Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH PERPAJAKAN II

PAJAK BUMI BANGUNAN


SEKTOR PERKEBUNAN, PERHUTANAN,
DAN PERTAMBANGAN

DOSEN PENGAMPU:
Drs. TERIDAH SEMBIRING, M.Pd/
HARYANI PRATIWI SITOMPUL, S.E., M.Si

DISUSUN OLEH:

NURLAILA KHAIRANI 7153142019


KANIA PRIMADITA 7153342018

PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat nya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Medan, Mei 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...............................................................................................i
Daftar Isi.....................................................................................................ii
BAB I.........................................................................................................1
Pendahuluan.................................................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................1
C. Tujuan...............................................................................................2
BAB II........................................................................................................3
Pembahasan.................................................................................................3
A. Dasar Hukum.......................................................................................3
B. PBB Sektor Perkebunan..........................................................................3
C. PBB Sektor Perhutanan..........................................................................6
D. PBB Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Minyak Bumi,
Gas Bumi, dan Panas Bumi...........................................................................9
E. PBB Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Mineral dan Batu Bara...........14
F. Nilai Jual Kena Pajak (NJKP)................................................................19
G. Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)..................................19
H. Pengalihan PBB Perdesaan Dan Perkotaan Menjadi Pajak Daerah...................20
BAB III.....................................................................................................24
Penutup.....................................................................................................24
A. Kesimpulan.......................................................................................24
Daftar Pustaka............................................................................................25

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pajak menurut Pasal 1 angka 1 UU No 6 Tahun 1983 sebagaimana telah
disempurnakan terakhir dengan UU No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan umum dan tata
cara perpajakan adalah "kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi
atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang Undang, dengan tidak mendapat
timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat. Mengisyaratkan bahwa diperlukan adanya pembaruan
sistem perpajakan guna meningkatkan kemampuan negara dan masyarakat untuk
membiayai pembangunan yang berasal dari sumber-sumber dalam negeri, karena semakin
meningkatnya penerimaan yang bersumber dari dalam negeri akan semakin meningkat
pula kemandirian dalam pembiayaan pelaksanaan pembangunan.
Pajak bumi dan bangunan (PBB) adalah pajak yang dipungut atas tanah dan
bangunan karena adanya keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi yang lebih baik
bagi orang atau badan yang mempunyai suatu hak atasnya atau memperoleh manfaat dari
padanya. Dasar pengenaan pajak dalam PBB adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). NJOP
ditentukan berdasarkan harga pasar per wilayah dan ditetapkan setiap tahun oleh menteri
keuangan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan PBB?
2. Apa yang dimaksud dengan PBB Sektor Perkebunan?
3. Apa yang dimaksud dengan PBB Sektor Perhutanan?
4. Apa yang dimaksud dengan PBB Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Mineral
dan Batu Bara?
5. Apa yang dimaksud dengan PBB Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Minyak
Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi?
6. Apa yang dimaksud dengan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP)?
7. Apa yang dimaksud dengan Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)?
8. Apa yang dimaksud dengan Pengalihan PBB Perdesaan Dan Perkotaan Menjadi Pajak
Daerah?

1
C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan PBB


2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan PBB Sektor Perkebunan
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan PBB Sektor Perhutanan
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan PBB Sektor Pertambangan Untuk
Pertambangan Mineral dan Batu Bara
5. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan PBB Sektor Pertambangan Untuk
Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi
6. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP)
7. Untuk mengetahui apa a yang dimaksud dengan Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena
Pajak (NJOPTKP)
8. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Pengalihan PBB Perdesaan Dan
Perkotaan Menjadi Pajak Daerah

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. DASAR HUKUM
1. Undang-undang No. 12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang
No. 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.
2. Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2014 tentang Tata Cara
Pengenaan PBB Sektor Perkebunan.
3. Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-42/PJ/2015 tentang Tata Cara
Pengenaan PBB Sektor Perhutanan.
4. Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-45/PJ/2013 tentang Tata Cara
Pengenaan PBB Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi
dan Panas Bumi.
5. Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2015 tentang Tata Cara
Pengenaan PBB Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Mineral dan Batu bara.
6. Surat Edaran Direktorat Jenderal Pajak Nomor SE-36/PJ/2014.
7. Surat Edaran Direktorat Jenderal Pajak Nomor SE-42PJ/2014.

B. PBB SEKTOR PERKEBUNAN

1. Pengertian

Berdasarkan Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-31/2014 tentang Tata


Cara Pengenaan PBB Sektor Perkebunan, disebutkan bahwa:
1. Pengenaan adalah kegiatan menetapkan Wajib Pajak dan besarnya pajak terutang
untuk Pajak Bumi dan Bangunan sektor perkebunan berdasarkan peraturan perundang-
undangan Pajak Bumi dan Bangunan.
2. Pajak Bumi dan Bangunan sektor perkebunan yang selanjutnya disebut PBB
Perkebunan, adalah Pajak Bumi dan Bangunan yang dikenakan atas bumi dan/atau
bangunan yang berada didalam kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha
perkebunan.
3. Penatausahaan objek pajak adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pendaftaran dan
pengadministrasian objek pajak, penilaian, perhitungan Nilai Jual Objek Pajak,
penetapan dan penagihan.
4. Areal produktif adalah areal yang berada didalam kawasan yang digunakan untuk
kegiatan usaha perkebunan yang telah ditanami tanaman perkebunan.
5. Areal Belum Produktif adalah areal yang berada didalam kawasan yang digunakan
untuk kegiatan usaha perkebunan yang belum ditanami tanaman perkebunan yang

3
meliputi areal yang belum diolah, areal yang sudah diolah tapi belum ditanami, dan
areal pembibitan.
6. Areal Tidak Produktif adalah areal yang berada didalam kawasan yang digunakan
untuk kegiatan usaha perkebunan yang tidak dapat diusahakan untuk kegiatan usaha
perkebunan.
7. Areal Pengaman adalah areal yang berada didalam kawasan yang digunakan untuk
kegiatan usaha perkebunan yang dimanfaatkan sebagai pendukung dan pengaman
kegiatan usaha perkebunan.
8. Areal Emplasemen adalah areal yang berada didalam kawasan yang digunakan untuk
kegiatan usaha perkebunan yang diatasnya dimanfaatkan untuk bangunan dan/atau
pekarangan serta fasilitas penunjangnya.
9. Areal lainnya adalah areal yang berada didalam kawasan yang digunakan untuk
perkebunan yang tidak dikenakan PBB Perkebunan sebagaimana diatur dalam Pasal 3
ayat 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tenteng Pajak Bumi dan Bangunan
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1994.
10. Nilai Jual Objek Pajak yang selanjutnya disingkat NJOP adalah harga rata-rata yang
diperolah dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terdapat
transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain
yang sejenis, nilai perolehan baru, atau NJOP pengganti.
11. Standar Investasi Tanaman yang selanjutnya disingkat SIT adalah jumlah biaya tenaga
kerja, bahan dan alat yang diinvestasikan untuk pembukaan lahan, penanaman dan
pemeliharaan tanaman.
12. Surat Pemberitahuan Objek Pajak PBB Perkebunan yang selanjutnya disebut SPOP
adalah surat yang digunakan oleh subjek pajak atau wajib pajak untuk melaporkan
data objek pajak PBB Perkebunan ke Direktorat Jenderal Pajak.
13. Lampiran Surat Pembertiahuan Objek Pajak PBB Perkebunan yang selanjutnya
disebut LSPOP adalah formulir yang digunakan oleh subjek pajak atau Wajib Pajak
untuk melaporkan data rinci objek pajak PBB Perkebunan.
14. Surat Pemebritahuan Pajak Terutang yang selanjutnya disingkat SPPT adalah surat
yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya PBB
Perkebunan yang terutang kepada Wajib Pajak.

2. Objek Pajak PBB Perkebunan


Berdasarkan peraturan tersebut, objek pajak PBB Perkebunan adalah bumi dan/atau
bangunan yang berada didalam kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha
perkebunan, meliputi:

1. Usaha budidaya tanaman perkebunan yang diberikan Ijin Usaha Perkebunan untuk
Budidata (IUP-B); dan

4
2. Usaha budidaya tanaman perkebunan yang terintegrasi dengan usaha pengolahan hasil
perkebunan yang diberikan Izin Usaha Perkebunan (IUP).
Kriteria kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, yaitu:

1. Wilayah yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan yang mempunyai hak guna
usaha atau yang sedang dalam proses mendapatkan hak guna usaha; dan
2. Wilayah diluar hak guna usaha atau yang sedang dalam proses mendaptkan hak guna
usaha yang merupakan satu kesatuan yang digunakan untuk kegiatan usaha
perkebunan adalah wilayah yang secara fisik tidak terpisahkan dengan areal yang
dikenakan PBB Perkebunan.
Wilayah yang sedang dalam proses mendapatkan hak guna usaha, meliputi:

a. Wilayah yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan yang hak guna usahanya
sedang dalam proses perpanjangan; dan
b. Wilayah yang digunakan utnuk kegiatan usaha perkebunan dan telah memiliki izin
usaha perkebunan yang hak guna usahanya wajib diselesaikan.
Bumi yang menjadi Objek Pajak PBB Perkebunan merupakan areal yang meliputi:

a. Areal Produktif;
b. Areal Belum Produktif, meliputi areal:
1) Yang belum diolah;
2) Yang sudah diolah tapi belum ditanami; dan
3) Pembibitan.
c. Areal Tidak Produktif;
d. Areal Pengaman; dan
e. Areal Emplamsemen.
Semenatara itu, bangunan merupakan konstruksi teknik yang ditanam atau
dilekatkan secara tetap pada tanah dan/tanah perariran.

3. Subjek Pajak dan Wajib Pajak PBB Perkebunan

Subjek pajak PBB Perkebunan adalah orang atau badan yang secara nyata
mempunyai suatu hak dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki,
menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan atas objek pajak PBB
Perkebunan. Subjek pajak yang dikenakan kewajiabn membayar PBB Perkebunan menjadi
Wajib Pajak PBB Perkebunan.

4. Dasar Pengenaan PBB Perkebunan

Dasar Pengenaan PBB Perkebunan adalah Nilai Juala Objek Pajak (NJOP), yaitu
hasil penjumlahan antara NJOP Bumi Dn NJOP Bangunan.

5
1. NJOP bumi merupakan hasil perkalian antara total luas areal objek pajak yang
dikenakan dengan NJOP bumi per meter persegi. NJOP bumi per meter persegi
merupakan hasil konversi nilai bumi per meter persegi kedalam klasifikasi NJOP
bumi. Nilai bumi per meter persegi merupakan hasil pembagian antara total nilai bumi
dengan total luas areal objek pajak yang dikenakan PBB Perkebunan. Total nilai bumi
merupakan jumlah dari perkalian luas masing-masing areal objek yang dikenakan PBB
Perkebunan dengan nilai bumi per meter persegi masing-masing areal objek pajak
dimaksud. Nilai bumi per meter persegi untuk masing-masing areal objek pajak
berupa:
a. Areal Emplasemen dan areal yang belum diolah pada Areal Belum Produktif
b. Areal Produktif
c. Areal yang sudah diolah tapi belum ditanami dan areal pembibitan pada Areal
Belum Produktif
d. Areal Pengaman
e. Areal Tidak Produktif
NJOP bangunan merupakan hasil perkalian antara total luas bangunan dengan
NJOP bangunan per meter persegi. NJOP bangunan per meter persegi merupakan hasil
konversi nilai bangunan per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bangunan
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan mengenai klasifikasi NJOP
bangunan. Nilai bangunan per meter persegi merupakan hasil pembagian antara total nilai
bangunan dengan total luas bangunan. Total nilai bangunan merupakan jumlah nilai
bangunan masing-masing bangunan. Nilai bangunan utnuk masing-masing bangunan
ditentukan sebesar biaya pembangunan baru setelah dikurangi penyusutan.

C. PBB SEKTOR PERHUTANAN

1. Pengertian

Berdasarkan Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-42/PJ/2015 tentang


Tata Cara Pengenaan PBB Sektor Perhutanan, disebutkan bahwa:

1. Pengenaan adalah kegiatan menetapkan Wajib Pajak dan besarnya pajak terutang
untuk Pajak Bumi dan Bangunan sektor perhutanan berdasarkan peraturan
perundang-undangan Pajak Bumi dan Bangunan.
2. Pajak Bumi dan Bangunan sektor perhutanan, yang selanjutnya disebut PBB
Perhutanan, adalah Pajak Bumi dan Bangunan yang dikenakan atas bumi dan/atau
bangunan yang berada dalam kawasan ayng digunakan untuk kegiatan usaha
perhutanan.
3. Penatausahaan objek pajak adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pendaftaran
dan pengadministrasian objek pajak, penilaian, perhitungan Nilai Jual Objek Pajak,
penetapan dan penagihan.

6
4. Hutan Produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan.
5. Hutan Tanaman adalah Hutan Produksi yang dibangun dan dimanfaatkan melalui
serangkaian kegiatan berupa penyiapan lahan, pembenihan atau pembibitan,
penanaman, pemeliharaan, pemanenan atau penebangan, dan pemasaran hasil
hutan.
6. Hutan Alam adalah Hutan Produksi yang didalamnya telah bertumbuhan pohon-
pohon alami dan dimanfaatkan melalui serangkaian kegiatan berupa penyiapan
lahan, pembenihan atau pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan atau
penebangan, dan pemasaran hasil hutan.
7. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem, selanjutnya
disingkat IUPHHK-RE, adalah izin usaha yang diberikan untuk membangun
kawasan dalam Hutan Alam dan Hutan Produksi yang memiliki ekosistem penting
sehingga dapat dipertahankan fungsi dan keterwakilannya melalui kegiatan
pemeliharaan, perlindungan, dan pemulihan ekosistem hutan termasuk penanaman,
pengayaan, penjarangan, penangkaran satwa, serta pelepasliaran flora dan fauna
untuk memngembalikan unsur hayati (flora dan fauna) dan unsur non hayati (tanah,
iklim, dan topografi) pada suatu kawasan pada jenis yang asli sehingga tercapai
keseimbangan hayati dan ekosistemnya.
8. Areal Produktif adalah areal yang telah ditanami pada Hutan Tanaman, areal blok
tebangan pada Hutan Alam dengan izin pemanfaatan/pemungutan hasil hutan kayu,
dan areal blok pemanenan pada Hutan Alam dengan izin pemanfaatan/pemungutan
hasil hutan bukan kayu.
9. Areal Belum Produktif adalah areal yang belum diolah dan/atau areal yang sudah
diolah pada Hutan Tanaman, areal yang dapat ditebang selain blok tebangan pada
Hutan Alam dengan izin pemanfaatan/pemungutan hasil hutan kayu, dan areal yang
dapat dipanen selain areal blok pemanenan pada Hutan Alam dengan izin
pemanfaatan/pemungutan hasil hutan bukan kayu.
10. Areal Tidak Produktif adalah areal yang berada didalam kawasan yang digunakan
untuk kegiatan usaha perhutanan yang tidak dapat diusahakan untuk kegiatan usaha
perhutanan, antara lain berupa sungai, zona penyangga (buffer zone), kawasan
perlindungan setempat, areal hutan IUPHHK-RE yang belum tercapai
keseimbangan ekosistem dan belum ada pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, areal
hutan yang diduduki oleh pihak ketiga secara tidak sah.
11. Areal Pengaman adalah areal yang berada didalam kawasan yang digunakan untuk
kegiatan usaha perhutanan yang dimanfaatkan sebagai pendukung dan pengaman
kegiatan usaha perhutanan, antara lain berupa log ponds, log yards, tempat
pengumpulan hasil panen, jalan, kanal parit dan tanggul.
12. Areal Emplasemen adalah areal yang diatasnya dimanfaatkan untuk bangunan
dan/atau pekarangan serta fasilitas penunjangnya.
13. Nilai Jual Objek Pajak, selanjutnya disingkat NJOP adalah harga rata-rata yang
diperolah dari transakasi jual beli yang terjadi secara wajar dan bilamana tidak

7
terdapat transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan
objek lain yang sejenis, nilai perolehan baru, atau NJOP Pengganti.
14. Standar Investasi Tanaman yang selanjutnya disingkat SIT adalah jumlah biaya
tenaga kerja, bahan dan alat yang diinvestasikan untuk pembukaan lahan,
penanaman dan pemeliharaan tanaman.
15. Angka Kapitalisasi adalah angka pengali tertentu yang digunakan untu
mengonversi pendapatan bersih setahun menjadi nilai bumi Areal Produktif pada
Hutan Alam.
16. Biaya Produksi adalah seluruh biaya langsung yang terkait dengan kegiatan
produksi hasil hutan, sampai di log ponds/log yards untuk hasil hutan kayu dan/atau
sampai tempat pengumpulan hasil panen untuk hasil hutan bukan kayu pada Hutan
Alam.
17. Rasio Biaya Produksi adalah presentase tertentu yang diperoleh dari rata-rata Biaya
Produksi setahun dibandingkan denga rata-rata pendapatan kotor setahun.
18. Surat Pemberitahuan Objek Pajak PBB Perkebunan yang selanjutnya disebut SPOP
adalah surat yang digunakan oleh subjek pajak atau wajib pajak untuk melaporkan
data objek pajak PBB Perhutanan ke Direktorat Jenderal Pajak.
19. Lampiran Surat Pembertiahuan Objek Pajak PBB Perhutanan yang selanjutnya
disebut LSPOP adalah formulir yang digunakan oleh subjek pajak atau Wajib Pajak
untuk melaporkan data rinci objek pajak PBB Perhutanan.
20. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang yang selanjutnya disingkat SPPT adalah surat
yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya
PBB Perhutanan yang terutang kepada Wajib Pajak.

2. Objek Pajak PBB Perhutanan

Objek Pajak PBB Perhutanan adalah bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam
kawasan yang digunakan untuk usaha perhutanan yang diberikan:

1. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu termasuk IUPHHK-RE;


2. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu;
3. Izin Pemungutan Hasil Hutan Kayu;
4. Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu;
5. Hak Pengusahaan Hutan;
6. Hak Pemungutan Hasil Hutan; atau
7. Izin lainnya yang sah, antara lain berupa penugasan khusus terkait dengan usaha
pemanfaatan dan pemungutan hasil hutan pada hutan produksi.
Bumi yang dimaksud dalam objek pajak PBB Perhutanan, meliputi:

8
1. Areal yang dikenakan PBB Perhutanan, berupa:
a. Areal Produktif, meliputi:
1) Areak yang ditanami pada Hutan Tanaman
2) Areal blok tebangan pada Hutan Alam dengan izin
pemanfaatan/pemungutan hasil hutan kayu; dan
3) Areal blok pemanenan pada Hutan Alam dengan izin
pemanfaatan/pemungutan hasil hutan bukan kayu.
b. Areal Belum Produktif, meliputi:
1) Areal yang belum ditanami baik areal yang belum diolah dan/atau
sudah diolah pada Hutan Tanaman;
2) Areal yang dapat ditebang selain blok tebangan pada Hutan Alam
dengan izin pemanfaatan pemungutan hasil hutan kayu;dan
3) Areal yang dapat dipanen selain blok pemanenan pada Hutan Alam
dengan izin pemanfaatan/pemungutan hasil hutan bukan kayu.
2. Areal yang tidak dikenakan PBB Perhutanan, berupa Areal Lainnya, yaitu kawasan
yang digunakan untuk kegiatan usaha perhutanan yang tidak dikenakan PBB
sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985
tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 12 tahun 1994.
Sementara itu, bangunan yang dimaksud dalam objek pajak PBB Perhutanan
merupakan konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah
dan/atau perairan.

3. Subjek Pajak dan Wajib Pajak PBB Perhutanan

Subjek pajak PBB Perhutanan adalah orang atau badan yang secara nyata
mempunyai suatu hak dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki,
menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan atas objek pajak PBB
Perhutanan. Subjek Pajak yang dikenai kewajiban membayar PBB Perhutanan disebut
Wajib Pajak PBB Perhutanan.

4. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)

NJOP Bumi

NJOP bumi merupakan hasil perkalian antara total luas areal objek pajak yang
dikenakan PBB perhutanan dengan NJOP bumi per meter persegi. NJOP bumi per meter
persegi merupakan hasil konversi nilai bumi per meter persegi kedalam klasifikasi NJOP
bumi. Nilai bumi per meter persegi merupakan hasil pembagian antara total nilai bumi
dengan total luas areal objek pajak yang dikenakan PBB Perhutanan. Total nilai bumi

9
merupakan jumlah dari perkalian luas masing-masing areal objek yang dikenakan PBB
Perhutanan dengan nilai bumi per meter persegi masing-masing areal objek pajak
dimaksud.

Nilai bumi per meter persegi untuk masing-masing areal objek pajak berupa:

1. Areal Produktif ditentukan melalui hasil pembagian antara nilai bumi Areal
Produktif dengan luas Areal Produktif.
a. Nilai bumi Areal Produktif untuk Hutan Alam merupakan hasil perkalian
pendapatan bersih setahun dengan Angka Kapitalisasi.
b. Nilai bumi Areal Produktif untuk Hutan Tanaman
2. Areal Belum Produktif ditentukan melalui perbandingan harga tanah yang ada
disekitarnya.
3. Areal Emplasemen ditentukan melalui perbandingan harga tanah yang ada
disekitarnya.
4. Areal pengaman ditentukan melalui penyesuaian terhadap nilai bumi per meter
persegi Areal Belum Produktif.
5. Areal Tidak Produktif ditetapkan dengan Keputusan Direktorat Jenderal pajak.
NJOP Bangunan

NJOP Bangunan merupakan hasil perkalian antara total luas bangunan dengan
NJOP bangunan per meter persegi. NJOP bangunan per meter persegi merupakan hasil
konversi nilai bangunan per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bangunan
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan mengenai klasifikasi NJOP
bangunan. Nilai bangunan per meter persegi merupakan hasil pembagian antara total nilai
bangunan dengan total luas bangunan. Total nilai bangunan merupakan jumlah nilai
bangunan masing-masing bangunan. Nilai bangunan untuk masing-masing bangunan
ditentukan sebesar biaya pembangunan baru dikurangi penyusutan.

D. PBB SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK


BUMI, GAS BUMI, DAN PANAS BUMI
Dalam Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-45/PJ/2013 tentang Tata
Cara Pengenaan PBB Sektor Pertambangan untuk Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas
Bumi, disebutkan bahwa:

1. PBB sektor pertambangan untuk pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, selanjutnya
disebut PBB Migas, adalah PBB atas bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam
kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minyak Bumi dan Gas
Bumi.

10
2. PBB sektor pertambangan untuk pertambangan Panas Bumi, selanjutnya disebut PBB
Panas Bumi, adalah PBB atas bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam kawasan
yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Panas Bumi.
3. Pengenaan adalah kegiatan menetapkan Wajib Pajak dan besarnya pajak terutang
untuk PBB Migas dan PBB Panas Bumi berdasarkan peraturan perundang-undangan
PBB.
4. Minyak bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi
tekanan dan temperature atmosfer berupa fasa cair atau padat, termasuk aspal, lilin
mineral atau ozokerit, dan bitumen yang diperoleh dari proses penambangan, tetapi
tidak termasuk batu bara atau endapan hidrokarbon lain berbentuk padat yang
diperoleh dari kegiatan yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha Minya Bumi dan
Gas Bumi.
5. Gas Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan
dan temperature atmosfer berupa fasa gas yang diperoleh dari proses penambangan
Minyak Bumi dan Gas Bumi termasuk antara lain gas metan batu bara (coalbed
methane).
6. Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung didalam air panas, uap air,
dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya
tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem Panas Bumi dan untuk pemanfaatannya
diperlukan proses penambangan.
7. Kontrak Kerja Sama adalah Kontrak Bagi Hasil atau bentuk kontrak kerja sama lain
dalam kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi pertambangan Minyak Bumi dan Gas
Bumi.
8. Izin Usaha Pertambangan adalah izin atau bentuk kontak kerja sama lain untuk
melaksanakan kegiatan usaha pertambangan Panas Bumi.
9. Eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi mengenai kondisi
geologi untuk menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan Minyak Bumi
dan/atau Gas Bumi, atau Panas Bumi, termasuk kegiatan studi kelayakan dalam
kegiatan usaha pertambangan Panas Bumi di Wilayah Kerja atau Wilayah Sejenisnya.
10. Eksploitasi adalah kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan Minyak Bumi
dan/atau Gas Bumi, atau Panas Bumi, dari Wilayah Kerja atau Wilayah Sejenisnya.
11. Wilayah Kerja adalah daerah tertentu di dalam wilayah hukum pertambangan
Indonesia untuk pelaksanaan Eksplorasi dan Eksploitasi.
12. Wilayah Sejenisnya adalah daerah tertentu di dalam wilayah hukum pertambangan
Indonesia untuk pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan Minyak Bumi dan Gas
Bumi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak
dan Gas Bumi, atau daerah tertentu di Panas Bumi sebelum berlakunya Undang-
Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi.
13. Areal Produktif adalah areal tanah dan/atau perairan pedalaman di dalam Wilayah
Kerja atau Wilayah Sejenisnya yang secara nyata dipunyai haknya dan/atau diperoleh
manfaatnya oleh subjek pajak atau Wajib Pajak untuk kegiatan usaha pertambangan

11
Minyak Bumi dan Gas Bumi, atau Panas Bumi, yang sedang diusahakan untuk
pengambilan hasil produksi.
14. Areal Belum Produktif adalah areal tanah dan/atau perairan pedalaman di dalam
Wilayah Kerja atau Wilayah Sejenisnya yang secara nyata dipunyai haknya dan/atau
diperoleh manfaatnya oleh subjek pajak atau Wajib Pajak untuk kegiatan usaha
pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi, atau Panas Bumi, yang belum diusahakan
untuk pengambilan hasil produksi.
15. Areal Tidak Produktif adalah areal tanah dan/atau perarian pedalaman di dalam
Wilayah Kerja atau Wilayah Sejenisnya yang secara nyata dipunyai haknya dan/atau
diperoleh manfaatnya oleh subjek pajak atau Wajib Pajak untuk kegiatan usaha
pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi, atau Panas Bumi, yang tidak dapat atau
selesai diusahakan untuk pengambilan hasil produksi.
16. Areal Emplasemen adalah areal tanah dan/atau perairan pedalaman di dalam Wilayah
Kerja atau Wilayah Sejenisnya yang secara nyata dipunyai haknya dan/atau diperoleh
manfaatnya oleh subjek pajak atau Wajib Pajak untuk kegiatan usaha pertambangan
Minyak Bumi dan Gas Bumi, atau Panas Bumi, yang diatasnya berdiri bangunan dan
sarana pendukungnya, tidak termasuk Areal Produktif.
17. Areal Offshore adalah areal perairan lepas pantai di dalam kawasan yang digunakan
untuk kegiatan usaha pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi, yang secara nyata
dipunyai haknya dan/atau diperoleh manfaatnya oelh subjek pajak atau Wajib Pajak.
18. Areal Lainnya adalah areal tanah, perairan pedalaman, dan/atau perairan lepas pantai,
di dalam Wilayah Kerja atau Wilayah Sejenisnya yang tidak dikenakan PBB
sebagaiaman diatur dalam pasal 3 ayat1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985
tentang Pajak bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 1994, dan/atau yang secara nyata tidak dipunyai haknya dan tidak
diperoleh manfaatnya oleh subjek pajak atau Wajib Pajak utnuk kegiatan usaha
pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi, atau Panas Bumi.
19. Tubuh Bumi Eksplorasi adalah tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi
pada Wilayah Kerja atau Wilayah Sejenisnya yang memiliki potensi Minyak Bumi
dan/atau Gas Bumi, atau Panas Bumi.
20. Tubuh Bumi Eksploitasi adalah tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi
pada Wilayah Kerja atau Wilayah Sejenisnya yang telah menghasilkan hasil produksi
berupa Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi, atau Panas Bumi.
21. Angka Kapitalisasi adalah angka pengali tertentu yang digunakan untuk mengonversi
hasil produksi yang terjual dalam setahun menjadi nilai bumi untuk Tubuh Bumi
Eksploitasi.
22. Nilai Jual Objek Pajak, selanjutnya disingkat NJOP adalah harga rata-rata yang
diperolah dari transakasi jual beli yang terjadi secara wajar dan bilamana tidak
terdapat transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan
objek lain yang sejenis, nilai perolehan baru, atau NJOP Pengganti.

12
23. Surat Pemberitahuan Objek Pajak PBB Perkebunan yang selanjutnya disebut SPOP
adalah surat yang digunakan oleh subjek pajak atau wajib pajak untuk melaporkan
data objek pajak PBB Migas atau PBB Panas Bumi ke Direktorat Jenderal Pajak.
24. Lampiran Surat Pemberitahuan Objek Pajak PBB Migas atau PBB Panas Bumi yang
selanjutnya disebut LSPOP adalah formulir yang digunakan oleh subjek pajak atau
Wajib Pajak untuk melaporkan data rinci objek pajak PBB Migas atau PBB Panas
Bumi.
25. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang yang selanjutnya disingkat SPPT adalah surat
yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya PBB
Migas atau PBB Panas Bumi yang terutang kepada Wajib Pajak.
26. Surat Ketetapan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan, selanjutnya disebut SKP PBB,
adalah surat Ketetapan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat 2 Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994.
27. Kantor Pelayanan Pajak adalah Kantor Pelayanan Pajak yang mengadministrasikan
objek pajak PBB Migas dan/atau PBB Panas Bumi.

1. Objek Pajak PBB Migas dan Panas Bumi

a. Objek pajak PBB Migas adalah bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam
kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minyak Bumi dan Gas
Bumi.
b. Objek pajak PBB Panas Bumi adalah bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam
kawasan yang digunakanuntuk kegiatan usaha pertambangan Panas Bumi.
Bumi yang dimaksud dalam objek pajak PBB Migas dan PBB Panas Bumi, terdiri dari:

1. Permukaan bumi, meliputi:


a. Tanah dan/atau perairan pedalaman (onshore), meliputi:
1) Areal yang dikenakan PBB Migas dan PBB Panas Bumi yang berupa: Areal Produktif,
Areal Belum Produktif, Areal Tidak Produktif, dan Areal Emplasemen; dan
2) Areal yang tidak dikenakan PBB Migas dan PBB Panas Bumi yang berupa Areal
Lainnya.
b. Perairan lepas pantai (offshore), meliputi:
1) Areal yang dikenakan PBB Migas yang berupa Areal Offshore; dan
2) Areal yang tidak dikenakan PBB Migas berupa Areal Lainnya.
2. Tanah bumi, berupa:
1) Tubuh Bumi Eksploirasi; atau
2) Tubuh Bumi Eksploitasi.

13
Bangunan yang dimaksud dalam objek pajak PBB Migas dan Panas Bumi
merupakan konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah
dan/atau perairan.

Kawasan yang digunakan untuk kegiatahn usaha pertambangan Minyak Bumi dan
Gas Bumi, atau Panas Bumi, meliputi:

a. Wilayah Kerja atau Wilayah Sejenisnya; dan


b. Wilayah di luar Wilayah Kerja atau Wilayah Sejenisnya; yang merupakan satu
kesatuan dan digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minyak Bumi dan Gas
Bumi, atau Panas Bumi merupakan wilayah penunjang kegiatan usaha pertambangan
Minyak Bumi dan Gas Bumi, atau Panas Bumi yang menjadi bagian yang secara fisik
tidak terpisahkan dengan permukaan bumi yang dikenakan PBB Migas atau PBB
Panas Bumi di dalam Wilayah Kerja atau Wilayah Sejenisnya.
2. Subjek Pajak PBB Migas atau PBB Panas Bumi
Subjek pajak PBB Migas atau PBB Panas Bumi adalah orang atau badan yang
secara nyata mempunyai hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau
memiliki, menguasai, da/memperoleh manfaat atas bangunan atas objek pajak PBB Migas
atau PBB Panas Bumi. Subjek pajak yang dikenakan kewajiban membayar PBB Migas
atau PBB Panas Bumi menjadi Wajib Pajak PBB Migas atau PBB Panas Bumi.

3. Dasar Pengenaan PBB Migas dan PBB Panas Bumi

Dasar Pengenaan PBB Migas dan PBB Panas Bumi adalah Nilai Jual Objek Pajak
(NJOP). NJOP merupakan hasil penjumlahan antara NJOP bumi dan NJOP bangunan.

1. Nilai Jual Objek Pajak Bumi, meliputi :


a. Permukaan bumi merupakan hasil perkalian antara total luas areal yang
dikenakan PBB Migas atau PBB Panas Bumi dengan NJOP bumi per meter
persegi,
b. Tubuh bumi merupakan hasil perkalian antara luas Wilayah Kerja atau Wilayah
Sejenisnya dengan NJOP bumi per meter persegi.

Nilai bumi per meter persegi pada tahap :

a. Eksplorasi
1. Permukaan bumi onshore merupakan hasil pembagian antara total nilai bumi
dengan total luas areal yang dikenakan PBB Migas atau Panas Bumi.
2. Permukaan bumi offshore ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jendral Pajak.
3. Tubuh Bumi Eksplorasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jendral Pajak.
b. Eksploitasi
1. Permukaan bumi onshore merupakan hasil pembagian antara total nilai bumi
dengan total luas areal yang dikenakan PBB Migas atau Panas Bumi.
2. Permukaan bumi offshore ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jendral Pajak.
3. Tubuh Bumi Eksploitasi, dalam hal :

14
a) Terdapat hasil produksi yang terjual, merupakan hasil pembagian antara nilai
bumi untuk tubuh bumi eksploitasi dengan luas wilayah kerja atau wilayah
sejenisnya.
b) Tidak terdapat hasil produksi yang terjual, merupakan nilai bumi per meter
persegi untuk tubuh bumi eksploitasi.

Nilai bumi untuk tubuh bumi eksploitasi apabila terdapat hasil produksi yang
terjual adalah :

a. Untuk PBB Migas, perhitungan nilai bumi adalah sebagai berikut :

Angka Kapitalisasi x [(hasil produksi Minyak Bumi yang terjual dalam satu tahun
sebelum tahun pajak x harga minyak mentah Indonesia) + (hasil produksi Gas Bumi
yang terjual dalam satu tahun sebelum tahun pajak x harga Gas Bumi)]

b. Untuk PBB Panas Bumi yang pembangkit listriknya dikelola sendiri oleh Wajib Pajak,
penghitungan Nilai Bumi adalah sebagai berikut :
Angka Kapitalisasi x [(hasil produksi uap yang terjual dalam satu tahun sebelum tahun
pajak x harga uap) + (hasil produksi listrik yang terjual dalam satu tahun sebelum tahun
pajak x harga listrik)]

c. Untuk PBB Panas Bumi yang pembangkit listriknya tidak dikelola sendiri oleh Wajib
Pajak, penghitungan Nilai Bumi adalah sebagai berikut :

Angka Kapitalisasi x hasil produksi uap yang terjual dalam satu tahun sebelum tahun
pajak x harga uap
Nilai bumi untuk tubuh bumi eksploitasi apabila terdapat hasil produksi yang
terjual ditentukan melalui pendekatan pendapatan sebagai berikut.

a. Harga minyak mentah Indonesia menggunakan harga yang ditetapkan dalam


APBN/APBN Perubahan satu tahun sebelum tahun pajak;
b. Harga Gas Bumi sebesar 17,96 persen dari harga minyak mentah Indonesia yang
ditetapkan dalam APBN/APBN Perubahan satu tahun sebelum tahun pajak;
c. Harga uap dan/atau listrik sebesar rata-rata harga kontrak uap dan/atau listrik yang
berlaku yang ditetapkan dengan Keputusan Direktorat Jenderal Pajak; dan
d. Kurs, menggunakan kurs dalam APBN/APBN Perubahan satu tahun sebelum tahun
pajak.

Menteri Keuangan dapat menetapkan harga minyak mentah Indonesia, harga uap,
harga listrik, dan kurs sebagaimana dimaksud diatas. Dalam hal Menteri Keuangan
menetapkan harga minyak mentah Indonesia, harga gas bumi, harga uap, harga listrik, dan
kurs, ketentuan sebagaimana dimaksud pada a, b, c, dan d di atas tidak berlaku.

15
2. NJOP bangunan merupakan hasil perkalian antara total luas bangunan dengan NJOP
bangunan per meter persegi. NJOP bangunan per meter persegi merupakan hasil konversi
nilai bangunan per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bangunan sebagaimana
dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan mengenai klasifikasi NJOP bangunan. Nilai
bangunan per meter persegi merupakan hasil pembagian antara total nilai bangunan dengan
total luas bangunan. Total nilai bangunan merupakan jumlah nilai bangunan masing-
masing bangunan. Nilai bangunan utnuk masing-masing bangunan ditentukan sebesar
biaya pembangunan baru dikurangi penyusutan.

16
E. PBB SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINERAL
DAN BATU BARA
1. Pengertian

Dalam Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2015 tentang Tata


Cara PBB Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Mineral dan Batu Bara, disebutkan
bahwa:

1. Pengenaan adalah kegiatan menetapkan Wajib Pajak dan besarnya pajak terutang
untuk Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Mineral
dan Batu Bara berdasarkan peraturan perundang-undangan Pajak Bumi dan Bangunan.
2. Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Mineral dan
Batu Bara, selanjutnya disebut PBB Mineral dan Batu Bara, adalah Pajak Bumi dan
Bangunan yang dikenakan atas bumi dan/atau bangunan yang berada dalam kawasan
yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara.
3. Penatausahaan Objek Pajak PBB Mineral dan Batu Bara adalah rangkaian kegiatan
yang meliputi pendaftaran dan pengadministrasian objek pajak, penilaian, perhitungan
Nilai Jual Objek Pajak, penetapan dan penagihan.
4. Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik
dan kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk
batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu, meliputi mineral logam, mineral bukan
logam, dan batuan.
5. Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara alamiah
dari sisa tumbuh-tumbuhan.
6. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi
secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas, dan
sumber daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial
dan lingkungan hidup.
7. Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi
konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan dan
penjualan, serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi
kelayakan.
8. Wilayah Izin Usaha Pertambangan, selanjutnya disngkat WIUP, adalah wilayah yang
diberikan kepada pemegang Izin Usaha Pertambangan.
9. Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus, selanjutnya disngkat WIUPK, adalah
wilayah yang diberikan kepada pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus.
10. Wilayah Pertambangan Rakyat, selanjutnya disingkat WPR, adalah bagian dari
wilayah pertambangan tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat.
11. Wilayah Pertambangan adalah wilayah yang memiliki potensi mineraldan/atau batu
bara dan tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang merupakan
bagian dari tat ruang nasional.
12. Wilayah Izin Pertambangan adalah wilayah pertambangan yang diberikan kepada
pemegang izin pertambangan untuk kegiatan usaha pertambangan yang meliputi
WIUP, WIUPK, atau WPR.

17
13. Wilayah Pertambangan Sejenis adalah wilayah pertambangan yang telah diberikan
kepada pemegang kontrak karya atau perjanjian karya pengusahaan pertambangan
batu bara yang masih berlaku.
14. Izin Usaha Pertambangan, selanjutnya disingkat IUP, adalah izin untuk melaksanakan
usaha pertambangan dalam WIUP.
15. Izin Usaha Pertambangan Khusus, selanjutnya disingkat IUPK, adalah izin untuk
melaksanakan usaha pertambangan dalam WIUPK.
16. Izin Pertambangan Rakyat, selanjutnya disingkat IPR, adalah izin untuk melaksanakan
usaha pertambangan dalam WPR dengan luas wilayah dan investasi terbatas.
17. Areal Produktif adalah areal yang dimanfaatkan untuk kegiatan penambangan yang
sedang dilakukan pengambilan galian tambang.
18. Areal Cadangan Produksi adalah areal yang dimanfaatkan untuk kegiatan
penambangan, tetapi belum dilakukan pengambilan galian tambang.
19. Areal Belum Dimanfaatkan adalah areal yang belum dimanfaatkan untuk kegiatan
penambangan atau areal yang sedang dilakukan kegiatan penyelidikan umum,
eksplorasi dan/atau studi kelayakan.
20. Areal Tidak Produktif adalah areal yang sama sekali tidak dapat diusahakan untuk
kegiatan penambangan, atau areal yang telah selesai diusahakan.
21. Areal Emplasemen adalah areal yang di atasnya dimanfaatkan untuk bangunan
dan/atau pekarangan serta fasilitas penunjangnya.
22. Areal Pengaman adalah areal yang dimanfaatkan sebagai pendukung dan pengaman
kegiatan usaha pertambangan.
23. Areal Objek Pajak Onshore adalah tanah dan/atau perairan pedalaman di dalam
kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara
yang dikenakan PBB Mineral dan Batu Bara yang terdiri atas Areal Belum Produktif,
Areal Tidak Produktif, Areal Emplasemen, dan Areal Pengaman.
24. Areal Objek Pajak Offshore adalah perairan lepas pantai didalam kawasan yang
digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara yang dikenakan
PBB Mineral dan Batu Bara.
25. Areal Lainnya adalah tanah dan perairan pedalaman (onshore) atau perairan lepas
pantai (offshore) di dalam Wilayah Izin Pertambangan atau Wilayah Pertambangan
Sejenis yang tidak dikenakan PBB sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat 1 Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994, dan/atau yang secara nyata
tidak dipunyai haknya dan tidak diperoleh manfaatnya oleh subjek pajak atau Wajib
Pajak untuk kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara.
26. Tubuh Bumi Eksplorasi adalah tubuh bumi yang memiliki potensi hasil produksi
galian tambang berupa sumber daya mineral atau batubara.
27. Tubuh Bumi Operasi Produksi adalah tubuh bumi yang telah menghasilkan hasil
produksi galian tambang berupa mineral atau batubara.
28. Harga Patokan Mineral Logam, selanjutnya disingkat HPM Logam, adalah harga
mineral logam yang dihitung berdasarkan formula untuk penetapan harga patokan
mineral logam yang ditetapkan oleh kementerian yang menyelenggarakan sebagian
urusan pemerintahan di bidang energi dan sumber data mineral, pada suatu titik serah
penjualan (at sale point) secara Free on Board di atas kapal pengangkut (vessel) untuk
masing-masing komoditas tambang mineral logam.

18
29. Harga Patokan Mineral Bukan Logam adalah harga patokan mineral bukan logam
yang ditetapkan untuk masing-masing komoditas tambang dalam satu(1) provinsi oleh
gubernur.
30. Harga Patokan Batuan adalah harga patokan batuan yang ditetapkan untuk masing-
masing komoditas tambang dalam satu(1) provinsi oleh gubernur.
31. Harga Patokan Batu Bara, selanjutnya disingkat HPB, adalah harga patokan batu bara
untuk steam (thermal) coal dan coking (metallurgical) coal yang dihitung berdasarkan
formula untuk penetapan harga patokan batu bara yang ditetapkan oleh kementerian
yang menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang energi dan sumber
daya mineral, pada suatu titik serah penjualan (at sale point) secara Free on Board di
atas kapal pengangkut (vessel).
32. Angka Kapitalisasi adalah angka pengali yang digunakan untuk mengonversi hasil
bersih produksi galian tambang dalam satu tahun sebelum tahun pajak menjadi nilai
Tubuh Bumi Operasi Produksi.

33. Nilai Jual Objek Pajak, selanjutnya disingkat NJOP adalah harga rata-rata yang
diperolah dari transakasi jual beli yang terjadi secara wajar dan bilamana tidak
terdapat transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan
objek lain yang sejenis, nilai perolehan baru, atau NJOP Pengganti.
34. Surat Pemberitahuan Objek Pajak PBB Mineral dan Batu Bara, yang selanjutnya
disebut SPOP adalah surat yang digunakan oleh subjek pajak atau wajib pajak untuk
melaporkan data objek pajak sektor pertambangan untuk pertambangan mineral dan
batu bara ke Direktorat Jenderal Pajak.
35. Lampiran Surat Pembertiahuan Objek Pajak PBB Perhutanan yang selanjutnya disebut
LSPOP adalah formulir yang digunakan oleh subjek pajak atau Wajib Pajak untuk
melaporkan data rinci objek pajak sektor pertambangan untuk pertambangan mineral
dan batu bara.
36. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang yang selanjutnya disingkat SPPT adalah surat
yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya PBB
yang terutang kepada Wajib Pajak.

2. Objek pajak PBB mineral dan batu bara

Objek pajak PBB mineral dan batu bara adalah bumi dan/atau bangunan yang
berada di dalam kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan mineral dan
batu bara. Kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu
bara meliputi :

1. Wilayah izin pertambangan atau wilayah pertambangan sejenis.


2. Wilayah di luar wilayah izin pertambangan atau wilayah pertambangan sejenis yang
digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara, dan terhubung
secara fisik dengan areal di dalam wilayah izin pertambangan dan wilayah
pertambangan sejenis yang dikenakan PBB Mineral dan Batu Bara.
Bumi yang dimaksud dalam PBB Mineral dan Batu Bara terdiri atas :

19
1. Permukaan bumi, meliputi :
a. Tanah dan/atau perairan darat (orshore)
b. Perairan lepas pantai (offshore)
2. Tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi berupa :
a. Tubuh bumi eksplorasi
b. Tubuh bumi operasi produksi

3. Subjek pajak PBB Mineral dan Batu Bara

Subjek pajak PBB Mineral dan Batu Bara adalah orang atau badan yang secara
nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau
memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan, atas objek pajak PBB
mineral dan batu bara. Wajib pajak PBB Mineral dan Batu Bara adalah subjek pajak yang
dikenakan kewajiban membayar PBB Mineral dan Batu Bara.

4. Perhitungan PBB Mineral dan Batu Bara

Besarnya PBB Mineral dan Batu Bara yang terutang dihitung dengan cara
mengalikan tarif pajak dengan Nilai Jual Kena Pajak. Perhitungan ini dapat dirumuskan
sebagai berikut.

PBB = Tarif Pajak X Nilai Jual Kena Pajak (NJKP)

NJKP = [%NJKP x (NJOP-NJOPTKP)]

NJOP merupakan hasil penjumlahan antara NJOP bumi dan NJOP bangunan.

5. Harga Jual Hasil Galian Tambang

Harga jual hasil galian tambang berupa harga jual rata-rata : Wajib Pajak A
mempunyai objek pajak berupa :

1. Mineral logam dalam setahun sebelum tahun pajak, dalam hal harga jual rata-rata
mineral logam lebih rendah daripada Harga Patokan Mineral Logam (HPM Logam)
rata-rata dalam setahun sebelum tahun pajak, harga jual rata-rata mineral logam
merupakan HPM Logam rata-rata dalam setahun sebelum tahun pajak.
2. Mineral bukan logam dalam setahun sebelum tahun pajak, dalam hal harga jual rata-rata
mineral logam lebih rendah daripada Harga Patokan Mineral Bukan Logam rata-rata
dalam setahun sebelum tahun pajak, harga jual rata-rata mineral bukan logam
merupakan Harga Patokan Mineral Bukan Logam rata-rata dalam setahun sebelum
tahun pajak.
3. Batuan dalam setahun sebelum tahun pajak, dalam hal harga jual rata-rata batuan lebih
rendah daripada Harga Patokan Batuan rata-rata (HPB rata-rata) dalam setahun sebelum
tahun pajak, harga jual rata-rata batuan merupakan HPB rata-rata dalam setahun
sebelum tahun pajak.

20
4. Batu bara dalam setahun sebelum tahun pajak, dalam hal harga jual rata-rata batu bara
lebih rendah daripada HPB rata-rata dalam setahun sebelum tahun pajak, harga jual
rata-rata batuan merupakan HPB rata-rata dalam setahun sebelum tahun pajak.

Harga jual rata-rata mineral logam, mineral bukan logam, batuan dan batu bara merupakan
rata-rata dari harga jual yang disepakati antara penjual dan pembeli dalam setahun sebelum
tahun pajak. Apabila harga jual dipengaruhi oleh hubungan istimewa, harga jual dihitung
atas dasar harga pasar wajar.

Apabila titik serah penjualan (at sale point) di luar titik Free on Board vessel, HPM Logam
sebagaimana dimaksud pada poin 1 di atas dan HPB sebagaimana dimaksud dalam poin 4
di atas mempertimbangkan besaran biaya penyesuaian HPM Logam atau HPB yang
ditetapkan oleh kementerian yang menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di
bidang energi dan sumber daya mineral.

6. Biaya Produksi Galian Tambang

1. Biaya produksi galian tambang


2. Biaya penguasaan lapisan tanah
3. Biaya pengambilan hasil produksi galian tambang
4. Biaya pengolahan dan/atau pemurnian hasil produksi galian tambang
5. Biaya pengangkutan hasil produksi galian tambang

F. NILAI JUAL KENA PAJAK (NJKP)


Nilai Jual Kena Pajak (assesment value) adalah nilai jual yang dipergunakan
sebagai dasae penghitungan pajak, yaitu suatu presentase tertentu dari nilai jual
sebenarnya. Besarnya persentase Nilai Jual Kena Pajak ditetapkan menggunakan
Peraturam Pemerintah dengan memerhatikan kondisi ekonomi nasional. Penetapan
besarnya Nilai Jual Kena Pajak untuk penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan mengacu
pada Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2002 sebagai berikut.

1. Objek ojak perkebunan, kehutanan, dan pertambangan sebesar 40 persen dari Nilai
Jual Objek Pajak
2. Objek pajak lainnya:
a. Sebesar 40 persen dari Nilai Jual Objek Pajak apabila Niai Jual Objek Pajaknya Rp
1.000.000.000 atau lebih.
b. Sebesar 20 persen dari Nilai Jual Objek Pajak apabila Niai Jual Objek Pajaknya Rp
1.000.000.000 atau lebih.

Tarif Pajak

Berdasarkan peraturan dari Direktorat Jenderal Pajak, tarif pajak yang dikenakan atas
objek pajak adalah sebesar 0,5 persen (nol koma lima persen).

G. NILAI JUAL OBJEK PAJAK TIDAK KENA PAJAK (NJOPTKP)

21
Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak, selanjutnya disingkat dengan NJOPTKP,
adalah batas Nilai Jual Objek Pajak yang tidak kena pajak. Berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 23/PMK.03/2014 tentang penyesuaian besarnya Nilai Jual Objek Pajak
Tidak Kena Pajak Pajak Bumi dan Bangunan, NJOPTKP untuk setiap Wajib Pajak
ditetapkan paling tinggi sebesar Rp 12.000.000.

H.PENGALIHAN PBB PERDESAAN DAN PERKOTAAN MENJADI PAJAK


DAERAH
1. Pengertian

Direktorat Jenderal Pajak Republik Indonesia melalui situs resminya


(www.pajak.go.id) menyatakan bahwa Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Perdesaan dan
Perkotaan adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau
dimanfaatkan leh orang pribadi atau badan,kecuali kawasan yang digunkan untuk kegiatan
usaha perkebunan, perhutanan dan pertambangan.

2. Berlakunya PBB Perdesaan dan Perkotaan Menjadi Pajak Daerah dan


Kabupaten/Kota

Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan masih dikenakan Pajak Pusat
paling lambat sampai dengan 31 Desember 2013 atau sampai ada ketentuan Peraturan
Daerah (Perda) tentang Pajak Bumi dan Bangunan terkait dengan Perdesaaan dan
Perkotaan yang dibedakan didaerah masing-masing PBB yang nantinya dialihkan menjadi
Pajak Kabupaten/Kota hanya meliputi PBB sektor Perdesaan dan Perkotaan (P2),
sementara PBB sektor perkebunan, perhutanan, dan pertambangan (P3) masih tetap
menjadi pajak pusat.

Perubahan Pengaturan PBB Perdesaan dan Perkotaan Sebelum dan Sesudah Dialihkan ke
Pemerintah Daerah

Materi Sebelum dialihkan ke Pemda (UU Setelah dialihkan ke Pemda (UU PBB)
PBB)
Objek Bumi dan/atau bangunan Bumi dan/atau bangunan, kecuali
kawasan yang digunakan untuk
kegiatan usaha perkebunan,
perhutanan dan pertambangan
Tarif Tunggal 0,5% Paling tinggi 0,3%
NJKP 20%-100% (PP 25 Tahun 2001 Tidak ada
ditetapkan sebesar 20% atau 40%)
NJOPTK Palin tinggi Rp12.000.000 per Tidak ada
P Wjib Pajak
PBB 0,5% x 20% x (NJOPNJOPTKP) 0,3% (maksimal) x (NJOP-NJPTKP)
Terutang atau 0,5% x (NJOPNJOPTKP)

22
I. CONTOH SOAL
1. Diketahui bahwa NJOP suatu objek pajak Rp2.000.000. Maka berapakah PBB nya?

Jawab :

Pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu NJKP nya:

NJKP: 20% x Rp2.000.000 = Rp400.000

Kemudian baru kita hitung PBB nya:

PBB: 0,5% x Rp400.000 = Rp2.000

2. Pak Edo mempunyai tanah yang luasnya 800 m2 dengan harga jual Rp300.000,00/m2.
Di atas tanah berdiri bangunan yang luasnya sebesar 400 m2 dan mempunyai nilai jual
Rp350.000,00/m2. Selain bangunan, Pak Edo juga mempunyai taman mewah seluas
200 m2 dengan nilai jual Rp50.000,00/m2. Apabila ditetapkan nilai jual kena pajak
sebesar 20%, berapakah besarnya tarif pajak PBB yang ditanggung Pak Edo?

Jawab:
- Nilai jual tanah 800 m2 Rp300.000,00/m2 = Rp 240.000.000,00
- Nilai jual bangunan 400 m2 Rp350.000,00/m2 = Rp 140.000.000,00
- Nilai jual tanah mewah 200 m2 Rp50.000,00/m2 = Rp 10.000.000,00
+
Nilai jual sebagai dasar pengenaan pajak = Rp 390.000.000,00
- NJOPTKP = Rp 8.000.000,00

- NJOPKP = Rp 382.000.000,00
- NJKP = 20% x Rp382.000.000,00 = Rp76.400.000,00
- Pajak PBB yang terutang = 0,5% x Rp76.400.000,00 = Rp382.000,00
Jadi besarnya pajak PBB yang harus dibayar Pak Edo sebesar Rp382.000,00.

3. Pak Amin memiliki rumah seluas 50 meter persegi yang berdiri di atas sebidang tanah
seluas 100 meter persegi. Diketahui harga bangunan tersebut adalah Rp500.000,
sedangkan harga tanah tersebut adalah Rp1.000.000. Jadi berapakah PBB yang harus
dibayarkan oleh Pak Amin?

Pertama, kita hitung terlebih dahulu nilai bangunan dan tanahnya:

Bangunan: 50 x Rp500.000 = Rp25.000.000

23
Tanah: 100 x Rp 1.000.000 = Rp100.000.000

Kedua, kita hitung NJOP nya dengan menjumlahkan nilai bangunan dan tanah:

Nilai Bangunan: Rp25.000.000

Nilai Tanah: Rp100.000.000

--------------------------------------- +

Rp. 125.000.000

Terakhir, setelah diketahui NJOP nya, kita bisa langsung menghitung PBB nya:

NJKP: 20% x Rp125.000.000 = Rp25.000.000

PBB: 0,5% x Rp 25.000.000 = Rp125.000

4. PT.Sawit Nusantara, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit didaerah Sumatera


Utara memiliki/menguasai/mendapat manfaat dari tanah dan bangunan dengan rincian
sebagai berikut :
A. Tanah
1. Areal kebun :
a. Usia tanaman 2 tahun : 100 Ha, kelas A.42 ( Rp1.700,- / M2 )
SIT : Rp2.795.000,- per Ha
b. Tanaman sudah menghasilkan : 300 Ha, kelas A.42
SIT : Rp5.646.000,- per Ha
2. Areal emplasemen :
a. Kantor : 0,5 Ha , kelas A. 36 ( Rp14.000,- / M2 )
b. Gudang : 1 Ha , kelas A.37 ( Rp10.000,- / M2 )
c. Pabrik : 2 Ha, kelas A. 37
B. Bangunan :
a. Kantor : 500 M2 , kelas A. 4 ( Rp700.000,- / M2 )
b. Gudang : 1.000 M2, kelas A. 6 ( Rp505.000,- / M2 )
c. Pabrik : 4.000 M2 , kelas A. 8 ( Rp365.000,- / M2 )
Hitung PBB tahun 2003 atas perkebunan tersebut bila NJOPTKP : Rp10 juta

24
Jawab:

A. NJOP Tanah
1. Areal Kebun
a. Usia tanaman 2 tahun : 100 x 10.000 x Rp 1.700 Rp 1.700.000.000
100 x Rp 2.795.000 Rp 279.500.000
b. Tanaman sudah menghasilkan : 300 x 10.000 x Rp 1.700 Rp 5.100.000.000
300 x Rp 5.646.000 Rp 1.693.800.000
2. Areal Emplasemen:
a. Kantor : 0,5 x 10.000 x Rp 14.000 Rp 70.000.000
b. Gudang : 1 x 10.000 x Rp 10.000 Rp 100.000.000
c. Pabrik : 2 x 10.000 x Rp 10.000 Rp 200.000.000
NJOP Tanah (1 + 2) Rp 9.143.300.000
B. NJOP Bangunan :
a. Kantor : 500 x Rp 700.000 Rp 350.000.000
b. Gudang : 1.000 x Rp 505.000 Rp 505.000.000
c. Pabrik : 4.000 x Rp 365.000 Rp 1.460.000.000
NJOP Bangunan Rp 2.315.000.000

NJOP Tanah dan Bangunan ( A + B ) = Rp11.458.300.000,-


NJOPTKP = Rp 10.000.000,-
NJOP untuk perhitungan PBB = Rp11.448.300.000,-
PBB : 0,5% x 40% x Rp11.448.300.000,- = Rp 22.896.600,-

25
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap
bumi dan atau bangunan berdasarkan Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak
Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang nomor 12 Tahun
1994.
PBB adalah pajak yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang
ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan atau bangunan. Keadaan subjek (siapa
yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak.

26
DAFTAR PUSTAKA

Halim, Abdul dkk. 2017. PERPAJAKAN. Jakarta. Salemba Empat

https://www.cermati.com/artikel/pajak-bumi-dan-bangunan-dan-cara-menghitungnya

http://www.berpendidikan.com/2015/09/cara-menghitung-pajak-bumi-dan-bangunan.html

http://sismiop07.blogspot.co.id/2012/09/sektor-perkebunan-kehutanan-dan.html

27