Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Keputihan merupakan gejala yang sangat sering dialami oleh sebagian besar
wanita. Gangguan ini merupakan masalah kedua sesudah gangguan haid. Keputihan
seringkali tidak ditangani dengan serius oleh para remaja. Padahal keputihan bisa jadi
indikasi adanya penyakit. Hampir semua perempuan pernah mengalami keputihan.
Pada umumnya, orang menganggap keputihan pada wanita sebagai hal yang normal.
Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, karena ada berbagai sebab yang dapat
mengakibatkan keputihan. Keputihan yang normal memang merupakan hal yang
wajar. Namun, keputihan yang tidak normal dapat menjadi petunjuk adanya penyakit
yang harus diobati (Djuanda, Adhi. dkk, 2005).
Keluarnya cairan dari vagina merupakan salah satu keluhan yang sering
dinyatakan oleh kaum wanita. Beberapa rembesan adalah umum dan normal, dengan
bahan yang dikeluarkan hanya terdiri atas lendir yang disekreasi oleh kelenjar-
kelenjar di dalam rahim dan leher rahim, serta cairan yang keluar melalui dinding
vagina dari jaringan di sekitarnya. Sebagian wanita menganggap cairan yang keluar
dari vagina masalah biasa ada juga yang menganggap masalah keputihan mengganggu
aktivitas sehari-hari (Cunningham, Gary, dkk. 2005).
Keputihan merupakan sekresi vagina berupa cairan berwarna putih yang
berlebihan. Keputihan bukan merupakan suatu penyakit tersendiri melainkan
manisfestasi klinis dari suatu penyakit. Keputihan bisa bersifat fisiologis dan
patofisiologis. Keputihan fisiologis terjadi saat menjelang atau sesudah menstruasi
sedangkan keputihan patofisiologis terjadi karena infeksi genetalia dan keganasan
organ reproduksi. Dampak dari penyakit yang memiiki gejala keputihan abnormal
sangat berbahaya bagi organ reproduksi perempuan dapat menimbulkan gangguan
dalam fungsi organ reproduksi. (Manuba dkk, 2009)

B. TUJUAN PENYULUHAN
1. Tujuan Instruksional Umum

1
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan kesehatan selama 40 menit, diharapkan
peserta dapat mengerti dan memahami tanda dan bahaya dari keputihan dan
mengetahui cara menjaga diri agar keputihan tidak menjadi hal yang serius bagi
perempuan.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 40 menit, diharapkan peserta dapat
menjelaskan tentang :
a. Pengertian keputihan
b. Jenis-jenis keputihan
c. Patogenesis keputihan
d. Tanda dan gejala keputihan
e. Penyebab keputihan
f. Cara mengatasi keputihan
g. Pemeriksaan
h. Pengobatan keputihan

C. SASARAN
Sasaran ditujukan kepada perempuan di Puskesmas Purwokerto Selatan.

BAB II

DESKRIPSI KASUS

A. Karakteristik Sasaran
Ditujukan untuk perempuan di Puskesmas Purwokerto Selatan.

B. Prinsip Pembelajaran Pendidikan Kesehatan

2
Memberikan informasi dengan menjelaskan kepada semua perempuan tentang
pengertian keputihan, jenis-jenis keputihan, patogenesis keputihan, tanda dan gejala
keputihan, penyebab keputihan dan cara mengatasi keputihan di Puskesmas Selatan.

BAB III

METOLOGI PENDIDIKAN KESEHATAN

A. METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah

B. MEDIA PEMBELAJARAN
1. Leaflet

3
C. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
TAHAP KEGIATAN WAKTU MEDIA
1. Mengucapkan salam.
2. Mejelaskan topik dan tujuan penyuluhan.
Pendahuluan 5 menit
3. Kontrak waktu.

1. Menjelaskan pengertian keputihan


2. Menjelaskan jenis-jenis keputihan
3. Menjelaskan patogenesis keputihan
4. Menyebutkan tanda dan gejala
keputihan
Penyajian 5. Menjelaskan penyebab keputihan 25 menit Leaflet
6. Menjelaskan cara mengatasi keputihan
7. Menjelaskan pemeriksaan yang harus
dilakukan
8. Menjelaskan penngobatan keputihan
1. Tanya jawab
2. Menyimpulkn hasil penyuluhan
Penutup 3. Memberikan salam. 10 menit
4. Memberi ucapan terima kasih.

D. WAKTU PELAKSANAAN
Hari/Tanggal : Rabu, 8 Februari 2017
Tempat : Puskesmas Purwokerto Selatan

E. FAKTOR RESIKO TERJADINYA HAMBATAN


1. Kurangnya perhatian peserta terhadap penyampaian materi penyaji.
2. Lingkungan yang kurang kondusif.

F. PENGORGANISASIAN
1. Pembimbing : Sulastin
2. Penyaji : Niken Nofia Anggraeni

G. METODE EVALUASI
Dengan tanya jawab berkaitan dengan materi yang telah disampaikan penyaji.

4
BAB IV

PENUTUP

A. Evaluasi Struktur
1. Materi sudah siap dan dipelajari 1 hari sebelum penkes
2. Media sudah siap 1 hari sebelum penkes
3. Tempat sudah siap 2 jam sebelum penkes
4. SAP sudah siap 1 hari sebelum penkes

B. Proses :
1. Peserta datang tepat waktu
2. Peserta memperhatikan penjelasan perawat
3. Media dapat digunakan secara efektif

C. Kriteria Hasil :
1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian keputihan
2. Peserta dapat menyebutkan jenis-jenis keputihan
3. Peserta dapat menjelaskan patogenesis keputihan
4. Peserta dapat menyebutkantanda dan gejala keputihan
5. Peserta dapat menjelaskan penyebab keputihan
6. Peserta dapat menjelaskan cara mengatasi keputihan
7. Peserta mengetahui pemeriksaan yang dilakukan
8. Peserta dapat menjelaskan pengobatan keputihan

5
DAFTAR PUSTAKA

Ayuningsih, T, dan Krisnawati. (2009). Cara holistik dan praktis atasi gangguan khas pada
kesehatan wanita. Jakarta : Bhuana Ilmu Populer

Bahari, H. (2012). Cara mudah atasi keputihan. Yogyakarta : Buku Biru

Djuanda, Adhi. (2005). Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Ed.4. Jakarta : FKUI

Kasdu, D. (2005). Solusi Problem Persalinan. Jakarta : Puspa Swara

Prawirohardjo, S. (2011). Ilmu kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Pudiastuti, Ratna Dewi. (2010). Pentingnya Menjaga Organ Kewanitaan. Jakarta : Indeks

Sibagariang, E. (2010). Kesehatan reproduksi wanita. Jakarta : CV Trans Info Media

Wijayanti, D. (2009). Fakta penting sekitar reproduksi wanita. Yogyakarta : diglosia Printika

6
MATERI TERLAMPIR

A. Pengertian
Keputihan merupakan gejala keluarnya cairan dari vagina selain darah haid (Kasdu.
2005.hlm.37). Keputihan (flour albus) adalah gejala keluarnya getah atau cairan vagina
yang berlebihan sehingga sering menyebabkan celana dalam basah (Pudiastuti. 2010.
hlm.15). Keputihan adalah kondisi vagina saat mengeluarkan cairan atau lendir
menyerupai nanah (Bahari. 2012.hlm. 9).
Keputihan adalah semacam silim yang keluar terlalu banyak, warnanya putih seperti
sagu dan agak kekuning-kuningan. Jika silim atau lendirini tidak terlalu banyak, tidak
menjadi persoalan. ( Handayani, 2008)
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan keputihan adalah suatu cairan putih yang
keluar dari liang vagina secara berlebihan dan tidak berupa darah.

B. Klasifikasi Keputihan
Ada 2 jenis keputihan yang dijelaskan oleh Ayuningsih, Teviningrum dan Krisnawati
(2009, hlm. 27), yaitu:
1. Keputihan normal (fisiologis)
Keputihan fisiologis biasanya terjadi menjelang dan sesudah menstruasi,
mendapatkan ransangan seksual, mengalami stres berat, sedang hamil atau
mengalami kelelahan. Adapun cairan yang keluar berwarna jernih atau kekuningan,
tidak berbau dan tidak terasa gatal. Keputihan semacam ini Universitas Sumatera
Utara merupakan sesuatu yang wajar, sehingga tidak diperlukan tindakan medis
tertentu.
2. Keputihan abnormal (patologis)
Keputihan patologis disebut keputihan dengan ciri-ciri jumlahnya banyak,
warnanya putih seperti susu basi, kuning atau kehijauan, disertai dengan rasa gatal
dan pedih, terkadang berbau busuk atau amis. Keputihan menjadi salah satu tanda
atau gejala adanya kelainan pada organ reproduksi wanita. Kelainan tersebut dapat
berupa infeksi, polip leher rahim, keganasan (tumor dan kanker), serta adanya benda
asing. Namun tidak semua infeksi pada saluran reproduksi wanita memberikan
gejala keputihan.

7
C. Patogenesis Keputihan
Perkembangan, alat kelamin wanita mengalami berbagai perubahan mulai bayi
hingga menopause. Keputihan merupakan keadaan yang dapat terjadi fisiologisdan
patologis karena terinfeksi kuman penyakit. Bila vagina terinfeksi kuman penyakit
seperti jamur, parasit, bakteri, dan virus maka keseimbangan ekosistem vagina akan
terganggu. Bakteri ini memakan glikogen yang dihasilkan oleh estrogen pada dinding
vagina sehingga mengakibatkan keadaan pH vagina basa dan menjadikan kuman
penyakit berkembangdan hidup subur di dalam vagina (Sibagariang. 2010.hlm.53).

D. Tanda dan Gejala Keputihan


1. Keputihan normal (fisiologis)
a. Cairan sekresi berwarna bening, tidak lengket dan encer
b. Tidak mengeluarkan bau yang menyengat
c. Gejala ini merupakan proses normal sebelum atau sesudah haid dan tanda masa
subur pada wanita tertentu
d. Pada bayi perempuan yang baru lahir, dalam waktu satu hingga sepuluh hari, dari
vaginanya dapat keluar cairan akibat pengaruh hormon yang dihasilkan oleh
plasenta
e. Remaja awal kadang-kadang juga mengalami keputihan sesaat sebelum masa
pubertas, biasanya gejala ini akan hilang dengan sendirinya
f. Biasanya keputihan yang normal tidak disertai dengan rasa gatal. Keputihan juga
dapat dialami oleh wanita yang terlalu lelah atau yang daya tahan tubuhnya
lemah. Sebagian besar cairan tersebut berasal dari leher rahim, walaupun ada
yang berasal dari vagina yang terinfeksi, atau alat kelamin luar.
2. Keputihan abnormal (patologis)
a. Keluarnya cairan berwarna putih pekat, putih kekuningan, putih kehijauan atau
putih kelabu dari saluran vagina. Cairan ini dapat encer atau kental, lengket dan
kadang-kadang berbusa
b. Cairan ini mengeluarkan bau yang menyengat (bau tidak sedap)
c. Pada penderita tertentu, terdapat rasa gatal yang menyertainya serta dapat
mengakibatkan iritasi pada vagina
d. Merupakan salah satu ciri-ciri penyakit infeksi vagina yang berbahaya seperti
HIV, Herpes, Candyloma.
Menurut Wijayanti (2009, hlm. 51), gejala yang timbul akibat keputihan
beraneka ragam sesuai dengan faktor penyebabnya. Cairan yang keluar bisa saja
sangat banyak, sehingga harus berkali-kali mengganti celana dalam, bahkan
menggunakan pembalut, namun dapat pula sangat sedikit. Sebagian penderita
mengeluhkan rasa gatal, hal ini dipengaruhi oleh kondisi lembab karena

8
banyaknya cairan yang keluar disekitar paha, sehingga kulit dibagian itu mudah
mengalami lecet.
Keputihan juga berpengaruh terhadap kondisi psikologis dikarenakan rasa
malu, sedih atau rendah diri, sehingga mengakibatkan kehilangan rasa percaya diri
dan mulai menarik diri dari pergaulan. Bahkan, kondisi ini dapat menimbulkan
kecemasan yang berlebihan karena takut akan terkena penyakit kanker.

E. Penyebab Keputihan
Secara umum keputihan disebabkan oleh perilaku yang tidak sehat seperti:
penggunaan tisu yang terlalu sering, pakaian berbahan sintesis yang ketat, WC yang
kotor, sering bertukar celana dalam atau handuk dengan orang lain, membasuh organ
kewanitaan kearah yang salah, kelelahan, tidak segera mengganti pembalut, stres, sabun
pembersih yang berlebihan, lingkungan kotor, kadar gula darah yang tinggi dan hormon
yang tidak seimbang (Ayuningsih. 2009.hlm.28).
Menurut Prawirohardo (2011, hlm. 271), risiko keputihan juga bisa dipicu
berdasarkan jenis keputihannya. Seperti keputihan normal yang terjadi pada bayi baru
lahir sampai umur 10 hari dikarenakan pengaruh sisa estrogen dari plasenta terhadap
uterus, pengaruh estrogen yang meningkat pada saat menarche, rangsangan saat koitus
mengakibatkan adanya pelebaran pembuluh darah di vagina atau vulva, adanya
peningkatan produksi kelenjar-kelenjar pada mulut rahim saat masa ovulasi, mukus
serviks yang padat pada masa kehamilan.
Keputihan yang abnormal disebabkan oleh kelainan alat kelamin sebagai akibat
cacat bawaan seperti rektovaginalis dan fistel vesikovaginalis, cedera persalinan dan
radiasi kanker genitalia, benda asing yang tertinggal di dalam vagina seperti
tertinggalnya kondom dan pesarium untuk penderita hernia, berbagai tumor jinak yang
tumbuh ke dalam lumen, pada menopause dikarenakan vagina yang mengering sehingga
sering timbul gatal dan mudah luka, dan beberapa penyakit kelamin yang disebabkan
oleh beberapa jenis mikro organisme dan virus tertentu, diantaranya adalah:

1. Bakteri
a. Grandnerella
Keputihan yang timbul berwarna putih keruh keabu-abuan, agak lengket dan
berbau amis seperti ikan, disertai rasa gatal dan panas pada vagina.
Menimbulkan peradangan pada vagina yang tidak spesifik dan menghasilkan

9
asam amino yang akan diubah menjadi senyawa amin. Peradangan yang
ditimbulkan oleh bakteri ini disebut Vaginosis bakterial.
b. Gonococcus
Ada beberapa macam bakteri golongan coccus. Salah satunya Neisseria
Gonorrhea, suatu bakteri yang dilihat dengan mikroskop tampak diplokok
(berbentuk biji) intraseluler dan ekstraseluler, bersifat tahan asam dan bersifat
gram negatif. Bakteri ini menyebabkan penyakit akibat hubungan seksual
(PHS/PMS/STD) yang paling sering ditemukan yaitu Gonorrhea. Pada laki-laki,
penyakit ini menyebabkan kencing nanah. Sedangkan pada perempuan
menyababkan keputihan.
c. Chlamydia Trachomatis
Bakteri ini sudah lebih dahulu dikenal sebagai penyebab penyakit mata yang
disebut Trakoma, namun ternyata bisa juga ditemukan dalam cairan vagina yang
menyebabkan penyakit uretritis non-spesifik (non-gonore). Keputihan yang
ditimbulkan bakteri ini tidak begitu banyak dan lebih encer bila dibandingkan
dengan Gonorrhea. Namun, bila infeksinya terjadi bersamaan dengan bakteri
gonococcus, bisa menyebabkan peradangan panggul yang berat, kemandulan,
hingga kehamilan diluar kandungan.
2. Jamur Candida
Keputihan yang timbul berwarna putih susu, bergumpal seperti susu basi, di sertai
rasa gatal dan kemerahan pada kelamin dan di sekitarnya. Keputihan yang
disebabkan oleh jamur candida, paling sering oleh spesies albicans. Peradangan yang
ditimbulkan oleh jamur ini disebut Kandidosis vaginalis. Pada keadaan normal jamur
ini terdapat di rongga mulut, usus besar maupun dalam liang kemaluan wanita.
Namun, pada keadaan tertentu, jamur ini meluas sehingga menimbulkan keputihan.
Beberapa faktor dapat mempermudah seseorang terinfeksi jamur ini, seperti saat
haid, hamil, minum antibiotika dalam jangka waktu lama, kontrasepsi oral (pil KB),
obat kortikosteroid, dan penyakit kencing manis (diabetes mellitus).

3. Parasit
Keputihan jenis ini bersifat khas yaitu jumlah banyak, warna kuning kehijauan,
bau tak sedap, sakit saat melakukan hubungan seksual dan gatal. Penularan terjadi
melalui hubugan seksual. Peradangan yang ditimbulkan oleh parasit ini disebut
Trichomoniasis.
4. Virus
Keputihan akibat infeksi virus sering disebabkan oleh Virus Herpes Simplex
(VHS) tipe-2 dan Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi HPV dapat meningkatkan

10
timbulnya kanker serviks, penis, dan vulva. Sedangkan HPV tipe-2 dapat menjadi
faktor pendamping. HPV dapat menimbulkan penyakit Kondiloma akuminata yang
disebut juga genital warts, kutil kelamin, veneral warts ( jengger ayam).

F. Cara Mengatasi Keputihan


Mengatasi keputihan biasanya dilakukan dengan cara menjaga kebersihan diri dan
lingkungan, diantaranya:
1. Menjaga vagina agar tetap kering untuk mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur.
2. Ganti pembalut apabila sudah terasa basah dan lembab.
3. Hindari penggunaan cairan pembersih kewanitaan yang mengandung bahan kimia
terlalu berlebihan, karena hal itu dapat mengganggu pH cairan kewanitaan dan dapat
merangsang munculnya jamur atau bakteri
4. Setelah buang air besar, bersihkan dengan air dan keringkan dari arah depan ke
belakang untuk mencegah penyebaran bakteri dari anus ke vagina.
5. Gunakan celana dalam minimal 2 kali sehari dan sebaiknya yang berbahan dasar
katun karena katun menyerap kelembaban dan menjaga agar sirkulasi udara tetap
terjaga
6. Hindari seks bebas atau bergantiganti pasangan tanpa menggunakan alat pelindung
seperti kondom
7. Sebisa mungkin kendalikan stress
8. Apabila mengalami keputihan dan mendapatkan pengobatan antibiotik oral (yang
diminum) sebaiknya mengkonsumsi antibiotik tersebut sampai habis sesuai dengan
yang diresepkan agar bakteri tidak kebal dan keputihan tidak datang lagi.

G. Pemeriksaan
Pemeriksaan Keputihan Menurut Bahari (2012, hlm. 57), sebelum melakukan
tindakan pengobatan, perlu dilakukan langkah-langkah pemeriksaan guna mengetahui
penyebab keputihan. Berbagai langkah pemeriksaan tersebut dilakukan berdasarkan usia,
keluahan yang dirasakan, sifat-sifat cairan yang keluar, kaitannya dengan menstruasi,
ovulasi, serta kehamilan. Pemeriksaan bisa dilakukan secara langsung dengan melihat
vagina, muara kandung kemih, anus dan lipatan pada paha. Bisa juga dilakukan
pemeriksaan di laboratorium yang memadai dengan cara mengambil sempel cairan
keputihan dan sampel darah. Adapun pemeriksaan dalam dilakukan terhadap wanita yang
sudah menikah.

11
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan speculum. Untuk melakukan
pemeriksaan lanjutan, bisa dilakukan tindakan biopsi, yaitu dengan cara mengambil sel-
sel yang lepas dengan cara mengeroknya dari selaput lendir rahim.

H. Pengobatan
Pengobatan Keputihan Menurut Ayuningsih, Teviningrum dan Krisnawati (2009,
hlm.26), pengobatan untuk keputihan meliputi :
1. Jika keputihan masih ringan, bisa menggunakan sabun atau larutan antiseptik khusus
pembilas vagina seperlunya. Penggunaan berlebihan akan mematikan flora normal
dan mengganggu keasaman vagina. Konsultasi ke dokter, sehingga akan diperoleh
cara pengobatan paling tepat untuk mengatasi gangguan keputihan patologis dan
infeksi sesuai dengan penyebabnya. Jenis obat dapat berupa sediaan oral berupa
tablet atau kapsul, topical seperti krim yang dioleskan dan yang langsung
dimasukkan ke liang vagina.
2. Bagi yang sudah berkeluarga, lakukan pemeriksaan bersama pasangan. Jika masih
belum sembuh, lakukan uji resistensi obat dan mengganti dengan obat lain. Ada
kemungkinan kuman ternyata resisten terhadap obat yang di berikan.
3. Bagi penderita yang sudah menikah dan melakukan hubungan seksual secara rutin,
apalagi berusia lebih dari 5 tahun, lakukan papsmear. Idealnya papsmear dilakukan
setahun sekali.
4. Jika positif terkena virus, bisa dilanjutkan dengan pemeriksaan mulut rahim. Sebagai
penunjang di lakukan pula tes urin dan tesdarah.
5. Melakukan pola hidup sehat agar daya tahan tubuh mendukung proses pengobatan.

Menurut Bahari (2012, hlm. 32), pengobatan keputihan terdiri dari:


a. Pengobatan Moderen
Jika penyebab keputihan adalah infeksi, ada beberapa tindakan pengobatan
moderen yang bisa dilakukan. Diantaranya:
1) Obat-obatan, berikut berbagai jenis obat yang bisa digunakan mengatasi
keputihan:
a) Asiklovir digunakan untuk mengobati keputihan yang disebabkan
oleh virus herpes.
b) Podovilin 25% digunakan untuk mengobati keputihan yang
disebabkan oleh kondiloma.
c) Larutan asam Thrikloro-Asetat 40-50% atau salep Asam Salisilat20-
40% (digunakan dengan cara dioleskan).
d) Metronidazole Digunakan untuk mengobati keputihan yang
disebabkan oleh bakteri Comonas Vaginalis dan Gardnerella.

12
e) Nistatin, mikonazole, klotrimazole, dan friconazole. Digunakan
untuk mengobati keputihan yang disebabkan oleh jamur Candida
Albican.
2) Larutan Antiseptik
Larutan antiseptik hanya berfungsi membersihkan cairan keputihan yang
keluar dari vagina, larutan ini tidak bisa membunuh penyebab infeksi
ataupun menyembuhkan keputihan yang diakibatkan oleh penyebab
lainnya.
3) Hormon Estrogen
Hormon estrogen yang diberikan biasanya berbentuk tablet dan krim.
Pemberian hormon ini dilakukan terhadap penderita yang sudah
memasuki masamenopause atau lanjut usia.
4) Operasi Kecil
Operasi kecil perlu dilakukan jika penyebab keputihan adalah tumor
jinak, misalnya papilloma.
5) Pembedahan Metode pengobatan ini dilakukan jika penyebab keputihan
adalah kanker serviks atau kanker kandungan lainnya. Selain itu, metode
pengobatan ini juga dilakukan dengan mengacu pada stadium kankernya.

b. Pengobatan Tradisional
Metode pengobatan tradisional dilakukan dengan memanfaatkan beberapa
jenis tumbuhan obat yang dapat ditemui dengan mudah di alam sekitar,
berikut ini:
1) Oleskan ampas mangga masak ke daerah vagina dan biarkan beberapa
saat, sebelum membilasnya dengan air.
2) Makan satu atau dua buah pisang masak setiap hari secara rutin.
3) Minum segelas jus cranberry segar, sebaiknya tanpa gula, setiap hari.
4) Mengkonsumsi rempah-rempah seperti jahe, lengkuas, dan
sebagainya. Saat mengkonsumsi makanan ini sebaiknya dalam bentuk
mentah, atau dikukus sebentar.
5) Bersihkan daerah vagina dengan perasan jeruk lemon dan air.
6) Daun kasingsat muda dikukus kemudian dimakan sebagai lalapan.
7) Rebus 30 gram akar bunga matahari dalam 4 gelas air hingga tersisa 2
gelas. Minum airnya 2 kali sehari.
8) Daun sirih direndam selama satu jam dalam air panas lalu didiamkan
hingga dingin untuk membersihkan daerah vagina. Lakukan setiap
hari pagi dan sore hari.

13