Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI

Laporan Pendahuluan Waham

Kali ini admin ingin membahas mengenai Laporan Pendahuluan Halusinasi , baiklah
untuk permulaan kita akan membahas mengenai pengertian dari halusinasi itu.

A. Masalah Utama

Perubahan persepsi sensori: Halusinasi


B. Proses terjadi masalah

1. Pengertian Halusinasi

Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya rangsang dari luar.
Walaupun tampak sebagai suatu yang khayal, halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari
kehidupan mental penderita yang terepsesi. Halusinasi dapat terjadi karena dasarr-dasar
organik fungsional, psikotik, maupun histerik (Yosep, 2007)

2. Teori yang Menjelaskan Halusinasi

a) Teori Biokimia

Terjadi sebagai respon metabolisme terhadap stres yang mengakibatkan terlepasnya zat
halusinogenik neurotik (buffofenon dan dimethytransaferase).

b) Teori Psikoanalisis

Merupakan respon pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar yang mengancam dan
ditekan untuk muncul dalam alam sadar.

3. Jenis Halusinasi serta Data Objektif dan Subjektif

Jenis Halusinasi Data Objektif Data Subjektif


Bicara atau tertawa
Mendengar suara-suara atau
sendiri.
kegaduhan.
Halusinasi Dengar
Marah-marah tanpa
Mendengar suara yang
sebab.
(Klien mendengar suara/bunyi yang mengajak bercakap-cakap.
tidak ada hubungannya dengan
Mendekatkan telinga ke
stimulus yang nyata/lingkungan). Mendengar suara menyuruh
arah tertentu.
melakukan sesuatu yang
berbahaya
Menutup telinga.

Halusinasi Penglihatan Menunjuk-nunjuk ke Melihat bayangan, sinar,


(Klien melihat gambaran yang arah tertentu.
jelas/samar terhadap adanya
bentuk geometris, kartun,
stimulus yang nyata dari Ketakutan pada situasi
melihat hantu, atau monster.
lingkungan dan orang lain tidak yang tidak jelas.
melihatnya).

Halusinasi Penciuman Mengendus-endus


seperti sedang membaui Membauai bau-bauan seperti
(Klien mencium bau yang muncul bau-bauan tertentu. bau darah, urin, feses, dan
dari sumber tertentu tanpa stimulus terkadang bau-bau tersebut
yang nyata). Menutup hidung. menyenangkan bagi klien.

Halusinasi Pengecapan
Sering meludah.
(Klien merasakan sesuatu yang Merasakan rasa seperti darah,
tidak nyata, biasanya merasakan Muntah. urin, atau feses.
rasa yang tidak enak).

Halusinasi Perabaan Mengatakan ada serangga di


permukaan kulit.
(Klien merasakan sesuatu pada Menggaruk-garuk
kulitnya tanpa ada stimulus yang permukaan kulit. Merasa seperti tersengat
nyata) listrik.

Halusinasi Kinestetik
Memegang kakinya
(Klien merasa badannya bergerak Mengatakan badannya
yang dianggapnya
dalam suatu ruangan/anggota melayang di udara.
bergerak sendiri.
badannya bergerak)

Halusinasi Viseral
Memegang badannya
Mengatakan perutnya
yang dianggap berubah
(Perasaan tertentu timbul dalam menjadi mengecil setelah
bentuk dan tidak normal
tubuhnya) minum softdrink.
seperti biasanya.

4. Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi adalah faktor risiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang
dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh dari klien atau keluarga.
Faktor predisposisi meliputi:

a) Faktor Perkembangan

Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal terganggu, maka
individu akan mengalami stress dan kecemasan.
b) Faktor Sosiokultural
Berbagai faktor di masyarakat dapat menyebabkan seseorang merasa disingkarkan, sehingga
orang tersebut merasa kesepian di lingkungan yang membesarkannya.

c) Faktor Biokimia

Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Jika seseorang mengalami stres
yang berlebihan, maka di dalam tubuhnya akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat
halusinogenik neurokimia seperti buffofenon dan dimethytransferase (DMP).

d) Faktor Psikologis

Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda bertentangan yang
sering diterima oleh seseorang akan mengakibatkan stres dan kecemasan yang tinggi dan
berakhir pada gangguan orientasi realitas.

e) Faktor Genetik

Gen yang berpengaruh dalam skizofrenia belum diketahui, tetapi hasil studi menunjukkan
bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.

5. Faktor Presipitasi

Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman/tuntutan yang
memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya rangsang lingkungan yang sering yaitu
seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek yang ada
dilingkungan juga suasana sepi/isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi
karena hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh
mengeluarkan zat halusinogenik.

6. Perilaku

Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa rasa curiga, takut, tidak aman, gelisah dan
bingung, berperilaku yang merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil
keputusan, serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Rawlins dan
Heacock (1993) mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat
keberadaan individu sebagai makhluk yang dibangun atas unsur-unsur bio-psiko-sosio-
spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari 5 dimensi yaitu:
a) Dimensi fisik
Manusia dibangun oleh sistem indra untuk menanggapi ransangan eksternal yang diberikan
oleh lingkungannya. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti:
kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi
alkohol dan kesulitan tidur dalam waktu lama.

b) Dimensi emosional
Perasaan cemas yang berlebihan karena masalah yang tidak dapat diatasi merupakan
penyebab halusinasi terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan
menakutkan, sehingga klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga berbuat
sesuatu terhadap ketakutannya.
c) Dimensi intelektual
Individu yang mengalami halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego.
Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang
menekan, tetapi pada saat tertentu menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh
perhatian klien dan tidak jarang akan mengontrol semua perilaku klien.

d) Dimensi sosial
Dimensi sosial menunjukkan individu cenderung untuk mandiri. Individu asik dengan
halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi
sosial, kontrol diri, dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi
dijadikan sistem kontrol, sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, maka hal tersebut
dapat mengancam dirinya atau orang lain. Dengan demikian intervensi keperawatan pada
klien yang mengalami halusianasi adalah dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang
menimbulkan penngalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusahakan agar klien
tidak menyendiri.

e) Dimensi spiritual
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, sehingga interaksi dengan manusia
lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. Klien yang mengalami halusiansi cenderung
menyendiri dan cenderung tidak sadar dengan keberadaanya serta halusinasi menjadi sistem
kontrol dalam individu tersebut.

7. Sumber Koping
Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu dapat mengatasi
stress dan anxietas dengan menggunakan sumber koping dilingkungan. Sumber koping
tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan masalah, dukungan sosial dan keyakinan
budaya, dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress
dan mengadopsi strategi koping yang berhasil.

8. Mekanisme Koping
Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah
langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri

9. Tahap Halusinasi
a) Tahap I ( non-psikotik )

Pada tahap ini, halusinasi mampu memberikan rasa nyaman pada klien, tingkat orientasi
sedang. Secara umum pada tahap ini halusinasi merupakan hal yang menyenangkan bagi
klien. Karakteristik :
1) Mengalami kecemasan, kesepian, rasa bersalah, dan ketakutan
2) Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan kecemasan
3) Pikiran dan pengalaman sensorik masih ada dalam control kesadaran

Perilaku yang muncul :


1) Tersenyum atau tertawa sendiri
2) Menggerakkan bibir tanpa suara
3) Pergerakan mata yang cepat
4) Respon verbal lambat, diam, dan berkonsentrasi

b) Tahap II ( non-psikotik )
Pada tahap ini biasanya klien bersikap menyalahkan dan mengalami tingkat kecemasan yang
berat. Secara umum, halusinasi yang ada dapat menyebabkan antipasti.
Karakteristik :
1) Pengalaman sensori menakutkan atau merasakan dilecehkan oleh pengalaman tersebut
2) Mulai merasa kehilangan control
3) Menarik diri dari orang lain

Perilaku yang muncul :


1) Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah.
2) Perhatian terhadap lingkungan menurun
3) Konsentrasi terhadap pengalaman sensori menurun
4) Kehilangan kemampuan dalam membedakan antara halusinasi dan realita

c) Tahap III ( psikotik )

Klien biasanya tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, tingkat kecemasan berat, dan
halusinasi tidak dapat ditolak lagi.
Karekteristik :
1) Klien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya
2) Isi halusinasi menjadi atraktif
3) Klien menjadi kesepian bila pengalaman sensori berakhir

Perilaku yang muncul :


1) Klien menuruti perintah halusinasi
2) Sulit berhubungan dengan orang lain
3) Perhatian terhadap lingkungan sedikit atau sesaat
4) Tidak mampu mengikuti perintah yang nyata
5) Klien tampak tremor dan berkeringat

d) Tahap IV ( psikotik )
Klien sudah sangat dikuasai oleh halusinasi dan biasanya klien terlihat panik
Perilaku yang muncul :
1) Resiko tinggi menciderai
2) Agitasi atau kataton
3) Tidak mampu merespon rangsangan yang ada

Timbulnya perubahan persepsi sensori halusinasi biasanya diawali dengan seseorang yang
menarik diri dari lingkungan karena orang tersebut menilai dirinya rendah. Bila klien
mengalami halusinasi dengar dan lihat atau salah satunya yang menyuruh pada kejelekan
maka akan berisiko terhadap perilaku

C. Masalah Keperawatan dan data yang perlu dikaji


Masalah keperawatan yang mungkin muncul
a). Risiko tinggi perilaku kekerasan
b). Perubahan persepsi sensori : halusinasi
c). Isolasi social
d). Harga diri rendah kronik
1. Perubahan persepsi sensori : halusinasi
Data yang perlu dikaji
Masalah keperawatan Data yang perlu dikaji

Subjektif :

Klien mengatakan mendengar sesuatu

Klien mengatakan bayangan putih

Klien mengatakan dirinya seperti disengat listrik

Klien mencium bau bauan yang tidak sedap, seperti feses

Klien mengatakan kepalanya melayang di udara

Klien mengatakan dirinya merasakan ada sesuatu yang


berbeda pada dirinya

Perubahan persepsi sensori Objektif :


:halusinasi
Klien terlihat bicara atau tertawa sendiri saat dikaji

Bersikap seperti mendengarkan sesuatu

Berhenti suara di tengah tengah kalimat untuk


mendengarkan sesuatu

Disorientasi

Konsentrasi rendah

Pikiran cepat berubah- ubah

Kekacauan alur pikiran

2. Resiko perilaku kekerasan

a) Curiga terhadap orang lain


b) Panik
c) Reaksi kemaraan
d) Berjalan bolak balik
e) Rahang dan postur tubuh kaku
f) Mengepalkan tangan
f) Merusak secara langsung benda-benda yang ada disekitarnya
g) Mudah tersinggung
3. Kerusakan Interaksi Sosial : menarik diri
a) Menyendiri di ruangan
b) Tidak berkomunikasi
c) Tidak ada kontak mata
d) Sedih, afek datar
e) Meringkuk ditempat tidur dengan punggung menghadap ke pintu
f) Adanya perhatian yang tidak sesuai atau imatur dengan perkembangan usia
g) Berfikir tentang sesuatu menurutnya pikirannya sendiri, tindakan berulang-ulang tidak
bermakna
4. Harga diri rendah kronis:
a) Menarik diri
b) Menjadi sangat kritis atau menghakimi diri dan orang lain
c) Ekspresi-ekpresi ketidak berdayaan
d) Takut gagal
e) Ketidak mampuan mengakui keberhasilan
f) Hubungan interpersonal tidak memuaskan
g) Pandangan yang negatif atau pesimistik
5. Sindroma defisit perawatan diri: mandi/kebersihan, berpakaian/berhias.
a) Ketidakmampuan / menolak untuk membersihkan tubuh atau bagian-bagian tubuh
b) Ketidak mampuan dan kurangnya minat dalam memilih pakaian yang sesuai untuk
dikenakan, berpakaian, merawat atau mempertahankan penampilan.
c) ketidakmampuan atau tidak adanya keinginan defikasi atau berkemih dengan bantuan

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Klien :.

Ruangan :.

No. CM :.

Dx Medis :

N
Tg o Kriteria
Dx Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
l D Evaluasi
x
Perubahan persepsi Sensori: Tujuan : 1. 1. Bina 1.
Halusinasi Klien Setelah.. hubungan saling Kepercayaa
(lihat/raba/dengar/penghidu/ dapat interaksi klien percaya dengan n dari klien
raba/kecap) mengontro menunjukan menggunakan merupakan
l tanda-tanda prinsip hal yang
halusinasi percaya komunikasi mutlak
yang kepada terapeutik : serta akan
dialaminy perawat : memudahka
a a. Sapa klien n dalam
a. Ekspresi dengan ramah pendekatan
SP 1 : wajah baik verbal dan
Klien bersahabuat maupun tindakan
dapat keperawata
nonverbal

b. Perkenalkan
nama, nama
panggilan dan
tujuan perawat
b.
berkenalan
Menunjukan
n yang akan
membina rasa senang
c. Tanyakan dilakukan
hubungan
nama lengkap kepada
saling c. Ada kontak
dan nama klien
percaya mata
penggilan yang
disukai klien
d. Mau
berjabat
d. Buat kontrak
tangan
yang jelas
e. mau
e. Tunjukan
menyebutkan
sikap jujur dan
nama
menepati janji
setiap kali
f. Mau
berinteraksi
menjawab
salam
f. Tunjukan
sikap empati
g. Mau duduk
dan menerima
berdampingan
apa adanya
dengan
perawat
g. Beri perhatian
kepada klien
h. Bersedia
dan masalah
mengungkapk
yang dihadapi
an masalah
klien
yang dihadapi
h. Dengarkan
dengan penuh
perhatian
ekspresi
perasaan klien

SP 2 : 1. Setelah. 1. Adakan 1.
Klien interaksi klien kontak sering Kepercayaa
dapat menyebutkan dan singkat n klien pada
mengenal : secara bertahap perawat
halusinasi dapat
nya a. Isi 2. Observasi diperoleh
tingkah laku dari kontak
b. Waktu klien terkait yang sering
dengan
c. Frekuensi halusinasinya,
jika menemukan
d. Situasi dan klien sedang 2. Tingkah
kondisi yang halusinasi : laku klien
menimbulkan terkait
halusinasi a. Tanyakan halusinasin
apakah klien ya
2. Setelah. mengalami menunjuka
interaksi klien sesuatu n isi, waktu,
menyatakan frekuensi
perasaan dan b. Tanyakan apa serta situasi
respon saat yang sedang dan kondisi
mengalami dialami yang
halusinasi : menimbulk
c. Katakan an
a. Marah bahwa perawat halusinasi
percaya klien
b. Takut mengalami hal 3.
tersebut, namun Ungkapan
c. Sedih perawat sendiri dari klien
tidak menunjuka
d. Senang mengalaminya(d n apa yang
engan nada dibutuhkan
e. Cemas bersahabat tanpa dan
menuduh atau dirasakan
f. Jengkel menghakimi) oleh klien

d. Katakan
bahwa ada klien
lain yang 4.
mengalami hal Membantu
yang sama memilihkan
cara yang
e. Katakan tepat untuk
bahwa perawat membantu
akan membantu klien
klien Jika klien menghadapi
tidak sedang perasaanny
berhalusinasi a
klarifikasi
tentang adanya
pengalaman
halusinasi, 5.
diskusikan Membantu
dengan klien : klien dalam
mengenal
Isi, waktu dan konsekuens
frekuensi i dari
terjadinya halusinasi
halusinasi yang
Situasi dan muncul
kondisi yang
menimbulkan
atau tidak

3. Diskusikan
dengan klien
apa yang
dirasakan jika
terjadi
halusinasi dan
beri kesempatan
untuk
mengungkapkan
perasaannya

4. Diskusikan
dengan klien
apa yang
dilakukan untuk
mengatasi
perasaan
tersebut

5. Diskusikan
tentang dampak
yang akan
dialaminya bila
klien menikmati
halusinasinya
1. Identifikasi
bersama klien
cara atau
1.
tindakan yang
Ungkapan
diharapkan jika
klien
terjadi
menunjuka
halusinasi
n seberapa
tepat,
2. Diskusikan
effektif
cara yang
serta
digunakan
1. Setelah kemampun
klien :
interaksi klien klien untuk
menyebutkan mengontrol
a. Jika yang
tindakan yang halusinasin
digunakan
biasanya ya
adaptif beri
dilakukuan
pujian
untuk
SP 3 :
mengendalika
Klien b. Jika cara yang
n 2. Memberi
dapat
halusinasinya digunakan klien
mengontro maladaptif
l pilihan
diskusikan
2. Setelah serta
halusinasi kerugian
interaksi klien reward atas
ny tersebut
menyebutkan apa yang
cara baru sudah klien
3. Diskusikan
untuk usahakan
cara baru untuk
mengontrol
halusinasinya memutus/mengo
ntrol timbulnya
halusinasi :
3. Setelah 3. Cara
interaksi klien baru
dapat memilih a. Katakan pada memberi
diri sendiri
dan pilihan baru
memperagaka bahwa ini tidak yang
nyata
n cara adaptif bagi
mengatasi klien
halusinasinya b. Menemui
orang lain untuk
4. Setelah menceritakan
interaksi klien halusinasinya 4.
melaksanakan Halusisnasi
cara yang c. Membuat dan
tidak dapat
telah dipilih melaksanakan diputuskan
untuk jadwal kegiatan
secara
mengendalika sehari-hari yang sekaligus
n telah disusun
halusinasinya
d. Meminta
5. Setelah keluarga/teman/ 5. Klien
interaksi klien perwat menyapa akan
jika sedang
1. Buat kontrak
dengan keluarga
untuk
1. Setelah pertemuan
pertemuan 1. Dasar
SP 4 : keluarga, 2. Diskusikan untuk
keluarga dengan keluarga membina
Klien menyatakan : hubungan
dapat setuju untuk terapeutik
dukungan mengikuti a. Pengertian dengan
dari pertemuan halusinasi keluarga
kelurga dengan
dalam perawat b. Tanda dan 2. Keluarga
mengontro gejala halusinasi dapat
l 2. Setelah mengenal
halusinasi interaksi c. Proses dan
nya keluarga terjadinya membantu
menyebutkan halusinasi klien dalam
pengertian, mengendali
tanda dan d. Cara yang kan
gejala, proses dapat dilakukan halusinasin
terjadinya klien dan ya
halusinasi, keluarga untuk
dan tindakan memutuskan
untuk halusinasi
mengendalika
n e. Obat-obat
halusinasitrol halusinasi
halusinasinya
f. Cara merawat
keluarga yang
halusinasi
dirumah

g. Beri informsi
waktu kontrol
ke RS dan
bagaimana cara
mencari bantuan
jika halusinasi
tidak dapat
diatasi di rumah

SP 5 : 1. Setelah 1. Diskusikan 1.Memudah


Klien interaksi klien dengan klien kan
dapat menyebutkan tentang manfaat pemahaman
memanfaa : dan kerugian dalam
mensuksesk
tidak minum
an program
obat, nama ,
pengobatan
warna obat,
yang
a. Manfaat dosis, cara, efek
optmal bagi
minum obat terapi dan efek
klien
samping
b. Kerugian
tkan obat tidak minum 2.Tidak
2. Pantau klien
dengan terjadi yang
obat saat penggunaan
baik tidak
obat
diharapkan
2. Setelah
akibat
interaksi klien 3. Beri pujian
pengobatan
menyebutkan jika klien
yang tidak
: menggunakan
optimal
obat dengan
3.Meningka
a. Nama, benar
tkan rasa
warna, dosis,
PD serta
efek terapi 4. Diskusikan
motivasi
dan efek akibat berhenti
untuk
samping minum obat
menyukses
tanpa konsultasi
kan
3. Setelah dokter
program
interaksi klien
pengobatan
mendemonstra 5. Anjurkan
sikan klien untuk
4.Klien
penggunaan konsultasi
akan lebih
obat dengan kepada
aktif
benar dokter/perawat
menjalani
jika terjadi hal-
program
4. Setelah hal yang tidak
pengobatan
interaksi klien diinginkan
menyebutkan
5.Tidak
akibat
terjadi yang
berhenti
tidak
minum obat
diharapkan
tanpa
akibat
konsultas
pengobatan
yang tidak
i dokte
optimal

DAFTAR PUSTAKA

Balitbang. 2007. Workshop Standar Proses Keperawatan Jiwa.


Fitria. N. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi
Pelasanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP) Untuk 7 diagnosis Keparawatan Jiwa Berat
Bagi Program S-1 Keperawatan

Keliat, B,A. 1998. Askep Pada Kliean Gangguan Orientasi Realitas. Jakarta.

Maramis, F, W. 1998. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University Press.

Stuart & Sundeen. 1998. Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.

Yosep,I. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: refika Aditama.