Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A Latar Belakang

Anak adalah individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang

dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan

perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun), usia bermain atau toddler (1-1,5

tahun), pra sekolah (2,5-5 tahun), usia sekolah (5-11 tahun) hingga remaja (11-18

tahun) (Aziz, 2008, hlm. 6).

Tumbuh kembang adalah suatu proses pertumbuhan fisik yang ditandai dengan

bertambahnya ukuran organ tubuh karena pertumbuhan sel dan suatu proses aspek

non fisik menuju terciptanya kedewasaan yang ditandai dengan bertambahnya

kemampuan atau ketrampilan menyangkut struktur dan fungsi tubuh (Rukiyah DKK,

2010, hlm. 107). Pertumbuhan adalah bertambahnya jumlah dan besar sel organ yang

dapat diukur dengan ukuran berat (gram, pound dan kilogram) panjang (centimeter)

dan usia hilang. Perkembangan adalah bertambahanya kemampuan dan ketrampilan

struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat

diramalkan yang dicapai melalui pertumbuhan, kematangan dan belajar (Deslidel dkk,

2011, hlm. 23).

Rentang sehat sakit merupakan batasan yang dapat diberikan bantuan pelayanan

keperawatn pada anak, adalah suatu kondisi anak berada dalam status kesehatan yang

meliputi sejahtera, sehat optimal, sehat, sakit, sakit kronis dan meninggal. Rentang ini

suatu alat ukur dalam menilai status kesehatan yang bersifat dinamis dalam setiap
waktu, selam dalam batas rentang tersebut anak membutuhkan bantuan perawat baik

secara langsung maupun tidak langsung, seperti apabila anak berada dalam rentang

sehat, maka upaya perawat untuk meningkatkan derajat kesehatan sampai mencapai

taraf kesejahteraan baik fisik, social maupun spriritual. Pada kasus peritonitis anak

pada kondisi butuh bantuan dan dukungan dari keluarga untuk mempercepat

kesembuhannya baik fisik, mental dan sosial (Aziz, 2008, hlm. 8)

Sistem imunitas bayi telah ada sejak lahir, namun baru sebagian yang berkembang.

Hal ini berarti lebih rentan terhadap infeksi pada tahun-tahun pertama kehidupannya.

Dengan demikian mereka memerlukan tindakan khusus sebagai perlindungan dan

dukungan. Penelitian membuktikan bahwa ASI berperan penting untuk membentuk

sistem imunitas pada bayi. Dengan kata lain, pemberian ASI secara eksklusif dapat

memperkuat daya tahan tubuh bayi. Pembentukan daya tahan tubuh sejak dini perlu

dilakukan karena hal ini sama dengan meletakkan fondasi sistem imunitas tubuh.

Fondasi yang baik mendukung perkembangan sistem imunitas utuh yang baik pula di

masa dewasa. Tentunya upaya ini perlu dilakukan secara berkelanjutan (Nutriclub,

2013,1). Sistem imun bekerja untuk menetralkan, menghilangkan atau

menghancurkan mikroorganisme yang menginvasi lingkungan internal tubuh sebelum

antigen dapat melipatgandakan dirinya atau mengurai mekanisme pertahanan tubuh.

Peritoneum merupakan membrane serosa yang tipis, licin dan lembab yang melapisi

rongga peritoneum dan banyak organ perut seperti kavum abdomen dan pelvis.

Peritoneum menutupi visera walaupun beberapa hanya ditutupi pada permukaan

abdominal dan pelvis. Pada trauma abdomen baik trauma tembus abdomen dan

trauma tumpul abdomen dapat mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis bila

mengenai organ yang berongga intra peritonial. Rangsangan peritonial yang timbul
sesuai dengan isi dari organ berongga tersebut, mulai dari gaster yang bersifat kimia

sampai dengan kolon yang berisi feses. Rangsangan kimia onsetnya paling cepat dan

feses paling lambat. Bila perforasi terjadi dibagian atas, misalnya didaerah lambung

maka akan terjadi perangsangan segera sesudah trauma dan akan terjadi gejala

peritonitis hebat sedangkan bila bagian bawah seperti kolon, mula-mula tidak terjadi

gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untuk berkembang biak baru

setelah 24 jam timbul gejala akut abdomen karena perangsangan peritoneum

(Herlambang, 2013,1). Pada kasus peritonitis pertahanan imun non spesifik,

mengaktifkan mekanisme yang sama terhadap beberapa subtansi asing terjadi respons

terhadap infeksi luka insisi gejala umum, kemerahan, panas, bengkak dan nyeri

(Muscari, 2005, hlm.151).

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga abdomen

dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk

akut maupun kronis atau kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan

nyeri lepas pada palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi

(Herlambang, 2013,1). Insiden di negara barat telah menurun jelas pada dekade

terakhir, sedangkan di Afrika jarang dilaporkan adanya penyakit ini. Di Indonesia

belum di teliti apakah ada kesan ada kenaikan insiden. Di Amerika, insiden pada

orang kulit hitam sebanding atau sedikit lebih tinggi dibanding orang kulit putih.

Terdapat predisposisi familier, tetapi hubungannya belum jelas. Lebih banyak di

temukan pada orang yang golongan darah O, dan juga lebih sering ditemukan pada

golongan sosial ekonomi tinggi5. Pada 39 kasus peritonitis neonatal ditemukan sekitar

51,3% mempunyai peritonitis mekonium. Asites pada 45% kasus dan muntah

muntah pada 40% kasus, 30% mempunyai massa pada abdominal. Angka mortalitas
pada peritonitis mekonium sekitar 80%3 (Dokterirgi, 2013, 1). Sesuai dengan

prevelensi di atas kasus peritonitis ini jarang terjadi pada anak didukung dengan

penelitian Elizabeth Haryanti kasus kejadian peritonitis pada anak dan dari penelitian

luar negeri Burhan Udin dkk tentang operasi laparatomi pada pasien peritonitis

sehingga peneliti tertarik dengan kasus peritonitis yang terjadi.


B Tujuan
1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan yang sistematis dan

komprehensif pada anak dengan masalah peritonitis.

2 Tujuan Khusus
a Mampu melakukan asuhan keperawatan secara sistematis dan komprehensif

pada anak dengan peritonitis dengan melakukan pengkajian.


b Mampu melakukan asuhan keperawatan secara sistematis dan komprehensif

pada anak dengan peritonitis dengan cara menganalisis masalah klien dan

menentukan diagnosa keperawatan yang tepat.


c Mampu melakukan asuhan keperawatan secara sistematis dan komprehensif

pada anak dengan peritonitis dengan merumuskan intervensi keperawatan.


d Mampu melakukan asuhan keperawatan secara sistematis dan komprehensif

pada anak dengan peritonitis dengan melakukan implementasi keperawatan.


e Mampu melakukan asuhan keperawatan secara sistematis dan komprehensif

pada anak dengan peritonitis dengan melakukan evaluasi.

C Manfaat
1 Bagi Pelayanan Keperawatan
Dapat digunakan sebagai acuan dalam pemberian askep pada anak yang

mengalami peritonitis.

2 Bagi Institusi Pendidikan


Dapat digunakan sebagai kepustakaan bagi mahasiswa dalam menyusun askep

pada anak yang mengalami peritonitis.

3 Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan


Dapat memberikan gambaran kepada perawat tentang pemberian asuhan

keperawatan pada anak dengan peritonitis selain itu dapat sebagai bahan studi

pendahuluan bagi peneliti lain yang tertarik dan berminat dengan masalah
keperawatan pada anak dengan masalah gangguan sistem pencernaan pada

umunya dengan peritonitis khususnya.