Anda di halaman 1dari 20

TUGAS

KEBIJAKAN DAN PERATURAN PUBLIK TENTANG SUMBER


DAYA MANUSIA (SDM) KEPERAWATAN
MATA KULIAH: KEBIJKAN KESEHATAN DAN PERATURAN
PUBLIK

Dosen Pengampu:
DR. H. Rusdiansyah, M.Sc

Nama
Yuhansyah
NPM
15141011009

PROGRAM PASCA SARJANA


KONSENTRASI MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
2017KATA PENGANTAR
Ungkapan rasa syukur yang sebesar-besarnya saya panjatkan ke hadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya
dapat menyelesaikan tugas mata kuliah kebijakan kesehatan dan peraturan publik
dengan judul Kebijakan dan Peraturan Publik Tentang Sumber Daya Manusia
(SDM) Keperawatan
Akhirnya saya menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna,
karenanya saya mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun yang
diharapkan akan menyempurnakan tugas ini. Namun demikian, saya berharap agar
tugas ini mampu memberikan manfaat bagi pembaca dan menambah khasanah
ilmu keperawatan.
Banjarmasin, Januari 2017

Yuhansyah

DAFTAR ISI
Halaman
COVER ......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI . iii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................. 3
1.3 Tujuan.................................................................................... 3

BAB 2 TINJAUAN TEORI


2.1 Kebijakan Pemerintah Dalam Bidang Kesehatan.............. 4
2.2 Kebijakan Mengenai Permasalahan SDM Dalam Bidang
Kesehatan .......................................................................... 17
2.3 Kebijakan Publik Terhadap Perawat Profesional............... 18

BAB 3 PEMBAHASAN
3.1 Kebijakan dan Peraturan Publik Tentang Sumber Daya
Manusia (SDM) Keperawatan........................................... 22

BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan........................................................................ 25
4.2 Saran................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 26

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menurut Depkes RI (2009) pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang
diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan
menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan,
keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat.
Jadi pelayanan kesehatan adalah sub sistem pelayanan kesehatan yang
tujuan utamanya adalah promotif (memelihara dan meningkatkan
kesehatan), preventif (pencegahan),kuratif (penyembuhan), dan
rehabilitasi (pemulihan) kesehatan perorangan, keluarga, kelompok atau
masyarakat, lingkungan. Yang dimaksud sub sistem disini adalah sub
sistem dalam pelayanan kesehatan yaitu input , proses, output, dampak,
umpan balik.
Salah satu pelayanan kesehatan yaitu pelayanan keperawatan, merupakan
salah satu bentuk pelayanan jasa yang diberikan kepada individu,
kelompok dan masyarakat dalam upaya pemenuhan kebutuan biologis,
psikogis sosial dan spritual. Empat konsep dasar pelayanan keperawatan
berfokus kepada manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan.
Menurut Pasal 1 UU No 38 Tahun 2014 Pelayanan Keperawatan adalah
suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan
ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik
sehat maupun sakit.
Salah satu bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan yaitu asuhan
keperawatan, asuhan keperawatan adalah rangkaian interaksi perawat
dengan klien dan lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan
kebutuhan dan kemandirian klien dalam merawat dirinya. (Pasal 1 UU No
38 Tahun 2014).
Keperawatan merupakan profesi yang membantu dan memberikan
pelayanan yang berkontribusi pada kesehatan dan kesejahteraan individu.
Keperawatan juga diartikan sebagai konsekuensi penting bagi individu
yang menerima pelayanan, profesi ini memenuhi kebutuhan yang tidak
dapat dipenuhi oleh seseorang, keluarga atau kelompok di komunitas.
(Committee on Education American Nurses Association (ANA), 1965
dalam Sumijatun,2010). Perawat sebagai tenaga kesehatan mempunyai
kesempatan yang paling besar untuk memberikan pelayanan kesehatan
khusunya pelayanan/asuhan keperawatan secara komprehensif. Pelayanan
dengan membantu klien memenuhi kebutuhan klien yang holistic karena
perawat memandang klien sebagai makhluk bio-psiko-sosio-kultural-
spiritual yang berespon secara holistic dan unik terhadap perubahan
kesehatan atau keadaan krisis (Hamid, 1999).
Hal ini menggambarkan bahwa suatu profesi perawat dapat menjadi unsur
penting dalam upaya peningkatan status kesehatan klien khususnya
dipelayanan keperawatan di rumah sakit yang dilandasi nilai-nilai
professional. Profesionalitas perawat harus diupayakan dengan
menumbuhkan nilai dan keyakinan terhadap profesi keperawatan agar
pada saat memberikan pelayanan keperawatan tidak terjadi pertentangan
dengan apa yang sudah menjadi standar bagi profesi keperawatan.
Keperawatan merupakan profesi harus disertai dengan realisasi
pemenuhan karakteristik keperawatan sebagai profesi yang disebut dengan
professional (Cresia dan Parker, 2001).
Lahirnya Undang-Undang Keperawatan pada tanggal 17 Oktober 2014,
adalah momentum bersejarah sebagai tonggak reformasi pelayanan
keperawatan. Undang-undang Nomor 38 tahun 2014 tentang keperawatan
(UUK) maka perawat telah memiliki regulasi sendiri, dasar hukum yang
kuat dan tupoksi serta tanggung jawab yang jelas dan ini merupakan lex
spesialis. Seiring dengan diberlakukannya UUK yang bertujuan
memberkan kepastian hukum kepada perawat juga bagi masyarakat, maka
sebagai bentuk diakuinya profesi perawat sebagai profesi yang
professional telah memiliki UUK sendiri dan pekerjaannya harus dapat
dipertanggung jawabkan sendiri, sehingga secara legalitas perawat
memiliki kedudukan hukum yang sama dengan profesi lainnya yakni
sama-sama diatur dengan peraturan setingkat Undang-Undang (Riyadi
Machli, 2015).
Pasien atau klien yang mendapatkan pelayanan keperawatan di pelayanan
kesehatan dilindungi oleh UU Perlindungan Konsumen dimana hak dan
kewajibannya sudah diatur dalam perundangan sehingga dalam pemberian
pelayanan keperawatan seorang perawat harus benar dalam memberikan
pelayanan sehingga dapat menghindari tuntutan hukum dari penerima
pelayanan keperawatan dalam hal ini pasien atau klien.

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimanakah kebijakan dan peraturan publik terkait perlindungan
konsumen serta implikasi terhadap pelayanan keperawatan?

1.3. Tujuan
a. Tujuan umum
Mengetahui kebijakan dan peraturan publik terkait perlindungan
konsumen serta implikasi terhadap pelayanan keperawatan.
b. Tujuan khusus
1) Mengetahui kebijakan dan peraturan publik terkait perlindungan
konsumen.
2) Mengetahui konsep pelayanan keperawatan.
3) Mengetahui kebijakan dan peraturan publik terkait perlindungan
konsumen serta implikasi terhadap pelayanan keperawatan.

BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1. Pengertian Sistem Kesehatan


Menurut WHO(1996) sistem kesehatan adalah suatu jaringan penyedia
pelayanan kesehatan (supply side) dan orang-orang yang menggunakan
pelayanan tersebut (demand side) di setiap wilayah, serta negara dan
organisasi yang melahirkan sumber daya tersebut, dalam bentuk manusia
maupun dalam bentuk material. Dalam definisi yang lebih luas lagi,
sistem kesehatan mencakup sektor-sektor lain seperti pertanian dan
lainnya.

2.2. Pengertian Pelayanan Kesehatan


Menurut Prof. Dr. Soekidjo Notoatmojo(2001) pelayanan kesehatan adalah
sub sistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah pelayanan
preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan
sasaran masyarakat.
Menurut Depkes RI (2009) pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang
diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan
menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan,
keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat.
Jadi pelayanan kesehatan adalah sub sistem pelayanan kesehatan yang
tujuan utamanya adalah promotif (memelihara dan meningkatkan
kesehatan), preventif (pencegahan),kuratif (penyembuhan), dan
rehabilitasi (pemulihan) kesehatan perorangan, keluarga, kelompok atau
masyarakat, lingkungan. Yang dimaksud sub sistem disini adalah sub
sistem dalam pelayanan kesehatan yaitu input , proses, output, dampak,
umpan balik.
2.3. Sistem Pelayanan Kesehatan
Menurut Hidayat(2008) sistem pelayanan kesehatan merupakan bagian
penting dalam meningkatkan derajat kesehatan. Melalui sistem ini tujuan
pembangunan kesehatan dapat tercapai dengan efektif, efisien dan tepat
sasaran.
Menurut Hidayat(2008) keberhasilan sistem pelayanan kesehatan
tergantung dari berbagai komponen yang masuk dalam pelayanan
kesehatan. Sistem terbentuk dari subsistem yang saling berhubungan dan
saling mempengaruhi. Sistem terdiri dari: input, proses, output, dampak,
umpan balik dan lingkungan.
a. Input
Merupakan sistem yang akan memberikan segala masukan untuk
berfungsinya sebuah sistem. Input pelayanan kesehatan meliputi:
potensi masyarakat, tenaga dan sarana kesehatan, dan sebagainya.
b. Proses
Merupakan kegiatan merubah sebuah masukan menjadi sebuah hasil
yang diharapkan dari sistem tersebut. Proses dalam pelayanan
kesehatan meliputi berbagai kegiatan dalam pelayanan kesehatan.
c. Output
Merupakan hasil yang diperoleh dari sebuah proses. Output pelayanan
kesehatan dapat berupa pelayanan yang berkualitas dan terjangkau
sehingga masyarakat sembuh dan sehat.
d. Dampak
Merupakan akibat dari output atau hasil suatu sistem, terjadi dalam
waktu yang relatif lama. Dampak sistem pelayanan kesehatan adalah
masyarakat sehat, angka kesakitan dan kematian menurun.
e. Umpan balik
Merupakan suatu hasil yang sekaligus menjadi masukan. Terjadi dari
sebuah sistem yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Umpan balik dalam pelayanan kesehatan dapat berupa kualitas tenaga
kesehatan.
f. Lingkungan
Adalah semua keadaan diluar sistem tetapi dapat mempengaruhi
pelayanan kesehatan.
2.4. Tingkat Pelayanan Kesehatan
Menurut Leavel & Clark(2005) tingkat pelayanan kesehatan merupakan
bagian dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan pada masyarakat.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan harus memandang pada tingkat
pelayanan kesehatan yang akan diberikan, yaitu:
a. Health Promotion (Promosi Kesehatan)
Merupakan tingkat pertama dalam memberikan pelayanan melalui
peningkatan kesehatan. Bertujuan untuk meningkatkan status
kesehatan masyarakat. Contoh: kebersihan perorangan, perbaikan
sanitasi lingkungan, dan sebagainya.
b. Specific Protection (Perlindungan Khusus)
Adalah masyarakat terlindung dari bahaya atau penyakit-penyakit
tertentu. Contoh: Imunisasi, perlindungan keselamatan kerja.
c. Early Diagnosis And Prompt Treatment (Diagnosis Dini &
Pengobatan Segera)
Sudah mulai timbulnya gejala penyakit. Dilakukan untuk mencegah
penyebaran penyakit. Contoh: survey penyaringan kasus.

2.5. Lembaga Pelayanan Kesehatan


Menurut Hidayat(2008) lembaga pelayanan kesehatan merupakan tempat
pemberian pelayanan kesehatan pada masyarakat untuk meningkatkan
status kesehatan. Bervariasi berdasarkan tujuan pemberian pelayanan
kesehatan.
a. Rawat Jalan
Pusat pelayanan rawat jalan, sama dengan klinik, memberi pelayanan
kesehatan dengan cara rawat jalan. Pusat tersebut mungkin bergabung
dengan rumah sakit atau berfungsi secara mandiri dibawah suatu
yayasan atau dibawah pengawasan seorang dokter atau sekelompok
dokter. Pusat pelayanan rawat jalan mungkin dapat berlokasi dalam
suatu fasilitas rawat inap; tetapi sebagian besar berdiri sendiri dan
berlokasi jauh dari institusi rawat inap yang besar. Pusat-Bedah
merupakan salah satu contoh dari pusat pelayanan rawat jalan dimana
klien datang untuk melakukan prosedur oprasi minor seperti
pengangkatan katarak, bedah plastik, dan prosedur endoskopi. Pusat
perawatan darurat yang memberikan pelayanan 24 jam bagi klien
dengan cedera minor atau penyakit seperti laserasi dan influenza.
Pusat perawatan darurat menawarkan alternatif pelayanan seperti yang
diberikan pada ruang kedaruratan rumah sakit.
b. Institusi
Lembaga institusional terdiri dari rumah sakit, fasilitas perawatan
yang diperluas, fasilitas psikiatri, dan pusat rehabilitasi. Semuanya
menawarkan bentuk pelayanan kesehatan rawat inap (klien diterima
masuk dan tingga;l di suatu institusi untuk penentuan diagnosa,
menerima pelayanan pengobatan dan rehabilitasi). Sebagian besar
institusi juga menawarkan pelayanan rawat jalan (klien berkunjung ke
suatu institusi untuk menerima suatu episode diagnosa atau
pengobatan yang akan selesai dalam beberapa jam).
c. Hospice
Adalah suatu sistem perawatan yang berpusat pada keluarga yang
bertujuan agar klien dapat tinggal dirumahnya dengan aman, mandiri,
dan penuh harga diri, sambil meringankan penderitaan yang
disebabkan oleh penyakit terminal yang dideritanya. Fokus perawatan
hospice adalah perawatan paliatif, bukan pengobatan kuratif. Hospice
dapat bermanfaat untuk klien yang berada pada tahap terminal dengan
penyakit apapun, seperti kardiomiopati, sklerosis multiple, AIDS,
kanker, emfisema, atau penyakit ginjal.
d. Community Based Agency
Merupakan bagian dari lembaga pelayanan kesehatan yang dilakukan
pada klien pada keluarganya, sebagaimana pelaksanaan perawatan
keluarga seperti praktek perawat keluarga dan lain-lain.

2.6. Lingkup Sistem Pelayanan Kesehatan


Menurut Perry(2009) dalam sistem pelayanan kesehatan dapat mencakup
pelayanan dokter, pelayanan keperawtan, dan pelayanan kesehatan
masyarakat. Dokter merupakan subsistem dari pelayanan kesehatan.
Subsistem pelayanan kesehatan tersebut memiliki tujuan masing-masing
dengan tidak meninggalkan tujuan umum dari pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan yang ada sekarang ini dapat diselenggarakan oleh
pihak pemerintah maupun swasta. Dalam pelayanan kesehatan terdapat 3
bentuk, yaitu:
a. Primary Health Care (Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama)
Pelayanan kesehatan ini dibutuhkan atau dilaksanakan pada
masyarakat yang memiliki masalah kesehatan yang ringan atau
masyarakat sehat tetapi ingin mendapatkan peningkatan kesehatan
agar menjadi optimal dan sejahtera sehingga sifat pelayanan kesehatan
adalah pelayanan kesehatan dasar. Pelayanan kesehatan ini dapat
dilaksanakan oleh puskesmas atau balai kesehatan masyarakat dan
lain-lain.
b. Secondary Helath Care (Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua)
Untuk pelayanan kesehatan ini diperlukan bagi masyarakat atau klien
yang membutuhkan perawatan dirumah sakit atau rawat inap dan tidak
dilaksanakan di pelayanan kesehatan utama. Pelayanan kesehatan ini
dilaksanakan di rumah sakit yang tersedia tenaga spesialis atau
sejenisnya.
c. Tertiary Health Services (Pelayanan Kesehatan Tingkat Ketiga)
Palayanan kesehatan ini merupakan tingkat pelayanan yang tertinggi
dimana tingkat pelayanan ini apabila tidak lagi dibutuhkan pelayanan
pada tingkat pertama dan kedua. Biasanya pelayanan ini
membutuhkan tenaga-tenaga yang ahli atau spesialis dan sebagai
rujukan utama seperti rumah sakit yang tipe A atau B.

2.7. Pelayanan Keperawatan Dalam Pelayanan Kesehatan


Menurut Hidayat(2008) pelayanan keperawatan dalam pelayanan
kesehatan merupakan bagian dari pelayanan kesehatan yang meliputi
pelayanan dasar & rujukan sehingga meningkatkan derajat kesehatan.
Pada tingkat pelayanan dasar dilakukan di lingkup puskesmas dengan
pendekatan askep keluarga dan komunitas yang berorientasi pada tugas
keluarga dalam kesehatan, diantaranya mengenal masalah kesehatan
secara dini, mengambil keputusan, menanggulangi keadaan darurat,
memberikan pelayanan dasar pada anggota keluarga yang sakit serta
memodifikasi lingkungan.
Pada lingkup pelayanan rujukan, tugas perawat adalah memberikan askep
pada ruang atau lingkup rujukannya, seperti: asuhan keperawatan anak,
askep jiwa, askep medikal bedah, askep maternitas, askep gawat darurat,
dan sebagainya.

2.8. Faktor Yang Mempengaruhi Pelayanan Kesehatan


Menurut Hidayat(2008) dalam memberikan pelayanan kesehatan tidak
segalanya tercapai sasaran, akan tetapi membutuhkan suatu proses untuk
mengetahui masalah yang ditimbulkannya. Pelaksanaan pelayanan
kesehatan juga akan lebih berkembang atau sebaliknya akan terhambat
karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Baru
Pelaksanaan sistem pelayanan kesehatan dapat dipengaruhi oleh ilmu
pngetahuan dan teknologi baru, mengingat perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, maka akan diikuti oleh perkembangan
pelayanan kesehatan atau juga sebagai dampaknya pelayanan
kesehatan jelas lebih mengikuti perkembangan dan teknologi seperti
dalam pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalah penyakit-
penyakkit yang sulit dapat digunakan penggunaan alat seperti laser,
terapi perubahan gen dan lain-lain. Berdasarkan itu, maka pelayanan
kesehatan membutuhkan biaya yang cukup mahal dan pelayanan akan
lebih profesional dan butuh tenaga-tenaga yang ahli dalam bidng
tertentu.
b. Pergeseran Nilai Masyarakat
Berlangsungnya sistem pelayanan kesehatan juga dapat dipengaruhi
oleh nilai yang ada dimasyarakat sebagai penggunaan jasa pelayanan,
dimana dengan beragamnya masyarakat, maka dapat menimbulkan
pemanfaatan jasa pelayanan kesehatan yang berbeda. Masyarakat
yang sudah maju dengan pengetahuan yang tinggi, maka akan
memiliki kesadaran yang lebih dalam penggunaan atau pemanfaatan
pelayanan kesehatan, demikian juga sebaliknya pada masyarakat yang
memiliki pengetahuan yang kurang akan memiliki kesadaran yang
rendah terhadap pelayanan kesehatan, sehingga kondisi demikian akan
sangat mempengaruhi sistem pelayanan kesehatan.
c. Aspek Legal dan Etik
Dengan tingginya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan atau
pemanfaatan jasa pelayanan kesehatan, maka akan semakin tinggi
pula tuntutan hukum da etik dalam pelayanan kesehatan, sehingga
pelaku pemberi pelayanan kesehatan harus dituntut untuk memberikan
pelayanan kesehatan secara profesional dengan memperhatikan nilai-
nilai hukum dan etika yang ada dimasyarakat.
d. Ekonomi
Pelaksanaan pelayanan kesehatan akan dipengaruhi oleh tingkat
ekonomi di masyarakat. Semakin tinggi ekonomi seseorang,
pelayanan kesehatan akan lebih diperhatikan dan mudah dijangkau,
demikian juga sebaliknya apabila tingkat ekonomi seseorang rendah,
maka akan sulit menjangkau pelayanan kesehatan mengingat biaya
dalam jasa pelayanan kesehatan membutuhkan biaya yang cukup
mahal. Keadaan ekonomi ini yang akan dapat mempengaruhi dalam
sistem pelayanan kesehatan.
e. Politik
Kebijakan pemerintah melalui sistem politik yang ada akan sangat
berpengaruh sekali dalam sistem pemberian pelayanan kesehatan.
Kebijakan-kebijakan yang ada dapat memberikan pola dalam sistem
pelayanan.

2.9. Perlindungan Konsumen Serta Implikasi Terhadap Pelayanan


Keperawatan
Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia
dalam masyarakat baik bagi kepentingan sendiri, keluarga, orang lain,
maupun makhluk lain dan tidak untuk diperdagangkan.(Pasal 1 UU Nomor
8 tahun 1999).
Konsumen ada dua macam yaitu konsumen akhir dan konsumen antara.
Konsumen akhir adalah penggunaan atau pemanfaatan akhir dari suatu
produk, sedangkan konsumen antara adalah konsumen yang menggunakan
suatu produk sebagai bagian dari proses produksi suatu produk lainnya.
Pelaku usaha merupakan orang atau lembaga berbentuk badan hukum
maupun badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan
kegiatan dalam wilayah hukum negara RI, baik sendiri maupun bersama-
sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai
bidang ekonomi.
Pasien atau klien yang mendapatkan pelayanan keperawatan di pelayanan
kesehatan dilindungi oleh UU Perlindungan Konsumen dimana hak dan
kewajibannya sudah diatur dalam perundangan sehingga dalam pemberian
pelayanan keperawatan seorang perawat harus benar dalam memberikan
pelayanan sehingga dapat menghindari tuntutan hukum dari penerima
pelayanan keperawatan dalam hal ini pasien atau klien.

2.10. Dasar Hukum


Pada hakekatnya, terdapat dua instrumen hukum penting yang menjadi
landasan kebijakan perlindungan konsumen di Indonesia, yakni:
Pertama, Undang-Undang Dasar 1945, sebagai sumber dari segala
sumber hukum di Indonesia, mengamanatkan bahwa pembangunan
nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
Tujuan pembangunan nasional diwujudkan melalui sistem
pembangunan ekonomi yang demokratis sehingga mampu
menumbuhkan dan mengembangkan dunia yang memproduksi barang
dan jasa yang layak dikonsumsi oleh masyarakat.
Kedua, Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen (UUPK). Lahirnya Undang-undang ini memberikan
harapan bagi masyarakat Indonesia, untuk memperoleh perlindungan
atas kerugian yang diderita atas transaksi suatu barang dan jasa.
UUPK menjamin adanya kepastian hukum bagi konsumen.

2.11. Asas Perlindungan Konsumen


a. Asas Manfaat; mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat
sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara
keseluruhan,
b. Asas Keadilan; partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara
maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku
usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya
secara adil,
c. Asas Keseimbangan; memberikan keseimbangan antara kepentingan
konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil ataupun
spiritual,
d. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen; memberikan jaminan
atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalarn penggunaan,
pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi
atau digunakan;
e. Asas Kepastian Hukum; baik pelaku usaha maupun konsumen
mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan
perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.

2.12. Tujuan
Sesuai dengan pasal 3 Undang-undang Perlindungan Konsumen, tujuan
dari Perlindungan Konsumen adalah:
a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen
untuk melindungi diri,
b. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara
menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa,
c. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan
dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen,
d. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur
kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk
mendapatkan informasi,
e. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya
perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan
bertanggungjawab dalam berusaha,
f. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin
kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan,
kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen.

2.13. Hak-Hak Konsumen


Sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen, Hak-hak
Konsumen adalah:
a. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang
dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta
jaminan yang dijanjikan;
c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa;
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau
jasa yang digunakan;
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif;
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi/penggantian, apabila
barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau
tidak sebagaimana mestinya;
i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya.

2.14. Kewajiban Konsumen


Sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen,
Kewajiban Konsumen adalah:
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian
atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan
keselamatan;
b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau
jasa;
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan
konsumen secara patut.

2.15. Hak-Hak Pelaku Usaha


a. Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan
mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan;
b. Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen
yang beritikad tidak baik;
c. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya didalam
penyelesaian hukum sengketa konsumen;
d. Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum
bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa
yang diperdagangkan.

2.16. Kewajiban Pelaku Usaha


a. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
b. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi
dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan
penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;
c. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif;
d. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau
diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau
jasa yang berlaku;
e. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau
mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan
dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang
diperdagangkan;
f. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian
akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa
yang diperdagangkan;
g. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang
dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan
perjanjian.

2.17. Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha


a. Larangan dalam memproduksi atau memperdagangkan misal : tidak
memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan
dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Larangan dalam menawarkan/mempromosikan/mengiklankan misal :
barang tersebut dalam keadaan baik dan atau baru
c. Larangan dalam penjualan secara obral/lelang misal : menyatakan
barang dan atau jasa tersebut seolah-olah tidak mengandung cacat
tersembunyi.
d. Larangan dalam periklanan misal : mengelabui konsumen mengenai
kualitas, kuantitas, bahan, kegunaan dan harga barang dan atau tarif
jasa serta ketepatan waktu penerimaan barang jasa.

2.18. Klausa Baku Dalam Perjanjian


Klausula Baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang
telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh
pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan / atau perjanjian
yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen.
Klausula Baku aturan sepihak yang dicantumkan dalam kwitansi, faktur /
bon, perjanjian atau dokumen lainnya dalam transaksi jual beli yang
sangat merugikan konsumen.
Dengan pencantuman Klausula Baku posisi konsumen sangat lemah /
tidak seimbang dalam menghadapi pelaku usaha.
Undang-Undang Perlindungan Konsumen menetapkan bahwa Klausula
Baku yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian dilarang
bagi pelaku usaha, apabila dalam pencantumannya mengadung unsur-
unsur atau pernyataan sebagai berikut :
a. Pengalihan tanggungjawab dari pelaku usaha kepada konsumen;
b. Pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli
konsumen;
c. Pelaku usaha berhak menolak penyerahan uang yang dibayarkan atas
barang atau jasa yang dibeli oleh konsumen;
d. Pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara
langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan
sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli secara angsuran;
e. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau
pemanfaatan jasa yang dibeli konsumen;
f. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa
atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual
beli jasa;
g. Tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru,
tambahan atau lanjutan dan / atau pengubahan lanjutan yang dibuat
secara sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen
memanfaatkan jasa yang dibelinya;
h. Konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan
hak tanggungan, hak gadai, hak jaminan terhadap barang yang dibeli
oleh konsumen secara angsuran;

2.19. Tanggung Jawab Pelaku Usaha


Didalam UU No.8 Tahun 1999 diatur dalam pasal 19 sampai dengan pasal
28. Dalam pasal 19 mengatur tanggung jawab kesalahan pelaku usaha
terhadap produk yang dihasilkan atau diperdagangkan dengan memberi
ganti kerugian atas kerusakan, pencemaran, kerusakan, kerugian
konsumen. Sanksi Bagi Pelaku Usaha Menurut Undang-undang No. 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
a. Sanksi perdata :
1) Ganti rugi dalam bentuk :
a) Pengembalian uang atau
b) Penggantian barang atau
c) Perawatan kesehatan, dan/atau
d) Pemberian santunan
2) Ganti rugi diberikan dalam tenggang waktu 7 hari setelah tanggal
transaksi
b. Sanksi administrasi :
maksimal Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah), melalui BPSK jika
melanggar Pasal 19 ayat (2) dan (3), 20, 25
c. Sanksi pidana :
1) Kurungan :
a) Penjara, 5 tahun, atau denda Rp. 2.000.000.000 (dua milyar
rupiah) (Pasal 8, 9, 10, 13 ayat (2), 15, 17 ayat (1) huruf a, b,
c, dan e dan Pasal 18
b) Penjara, 2 tahun, atau denda Rp.500.000.000 (lima ratus juta
rupiah) (Pasal 11, 12, 13 ayat (1), 14, 16 dan 17 ayat (1)
huruf d dan f
2) Ketentuan pidana lain (di luar Undang-undang No. 8 Tahun. 1999
tentang Perlindungan Konsumen) jika konsumen luka berat, sakit
berat, cacat tetap atau kematian
3) Hukuman tambahan , antara lain :
a) Pengumuman keputusan Hakim
b) Pencabuttan izin usaha;
c) Dilarang memperdagangkan barang dan jasa ;
d) Wajib menarik dari peredaran barang dan jasa;
e) Hasil Pengawasan disebarluaskan kepada masyarakat.

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sistem pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan merupakan
bagian penting dalam meningkatkan derajat kesehatan. Sehingga dalam
pemberian pelayanan keperawatan seorang perawat harus bisa
memberikan perlindungan kepada pasien atau klien berdasarkan Undang-
Undang Perlindungan Konsumen.

3.2 Saran
Dalam sistem pelayanan keperawatan perlu terus di tingkatkannya mutu
serta kualitas dari pelayanan keperawatan agar sistem pelayanan ini dapat
berjalan dengan efektif, itu semua dapat dilakukan dengan melihat nilai-
nilai yang ada di masyarakat, dan diharapkan perawat dapat memberikan
pelayanan dengan kualitas yang bagus dan baik serta dapat memberikan
perlindungan kepada pasien atau klien.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI., (2009) Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta

Hidayat, A.A. A., (2008) Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Edisi 2,


Jakarta: Salemba Medika.

Notoatmodjo Soekidjo., (2001) Peran Pelayanan Kesehatan Swasta dalam


Menghadapi Masa Krisis. Jakarta:Suara Pembaruan Daily.

Perry, Potter., (2009) Fundamental Keperawatan,Buku 1, Edisi 7. Jakarta:


Salemba Medika.
Potter,Patricia.Perry,Anne Griffin., (2005) Buku Ajar Fundamental Keperawatan,
Edisi 4, Volume 1. EGC: Jakarta
Satrianegara, M. Fais., (2009) Buku Ajar Organisasi Dan Manajemen Pelayanan
Kesehatan Serta Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan