Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS HUKUM TERHADAP KASUS FIDELIS ARI SUDARWOTO

DIKAITKAN DENGAN MATERI PERKULIAHAN FILSAFAT HUKUM

Disusun Oleh:
Bintang Aprilio Putra
1406554123

Untuk Memenuhi Komponen Penilaian Mata Kuliah:


Filsafat Hukum

Kelas Filsafat Hukum A Paralel

UNIVERSITAS INDONESIA, DEPOK


2017
Kasus Hukum
Fidelis Ari Sudarwoto, seorang pegawai negeri sipil di Kabupaten Sanggau,
Provinsi Kalimantan Barat, mendekam di sel tahanan sejak 19 Februari lalu. Dia
ditangkap Badan Narkotika Nasional, BNN, Kabupaten Sanggau lantaran menanam
ganja di kebun rumahnya. Ganja itu diberikan ke istrinya, Yeni, yang didiagnosa
mengidap penyakit syringomyelia/sumsum tulang belakang (BBC Indonesia, 3 April
2017). Meski menggunakan ganja untuk pengobatan istrinya, Fidelis tidak ikut
menggunakan ganja apalagi menjualnya (Tempo.Co, 12 April 2017). Sebelum
memberikan ekstrak ganja, Fidelis telah melakukan pengobatan medis bagi sang istri
berulang kali, namun kondisi sang istri makin memburuk bahkan hampir lumpuh total.
Ditengah situasi tersebut, Fidelis akhirnya mencari referensi di dunia maya. Beliau
akhirnya menemukan seorang penderita syringomyelia di Kanada yang mampu bertahan
hidup dengan ekstrak ganja sehingga dia akhirnya ingin mencobanya kepada sang istri
(Kompas, 4 April 2017). Saat masih mengonsumsi ganja, kondisi kesehatan Yeni
membaik. Akan tetapi, Yeni meninggal dunia pada 25 Maret lalu, setelah Fidelis
ditahan dan tak ada lagi yang memasok ganja untuknya (BBC Indonesia, 3 April 2017).
Kisah di atas menarik perhatian publik, LBH Masyarakat meminta kepolisian
menghentikan penyidikan kepada Fidelis. Aturan pidana terkait narkoba dibuat untuk
menghentikan kekacauan dan akibat negatif ke publik. Yang dibuat Pak Fidelis ini tak
ada kekacauan, dia hanya suami yang berjuang untuk istrinya, ujar Yohan Misero,
peneliti LBH Masyarakat (Tempo.Co, 2 April 2017). Namun, BNN secara tegas
menolak permintaan tersebut. BNN akan terus memproses kasus ini ke Pengadilan.
"Kita negara hukum, ada undang-undang yang atur itu semua. Jadi kan tidak bisa
undang-undang dilanggar seolah-olah dengan alasan kemanusiaan dan pengobatan."
Ucap Kepala BNN Budi Waseso.

Analisis
Jika merujuk kepada kasus yang dialami oleh Fidelis Ari Sudarwoto, maka penulis
dapat melihat keterkaitannya dengan beberapa materi yang sudah diajarkan di dalam
perkuliahan filsafat hukum. Di antaranya adalah sebagai berikut.
Berdasarkan Materi Nature of Jurisprudence, Menurut ilmu filsafat hukum,
jurisprudence yang dimaksud dari bahasa latin yaitu pengetahuan hukum yang
merupakan adalah cabang ilmu yang mempelajari mengenai bagaimana pemahaman

1
dasar mengenai hukum. Objek yang dibahas dalam nature of jurisprudence adalah ilmu
hukum. Istilah jurisprudence berasal dari bahasa iuris, yang merupakan bentuk jamak
dari ius, yang artinya hukum yang dibuat oleh masyarakat dan kebiasaan dan bukan
perundang-undangan dan prudentia, yang artinya kebijaksanaan atau pengetahuan.
Jurisprudence, dengan demikian berarti kebijaksanaan yang berkaitan dengan hukum
atau pengetahuan hukum. Sudah barang tentu hal ini tidak bersangkut paut dengan
gejala yang dapat diamati secara empiris.
Maka dengan demikian pembahasan mengenai kasus Fidelis Ari Sudarwoto dalam
kasus yang telah dipaparkan, sudah tepat untuk dibahas dan dikaji menurut nature of
jurisprudence karena kasus tersebut merupakan pembahasan ilmu hukum yang mana
hukum tersebut dibuat oleh masyarakat dan kebiasaan.
Berdasarkan Materi Natural Law, yang memiliki daya tarik bahwa pandangan
tersebut berasal dari agama atau supranatural. Di dalam ajaran Natural Law terdapat
keterkaitan erat antara hukum dengan moral. Hukum berasal dari ajaran moral. Salah
satu hambatan utama yang harus diatasi oleh Natural Law adalah masalah mengenai
apakah ajaran moral dapat diperoleh dari kenyataan. Lon L. Fuller menyatakan bahwa:1
Order, coherence and clarity have an affinity with goodness and morality.
Aquinas membagi hukum menjadi: lex aeterna, alasan Ketuhanan yang hanya
diketahui oleh Tuhan, lex divina adalah Hukum Tuhan yang terungkap dari Kitab Suci,
dan lex naturalis terdiri dari partisipasi hukum yang abadi dari makhluk rasional.
Aquinas mengakui bahwa kehendak untuk melakukan yang benar dan kesadaran yang
benar dapat terdistorsi oleh kebiasaan, adat, atau kejiwaan.
Grotius berpendapat bahwa Natural Law akan hidup bahkan bilamana Tuhan tidak
ada (etiansi daremus non esse Deum). Pendapat ini bertentangan dengan daya tarik
natural law yang berasal dari agama/supranatural. Finnis berpendapat bahwa apa yang
dinyatakan Grotious adalah apa yang benar dan salah tergantung pada kondisi alamiah
suatu hal dan bukan pada keputusan Tuhan, tapi makna normatif dari kebenaran moral
secara fundamental bergantung pada terdapatnya keputusan yang menunjukkan
keinginan Tuhan bahwa kebenaran telah dilakukan. Sehingga menurut Finnis, ketiadaan
Tuhan yang dimaksud Grotius dalam pendapatnya bukan semata-mata mengabaikan
keberadaan Tuhan, namun yang dimaksudkan adalah keputusan Tuhan.

1 Anthony D'Amato, Lon Fuller and Substantive Natural Law, Chicago; Northwestern University School
of Law, 1981, hlm. 1.

2
Salah satu kontribusi pemikiran terbesar pada pemikiran kontemporer mengenai
natural law adalah Lon Fuller (1902-78). Beliau terkenal dengan pandangannya bahwa
hukum itu berkaitan erat dengan moralitas. Hart memandang bahwa natural law sebagai
sebuah doktrin yang semi sosiologi. Ia berpikir bahwa substansi peraturan menjadi
sangat berarti jika manusia hidup bersama secara terus menerus dan sangat dekat satu
sama lain. Natural law hidup abadi di masyarakat, tidak melulu berkaitan dengan
keberadaan pemerintah, karena sesungguhnya prinsip natural law ada di dalam
masyarakat itu sendiri.
Ahli yang baru-baru ini mempunyai teori cukup signifikan terkait natural law
adalah Finnis. Menurutnya natural law adalah seperangkat prinsip dari kewajaran
praktis dalam mengatur kehidupan dan komunitas manusia. Menurut Finnis prinsip
dasar dari natural law adalah pre-moral yang terdiri dari tujuh hal yakni: kehidupan,
pengetahuan, permainan, pengalaman estetis, keramahan dalam pertemanan, kewajaran
praktis, dan agama. Finnis tidak menyangkut-pautkan natural law dengan agama,
artinya natural law tidak selalu harus dihubungkan dengan Tuhan.
Berdasarkan pemikiran-pemikiran tersebut. Apabila dilihat menurut pandangan
Aquinas, maka pengaturan mengenai kasus Fidelis Ari Sudarwato merupakan lex
naturalis yang merupakan partisipasi hukum yang berasal dari manusia rasional.
Menurut pandangan Hart, penulis berpendapat bahwa kasus Fidelis merupakan sesuatu
yang diatur dalam masyarakat dan merupakan Natural Law yang dihasilkan karena
manusia hidup secara bersama-sama dan dekat satu sama lain. Finnis berpendapat
kurang lebih sama dengan Hart. Namun Finnis tidak menyangkut-pautkan Natural Law
dengan agama. Maka kasus Fidelis dapat mencocoki pandangan menurut Finnis juga.
Akan tetapi, perlu diperhatikan, dalam kasus ini memang menguasai atau menggunakan
narkotika dilarang oleh Undang-Undang. Namun dalam hal ini, Fidelis menanam dan
menggunakan ganja untuk mengobati istrinya. Penulis berpendapat, seharusnya
masyarakat di Indonesia lebih membuka pikirannya untuk melihat sebuah pandangan
yang mana dalam hal ini seorang suami mencoba untuk menyelamatkan istrinya dari
penyakit syringomyelia/sumsum tulang belakang. Apakah perbuatan tersebut harus
dihukum? Apabila memang harus dihukum sebagaimana BNN yang bersikeras untuk
meproses hukuman untuk Fidelis, maka timbul pertanyaan lagi, apakah sebenarnya

3
perbuatan yang dilakukan Fidelis perlu dihukum? Penulis dalam hal ini harus
menentang pendapat BNN dan seharusnya tidak dihukum.
Berdasarkan Materi Legal Positivism, Positivisme hukum melihat bahwa yang
terutama dalam melihat hukum adalah fakta bahwa hukum dicipatakan dan
diberlakukan oleh orang-orang terentu di dalam masyarakat yang mempunyai
kewenangan untuk membuat hukum.2 Perlu dilihat pendapat Cicero yang menyatakan
bahwa:
There is a necessary connection between law and morality.
Pernyataan Cicero menunjukan bahwa terdapat hubungan antara moral dengan
hukum. Seharusnya moral dikedepankan, karena hukum itu sendiri terbentuk dari moral,
sehingga jika terjadi pelanggaran moral, hukum tidak dapat ditegakkan. Berdasarkan
pernyataan Cicero tersebut, seharusnya Hakim yang memeriksa perkara Fidelis tersebut
mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukan oleh Fidelis merupakan perbuatan tulus
untuk menolong dan mengobati istrinya dengan menggunakan ganja.
Dalam kasus Fidelis ini, perlu diketahui juga bahwa terjadinya pelanggaran Pasal
28A UUD 1945 yang dinyatakan,
Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya.
Lebih lanjut, dalam Penjelasan Pasal 9 UU HAM dikatakan bahwa setiap orang
berhak atas kehidupan, mempertahankan kehidupan, dan meningkatkan taraf
kehidupannya. Dalam kasus ini, terlihat jelaslah dikarenakan tanpa ada yang memasok
ganja untuk istrinya Fidelis, ia meninggal. Hal ini membuktikan bahwa terdapat
pelanggaran oleh BNN yang bersikeras untuk memproses hukuman untuk Fidelis tanpa
memikirkan pengobatan istri Fidelis.
Berdasarkan Materi Sociological Jurisprudence; Sociology of Law; and Socio-
Legal Studies, Aliran Sociological Jurisprudence mengemukakan bahwa hukum positif
yang ditetapkan oleh penguasa adalah baik jikalau sesuai dengan hukum yang lahir
(tumbuh) dalam masyarakat (living law). Oleh sebab itu, aliran ini mencanangkan inti
pokok gagasannya yaitu bahwa Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan
hukum yang hidup dalam masyarakat.3

2 Antonius Cahyadi, E. Fernando M. Manulang, Pengantar ke Filsafat Hukum. Jakarta:


Kencana, 2007. Hlm 58.

4
Pound menyatakan:4
Thus, the propositions that a judicial decision is only evidence of the law, the docrine
that judges always find the law and never make it, are not without an important
purpose.
Kemudian, dinyatakan oleh David M. Trubek dalam Back To The Future: The
Short Happy Life Of The Law And Society Movement, dinyatakan sebagai berikut,
The law and society movement is largely responsible for bringing the idea of
society as a system into modern American legal thought. The notion that society must
be seen as an interdependent set of elements, with law as one of these elements,
represented a major advance in legal thought.
Dalam pernyataan tersebut memberikan pengetahuan bahwa masyarakat memiliki
pengaruh besar dalam pembuatan konsep hukum.
Kemudian dalam Susan S Silbey dan Austin Sarat dalam Critical Traditions in
Law and Society Research, dijelaskan bahwa:
We would then understand law not as something removed from social line,
occasionally operating upon and struggling to regulate and shape social forms, but as
fused with and thus inseparable from all the activities of living and knowing. We would,
as critics, hear new voices and move our tradition to encapsulate them
Apabila merujuk kepada penjelasan-penjelasan di atas, perlu diketahui bahwa
dalam Social Jurisprudence, hukum merupakan bentuk hasil dari kebiasaan yang ada di
masyarakat. Hukum dapat berubah sewaktu-waktu karena hukum bersifat dinamis.
Apabila merujuk kepada kasus, maka kita mengetahui bahwa BNN secara tegas
menolak permintaan untuk menghentikan penyidikan kepada Fidelis. BNN akan terus
memproses kasus ini ke Pengadilan. BNN juga menyatakan bahwa "Kita negara hukum,
ada undang-undang yang atur itu semua. Jadi kan tidak bisa undang-undang dilanggar
seolah-olah dengan alasan kemanusiaan dan pengobatan."
Seorang Hakim seharusnya dapat mengikuti perkembangan yang terjadi di
masyarakat, dalam hal ini yaitu mengenai Undang-Undang Tentang Narkotika. Hakim
yang menangani kasus Fidelis seharusnya melakukan tinjauan lebih dalam mengenai
pengobatan-pengobatan dengan menggunakan ganja, seperti yang dilakukan di Kanada.
3 Lili Rasjidi dan Ira Rasjidi, Dasar-dasar Filsafat dan Teori Hukum, Citra Adityas Bhakti, Bandung,
2001, hlm. 66
4 Jerome Frank, Law and the Modern Mind, New Brunswick and London: Transaction Publishers, 2009,
hlm. 229.

5
Hakim juga dapat memilih untuk tidak menjatuhkan hukuman kepada Fidelis karena
yang dilakukan olehnya hanya untuk menyelamatkan istrinya atau Hakim tersebut dapat
membuat hukum baru yang belum pernah diatur.

Daftar Pustaka
DAmato, Anthony. Lon Fuller and Substantive Natural Law. Chicago; Northwestern
University School of Law. 1981.
Cahyadi, Antonius. E. Fernando M. Manulang. Pengantar ke Filsafat Hukum. Jakarta:
Kencana, 2007.
Frank, Jerome. Law and the Modern Mind. New Brunswick and London: Transaction
Publishers. 2009.
Rasjidi. Lili dan Ira Rasjidi. Dasar-dasar Filsafat dan Teori Hukum. Citra Adityas
Bhakti. Bandung. 2001.
Silbey, Susan S dan Austin Sarat. Critical Traditions in Law and Society Research.
1987.
Trubek. David. Back To The Future: The Short Happy Life Of The Law And Society
Movement. 1990.
Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945.

Anda mungkin juga menyukai