Anda di halaman 1dari 8

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Determinasi dan Deskripsi Tanaman

Determinasi tumbuhan yang dilakukan di Laboratorium Biologi

Universitas Bangka Belitung menunjukkan bahwa tumbuhan uji yang

dilakukan dalam penelitian ini adalah daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis

jalapa) dengan hasil deskripsi tanaman berdasarkan Dr C.G.G.J. van steenis et

al dalam buku flora (2003), yaitu herba tegak, kerap kali bercabang kuat

dengan akar tunggang yang berbentuk umbi. Tinggi batang 0,5-0,8 m dan

batang membesar pada ruas. Daun berhadapan, bertangkai bulat telur segitiga,

dengan ujung meruncing. Bunga berjejal di ujung pada karangan bunga yang

bercabang dan lebar, dan berdaun, bertangkai sangat pendek. Pembalut bunga

tinggi 1 cm, kemudian sampai 1,5 cm, berbagi 5 setengah panjang atau lebih;

tajuk bentuk bulat, runcing. Tenda bunga merah, ungu, putih kuning atau

berwarna-warni (bont). Tangkai tabung 5 cm panjangnya, di atas pangkal yang

berbentuk bola yang menyempit, semakin ke atas melebar. Tepi bentuk corong,

diameter berukuran 3 cm, terlipat dalam kuncup. Benang sari 5, muncul tidak

sama. Tangkai putik lebih panjang daripada tenda bunga, kepala putik bentuk

kuas. Buah semu bulat memanjang, berusuk dan berlipat-lipat, hitam, panjang

8 mm. Proses determinasi bertujuan untuk mengenali dan menetapkan identitas

suatu makhluk agar dapat dimasukkan ke kelompok tertentu dalam klasifikasi .

33
34

Hasil Determinasi berdasarkan Dr C.G.G.J. van steenis et al yaitu :

1b2b3b4b6b7b9a41b42b43b54b59b60b

Nyctaginaceae 1b2aMirabilis1bMirabilis jalapa .

B. Persentase Daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa) Kering dan Basah

Daun Mirabilis jalapa yang digunakan yaitu daun yang diambil dari

wilayah kampung Tanjung, Muntok Bangka Barat. Daun sebanyak 7 kg di

cuci bersih dan dijemur di bawah sinar matahari langsung hingga kering

didapatkan daun kering sebanyak 1 kg. Setelah didapatkan daun kering

dilakukan persentase bobot kering terhadap bobot basah yaitu :

() 1000
100% 100 % = 14,28%
() 7000

Tabel 4.1 Persentase Simplisia Daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa)

Daun Bunga Pukul Empat Daun Bunga Pukul Persentase


(Mirabilis jalapa) Empat(Mirabilis jalapa) (%)
Segar (g) Kering (g)

7000 g 1000 g 14,28

C. Hasil Ekstrak Etanol Daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa)

Proses ekstraksi senyawa kimia daun Mirabilis jalapa menggunakan

metode Maserasi dengan pelarut etanol 70%. Pertimbangan pemilihan etanol

sebagai pelarut pada proses maserasi karena etanol mudah melarutkan zat

aktif, mudah diperoleh, dan harganya terjangkau. Pada proses maserasi suhu

yang digunakan yaitu suhu ruangan dan dalam keadaan gelap dengan waktu

maserasi 5 x 24 jam. Selama waktu perendaman dilakukan pengadukan

beberapa kali bertujuan agar senyawa-senyawa yang terdapat pada simplisia


35

dapat larut dengan baik. Ekstrak cair yang diperoleh kemudian diuapkan

menggunakan vacum rotary evaporator sampai diperoleh ekstrak kental

sebanyak 70 gram.

Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Ekstrak Etanol Daun Bunga Pukul
Empat (Mirabilis jalapa)

Karakteristik Hasil Daun Bunga Pukul Empat


Organoleptik
Bentuk Kental
Warna Hijau kecoklatan
Bau Khas
Rasa Pahit

Tabel 4.3 Perhitungan Hasil Rendemen Ekstrak Etanol Daun Bunga Pukul
Empat (Mirabilis jalapa)

Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Ekstrak Rendemen


Simplisia Pelarut Ekstrak Cair Pekat Ekstrak
(g) (L) (L) (g) (%)
1000 3 1,5 70 7

()
% rendemen ekstrak = 100%
()

70
% rendemen ekstrak = 1000 x 100% = 7 %

D. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis

jalapa)

Media yang digunakan pada pertumbuhan bakteri yaitu media Nutrient

broth dan pada saat pengujian dipakai media Nutrient agar. Media ini

merupakan media yang umum digunakan untuk pertumbuhan dan pengujian

aktivitas antibakteri. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan

menggunakan metode difusi cakram. Hal ini dilakukan sebagai pengujian


36

pendahuluan untuk ekstrak uji terhadap bakteri, sehingga dapat

menggambarkan kemampuan ekstrak uji dalam menghambat pertumbuhan

pada masing-masing bakteri.

Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan 4 (empat) konsentrasi

ekstrak, kontrol positif dan kontrol negatif dengan 3 (tiga) kali pengulangan

uji. Kosentrasi ekstrak etanol daun Mirabilis jalapa yang digunakan adalah

20%, 40%, 60%, 80% sedangkan kontrol positif yaitu antibiotik tetrasiklin

dengan konsentrasi 0,1% dan kontrol negatif aquadestilata. Berikut adalah

hasil dari Uji Aktivitas Antibakteri Daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis

jalapa):

Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Diameter Daya Hambat Ekstrak Daun Bunga
Pukul Empat (Mirabilis jalapa)

Diameter Daya Hambat (mm)

Ulangan 20 % 40 % 60 % 80% Kontrol Kontrol


Positif Negatif
(+) (-)
1. 0,44 1,15 1,77 2,03 17,75 -

2. 0,64 1,20 1,59 1,83 17,32 -

3. 0,32 1,23 1,73 2,22 16,91 -

Ratarata 0,46 1,19 1,69 2,02 17,32 -

Hasil uji aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi cakram

dinilai dari diameter daya hambat yang dihasilkan. Ekstrak etanol daun

Mirabilis jalapa mampu menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes.

Hal ini ditandai dengan adanya zona bening yang terbentuk di sekitar kertas
37

cakram. Zona bening yang terbentuk dikarenakan adanya interaksi dari

senyawa metabolit sekunder ekstrak Mirabilis jalapa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ezhilarasu dan Prabakaran (2012)

ekstrak kloroform daun Mirabilis jalapa mengandung senyawa metabolit

sekunder yaitu flavonoid, tanin, saponin, terpenoid, dan fenol, karbohidrat dan

komponen asam amino. Senyawa metabolit sekunder yang dimiliki oleh daun

Mirabilis jalapa yang bersifat sebagai antibakteri adalah flavonoid, tanin dan

saponin.

Senyawa metabolit sekunder yang dimiliki daun Mirabilis jalapa terbukti

berinteraksi dengan Propionibacterium acnes dengan membentuk daya hambat

antibakteri pada saat dilakukan uji antibakteri. Propionibacterium acnes

merupakan bakteri gram positif. Bakteri gram positif memiliki kandungan lipid

yang rendah yaitu hanya sebesar 1- 4% apabila dibandingkan dengan gram

negatif. Bakteri gram positif hanya memiliki satu lapis membran peptidoglikan

yang tebal (Lingga & Rustam, 2010). Hal tersebut diduga yang menjadi

penyebab ekstrak daun Mirabilis jalapa dapat menghambat pertumbuhan

Propionibacterium acnes.

Flavonoid sebagai senyawa antibakteri bekerja dengan cara membentuk

senyawa komplek terhadap protein ekstraseluler yang mengganggu integritas

membran dan dinding sel bakteri (Nurhanafi, 2012). Saponin sebagai senyawa

antibakteri yaitu bekerja dengan cara meningkatkan permeabilitas membran sel

sehingga dapat mengubah struktur dan fungsi membran menyebabkan

denaturasi protein membran serta mengakibatkan sel membran rusak


38

(Siswandono & Soekarjo, 1995). Tanin sebagai senyawa antibakteri bekerja

dengan cara mengkerutkan dinding sel atau membran sel sehingga menganggu

permeabilitas sel (Ajizah, 2004).

Ekstrak kloroform dari daun Mirabilis jalapa mempunyai aktivitas

antibakteri terhadap bakteri E.coli. Pada penelitian yang dilakukan Escherichia

coli memiliki daya hambat 15.5mm (Ezhilarasu & Prabakaran ,2012).

Penelitian Sumitra et al (2012) juga menyebutkan bahwa ekstrak metanol dan

etanol bunga Mirabilis jalapa mempunyai daya hambat antibakteri yaitu dapat

menghambat bakteri Bacillus cereus, Escherichia coli dan Pseudomonas

aeroginosa dengan ukuran daya hambat sebesar 14-15 mm.

Hasil uji aktivitas ekstrak etanol daun Mirabilis jalapa terhadap

Propionibacterium acnes setelah diinkubasi selama 24 jam diperoleh adanya

daya hambat yang berbeda. Diameter daya hambat bakteri seperti yang

tercantum dalam tabel 4.4 Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etanol

daun Mirabilis jalapa memiliki daya hambat lemah terhadap pertumbuhan

Propionibacterium acnes yaitu dengan daya hambat kurang dari 5mm menurut

teori Davis dan Stout (1971). Daya hambat antibakteri yang lemah, diduga

karena pengaruh pelarut dan metode ekstraksi yang digunakan. Penelitian

Ezhilarasu dan Prabakaran (2012) menyatakan bahwa ekstrak Mirabilis jalapa

menunjukkan daya hambat antibakteri yang kuat dengan didasarkan teori Davis

dan Stout (1971). Penelitian tersebut menggunakan pelarut kloroform dan

Sokletasi sebagai cara ekstraksi sedangkan pada penelitian ini digunakan

pelarut etanol dan cara ekstraksi yaitu maserasi.


39

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sari et al (2012) dalam

penelitiannya yang berjudul Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah

Lada Hitam (Piper nigrum L.) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes,

penggunaan metode ekstraksi juga berpengaruh terhadap hasil uji. Metode

maserasi yang digunakan pada penelitian tersebut, diduga hanya menarik

sedikit piperin. Piperin merupakan alkaloid mayor pada buah lada hitam yang

telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus

aureus mengisolasi alkaloid piperin menggunakan pelarut etanol dengan

metode sokletasi. Penggunaan pelarut etanol dengan metode sokletasi juga

dapat menyari komponen alkaloid sebesar 14,6%, flavonoid 81,2%, dan tanin

17%. Berdasarkan uraian di atas, peneliti mengasumsikan jika peneliti

menggunakan metode sokletasi, kemungkinan hasil metabolit sekunder yang

diperoleh akan lebih baik.

Faktor penyebab lemahnya daya hambat antibakteri bisa juga disebabkan

karena tidak ada standarisasi pembuatan ekstrak bahan alam sehingga apabila

dilakukan pembuatan ekstrak di laboratorium yang berbeda, terjadi hasil yang

berbeda pula. Selain itu, adanya variasi biologis, misalnya dari mana asal daun

yang digunakan, bisa juga mempengaruhi jumlah kandungan zat aktif yang

ada. Lamanya penyimpanan ekstrak juga dapat mempengaruhi lemahnya daya

hambat antibakteri. Semakin lama ekstrak tersebut disimpan, maka sensitifitas

ekstrak biasanya akan menurun (Diassanti, 2011).

Hasil analisis dengan uji ANOVA One Way didapatkan hasil F hitung

yaitu 3071,055 jauh lebih besar dari F tabel baik pada taraf signifikansi 1% =
40

3,48 maupun 5% = 5,99 yang artinya bila F hitung lebih besar dari F tabel

maka (H0) ditolak. Nilai probabilitas atau signifikansi menunjukkan bahwa

nilai yang didapat yaitu 0,00 lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti hipotesa nihil

(H0) ditolak. Terlihat ada perbedaan rata-rata hasil pengukuran daya hambat

antibakteri menggunakan konsentrasi yang berbeda. Konsentrasi ekstrak

20%,40%,60% dan 80% berpengaruh terhadap daya hambat antibakteri.

Semakin tinggi konsentrasi ekstrak semakin luas juga daya hambat antibakteri.