Anda di halaman 1dari 12

Pengertian Sistem Biaya

Sistem biaya merupakan alat pengukur performance suatu perusahaan, pengukuran


performance ini dilakukan secara periodikal dan terus-menerus. Sistem biaya telah dipergunakan
oleh berbagai perusahaan sebagai pengukur performa secara periodik (Cooper dan Kaplan, 1991
1). Untuk menyusun suatu Cost System diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai
(Adikusumah, 1982) :
a). Struktur organisasi dari perusahaan yang bersangkutan.
b). Proses produksi.
c). Tipe informasi biaya yang dibutuhkan oleh pihak manajemen.
The Commite on Cost Consepts and Standards of The American Accounting Association
memberikan definisi untuk istilah Cost sebagai berikut : Cost is foregoing measured in
monetary terms incurred or potentially to be incurred to achieve a specific objective yang
berarti biaya merupakan pengeluaran-pengeluaran yang diukur secara terus-menerus dalam uang
atau yang potensial harus dikeluarkan untuk mencapai suatu tujuan. Istilah-istilah dan konsep
dalam menghitung biaya digunakan dalam pengertian yang berbeda-beda, oleh karena tergantung
dari kondisi, tujuan dan pihak yang akan menggunakannya (Adikusumah, 1982 1).

B. Pengertian Biaya Overhead Pabrik


Biaya Overhead pabrik adalah biaya-biaya bahan tak langsung, buruh tak langsung dan
biaya-biaya pabrik lainnya yang tidak secara mudah dapat diidentifikasikan atau dibebankan
langsung pada suatu pekerjaan, hasil produksi atau tujuan biaya akhir (Usry dan Hammer, 1991
368).
Pendapat ahli lainya menyatakan bahwa biaya overhead pabrik merupakan setiap biaya
yang tidak secara langsung melekat pada suatu produk, yaitu semua biaya-biaya di luar biaya
bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik mencakup biaya
produksi lainnya seperti pemanasan ruang pabrik, penerangan, penyusutan pabrik dan mesin
mesin. Biaya pabrik seperti pemeliharaan, gudang bahan-bahan dan hal lain yang memberikan
pelayanan-pelayanan kepada bagian produksi juga merupakan bagian dari biaya overhead pabrik.
Biaya penjualan dan biaya distribusi, dan semua biaya administrasi juga diperhitungkan
sebagai biaya overhead sepanjang biaya-biaya tersebut tidak dapat secara langsung dihubungkan
dengan unit produk (Pass, Lowes dan Davis, 1998 118). Berbagai macam biaya overhead
pabrik harus dibebankan kepada semua pekerjaan yang terlaksana selama suatu periode. Oleh
karena itu, untuk dapat membebankan biaya overhead pabrik secara merata kepada setiap produk
digunakan tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka. Penentuan tarif biaya overhead
pabrik dilaksanakan melalui tiga tahap berikut ini (Mulyadi, 1992 212):
1. Menyusun anggaran biaya over head pabrik.
2. Memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk.
3. Menghitung tarif biaya overhead pabrik.

C. Sistem Pengalokasian Biaya Overhead Pabrik.


Adapun Sistem pengalokasian biaya overhead itu meliputi :
1. Sistem Biaya Konvensional.
Menurut James A. Brimson (1991 : 7) sistem biaya konvensional mampu mengukur secara
akurat sumber daya yang dikonsumsi secara proporsional dengan jumlah unit yang diproduksi
dari suatu produk. Sumber daya tersebut meliputi bahan baku, tenaga kerja langsung, jam mesin
dan sebagainya. Dan biaya-biaya yang timbul akibat pemakaian sumber daya tersebut
dialokasikan pada produk berdasarkan jam kerja langsung, bahan baku yang dibeli atau unit yang
diproduksi. Sistem biaya tradisional dapat membantu manajemen dalam perencanaan dan
pengendalian kegiatan perusahaan di dalam perusahaan yang masih menggunakan teknologi
yang sederhana dalam proses produksinya untuk menghasilkan produk.
2. Activity-Based Cost System.
Timbulnya perhatian untuk merancang sistem akuntansi manajemen berdasarkan aktivitas
disebabkan oleh karena selama ini akuntansi manajemen (sistem tradisional) menghasilkan
informasi atas dasar pengolahan angka-angka akuntansi keuangan yang terikat terhadap norma-
norma akuntansi keuangan bagi kepentingan (entity) pihak luar perusahaan, sedangkan informasi
yang dibutuhkan untuk manajer tingkat intern perusahaan (yang berperan aktif untuk
mengendalikan perusahaan tersebut) lebih membutuhkan informasi yang dekat terhadap
pengelolaan operasional. Kegunaan informasi akuntansi biaya yang relevan, akurat, dan tepat
waktu untuk proses pengambilan keputusan sangat dibutuhkan guna mencapai posisi strategis
perusahaan dalam lingkungan bisnis yang berubah setiap saat. Biaya atas aktivitas produksi
ditentukan oleh Cost Efectiveness perusahaan dalam proses manufaktur, dan harga produk
ditentukan oleh aktivitas mekanisasi pasar, yang mana harga tersebut merupakan suatu hal yang
given dalam strategi penetapan harga pokok. Oleh sebab itu perusahaan dituntut untuk dapat
memperbaiki (improvement) kondisi internnya secara terus menerus, sehingga harga produk yang
ditawarkan dalam persaingan bisnis yang berkompetisi secara tajam dapat mencapai Market
Share yang besar.

A. Biaya Overhead Pabrik


Biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya
tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) biaya
overhead pabrik variabel, (2) biaya overhead pabrik tetap, dan (3) biaya overhead pabrik
campuran. Biaya overhead pabrik variabel adalah biaya overhead pabrik yang jumlah totalnya
akan berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya overhead pabrik
variabel adalah biaya bahan penolong. Biaya overhead pabrik tetap adalah biaya overhead
pabrik yang jumlah totalnya (dalam kisaran tertentu) tidak berubah walaupun terjadi perubahan
volume kegiatan. Contoh biaya overhead pabrik tetap adalah pajak bumi dan bangunan, biaya
penyusutan aktiva tetap, dan biaya sewa gedung pabrik. Biaya overhead pabrik campuran dapat
dibedakan menjadi biaya overhead pabrik semivariabel, misalnya biaya listrik pabrik dan biaya
telepon pabrik, dan biaya overhead pabrik bertahap, misalnya gaji supervisor dan gaji inspektur.
1. Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya
Bila suatu BOP terjadi maka harus dilakukan pencatatan. Sebagaimana pada biaya Bahan
Baku dan biaya Tenaga Kerja, jurnal-jurnal dibuat dan diposting ke rekening buku besar dan
rekening buku pembantu.
Jurnalnya
BOP (sesungguhnya) xxx
Persediaan Bahan Baku xxx
Persediaan supplies xxx
Biaya Penyusutan aktiva xxx
Macam macam biaya xxx
2. Biaya Overhead Pabrik dibebankan
Setelah BOP sesungguhnya di catat di buku besar pembantu dan di rekening buku besar
maka harus dibuat pencatatan untuk mencatat BOP yang dibebankan ke produk.
Jurnalnya
Biaya Dalam Proses xxx
BOP (dibebankan xxx

3. Pembebanan BOP kepada produk atas dasar tarif


Tarif BOP yang telah ditentukan digunakan untuk membebankan BOP kepada produksi
yang diproduksi. Ada 2 metode penentuan harga pokok produksi yaitu:
- Full costing method
Adalah metode penentuan HPP yang memperhitungkan semua biaya produksi sebagai HPP.
- Variable Costing / Direct costing
Adalah metode penentuan HPP yang memperhitungkan BOP biaya produksi variable saja
kedalam HPP. (Harga Pokok Produksi).
Jika perusahaan menggunakan metode full costing di dalam penentuan HPPnya, produk
akan di bebani BOP dengan meggunakan tarif BOP variable dan tarif BOP tetap. Jika perusahaan
mengguanakn metode variable maka didalam penentuan HPP nya, produk akan dibebani BOP
dengan menggunakan tarif BOP variable saja.

C. Penggolongan BOP menurut sifatnya


Dalam perusahaan yang prodinya berdasarkan pesanan, BOP adalah : Biaya produk
selain BBB & BTKL. Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok BOP adalah :
1. Biaya bahan penolong
2. Biaya reparasi & pemeliharaan
3. Biaya tenaga kerja tidak langsung
4. Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap
5. Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu
6. Biaya operasi pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai.
1. Biaya bahan penolong
Adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian
produksi atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif kecil bila
dibandingkan dengan HPP tersebut. Dalam perusahaan percetakan misalnya yang termasuk
bahan penolong adalah : bahan perekat, tinta koreksi & pita mesin tik.
2. Biaya reparasi dan pemeliharaan
Berupa biaya suku cadang dan biaya habis pakai.
3. Biaya tenaga kerja tidak langsung
Adalah tenaga kerja pabrik yang upahnya tidak dapat diperhitungkan secara kangsung kepada
produk / pesanan .
- Karyawan yang bekerja dalam / pada departemen pembantu, Seperti departemen pembangkit
tenaga listrik, uap, bengkel dan departemen gudang.
- Karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi, Seperti kepala departemen
produksi, karyawan administrasi pabrik dan mandor.
4. Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap
Biaya-biaya yang timbul dalam kelompok ini adalah biaya-biaya depresiasi bangunan pabrik,
depresiasi mesin dan peralatan dan aktiva tetap lain yang digunakan di pabrik.
5. Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu.
Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok diatas adalah : biaya asuransi gedung, mesin dan
peralatan, kendaraan, kecelakaan karyawan.
6. BOP lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai.
Biaya yang termasuk kelompok ini adalah : Biaya reparasi yang diserahkan kepada pihak luar
perusahaan, biaya listrik PLN dan sebagainya.
Cara penghitungan sederhana BOP
Bahan penolong Rp xxx
Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung Rp xxx
Biaya Listrik Pabrik Rp xxx
Biaya Asuransi Rp xxx
Biaya Depresiasi Pabrik Rp xxx
Biaya Pabrik Lain-lain Rp xxx +
Biaya Overhead Pabrik Rp xxx

Contoh Kasus
PT. XYZ
Diketahui

Biaya Overhead Tahun 200x sebagai berikut :

Bagian dari masing-masing bagian

Bagian Produksi
- Bagian Produksi I
- Bagian Produksi II
Bagian Jasa
- Bagian Jasa I
- Bagian Jasa II

Penggunaan Jasa dari Jasa Bagian I dan Jasa Bagian II

Pemberi Jasa Pemakai Jasa


Bagian Produksi Bagian Jasa
I II I II
Bagian Jasa I (X) 50 % 40 % - 10 %
Bagian Jasa II (Y) 55 % 30 % 15 % -
Ditanya,

a) Biaya Overhead Pabrik (BOP) netto masing-masing bagian jasa


b) Jumlah BOP keseluruhan masing-masing bagian produksi
c) Tarif BOP masing-masing bagian produksi untuk setiap satuan kegiatan

Jawab,

a) Dengan menggunakan persamaan aljabar sederhana, maka biaya tiap bagian jasa dapat dibuat
persamaan sebagai berikut :
X = 80.000.000 + 0,15 Y
Y = 60.000.000 + 0,10 X

dengan mensubsitusikan kedua persamaan diatas, didapat :


X = 80.000.000 + 0,15 (60.000.000 + 0,10 X)
X = 80.000.000 + 9.000.000 + 0,015 X
X - 0,015 X = 89.000.000
0,985 X = 89.000.000
X = 90.355.329,945
X 90.355.330 (dibulatkan)
Y = 60.000.000 + 0,10 X
Y = 60.000.000 + 0,10 (90.355.330)
Y = 60.000.000 + 9.035.533
Y = 69.035.533
Dengan demikian maka jumlah biaya overhead pabrik netto masing-masing bagian ditentukan
sebagai berikut :

Bagian Jasa BOP Asli Menerima Memberi BOP Netto


Bagian I (X) 80.000.000 10.355.330 9.035.553 81.319.777

Bagian II (Y) 60.000.000 9.035.553 10.355.330 58.680.223

b) Kedua biaya BOP netto dari Departement Jasa I dan II ini kemudian dibebankan kepada
Departement Produksi I dan II dengan proporsi sebagai berikut :

BOP Bagian Produksi I Bagian Produksi II


1) BOP Langsung Rp. 300.000.000,00 Rp. 240.000.000,00

2) BOP Tidak Langsung

a. Bagian Jasa I (X) : 50/90 x BOP Netto : 40/90 x BOP Netto

Rp. 45.177.654,00 Rp. 36.142.123,00

b. Bagian Jasa II (Y) : 55/85 x BOP Nett0 : 30/85 x BOP Netto

Rp. 37.969.556,00 Rp. 20.710.667,00


Jumlah Biaya Overead Pabrik Rp. 381.319.777,00 Rp. 298.680.223,00

c) Dengan menggunakan persamaan aljabar sederhana serperti diatas, maka tingkat kegiatan tiap
bagian jasa didapat
X 20.406 (dibulatkan)
Y 16.041 (dibulatkan)

Dengan demikian maka jumlah DMH netto masing-masing bagian ditentukan sebagai
berikut :

Bagian Jasa DMH Asli Menerima Memberi DMH Netto


Bagian I (X) 18.000 2.406 2.041 18.365

Bagian II (Y) 14.000 2.041 2.406 13.635

BOP Bagian Produksi I Bagian Produksi II


1) DMH Langsung 120.000,00 60.000,00
2) DMH Tidak Langsung
a. Bagian Jasa I (X) 10.203 8.162
b. Bagian Jasa II (Y) 8.823 5.113
Jumlah DMH 139.026 73.275

Maka Tarif BOP masing-masing bagian produksi untuk satuan kegiatan adalah sbb :

Keterangan Bagian Produksi


I II
Jumlah BOP (Rp.) Rp. 381.319.777,00 Rp. 298.680.223,00
Jumlah Tingkat Kegiatan 139.026 73.275
(DMH)
Tarif Biaya Overhead Rp. 2.742,79/DMH Rp. 4.076,15/DMH
(Rp./DMH)

PT Merah Delima

Diketahui data-data sebagai berikut,

Keterangan Bahan Baku


A B
Harga Bahan per Unit (Rp./kg) 2.000 8.000
Biaya Penanganan Bahan (10%) 200 800
Biaya Bahan Baku per Unit 2.200 8.800
Kebutuhan Bhn Baku / 1 unit 2,5 kg 2,0 kg
Produk

Keterangan Tenaga Kerja


Dept. I Dept. II
Jlh Tenaga Kerja 40 100
Jam Kerja/Minggu/Orang 35 jam 35 jam
Upah & Gaji total / Minggu (Rp.) 5.600.000 17.500.000
Premi/lembur (Rp.) 20 % 20 %
Kebutuhan Jam Proses 2,5 jam 2,0 jam

Keterangan Kapasitas
Rendah (80%) Normal (100%) Penuh (120%)
Produksi 3.200 4.000 4.800
Keterangan Biaya (Rp.)
Variabel Tetap
Upah Pegawai 6.400.000 -
Bahan Pembantu 2.800.000 -
Lain-Lain 400.000 -
Penyusutan Mesin - 3.800.000
Listrik - 1.000.000
Pemeliharaan, dll - 1.600.000
Jumlah 9.600.000 6.400.000

Ditanya,

1) Biaya Standa per Unit Produk


2) Flexible Budget untuk BOP pada kapasitas 80%, 100%, 120%

Jawab,

1) Untuk menghitung biaya standar per unit produk.


1. Menghitung Biaya Standar Bahan Baku per Unit Produk :

Biaya Bahan Baku A = Rp. 2.200 x 2,5

= Rp. 5.500,00

Biaya Bahan Baku B = Rp. 8.800 x 2,0

= Rp. 17.600,00

Total Biaya standar Bhn Baku = Rp. 5.500 + Rp. 17.600

= Rp. 23.100,00

2. Menghitung Standar Biaya Tenaga Kerja Langsung per Unit Produk :

Departement I

Jumlah Jam Kerja/minggu = 40 x 35 jam

= 1.400 jam/minggu

Biaya per Jam = 5.600.000 : 1.400


= Rp. 4.000 per orang + 20 % (Premi/Lembur)

= Rp. 4.800/jam

Biaya Standar Upah = 4.800 x 2,5 jam

= Rp. 12.000 / unit

Departement II

Jumlah Jam Kerja/minggu = 100 x 35 jam

= 3.500 jam/minggu

Biaya per Jam = 17.500.000 : 3.500

= Rp. 5.000 per orang + 20 % (Premi/Lembur)

= Rp. 6.000/jam

Biaya Standar Upah = 6.000 x 2,0 jam

= Rp. 12.000 / unit

Total Standar Upah Langsung = (Rp. 12.000 + Rp. 12.000)


= Rp. 24.000,00

2) Menghitung Flexible Budget untuk BOP pada kapasitas 80%, 100%, 120%
Kapasitas Normal (100%)

Keterangan Biaya (Rp.)


Variabel Tetap Total
Upah Pegawai 6.400.000 - 6.400.000
Bahan Pembantu 2.800.000 - 2.800.000
Lain-Lain 400.000 - 400.000
Penyusutan Mesin - 3.800.000 3.800.000
Listrik - 1.000.000 1.000.000
Pemeliharaan, dll - 1.600.000 1.600.000
Jumlah 9.600.000 6.400.000 16.000.000

Pada kapasitas produksi normal (100%) jumlah unit produksi adalah 1.000 unit atau
4.000 jam mesin, maka :
- BOP Variabel/DMH = 9.600.000 : 4.000 jam = Rp. 2.400/DMH
- BOP Tetap/DMH = 6.400.000 : 4.000 jam = Rp. 1.600/DMH +
- Total BOP/DMH = Rp. 4.000/DMH
- BOP = Rp. 4.000 x 4 minggu = Rp. 16.000

Jadi Flexible Budget untuk BOP pada kapasitas 100% adalah Rp. 63.100,00

b) Kapasitas Rendah (80%)


Pada kapasitas produksi rendah (80%) jumlah unit produksi adalah 800 unit atau 3.200
jam mesin, maka :
- BOP Variabel/DMH = 7.680.000 : 3.200 jam = Rp. 2.400/DMH
- BOP Tetap/DMH = 6.400.000 : 3.200 jam = Rp. 2.000/DMH +
- Total BOP/DMH = Rp. 4.400/DMH
- BOP = Rp. 4.400 x 4 minggu = Rp. 17.600

Jadi Flexible Budget untuk BOP pada kapasitas 80% adalah Rp. 55.280,00

c) Kapasitas Tinggi (120%)


Pada kapasitas produksi tinggi (120%) jumlah unit produksi adalah 1.200 unit atau 4.800
jam mesin, maka :
- BOP Variabel/DMH = 11.520.000 : 4.800 jam = Rp. 2.400/DMH
- BOP Tetap/DMH = 6.400.000 : 4.800 jam = Rp. 1.333 /DMH +
- Total BOP/DMH = Rp. 3.733 /DMH
- BOP = Rp. 3.733 x 4 minggu = Rp. 14.932

Jadi Flexible Budget untuk BOP pada kapasitas 120% adalah Rp. 71.452,00

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Biaya-biaya produksi yang tidak dapat dikategorikan ke dalam biaya bahan baku dan
biaya tenaga kerja langsung atau yang wujud riilnya adalah biaya bahan baku tudak langsung
dann biaya tenaga kerja tidak langsung serta biaya pabrik lainnya dikelompokan tersendiri yang
disebut biaya overhead pabrik. Departementalisasi biaya overhead pabrik bermanfaat untuk
pengendalian biaya dan ketelitian penentuan harga pokok produk. Pengendalian biaya overhead
pabrik dapat lebih mudah dilakukan dengan cara menghubungkan biaya dengan pusat terjadinya,
sehingga dengan demikian akan memperjelas tanggung jawab setiap biaya yang terjadi dalam
departemen tertentu. Dengan digunakannya tarif-tarif BOP yang berbeda-beda untuk tiap
departemen, maka pesanan atau produk yang melewati suatu departemen produksi akan dibebani
dengan BOP. Sesuai dengan departemen bersangkutan.