Anda di halaman 1dari 16

Laporan Hari,Tanggal : Jumat, 5 Mei 2017

Praktikum ke-8 Dosen : Dr. Drh. Gunanti, MS


Teknik Persiapan dan Drh. Henny E. Anggraeni MSc
Perawatan Pasca Operasi Drh. Tetty Barunawati
Drh. Heryudianto Vibowo
Drh. Surya Kusuma Wijaya
Asisten : Nadya Safira AMd

PERSIAPAN, PROSES DAN PERAWATAN PASCA OPERASI


OVARIOHYSTERECTOMY

Kelompok 5 (P-1)
Dwiky Ramadhan J3P115009
Andri J3P115025
Tata Martha J3P115037
Ovi Sania Fahren J3P115043
Sinta Br Ginting J3P115056
Anggi Agustian J3P125061

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PENDAHULUAN

Ovariohysterectomy merupakan istilah kedokteran yang terdiri dari


ovariectomy dan hysterectomy. Ovariectomy adalah tindakan mengamputasi,
mengeluarkan dan menghilangkan dari rongga abdomen, Sedangkan hysterectomy
adalah tindakan mengamputasi, mengeluarkan dan menghilangkan dari rongga
abdomen. Pengertian ovariohysterectomy merupakan gabungan dari pengertian diatas
yaiutu tindakan pengambilan ovarium, corpus uterus dan cornua uteri.
Ovariohysterectomy dilakukan pada kasus-kasus pyometra,metristis, dan salphingitis
ataupun keduanya. (Mayer K 2007)
Beberapa indikasi dilakukan ovariohysterectomy adalah sterilisasi agar tidak
estrus, bunting, terapi, modifikasi tingkah laku dan penggemukan.
Ovariohysterectomy memiliki banyak nama lain diantaranya spay, femal neutering,
sterilization, fixing, desexing, ovary dan uterine ablation serta pengangkatan uterus.
Ovariohysterectomy merupakan tindakan bedah yang sering dilakukan pada
hewan kecil dipraktek-praktek hewan. Ovariohysterectomy merupakan tindakan
pembedahan untuk pengangkatan atau pembuangan ovarium dan uterus sekaligus.
Operasi ini dilakukan untuk mensterilkan hewan betina dengan maksud
menghilangkan fase estrus atau untuk terapi penyakit yang terdapat pada uterus,
seperti resiko tumor ovarium, serivks, dan uterus. Selain itu, operasi juga dilakukan
untuk memperkecil terjadinya pyometra pada betina yang tidak steril. Sterilisasi
biasanya dilakukan saat hewan berumur masih muda. Pada kasus pyometra sterilisasi
dilakukan sebagai terapi karena ketidakseimbangan cairan sehinggamelalui tindakan
bedah ini dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Ovariohysterectomy dapat
dilakukan pada hampir semua fase siklus reproduksi, tetapi paling baik dilakukan
sebelum pubertas dan selama fase anestrus (Saunders, 2003).
Sebelum dilakukan ovariohysteretomy,beberapa persiapan pre operasi antara
lain persiapan ruang operasi, persiapan peralatan operasi, persiapan operator dan
asisten, persiapan obat-obatan dan persiapan hewan. Persiapan ini dilakukan
bertujuan untuk mempermudah jalannya proses ovariohysteretomy. Selain itu
dilakukan sterilisasi alat yang bertujuan agar tidak terjadi infeksi mikroba pada pasien
dan untuk membantu proses penyembuhan pada pasien.
Perawatan dan pengobatan perlu dilakukan demi kesembuhan total dari hewan
yang dipakai dalam operasi. Pengobatan yaitu dengan pemberian antibiotik,
antiseptik, penggantian dressing, pemasangan gurita untuk mempercepat proses
kesembuhan. Pemeriksaan fisik, defekasi, urinasi, makan dan minum, kondisi luka,
turgor kulit dilakukan setiap harinya hingga hewan benar-benar pulih untuk
mengontrol perkembangannya pasca operasi serta menghindarkan hewan dari adanya
komplikasi pasca operasi. Komplikasi sering kali menyertai operasi seperti reaksi
alergi jahitan, seroma, hematoma, self trauma, dan ketidaknyamanan pasien.
Penanganan post operatif sangat penting karena dapat mempengaruhi persembuhan
hewan (pasien) (Theresa 2007).
Adapun tujuan praktikum kali ini adalah agar mahasiswa dapat melakukan
dan Mahasiswa dapat menjelaskan persiapan, membantu proses penanganan, dan
pasca operasi ovariohysterectomy

METODE

Waktu dan tempat


Praktikum ini telah dilaksanakan di klinik hewan pendidikan
Diploma Institut Pertanian Bogor (IPB) gunung gede. Pada tanggal 5
Mei 2017 dan pada waktu pelaksanaan pukul 08.00-12.00 WIB.
Alat dan bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sterilisator,
meja operasi, meja obat-obatan, meja peralatan, meja pencukuran,
perlengkapan baju operasi, peralatan bedah minor, duk, kandang,
tali, timbangan, silet, sikat, handuk, jarum jait, syiringe dan needle,
stetoskop, termometer, dan lampu operasi,.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah obat-
obatan yang digunakan (xylazine, ketamime, atropine,
oxytetracycline, ringer laktat, nacl fisiologis, alkohol 70%, povidone
iodine, Panadol, hematopan, salep genoint), benang jahitan (catgut
dan silk), glove, sabun cair, detergen, masker, tissu, kapas, kasa,
tampon, plester, gurita, Koran dan underpad.
Prosedur praktikum
Persiapan ruangan operasi
Ruangan dibedakan menjadi dua wilayah yaitu ruang
preparasi dan ruang operasi. Didalam ruangan preparasi harus
memiliki timbangan hewan, meja pembiusan, meja pencukuran, dan
dilengkapi dengan wastafel untuk pencucian. Sedangankan pada
ruang operasi : lantai ruangan dibersihkan dengan menyapu dan
mengepelnya hingga bersih, meja operasi, lampu operasi, gagang
infus, dan perlengkapan penunjang lainnya dibersihkan, dan
didisinfektan dengan desinfektan, sedangkan sterilisasi ruangan
dapat menggunkan formaline tablet atau disinfektan.
Persiapan obat-obatan
Agen antiseptic dan desinfektan yang disiapkan yaitu
senyawa iodine, formalin dan alcohol. Sedangkan obat preastesi
disiapkan atropine dan obat antiinflamatory yaitu oxytetracycline
atau terramycin, penicillin, dexamethasone. Dan obat bius yang
digunakan yaitu kombinasi xylazin dan ketamine.
Persiapan peralatan operasi
Satu set peralatan operasi minor beserta duc pembungkus
disiapkan terlebih dahulu. Peralatan dan bahan harus bersih. Alat
dibersihkan dengan manual. Peralatan dicuci dengan sabun dan
dibersihkan dibawah air mengalir 10-15 kali dengan posisi
pencucian alat dari atas ke bawah atau ujung ke pangkal , lalu
peralatan yang telah dicuci dikeringkan dengan lap steril dan
disusun di dalam bak instrumen. Peralatan yang telah disusun di
dalam bak instrumen dibungkus dengan dua lapis kain atau duk,
setelah itu di sterilisasi selama 15 menit dengan suhu 121 derajat
celcius. Peralatan yang akan digunakan disusun dimeja peralatan
dan ditata dengan urutan sesuai fungsinya. Meja peralatan
dilengkapai dengan tampon, bulat persegi, jarum berpenampang
bulat dan segitiga serta benang cat gut dan silk, blade dan duk
atau kainpenutup hewan yang sudah disterilkan.
Persiapan operator dan asisten
Seperangkat perlengkapan operator atau asisten meliputi
tutup kepala dan masker, sepasang sikat dan handuk yang sudah
dilipat dengan benar, baju operasi yang sudah dilipat dengan benar
dan sarung tangan yang sudah dibungkus dengan benar disusun
dan disterilkan 60 derajat celcius selama 30 menit dengan dilapisi
oleh dua kain, dan diberi label. Kemudian ketika akan digunakan
perlengkapan tersebut diletakan dekat wastafel.
Operator dan asisten harus bersih dan terdisinfeksi dengan
urutan yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut : sebelum
membuka bungkusan yang berisi perlengkapan operator dan
asisten, tangan dicuci bersih dan dikeringkan dengan handuk yang
bersih, lalu kemudian mengambil bungkusan tersebut dan
membukanya serta mengenakannya sesuai dengan urutan yang
ada. Operator dan asiten terlebih dahulu mengambil dan
menggunakan topi dan masker, kemudian mengambil dua sikat
tangan, sikat yang satu digunakan untuk menyikat tangan kanan
dan sikat yang lain digunakan untuk menyikat tangan kiri. Kran
dibuka dengan jari tangan dan tangan disikat sampai siku (dimulai
dari ujung kuku yang sebelumnya kuku telah dipotong terlebih
dahulu). kemudian dibilas dengan air kran yang mengalir, dimulai
dari ujung jari sampai ke siku (10 sampai 15 kali).
Cara mematikan kran yaitu menggunakan siku, lalu
mengeringkan tangan dengan handuk yang sudah di sterilisasi ( sisi
yang satu untuk mengeringkan tangan kanan dan sisi yang lain
untuk mengeringkan tangan kiri), memakai baju operasi (dimulai
dari memasukan tangan kanan dan kiri , yang perlu diingat bahwa
bagian dalam baju yang harus menyentuh tubuh. Setelah kedua
tangan masuk ke dalam baju operasi, bersamaan dengan ini kaki
kanan satu langkah mundur dan baju operasi dipakai, asisten
membantu untuk mengancingkan atau mengikat tali pada baju
operasi, lalu menggunakan sarung tangan dengan urutan yang
benar. Pemakaian Sarung tangan pertama tidak boleh menyentuh
bagian luar glove sedangkan pemakaian glove kedua boleh
menyentuh bagian luar dengan tangan yang sudah mengenakan
glove.
Persiapan hewan
Persiapan hewan meliputi Pemeriksaan fisik berupa
Signalement dan keadaan umum hewan. Parameter signalement
yang dicatat adalah nama kucing, jenis dan ras, jenis kelamin, usia,
warna rambut dan kulit, serta bobot badan., pemriksaan fisik yang
meliputi kondisi tubuh hewan yaitu suhu tubuh, frekuensi
pernafasan, denyut jantung dan nadi, reflek kelopak mata, serta
diameter pupil. Kemudian hewan beri injeksi intramuscular
terramycin sesuai dosis dan setelah 10 menit kemudian diberi
atropine sesuai dosis dengan rute pemberian injeksi subcutan.
Kemudian 15 menit kemudian diberi kombinasi ketamine dan
xylazin sesuai dosis pakai yang telah dihitung dengan rute
pemberian intramuscular .
Kemudian dilanjutkan dengan pencukuran rambut 5-10 cm
dibagian yang akan disayat. Dengan menambahkan sabun
antibakteri untuk memudahkan pencukuran. Lalu bagian tersebut
dibersihkan dengan air dan dikeringkan dan diberi antseptik alcohol
70 % dan diberi iodine. Arah pemberian dari tempat sayatan keluar.
Kemudian hewan diletakan di atas meja operasi dengan posisi
ventro dorsal. Kaki hewan diikat dengan simpul tomful dengan
meja. Dan kemudian ditutupi dengan duk, lalu dilakukan
pembedahan atau operasi ovariohysterectomy.
Pelaksanaan operasi
Operasi ovariohisterectomy pada praktikum kali ini bertujuan
untuk melihat organ dalam reproduksi kucing betina dan
mengangkat ovarium nya bagian abdomen kucing. Metode
Ovariohisterectomy yang digunakan yaitu medianus yang dilakukan
di daerah orientasi abdominal bagian ventral atau sayatan tepat
pada linea alba menggunakan blade. Kemudian ditetesi antibiotic
penicillin 1 ml. Kassa atau tampon digunakan untuk menyerap
darah pada saat penyayatan dilakukan. Setelah operasi selesai,
dilakukan penjahitan menggunakan jarum dan benang. Jahitan
dilakukan dari peritoneum, aponeurose musculus, lemak sub kutis
menggunakan benang cat gut dan terakhir penjaitan kulit dengan
benang silk. Sebelum penjaitan terlebih dahulu ditetesi lagi
antibiotik pada subkutan sebelum dilakukan penutupan kulit.
Setelah jahitan selesai diberi antiseptik lalu ditutup dengan kasa
dan plester, kemudian dibalut dengan gurita. Hewan dipindahkan ke
dalam kandang yang sudah diberi alas underpad dan diberi lampu.
Hewan diletakkan dengan posisi lateral kanan. Hewan dimonitor
setiap 15 menit hingga sadarkan diri.
Perawatan pasca operasi
Dilakukan pemeriksaan dan perawatan hewan, dengan
memeriksa suhu tubuh, frekuensi nafas, denyut jantung dan nadi,
pemeriksaan makan, minum, feses, dan urinasi. Gurita dan balutan
perban tiap hari diganti serta sayatan diberi salep genoint.
Dilakukan juga pengukuran panjang sayatan. Hewan diberi
amoxillin sesui dosis pakai secara peroral.

HASIL

Signalement hewan
Nama : Emeng
Jenis : Kucing
Jenis Kelamin : Betina
Berat Badan : 2,7 kg
Warna Rambut : Abu-abu kehitaman
Tabel 1. Data Pemeriksaan Awal Hewan Sebelum Operasi
Parameter O Menit
1. Temperatur 37,2
2. Frek. Nafas 32
3. Denyut Jantung 112
4. Denyut Nadi 104
5. Reflek Kelopak Mata Ada
6. Diameter Pupil 1,3

Tabel 2. Perhitungan Dosis


No Obat / Sediaan Rute Pemberian Perhitungan
.
1. Oxytetraxyclin Intramuscular BB Dosis 2,7 kg 14 mg/kg
Dosis pakai= = =
Sediaan 50 mg/ml

2. Atrophine Subcutan 2,7 kg 0,025 mg/kg


D= =0.27 ml
0,25 mg/ml

3. Xylazine Intramuskular 2,7 kg 2mg/kg


D= =0.27 ml
20 mg/ml

4. Ketamin Intramuscular 2,7 kg 10 mg/ kg


D= =0.27 ml
100 mg/ml

5. Amoxyclin Peroral 2,7 kg 20 mg/kg


D= =2,16 ml
25 mg/ ml

Tabel 3. Catatan yang diperoleh saat pre operasi, operasi


dan pasca operasi
Tanggal / Hari Pukul Keadaan / Perlakuan
5 Mei 2017 / 08 : 12 Pemeriksaan awal
jumat
08 : 26 Pemberian Atrophine
08 : 31 Pemberian Oxytetraxyclin
08 : 39 Pemberian Ketamine + xylazine
08 : 44 Muntah air
08 : 49 Defekasi
08 : 51 Tidur
09 : 24 Pemberian setengah dosis Ketamine+
xylazine
09 : 35 Pemberian setengah dosis Ketamine+
xylazine
10 : 30 Terapi Infra rad (5 menit)
12 : 04 Defekasi
12 : 24 Bangun
16 : 35 Terapi panas (5 menit)

Tabel 4. Pemeriksaan hewan saat operasi


Parameter Waktu Pemeriksaan Keteranga
n
0 15 30 45 60 75 90 10 12 135
5 0
Temperatu 37, 37, 37, 36, 36, 35, 35, 35, 35, 35,0
r 2 3 6 8 1 9 6 5 4
Frek. 32 28 28 24 24 24 25 26 28 28
Nafas
Denyut 112 92 92 96 84 84 72 72 68 80
Jantung
Frek. Nadi 104 96 88 92 88 52 76 76 72 84
Reflek kel. ada Ada - - - - - - - -
Mata
Diameter 1,3 1,3 1,3 1,3 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9 0,9
Pupil

Parameter Waktu Pemeriksaan


150 16 18 19 21 225 24 25 27 285 300 315
5 0 5 0 0 5 0
Temperatu 34, 33, 33, 34, 33, 33, 34, 35, 36, 36,7 36, 36,7
r 8 6 8 0 5 0 2 2 2 9
Frek. Nafas 32 36 36 28 28 28 32 32 40 44 48 56
Denyut 88 92 100 88 88 84 100 92 96 112 116 108
Jantung
Frek. Nadi 84 90 100 88 88 92 96 96 100 104 112 102
Reflek kel. - - - - - ada ada ada ada ada ada ada
Mata
Diameter 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,1 1,1
Pupil

Tabel 5. Pengamatan harian pasca operasi


Parameter Hari
1 2 3
pagi sore pagi sore pagi sore
Temperatur 38,5 38,6 37,8 37,7 37,6 37,1
Frek. Nafas 28 60 76 60 52 68
Denyut 92 160 148 152 144 108
Jantung
Denyut Nadi 84 104 100 112 112 98
Makan + ++ ++ ++ +++ +++
Minum + + ++ ++ +++ +++
Defekasi + - - -
Urinasi - -
Luka Operasi 4 cm 4 cm 3,7 cm 3,7 cm 3,7 cm 3,7 cm
Ukuran luka Basah basah basah basah kering kering
Petugas Dwiky Dwiky Sinta Sinta Tata Tata
pemeriksa Agus Agus Andri Andri ovi Ovi

Parameter Hari
4 5 6
pagi sore pagi Sore pagi sore
Temperatur 37,3 38,0 37,3 37,4 36,9 37,3
Frek. Nafas 72 76 68 75 52 56
Denyut 124 132 152 154 100 112
Jantung
Denyut Nadi 112 124 137 137 88 92
Makan +++ +++ +++ +++ +++ +++
Minum +++ +++ +++ +++ +++ +++
Defekasi - -
Urinasi
Luka Operasi 3,5 3,5 cm 3,5 cm 3,5 cm 3,5 cm 3,5 cm
Ukuran luka Kering Kering Kering Kering kering kering
Petugas Tata Tata Sinta Sinta Dwiky Dwiky
pemeriksa Ovi Ovi Andri Andri Agus Agus
Keterangan :
Makan / Minum / Defekasi / Urinasi
+++ : Banyak
++ : Sedang
+ : Sedikit
- : Tidak sama sekali

Grafik hasil pemeriksaan hewan pasca operasi


1. Grafik Suhu

39
38.5
38
37.5
37
36.5
36

2. Grafik Denyut Jantung

180
160
140
120
100
80
60
40
20
0

3. Grafik Denyut Nadi


150

100

50

0
1 pagi 1 sore 2 pai 2 sore 3 pagi 3 sore 4 pagi 4 sore 5 pagi 5 sore 6 pagi 6 sore

4. Grafik Nafas

80
70
60
50
40
30
20
10
0
1 pagi 1 sore 2 pagi 2 sore 3 pagi 3 sore 4 pagi 4 sore 5 pagi 5 sore 6 pagi 6 sore

5. Pengamatan Luka Pasca Operasi

No Gambar Hari Keterangan


1 Hari ke 1 Ukuran : 4 cm
Luka masih basah
2 Hari ke 2 Ukuran : 4 cm
Luka masih basah

3 Hari ke 3 Ukuran luka : 3,7


cm
Luka sudah kering

4 Hari ke 4 Ukuran luka : 3,7


cm
Luka sudah kering

5 Hari ke 5 Ukuran : 3,5


Luka sudah kering

PEMBAHASAN

Pre Operasi dan Operasi


Ovariohisterektomi merupakan tindakan bedah atau operasi pengangkatan
organ reproduksi betina dari ovarium sampai dengan uterus. Sebelum operasi
dilakukan, alat-alat yang diperlukan dipersiapkan terlebih dahulu. Seperti : duk dan
alat bedah minor yang telah disterilisasi. Perlakuan awal yang dilakukan yaitu
pemeriksaan fisik yang meliputi suhu tubuh, frekuensi nafas, nadi, jantung, refleks
kelopak mata dan diameter pupil. Pemeriksaan fisik ini dilakukan setiap 15 menit
sekali pada saat operasi dan setelah operasi sampai dengan hewan sadar. Pemberian
obat premediksi berupa atropine secara subcutan yang diberikan sebelum obat
anestesi yang berfungsi mengurangi rasa takut, amnesia, induksi anastesi, lancer dan
mudah mengurangi hipersalivasi bradikardia, dan muntah. Setelah 10 menit
antibiotic Oxytetracylin secara intramuscular untuk mencegah terjadinya infeksi.
Setelah 5-10 menit obat anastesi diberikan, ketamine dan xylazine diberikan secara
intramuscular dengan dosis yang telah dihitung.
Ovariohisterectomy ini menggunakan teknik laparotomi posterior dimana
dengan sayatan medianus sesuai dengan posisi ovarium uterus. Uterus tersebut berada
pada daerah abdominal (flank) bagian posterior, tepatnya di anterior dari vesica
urinaria. Setelah kucing tersebut teranastesi atau pingsan, kucing tersebut diletakkan
diatas meja operasi dengan posisi dorsal recumbency. Kemudian bersihkan bulu pada
daerah yang akan dilakukan incise atau pembedahan dengan disemprotkan terlebih
dahulu sabun pada area yang akan dicukur, kemudian cukur di daerah abdomen,
posterior umbilical. Setelah semua bulu tercukur dengan bersih, kemudian daerah
yang akan diinsisi dibersihkan dan disinfeksi dengan menggunakan iodine dan
alcohol, caranya dengan arah memutar dari dalam keluar, hal ini berfungsi untuk
menjaga kesterilan area yang akan diincisi. Setelah itu, buatlah sayatan sekitar 2-3 cm
dari umbilicus arah caudal, pada linea alba dengan panjang kurang lebih 3 - 4 cm.
Lapisan pertama yang disayat adalah kulit kemudian subkutan. Daerah di bawah
subkutan kemudian dipreparir sedikit hingga bagian peritoneum dapat terlihat.
Setelah itu, bagian peritoneum tersebut dijepit menggunakan pinset, disayat sedikit
tepat pada bagian linea alba menggunakan scalpel hingga ruang abdomen terlihat.
Kemudian, sayatan tersebut diperpanjang ke arah anterior dan posterior
menggunakan gunting dengan panjang sesuai dengan sayatan yang telah dilakukan
pada kulit. Diusahakan sayatan seminimal mungkin dengan tujuan agar proses
penjahitan dan penyembuhan tidak terlalu lama, karena semakin sedikit luka yang
dibuat makan proses kesembuhan akan semakin cepat. Setelah rongga abdomen
terbuka, kemudian dilakukan pencarian organ uterus dan ovarium dengan cara
memasukkan jari kelingking dan melakukan perabaan pada daerah uterus, tepat
didaerah dorsal disebelah kanan dan kiri. Setelah di dapat organ uterus, uterus ditarik
keluar hingga daerah percabangan uterus (bivurcatio uteri) dan terlihat ovarium.
Penarikan uterus dilakukan secara perlahan agar tidak terputus. Selanjutnya, klem
tepat diatas ovarium dan tepat diatas cervix. Ligasi diatas klem pertama (diatas
ovarium) dan klem kedua (diatas cervix). Ligasi dilakukan dengan kuat dan terikat
erat agar tidak terjadi kebocoran pembuluh darah. Lakukan ligase pada 2 ovarium
sebelah kanan dan kiri secara bergantian. Setelah diligasi dengan kuat potong uterus,
lepas klem. Pastikan ligasi kuat dan tidak lepas, serta tidak ada rembesan darah dari
saluran yang telah di potong. Setelah proses pemotongan selesai, masukkan kembali
peritoneum. Bagian linea alba ditutup kembali tapi sebelum itu diberi antibiotic
kemudian ditutup dengan penjahitan aponeurose di m.obliqous abdominis externus
m. abdominis externus dengan menggunakan teknik terputus sederhana. Dan pastikan
jahitan tidak melukai atau mengenai organ didalamnya. Penjahitan pada kulit dengan
menggunakan benang silik dengan teknik jahitan simple terputus, dan dilanjutkan
dengan jahitan terputus sederhana. Selama penjahitan diberi vicilin sebagai antibiotik
pada bagian dalam organ sedikit demi sedikit hingga merata, kemudian diusap
dengan betadin diatas jahitan, diberi bioplacenton pas pada jahitan secara merata
kemudian ditutup dengan hypavix dan gurita untuk melindungi jahitan agar cepat
kering, tidak ada kontaminasi dan tidak lepas.

Perawatan Post Operasi


Perawatan kucing setelah operasi akan mempengaruhi kecepatan recovery
hewan. Hewan yang telah selesai dioperasi dicek kembali suhu, pulsus, dan
respirasinya. Apabila hewan mengalami penurunan suhu yang banyak (hipotermi),
hewan tersebut akan dihangatkan melalui infra red atau dipasang lampu dop pada
kandangnya. Pemantauan kondisi kucing terus dilakukan hingga suhu mencapai
normalnya. Recovery pascaanastesi yang baik dapat dinyatakan saat kucing mencapai
suhu normal, kucing sadar, dan mulai merespon makanann/minumannya. Proses
penyatuan jaringan dapat berlangsung sampai 10 hari setelah operasi. Apabila
jaringan telah menyatu, benang silk yang ada pada kulit akan dibuka kembali untuk
diambil agar penyatuan jaringan kulit tidak mengalami infeksi akibat benang yang
terjahit terlalu lama dan menjadi tempat agen patogen.
Perwatan dilakukan tepat setelah operasi dilaksanakan, dan kucing telah
sadarakan diri pada pukul 12:24 WIB. Namun hingga sesudah sadarkan diri, pada
pukul 10:45-16:00 WIB Suhu tubuh mengalami penurunan terus menerus selama post
operasi sampai pada 34.8 33.0C. Suhu normal kucing adalah sekitar 37.7 C
39C (McCurnin 2014), penurunan suhu yang drastis disebabkan oleh metabolisme
tubuh selama operasi, penanganan yang dilakukan untuk mengatasi penurunan suhu
ini dengan melakukan kompres air hangat, pemasangan lampu gantung, hingga terapi
lampu infrared. Frekuensi jantung dan nadi mengalami penurunan, hal ini disebabkan
efek ketamin. Kemudian keadaan nafas kucing dalam frekuensi normal. sesaat post
operasi, saat kucing berangsur sadarkan diri. Suhu kucing berangsur-angsur naik
mendekati kisaran normal. Hal ini dikarenakan kucing diberikan penghangat berupa
lampu pijar untuk mengembalikan keadaan hipotermia. Satu hari pasca operasi suhu
tubuh hewan sudah berada pada kisaran normal.
Perawatan harian post operasi meliputi pemberian nutrisi yang cukup, obat-
obatan untuk membantu proses persembuhan luka, dan obat-obat untuk mencegah
munculnya infeksi sekunder seperti antibiotic. Pemberian antibiotic amoxillin peroral
untuk mencegah adanya kontaminasi bakteri selama operasi dan post operasi.
Antibiotic ini diberikan secara peroral selama 5 hari berturut-turut setiap pagi dan
sore sesuai dengan dosis hitung. Selain itu kebersihan terhadap hewan harus tetap
dijaga, mengingat luka operasi sangat mudah untuk dimasuki oleh agen infeksi.
Pemberian salep genoint pada permukaan jaitan sayatan dilakukan hingga luka
mengering, untuk menghindari infeksi dan mempercepat penyembuhan luka. perban
dan gurita juga digunakan untuk melindungi luka dari jilatan kucing dan menghindari
bagian luka dari kontaminasi bakteri diganti tiap hari selama jaitan belum dilepas.
Selain pemberian obat dan salep, pembersihan kandang, pemberian makan dan
minum, serta pemeriksaan fisik sederhana (suhu, denyut jantung, nafas, dan denyut
nadi) juga tidak kalah pentingnya. Dilihat dari pemeriksaan suhu tubuh kucing selama
lima hari dalam rataan 37.0 - 38.0 C, hal ini dapat dikatan dalam keadaan normal.
Sesuai literature yaitu Suhu normal kucing : 37.7 C 39C (McCurnin 2014) Pada
semua hewan, suhu tubuh berubah-ubah sepanjang hari, pada pagi hari suhu tubuh
lebih rendah, tengah hari agak tinggi, hingga mencapai puncak pada sore hari
jam18.00 (rentang suhu dalam sehari adalah 0,8C). Sedangkan frekuensi nafas
kucing sangat meningkat tajam pada kisaran 60-76 kali/menit diatas normalnya 20-30
x/menit (Ifianti 2001). Secara fisiologis frekuensi nafas dapat dipengaruhi oleh umur,
stimuli, dan kerja. Bila terjadinya pernafasan pendek atau dangkal frekuensi nafas
tidak dapat dihitung dan dievaluasi. Frekuensi nafas yang meningkat terjadi pada
keadaan stress, kerja, demam dan adanya rasa sakit. Sebaliknya juga dapat terjadi
penurunan frekuensi nafas pada depresi kepekaan pusat nafas pada kasus seperti
peningkatan tekanan dalam otak, hilang kesadaran, uremia dan tekanan oksigen yang
meningkat (Widiyono, 2001). Kemudian dalam pemeriksaan denyut jantung dan nadi
tidak adanya perubahan signifikan, frekuensi dalam kisaran normal yaitu pada
Frekuensi jantung/menit normal kucing 110-130 x/menit dan Frekuensi nadi/menit
normal pada kucing 110-130 x/menit (Ifianti 2001).
Keadaan luka pada sayatan terlihat mengering dan tidak ada infeksi atau tidak
adanya cairan. Namun terdapat tonjolan didalam daerah luka. Setelah dilakukan
palpasi, tidak ditemukannya sebuah cincin dan massa yang dapat keluar masuk
melalui cincin tersebut, yang mengindikasikan bahwa kucing mengalami hernia. Hal
ini dapat disebabkan oleh tidak sempurnanya jaitan yang dilakukan pada muskulus
dan peritoneum atau respon tubuh kucing tersebut terhadap benang. Fistula
(hubungan abnormal antara dua tempat yang berepitel) Adanya respon pembengkakan
daerah sayatan yang dijahit akibat jenis benang jahit yang digunakan, umumnya
dikarenakan penggunaan benang jahit yang tidak diserap (braided nonabsorbable
suture).

SIMPULAN

Sebelum dilakukannya operasi atau pembedahan, hal yang dipersiapkan


terlebih dahulu dengan baik atau persiapan pra operasi meliputi persiapan ruangan
operasi, persiapan obat-obatan, persiapan peralatan operasi, persiapan operator dan
asisten, serta persiapan hewan.
Ovariohysterectomy merupakan tindakan bedah/operasi pengangkatan organ
reproduksi betina dari ovarium sampai dengan uterus. Ovariohysterectomy ini
menggunakan teknik laparotomi posterior dimana dengan sayatan medianus sesuai
dengan posisi ovarium uterus. Uterus tersebut berada pada daerah abdominal (flank)
bagian posterior, tepatnya di anterior dari vesica urinaria.
Setelah dilakukan pembedahan, hewan selalu dimonitoring keadaannya
hingga pulih atau sadarkan diri. Dilakukan juga tindakan perawatan dan pemeriksaan
hewan yang meliputi pengukuran suhu tubuh, frekuensi nafas, denyut jantung dan
nadi, pemeriksaan makan, minum, feses, urin, dan pengukuran panjang luka atau
sayatan hingga jaitan sayatan hewan dilepaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Ifianti, M. 2001. Durasi dan Beberapa Aspek Fisiologi Pemakaian Anaestetikum


Xylazine dan Ketmine Untuk Ovariohisterektomi Pada Kucing Lokal [skripsi].
Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
McCurnin DM, Bassert JM. 2014. Clinical Textbook for Veterinery Technicians. 8th
edition.WB Saunders Company. USA.
Widiono, I. 2001. Diktat kuliah diagnosa klinik. Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai