasangan berhubungan
seks di menari mobil. Ia mencoba untuk belajar untuk berkomunikasi
dengan meraih tangan rakyat dan menyerap kenangan mereka melalui
sentuhan, tapi mereka mengejar dia pergi ketika ia mencoba.

Alien ini dalam perjalanannya ke Delhi untuk mencari remote dicuri.


Karena tingkah lakunya yang aneh, orang-orang di kota menganggap dia
mabuk (mabuk diterjemahkan pee-kay dalam bahasa Hindi) dan
memanggilnya PK. Delhi ternyata menjadi kota yang sangat besar, dan
orang-orang mengatakan kepadanya bahwa hanya Tuhan yang dapat
membantu dia menemukan remote nya. PK mencoba untuk menemukan
Tuhan, tetapi bingung dengan berbagai agama dan tradisi
membingungkan mereka di India.
Sementara itu di Bruges, reporter televisi Jaggu (Anushka Sharma) jatuh
cinta dengan seorang pria bernama Sarfaraz (Sushant Singh Rajput). Ayah
Jaggu ini (Parikesit Sahni) objek untuk hubungan mereka karena Sarfaraz
adalah seorang Muslim dari Pakistan. Dia patah hati di kapel pernikahan
ketika dia menerima surat panggilan dari pernikahan karena perbedaan
mereka. Dia kembali ke India di mana dia tertarik saat menonton PK
membagikan selebaran tentang Tuhan hilang. Setelah mendengar
ceritanya, Jaggu membuat rencana untuk mengekspos Tapasvi dan
memulihkan terpencil PK itu.

Dengan kemampuan PK, Jaggu mendorong ribuan orang untuk


mengirimkan video dari pengalaman mereka sendiri dengan kepala
agama memanggil Salah Sambung. Akhirnya, seorang pemuka agama
Tapasvi dipaksa untuk datang ke studio dan menghadapi PK on-air. Tapasvi
mengklaim ia memiliki hubungan langsung dengan Tuhan dan mengacu
pada prediksi pengkhianatan Sarfaraz sebagai bukti. Namun, PK
menyerap kenangan Jaggu dan menemukan bahwa Sarfaraz tidak menulis
surat yang ia terima. Jaggu kontak Kedutaan Besar Pakistan di Belgia di
mana Sarfaraz bekerja paruh waktu; kedutaan mengatakan kepadanya
bahwa Sarfaraz masih mencintainya dan menyebut mereka setiap hari
untuk menanyakan apakah ia telah disebut. Jaggu dan Sarfaraz
menyambung kembali dan Tapasvi, terungkap sebagai penipuan, dipaksa
untuk kembali perangkat PK itu.
Dalam perjalanan film, PK jatuh cinta dengan Jaggu tetapi menahan diri
dari mengatakan karena dia mencintai Sarfaraz. Dia malah mencatat
rekaman suaranya dan mengisi koper dengan baterai sehingga ia bisa
mendengarkan kaset di planet rumahnya. Sementara berangkat, dia
berbohong kepada Jaggu mengenai isi dari kaset; Jaggu, meskipun tahu
kebenaran, terus tenang. Dia kemudian menerbitkan sebuah buku tentang
PK dan, pada buku bacaan, mengklaim bahwa dia merindukan dia sangat.

Film yang sangat kuat dengan pesan moril dan sosial serta mudah di
cerna dengan logika membuat film ini begitu mudah di nikmati. Diskusi
tentang ketuhanan dan agama sangat simple namun dalam makna nya.
kemampuan Rajkumar dalam mengemas tema yang berat kedalam
sebuah cerita yang ringan namun bermakna sangat kuat di film 3 Idiot
tapi di film PK ini makin terlihat kental. seperti kita menikmati roti cane
dengan kare nya, ringan namun kental dan terasa di lidah.

Permainan watak Aamir Khan terlihat begitu kuat namun terasa dia
seperti berusaha sangat keras untuk bisa tidak seperti karakter Nano-
Nano nya Robin Williams almarhum, hingga kadang sangat terasa untuk
tidak seperti itu tapi sangat mirip, bentuk badan nya juga mungkin agak
mengganggu yang mana kita ga pernah berpikir seorang alien itu
mempunyai bentuk perut sixpack yang rapih.

Kemunculan Anushka disini menyegarkan dengan berbagai segi namun


tetap tidak sangat kuat mendampingi Aamir Khan yang memang sangat
menguasai karakternya, namun kemunculan Sanjay Dutt adalah hal yang
jarang terjadi salah satu aktor Action india yang begitu disegani pada
jaman nya.

Positifnya film ini adalah begitu mudahnya makna dan hal-hal yang terjadi
di sekitar kita di hubungkan dengan fakta-fakta tentang ketuhanan dan
agama seperti salah sambung dan pembentukan cap dalam agama. sekali
lagi sangat berkelas.

Kita tidak akan rugi menonton film ini mungkin akan menjadi film yang
bisa menjadi salah satu koleksi film di kemudian hari seperti 3 Idiots. [6
jempol]

ya tidak pernah terpikir sebelumnya untuk menonton film India ini. Seorang teman bercanda
dan menebak jangan-jangan Peekay (PK) sama dengan penjahat kelamin yang
kebanyakan terkenal di Indonesia. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menonton film
itu, selain karena membaca beberapa testimony teman-teman di social media yang bilang
kalau film ini keren banget dengan pesan yang kuat. Mmm, so why not?

Untuk sebuah film drama komedi, film berdurasi 153 menit yang disutradarai oleh Rajkumar
Hirani, yang juga menyutradarai film India yang pernah populer sebelumnya, Three Idiots,
bisa dibilang menampar kita dalam setiap adegannya, bahkan sejak awal, dimana manusia di
bumi (tentu tidak semuanya) ditunjukkan sebagai makhluk dengan perilaku picik dan jahat.
Film ini sebenarnya lebih fokus pada kehidupan dan perilaku manusia sehari-hari, dan
terlebih film ini menohok agama dan para manajer Tuhan dari berbagai sisi. Menariknya,
semua ini dikemas apik dalam balutan cerita yang diselingi flashback kisah Tipsy, si tokoh
utama yang mencari sosok bernama Tuhan sebagai jalan untuk kembali pulang.

PK membawa pesan dalam lain yang disimpulkan Jaggu, wartawan perempuan yang juga
tokoh utama film ini, bahwa Tipsy belajar berbohong dari manusia dan mengajarkan cinta,
kasih dan peduli kepada manusia. Kecerdasan, daya kritis, jika bukan kepolosan Tipsy si
makhluk dari planet lain telah membuat penonton tidak hanya terhibur, tapi juga berpikir
tentang diri dan apa yang dipercayainya sebagai agama, serta bagaimana manusia memahami
hal tersebut dalam berhubungan dengan orang lain. Yang paling menohok dari PK adalah soal
para humas Tuhan yang sering menggunakan agama sebagai komoditas ekonomi dan
politik, membalut perbedaan, ketakutan dalam fatwa atas nama Tuhan (yang mereka ciptakan
sendiri) dan demi kepentingan mereka sendiri. Ini juga ditunjukkan dengan gamblang dalam
film PK, dimana manusia dengan mudah akan percaya dan tunduk, jika bukan takut pada para
humas Tuhan. Mereka juga tidak sungkan meminta nasihat pun yang paling tidak masuk
akal sekalipun, serta memberikan donasi demi memenuhi nafsu kuasa para manajer Tuhan
ini. P.k. menyodorkan realita miris tentang kita, agama, para manajer Tuhan dan bagaimana
kita berelasi satu sama lain dalam kotak-kotak yang sudah diciptakan para humas Tuhan
tersebut. P.k. juga menampar kita sangat keras, ketika melihat betapa mudahnya agama
menjadi sumber uang, sementara kerja keras nyata tidak mendapatkan penghargaan yang
memadai. Manusia bahkan mau berkorban untuk sesuatu yang jelas-jelas diciptakan manusia
lain, dan bahkan mudah dibutakan dan malah mengabaikan hakikat diri sebenarnya, individu
yang bebas dan memiliki pilihan dan kemampuan untuk berpikir serta mengekspresikan diri.
Makhluk sosial yang seharusnya juga peduli dengan lingkungannya.

Para humas Tuhan dengan tepat digambarkan dalam PK sebagai sumber informasi yang
salah sambung atau kerap menyesatkan lewat pesan-pesan ketakutan atas nama agama dan
Tuhan, yang diciptakan untuk meraup kepentingan mereka pribadi dan menyerang
keberagaman. Lebih parahnya lagi, para manajer Tuhan bisa sebegitu berpengaruhnya
dalam ranah kehidupan pribadi para pengikutnya, termasuk urusan percintaan. Mereka juga
dengan mudah mengklaim dan menjual agama dan Tuhan (yang sosoknya mereka ciptakan
sendiri) dengan balutan ketakutan, kemurkaan, kebencian, perbedaan, yang sama sekali jauh
dari pesan universal soal kasih sayang dan saling menghargai yang diajarkan oleh agama
maupun kepercayaan manapun di dunia ini. Dalih-dalih merawat ajaran Tuhan, mereka
memanfaatkan agama dan Tuhan sebagai komoditas yang mudah dan murah untuk
kepentingan mereka sendiri. Di sisi lain, menjadi pengorbanan dan ibadah yang sulit, tidak
masuk akal, dan sangat mahal untuk para pengikut yang setia, takut, dan mudah percaya pada
fatwa sang humas Tuhan. Toh pada akhirnya, selalu ada saat dimana orang akan tertampar
dan sadar bahwa para manajer Tuhan ini sudah keterlaluan mempermainkan pengikutnya.
Di situlah titik dimana bahkan dalam ritual beragama dan berkepercayaan pun, manusia,
bahkan pengikut yang paling taat sekalipun sadar dan berani untuk mempertanyakan wrong
number yang kerap disuarakan oleh para manajer Tuhan selama ini.

Untuk ukuran sebuah film, PK melampaui lebih dari ekspresi kebebasan, baik dari sisi seni,
tapi juga kebebasan menyodorkan ide lewat balutan film yang tidak hanya indah dari sisi
setting baik di Belgia dan India, namun dari sisi pesan yang dibawa soal budaya, perilaku,
agama, dan keseharian kita. Ya, PK adalah kita. Menarik dan sangat melegakan untuk tahu
bahwa film seperti ini bisa ditayangkan di bioskop di Indonesia. Dan memang pesan
audiovisual lewat film bisa demikian kuat dan sangat menggugah kita untuk berpikir kritis
mengenai kebebasan kita sebagai manusia. Mendorong kita untuk tidak terpatri dan mudah
percaya pada fatwa para manajer Tuhan, serta membuat kita untuk mau mengambil resiko
dan percaya pada pilihan terbaik yang kita pertimbangkan sedemikian rupa. Pada akhirnya,
hidup adalah pilihan, seperti salah satu line yang Tipsy sampaikan saat ditantang
berargumentasi di tv nasional oleh salah satu manajer Tuhan yang terkemuka. Tipsy
mengatakan dengan tenang dan lugas bahwa tidak masalah bahwa kita percaya agama dan
Tuhan untuk membawa damai dalam hidup kita, selama kita tidak memaksakan itu kepada
orang lain.

Kontroversial sekaligus menghibur dengan pesan yang mendalam, soal Tuhan yang ada dua.
Yang menciptakan kita dan yang diciptakan para manajer Tuhan dengan interpretasinya dan
demi kepentingannya sendiri. Itulah kesan saya ketika menonton PK. Mungkin ada di antara
kita yang sudah biasa dan paham mengenai hal ini, tapi mungkin banyak juga yang tidak,
apalagi ketika menumpahkannya dalam bentuk film seperti PK. Saya salut dengan sutradara,
produser, para pemain, dan awak film PK. Terima kasih juga kepada Lembaga Sensor Film
yang meloloskan PK untuk konsumsi berpikir kita. Tidak hanya untuk film yang menghibur,
tapi juga mendidik, kritis dan berkesan mendalam. Kita perlu lebih banyak kreativitas seperti
yang disuguhkan dalam PK untuk mempromosikan ide-ide kebebasan dan menyadarkan
banyak orang yang masih terlena dan terkungkung pada para manajer Tuhan dan pesan
salah sambungnya.

Kalo tidak salah, pada pertengahan januari, saya pernah diminta bantuan oleh
teman saya tercinta Angga Suanggana Yusuf Muhammad
(https://www.facebook.com/AnggaSuangganaSH) untuk membuat resensi film
yang dibintangi oleh Aamir Khan. Yang pertama berjudul 3 Idiots dan telah
berhasil saya resensikan. Yang kedua berjudul PeeKay ini. Film Komedi Satir Para
Pencari Tuhan ala India
Jujur waktu itu saya tidak tahu film apa itu PeeKay. Bahkan dari judulnya yang PK
saya lebih mengasumsikan bahwa film ini mungkin berkaitan dengan Penjahat
Kelamin. Akronim yang lazim digunakan untuk kata PK. Bahkan karena
penasaran, saya bela2in beli DVD nya. Maafkan saya karena membeli DVD
Bajakan ;p. Dan karena bajakan pula, teksnya sangat amburadul sehingga saya
agak sulit memahami sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh pembuat film
ini kepada penontonnya. Selama masa hibernasi internet yang seperti saya
ceritakan kemarin, saya mendapatkan film PeeKay dari salah seorang teman. Dia
download dari salah satu situs penyedia film2. Saya tahu perbuatan ini juga tidak
lebih bagus dari membeli DVD bajakan. Namun apalah daya saya, seorang
manusia biasa ;p (ngeles cyiiin). Nah, film yang diberi teman saya ini, teksnya
agak mendingan sehingga saya lebih bisa memahami maksud sebenarnya dari
film ini. ************************************* And The Story Begin............
Cerita dibuka dengan kisah yang imajinatif sang Narator yang berandai-andai,
bagaimana jika, ternyata keberadaan kita sebagai mahkluk hidup di alam
semesta ini adalah bukan satu2nya. Bagaimana jika, di luar sana, ada planet lain
selain bumi yang juga memiliki penghuni. Yang hidup dan bernafas seperti kita.
Bagaimana jika, mereka - para mahkluk hidup - dari planet lain itu, memiliki
ketertarikan yang sama seperti kita untuk mengeksplorasi seluruh alam
semesta. Jika kita tertarik untuk menyelidiki apakah ada kehidupan lain di bulan,
bukankah tidak mungkin, mereka, datang ke bumi, untuk melakukan hal yang
sama. Kisah dilanjutkan dengan kedatangan alien yang jika selama ini - oleh para
sineas hollywood - mereka digambarkan sebagai PK (PeeKay) Komedi Satir Para
Pencari Tuhan ala India
mahkluk dengan bentuk yang sangat jelek, maka sineas bollywood yang satu ini
menggambarkan alien adalah mahkluk yang memiliki bentuk tubuh yang sama
persis dengan manusia yang ada di bumi. Bedanya hanyalah mereka tidak
membutuhkan kain untuk membungkus tubuh. Mereka tidak butuh bahasa untuk
berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya. Dan mereka, memiliki alat
semacam transpotter yang berfungsi untuk memberikan sinyal tentang lokasi
keberadaan mereka kepada kendaraan transportasi yang akan menjemput
mereka. Salah satu alien itu (diperankan oleh Aamir Khan) datang ke bumi
dengan membawa misi untuk menyelidiki seperti apa mahluk hidup yang ada di
bumi ini. Pelajaran pertama yang ia dapatkan adalah, alat transpotternya dicuri.
Dia tidak sempat berpikir mengenai tindakan tercela yang baru dilakukan mahluk
asing itu. Yang ada dipikirannya hanyalah, bagaimana cara mendapatkan
kembali transpotter itu. Jika tidak, dia tidak akan pernah bisa pulang ke
planetnya kembali karena dia tidak bisa mengirimkan sinyal mengenai posisi
keberadaannya. Dalam pencarian dan upayanya untuk menyesuaikan diri
dengan mahkluk yang bernama manusia, dia mencoba beradaptasi. Dari mulai
cara berbusana, alat penukar barang (atau yang lazim dikenal dengan uang)
hingga bahasa. Dalam salah satu kejadian kecelakaan yang menimpa dirinya,
dimana dia ditabrak oleh mobil yang mengangkut rombongan pemusik India, dia
akhirnya terdampar pada komunitas tersebut. Pemimpin rombongan itu bernama
Bhairon Singh (diperankan oleh Sanjay Dutt). Bhairon menganggap
ketidakmampuan Aamir Khan (yang tidak diketahui bahwa dia sebenarnya
adalah alien) dalam bersuara diakibatkan karena amnesia akibat kecelakaan
yang disebabkan olehnya. Dilain pihak, Aamir Khan beranggapan, satu2nya cara
agar dia belajar bahasa manusia adalah dengan menggenggam tangan sang
manusia. Cara itu dilakukan untuk tahu tentang apa yang mereka pikirkan dan
bahasa yang mereka gunakan. Maka mulailah Aamir Khan berburu tangan
manusia untuk disentuh. Di lain pihak, Bhairon beranggapan bahwa Aamir Khan
melakukan tindakan yang mengarah kepada pelampiasan nafsu seksualnya.
Perbedaan pemahaman inilah termasuk salah satu yang menimbulkan kelucuan
pada film ini. 1/20/2016 PK (PeeKay) Komedi Satir Para Pencari Tuhan ala India
Sebuah Resensi Film KOMPASIANA.com http://www.kompasiana.com/devika/pk-
peekaykomedisatirparapencarituhanalaindiasebuahresensi-
film_553b394e6ea8347c3fda42ea 5/22 Pada satu kesempatan, akhirnya Bhairon
membawa Aamir Khan ke sebuah lokalisasi agar Aamir Khan bisa menyalurkan
hasrat seksualnya. Dipilihlah seorang wanita malam untuk menemani Aamir
Khan hingga pagi. Dari tangan wanita itu, Aamir Khan mentransfer semua
kemampuan berbahasa yang dimiliki hingga dia bisa berbahasa India secara
fasih. Setelah kendala bahasa sebagai alat komunikasi telah teratasi, Aamir Khan
menyampaikan masalah mengenai transpotter miliknya yang hilang dicuri.
Bhairon mengatakan bahwa mungkin saja pencuri itu adalah salah satu dari
penduduk setempat. Namun barang curiannya pasti telah ada di New Delhi.
Berbekal keterangan itu, berangkatlah Aamir Khan menuju Delhi dalam upaya
pencariannya menemukan transpotternya. Di New Delhi, ketika dia menanyakan
ke semua orang, apakah mereka mengetahui dimana keberadaan transpotter
miliknya, mereka semua kompak menjawab bahwa "hanya Tuhan yang tahu".
Pencarian Aamir Khan berubah. Dia beranggapan, jika dia ingin menemukan
transpotternya, maka dia harus menemukan Tuhan terlebih dahulu untuk dia
tanya dimana Transpotternya berada. Di Belahan bumi lain, ada seorang wanita
India bernama Jaggu (diperankan oleh Anushka Sharma) yang jatuh cinta kepada
seorang pria Pakistan bernama Sarfaraz (diperankan oleh Sushant Singh Rajput).
Namun hubungan itu ditentang oleh sang ayah yang bernama Jayprakash Sahni
(diperankan oleh Parikesit Sahni) karena perbedaan agama. Jaggu dan
keluarganya beragama Hindu sementara Sarfaraz adalah seorang muslim. Jaggu
tidak menghiraukan keberatan sang ayah dan bertindak nekat dengan mengajak
menikah Sarfaraz di gereja. Namun hingga saat yang dinanti tiba, ketika Jaggu
telah menggunakan busana pengantin, yang datang malah sepucuk surat tanpa
nama yang menyampaikan bahwa pernikahan mereka tidak bisa dilangsungkan
dan meminta untuk tidak saling berkomunikasi lagi. Dalam kondisi hati yang
hancur, Jaggu memutuskan untuk kembali ke India. Di New Delhi dia bekerja
sebagai seorang wartawan yang telah kehabisan berita menarik untuk
ditayangkan. Pada salah satu kesempatan, dia bertemu Aamir Khan 1/20/2016
PK (PeeKay) Komedi Satir Para Pencari Tuhan ala India Sebuah Resensi Film
KOMPASIANA.com http://www.kompasiana.com/devika/pkpeekaykomedisatirpara-
pencarituhanalaindiasebuahresensifilm_553b394e6ea8347c3fda42ea 6/22 yang
telah mendapat julukan dari orang2sebagai PeeKay/ PK (dlm bahasa India artinya
mabuk) karena tingkah lucu dan aneh yang dilakukannya. Awalnya tingkah lucu
dan aneh yang dilakukan PeeKay dalam upayanya mencari Tuhan, membuat
Jaggu terinspirasi untuk mengangkatnya sebagai salah satu bahan berita. Namun
ketika PeeKay bercerita tentang siapa dirinya yang sebenarnya, apa yang
dilakukannya di bumi dan bagaimana dia kehilangan transpotternya, Jaggu
menjadi tidak percaya kepadanya dan beranggapan bahwa PeeKay hanyalah
salah satu orang India yang gila karena berimajinasi terlalu tinggi. Tak putus asa,
PeeKay berusaha membuktikan bahwa apa yang dia sampaikan adalah
kenyataan yang sesungguhnya. Melalui beberapa kejadian akhirnya Jaggu
percaya pada apa yang dikatakan PeeKay. Jaggu pada akhirnya bersedia
membantu PeeKay menemukan apa yang dia cari. Berdua mereka mencari
barang berharga milik PeeKay yang hilang. Bagaimana kisah selengkapnya?
Saya sarankan anda untuk menontonnya sendiri. Persiapkan diri anda untuk
menghadapi berbagai pertanyaan yang remeh namun sulit untuk dijawab. Anda
harus bersiap menghadapi goncangan iman dan pengetahuan dari apa yang
selama ini anda yakini soal agama, dari pertanyaan2sederhana yang dilontarkan
PeeKay. ************************************************ 3 Idiot Versus PeeKay
Tidak salah rasanya jika teman saya, angga suanggana meminta untuk
meresensi film ini dalam satu waktu. Karena selain film ini diproduseri (Vidhu
Vinod Chopra) dan disutradarai (Rajkumar Hirani) serta ditulis (Hirani dan Abhijat
Joshi) oleh orang yang sama dengan film 3 idiots juga salah satu pemain
utamanya (Aamir Khan), kembali bermain dalam film itu. Mereka 1/20/2016 PK
(PeeKay) Komedi Satir Para Pencari Tuhan ala India Sebuah Resensi Film
KOMPASIANA.com http://www.kompasiana.com/devika/pkpeekaykomedisatirpara-
pencarituhanalaindiasebuahresensifilm_553b394e6ea8347c3fda42ea 7/22
seakan memiliki ikatan emosional untuk selalu bekerja bersama. Genre film yang
diangkat juga masih komedi satir, namun dengan tema yang berbeda. Jika 3
Idiots tema yang diangkat adalah masalah pendidikan di India, maka PK
mengangkat tema masalah ke Tuhan an di India pula. Tema yang diangkat
sesungguhnya adalah tema yang sangat peka untuk di bahas. Baik itu 3 Idiots
maupun PK. Yang saya suka dari kedua film itu adalah, persoalan cinta tidak
diangkat menjadi faktor utama sebuah film. Atau sebaliknya, mereka tetap bisa
meramu persoalan cinta di dalam cerita dengan baik diantara permasalah utama
yang ingin diangkat dalam kedua film itu. Sehingga kisah percintaan yang
terdapat di dalamnya menjadi tidak picisan. Apalagi hanya menonjolkan
seksualitas semata. Secara keseluruhan saya tidak bisa mengatakan dari kedua
film itu mana yang lebih baik untuk ditonton karena keduanya sama2bagus.
Namun secara bobot tema yang diangkat, menurut saya film PeeKay lebih berat.
Hal ini pula yang menyebabkan saya baru mudeng dengan film ini setelah
menonton untuk yang kedua kalinya. Saya baru bisa menikmati kelucuannya,
alurnya, memahami dialog2dalam film bukan pada tontonan yang pertama
kalinya. Yang pasti, keduanya adalah very recommended Indian movie ever wink
emotikon Para Pencari Tuhan Ala India; Seperti film 3 Idiots, jalan cerita yang
sederhana masih merupakan kekuatan dari film ini. Alurnya juga masih
menggunakan alur maju mundur dan narasi pada bagian awal dan akhir cerita.
Jalan cerita boleh biasa, namun isi cerita selalu yang luar biasa. Jika di Indonesia
ada sinetron besutan sutradara Deddy Mizwar dengan judul "Para Pencari
Tuhan", maka di India juga 1/20/2016 PK (PeeKay) Komedi Satir Para Pencari
Tuhan ala India
Persoalan Mencari Tuhan atau agama masih selalu menjadi topik yang menarik
untuk dibahas. India sendiri memang dikenal sebagai sebuah negara yang
memiliki agama dan kepercayaan paling banyak dibandingkan dengan
negara2manapun di dunia. Di Negara tersebut antara agama dan kepercayaan
saling hidup berdampingan dan tumpang tindih. Mayoritas penduduk di India
beragama Hindu 80.46%, Islam 13.49%, Kristen 2.34%, Sikh 1.87%, dan sisanya
Buddha 0.71%, Jain 0.41%, dan sisanya menganut agama Yahudi,
Zoroastrianism, Kepercayaan Bahai dan juga Komunis (sumber Wikipedia) Salah
satu bukti tumpang tindihnya agama dan kepercayaan di negara itu, hal itu
tampak dari adegan Jaggu (yang beragama Hindu) yang ingin menikah dengan
Sarfaraz (seorang Muslim) di Gereja. Dan meskipun setting adegan itu di Belgia,
menurut saya tetap hal itu menjadi sebuah keanehan. Mungkin kita bisa berkata
bahwa penikahan itu adalah salah satu bentuk pemberontakan yang ingin
dilakukan Jaggu terhadap orang tuanya sehingga dia tidak terlalu mementingkan
persoalan agama dengan dia akan menikah dimana, yang penting menikah. Tapi
bagaimana dengan Sarfaraz. Apa yang dia pikirkan ketika kekasihnya mengajak
menikah di gereja. Jika di Belgia tidak ada kuil, paling tidak saya yakin di Belgia
ada masjid. Mengapa mereka tidak menikah di masjid saja? Mengapa dia justru
menyetujui rencana Jaggu untuk menikah di Gereja? saya memandangnya dari
segi pemahaman agama sang pembuat film. Bagaimana ia dengan mudah
mencampur-adukkan agama dalam adegan filmnya? Tak heran, salah satu konflik
yang paling banyak terjadi adalah soal agama.
Bahkan dalam salah satu dialognya, bos Jaggu berkata bahwa " Sejak itu aku
putuskan, jika aku ingin hidup di negeri ini, maka jangan main2dengan agama.
Itu saja". Kalimat itu tentu saja merupakan representasi dari keadaan India yang
sesungguhnya tentang bagaimana persoalan agama seringkali menjadi alasan
untuk bertikai. Saya yakin anda semua telah mengetahui bagaimana konflik
antara Hindu dan Muslim ada dan berakar dari dulu hingga sekarang. Banyak
film India yang juga mengangkat tema tentang perseteruan Hindu dan Muslim
seperti dalam film Slumdog Millionaire. Dalam film ini sangat jelas digambarkan
mengenai kritikan keras terhadap agama dan kepercayaan melalui pertanyaan2
lugu ala anak2berusia belum akil balik. Alih2menggunakan anak kecil untuk
bertanya, sang sutradara justru lebih suka menggunakan alien dewasa yang
menanyakan itu kepada manusia. Pertanyaan super sensitif yang apabila tidak
diramu sedemikian rupa oleh sang sutradara, maka saya yakin film ini tidak akan
dinobatkan menjadi film India paling sukses sepanjang masa, dengan peringkat
ke-66 tertinggi dalam film terlaris tahun 2014 di seluruh dunia. Bahkan banyak
situs perdagangan internasional dan India telah melaporkan bahwa PK adalah
film India pertama yang mendapatkan US $ 100 juta (Rs 630 crore) di seluruh
dunia. Disitulah saya merasakan kehebatan kolaborasi antara penulis, pemain,
sutradara dan produsernya. Jika tidak ada kerjasama yang sangat ciamik, sulit
film dengan tema seperti itu bisa berhasil dirampungkan. Kehebatan penulisnya,
saya rasa terletak pada kepandaiannya mengolah kata sehingga tidak masuk
kedalam justifikasi salah satu agama. Penulisnya benar2menempatkan diri
sebagai sosok yang sangat netral dan berada di tengah. Berbagai macam ritual
agama dan kepercayaan yang ditampilkan, digambarkan secara proporsional.
Tidak ada salah satu agama yang mendapatkan porsi lebih. Pun demikian,
semua mendapatkan porsi pertanyaan yang sama dari PeeKay.
Bahkan ketika semua perdebatan tentang agama itu mengerucut pada agama
Hindu dan Islam seperti yang paling banyak terjadi, Sang Penulis juga tidak
menjustifikasi bahwa yang benar adalah agama Hindu dan yang salah adalah
agama Islam maupun sebaliknya. Kenetralan itu juga tampak dengan
dimasukkannya adegan pengeboman yang dilakukan oleh beberapa orang
penganut Islam radikal seperti yang selalu mereka (para penganut Islam Radikal)
lakukan. Sang Penulis tidak menutup mata bahwa ada orang2yang meyakini
agamanya hingga melakukan hal yang cela tersebut. Namun bukan berarti hal
itu lantas membuat agama Islam menjadi salah dan agama Hindu menjadi benar.
Kehebatan sang sutradara terletak pada pengambilan gambar dengan
angle2yang menarik dan mampu merangkum ratusan adegan sensitif menjadi
sesuatu yang layak tonton. Tidak luput juga kehebatan Aamir Khan dalam
mendalami salah satu sosok alien yang konsisten melakukan tindakan lucu dan
lugu tanpa tertawa. Yang utama tentu saja sang produser. Saya yakin dia
menggelontorkan dana yang tidak sedikit demi sebuah idealisme dengan
tantangan bahwa film itu akan dilarang edar. Itu artinya dia siap menanggung
kerugian total yang sangat besar jika film itu tidak boleh ditayangkan.
Pesan akhir yang diberikan kepada penonton mengenai persoalan agama itu
adalah, sang pembuat film melalui representasi sosok PeeKay menyampaikan
bahwa, Tuhan itu ada 2. Yang satu Pencipta Alam Semesta, Dia yang memiliki
sifat Ke-Esa-an, yang tidak perlu dilindungi dan cukup diyakini oleh siapa saja
yang ingin meyakini. Yang lainnya adalah Tuhan ciptaan manusia. Dia yang
butuh disanjung, dilindungi oleh pengikutnya dan butuh untuk disebarkan. Saya
katakan tolong jangan diterima mentah2ucapan itu tanpa ditelaah. Karena jika
kita menelan mentah2apa yang disampaikan diatas, maka kita akan segera
menghujat dan melakukan serangkaian upaya agar film itu tidak ditonton lainnya
karena menyebarkan paham sesat. Karena jika kita bisa mencerna dengan baik,
maka kita akan tahu bahwa sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan oleh
pembuat film ini adalah bahwa, seringkali kita terjebak kepada taqlid buta atau
pemahaman yang keliru terhadap agama yang kita yakini. Lebih parahnya lagi,
sering tanpa kita sadari kita telah melakukan kodifikasi agama atau perdagangan
dengan mengatas-namakan agama. Sebuah tindakan yang bahkan tidak
dianjurkan oleh Tuhan manapun di dunia ini.
Saya belum sepenuhnya yakin, apakah sang sutradara dan sang produser
bermaksud untuk mengkritik keras permasalahan itu khusus untuk masyarakat
dan pemerintah India saja, atau sebenarnya mereka menujukan kritikan itu
kepada seluruh penonton di seluruh dunia, karena sesungguhnya masalah yang
mereka angkat sangat relevan untuk ditujukan kepada masyarakat dan
pemerintah dimana saja termasuk di Indonesia. Kenapa saya sampaikan bahwa
topik itu sangat relevan di Indonesia? karena sebagai sebuah negara yang
sangat luas, dengan keragaman budaya dan agama yang ada, permasalahan
yang diangkat juga merupakan masalah yang terjadi di Indonesia pula. Menurut
hasil sensus tahun 2010, 87,18% dari 237.641.326 penduduk Indonesia adalah
pemeluk Islam, 6,96% Protestan, 2,9% Katolik, 1,69% Hindu, 0,72% Buddha,
0,05% Kong Hu Cu, 0,13% agama lainnya, dan 0,38% tidak terjawab atau tidak
ditanyakan (sumber Wikipedia)
Pesan yang disampaikan juga sangat mengena. Berapa banyak kodifikasi atau
perdagangan atas nama agama yang dilakukan di Indonesia? Fenomena ustad
gaul yang tidak mencerminkan kehidupan pribadinya sesuai dengan apa yang
disampaikan dalam forum dakwahnya. Belum lagi ustad kontroversial yang
mengeluarkan fatwa2yang mengundang kontroversi namun ujung2nya memiliki
merk clothing line dengan namanya. Juga masa menjelang perayaan hari besar
agama tertentu, banyak sekali dijual pernak-perniknya di mall2, bahkan hingga
meminta pegawai yang beragama berbeda untuk menggunakan atribut agama
yang berbeda. Yang paling baru tentu saja seorang artis yang karena mengisi
sebuah acara keagamaan di televisi langsung mendapat predikat ustadzah dan
membungkus bayinya yang berusia 2 hari dengan jilbab. Dengan dalih
menangkap peluang ia membuat clothing line jilbab baby. Dengan busana syar'ie
ia menjadikan dirinya sebagai model berjalan untuk clothing baju dengan
namanya. Dengan tindakan seorang ukhti dia menyerukan untuk mengikuti islam
secara kaffah dari al-quran dan hadist namun melakukan foto prewedding,
menikah dengan mewah, melakukan sesi foto ibu hamil, melahirkan di rumah
sakit dengan fasilitas setara hotel bintang lima. Sungguh saya sering
dibingungkan dengan fenomena seperti ini. Karena sepertinya tidak ada
sinkronisasi antara apa yang dia sampaikan dengan apa yang dia kerjakan.
Semua sekarang hanya masalah bisnis, bisnis dan bisnis. Sulit sekali di tahun
2015 ini menemukan sesuatu yang dilakukan secara tulus tanpa ada
embel2bisnis di dalamnya. Apalagi jika suatu ajaran itu telah masuk ke dalam
wadah yang namanya media. Utamanya media televisi. Semuanya bisa dipoles
menjadi seperti keinginan sang pemilik modal. Jadi pertanyaannya sekarang
yang saya ajukan kepada anda, Tuhan mana yang kalian yakini?
Si PK (2014) lagi booming diperbincangkan, tuh. Itu, film India besutan sutradara Rajkumar Hirani yang pernah
bikin film bernuansa komedi satir yang sarat kritik sosial juga, 3 Idiots (2009). Kalau film yang kemarin temanya
mengkritik sistem pendidikan, kali ini film PK hadir untuk mengganggu kemapanan berpikir kebanyakan
manusia soal agama dan ketuhanan. Filosofis banget, sih. Tapi, untuk sebagian orang yang sudah terbiasa
dengan isu liberalisme dan pluralisme, bahkan mungkin telah meninggalkannya karena sudah tidak ambil pusing
atau mungkin tercerahkan, film ini terasa menghadirkan ide yang usang saja. Meskipun begitu, tampaknya oleh
sebagian lainnya, ide dalam film ini tetap asyik untuk digali. Konon saya dengar, bahkan sampai ada yang mau
bikin bedah filmnya.

Si PK

PK itu adalah julukan yang kemudian diberikan kepada sesosok alien berbentuk manusia (diperankan oleh Aamir
Khan). Ia turun ke bumi untuk melakukan sebuah misi, namun ia kehilangan remote untuk ia dapat kembali ke
planetnya di angkasa. Remote itu diambil oleh seorang pencuri. Perjalanan ia mencari remote yang hilang itu
membawa dirinya kepada petualangan demi petualangan dalam dunia manusia di bumi. Itu memberikannya
banyak sekali pelajaran dan pemahaman tentang kehidupan, manusia, pencipta alam raya, dan lain-lain.
Berbagai kritik disampaikan sang sutradara film ini dalam perjalanan PK menemukan remote control-nya.

Ada tawa, sedih, marah, gelisah, PK mengajak kita sebagai penonton mengikuti perjalanannya dengan santai
dan mengalir. Film berdurasi hampir tiga jam ini pun, sebagaimana film-film India pada umumnya, tidak terasa
lama karena film ini mampu membuat kita menikmati alur cerita yang disuguhkan dan pesan-pesan yang
dibawanya. Selain karena lucu dan kita dibuat terpingkal-pingkal oleh tingkah alien tampan yang polos dan lugu
ini, kita juga diajak untuk setidaknya berpikir dan melihat kenyataan yang sebenarnya. Agama telah menjadi
komoditas. Tuhan diperdagangkan, keyakinan diperdebatkan. Tapi, ya, di situlah justru masalahnya: semua itu
nyata!

Berani Bersuara Lewat Film


Bagi saya, menariknya film PK ini bukan datang dari ide yang disuguhkan untuk pada akhirnya sama-sama
direnungkan apalagi syukur-syukur bisa membawa pencerahan, melainkan dari keberanian sang sutradara
mengungkap fakta ini melalui film garapannya. Ia telah menciptakan semacam revolusi berpikir bagi manusia
dalam hal beragama dan berketuhanan di tengah-tengah masyarakat yang katakanlah religiositas dan
spiritualismenya tinggi. India telah dikenal dunia sejak berabad-abad silam sebagai pusat spiritual Timur. Ia
merupakan destinasi bagi para pencari kedamaian, ketenteraman batin, dan pengalaman rohani, terutama
seperti yang dilakukan oleh masyarakat modern saat ini, termasuk pula orang-orang Barat. Tercatat berbagai film
Barat bertemakan pencarian spiritual ke tanah India telah dibuat, seperti Eat, Pray, Love (2010) dan The
Darjeeling Limited (2007). Keberanian sang sutradara menggarap film PK bagaikan ikan salmon yang berenang
melawan arus. Sementara orang-orang Barat itu bekiblat ke tanah India untuk belajar spiritual, di negerinya
sendiri spiritualisme telah kehilangan maknanya oleh berbagai hal, salah satunya adalah faktor ekonomi.

Kegilaan di balik praktik ritual agama di kuil sebagaimana yang diceritakan dalam film PK sebenarnya persis
seperti yang pernah cukup menggemparkan juga di negeri kita ini. Pernah ada ketika itu sebuah ajakan sedekah
sebesar nominal tertentu untuk kemudian nantinya ditukarkan dengan doa yang akan dibacakan saat umrah oleh
pemuka agamanya. Sebagian atau bahkan banyak orang mungkin tidak merasa itu aneh dan ikut tergoda
dengan ajakan tersebut, sama seperti jemaah yang tetap banyak berdoa di kuil-kuil di India. Namun, bagi
sebagian yang lain, itu adalah sesuatu yang tidak dapat masuk ke dalam nalar mereka. Siapa yang benar? Siapa
yang salah? Saya tidak sedang menilai. Tanyakan saja sana sama Pilatus.

Keterbukaan berpikir dan keberanian sang sutradara mengungkapkannya ke publik lewat karya seni (film) dalam
hal ini patut diacungi jempol. Saya langsung membayangkan, kira-kira siapa sutradara di Indonesia yang berani
menggarap film dengan cerita sedekah barter seperti fenomena yang terjadi di atas? Yang berpikir kritis dan
terbuka saya yakin pasti banyak, namun yang berani menyuarakannya ke dalam film seperti sutradara ini, ada
atau tidak, ya?

PK, Mr. Bean, Kabayan, Nasrudin Hoja, dkk.


Film PK bisa dikatakan sebagai sebuah karya dari seni mengkritik. Bagaimana tidak, kalau sekadar ingin
berdebat, berontak, beradu argumen tentang agama sih, tinggal gabung saja di grup media sosial yang banyak
betebaran khusus dibuat untuk memperdebatkan si kusir yang tak ada habisnya. Tapi, orang yang punya cita
rasa seni, tidak akan melakukan itu. Cuma cuap-cuap, marah-marah, terus sudah, apa hasilnya? Mengkritik pun
ada seninya. Berbagai genre dalam seni menyediakan ruang untuk orang-orang yang berkarya menuangkan
gagasannya, termasuk kritik terhadap sesuatu.

Seni ada bukan sekadar untuk keindahan, ia juga bisa menjadi sebuah alat kontrol. Kritik yang disampaikan
melalui seni telah ada sejak zaman buhunnya, tidak baru sekarang-sekarang ini. Kehadirannya bisa macam-
macam, dalam bentuk sastra, teater, musik, film, dan lain-lain. Sebagai contoh karya seni yang mengandung
unsur kritik namun dikemas dengan gaya humor yang ada sejak zaman dahulu adalah cerita-cerita si Kabayan.
Berbagai penelitian menyebutkan bahwa tokoh si Kabayan sengaja diciptakan untuk menyampaikan sebuah
pesan dan nilai hidup kepada masyarakat (pada saat itu masyarakat Sunda). Menurut buku yang saya baca,
sezaman dengan si Kabayan, di berbagai daerah di Nusantara juga muncul tokoh-tokoh berkarakter sama dalam
cerita rakyat mereka. Sebut saja, Lebai Malang dan Pak Belalang dari Melayu, Modin Karok dari Madura, Pan
Belog dari Bali, Pak Banjir dari Jawa Tengah, dan sebagainya. Bukan hanya di Nusantara, tokoh serupa pun ada
di negara lain di dunia, seperti Jerman, Timur Tengah dengan Abu Nawas dan Nasrudin Hoja, termasuk pula
India bernama Brahmana Harisarman.

Karakter tokoh yang dimaksud di sini adalah orang-orang bodoh yang lugu dan polos, namun mampu bersikap di
luar perkiraan kita. Mereka tampak bodoh, tapi sebenarnya cerdik. Mereka hadir dalam cerita-cerita humor yang
di dalamnya mengandung pesan-pesan tertentu. Orang menyebutnya komedi satir. Tak ada yang dapat atau
bahkan boleh marah dengan kritik yang disampaikan dengan cara begitu. Inilah seninya. Kita seperti tertawa,
padahal sedang diajak berpikir dalam ketertawaan itu, menyindir sesuatu. Begitulah memang, kadang humor
bisa menyimpan makna yang lebih sadis ketimbang thriller.
Di masa kekinian, konsep semacam itu hadir dalam tokoh audiovisual yang terkenal, yaitu Mr. Bean. Ia juga
makhluk dari planet lain. Tingkahnya yang konyol dan tak keruan sangat mengundang tawa. Konon, tokoh Mr.
Bean diciptakan sebagai bentuk kritik atas kekakuan yang terjadi di lingkungan masyarakat Inggris pada
umumnya, barangkali akibat pengaruh besar istana. Kehadiran Mr. Bean seakan hendak memecah semua itu,
menentang segala praktik yang menekan dan menghambat keleluasaan seseorang pada masa tersebut.

Tak jauh dari para pendahulunya, tokoh PK diciptakan untuk semangat yang sama: sebuah pemberontakan, alat
kritik, penyampai pesan. Karakter stereotipnya harus tetap ada, yaitu bodoh, lugu, dan kalau bisa berasal dari
negeri antah-berantah. Ketika semua orang mulai mengecilkan mereka akibat tingkah mereka yang konyol dan
kadang menjengkelkan, di situlah mereka kemudian beraksi menjalankan peran sebagai si pembawa pesan.
Semua orang yang mengecilkan mereka pun pada akhirnya tersadar, persis seperti akhir cerita dalam film PK.
*

Kira-kira inilah sedikit kesan dan ulasan yang bisa saya ungkapkan usai menonton film PK sekitar sebulan yang
lalu. Terlepas dari apakah gagasan dalam film tersebut benar-benar mengganggu kemapanan beragama
seseorang hingga menimbulkan kontroversi atau bahkan tidak berpengaruh sama sekali, saya hanya melihat ini
sebagai keberanian sutradaranya mengungkap fakta atas praktik beragama di tengah-tengah kita dari kacamata
orang bodoh. Tak ada yang dapat atau bahkan boleh marah pada orang bodoh. Namanya juga orang bodoh.
Kalau Anda marah dan terpancing, apalah bedanya Anda dari mereka?

Mungkin memang tengah terjadi revolusi berpikir besar-besaran di kehidupan kita dewasa ini atas segala aspek.
Tak perlu gelisah, apalagi marah. Terima saja, dan bersikaplah terbuka. Setelah itu, putar film PK dan terbahak-
bahaklah sampai perut kram dan keluar air mata. Saya melakukannya!