Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIKUM CARA PEMBERIAN OBAT PADA MENCIT

A. TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa dapat mengenal cara dan rute pemberian obat, mengetahui pengaruh rute
pemberian obat terhadap efek farmakologi, memahami konsekuensi praktis dari pengaruh rute
pemberian obat, mengenal manifestasi berbagai efek obat yang diberikan.
B. DASAR TEORI
Rute pemberian obat ( Routes of Administration ) merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang
berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah
yang berbeda; enzim-enzim dan getah-getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut
berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya
dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari rute pemberian obat (Katzug, B.G, 1989).
Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi, sifat obatnya serta kondisi
pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah seperti berikut:
a. Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik
b. Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama
c. Stabilitas obat di dalam lambung atau usus
d. Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute
e. Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter
f. Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui bermacam-macam rute
g. Kemampuan pasien menelan obat melalui oral.
Bentuk sediaan yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat yang
diabsorpsi, dengan demikian akan mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi obat. Bentuk
sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik diperoleh jika
obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang efek lokal adalah efek obat yang
bekerja setempat misalnya salep (Anief, 1990).
Efek sistemik dapat diperoleh dengan cara:
a. Oral melalui saluran gastrointestinal atau rectal
b. Parenteral dengan cara intravena, intra muskuler dan subkutan
c. Inhalasi langsung ke dalam paru-paru.
Efek lokal dapat diperoleh dengan cara:
a. Intraokular, intranasal, aural, dengan jalan diteteskan ada mata, hidung, telinga
b. Intrarespiratoral, berupa gas masuk paru-paru
c. Rektal, uretral dan vaginal, dengan jalan dimasukkan ke dalam dubur, saluran
kencing dan kemaluan wanita, obat meleleh atau larut pada keringat badan atau larut
dalam cairan badan
Rute penggunaan obat dapat dengan cara:
a. Melalui rute oral
b. Melalui rute parenteral
c. Melalui rute inhalasi
d. Melalui rute membran mukosa seperti mata, hidung, telinga, vagina dan
sebagainya
e. Melalui rute kulit (Anief, 1990).
Cara pemberian obat melalui oral (mulut), sublingual (bawah lidah), rektal (dubur) dan
parenteral tertentu, seperti melalui intradermal, intramuskular, subkutan, dan intraperitonial,
melibatkan proses penyerapan obat yang berbeda-beda. Pemberian secara parenteral yang lain,
seperti melalui intravena, intra-arteri, intraspinal dan intraseberal, tidak melibatkan proses
penyerapan, obat langsung masuk ke peredaran darah dan kemudian menuju sisi reseptor
(receptor site) cara pemberian yang lain adalah inhalasi melalui hidung dan secara setempat
melalui kulit atau mata. Proses penyerapan dasar penting dalam menentukan aktifitas
farmakologis obat. Kegagalan atau kehilangan obat selama proses penyerapan akan
memperngaruhi aktifitas obat dan menyebabkan kegagalan pengobatan ( Siswandono dan
Soekardjo, B., 1995).
Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang kedokteran/biomedis
telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah
memenuhi persyaratanpersyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis / keturunan dan
lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, disamping factor ekonomis, mudah tidaknya
diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia
(Tjay,T.H dan Rahardja,K, 2002).
Cara memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya perlu pula diketahui. Cara
memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah berbeda-beda dan ditentukan oleh
sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya. Kesalahan dalam caranya akan
dapat menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan (ini akan menyulitkan
dalam melakukan penyuntikan atau pengambilan darah, misalnya) dan juga bagi orang yang
memegangnya (Katzug, B.G, 1989).
Fenobarbital, asam 5,5-fenil-etil barbiturate merupakan senyawa organik pertama yang
digunakan dalam pengobatan antikonvulsi. Kerjanya membatasi penjalaran aktivitas bangkitan
dan menaikkan ambang rangsang. Efek utama barbiturat ialah depresi SSP. Semua tingkat
depresi dapat dicapai mulai dari sedasi, hipnosis, berbagai tingkat anesthesia, koma, sampai
dengan kematian. Efek hipnotik barbiturate dapat dicapai dalam waktu 20-60 menit dengan
dosis hipnotik. Tidurnya merupakan tidur fisiologis, tidak disertai mimpi yang mengganggu
(Ganiswara, 1995).
Barbiturat secara oral diabsorbsi cepat dan sempurna. Bentuk garam natrium lebih cepat
diabsorbsi dari bentuk asamnya. Mula kerja bervariasi antara 10-60 menit, bergantung kepada
zat serta formula sediaan dan dihambat oleh adanya makanan didalam lambung. Barbiturat
didistribusi secara luas dan dapat lewat plasenta, ikatan dengan PP sesuai dengan kelarutannya
dalam lemak, thiopental yang terbesar, terikat lebih dari 65%. Kira-kira 25% fenobarbital dan
hampir semua aprobarbital diekskresi kedalam urin dalam bentuk utuh (Ganiswara, 1995).
Resorpinya di usus baik (70-90%) dan lebih kurang 50% terikat pada protein; plasma-t
-nya panjang, lebih kurang 3-4 hari, maka dosisnya dapat diberikan sehari sekaligus. Kurang
lebih 50% dipecah menjadi p-hidrokdifenobarbitat yang diekskresikan lewat urin dan hanya 10-
30% dalam kedaan utuh. Efek sampingnya berkaitan dengan efek sedasinya, yakni pusing,
mengantuk, ataksia dan pada anak-anak mudah terangsang. Bersifat menginduksi enzim dan
antara lain mempercepat penguraian kalsiferol (vitamin D2) dengan kemungkinan timbulnya
rachitis pada anak kecil. Pengunaannya bersama valproat harus hati-hati, karena kadar darah
fenobarbital dapat ditingkatkan. Di lain pihak kadar darah fenitoin dan karbamazepin serta
efeknya dapat diturunkan oleh fenobarbital. Dosisnya 1-2 dd 30-125 mg, maksimal 400 mg
(dalam 2 kali); pada anak-anak 2-12 bulan 4mg/kg berat badan sehari; pada status epilepticus
dewasa 200-300 mg (Tjay dan Rahardja, 2006).

C. BAHAN
1. Rute Pemberian Obat Secara Oral
Obat : Luminal Natrium dengan dosis 35 mg/kg BB, konsentrasi larutan obat 3,5% Volume
maksimal : 1,0 ml/kg BB
Hewan Percobaan : Mencit, jenis kelamin jantan
2. Rute Pemberian Obat Secara Intra Peritoneal
Obat : Luminal Natrium dengan dosis 35 mg/kg BB, konsentrasi larutan obat 3,5%
Volume maksimal : 1,0 ml/kg BB
Hewan Percobaan : Mencit, jenis kelamin jantan
3. Rute Pemberian Obat Secara Sub Cutan
Bahan Obat : Luminal Natrium dengan dosis 35 mg/kg BB, konsentrasi larutan obat 3,5%
Volume maksimal : 0,5 ml/kg BB
Hewan Percobaan : Mencit, jenis kelamin jantan

D. ALAT
a. Jarum suntik - 1 inch (No. 27)
b. Jarum Oral
c. Beakerglass
d. Matglass
e. Pipet volume
f. Labu Ukur
g. Spidol
h. Stopwatch
i.
E. PROSEDUR KERJA
1. Rute Pemberian Obat Secara Oral
Prosedur :
1) Pegang tikus pada tengkuknya
2) Jarum oral yang telah diisi dimasukkan ke mulut tikus melalui langit-langit masuk
esofagus
3) Dorong larutan tersebut ke dalam esofagus
Pengamatan:
o Catat waktu pemberian obat, mulai timbulnya efek (on set) dan hilangnya efek
Efek yang diamati, diantaranya :
1. Aktivitas spontan dari respon terhadap rangsangan/stimulus pada keadaan
normal
2. Perubahan aktivitas baik spontan maupun distimulasi
3. Usaha untuk menegakkan diri tidak berhasil
4. Diam, tidak bergerak, usaha untuk menegakkan diri tidak lagi dicoba.
2. Rute Pemberian Obat Secara Intra Peritoneal
Prosedur :
1) Pegang mencit pada tengkuknya sedemikian hingga posisi abdomen lebih tinggi dari
kepala
2) Suntikan larutan obat ke dalam abdomen bawah dari tikus disebelah garis midsagital
Pengamatan:
- Lakukan pengamatan seperti pada pemberian secara oral.
3. Rute Pemberian Obat Secara Sub Kutan
Prosedur :
1) Pegang kulit pada bagian tengkuk mencit
2) Cari bagian kulit tersebut yang berongga (ada ruangan di bawah kulit)
3) Suntikan larutan obat ke dalam ruangan tersebut (bawah kulit)
Pengamatan:
Lakukan pengamatan seperti pada pemberian secara oral.

D. HASIL DAN PENGOLAHAN DATA

1. Konversi Dosis
Dosis Phenobarbital : 300 600 mg / kg
Untuk manusia 70 kg : 70/50 x (300 600 mg) = 420 840 mg/70 kg
Untuk mencit 20 g : (420 840 mg) x 0,0026 = 1,092 2,180 mg = 1,638 mg/20
g

2. Pembuatan Larutan Stok


Sediaan : 200 mg/2 ml
V1 x C1 = V2 x C2
2 ml x 200 mg = 50 ml x C2
C2 = 400/50 = 8 mg -> 8 mg/50 ml
3. Perhitungan Dosis Mencit
Dosis mencit = Berat (gram)/20 gram x dosis konversi
Volume yang disuntikkan = dosis mencit/lar stok x dosis maksimal tiap rute
a. Mencit 1 (23,1 g) = 23,1/20 x 1,638 = 1,89 mg
Volume Suntik PO = 1,89 mg/8 mg x 1,0 ml = 0,24 ml
b. Mencit 2 (26,2 g) = 26,2/20 x 1,638 = 2,15 mg
Volume Suntik SC = 2,15 mg/8 mg x 0,5 ml = 0,13 ml
c. Mencit 3 (28,45 g) = 28,45/20 x 1,638 = 2,33 mg
Volume Suntik IP = 2,33 mg/8 mg x 1,0 ml = 0,29 ml

Tabel pengamatan terhadap waktu efek obat pada mencit

E. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini mempalajari tentang pengaruh cara pemberian obat terhadap absorpsi
obat dalam tubuh (dalam hal ini pada tubuh hewan uji). Mencit dipilih sebagai hewan uji karena
proses metabolisme dalam tubuhnya berlangsung cepat sehingga sangat cocok untuk dijadikan
sebagai objek pengamatan.
Dari data yang didapatkan tentang perbandingan rute pemberian obat terhadap
efektifitasnya, menunjukkan bahwa rute pemberian melalui intraperitoneal adalah yang paling
cepat, yaitu didapatkan hasil rata-rata membutuhkan waktu 10 40 menit. Sedangkan onset
yang paling lama tercapai adalah melalui per oral yang didapatkan hasil sekitar 35 57 menit.
Pemberian obar secara oral merupakan cara pemberian obar yang umum dilakukan
karena mudah, aman, dan murah. Namun kerugiannya ialah banyak faktor yang dapat
mempengaruhi bioavailabilitasnya sehingga waktu onset yang didapat cukup lama. Sedangkan
pemberian secara suntikan yaitu pemberian intravena, memiliki keuntungan karena efek yang
timbul lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian secara oral karena tidak
mengalami tahap absorpsi maka kadar obat dalam darah diperoleh secara cepat, tepat dan dapat
disesuaikan langsung dengan respons penderita.
Sedangkan rute pemberian yang cukup efektif adalah intra peritoneal (i.p.) karena
memberikan hasil kedua paling cepat setelah intravena. Namun suntikan i.p. tidak dilakukan
pada manusia karena bahaya injeksi dan adhesi terlalu besar

F. KESIMPULAN
Pada pemberian obat secara oral lebih lama menunjukkan onset of action dibanding
secara Intraperitoneal, hal ini dikarenakan Intraperitoneal tidak mengalami fase absorpsi tetapi
langsung ke dalam pembuluh darah.
Sementara pemberian secara oral, obat akan mengalami absorpsi terlebih dahulu lalu
setelah itu masuk ke pembuluh darah dan memberikan efek.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh., 1990, Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan, Gadjah Mada University Press, D.I
Yogayakarta.
Ansel, Howard.C., 1989 Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Universitas Indonesia Press, Jakarta
Ganiswara, Sulistia G (Ed), 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi IV. Balai Penerbit Falkultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Joenoes, Z. N., 2002, Ars Prescribendi, Jilid 3, Airlangga University Press, Surabaya.
Katzung, Bertram G., Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta.
Tjay,Tan Hoan dan K. Rahardja, 2007, Obat-obat Penting, PT Gramedia, Jakarta.
Setiawati, A. dan F.D. Suyatna, 1995, Pengantar Farmakologi Dalam Farmakologi dan Terapi, Edisi
IV, Editor: Sulistia G.G, Gaya Baru, Jakarta.
Siswandono dan Soekardjo, B, 1995, Kimia Medisinal, Airlangga Press, Surabaya.
Kl,

ANTELMETIK

I. Judul Praktikum

Antelmentik

II. Tujuan Praktikum

Setelah menyelesaikan percobaan ini diharapkan mahasiswa:


1. Untuk mengetahui dan memahami efek yang ditimbulkan dari pemberian obat antelmentik umum
yaitu pirantel pamoat dan simplisia yang berkhasiat membunuh cacing pada hewan coba cacing tanah.

2. Dapat merancang dan melakukan eksperimen sederhana untuk menguji aktivitas antelmentik (anti
cacing) suatu bahan uji secara in vitro.

III. Dasar Teori

Antelmintik atau obat cacing adalah obat-obat yang dapat memusnahkan cacing dalam tubuh
manusia dan hewan. Yang tercakup dalam istilah ini adalah semua zat yang bekerja lokal menghalau
cacing dari saluran cerna maupun obat-obat sistemis yang membasmi cacing maupun larvanya yang
menghinggapi organ dan jaringan tubuh.
Banyak antelmintik dalam dosis terapi hanya bersifat melumpuhkan cacing, jadi tidak
mematikannya. Guna mencegah jangan sampai parasit menjadi aktif lagi atau sisasisa cacing mati
dapat menimbulkan reaksi alergi, maka harus dikeluarkan secepat mungkin (Tjay dan Rahardja,
2002:185).
Contoh zat aktif antelmintik yang lazim digunakan, diantaranya:
Pirantel Pamoat
Untuk cacing gelang, cacing kremi dan cacing tambang. Mekanisme kerjanya menimbulkan
depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi imfuls, menghambat enzim kolinesterase.
Absorpsi melalui usus tidak baik, ekskresi sebagian besar bersama tinja, <15% lewat urine.
(Anonim.2010)
Pirantel pamoat sangat efektif terhadap Ascaris, Oxyuris dan Cacing tambang, tetapi tidak efektif
terhadap trichiuris. Mekanisme kerjanya berdasarkan perintangan penerusan impuls neuromuskuler,
hingga cacing dilumpuhkan untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh oleh gerak peristaltik usus.
Cacing yang lumpuh akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing
akan cacing akan

segera mati. Di samping itu pirantel pamoat juga berkhasiat laksans lemah. . (Tjay dan Rhardja,
2002:193)

Resorpsinya dari usus ringan kira kira 50% diekskresikan dalam keadaan utuh bersamaan dengan
tinja dan lebih kurang 7% dikeluarkan melalui urin. Efek sampingnya cukup ringan yaitu berupa
mual, muntah, gangguan saluran cerna dan kadang sakit kepala. (Tjay dan Rhardja, 2002:193).
Dosis terhadap cacing kremi dan cacing gelang sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg, anak-anak 2
tablet sesuai usia (10mg/kg). (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis tunggal pirantel pamoat 10mg/kg
Bb (ISO, 2009 : 81).

Kunyit

Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.), adalah termasuk termasuk
salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian
mengalami penyebaran ke daerah Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap
orang Indonesia dan India serta bangsa Asia umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah ini,
baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.
Dalam bahasa Banjar kunyit atau kunir ini dinamakan Janar. Kunyit tergolong dalam kelompok
jahe-jahean, Zingiberaceae. Kunyit dikenal di berbagai daerah dengan beberapa nama lokal,
sepertiturmeric (Inggris), kurkuma (Belanda), kunyit (Indonesia dan Malaysia), kunir (Jawa),
koneng (Sunda), konyet (Madura). Kunyit adalah rempah-rempah yang biasa digunakan dalam
masakan di negara-negara Asia. Kunyit sering digunakan sebagai bumbu dalam masakan sejenis
gulai, dan juga digunakan untuk memberi warna kuning pada masakan, atau sebagai pengawet.
Produk farmasi berbahan baku kunyit, mampu bersaing dengan berbagai obat paten, misalnya untuk
peradangan sendi (arthritis- rheumatoid) atau osteo-arthritis berbahan aktif natrium deklofenak,
piroksikam, dan fenil butason dengan harga yang relatif mahal atau suplemen makanan (Vitamin-
plus) dalam bentuk kapsul. Dalam bahasa Banjar kunyit biasa pula disebut Janar. Produk bahan jadi
dari ekstrak kunyit berupa suplemen makanan dalam bentuk kapsul (Vitamin-plus) pasar dan
industrinya sudah berkembang. Suplemen makanan dibuat dari bahan baku ekstrak kunyit dengan
bahan tambahan Vitamin B1, B2, B6, B12, Vitamin E,Lesitin, Amprotab, Mg-stearat, Nepagin dan
Kolidon 90. Umbi (rimpang) yang berumur lebih dari satu tahun dapat dipakai sebagai obat, umbi
(rimpang) kunyit berkhasiat untuk mendinginkan badan, membersihkan, mempengaruhi bagian
perut Khususnya pada lambung , merangsang, melepaskan lebihan gas di usus, menghentikan
pendarahan dan mencegah penggumpalan darah, selain dari itu juga digunakan sebagai bahan dalam
masakan. Kunyit juga digunakan sebagai obat anti gatal, anti septik dan anti kejang serta
mengurangi pembengkakan selaput lendir mulut. Kunyit dikonsumsi dalam bentuk perasan yang
disebut filtrat, juga diminum sebagai ekstrak atau digunakan sebagai salep untuk mengobati
bengkak dan terkilir. Kunyit juga berkhasiat untuk menyembuhkan hidung yang tersumbat, caranya
dengan membakar kunyit dan menghirupnya. Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat,
yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin , desmetoksikumin sebanyak 10% dan
bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat- zat bermanfaat lainnya seperti minyak atsiri yang
terdiri dari Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, Zingiberen 25%, felandren , sabinen ,
borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung Lemak sebanyak 1 -3%, Karbohidrat sebanyak 3%,
Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan
kalsium.

Cacing Tanah

Kerajaan : Animalia
Filum : Annelida
Kelas : Clitellata
Ordo : Haplotaxida
Famili : Lumbricoides
Jenis : Lumbricoides terrestris
Annelida (dalam bahasa latin, annulus = cincin) atau cacing gelang adalah kelompok cacing dengan
tubuh bersegmen. Berbeda dengan Platyhelminthes dan Nemathelminthes, Annelida merupakan
hewan tripoblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata). Namun Annelida
merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana. (Anonim.B)
Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 m.Contoh annelida yang panjangnya 3 m
adalah cacing tanah Australia. Bentuk tubuhnya simetris bilateral dan bersegmen menyerupai cincin.
(Anonim.B)
Annelida memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya. Antara satu segmen dengan segmen
lainya terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf di antara
satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan menembus septa. Rongga tubuh Annelida
beris cairan yang berperan dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot.
(Anonim.B)
Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal). Sistem pencernaan
annelida sudah lengkap, terdiri dari mulut, faring, esofagus (kerongkongan), usus, dan anus. Cacing
ini sudah memiliki pembuluh darah sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup. Darahnya
mengandung hemoglobin, sehingga berwarna merah. Pembuluh darah yang melingkari esofagus
berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. (Anonim.B)

Sistem saraf annelida adalah sistem saraf tangga tali. Ganglia otak terletak di depan faring pada
anterior. Ekskresi dilakukan oleh organ ekskresi yang terdiri dari nefridia, nefrostom, dan nefrotor.
Nefridia (tunggalnefridium) merupakan organ ekskresi yang terdiri dari saluran. Nefrostom
merupakan corong bersilia dalam tubuh. Nefrotor merupaka npori permukaan tubuh tempat kotoran
keluar. Terdapat sepasang organ ekskresi tiap segmen tubuhnya. (Anonim.B)

Sebagian besar annelida hidup dengan bebas dan ada sebagian yang parasit dengan menempel pada
vertebrata, termasuk manusia. Habitat annelida umumnya berada di dasar laut dan perairan tawar,
dan juga ada yang segaian hidup di tanah atau tempat-tempat lembap. Annelida hidup di berbagai
tempat dengan membuat liang sendiri. (Anonim.B)

Annelida umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembantukan gamet. Namun ada juga yang
bereproduksi secara fregmentasi, yang kemudian beregenerasi. Organ seksual annelida ada yang
menjadi satu dengan individu

IV. Alat dan Bahan

a. Alat

1. Botol semprot.

2. Beaker Glass.

3. Petridis 24 pasang.

4. Gelas Ukur.
5. Stopwatch.

b. Bahan

1. Cacing tanah.

2. Larutan obat cacing pirantel pamoat.

3. Larutan simplisia kunyit.

4. Larutan simplisia temulawak.

5. Larutan NaCl fisiologis.

V. Cara Kerja

1. Dibuat larutan control + dari obat pirantel pamoat . Masing-masing kelompok membuat larutan
5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%.
2. Dibuat larutan dari simplisia temulawak dengan masing-masing konsentrasi seperti pada pirantel
pamoat. Begitu pula larutan dari simplisia kunyit.
3. Disiapkan 24 pasang Petridis.
4. Larutan dimasukkan masing-masing ke dalam Petridis. Larutan yang digunakan adalah larutan
obat pirantel pamoat, larutan simplisia temulawak, larutan simplisia kunyit, dan NaCl
fisiologis.Lalu masing-masing Petridis yang berisi larutan yang berbeda-beda masing-masing
dimasukkan cacing ke dalamnya. Ditutup dengan penutup etridis namun dibuka sedikit untuk
celah sirkulasi udara.
5. Diamati yang terjadi pada cacing.

VI. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, yang menjadi bahan amatan pengamat(penguji) adalah aktivitas pirantel
pamoat, kunyit, temulawak dan larutan fisiologis NaCL 0,9% sebagai obat antelmintik yang bekerja
dalam mempengaruhi sistem saraf dari cacing yang akan diamati efeknya.
Pada prosedur awal, cacing yang digunakannya haruslah berupa cacing pita babi (Ascaris suum) jantan
dan betina, namun karena keterbatasan sumber daya, maka diganti oleh cacing tanah (Lumbricoides
terrestris), hal ini dapat dilakukan karena yang akan diamati oleh pengamat adalah aktivitas piperazin
sitrat dan pirantel pamoat terhadap aktivitas sistem saraf pusat, jadi dapat digantikan oleh jenis cacing
lain, dan yang lebih memudahkannya adalah bila menggunakan cacing tanah tidak diperlukan dua jenis
cacing dari jenis kelamin yang berbeda, karena cacing tanah merupakan cacing berkelamin ganda
(hemaprodit).
Sebagai kontrol positif parirantel pamoat mekanisme kerjanya menimbulkan depolarisasi pada otot
cacing dan meningkatkan frekuensi imfuls, menghambat enzim kolinesterase. Absorpsi melalui usus
tidak baik, ekskresi sebagian besar bersama tinja, <15% lewat urine. (Anonim.2010)
Pirantel pamoat sangat efektif terhadap Ascaris, Oxyuris dan Cacing tambang, tetapi tidak efektif
terhadap trichiuris. Mekanisme kerjanya berdasarkan perintangan penerusan impuls neuromuskuler,
hingga cacing dilumpuhkan untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh oleh gerak peristaltik usus. Cacing
yang lumpuh akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing akan segera
mati. Di samping itu pirantel pamoat juga berkhasiat laksans lemah. . (Tjay dan Rhardja, 2002:193) dan
kontrol negatif adalah NaCl fisiologis 0,9 %.

Kunyit dan Temulawak selaku sampel obat alam sebagai pembanding obat sintetik pirantel
pamoat dengan melihat beberapa literatur bahwa kunyit dan temulawak bisa digunakan sebagai
obat cacing, dan banyak mengandung zat aktif yang banyak dan cukup sama, seperti
mengandung kurkuminoid , mineral minyak atsiri serta minyak lemak tepung , temulawak juga
mengandung zat gizi antara lain karbohidrat, protein dan lemak serta serat kasar mineral seperti
kalium ( K ), natrium ( Na), magnesium (Mg ), zat besi (Fe), mangan (Mn ) dan Kadmium
( Cd). Komponen utama kandungan zat yang terdapat dalam rimpang temulawak adalah zat
kuning yang disebut kurkumin dan juga protein ,pati, serta zat zat minyak atsiri.Minyak atsiri
temulawak mengandung phelandren, kamfer, borneol, xanthorrizol, tumerol dan sineal.
Pada awal praktikum, setiap kelompok diberikan ketentuan dosis yang berbeda-beda untuk tiap
kelompoknya dan sebelum semua prosedur dilakukan hal awal yang dilakukan pertama kali ialah
pengambilan/pemilihan cacing sebanyak 4 cacing Setelah itu, dilakukanlah penyiapkan sediaan uji,
yaitu berupa pirantel pamoat, larutan kunyit 5% , larutan temulawak 5% dan NaCl masing-masing
sebanyak 10 ml. Siapkan 4 cawan petri kemudian beri label sesuai cairan sampel obat, tuangkan
semua cairan pada masing-masing petrinya masukan 1 cacing tanah dan amati apa yang terjadi pada
cacing , pada cawan 1 (pirantel pamoat 5%) pada saat awal cacing aktif lewati menit ke 8 cacing
melemas, menit ke 10 warna cacing berubah dari merah menjadi bercak-bercak putih yang berarti
obat masuk kedalam tubuh cacing dan obat mengganggu anatomi fisiologis cacing tersebut namun,
sampai menit ke 50 cacing tidak mati. Pada cawan 2 (NaCl fisiologis) saat cacing dimasukan ke
cawan berisi NaCl fisiologis cacing normal, saat menit ke 11 pada tubuh cacing terdapat perubahan
dibandingkan awal dimana warna caing terbagi dua dimana bagian pekat berwarna merah terdapat
dibagian kepala dan berwarna mwrah muda terdapat pada buntut namun aktifitas masih normal,
melewati menit ke30 cacing melemas dan aktivitas berkurang namun sama dengan cawan1 cacing
tidak mati setelah menit ke 50 dan di hentikan lah percobaan pada cawan 1 dan 2 di menit ke 50.
Pada cawan 3 (kunyit) saat cacing dimasukan cacing diam saat dimenit ke 2 cacing berontak,
menggeliat sangat amat sering, setelah melewati menit ke 4 cacing melemas berhenti menggeliat,
dan dapat dilihat di menit ke8 terdapat lendir di sekitar cacing yang mungkin dikeluarkan untuk
memberontak dan mengakibatkan koagulasi(gumpalan) pada larutan kunyit , mendekati menit ke 10
setengah badannya kaku namun lembek dan akhirnya mati di menit ke 26. Pada cawan ke 3
(temulawak) pada saat cacing dimasukan ke dalam cawan berisi temulawak cacing langsung
menggeliat selama 4 menit dimana berarti obat (zat aktif temulawak) bereaksi lansung dengan
cacing melewati 4 menit pertama tadi caing melemas di menit ke 11 setelah menit awal
dimasukan,dimenit ke 15 tubuh cacing kaku, keras (kenyal) dan mati dimenit ke 35.
Namun jika dilihat dari bedaan konsentrasi pada obat pirantel pamoat cacing mati pada konsentrasi
30% saja di menit 10:57 dengan keadaan mengeras. Pada kontrol negatif NaCl fisiologis di berbagai
konsentrasi cacing tidak mati namun mengalami beberapa keadaaan ada yang berubah manjadi
bening, lemas dan ada yang sampai lisis. Namun bedahalnya pada sampel obat alam dimana yang
digunakannya ialah kunyit dan temulawak. Pada obat alam 1 yaitu kunyit hanya pada konsentrasi
25% cacing tidak mati sedangkan selain dari konsentrasi 25% cacing mati semua dengan berbagai
perbedaan waktu dan keadaannya dimana waktu tercepat saat cacing mati pada konsentrasi 30 yaitu
25 menit dengan keadaan lembek. Sedangkan pada obat alam 2 yaitu (temulawak) semua cacing
yang di ujikan di berbagai konsentrasi mati tentusaja dengan perbadaan waktu dan keadan cacing itu
sendiri dimana waktu tercepat saat cacing mati ialah pada konsentrasi 10%.
VII. Kesimpulan

Dari hasil dan data percobaan dapat di simpulkan bahwa obat terbaik ialah obat alam yaitu
temulawak karena semua cacing dengan berbagai perlakuan dan konsentrasi cacing mati diikuti
dengan kunyit dimana ada 1 perlakuan dengan konsentrasi 25% cacing tidak mati. Sedangkan pada
kontrol positif (pirantel pamoat) caing yang mati hanya dengan perlakuan konsentrasi 30% pada
konsentrsi yang lain cacing tidak mati. Da berbeda lagi dengan NaCl dimana semua cacing dengan
berbagai konsentrasi tidak mati hanya mengalami peubahan yang cukcup berarti ad yang lisis, lemas
sedikit beraktifitas dan lain-lain.
Kesalahan pada percobaan kali ini mungkin disebabkan karena perbadaan bobot cacing seperti
halnya dengan cacing yang di gunakan pada konsentrasi 25% sampel kunyit bahwa dapat dilihat di
antara cacing lain, cacing pada sampel ini lah yang paling besar, sehigga mungkin sebenarnya
cacing akan mati namun dengan waktu yang berbeda dan cukup lebih lama. Sehingga disimpulkan
kembali bahwa bobot cacing memepengaruhi untuk praktikum kali ini.