Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN PENDAHULUAN

Gangguan Kebutuhan Istrahat Tidur

A. Konsep Dasar Penyakit

a) Defenisi
Istirahat merupakan keadaan yang relaks tanpa adanya tekanan emosional,
bukan hanya dalam keadaan tidak beraktifitas saja akan tetapi istirahat juga
membutuhkan ketenangan. Kata istirahat berarti menyegarkan diri atau diam
setelah melakukan kerja keras, suatu keadaan untuk melepaskan lelah,
bersantai untuk menyegarkan diri, atau suatu keadaan melepaskan diri dari
segala hal yang membosankan, menyulitkan, bahkan menjengkelkan. Tidur
merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh
stimulus atau sensori yang sesuai (Guyton, 1986).
Tidur merupakan suatu kebutuhan bukan suatu keadaan istirahat yang
tidak bermanfaat, tidur merupakan proses yang diperlukan manusia untuk
pembentukan sel-sel tubuh yang baru, perbaikan sel-sel tubuh yang rusak,
memberi waktu organ tubuh untuk istirahat maupun untuk menjaga
keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh (Mass, 2002). Dengan kata
lain, tidur merupakan suatu keadaan tidak sadarkan diri yang relative, bukan
hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih kepada suatu
urutan siklus yang berulang. Tidur memiliki ciri, yaitu adanya aktivitas yang
minimum, memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapatnya perubahan proses
fisiologis, dan terjadinya penurunan respon terhadap rangsangan dari luar.
Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar yang mana individu dapat
dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai atau juga dapat dikatakan
suatu keadaan tidak sadarkan diri yang relative, yang bukan hanya keadaan
penuh ketenangan tanpa kegiatan akan tetapi lebih merupakan sutu urutan
siklus yang berulang, dengan ciri-ciri minimnya aktifitas, memiliki kesadaran
yang bervariasi, terdapat perubahan-perubahan proses fisiologis dan terjadi
penurunan respon terhadap rangsangan dari luar.

1
Gangguan tidur adalah kondisi yang jika tidak diobati, secara umum akan
menyebabkan gangguan tidur malam yang mengakibatkan munculnya salah
satu dari ketiga masalah, seperti : insomnia, gerakan atau sensasi abnormal
dikala tidur dan rasa mengantuk di siang hari. Fungsi dan tujuan dari tidur
secara jelas tidak diketahui akan tetapi diyakini bahwa tidur dapat digunakan
untuk menjaga keseimbangan mental, emosional dan kesehatan, mengurangi
stress pada pulmonary, kardiovascular, endokrin dan lain-lain. Energi disimpan
selama tidur, sehingga energy diarahkan kembali pada fungsi cellular yang
penting. Tidur dapat pula dipercaya mengkontribusi pemulihan psikologis dan
fisiologis. Tidur nampaknya diperlukan untuk memperbaiki proses biologis
secara rutin. Selama tidur gelombang rendah yang dalam (NREM tahap 4),
tubuh melepaskan hormon pertumbuhan manusia untuk memperbaiki dan
memperbaharui sel epitel dan sel otak. Teori lain tentang fungsi tidur adalah
tubuh menyimpan energi selama tidur. Otot skelet berelaksasi secara progresif,
dan karena tidak adanya kontraksi maka otot menyimpan energi kimia untuk
proses seluler.

Tabel. Kebutuhan Dasar Manusia

Umur Tingkat Jumlah kebutuhan


perkembangan tidur
0-1 bulan Bayi baru lahir 14-18 jam/hari
0-1 bulan Masa bayi 12-14 jam/hari
18 bulan-3 Masa anak 11-12 jam/hari
tahun
3-6 tahun Masa prasekolah 11 jam/hari
6-12 tahun Masa sekolah 10 jam/hari
12-18 tahun Masa remaja 8,5 jam/hari
18-40 tahun Masa dewasa 7-8 jam/hari
40-60 tahun Masa dewasa 7 jam/hari
40-60 tahun Masa dewasa 6 jam/hari

b) Epidemiologi

2
Studi yang dilaksanakan oleh Liu X dan kawan-kawan di SMU di provinsi
Shandong, Cina. Hasil studi menyatakan rata-rata lama tidur di malam hari
adalah 7,64 jam dan menurun dengan meningkatnya usia. Penelitian yang
dilakukan oleh Johnson EO dkk pada remaja 13 hingga 16 tahun mengenai
epidemiologi insomnia sesuai DSM-IV pada remaja menunjukkan bahwa
prevalensi insomnia adalah 10,7% dengan usia median timbulnya insomnia
adalah 11 tahun.Penelitian Halbower dan Marcus yang menyatakan gangguan
tidur yang paling banyak ditemukan pada remaja adalah insomnia

c) Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur :
Kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kualitas tersebut
dapat menunjukkan adanya kemampuan individu untuk tidur dan memperoleh
jumlah istirahat sesuai dengan kebutuhannya.

Berikut ini faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan


tidur, antara lain :
a) Status kesehatan
Seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan dapat tidur dengan
nyenyak. Tetapi pada orang yang sakit dan rasa nyeri, maka kebutuhan istirahat
dan tidurnya tidak dapat dipenuhi dengan baik sehingga tidak dapat tidur
dengan nyenyak. Banyak penyakit yang dapat memperbesar kebutuhan tidur,
seperti penyakit yang disebabkan oleh infeksi terutama infeksi limpa. Infeksi
limpa berkaitan denga keletihan sehingga penderitanya membutuhkan banyak
tidur untuk mengatasinya. Banyak juga keadaan sakit yang membuat
penderitanya kesulitan tidur atau bahkan tidak bisa tidur. Misalnya pada klien
dengan gangguan pada sistem pernapasan. Dalam kondisinya yang sesak
napas, maka seseorang tidak mungkin dapat istirahat dan tidur
b) Lingkungan
Keadaan lingkungan yang nyaman dan aman bagi seseorang dapat
mempercepat proses terjadinya tidur. Sebaliknya, lingkungna yang tidak aman

3
dan nyaman bagi seseorang dapat menyebabkan hilangnya ketenangan
sehingga mempengaruhi proses tidur.
c) Stress psikologis
Kecemasan merupakan perasaan yang tidak jelas, keprihatinan dan
kekhawatiran karena ancaman pada sistem nilai atau pola keamanan seseorang
(Carpenito, 2000). Cemas dan depresi akan menyebabkan gangguan pada
frekuensi tidur. Hal ini disebabkan karena pada kondisi cemas akan
meningkatkan norepinefrin darah melalui sistem saraf simpatis. Zat ini akan
mengurangi tahap IV NREM dan REM.
d) Obat-obatan
Obat dapat juga memengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang
memengaruhi proses tidur, seperti jenis golongan obat diuretic yang dapat
menyebabkan insomnia, antidepresan yang dapat menekan REM, kafein yang
dapat meningkatkan saraf simpatis sehingga menyebabkan kesulitan untuk
tidur, golongan beta blocker dapat berefek pada timbulnya insomnia, dan
golongan narkotik dapat menekan REM sehingga mudah mengantuk.
e) Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi dapat mempercepat proses tidur.
Konsumsi protein yang tinggi dapat menyebabkan individu tersebut akan
mempercepat proses terjadinya tidur karena dihasilkan tripofan. Tripofan
merupakan asam amino hasil pencernaan protein yang dapat membantu
kemudahan dalam tidur. Demikian sebaliknya, kebutuhan gizi yang kurang
dapat juga memengaruhi proses tidur, bahkan terkadang sulit untuk tidur.
f) Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk
tidur, sehingga dapat mempengaruhi proses tidur. Selain itu, adanya keinginan
untuk tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.

d) Patofisiologi
Fisiologi tidur merupakan pengaturan tidur yang melibatkan hubungan
mekanisme serebral secara bergantian agar mengaktifkan dan menekan pusat

4
otak untuk dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh
sistem pengaktivasi retikularis. Sistem tersebut mengatur seluruh tingkatan
kegiatan susunan saraf pusat, termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur.
Pusat pengaturan kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan
bagian atas pons. Dalam keadaan sadar, neuron dalam reticular activating
sistem (RAS) akan melepaskan katekolamin seperti norepineprin. Selain itu,
RAS yang dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan
perabaan juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk
rangsangan emosi dan proses pikir. Pada saat tidur, terdapat pelepasan serum
serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan batang otak tengah, yaitu
bulbar synchronizing regional (BSR), sedangkan saat bangun bergantung pada
keseimbangan impuls yang diterima dipusat otak dan sistem limbic. Dengan
demikian, sistem batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur
adalah RAS dan BSR.
Selama tidur, dalam tubuh seseorang terjadi perubahan proses fisiologis, yaitu:

Penurunan tekanan darah dan denyut nadi


Dilatasi pembuluh darah perifer
Kadang-kadang terjadi peningkatan aktivitas traktus gastrointestinal
Relaksasi otot-otot rangka - Basal matabolsme rate menurun 10-30%

e) Klasifikasi
Berdasarkan prosesnya, terdapat dua jenis tidur, pertama jenis tidur yang
disebabkan oleh menurunnya kegiatan di dalam sistem pengaktivasi retikularis.
Jenis tidur tersebut disebut dengan tidur gelombang lambat karena gelombang
otaknya sangat lambat, atau disebut tidur nonrapid eye movement (NREM).
Kedua jenis tidur yang disebabkan oleh penyaluran isyarat-isyarat abnormal
dari dalam otak, meskipun kegiatan otak tidak tertekan secara berarti. Jenis
tidur yang kedua disebut dengan jenis tidur paradox atau rapid eye movement
(REM).
a. Tidur gelombang lambat/NREM, jenis tidur ini dikenal dengan tidur yang
dalam, atau juga dikenal dengan tidur yang nyenyak. Ciri-ciri tidur nyenyak
adalah menyegarkan, tanpa mimpi atau tidur dengan gelombang delta. Ciri

5
lainnya adalah individu berada dalam keadaan istirahat penuh, tekanan darah
menurun, frekuensi napas menurun, pergerakan bola mata melambat, mimpi
berkurang dan metabolisme menurun. Perubahan selama proses NREM tampak
melalui elektroensefalografi dengan memperlihatkan gelombang otak berada
pada setiap tahap tidur NREM. Tahap tersebut yaitu ; kewaspadaan penuh
dengan gelombang delta yang berfrekuensi tinggi dan bervoltase rendah,
istirahat tenang yang dapat diperlihatkan pada gelombang alfa, tidur ringan
karena terjadi perlambatan gelombang alfa ke jenis beta atau delta yang
bervoltase rendah, dan tidur nyenyak gelombang lambat dengan gelombang
delta bervoltase tinggi dan berkecepatan 1-2 perdetik.
Tahapan tidur jenis NREM :
Tahap I
Tahap ini adalah tahap transisi antara bangun dan tidur dengan ciri sebagai
berikut : rileks, masih sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola mata
bergerak dari samping ke samping, frekuensi nadi dan napas sedikit menurun,
serta dapat bangun segera selama tahap ini berlangsung selama 5 menit.
Tahap II
Tahap ini merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun
dengan ciri sebagai berikut : mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan
frekuensi napas menurun, temperature tubuh menurun, metabolisme menurun,
serta berlangsung pendek dan berakhir 10-15 menit.
Tahap III
Tahap III merupakan tahap tidur dengan ciri denyut nadi, frekuensi napas, dan
proses tubuh lainnya lambat. Hal ini disebabkan oleh adanya dominasi sistem
parasimpatis sehingga sulit dibangunkan.

Tahap IV

6
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam dengan ciri kecepatan jantung dan
pernapasan menurun, jarang bergerak, sulit dibangunkan, gerak bola mata
cepat, sekresi lambung menurun dan tonus otot menurun.

b. Tidur paradox/REM, tidur jenis ini dapat berlangsung pada tidur malam
yang terjadi selama 5-20 menit, rata-rata timbul 90 menit. Periode pertama
timbul 80-100 menit. Namun apabila kondisi seseorang sangat lelah, maka
awal tidur sangat cepat dan bahkan jenis tidur ini tidak ada.
Ciri tidur REM adalah sebagai berikut :
a) Biasanya disertai dengan mimpi aktif
b) Lebih sulit dibangunkan daripada selama tidur nyenyak NREM
c) Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, menunjukan inhibisi kuat
proyeksi spinal atas sistem pengaktivasi retikularis
d) Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur
e) Pada otot perifer, terjadi gerakan otot yang tidak teratur
f) Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan irregular, tekanan darah
meningkat atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat, dan metabolism
meningkat
g) Tidur ini penting untuk keseimbangan mental, emosi, juga berperan dalam
belajar, memori, dan adaptasi

Apabila seseorang mengalami kehilangan tidur REM, maka akan menunjukkan


gejala-gejala sebagai berikut :
a) Cenderung hiperaktif
b) Kurang dapat mengendalikan diri dan emosi
c) Nafsu makan bertambah
d) Bingung dan curiga

Secara umum, siklus tidur normal adalah sebagai berikut:

Bangun (Pratidur)

NREM 1 Tidur REM

NREM II NREM II

7

NREM III NREM III

NREM IV
Gambar. Siklus tidur (sumber : Potter & Perry, 1997)

Jenis-jenis gangguan tidur :


a) Insomnia
Insomnia merupakan suatu keadaan yang menyebabkan individu tidak
mampu mendapatkan tidur yang adekuat, baik secara kualitas maupun
kuantitas sehingga individu tersebut hanya tidur sebentar atau susah tidur.
Insomnia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu inisial insomnia. intermiten insomnia
dan terminal insomnia. Inisial insomnia merupakan ketidakmampuan individu
untuk jatuh tidur atau memulai tidur. Intermitten insomnia merupakan
ketidakmampuan tetap tidur karena selalu terbangun pada malam hari.
Sedangkan terminal insomnia merupakan ketidakmampuan untuk tidur kembali
setelah bangun tidur pada malam hari. Proses gangguan tidur ini kemungkinan
besar disebakan adanya rasa khawatir dan tekanan jiwa.
b) Hipersomia
Hipersomia merupakan gangguan tidur dengan criteria tidur berlebihan.
Pada umumnya, lebih dari sembilan jam pada malam hari, yang disebabkan
oleh kemungkinan masalah psikologis, depresi, cemas, gangguan sususnan
sistem saraf pusat, ginjal, hati, dan gangguan metabolisme.
c) Parasomia
Parasomia merupakan kumpulan penyakit yang dapat menyebabkan
gangguan pola tidur. Misalnya somnmbulisme yang banyak terjadi pada
anakanak yaitu pada tahap III dan IV dari tidur NREM.

d) Enuresis
Enuresis merupakan buang air kecil yang tidak sengaja pada waktu tidur.
Enuresis ada dua macam, yaitu enuresis nocturnal dan enuresis diurnal.
Enuresis nocturnal merupakan mengompol pada waktu tidur. Umumnya, terjadi

8
sebagai gangguan tidur NREM. Enuresis diurnal merupakan mengompol pada
saat bangun tidur.
e) Somnambulisme
Somnambulisme adalah gangguan tingkah laku yang sangat kompleks
mencakup adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka
pintu, menutup pintu, duduk di tempat tidur, menabrak kursi, termasuk tingkah
laku berjalan dalam beberapa menit kemudian kembali tidur.
f) Narkolepsi
Narkolepsi merupakan suatu kondisi yang dicirikan oleh keinginan yang
tidak terkendali untuk tidur. Dapat dikatakan bahwa narkolepsi adalah serangan
mengantuk yang mendadak, sehingga ia dapat tertidur pada saat dimana
serangan tidur tersebut datang.
g) Night terrors
Night terrors merupakan mimpi buruk. Umumnya terjadi pada anak-anak.
Setelah tidur beberapa jam, anak tersebut langsung terjaga dan berteriak, pucat,
dan ketakutan.
h) Mendengkur
Mendengkur disebabkan oleh adanya rintangan terhadap pengaliran udara
di hidung dan mulut. Amandel yang membengkak dan adenoid dapat menjadi
faktor yang turut menyebabkan mendengkur. Pangkal lidah yang menyumbat
saluran napas pada lansia. Otot-otot di bagian belakang mulut mengendur lalu
bergetar jika dilewati udara pernapasan.

Selain gangguan tidur yang telah diuraikan diatas, terdapat pula gangguan tidur
yang diklasifikasikan menjadi empat kategori utama (Thorpy, 1994), yaitu :
1) Disomnia merupakan gangguan primer yang berasal dari sistem tubuh
yang berbeda dan dibagi lagi menjadi tiga kelompok besar, diantaranya :
Gangguan tidur intrinsik meliputi gangguan untuk memulai dan
mempertahankan tidur, yaitu berbagai bentuk insomnia dan gangguan rasa
kantuk yang berlebihan seperti narkolepsi dan apnea tidur obstruktif.

9
Gangguan tidur ekstrinsik terjadi akibat beberapa faktor eksternal,
yang jika dihilangkan menyebabkan hilangnya gangguan tidur.
Gangguan irama sirkadian sewaktu tidur dapat terjadi karena
ketidaksejajaran antara waktu tidur dan apa yang diinginkan oleh individu
atau norma sosial.
2) Parasomnia merupakan perilaku tidak diinginkan yang terjadi terutama
pada saat tidur diantaranya gangguan terjaga, terjaga sebagian, atau selama
transisi dalam siklus tidur atau dari tidur ke terbangun.
3) Gangguan tidur yang berhubungan dengan gangguan medis dan psikiatrik
Banyak gangguan tidur medis dan psikiatrik yang berhubungan dengan
gangguan tidur dan bangun. Gangguan tidur tersebut dibagi menjadi gangguan
tidur yang yang berhubungan dengan psikiatrik, neurologik, atau gangguan
medis lainnya.
4) Gangguan tidur yang masih bersifat usulan Merupakan gangguan baru
yang belum memiliki banyak informasi yang adekuat mengenai keberadaan
gangguan tersebut.

f) Gejala Klinis
Pada orang normal, gangguan tidur yang berkepanjangan akan
menimbulkan gejala seperti adanya perubahan-perubahan pada siklus tidur
biologiknya, daya tahan tubuh menurun serta menurunkan prestasi kerja,
mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya
dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain.
Gejala tidur REM adalah sebagai berikut :
1) Biasanya disertai dengan mimpi aktif
2) Lebih sulit dibangunkan dari pada selama tidur nyenyak NREM
3) Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan yang menunjukkan
inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistema pengaktivasi retikularis
4) Frekuensi jantung dan pernafasan menjadi tidak teratur
5) Pada otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur
6) Mata cepat tertutup dan terbuka

10
g) Pemeriksaan Fisik
a. Kaji penampilan wajah klien, adakah lingkaran hitam disekitar mata,
mata sayu, konjungtiva merah, kelopak mata bengkak, wajah terlihat
kusut dan lelah
b. Kaji perilaku klien : cepat marah, gelisah, perhatian menurun, bicara
lambat, postur tubuh tidak stabil.

h) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik merupakan hal penting
dalam perawatan klien di rumah sakit. Dimana validitas dari hasil pemeriksaan
diagnostik sangat ditentukan oleh bahan pemeriksaan, persiapan klien, alat dan
bahan yang digunakan serta pemeriksaannya sendiri.
i) Diagnosis
a. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kerusakan transfer oksigen,
gangguan metabolisme, kerusakan eliminasi, imobilisasi, nyeri pada kaki,
lingkungan yang mengganggu.
b. Cemas berhubungan dengan ketidakmampuan untuk tidur, henti nafas
saat tidur.
c. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan insomnia.
j) Penanganan
Penanganan gangguan tidur dibagi menjadi 2 tahap yaitu :

1) Terapi non farmakologi merupakan pilihan utama sebelum menggunakan


obat-obatan karena penggunaan obat-obatan dapat memberikan efek
ketergantungan. Ada pun cara yang dapat dilakukan antara lain :
- Terapi relaksasi
Terapi ini ditujukan untuk mengurangi ketegangan atau stress yang dapat
mengganggu tidur. Bisa dilakukan dengan tidak membawa pekerjaan kantor ke
rumah, teknik pengaturan pernapasan, aromaterapi, peningkatan spiritual dan
pengendalian emosi.

11
- Terapi tidur yang bersih
Terapi ini ditujukan untuk menciptakan suasana tidur bersih dan nyaman.
Dimulai dari kebersihan penderita diikuti kebersihan tempat tidur dan suasana
kamar yang dibuat nyaman untuk tidur.
- Terapi pengaturan tidur
Terapi ini ditujukan untuk mengatur waktu tidur perderita mengikuti irama
sirkardian tidur normal penderita. Jadi penderita harus disiplin menjalankan
waktu-waktu tidurnya
- Terapi psikologi/psikiatri
Terapi ini ditujukan untuk mengatasi gangguan jiwa atau stress berat yang
menyebabkan penderita sulit tidur. Terapi ini dilakukan oleh tenaga ahli atau
dokter psikiatri
- Mengubah gaya hidup
Bisa dilakukan dengan berolah raga secara teratur, menghindari rokok dan
alkohol, mengontrol berat badan dan meluangkan waktu untuk berekreasi ke
tempat-tempat terbuka seperti pantai dan gunung.
2) Terapi Farmakologi
Mengingat banyaknya efek samping yang ditimbulkan dari obat-obatan seperti
ketergantungan, maka terapi ini hanya boleh dilakukan oleh dokter yang
kompeten di bidangnya. Obat-obatan untuk penanganan gangguan tidur antara
lain :

- Golongan obat hipnotik


- Golongan obat antidepresan
- Terapi hormone melatonin dan agonis melatonin
- Golongan obat antihistamin.
Ada terapi khusus untuk kasus-kasus gangguan tidur tertentu selain yang
telah disebutkan di atas. Misalnya pada sleep apnea yang berat dapat dibantu
dengan pemakaian masker oksigen (Continuous positive airway pressure) atau
tindakan pembedahan jika disebabkan kelemahan otot atas pernapasan.Pada

12
Restless Leg Syndrome kita harus mencari penyakit dasarnya untuk dapat
memperoleh terapi yang adekuat.

k) Komplikasi
a. Efek psikologis
Dapat berupa gangguan memori, gangguan berkonsentrasi , irritable,
kehilangan motivasi, depresi, dan sebagainya.
b. Efek fisik/somatic
Dapat berupa kelelahan, nyeri otot, hipertensi, dan sebagainya.
c. Efek social
Dapat berupa kualitas hidup yang terganggu, seperti susah mendapat
promosi pada lingkungan kerjanya, kurang bisa menikmati hubungan sosial
dan keluarga.
d. Kematian
Orang yang tidur kurang dari 5 jam semalam memiliki angka harapan
hidup lebih sedikit dari orang yang tidur 7-8 jam semalam. Hal ini mungkin
disebabkan karena penyakit yang menginduksi insomnia yang memperpendek
angka harapan hidup atau karena high arousal state yang terdapat pada
insomnia mempertinggi angka mortalitas atau mengurangi kemungkinan
sembuh dari penyakit. Selain itu, orang yang menderita insomnia memiliki
kemungkinan 2 kali lebih besar untuk mengalami kecelakaan lalu lintas jika
dibandingkan dengan orang normal.

TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Ny. A DENGAN APENDIKSITIS

A. Pengkajian

13
Pengkajian dilakukan pada tanggal 18 Januari 2014 pukul 09.00 Wita di
Ruang Merpati RS Tulus Ayu dengan metode observasi, wawancara,
pemeriksaan fisik, dan dokumentasi.
1. Pengumpulan Data
a) Identitas Pasien
Pasien
Nama : Ny.M
Umur :18 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status perkawinan : Menikah
Agama :Islam
Pendidikan : D3 Keperawatan
Pekerjaan : Mahasiswa
Suku/Bangsa : Bugis/Indonesia
Alamat : Jln Wijaya kusuma Raya no.2 Banta-Bantaeng
Nomor telepon : 085395610509
Nomor register :121314
Tanggal MRS : 27 April 2017

b) Identitas Penanggung Jawab


Nama :Ny A
Umur :25 tahun
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Wiraswasta
Hub. dgn pasien : Saudara

B. Riwayat kesehatan
1. Keluhan utama masuk rumah sakit
Pasien mengeluh nyeri pada perut kanan bagian bawah.
2. Keluhan utama saat pengkajian
Pasien mengatakan susah tidur pada malam hari karena nyeri perut.
3. Riwayat penyakit sekarang
Ny.M mengeluh nyeri di bagian kanan bawah perutnya, sehingga
dia susah untuk duduk maupun berjalan. Keluarganya lalu
membawanya berobat ke RS pada tangga 27 April 2017 pukul 09.00
WITA. Ny.M lalu di bawa ke UGD pada tanggal 27 April 2017 pukul

14
10.00 dan di observasi TTV : TD : 120/80 mmHg, N : 110x/menit,
RR : 18x/menit, S : 37,50C.
Dari pemeriksaan diagnostit, Ny.M didiagnosa oleh dokter dengan
diagnosa medis Apendiksitis. Tanggal 27 April 2017pukul 10.00 WITA
Ny.M di operasi dan pukul 13.00 WITA Ny.M di pindahkan ke ruang
rawat inap di ruang Merpati. Tanggal 28 April 2017 pukul 09.00 WITA
didapatkan data subyektif yaitu pasien mengatakan sakit pada bagian
perut kanan bawah, pasien mengatakan sulit tidur. Pasien mengatakan
terbangun dua sampai tiga kali setiap malam disertai kesulitan untuk
tidur kembali karena nyeri perut . Pasien mengatakan terbangun terlalu
pagi. Pasien mengatakan susah miring kanan dan kiri saat berbaring.
Dan data obyektif yaitu pasien tampak gelisah, TTV: TD : 130/90
mmHg, N : 115x/menit, RR : 24x/menit, S : 37,50C
4. Riwayat penyakit sebelumnya
Pasien mengatakan belum pernah mengalami penyakit ini sebelumnya.
5. Riwayat penyakit keluarga
Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang pernah
mengalami penyakit ini.

C. Kebutuhan Bio Psiko Sosial Spiritual


1. Bernafas
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan tidak mengalami
gangguan saat menarik nafas maupun
menghembuskan nafas.
Saat pengkajian : Pasien mengatakan tidak ada keluhan sesak
saat menarik maupun menghembuskan nafas,
tidak ada nyeri saat bernafas.
2. Makan dan Minum
a. Makan
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan biasa makan 3x sehari
dengan 1 porsi penuh dan komposisi
makanannya yaitu : nasi, daging, sayur dan
susu.
Saat pengkajian : Pasien mengatakan tidak ada masalah
dengan makan.
b. Minum

15
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan biasa minum hanya air
mineral 8 gelas/hari (1600cc/hari), tidak
minum alkohol dan kopi.
Saat pengkajian : Pasien mengatakan minum hanya air mineral 4
gelas/hari (800cc), tidak minum alkohol
dan kopi.
1. Eliminasi
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan biasa buang air besar 1x
setiap harinya dan buang air kecil 5x setiap
hari dengan jumlah 200cc sekali buang air
kecil
Saat pengkajian : Pasien mengatakan tidak ada masalah dengan
eliminasinya dan pasien menggunakan alat
bantu kateter.

2. Gerak dan Aktivitas


Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan dapat melakukan
aktifitasnya sehari-hari tanpa bantuan orang
lain.
Saat pengkajian : Pasien mengatakan aktivitasnya terganggu
karena nyeri perut pasca operasi apendiksitis.
Pasien mengatakan sulit miring kanan dan
miring kiri saat berbaring.
3. Istirahat dan Tidur
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan biasa istirahat tidur 7 jam
sehari dan biasa tidur siang 1 jam sehari.
Saat pengkajian : Pasien mengatakan sulit tidur sejak 2 hari
yang lalu pasca operasi apendiksitis. Pasien
mengatakan hanya bisa tidur kurang lebih 4
jam dalam sehari. Pasien mengatakan
terbangun dua sampai tiga kali setiap malam
disertai kesulitan untuk tidur kembali karena
nyeri perut. Pasien mengatakan terbangun
terlalu pagi.

16
4. Kebersihan diri
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan mandi 2x sehari
mennggunakan sabun, menggosok gigi 2x
sehari menggunakan sikat gigi dan pasta
gigi, keramas 3x seminggu menggunakan
shampo, mengganti pakaian 1x sehari, dan
potong kuku 1x seminggu tanpa bantuan
orang lain.
Saat pengkajian : Pasien mengatakan sejak sakit tidak mampu
melakukan kebersihan diri secara mandiri,
dibantu oleh keluarga, mandi hanya di lap
menggunakan air hangat dan tanpa disabuni 2x
sehari, menggosok gigi 2x sehari
menggunakan sikat gigi dan pasta gigi,
keramas hanya 1x seminggu menggunakan
shampo, belum potong kuku karena masih
bersih dan pendek, dan berganti pakaian 1x
sehari.
5. Pengaturan suhu tubuh
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan tubuhnya tidak terasa
panas.
Saat pengkajian : Pasien tidak tampak menggigil. Badan pasien
teraba hangat. Pasien tampak berkeringat.
6. Rasa nyaman
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan merasa nyaman dengan
tubuhnya.
Saat pengkajian : Pasien mengeluh nyeri pada di bagian perut
dengan skala 6 dari 0-10 skala nyeri yang
diberikan. Pasien mengatakan terbangun
pada malam hari karena nyeri perut pada
bagian kanan bawah. Pasien mengatakan
nyeri perut terus menerus seperti di tusuk
jarum.
3. Rasa aman

17
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan tidak merasa cemas dan
selalu percaya diri.
Saat pengkajian : Pasien mengatakan dirinya cemas dan takut
karena nyeri perut yang dialaminya.
4. Data sosial
Sebelum Pengkajian : Pasien mengatakan hubungan dengan keluarga,
teman dan masyarakat sekitar baik dan
harmonis.
Saat Pengkajian : Pasien mengatakan hubungan dengan keluarga,
perawat dan pasien lain baik dan harmonis.
5. Prestasi dan produktivitas
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan dapat melakukan
aktivitasnya sebagai mahasiswa sehari-hari.
Saat pengkajian : Pasien mengatakan tidak dapat melakukan
aktivitasnya sebagai wiraswasta sehari-hari.
6. Rekreasi
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan biasa berekreasi ke pantai
saat akhir pekan.
Saat pengkajian : Pasien mengatakan tidak bisa berekreasi ke
pantai lagi.
7. Belajar
Pasien mengatakan mengetahui tentang penyakitnya namun belum
mengerti tentang penanganan dan pengobatan tentang penyakitnya.
Pasien mempunyai keinginan untuk mempelajari tentang penyakitnya.
8. Ibadah
Sebelum pengkajian : Pasien mengatakan biasa sembahyang 3x
sehari.
Saat pengkajian : Pasien mengatakan ibadahnya tidak
terganggu bahkan pasien lebih sering
beribadah.
D. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum Pasien
a. Kesadaran : Compos Mentis
b. Bangun tubuh : Kurus
c. Postur Tubuh : Tegak
d. Cara Berjalan : Terganggu
e. Gerak Motorik : Terganggu
f. Keadaan Kulit :
Warna kulit : Pucat

18
Turgor : Elastis
Kebersihan : Bersih
g. Gejala Cardinal :
Tekanan Darah : 130/90 mmgh
Nadi : 115x/menit
Suhu : 37,5 o C
Pernapasan : 24x/menit
h. Ukuran lain
Berat badan : - sebelum sakit : 60kg
- setelah sakit : 60kg
Tinggi badan : 164 cm
2. Kepala
a. Inspeksi
Kulit kepala : Bersih
Rambut : Hitam
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, massa dan deformitas.
3. Mata
a. Inspeksi
- Konjungtiva : Pucat
- Sklera : Putih
- Kelopak mata : Lingkaran hitam
- Pupil : Reflek pupil baik
- Lapang pandang : Normal
- Visus : 5/6
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
4. Hidung
a. Inspeksi
- Bentuk : Simetris
- Penciuman : Baik
- Keadaan : Bersih
- Massa : Tidak ada polip
- Luka : Tidak ada luka
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan sinusitis.
5. Telinga
a. Inspeksi
- Keadaan : Bersih
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
c. Pendengaran : Baik atau normal.
6. Mulut
a. Inspeksi
- Mukosa bibir : Mukosa lembab
- Gusi : Tidak berdarah
- Gigi : Berlubang
- Lidah : Bersih
- Tonsil : Normal
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan massa.

19
7. Leher
a. Inspeksi
- Keadaan : Baik, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, dan tidak
ada distensi vena jugularis.
b. Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada
pembengkakan kelenjar tiroid, tidak ada distensi vena jugularis dan
tidak teraba massa.
8. Thorax
a. Inspeksi
- Bentuk : Simetris
- Gerakan dada : Bebas
- Payudara : Simetris
b. Palpasi
- Pengembangan dada : Simetris
- Vibrasi tactile premitus : Simetris
- Tidak ada nyeri tekan.
c. Perkusi
- Suara paru : Sonor atau resonan
d. Auskultasi
- Suara paru : Vesikuler atau normal, tidak ada suara nafas
tambahan seperti : ronchi, wheezing dan rales.
- Suara jantung : S1-S2 tunggal reguler, tidak ada suara tambahan
seperti: gallop dan murmur.
9. Abdomen
a. Inspeksi
- Pemeriksaan : Tidak ada ascites dan tidak ada distensi abdomen
- Terdapat luka bekas operasi pada kuadran kanan bawah.
b. Auskultasi
- Peristaltic usus : 15 x/menit
c. Palpasi
- Keadaan : Tidak ada hepatomegali, apendiksitis, tidak ada distensi
abdomen, tidak ada massa, tidak ada ascites dan terdapat
nyeri pada kuadran kanan bawah.
d. Perkusi : Tympani
10. Genetalia
a. Inspeksi : Bersih.
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa, tidak ada keluar
cairan atau nanah dan terpasang catheter.
11. Anus
a. Inspeksi : Keadaan bersih.
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan spingter ani baik.
12. Ekstremitas

20
a. Ekstremitas Atas
- Inspeksi : Pergerakan bebas dan terpasang infuse, tidak ada
deformitas tidak ada clubbing finger, tidak ada
oedema, CRT 2 detik.
- Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan krepitasi.
b. Ekstremitas Bawah
- Inspeksi : Pergerakan bebas, tidak ada deformitas, tidak ada
clubbing finger, tidak ada oedema, CRT 2 detik dan tidak
terpasang infuse.
- Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan krepitasi.
c. Kekuatan otot
444 44
445 44

2. Data Fokus

Data Subyektif Data Obyektif

1. Pasien mengatakan sulit 1. Observasi perawat pasien tampak


tidur. susah mengubah posisi di tempat
2. Pasien mengatakan terbangun
tidur.
2 sampai 3 kali setiap malam 2. Observasi perawat pasien tampak
dan kesulitan untuk tidur kurang bergairah.
3. Observasi perawat pasien tampak
kembali.
3. Pasien mengatakan terbangun gelisah.
4. Observasi perawat terdapat
terlalu pagi.
4. Pasien mengatakan sulit lingkaran hitam pada mata pasien.
5. TTV : Suhu : 37,5oc
miring kiri dan miring kanan.
Nadi : 115x/ menit
RR : 24x/menit

21
3. Analisa Data
Analisa Data Pasien Ny. M dengan Apendiksitis di Ruangan Merpati
Rumah Sakit Tulus Ayu tanggal 28 April 2017

Data Subyektif Data Obyektif Masalah

1. Pasien mengatakan 1. Observasi perawat pasien Insomnia


sulit tidur . tampak kurang bergairah.
2. Pasien mengatakan 2. Observasi perawat pasien
terbangun 2 sampai 3 tampak gelisah.
3. TTV : Suhu : 37,5 o c
kali setiap malam dan
Nadi : 115x / menit
kesulitan untuk tidur RR : 24x/menit.
4. Observasi perawat terdapat
kembali.
3. Pasien mengatakan lingkaran hitam pada mata
terbangun terlalu pasien.
pagi.

1. Pasien mengatakan 1. Observasi perawat pasien Hambatan


sulit miring kiri dan tampak susah mengubah Mobilitas
miring kanan. posisi ditempat tidur.

3. Rumusan Masalah Keperawatan


a. Insomnia
b. Hambatan Mobilitas
4. Analisa Masalah
a. P : Insomnia.
b. E : Nyeri.
c. S : - Pasien mengatakan sulit tidur.
- Pasien mengatakan terbangun 2 sampai 3 kali setiap malam dan
kesulitan untuk tidur kembali.
- Pasien mengatakan terbangun terlalu pagi.
- Observasi perawat pasien tampak kurang bergairah.
- Observasi perawat pasien tampak gelisah.
- TTV : Suhu : 37,5 o c.
Nadi : 115x / menit.
RR : 24x/menit.

22
- Observasi perawat terdapat lingkaran hitam pada mata pasien.
d. Proses terjadinya : Nyeri yang dirasakan oleh pasien mempengaruhi
otak bagian hipotalamus sehingga menyebabkan pasien merasa tidak
nyaman dan ini mengakibatkan pasien susah tidur.
e. Akibat Jika Tidak Ditanggulangi : Menyebabkan resiko terjadinya
serangan jantung.
a. P : Hambatan mobilitas.
b. E : Nyeri.
c. S : - Pasien mengatakan sulit miring kiri dan miring kanan.
- Observasi perawat pasien tampak susah mengubah posisi
ditempat tidur.
d. Proses Terjadinya : Nyeri yang dirasakan oleh pasien menyebabkan
adanya gangguan mobilitas sehingga terasa sakit saat pasien bergerak
ini yang menyebabkan pasien susah untuk miring kiri atau miring
kanan.
e. Akibat Jika Tidak Ditanggulangi : Dapat menyebabkan terjadinya
dikubitus dan penurunan metabolisme dalam tubuh.

5. Diagnosa Keperawatan
a. Insomnia berhubungan dengan nyeri ditandai dengan pasien mengatakan
sulit tidur, pasien mengatakan terbangun 2 sampai 3 kali setiap malam dan
kesulitan untuk tidur kembali, pasien mengatakan terbangun terlalu pagi,
pasien tampak gelisah, pasien tampak kurang bergairah , TTV : Suhu : 37,5 o
C, RR : 24x/menit, Nadi : 115x / menit dan terdapat lingkaran hitam pada
mata pasien.
b. Hambatan mobilitas berhubungan dengan nyeri ditandai dengan pasien
mengatakan sulit miring kanan, dan pasien tampak susah mengubah posisi
tidur.

Nama Pasien : Ny. M No. RM :


Umur : 18th Ruang Rawat : Ruang Merpati
Jenis Kelamin : Perempuan Diagnosa Medis : Apendiksitis

No Diagnosa Tanggal
Ditemukan Teratasi Paraf /nama
Keperawatan

23
1. Insomnia 27 April 2017 29 April 2017 Mahasiswa

2. Hambatan 27 April 2017 29 April 2017 Mahasiswa


Mobilitas

E. Perencanaan
1. Prioritas Masalah Keperawatan
a. Insomnia
b. Hambatan mobilitas

24
Rencana Keperawatan
Rencana Keperawatan Pada Pasien Ny. A dengan Apendiksitis di Ruangan
Merpati Rumah Sakit Tulus Ayu Tanggal 28April-1 Mei 2017
No Hari/Tgl/Jam Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil

1. Kamis/28 Insomnia Setelah Mandiri


1. Untuk
April berhubungan diberikan 1. Kaji TTV
mengeta
2017 / dengan nyeri Askep 3x24 pasien.
hui
09.00 ditandai jam
kondisi
WITA dengan diharapkan
atau
DS : pasien tidak
keadaan
- Pasien mengalami 2. Kendalika
umum
mengatakan insomnia n sumber-
pasien.
sulit tidur. dengan sumber
2. Suara
- Pasien kriteria hasil : kebisinga
yang
mengatakan 1. Pasien n di
keras
terbangun 2 mengatak lingkunga
dapat
sampai 3 an dapat n dan
menggan
kali setiap tertidur pastikan
ggu dan
malam dan pulas. bahwa
mempen
2. Pasien
kesulitan kamar
garuhi
tidak
untuk tidur tidur
istirahat.
terbangun
kembali. sudah
saat tidur
- Pasien digelapka
dan tidak
mengatakan n dan
sulit untuk
terbangun memiliki
tidur
terlalu pagi ventilasi
3.
kembali.
DO : yang baik.
3. Pasien Kompr
3. Beri
- Observasi
bangun es yang
kompres
perawat
sesuai dingin
dingin

25
pasien dengan pada dapat
tampak pola jam lingkaran membe
gelisah. tidur. hitam rikan
4. Pasien
- Observasi pasien. kenya
tidak
perawat man
tampak
pasien 4. Tentukan pada
gelisah.
tampak waktu mata.
5. Pasien
kurang sebelum 4 . Teknik
tampak
bergairah. klien relaksa
bergairah.
- TTV : 6. TTV : pergi tidur si dapat
Suhu : 37,5 Suhu 36o untuk menuru
o
C, RR : C , RR : latihan nkan
24x/menit, 18x/menit relaksasi insomn
Nadi : 115x , yang ia.
/menit Nadi:80x/ tenang
- Observasi menit. atau
7. Tidak
perawat latihan
terdapat
terdapat relaksasi
lingkaran
lingkaran progresif.
hitam 5. Anjurkan
hitam pada 5. Susu
dibawah klien
mata menga
mata mengikuti
pasien. ndung
pasien. ritual tidur
L-
: naik ke
triptofa
tempat
n,
tidur pada
asam
jam yang
amino
sama
alami
setiap
yang
malam
merang
dan
sang

26
meminum tidur.
segelas
susu.
Kolaborasi :
7. Kolaborasi 7.
dalam Lizopo
pemberian m
obat dapat
lizopom. mengur
angi
insomn
ia.
2. Kamis/28 Hambatan Setelah Mandiri :
April 2017 / mobilitas diberikan 1. Observasi 1. Untuk
09.00 WITA berhubungan Askep pergerakan memanta
dengan nyeri 3x24jam di pasien. u
ditandai harapakan mobilitas
2. Anjurkan
dengan pasien tidak pasien.
klien
Ds: mengalami 2. Agar
memakai
- Pasien hambatan pasien
pakaian
mengatakan mobilitas dapat
longgar.
sulit miring dengan 3. Memberika bebas
kanan . kriteria hasil : n massage bergerak
DO: 1. Pasien tepat sesaat saat
- Observasi mengatakan sebelum tidur.
perawat dapat pasien pergi 3.
pasien memiringka tidur. Meningk
tampak n badannya. Kolaborasi : atkan
2. Pasien
susah 4. Kolaborasi sirkulasi
mampu
mengubah dengan darah
mengubah
posisi tidur. keluarga sehingga
posisi tidur

27
tanpa pasien pasien
bantuan untuk merasa
dari membantu nyaman.
perawat pasien
atau bergerak. 4.Memper
keluarga. muda-h
pasien
dalam
bergerak
.

F. Pelaksanaan / Implementasi
Pelaksanaan Keperawatan Pada Pasien Ny. M Dengan Apendiksitis di Ruang
Merpati Rumah Sakit Tulus Ayu Tanggal 28April-30 Mei 2017

No Hari/Tgl/ Diagnosa Tindakan Keperawatan Evaluasi Respon


Jam Keperawatan
1. 28 April Dx. 1 Mandiri : DS : - Pasien
2017, 1. Mengkaji TTV mengatak
kamis, pasien. an
10.00 badannya
Wita
masih
terasa
panas.
DO : - Suhu :
37,5 o c,
RR :
24x/men
it, Nadi :
115x
/menit.

28
2. 28 April Dx. 1 Mandiri DS: - Pasien
1. Memberikan
2017, mengatak
kompres dingin pada
kamis, an
lingkaran hitam
13.00 matanya
dimata pasien.
Wita masih
terasa
lelah.
DO : -
Observas
i perawat
masih
terdapat
lingkara
n hitam
dimata
pasien.
3. 28 April Dx. 2 Mandiri DS: - Pasien
2017, 1. Mengkaji mengata
Kamis, pergerakan pasien. kan
13.00 masih
Wita susah
untuk
miring
kiri atau
miring
kanan.
DO: - Pasien
tampak
masih
terbaring
lemas.

29
4. 28 April Dx. 2 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Menganjurkan mengata
Kamis, pasien untuk kan
17.00 memakai pakaian masih
Wita yang longgar agar susah
bebas bergerak bergerak
.
DO : - Pasien
tampak
masih
susah
bergerak
.
5. 28 April Dx. 2 Kolaborasi DS: - Pasien
2017 , 1. Menganjurkan mengatak
Kamis, keluarga pasien an masih
18.00 untuk membantu susah
Wita pasien bergerak untuk
bergerak
DO : - Pasien
tampak
masih
sama
seperti
posisi
sebelum
nya
6. 28 April Dx. 1 Mandiri DS: - Pasien
1. Menjaga lingkungan
2017, mengatak
klien agar jauh dari
Kamis, an masih
adanya bisingan.
18.30 mendenga
Wita r suara

30
bising.
DO : -
Observas
i perawat
pasien
masih
nampak
susah
tidur.

7. 28 April Dx. 1,2 Mandiri DS: - Pasien


1. Memberikan pijat
2017 mengatak
relaksasi kepada
Kamis, an masih
pasien.
19.00 susah
Wita tidur.
DO : - Pasien
terlihat
susah
tidur.
8. 28 April Dx. 1 Mandiri DS: - Pasien
1. Memberikan pasien
2017 mengata
segelas susu.
Kamis, kan
19.30 masih
Wita susah
tidur.
DO: - Pasien
masih
tampak
susah
tidur.
9. 28 April Dx. 1 Kolaborasi : DS: - Pasien
1. Memberikan obat
2017, masih
lizopom kepada
Kamis, mengatak

31
20.30 pasien. an sulit
Wita tidur.
DO: - Pasien
masih
tampak
susah
tidur .
10. 28 April Dx. 1 Mandiri : DS : - Pasien
1. Mengkaji TTV
2017, mengata
pasien.
Jumat, kan
10.00 badanny
Wita a masih
teraba
hangat.
DO : - Suhu :
37 o C,
RR :
23x/men
it, Nadi :
110x
/menit.

2. 29 April Dx. 1 Mandiri DS: - Pasien


1. Memberikan
2017, mengatak
kompres dingin pada
Jumat, an
lingkaran hitam
13.00 lingkaran
dimata pasien.
Wita hitam
dibawah
mata
sudah
sedikit
berkurang.
DO: - Masih

32
tampak
adanya
lingkaran
hitam.
3. 29 April Dx. 2 Mandiri DS : - Pasien
1. Mengkaji
2017, mengata
pergerakan pasien.
Jumat, kan
13.00 hanya
Wita sedikit
mampu
melakuk
an
gerakan.
DO : - Pasien
hanya
mampu
sedikit
melakuk
an
pergerak
an.
4. 29 April Dx. 2 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Menganjurkan mengatak
Jumat, pasien untuk an hanya
17.00 memakai pakaian sedikit
Wita yang longgar agar mampu
bebas bergerak. melakuka
n gerakan.
DO : - Pasien
hanya
mampu
sedikit

33
melakuk
an
pergerak
an.
5. 29 April Dx. 2 Kolaborasi DS : - Pasien
2017, 1. Menganjurkan mengatak
Jumat keluarga pasien an hanya
18.00 untuk membantu sedikit
Wita pasien dalam mampu
bergerak. melakuka
n gerakan.
DO : - Pasien
masih
tampak
sangat
membut
uhkan
bantuan.
6. 29 April Dx. 1 Mandiri DS: - Pasien
2017, 1. Menjaga lingkungan mengatak
Jumat, klien agar jauh dari an masih
18.30 adanya bisingan. agak sulit
Wita untuk
tertidur
pulas.
DO: - Pasien
masih
tampak
agak
gelisah.
7. 29 April Dx 1,2 Mandiri DS: - Pasien
2017, 1. Memberikan pijat mengatak

34
Jumat relaksasi kepada an agak
19.00 pasien. sedikit
Wita merasakan
kenyaman
.
DO : - Pasien
masih
sedikit
susah
tidur .
8. 29 April Dx. 1 Mandiri DS: - Pasien
2017, 1. Memberikan pasien mengatak
jumat, segelas susu an merasa
19.30 sebelum tidur. sedikit
Wita agak
nyaman.
DO: - Pasien
masih
tampak
susah
tidur.
9. 29 April Dx. 1 Kolaborasi : DS: - Pasien
2017, 1. Memberikan obat mengatak
Jumat lizopom kepada an sedikit
20.30 pasien. bisa tidur.
DO: - Pasien
Wita
masih
tampak
susah
tidur.
1. 30 April Dx. 1 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Mengkaji TTV sudah
sabtu, pasien. terlihat

35
10.00 lebih
Wita cerah.
DO : - Suhu :
36,5 o C,
RR :
21x/men
it, Nadi :
100x
/menit.

2. 30 April Dx. 1 Mandiri DS : - Pasien


2017, 1. Memberikan mengatak
sabtu kompres dingin pada an
13.00 lingkaran hitam matanya
Wita dibawah mata sudah
pasien. tidak
terlalu
merasa
lelah.
DO : -
Lingkara
n hitam
dibawah
mata
pasien
sudah
mulai
menghila
ng.
3. 30 April Dx. 2 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Mengkaji mengata
Sabtu, pergerakan pasien kan

36
13.00 sudah
Wita mulai
mampu
melakuk
an
pergerak
an tapi
belum
maksima
l.
DO : - Pasien
tampak
mampu
menguba
h posisi
walau
belum
maksima
l.
4. 30 April Dx. 2 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Menganjurkan mengata
Sabtu, pasien untuk kan
17.00 mengenakan baju sudah
Wita
yang longgar. mulai
mampu
melakuk
an
pergerak
an tapi
belum
maksima
l.

37
DO : - Pasien
tampak
mampu
menguba
h posisi
walau
belum
maksima
l.
5. 30 April Dx. 2 Kolaborasi DS : - Pasien
2017, 1. Menganjurkan mengata
Sabtu, keluarga pasien kan
18.00 untuk membantu sudah
Wita
pasien dalam mulai
bergerak. mampu
melakuk
an
pergerak
an tapi
belum
maksima
l.
DO : - Pasien
tampak
mampu
menguba
h posisi
walau
belum
maksima
l.
6. 30 April Dx. 1 Mandiri DS : - Pasien

38
2017, 1. Menjaga lingkungan mengata
Sabtu, klien agar jauh dari kan
18.30 adanya bisingan. sudah
Wita mampu
untuk
tertidur
tapi
belum
begitu
pulas.
DO : - Pasien
tampak
sudah
mampu
untuk
tidur.
7. 30 April Dx. 1,2 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Memberikan pijet mengatak
19.00 relaksasi kepada an sudah
Wita pasien. merasa
nyaman
tapi belum
begitu
nyaman.
DO : - Pasien
tampak
mampu
untuk
tertidur
walau
belum
begitu

39
nyenyak.
8. 30 April Dx. 1 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Menganjurkan mengata
Sabtu, pasien untuk kan
19.30 meminum satu gelas merasa
Wita susu sebelum tidur. nyaman.
DO : - Pasien
tampak
sudah
mampu
tertidur
walau
belum
begitu
pulas.
9. 30 April Dx. 1 Kolaborasi : DS: - Pasien
2017, 1. Memberikan obat mengatak
Sabtu, lizopom kepada an sedikit
20.30 pasien. bisa tidur.
DO: - Pasien
Wita
tampak
mulai bisa
tidur.
1. 1 Mei Dx. 1 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Mengkaji TTV sudah
Minggu, pasien. terlihat
10.00 sangat
Wita cerah
dan
bergaira
h.
DO : - Suhu : 36

40
o
C, RR :
18x/men
it, Nadi :
80x
/menit.

2. 1 Mei Dx. 1 Mandiri DS : - Pasien


2017, 1. Memberikan mengata
Minggu, kompres dingin kan
13.00 lingkaran hitam sudah
Wita dibawah mata pasien. tidak
tampak
lagi
lingkara
n hitam
dibawah
mata.
DO : - Sudah
tidak
tampak
lagi
lingkara
n hitam
dibawah
mata
pasien
3. 1 Mei Dx. 2 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Mengkaji mengata
Minggu, pergerakan pasien. kan
13.00 sudah
Wita mampu
melakuk

41
an
pergerak
an
sendiri
dengan
maksima
l.
DO : - Pasien
tampak
sudah
mampu
melakuk
an
pergerak
an
dengan
leluasa.
4. 1 Mei Dx. 2 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Menganjurkan mengata
Minggu, pasien untuk kan
17.00 memakai baju sudah
Wita longgar. mampu
melakuk
an
pergerak
an
sendiri
dengan
maksima
l.
DO : - Pasien
tampak

42
sudah
mampu
melakuk
an
pergerak
an
dengan
leluasa.
5. 1 Mei Dx. 2 Kolaborasi DS : - Pasien
2017, 1. Menganjurkan mengata
Minggu, keluarga pasien kan
18.00 untuk membantu mampu
Wita pasien dalam melakuk
melakukan an
pergerakan. pergerak
an
sendiri
tanpa
bantuan
keluarga.
DO : - Pasien
tampak
mampu
menguba
h posisi
tanpa
adanya
bantuan
dari
pihak
lain.
6.. 1 Mei Dx. 1 Mandiri DS : - Pasien

43
2017, 1. Menjaga lingkungan mengata
Minggu klien agar jauh dari kan
18.30 adanya bisingan. sudah
Wita merasa
sangat
nyaman.
DO : - Pasien
tampak
mampu
tertidur
pulas.
7. 1 Mei Dx. 1,2 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Memberikan pijat mengata
Minggu, relaksasi kepada kan
19.00 pasien. sudah
Wita merasa
sangat
nyaman.
DO : - Pasien
tampak
mampu
tertidur
pulas.
8. 1 Mei Dx. 1 Mandiri DS : - Pasien
2017, 1. Menganjurkan mengata
Minggu, pasien untuk minum kan
19.30 1 gelas susu sudah
Wita sebelum tidur. merasa
sangat
nyaman.
DO : - Pasien
tampak

44
mampu
tertidur
pulas.
9. 1 Mei Dx. 1 Kolaborasi : DS: - Pasien
2017, 1. Memberikan obat mengatak
Minggu lizopom kepada an sudah
20.30 pasien. bisa tidur.
DO: - Pasien
Wita
terlihat
bisa tidur
dengan
nyenyak.

G. Evaluasi
1. Evaluasi Sumatif
Evaluasi Keperawatan Pada Pasien Ny. A Dengan Apendiksitis di Ruang
Merpati Rumah Sakit Tulus Ayu Tanggal 28 April- 1 Mei 2017

No. Hari/Tgl/Jam Diagnosa Evaluasi Respon Paraf


keperawatan
1. Minggu, 1 Dx. 1 S : - Pasien Mahasiswa
Mei 2017, mengatakan
20.30 WITA dapat tertidur

45
pulas.
- Pasien
mengatakan
tidak
terbangun
saat tidur dan
tidak sulit
untuk tidur
kembali.
O : - Pasien tidak
tampak gelisah.
- Pasien
tampak
bergairah.
- Tidak
tampak
adanya
lingkaran
hitam
dibawah
mata pasien.
- TTV: Suhu:
36 o C
RR :
18x/menit
Nadi :
80x/menit
A : Tujuan no 1 - 7
tercapai,
masalah
insomnia

46
teratasi.
P : Pertahankan
kondisi pasien.

2. Minggu, 1 Dx. 2 S : - Pasien dapat Mahasiswa


Mei 2017 , memiringkan
20.30 WITA badannya
O : - Pasien
mampu
mengubah
posisi ditempat
tidur.
A : Tujuan no 1
2 tercapai,
masalah
hambatan
mobilitas
teratasi.
P : Pertahankan
kondisi pasien.

Daftar Pustaka

Potter, Patricia A., Perry, Anne G. 2009. Fundamental Keperawatan, Edisi 7


Buku 3

Jakarta: Salemba Medika

NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi


2012-2014. Jakarta: EGC

Morhead, Sue, Johnson, Marion, Maas, Meriden L., Swanson, Elizabeth. 2006.
Nursing Outcomes Classification (NOC), Fourth Edition. Missouri: Mosby

47
Dochterman, Joanne Mccloskey, Bulechek, Gloria M. 2004. Nursing
Interventions Classification

48